You are on page 1of 11

BERCINTA DENGAN ALLAH

Posted on April 18, 2012


Wednesday, January 12th 2011
IDENTITAS BUKU

Judul buku : Bercinta dengan Allah

Judul asli : Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Musytaqin


Pengarang : Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah
Jumlah halaman : 391

Tahun : 2010
Penerbit : Maghfirah Pustaka
Kota terbit : Jakarta

Seseorang tidak akan meninggalkan segala sesuatu yang dia cintai dan ingini dengan begitu saja
melainkan demi hal lain yang dia cintai dan ingini juga. Artinya, dia meninggalkan dari cinta
yang rendah menuju cinta yang lebih besar.

Manusia terbodoh adalah yang menjual kehidupan yang baik dan abadi dengan kesenangan
sesaat saja yang nantinya hanya menyisakan kesengsaraan.

BAB 1 # Alam Semesta Bergerak Karena Cinta

“Orang yang berakal bukanlah orang yang mengetahui yang baik dan buruk, tetapi orang yang
mengetahui yang terbaik diantara dua hal yang buruk.”
(Umar bin Khathab)

Gerakan dibagi menjadi 3 macam:

1. Gerakan sadar
2. Gerakan bawah sadar (alamiah) à muaranya pada sentralnya, terarah pada tempat asal dan
pusatnya.
3. Gerakan paksaan à muaranya bukan pada sentralnya à ex: gaya gravitasi dan seluruh
gerakan alam raya ini.
Faktor utama setiap gerakan yang terjadi di dunia ini adalah malaikat. Setiap gerakan planet dan
seisinya merupakan gerakan yang sadar yang ditopang oleh perasaan cinta. Cinta dan
keinginanlah yang menjadi sumber dan titik tolak setiap pergerakan. Setiap perbuatan tidak akan
terwujud tanpa cinta dan keinginan, bahkan itu juga yang mendorong seseorang untuk melakukan
perbuatan-perbuatan yang ia benci dan yang tidak dia sukai. Ex: cinta pada kondisi sembuh dan
sehat, orang akan rela minum obat walaupun rasanya pahit demi menghilangkan rasa sakit yang
dideritanya. Walaupun obat tersebut rasanya pahit, tetapi sebenarnya ia dicintai karena bisa
menghilangkan hal yang dibenci (penyakit) dan bisa mendatangkan sesuatu yang dicintai
(kesembuhan).

Cinta adalah keadilan yang karenanya makhluk hidup, perintah, pahala, dan siksaan ada. Cinta
adalah kebenaran, dengan dan karenanya langit, bumi, dan segala isinya diciptakan.
 An naziat : 5
 Ad Dzariyat : 4
 Al Mursalat : 1-5
 An Naziat : 1-5
 Al Haqqah : 6
 Al Anbiya : 27
 At Tahrim : 6
 Al Hijr : 85
 Al Muminun : 116
 Hud : 56
 Al Imran : 191
 Al Mulk : 2
 Al Kahfi : 7
 Hud : 7
 Al An’am : 148
 An Nahl : 35
 Az Zukhruf : 20
 Yasin : 47
 Al Hijr : 39
 Al A’raf : 16
 Maryam : 83
 Az Zumar : 75
 Az Zumar : 72
 At Tahrim : 10

BAB 2 # Faktor Pendorong dan Ketergantungan Cinta

Faktor pendorong cinta:

1. Sifat dan kecantikan orang yang dicintai


2. Perasaan orang yang mencintai
3. Ikatan dan kecocokan yang ada antara yang mencintai dan dan yang dicintai
Seorang pria yang akan melamar seorang wanita, maka diperintahkan untuk melihat kondisi
wanita yang mau dilamar. Karena kalau si pelamar melihat kecantikan atau keindahan perempuan
yang akan dilamar, maka hal itu akan lebih mendorong untuk memperoleh cinta dan keserasian
antara keduanya. Nabi Muhammad saw bersabda, “Jika salah seorang diantara kamu hendak
melamar seorang perempuan, hendaknya dia melihat kepada sesuatu yang membuatnya tertarik
untuk menikahinya, karena yang demikian lebih mampu untuk menciptakan keharmonisan
diantara mereka berdua.” (HR at-Tirmidzi)

BAB 3 # Hukum, Bahaya, dan Akibat Memandang


“Katakanlah kepada lelaki yang beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara
kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh Allah Mahamengetahui apa
yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada para wanita yang beriman agar mereka menjaga
pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (an-Nur [24]: 30-31)
Pada Hari Raya haji, Fadhl bin Abbas berboncengan bersama Rasulullah saw dari Mudzalifah
menuju Mina. Ketika itu, lewatlah serombongan wanita, dan Fadhl pun memandangi rombongan
itu. Kemudian, Rasulullah saw memalingkan kepalanya ke arah yang lain. (HR al-Bukhari dan
Muslim)

“Allah swt telah menetapkan kepada manusia bagian dari zina, dia pasti akan mendapatkannya.
Mata akan berzina, dan zinanya adalah melihat. Lisan akan berzina, dan zinanya adalah ucapan.
Kaki akan berzina, dan zinanya adalah melangkah. Tangan akan berzina, dan zinanya adalah
memegang. Hati berkeinginan dan berharap, sementara kemaluan membenarkan itu semuanya
atau mendustakannya.” (HR al-Bukhari-Muslim)
Rasulullah besabda, “Ali, jangan iringi satu pandangan dengan pandangan berikutnya.
Pandangan pertama untukmu, sementara keduanya dosa bagimu.” (HR Abu Dawud)
Oleh karena itu, tidak boleh lah mengulangi pandangan yang berikutnya karena 10 alasan berikut:

1. Allah swt memerintahkan untuk menjaga pandangan. Allah tidak membuat obat hati
dengan sesuatu yang telah Dia haramkan kepada hamba-Nya.
2. Rasulullah saw ditanya tentang pandangan tanpa sengaja yang bisa memengaruhi hati.
Obatnya, menurut rasulullah, adalah mengalihkannya, tidak dengan cara mengulanginya
kembali.
3. Rasulullah saw menyatakan, bahwa pandangan pertama adalah “rezeki” baginya, bukan
yang kedua. Adalah mustahil diberikan penyakit tanpa ada obatnya.
4. Umumnya, pandangan yang kedua tidak mengurangi letupan hati. Kenyataannya memang
demikian. Oleh karena itu, tidaklah pantas mengulangi pandangan yang bisa berdampak
seperti pada yang pertama.
5. Boleh jadi, apa yang akan dia lihat letupan hatinya akan lebih besar, sehingga siksa yang
dia terima akan lebih berat.
6. Ketika berniat untuk melakukan pandangan kedua, iblis berdiri di kuduknya lalu
menghiasinya dengan sesuatu yang tidak baik agar dampak buruknya menjadi lebih besar
lagi.
7. Seseorang tidak akan mendapatkan pertolongan atas cobaan yang menimpanya jika dia
tidak mau menaati perintah-Nya. Oleh karena itu, wajar bila dia tidak mendapatkan
pertolongan Allah swt.
8. Pandangan pertama termasuk panah beracun dari iblis. Sudah pasti, pandangan kedua lebih
beracun lagi. Oleh sebab itu, bagaimana bisa seseorang mengobati racun dengan racun?
9. Ada yang berdalih, bahwa orang yang melakukan pandangan yang kedua berada dalam
tempat interaksinya dengan Allah swt, yaitu meninggalkan sesuatu yang disukainya. Dia
ingin melakukan pandangan kedua agar keadaan orang yang dipandang itu menjadi jelas
baginya. Apabila hal itu tidak disenanginya, dia akan meninggalkannya. Kalau demikian,
dimana letak interaksinya dengan Allah swt, yaitu meninggalkan hal yang disukai karena-
Nya?
10. Perhatikanlah perumpamaan berikut! Kita menunggang kuda baru, lalu memasuki jalan
buntu yang sempit, yang tidak mungkin untuk berputar balik ke belakang setelah masuk
kedalamnya. Apabila kuda itu ingin masuk, tentu kita akan tarik talinya agar dia tidak
masuk. Apabila ia masuk selangkah atau dua langkah, maka kita akan berteriak dan
mengenbalikannya ke belakang dengan sesegera mungkin sebelum ia benar-benar
memasukinya. Apabila kita dapat mengembalikannya ke belakang, maka hal itu adalah
mudah. Apabila hal itu tidak mampu lagi dilakukan hingga kuda itu masuk dan kita
menungganginya terus, kemudian kita coba tarik ekornya, maka kita akan kesulitan atau
bahkan tidak dapat mengeluarkannya. Apakah orang yang berakal akan mengatakan bahwa
jalan untuk mengeluarkannya adalah dengan mengatakan bahwa jalan untuk mengeluarkan
adalah dengan memasukkannya lebih jauh kedalam? Demikian juga dengan pandangan
bila telah memengaruhi hati. Jika awalnya sudah mengambil sikap tegas, maka akan
mudah mengobatinya. Jika pandangan diulang dan telah terpana pada posisi-posisi yang
mengggiurkan serta sudah tertancap didalam hati yang kosong, maka ukiran rasa sebab
pandangan itu sudah tertancap kuat didalamnya. Setiap kali pandangan itu terus menerus
dilakukan, maka akan sama seperti air yang mengairi tanaman. Pangkal cinta itu akan
tumbuh sehingga merusakkan hati dan memalingkannya dari berbagai pikiran yang
diperintahkan oleh Allah swt. Lalu, ia membawa pemiliknya kepada fitnah dan melakukan
hal yang dilarang oleh Allah swt. Akhirnya, hati itu akan dicampakkan kedalam jurang
kebinasaan. Itu bisa terjadi disebabkan oleh pelakunya yang memperturutkan keinginan
untuk mengulangi yang pertama, yang mengandung kenikmatan. Keadaan demikian sama
halnya dengan seseorang yang mencicipi makanan yang lezat. Seandainya sejak awal dia
menjaga pandangannya, pastilah hatinya akan tenang dan selamat. Mari kita renungkan
hadist nabi Muhammad saw berikut ini, “Pandangan adalah salah satu panah beracun
iblis.” Racun panah itu akan mengalir didalam hati, sebagaimana halnya racun yang
bekerja pada benda lain. Apabila orang yang terkena racun itu segera menyadari dan
membuangnya, dia akan selamat. Apabila sebaliknya, dia akan mati karenanya.
Pandangan itu mempengaruhi kekuatan syahwat. Oleh karena itu, Rasulullah saw memerintahkan
untuk menguranginya dengan mendatangi orang berhak menerimanya (istrinya). Bencana
pandangan adalah awal dari segala bencana. Rasulullah bersabda, “Tidak ada ujian yang aku
tinggalkan setelahku, yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki selain wanita.” (HR al-Bukhari-
Muslim)
“Jagalah diri dari ujian dunia dan wanita.” (HR Muslim)
KEUNTUNGAN menjaga pandangan:

1. Hati terbebas dari sedih dan penyesalan


Sesuatu yang paling bebahaya bagi hati adalah membiarkan pandangan berkeliaran bebas, karena
itu akan menimbulkan dorongan dan keinginan yang kuat untuk melihat, serta bertambahnya
perasaan tidak sabar untuk meraih sesuatu yang dilihatnya.

1. Allah akan menerangi hati pelakunya


Cahaya itu akan tampak pada mata, wajah, dan anggota badannya, sebagaimana ketika seseorang
membebaskan pandangan, maka hal itu akan menyebabkan kegelapan dan ia akan tampak pada
wajah dan anggota badan pelakunya.

1. Allah akan memberikan firasat yang benar kepada pelakunya


Firasat itu bisa diberikan karena terlahir dari cahaya dan termasuk saripatinya. Apabila hati
bercahaya, maka firasat itu akan benar, karena ia laksana cermin mengkilap bersih yang akan
nampak didalamnya semua benda sebagaimana adanya. Adapun pandangan laksana tarikan nafas
didepan cermin tersebut. Apabila seseorang membebaskan pandangannya, maka ia akan menarik
nafas panjang di cermin hatinya, maka cahayanya akan padam. Ketika seseorang menahan
pandangannya karena Allah, maka Allah akan memberikan cahaya pada mata hatinya. Namun,
seseorang yang membebaskan pandangannya pada hal-hal yang haram, maka Allah akan
memenjarakan mata hatinya.

1. Allah swt akan memudahkan mendapatkan ilmu


Seseorang dapat dengan mudah memperoleh ilmu karena hatinya telah bercahaya. Sungguh,
apabila hati seseorang bersinar, maka hakikat ilmu akan tampak dan terrsingkap cepat. Dia akan
menembus satu bagian ke bagian lainnya. Tetapi apabila ia membebaskan pandangannya, maka
hatinya akan keruh dan gelap. Selaiin itu, pintu-pintu dan jalan-jalan ilmu juga akan tertutup
baginya.

1. Allah akan memberikan kekuatan, keistikamahan, dan keberanian


Allah akan memberikan ketajaman pandangan dan kekuatan rasio. Dalam suatu atsar dinyatakan,
seseorang yang melawan hawa nafsunya, maka setan akan takut kepada bayangannya. Oleh
karena itu, orang yang suka mengikuti hawa nafsunya, maka hatinya akan menjadi hina, lemah,
dan rendah diri.

1. Allah swt akan memberikan kebahagiaan dan kelapangan


Ketika seseorang menahan kelezatan dan dorongan syahwatnya karena Allah, yang didalamnya
mengandung kenikmatan dari hawa nafsunya, maka Allah akan menggantikannya dengan
kesenangan dan kenikmatan yang jauh lebih sempurna.

1. Dapat melepaskan hati dari tawanan hawa nafsu


Tawanan yang sebenarnya adalah orang yang ditawan oleh hawa nafsunya. Apabila hawa nafsu
sudah menawan hati, maka musuh akan menguasainya dan menimpakan bencana terburuk
kepadanya, sehingga dirinya laksana burung pipit yang berada dalam genggaman seorang anak.
Anak itu menyiksanya hingga burung itu menemui ajalnya.

1. Dapat menutup pintu-pintu neraka jahanam


Pandangan adalah salah satu pintu hawa nafsu yang dapat menjerumuskan seseorang kepada
perbuatan yang dilarang. Syariat Allah untuk menjaga pandangan adalah sebagai tabir yang dapat
menghalangi seseorang agar tidak terjerumus kedalam lembah keharaman.

1. Dapat mencerdaskan akal


Membiarkan pandangan berkeluyuran tidak akan terjadi kecuali pada yang berakal dangkal yang
tidak memerhatikan akibatnya. Akal yang sehat adalah akal yang dapat melihat akibat sesuatu.

1. Dapat membebaskan hati dari mabuk hawa nafsu dan kelalaian


Demi umurmu (wahai Muhammad), sesungguhnya mereka terombang ambing dalam kemabukan
(kesesatan) mereka. (al-Hijr [115]: 72)
Mabuk

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya, “Bagaimana cara mengetahui orang yang sedang
mabuk?” Beliau menjawab, “Apabila dia tidak mengetahui mana baju dan sandalnya dari milik
orang lain.”

Imam syafi’I berkata, “Orang mabuk adalah orang yang perkataannya melantur dan menceritakan
rahasianya sendiri.” Muhammad bin Dawud al-Ashfahani berkata, “Orang mabuk adalah yang
telah hilang kemauan dan menceritakan rahasianya.”

Kenikmatan Bercinta
Ibnu Taimiyyah berkata, “Yang benar, bahwa kenikmatan adalah ketika seseorang mendapatkan
sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkannya, sedangkan penderitaan adalah ketika seseorang
mendapatkan sesuatu yang tidak diinginkannya.”

Kenikmatan hakiki adalah kenikmatan terpuji yang bisa mendukung kenikmatan yang kekal
abadi, yaitu kenikmatan dan kesenangan akhirat yang merupakan kenikmatan tertinggi.

Segala kenikmatan dunia diciptakan sebagai perhiasan dan sarana untuk meraih kenikmatan
akhirat. Rasulullah saw bersabda, “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan
adalah istri salehah.” (HR Muslim)
Semua kenikmatan yang bisa menunjang untuk meraih kenikmatan akhirat dicintai dan diridai
oleh Allah. Pelakunya bisa menikmatinya dari dua segi. Pertama, kenikmatan itu bisa dirasakan
untuk dirinya. Kedua, kenikmatan itu dapat mengantarkannya pada keridaan Tuhannya dan
mendatangkan kenikmatan yang lebih sempurna lagi. Kenikmatan seperti inilah yang seharusnya
bagi orang yang berakal berupaya untuk meraihnya, bukan kenikmatan yang justru
mengakibatkan penderitaan yang besar dan memusnahkan kenikmatan yang lebih hebat dari itu.
Oleh karena itu, seorang mukmin diberi pahala atas setiap kenikmatan yang dia rasakan bila
ditujukan untuk membantu dan mengantarkannya pada kenikmatan akhirat, yang jauh melebihi
daripada kenikmatan yang dirasakan karena memiliki istri cantik yang sangat dia cintai.
Misalnya, apabila seseorang menyetubuhi istrinya dengan merasakan kenikmatan puncak, maka
dia akan diberi pahala atas kenikmatan tersebut. Sebaliknya, hukuman akan diberikan kepada
seseorang yang merasakan kenikmatan yang diharamkan. Rasulullah saw bersabda, “Pada
kemaluan kalian ada pahala.” Para sahabat bertanya, “Rasul, apakah bila salah seorang diantara
kami menyalurkan syahwatnya maka dia mendapatkan pahala?” Rasulullah
bersabda, “Bagaimana pendapat kalian seandainya dia menyalurkannya pada yang haram,
bukanlah dia mendapatkan dosa?” Mereka menjawab, “Ya.” Rasulullah bersabda, “Demikian
pula bila dia menyalurkannya pada yang halal, maka dia akan mendapat pahala.” (HR Muslim)
Kenikmatan yang sia-sia adalah kenikmatan yang tidak melahirkan penderitaan di akhirat dan
tidak mengantarkan pelakunya pada kenikmatan yang ada disana. Kenikmatan ini tidak
membeikan manfaat dan juga mudarat.

“Setiap permainan yang dilakukan oleh seseorang adalah batil (tidak mengandung pahala)
kecuali melempar panah, melatih kudanya, dan mencandai istrinya. Permainan seperti ini
termasuk benar.” (HR at-Tirmidzi)
3 macam kenikmatan:

1. Kenikmatan jasmaniah : diperoleh dari makanan, minuman, dan persetubuhan.


2. Kenikmatan berambisi : diperoleh dari jabatan, sifat sombong, sifat bangga, dan sifat
angkuh terhadap orang lain.
3. Kenikmatan akal dan rohani : kenikmatan memiliki ilmu pengetahuan dan memiliki
sejumlah sifat terpuji seperti pemurah, dermawan, menjaga kehormatan diri, pemberani,
sabar, santun, dan berwibawa. Kenikmatan ini termasuk kenikmatan yang paling mulia.
Kenikmatan ini dirasakan oleh jiwa yang mulia dan terhormat.
Sa’id bin Jubair mengatakan, setiap sore Umar bin Khathab berkeliling ke kota dengan
berbekalkan senjata. Apabila beliau melihat sesuatu yang tidak disukainya, beliau lantas
menegurnya. Ketika meronda di setiap malam, tiba-tiba beliau melewati rumah seorang wanita
yang terdengar sedang melantunkan nada-nada rintihan:

Malam ini kabut kegelapan semakin menyelimuti


Mataku tak bisa terpejam
Karena tiada sang kekasih yang mencandai
Seandainya bukan karena Allah
Yang tidak ada Tuhan selain-Nya
Niscaya ranjang ini akan bergerak ujung-ujungnya
Namun, Rasa takut kepada Tuhanku dan malu yang menghalangiku
Aku menghormati suamiku
Untuk diajamah tunggangannya
Wanita itu lalu menarik napas kuat-kuat dan berkata, “Semoga Umar menjadi hina sebab apa
yang saya rasakan saat ini.” Kemudian, Umar mengetuk pintu rumah. “Siapakah diluar, yang
mendatangi seorang wanita yang ditinggal suami pada saat-saat seperti ini?” tanya wanita itu
kepada orang yang mengetuk rumahnya.

“Bukalah pintu dulu!” balas Umar. Namun wanita itu enggan membukanya. Ketika Umar
mendesaknya, dia lantas berkata, “Demi Allah, seandainya hal ini sampai kepada Amirul
Mukminin, niscaya kamu akan dihukum.”

Ketika Umar mengetahuinya bahwa dia sangat menjaga kesucian dirinya, dia lalu berkata,
“Bukalah pintunya, saya ini Amirul Mukminin.”

“Kamu berdusta. Kamu bukanlah Amirul Mukminin.” Balas wanita itu. Kemudian, Umar
mengeraskan suaranya sehingga dia mengenal dengan baik kalau dia adalah Amirul
Mukminin. Akhirnya pintunya dibuka. Umar lalu berkata, “Apa yang tadi kamu katakan?”
Wanita itu pun mengulangi apa yang telah dia ucapkan sebelumnya. “Memang dimana
suamimu?” tanya Umar. “Dia itu sebagai tentara yang sedang melaksanakan tugasnya.”
Kemudian, Umar mengutus kepada komandan pasukan tersebut agar membebastugaskan Fulan
bin Fulan (suaminya). Ketika dia datang kepada Umar, dia berkata, “Kembalilah kepada
keluargamu.”

Selanjutnya Umar masuk menemui Hafshah, putrinya, dan berkata, “Putriku tercinta! Berapa
lama seorang istri bisa bersabar bila ditinggalkan suaminya?” Dia menjawab, “Sekitar satu, dua,
atau tiga bulan. Bila dia ditinggal sampai bulan keempat, kesabarannya akan hilang.” Atas
jawaban anaknya itu, Umar kemudian menjadikannya sebagai batas waktu untuk mengutus
pasukannya. Batas waktu ini sesuai dengan waktu yang ditentukan Allah untuk ‘Ila, yaitu empat
bulan.
Al-Kharaithi berkata, ‘Imarah bin Watsimah telah menyamapaikan kepada saya, dari ayahnya
yang mengatakan bahwa Abdullah bi Ra’biah termasuk warga kabilah Quraisy yang terpandang
dari segi kebaikan dan menjaga kesuciannya. “Alat vitalnya” tetap bugar dan sehat. Dia tidak
pernah bersaksi untuk oranh-orang Quraisy, baik dalam hal kebaikan maupun kejelekan. Apabila
dia menikahi wanita, maka tidak ada yang bisa tahan tinggal bersamanya kecuali hanya beberapa
hari saja. Setelah itu, mereka kabur ke rumah orangtuanya. Zainab binti ‘Amr bin Abu Salamah
pernah bertanya soal itu, “Kenapa para wanita kabur dari Abdullah bin Ra’biah?” Seseorang ada
yang manjawab, bahwa mereka semua tidak ada yang kuat untuk “melayaninya.”

Zainab lalu berkata, “Lalu, mengapa dia tidak dengan saya saja? Perangai saya baik, dan ‘alat
vital’ saya juga besar dan kuat.” Akhirnya Abdullah bin Ra’biah menikahinya. Zainab sabar
“melayaninya” sehingga dia mendapatkan enam orang anak.

Bentuk panjang yang dianggap anggun dari seorang wanita ada empat bagian, yaitu: jari-jemari
tangan dan kaki, tubuh, rambut, dan lehernya. Sementara bentuk pendek yang dianggap anggun
dari mereka adalah: kaki, tangan, lisan, dan matanya. Dalam hal ini tangannya tidak
menghamburkan apa yang ada dirumahnya; kakinya tidak keluar semaunya dari rumah; lisannya
tidak banyak berbicara; matanya tidak sembarang memandang. Warna putih yang dianggap
anggun dari mereka adalah: kulit, ketiak, leher, dan matanya. Warna hitam yang dianggap anggun
dari mereka adalah: bulu mata, alis, rambut, dan bagian matanya. Warna merah yang diaggap
anggun adalah: lisan pipi, dan kedua bibirnya dengan sedikit bercampur putih. Bentuk ramping
yang dianggap anggun adalah: mulut, tubuh, pusar, dan alisnya. Bentuk keras yang dianggap
anggun adalah: kedua siku, pergelangan, pinggul, dan kemaluannya. Bentuk lebar yang dianggap
anggun adalah: dahi, wajah, kedua mata, dan dadanya. Bentuk kecil yang dianggap anggun
adalah: mulut, tenggorokan, daun telinga, antara kedua pahanya. Inilah sifat wanita ideal idaman
pria.

Bidadari Surga

Suatu kali Ummu Salamah memohon kepada Rasulullah saw, “Rasulullah, tolong jelaskan
kepadaku tentang firman Allah,

Dia (di dalam surga itu) ada bidadari yang bermata jeli. (al-Waqi’ah [56]: 22)
Beliau lalu bersabda, “Para bidadari itu berkulit bening, bermata jeli lebar, dan berambut tergerai-
gerai laksana sayap yang terbuka lebar.” Rasulullah, tolong jelaskan kepadaku tentang firman
Allah,

Laksana mutiara yang tersimpan baik. (al-Waqi’ah [56]: 23)


Beliau bersabda, “Kebeningan mereka laksana mutiara yang berada dalam kerang yang tak
pernah tersentuh tangan manusia.” Ummu Salamah masih tetap memohon, “Rasulullah,
tolong jelaskan kepadaku tentang firman Allah,

Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik labi cantik-cantik. (ar-Rahman
[55]: 70)
Beliau bersabda, “Mereka berakhlak baik dan berwajah cantik.” “Rasulullah, tolong jelaskan
kepadaku tentang firman Allah,

Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik. (ash-Shaffat [37]:
49
Beliau bersabda, “Kelembutan mereka seperti lembutnya kulit telur yang kamu lihat di dalam
telur yang berada setelah kulitnya.” “Rasullah, tolong jelaskan kepadaku tentang firman Allah,

Penuh cinta lagi sebaya umurnya. (al-Waqi’ah [56]: 37)


Beliau bersabda, “Mereka adalah wanita-wanita yang diwafatkan oleh Allah di dunia dalam
keadaan tua, bermata rabun, dan beruban. Allah menciptakan mereka setelah tua menjadi gadis-
gadis ayu, menarik, dan sebaya dalam usianya.”
Aisyah berkata, “Wajah yang putih bersih adalah setengah dari kecantikan.” Umar bin Khathab
berkata, “Apabila seorang wanita berkulit putih bersih dan berambut indah, maka kecantikannya
sangatlah sempurna.”

Senandung Bidadari Surga


Ibnu Umar meriwayatkan Rasulullah saw bersabda, “Para istri penghuni surga menghibur suami
mereka dengan suara yang paling merdu. Tidak ada seorang pun yang pernah mendengarnya
kecuali pada saat itu. Diantara lagu yang mereka dendangkan adalah, ‘Kami adalah para
bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik, istri orang yang mulia.’ Para penghuni surga
memandangi mereka dengan penuh ketentraman. Diantara lagunya juga adalah, ‘Kami adalah
para wanita yang kekal dan tidak akan mati. Kmai para wanita yang selalu merasa aman adan
tidak pernah takut. Kami adalah para wanita yang senantiasa ada dan tidak akan pernah pergi
meninggalkan.” (HR at-Thabrani)
Kenikmatan Bercinta dengan Bidadari Surga

Abu Hurairah meriwayatkan Rasulullah bersabda, “Tuhan, Engkau menjanjikan pertolongan


kepadaku dan Engkau telah memberikannya kepadaku untuk penghuni surga sehingga mereka
masuk surga.” Allah swt lalu berfirman, “Aku telah memberikan pertolongan kepadamu dengan
mengizinkan mereka masuk surga.” Rasulullah bersabda, “Demi yang Maha Mengutusku dengan
benar, para penghuni surga lebih mengenal istri dan tempat tinggal mereka daripada diri kalian
terhadap istri dan tempat tinggal kalian sendiri ketika di dunia. Salah seorang dari mereka
masuk surga dan memiliki 72 istri dari yang diciptakan oleh Allah (bidadari) dan dua orang dari
anak Adam. Keduanya memiliki kelebihan daripada bidadari yang diciptakan oleh Allah, karena
ibadah yang keduanya lakukan saat di dunia. Kemudian, dia menemui salah satu dari kedua
istrinya di kamar yang terbuat dari yaqut, di atas ranjang emas yang dihiasi dengan mutiara.
Selain itu, seorang penghuni surga juga memiliki 70 istri yang memakai pakaian sutera halus
dan tebal berwarna hijau. Dia meletakkan tangannya diantara dua pundaknya, lalu dia melihat
tangannya dari dada, balik baju, kulit, dan daging istrinya. Salah seorang dari kalian bisa
melihat kawat yang terbungkus yaqut. Hati istrinya adalah cermin untuknya. Saat berada di sisi
istrinya, dia tidak pernah merasa bosan dan tidak membosankannya. Dia tidak menyetubuhinya
setiap saat melainkan istrinya tetap selalu gadis kembali. Kemaluan pria tidak pernah melemah
dan kemaluan istrinya tidak pernah mengeluh. Ketika dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba ada
panggilan, ‘Kami mengetahui kamu tidak akan bosan dan tidak membosankan. Tidak ada air
mani dan kematian, melainkan kamu memiliki istri-istri yang lain.’ Para bidadari keluar satu
demi satu. Setiap salah satu dari bidadari itu datang, maka setiap itu pula dia berkata, ‘Demi
Allah, di surga ini, tidak ada sesuatu yag lebih baik daripada dirimu dan tidak ada sesuatu yang
lebih aku cintai daripada dirimu.’” (HR Abu Ya’la)

Ciri Seseorang yang Jatuh Cinta

1. Matanya selalu memandang sesuatu yang dicintai


2. Menundukkan pandangan apabila dipandang sang kekasih
3. Selalu ingat pada sang kekasih
4. Mengikuti kata hati sang kekasih
5. Memperhatikan ucapan sang kekasih
6. Mencintai kediaman sang kekasih
7. Segera menghampirinya
8. Mencintai orang-orang yang dekat dengan kekasih
9. Perjalanan menuju sang kekasih terasa ringan
10. Resah dan gelisah sirna saat mengunjungi sang kekasih
11. Panik dan terharu ketika berjumpa dengan sang kekasih
12. Cemburu terhadap sang kekasih
13. Cemburu kepada sang kekasih
14. Berkorban demi sang kekasih
15. Bergembira karena sang kekasih bahagia
16. Senang menyendiri bersama sang kekasih
17. Merendahkan diri di hadapan sang kekasih
18. Nafas tersendat-sendat
19. Meninggalkan semua yang dibenci sang kekasih
20. Keselarasan antara pecinta dan sang kekasih
Rasulullah saw pernah bersabda, “Ada tiga golongan manusia yang berhak ditolong Allah: orang
menikah yang menginginkan kesucian dirinya, hamba sahaya mekatab (hamba sahay yang ingin
menebus dirinya dari tuannya), dan orang yang berjihad di jalan Allah.” (HR at-Tirmidzi)

Didalam kitab Tahrim al-Liwath, al-Ajiri menyebutkan, ‘Abdullah bin Umar meriwayatkan sabda
Rasulullah saw, “Ada tujuh golongan manusia yang tidak akan dilihat dan disucikan Allah pada
Hari Kiamat. Dan Allah berfirman, ‘Masuklah kalian kedalam api neraka bersama orang-orang
yang akan masuk! (yaitu) dua orang pelaku perbuatan kaum Nabi Luth (subjek dan objek), orang
yang menyetubuhi tangannya sendiri (onani), orang yang menyetubuhi binatang, orang yang
menyetubuhi perempuan pada duburnya (bokongnya), orang yang mengumpulkan (sebagai istri)
antara seorang perempuan dengan anak perempuannya, orang yang berzina denga istri
tetangganya dan orang yang berbuat jahat pada tetangganya hingga dia melaknatinya.”

Abu Hurairah meriwayatkan Rasulullah saw bersabda, “Pada Hari Kiamat nanti, kami Allah swt
akan mengumpulkan seluruh umat manusia dalam satu tempat, kemudian Allah yang mahaagung
lagi Mahabesar memperhatikan mereka. Dia berfirman, ‘Setiap orang akan mengikuti apa yang ia
sembah.’ Ketika itu, para penyembah salib melambangkan salibnya, para penyembah gambar
melambangkan gambar-gambarnya, dan para penyembah api melambangkan apinya. Mereka
semua mengikuti sesembahan mereka. Saat itu, yang tersisa hanyalah kaum muslimin. Allah swt,
Tuhan semesta alam memperhatikan mereka dan bertanya (dengan bukan rupa-Nya yang
sebenarnya), ‘Mengapa kalian tidak mengikuti orang-orang itu?’ Mereka menjawab, ‘Kami
benar-benar berlindung kepada Allah darimu. Allah adalah Tuhan kami, dan disini adalah tempat
kami hingga kami melihat Tuhan kami. Allah-lah yang memerintahkan dan mengukuhkan
mereka.’ Kemudian, Allah bersembunyi lalu muncul lagi kepada mereka dan bertanya, ‘Mengapa
kalian tidak mengikuti orang-orang itu?’ Mereka menjawab, ‘Kami benar-benar berlindung
kepada Allah darimu. Allah adalah Tuhan kami, dan disini adalah tempat kami hingga kami
melihat Tuhan kami. Allah-lah yang memerintahkan dan mengukuhkan mereka’. “Para sahabat
lantas bertanya, “Rasulullah, apakah kita akan melihat-Nya?” Beliau menjawab mereka dengan
balik bertanya, “Apakah kalian terhalangi untuk melihat bulan purnama?” Mereka menjawab,
“Tidak, Rasulullah.” Beliau lalu bersadba, “Pada hari itu, kalian tidak terhalangi untuk melihat-
Nya.” Rasulullah lalu melanjutkan sabdanya yang sebelumnya, “Kemudian, Allah swt
bersembunyi lalu muncul lagi dan memperkenalkan kepada mereka dengan rupa-Nya yang
sebenarnya. Dia berirman, ‘Aku adalah Tuhan kalian, maka ikutilah Aku.’ Kaum muslimin lantas
berdiri, dan dibentangkanlah shirath (jalan) dihadapan mereka. Mereka melintasinya laksana
iring-iringan unta dan kendaraan. Saat itu, para rasul memohon kepada Allah, ‘Ya Allah,
selamatkanlah umat kami!’ Yang tersisa saat itu hanyalah para penghuni neraka. Kemudian
sekelompok orang dan para penghuni neraka dilemparkan ke dalam neraka. Neraka lalu ditanya,
‘Apakah kamu sudah penuh?’ Neraka menjawab, ‘Masih ada lagi tambahnya?’ Sekelompok
orang dari penghuni neraka dilemparkan lagi ke dalamnya. ‘Apakah kamu sudah penuh?’ Dia
menjawab, ‘Masih ada lagi tambahnya?’ Hingga apabila mereka masuk di dalamnya, Allah Sang
Mahapengasih meletakkan kaki-Nya di dalam neraka, lalu menyatukannya dengan yang lain.
Neraka itu lalu berkata, ‘Cukup… cukup…’ Apabila Allah telah memasukkan penghuni surga
dan penghuni neraka ke tempat mereka masing-masing, maka Dia menghadirkan kematian sambil
melambai-lambai. Kematian itu kemudian diberhentikan di sebuah pagar yang terletak diantara
penghuni surga dan penghuni neraka, lalu diseru, ‘Para penghuni surga!’ Mereka menoleh dengan
penuh ketakutan. Lalu diseru lagi, ‘Para penghuni neraka!’ Mereka menoleh dengan penuh
kegembiraan karena mengharapkan syafaat. Kemudian, para penghuni surga dan neraka ditanya,
‘Apakah kalian semua mengetahui hal ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini dan ini adalah sudah kami
ketahui, yaitu kematian yang akan menjemput kami.’ Selanjutnya, kematian itu ditelentangkan
dan disembelih d pagar, lalu mereka diseru, ‘Para penghuni surga, keadabadianlah untuk kalian
dan tiada kematian. Wahai penghuni neraka, keabadianlah untuk kalian dan tiada kematian’.”
(HR at-Tirmidzi)