You are on page 1of 1

the south coast of Java area which is known as barrend land and has no economic value for agricultural

land, this area has big potential for aquaculture like shrimp farm, and from 2001 pilot project shrimp
farm expanded to two districts in Central Java namely Kebumen Districts and Purworejo Districts (Dwi,
2017). Based on data from Kebumen Regional Agency for Integrated Licensing Services Investment
Board, in 2016 there were 300 shrimp farms scattered in several sub-districts and villages
(http://www.kebumenekspres.com/2016/).

As one of the activities in the coastal mainland, pond fishery management are often lack of attention
about natural resources capabilities with preservation of ecosystems and environment (Yustiningsih,
1996, dalam Libriyanto, 2008). Feeding rate used in shrimp ponds generate organic waste that can pollute the
aquatic system (Hongsheng et al, 2008 dalam Fahrur et al, 2016).

According to the Decree of the Minister of Maritime Affairs and Fisheries No: Kep. 28/MEN/2004 about
general instruction shrimp cultivation in ponds, some parameters that require management BOD, NH3 dan PO4. The
planned processing alternatives in this pre-designed consist of Sequencing Batch Reactor, anaerobic biofilter,basin
of water collectors that functions as well chlorination tub and mud dryer tub.

The test results of characteristics of shrimp pond wastewater parameters BOD5 : 152,87 mg/L, NH3 : 25,25 mg/L ,
PO4-3 : 1,0578 mg/L with processing capacity 325 m3/day requires land area 232,41 m2 and Calculation of the cost
budget plan based on the price of the work unit (HSPK) Kebumen Region 2016 generate a total cost of Rp.
328.951.329,-

Kata Kunci : shrimp pond wastewater, Waste Water Installation, Sequencing Batch Reactor (SBR), anaerobic
biofilter

Kawasan Pantai Selatan Jawa yang selama ini dikenal sebagai tanah gersang dan dianggap tidak ekonomis untuk
lahan pertanian, mempunyai potensi besar bagi budidaya air (aquaculture) seperti pertambakan udang, dan mulai
tahun 2001 pilot project tambak udang diperluas ke wilayah dua kabupaten di Jawa Tengah yaitu Kabupaten
Kebumen dan Kabupaten Purworejo (Dwi, 2017). Berdasarkan data Badan Penanaman Modal Pelayanan Perizinan
Terpadu (BPMPPT) Kabupaten Kebumen, pada tahun 2016 terdapat 334 tambak udang yang tersebar di beberapa
kecamatan dan desa (http://www.kebumenekspres.com/2016/).

Sebagai salah satu kegiatan di wilayah daratan pesisir, pengelolaan perikanan tambak seringkali kurang
memperhatikan kemampuan sumber daya alam serta pelestarian ekosistem dan lingkungannya (Yustiningsih, 1996,
dalam Libriyanto, 2008). Pakan yang digunakan dalam tambak udang menghasilkan limbah organik yang
mencemari perairan. (Hongsheng et al, 2008 dalam Fahrur et al, 2016).
Menurut Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No: Kep. 28/MEN/2004 tentang pedoman umum
budidaya udang di tambak, beberapa parameter yang memerlukan pengolahan adalah BOD, NH 3 dan PO4. Alternatif
pengolahan yang direncanakan pada pra-rancangan ini terdiri dari Sequencing Batch Reactor, anaerobic biofilter,
bak pengumpul akhir yang sekaligus berfungsi sebagai bak klorinasi serta bak pengering lumpur.
Hasil uji karakteristik air limbah tambak udang untuk parameter BOD 5 : 152,87 mg/L, NH3 : 25,25 mg/L ,
PO4-3 : 1,0578 mg/L dengan kapasitas pengolahan 325 m3/hari diperlukan luas lahan 232,41 m2 dan Perhitungan
Rencana Anggaran Biaya (RAB) berdasarkan Harga Satuan Pokok Kerja (HSPK) Kabupaten Kebumen 2016
didapatkan total biaya yang dibutuhkan sebesar Rp. 328.951.329,-

Kata Kunci : air limbah tambak udang, IPAL, Sequencing Batch Reactor (SBR), anaerobic biofilter