You are on page 1of 13

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN BRONCHITIS

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Medikal Bedah 1


yang Diampu oleh Subandiyo, S.Pd, S.Kep Ns

Disusun Oleh :
ARIANTO RIZKI RAMADANI
NIM. P1337420217011
IAN RIZKY VANDANI
NIM. P1337420217012
ANNISA KHAYATUL FAIZAH
NIM. P1337420217013

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN PURWOKERTO
2018

Poltekkes Kemenkes Semarang Prodi DIII Keperawatan Purwokerto 1


LAPORAN PENDAHULUAN

BRONKHITIS

A. Definisi Bronkhitis
Bronkhitis adalah suatu peradangan bronkhioli bronkhus, dan trakea oleh
berbagai sebab. Bronkhitis biasanya lebih sering disebabkan oleh virus seperti
Rhinovirus, Respiratory Syncitial Virus (RSV), virus influenza, virus parainfluenza,
dan coxsackie virus. Bronkhitis akut juga dapat dijumpai pada anak yang sedang
menderita morbilli, pertusis dan infeksi Mycoplasma pneumoniae. Penyebab bronkitis
lainnya bisa juga oleh bakteri seperti Staphylococcus, Streptococcus, pneumococcus,
haemophylus, influenza. Selain itu, bronkitis dapat juga disebabkan oleh parasit
seperti askariasis dan jamur (Muttaqin, 2008).
Bronkitis merupakan inflamasi bronkus pada saluran napas bawah. Penyakit
ini dapat disebabkan oleh bakteri, virus atau pajanan iritan yang terhirup (Chhang,
2010).
Bronkhitis adalah infeksi pada bronkus yang berasal dari hidung dan
tenggorokan di mana bronkus merupakan suatu pipa sempit yang berawal pada
trakhea, yang menghubungkan saluran pernafasan atas, hidung, tenggorokan, dan
sinus ke paru. Gejala bronkhitis di awali dengan batuk pilek, akan tetapi infeksi ini
telah menyebar ke bronkus, sehingga menjadikan batuk akan bertambah parah dan
berubah sifatnya (Hidayat, 2011)
Bronkhitis adalah suatu infeksi saluran pernafasan yang menyebabkan
inflamasi yang mengenai trakea, bronkus utama dan menengah yang bermanifestasi
sebagai batuk, dan biasanya akan membaik tanpa terapi dalam 2 minggu. Bronkitis
umunya disebabkan oleh virus seperti Rhinovirus, RSV, virus influenza, virus
parainfluenza, adenovirus, virus rubeola, dan paramyxovirus dan bronkitis karena
bakteri biasanya dikaitkan dengan mycoplasma pneumonia, bordetella pertussis atau
corynebacterium diphtheriae (Rahajoe,2012).
Jadi, bronkitis adalah infeksi pada saluran pernapasan utama dari paru-paru
atau bronkus yang menyebabkan terjadinya peradangan atau inflamasi pada saluran
tersebut.

Poltekkes Kemenkes Semarang Prodi DIII Keperawatan Purwokerto 2


B. Etiologi
1. Merokok merupakan satu-satunya penyebab kausal yang terpenting. Peningkatan
resiko mortalitas akibat bronkitis hampir berbanding lurus dengan jumlah rokok
yang dihisap setiap hari.
2. Polusi udara yang terus menerus juga merupakan predisposisi infeksi rekuren
karena polusi memperlambat aktivitas silia dan fagositosis. Zat-zat kimia yang
dapat juga menyebabkan bronkitis adalah O2, N2O, hidrokarbon, aldehid, ozon.
3. Infeksi. Eksaserbasi bronchitis disangka paling sering diawali dengan infeksi virus
yang kemudian menyebabkan infeksi sekunder bakteri. Bakteri yang diisolasi
paling banyak adalah Hemophilus influenza dan streptococcus pneumonie dan
organisme lain seperti Mycoplasma pneumonia.
4. Keturunan.Belum diketahui secara jelas apakah faktor keturunan berperan atau
tidak, kecuali pada penderita defisiensi alfa 1 antitripsin yang merupakan suatu
problem, dimana kelainan ini diturunkan secara autosom resesif. Kerja enzim ini
menetralisir enzim proteolitik yang sering dikeluarkan pada peradangan dan
merusak jaringan, termasuk jaringan paru.
5. Faktor sosial ekonomi. Kematian pada bronchitis ternyata lebih banyak pada
golongan sosial ekonomi rendah, mungkin disebabkan faktor lingkungan dan
ekonomi yang lebih jelek.
6. Riwayat infeksi saluran napas. Infeksi saluran pernapasan bagian atas pada
penderita bronkitis hampir selalu menyebabkan infeksi paru bagian bawah, serta
menyebabkan kerusakan paru bertambah.

C. Pathofisiologi
Penemuan patologis dari bronchitis adalah hipertropi dari kelenjar mukosa
bronchus dan peningkatan sejumlah sel goblet disertai dengan infiltrasi sel radang dan
ini mengakibatkan gejala khas yaitu batuk produktif. Batuk kronik yang disertai
peningkatan sekresi bronkus tampaknya mempengaruhi bronchiolus yang kecil – kecil
sedemikian rupa sampai bronchioles tersebut rusak dan dindingnya melebar. Faktor
etiologi utama adalah merokok dan polusi udara lain yang biasa terdapat pada daerah
industri. Polusi tersebut dapat memperlambat aktifitas silia dan pagositosis, sehingga
timbunan mukus meningkat sedangkan mekanisme pertahanannya sendiri melemah.
Mukus yang berlebihan terjadi akibat displasia. Sel – sel penghasil mukus di
bronkhus. Selain itu, silia yang melapisi bronkus mengalami kelumpuhan atau

Poltekkes Kemenkes Semarang Prodi DIII Keperawatan Purwokerto 3


disfungsional serta metaplasia. Perubahan – perubahan pada sel – sel penghasil mukus
dan sel – sel silia ini mengganggu sistem eskalator mukosiliaris dan menyebabkan
penumpukan mukus dalam jumlah besar yang sulit dikeluarkan dari saluran nafas.

D. Gambaran klinik
1. Batuk, mulai dengan batuk – batuk pagi hari, dan makin lama batuk makin berat,
timbul siang hari maupun malam hari, penderita terganggu tidurnya.
2. Dahak, sputum putih/mukoid. Bila ada infeksi, sputum menjadi purulen atau
mukopuruen dan kental.
3. Sesak bila timbul infeksi, sesak napas akan bertambah, kadang – kadang disertai
tanda – tanda payah jantung kanan, lama kelamaan timbul kor pulmonal yang
menetap.
4. Pemeriksaan fisik
5. Pada stadium ini tidak ditemukan kelainan fisis. Hanya kadang-kadang terdengar
ronchi pada waktu ekspirasi dalam. Bila sudah ada keluhan sesak, akan terdengar
ronchi pada waktu ekspirasi maupun inspirasi disertai bising mengi. Juga
didapatkan tanda-tanda overinflasi paru seperti barrel chest, kifosis, pada
perkusi terdengar hipersonor, peranjakan hati mengecil, batas paru hati lebih ke
bawah, pekak jantung berkurang, suara nafas dan suara jantung lemah,
kadang-kadang disertai kontraksi otot-otot pernafasan tambahan.

E. Pengkajian
1. Wawancara
a. Biodata Pasien
Data yang dikaji disini meliputi Nama, Umur, Jenis Kelamin, Pendidikan,
Pekerjaan, Alamat, Penanggung
b. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan Utama
Keluhan utama pada klien dengan bronchitis meliputi batuk kering dan
produktif dengan sputum purulen, demam dengan suhu tubuh dapat
mencapai >40°C dan sesak nafas.
2) Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien pada umumnya mengeluh sering batuk terjadi pada pagi hari dan
dalam jangka waktu yang lama desertai dengan produksi sputum,

Poltekkes Kemenkes Semarang Prodi DIII Keperawatan Purwokerto 4


demam, suara serak dan kadang nyeri dada, pola tidur terganggu, nafsu
makan menurun.
3) Riwayat Penyakit Dahulu
Biasanya pada pengkajian riwayat penyakit dahulu ditemukan adanya
batuk yang berlangsung lama (3 bulan atau lebih)
4) Riwayat Penyakit Keluarga
Tanyakan apakah ada anggota keluarga pasien yang mempunyai penyakit
berat lainnya atau penyakit yang sama. Dari keterangan tersebut untuk
penyakit familial dalam hal ini bronchitis kronik berkaitan dengan polusi
udara rumah, dan bukan penyakit yang diturunkan.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum
1) Tingkat keamanan
2) GCS
3) Tanda-tanda vital : Tekanan darah, suhu, nadi dan respirasi rate
b. Keadaan fisik
1) Kepala dan leher

Kepala : Kaji bentuk dan ada tidaknya benjolan.

Mata : Kaji warna sklera dan konjungtiva.

Hidung : Kaji ada tidaknya pernafasan cuping hidung.

Telinga : Kaji kebersihannya

Mulut : Kaji mukosa dan kebersihannya.

Leher : Ada tidaknya pembesaran vena jugularis.

2) Sistem Integumen
Rambut : Kaji warna dan kebersihannya.

Kulit : Kaji warna dan ada tidaknya lesi.

Kuku : Kaji bentuk dan kebersihannya.

3) Sistem Pernafasan

Poltekkes Kemenkes Semarang Prodi DIII Keperawatan Purwokerto 5


Inspeksi : biasanya pada klien bronkhitis terjadi sesak, bentuk dada
barrel chest, kifosis.

Palpasi : Iga lebih horizontal.


Auskultasi : Adakah kemungkinan terdapat bunyi napas tembahan,
biasanya terdengar ronchi.
4) Sistem Kardiovaskuler
Inspeksi : Kaji apakah ada pembesaran vena ingularis.
Palpasi : Kaji apakah nadi teraba jelas dan frekuensi nadi.
Auskultasi : Kaji suara s1, s2 apakah ada suara tambahan.
5) Sistem Pencernaan
Inspeksi : Kaji bentuk abdomen, ada tidaknya lesi.
Palpasi : Kaji apakah ada nyeri tekan
Perkusi : Kaji apakah terdengar bunyi thympani
Auskultasi : Kaji bunyi peristaltik usus.
6) Sistem Reproduksi
Kaji apa jenis kelamin klien dan apakah klien sudah menikah.
7) Sistem Pergerakan Tubuh
Kaji kekuatan otot klien.
8) Sistem Persyaratan
Kaji tingkat kesadaran klien dan GCS.
9) Sistem Perkemihan
Kaji apakah ada gangguan eliminasi urin.
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Analisa gas darah
1) Pa O2 : rendah (normal 80 – 100 mmHg)
2) Pa CO2 : tinggi (normal 36 – 44 mmHg).
3) Saturasi hemoglobin menurun.
4) Eritropoesis bertambah
b. Sputum : Kultur untuk menentukan adanya infeksi, mengidentifikasi
patogen
c. Tes fungsi paru : Untuk menentukan penyebab dispnoe, melihat obstruksi.
d. Foto sinar X rontgen

Poltekkes Kemenkes Semarang Prodi DIII Keperawatan Purwokerto 6


F. Pathway
Virus/bakteri

Masuk melalui
Polusi udara saluran
(asap, debu, pernafasan
rokok)
Mengendap di
bronkus

Infeksi

Respon inflamasi
(radang)
Nafsu makan menurun
Penebalan pada
BROKHITIS
dinding bronkus,
bronkospasme
Hipertropi/hiperplas KETIDAK SEMIBANGAN
ia kelenjar mukus NUTRISI KURANG DARI
KEBUTUHAN TUBUH
Penyempitan
lumen bronkus Naiknya
produksi mukus
oleh sel goblet Obstruksi/edema saluran
pernapasan atas
Aliran udara Di saluran
Akumulasi sekret
terganggu napas
berlebihan
Gangguan rasa nyaman

Sesak napas, kesulitan Respon batuk Gangguan/obstru


NYERI AKUT
untuk bernapas ksi jalan napas
Gangguan ventilasi pada
saluran pernapasan
Aliran udara
terganggu
GANGGUAN Sesak
POLA TIDUR nafas/peningkatan
apas dan batuk frequensi napas
KETIDAK EFEKTIFAN
BERSIHAN JALAN
Poltekkes Kemenkes Semarang Prodi DIII KeperawatanNAPAS
Purwokerto 7
KETIDAK EFEKTIFAN
POLA NAPAS
G. Analisa Data

Data Fokus Masalah Etiologi


DS: Ketidakefektifan Infeksi
Pasien mengatakan bersihan jalan napas
hidungnya tersumbat.

DO:
Terdapat dahak (sputum)
DS: · Ketidakefektifan pola nafas Nyeri
Pasien mengatakan sesak
napas

DO :
Pola Napas tidak teratur
DS : Nyeri akut Agens cedera biologis

Pasien mengatakan nyeri (infeksi)

dada

DO:

Pasien tampak memegang


dada

DS: Ketidaksemibangan nutrisi Kurang asupan makanan


Pasien mengatakan tidak kurang dari kebutuhan tubuh
nafsu makan

DO:

Nafsu makan
buruk/anoreksia

DS: Gangguan pola tidur Halangan lingkungan


Pasien mengatakan (lingkungan yang tidak
tidurnya terganggu dikenal)

Poltekkes Kemenkes Semarang Prodi DIII Keperawatan Purwokerto 8


DO:
Pasien terlihat terdapat
kantong mata

H. Diagnosa
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan infeksi
2. Ketidak efektifan pola napas berhubungan dengan nyeri
3. Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera biologis (infeksi)
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kurang asupan makanan
5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan halangan lingkungan (lingkungan yang
tidak dikenal)

I. Intervensi

Diagnosa Tujuan Tindakan Rasional


Keperawatan
1.Ketidakefektifan Setelah dilakukan Manajemen Jalan 1. Untuk membuka
bersihan jalan asuhan Nafas 3140) jalan nafas
napas berhubungan keperawatan 1. Buka jalan nafas 2. Mengurangi hidung
dengan infeksi selama 1 x 24 jam dengan teknik chin tersumbat
diharapkan lift atau jaw thrust, 3. Mempermudah
bersihan jalan sebagaimana mengeluarkan dahak
nafas kembali mestinya
efektif dengan 2. Posisikan pasien
kriteria hasil : untuk
- Hidung memaksimalkan
tersumbat ventilasi
teratasi 3. Instruksikan
- Dahak hilang bagaimana agar
bisa melakukan
-
batuk efektif
2.Ketidak efektifan Setelah dilakukan Monitor perafasan 1. Untuk mengetahui

Poltekkes Kemenkes Semarang Prodi DIII Keperawatan Purwokerto 9


pola napas asuhan (3350) irama nafas
berhubungan keperawatan 1. Monitor kecepatan, 2. Untuk mngetahui
dengan nyeri selama 1 x 24 jam irama, kedalaman perkembangan
diharapkan pola dan kesulitan status kesehatan
nafas efektif bernafas. pasien
dengan kriteria 2. Monitor keluhan
hasil : sesak nafas pasien,
- Sesak nafas termasuk kegiatan
pasien yang meningkatkan
berkurang atau memperburuk
- Pola nafas sesak nafas
menjadi tersebut
teratur
3.Nyeri akut Setelah dilakukan Manajemen nyeri 1. Mengetahui
berhubungan asuhan (1400) seberapa tingkat
dengan agens keperawatan 1. Lakukan nyeri yang dialami
cedera biologis selama 1 x 24 jam pengkajian nyeri 2. Mengurangi rasa
(infeksi) diharapkan nyeri komprehensif yang nyeri
berkurang dengan meliputi lokasi, 3. Mengurangi rasa
kriteria hasil : karakteristik nyeri
- Nyeri dada onsep/durasi,
berkurang frekuensi, kualitas,
intesitas atau
beratnya nyeri dan
faktor pencetus
2. Pastikan perawatan
analgesik bagi
pasien dilakukan
dengan
pemantauan yang
ketat.
3. Dukung
istirahat/tidur yang

Poltekkes Kemenkes Semarang Prodi DIII Keperawatan Purwokerto 10


adekuat untuk
membantu
penurunan nyeri
4.Ketidakseimbang Setelah Manajemen nutrisi 1. Untuk mengetahui
an nutrisi kurang dilakukan (1100) status gizi
dari kebutuhan asuhan 1. Tentukan status 2. Agar pasien
tubuh berhubungan keperawatan gizi pasien dan mengetahui
dengan kurang selama 1 x 24 kemampuan kebutuhan
asupan makanan jam diharapkan (pasien) untuk nutrisinya
keseimbangan memenuhi
nutrisi tercukupi kebutuhan gizi
dengan kriteria 2. Instruksikan pasien
hasil : mengenai
- Nafsu makan kebutuhan nutrisi
bertambah (yaitu membahas
- Kebutuhan pedoman diet dan
nutrisi piramida makanan)
tercukupi

5.Gangguan pola Setelah Peningkatan tidur 1. Agar memenuhi


tidur berhubungan dilakukan (1850) kebutuhan tidur
dengan halangan asuhan 1. Tentukan pola pasien
lingkungan keperawatan tidur/aktivitas 2. Agar pola tidur
(lingkungan yang selama 1 x 24 pasien pasien teratur
tidak dikenal) jam pola tidur 2. Monitor/catat pola 3. Pola tidur kembali
efektif dengan tidur pasien dan teratur
kriteria hasil : jumlah jam tidur
- Tidur 3. Dorong pasien
tercukupi untuk menetapkan
- Kantung mata rutinitas tidur
hilang untuk
memfasilitasi
perpindahan dari

Poltekkes Kemenkes Semarang Prodi DIII Keperawatan Purwokerto 11


terjaga menuju
tidur.
\

J. Evaluasi yang diharapkan


Dengan adanya asuhan keperawatan sesuai intervesi yang diberikan diharapkan :
1. Jalan nafas kembali efektif
2. Pola nafas kembali efektif
3. Nyeri hilang
4. Nafsu makan kembali pulih
5. Pola tidur teratur

K. Komplikasi
Komplikasi bronchitis dapat berupa terjadinya korpulmonale, gagal jantung kanan dan
gagal pernapasan (manurung, 2008)
Beberapa komplikasi yang ditemukan pada bronkhitis adalah :
1. Emfisema
Emfisema adalah akibat dari pelebaran sebagian atau seluruh bagian dari asinus
alveoli yang disertai dengan kerusakan dari sel pernapasan.
2. Kor pulmonale
Kor pulmonale didefinisikan sebagai suhu disfungsi dari ventrikel kanan yang
dihubungkan dengan kelainan fungsi paru atau keduanya.
3. Polisitemia
Adanya batuk, sputum, dan tanda-tanda hipoksemia pada blublotter. Eksaserbasi
akut disebabkan oleh infeksi pada auskultrasi terdpat ronki basah, baik pada
ekspirasi maupun inspirasi. Sesak nafas dan wheezing atau mengi merupakan
tanda utama dari bronkhitis. Bila sudah terdapat komplikasi pulmonale, maka
proknosis dari penyakit ini sudah buruk.
4. Kegagalan pernapasan

Poltekkes Kemenkes Semarang Prodi DIII Keperawatan Purwokerto 12


L. Daftar Pustaka
Manurung, Santa dkk. 2008. Asuhan Keperawatan Pasien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta: Salemba (diakses pada tanggal 20 Agustus 2018)
Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika (diakses pada tanggal 20 Agustus
2018)

Selvi. (2015). Laporan Pendahuluan Bronkhitis. (onine),

https://www.slideshare.net/selvyytjahbalet/laporan-pendahuluan-bronkitis
(diakses pada tanggal 20 Agustus 2018)
Zulfi. (2017). Laporan Pendahuluan Bronkhitis. (online),
https://zulfiprint19.blogspot.com/2017/02/laporan-pendahuluan-bronkhitis-
sistem.html (diakses pada tanggal 20 Agustus 2018)

Poltekkes Kemenkes Semarang Prodi DIII Keperawatan Purwokerto 13