You are on page 1of 5

Andrew Huwae, Baileu: Kajian tentang Bentuk Manifestasi Fisik dari Masyarakat Adat di ............

DAFTAR PUSTAKA PULAU BURU MASA PERANG DUNIA II: Perspektif Arkeo-Historis

Cooley, F. L. 1987. Mimbar dan Tahta. Hubungan Buru Island during World War II: Historical-Archaeology Perspective
Lembaga-Lembaga Keagamaan di
Maluku Tengah. Jakarta: Pustaka Sinar Syahruddin Mansyur
Harapan. Balai Arkeologi Ambon
Jl. Namalatu-Latuhalat, Nusaniwe, Ambon-97118
----------- Ambonese Adat a General Description, e-mail: hitam_putih07@yahoo.com
Yale University, New Haven Coon, 1962.
Abstrak
Dyk, V. R. 1962. Pengantar Hukum Adat Dalam konteks kawasan, keberadaan tinggalan arkeologi berupa sarana pertahanan masa
Indonesia. Sumur Bandung. Perang Dunia II di Pulau Buru tidak lepas dari konteks geografis, dimana Kepulauan
Maluku – termasuk Pulau Buru merupakan bagian dari kawasan Pasifik. Permasalahan
Maluku Tengah Di Masa Lampau: Gambaran yang dikaji dalam tulisan ini adalah mengungkap berbagai bentuk sarana pertahanan
Sekilas Lewat Arsip Abad Sembilan Belas, dan lokasi keberadaannmya, serta informasi historis yang terkait dengan Perang Dunia
II di Pulau Buru. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif dan analogi sejarah,
penerbitan sumber-sumber sejarah, No. penelitian ini berhasil mengidentifikasi bentuk-bentuk sarana pertahanan yang masih
13. Arsip Nasional Republik Indonesia, dapat diamati berupa; fasilitas landasan pacu, pillbox dan lokasi pendaratan pasukan
Jakarta, 1982. Australia. Hasil pembahasan juga berhasil mengungkap peran wilayah Pulau Buru yang
merupakan wilayah strategis baik bagi militer Jepang maupun pasukan sekutu dalam
Pattikayhatu, J. A. 1993. Sejarah Daerah Maluku. Perang Dunia II. Peran wilayah yang strategis ini tidak lepas dari posisi geografis Pulau
Ambon: Departemen Pendidikan dan Buru yang dapat menghubungkan Philipina yang ada di bagian utara, Ambon yang ada
di sebelah timur, serta Pulau Timor yang ada di bagian selatan.
Kebudayaan.
Kata Kunci: Pulau Buru, Perang Dunia II, Arkeo-Historis
Sachse, F. J. P. 1907. Het Eiland Seram en
Zijne Bewoners. Edisi Boekhandel en Abstract
Drukkerij. In the context of the region, the presence of archaeological remains in the form of
means of defense during World War II on the island of Buru can not be separated from
the geographical context, where the Maluku Islands - including the Buru is part of the
Pacific region. The problems studied in this paper is to reveal some form of defense
and locations, as well as historical information related to World War II on the island
of Buru. By using descriptive analysis and historical analogies, this study managed to
identify forms of the means of defense which can still be observed in the form; facili-
ties runway, pillbox and Australian troops landing site. Discussion of the results also
uncovered the role of the island of Buru is a strategic region for the Japanese military
and allied forces in World War II. The role of a strategic area is not separated from the
geographical position of Buru Island that connects the Philippines in the north, Ambon
in the east, and the island of Timor in the south.
Key Words: Buru Island, World War II, Historical-Archaeology

PENDAHULUAN di sebelah utara Pulau Buru. Saat ini, Pulau


Secara geografis, Pulau Buru terletak Buru terbagi atas dua wilayah pemerintahan
di sebelah barat Pulau Seram dan berada pada administratif setingkat kabupaten yaitu
arah barat laut Pulau Ambon. Selain kedua Kabupaten Buru dan Kabupaten Buru Selatan
pulau tersebut, beberapa pulau kecil berada di yang merupakan bagian dari Provinsi Maluku.
sekitar Pulau Buru, yaitu; Ambalau di sebelah Pulau Buru memiliki rentang historis
tenggara dan gugusan pulau Manipa, Kelang yang panjang dimulai ketika masa kejayaan
dan Buano yang membentang di sebelah timur Kesultanan Ternate, dan kedatangan bangsa
hingga timur laut Pulau Buru. Kepulauan Sula Eropa dalam upaya pencarian pusat rempah-
juga merupakan gugusan pulau yang terletak rempah. Rentang historis Pulau Buru berlanjut

42 Kapata Arkeologi Vol. 8 Nomor 1 / Juli 2012 Kapata Arkeologi Vol. 8 Nomor 1 / Juli 2012 43
Balai Arkeologi Ambon Balai Arkeologi Ambon
Syahruddin Mansyur, Pulau Buru Masa Perang Dunia II: Perspektif Arkeo-Historis Syahruddin Mansyur, Pulau Buru Masa Perang Dunia II: Perspektif Arkeo-Historis

pada masa Perang Dunia II, dimana kekuatan Dengan demikian, rentang historis historis periode Perang Dunia II di Pulau penduduk sekitar 3,93%. Kabupaten Buru
militer Jepang menguasai seluruh wilayah Pulau Buru dapat dibagi dalam beberapa Buru. Dalam konteks pembahasan ini, terbagi atas lima wilayah kecamatan yaitu
nusantara hingga periode sejarah kontemporer periode, yaitu: periode awal kedatangan maka penulisan ini dimaksudkan untuk Kecamatan Namlea, Kecamatan Waeapo,
Indonesia yang mencatat Pulau Buru sebagai bangsa Eropa, periode penguasaan Belanda mengisi ruang informasi historiografi Pulau Kecamatan Waplau, Kecamatan Batabual,
lokasi pembuangan tahanan politik pada awal (VOC dan Pemerintah Hindia Belanda), Buru berkaitan dengan Periode Perang dan Kecamatan Air Buaya. Kabupaten Buru
era orde baru. periode penguasaan militer Jepang, dan Dunia II. Adapun metode penulisan yang mengalami pemekaran wilayah pada tahun
Historiografi Kepulauan Maluku terakhir adalah periode Pulau Buru sebagai digunakan adalah metode studi pustaka, 2008 berdasarkan Undang-Undang Nomor 32
menyebutkan bahwa wilayah Pulau Buru lokasi tahanan politik pada era orde baru. dimana data utama penulisan ini bersumber Tahun 2008 tentang terbentuknya Kabupaten
mendapat pengaruh dari Kesultanan Ternate. Dalam perspektif arkeo-historis, berbagai dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Buru Selatan. Secara fisik, Kabupaten Buru
Pengaruh ini, tampak jelas dengan adanya tinggalan arkeologi menandai periode rentang Arkeologi Ambon di Pulau Buru pada tahun dibatasi oleh:
perwakilan Sultan Ternate yang ditempatkan historis Pulau Buru. Periode kedatangan 2011 (Tim Penelitian, 2011). Metode analisis - Sebelah Barat : Laut Banda
di Pulau Buru yang bergelar sangaji atau bangsa Eropa ditandai dengan keberadaan deskriptif juga digunakan untuk memberikan - Sebelah Timur : Selat Manipa
Gimelaha (Kimelaha). Selain Pulau Buru, benteng Fort Defensie di Kayeli dimana saat gambaran tentang berbagai bentuk tinggalan - Sebelah Utara : Laut Seram
wilayah-wilayah lain yang mendapat pengaruh itu, Kayeli merupakan pusat aktifitas dan arkeologi yang ada di lokasi penelitian. - Sebelah Selatan : Kabupaten Buru Selatan.
adalah Pulau Seram (Hoamual), Kelang, pemerintahan Belanda di Pulau Buru. Bukti- Selanjutnya, untuk menambah informasi Secara kesuluruhan, luas Pulau Buru
Buano, dan Manipa (Leirissa, 1973: 86). bukti arkeologis dalam periode penguasaan tentang latar historis, maka dilakukan adalah 7.594, 98 Km2 dengan panjang 140
Jangkauan pengaruh yang mencakup wilayah- Belanda juga terdapat di Kota Namlea sebagai penelusuran lanjutan baik melalui buku km dan lebar 90 km, serta garis pantai 232,18
wilayah tersebut (Maluku bagian tengah), pusat pemerintahan pada pergantian abad ke- maupun melalui sumber-sumber lain dari Km. Puncak bukit/gunung yang ada di pulau
menunjukkan bahwa jaringan kekuasaan 19 dan abad ke-20. Demikian halnya, periode media online yang berkaitan dengan periode ini adalah Kan Palatmada dengan ketinggian
politik dan ekonomi Kesultanan Ternate penguasaan militer Jepang pada masa Perang Perang Dunia II di Pulau Buru. 2.429 mdpl. Terdapat 3 (tiga) blok pegunungan
menjangkau bagian selatan Kepulauan Dunia II, ditandai dengan keberadaan sarana yang masing-masing dipisahkan oleh struktur
Maluku. pertahanan di beberapa lokasi di Pulau Buru kelurusan lembah. Pada bagian barat tapak
Sementara itu, catatan historis tentang (Tim Penelitian, 2011). Sementara itu, pada HASIL DAN PEMBAHASAN Kan Palatmada dengan ketinggian diatas 2000
Pulau Buru telah ada sejak awal abad ke-16, periode Pulau Buru sebagai lokasi tahanan a. Profil Wilayah mdpl, dimana dibatasi oleh lembah depresi
dimana bangsa Eropa mulai masuk ke wilayah politik, rumah-rumah tahanan yang dulunya Sungai Nibe-Danau Rana dan Sungai Wala.
Maluku. Catatan awal bangsa Eropa tercatat digunakan sebagai tempat tinggal masih dapat Secara administratif, lokasi penelitian Pada blok tengah dengan ketinggian di atas
dalam Ekspedisi Francisco Serrão pada tahun disaksikan hingga saat ini. berada pada dua wilayah Kecamatan 1000 mdpl yang dibentuk oleh Teluk Kayeli
1512 dalam upaya pencarian pusat produksi Dalam kerangka perspektif arkeo- yaitu Kecamatan Waeapo dan Kecamatan dan Lembah Apu, sedangkan blok selatan
cengkih. Catatan ini menyebutkan bahwa historis, informasi tentang keberadaan bukti- Namlea, kedua wilayah kecamatan ini dibentuk oleh Lembah Kalua dengan Gunung
Pulau Buru merupakan salah satu persinggahan bukti arkeologis periode Perang Dunia II merupakan wilayah adminstratif Kabupaten Batabual 1.731 mdpl. Secara astronomis,
ekspedisi Serrão yang berangkat dari Gresik belum banyak diketahui. Informasi-informasi Buru, Provinsi Maluku. Kota Namlea Kabupaten Buru terletak antara 2º25’ - 3º55’
di Jawa dan melanjutkan perjalanan ke tentang bentuk-bentuk sarana pertahanan, dapat dijangkau dengan menggunakan Lintang Selatan dan 125º70’ - 127º21’ Bujur
Ambon dan Seram sebelum menuju ke Banda termasuk lokasi keberadaannya, serta latar transportasi laut dan udara. Transportasi Timur.
(Andaya, 1993: 115). Catatan lain tentang historis keberadaan sarana pertahanan laut dapat dijangkau dengan dua alternatif
Pulau Buru ditulis oleh Rumphius (1910), tersebut. Pada akhirnya informasi bukti- yaitu menggunakan armada Feri dan Kapal b. Sarana Pertahanan Masa Perang
menyebutkan bahwa pada tahun 1648 sebuah bukti arkeologis tersebut dapat memberi Cepat. Moda transportasi Feri berangkat dari Dunia II di Pulau Buru
ekspedisi VOC berhasil menangkap dan pemahaman tentang peran Pulau Buru dalam dermaga fery yang ada di Baguala dengan
membakar kapal milik pedagang Makassar kaitannya dengan periode Perang Dunia II. waktu tempuh 8 jam, sedang Kapal Cepat 1. Lokasi Pendaratan Tentara Australia
serta menghancurkan 3.000 pohon cengkih Berdasarkan latar belakang berangkat dari Pelabuhan Kecil (Belakang Lokasi ini berada di daerah pesisir
yang produktif di wilayah selatan Pulau permasalahan tersebut, tulisan ini difokuskan Kota) dengan waktu tempuh ± 4 jam. Jenis pantai di Kampung Jiku Merasa, dan secara
Buru (Rumphius, 1910 II: 50; Grimes, 2006: pada pembahasan periode Perang Dunia II transportasi udara yaitu dengan pesawat astronomis berada pada S 03013.953’ dan
144). Berbagai catatan awal ini menunjukkan di Pulau Buru, baik pada masa pendudukan perintis yang berangkat dari bandara E 127006.610’. Di lokasi ini terdapat dua
bahwa sejak awal kehadiran bangsa Eropa, pasukan sekutu maupun masa penguasaan Pattimura di Kota Ambon menuju bandara struktur berbentuk bulat dari bahan beton
Pulau Buru telah berperan penting dalam militer Jepang. Fokus permasalahan yang milik TNI-AU yang ada di Kota Namlea dengan campuran batu karang. Ukuran
konteks perdagangan rempah-rempah masa dikaji dalam tulisan ini, diantaranya berkaitan dengan waktu tempuh ± 30 menit. masing-masing struktur; adalah Struktur I,
lalu. Catatan Rumphius setidaknya memberi dengan bentuk-bentuk sarana pertahanan, Jumlah penduduk Kabupaten Buru dengan diamtere 415 cm, kedalaman 220
informasi bahwa Pulau Buru merupakan salah lokasi-lokasi atau toponim yang berkaitan berdasarkan sensus tahun 2011 adalah Penduduk cm, tinggi 90 cm dari permukaan tanah
satu wilayah produksi cengkih di Maluku. dengan periode Perang Dunia II, serta latar 111.447 jiwa dengan laju pertumbuhan (pengukuran pada bagian luar). Pada bagian

44 Kapata Arkeologi Vol. 8 Nomor 1 / Juli 2012 Kapata Arkeologi Vol. 8 Nomor 1 / Juli 2012 45
Balai Arkeologi Ambon Balai Arkeologi Ambon
Syahruddin Mansyur, Pulau Buru Masa Perang Dunia II: Perspektif Arkeo-Historis Syahruddin Mansyur, Pulau Buru Masa Perang Dunia II: Perspektif Arkeo-Historis

atas terdapat penutup yang juga terbuat dari Dalam kerjasama tersebut, Pemerintah Hindia
semen dengan rangka besi, pada bagian Belanda bekerjasama dengan Pemerintah
inipula terdapat lubang dengan ukuran 60 x Australia sepakat untuk membentuk sistem
60 cm, dengan ketebalan 15 cm. Sementara pertahanan yang disebut “The Defence Of
itu, Struktur II, dengan kedalaman 210 cm, The Ambon-Timor-Darwin Triangle” untuk
tebal 31 cm, tinggi 71 cm dari permukaan menghadapi kemungkinan serangan pasukan
tanah (pengukuran pada bagian luar). Jarak Jepang ke wilayah Hindia Belanda (Indonesia).
antara kedua struktur ini adalah 15,7 m. Dan, tanggal 7 Desember 1941, Pemerintah
Tidak diketahui fungsi kedua struktur yang Australia mengirimkan bantuan militer ke
ada di lokasi, namun informasi penduduk Ambon termasuk Namlea (Pulau Buru) dan
menyebutkan bahwa lokasi ini merupakan Pulau Seram (Bussemaker, 1996; Syahruddin,
lokasi pendaratan tentara Australia yang Foto 3: Pillbox I yang terdapat di sekitar Lapangan 2011: 53). Kontak antara pasukan Jepang
merupakan bagian dari pasukan sekutu Foto 2: Landasan pacu bandara Namlea yang Terbang milik TNI-AU. Sumber: Dokumentasi dan pasukan Sekutu (ABDA/American-
menghadapi militer Jepang dalam Perang merupakan peninggalan Perang Dunia II (saat Balai Arkeologi Ambon British–Dutch-Australia) berlangsung sejak
ini masih difungsikan oleh TNI-AU). Sumber:
Dunia II. Indikasi lain yang ada di lokasi ini 25 Januari hingga akhirnya pasukan Jepang
adalah struktur yang saat ini telah berada di Dokumentasi Balai Arkeologi Ambon, 2011. c. Periode Perang Dunia II di Pulau Buru menguasai bandar udara yang ada di Pulau
tepi laut yang diduga merupakan bagian dari Dalam berbagai sumber disebutkan Buru pada12 Februari 1942 (Broodmetkaas,
Selain lapangan terbang, temuan lain bahwa gelombang serangan pasukan Jepang
sebuah dermaga. 2012).
yang ada di lokasi ini adalah dua pillbox terhadap wilayah Hindia Belanda, selain
dengan bentuk dan ukuran yang berbeda, dimaksudkan untuk menguasai sumber-
yaitu: sumber minyak, sekaligus merupakan upaya
Pillbox I, terdiri atas dua bagian, militer Jepang untuk melumpuhkan kekuatan
yaitu bagian atas dengan ukuran lebih kecil Hindia Belanda yang saat itu berpusat di Jawa.
berbentuk segi delapan dengan ukuran tiap Aspek strategis lain, bahwa secara geografis
sisi adalah 80 cm, dan ketebalan dinding 33 (khususnya wilayah timur) penguasaan atas
cm. Pada bagian bawah berbentuk lingkaran wilayah ini dimaksudkan untuk mendekatkan
dengan diameter 5,20 m. Pada tiap bagian pangkalan militer Jepang ke wilayah Australia
terdapat lubang intip, pada bagian atas yang saat itu merupakan salah satu bagian dari
(bentuk segi delapan) terdapat delapan lubang kekuatan Sekutu. Gelombang serangan yang
intip yang ada pada tiap sisi dengan ukuran 25 berpusat di Davao Philipina, dimulai pada
Foto 1: Struktur I yang terdapat di lokasi pendaratan x 35 cm. Sementara itu, pada bagian bawah tanggal 11 Januari 1942 dan berturut-turut
Tentara Australia. Sumber: Dokumentasi Balai (bentuk lingkaran) terdapat 13 lubang intip menguasai beberapa wilayah di Indonesia
Arkeologi Ambon, 2011 dengan ukuran 10 x 10 cm. Kedua bagian hingga 20 Februari 1942. Sementara itu,
ini dihubungkan oleh sebuah lubang dengan serangan militer Jepang ke wilayah Maluku
ukuran 50 x 51 cm, demikian pula pada khususnya Ambon berlangsung sejak tanggal
2. Lapangan Terbang bagian atas terdapat lubang dengan ukuran 30 Januari 1942. (Ojong, 2006: 7; Syahruddin,
Secara astronomis, lokasi ini berada yang sama. Pada bagian bawah bunker ini 2011: 53).
pada titik S 03014.284’ dan E 127006.142’. terdapat sebuah pintu masuk dengan ukuran Periode penguasaan militer Jepang dan
Lapangan Terbang ini memiliki landasan 60 x 80 cm. pasukan sekutu di Pulau Buru berlangsung Foto 4. Serangan Udara Pasukan Sekutu pada
pacu sepanjang 750 meter dengan lebar 23 Pillbox II, bunker ini memiliki lima pada masa Perang Dunia II yaitu tahun 1942 tanggal 15 Oktober 1944 terhadap Fasilitas
meter. Lokasi lapangan terbang berjarak lubang intip dengan ukuran 20 x 20 cm, dan hingga 1945. Sebelum serangan militer Landasan Pacu Kekuatan Militer Jepang di
sekitar 6 kilometer arah barat daya kota sebuah pintu dengan ukuran 82 x 72 cm. Jepang pada awal tahun 1942, pihak sekutu Namlea, Pulau Buru.
Namlea. Saat ini, lapangan terbang yang Sementara itu, ketebalan bunker adalah 33 yang tergabung dalam Aliansi negera-negara (Sumber: www.theatlantic.com)
merupakan peninggalan Perang Dunia II cm. Jarak antara kedua bunker adalah 36, sekutu telah mempersiapkan kekuatan militer
dikuasai oleh TNI-AU, bandara ini juga Setelah kekalahan Belanda dan
60 m. mereka. Dalam hal ini, Pemerintah Australia
difungsikan sebagai bandara komersial Australia di wilayah Hindia bagian timur,
(salah satu negara aliansi) sepakat untuk
yang melayani penerbangan perintis yang Amerika dengan peralatan perang yang lebih
mengirimkan bantuan militer ke beberapa
menghubungkan Namlea dengan Ibukota lengkap dan modern kemudian memegang
lokasi penting di wilayah Hindia Belanda.
Propinsi.

46 Kapata Arkeologi Vol. 8 Nomor 1 / Juli 2012 Kapata Arkeologi Vol. 8 Nomor 1 / Juli 2012 47
Balai Arkeologi Ambon Balai Arkeologi Ambon
Syahruddin Mansyur, Pulau Buru Masa Perang Dunia II: Perspektif Arkeo-Historis Syahruddin Mansyur, Pulau Buru Masa Perang Dunia II: Perspektif Arkeo-Historis

peran penting dalam upaya menghalau melakukan serangan ke wilayah Hindia PENUTUP arkeologi yang ada dimaksudkan sebagai
militer Jepang. Periode akhir Perang Dunia Belanda lebih mengutamakan titik-titik lokasi Berdasarkan hasil survey di lapangan bukti untuk melengkapi informasi rentang
II di Pulau Buru terjadi pada saat serangan penting. Dalam konteks kawasan Ambon dan diperoleh informasi tentang keberadaan historis suatu wilayah termasuk Pulau Buru.
balik yang dilakukan oleh pasukan Sekutu sekitarnya, serangan militer Jepang dipusatkan sarana pertahanan pada masa Perang Dunia Demikian, tulisan ini diharapkan dapat
di bawah komando Jenderal Mc Arthur. di Kota Ambon dan setelah mereka berhasil II di Pulau Buru. Sarana pertahanan berupa melengkapi informasi rentang historis Pulau
Tujuan dari serangan balik yang dilakukan menguasai titik lokasi penting tersebut fasilitas landasan pacu, titik lokasi sebaran Buru dan dapat mengungkap nilai penting
oleh Amerika adalah menguasai kembali barulah kemudian diarahkan ke wilayah- pillbox, dan lokasi pendaratan pasukan sunberdaya arkeologi yang ada di Pulau Buru.
pangkalan militer mereka yang direbut wilayah sekitarnya yang merupakan “wilayah Australia. Sarana-sarana pertahanan ini
oleh Jepang di Philipina. Dengan tujuan sayap”. Dalam hal ini Namlea yang ada di berada di lokasi yang saling berdekatan
utama tersebut, pasukan sekutu sebelumnya Pulau Buru merupakan “wilayah sayap” dan berada di sisi utara Pulau Buru. Asumsi *****
berusaha melumpuhkan kekuatan Jepang kekuatan gabungan militer Hindia Belanda bahwa sarana pertahanan ini dibangun oleh
yang tersebar di beberapa wilayah di Hindia dan Australia. Pemerintah Hindia Belanda bekerjasama
Timur termasuk yang ada di Namlea. Pada periode berikutnya, setelah dengan Pemerintah Australia menunjukkan
Untuk itu, Pasukan Sekutu yang terdiri atas militer Jepang berhasil menguasai Pulau bahwa secara geografis, lokasi ini adalah
kekuatan udara 5th Air Force dan Far East Buru, lokasi sarana pertahanan tersebut lokasi ideal untuk menghadapai serangan
Air Force (FEAF) melakukan serangan- dimanfaatkan untuk menghadapi serangan militer Jepang. Sebagaimana diketahui militer
serangan sporadis terhadap kedudukan balik dari Pasukan Sekutu. Berdasarkan Jepang saat itu, memulai serangan ke wilayah
pasukan Jepang di Namlea yang berlangsung pengamatan di lokasi sarana pertahanan Hindia Belanda melalui Philipina yang ada di
selama bulan Mei 1943 hingga Januari 1945 yang ada berupa landasan pacu dan sebaran bagian utara Kepulauan Maluku.
yang melibatkan pesawat pembom B-24, titik lokasi Pillbox, menunjukkan bahwa Konteks peran wilayah Pulau Buru
B-25, A-20 dan P-38 (Pacific Wrecks, 2011). militer Jepang tidak membangun sarana dalam kancah Perang Dunia II tidal lepas
Akhirnya, pada tahun 1945, militer Jepang pertahanan yang cukup memadai untuk dari konteks kawasan Kepulauan Maluku
menyatakan kalah perang dan menyerahkan menghadapi serangan balik dari sekutu. yang menjadi bagian dari kawasan pasifik.
kekuasaannya kepada Pasukan Sekutu. Selain itu, kekuatan militer Jepang dalam hal Keterlibatan Amerika Serikat, Australia, dan
Jika mengamati keberadaan bukti- jumlah telah jauh berkurang dibanding ketika Hindia Belanda dalam perang ini menjadikan
bukti arkeologis periode Perang Dunia II mereka memulai invasi ke wilayah Asia- kawasan pasifik sebagai salah satu “arena”
berada di sisi utara Pulau Buru, sehingga Pasifik. Taktik atau serangan harakiri militer dalam Perang Dunia II yang disebut “Theater
tampak jelas keletakan geografis lokasi-lokasi Jepang (pesawat bom bunuh diri, biasanya of Pacifik”. Dengan demikian, militer Jepang
tersebut berorientasi ke arah utara. Analisa bertujuan untuk menghancurkan target berkepentingan untuk menguasai seluruh
pertama bahwa sarana pertahanan telah dengan menabrakkan pesawat yang memuat wilayah Hindia Belanda. Selain kepentingan
dibangun oleh gabungan militer Pemerintah bahan peledak), tampaknya merupakan militer kawasan, Jepang juga memiliki
Hindia Belanda dan Pemerintah Australia. bumerang yang justru melemahkan kekuatan kepentingan ekonomi, karena adanya
Sarana pertahanan berupa bandar udara mereka dari aspek kuantitas pesawat tempur. embargo minyak terhadap negara tersebut,
yang dilengkapi dengan beberapa pilbox di Faktor lain, pada periode akhir Perang Dunia sebagaimana diketahui bahwa wilayah Hindia
sekitarnya, serta lokasi pendaratan tentara II, teknologi persenjataan militer Jepang jauh Belanda yaitu Pulau Kalimantan dan Pulau
Australia yang tidak jauh dari lokasi bandara ketinggalan dibanding teknologi persenjataan Timor merupakan sumber minyak pada
yang masing-masing berada di sisi utara Pulau yang dimiliki oleh Pasukan Sekutu. Hal ini saat itu. Berbagai kepentingan inilah yang
Buru. Pembangunan sarana pertahanan ini tampak pada berbagai serangan sporadis kemudian menjadi faktor utama kehadiran
dimaksudkan untuk menghadapi serangan yang dilancarkan oleh Pasukan Sekutu militer Jepang di kawasan Hindia Belanda
militer Jepang yang kemungkinan datang yang memiliki kekuatan pesawat tempur termasuk di Kepulauan Maluku.
dari arah utara. Hal ini mengingat awal dengan akurasi yang tinggi. Serangan- Meski kuantitas tinggalan arkeologi
serangan militer Jepang ke wilayah Hindia serangan sporadis ini mulai dilancarkan yang berkaitan dengan masa Perang Dunia II
Belanda berpusat di Davao Philipina. Pada sejak pertengahan tahun 1943 hingga awal di Pulau Buru tidak banyak dengan sebaran
awal periode Perang Dunia II, militer Jepang tahun 1945. Menjelang akhir tahun 1945, yang kurang, namun tinggalan arkeologi
didukung oleh kekuatan persenjataan saat Jepang kemudian menyatakan kalah dan ini penting dilestarikan sebagai penanda
itu, sehingga wilayah Hindia Belanda dapat menyerahkan kekuasaannya kepada pasukan kehadiran pasukan sekutu maupun militer
dikuasai dengan cepat termasuk Pulau Buru. Sekutu. Jepang dalam konteks Perang Dunia II.
Selain itu, strategi Militer Jepang dalam Pentingnya melestarikan setiap sumberdaya

48 Kapata Arkeologi Vol. 8 Nomor 1 / Juli 2012 Kapata Arkeologi Vol. 8 Nomor 1 / Juli 2012 49
Balai Arkeologi Ambon Balai Arkeologi Ambon
Syahruddin Mansyur, Pulau Buru Masa Perang Dunia II: Perspektif Arkeo-Historis

DAFTAR PUSTAKA Syahruddin, Mansyur., 2011. Tinggalan Perang BIODATA PENULIS


Dunia II di Ambon: Tinjauan Atas Sarana
Pertahanan dan Konteks Sejarahnya.
Andaya, L.Y. 1993. The World of Maluku: Eastern Dalam Jurnal Kapata Arkeologi ISSN John A. Pattykayhatu, adalah Guru Besar Sejarah Indonesia Baru dan Sejarah Daerah Maluku pada
Indonesia in the Early Modern Period. 1858-4101, Hal. 43-61. Ambon. Balai Universitas Pattimura, Ambon. Berbagai penelitian telah dilakukan khususnya tentang sejarah daerah
Honolulu: University of Hawaii Press. Arkeologi Ambon. dan sejarah pendidikan di Maluku. Saat ini, masih aktif sebagai pengajar di FKIP Universitas Pattimura
dan sering diundang sebagai pembicara pada seminar-seminar bertema Sejarah Maluku.
Broodmetkass, 2007. Chronological Summary
Tim Penelitian. 2011. Laporan Penelitian Mus Huliselan, adalah Guru Besar Antropologi Sosial pada Universitas Pattimura, Ambon. Menyelesaikan
of Events in the Former Dutch East
Arkeologi: Pengaruh Kolonial di Wilayah studi S2 pada tahun 1980 pada Ecole des Hautes En Sciences Sosiales (EHESS) di Paris-Perancis, dan
Indies From Descember-3-1941 to
Pulau Buru Kabupaten Buru Propinsi studi S3 pada bidang yang sama dan universitas yang sama. Beliau pernah menduduki jabatan Rektor
December-31-1941.Diunduh Tanggal 13
Maluku. Ambon: Balai Arkeologi Ambon. Universitas Pattimura pada tahun 1994-2003. Berbagai penelitian antropologi telah dilakukan baik di
Januari 2012 dari: http://broodmetkaas.
Maluku, maupun di Sulawesi, serta penelitian tentang Masyarakat Kepulauan dan Kebudayaannya di
com/blog/2007/03/21/chronological-
Pacific Wreck, 2011. “American Missions Against Maluku. Saat ini, masih aktif sebagai pengajar pada Program Pascasarjana di Universitas Pattimura.
summary-of-events-in-the-former-dutch-
Halong and Halong Seaplane Base”.
east-indies-from-december-3-1941-to- Wuri Handoko, Lahir di Purworejo, Jawa Tengah, 31 Maret 1976, Pendidikan S1 Arkeologi di Universitas
Diunduh tanggal 18 Februari 2011, dari
december-31-1941/ Hasanuddin. Saat ini, bekerja sebagai staf peneliti (Peneliti Muda) di Balai Arkeologi Ambon.
http://www.pacificwrecks.com/airfields/
indonesia/halong/missions-halong.html Email : wurhand@yahoo.co.id
Bussemaker., H. 1996. Australian-Dutch Defence
Cooperation 1940-1941. dalam Australian Andrew Huwae, Lahir 27 Mei 1983 di Kota Ambon. Menempuh pendidikan S1 Sejarah di Universitas
War Memorial. University of Amsterdam. Sam Ratulangi Manado. Bekerja sebagai staf peneliti (Kandidat Peneliti) di Balai Arkeologi Ambon.
The Netherlands. Diunduh tanggal 18 Email: andrew_huwae@yahoo.co.id
Sumber Peta dan Gambar:
Februari 2011, dari: http://awm.gov.
aujournalj29herman.asp/herman.asp.htm Syahruddin Mansyur, Lahir di Rappang Sulawesi Selatan, 9 September 1977, Pendidikan S1 Arkeologi
Peta Pulau Buru. Link:
di Universitas Hasanuddin. Pasca Sarjana (S2) Arkeologi di Universitas Indonesia. Saat ini, bekerja
http://ms.wikipedia.org/wiki/Fail:Topographic_ sebagai staf peneliti (Kandidat Peneliti) di Balai Arkeologi Ambon.
Grimes, B.D. 2006. Mapping Buru: The Politics
map_of_Buru-en.svg Email : hitam_putih07@yahoo.com
of Territory and Settlement on an Eastern
Indonesian Island (page 135-155). Dalam
Foto 4. Serangan Pasukan Sekutu ke Pulau
Sharing the Earth, Dividing the Land:
Buru. Link: http://www.theatlantic.com/
Land and Territory in The Austronesian
infocus/2011/09/world-war-ii-the-pacific-
World. Thomas Reuter and Thomas Anton
islands/100155/#img27
Reuter (edited). Canberra: ANU-Press.

Leirissa, R.Z. 1973. Kebijaksanaan VOC untuk


Mendapatkan Monopoli Perdagangan
Cengkeh di Maluku Tengah antara Tahun
1615 dan 1652. Dalam Bunga Rampai
Sejarah Maluku (I). Jakarta: Lembaga
Penelitian Sejarah Maluku.

Ojong., P.K., 2006. Perang Pasifik, Cetakan IX


2006. Jakarta: Penerbit Buku Kompas

Rumphius, G.E. 1910. De Ambonsche historie,


behelsende een kort verhaal der
gedenkwaardigste geschiedenissen zo
in vreede als oorlog voorgevallen sedert
dat de Nederlandsche Oost Indische
Comp. het besit in Amboina gehadt heeft.
2 parts. Bijdragen tot de Taal-, Land- en
Volkenkunde, 64.

50 Kapata Arkeologi Vol. 8 Nomor 1 / Juli 2012


Balai Arkeologi Ambon