You are on page 1of 19

REPORT ONE HEALTH

AVIAN INFLUENZA

Disusun oleh:
Nurul Ayu Utami (030.12.198)

Moh. Almuhaimi (030.12.169)

Nabily Maudy Salma (030.13.131)

KEPANITERAAN KLINIK
ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS KESEHATAN MASYARAKAT
PERIODE 4 JUNI 2018– 25 AGUSTUS 2018
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
BAB I
PENDAHULUAN

Akhir akhir ini avian influenza atau lebih dikenal sebagai “flu burung”,
khususnya virus H5N1 yang sangat patogen, telah menyita perhatian dunia.
Penyebaran penyakit ini begitu cepat di antara unggas serta dapat menular ke
manusia dengan dampak mortalitas yang tinggi, membuat masyarakat dunia
menjadi gelisah. Penyakit avian influenza (Flu burung) adalah suatu penyakit
hewan menular yang bersifat akut, yang disebabkan oleh virus influenza tipe A sub
tipe H5N1, yang umum menyerang unggas dan dapat juga menular pada hewan lain
seperti kucing, anjing, dan sapi serta dapat pula menular dari unggas kepada
manusia ( bersifat zoonosa ).(1)
Wabah penyakit avian influenza (H5N1) pertama kali ditemukan pada tahun
1997 di Hongkong, Di Indonesia, avian influenza mulai berjangkit di beberapa
propinsi pada akhir tahun 2003. Berdasarkan diagnosis klinis, epidemioogis dan uji
laboratoris yang dilakukan, diketahui bahwa wabah penyakit avian influenza di
Indonesia disebabkan oleh Virus Influenza tipe A unggas yaitu dari sub tiope H5N1
yang tergolong Highly Pathogenic Avian Influenza. Burung liar/migratory
waterfowl merupakan reservoir alamiah virus avian influenza di dalam saluran
cernanya dan tidak menimbulkan gejala penyakit. Lain halnya dengan burung
peliharaan, ternak domestik termasuk ayam dan kalkun sangat rentan terhadap virus
ini sampai menimbulkan kematian.(2)
Gejala penyakit bervariasi dari ringan sampai berat. Bila virus avian
influenza yang patogenitasnya rendah berulang kali menginfeksi ternak, maka ia
akan bermutasi menjadi sangat patogen dan dapat menular ke manusia yang
kemudian menyebabkan epidemi flu burung.(3)
Pada kesehatan manusia, penyakit avian influenza ( flu burung ) ini telah
dinyatakan sebagai suatu Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh Menteri Kesehatan RI
melalui Surat Keputusan No. 1371/Menkes/Per/IX/2005 tentang penetapan flu
burung (avian influenza) sebagai penyakit yang dapat menimbulkan wabah dan
pedoman penanggulangannya.(2)

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. Definisi
Penyakit avian influenza ( flu burung ) adalah suatu penyakit menular
yang disebabkan oleh virus influenza tipe A yang ditularkan oleh unggas,
misalnya ayam, bebek, burung, angsa, kalkun, atau unggas sejenis. Sebenarnya
penyakit flu burug merupakaan penyakit pada hewan (zoonosis). Akan tetapi,
dalam perkembangannya virus penyebab penyakit ini mengalami mutasi yang
mengakibatkan virus ini dapat ditularkan kepada manusia.(4)

II. Etiologi
Virus avian influenza termasuk famili Orthomyxoviridae dengan
genus influenza yang terdiri dari 3 tipe yaitu: A, B dan C. Virus avian influenza
merupakan virus RNA yang single-stranded. Genomnya terdiri dari 8 segmen
yang mengkode 10 protein. Diameter virus sekitar 80 X 120 nm. Karakteristik
virus ini berkapsul yang mengandung glikoprotein dan merupakan antigen
permukaan. Terdapat 2 jenis protein permukaan yaitu hemaglutinin (HA) dan
neuraminidase (NA). Hemaglutinin bersifat mengaglutinasi sel darah merah dan
berfungsi untuk melekat, menginvasi sel hospes dan kemudian bereplikasi.
Nueraminidase merupakan suatu enzim untuk memecahkan ikatan partikel virus
sehingga virus baru terlepas dan dapat menginfeksi sel baru yang lain.(5)
Di antara ketiga tipe virus influenza ini, hanya tipe A yang
mempunyai subtipe paling banyak, terdiri dari H1 sampai tipe A cepat
bermutasi karena antigennya bersifat drift dan shift. Antigenic shift terjadi
karena terdapat perubahan mayor pada protein HA maupun Na melalui genetic
reassortment. Bila 2 virus yang berbeda dari 2 hospes berbeda menginfeksi
hospes ke 3, misalnya babi, maka akan timbul subtipe virus baru yang mampu
menginfeksi hospes lain termasuk manusia dan tidak dikenal oleh sistem imun
hospes . Perubahan ini terjadi secara mendadak sehingga dalam waktu singkat
dapat mengenai sejumlah besar populasi yang rentan sehingga timbul pandemi.
Antigenic shift hanya terdapat pada virus influenza A. Antigenic drift

3
merupakan perubahan minor pada komposisi antigen akibat misens mutation.
Meskipun terjadi perubahan struktur antigen, tetapi fungsinya masih sama.(6)
Adanya subtipe disebabkan perbedaan kedua jenis antigen HA (H1–
H16) dan NA (N1–N9). Kombinasi yang berbeda antara HA dan NA akan
membentuk subtipe yang berbeda beda. Hingga saat ini hanya beberapa subtipe
virus influenza A yang menimbulkan penyakit pada manusia yaitu H1N1,
H1N2 dan H3N2. Semua subtipe virus influenza A dapat menginfeksi burung
dan ternak, tetapi hanya subtipe H5 terutama H5N1 dan H7N7 yang sangat
patogen dapat menginfeksi manusia serta menimbulkan wabah flu burung yang
berbahaya.(7)
Virus influenza tipe B hanya memiliki variasi antigenic drift, sering
menimbulkan epidemi dan hanya menginfeksi manusia. Virus influenza tipe C
memiliki antigen yang stabil sehingga menyebabkan penyakit influenza ringan
dan hanya menginfeksi manusia.(1,4)

III. Epidemiologi
Pertama kali virus avian influenza ditemukan pada tahun 1878 di Itali,
menyebabkan epidemi penyakit Fowl Plague pada berikutnya, di Amerika
Serikat pada tahun 1983-1984 yang menimbulkan kematian sekitar 17 juta
Sebelumnya virus avian influenza hanya menyerang kelompok unggas. Baru
pertama kali pada tahun 1997 di Hong Kong terjadi wabah flu burung yang
disebabkan virus avian . nfluenza H5N1 yang patogen. Ketika itu telah terjadi
penularan virus H5N1 dari spesies unggas ke manusia. Wabah flu burung
tersebut menyebabkan enam penderita meninggal dari 18 kasus flu burung.
Kini virus H5N1 terbukti dapat menginfeksi babi, harimau, macan tutul dan
kucing . Pada Februari 2003 virus avian influenza A subtipe H7N7 mulai
menyerang daratan Eropa terutama Belanda.(8)
Wabah flu burung ini mengakibatkan seorang meninggal dunia dari
89 penderita. Pada akhir tahun 2003 sampai awal tahun 2004, wabah flu
burung yang disebabkan virus H5N1 kembali merebak di berbagai negara Asia
meliputi Korea Selatan, Jepang, China, Vietnam, Thailand, Kamboja dan Laos.
Sedikitnya 100 juta ternak ayam telah dimusnahkan untuk menghentikan

4
penularan. Wabah ini telah menginfeksi 35 orang dan mengakibatkan 24
penderita meninggal dunia. Kemudian wabah flu burung dengan cepat menjalar
ke beberapa negara Asia Tenggara lainnya termasuk Indonesia.(2,4)
Sejak kasus flu burung pertama di Indonesia yang mengakibatkan
meninggalnya seorang ayah beserta kedua anaknya pada pertengahan bulan
Juli 2005 lalu, tingkat kewaspadaan sistem surveilan ditingkatkan baik di
masyarakat maupun di institusi kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas dan
yang lainya.
Menurut laporan terakhir WHO, awal November 2005, data
kumulatif kasus avian influenza A (H5N1) yaitu 122 kasus, dengan 62
penderita meninggal. Prevalensi tertinggi flu burung terjadi di Vietnam,
terdapat 91 kasus, meninggal 41 penderita; disusul Thailand 20 kasus,
meninggal 13 penderita; Indonesia 7 kasus, meninggal 4 penderita dan
Kamboja terdapat 4 kasus yang keseluruhannya meninggal dunia.(8)

Gambar 2.1 Distribusi Global Negara Infeksi Japanese encephalitis.

5
IV. Penyebaran
Penyebaran virus avian influenza di kalangan unggas sangat cepat,
antara lain melalui air liurnya. Burung burung liar yang hidup di air merupakan
reservoar alam virus avian influenza di dalam saluran cernanya dapat
mentolerir infeksi virus ini. Burung burung liar yang suka bermigrasi sering
membuang kotorannya ke danau, kolam atau sungai sehingga bila unggas yang
hidup di darat, khususnya ayam dan bebek minum air yang terkontaminasi tinja
yang mengandung virus avian influenza, unggas tersebut akan sakit.(9)
Penyakit flu burung ditularkan ke manusia melalui beberapa cara,
antara lain kontak langsung dengan unggas atau ayam yang sakit, penularan
melalui udara yang tercemar virus avian influenza, kontak dengan air liur dan
kotoran ayam yang sakit. Penularan juga dapat melalui alat.
Penularan antara manusia ke manusia hingga saat ini belum terjadi.
Di masa mendatang penularan antar manusia mungkin saja terjadi karena
pengaruh mutasi atau terjadi rekombinasi materi genetik antara virus influenza
manusia dengan virus avian influenza. Hal ini akan menghasilkan jenis virus
baru yang sangat virulen, mudah menyebar dan dapat mengakibatkan pandemi
influenza.(3)

V. Patogenesis
Mutasi genetik virus avian influenza seringkali terjadi sesuai dengan
kondisi dan lingkungan replikasinya. Mutasi gen ini tidak saja untuk
mempertahankan diri akan tetapi juga dapat meningkatkan sifat patogenisitasnya.
Penelitian terhadap virus H5N1 yang diisolasi dari pasien yang terinfeksi pada
tahun 1997, menunjukkan bahwa mutasi genetik pada posisi 627 dari gen PB2 yang
mengkode ekspresi polymesase basic protein (Glu627Lys) telah menghasilkan
highly cleavable hemagglutinin glycoprotein yang merupakan faktor virulensi yang
dapat meningkatkan aktivitas replikasi virus H5N1 dalam sel hospesnya.
Disamping itu adanya substitusi pada nonstructural protein (Asp92Glu),
menyebabkan H5N1 resisten terhadap interferon dan tumor necrosis factor
(TNF- ) secara invitro.

6
Infeksi virus H5N1 dimulai ketika virus memasuki sel hospes setelah terjadi
penempelan spikes virion dengan reseptor spesifik yang ada di permukaan sel
hospesnya. Virion akan menyusup ke sitoplasma sel dan akan mengintegrasikan
materi genetiknya di dalam inti sel hospesnya, dan dengan menggunakan mesin
genetik dari sel hospesnya, virus dapat bereplikasi membentuk virion-virion baru,
dan virion-virion ini dapat menginfeksi kembali sel-sel disekitarnya. Dari beberapa
hasil pemeriksaan terhadap spesimen klinik yang diambil dari penderita ternyata
avian influenza H5N1 dapat bereplikasi di dalam sel nasofaring dan di dalam sel
gastrointestinal. H5N1 juga dapat dideteksi di dalam darah, cairan serebrospinal,
dan tinja pasien.(10)
Fase penempelan (attachment) adalah fase yang paling menentukan apakah
virus bisa masuk atau tidak ke dalam sel hospesnya untuk melanjutkan replikasinya.
Virus influenza A melalui spikes hemaglutinin (HA) akan berikatan dengan
reseptor yang mengandung sialic acid (SA) yang ada pada permukaan sel
hospesnya. Ada perbedaan penting antara molekul reseptor yang ada pada manusia
dengan reseptor yang ada pada unggas atau binatang. Pada virus flu burung, mereka
dapat mengenali dan terikat pada reseptor yang hanya terdapat pada jenis unggas
yang terdiri dari oligosakharida yang mengandung N-acethylneuraminic acid -
2,3-galactose (SA -2,3- Gal), dimana molekul ini berbeda dengan reseptor yang
ada pada manusia.(11)
Reseptor yang ada pada permukaan sel manusia adalah SA -2,6-galactose
(SA -2,6 Gal), sehingga secara teoritis virus flu burung tidak bisa menginfeksi
manusia karena perbedaan reseptor spesifiknya. Namun demikian, dengan
perubahan hanya 1 asam amino saja konfigurasi reseptor tersebut dapat dirubah
sehingga reseptor pada manusia dikenali oleh HPAI-H5N1. Potensi virus H5N1
untuk melakukan mutasi inilah yang dikhawatirkan sehingga virus dapat membuat
varian-varian baru dari HPAI-H5N1 yang dapat menular antar manusia ke
manusia.(10)

7
Virus H5N1

Penempelan (attachment) spike virion hemaglutinin
(HA) dengan reseptor spesifik yang mengandung sialic
acid (SA) di permukaan sel hospes

Virus H5N1 memasuki sel hospes

Virion menyusup ke sitoplasma sel

Mengintegrasikan materi genetik virus di dalam inti sel
hospes

Virus bereplikasi

Virus H5N1 dapat bereplikasi di dalam sel nasofaring, sel
gastrointestinal

Membentuk virion - virion baru dan Virion - virion baru
menginfeksi sel - sel sekitarnya

VI. Gejala Klinis

Masa inkubasi virus avian influ- enza A (H5N1) sekitar 2- 4 hari setelah
terinfeksi, namun berdasarkan hasil laporan belakangan ini masa inkubasinya bisa
mencapai antara 4-8 hari. Sebagian besar pasien memperlihatkan gejala awal

berupa demam tinggi (biasanya lebih dari 38o C) dan gejala flu serta kelainan

8
saluran nafas. Gejala lain yang dapat timbul adalah diare, muntah, sakit perut, sakit
pada dada, hipotensi, dan juga dapat terjadi perdarahan dari hidung dan gusi.
Gejala sesak nafas mulai terjadi setelah 1 minggu berikutnya. Gejala klinik dapat
memburuk dengan cepat yang biasanya ditandai dengan pneumonia berat, dyspnea,
tachypnea, gambaran radiografi yang abnormal seperti diffuse, multifocal, patchy
infiltrates; interstitial infiltrates; dan kelainan segmental atau lobular. Kematian
dan komplikasi biasanya disebabkan oleh kegagalan perna- fasan, acute
respiratory distress syn- drome (ARDS), ventilator-associated pneumonia,
pulmonary hemorrhage, pneumothorax, pancytopenia, Reye’ s syndrome, sepsis
syndrome, dan bakteremia (Gambaran lain yang juga sering dijumpai berdasarkan
hasil laboratorium adalah, leukopenia, lym- phopenia, thrombocytopenia, pening-
katan aminotransferase, hyperglyce- mia, dan peningkatan creatinine.(12)

VII. Diagnosis
Penderita yang terinfeksi H5N1 pada umumnya dilakukan pemeriksaan
spesimen klinik berupa swab tenggorokan dan cairan nasal. Untuk uji konfirmasi
terhadap infeksi virus H5N1, harus dilakukan pemeriksaan dengan cara :
 Mengisolasi virus
 Deteksi genom H5N1 dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR)
menggunakan sepasang primer spesifik.
 Tes imunoflouresensi terhadap antigen menggunakan monoklonal antibodi
terhadap H5.
 Pemeriksaan adanya peningkatan titer antibodi terhadap H5N1
 Pemeriksaan dengan metode western blotting terhadap H5-spesifik.
Untuk diagnosis pasti, salah satu atau beberapa dari uji konfirmasi tersebut
diatas harus dinyatakan positif.(4,13)
Selain itu diagnosis flu burung dapat ditentukan bila ditemukan adanya
indikasi leukopenia dibawah nilai normal, rekam foto thorax menggambarkan
pneumonia yang cepat memburuk pada serial foto rontgen,lalu dapat diketahui bila
dalam 7 hari sebelum terlihat gejala diatas, terindikasi pasien pernah:
 Terpajan (memegang, menyembelih, mencabuti bulu, memotong,
mempersiapkan untuk di konsumsi) dengan unggas (ayam, itik,

9
entok, burung liar, bangkai unggas, pupuk kandang atau terhadap
lingkungan yang tercemar oleh kotoran unggas, di dalam lokasi/
kawasan dimana infeksi H5N1 pada unggas/ hewan atau manusia
telah dicurigai atau dikonfirmasi dalam masa 1 bulan terakhir.
 Kontak erat dalam jarak 1 meter, seperti merawat, berbicara,
bersentuhan dengan pasien suspek, probabel atau penderita kasus
H5N1 yang sudah terkonfirmasi laboratorik.(14)
VIII. Pencegahan
1. Pada Unggas:

Pemusnahan unggas/burung yang terinfeksi flu burung 


Vaksinasi pada unggas yang sehat 


2. Pada Manusia: 
 Kelompok berisiko tinggi (pekerja peternakan dan pedagang):

Mencuci tangan dengan desinfektan dan mandi sehabis bekerja.

Hindari kontak langsung dengan ayam atau unggas yang

terinfeksi flu 
 burung. 


Menggunakan alat pelindung diri. (contoh : masker dan pakaian
kerja).

Meninggalkan pakaian kerja ditempat kerja. 


Membersihkan kotoran unggas setiap hari.(2) 


3. Masyarakat umum:
Menjaga daya tahan tubuh dengan memakan makanan bergizi &

istirahat 
 cukup. 


Mengolah unggas dengan cara yang benar, yaitu : Pilih unggas

yang sehat 
 (tidak terdapat gejala-gejala penyakit pada tubuhnya)

10
Memasak daging ayam sampai dengan suhu ± 800 °C selama 1

menit dan 
 pada telur sampai dengan suhu ± 640 °C selama 4,5

menit. 


Basuh tangan sesering mungkin, penjamah sebaiknya juga
melakukan disinfeksi tangan (dapat dengan alcohol 70%, atau

larutan pemutih/khlorin 
 0,5%untuk alat2/instrumen) 


Lakukan pengamatan pasif terhadap kesehatan mereka yang

terpajan dan 
 keluarganya. Perhatikan keluhan-keluhan seperti Flu,

radang mata, keluhan pernafasan.(1,15)

IX. Pengendalian Flu Burung
Berdasarkan Kementrian Kesehatan RI dalam buku “Rencana Strategis
Nasional dalam menangani flu burung” bahwa perilaku pencegahan atau upaya
pencegahan dan pengendalian terhadap reservoir penyebab flu burung dapat
dilakukan dengan:
a. Pengendalian penyakit pada hewan yaitu dengan cara(16)
 Melaksanakan depopulasi unggas secara selektif pada daerah
tertular
 Melaksanakan stamping out hewan/unggas pada daerah
tertular baru
 Memperketat penerapan biosekuritas pada kandang,
lingkungan dan sarana
 Meningkatkan pengawasan karantina hewan terhadap lalu
lintas media pembawa AI
 Melaksanakan Vaksinasi AI pada unggas
b. Penatalaksaan kasus pada manusia
 Pengadaan dan penyediaan obat antiviral
 Pelaksanaan rujukan kasus suspect dan confirm ke rumah
sakit rujukan

11
 Penyediaan sarana dan prasarana penanganan kasus di rumah
sakit
 Penyusun Standard Operating Procedure (SOP) penataan
kasus manusia
 Pelatihan tenaga kesehatan medis dan para medis

c. Perlindungan kelompok resiko tinggi
 Penyediaan alat pelindung diri (APD) pada petungas
peternakan, rumah sakit, dan laboratorium
 Perbaikan sanitasi lingkungan peternakan
 Peningkatan cara hidup sehat dengan unggas
d. Surveilans epidemiologi pada hewan dan manusia(17)
 Penyusunan dan pelaksanaan sistem surveilans terintegrasi
 Penyusuann dan pelaksanaan sisten kewaspadaan dini (SKD)
 Pengadaan prasarana dan sarana surveilans
 Peningkatan kuantitas dan kualitas SDM surveilans
 Menyusun sistem surveilans menghadapi pandemi Influenza
e. Komunikasi, informasi dan edukasi yaitu berupa penyuluhan
mengenai perilaku dan pola hidup sehat(2,18)
 Kemungkinan terjadinya penularan antar manusia pada
beberapa kasus sampai saat ini belum terbukti, namun
dengan adanya dugaan kluster yang terjadi seiring dengan
terjadinya kontak dengan pasien pada saat awal terjadinya
kasus yang akut. Penularan yang terjadi sangat terbatas dan
tidak mengarah pda penularan massal di lingkungan
masyarakat.
 Sehingga dipastikan sampai saat ini virus H5N1 tidak dengan
mudah menular dari manusia ke manusia.
 Pola hidup bersih dan sehat; jagalah kebersihan lingkungan,
perhatikan kebersihan diri dengan selalu mencuci tangan

12
menggunakan sabun/ desinfektan , jaga kebersihan peralatan
medik, peralatan makan di rumah tangga, gunakan alat
pelindung diri terutama masker pada saat berada di tempat
dimana banyak sumber infeksi atau dalam menangani kasus
ISPA atau ILI.
 Sistem kekebalan diri manusia tidak akan dapat menahan
infiltrasi virus sumber infeksi, untuk itu proteksilah diri
sendiri, keluarga, kerabat kerja dengan menghindarkan diri
dari populasi unggas atau kandang unggas yang kotor.
 Ingatlah bahwa sampai saat ini kita semua belum tahu pasti
dmana (port the entry) virus H5N1 masuk ketubuh manusia,
namun kita tetap wasppada agar dengan sifat virus yang
droplet bersama dengan partikel yang ada, tetap memiliki
peluang masuk melalui sistem pernafasan manusia.

X. Prognosis
Penyakit ini mempunyai spektrum klinis yang sangat bervariasi mulai dari
asimptomatik, flu ringan hingga berat, pneumonia dan banyak yang berakhir
dengan ARDS. Perjalanan klinis avian influenza umumnya berlangsung sangat
progresif dan fatal, sehingga sebelum sempat terpikir tentang avian influenza,
pasien sudah meninggal. Mortalitas penyakit ini hingga laporan terakhir sekitar
50%.(19)

13
ONE HEALTH APPROACH

Sumber Topik Tanggung Jawab Program Kebijakan

HEWAN

Unggas Pengendalian • Kementrian • Relokasi perternakan jauh dari • UU No.4 tahun
Kesehatan 1984 tentang
hewan reservoir pemukiman penduduk yang
• Kementrian penyait menular
Lingkungan hidup padat • UU NO.36 2009
• Kementrian Pertanian tentang kesehatan.
• Melaksanakan stamping out
• Nomor
hewan/unggas pada daerah 96/Kpts/PD.620/2/
2004
tertular baru

• Melaksanakan Vaksinasi AI
pada unggas.

14
MANUSIA Pencegahan dan • Kementerian • Partipasi masyarakat dalam • Permenkes RI No
Penularan Flu Kesehatan pengendalian flu burung 82 Tahun 2014
Burung • Sosialisasi dan advokasi cara tentang
pencegahan flu burung pada penanggulangan
manusia. penyakit menular
• Permenkes RI No.
1371/Menkes/Per/I
X/2005
• Permenkes RI No.
1372/Menkes/Per/I
X/2005

15
Penanggulangan Kementerian Kesehatan • pemantauan surveilans • Permenkes RI No.
Flu burung epidemiologi di seluruh 45 tahun 2014
Indonesia untuk mendeteksi tentang
ada tidaknya kasus flu burung penyelenggaraan
pada manusia sedini mungkin. surveilans
• Peningkatan kewaspadaan dan kesehatan
kesiapsiagaan jajaran karantina • UU No. 7 tahun
kesehatan di indonsesi. 2006
• Pembentukan tim
penanggulangan flu burung
pada manusia berkoordinasi
dan bekerjasama dengan
departemen pertanian dan
organisasi kesehatan pada
manusia.

16
LINGKUNGAN Pengendalian • Kementerian • Menjaga kebersihan lingkungan • Permenkes RI No
reservoir flu kesehatan pemukiman dan peternakan 82 Tahun 2014
burung dengan • Kementerian • Modifikasi tempat peternakan tentang
pendekatan lingkungan unggas penanggulangan
lingkungan hidup penyakit menular

17
BAB III
LAPORAN PENYULUHAN

Waktu :
Tempat :
Target : Kepala Puskesmas Kecamatan Jagakarsa, Pemegang program
Kesehatan Lingkungan Puskesmas Kecamatan Jagakarsa, Pemegang
program Kesehatan Ibu dan Anak, Kepala Kelurahan, Perwakilan
Kelurahan, Kepala RW, Kepala RT, Kader, Warga.
Materi : Avian Influenza (Flu Burung)
Tujuan : Meningkatkan pengetahuan mengenai Avian Influenza (Flu Burung)
Media : Komunikasi interaktif dan materi presentasi (flip chart), booklet
panduan Avian Influenza (Flu Burung)
Isi Penyuluhan :- Pengertian Avian Influenza (Flu Burung)
- Penyebab Avian Influenza (Flu Burung)
- Cara penularan Avian Influenza (Flu Burung)
- Kelompok berisiko Avian Influenza (Flu Burung)
- Tanda dan gejala Avian Influenza (Flu Burung)
- Pencegahan Japanese Avian Influenza (Flu Burung)
- Pencegahan dengan pendekatan One Health
- Peran kader dalam penanggulangan Avian Influenza (Flu Burung)

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Zulkarnain M, Agustiono E, Setijanto H, Riana P, Argarini M, H. Y. Pedoman umum
pengendalian penyakit avian influenza (Flu Burung) dan Program Penanganannya. Jakarta.
2009.
2. Awadalla HI, El-Kholy NF. Human pandemic threat by H5N1 (avian influenza). African
Journal of Microbiology Research. 2014;8(5):406-10.
3. Ramadhany R, Setiawaty V, Wibowo HA, Lokida D. Proportion of infl uenza cases in
severe acute respiratory illness in Indonesia during 2008-2009. Medical Journal of
Indonesia. 2010 Nov;19(4):264-267.
4. Amendola A, Ranghiero A, Zanetti AR, Pariani E. Is avian influenza virus A (H5N1) a real
threat to human health?. Journal of preventive medicine and hygiene. 2015 Mar
18;52(3):107-110.
5. Bappenas. Rencana Strategis Nasional Pengendalian Flu Burung (Avian Influenza) dan
Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza 2006-2008. Jakarta: Kementrian Negara
PPN/Bappenas; 2005.
6. World Health Organization. Cumulative number of confirmed human cases of avian
influenza A (H5N1) reported to WHO, 2003– 2015. [Online] 2015 [updated 2015 Nov 13;
cited 2015 Des 11]; Available from: http:// www.who.int/influenza/human_animal_
interface/H5N1_cumulative_table_archives/ en/.
7. Charania NA, Martin ID, Liberda EN, Meldrum R, Tsuji LJ. Bird harvesting practices and
knowledge, risk perceptions, and attitudes regarding avian influenza among Canadian First
Nations subsistence hunters: implications for influenza pandemic plans. BMC Public
Health. 2014;14(1):1113.
8. Kurscheid J, Millar J, Abdurrahman M, Ambarawati IGAA, Suadnya W, Yusuf RP, et al.
Knowledge and Perceptions of Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) among Poultry
Traders in Live Bird Markets in Bali and Lombok, Indonesia. PloS one.
2015;10(10):e0139917.
9. Lin Y, Huang L, Nie S, Liu Z, Yu H, Yan W, et al. Knowledge, attitudes and practices
(KAP) related to the pandemic (H1N1) 2009 among Chinese general population: a
telephone survey. BMC Infectious Diseases. 2011;11(1):128.
10. Said RM, Thaha MR, Syafar M. KIE untuk Peningkatan Pengetahuan, Sikap, dan Praktik
Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Flu Burung di Kabupaten Gowa, Sulawesi
Selatan. Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional. 2010;5(1):23-28.
11. AbdelGhafar A-N, Chotpitayasunondh T, Gao Z, Hayden FG, Hien ND, De Jong MD, et
al. Update on avian influenza A (H5N1) virus infection in humans. New England Journal
of Medicine. 2008;358(3):261-273.
12. Yap J, Lee VJ, Yau TY, Ng TP, Tor P-C. Knowledge, attitudes and practices towards
pandemic influenza among cases, close contacts, and healthcare workers in tropical
Singapore: a cross-sectional survey. BMC Public Health. 2010;10(1):442.
13. Ameji O, Abdu P, Saidu L, Kabir J, Assam A. Awareness, knowledge, readiness to report
outbreak and biosecurity practices towards highly pathogenic avian influenza in Kogi
State, Nigeria. International Journal of Poultry Science. 2012;11(1):11-5.
14. Suartha N, Widana K, Anthara M, Wirata W, Sukada M, Mahardika G. Efektivitas
Penyuluhan terhadap Pemahaman Flu Burung. Majalah Ilmiah Peternakan, 2011; 14(1)
:22-27
15. Lestari SO, Zakianis Z, Sapta WA. Upaya Pencegahan Flu Burung Masyarakat di
Kabupaten Tangerang. Kesmas: Jurnal: Kesehatan Masyarakat Nasional. 2010;5(2):84-89.
16.

19