You are on page 1of 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Purin adalah senyawa alkaloid, yang dibuat di dalam sel-sel tubuh

(endogen), atau datang dari luar tubuh, dari makanan yang mengandung purin

(eksogen). Purin di dalam tubuh akan mengalami metabolisme menjadi asam

urat. Peningkatan kadar asam urat dari kelebihan purin dapat terakumulasi dalam

jaringan, dan membentuk kristal, hal ini dapat menyebabkan tingginya kadar

asam urat dalam darah yang disebut sebagai hiperurisemia (Wells dkk., 2009;

Syukri, 2007; Khanna dkk., 2012). Asam urat melewati hati, memasuki aliran

darah, sebagian besar diekskresikan dalam urin atau melewati usus sebagai

upaya tubuh untuk mengatur kadar normal. Kadar asam urat normal adalah 2,4-

6,0 mg/dL (wanita) dan 3,4-7,0 mg/dL (laki-laki). Ketika tingkat asam urat darah

naik diatas 7 mg/dL akan timbul masalah, yaitu terjadi pembentukan kristal asam

urat pada sendi, terutama di jari kaki dan tangan (Syukri, 2007; Anonim, 2006b).

Jumlah penderita arthritis atau gangguan sendi kronis akibat asam urat di

Amerika Serikat terus menunjukkan peningkatan. Pada tahun 1990 terdapat 37,9

juta penderita dari sebelumnya 35 juta pada tahun 1985. Data tahun 1998

memperlihatkan hampir 43 juta atau 1 dari 6 orang di Amerika menderita

gangguan sendi, dan pada tahun 2005 jumlah penderita arthritis sudah mencapai

66 juta atau hampir 1 dari 3 orang menderita gangguan sendi, dengan 42,7 juta

diantaranya telah terdiagnosis sebagai arthritis dan 23,2 juta sisanya adalah

penderita dengan keluhan nyeri sendi kronis (Anonim, 2006a). Khanna dkk.

1
(2012) melaporkan angka kejadian gout di Amerika adalah 3,9% (8,3 juta orang)

selama survey pada tahun 2007-2008.

Strategi terapi untuk menurunkan kadar asam urat adalah menghambat

xantin oksidase, urikosurik, antiinflamasi nonsteroid. Alopurinol beraksi dengan

menghambat pembentukan asam urat dari purin dengan menghambat enzim

xantin oksidase (urikostatik). Beberapa efek samping penggunaan Alopurinol

dalam terapi yang telah dilaporkan adalah ruam kulit, leukopenia, gangguan

pencernaan, sakit kepala, dan urtikaria. Efek samping berat yang terjadi adalah

ruam berat, hepatitis, nefritisinterstitial dan eosinofilia. Reaksi hipersensitivitas

dapat terjadi pada dosis 200-400 mg/hari, biasanya terjadi pada penderita

gangguan ginjal (Anonim 2006a). Penelitian tentang penghambatan aktivitas

xantin oksidase sering dikaitkan dengan kasus hiperurisemia dan jenis golongan

senyawa kimia tumbuhan yang diduga mempunyai aktivitas ini adalah flavonoid.

Sebagaimana diketahui kerja dari penghambat xantin oksidase adalah

menghambat reaksi oksidasi xantin menjadi asam urat. Beberapa senyawa kimia

yang beraktivitas sebagai penghambat aktivitas xantin oksidase diawali dari

penelitian aktivitas antioksidan. Jika dilihat mekanisme reaksinya, antioksidan

dapat berfungsi sabagai penangkap radikal bebas. Mekanisme reaksi flavonoid

sebagai antioksidan banyak dilaporkan dan sebagian besar berupa penangkap

radikal bebas. Penelitian tentang aktivitas penghambatan xantin oksidase sering

dihubungkan dengan aktivitas antioksidan (Baghiani dkk., 2012, Azmi dkk., 2012,

Nile dkk., 2010, Kristanty dkk., 2012, Ahmad, 2012).

Salah satu tanaman asli Indonesia yang diduga mempunyai aktivitas

mengatasi gout adalah Stelechocarpus burahol (Bl.) Hook. F. & Th. (Famili:

Annonaceae) yang dikenal dengan nama kepel. Tanaman ini masih sangat

2
terbatas literaturnya diluar negeri. Tanaman kepel adalah salah satu tanaman

obat yang cukup mempunyai potensi untuk bisa dikembangkan sebagai

antihiperurisemia. Terdapat beberapa penelitian tentang tanaman kepel yaitu

aktivitas sebagai antioksidan dengan menggunakan DPPH dari ekstrak etil asetat

buah, ekstrak n-butanol dan etil asetat bunga, yang lebih tinggi dibanding isolat

dari fraksi aktif ekstrak n-butanol bunga (Tisnadjaja dkk., 2006). Telah dilaporkan

adanya aktivitas antihiperurisemia secara in vivo dari ekstrak etanol dan ekstrak

heksan daun kepel yang potensinya setara dengan Alopurinol pada uji

penghambatan xantin oksidase dengan menggunakan tikus (Purwantiningsih

dkk., 2010). Pada penelitian uji toksisitas terhadap tikus jantan dan betina oleh

Purwantiningsih & Nurlaila (2011) dilaporkan bahwa ekstrak etanol daun kepel

adalah aman (tidak toksik) karena nilai LD50> 5000 mg/kg BB, hal ini mendasari

bahwa tanaman ini cukup berpotensi dikembangkan karena masuk batas aman

untuk penggunaan kepada manusia. Pada peneliti sebelumnya oleh Sunarni dkk.

(2007) sudah dilakukan penelitian aktivitas antioksidan kandungan kimia dan

ditemukan isolat paling aktif B4b (IC50 6,43 g/ml) yang berupa 7,3’,4’-trihidroksi-

5-metil flavonol. Adanya senyawa flavonoid tersebut yang mempunyai aktivitas

antioksidan tersebut dan flavonoid lain dalam daun kepel, perlu dikaji lebih lanjut

terutama aktivitasnya sebagai penghambat enzim xantin oksidase. Pada

lambung manusia terdapat cairan pencernaan dengan pH asam dan suhu 370C,

flavonoid glikosida akan mengalami hidrolisis menjadi flavonoid aglikon, dengan

demikian untuk uji in vitro terhadap aktivitas penghambatan xantin oksidase

senyawa flavonoid dalam bentuk aglikon lebih tepat untuk diuji aktivitasnya.

Mabry (1970) menjelaskan prosedur isolasi dan pemurnian flavonoid terutama

jika yang terkandung dalam tanaman adalah glikosida flavonoid, maka prosedur

3
standar isolasi dan identifikasi adalah dalam bentuk aglikonnya dengan cara

dihidrolisis terlebih dahulu. Flavonoid dalam tanaman dapat ditemukan berupa

aglikon maupun glikosidanya. Selain C-glikosida, sebagian besar O-glikosida

mudah terhidrolisis pada suasana asam dan keadaan panas (Khoddami dkk.,

2013; Hakkinen, 2000; Martinez dkk., 2007; Puckhaber, dkk., 2002; Tokuşoğlu,

dkk., 2003, Nazaruk, dkk., 2003, Matlawska, 2005). Aglikon flavonoid ini

berkaitan dengan aktivitas penghambat xantin oksidase. Flavon dan flavonol

yang mempunyai stuktur planar dengan gugus OH pada atom karbon nomor 7

mempunyai aktivitas penghambat enzim xantin oksidase yang tinggi (Nagao et

al., 1999). Cos et al. (1997) melaporkan bahwa flavon dan flavonol dengan gugus

hidroksi pada posisi nomer 5 dan 7 yang secara efektif mempunyai aktivitas

penghambat enzim xantin oksidase, sedangkan OH pada posisi 3, 6, 2’

menurunkan aktivitas, kemudian adanya substitusi OH pada posisi 8, 9, 10,

ketiganya mempunyai aktivitas yang sama pada flavon, selanjutnya OH pada

posisi 3’ dan 4’ hampir tidak pengaruh terhadap aktivitasnya. Umamaheswari et

al. (2011) melaporkan aglikon flavonol fisetin mempunyai aktivitas penghambatan

xantin oksidase secara komputerisasi. Apigenin merupakan aglikon flavonoid

flavon yang mempunyai aktivitas penghambat enzim xantin oksidase paling tinggi

dibandingkan kuersetin dan mirsetin karena adanya gugus OH pada posisi 3

menurunkan aktivitas (Lin, 2002).

1. Perumusan Masalah

Rumusan masalah dari penelitian ini adalah:

a) Bagaimanakah cara isolasi aglikon flavonoid ekstrak etanolik daun kepel?

4
b) Isolat (aglikon flavonoid) apakah dalam ekstrak etanolik daun kepel yang

menghambat xantin oksidase dan aktif menangkap radikal bebas?

c) Apakah isolat aktif (aglikon flavonoid) ekstrak etanolik daun kepel memiliki

aktivitas penghambatan xantin oksidase dan berapakah IC50nya?

d) Apakah isolate aktif (aglikon flavonoid) ekstrak etanolik daun kepel

memiliki aktivitas penangkap radikal bebas DPPH (diphenylpicrylhidrazyl)

dan berapakah IC50nya?

e) Adakah ada hubungan antara kadar flavonoid total dan aktivitas

penghambatan xantin oksidase fraksi kloroform (FK), fraksi etil asetat

(FEA) dan ekstrak etanol (EE) daun kepel?

f) Adakah ada hubungan antara kadar flavonoid total dan aktivitas

penangkap radikal bebas DPPH dari FK, FEA dan EE daun kepel?

2. Keaslian Penelitian

Sepengetahuan penulis, penelitian tentang Isolasi dan Karakterisasi

Aglikon Flavonoid Daun Kepel (Stelechocarpus burahol (Bl.) Hook. F. & Th. ) dan

Uji Aktivitas Penghambatan Enzim Xantin Oksidase Serta Aktivitas Penangkapan

Radikal Bebas Dengan Metode DPPH belum pernah dilakukan. Penelitian yang

terkait dengan penelitian ini telah dirangkum pada Tabel 1.

5
Tabel 1. Penelusuran hasil penelitian yang terkait

No Peneliti (th) Judul Hasil


1. Tisnadjaja Pengkajian Burahol (Stelechocarpus Aktivitas Antioksidan
dkk.(2006) burahol (Blume) Hook. F. & Thomson) Ekstrak n-butanol bunga
sebagai Buah yang Memiliki (IC50 22,44 ppm), etil asetat
Kandungan Senyawa Antioksidan bunga (35,07 ppm) dan
ekstrak etil asetat buah
(29,12 ppm) yang lebih
tinggi dibanding isolat dari
fraksi aktif ekstrak n-butanol
bunga mempunyai IC50
351,83 ppm.
2. Sunarni dkk. Flavonoid antioksidan penangkap Aktivitas antioksidan dengan
(2007) radikal dari daun kepel (Stelechocarpus aktivitas tertinggi yaitu isolat
burahol (Bl.) Hook. F. & Th.) B4b (IC50 6,43g/ml) yang
memiliki struktur 7,3’,4’-
trihidroksi-5-metil flavonol.
3. Purwantiningsih Antihyperuricemic Activity Of The Kepel Efek antihiperurisemia
dkk. (2010) (Stelechocarpus burahol (Bl.) Hook. ekstrak etanol (60,86-
F.&Th.) Leaves Extract and Xanthine 78,33%) dan ekstrak heksan
Oxidase Inhibitory Study (78,23-88,52%) dari daun
kepel setara dengan
Alopurinol (50,82-91,16%)
pada uji penghambatan
xantinoksidase dengan
menggunakan tikus.
4. Baghiani Xantine Oksidase Inhibition and Penelitian ini melaporkan
dkk.(2012), Azmi Antioxidant Effects of Peaganum kemungkinan ada
dkk.(2012), Nile harmala Seed Extracts; Purification of keterkaitan antara aktivitas
dkk.(2010), Xantine Oksidase Inhibitor from Carica antioksidan dan
Kristanty (2012), papaya Leaves using Reversed Phase penghambat enzim xantin
Ahmad (2012) Flash Column Chromatography oksidase.
(RPFCC) - High Performance Thin
Layer Chromatography (HPTLC);
Phytochemical Analysis, Antioxidant
and Xantin Oksidase Inhibitory Activity
of, Tephrosia purpurea, Linn. Root
Extract; Isolation of Antioxidant and
Xantin Oksidase Inhibitor from n-
butanol extract of Andaliman Fruit
(Zanthoxylum acanthopodiumDC.);
Study of Antioxidant Activity With
Reduction of DPPH Radical and Xantin
Oksidase Inhibitor of the extract of
Ruellia tuberose Linn Leaf

3. Urgensi Penelitian

Penelitian ini mendukung adanya saintifikasi jamu, yang mana ramuan

antihiperurisemia dengan komponen daun kepel sudah diterapkan di beberapa

klinik herbal beberapa rumah sakit, selain itu dikembangkan juga di Puskesmas-

puskesmas wilayah Jawa Tengah. Daun kepel telah banyak dimanfaatkan

6
sebagai obat tradisional penurunan asam urat. Pada sisi lain daun kepel

mengandung flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan. Berdasarkan hal itu,

daun kepel cukup potensial untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai

penghambat enzim xantin oksidase. Penelitian sebelumnya yang berhasil

mengisolasi senyawa flavonoid dan mempunyai aktivitas antioksidan dapat

ditelusuri lebih lanjut potensinya sebagai penghambat enzim xantin oksidase. Hal

tersebut sangat terkait dengan strategi terapi hiperurisemia yang salah satunya

menggunakan agen urikostatik (menghambat xantin oksidase). Dengan demikian

daun kepel dapat diteliti lebih lanjut, apakah penggunaan masyarakat selama ini

sebagai penurun asam urat dapat dibuktikan secara ilmiah. Karena sejauh ini,

senyawa kimia yang berfungsi sebagai urikostatik masih terbatas. Oleh karena

itu penelitian ini sangat penting agar mendapat kandidat baru urikostatik. Hal ini

disebabkan karena kandungan yang cukup menarik yaitu flavonoid yang ada

dalam tanaman ini. Penelitian yang telah dilaporkan banyak mengungkap

aktivitas flavonoid ini sangat berhubungan dengan aktivitas penghambatan enzim

xantin oksidase, sehingga seringkali dijadikan senyawa rujukan yang dianggap

mempunyai aktivitas (Umamaheswari, 2011). Namun demikian dalam tanaman

ini terdapat senyawa flavonoid lain yang mungkin belum dilaporkan, terutama

dalam bentuk aglikonnya. Dengan demikian perlu dilakukan penelitian aktivitas

penghambatan enzim xantin oksidase dari isolat ekstrak daun kepel, namun

dalam bentuk aglikonnya. Karena di dalam tubuh manusia, senyawa flavonoid

glikosida akan mengalami hidrolisis di dalam lambung yang bersifat asam dan

menjadi flavonoid aglikon, dengan demikian senyawa flavonoid dalam bentuk

aglikon perlu diperoleh, dan diuji aktivitasnya.

7
B. TUJUAN PENELITIAN

1. Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah mengisolasi senyawa kimia yang

terdapat pada daun kepel yang merupakan tanaman asli Indonesia dan

melakukan eskplorasi aktivitas antihiperurisemia dengan melakukan uji aktivitas

penghambatan enzim xantin oksidase dan uji aktivitas antioksidan dengan

menggunakan DPPH.

2. Tujuan Khusus

Penelitian ini mempunyai tujuan khusus sebagai berikut:

a) Mengisolasi aglikon flavonoid melalui hidrolisis glikosida ekstrak etanolik

dalam daun kepel.

b) Menentukan struktur aglikon flavonoid yang diisolasi dari ekstrak etanolik

daun kepel.

c) Mengetahui aktivitas aglikon flavonoid terisolasi dalam menghambat

enzim xantin oksidase dan menetapkan IC50nya.

d) Mengetahui aktivitas penangkap radikal bebas DPPH dari aglikon

flavonoid yang diisolasi dari ekstrak etanolik daun kepel dan menetapkan

IC50nya

e) Mengetahui hubungan antara kandungan flavonoid total dan aktivitas

penghambatan xantin oksidase dari FK, FEA dan EE daun kepel

f) Mengetahui hubungan antara kandungan flavonoid total dan penangkap

radikal bebas DPPH dari FK, FEA dan EE daun kepel