You are on page 1of 13

PROSIDING

FOCUS GROUP DISCUSSION


Kemunculan Sebuah Tata Dunia Baru:

Tantangan-tantangan dan Responsi Indonesia

(The Rising of A New World Order: Indonesia’s Challenges


and Response)

Dalam Rangka Kegiatan:

Voyage to Indonesia
Menuju Sidang Tahunan International Monetary Fund-World Bank 2018
Bandung, 30 Maret 2017
Focus Group Discussion Kemunculan Sebuah Tata Dunia Baru: Tantangan-tantangan dan Responsi Indonesia

(The Rising of A New World Order: Indonesia’s Challenges and Response)

1. PENDAHULUAN
1.1. PROPOSAL VOYAGE TO INDONESIA
1.1.1. PENDAHULUAN
Sidang Tahunan International Monetary Fund-World Bank (ST IMF-WB) merupakan
forum terbesar untuk membahas hal-hal yang terkait kerja sama internasional dan
menjadi sarana untuk meningkatkan engagement IMF dan WB terhadap negara-negara
anggotanya. Acara ini mempertemukan Gubernur Bank Sentral, Menteri Keuangan, sektor
swasta, perwakilan civil society organisations (CSO) dan akademisi dari seluruh penjuru
dunia untuk mendiskusikan berbagai masalah global, seperti perekonomian global,
penurunan kemiskinan, pembangunan dan efektivitas bantuan internasional.

Pada tanggal 28 Agustus 2015, Dewan Gubernur IMF-WB menetapkan Indonesia


sebagai tuan rumah ST IMF-WB 2018. Pertemuan ini akan dilaksanakan di Nusa Dua, Bali
pada tanggal 8 s.d. 14 Oktober 2018 yang merupakan penyelenggaraan pertemuan
tahunan ke-25 di luar Amerika Serikat. Berdasarkan pertemuan sebelumnya, para delegasi
yang akan menghadiri dan terlibat dalam pertemuan tersebut sebanyak 15 ribu orang
yang diliput oleh berbagai media dari seluruh dunia.

Tindak lanjut terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah, Pemerintah yang diwakili
oleh Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia bersama dengan Presiden WB dan
Managing Director IMF telah menandatangani Agreement for the 2018 Annual Meetings of
the Boards of Governors of the IMF and the World Bank Group pada tanggal 10 Oktober
2015 di Lima, Peru. Penandatanganan ini dimaksudkan untuk memastikan hak dan
kewajiban Pemerintah Indonesia sebagai tuan rumah agar ST IMF-WB 2018 berjalan
dengan sukses.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia


telah berkoordinasi untuk menyusun berbagai kegiatan yang akan mendukung
pelaksanaan ST IMF-WB 2018. Selain itu, juga dihasilkan sebuah tagline “Voyage to
Indonesia” menuju Sidang Tahunan IMF-WB 2018.

1.1.2. TUJUAN KEGIATAN

Voyage to Indonesia menuju ST IMF-WB 2018 diarahkan kepada pesan utama yaitu
memperkenalkan Indonesia sebagai negara yang reformed, resilient, progressive, and
pro-job untuk mendukung tercapainya pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan
inklusif. Adapun pesan ini dijabarkan dan diimplementasikan melalui beberapa isu yang
saling bersinergi diantaranya terkait dengan: ketidakpastian dalam ‘Tata Dunia
Transisional’ serta bagaimana memanfaatkan Megatrend Global untuk mengatasi
kemiskinan dan ketimpangan.

1.1.3. PROGRAM SUBSTANSI VOYAGE TO INDONESIA


Pesan Voyage to Indonesia tersebut selanjutnya diterjemahkan ke dalam isu-isu
yang diangkat utamanya pada setiap kegiatan policy events. Policy events yang dibahas
dalam FGD Bandung mengambil tema Kemunculan Sebuah Tata Dunia Baru: Tantangan-

1
Focus Group Discussion Kemunculan Sebuah Tata Dunia Baru: Tantangan-tantangan dan Responsi Indonesia

(The Rising of A New World Order: Indonesia’s Challenges and Response)

tantangan dan Responsi Indonesia (The Rising of A New World Order: Indonesia’s
Challenges and Response).

1.2. KERANGKA ACUAN WOKSHOP


1.2.1. Latar Belakang
Pembangunan ekonomi dunia saat ini dipenjara kesenjangan (inequality) yang
semakin melebar. Hardoon (2017) mempublikasikan temuannya melalui Oxfam bahwa
sejak 2015, kekayaan 8 orang sama dengan kekayaan setengah orang termiskin, sekitar 2
miliar orang. Hardoon menyajikan data bahwa sepanjang tahun 1988 dan 2011,
pendapatan 10% orang termiskin di dunia (the bottom) meningkat kurang dari $3 per
tahun sementara pendapatan 1% orang terkaya (the top) meningkat 182 kali.
Di level negara, kesenjangan (inequality) ini ditanggapi sebagai akibat negatif dari
globalisasi dan perdagangan dunia. Proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) yang
diawali dengan Referendum tahun 2016 dilatarbelakangi oleh ketidakpuasan terhadap
liberalisasi perdagangan yang dianggap mengancam masyarakat Inggris dalam berbagai
aspek khususnya kesenjangan dan kesempatan bekerja.
Serangan terhadap globalisasi dan perdagangan dunia juga dilakukan oleh
Presiden Trump (2017) yang telah mengumumkan target pemerintahannya untuk
Membuat Amerika Hebat Kembali (Make America Great Again) dengan mempromosikan
berbagai kebijakan yang mengarah pada proteksionism antara lain: (i) Menarik Amerika
Serikat dari berbagai rezim perdagangan bebas. Salah satu situasi yang relevan dengan
Indonesia adalah pembatalan keikutsertaan Amerika Serikat dalam Kemitraan Trans
Pasifik (Trans Pacific Partnership); (ii) Meminta perusahaan Amerika Serikat untuk
meningkatkan penciptaan lapangan kerja (job creation) dengan mengembalikan pusat
manufaktur ke berbagai negara bagian Amerika Serikat.
Jika dua negara besar yang menjadi patron negara maju di Barat telah memulai
gerakan penolakan terhadap globalisasi dan perdagangan dunia, kita sedang menyaksikan
perubahan tata dunia. Perubahan terjadi secara cepat dan mendasar: dari sebuah dunia
yang terbuka terhadap lalu lintas barang, jasa, modal, dan tenaga kerja menjadi kumpulan
negara yang memasang tembok-tembok penghalang.

1.2.2. Tata Dunia Baru?


Pergeseran tata nilai dan tata kelola di berbagai negara utama dunia (fenomena
Brexit dan Trump) disimpulkan oleh beberapa pihak (termasuk World Bank) sebagai
perwujudan terbentuknya sebuah Tata Dunia Baru (New World Order) yang merupakan
anti-tesis dari globalisasi dan perdagangan dunia. Beberapa pihak lain tidak sependapat
terhadap kesimpulan bahwa Tata Dunia Baru telah terjadi namun mengakui bahwa terjadi
tren perpindahan tata nilai dan tata kelola yang cukup signifikan. Dalam konteks ini,
negara-negara yang relatif paling diuntungkan oleh globalisasi dan perdagangan dunia
seperti China dan negara yang berkembang pesat (emerging countries) menyuarakan
perlawanan terhadap proteksionism. Presiden Xi Jin Ping menguraikan bahwa
permasalahan dunia bukan disebabkan oleh globalisasi pada World Economic Forum

2
Focus Group Discussion Kemunculan Sebuah Tata Dunia Baru: Tantangan-tantangan dan Responsi Indonesia

(The Rising of A New World Order: Indonesia’s Challenges and Response)

(WEF) di Davos, tanggal 17 Januari 2017 dengan menyatakan “...many of the problems
troubling the world are not caused by economic globalization.“
Dalam dialektika kekuatan dunia, kita dapat memetakan bahwa China cukup
berpengaruh menjadi penghambat (restraint) terhadap kemunculan atau perubahan Tata
Dunia Baru. Kita sedang menyaksikan adanya perlawanan pergerakan/narasi (counter
movement/narrative) yang menarik dari negara komunis yang mengusung liberalisme
ekonomi terhadap negara liberal yang sedang memainkan retorika nasionalisme ekonomi.
Di sisi lain, walaupun Inggris keluar dari Uni Eropa, namun Inggris belum sepenuhnya
menerjemahkan kebijakan anti perdagangan dunia karena ketergantungan ekonominya
terhadap negara-negara di kawasan Uni Eropa tersebut. Ditambah dengan situasi dalam
negeri Inggris yang terpecah karena Skotlandia dan Irlandia tetap memilih bergabung
dengan Uni Eropa. Di pihak lain, Jerman dan Prancis sebagai lokomotif Uni Eropa masih
memiliki pemimpin politik yang percaya pada globalisasi dan perdagangan dunia.
Mempertimbangkan berbagai situasi yang dinamis ini, kami memandang bahwa
argumentasi telah terbentuknya sebuah Tata Dunia Baru belum memiliki argumentasi
yang terbantahkan. Karena itu, kami memilih menggunakan istilah Kemunculan Sebuah
Tata Dunia Baru (The Rising of a New World Order) untuk membuka ruang diskusi kepada
semua pihak secara lebih objektif.

1.2.3. Posisi Indonesia


Indonesia yang saat ini dalam posisi berkembang dan menghindari jebakan
pendapatan menengah (middle income trap) sangat menggantungkan harapan kemajuan
dari globalisasi dan perdagangan dunia. Komoditas energi, sumber daya mineral, dan
perkebunan membutuhkan akses terbuka ke berbagai negara. Pariwisata yang akan
menjadi andalan kedua setelah komoditas mengharapkan kemudahan mobilitas modal
dan orang sebagai daya ungkit (leverage) kemajuan sektor tersebut. Jika negara-negara di
dunia menerapkan kebijakan yang proteksionism, tentu saja akses pasar produk Indonesia
akan semakin terbatas.
Sementara di dalam negeri, kita menghadapi masalah semakin melebarnya
kesenjangan (inequality) ekonomi. Jika pertumbuhan ekonomi melambat karena
menurunnya permintaan dunia terhadap suplai dari Indonesia, kita akan menghadapi
masalah yang lebih kompleks. Semua hal ini menjadi pekerjaan berat bagi segenap tim
ekonomi di pemerintahan, akademisi, dan berbagai pihak yang berkepentingan.

1.3. TUJUAN KEGIATAN


Menyikapi hal-hal tersebut di atas, maka kami mengundang berbagai pihak yang
kompeten untuk urun rembuk membahas peluang kemunculan Tata Dunia Baru, dampak
dari perubahan tata dunia terhadap Indonesia, dan respon terbaik kita dalam memitigasi
risiko terburuk yang akan dihadapi. Apalagi Scheidel (2017) menyampaikan hasil
penelitian terbaru bahwa empat hal yang terbukti sukses mengurangi kesenjangan
(inequality) ekonomi sepanjang sejarah manusia yaitu wabah penyakit, revolusi, perang
besar, dan runtuhnya negara. Tentu saja kita tidak berharap skenario tersebut terjadi di
dunia dan khususnya di Indonesia.

3
Focus Group Discussion Kemunculan Sebuah Tata Dunia Baru: Tantangan-tantangan dan Responsi Indonesia

(The Rising of A New World Order: Indonesia’s Challenges and Response)

Format Focus Group Discussion (FGD) memungkinkan para pakar dan praktisi
untuk bersama-sama berpikir dan mengemukakan pandangannya dengan fokus untuk
menghasilkan gagasan dan pemikiran dalam sebuah kesatuan tema yaitu Kemunculan
Sebuah Tata Dunia Baru: Tantangan-tantangan dan Responsi Indonesia (The Rising of a
New World Order: Indonesia’s Challenges and Response). FGD diharapkan akan
menghasilkan lima keluaran (output) berikut:
1. Pembahasan mengenai dialektika dan dinamika antara dua tren dan kekuatan global
yang mempengaruhi pembentukan Tata Dunia Baru, kemungkinan hasilnya,
pengaruhnya bagi ekonomi global, dampak bagi Indonesia, dan sikap Indonesia
terhadap situasi tersebut.
2. Tantangan yang akan dihadapi Indonesia dalam situasi dunia yang telah berubah saat
ini secara kuantitatif dan kualitatif. Sebaiknya kita dapat mengindentifikasi sektor-
sektor yang mengalami pukulan paling berat selain permasalahan ekonomi makro.
Juga pengaruh terhadap aliran investasi langsung dan tidak langsung, kinerja ekspor,
dan indikator ekonomi lainnya yang relevan.
3. Responsi yang telah dan harus dipersiapkan Indonesia termasuk mekanisme
perlindungan (safeguard mechanisms) terhadap menurunnya akses perdagangan
global yang dapat menyebabkan pelemahan kinerja ekonomi domestik, kesenjangan
(inequality), dan merembet pada kekacauan politik, belajar dari pengalaman buruk
Krisis Ekonomi tahun 1998.
4. Responsi yang disajikan pada poin 3 adalah dokumentasi yang dapat membuat dunia
lebih mengenal Indonesia lebih baik khususnya mengenai Indonesia yang reformed,
resilient, dan progressive dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan
dan inklusif.
5. Tantangan dan responsi Indonesia yang disusun sesuai poin-poin di atas akan menjadi
bahan pembahasan utama pada seminar yang akan dilaksanakan pada berbagai
pertemuan World Bank-International Monetary Fund.

1.4. NARASUMBER DAN JADWAL


Komposisi narasumber yang diundang terdiri atas praktisi dari organisasi publik,
akademisi dari universitas, dan pakar dari lembaga penelitian sebagai berikut:
No Nama dan Institusi Spesialisasi
1 Dalyono, Badan Kebijakan Fiskal Kebijakan Fiskal
2 Dr. Yulius P. Hermawan, Universitas Hubungan Internasional
Parahyangan
3 Dr. Kiki Verico, Universitas Indonesia Perdagangan Internasional
4 Dr. Yose Rizal Damuri, CSIS Investasi
5 Dr. Vivi Alatas, World Bank Ketimpangan dan Kemiskinan
6 Taufikurrahman, Indonesia Services Dialogue Bisnis Bidang Jasa

Kegiatan FGD dilaksanakan pada:


Hari/Tanggal : Kamis, 30 Maret 2017
Waktu : Pukul 07.30 s.d. 13.00
Tempat : Hotel Hilton, Jl. HOS Tjokroaminoto No 41-43, Bandung, Jawa Barat

4
Focus Group Discussion Kemunculan Sebuah Tata Dunia Baru: Tantangan-tantangan dan Responsi Indonesia

(The Rising of A New World Order: Indonesia’s Challenges and Response)

1.5. PARTISIPAN/UNDANGAN
Panitia FGD mengundang berbagai unsur pemangku kepentingan dari Pemerintah Pusat,
Pemerintah Daerah dan universitas untuk hadir sebagai partisipan sebagai berikut:
1.5.1. Kementerian dan Lembaga
1. Para Kepala Pusat dan Sekretaris Badan di lingkungan Badan Kebijakan Fiskal,
Kementerian Keuangan
2. Central Transformation Office, Sekretariat Jenderal, Kementerian Keuangan
3. Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi, Sekretariat Jenderal, Kementerian
Keuangan.
4. Kepala Kantor Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Jawa Barat
5. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Provinsi Jawa Barat
6. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak, Provinsi Jawa Barat
7. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Provinsi Jawa Barat
8. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Provinsi Jawa Barat
9. Direktur Perdagangan, Komoditas, dan Kekayaan Intelektual, Direktorat Jenderal Kerja
Sama Multilateral, Kementerian Luar Negeri
10. Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Multilateral, Badan Pengkajian
dan Pengembangan Kebijakan, Kementerian Luar Negeri.
11. Direktur Amerika I, Direktorat Jenderal Amerika dan Eropa, Kementerian Luar Negeri.
12. Direktur Eropa I, Direktorat Jenderal Amerika dan Eropa, Kementerian Luar Negeri.
13. Direktur Fasilitas Ekspor dan Impor, Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri,
Kementerian Perdagangan.
14. Direktur Pengamanan Perdagangan, Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri,
Kementerian Perdagangan.
15. Direktur Perdagangan, Investasi, dan Kerja Sama Ekonomi Internasional, Deputi
Bidang Ekonomi, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.
16. Direktur Politik Luar Negeri dan Kerja Sama Pembangunan Internasional, Deputi
Bidang Politik, Hukum, Pertahanan, dan Keamanan, Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional.
17. Direktur Eksekutif Departemen Internasional, Bank Indonesia.
18. Kepala Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Otoritas Jasa Keuangann
19. Tenaga Ahli Menteri Koordinator Bidang Maritim RI

1.5.2. Pemerintah Daerah


1. Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Barat.
2. Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kota Bandung.

1.5.3. Universitas
1. Regional Economist Kementerian Keuangan Provinsi Jawa Barat.
2. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Padjadjaran.
3. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia.
4. Dekan Sekolah Bisnis dan Manajemen, Institut Teknologi Bandung.
5. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.
6. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Parahyangan.
7. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Islam Bandung.
8. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Pasundan.

5
Focus Group Discussion Kemunculan Sebuah Tata Dunia Baru: Tantangan-tantangan dan Responsi Indonesia

(The Rising of A New World Order: Indonesia’s Challenges and Response)

1.6. SUSUNAN ACARA


Berikut susunan acara FGD:
Waktu Acara Narasumber Keterangan
08.30-09.00 Pembukaan Badan Kebijakan Fiskal, BKF
Kementerian Keuangan
09.00-09.30 Voyage to Indonesia, IMF-WB Kepala Pusat Kebijakan Pembiayaan BKF
Annual Meeting 2018 Perubahan Iklim dan Multilateral,
Badan Kebijakan Fiskal,
Kementerian Keuangan
09.30-10.00 Tata Dunia Baru: Tantangan Dalyono, BKF, Kementerian Moderator
dan Tindakan Indonesia Keuangan dari BKF
(Irwanda
10.00-10.30 Ketidakpastian dalam ‘Tata Yulius P. Hermawan, Dosen Fakultas Wisnu
Dunia Transisional’ Hubungan Internasional, Universitas Wardhana)
Katolik Parahyangan, Bandung
10.30-11.00 Tinjauan mengenai Dr. Kiki Verico, Fakultas Ekonomi
Perdagangan Internasional Universitas Indonesia
Indonesia
11.00-11.30 The Future of Global Economic Yose Rizal Damuri, Centre for
Order: Trade and Investment Strategic and International Studies
11.30-12.00 Memanfaatkan Megatrend Dr. Vivi Alatas, The World Bank
Global untuk Mengatasi
Kemiskinan dan Ketimpangan
12.00-12.30 Natural Collaborative Economy: Dr. Taufiqurrahman, The Indonesia
Strategic Importance of Service Dialogue
Services Sector And Imperative
Strategies to Improve
Competitiveness
12.30-13.20 Diskusi Moderator
13.20-13.30 Penutup Kepala Bidang Multilateral

2. SINOPSIS MATERI WORKSHOP


2.1. TATA DUNIA BARU: TANTANGAN DAN TINDAKAN INDONESIA
Oleh: Dalyono, Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan

Perekonomian dunia dan Indonesia menghadapi beberapa tantangan. Ekonomi


global menghadapi turbulensi dan ketidakpastian yang ditandai oleh beberapa hal, antara
lain kenaikan suku bunga the Fed dan timbulnya sikap proteksionisme dari pemerintah
Amerika Serikat di bawah Presiden Trump. Namun kebijakan yang lebih permanen
biasanya akan terlihat setelah pemerintahan berlangsung selama 6 bulan. Selain itu,
ketidakpastian terjadi karena Brexit, rebalancing dari ekonomi Tiongkok, perubahan iklim
yang berpengaruh terhadap ketersediaan pangan, keamanan dan geopolitik serta

6
Focus Group Discussion Kemunculan Sebuah Tata Dunia Baru: Tantangan-tantangan dan Responsi Indonesia

(The Rising of A New World Order: Indonesia’s Challenges and Response)

rendahnya perdagangan dunia yang terpengaruh akibat penurunan harga komoditas di


pasar dunia.
Di pihak lain, Indonesia menghadapi beberapa tantangan antara lain kemiskinan
dan ketimpangan, kesenjangan antara wilayah. Wilayah Timur mengalami pertumbuhan
yang rendah dan tingkat kemiskinan yang tinggi dibandingkan dengan bagian Barat
Indonesia.
Untuk Indonesia, sinergi kebijakan antar institusi sangat direkomendasikan untuk
mengatasi tantangan-tantangan tersebut. Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dapat menerapkan suku bunga yang ‘akomodatif’.
Kebijakan investasi serta perdangan juga harus menyesuaikan untuk mendapatkan hasil
yang positif.
Selain sinergi kebijakan, PDB harus terus ditingkatkan. Dari sisi APBN,
penyusunan komposisi yang lebih kredibel dan realistis yang dapat menjadi stimulus
pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, reformasi fiskal perlu terus dilakukan dari sisi
penerimaan belanja dan pembiayaan.

2.2. KETIDAKPASTIAN DALAM ‘TATA DUNIA TRANSISIONAL’


Oleh : Yulius P. Hermawan, Dosen Fakultas Hubungan Internasional, Universitas
Katolik Parahyangan, Bandung
Indonesia menghadapi tantangan terbesar dari ketidakpastian tata dunia
transisional. Munculnya fenomena Trump dengan retorika populis dan proteksionis yang
mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, perdagangan dan investasi serta Brexit menandai
munculnya perubahan tatanan global. Presiden Trump, antara lain, telah membatalkan
keikutsertaan AS dalam perjanjian Trans Pacific Partnership (TPP), memaksa negara-
negara G20 untuk mengeluarkan pernyataan dalam ‘’joint statement’’ yang mengecam
proteksionisme. Selain itu, hubungan yang kurang harmonis dengan Jerman yang
menimbulkan kesan adanya fragmentasi diantara negara-negara Barat.
Dari perspektif teoretis, tata dunia baru ditandai dengan tiga trend besar, yaitu:
emerging post-Westphalian system, post-Western system dan digital/cyber system.
Pergeseran dari Westphalian ke post-Wesphalian order ditandai dengan
hilangnya/berkurangnya kontrol negara atas kedaulatan serta warga negaranya, batas
kedaulatan yang kabur, munculnya actor-aktor lain dalam sistem global,
transnasionalisme, supranasionalis, korporatis dan global citizenship. Negara bangsa
modern dikatakan telah beralih fungsinya dari ‘’security provider’’ menuju ‘’transnational
realm’’.
Beberapa hal yang yang saat ini berada di luar kontrol negara/berada dalam
kekuatan global: migrasi kaum terpelajar dan kaya, media, ide politik, pasar modal dan
uang serta aturan perdagangan. Pendapatan perusahaan multinasional yang melebihi
negara, keberhasilan penghindaran pajak dalam jumlah besar yang dilakukan perusahaan
tersebut di beberapa negara menunjukan berkurangnya kontrol negara tersebut.
Yang kedua, munculnya post-Western Order atau Parallel Order. Munculnya Order
ini dilihat dalam dua perspektif, yaitu sebagai ‘’new chaotic order’’ dan ‘’parallel order’’.
Dalam pandangan yang pertama, tatanan dunia baru di masa depan yang tidak dipimpin
oleh Barat adalah dunia yang kacau, disorientasi dan berbahaya yang mempunyai dampak
negatif. Perspektif yang kedua melihat parallel order sebagai pelengkap dan kemudian

7
Focus Group Discussion Kemunculan Sebuah Tata Dunia Baru: Tantangan-tantangan dan Responsi Indonesia

(The Rising of A New World Order: Indonesia’s Challenges and Response)

penantang dari tatanan yang ada saat ini. Hal ini ditandai dengan antara lain: BRICS Bank
dan AIIB untuk menandingi Bank Dunia, Universal Credit Rating Group untuk menyaingi
Moody’s and S&P, China Union Pay untuk menyaingi Mastercard/Visa, CIPS untuk
menyaingi SWIFT serta BRICS untuk menyaingi G7.
Terpilihnya Trump sebagai Presiden AS semakin meyakinkan Tiongkok untuk
membangun kekuatan alternatif tersebut dan membuktikan bahwa institusi Bretton
Woods yang selama ini di dominasi negara-negara G7, terutama AS, cukup rapuh ketika AS
berpaling dari kekuatan ekonomi ini.
Terakhir, Cyber World, yaitu negara yang maju akan memegang kekuasaan dunia
maya dengan menunjukkan kapasitas ketahanan dan gangguan dalam menghadapi
tantangan yang ditimbulkan oleh konflik dunia maya. Dalam waktu dekat, cyberspace yang
semula tidak diatur serta kacau akan menjadi sasaran pengaturan oleh hampir semua
negara.

2.3. TINJAUAN MENGENAI PERDAGANGAN INTERNASIONAL INDONESIA


Oleh: Kiki Veriko, Universitas Indonesia
Nilai tukar menjadi komponen penting dalam perekonomian/perdagangan
internasional. Oleh karena itu, menjaga kestabilan nilai tukar menjadi hal yang penting
untuk dilakukan. Kestabilan nilai tukar penting bukan hanya untuk negara yang under
value melainkan juga untuk negara yang overvalue. Hal ini diperkuat dengan penelitian
LPEM UI selama 15 tahun terhadap pengusaha ekspor dan impor, instabilitas
makroekonomi berpengaruh buruk terhadap mereka. Hal ini mengkonfirmasi teori atau
tinjauan akademis mengenai pengaruh negatif ketidakstabilan nilai tukar terhadap
perdagangan internasional.
Inflasi dan government expenditure adalah dua hal yang harus diperhatikan oleh
Pemerintah. Suku bunga dipengaruhi oleh inflasi dan juga di pengaruhi oleh nilai tukar,
ketiga hal ini tidak dapat dipisahkan. Inflasi merupakan persoalan besar karena
perhitungan inflasi didapatkan dari upah dibagi dengan produktivitas, jadi untuk menjaga
inflasi harus menjaga produktivitas dan dasarnya adalah produktivitas sumber daya
manusia. Yang kedua adalah defisit fiskal karena anggaran pemerintah (government
expenditure) mempunyai sensitifitas terhadap peningkatan inflasi – oleh karena itu
ditetapkan angka 3%. Disiplin fiskal, integritas pemerintah, dan reformasi adalah bagian
untuk menjaga kredibilitas investment climate di Indonesia. Sebesar 60% dari total ekspor
Indonesia tidak kompetitif dan 40% kompetitif. Namun diantara yang kompetitif tersebut,
hanya sebesar 19% yang benar-benar kompetitif, sedangkan 21% sisanya bergantung
pada primary order yang sensitif terhadap perubahan harga minyak. Hal ini menjadi
persoalan yang sangat penting karena Indonesia bergantung pada 19% tersebut.
Selain itu, Usaha Kecil Menengah (UKM) yang mempunyai kemampuan dalam
desain perlu didukung untuk meningkatkan kualitas produknya, mengingat 98% industri
Indonesia yang merupakan UKM. Dukungan ini dapat berupa pengembangan jaringan atau
network serta e-commerce. Selain itu, hak atas kekayaan intelektual (HAKI) perlu
mendapatkan perhatian karena akan mendorong inovasi/kreativitas. Fakta tentang 73%
produk kreatif Indonesia memiliki kemiripan merupakan indikasi kurangnya
perhatian/perlindungan HAKI di Indonesia.
Kata ‘reformasi’ dan adaptasi menjadi hal yang sering diucapkan dan
direkomendasikan oleh pembicara untuk Indonesia di tengah ketidakpastian arah politik

8
Focus Group Discussion Kemunculan Sebuah Tata Dunia Baru: Tantangan-tantangan dan Responsi Indonesia

(The Rising of A New World Order: Indonesia’s Challenges and Response)

dan ekonomi global terutama pasca-Brexit dan terpilihnya Presiden Trump serta
menguatnya nasionalisme di beberapa negara Eropa.
Beberapa hal yang menjadi rekomendasi: penguatan diplomasi ekonomi menjadi
isu yang penting untuk ditekankan, terutama diplomasi perdagangan dengan melakukan
diplomasi ‘multitrack’ dan di forum multilateral untuk isu-isu lain di luar perdagangan.
Selain itu, disamping usulan untuk mengembangkan sektor usaha kecil dan
menengah, ekonomi kreatif serta e-commerce, reformasi struktural dan institusional –
termasuk di dalamnya perlindungan terhadap hak atas kekayaan intelektual atau HAKI -
untuk mendukung perekonomian dianggap sangat penting di tengah ketidakpastian arah
politik dan ekonomi global.
Dari perspektif APBN, secara normatif APBN perlu kredibel, realistis dan menjadi
stimulus pertumbuhan ekonomi. Dalam hal ini, Pemerintah perlu melakukan reformasi
fiskal dalam pengelolaan APBN. Dari sisi penerimaan, Pemerintah perlu membuat estimasi
penerimaan yang akurat, kredibel, dan realistis. Dari sisi belanja, belanja yang lebih
produktif seperti alokasi anggara kepada sektor pendidikan, infrastruktur, kesehatan, dan
subsidi energi perlu ditingkatkan. Terakhir dari sisi pembiayaan, Pemerintah perlu
melakukan pengelolaan pembiayaan yang prudent dengan tetap menjaga defisit dan utang
yang rendah.

2.4. THE FUTURE OF GLOBAL ECONOMIC ORDER: TRADE AND INVESTMENT

Oleh: Yose Rizal Damuri, Centre for Strategic and International Studies

Globalisasi yang terjadi pada abad ke-21 ini mengakibatkan peningkatan


perdagangan internasional, perubahan pola perdagangan dari manufaktur ke sektor jasa
serta meningkatnya perkembangan dan penggunaan teknologi terutama teknologi
informasi dalam perekonomian. Perubahan tersebut telah menyebabkan keuntungan yang
besar baik di negara-negara maju maupun negara-negara berkembang, tingkat kemiskinan
global semakin berkurang dan munculnya berbagai inovasi dalam perdagangan dan
investasi. Namun globalisasi tersebut telah menciptakan ketidakseimbangan dalam
perdagangan yang mengakibatkan munculnya proteksionisme, inward looking economy.

Untuk mengatasi berbagai tantangan era baru ini, maka negara-negara


berkembang termasuk Indonesia harus bisa memanfaatkan kecanggihan dan
perkembangan teknologi informasi untuk menghadapi tantangan gelombang baru
globalisasi. Indonesia juga harus bisa meningkatkan sektor jasa dalam perekonomian
karena sektor jasa ini memberi peluang yang sangat besar dalam era globalisasi.

Dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut, Indonesia harus mempersiapkan


diri dalam menghadapi risiko persaingan global yang dapat dicapai dengan peningkatan
keahlian, pendidikan dan infrastruktur sehingga Indonesia bisa bersaing dengan negara-
negara lain. Pendidikan tinggi bukan berarti aman dari imbas negatif globalisasi sehingga
harus diimbangi dengan keahlian dan kemampuan teknologi informasi.

Indonesia juga perlu untuk meningkatkan perjanjian ekonomi Internasional baik


secara bilateral, regional maupun multilateral termasuk juga berpartisipasi aktif dalam

9
Focus Group Discussion Kemunculan Sebuah Tata Dunia Baru: Tantangan-tantangan dan Responsi Indonesia

(The Rising of A New World Order: Indonesia’s Challenges and Response)

perundingan-perundingan internasional sehingga dapat memperjuangkan kepentingan


perekonomian Indonesia terutama dengan negara-negara mitra utama.

2.5. MEMANFAATKAN MEGATREND GLOBAL UNTUK MENGATASI KEMISKINAN


DAN KETIMPANGAN

Oleh: Dr. Vivi Alatas, the World Bank

Konektivitas global yang meningkat dan percepatan perkembangan teknologi


menyebabkan percepatan pertumbuhan ekonomi untuk bisa beradaptasi. Pertumbuhan
ekonomi yang meningkat menyebabkan ketimpangan yang meningkat baik antar negara
maupun antar tingkat pendapatan di masyarakat. Ketimpangan tersebut dapat
menyebabkan populisme, proteksionisme dan nasionalisme di berbagai negara baik
negara maju maupun berkembang.

Terdapat dua megatrend global yang mendorong pertumbuhan di dunia, yaitu


konektivitas global yang meningkat dan percepatan perkembangan teknologi.
Konektivitas global yang meningkat telah menyebabkan peningkatan perdagangan
internasional terlihat dari meningkatnya perdagangan antar negara selatan-selatan dari
proporsi 6% pada tahun 1990 menjadi 24% pada tahun 2012. Sementara itu pergerakan
modal lintas negara meningkat cukup pesat hingga mencapai 24 kali lipat pada tahun
2007 dibandingkan tahun 1980. Peningkatan konektivitas global juga terlihat dari jumlah
turis internasional yang meningkat sangat tajam dari jumlah 25 juta orang pada tahun
1950 menjadi 1 miliar orang pada tahun 2013. Selain itu dari indikator informasi dapat
dilihat bahwa lalu lintas informasi digital meningkat 500 kali lipat dalam kurun waktu 10
tahun sejak tahun 2000.

Konektivitas global yang terus meningkat harus dimanfaatkan dengan sebaik-


baiknya untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan. Indonesia dapat
mengambil manfaat dengan meningkatkan perdagangan melalui perluasan pasar baik
yang sudah menjadi mitra tradisional maupun mitra-mitra perdagangan baru, mengakses
modal yang lebih banyak melalui kerjasama dengan berbagai pihak termasuk investor,
mengakses pekerjan dan kesempatan bersaing di dunia global serta mendapatkan
informasi yang jauh lebih banyak dan lebih cepat. Sementara itu dalam hal percepatan
perkembangan teknologi, Indonesia dapat memanfaatkan percepatan tersebut untuk
mengembangkan usaha produktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi,
mendorong masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih produktif dan
mendorong pemerintah untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.

2.6. NATURAL COLLABORATIVE ECONOMY: STRATEGIC IMPORTANCE OF SERVICES


SECTOR AND IMPERATIVE STRATEGIES TO IMPROVE COMPETITIVENESS

Oleh: Taufikurrahman, Indonesia Services Dialogue

Rekomendasi yang dihasilkan dalam paparan ini adalah new world order yang
terjadi saat ini lebh kepada meningkatnya anti globalisasi di dunia. Sehingga muncul
proteksionisme, merchantilisme dan nasionalisme ekonomi. Namun hal ini tidak akan

10
Focus Group Discussion Kemunculan Sebuah Tata Dunia Baru: Tantangan-tantangan dan Responsi Indonesia

(The Rising of A New World Order: Indonesia’s Challenges and Response)

menghentikan globalisasi secara langsung karena faktor teknologi informasi dan free flow
of good and services.

Untuk mengatasi hal tersebut maka perlu terobosan baru dalam menghadapi
globalisasi yaitu dengan natural collaborative economy dimana kerjasama ekonomi
merupakan suatu keharusan dan akan menjembatani antar negara di dunia.

Kolaborasi ekonomi yang dilakukan akan semakin didorong oleh sektor jasa,
diaktifkan oleh sektor jasa, dan dijembatani dan interkoneksi oleh sektor jasa, sehingga
perlunya peningkatan sektor jasa di Indonesia terutama dalam menghadapi perdagangan
bebas ASEAN.

Indonesia perlu menyebarkan strategi yang tepat untuk meningkatkan kualitas


sektor jasa dan peningkatan daya saing. Daya saing tersebut terutama dilakukan untuk
meningkatkan kualitas SDM di Indonesia. Liberalisasi dan reformasi sektor jasa juga perlu
dilakukan oleh Indonesia. Studi kasus menunjukkan bahwa liberalisasi dan reformasi di
sektor jasa, bila dilakukan dengan benar maka dapat meningkatkan pertumbuhan
perekonomian secara keseluruhan.

Terakhir, perlunya untuk diformulasikan suatu kebijakan strategis yang tepat


untuk mereformasi sektor jasa di Indonesia sehingga Indonesia dapat mengambil manfaat
yang sebesar-besarnya dalam era globalisasi ini untuk sebesar-besarnya meningkatkan
kemakmuran masyarakat.

3. REKOMENDASI KEBIJAKAN

Kata ‘reformasi’ dan adaptasi menjadi hal yang sering diucapkan dan
direkomendasikan oleh pembicara untuk Indonesia di tengah ketidakpastian arah politik
dan ekonomi global terutama pasca-Brexit dan terpilihnya Presiden Trump serta
menguatnya nasionalisme di beberapa negara Eropa dengan fokus ekternal dan internal
sebagai berikut:

1. Diplomasi Ekonomi. Penguatan diplomasi “multitrack” perlu dilakukan terutama


untuk mendukung kondisi global agar tetap kondusif dan memberikan kepastian
kerjasama antar negara.

2. Perdagangan Internasional. Selain menjaga kestabilan nilai tukar, Indonesia perlu


mendorong perdagangan internasional, dengan menempuh jalur bilateral dan
multitrack untuk peningkatan ekspor termasuk melalui forum regional, sub regional,
bilateral dan Asean+3.

3. Sektor Bisnis. Pengembangan sektor usaha kecil dan menengah, ekonomi kreatif
serta e-commerce, reformasi struktural dan institusional –termasuk didalamnya
perlindungan terhadap hak atas kekayaan intelektual atau HAKI- untuk mendukung
perekonomian dianggap sangat penting di tengah ketidakpastian arah politik dan
ekonomi global.

11
Focus Group Discussion Kemunculan Sebuah Tata Dunia Baru: Tantangan-tantangan dan Responsi Indonesia

(The Rising of A New World Order: Indonesia’s Challenges and Response)

4. Kebijakan Fiskal. Dari perspektif APBN, secara normatif APBN perlu kredibel,
realistis dan menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi. Dalam hal ini, Pemerintah perlu
melakukan reformasi fiskal dalam pengelolaan APBN. Dari sisi penerimaan,
Pemerintah perlu membuat estimasi penerimaan yang akurat, kredibel, dan realistis;
dari sisi belanja, belanja yang lebih produktif seperti alokasi anggara kepada sektor
pendidikan, infrastruktur, kesehatan, dan subsidi energi perlu ditingkatkan; dari sisi
pembiayaan, Pemerintah perlu melakukan pengelolaan pembiayaan yang prudent
dengan tetap menjaga defisit dan utang yang rendah.

5. Tenaga Kerja. Rekomendasi kebijakan yang dapat dilakukan untuk memanfaatkan


perubahan global dalam rangka mengurangi kemiskinan dan kesenjangan antara lain
adalah dengan membentuk tenaga kerja dengan keterampilan yang hebat. Tenaga
kerja di Indonesia harus memiliki keterampilan yang relevan dengan perkembangan
dunia. Hal ini dapat dilakukan dengan pelatihan kerja yang mutakhir dan sesuai
dengan kebutuhan pencari kerja, kurikulum pendidikan dan pelatihan yang
menekankan IT Literacy dan bantuan akses terhadap pelatihan untuk masyarakat
miskin.

6. Daya Saing. Perlunya peraturan yang mendukung daya saing Indonesia. Peningkatan
daya saing itu dapat dilakukan dengan revitalisasi sektor manufaktur dan
pembangunan infrastruktur serta peraturan yang mendukung kemudahan
perdagangan dan investasi. Revitalisasi sektor manufaktur dapat dilakukan dengan
menekan tingkat inflasi agar lebih rendah dari partner dagang serta mengidentifikasi
dan mendukung sektor-sektor dengan potensi pertumbuhan yang tinggi. Sementara
itu kemudahan perdagangan dan investasi dapat dilakukan dengan mendukung
munculnya usaha dan wirausaha baru, mempermudah memulai dan mengelola bisnis
serta mendukung munculnya inovasi dalam berbagai bentuk usaha.

7. Layanan Publik. Pemerintah juga perlu meningkatkan pelayanan kepada masyarakat


terutama dunia usaha dengan memanfaatkan teknologi. Hal ini dapat dilakukan
dengan membuka akses seluas-luasnya bagi masyarakat terutama masyarakat miskin
terhadap teknologi informasi dengan cara membangun infrastruktur untuk
memperluas penetrasi internet dan jalur komunikasi. Selain itu pemerintah juga harus
meningkatkan mutu layanan dengan memanfaatkan teknologi dengan cara integrasi
pengelolaan data dan layanan dalam e-government serta meningkatkan partisipasi
aktif masyarakat dalam memantau layanan publik.

12