You are on page 1of 16

BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Berdasarkan data statistik, peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS diindonesia begitu cepat.
Ternyata dasar penularan awal epidemi ini disebabkan oleh jarum suntik. Diperkirakan saat ini
terdapatlebih dari 1,3 juta penderita HIV/AIDS akibat jarum suntik. Jika terus berlanjut makan
diperkirakan tahun 2020 jumlah itu akan meningkat menjadi 2,3 juta orang.

Dan sebagai mahasiswa keperawatan perlu memiliki pengetahuan tentang HIV/AIDS dan
penatalaksanaaannya secara komprehensif.

Adapun yang melatarbelakangi penulisan makalah ini selain tugas kelompok dan juga
merupakan materi bahasa mata kuliah KMB . dimana mahasiswa dari setiap kelompok akan
membahas materi, sesuai judul masing-masing yang telah ditugaskan kepada masing-masing
kelompok. Dalam makalah ini akan dibahas tentang Asuhan keperawatan pada pasien HIV/AIDS
yang merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebln tubuh manusia, yang dapat
memudahkan atau membuat rentan si penderita terhadap penyakit dari luar maupun dari dalam
tubuh. AIDS merupakan penyakit yang disebabkan oleh Human Immuno deficiency virus HIV.

1. TUJUAN
1. Tujuan Umum :

Untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Keperawatan Medikal Bedah III.

1. Tujuan Khusus :
1. agar bisa mengerti dan memahami konsep dasar HIV/AIDS
2. agar bisa mengerti dan memahami Asuhan Keperawatan Pada Pasien HIV/AIDS.
3. agar dapat melaksanakan Asuhan Keperawatan Pada Pasien HIV/AIDS

1. SISTEMATIKA

Makalah ilmiah ini terdiri dari tiga bab yang disusun berdasarkan sistematika sebagai berikut:

Bab I : Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, dan sistematika
penulisan.

Bab II : Tinjauan teoritis, yang berisikan konsep dasar HIV/AIDS

Bab III : konsep dasar Asuhan Keperawatan pada Pasien HIV/AIDS


Bab IV : Penutup, yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

Daftar pustaka

BAB II

TINJAUAN TEORI

KONSEP DASAR

1. PENGERTIAN HIV/AIDS
1. HIV adalah singkatan dari human Immunodeficiency Virus merupakan virus yang
dapat menyebabkan penyakit AIDS. Virus ini menyerang manusia dan menyerang
sistem kekebalan (imunitas) tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dalam
melawan infeksi Yang menyebabkan defisiensi (kekurangan) sistem imun.
2. Aids adalah singkatan dari Acquired imune deficiency syndrome yaitu
menurunnya daya tahan tubuh terhadap berbagai penyakit karena adanya infeksi
virus HIV (human Immunodeficiency virus). Antibodi HIV positif tidak diidentik
dengan AIDS, karena AIDS harus menunjukan adanya satu atau lebih gejala
penyakit skibat defisiensi sistem imun selular.
3. AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan
tubuh oleh virus yang disebut HIV (Human Immunodeficiency Virus). (Aziz
Alimul Hidayat, 2006)
4. AIDS adalah infeksi oportunistik yang menyerang seseorang dimana mengalami
penurunan sistem imun yang mendasar ( sel T berjumlah 200 atau kurang ) dan
memiliki antibodi positif terhadap HIV. (Doenges, 1999)
5. AIDS adalah suatu penyakit retrovirus yang ditandai oleh imunosupresi berat
yang menyebabkan terjadinya infeksi oportunistik, neoplasma sekunder dan
kelainan imunolegik. (Price, 2000 : 241)

1. ETIOLOGI

Penyebab adalah golongan virus retro yang disebut human immunodeficiency virus (HIV). HIV
pertama kali ditemukan pada tahun 1983 sebagai retrovirus dan disebut HIV-1. Pada tahun 1986
di Afrika ditemukan lagi retrovirus baru yang diberi nama HIV-2. HIV-2 dianggap sebagai virus
kurang pathogen dibandingkan dengan HIV Maka untuk memudahkan keduanya disebut HIV.
Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima fase yaitu :

1. Periode jendela. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak ada gejala.
2. Fase infeksi HIV primer akut. Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu likes illness.
3. Infeksi asimtomatik. Lamanya 1-15 atau lebih tahun dengan gejala tidak ada.
4. Supresi imun simtomatik. Diatas 3 tahun dengan gejala demam, keringat malam hari, B
menurun, diare, neuropati, lemah, rash, limfadenopati, lesi mulut.
5. AIDS. Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama kali ditegakkan.
Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor pada berbagai system tubuh, dan
manifestasi neurologist.

AIDS dapat menyerang semua golongan umur, termasuk bayi, pria maupun wanita. Yang
termasuk kelompok resiko tinggi adalah :

 Lelaki homoseksual atau biseks. 5. Bayi dari ibu/bapak terinfeksi.


 Orang yang ketagian obat intravena
 Partner seks dari penderita AIDS
 Penerima darah atau produk darah (transfusi).

1. PATOFISIOLOGI

HIV masuk ke dalam tubuh manusia

Menginfeksi sel yang mempunyai molekul CO4

(Limfosit T4, Monosit, Sel dendrit, Sel Langerhans)

Mengikat molekul CO4

Memiliki sel target dan memproduksi virus

Sel limfosit T4 hancur

Imunitas tubuh menurun

Infeksi opurtinistik

↓ ↓ ↓ ↓

Sist pernafasan Sist Pencernaan Sist. Integumen Sist Neurologis

↓ ↓ ↓ ↓

Peradangan pd Infeksi jamur Peristaltik Peradangan kulit Infeksi ssp

Jaringan paru ↓ ↓ ↓

↓ Peradangan mulut Diare kronis Timbul lesi/ ↓

Sesak, demam ↓ ↓ bercak putih Peningkatan

↓ Sulit menelan Cairan output ↓ kesadaran, kejang Tdk


efektif Mual ↓ Gatal, nyeri Nyeri kepala Ggn
pertukaran ↓ Bibir kering Bersisik ↓

gas Intake kurang Turgor kulit ↓ MK : perubahan

↑ suhu ↓ ↓ MK: Ggn rasa nyaman proses

MK: Ggn pemenuhan MK: kekurangan vol.cairan pikir

nutrisi Ggn eliminasi BAB, diare

1. TANDA dan GEJALA

Tanda dan gejala infeksi HIV sangat luat spektrumnya, karena itu ada beberapa macam
klasifikasi. Yang paling umuum dipakai adalah klasifikasi yang dibuat oleh CDC,USA, sbb :

Klasifikasi infeksi HIV (CDC,USA, 1987)

GRUP I :Infeksi akut

GRUP II : Infeksi kronik asimtomatik

GRUP III : persistant generalized lymphadenopaty

GRUP IV : penyakit lain


MASA INKUBASI

Masa ini adalah waktu dari terjadnya infeksi pertama sampai munculnya gejala yang pertaa pada
pasien. Pada infeksi HIV hal ini sulit diktahui. Dari penelitian pada sebagian besar kasus
dikatakan masa inkubasi rata-rata 5-10 tahun , dan bervariasi sangat lebar, yaitu antara 6 bulan
sampai lebih dari 10 tahun. Walaupun belum ada gejala tapi yang bersangkuan telah dapat
menjadi sumber penularan.

1. Infeksi Akut

Sekitar 30-50% dari mereka yang terinfeksi HIV akan memberikan gejala infeksi
mononukleosis, yaitu demam, sakit tenggorokan , letargi, batuk, mialgia, keringat alam dan
keluhan GIT berupa nyeri menelan, mual, dan muntah dan diare. Mungkin bisa didpat adanya
pembesaran kelenjar limfe leher, faringitis, macular rash, dan aseptik meningitis yang akan
sembuh dala waktu 6 bulan.

1. Infeksi kronik asimtomatik

Fase akut akan diikuti fase kronik asimsomatik yang lamanya bisa bertahun-tahun. Walaupun
tidak ada gejala, tapi teteap dapat mengisolasi virus dari darh pasien dan ini berarti bahwa selama
fase ini pasien juga infeksius. Tidak dketahui secara pasti apa yg terjadi pada fase ini. Mungkin
terjadi repikasi lampat pada selsel tertentu dan laten pada sel lainnya. Tapi pada fase ini dikuti
dengan penurunan fungsi sistem imun dari waktu kewaktu.

1. PGL (pembengkakan kelenjar limfe)

Pada kebaykan kasus gejala pertama yang muncul adalah PGL. Ini menunjukan adanya
hipersensitivitas sel limfosit B dalam kelenjar limfe, dapat persisten selama bertahun-tahun, dan
pasien tetap merasa sehat.terjadi progresi bertahap dari adanya hiperplasia folikel dalam kelenjar
limfe sampai timaul involunsi dengan adanya sel limfosit T8. Ini merupakan reaksi tubuh yang
menghancurkan sel dendrit folike yang terinfeksi HIV.

1. Dengan menurunnya sel limfosit T4, makin jelas nampak gejala klinis yang dapat
dibedakan menjadi beberapa keadaan. Gejala ini dapat dibag atas :

1) Gejala atau keluhan yang tidak langsung berhubungan dengan HIV : diare, demam,
keringat malam, rasa lelah berlebihan , batuk kronik lebih dari 1 bulan dan penurunan berat
badan 10% atau lebih.

2) Gejala yang langsung akibat HIV, misalnya : mielopati, neuropati perifer dan penyakit
susunan saraf otak.hampir 30% pasien dalam stadium akhir akan menderita AIDS dementia
kompleks, yaitu menurunnya sampai hilang daya ngat, gangguan fungsi motorik dan kognitif,
sehingga pasien suli berkomunikasi dan tdk bisa jalan.
1. KOMPLIKASI
2. Oral Lesi

Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis Human
Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi, dehidrasi, penurunan berat
badan, keletihan dan cacat.

1. Neurologik

Kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus (HIV)
pada sel saraf, berefek perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan motorik,
kelemahan, disfasia, dan isolasi sosial.

Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit,


meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit kepala, malaise, demam, paralise, total / parsial.

Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan maranik endokarditis.


Neuropati karena imflamasi dieleminasi oleh serangan Human Immunodeficienci Virus (HIV)

1. Gastrointestinal

Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma Kaposi.
Dengan efek, penurunan berat badan, anoreksia, demam, malabsorbsi, dan dehidrasi.

Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik. Dengan
anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.

Penyakit anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai akibat
infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal, gatal-gatal dan siare.

1. Respirasi

Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus, dan


strongyloides dengan efek nafas pendek, batuk, nyeri, hipoksia, keletihan, gagal nafas.

1. Dermatologik

Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis, reaksi otot,
lesi scabies / tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri,gatal,rasa terbakar,infeksi skunder dan
sepsis.

1. Sensorik

Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan. Pendengaran : otitis eksternal
akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek nyeri.
1. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
2. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium untuk HIV/AIDS dibagi atas tiga kelompok :

1) Pembuktian adanya antibodi (Ab) atau antigen (Ag) HIV.

HIV terdiri dari selubung , kapsid dan inti.Masing- masing terdiri dari protein yang bersifat
sebagai antigen dan menimbulkan pembentukan antibodi dalam tubuh yang terinfeksi. Jenis
antibody yang penting untuk diagnostik diantaranya adalah antibody gp41, gp140, dan p24.

Teknik pemeriksaan adalah sebagai berikut.

a) Tes untuk menguji Ab HIV. terdapat berbagai macam cara yaitu ELISA, Western Blot,
RIPA dan IFA

b) Tes untuk menguji antigen HIV dapat dengan cara pembiakan virus, antigen P24 dan PCR

2) Pemeriksaan status imunitas

Pada pasien AIDS dapat ditemui anemia leukopenia/limfopenia, trombositopenia dan displasia
sumsum tulang normo atau hiperselular. Test kulit DHT (Delayed Type Hypersensitiviti) untuk
tuberkulin dan kandida yang hasilnya negatif atau energi menunjukan kegagalan imunitas
selular. Dapat terjadi poliklonal hypergamma globulinemiayang menunjukan adanya rangsangan
nonspesifik terhadap sel B untuk membentuk imunitas humoral.

3) Pemeriksaan terhadap infeksi oportunistik dan keganasan

Infeksi oportunistik atau kanker sekunder yang ada pada pasien AIDS diperiksa sesuai dengan
metoda diagnostik penyakitnya masing-masing. Misalnya pemeriksaan makroskopik untuk
kandidiasis, PCP,TBC Paru dll. Adapun pemeriksaan peunjang lain seperti aboraturium rutin,
serologis, radiologis, USG, CTScan, bronkoskopi, pembiakan, histopatologis dll.

1. PENATALAKSANAAN HIV/AIDS

Penatalaksanaan HIV/AIDS terdiri dari pengobatan, perawatan / rehabilitasi dan edukasi.

1. Pengobatan

Pengobatan pada pengidapan HIV/AIDS ditujukan terhadap :

– Virus HIV
– Infeksi oportunistik

– Kanker sekunder

– Status kekebalan tubuh

– Simtomatis dan suportif

1. Obat Retrovirus

Yang biasa dipakai secara luas adalah :

1) Zidovudine (AZT) berfungsi sebagai terapi pertama anti retrovirus. Pemakaian obat ini
dapat menguntungkan diantaranya yaitu Dapat memperpanjang masa hidup (1-2 tahun),
mengurangi frekuensi dan berat infeksi oportunistik, menunda progresivitas penyakit,
memperbaiki kualitas hidup pasien, mengurangi resiko penularan perinatal, mengurangi kadar
Ag p24 dalam serum dan cairan spinal. Efek samping zidovudine adalah: sakit kepala, nausea,
anemia, neutropenia, malaise, fatique, agitasi, insomnia, muntah dan rasa tidak enak diperut.
Setelah pemakaian jangka panjang dapat timbul miopati. Dosis yang sekarang dipakai 200mg po
tid, dan dosis diturunkan menjadi 100mg po tid bila ada tanda-tanda toksik.

2) Didanosine ( ddl ), Videx.

Merupakan terapi kedua untuk yang terapi intoleransi terhadap AZT, atau bisa sebagai
kombinasi dengan AZT bila ternyata ada kemungkinan respon terhadap AZT menurun. Untuk
menunda infeksi oportunistik respon terhadap AZT menurun. Untuk menunda infeksi
oportunistik pada ARC dan asimtomatik hasilnya lebih baik daripada AZT. Efek samping:
neuropati perifer, pankreatitis (7%), nausea, diare.

Dosis: 200mg po bid ( untuk BB >60kg), 125mg po bid (untuk BB < 60kg) Mulanya hanya
dipakai untuk kombinasi denganAZT. Secara invitro merupakan obat yang paling kuat, tapi efek
samping terjadinya neuropati ( 17-31%) dan pankreatitis. Dosis : 0,75mg po tid.

1. Obat-obat untuk infeksi oportunistik

– Pemberian profiklaktik untuk PCP dimulai bila cCD4 , 250 mm/mm3. Dengan
kotrimokzasol dua kali/minggu. Dosis 2 tablet, atau dengan aerosol pentamidine 300mg, dan
dapsone atau fansidar.

– Prokfilaksis untuk TBC dimulai bila PDD>=5mm, dan pasien anergik. Dipakai INH
300mg po qd dengan vit.b6, atau rifampisin 600mg po qd bila intolerans INH.

– Profilaksis untuk MAI (mycobacterium avium intracelulare), bila CD4 , 200/mm3,


dengan frukanazol po q minggu, bila pernah menderita oral kandidiasis, sebelumnya.
– Belum direkomendasikan untuk profilaksis kandidiasis, karena cepat timbul resistensi
obat disamping biaya juga mahal.

1. Obat untuk kanker sekunder

Pada dasarnya sama dengan penanganan pada pasien non HIV. Untuk Sakorma Kaposi, KS
soliter:radiasi, dan untuk KS multipel:kemoterapi. Untuk limfoma maligna: sesuai dengan
penanganan limfoma paa pasien non HIV.

1. Immune restoring agents

Obat-obat ini diharapkan dapat memperbaiki fungsi sel limfosit, menambah jumlah limfosit,
sehingga dapat memperbaiki status kekebalan pasien. Bisa dengan memakai:

a) – Interferon alpha -ekstrak kelenjar thymus

– Interferron gamma -loprinosin

– Interleukin 2 -Levamisol

b) Mengganti sel limfosit dengan cara: transfusi limfosit, transplantasi timus dan
transplantasi sumsum tulang.

1. Pengobatan simtomatik supportif

Obat-obatan simtomatis dan terapi suportif sring harus diberikan pada seseorang yang telah
menderita ADIS, antara lain yang sering yaitu: analgetik, tranquiller minor, vitamin, dan
transfusi darah.

1. Rehabilitasi

Rehabilitas ditujukan pada pengidap atau pasien AIDS dan keluarga atau orang terdekat, dengan
melakukan konseling yang bertujuan untuk :

1. Memberikan dukungan mental-psikologis


2. Membantu merekab untuk bisa mengubah perilaku yang tidak berisiko tinggi menjadi
perilaku yang tidak berisiko atau kurang berisiko.
3. Mengingatkan kembali tentang cara hidup sehat, sehingga bisa mempertahankan kondisi
tubuh yang baik.
4. Membantu mereka untuk menemukan solusi permasalahan yang berkaitan dengan
penyakitnya, antara lain bagaimana mengutarakan masalah-masalah pribadi dan sensitif
kepada keluarga dan orang terdekat.
1. Edukasi

Edukasi pada masalah HIV/AIDS bertujuan untuk mendidik pasien dan keluarganya tentang
bagaimana menghadapi hidup bersama AIDS, kemungkinan diskriminasi masyaratak sekitar,
bagaimana tanggung jawab keluarga, teman dekat atau masyarakat lain. Pendidikan juga
diberikan tentang hidup sehat, mengatur diet, menghindari kebiasaan yang dapat merugikan
kesehatan, antara lain: rokok, minuman keras. Narkotik, dsb.

BAB III

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN HIV/AIDS

1. PENGKAJIAN DATA DASAR


2. Riwayat atau adanya perilaku risiko tinggi

 Pasangan seksual multiple ( berganti-ganti pasangan )


 Laki-laki dengan homoseksual atau biseksual
 Penyalahgunaan obat terlarang
 Hemophilia ( penerima factor pembekuan sebelum 1985 )

1. Pemeriksaan fisik dasar pada survey umum (Apendiks F) dan pemeriksaan laboratorium
dapat menunjukan :
1. ARC ( ditandai tig agejala di bawah ini )

 Limpadenopati
 Candidiasis mulut
 Jumlah sel CD, 500/mm3 ataukurang
 Demam intermiten dengan banyak keringat pada malam hari ( sering merupakan gejala
awal )
 Diare menetap ( terus menerus )
 Anoreksia ( tidak nafsu makan )
 Kelelahan terusmenerus
 Mudah memar dan berdarah ( indikasi idiopatik trombositopenia purpura )
 Penurunan berat badan
 Ruam pada kulit
 AIDS disebabkan tumor, misal penyakit Hodgkin’s atau kanker pada mulut
 Komplikasi neurologis seperti psikosa( hilang ingatan, pelupa, dimensia, kejang, lumpuh
sebagian , nyeri perifer pada neuropati dan kehilangan koordinasi.

1. AIDS
 Infeksi oportunistik seperti tuberculosis , pneumocytiscarinii pneumonia (PCP ) yang di
tunjukan oleh batuk terus-menerus, demam dan sesak nafas
 Sarcoma Kaposi’s ( jenis kanker kulit ) yang ditujukan oleh banyaknya bisul-bisul
keungu-unguan dan benjolan pada kulit
 Jumlah sel c, 200/mm 3 atau kurang

1. Tes diagnostic

 Infeksi HIV diperkuat oleh tesserologi positif :


 Tes ELISA ( Enzim – linked immunosorbent assay )
 Western blot dianggap tes yang lebih spesifik untuk infeksi HIV , dilakukan sama pada
specimen darah jika tes ELISA positif ( 2 kali )

1. Kaji pengertian kondisi dan respon emosi terhadap diagnose dan rencana pengobatan.

1. DIAGNOSA
1. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan faktor :Penurunan responimun
, kerusakan kulit.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan. Berhubungan dengan faktor : Tidak
adekuatnya pemasukan nutrisi sebagai faktor sekunder AIDS pada sistem
pembuangan (GI), nyeri lesi dimulut.
3. Risiko tinggi terhadap kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah
berhubungan dengan faktor : kurang pengetahuan tentang kondisi serta langkah-
langkah untuk mengontrol penyebaran infeksi, kurangnya biaya, tidak ada
pendukung yang cukup, untuk memberikan bantuan yang diberikan .

1. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. DIAGNOSA : risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan faktor
:Penurunan respon imun , kerusakan kulit.

BATASAN KARAKTERISTIK : western blot positif , terlihat gejala-gejala ARC atau AIDS,
ada riwayat dirawat untuk pengobatan infeksi, pernah menerima obat-obat untuk pengobatan
infeksi HIV.

HASIL PASIEN ( kolaboratif ) : mendemonstrasikan resolu sipadainfeksisaa tini (sekarang ) .

KRITERIA EVALUASI : temperature dan SDP kembalikebatas normal, keringat


malam berkurang dan tidak ada batuk, meningkatnya masukan makanan , tercapai
penyembuhan luka atau lesi pada waktunya.

INTERVENSI
1. Pantau :

– Hasil JDL dan CD4

– Temperatur setiap 4 jam

– Status umum ( apendiks F ) setiap 8 jam

1. Berikan obat antibiotik dan evaluasi ke efektifannya . jamin pemasukan cairan paling sedikit 2-
3 liter sehari.
2. Rujuk keahli diet untuk membantu memilih dan merencanakan makanan untuk kebutuhan
nutrisi. Ikuti prinsip-prinsip kewaspadaan umum terhadap darah dan cairan tubuh. Gunakan
pencegahan dasar yang sesuai untuk mencegah kontaminasi terhadap kulit dan mukosa
membran, bila kontak dengan darah atau cairan tubuh:

 Pakai sarung tangan bila kontak dengan darah atau cairan tubuh adalah mungkin terjadi.
 Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien , termasuk sebelum dan sesudah
memakai sarung tangan.
 Pasang label katagori spesifik isolasi pada pintu kamar pasien. Jika ada TB
paru, pakai masker dan nasehatkan semua anggota keluarga pasien untuk
skrining TB, jelaskan TB adalah menular.
 Masker tidak diperlukan untuk PCP sebab kemungkinan infeksi disebabkan oleh
jamur yang ada pada tubuhnya sendiri.
 Pakai skort dan kacamata untuk menghindarkan bila ada percikan cairan tubuh yang mungkin
terjadi.
 Hindarkan penggunaan jarum yang telah dipakai. Tempatkan semua benda tajam kedalam
kontainer pembuangan.
 Bersihkan tumpahan darah dengan 1:10 cairan pemutih (natrium hipoklorida)
 Tidak untuk dianjurkan utnuk sembarang orang untuk memberikan perawatan pada pasien
yang mempunyai luka atau lesi berek sudat dan dermatitis yang luas atau lesi sembuh.

1. Pelihara kenyamanan suhu kamar. Jaga kebersihan dan keringnya kulit.


2. DIAGNOSA KEPERAWATAN: perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan faktor :Tidak adekuatnya pemasukan nutrisi sebagai faktor sekunder AIDS pada sistem
pembuangan (GI), nyeri lesi dimulut.

BATASAN KARAKTERISTIK: Manifestasi Aids Syndrom, kehilangan berat badan lebih dari
10% yang disebabkan oleh mual, muntah, lemah dan letih yang berlebih, diarekronis, albumin
serum dibawah normal, keseimbangan nitrogen negatif, terdapat kesulitan mengunyah dan
menelan, terdapat plak-plak putih di mulut.

HASIL PASIEN (kolaboratif): mendemonstrasikan status nutrisiadekuat.


KRITERIAEVALUASI: Tidak ada penurunan berat badan lebih lanjut, hasil laboratorium
keseimbangan nitrogen positifdan albumin serum sampai kebatas normal, lemah dan letih
berkurang, secara verbal dinyatakan sehat.

INTERVENSI
1. Pantau :

 Berat badan, setaip hari


 Masukan dan haluaran setiap 8 jam
 Albumin serum dan BUN
 Persentase makanan yang dimakan setiap makan

1. Jika cairan diare berlebih :

 Pertahankanpuasadanpengobatan, terutamainfus NPT


 Berikanobat-oabt anti diaredanevaluasikeefektifannya.
 Berangsur-angsur mulai lagi pemberian makan per oral biladiare terkontrol. Anjurkan untuk
menggunakan bebas laktose, rendah lemak, tinggi serat, ini akan menurunkan volume diare.
Konsul kedokter jika diare tetap berlangsung atau tambah memburuk.

1. Rujuk keahli diet untuk membantu memilih dan merencanakan makanan untuk kebutuhan
nutrisi.

1. DIAGNOSA KEPERAWATAN : risiko tinggi terhadap kerusakan penatalaksanaan


pemeliharaan rumah berhubungan dengan faktor : kurang pengetahuan tentang kondisi
serta langkah-langkah untuk mengontrol penyebaran infeksi , kurangnya biaya, tidak ada
pendukung yang cukup, untuk memberikan bantuan yang diberikan .

BATASAN KARAKTERISTRIK : menyatakan kurang mengerti tentang keadaan dan langkah-


langkah untuk mengontrol infeksi di rumah , dilaporkan butuh bantuan untuk beberapa aktivitaas
sehari-hari tapi kurang cukup bantuan di rumah , menatakan membutuhkan bantuan keuangan

HASIL PASIEN (kolaboratif ) : menyatakan kepuasan dengan rencana keperawatan dirumah ,


mengenal sumber-sumber yang ada dimasyarakat yang dapat memberikan bantuan perawatan di
rumah, menyatakan rencana-rencana untuk jaminan bantuan keungan dengan perawatan medis
yang dibutuhkan , pulang dengan lama perawatan untuk KDB.

INTERVENSI

1. Evaluasi pasien dan keluarganya tentang pengertianya mengenai definisi


HIV/AIDS, prognosa, cara-cara penularan HIV, cara pencegahan penyebaran HIV,
pentingnya memberitahukan semua kontak seksual sebelumnya. Perbaiki kesalahan
persepsi. Pelihara rahasia pasien tentang diagnosa HIV/AIDS.
2. Evaluasi kesadaran sumber-sumber di masyarakat. Rujuk kepelayanan social atau bagian
yang merencanakan pasien pulang untuk sumber-sumber di masyarakat terfokus merawat
individu HIV/AIDS dan untuk menolong kebutuhan keuangan untuk pengobatan jika
keuangannya susah.
3. Tinjau ulang cara-cara mengontrol infeksi di rumah:

 Gunakan kondom dari lateks yang mengandung spermisida pada waktu hubungan seks.
Hindari pemakaian alat-alat perawatan diri yang mungkin dapat menularkan melalui
darah, seperti sikat gigi, alat-alat pencukur,
 Cuci alat-alat makan dengan air sabun panas. Tidak perlu memisahkan mencuci alat-alat
makan atau sprei, kecuali bila terkena oleh darah segar. Tambahkan pemutih bila alat-
alatnya terkena darah atau cairant ubuh.

1. Ajarkan kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan kesehatan

 Makan – makanan sehat seimbang .mengandung banyak protein , kaya gizi untuk fungsi
imun. Berunding dengan ahli diet untuk membantu perencanaan makanan untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi yang sesuai dengan status kesehatan sekarang dan keadaaan
ekonomi kurangi diet lemak dan penggunaaaan yang berlebihan suplemen
vitamin/mineral. Jelaskan penggunaan pengguna antambahanzat – zat nutrisi seharusnya
di bawah pengarahan langsung oleh ahli diet dan dokter sesuai dengan analisa nutrisi
 Berikan imunisasi langsung untuk mencegah infeksi :
o Tetanus booster setiap 10 tahun.
o Periksa kadar antibody hepatitis B . jelaskan tentang vaksin hepatitis B
(recombivax HB, Heptavax-B , Engerix – B ) diperlukan jika belum ada antibody.
Beritahu pasien tentang vaksin hepatitis B diberikan dalam 3 kali injeksi
o Anjurkan ibu-ibu untuk memerikasakan pelvis dan pap smear setiap 6 bulan.
jelaskan bahwa infeksi pada vagina sering terjadi dan diperlukan pengobatan yang
intensif padawanitadengan HIV/AIDS.
o Kurangi sumber stres . tidur cukup , latihan terratur, berhenti merokok, minum
alkohol dan gunakan obat golongan ke empat. Jika ini merupakan kebiasaan ,
rujuk ke tokoh masyarakat untuk membantu memecahkan ketergantungan ini .
o Hindari tempat yang ramai, keadaaan yang dapat membuat kongestiv pada bulan-
bulan musim dingin ketika insiden influenza dan filek meningkat.

Obat-obatan simtomatis dan terapi suportif sring harus diberikan pada seseorang yang telah
menderita ADIS, antara lain yang sering yaitu: analgetik, tranquiller minor, vitamin, dan
transfusi darah.

1. Rehabilitasi

Rehabilitas ditujukan pada pengidap atau pasien AIDS dan keluarga atau orang terdekat, dengan
melakukan konseling yang bertujuan untuk :
1. Memberikan dukungan mental-psikologis
2. Membantu merekab untuk bisa mengubah perilaku yang tidak berisiko tinggi menjadi
perilaku yang tidak berisiko atau kurang berisiko.
3. Mengingatkan kembali tentang cara hidup sehat, sehingga bisa mempertahankan kondisi
tubuh yang baik.
4. Membantu mereka untuk menemukan solusi permasalahan yang berkaitan dengan
penyakitnya, antara lain bagaimana mengutarakan masalah-masalah pribadi dan sensitif
kepada keluarga dan orang terdekat.
5. Edukasi

Edukasi pada masalah HIV/AIDS bertujuan untuk mendidik pasien dan keluarganya tentang
bagaimana menghadapi hidup bersama AIDS, kemungkinan diskriminasi masyaratak sekitar,
bagaimana tanggung jawab keluarga, teman dekat atau masyarakat lain. Pendidikan juga
diberikan tentang hidup sehat, mengatur diet, menghindari kebiasaan yang dapat merugikan
kesehatan, antara lain: rokok, minuman keras. Narkotik, dsb.

BAB IV

PENUTUP

1. A. KESIMPULAN

– AIDS adalah singkatan dari Acquired imune deficiency syndrome yaitu menurunnya daya
tahan tubuh terhadap berbagai penyakit karena adanya infeksi virus HIV (human
Immunodeficiency virus). Antibodi HIV positif tidak diidentik dengan AIDS, karena AIDS harus
menunjukan adanya satu atau lebih gejala penyakit skibat defisiensi sistem imun selular.

– HIV dan AIDS dapat menyerang siapa saja. Namun pada kelompok rawan mempunyai
risiko besar tertular HIV penyebab AIDS, yaitu :

1. Orang yang berperilaku seksual dengan berganti-ganti pasangan

2. Pengguna narkoba suntik

3. Pasangan seksual pengguna narkoba suntik

4. Bayi yang ibunya positif HIV

– Penularan HIV/AIDS

1. Hubungan seksual (anal, oral, vaginal) yang tidak terlindungi (tanpa kondom) dengan
orang yang telah terinfeksi HIV.
1. Jarum suntik/tindik/tato yang tidak steril dan dipakai bergantian
2. Mendapatkan transfusi darah yang mengandung virus HIV
3. Ibu penderita HIV Positif kepada bayinya ketika dalam kandungan, saat
melahirkan atau melalui air susu ibu (ASI)
HIV tidak ditularkan melalui hubungan sosial yang biasa seperti jabatan tangan, bersentuhan,
berciuman biasa, berpelukan, penggunaan peralatan makan dan minum, gigitan nyamuk, kolam
renang, penggunaan kamar mandi atau WC/Jamban yang sama atau tinggal serumah bersama
Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).

– Tanda dan gejala klinis penderita HIV/AIDS

1. Berat badan menurun lebih dari 10 % dalam 1 bulan


2. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
3. Demam berkepanjangan lebih dari1 bulan
4. Penurunan kesadaran dan gangguan-gangguan neurologis
5. Dimensia/HIV ensefalopati
6. Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita

– Pencegahan HIV/AIDS

HIV dapat dicegah dengan memutus rantai penularan, yaitu ;

1. Menggunakan kondom pada setiap hubungan seks berisiko,


2. Tidak menggunakan jarum suntik secara bersam-sama

– Penatalaksanaan HIV/AIDS

Penatalaksanaan HIV/AIDS terdiri dari pengobatan, perawatan / rehabilitasi dan edukasi.

1. B. SARAN

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu penulis
berharap kritik dan saran yang membangun untuk pembuatan makalah selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

– Brunner & Suddarths. 2000. Texboox Of Medical Nursing. 4 Th D Philadelphia


Lippincot

– Saputra. L .1998. Internasional Diagnosis Review. Hongkon:. Medical News Tribune

– Soeparman.1996. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Jakarta: FKUI.Jakarta