You are on page 1of 13

M A K AL AH

PENGORGANISASIAN DAN PENGEMBANGAN
MASYARAKAT
(FALSAFAH DASAR PENGEMBANGAN MASYARAKAT)

Dosen Pengampuh :
Endang Trisnawati, S.ST.,M.Keb

Disusun :

1. Almawati (Nim: PO.71.24.4.16.001)
2. Dwi Sandra A. Pakombong (Nim: PO.71.24.4.16.007)
3. Naomi Serli Daimoye (Nim: PO.71.24.4.16.023)
4. Mega Puspitasari Kalibay (Nim: PO.71.24.4.15.028)

5. Junita F.M. Jikwa (Nim: PO.71.24.4.16.016)
6. Lani Rica Niki (Nim: PO.71.24.4.16.018)
7. Resni Indra Balo (Nim: PO.71.24.4.15.042)
8. Yubelina Giyai (Nim: PO.71.24.4.14.069)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAYAPURA
JURUSAN KEBIDANAN
PRODI DIV KEBIDANAN SEMESTER IV REGULER A & B
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa , berkat rahmat dan

hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tugas

Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat ini membahas materi Falsafah Dasar

Pengembangan.

Kami membuat makalah ini sebagai bentuk untuk melaksanakan tugas pada mata

kuliah Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat yang diberikan oleh dosen

pengampuh. Serta materi dalam makalah tersebut dapat memberi kita pengetahuan dan

informasi.

Kami berusaha sebaik mungkin dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, kami

ucapkan banyak terima kasih. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari

kesempurnaan dan mohon maaf apabila ada terdapat kesalahan dalam penulisan. Saran dan

kritik yang membangun sangat kami butuhkan.

Jayapura, 25 Agustus 2018
DAFTAR ISI

BAB I ........................................................................................................................................................ 4
PENDAHULUAN ....................................................................................................................................... 4
A. Latar Belakang............................................................................................................................. 4
B. Rumusan Masalah ....................................................................................................................... 5
C. Tujuan ......................................................................................................................................... 5
BAB II ....................................................................................................................................................... 6
PEMBAHASAN ......................................................................................................................................... 6
A. Konsep dan Cakupan .................................................................................................................. 6
B. Perspektif Teori Pengembangan Masyarakat ........................................................................... 8
C. Model Pengembangan Masyarakat ........................................................................................... 10
BAB III ................................................................................................................................................ 12
PENUTUP ............................................................................................................................................... 12
A. Kesimpulan................................................................................................................................ 12
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 13
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengembangan Masyarakat (PM) memiliki sejarah panjang dalam praktek
pekerjaan sosial (Payne, 1995; Suharto, 1997). Sebagai sebuah metode pekerjaan
sosial, Pengembangan Masyarakat memungkinkan pemberi dan penerima pelayanan
terlibat dalam proses perencanaan, pengawasan dan evaluasi. Pengembangan
Masyarakat meliputi berbagai pelayanan sosial yang berbasis masyarakat mulai dari
pelayanan preventif untuk anak-anak sampai pelayanan kuratif dan pengembangan
untuk keluarga yang berpendapatan rendah.

Pengembangan masyarakat dapat didefinisikan sebagai metode yang yang
memungkinkan orang dapat meningkatkan kualitas hidupnya, serta mampu
memperbesar pengaruhnya terhadap proses-proses yang mempengaruhi
kehidupannya. Selain itu pengembangan masyarakat juga merupakan suatu proses
swadaya masyarakat yang diintegrasikan dengan usaha-usaha pemerintah setempat.
Pengembangan ini berguna untuk meningkatkan kondisi masyarakat di bidang
ekonomi, sosial, politik dan budaya. Sebagai sebuah metode atau pendekatan yang
relatif baru, pengembangan masayarakat menekankan adanya proses pemberdayaan,
partisipasi, dan peranan langsung warga komunitas dalam proses pembangunan di
tingkat komunitas dan antarkomunitas. Secara khusus pengembangan
masyarakat berkenaan dengan upaya pemenuhan kebutuhan orang-orang yang tidak
beruntung atau tertindas, baik yang disebabkan oleh kemiskinan maupun oleh
diskriminasi berdasarkan kelas sosial, suku, gender, jenis kelamin, usia, dan
kecacatan. Pengembangan masyarakat memiliki fokus terhadap upaya menolong
anggota masyarakat yang memiliki kesamaan minat untuk bekerja sama,
mengidentifikasi kebutuhan bersama dan kemudian melakukan kegiatan bersama
untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja konsep dan cakupan pengembangan masyarakat?
2. Apa saja perspektif teori pengembangan masyarakat?
3. Tiga model pengembangan masyarakat :
o Bagaimana pengembangan masyarakat lokal?
o Bagaimana perencanaan sosial?
o Bagaimana aksi sosial?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui konsep dan cakupan pengembanganmasyarakat.
2. Untuk mengetahui perspektif teori pengembangan masyarakat.
3. Untuk mengetahui tiga model pengembangan masyarakat.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep dan Cakupan

Pengembangan Masyarakat memiliki fokus terhadap upaya menolong anggota
masyarakat yang memiliki kesamaan minat untuk bekerja sama, mengidentifikasi kebutuhan
bersama dan kemudian melakukan kegiatan bersama untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
PM seringkali diimplementasikan dalam bentuk (a) proyek-proyek pembangunan yang
memungkinkan anggota masyarakat memperoleh dukungan dalam memenuhi kebutuhannya
atau melalui (b) kampanye dan aksi sosial yang memungkinkan kebutuhan-kebutuhan
tersebut dapat dipenuhi oleh pihak-pihak lain yang bertanggungjawab (Payne, 1995:165).

Pengembangan Masyarakat (community development) terdiri dari dua konsep, yaitu
“pengembangan” dan “masyarakat”. Secara singkat, pengembangan atau pembangunan
merupakan usaha bersama dan terencana untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia.
Bidang-bidang pembangunan biasanya meliputi beberapa sektor, yaitu ekonomi, pendidikan,
kesehatan dan sosial-budaya. Masyarakat dapat diartikan dalam dua konsep, yaitu (Mayo,
1998:162):

Masyarakat sebagai sebuah “tempat bersama”, yakni sebuah wilayah geografi yang sama.
Sebagai contoh, sebuah rukun tetangga, perumahan di daerah perkotaan atau sebuah kampung
di wilayah pedesaan. Masyarakat sebagai “kepentingan bersama”, yakni kesamaan
kepentingan berdasarkan kebudayaan dan identitas. Sebagai contoh, kepentingan bersama
pada masyarakat etnis minoritas atau kepentingan bersama berdasarkan identifikasi kebutuhan
tertentu seperti halnya pada kasus para orang tua yang memiliki anak dengan kebutuhan
khusus (anak cacat phisik) atau bekas para pengguna pelayanan kesehatan mental.

Istilah masyarakat dalam Pengembangan Masyarakat biasanya diterapkan terhadap
pelayanan-pelayanan sosial kemasyarakatan yang membedakannya dengan pelayanan-
pelayanan sosial kelembagaan. Pelayanan perawatan manula yang diberikan di rumah mereka
dan/atau di pusat-pusat pelayanan yang terletak di suatu masyarakat merupakan contoh
pelayanan sosial kemasyarakatan. Sedangkan perawatan manula di sebuah rumah sakit khusus
manula adalah contoh pelayanan sosial kelembagaan. Istilah masyarakat juga sering
dikontraskan dengan “negara”. Misalnya, “sektor masyarakat” sering diasosiasikan dengan
bentuk-bentuk pemberian pelayanan sosial yang kecil, informal dan bersifat bottom-up.
Sedangkan lawannya, yakni “sektor publik”, kerap diartikan sebagai bentuk-bentuk pelayanan
sosial yang relatif lebih besar dan lebih birokratis.

Pengembangan Masyarakat yang berbasis masyarakat seringkali diartikan dengan
pelayanan sosial gratis dan swadaya yang biasanya muncul sebagai respon terhadap
melebarnya kesenjangan antara menurunnya jumlah pemberi pelayanan dengan meningkatnya
jumlah orang yang membutuhkan pelayanan. PM juga umumnya diartikan sebagai pelayanan
yang menggunakan pendekatan-pendekatan yang lebih bernuansa pemberdayaan
(empowerment) yang memperhatikan keragaman pengguna dan pemberi pelayanan.

Dengan demikian, Pengembangan Masyarakat dapat didefinisikan sebagai metoda
yang memungkinkan orang dapat meningkatkan kualitas hidupnya serta mampu memperbesar
pengaruhnya terhadap proses-proses yang mempengaruhi kehidupannya (AMA, 1993).
Menurut Twelvetrees (1991:1) PM adalah “the process of assisting ordinary people to
improve their own communities by undertaking collective actions.” Secara khusus
pengembangan masyarakat berkenaan dengan upaya pemenuhan kebutuhan orang-orang yang
tidak beruntung atau tertindas, baik yang disebabkan oleh kemiskinan maupun oleh
diskriminasi berdasarkan kelas sosial, suku, jender, jenis kelamin, usia, dan kecacatan.
B. Perspektif Teori Pengembangan Masyarakat

Secara teoretis, Pengembangan Masyarakat dapat dikatakan sebagai sebuah
pendekatan pekerjaan sosial yang dikembangkan dari dua perspektif yang berlawanan, yakni
aliran kiri (sosialis-Marxis) dan kanan (kapitalis-demokratis) dalam spektrum politik. Dewasa
ini, terutama dalam konteks menguatnya sistem ekonomi pasar bebas dan “swastanisasi”
kesejahteraan sosial, Pengembangan Masyarakat semakin menekankan pentingnya swadaya
dan keterlibatan informal dalam mendukung strategi penanganan kemiskinan dan penindasan,
maupun dalam memfasilitasi partisipasi dan pemberdayaan masyarakat.

Secara garis besar, Twelvetrees (1991) membagi perspektif Pengembangan
Masyarakat ke dalam dua bingkai, yakni pendekatan “profesional” dan pendekatan “radikal”.
Pendekatan profesional menunjuk pada upaya untuk meningkatkan kemandirian dan
memperbaiki sistem pemberian pelayanan dalam kerangka relasi-relasi sosial. Sementara itu,
berpijak pada teori struktural neo-Marxis, feminisme dan analisis anti-rasis, pendekatan
radikal lebih terfokus pada upaya mengubah ketidakseimbangan relasi-relasi sosial yang ada
melalui pemberdayaan kelompok-kelompok lemah, mencari sebab-sebab kelemahan mereka,
serta menganalisis sumber-sumber ketertindasannya.

Sebagaimana diungkapkan oleh Payne (1995:166), “This is the type of approach
which supports minority ethnic communities, for example, in drawing attention to inequalities
in service provision and in power which lie behind severe deprivation.” Seperti digambarkan
oleh Tabel 1, dua pendekatan tersebut dapat dipecah lagi kedalam beberapa perspektif sesuai
dengan beragam jenis dan tingkat praktek Pengembangan Masyarakat. Sebagai contoh,
pendekatan profesional dapat diberi label sebagai perspektif (yang) tradisional, netral dan
teknikal. Sedangkan pendekatan radikal dapat diberi label sebagai perspektif transformasional
(Dominelli, 1990; Mayo, 1998).

Berdasarkan perspektif di atas, PM dapat diklasifikasikan kedalam enam model sesuai
dengan gugus profesional dan radikal (Dominelli, 1990: Mayo, 1998). Keenam model
tersebut meliputi: Perawatan Masyarakat, Pengorganisasian Masyarakat dan Pembangunan
Masyarakat pada gugus profesional; dan Aksi Masyarakat Berdasarkan Kelas Sosial, Aksi
Masyarakat Berdasarkan Jender dan Aksi Masyarakat Berdasarkan Ras (Warna Kulit) pada
gugus radikal(Tabel 2).
i. Perawatan Masyarakat merupakan kegiatan volunter yang biasanya dilakukan oleh warga
kelas menengah yang tidak dibayar. Tujuan utamanya adalah untuk mengurangi
kesenjangan legalitas pemberian pelayanan.
ii. Pengorganisasian Masyarakat memiliki fokus pada perbaikan koordinasi antara berbagai
lembaga kesejahteraan sosial.
iii. Pembangunan Masyarakat memiliki perhatian pada peningkatan keterampilan dan
kemandirian masyarakat dalam memecahkan permasalahan yang dihadapinya.
iv. Aksi Masyarakat Berdasarkan Kelas bertujuan untuk membangkitkan kelompok-
kelompok lemah untuk secara bersama-sama meningkatkan kemampuan melalui strategi
konflik, tindakan langsung dan konfrontasi.
v. Aksi Masyarakat Berdasarkan Jender bertujuan untuk mengubah relasi-relasi-relasi sosial
kapitalis-patriakal antara laki-laki dan perempuan, perempuan dan negara, serta orang
dewasa dan anak-anak.
vi. Aksi Masyarakat Berdasarkan Ras (Warna Kulit) merupakan usaha untuk
memperjuangkan kesamaan kesempatan dan menghilangkan diskriminasi rasial.

Tabel 1 : Dua Perspektif Pengembangan Masyarakat

Perspektif Tujuan / Asumsi
Profesional o Meningkatkan inisiatif masyarakat, termasuk kemandirian.
(Tradisional, Netral o Memperbaiki pemberian pelayanan sosial dalam kerangka relasi sosial yang
Teknikal) ada.
Radikal o Meningkatkan inisiatif masyarakat, memperbaiki pemberian pelayanan sosial.
(Transformasional) o Pemberdayaan masyarakat guna mencari akar penyebab ketertindasan dan
deskriminasi.
o Mengembangkan strategi dan membangun kerjasama dalam melakukan
perubahan sosial yang menindas, deskriminatif dan eksploitatif.

Tabel 2 : Model-model Pengembangan Masyarakat

Perspektif Model
Profesional (Tradisional, Perawatan masyarakat, pengorganisasian masyarakat, pembangunan
Netral Teknikal) masyarakat.
Radikal (Transformasional) Aksi Masyarakat Berdasarkan Kelas, Gender dan Ras (warna kulit)
C. Model Pengembangan Masyarakat

Jack Rothman mengembangkan tiga model yang berguna dalam memahami
konsepsi tentang pengembangan masyarakat yaitu :

a. Pengembangan masyarakat lokal (locality development)
Pengembangan masyarakat lokal adalah proses yang ditujukan untuk
menciptakan kemajuan ekonomi dan sosial bagi masyarakat melalui partisipasi aktif
serta inisiatif masyarakat itu sendiri. Anggota masyarakat dipandang sebagai
masyarakat yang unik dan memiliki potensi, hanya saja potensi tersebut belum
sepenuhnya dikembangkan.

b. Perencanaan sosial
Perencanaan sosial dimaksudkan untuk menentukan keputusan dan
menetapkan tindakan dalam memecahkan masalah sosial tertentu seperti kemiskinan,
pengangguran, kenakalan remaja, kebodohan (buta huruf), kesehatan masyarakat yang
buruk (rendahnya usia harapan hidup, tingginya tingkat kematian bayi, kekurangan
gizi) .

c. Aksi sosial
Tujuan dan sasaran utama aksi sosial adalah perubahan-perubahan
fundamental dalam kelembagaan dan struktur masyarakat melalui proses
pendistribusian kekuasaan ( distribution of power), sumber (distribution of resources)
dan pengambilan keputusan (distribution of decision making). Pendekatan ini
didasarkan pada suatu pandangan bahwa masyarakat adalah sistem klien yang
seringkali menjadi korban ketidakadilan struktur. Mereka miskin sebab dimiskinkan,
mereka lemah karena dilemahkan, dan tidak berdaya karena tidak diberdayakan, oleh
kelompok elit masyarakat yang menguasai sumber-sumber ekonomi, politik dan
kemasyarakatan. Aksi sosial berorientasi pada tujuan proses dan tujuan hasil.
Masyarakat diorganisir melalui proses penyadaran, pemberdayaan dan tindakan-
tindakan aktual untuk merubah struktur kekuasaan agar lebih memenuhi prinsip
demokrasi, kemerataan (equality) dan keadilan (equity).
Model pengembangan masyarakat juga diterapkan dalam ruang organisasi
kemasyarakatan seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dalam kegiatan
pengembangan masyarakat LSM menggunakan tiga jenis pendekatan yaitu:

a. The Welfare Approach
Pendekatan ini dilakukan dengan memberi bantuan kepada kelompok-
kelompok tertentu contohnya kepada mereka yang terkena musibah. Pendekatan ini
kebanyakan dilakukan oleh kelompok-kelompok keagamaan berupa pelayanan
kesehatan, penyediaan makanan dan penyelenggaraan pendidikan bagi masyarakat
yang membutuhkan.

b. The Development Approach
Pendekatan yang dilakukan dengan cara memusatkan kegiatannya pada
pengembangan proyek pembangunan dengan tujuan meningkatkan kemampuan,
kemandirian dan keswadayaan masyarakat. Pendekatan ini dijalankan melalui
program pendidikan dan latihan bagi tenaga NGOs dan pemerintah yang
berkecimpung pada bidang pengembangan masyarakat.

c. The Empowerment Approach
Pendekatan yang dilakukan dengan cara melihat kemiskinan sebagai akibat
proses politik dan berusaha memberdayakan atau melatih masyarakat untuk mengatasi
ketidakberdayaannya. Pendekatan empowermnet approach bertujuan untuk
memperkuat posisi tawar masyarakat lapis bawah terhadap kekuatan-kekuatan
penekan pada setiap bidang dan sektor kehidupan. Upaya tersebut dilakukan dengan
cara melindungi dan membela pihak yang lemah.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Pengembangan Masyarakat (community development) terdiri dari dua konsep,
yaitu “pengembangan” dan “masyarakat”. Pengembangan atau pembangunan
merupakan usaha bersama dan terencana untuk meningkatkan kualitas kehidupan
manusia. Masyarakat sebagai sebuah “tempat bersama”, yakni sebuah wilayah
geografi yang sama.
Secara garis besar, Twelvetrees (1991) membagi perspektif Pengembangan
Masyarakat ke dalam dua bingkai, yakni pendekatan “profesional” dan pendekatan
“radikal”. Pendekatan profesional menunjuk pada upaya untuk meningkatkan
kemandirian dan memperbaiki sistem pemberian pelayanan dalam kerangka relasi-
relasi sosial. Pendekatan radikal lebih terfokus pada upaya mengubah
ketidakseimbangan relasi-relasi sosial yang ada melalui pemberdayaan kelompok-
kelompok lemah, mencari sebab-sebab kelemahan mereka, serta menganalisis
sumber-sumber ketertindasannya.

Jack Rothman mengembangkan tiga model yang berguna dalam memahami
konsepsi tentang pengembangan masyarakat yaitu :
o Pengembangan masyarakat lokal adalah proses yang ditujukan untuk
menciptakan kemajuan ekonomi dan sosial bagi masyarakat melalui partisipasi
aktif serta inisiatif masyarakat itu sendiri.
o Perencanaan sosial dimaksudkan untuk menentukan keputusan dan
menetapkan tindakan dalam memecahkan masalah sosial.
o Tujuan dan sasaran utama aksi sosial adalah perubahan-perubahan
fundamental dalam kelembagaan dan struktur masyarakat melalui proses
pendistribusian kekuasaan ( distribution of power), sumber (distribution of
resources) dan pengambilan keputusan (distribution of decision making).
DAFTAR PUSTAKA

Suharto, Edi .1997, Pembangunan, Kebijakan Sosial dan Pekerjaan Sosial:

Spektrum Pemikiran, Bandung: Lembaga Studi Pembangunan STKS

(LSP-STKS).

.2002. Metodologi Pengembangan Masyarakat.

http://www.policy.hu/suharto/modul_a/makindo_19.htm. Diakses tanggal

12 Maret 2011.

http://radinir08.student.ipb.ac.id/2010/06/17/metodologi-pengembangan-masyarakat/