PENANGANAN MUTAKHIR GIZI BURUK PADA ANAK

I. Pendahuluan 1 Definisi Malnutrisi merupakan suatu kondisi dimana terjadi “undernutrition” dan “overnutrition”, kelebihan nutrisi dapat mengarah kepada obesitas dan overweight sedangkan kekurangan nutrisi mengarah kepada Kurang Energi Protein (KEP). Pada refrat ini membahas mengenai defisiensi nutrisi. Banyak faktor dapat menyebabkan malnutrisi, banyak diantaranya terkait dengan diet yang buruk atau infeksi yang parah atau berulang, kemiskinan dalam suatu populasi. Diet yang tidak adekuat, dikaitkan dengan kebiasaan hidup, kondisi lingkungan dan kebutuhan dasar suatu populasi berupa pangan, papan, dan kesehatan. Malnutrisi dapat menjadi faktor risiko untuk suatu penyakit dan dapat meningkatkan morbiditas dan kematian. Meskipun jarang menyebabkan kematian secara langsung, malnutrisi pada anak diasosiasikan dengan kematian anak sebesar 54% (10,8 juta anak) di Negara berkembang pada tahun 2001. malnutrisi yang mengarah pada penyebab kematian dapat dikaitkan dengan Kurang Energi Protein yang akan dibahas pada referat ini. Banyak faktor yang mempengaruhi malnutrisi antara lain vector penyakit, defisiensi mikronutrien, lingkungan yang kotor, overpopulasi yang mengarah kepada kemiskinan dan akhirnya berujung kepada tidak tersedia kecukupan suatu pangan. Malnutrisi sendiri dapat mengakibatkan dampak pada lingkungan dan memicu suatu lingkaran setan yang mengarah kepada masalah kesehatan. Sebagai contoh malnutrisi dapat membuat suatu kemiskinan yang memicu suatu rantai lemahnya ekonomi dan perkembangan sosial masyarakat. II. Kurang Energi Protein (KEP) 2 Kurang Energi Protein (KEP) adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan seharihari sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG).

1

Kurang energi protein merupakan salah satu dari empat masalah gizi utama di Indonesia. Prevalensi yang tinggi terdapat pada anak dibawah umur 5 tahun (balita), serta pada ibu hamil dan menyusui. Berdasarkan SUSENAS 2002, 26% balita menderita gizi kurang dan gizi buruk, dan 8% balita menderita gizi buruk. Pada kurang energi protein ditemukan berbagai macam keadaan patologis, tergantung pada berat ringannya kelainan. Berdasarkan lama dan jumlah kekurangan energi protein, kurang energi protein diklasifikasikan menjadi KEP derajat ringan (gizi sedang), KEP derajat sedang (gizi kurang) dan KEP derajat berat (gizi buruk). Gizi kurang menunjukkan gejala yang khas, belum ada kelainan biokimia, hanya dijumpai gangguan pertumbuhan. Pada gizi buruk didapatkan 3 bentuk klinis yaitu kwashiorkor, marasmus, dan marasmus-kwasiorkor. Di rumah sakit ataupun puskesmas ditemukan cukup banyak penderita marasmus, tetapi kwashiorkor sudah jarang ditemukan. III. Pengertian AKG (Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan) 3 Angka kecukupan gizi yang dianjurkan (AKG) atau Recommended Dietary Allowances (RDA) adalah tingkatan konsumsi zat-zat gizi esensial yang dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi hampir setiap orang sehat di suatu negara. AKG untuk Indonesia didasarkan atas patokan berat badan untuk masing-masing kelompok menurut umur, gender, dan aktivitas fisik yang diterapkan secara berkala melalui survey penduduk. Disamping itu, AKG disusun pula untuk kondisi khusus, yaitu untuk ibu hamil dan menyususi. AKG digunakan sebagai standard untuk mencapai status gizi optimal bagi penduduk dalam hal penyediaan pangan secara nasional dan regional serta penilaian kecukupan gizi penduduk golongan masyarakat tertentu diperoleh dari konsumsi makanannya. AKG berbeda dengan Angka Kebutuhan Gizi (Dietary Requirement). Angka kebutuhan gizi adalah banyaknya zat-zat gizi yang dibutuhkan seseorang (individu) untuk mencapai dan mempertahakan status gizi yang adekuat, sedangkan AKG adalah kecukupan gizi untuk rata-rata penduduk. Selain kebutuhan gizi menurut umur, gender, aktivitas fisik, dan kondisi khusus, dalam keadaan sakit, penetapan kebutuhan gizi harus 2

memperhatikan perubahan kebutuhan karena infeksi, gangguan metabolic, penyakit kronis dan kondisi abnormal lainnya. Dalam hal ini perlu dilakukan penghitungan kebutuhan gizi secara khusus dan penerapannya dalam bentuk modifikasi diet dan diet khusus. IV. Etiologi KEP 4 Penyebab KEP berdasarkan bagan sederhana yang disebut sebagai “model hirarki” yang akan terjadi setelah melalui lima level seperti yang tertera sebagai berikut: Kekacauan/Krisis kekeringan dan Peperangan

Level 1

Level 2

Kemiskinan dan kemunduran sosial

Level 3

Kurang pangan

Infeksi

Terlantar

Level 4

Anoreksia

Anoreksia

Level 5

KEP

KEP

KEP

3

V. Malnutrisi sekunder bila kondisi masalah nutrisi seperti diatas disebabkan 4 . yang pada umumnya didasari oleh masalah social ekonomi. pendidikan serta rendahnya pengetahuan di bidang gizi. dan biasanya juga disertai adanya kekurangan dari beberapa nutrisi lainnya. Patofisiologi KEP 5 KEP adalah manifestasi dari kurangnya asupan protein dan energi. Disebut malnutrisi primer apabila kejadian KEP akibat kekurangan asupan nutrisi. dalam makanan sehari-hari yang tidak memenuhi angka kecukupan gizi (AKG).

ataupun kelainan pencernaan dan metabolik yang mengakibatkan kebutuhan nutrisi meningkat.karena adanya penyakit utama. penurunan system kekebalan tubuh. penurunan kadar albumin serum. Berikut ini adalah bagan multifaktorial menuju kearah terjadinya KEP: 5 . penurunan hemoglobin. maka terjadilah marasmic-kwasiorkor.penyerapan nutrisi yang turun. penurunan beberapa sintesa protein. dan meningkatnya kehilangan nutrisi. maka terjadilah kwashiorkor (malnutrisi akut/decompesated malnutrition). sehingga dapat menyebabkan defisiensi protein relative. atrofi otot. Kalau terjadi stress katabolik (infeksi) maka kebutuhan protein akan meningkat. Dengan demikian pada KEP akan terjadi: gangguan pertumbuhan. Makanan yang tidak adekuat akan menyebabkan mobilisasi berbagai cadangan makanan untuk menghasilkan kalori demi penyelamatan hidup. kalau kondisi ini terjadi pada status gizi masih diatas -3 SD (-2SD – 3 SD). seperti kelainan bawaan. Pada kondisi ini penting peranan radikal bebas dan anti oksidan. kemudian pembakaran lemak lalu pembakaran protein dengan melalui proses katabolik. dimulai dengan pembakaran karbohidrat. Bila stress katabolik ini terjadi pada status gizi dibawah -3 SD. infeksi kronis. Kalau kondisi ini terus dapat beradaptasi sampai dibawah -3 SD maka akan terjadi marasmus (malnutrisi kronis/compesated malnutrition).

sperti berat badan yang kurang dibandingkan dengan anak yang sehat.System Holistik Penyebab Multifaktorial Menuju Kearah Terjadinya KEP Ekonomi negara rendah Pendidikan umum kurang Produksi bahan pangan rendah Hygiene rendah Pekerjaan rendah Pasca panen kurang baik System pergadangan pangan dan distribusi tidak lancar Daya beli rendah Anak terlalu banyak Persediaan pangan kurang Konsumsi kurang Penyakit infeksi dan infestasi cacing Pengetahuan gizi kurang Absorpsi terganggu Marasmus Kwashiorkor Marasmickwashiorkor KEP Utilisasi terganggu VI. KEP dibagi menjadi KEP ringan. 6 . Derajat KEP 6 Gejala klinis KEP berbeda-beda tergantung derajat dam lama deplesi protein. dan umur penderita juga tergantung oleh hal lain seperti adanya kekurangan vitamin dan mineral yang menyertainya. Pada KEP ringan dan sedang yang ditemukan hanya pertumbuhan yang kurang. tetapi dapat dijumpai pula pada anak yang lebih besar. KEP ringan dan sedang sering ditemukan pada anak-anak dari 9 bulan sampai usia 2 tahun. KEP sedang. dan KEP berat. energi.

berdasarkan hasil penelitian empiris dan keadaan klinis. ada kalanya berat badan kadang menurun. kwashiorkor. Kelainan kulit maupun rambut jarang ditemukan pada KEP ringan dan sedang akan tetapi adakalanya dapat ditemukan. dan gabungan keduanya. Maksud utama penggolongan ini adalah untuk keperluan perawatan dan pengobatan. 5.69. 8. Tingkat KEP I dan KEP II disebut KEP ringan dan sedang dan KEP III disebut KEP berat. Ukuran lingkar lengan atas menurun. Penentuan prevalensi KEP diperlukan klasifikasi menurut derajat beratnya KEP. diet yang menyebabkan KEP sering tidak mengandung cukup zat besi dan vitamin-vitamin lainnya. 3. KEP berat terdiri dari marasmus. 2. Maturasi tulang terhambat. Tebal lipat kulit normal atau mengurang.Berikut tanda-tanda KEP ringan dan sedang dilihat dari pertumbuhan yang terganggu dapat diketahui melalui: 1. Aktivitas dan perhatian mereka berkurang jika dibandingkan dengan anak sehat. 9. Rasio berat terhadap tinggi normal atau menurun. hal ini tergantung dari kesepakatan para ahli gizi di Negara tersbut. 7. Anemia ringan. Untuk menentukan klasifikasi diperlukan batasan-batasan yang disebut dengan ambang batas.120% median BB/U 70%-79. 4. 6.9% median BB/U < 60% median BB/U Penatalaksanaan KEP ringan dan sedang: 7 . Pertumbuhan linier berkurang atau terhenti.9% median BB/U 60% . Berikut adalah klasifikasi KEP menurut Depkes RI Kategori Overweight Normal KEP I (ringan) KEP II (sedang) KEP III (berat) Status Gizi lebih Gizi baik Gizi sedang Gizi kurang Gizi buruk BB/U (%baku median WHO NCHS) > 120% median BB/U 80% . terhenti. Kenaikan berat badan berkurang. Batasan ini disetiap Negara relative berbeda.

dll) tidak didasarkan pada berat badan anak menurut umur (BB/U). Melakukan Penilaian Status Gizi Pada Anak 7 Penilaian status gizi anak di fasilitas kesehatan (puskesmas. b. Balita dengan KEP sedang: a. Penderita rawat inap : diberikan makanan tinggi energi dan protein. VII. pemeriksaan BB/U dilakukan untuk memantau berat badan anak. Status gizi anak < 2 tahun ditentukan dengan menggunakan table berat badan menurut panjang badan (BB/PB). dengan kebutuhan energi 20-50% diatas kebutuhan yang dianjurkan (angka kecukupan gizi/AKG) dan diet sesuai dengan penyakitnya. sekaligus untuk melakukan deteksi dini anak yang kurang gizi (gizi kurang dan gizi buruk). sedangkan anak umur ≥ 2 tahun ditentukan dengan menggunakan table berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Sedangkan anak didiagnosis gizi kurang jika BB/TB < -2 SD atau 80% median. Anak didiagnosa gizi buruk apabila secara klinis “tampak sangat kurus dan edema pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh” dan atau jika BB/PB atau BB/TB < -3 SD atau 70% median. 2. dalam bentuk kegiatan pemantauan tumbuh kembang anak dengan menggunakan KMS (Kartu Menuju Sehat) yang dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Rumah sakit. dianjurkan untuk memberi makanan di rumah (bayi umur < 4 bulan) dan terus diberi ASI sampai 3 tahun. Status gizi secara klinis dan antropometri (BB/PB atau BB/TB) 8 .1. Penderita rawat jalan : diberikan nasehat pemberian makanan dan vitamin serta teruskan ASI dan pantau terus berat badannya. Pemantauan berat badan anak dapat dilakukan di masyarakat (misalnya di klinik tumbuh kembang rumah sakit). Balita KEP ringan: dengan memberikan penyuluhan gizi dan nasehat pemberian makanan di rumah (bilamana pasien rawat jalan.

Status gizi Gizi buruk Klinis Antropometri Tampak sangat kurus dan atau < -3 SD* atau 70% edema pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh Tampak kurus Gizi kurang ≥ -3 SD sampai < -2 SD atau 80% -2 SD sampai +2 SD > +2 SD Gizi baik Tampak sehat Gizi lebih Tampak gemuk * mungkin BB/PB atau BB/TB < -3 SD atau 70% median VIII. hingga anak akan menjadi pendek (stunting) untuk seusianya. Klasifikasi menurut Waterlow (1973) Waterlow membedakan antara penyakit KEP yang terjadi akut dan menahun. Gangguan derajat Stunting (BB/U) Wasting (BB/TB) 9 Berat badan % dari baku* ≥90% 89-75% 74-60% < 60% . Klasifikasi menurut Gomez (1956) Klasifikasi ini berdasarkan berat badan individu dibandingkan dengan berat badan yang diharapkan pada anak sehat seumur. Klasifikasi berdasarkan baku median WHO-NCHS Klasifikasi KEP Ringan Sedang Berat BB/U 70-80% 60-70% <60% BB/TB 80-90% 70-80% <70% 2. Akibatnya laju tinggi badan akan terganggu. Waterlow berpendapat bahwa deficit berat terhadap tinggi mencerminkan gangguan gizi yang akut dan menyebabkan keadaan wasting (kurus kering). Klasifikasi 8 Ada beberapa klasifikasi mengenai kurang energi protein: 1. Derajat KEP 0 (normal) 1 (ringan) 2 (sedang) 3 (berat) *baku = presentil 50 Harvard 3. Sedangkan deficit tinggi menurut umur merupakan akibat kekurangan gizi yang berlangsung lama atau kronis.

berat >60%.99 4. Scoring system menurut McLaren (1967) Mc laren mengklasifikasikan KEP berat dalam 3 kelompok menurut tipenya. Klasifikasi menurut Wellcome Trust Party (1970) Cara klasifikasi ini dapat dipraktekkan dengan mudah. perubahan pada rambut. namun jika cara ini diterapkan pada penderita yang sudah beberapa hari dirawat dan mendapat pengobatan diet.49 4.00-2. Seperti pada penderita kwashiorkor (edema.50-1.75-5. edema pada tubuh pasien sudah tidak terlihat lagi dan berat badan bisa turun sampai 60%. Gejala klinis edema disertai dermatosis.0 1 2 3 >95% 95-90% 89-85% <85% >90% 90-80% 80-70% <70% 4.49 Angka 3 2 6 1 1 7 6 5 4 10 . gejala klinis khas kwashiorkor yang lain) yang sudah dirawat selama satu minggu. dengan gejala yang seperti itu akan didiagnosa sebegai penderita marasmus.25 1.00 <3.99 1.49 3.00-4.00-1.74 2. maka akan dapat dibuat diagnose yang salah. Gejala klinis / laboratoris Edema Dermatosis Edema disertai dermatosis Perubahan pada rambut Hepatomegali Albumin serum atau protein total serum/g % <1.25-3. dan pembesaran hati diberi nilai bersama-sama dengan menurunnya kadar albumin atau total protein serum. Berat badan % dari baku >60% <60% Tidak ada Gizi kurang Marasmus edema Ada Kwashiorkor Kwashiorkormarasmic 5.

99 7. Contoh gambar marasmus: 11 .00-3. kusam. dan rewel.74 1 >4.50-6. Kondisi klinis marasmus: Anak sangat kurus. Berikut ini 3 tipe KEP berat: 1.2.99 5. kulit keriput karena lemak dibawah kulit berkurang. infeksi. wajah bulat sembab. marasmus dan marasmik kwashiorkor.24 3 3.25-6.49 6.00 >7. KEP ringan atau sedang disertai edema yang bukan karena penyakit lain disebut KEP berat tipe kwashiorkor.10 Marasmus adalah salah satu bentuk kekurangan gizi yang buruk paling sering ditemui pada balita penyebabnya antara lain karena masukan makanan yang sangat kurang. bokong baggy pant.00-7.99 2 3. penyakit pada masa neonatus serta kesehatan lingkungan.75 0 Penentuan tipe berdasarkan atas jumlah angka yang dapat dikumpulkan tiap penderita: 0-3 angka = marasmus 4-8 angka = kwashiorkor-marasmic 9-15 angka = kwashiorkor IX. berubah warna.50-3. iga gambang. cengeng. wajah seperti orang tua. rambut tipis. perut cekung. Marasmus 9. jarang.50-2. prematuritas. Manifestasi Klinis KEP Kurang Energi Protein (KEP) berat secara klinis terdapat 3 tipe yaitu kwashiorkor. pembawaan lahir.

anemia dan diare. sering disertai infeksi. bengkak terutama pada punggung kaki dan bila ditekan akan meninggalkan bekas seperti lubang. rambutnya menipis berwarna merah seperti rambut jagung dan mudah dicabut tanpa menimbulkan rasa sakit. otot mengecil dan menyebabkan lengan atas kurus sehingga ukuran Lingkar Lengan Atas LLA-nya kurang dari 14 cm. Tanda yang khas adalah adanya edema (bengkak) pada seluruh tubuh sehingga tampak gemuk. anak menjadi rewel dan apatis perut yang membesar juga sering ditemukan akibat dari timbunan cairan pada rongga perut salah salah gejala kemungkinan menderita "busung lapar". Kwashiorkor berasal dari bahasa salah satu suku di Afrika yang berarti "kekurangan kasih sayang ibu".11 Kwashiorkor merupakan suatu istilah untuk menyebutkan gangguan gizi akibat kekurangan protein. Kwahsiorkor 10.2. tidak bernafsu makan atau kurang. wajah anak membulat dan sembab (moon face) terutama pada bagian wajah. Contoh gambar kwashiorkor: 12 . timbulnya ruam berwarna merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas.

X. Gabungan Marasmus dan Kwashiorkor. Walaupun kondisi klinis pada kwashiorkor. marasmickwashiorkor). sangat mungkin anak mengalami dehidrasi dan atau syok. serta harus segera diatasi. Penilaian awal anak dengan gizi buruk 7 Yang dimaksud dengan gizi buruk disini adalah terdapatnya edema pada kedua kaki atau adanya severe wasting (BB/TB < 70% atau < -3 SD) atau ada gejala klinis gizi buruk (kwashiorkor. marasmus. Anamnesis awal (untuk kegawatdaruratan): • • • • Kejadian mata cekung yang baru saja muncul Lama dan frekuensi diare da muntah serta tampilan dari bahan muntah diare (encer/darah/lendir) Kapan terakhir berkemih Sejak kapan tangan dan kaki terasa dingin Bila didapatkan hal tersebut diatas. marasmus. 13 . dan marasmus-kwashiorkor berbeda tetapi tatalaksananya sama. Anamnesis terdiri dari anamnesis awal dan anamnesis lanjutan.3. Pada setiap anak gizi buruk lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Gambaran klinis merupakan campuran dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus dengan BB/U <60% baku median WHONCHS disertai edema tidak mencolok.

adakah edema pada kedua punggung kaki. dll Riwayat imunisasi Lingkungan keluarga (untuk memahami latar belakang sosial anak) Diketahui atau tersangka infeksi HIV Apakah anak tampak sangat kurus. bicara. mata cekung. Tentukan status gizi dengan menggunakan BB/TB-PB (lihat lampiran). berdiri.Anamnesis lanjutan (untuk mencari penyebab dan rencana tatalaksana selanjutnya. cekungan akan menetap beberapa waktu setelah jari dilepaskan. • Tanda dehidrasi: tampak sangat haus. Jika dilakukan penekanan dengan jari selama beberapa detik. turgor buruk (hati-hati menentkn status dehidrasi pada gizi buruk) 14 . Pemeriksaan fisik Bengkak pada punggung kaki. dilakukan setelah kegawatdaruratan ditangani): • • • • • • • • • • • • • • Diet (pola makan)/kebiasaan makan sebelum sakit Riwayat pemberian ASI Asupan makanan dan minuman yang dikonsumsi beberapa hari terakhir Hilangnya nafsu makan Kontak dengan pasien campak atau tuberculosis paru Pernah sakit campak dalam 3 bulan terakhir Batuk kronik Kejadian dan penyebab kematian saudara kandung Berat badan lahir Riwayat tumbuh kembang: duduk.

paha.50 C) atau hipotermi (suhu aksilar < 35. atau adanya suara seperti pukulan pada permukaan air (abdominal splash) • Tanda defisiensi vitamin A pada mata: o Konjungtiva atau kornea yang kering. bercak bitot  gambar bercak bitot. darah. kesadaran menurun Demam (suhu aksilar ≥ 37.• • • • • Adakah tanda syok (tangan dingin. Frekuensi pernapasan dan tipe pernapasan: pneumonia atau gagal jantung Sangat pucat Adakah perut kembung. bising usus melemah/meninggi. lendir) Tanda dan gejala infeksi HIV 15 . genital. nadi lemah dan cepat).50 C). tanda ascites. tenggorokan. belakang telinga) o Lesi. o Ulkus kornea o Keratomalasia • • • Ulkus pada mulut Focus infeksi: telinga. capillary refill time yang lambat. kulit Lesi pada kwashiorkor: o Hipo atau hiperpigmentasi o Deskuamasi o Ulserasi (kaki. lipatan paha. paru. eksudatif (menyerupai luka bakar). seringkali dengan infeksi sekunder (termasuk jamur) • • Tampilan tinja (konsistensi.

jika didapatkan anak sangat pucat XI. dan balutlah. Timbangan badan yang akurat 3. Jangan beri obat mata yang mengandung steroid. Anak dipisahkan dari pasien infeksi 2. sehingga kemajuan selama perawatan dapat dievaluasi 5. Pencatatan asupan makanan dan berat badan anak. Tatalaksana perawatan 7 Pada saat sakit rumah sakit: 1. Keterlibatan orang tua XII. Fasilitas dan staf yang professional (tim asuhan gizi) 2. • Pemeriksaan laboratorium terhadap Hb dan atau Ht. Penyediaan dan pemberian makan yang tepat dan benar 4. tutup mata dengan kasa yang telah dibasahi dengan larutan garam normal. Tatalaksana umum 7 Jika ditemukan ulkus kornea. Memandikan anak dilakukan seminimal mungkin dan harus segera keringkan Untuk keberhasilan tatalaksana diperlukan: 1. 16 . Dipantau secara rutin 4. beri vitamin A dan obat tetes mata kloramfenikol/tetrasiklin dan atropine. bebas dari angin) 3. Penting untuk memeriksa mata dengan hari-hati untuk menghindari robeknya kornea. Penanganan umum meliputi 10 langkah dan terbagi dalam 2 fase yaitu: fase stabilisasi dan fase rehabilitasi.Catatan: • Anak dengan defisiensi vitamin A seringkali forofobia. Ditempatkan di ruangan yang hangat (25-300C.

pemberian ASI di luar jadwal pemberian F-75.Fase Stabilitasi Hari ke 1-2 Hipoglikemia Hipotermia Dehidrasi Elektrolit Infeksi Mikronutrien Makanan awal Tumbuh kejar Stimulasi sensoris Persiapan pulang 1. siang dan malam selama minimal dua hari. Jika fasilitas tidak memungkinkan untuk memeriksa kadar gula darah. Jika anak tidak sadar (letargis). Tatalaksana: 1. berikan 50 ml larutan glukosa atau gula 10% (1 sendok the munjung gula dalam 50 ml air) secara oral atau melalui NGT. 6. Pemantauan: 17 . berikan larutan glukosa 10% secara intravena (bolus) sebanyak 5 ml/kgBB atau larutan glukosa/larutan gula pasir 50 ml dengan NGT. Bila masih mendapat ASI teruskan. 2. Pemberian makan yang sering sangat penting dilakukan pada anak gizi buruk. (resep membuat F-75 dan F100 dilihat pada lampiran). Segera beri F-75 pertama atau modifikasinya bila penyediaannya memungkinkan. 5. 3. 4. Lanjutkan pemberian F-75 setiap 2-3 jam. maka semua anak gizi buruk harus dianggap menderita hipoglikemia dan segera diatasi sesuai panduan. Hipoglikemia 7 Hari ke 3-7 Fase rehabilitasi Minggu ke 2-6 Tanpa Fe Dengan Fe Semua anak dengan gizi buruk berisiko hipoglikemia (kadar gula darah < 3 mmol/L atau 54 mg/dl) sehingga setiap anak gizi buruk harus diberi makan atau larutan glukosa/gula pasir 10% segera setelah masuk rumah sakit. Beri antibiotic. Bila F-75 pertama tidak dapat disediakan dengan cepat.

di bagian bangsal bebas angina dan pastikan anak selalu tertutup pakaian/selimut. Pastikan bahwa anak selalu tertutup pakaian atau selimut. 2. Pastikan bahwa anak berpakaian (termasuk kepalanya). 3. Hentikan pemanasan bila suhu mencapai 36. Letakkan tempat tidur di area hangat. Ukur suhu aksilar anak setiap 2 jam sampai suhu meningkat menjadi 36. Hipotermia 7 Diagnosis: suhu aksila < 35. ulangi pengukuran kadar gula darah dan tangani sesuai keadaan (hipotermia dan hipoglikemia).5O C Tatalaksana 1.50 Catau bila kesadaran memburuk. letakkan lampu pijar 40W dengan jarak 50 cm dari tubuh anak. Segera beri makan F-75 (jika perlu. atau letakkan anak langsung pada dada atau perut ibunya (dari kulit ke kulit: metode kangguru). ukur suhu tiap setengah jam. ulangi pengukuran kadar gula darah setelah 30 menit. Tutup dengan selimut hangat dan letakkan pamanas (tidak mengarah langsung pada anak) atau lampu di dekatnya. Pencegahan 1. 2. Pencegahan Beri makanan awal (F-75) setiap 2 jam mulai sesegera mungkin atau jika perlu lakukan rehidrasi lebih dulu. Jika kadar gula darah dibawah 3 mmol/L (<54 mg/dl).50 C atau lebih. Beri antibiotic sesuai pedoman. 2. lakukan rehidrasi dahulu). Jika suhu rectal < 35.50 C. ulangi pemberian larutan glukosa atau gula 10%. Pemantauan 1. mungkin hipoglikemia disebabkan oleh hipotermia. Bila menggunakan lampu listrik. terutama pada malam hari. Pemberian makan harus teratur setia 2-3 jam siang malam. Jika menggunakan pemanas. 18 .Jika kadar gula darah awal rendah. 1. 2.

Beri 5 ml/kgBB setiap 30 menit untuk 2 jam pertama b. sepanjang hari. 4. anggap dehidrasi ringan. volume tinja yang keluar. mulai sesegera mungkin. berikan ReSoMal 5-10 ml/kgBB selangseling dengan F-75 dengan jumlah yang sama. Hipovolemia dapat terjadi bersamaan dengan adanya edema. 3. siang dan malam. Selanjutnya berikan F-75 secara teratur setiap 2 jam 19 . cairan yang lebih tepat adalah ReSoMal. Dehidrasi 7 Diagnosis: Cenderung terjadi diagnosis berlebihan dari dehidrasi dan estimasi yang berlebihan mengenai derajat keparahannya pada anak dengan gizi buruk. lakukan lebih lambat dibandingkan jika melakukan rehidrasi pada anak dengan gizi baik. Ganti pakaian dan seprai yang basah.2. 2. Catatan: larutan oralit WHO (WHO-ORS) yang biasa digunakan mempunyai kadar natrium tinggi dan kadar kalium rendah. Hal ini disebabkan oleh sulitnya menentukan status dehidrasi secara tepat pada anak dengan gizi buruk. c. Tatalaksana: 1. terutama pada malam hari. Beri ReSoMal. 3. a. kecuali pada kasus dehidrasi berat dengan syok. Jangan gunakan infuse untuk rehidrasi. dan apakah anak muntah. jaga jarak agar anak dan tempat tidur tetap kering. bila gejala dehidrasi tidak jelas. Hindarkan anak dari suasana dingin (misalnya: sewaktu dan setelah mandi. Biarkan anak tidur dipeluk dengan orang tuanya supaya tetap hangat. setiap jam selama 10 jam Jumlah yang pasti tergantung seberapa banyak anak mau. Anak gizi buruk dengan diare cair. Setelah 2 jam. Beri makan F-75 atau modifikasinya tiap 2 jam. hanya dengan menggunakan gejala klinis saja. secara oral atau melalui NGT. 5. atau selama pemeriksaan medis).

frekuensi nafas dan nadi akan berkurang dan mulai ada diuresis. usia ≥ 1 th: 100-200 ml setiap buang air besar. Jika anak masih menggunakan ASI. mulut basah. waspada terhadap gejala kelebihan cairan yang sangat berbahaya dan bisa mengakibatkan gagal jantung dan kematian. Pemberian F-75 sesegera mungkin c. lanjutkan pemberian ASI b. hentikan pemberian cairan/ReSoMal segera dan lakukan penilaian ulang setelah 1 jam. Beri ReSoMal sebanyak 50-100 ml tiap buang air besar cair 4. kecuali penggunaan cairan ReSoMal sebagai pengganti larutan oralit standard. Frekuensi miksi dan jumlah produksi urin d. cekung mata dan fontanel berkurang serta turgor kulit membaik merupakan tanda membaiknya hidrasi. Kembalinya air mata. Gangguan keseimbangan elektrolit 7 20 . tetapi anak gizi buruk seringkali tidak memperlihatkan tanda tersebut walaupun rehidrasi penuh telah terjadi. Periksa: a. Frekuensi buang air besar dan muntah Selama proses rehidrasi. a. Untuk usia < 1 th: 50-100 ml setiap buang air besar.d. Frekuensi nadi c. Pemantauan: Pantau kemajuan proses rehidrasi dan perbaikan keadaan klinis setiap setengah jam pertama. Jika ditemukan tanda kelebihan cairan (frekuensi napas meningkat 5x/menit dan frekuensi nadi 15x/menit). Frekuensi napas b. Jika masih diare. Pencegahan: Cara mencegah dehidrasi akibat diare yang berkelanjutan sama dengan pada anak dengan gizi baik. sehingga sangat penting untuk memantau berat badan. beri ReSoMal setiap kali diare. kemudian tiap jam sampai 10 jam berikutnya.

jika ada komplikasi (hipoglikemia. Oleh karena itu. Untuk mengatasi gangguan elektrolit diberikan Kalium dan Magnesium. 2. Gunakan larutan ReSoMal untuk rehidrasi. Pilihan antibiotik spectrum luas 1. Tatalaksana: 1. beri kotrimoksazol per oral (25 mg SMZ + 5 mg TMP/kgBB setiap 12 jam selama 5 hari) 2. anggaplah semua anak dengan gizi buruk mengalami infeksi saat mereka datang ke rumah sakit dan segera tangani dengan antibiotik. seringkali tidak ada. Infeksi 7 Pada gizi buruk. 2. Antibiotik spectrum luas. Tunda imunisasi jika anak syok. gejala infeksi yang biasa ditemukan seperti demam. hipotermia. yang sudah terkandung di dalam larutam Mineral Mix yang ditambahkan kedalam F-75. Terdapat kelebihan natrium total dalam tubuh. Jangan obati edema dengan diuretikum. Edema dapat diakibatkan keadaan ini. F-100 atau ReSoMal.Semua anak dengan gizi buruk mengalami defisiensi kalium dan magnesium. Tatalaksana: Berikan pada semua anak gizi buruk: 1. padahal infeksi ganda merupakan hal yang sering terjadi. Vaksin campak jika anak berumur ≥ 6 bulan dan belum pernah mendapatkannya atau jika anak berumur > 9 bulan dan sudah pernah diberi vaksin sebelum berumur 9 bulan. Siapkan makanan tanpa menambahkan garam (NaCl). Jika tidak ada komplikasi atau tidak ada infeksi nyata. 3. walaupun kadar natrium serum mungkin rendah. atau anak terlihat letargi atau tampak sakit berat) atau jelas ada infeksi beri: 21 . Yang mungkin membutuhkan waktu 2 minggu atau lebih untuk memperbaikinya. Hipoglikemia dan hipotermia merupakan tanda infeksi berat. Pemberian natrium yang berlebihan dapat menyebabkan kematian. 5.

tunda pemberian gentamisin dosis ke-2 sampai ada diuresis untuk mencegah efek samping/toksik gentamisin 3. beri mebendazol (100 mg/kgBB) selama 3 hari atau albendazol (20 mg/kgBB dosis tunggal). Gentamisin (7. lanjutkan pengobatan sampai seluruhnya 10 hari penuh.a. walaupun belum terbukti adanya infestasi cacing. dilanjutkan dengan Amoksisilin oral (15 mg/kgBB setiap 8 jam selama 5 hari) atau jika tidak tersedia amoksisilin. Jika ditemukan infeksi spesifik lainnya (seperti pneumonia. Beri mebendazol setelah 7 hari perawatan. 22 . Walaupun tuberculosis merupakan penyakit umum terdapat. Beri obat malaria bila pada apusan darah tepi ditemukan parasit malaria. Pemantauan: Jika terdapat anoreksia setelah pemberian antibiotic diatas. beri ampisilin per oral (50 mg/kgBB setiap 6 jam selama 5 hari) sehingga total selama 7 hari. tuberculosis. Catatan: Jika anak anuria. oliguria. ditambah: b. disentri. lakukan penilaian ulang menyeluruh pada anak. infeksi kulit atau jaringan lunak). Ampisilin (50mg/kgBB IM/IV setiap 6 jam selama 2 hari). Jika nafsu makan belum membaik. Jika diduga meningitis. Jika terdapat adanya infeksi cacing. beri antibiotic yang sesuai. malaria. lakukan lumbal pungsi untuk memastikan dan obati dengan Kloramfenikol (25 mg/kgBB setiap 6 jam) selama 10 hari. tambahkan Kloramfenikol (25 mg/kgBB IM/IV setiap 8 jam) selama 5 hari. obat anti tuberculosis hanya diberikan bila anak terbukti atau sangat diduga menderita tuberculosis. jika anak tidak membaik dalam waktu 48 jam.5 mg/kgBB/hari IM/IV) setiap hari selama 7 hari.

Pemberian makan awal (initial refeeding) 7 Pada fase awal yang menonjol dari pemberian makan awal adalah: 1. beri vitamin A dengan dosis sesuai umur pada hari ke 1. Ferosulfat 3 mg/kgBB/hari setelah berat badan naik (mulai fase rehabilitasi) 6. Asam folat (5 mg pada hari 1 dan selanjutnya 1 mg/hari) 3.6. Tembaga (0. 7. Berikan secara oral atau melalui NGT.000 (1 kapsul merah) Jika ada gejala defisiensi vitamin A.2. Meskipun sering ditemukan anemia. Tatalaksana: Berikan setiap hari paling sedikit 2 minggu: 1. dengan dosis dibawah ini: Umur Dosis (IU) < 6 bulan 50. Zinc (2 mg Zn elemental/kgBB/hari) 4. Energi: 100 kkal/kgBB/hari 23 . Multivitamin 2.3 mg Cu/kgBB/hari) 5. hindari penggunaan parenteral 3. atau pernah sakit campak dalam 3 bulan terakhir.dan 15. mulai fase rehabilitasi. tetapi tunggu sampai anak mempunyai nafsu makan yang baik dan mulai bertambah berat badannya (biasanya pada minggu kedua). Vitamin A: diberikan secara oral pada hari ke 1 (kecuali bila telah diberikan sebelum dirujuk).000 (1 kapsul biru) 1-5 tahun 200.000 (1/2 kapsul biru) 6-12 bulan 100. Defisiensi zat gizi mikro 12 Semua anak gizi buruk mengalami defisiensi vitamin dan mineral. karena zat besi dapat memperparah infeksi. jangan beri zat besi pada fase awal. Makanan dalam jumlah sedikit tetapi sering dan rendah osmolaritas maupun rendah laktosa 2.

Terdapat 2 macam table petunjuk pemberian F-75 yaitu untuk gizi buruk tanpa edema dan dengan edema berat (lihat lampiran). tetapi pastikan bahwa jumlah F-75 yang ditentukan harus dipenuhi. Hari ke: 1-2 3-5 6 dst Pada Frekuensi Volume/KgBB/pem Volume/kgBB/hari 130 ml 130 ml 130 ml edema. tetapi perlu dimasak terlebih dahulu. Formula ini baik pada anak gizi buruk dengan diare persisten. beri F-10 sejumlah yang sama dengan F-75 selama 2 hari berurutan 2. kembalinya nfasu makan 2.5 g/kgBB/hari 5. sebagian gula diganti dengan tepung beras atau maizena sehingga lebih menguntungkan karena mempunyai osmolaritas yang lebih rendah. Dapat pula digunakan 24 . edema minimal atau hilang Tatalaksana: lakukan transisi secara bertahap dari formula awal (F-75) ke formula tumbuh kejar (f-100) (fase transisi): 1. jika anak masih mendapat ASI. Biasanya hal ini terjadi ketika pemberian formula mencapai 200 ml/kgBB/hari. Tumbuh kejar 7 Tanda yang menunjukkan bahwa anak telah mencapai fase ini adalah: 1. 8. lanjutkan. Pada F-75 yang berbahan sereal. Selanjutnya naikkan jumlah F-100 sebanyak 10 ml setiap kali pemberian sampai anak tidak mampu menghabiskan atau tersisa sedikit. Ganti F-75 dengan F-100. jadwal berian Setiap 2 jam 11 ml Setiap 3 jam 16 ml Setiap 4 jam 22 ml anak dengan nafsu makan baik dan tanpa diatas dapat dipercepat menjadi 2-3 hari. Protein: 1-1. Cairan: 130 ml/kgBB/hari (bila ada edema berat beri 100 ml/kgBB/hari) 6.4.

lanjutkan pemberian ASI tetapi pastikan anak sudah mendapat F-100 sesuai kebutuhan karena ASI tidak mengandung cukup energi untuk menunjang tumbuh kejar. Pemberian makan yang sering dengan jumlah tidak terbatas (sesuai dengan kemampuan anak) b. Amati gejala dini gagal jantung (nadi cepat dan nafas cepat).bubur atau makanan pendamping ASI yang dimodifikasi sehingga kandungan energi dan proteinnya sebanding dengan F-100. Makanan terapeutik siap saji yang mengandung energi sebanyak 500 kkal/sachet 82 g dapat digunakan pada fase rehabilitasi. 115 ml/kgBB/hari selama 24 jam berikutnya b. penyebabnya). dan kenaikan ini menetap selama 2 kali pemeriksaan dengan jarak 4 jam berturut-turut.5 g/kgBB/hr 130 ml/kgBB/hr atau 100 ml/kgBB/hr bila edema berat Pemantauan: Hindari terjadinya gagal jantung. Protein: 4-6 g/kgBB/hari Bila anak masih mendapat ASI. Setelah transisi bertahap. 3. kurangi volume makanan menjadi 100 ml/kgBB/hari selama 24 jam 2. Lakukan segera: 1. Jika nadi maupun frekuensi nafas meningkat (pernapasan naik 5x/menit dan nadi naik 25x/menit). Kebutuhan zat gizi anak gizi buruk menurut fase pemberian makanan Zat gizi Energi Protein Cairan Stabilitasi 80-100 kkal/kgBB/hr 1-1. Energi: 150-220 kkal/kgBB/hari c. kemudian tingkatkan perlahan-lahan sebagai berikut: a. 130 ml/kgBB/hari selama 48 jam berikutnya maka hal ini merupakan tanda bahaya (cari Transisi 100-150 kkal/kgBB/hr 2-3 g/kgBB/hr 150 ml/kgBB/hr Rehabilitasi 150-220 kkal/kgBB/hr 4-6 g/kgBB/hr 150-200 ml/kgBB/hr 25 . beri anak: a.

Sedang (5-10 g/kgBB/hari). Hitung kenaikan berat badan (dalam gram) = (6300-6000) g = 300 g Langkah 2. Selanjutnya tingkatkan setiap kali makan dengan 10 ml sebagaimana dijelaskan sebelumnya d. Kurang (<5 g/kgBB/hari).c. Lingkungan yang ceria 3. baik (> 10 g/kgBB/hari) Contoh perhitungan kenaikan berat badan setelah 3 hari: Berat badan saat ini = 6300 gram Berat badan 3 hari yang lalu = 6000 gram Langkah 1.15 kg = 16.3 g/kg/hari) 9. periksa apakah target asupan terpenuhi. Hitung dan catat kenaikan berat badan setiap 3 hari dalam gram/kgBB/hari Jika kenaikan berat badan: 1. Stimulasi sensorik 7 Lakukan: 1. Terapi bermain terstruktur selama 15-30 menit per hari 26 . atau mungkin ada infeksi yang tidak terdeteksi 3. Ungkapan kasih sayang 2. Timbang dan catat berat badan setiap pagi sebelum diberi makan 2. anak membutuhkan penilaian ulang lengkap 2. Hitung kenaikan berat badan per harinya = (300 g + 3 hari) = 100 g/hari Langkah 3. Bagilah hasil pada langkah 2 dengan berat rata-rata dalam kilogram (100 g/hari + 6. Atasi penyebab Penilaian kemajuan: Kemajuan terapi dinilai dari kecepatan kenaikan berat badan setelah tahap tansisi dan mendapat F-100: 1.

tranfusi harus diberikan secara lebih lambat dan dalam volume lebih kecil disbanding anak sehat. memandikan. memberi makan. bermain) 6. Masalah pada mata 7 Jika anak mempunyai gejala defisiensi vitamin A. keterlibatan ibu sesering mungkin (misalnya menghibur. Hb 4-6 g/dl dan anak mengalami gangguan pernapasan atau tanda gagal jantung Pada anak dengan gizi buruk. kedua jenis obat tersebut dapat diberikan secara bersamaan. • Tetes mata atropine (1%). 1 tetes. lakukan hal seperti dibawah ini: Gejala Tindakan Hanya bercak bitot saja Tidak memerlukan obat tetes mata (tidak ada gejala mata yang lain) Nanah atau peradangan Kekeruhan pada kornea Ulkus pada kornea Beri tetes mata kloramfenikol atau tetrasiklin (1%) • Tetes mata kloramfenikol 0. Jangan gunakan sediaan yang berbentuk salep 2. 1 tetes 3x sehari. selama 710 hari. 1. Gunakan kasa penutup mata yang dibasahi dengan larutan garam normal 3. Gantilah kasa setiap hari 2. selama 3-5 hari Jika perlu. Sediakan mainan yang sesuai dengan umur anak XIII. Hb < 4 g/dl 2.4. Aktivitas fisik segera setelah anak cukup sehat 5.25%1% atau tetes mata tetrasiklin (1%). 4x sehari. Penanganan kondisi penyerta 1. Anemia berat 7 Tranfusi darah diperlukan jika: 1. Beri: 27 .

Darah utuh (Whole Blood). lakukan pemeriksaan mikroskopis atas specimen feses b. Giardiasis dan kerusakan mukosa usus a.1. KMnO4) 0. dan bubuhi gentian violet (aau jika tersedia. 2. Jika ditemukan kista atau trofosit dari Giardia lamblia.5 mg/kg setiap 8 jam selama 7 hari. sering terjadi pada anak dengan kwashiorkor dan kulitnya akan membaik secara tepat dengan pemberian suplementasi seng. Intoleransi laktosa 28 . Bubuhi salep/krim (seng dengan minyak kastor. beri Metronidazol 7. 2. Hentikan semua pemberian cairan lewat oral/NGT selama anak ditranfusi. 3. tulle gras) pada daerah yang kasar. Anak dengan kwashiorkor mengalami redistribusi cairan sehingga terjadi penurunan Hb yang nyata dan tidak membutuhkan tranfusi. Furosemid. 4. salep nistatin) pada lesi kulit yang pecah-pecah.01% selama 10 menit/hari 2. 1 mg/kg IV saat tranfusi dimulai Bila terdapat gejala gagal jantung. Lesi kulit pada kwashiorkor 7 Defisiensi seng (Zn). perlambat transfusi. Sebagai tambahan: 1. berikan komponen sel darah merah (Packed Red Cells) 10 ml/kgBB. Kompres daerah luka dengan larutan Kalium Permanganat (PK. 10 ml/kgBB secara lambat selama 3 jam. Jika terjadi peningkatan (frekuensi napas meningkat 5x/menit atau nadi 25x/menit). Diare persisten 7 Tatalaksana: 1. Jika mungkin. Monitor frekuensi nadi dan pernapasan setiap 15 menit selama transfusi.

Anak ungkin masih mempunyai BB/U rendah karena anak berperawakan pendek. tes Mantoux (walaupun seringkali negative palsu) 2. Tuberculosis 7 Jika anak diduga kuat menderita tuberculosis. Pada fase rehabilitasi yang mengandung susu diberikan kembali secara bertahap 3. Melengkapi imunisasi dasar dan/atau ulangan 2. Perlu diingat bahwa F-75 sudah merupakan formula rendah laktosa. foto Thorax. a. Pada kasus tertentu: a.Diare jarang disebabkan oleh intoleransi laktosa saja. Pemulangan dan tindak lanjut Bila telah tercapai BB/TB > -2 SD (setara dengan > 80%) dapat dianggap anak telah sembuh. Berikan F-100 untuk tumbuh kejar secara bertahap 5. lakukan: 1. gunakan F-75 berbahan dasar serealia dengan osmolaritas yang lebih rendah b. Menu dan cara membuat makanan kaya energi dan padat gizi serta frekuensi pemberian makan yang sering 2. Diare osmotik Diare osmotik perlu diduga jika diare makin memburuk pada pemberian F-75 yang hiperosmolar dan akan berhenti jika kandungan gula dan osmolaritasnya dikurangi. 7 Berikan contoh kepada orang tua: 7 1. Pola pemberian makan yang baik dan stimulasi harus tetap dilanjutkan di rumah. Terapi bermain yang terstruktur Sarankan: 7 1. Mengikuti program pemberian vitamin A 29 . Tatalaksana intoleransi laktosa hanya diberikan jika diare terus menerus ini menghambat perbaikan secara umum. Ganti formula dengan yoghurt atau susu formula bebas laktosa b. bila mungkin XIV. Pada kasus seperti ini.

dehidrasi. Maka tatalaksana umum gizi buruk berdasarkan ada atau tidaknya kelainan-kelainan seperti diatas. gangguan keseimbangan elektrolit. dan Marasmus-kwashiorkor. infeksi. Diperlukan penanganan khusus pada anak dengan gizi buruk karena sebagai seorang dokter kita bukan hanya mengobati gejala gizi buruk tetapi juga harus mengetahui faktor-faktor yang menyertai gizi buruk seperti faktor ekonomi keluarga. faktor sosial anak. 30 . dan faktor kasih saying. Kesimpulan Kurang Energi Protein (KEP) adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan seharihari sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG). marasmus. defisiensi zat gizi mikro. Kondisi klinis yang menyertai gizi buruk dapat berupa hipoglikemia. dan marasmus-kwashiorkor berbeda tetapi tatalaksananya sama. hipotermi. Walaupun kondisi klinis pada kwashiorkor. Kwashiorkor.XV. Menurut klasifikasinya KEP dapat dibagi menjadi Marasmus.

sebagai pengganti ReSoMal dapat dibuat larutan sebagai berikut: Bahan Oralit Gula pasir Bubuk KCl Ditambah air sampai menjadi Jumlah 1 sachet (200 ml) 10 g 0. 40 mmol K. 1.5 g 31 .XVI.6 g NaCl.9 g trisodium citrate dehydrate. Bahan Oralit WHO* Gula Pasir Larutan mineral-mix** Ditambah air sampai menjadi glukosa dalam 1 L ** lihat lampiran dibawah Bila larutan mineral-mix tidak tersedia. Resep ReSoMal7 ReSoMal mengandung 37.5 g KCl. dan 3 mmol Mg per liter.5 mmol Na. 13.8 g 400 ml Jumlah 1 sachet (200 ml) 10 g 8 ml 400 ml * 2. 2. Lampiran 1.

32 .2H2O) 3. Zn secara terpisah. F-100 dan ReSoMal. buatlah larutan dengan menggunakan bahan berikut: Bahan Jumlah (g) Kalium klorida (KCl) 89. dan Cu.005 g kalium iodide) per 1000 ml. Berikan larutan Zn-asetat 1. Larutan Mineral-Mix 7 Larutan ini digunakan pada pembuatan F-75. Buatlah larutan baru setiap bulan.3 Tembaga Sulfat (CuSO4.01 g natrium selenat.5 Tripotassium citrate 32. • • Larutkan bahan ini dalam air matang yang sudah didinginkan Simpan larutan dalam bool steril dan taruh didalam lemari es untuk menghambat kerusakan. jika tidak mungkin untuk menyiapkan larutan mineral-mix dan juga tidak tersedia larutan siap pakai.Oleh karena larutan pengganti tidak mengandung Mg. gunakan 45 ml larutan KCl 10% sebagai pengganti 40 ml larutan mineral-mix. • Tambahkan 20 ml larutan mineral-mix pada setiap pembuatan 1000 ml F-75/F-100. Buang jika berubah berkabut.5 ml larutan KCl 10% sebagai pengganti 20 ml larutan mineral mix.5H2O) 0.3 ml/kg BB maksimum 2 hari.4 Magnesium klorida (MgCl2. Mg. sedangkan untuk pembuatan F-75 dan F-100 gunakan 22. Buat larutan KCl 10% (100 g dalam 1 liter air) dan larutan 1.56 Air: tambahkan menjadi 1000 ml Jika ada tambahkan juga selenium (0. Zn. beri K.6H2O) 30.10H2O) dan iodium (0.5 Seng asetat (Zn astetat.5% seng asetat (15g dalam 1 liter air) Untuk pembuatan ReSoMal. Dapat pula diberikan MgSO4 40% IM 1x/hari dengan dosis 0.5% secara oral dengan dosis 1 ml/kgBB/hari. NaSeO4. Jika tidak tersedia larutan mineral-mix seiap pakai. 2. maka dapat diberikan makanan yang merupakan sumber mineral tersebut.

1x/hari dengan dosis 0.Beri MgSO4 50% IM.5 5 32 413 F-75 (+sereal) 25 70 35 27 20 1000 750 11 13 42 6 4. 3. F-100) 7 33 .5 6 32 334 F-100 85 50 60 20 1000 1000 29 42 63 19 7. Resep formula modifikasi 7 Fase Bahan makanan Susu skim bubuk (g) Susu full cream (g) Susu sapi segar (ml) Gula pasir (g) Tepung beras (g) Minyak sayur (g) Margarine (g) Larutan elektrolit Stabilitasi F-75 F-75 I 25 70 35 27 20 II 35 70 35 17 20 F-75 III 300 70 35 17 20 M1/2* 100 50 25 Rehabilitasi F-100 M-I* 110 50 30 20 100 50 50 MII* 100 50 50 1 MIII* 120 75 50 1 Per 1000 ml Gram Gram Gram Gram ml ml kkal gram gram mMol mMol mMol mg mg mOsm/l F-75 25 100 27 20 1000 750 9 13 40 6 4. Cara membuat formula WHO (F-75. Resep Formula WHO F-75 dan F-100 7 Bahan makanan Susu skim bubuk Gula pasir Tepung beras/maizena Minyak sayur Larutan elektrolit Tambahkan air s/d Nilai gizi/1000 ml Energi Protein Laktosa Kalium Natrium Magnesium Seng Tembaga % energi protein % energi lemak Osmolaritas 4.3 23 2.3 20 2. maksimum 2 ml.3 ml/kgBB/hari.6 20 2.5 12 53 419 (ml) Tambahkan air s/d (L) 1 1 1 1 1 1 Catatan: * M = Modisco (Modified Dried Skimmed Milk Coconut Oil) 5.

aduk sampai kalis dan berbentuk gel.8 6.0 7.8 7.2 2.4 4. Jumlah F-75 per kali makan (130 ml/kg/hari) untuk anak tanpa edema7 BB anak (KG) 2.6 4.0 6. apabila tidak tersedia blender. gula dan minyak sayur (dianjurkan minyak kelapa) harus diaduk dahulu sampai rata.Campurkan gula dan minyak sayur. semua bahan dicampur sekaligus dengan air hangat secukupnya.6 6. Setelah tercampur homogen baru ditambahkan air hingga volume menjadi 1000 ml. Tambahkan air hangat dan larutan mineral-mix sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai homogen dan volumenya menjadi 1000 ml.4 3.2 Tiap 2 jam (ml/kali makan) 12x makan 20 25 25 25 30 30 35 35 35 40 40 45 45 50 50 55 55 55 60 60 65 65 70 70 75 75 80 Tiap 3 jam (ml/kali makan) 8x makan 30 35 40 45 45 50 55 55 60 60 65 70 70 75 80 80 85 90 90 95 100 100 105 110 110 115 120 Tiap 4 jam (ml/kali makan) 6x makan 45 50 55 55 60 65 70 75 80 85 90 90 95 100 105 110 115 120 125 130 130 135 140 145 150 155 160 34 .2 4.8 3.8 5.0 4.6 2. larutan harus dididihkan (5-7 menit) dan mineral-mix ditambahkan setelah larutan mendingin.8 4.0 2.4 2.6 5.0 3. Apabila tersedia blender.6 3.0 5.2 6.2 3. Untuk F-75 yang menggunakan campuran tepung beras maizena.4 5.2 5. baru tambahkan bahan lain dan air hangat. 6. aduk sampai rata dan masukkan susu bubuk sedikit demi sedikit.4 6.

2 4.2 9.0 4.8 5.4 9.8 9.2 8.0 Catatan: • • • terdekat 80 85 85 90 90 90 95 95 100 100 105 105 110 110 120 125 130 130 135 140 140 145 145 150 155 155 160 160 160 165 170 175 180 185 190 195 200 200 205 210 215 220 Volume pada kolom ini dibulatkan dengan kelipatan 5 ml yang Perubahan frekuensi makan dilakukan bila makanan dapat dihabiskan dan toleransi baik (tidak muntah/diare) Anak dengan edema ringan dan sedang (+ dan ++) juga menggunakan table ini: o Edema ringan (+): edema hanya pada punggung kaki o Edema sedang (++): pada tungkai dan lengan • Edema berat (+++).8 10.6 3. menggunakan table dibawah 7. seluruh tubuh/anasarka.4 3.0 Tiap 2 jam (ml/kali makan) 12x makan 25 25 30 30 30 35 35 35 40 40 40 Tiap 3 jam (ml/kali makan) 8x makan 40 40 45 45 50 50 55 55 60 60 65 Tiap 4 jam (ml/kali makan) 6x makan 50 55 60 60 65 65 70 75 75 80 85 35 .8 4.7. Jumlah F-75 per kali makan (100 ml/kg/hari) untuk anak dengan edema berat 7 BB anak (KG) 3.6 9.6 7.6 4.0 9.0 8.4 4.4 8.8 8.6 8.4 7.2 3.0 3.

2 5.6 9.4 7.6 6.2 6.8 11.4 10.8 10. Z Score 36 .6 10.6 8.0 Catatan: • • terdekat 45 45 45 50 50 50 55 55 55 60 60 60 65 65 65 70 70 70 75 75 75 80 80 80 85 85 85 90 90 90 95 95 95 100 100 65 70 70 75 75 80 80 85 85 90 90 95 95 100 100 105 105 110 110 115 115 120 120 125 125 130 130 135 135 140 140 145 145 150 150 85 90 95 95 105 105 110 115 115 120 125 125 125 130 135 135 140 145 145 150 155 155 160 165 165 170 175 175 180 185 185 190 195 195 200 Volume pada kolom ini dibulatkan dengan kelipatan 5 ml yang Perubahan frekuensi makan dilakukan bila makanan dapat dihabiskan dan toleransi baik (tidak muntah/diare) 8.8 9.2 10.8 6.2 7.0 8.8 7.8 12.4 11.2 8.4 9.6 5.2 9.0 9.6 7.5.0 10.4 8.8 8.4 5.6 11.4 6.0 6.0 7.0 11.2 11.

Djaeni.htm 6. Roedi. Pudjiadi.medterms. Ilmu Gizi jilid II. A. World Health Organisation. Monika.asp?articlekey=4124 37 . Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Hal 47-50 3. Useini. USA: Saunders Elsevier. 2004. Jakarta: WHO Indonesia. Denpasar: SMF IKA FK Unud Denpasar. 2007. 8. Moh. Hal 94-98 9. Kliegman.com/isi03.co. Malnutrition: Quantifying the Health Impact at national and Local levels. Adi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka 4. 2005.XVII. Geneva: WHO 2. 2007.html 10. Boerhan H.kalbe.com/script/main/art. 2009. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak RSUP Sanglah.pdf/06_PenatalaksanaanBusungLaparPadaBalita. Penuntun Diet Edisi Baru Instalasi Gizi RSCM dan Asosiasi Dietisien Indonesia. Sudaryat S. 2000. Edisi IV. http://www. Daftar Pustaka 1. Hal 227-232 11. (http://www. Ilmu Gizi Klinis Pada Anak. 2005. Nelson Textbook of Pediatrics. Available at: http://www. 5.id/files/cdk/files/06_PenatalaksanaanBusungLap arPadaBalita. Achmad Sediaoetama. Jakarta: Dian Rakyat.pediatrik. Soetjiningsih. Semarang: UNS 7. Blossner. 2005. Robert.php? page=html&hkategori=ePDT&direktori=pdt&filepdf=0&pdf=&html= 07110-rswg255. S. Sunita. Jakarta: Gaya Baru. Pendugaan Hubungan Antara Kurang Gizi pada Balita Dengan Kurang Energi Ringan dan Sedang di Wilayah Puskesmas Kecamatan Pati Semarang. Kurang Energi Protein (KEP).

2004. USA: DC Decker. Allan. Walker.12. Pediatric Gastrointestinal Disease. Hal 297-310 38 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful