You are on page 1of 12

EFEKTIFITAS LATIHAN FISIK SELAMA HEMODIALISIS TERHADAP

PENINGKATAN KEKUATAN OTOT PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK
EFEKTIFITAS LATIHAN FISIK SELAMA HEMODIALISIS TERHADAP
PENINGKATAN KEKUATAN OTOT PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK

1.1.Deskripsi Tentang Efektivitas Fisik Selama Hemodialisis Terhadap Peningkatan
Kekuatan Otot Pasien Gagal Ginjal Kronik

Penyakit gagal ginjal kronik adalah suatu proses patofisiologi dengan etiologi yang
beragam, yang mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang irreversible dan progresif dimana
kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolism dan keseimbangan cairan dan
elektrolit sehingga menyebabkan uremia (Black & Hawks, 2009).

Hemodialisis merupakan suatu proses yang digunakan pada pasien dalam keadaan sakit
akut dan memerlukan terapi dialysis atau pasien dengan penyakit ginjal stadium terminal yang
membutuhkan terapi jangka panjang atau permanen (Smeltzer & Bare, 2009). Bagi penderita
gagal ginjal kronis, hemodialysis akan mencegah kematian. Namun demikian hemodialysis tidak
menyembuhkan atau memulihkan penyakit ginjal. Salah satu permasalahan yang sering
dikeluhkan pasien yang menjalani hemodialysis rutin adalah kelemahan otot.

Kelemahan otot bisa disebabkan adanya pengurangan aktivitas, atrofi otot, miopati otot,
neuropati atau kombinasi diantaranya (Muniralanam, 2010). Otot dapat mengalami kelemahan
dan sebaliknya otot dapat dikuatkan juga. Penguatan otot dapat dilakukan dengan mengontraksi
otot. Dengan adanya kontraksi otot maka akan terjadi injuri pada serat otot. Tubuh akan
mengirimkan respon untuk penyembuhan pada area injury. Setelah penyembuhan ini terjadi
maka otot akan menjadi lebih kuat dari sebelumnya, salah satu caranya adalah dengan
melakukan latihan fisik.

Latihan fisik didefinisikan sebagai pergerakkan terencana, terstruktur yang dilakukan untuk
memperbaiki atau memelihara satu atau lebih aspek kebugaran fisik (Orti, 2010). Latihan fisik
juga sangat penting dan bertujuan untuk mempertahankan kesehatan tubuh secara keseluruhan
(Potter & Perry, 2006) (Fritz, 2005). Secara umum ada 3 metode latihan fisik yang dapat
dilakukan oleh pasien gagal ginjal tahap akhir yaitu program latihan di pusat rehabilitasi dengan
supervise, program rehabilitasi latihan dirumah, dan program latihan selama satu jam pertama
pada saat dilakukan hemodialysis di unit hemodialisa. Latihan fisik yang dilakukan selama
dialisa adalah untu meningkatkan alira darah pada otot dan memperbesar jumlah kapiler serta
memperbesar luas permukaan kapiler sehingga meningkatkan perpindahan urea dan toksin dari
jaringan ke vaskuler kemudian dialirkan ke dialyzer atau mesin hemodialysis. Latihan ini dapat
dilakukan selama 30 menit dampai dengan 45 menit dan secara umum diberikan sebelum
hemodialysis selesai dilakukan. Latihan dilakukan 2 set, 8 pengulangan kelompok otot besar
ekstremitas atas dan bawah untuk meningkatkan kekuatan otot.

1.2.Pengalaman atau realita Efektivitas Latihan Fisik Terhadap Peningkatan Kekuatan
Otot Pada Umumnya Serta Kesenjangan Antara Teori dan Praktek

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oelh Ouzomi et al (2009) latihan fisik selama
hemodialysis dapat meningkatkan VO2 peak, menurunkan self-reported depression, serta
menunjukan perkembangan yang dignifikan pada quality of life index dan life satisfaction index.
Latihan fisik selama hemodialysis bertujuan untuk menjaga agar tekanan darah diastolic dan
sistolik tetap stabil (Hidayati, 2009). Penelitian tentang latihan fisik selama hemodialysis
terhadap 17 responden dapat mengurangi ansietas dan menunjukan kecenderungan perbaikan,
Pada atrofi otot beberapa penelitian melaporkan bahwa latihan ketahanan secara signifikan
meningkatkan kekuatan otot dan ukuran miofiber pada pasien gagal ginjal (Johansen, 2010).

Ketika adanya pengurangan aktivitas akan mengakibatkan penurunan kekuatan dan lebih
lanjut mengakibatkna atrofi pada otot. Pada saat dilakukan hemosialisis aktivitas pasien hanyalah
berbincang-bincan dengan keluarga atau pasien yang lain, makan, minum dan tidur. Latihan fisik
merupakan salah satu cara untuk memperbaiki kapasitas kerja fisik dan mengurangi keterbatasan
fungsi akan tetapi belum diketahui bagaimana efektivitas latihan fisik yang dilakukan terhadap
kekuatan otot pasien penyakit ginjal.

1.3.Penjelasan Teori /Fisioloigi/Patofisiologi Terkait Efektivitas Latihan Fisik Selama
Hemodialisis Terhadap Peningkatan Kekuatan Otot Pasien Gagal Ginjal Kronik

Black & Hawk (2009) dan Smeltzer & Bare (2008) menjelaskan bahwa gagal ginjal
kronik adalah penurunan fungsi ginjal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh
gagal untuk mempertahankan metabolism dan keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga
menyebabkan uremia. Penyakit ginjal kronik ini dapat berkembang secara lambat, tersembunyi
tanpa diketahui selama beberapa tahun. Penyebab penyakit gagal ginjal kronik ini bervariasi.
Penyakit gagal ginjal kronik ini bisa disebabkan oleh glumerulonefritis (11 %), akut renal failure,
penyakit kristik ginjal (3%), obstruksi traktus urinarius, pielonefritis berulang, nephotoxin.
Penyakit sesitemik diabetes mellitus (45%), hipertensi (25%), lupus erythematosus, poliarteritis,
penyakit sicle cell, dan amyloidosis. Lingkungan dan agen yang berbahaya yang mempengaruhi
gagal ginjal kronik mencakup timah, cadmium, merkuri, dan kronium (LeMone & Burke, 2008).
Ketika terjadi erusakan tersebut di ginjal maka fungsi renal menurun, produk akhir metabolism
protein yang normalnya disekresikan ke dalam urin tertimbun dalam darah dan terjadi uremia
yang mempengaruhi semua sistem dalam tubuh. Dan sistem muskuloskleletas termasuk salah
satu sistem yang terpengaruh oleh penyakit gagal ginjal kronik. Dampak dari itu adalah
kelemahan otot yang terajadi pada pasien gagal ginjal kronik.

Menurut Smeltzer dan Bare (2008), hemodialysis adalah proses yang digunakan pada
pasien dalam keadaan sakit akut dan memerlukan terapi dialysis jangka pendek atau pasien
dengan penyakit ginjal stadium terminal yang membutuhkan terapi jangka panjang atau terapi
yang permanen. Tujuan hemodialysis dilakukan adalah untuk mengambil zat-zat nitrogen yang
toksik dari dalam darah, mempertahankan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa, serat
mengembalikan beberapa manifestasi kegagalan ginjal yang irreversible.

Orti (2010) menjelaskan bahwa latihan fisik didefinisikan sebagai pergerakkan terencana,
terstruktur yang dilakukan untuk memperbaiki dan memelihara satu atau lebih aspek kebugaran
fisik. Latihan yang dilakukan secara teratur dan sesuai dengan prosedurnya akan memberikan
dampak yang positif terhadap tubuh manusia seperti mempertahankan kesehatan, karena ketika
tubuh kita sehat akan berpengaruh kepada aktivitas sehari-hari yang kita lakukan, dan akan terasa
lebih sehat. Latihan fisik secara teratur menjadi salah satu bagian dari program dan rehabilitasi
pada pasien penyakit ginjaltahap akhir. (Knap, Ponikvar, & Bren, 2010)

Manfaat dari latihan jasmani regular aerobic yaitu :

1. Menguatkan otot-otot pernapasan, mempermudah aliran udara masuk dan keluar dari
paru-paru.
2. Menguatkan dan memperbesar otot jantung , memperbaiki efisiensi pompa jantung saat
istirahat, dikenal sebagai aerobic conditioning.
3. Menguatkan seluruh otot tubuh.
4. Memperbaiki sirkulasi dan menurunkan tekanan darah.
5. Meningkatkan jumlah sel darah merah, termasuk mengurangi stress dan menurunkan
insiden depresi.
6. Mengurangi resiko diabetes.
7. Menurunkan resiko osteoporosis
8. Memperbaiki kemampuan sel otot untuk menggunakan lemak ketika melakukan latihan,
menghemat glikogen intramuskuler.

Latihan fisik selama hemodialisadapat mengalirkan darah pada otot, memperbesar jumlah
kapiler serta memperbesar luas dan permukaan kapiler sehingga meningkatkan perpindahan
urea dan toksin ke jaringan vaskuler kemudian dialirkan ke dialyzer atau mesin hemodialysis
(Parsons, 2006)

Jenis latihan fisik yang digunakan adalah aerobic, ini ada latihan fisik yang dapat
memacu jantung dan peredaran darah serta pernapasan yang dilakukan cukup lama sehingga
menghasilkan perbaikan dan manfaat pada tubuh (Kusmana, 2007) Latihan ini dilakukan
untuk merangsang petumbuhan pembuluh darah yang kecil (kapiler) dalam otot. Hal ini yang
akan membantu tubuh untuk lebih efisisen menghantarkan oksigen ke otot, dan dapat
memperbaiki sirkulasi secara menyeluruh dan menurunkan tekanan darah serta
mengeluarkan hasil sampah metabolic yang mengiritasi seperti asam laktat dari dalam otot.

Tahapan Latihan :

a. Pemanasan
Merupakan kegiatan awal yang dilakukan oleh siapapun yang melakukan latihan.
Pemanasan merupakan upaya tubuh untuk menyesuaikan diri dengan peningkatan
sirkulasi secara bertahap. Pemanasan ditujukan agar otot rangka yang akan digerakkan
mulai beradaptasi sehingga akan mencegah terjadinya cidera otot sekaligus
meminimalkan hutang oksigen dan oembentukan asam laktat. Dengan melakukan
pemanasan maka pembuluh darah pada otot yang bergerak akan melebar dan akan terjadi
peningkatan sirkulasi ke otot-otot yang bergerak.
b. Latihan Inti
Latihan inti dilakukan setelah pemanasan dilakukan. Latihan disesuaikan dengan
kemampuan sesuai dengan umur, jenis kelamin, kebiasaan latihan, penyakit dan taraf
kesehatan masing-masing.

c. Pendinginan
Terjadi penurunan aktivitas secara bertahap. Pada tahap ini tekanan darah, denyut
jantung, nadi diusahakan turun secara bertahap. Pemulihkan berguna agar otot-otot yang
dipakai latihan akan melemas sehingga akan memulihkan otot yang baru dipakai dan sisa
pembakaran akan dikeluarkan dan tidak tertumpuk didalam tubuh.

Prosedur Latihan

a. Peralatan yang digunakan
Alat yang digunakan meliputi dumbbell untuk latihan tubuh bagian atas dan ankle kuff
untuk tubuh bagiab bawah. Beban yang digunkan untuk latihan bagian atas berkisar
antara 2 sampai 15kg, sedangkan untuk bagian bawah berkisar antara 0 sampai 15kg.
b. Frekuensi, Intensitas, Volume dan Progrefisitas
Latihan dilakukan sebnyak 3 kali dalam seminggu selama dialysis dibawah pengawasan.
Latihan ini dilakukan sebanyka 2 set dan setiap gerakan dilakukan sebanyak 8 hitungan.
c. Waktu pelaksanaan
Latihan fisik efektif dilakukan pada saat jam pertama hemodialysis selama 4 sampai
dengan 6 minggu. Latihan dapat dilakukan selama 30 sampai 45 menit dan secara umum
diberikan sebelum hemodialysis selesai dilakukan.

Ada 3 jenis latihan fisik untuk pasien hemodialysis :

1. Flexibility Exercise
Latihan ini membuat kerja sendi menjadi lebih baik, dan pergerakannya menjadi lebih
mudah, dapat dilakukan setiap hari dengan melakukan peregangan otot dengan gerakan
yang lambat. Latihan ini daoat dilakukan dengan meregangkan otot-otot hingga terasa
ringan dan menahannya hingga 10 sampai 20 detik.
2. Strengthening Exercise
Latihan ini membuat otot lebih kuat dengan melawan gaya resistansi. Dalam latihan ini
dapat digunakan berat beban atau sebagainya yang dapat membuat otot bekerja lebih
keras.
3. Cardiovaskular Exercise
Juga disebut aerobic exercise, membuat jantung, paru-paru, dan sirkulasi bekerja lebih
efisien. Dilakukan dengan gerakan ritmik, tetap dari lengan ataupun kaki. Tujuan dari
gerakan ini adalah memperbaiki ketahanan.

1.4.Kaitan Antara Efektifitas Latihan Fisik Selama Hemodialisis Terhadap Kekuatan
Otot Pasien Gagal Ginjal Kronik Dengan Asuha Keperawatan atau Peran Perawat
Spesialis

Perawat berpera dalam pencegahan penyakit dan membantu meningkatkan kesehatan
serta memandng klien secara komprehensif. Perawat juga mempunya peran dalam memberikan
perawatan, sebagai pelindung, manager kasus, komunikator, rehabilikator dan bisa juga berperan
sebagai pendidik (Potter & Perry, 2015). Perawat dialysis adalah perawat professional khusus
yang bekerja di rumah sakit atau di klinij pelayanan kesehatan lain dan memberikan pelayanan
pada pasien yang akan menjalani proses dialysis. Peran perawat dialysis adalah sebagai clinician
(pemberi asuhan keperawatan). Pendidik, konselor, advocate, administrator, peneliti dan juga
sebagai kolaborator (Kallenbach et al, 2005). Pada pasien gagal gnjal kronik yang menjalani
hemodialysis perawat membantu pasien beradaptasi semaksimal mungkin dengan keadaan
tersebut. Selama diaslisis perawat dpat mengajarkan latihan fisik yang banyak memberikan
manfaat kepada pasien. Latihan fisik merupakan strategi untuk mengurangi keletihan dan
memperbaiki kekuatan otot yang merupakan dasar untuk memiliki kemampuan fisik yang lain.

Perawat juga yang berperan sebagai peneliti yang melakukan penelitian untuk
memberikan kontribusi pada dasar ilmiah praktek keperawatan. Kajian dibutuhkan untuk
menentukan kefektifan intervensi dan asuhan keperawatan. Di unit hemodialysis perawat
spesialis terlibat dalam penelitian sebgai peneliti umum. Pemanfaatan hasil penelitian
menunjukkan perlu adanya perubahan kebijakan, prosedur, atau peralatan untuk memastikan
perbaikan kualitas secara terus-menerus. Penelitian harus dilakukan oleh perawat spesialis
terutama dalam menunjukkan efektifitas dalam praktek keperawatan hemodialysis ( Headley &
Wall, 2002). Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan berperan dalam memberikan asuhan
keperawatan secara terintegrasi sehingga dapat mencegah komplikasi, mempertahankan daya
tahan tubuh, kesejahteraan pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialysis.

Latihan fisik untuk mencegah kelemahan otot pada saat hemodialisa ada bentuk
pelayanan keperawatan professional mandiri ynag bersifat preventif. Latihan fisik yang
dilakukan selama dialisa adalah untu meningkatkan alira darah pada otot dan memperbesar
jumlah kapiler serta memperbesar luas permukaan kapiler sehingga meningkatkan perpindahan
urea dan toksin dari jaringan ke vaskuler kemudian dialirkan ke dialyzer atau mesin
hemodialysis. Ketika kita memberikan asuhan keperawatan dan tujuan yang kita lakukan itu
tercapai, maka hal tersebut menunjukkan bahwa kualitas tenaga perawat yang professional serta
asuhan keperawatan yang diberikan sangat baik dan berhasil.

1.5. Analisi Keterbatasan dan Kelebihan Efektifitas Latihan Fisik Selama Hemodialisa
Terhadap Peningkatan Kekuatan Otot Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik

Latihan fisik ini adalah duatu bentuk tindakan keperawatan. Walaupun sudah terbukti dengan
adanya beberapa penelitian tapi tindakan inimasih mempunyai beberapa kelebihan dan
keterbatasan. Latihan fisik mempunyai keuntungan untuk :

1. Memperbaiki kesehatan otot
2. Membantu tubuh untuk menghantarkan oksigen ke otot
3. Dapat memperbaiki sirkulasi secara menyeluruh
4. Menurunkan tekanan darah
5. Mengeluarkan sampah hasil metabolic yang mengiritasi seperti asam laktat dari dalam
otot.
6. Kebugaran fisik membaik

Dari kelebihan-kelebihan inilah yang dijadikan dasar bagi perawat professional untuk
menjalankan latihan fisik selama hemodialisa terhadap peningkatan kekuatan otot pada
pasien gagal ginjal kronik. Dan selain itu kita juga sebagai perawat melihat apakah ada hal-
hal yang perlu di tingkatkan agar menjadi lebih baik lagi untuk kedepannya.
Selanjutnya keterbatasan atau kendala dalam pelaksanaan latihan fisik sebagai berikut :

1. Kendala dari pelaksanaan latihan fisik ini adalah kurangnya pengetahuan dari pasien
yang menjalani proses hemodialysis tentang pentingnya latihan fisik untuk peningkatan
kekuatan otot.
2. Meskipun manfaat latihan fisik sangat besar akan tetapi pasien dialysis ternyata sangat
tidak aktif atau pemalas (Nasution, 2010)

1.6. Peran Perawat Spesialis dalam Aplikasi (penerapan) Sesuai Kerumitan Intervensi
dan Kesiapan Perawat Pada Umumnya

Latihan fisik intradialisis merupakan latihan yang dilakukan pada saat menjalani
hemodialysis. Pada penelitian yang telah dilakukan dinyatakan bahwa perspektif fisiologi,
latihan fisik intradialisis dapat meningkatkan aliran darah otot dan peningkatan jumlah
kapiler pada otot yang sedang bekerja sehingga akan menghasilkan aliran urea dan racun-
racun ang lainnya dari jaringan ke area vaskuler yang dipindahkan selanjutnya kedialiser.
Latihan fisik efek tif dilakukan pada saat jam pertama hemodialysis selama 4 sampai dengan
6 minggu. Latihan dapat dilakukan selama 30 sampai 45 menit dan secara umum diberikan
sebelum hemodialysis selesai dilakukan. Manfaat lain dari latihan fisik adalah pengaturan
tekanan darah. Perawat spesialis dalam pelaksanaan latihan fisik akan menyesuaikan jika ada
kendala atau keterbatasan yang terjadi saat melakukan intervensi. Secara ilmiah perawat
professional pasti sudah menyiapkan prosedur latihan fisik yang akan dilakukan pada pasien,
dan kemudian memberikan penjelasan tentang untung dan ruginya dari pelaksanaan latihan
fisik ini. Pada saat terdapat kendala dari fasilitas atau alat-alat yang akan digunakan perawat
akan mencari aktivitas yang lain yang tersedia tanpa mengurangi efektivitas kegunaannya.

Pada kenyataanya tugas dan tanggung jawab perawat sudah cukup berat mulai dari
mempersiapkan mesin, melakukan pemasangan akses vaskuler dan menyambungkan ke
mesin, monitoring pasien selama dialysis, melakukan pendokumentasian dan terkadang
perawat juga melakukan tugas administrative. Sehingga diperlukan untuk kolaborasi dengan
tim kesehatan yang lain yaitu fisioterapi utntuk melakukan latihan fidik secara intensif.
Latihan fisik selama hemodialysis di Indonesia belum banyak maka dari itu peran perawat
dan juga menjadi perhatian perawat agar melaksanakan latihan ini sebagai salah satu bagian
dari intervensi keperawatan dalam proses pemberian asuhan keperawatan bagi pasien yang
menjalani hemodialysis. Untuk mengintegrasikan latihan fisik ini sebagai salah satu
intervensi keperawatan dan menjaga kelanjutan latihan fisik ini selama hemodialysis ini tentu
diperlukan system yang mendukung.
DAFTAR PUSTAKA
Black, J. M., & Hawks, J. H. (2009). Medical Surgical Nursing Clinical Managemen for Positive
Outcome. St. Louis: Elsevier.

Fritz, S. (2005). Suport and exercise message. St. Louis Missouri: Elsevier Mosby.

Hidayati, W. (2009). Laporan analisis praktek residensi spesialis keperawatan medikal bedah
peminatan sistem perkemihan di RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo dan RS PGI Cikini.
Jakarta.

Johansen. (2010, Agustus 10). Exercise and chronic kidney disease : current recommendations. .
Retrieved from www.jasn.org

Knap, S. A., Ponikvar, R., & Bren, F. A. (2010, juni 29). Regular exerciseas a part of treatment
for patients with end stage renal disease. Therapeutic Apharesis and Dialysis. Retrieved
from http://www.proquesumi.pqdauto

Kusmana, D. (2007). Olah raga untuk orang sehat dan penderita penyakit jantung. Jakarta:
FKUI.

LeMone, P., & Burke, K. (2008). Medical surgical nursing critical thinking in care. New Jersey:
Pearson.

Muniralanam. (2010). Hubungan antara kelemahan otot dan status albumin pada penderita gagal
ginjal kronik dengan hemodialisis rutin. Tinjauan pustaka dan hasil penelitian UGM tidak
dapat dipublikasikan.

Orti, E. S. (2010, Agustus 16). Exercise in Hemodyalisis patient : A literature systematic review.
Retrieved from http://revistanefrologia.com

Parsons, K. T. (2006). Exercise training during hemodialysis improves dyalisis efficacy and
physical performance. . Retrieved from http://www.interscience.com

Potter, & Perry. (2006). Fundamental Keperawatan . Jakarta: EGC.

Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2009). Texbook of Medical Surgical Nursing (11th ed).
Philladelphia: Lipincott Williams & Wilknis.