You are on page 1of 5

Kadang-kadang Rhinitis Acuta didahului gejala nasopharingitis.

Disamping itu gejala lain menyertainta
yaitu : Pharingitis acuta dan Laryngitis acuta. Sehingga timbul gejala : panas – batuk – pilek, yang sering
disebut kena “masuk angina” yang memang timbulnya sesudah kena angina dingin, kehujanan, dan
sebagainya. Tetapi adanya pharyngitis atau laryngitis acuta tidak selalu didahului oleh Rhinitis Acuta.
Dapat pharyngitis timbul dulu atau laryngitis dulu, jadi manifestasi penyakit dapat dimulai dimana-mana
(hidung, pharyax, larynx).

DIAGNOSA BANDING

Rhinitis Acuta pada stadium prodromal mempunyai gejala yang mirip dengan syndrome allergi, yaitu :
bersin-bersin, rhinorrhea dan obstruksio nasi.

Perbedaannya ialah :

Rhin. Acut Syndrom Allergi
Waktu gejala tsb. 1-2 hari (prodmoral) Lama berminggu-minggu, bulan,
tahun
Semusim
Berulang-ulang, pagi sakit, siang
sembab, esoknya kumat lagi
Sifat secret Mengental sesudah 3-4 hari Encer terus
Gejala umum Ada (panas, malaise) Tidak ada
Allergen Tidak ada Ada (dari anamnesa, skin test
pada rhinitis allergica)

THERAPI

1. Lokal
Tetes hidung, Sol. HCl Ephedrin 1% dalam glucose 5% atau PZ.
Berfungsi :
- melebarkan cavum nasi + meatus – prophylaxis mid sinusitis
- ph sedikit asam-desinfeksi
2. Umum
a. Hindari tubuh kedinginan
- Mandi air hangat
- Makan hangat
- Pakaian hangat – jangan terbuka
- Tidur pakai selimut
- Lantai dingin pakai sandal, dan sebagainya
b. Symtematik : proparat ACETOSAL
- Sebagai : analgetik, antipyretic
- Mempunyai efek seperti Cortison – anti radang
o Menghilangkan cedera
Cara kerja : merangsang cortex adrenalis memproduksi cortison.
Keuntungan
- Keuntungan lain : dapat dipakai untuk pencegahan : segera minum acetosal sesudah
kedinginan/kehujanan, yaitu setengah jam sesudah kedinginan, sesudah 2 jam taka da efek
lagi.
Disini acetosal menghangatkan badan karena menimbulkan vasodilate perifer.

Contoh resep :

R/ Salamid – salycil amide 300 mg

Antihistamin ½ tabl

Antihistamin - pehaclor

- antistine

- avil

Menghilangkan bersin-bersin

PREVENSI

1. Hindari kontak dengan penderita – isolasi penderita sulit, lebih suka jalan-jalan.
2. Meninggikan daya tahan tubuh : hindari kelelahan, diet bergizi.
3. HIndari dingin – minum acetosal.
4. Rumah sakit modern – sinar ultraviolet – membunuh virus.
MPKM : anjuran sesaat membuat genteng kaca sesaat di rumah-rumah penduduk.
Imunisasi – masih dikembangkan, belum memuaskan, hanya meringankan saja.

KOMPLIKASI

1. Otitic media acuta
Akibat :
1. Langsung - Sisi yang salah : kedua lubang hidung ditutup rapat dihembus kuat-kuat – secret
cavum timpani.
* sisi yang baik : disedot – secret ke belakang masuk cavum orie diludahkan di sapu tangan
(disposibel).
2. Radang menjalar dari mucosa cavum nasi – naso faring – tuba – cavum timpani (continuitas
mukosa).

2. Sinusitis paranasalis.
3. Infeksi tr. Respirotarius bagian bawah : larynge-tracobronchitis pacumoni.
4. Akibat tak langsung pada penyakit-penyakit lain : jantung, asma bronchiale, dsb.
PROGNOSE

Rhinitis acuta merupakan “self limiting desease”. Umumnya sembuh dalam 7-10 hari. Tapi dapat lebih
lama – 3 minggu bila ada pharyngitis, laryngitis atau komplikasi lain.

RHINITIS ACUTA PADA BAYI

Bayi bukan orang yang kecil – penyakit sama minfestasi lain.

Gambaran klinik :

Keluhan ibu : anak rewel, menyedot sebentar-sebentar puting susu – nangis.

Phatogenese : Reflek membuka mulut kalau kena putting susu, menghisap tidak bisa, sering menangis
Karena lapar dan tidak bisa napas.

Terapi : Lokal – tetes hidung HCl Ephederin 1/8 % seperempat jam.

Komplikasi :

1. Otitis media acuta lebih mudah daripada orang dewasa. Ingat anatomi tuba.
2. Gastro enteritis, teori secret hidung tertelan.

Prevensi :

Penderita rhinitis acut kontak dengan bayi.

Ibu dengan rhinitis acut pakai masker.

RHINITIS DIPHTHERICA

DEFINISI

Radang akut yang spesifik mukosa cavum nasi dengan Coryno bacterium diphtheriae. Khas ditandai
dengan pembentukan pseudomembran.

GAMBARAN KLINIK

Keluhan : pilek campur darah (secret hemorrhagis)

Pemeriksaan : pseudomembran dalam mukosa cavum nasi melekat pada mukosa (yang nampak –
concha inferior, septum bagian depan, dasar cavum nasi bagian depan) bila dilepas mudah berdarah.
Kadang-kadang berbau busuk.

Diagnosa pasti : hapusan secret hidung (nose swab) – kultur – kuman +
DIAGNOSA BANDING – secret hidung hemorrhagic.

1. Corpus alienum cavum nasi – biasanya unilateral
2. Dermatitis vestibulum nasi / kebiasaan anak korek-korek hidung.

TERAPI

1. Isolasi (MRS bagian menular)
2. A.D.S. 20.000 U.
3. Antibiotika : Penicillin procain 300.000 – 600.000 U selama 10 hari.

KOMPLIKASI DAN PROGNOSE

Prognose umumnya baik karena aliran lymphe cavum nasi sedikit sehingga terapi tak menyebar
(komplikasi dan gejala umum tak ada).

Kerugian :

1. Dapat menyebar ke nasofaring – faring – larynx. (periksa faring setiap hari)
2. Karena gejala ringan, tak berobat, tak mau masuk rumah sakit (isolasi) – bahaya menular pada
anak lain.

CATATAN :

Terapi disesuaikan dengan bagian ……. ruang menular.

Local penicillin tak diberikan Karena alasan :

1. Hanya bagian anterior yang tercepat
2. Bahaya sensitasi penicillin topical besar – disuntik bisa shock

SYNDROMA ALLERGI

Syndroma allergi adalah kumpulan gejala-gejala pada cavum nasi, yang pada dasarnya timbul sebagai
manifestasi adanya reaksi alergi.

PATOFISIOLOGI :

Seseorang yang kemasukan (peroral, inhalasi) atau disuntikkan benda asing (allergen), selang beberapa
lama akan mengadakan suatu respon imun dengan jalan membentuk zat anti (reagin, immunoglobulin).
Zat anti ini kemudian dapat bereaksi dengan benda asing tersebut sehingga menimbulkan imunitas
(kekebalan) atau alergi (hipersensitivitas). Pada imunitas, zat anti memberi perlindungan terhadap
penyakit, sedangkan pada alergi zat anti malahan menyebabkan penyakit.

Perkembangan alergi yang dimulai dengan berkontaknya seseorang dengan allergen hingga
menimbulkan gejala penyakit, disebut sensibilisasi atau sensitisasi. Di dalam jaringan mukosa maupun
sirkulasi darah penderita alergi didapati zat anti (reagin) yang bersifat sangat spesifik dan invivo hanya
dapat bereaksi dengan allergen yang sesuai. Akibat reaksi ini terjadilah pelepasan zat-zat mediator
(histamin, bradykinin, dll). Zat-zat mediator ini akan langsung bekerja pada organ target dan
menimbulkan macam-macam penyakit alergi antara lain rhinitis vasomototica asma bronchiale, rhinitis
allergica, dll.

Pada organ target tersebut akan ditemukan perubahan-perubahan anatomis maupun fisiologis.

1. Dilatasi dan meningkatnya permeabilitas pembuluh darah kapiler --- timbul oedema mukosa.
2. Meningkatnya aktivitas glandula seromucinous yang bersama-sama dengan oedema mukosa
akan menimbulkan secret seromucinous yang jernih dan encer.
3. Infiltrasi seluler : oesinophil.
4. Kalau kemudian diikuti oleh infeksi bakteri, secret akan menjadi mukopurulen.

Proses ini akan berhenti kalau kontak dengan allergen spesifiknya juga berhenti. Kalau proses ini terjadi
berulang-ulang dana tau diikuti pleh infeksi bakteri, dari oedem akan menjadi fibrosis jaringan yang
bersifat permanen.