You are on page 1of 6

2.

2 Nyeri
2.2.1 Definisi Nyeri
Nyeri (Pain) adalah kondisi perasaan yang tidak menyenangkan. Sifatnya sangat
subjektif karna perasaan nyeri berbeda pada setiap orang baik dalam hal skala ataupun
tingkatannya dan hanya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan dan mengefakuasi rasa
nyeri yang dialaminya (Hidayat, 2008).
Internasional Association for Study of Pain (IASP), mendefinisikan nyeri sebagai
suatu sensori subjektif dan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan yang
berkaitan dengan kerusakan jaringan yang bersifat akut yang dirasakan dalam kejadian-
kejadian dimana terjadi kerusakan (Potter & Perry, 2007).
Nyeri adalah pengalaman sensori nyeri dan emosional yang tidak menyenangkan
yang berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual dan potensial yang tidak menyenangkan
yang terlokalisasi pada suatu bagian tubuh ataupun sering disebut dengan istilah distruktif
dimana jaringan rasanya seperti di tusuk-tusuk, panas terbakar, melilit, seperti emosi,
perasaan takut dan mual (Potter , 2012).
2.2.2 Klasifikasi Nyeri
1. Klasifikasi Nyeri Berdasarkan Durasi
a. Nyeri Akut
Nyeri akut adalah nyeri yang terjadi setelah cedera akut, penyakit, atau intervensi
bedah dan memiliki proses yang cepat dengan intensitas yang bervariasi (ringan sampai
berat), dan berlangsung untuk waktu yang singkat (Andarmoyo, 2013).
Nyeri akut berdurasi singkat (kurang lebih 6 bulan) dan akan menghilang tanpa
pengobatan setalh area yang rusak pulih kembali (Prasetyo, 2010).
b. Nyeri kronik
Nyeri kronik adalah nyeri konstan yang intermiten yang menetap sepanjang suatu
priode waktu, Nyeri ini berlangsung lama dengan intensitas yang bervariasi dan
biasanya berlangsung lebih dari 6 bulan (McCaffery, 1986 dalam Potter &Perry,
2007).
2. Klasifikasi Nyeri Berdasrkan Asal
a. Nyeri Nosiseptif
Nyeri Nosiseptif merupakan nyeri yang diakibatkan oleh aktivitas atau sensivitas
nosiseptor perifer yang merupakan respetor khusus yang mengantarkan stimulus
naxious. Nyeri Nosiseptor ini dapat terjadi karna adanya adanya stimulus yang
mengenai kulit, tulang, sendi, otot, jaringan ikat, dan lain-lain (Andarmoyo, 2013)
b. Nyeri neuropatik
Nyeri neuropatik merupakan hasil suatu cedera atau abnormalitas yang di dapat
pada struktur saraf perifer maupun sentral , nyeri ini lebih sulit diobati (Andarmoyo,
2013).
3. Klasifikasi Nyeri Berdasarkan Lokasi
a. Supervicial atau kutaneus
Nyeri supervisial adalah nyeri yang disebabkan stimulus kulit. Karakteristik dari
nyeri berlangsung sebentar dan berlokalisasi. Nyeri biasanya terasa sebagai sensasi
yang tajam (Potter dan Perry, 2006 dalam Sulistyo, 2013). Contohnya tertusuk jarum
suntik dan luka potong kecil atau laserasi.
b. Viseral Dalam
Nyeri viseral adalah nyeri yang terjadi akibat stimulasi organ-organ internal (Potter
dan Perry, 2006 dalam Sulistyo, 2013). Nyeri ini bersifat difusi dan dapat menyebar
kebeberapa arah. Contohnya sensasi pukul (crushing) seperti angina pectoris dan
sensasi terbakar seperti pada ulkus lambung.
c. Nyeri Alih (Referred pain)
Nyeri alih merupakan fenomena umum dalam nyeri viseral karna banyak organ
tidak memiliki reseptor nyeri. Karakteristik nyeri dapat terasa di bagian tubuh yang
terpisah dari sumber nyeri dan dapat terasa dengan berbagai karakteristik. Contohnya
nyeri yang terjadi pada infark miokard, yang menyebabkan nyeri alih ke rahang, lengan
kiri, batu empedu, yang mengalihkan nyeri ke selangkangan.
d. Radiasi Nyeri
radiasi merupakan sensi nyeri yang meluas dari tempat awal cedera ke bagian tubuh
yang lain. Karakteristik nyeri terasa seakan menyebar ke bagian tubuh bawah atau
sepanjang kebagian tubuh. Contoh nyeri punggung bagian bawah akibat diskusi
interavertebral yang ruptur disertai nyeri yang meradiasi sepanjang tungkai dari iritasi
saraf skiatik.
2.3 Yoga
2.3.1 Definisi Yoga
Yoga berasal dari kata Sansekerta dari yug root (bergabung), atau yoke (untuk
berkonsentrasi). Pada dasarnya yoga datang untuk menggambarkan sarana penyatuan
antara tubuh dengan pikiran. Mempelajari yoga berarti mempelajari diri anda sendiri lewat
gerakan tubuh, napas, kekurangan dan kelebihan pada akhirnya akan menimbulkan rasa
nyaman dan bahagia (Shindu, 2013) . Terdapat tujuh cabang yoga, yaitu
1. Bhakti yoga, berorientasi pada penyatuan melalui hati dan pengabdian
2. Karma yoga, yaitu berorientasi pada pelayanan
3. Jnana yoga, yaitu berorientasi pada kebijaksanaan dan pengetahuan
4. Hatha yoga, yaitu berorientasi pada penyatuan melalui latihan fisik dan napas
5. Tantra yoga, yaitu berorientasi pada membangkitkan energy cakra di dalam
tubuh
6. Raja yoga yaitu berorientasi pada meditasi
7. Kundalini yoga, yaitu berorientasi pada upaya membangkitkan dan
mengendalikan pusat-pusat energi di dalam tubuh.
Saat ini 80% aliran yoga yang banyak dipraktikkan di dunia adalah Hatha Yoga.
Hatha berasal dari Bahasa sansekerta Ha (matahari) dan Tha (Bulan). Hatha berarti
penyatuan dua kekuatan yaitu anatar tubuh dan pikiran. Yoga dimaksudkan untuk
dipraktekkan dalam konteks yang lebih besar dari kesadaran spiritual disiplin. Yoga
dianggap sebagai pendekatan holistic untuk kesehatan yang tidak hanya meningkatkan
fleksibilitas, kekuatan, dan stamina tetapi juga menumbuhkan kesadaran diri, kestabilan
emosi, dan ketenangan pikiran (Garfinkel & Schumacher, 2000).
2.3.2 Prinsip-Prinsip Yoga
1. Berlatih dengan teratur
Postur yiga (asana) membantu meregangkan dan membina otot, serta menguatkan
tulang dan melenturkan sendi. Asana menstimulasi pengeluaran hormone endofrin
yang menciptakan rasa nyaman pada tubuh.
2. Bernapas Dalam
Bernapas dengan Dhirga Swasam (teknik pernapasan yoga penuh) meningkatkan
kapasitas paru-paru agar proses bernafas menjadi lebih optimal. Teknik-teknik
pernapasan dalam pranayama juga membantu menguatkan organ tubuh internal,
meningkatkan control emosi, dan memberikan sensasi relaksi yang mendalam.
3. Pola makan Yang Seimbang
Pola makan yang sehat dan seimbangan akan meningkatkan imunitas (daya tahan)
tubuh melancarkan proses alami pencernaan, meningkatkan kesehatan secara
keseluruhan dan menenangkan pikiran.
4. Beristirahat yang Cukup
Menjaga ritme yang seimbang Antara bekerja dan beristirahat akan
mempertahankan tubuh dalam keadaan yang selalu prima dari waktu ke waktu.
Beristirahat dalam Savasana (Postur Mayat) setelah melakukan asana akan
meningkatkan rasa nyaman dan reflex padatubuh, melancarkan sirkulasi darah, dan
mengembalikan kondisi tubuh pada kondisi yang stabil.
5. Berpikir Positif dan Bermeditasi
Berlatih asana yang disertai pranayama dan meditasi akan memurnikan pikiran dari
pikiran dam emosi negative, serta , meningkatkan rasa percaya diri. Meditasi akan
membimbing pikiran untuk lebih dalam masuk ke realisasi diri yang merupakan
tujuan tertinggi dalam berlatih yoga (Setta, 2015).
2.3.3 Manfaat Yoga
Berlatih yoga secara teratur akan memberikan manfaat besar, antara lain (Sindhu,
2009):
1. Meningkatkan fungsi kerja kelenjar endokrin (hormonal) di dalam tubuh.
2. Meningkatkan sirkulasi darah ke seluruh sel tubuh otak.
3. Membentuk postur tubuh yang lebih tegap, serta otot yang lebih lentur dan kuat.
4. Meningkatkan kapasitas paru-paru saat bernapas.
5. Membuang racun dari dalam tubuh (detoksifikasi).
6. Meremajakan sel-sel tubuh dan memperlambat penuaan.
7. Memurnikan saraf pusat yang terdapat di tulang punggung.
8. Mengurangi ketegangan tubuh, pikiran, dan mental, serta membuatnya lebih kuat
saat menghadapi stress.
9. Memberikan kesempatan untuk merasakan relaksasi yang mendalam.
10. Meningkatkan kesadaran pada lingkungan
11. Meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan untuk berpikir positif.

2.3.4 Langkah-langkah Yoga


Program yoga didasarkan pada asanas postur yang cocok untuk Chronic Low Back
Pain (CLBP), pranayama melatih dan mengontrol pernapasan, yoga nidra metode
sistematis untuk secara sadar menginduksi relaksasi fisik, mental, dan emosional dan
Vipassana meditasi kesadaran dari tradisi Buddhis (Goran et all, 2018). Langkah-langkah
pelaksanaan yoga, yaitu :
- 10 menit pendidikan mengenai (mekanisme biomekanik dan pernafasan) tulang
belakang
- 20 menit duduk di kursi atau di atas tikar, santai, dengan mata tertutup;
menjelajahi perasaan dan aspek kontak tubuh dan postur tubuh; berfokus pada
pernapasan gerakan dan sensasi. Latihan ini memungkinkan persiapan untuk
mengendalikan emosi, serta untuk kesadaran dan meditasi.
- 30 menit melakukan serangkaian berbaring, berlutut dan berdiri postur, termasuk
postur kuat kerja keseimbangan, dan tikungan ke depan, sebelum kembali ke floor
untuk serangkaian postur terlentang.
- 10 menit dari berbaring-down postur, santai, dan mengurangi frekuensi napas,
untuk mengelola lonjakan emosi dan meningkatkan kesadaran internal yang
mendalam.
- 5 menit dari diskusi dan saran.
Prasetyo, S. N. (2010). Konsep dan Proses Keperawatan Nyeri. Yogyakarta ; Graha Ilmu
Andarmoyo, Sulistyo. (2013). Konsep dan Proses Keperawatan Nyeri. Yogyakarta: Ar-Ruzz
Media
Hidayat. (2008). Keperawatan Medical Bedah. Jakarta: Buku Kedokteran. EGC
Perry, P. &. (2007). Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, dan Praktik. Edisi
4. Jakarta: EGC.

Setta, w. (2015). Panduan Dasar Yoga. (I. Ayu, Ed.) Jakarta: PT. Kawan Pustaka.
Shindu, P. (2013). Panduan Lengkap Yoga : untuk Hidup Sehat & Seimbang. (R. :, Ed.) Jakarta
Selatan: PT. Mirzan Pustaka.