You are on page 1of 8

A.

Konsep Kebijakan Tarif

Tarif Pajak merupakan pranata hukum pajak sebagai alat kebijakan pemerintah
pusat atau daerah untuk mengatasi atau mencegah suatu perbuatan hukum yang dapat
menimbulkan kerugian dalam melaksanakan pemerintahan.
Tarif pajak yang tercantum dalam Undang-Undang Pajak memiliki empat
fungsi bergantung pada situasi dan kondisi penerapannya sebagi berikut.
1. Alat Politis
Tarif pajak dengan fungsi sebagai alat politis, kadang kala
digunakan dalam kampanye pilihan umum dalam bentuk janji-janji
politikus bila terpilih menjadi presiden. Berupaya untuk menurunkan
atau memberikan keringanan pajak kepada warga negara atau
penduduk dalam negara dalam masa pemerintahannya. Hal ini kerap
kali terjadi pada negara-negara maju yang menjadikan pajak sebagi
salah satu materi kampanye dari calon Presiden. Sebagai contoh,
Amerika Serikat dan Jepang.
2. Alat Pendorong Perekonomian
Tarif pajak yang berfungsi sebagaia alat pendorong di bidang
perekonomian berupaya agar wajib pajak dapat secara bebas
melakukan ekspor keluar negeri agar mampu bersaing dengan
pengusaha di luar negeri. Misalnya, pengenaan tarif pajak PPN sebesar
nol persen kepada pengusaha yang melakukan ekspor barang kena
pajak atau jasa kena pajak.
3. Alat Penunjang Pembangunan
Pembangunan yang diadakan selama ini tidak hanya terfokus pada
kota-kota maju melainkan dilaksanakan pula pada daerah-daerah
terpencil, kepadanya diberikan fasilitas perpajakan dalam jangka
waktu tertentu. Dalam arti, pengusaha itu tidak dikenakan pajak
sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang Pajak. Sebagai contoh,
pengusaha yang melakukan investasi di daerah-daerah terpencil tidak
dikenakan pajak penghasilan dan atau pajak bumi dan bangunan
perdesaan dan perkotaan.
4. Alat Pencegahan
Pemerintah pusat atau pemerintah daerah berupaya untuk memberi
kenyamanan kepada warganya dalam melakukan aktivitas mereka
sehari-hari. Oleh karena itu, diperlukan suatu tarif pajak yang bersifat
tinggi untuk mencegah perbuatan yang dapat merugikan. Sebagai
contoh, pengenaan tarif tinggi kepada kendaraan bermotor dengan tarif
progresif agar konsumsi masyarakat dalam kepemilikan kendaraan
bermotor dapat dibatasi agar tidak terjadi kemacetan lalu lintas.

Keempat fungsi tarif pajak tersebut, dalam perkembangannya dapat berubah
berdasarkan kemanfaatan pada saat itu. Hal ini bergantung pada kebijakan pemerintah
pusat atau daerah untuk memberi keadilan kepada warganya. Perubahan itu harus
dilakukan berdasarkan Undang-Undang Pajak sebagai bentuk perwujudan dari
kepastian hukum.
B. Tarif Pajak

Tarif Pajak adalah dasar pengenaan pajak terhadap objek pajak yang menjadi
tanggungannya. Tarif pajak biasanya berupa persentase (%).
Dasar Pengenaan Pajak adalah Nilai berupa uang yang dijadikan dasar untuk
menghitung pajak yang terutang.

Menurut Rismawati Sudirman, SE., M.SA. dan Antong Amiruddin, SE., M.Si
Tarif pajak ialah ketentuan persentase (%) atau jumlah (rupiah) pajak yang harus
dibayar oleh Wajib Pajak sesuai dengan dasar pajak atau objek pajak.
(2012:9)

Menurut Prof. Supramono, SE., MBA., DBA dan Theresia Woro Damayanti SE.
Tarif pajak adalah tarif yang dipakai untuk menentukan besarnya pajak yang harus
dibayar. Secara umum, tarif pajak dinyatakan dalam bentuk persentase.
(2010:7)

Menurut Dwi Sunar Prasetyono
Tarif pajak adalah Dalam pemungutan pajak harus ditetapkan terlebih dahulu jenis tarif
yang dipergunakan, karena tarif ini berhubungan erat dengan fungsi pajak, yaitu fungsi
butget dan fungsi mengatur.
(2012:31)

Secara struktural menurut tarif pajak dibagi dalam empat jenis yaitu :

1. Tarif proporsional(a proportional tax rate structure) yaitu tarif pajak yang
presentasenya tetap meskipun terjadi perubahan dasar pengenaan pajak.
Contoh:Pajak Pertambahan Nilai
2. Tarif regresif / tetap (a regresive tax rate structure) yaitu tarif pajak akan
selalu tetap sesuai peraturan yang telah ditetapkan
3. Tarif progresif (a progresive tax rate structure) yaitu tarif pajak akan semakin
naik sebanding dengan naiknya dasar pengenaan pajak. Contoh Pajak
Pengahsilan
4. Tarif degresif ( a degresive tax rate structure) yaitu kenaikan persentase tarif
pajak akan semakin rendah ketika dasar pengenaan pajaknya semakin
meningkat.
Tarif Pajak yang berlaku untuk Pajak Penghasilan di Indonesia adalah tarif progressif
sebagaimana diatur dalam Pasal 17 Undang-undang Pajak Penghasilan. Sedangkan
untuk Pajak Pertambahan Nilai berlaku tarif pajak proporsional yaitu 10%.

C. Dasar Pengenaan Pajak

Pengertian Dasar Pengenaan Pajak adalah dasar perhitungan PPN yang harus dibayar
setelah dikali dengan tarif PPN 10% yang harus dibayar. Apabila DPP-nya 100%
maka PPN-nya pasti 10%, namun bila DPP-nya 40% maka PPN-nya adalah 4%. Pasal
16 C UU No. 8 PPN Th. 1983 dan DPP-nya 10% maka PPN-nya adalah 1%. Misalnya,
penyerahan kendaraan bermotor bekas yang dijual melalui showroom dan bila
DPP-nya 5% maka PPN-nya adalah 0,5% (penyerahan anjak piutang).

Penulisan dasar pengenaan pajak harus ditegaskan apakah yang diserahkan/ditulis
dalam faktur pajak, BKP (Barang Kena Pajak) atau JKP (Jasa Kena Pajak). Kalau
yang diserahkan BKP maka DPP-nya adalah Harga Jual, sedangkan bila yang
diserahkan adalah JKP maka DPP-nya adalah Penggantian. Hal ini ditetapkan dalam
penulisan di faktur pajak yang harus dicoret dan mana yang tidak dicoret. Hal ini
jarang diperhatikan dalam praktik.

Berdasarkan Jenis-Jenis DPP
Berdasarkan jenis-jenis DPP maka DPP dibagi menjadi Harga Jual, Penggantian,
Nilai Iimpor, Nilai Ekspor, dan Nilai Lain.

1. Harga Jual: Harga Jual adalah nilai berupa mata uang, termasuk semua biaya
yang diminta atau seharusnya diminta oleh penj ual karena penyerahan BKP, tidak
termasuk pajak yang dipungut menurut UU No.8 PPN Th.1983 dan potongan
harga yang dicantumkan dalam faktur pajak.
2. Penggantian: Penggantian adalah nilai berupa uang termasuk semua biaya
yang diminta atau seharusnya diminta oleh pemberi jasa karena pe-nyerahan JKP
tidak termasuk pajak yang dipungut menurut UU No. 8 PPN Th. 1983 dan
potongan harga yang dicantumkan dalam faktur pajak.
3. Nilai Impor: Nilai Impor adalah nilai berupa uang, yang menjadi dasar
peng-hitungan bea masuk ditambah pungutan lainnya yang dikenakan berdasarkan
ketentuan dalam pengaturan perundang-undangan pabean untuk impor BKP, tidak
termasuk pajak yang dipungut menurut UU No. 8 PPN Th. 1983.
4. Nilai Ekspor: Nilai Ekspor sebagai dasar pengenaan pajak dirumuskan
sebagai nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya
diminta oleh eksportir. DPP atas ekspor BKP adalah Nilai Ekspor yang tercantum
dalam PEB yang telah difiat muat oleh DJBC.
5. Nilai Lain: Nilai lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan berdasarkan
KMK No. 251/KMK 04/02 tanggal 31 Mei 2002 terdiri dari:
 pemberian cuma-cuma dan pemakaian sendiri, yaitu penyerahan BKP dalam
bentuk sumbangan/hadiah dalam nama dan bentuk apa pun kepada pihak lain yang
tidak memiliki nama/NPWP/ alamat jelas dan bentuk pemakaian sendiri BKP milik
sendiri/ orang lain untuk kepentingan sendiri sama dengan harga jual/penggantian
dikurangi unsur laba yang diharapkan;
 media rekaman suara dan gambar dengan harga jual rata-rata;
 film cerita dengan harga jual rata-rata per judul film;
 anjak piutang sama dengan 5% x provisi service charge dan diskon;
 persedian BKP pada saat pembubaran perusahaan dengan harga pasar wajar;
 aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk di perjual belikan pada saat
pembubaran perusahaan, dengan harga pasar wajar;
 biro perjalanan dan pengiriman paket: 10% x invoice;
 biro pariwisata dengan 10% x jumlah tagihan;
 kendaraan bermotor bekas dengan 10% x harga jual;
 penyerahan BKP/JKP melalui pedagang perantara/juru lelang dengan harga
lelang;
 penyerahan BKP/JKP dari kantor pusat ke cabang atau sebaliknya dan antar
cabang: harga jual/penggantian dikurangi unsur laba yang diharapkan.
Catatan: Pemakaian sendiri yang bersifat produktif berdasarkan surat edaran Dir. Jen.
Pajak NO. SE.87/PJ/2002 tanggal 18 Februari 2002, tidak terutang PPN karena
dianggap tidak pernah terjadi penyerahan, sedangkan pemakaian sendiri yang bersifat
komsumtif, terutang PPN tapi PM nya tidak dapat dikreditkan.

Padagang Eceran Berdasarkan KMK No. 252/KMK. 04/2002
Tanggal 31 Mei 2002 Menteri Keuangan juga menetapkan pedoman pengkreditan
pajak masukan bagi PKP yang menggunakan norma penghitungan penghasilan bersih.

Di dalam keputusan ini Menteri Keuangan membagi 3 kategori, yaitu pedagang
eceran, PKP selain pedagang eceran dan penyerahan JKP. Bagi PKP pedagang eceran
yang WP orang pribadi dan dalam penghitungan PPh-nya menggunakan norma
penghitungan Ph bersih maka perlakuan PPN-nya hanya boleh mengkreditkan 80%
pajak masukan dari jumlah pajak keluaran BKP, sedangkan bagi PKP selain pedagang
eceran ditetapkan PM sama dengan 70% x PK dalam hal penyerahan BKP.

Dalam hal penyerahan JKP tidak ada perbedaan antara PKP pedagang dan PKP
pedagang eceran, yaitu PM sama dengan 40% x PK (JKP) WP badan tidak
diperkenankan mempergunakan pedoman ini. Demikian juga, PKP pedagang eceran
yang menyelenggarakan pembukuan hanya diperkenankan mengikuti petunjuk
penggunaan SPT masa PPN 1107 sepenuhnya sama, seperti PKP-PKP badan usaha
lainnya.

D. Macam macam Tarif Pajak

Tarif pajak yang besarnya harus dicantumkan dalam undang-undang pajak merupakan
salah satu unsur yang menentukan rasa keadilan dalam pemungutan pajak.

Penentuan besarnya suatu tarif adalah hal yang krusial dimana kesalahan persepsi
dalam penentuannya dapat merugikan berbagai pihak termasuk Negara.

Dalam pemungutan pajak, terdapat beberapa jenis tarif pajak yang dikenal,
antara lain:

1. Tarif Progresif (a progressive tax rate)
2. Tarif Proporsional (a proportional tax rate)
3. Tarif Degresif (a degressive tax rate)
4. Tarif Tetap (a fixed tax rate)
5. Tarif Advalorem
6. Tarif spesifik
7. Tarif Efektif
1. Tarif Progresif

Tarif progresif adalah tarif pemungutan pajak yang persentasenya semakin besar bila
jumlah yang dijadikan dasar pengenaan pajak juga semakin besar. Menurut kenaikan
persentase tarifnya, tarif progresif dapat dibagi menjadi 3, yaitu:

a. Tarif pajak Progresif Progresif
Tarif pajak Progresif Progresif adalah tarif pemungutan pajak dengan persentase yang
naik dengan semakin besarnya jumlah yang digunakan sebagai dasar pengenaan pajak,
dan kenaikan presentase untuk setiap jumlah tertentu setiap kali naik.

b. Tarif pajak Progresif Proporsional
Tarif pajak Progresif Proporsional adalah tarif pemungutan pajak dengan persentase
yang naik dengan semakin besarnya jumlah yang digunakan sebagai dasar pengenaan
pajak, namun kenaikan presentase untuk setiap jumlah tertentu tetap.

c. Tarif pajak Progresif Degresif
Tarif pajak Progresif Degresif adalah tarif pemungutan pajak dengan persentase yang
naik dengan semakin besarnya jumlah yang digunakan sebagai dasar pengenaan pajak,
namun kenaikan presentase untuk setiap jumlah tertentu setiap kali menurun.

Contoh tarif pajak progresif adalah tarif untuk Pajak Penghasilan Orang Pribadi
berdasarkan Pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008.

Tabel 7.1 Tarif Pajak Orang Pribadi berdasarkan Pasal 17 ayat (1) huruf a

0 Sampai dengan Rp50.000.000,00 tarif 5 %
Di atas Rp50.000.000,00 s.d. Rp250.000.000,00 tarif 15 %
Di atas Rp250.000.000,00 s.d. Rp500.000.000,00 tarif 25 %
Di atas Rp500.000.000,00 tarif 30 %

Dengan demikian, tarif pajak menurut pasal 17 Undang-Undang Nomor 36 Tahun
2008, pajak penghasilan wajib pajak orang pribadi dalam negeri tersebut termasuk
tarif progresif degresif.

2. Tarif Degresif

Tarif degresif merupakan kebalikan dari tarif progresif. Tarif degresif adalah tarif
pemungutan pajak yang persentasenya semakin kecil bila jumlah yang dijadikan dasar
pengenaan pajak semakin besar.

Namun, tidak berarti jika persentasenya semakin kecil kemudian jumlah pajak yang
terutang juga menjadi kecil. Akan tetapi malah bisa menjadi lebih besar karena
jumlah yang dijadikan dasar pengenaan pajaknya juga semakin besar.
Pajak yang terutang
Rp10.000.000,- x 15% = Rp1.500.000
Rp25.000.000,-x 13% = Rp3.250.000
Rp50.000.000,-x 11% = Rp5.500.000
Rp60.000.000,-x 10% = Rp6.000.000
Jumlah pajak terutang Rp16.250.000

3. Tarif Proporsional

Tarif proporsional tidak lagi dipengaruhi oleh naik turunnya dasar objek yang
dikenakan pajak, karena tarifnya telah berlaku secara sebanding. Tarif proporsional
adalah tarif pemungutan pajak yang menggunakan persentase tetap tanpa
memerhatikan jumlah yang dijadikan dasar pengenaan pajak.

Semakin besar jumlah yang dijadikan dasar pengenaan pajak, akan semakin besar
pula jumlah pajak terutang (yang harus dibayar). Tarif ini diterapkan dalam UU No.
18 Tahun 2000 (UU PPN dan PPnBM) yang menggunakan tarif proporsional sebesar
10%.

Pajak yang terutang
a. Rp15.000.000,- x 10% =Rp1.500.000,-
b. Rp25.000.000,-x 10% = Rp2.500.000,-
c. Rp40.000.000,-x 10% = Rp4.000.000,-
d. Rp60.000.000,- x 10% =Rp6.000.000,-

4. Tarif Tetap

Tarif tetap adalah tarif pemungutan pajak yang besar nominalnya tetap tanpa
memerhatikan jumlah yang dijadikan dasar pengenaan pajak. Tarif ini diterapkan
dalam UU No. 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai (BM). Dengan adanya PP No. 24
Tahun 2000, tarif yang digunakan adalah Bea Meterai dengan nilai nominal sebesar
Rp3.000,00 dan Rp6.000,00.

5. Tarif Advalorem

Tarif advalorem adalah suatu tarif dengan persentase tertentu yang dikenakan/
ditetapkan pada harga atau nilai suatu barang.

Misalnya PT XZY mengimpor barang jenis „A‟ sebanyak 1500 unit dengan harga per
unit Rp100.000,00. Jika tarif Bea Masuk atas Impor Barang tersebut 20%, maka
besarnya Bea Masuk yang harus dibayar adalah:

Nilai Barang Impor = 1500 x Rp100.000 = Rp150.000.000
Tarif Bea Masuk 20%, maka
Bea Masuk yang harus dibayar = 20% x Rp150.000.000
= Rp30.000.000
6. Tarif Spesifik

Tarif spesifik adalah tarif dengan suatu jumlah tertentu atas suatu jenis barang tertentu
atau suatu satuan jenis barang tertentu.

Misalnya PT ABC mengimpor barang jenis „Z‟ sebanyak 1500 unit dengan harga per
unit Rp100.000. Jika tarif Bea Masuk atas impor barang Rp10.000 per unit, maka
besarnya Bea Masuk yang harus dibayar adalah:

Jumlah Barang Impor = 1500 unit
Tarif Bea Masuk Rp10.000, maka
Bea Masuk yang harus dibayar = Rp10.000 x 1500
= Rp15.000.000

7. Tarif Efektif

Tarif efektif adalah tarif dimana jumlah pajak yang dibayarkan dibandingkan dengan
jumlah penghasilan yang diterima oleh Wajib Pajak.

Contoh: Tuan Andi mempunyai penghasilan kena pajak selama tahun 2008 sebesar
Rp750.000.000. Hitung besarnya pajak yang harus dibayar!

a. Dengan tarif progresif menurut UU No. 17 Tahun 2000
5% x Rp25.000.000 = Rp 1.250.000
10% x Rp25.000.000 = Rp 2.500.000
15% x Rp50.000.000 = Rp 7.500.000
25% x Rp100.000.000 = Rp 25.000.000
35% x Rp550.000.000 = Rp 192.500.000
Jumlah pajak terutang Rp 228.750.000

b. Dengan tarif efektif
228.750.000 x 100% = 30,5%
750.000.000

Jika tarif efektif 30,5% tersebut dikalikan penghasilan kena pajak, maka akan
dihasilkan jumlah pajak yang sama jika digunakan tarif progresif dalam
perhitungannya.