You are on page 1of 10

4.

1 Rencana Daerah Pelayanan dan Proyeksi Pembangunan di Masa Depan

Untuk rencana daerah pelayanan sistem distribusi air bersih di kawasan Semarang
Barat, yang mencakup 10 kelurahan yang dibagi menjadi 5 blok daerah pelayanan, dapat
dilihat pada gambar berikut :

Gambar 4.1 Rencana Daerah Pelayanan Air Bersih Kawasan Semarang Barat

(Sumber : Grafis Autocad Kelompok, 2018)

Dari gambar 4.1 tersebut, dapat dilihat rencana pembagian daerah pelayanan air bersih
yang diberikan nama Blok A, Blok B, Blok C, Blok D, dan Blok E. Pembagian blok – blok
tersebut berdasarkan sistem administratif terdekat setiap kelurahan yang jaraknya berdekatan,
sehingga dalam keberjalanan untuk mendata, menganalisis, dan mengevaluasi keberjalanan
pelayan distribusi air bersih ini menjadi lebih efektif dan efisien.

Sistem distribusi air bersih ini dengan menampungnya di reservoir (warna biru cerah
lingkaran) setelah melalui proses pengolahan di PDAM (warna persegi biru), lalu
didistribusikan ke setiap daerah pelayanan tersebut sesuai bloknya masing-masing, dengan
sistem perpipaan tertutup.

Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Semarang No, 14 tahun 2011 tentang Rencana
Tata Ruang Wilayah Kota Semarang Tahun 2011 – 2031, Kecamatan Semarang Barat
termasuk Rencana Pembagian Wilayah Kota (BWK) III meliputi Kecamatan Semarang Barat
dan Kecamatan Semarang Utara dengan luas kurang lebih 3.522 (tiga ribu lima ratus dua
puluh dua) hektar dengan fungsi perkantoran, perdagangan, jasa, transportasi udara dan
transportasi laut.

Pembangunan yang akan dilakukan di masa depan untuk wilayah Semarang Barat
antara lain peningkatan persimpangan sebidang jalan, peningkatan prasarana rel kereta api,
dan pengembangan sistem jaringan kabel. Pengembangan yang berkaitan langsung dengan air
diantaranya perlindungan terhadap daerah aliran sungai (DAS), pengembangan waduk
dan/atau embung, pengembangan sistem jaringan perpipaan, pengolahan air payau dan air
laut, penyediaan terminal air untuk kawasan-kawasan yang belum terlayani jaringan
perpipaan, peningkatan dan pengembangan sistem jaringan untuk sistem drainase.

Dalam perwujudan pola ruang kawasan lindung, akan dilakukan penetapan, pemetaan,
penguasaan, rehabilitasi dan konservasi lahan di kawasan lindung, perlindungan dan
penguatan garis pantai, pengijauan sempadan pantai, pengaturan pemanfaatan sempadan
pantai hasil reklamasi, penghijauan sempadan sungai, pengembangan jalan inspeksi,
perlindungan dan penguatan dinding pembatas waduk dan embung, penghijauan sempadan
waduk dan embung, dan pengembangan jalan inspeksi di sekeliling embung.

Pengembangan kawasan budidaya akan dilakukan dengan pemanfaatan hutan


produksi di wilayah kota sebagai hutan produksi terbatas, peningkatan partisipasi masyarakat
sekitar hutan melalui pengembangan hutan kerakyatan, peningkatan kualitas pasar skala
pelayanan kota dan/atau BWK, peningkatan dan pengembangan pasar skala pelayanan yang
tersebar di seluruh kecamatan, pengembangan kawasan pertokoan di sepanjang jalan utama
sesuai dengan rencana pola ruang, pengembangan kawasan perkantoran Pemerintah Kota,
Peningkatan kawasan perkantoran pemerintah skala kelurahan dan kecamatan di seluruh
daerah, peningkatan perkantoran swasta, penge,bangan fasilitas pendidikan dasar sampai
menengah, peningkatan kualitas kawasan transportasi, peningktana kualitas kawasan
pertahanan dan keamanan, serta pengembangan dan peningkatan fasilitas layanan umum.

Hasil proyeksi penduduk menggunakan metode terpilih yaitu Metode Eksponensial,


akan terus terjadi peningkatan jumlah penduduk sampai pada tahun 2037 yaitu sekitar
169000. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk tahun 2018, diperkirakan terdapat
peningkatan sejumlah 8000 penduduk. Hal ini mempengaruhi jumlah kebutuhan air secara
keseluruhan di Kecamatan Semarang Barat yang terus meningkat. Jika hanya mengandalkan
sumber air yang ada saat ini,, belum seluruh kebutuhan air warga terpenuhi. Selama jangka
waktu 20 tahun, perlu dilakukan penambahan sumber air baku untuk pemenuhan kebutuhan
warga yang dapat berasal dari DAS, aliran sungai atau pengolahan dari hasil buangan warga
itu sendiri.

4.4 Pemilihan Sumber Air

Pemilihan sumber air baku berguna untuk menentukan sumber air baku bagi sistem
penyediaan air bersih. Pemilihan alternatif air baku dilakukan berdasarkan analisis kuantitas
sumber air baku, sehingga dapat diketahui apakah kuantitas atau ketersediaan air baku masih
mencukupi bila diambil untuk keperluan penyediaan air bersih. Dasar dalam perhitungan
ketersediaan air baku adalah debit dan pemanfaatan air baku. Selain itu pemilihan sumber air
baku juga didasarkan pada perkiraan kualitas air baku tersebut. Air baku yang baik akan
memudahkan proses pengolahan. Pemilihan sumber air baku ini dapat dilakukan dengan cara
:

1. Menentukan sumber air baku


Sumber air baku yang akan dimanfaatkan dapat berupa air permukaan, air bawah
tanah, air mata air, dll.

2. Alternatif pemilihan lokasi


Pemilihan lokasi penempatan SPAM dilakukan dengan mempertimbangkan elevasi
lokasi sumber air dan lokasi pengolahan, kepemilikan lahan lokasi pengolahan, jarak
lokasi pengolahan dan daerah layanan, lokasi sumber air baku, dan kebutuhan pipa
transmisi.

3. Analisis kualitas air baku


Analisis kualitas air baku bertujuan untuk mengetahui parameter apa saja dalam air
baku yang tidak sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan. Data kualitas air baku
dibandingkan dengan standar kualitas air baku maupun air minum yang berlaku saat ini.
Standar kualitas air yang digunakan adalah Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor: 907/MENKES/SK/VII/2002, tanggal 29 Juli 2002 tentang Syarat –
syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum. Berdasarkan perbandingan tersebut
parameter – parameter yang melebihi standar baku mutu berarti memerlukan pengolahan
agar konsentrasinya turun sesuai dengan standar.

Dalam pemilihan alternative sumber air terbaik, diperlukan kriteria pemilihan sebagai
acuan untuk menentukan sumber air yang akan dipilih. Terdapat tiga sumber air yang akan
dianalisis. Sumber I adalah bagian hulu sungai, sumber II adalah sumur A, dan sumber III
adalah sumur B. Dari ketiga sumber tersebut diukur parameter fisik dan senyawa kimia yang
terkandung di dalamnya. Berikut adalah perbandingan tiap parameter dari ketiga sumber air.

Tabel 4.1 Perbandingan Parameter Fisik Tiga Sumber Air

Zat padat Zat padat Kekeruhan Temperatur Debit Jarak


terlarut tersuspensi
o​
(mg/l) (mg/l) NTU C lps
Sumber I 300 540 200 28 3500 2548.2302
Sumber II 240 500 80 30 500 1466.4025
Sumber III 110 170 20 25 100 861.2248

Selanjutnya akan dilakukan pembobotan nilai pada setiap parameter yang ada. Skor
diberikan antara 1 sampai 3 dengan keterangan 1 adalah nilai minimum dan 3 adalah nilai
maksimum. Pada parameter zat padat terlarut, zat padat tersuspensi, dan kekeruhan semakin
sedikit nilainya pada sumber air maka semakin bagus kualitas dari sumber air tersebut.
Sedangkan pada parameter debit, semakin tinggi nilainya maka semakin besar juga kuantitas
dan nilai pembobotannya. Pada parameter jarak sumber air ke PDAM, semakin kecil jarak
maka semakin tinggi nilai pembobotannya. Hal ini berkaitan dengan biaya yang akan
dikeluarkan untuk pembangunan fasilitas dari sumber air ke PDAM.
Zat padat terlarut (TDS) yang diperbolehkan menurut PERMENKES
No.492/Menkes/Per/IV/2010 dan SNI 3553:2015 mengenai syarat mutu air mineral adalah
500 mg/l. Dari ketiga sumber di atas, seluruh sumber sudah memenuhi baku mutu dari zat
padat terlarut untuk air minum, namun semakin sedikit kadar zat padat terlarut maka semakin
baik kualitas sumber air tersebut. Zat padat tersuspensi (TSS) dalam air dapat berupa bahan
organic dan inorganic yang dapat disaring. Materi yang tersuspensi mempunyai dampak
buruk terhadap kualitas air karena mengurangi penetrasi matahari ke dalam badan air dan
menyebabkan gangguan pertumbuhan organisme produser. Sehingga dengan begitu, semakin
tinggi nilai TSS maka semakin buruk kualitas dari badan air tersebut. Kekeruhan atau
turbidity d​ igunakan untuk menyatakan derajat kegelapan di dalam air yang disebabkan oleh
partikel organic ataupun anorganik yang berasal dari DAS. Dampak kekeruhan pada air
minum adalah dapat menimbulkan estetika yang kurang baik, karena orang menilai air
minum pertama dari kekeruhannya. Air yang keruh dipandang sebagai air yang tidak layak
minum, hal ini menandakan air tersebut mengandung zat tersuspensi dan dapat menyebabkan
mikroorganisme pathogen hidup dan berkembang dengan baik. Untuk itu, sumber air yang
baik harus memiliki nilai kekeruhan yang kecil. Jika dibandingkan dengan PERMENKES
No. 416/MENKES/PER/IX/1990 untuk persyaratan kualitas air minum. kadar maksimum
yang diperbolehkan untuk parameter kekeruhan adalah 5 NTU. Pada ketiga sumber di atas
nilai kekeruhannya melebihi baku mutu yang ditetapkan, untuk itu diperlukan pengolahan
lebih lanjut agar nilai kekeruhan dapat memenuhi nilai baku mutu yang ditetapkan. Pada
parameter temperature, menurut PERMENKES No. 416/MENKES/PER/IX/1990 mengenai
persyaratan kualitas air minum dan air bersih, suhu maksimum yang diperbolehkan adalah
suhu udara ± 3​o​C. Suhu mempengaruhi aktivitas metabolism organisme, sehingga semakin
meningkatnya suhu maka semakin meningkat pula laju pertumbuhan. Sedangkan pada
parameter debit, semakin tinggi nilainya maka semakin tinggi kuantitas yang dihasilkan
sumber air tersebut sehingga bobot yang diberikan semakin besar. Hasil pembobotan dari
ketiga sumber air dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tabel 4.2 Hasil Pembobotan Fisik Tiga Sumber Air

Zat Zat padat Kekeruha Temperatu Debi Jarak Jumlah


padat tersuspens n r t
i
terlaru
t
Sumber I 1 1 1 2 3 1 9
Sumber II 2 2 2 1 2 2 11
Sumber III 3 3 3 3 1 3 16

Selain parameter fisik, pemilihan sumber air juga memperhatikan kualitas air dari
sumber air tersebut dengan cara melihat senyawa kimia yang terkandung di dalamnya.
Perbandingan senyawa kimia yang terkandung pada ketiga sumber air dapat dilihat dalam
tabel berikut.

Tabel 4.3 Perbandingan Parameter Kimia Tiga Sumber Air

Besi Kesadahan Klorida Mangan pH Sulfat Bikarbonat BOD COD


(mg/l) (mg/l) (mg/l) (mg/l) (mg/l) (mg/l) (mg/l) (mg/l) (mg/l)
Sumber 5 200 30 3 8.2 60 12 10 20
I
Sumber 3 425 30 5 6 60 20 20 30
II
Sumber 0.2 50 15 0.1 7 20 15 20 15
III

Menurut PERMENKES No. 416/MENKES/PER/IX/1990 mengenai persyaratan


kualitas air minum dan air bersih, kadar maksimum yang diperbolehkan bagi senyawa di atas
adalah sebagai berikut.

Tabel 4.4 Kadar Maksimum Kualitas Air

Parameter Kadar maksimum yang


diperbolehkan
Air minum Air bersih
Besi 0.3 mg/L 1 mg/L
Kesadahan 500 mg/L 500 mg/L
Klorida 250 mg/L 600 mg/L
Mangan 0.1 mg/L 0.5 mg/L
pH 6.5 - 8.5 6.5 - 9.0
Sulfat 400 mg/L 400 mg/L

Pada parameter kimia ini, akan diberikan skor 1 sampai 3 dengan keterangan 1 adalah
nilai minmum dan 3 adalah nilai maksimum. Semakin kecil kadar senyawa kimia pada
sumber air maka kualitas sumber air tersebut semakin baik. Dari nilai baku mutu di atas,
hanya sumber III yang memenuhi nilai baku mutu parameter Besi pada air minum dan air
bersih. Sedangkan pada parameter kesadahan, sumber I dan III sudah memenuhi baku mutu
dan sumber III tidak memenuhi baku mutu. Pada parameter Klorida, pH, dan Sulfat, ketiga
sumber air sudah memenuhi baku mutu. Kadar maksimum dari Mangan yang diperbolehkan
berada dalam air minum dan air bersih dapat dipenuhi oleh sumber III sedangkan sumber I
dan II melebihi baku mutu, perlu dilakukan pengolahan agar nilai Mangan yang terkandung
dapat memenuhi nilai baku mutu.

Selain itu, untuk mengetahui kualitas dari segi parameter kimia pada sumber air ada
pula kadar oksigen terlarut atau ​Dissolved Oxygen​ (DO), kadar limbah organic yang diukur
dari banyaknya oksigen yang diperlukan untuk mendegradasi sampah organic yang dikenal
dengan istilah ​Biological Oxygen Demand (​ BOD). Kadar limbah anorganik dapat diukur dari
banyaknya oksigen yang diperlukan untuk memecah limbah anorganik yang dikenal sebagai
Chemical Oxygen Demand ​(COD). Hal ini menandakan, semakin tinggi angka COD dan
BOD maka semakin banyak limbah yang terkandung dalam sumber air tersebut. Untuk itu,
pembobotan diberikan dengan memberi nilai 3 bagi sumber air yang memiliki COD dan
BOD rendah dan nilai 1 bagi sumber air dengan COD dan BOD tinggi. Hasil dari
pembobotan parameter kimia dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tabel 4.5 Hasil Pembobotan Parameter Kimia

Besi Kesadahan Klorida Mangan pH Sulfat Bikarbonat BOD COD Jumlah


Sumber I 1 2 2 2 1 2 3 3 2 18
Sumber 2 1 2 1 2 2 1 2 1 14
II
Sumber 3 3 3 3 3 3 2 2 3 25
III

Dari parameter fisik dan kimia di atas dapat dijumlahkan hasil dari pembobotan nilai
yang sudah dilakukan sehingga dapat diketahui sumber air terbaik yang dapat dipilih. Dari
hasil penjumlahan kedua jenis parameter diperoleh sumber air yang memiliki hasil total
pembobotan tertinggi yaitu Sumber III atau Sumur B.

Tabel 4.6 Total Pembobotan Tiga Sumber Air

Fisik Kimia Total


Sumber I 9 18 27
Sumber II 11 14 25
Sumber III 16 25 41

4.5 Tahapan Perencanaan

Periode 1: Tahun 2022


Yang akan dilakukan:
1. Pembangunan distribusi di Blok A
Pembangunan ini ditujukan untuk membangun pipa-pipa transmisi yang dapat
mendistribusikan debit kebutuhan air sebesar 204 liter/sekon.

Periode 2: Tahun 2027


Yang akan dilakukan:
1. Pembangunan lanjutan distribusi di Blok B dan C
Pembangunan ini ditujukan untuk memperluas daerah jangkauan distribusi air hingga ke blok
B dan C dengan tambahan debit kebutuhan air untuk blok A, B, dan C menjadi 227
liter/sekon.

Periode 3: Tahun 2032


Yang akan dilakukan:
1. Pembangunan lanjutan distribusi di Blok D dan E
Pembangunan ini ditujukan untuk memperluas daerah jangkauan distribusi air hingga ke blok
D dan E dengan tambahan debit kebutuhan air untuk blok A, B, C, dan D menjadi 287
liter/sekon.

Periode 4: Tahun 2037


Yang akan dilakukan:
1. Penambahan debit kebutuhan air untuk seluruh blok menjadi 326 liter/sekon
2. Maintenance dan Pengecekan fasilitas
Pada periode ini akan dilakukan maintenance fasilitas distribusi air yang telah dibuat dan
akan dilakukan pengecekan fasilitas apakah masih berfungsi sebagaimana mestinya.

SUMBER
Anonim. . ​TDS dalam Air Minum.​ ​https://www.nazava.com/tds-dalam-air-minum/​ .​ Diakses
21/09/18.

Huda, Thorikul. 2009. ​Hubungan antara Total Suspended Solid dengan Turbidity dan
Dissolved Oxygen.
http://thorik.staff.uii.ac.id/2009/08/23/hubungan-antara-total-suspended-solid-dengan-turbid
ity-dan-dissolved-oxygen/​ ​. Diakses pada 21/09/18

Peraturan Menteri Kesehatan No. 416/MEN.KES/PER/IX/1990.


http://web.ipb.ac.id/~tml_atsp/test/PerMenKes%20416_90.pdf​. Diakses pada 21/09/18.

Anonim. 2017. ​Indikator Kualitas Air : pH, BOD, DO,COD.


http://www.bintangmedia.id/indikator-kualitas-air-ph-bod-do-cod/​ ​. Diakses pada 21/09/18.

Aditya, Nofi. 2015. ​Pemilihan Lokasi Sumber Mata Air untuk Pembangunan Jaringan Air
Bersih Pedesaan dengan Menggunakan Metode TOPSIS.
https://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/11617/6457/Paper_Nofi%20Aditya.pdf?se
quence=1​ . D
​ iakses pada 21/09/18

Anonim. 2012. ​Pedoman Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Sistem Penyediaan Air
Minum.​ ​https://www.slideshare.net/infosanitasi/1-rencana-induk-spam​ . D
​ iakses pada
21/09/18

Dimas. 2003. ​Analisa Sumber Air Baku.


http://eprints.undip.ac.id/34325/7/1964_CHAPTER_IV.pdf. ​Diakses pada 21/09/18​.

Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 14 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Kota Semarang Tahun 2011 – 2031
http://www.semarangkota.go.id/content/slides/pdf/PerdaRTRW_2014-04-17_08-43-00.pdf

. Diakses pada 21/09/18.