You are on page 1of 53

MAKALAH MANAJEMEN PRAKTIK KEDOKTERAN GIGI

SKENARIO 1

KELOMPOK 7

William (1206239895)
Liza Noah Febriana Marpaung (1206244365)
Keren Esterlita N (1206247562)
Zakia Amalia (1206207943)
Yolanda Bilynov (1206207666)
Hastinefia Putri (1206207823)
Novia Stephanie (1206238021)
Tahbis Gesti Nurhuda (1206207716)
Cristy Arianta Sitepu (1206256516)
Dela Medina (1206208025)
Siti Latifah Nuraini (1206239541)
Adira Putri W (1206239554)
Fidhianissa (1206207994)
Dwiseptia Nadiantari (1206240051)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS INDONESIA

2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga
makalah skenario mata kuliah Manajemen Praktik Kedokteran Gigi ini dapat diselesaikan
dengan baik.

Terimakasih kepada seluruh narasumber dan fasilitator mata kuliah Manajemen Praktik
Kedokteran Gigi secara khusus kepada drg. Ariadna Djais, M.Biomed, Phd selaku fasilitator
kelompok PBL 7 atas bimbingannya selama diskusi berlangsung diskusi dapat berjalan dengan
terarah sesuai dengan sasaran pembelajaran yang dimaksud.

Penyusun sadar makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu penyusun
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca agar makalah selanjutnya
dapat lebih baik lagi. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Depok, 3 September 2015

Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Jabaran Skenario

Dalam suatu pertemuan Asia-Pasific Conference on Oral Health 2020 towards Non-
Communicable Diseases (NCD) Risk Factor Approach (2 – 4 Agustus 2015) di Bangkok,
Thailand yang diinisiasi oleh WHO, terungkap bahwa ada perbedaan status kesehatan
gigidi negara-negara maju dan negara-negara berkembang dan bahkan teridentifikasi pula
pada wilayah perkotaan dan pedesaan. Indonesia melaporkan dengan sedikit data tentang
kesehatan gigi dan mulut. Sumber data yang dikelola oleh kementerian Kesehatan di
Indonesia masih banyak dipertanyakan tentang validitas dan reliabilitas sehingga
mempengaruhi ketepatan dalam menyusun kebijakan misal BPJS. Tidak adanya
surveilens epidemiologi oral menyebabkan strategi pemerintah dalam mengontrol
penyakit dan pelayanan kesehatan masyarakat tidak dapat dinilai keberhasilannya.
Namun banyak juga peneliti dan akademisi melakukan penelitian epidemiologi oral untuk
menilai secara spartial penyakit karies dan periodontal serta menilai berbagai intervensi
yang memberikan dampak pada kualitas hidup berdasarkan faktor-faktor demografi
individu atau saling berkaitan dan mempengaruhi status kesehatan gigi dan mulut
masyarakat, oleh karena itu mempelajari penyebaran penyakit gigi dan mulut berdasarkan
tempat dan waktu menjadi kunci untuk mengetahui besarnya masalah kesehatan gigi dan
mulut. Dengan demikian akan bisa menilai dimana status kesehatan gigi kita untuk
dibandingkan berdasarkan wilayah, negara, dan global untuk menilai besarnya masalah
kesehatan gigi yang sedang dihadapi. Demikian pula surveilans kesehatan gigi akan bisa
menilai seberapa jauh keberhasilan program kesehatan gigi.

1.2 Rumusan Masalah

1 Apa yang dimaksud dengan Non-Communicable Diseases (NCD)?
2 Apa itu status kesehatan gigi?
3 Apa saja kriteria yang dinilai dalam membuat status kesehatan gigi di suatu daerah?
4 Apa yang menyebabkan perbedaan status kesehatan gigi di berbagai daerah?
5 Apa itu validitas dan reliabilitas dan bagaimana cara mengujinya?
6 Bagaimana cara untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas suatu data?
7 Bagaimana melakukan surveilens epidemiologi oral?
8 Apa saja bentuk-bentuk penelitian epidemiologi oral?
9 Bagaimana kriteria surveilens epidemiologi oral yang baik?
10 Apa saja penyebab penyakit gigi dan mulut dan factor apa saja yang berkaitan
dengannya?
11 Bagaimana persebaran penyakit gigi dan mulut berdasarkan tempat dan waktu?
12 Bagaimana hubungan antara surveilens kesehatan gigi dengan penilaian keberhasilan
program kesehatan gigi?

1.3 Spiderweb
1.4 Hipotesis

Dengan adanya pengetahuan mengenai epidemiologi oral yang baik dapat menilai
besarnya masalah kesehatan gigi dan mulut di wilayah, Negara, dan global, sehingga
dapat menunjang keberhasilan program kesehatan gigi dan mulut

1.5 Sasaran Belajar

1. Definisi dan Tujuan Epidemiologi Oral

2. Konsep Epidemiologi oral berkaitan dengan determinan, faktor risiko, dan insidensi-
prevalensi

3. Tren Penyakit dan Kelainan Gigi dan Mulut di negara maju dan negara berkembang

4. Studi Deskriptif dan Studi Analitik

5. Kaitan Epidemiologi Oral dengan waktu, tempat, dan individu

6. Metode Surveilens dalam Epidemiologi Oral

7. Konsep penyakit dan kelainan mulut dengan index

8. Evaluasi dari berbagai strategi Program kesehatan gigi dan mulut

9. Etiologi dan penanggulangan penyakit-kelainan gigi dan mulut berdasarkan faktor
BAB II
PEMBAHASAN

1. Epidemiologi

A. Definisi:
Kata epidemiology berasal dari bahasa Yunani  epi “di atas/tentang”, demos “orang-
orang”dan logos “studi”
Epidemiologi dijelaskan oleh Last adalah studi distribusi dan determinan dari suatu
keadaan dan kejadian yang berkaitan dengan kesehatan dalam populasi tertentu, dan aplikasi
dari studi ini adalah untuk mencegah dan mengontrol masalah kesehatan. Para ahli
epidemiologi tidak hanya fokus dengan kematian, penyakit, dan ketidakmampuan, tapi juga
lebih ke keadaan kesehatan yang positif dan yang sangat penting dengan jalan untuk
meningkatkan kesehatan.
Definisi epidemiologi yang luas ini dapat dielaborasikan lebih lanjut sebagai berikut:
Term Penjelasan
Studi Termasuk di dalamnya: surveilans, observasi, tes
hipotesis, penelitian analitik dan eksperimen
Distribusi Merujuk kepada analisis: waktu, orang-orang,
tempat, kelas dari orang yang terkena (suatu
penyakit)
Determinan Termasuk di dalamnya faktor yang memengaruhi
kesehatan: biologis, ekonomi, genetik, dan perilaku
Health-related states dan kejadian Merujuk kepada: penyakit, penyebab kematian,
perilaku seperti penggunaan tembakau, status
kesehatan yang positif, reaksi terhadap upaya
pencegahan dan penyediaan dan penggunaan layanan
kesehatan
Populasi tertentu Termasuk di dalamnya mereka yang karakteristiknya
teridentifikasi, misalnya kelompok pekerja, dll
Aplikasi untuk pencegahan dan kontrol Tujuan untuk kesehatan masyarakat—untuk promosi,
perlindungan dan pemulihan kesehatan
B. Epidemiologi Oral

Dalam bidang epidemiologi, epidemiologi oral adalah satu-satunya subdisiplin yang
didefinisikan menurut bagian anatomi tubuh. Subdisiplin lainnya ditentukan oleh jenis
penyakit atau dengan patofisiologi penyakit atau proses lainnya. Sebagai contoh,
epidemiologi dapat didefinisikan berdasarkan penyakit atau hasilnya seperti epidemiologi
penyakit infeksi, epidemiologi penyakit kronis, epidemiologi penyakit kardiovaskular,
epidemiologi kanker, epidemiologi injuri, epidemiologi reproduksi, dan sebagainya. Atau
alternatif lain, epidemiologi dapat didefinisikan berdasarkan aplikasi atau eksposurnya
seperti epidemiologi lingkungan, epidemiologi kerja, epidemiologi nutrisi, epidemiologi
perilaku, dll. Perkembangan scientific dan sosioekonomi-politik telah menetapkan beberapa
area epidemiologi yang lebih jauh, seperrti epidemiologi penuaan, epidemiologi genetik,
epidemiologi molekular, epidemiologi perang dan bencana alam, epidemiologi perubahan
iklim, dan beberapa epidemiologi lainnya. Dalam seluruuh visi dan ruang lingkup,
epidemiologi telah menjadi ilmu yang sangat matang dan benar-benar ilmu interdisiplin.
Epidemiologi oral, berdasarkan definisi anatomi, kemudian mencakup seluruh
subdisiplin epidemiologi yang diterapkan pada regio orofasial.
C. Tujuan

Secara spesifik, epidemiologi digunakan untuk menemukan etiologi (penyebab)
suatu penyakit, mendefinisikan secara luas kejadian suatu penyakit, mempelajari progress
dari penyakit, menilai terapeutik intervensi, dan mengidentifikasi faktor modifikasi yang
dapat memberikan impact terjadinya penyakit.

2. Model Konseptual Epidemiologi

A. Determinan Kesehatan

Web of causation adalah model segitiga epidemiologi yang fokus mengenai faktor-
faktor yang bervariasi pada penyakit kronik, ketidakmampuan (cacat), dan luka. Hancock
membuat kerangka komprehensif ini untuk memudahkan dalam mengerti tentang faktor-
faktor kesehatan berupa mandala of health (model ekosistem manusia).
Lingkaran ini menggambarakan kesimetrian dan keutuhan. Setiap pertemuan pada
lingkaran ini menggambarkan faktor multipel dari kesehatan. Pada pusat tengah lingkaran
menggambarkan individu dengan kesehatan total dan kehidupan yang direpresentasikan oleh
integrasi pikiran, tubuh, dan jiwa. Di dalam komunitas global biosfer, individu bergantung
pada sistem yang lebih besar yaitu keluarga dan komunitas. Semua daerah pada model
tersebut dipengaruhi oleh budaya sekitar. Terdapat empat faktor yang mempengaruhi
kesehatan individu, keluarga, dan komunitas, yaitu lingkungan psikososioekonomi,
lingkungan physical, human biology, dan tingkah laku individu.

Determinan Kesehatan Individu dan Populasi
Faktor kesehatan memiliki efek pada status kesehatan individu, keluarga, komunitas,
negara, dan dunia. Faktor kesehatan adalah faktor yang berinteraksi membuat suatu keadaan
dan menghasilkan kondisi kesehatan spesifik. Faktor ini saling bersinergi dalam
mempengaruhi kesehatan individu walaupun tidak ada yang paling dominan. Faktor-faktor
tersebut antara lain yaitu, physical (environmental), biologic, behavioral, social, culture, dan
spiritual.
Klasifikasi faktor-faktor diatas:
1. Inherited determinants  faktor yang diturunkan atau bersifat herediter

2. Acquired determinants  faktor yang mempengaruhi kesehatan namun didapat setelah
lahir dan saat berlangsungnya kehidupan seperti infeksi, trauma, karakteristik kultural,
dan nilai spiritual.

Faktor-faktor lain:
Beberapa faktor dikategorikan sebagai faktor umum/luas mulai dari pekerjaan, pendidika,
lingkungan, makanan, pendapatan, norma sosial dan keadilan, keluarga, teman, kedamaian
dan keamanan, budaya dan hubungan ras. Faktor lainnya berupa bahasa, pembelajaran,
rekreasi, harga diri, dan control personal berkontribusi pada cara hidup individu.

B. Faktor Risiko

Faktor risiko merujuk pada aspek kebiasaan personal atau sebuah paparan lingkungan,
yang berhubungan dengan meningkatnya kemungkinan terjadinya penyakit. Karena faktor
risiko biasanya dapat dimodifikasi, intervensi untuk mengubah mereka dalam arah yang
menguntungkan dapat mengurangi kemungkinan terjadinya penyakit. Dampak dari
intervensi ini dapat ditentukan dengan tindakan berulang menggunakan metode dan definisi
yang sama.
Mengukur faktor resiko

Faktor resiko dapat termasuk penggunaan tembakau dan alcohol, diet, inaktifitas fisik,
tekanan darah, dan obesitas. Karena faktor risiko dapat digunakan untuk memprediksi
penyakit yang akan timbul, pengukurannya pada level populasi sangat penting.
Penggunaan tembakau dapat diukur melalui laporan langsung penggunaan/eksposur
(self-reported exposure) (ya/tidak) menggenai kuantittas rokok yang dikonsumsi, atau
melalui biological marker untuk mendeteksi faktor risiko atau hasil klinis (seperti diabetes
atau hipertensi). Sebagai tambahan, survey dapat hanya mewakili kelompok populasi kecil
dalam suatu Negara, wilayah atau kota. Perbedaan metode ini mengartikan sulit untuk
membandingkan hasil dari survey dan Negara yang berbeda.
Beberapa usaha sudah dilakukan untuk menstandarisasi metode pengukuran faktor
risiko untuk tingkat global, termasuk proyek WHO MONICA pada tahun 1980 dan 1990.
Baru- baru ini, pendekatan WHO STEPS untuk mengukur faktor risiko pada tingkat
populasi menyediakan metode dan material untuk menunjang Negara untuk mengumpulkan
data yang terstandarisasi.
Data dari Negara yang individual dapat disesuaikan untuk memperhitungkan bias yang
diketahui untuk membuat mereka sebanding secara internasional. Langkah ini juga
diperlukan karena Negara- Negara melaksanakan survey ini dalam waktu yang berbeda. Jika
tingkat faktor risiko berubah seiring berjalannya waktu, informasi dari tren yang berlaku
juga perlu disesuaikan untuk menyesuaikan data ke standar laporan tahunan.

Strategi global WHO dalam menentukan faktor risiko suatu penyakit (terutama penyakit
kronis) terdiri dari beberapa komponen:
- Identifikasi dan deskripsi faktor risiko (dengan definisi yang telah direkomendasikan
WHO)

- Koordinasi pengawasan terhadap faktor resiko berdasarkan prinsip ilmiah yang
sesuai dengan kebutuhan lokal, nasional, dan internasional.

- Teknik, material, dan peralatan yang termasuk dalam pelatihan pengawasan

- Strategi komunikatif yang efektif untuk memberikan dan menyediakan data untuk
mereka yang terlibat dalam perancangan kebijakan, program intervensi, penyandang
dana, dan masyarakat umum.
Berdasarkan pendekatan STEPS oleh WHO untuk mendapatkan data untuk menentukan
faktor risiko terdapat 3 tingkat penilaian faktor risiko
a. Step 1 – Penilaian berdasarkan kuisioner

Merupakan inti atau “set minimum”, pengukuran laporan pribadi yang harus
dilakukan semua Negara. Sebagai tambahan data sosio-ekonomi, data penggunaan
tembakau dn alcohol, beberapa pengukuran status nutrisional dan inaktivitas fisik
dimasukan sebagai marker dari status kesehatan kini dan yang akan datang.
Kuisioner yang digunakan dibuat sederhana dan sedikit dalam bentuk angka dan
tidak dimaksudkan untuk memberi gambaran penuh dari tiap kebiasaan melainkan
untuk memberi informasi mengenai risiko distribusi populasi.
b. Step 2 – Pengukuran fisik sederhana

Pengukuran fisik diantaranya tinggi, berat badang, lingkar pinggan, dan tekanan
darah. Step 1 dan 2 diperlukan khususnya untuk Negara berkembang.
c. Step 3 – Pengukuran biokimia

Setelah step 1 lalu step 2, informasi dari step 3 dapat ditambahkan. Akan tetapi,
tambahan informasi pada step tiga berupa biokimia dan memerlukan akses ke
laboratorium terstandarisasi yang layak.
C. Insidensi dan Prevalensi

Untuk melakukan penilaian dalam suatu keadaan penyakit, diperlukan perhitungan
angka untuk mengukur kemungkinan kejadian dalam populasi terhadap peristiwa
tertentu dimana besarnya peristiwa terjadi terhadap jumlah keseluruhan penduduk,
berlangsung dalam batas waktu tertentu.
INSIDEN
Pengertian: Gambaran tentang frekuensi penderita baru suatu penyakit yang ditemukan
pada suatu waktu tertentu di dalam satu kelompok masyarakat
Insiden berguna dalam epidemiologi deskriptif untuk menentukan
mereka/kelompok penduduk yang menderita dan yang terancam (berisiko). Biasanya
juga dijadikan alat pokok untuk mempelajari etiologi penyakit kronis dan akut serta
memberikan ukuran langsung dari angka pada individu dalam satu populasi yang
terjangkit.
Beberapa prinsip penggunaan angka insidens
1. Angka insidens dapat digunakan untuk mengestimasi probabilitas atau risiko terkena
penyakit selama satu periode waktu tertentu
2. Jika angka insidens meningkat, maka probabilitas risiko terkena penyakit juga
meningkat
3. Jika angka insidens secara konsisten lebih tinggi selama kurun waktu tertentu dalam
setahun (misal musim hujan), risiko terkena penyakit meningkat
4. Jika angka insidens secara konsisten lebih tinggi di antara mereka yang tinggal di suatu
tempat tertentu, risiko seseorang terkena penyakit menular akan meningkat jika tinggal
di tempat tersebut
Secara umum, insidens terbagi menjadi tiga:
a. Insidence rate (IR)
Jumlah penderita baru pada suatu penyakit yang ditemukan pada jangka waktu tertentu
(umumnya 1 tahun) dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mungkin terkena
penyakit baru tersebut pada pertengahan jangka waktu yang bersangkutan dalam persen.
Penghitungan ini dilakukan untuk mengetahui masalah kesehatan yang dihadapi, risiko
yang mungkin dihadapi, dan beban program kesehatan gigi dan mulut pada populasi
tersebut.
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎 𝑏𝑎𝑟𝑢
𝐼𝑅 = × 100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑢𝑑𝑢𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑢𝑛𝑔𝑘𝑖𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑗𝑎𝑛𝑔𝑘𝑖𝑡 𝑝𝑒𝑛𝑦𝑎𝑘𝑖𝑡

b. Attack Rate (AR)
Jumlah penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada suatu saat dibangingkan
jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit pada saat yang sama dalam
persen/mil. Angka ini dibutuhkan untuk mengetahui derajat serangan/penularann suatu
penyakit dalam populasi tersebut.
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎 𝑏𝑎𝑟𝑢 𝑠𝑢𝑎𝑡𝑢 𝑠𝑎𝑎𝑡
𝐴𝑅 = 𝑥 100 %
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑢𝑑𝑢𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑢𝑛𝑔𝑘𝑖𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑗𝑎𝑛𝑔𝑘𝑖𝑡 𝑝𝑒𝑛𝑦𝑎𝑘𝑖𝑡
c. Secondary Attack Rate
Jumlah pendertia baru suatu penyakit yang terjangkit pada serangan kedua
dibandingkan dengan jumlah penduduk dikurangi yang pernah terkena pada serangan
pertama dalam persen atau permil. Biasanya dihitung untuk suatu penyakit menular
serta populasi penduduk yang lebih kecil seperti keluarga. Angka ini dibutuhkan untuk
menghitung suatu penyakit menular dalam populasi kecil seperti keluarga.

PREVALENSI
Prevalensi adalah angka kejadian penyakit pada suatu populasi tertentu (population at
risk) dalam jangka waktu tertentu

Prevalensi = Jumlah penderita yang memiliki penyakit saat ini X 100%
Jumlah total penduduk

Beberapa faktor yang mempengaruhi prevalensi antara lain:
 Keparahan penyakit
Apabila banyak orang mengalami suatu penyakit meninggal dalam waktu singkat,
nilai prevalensi akan menurun
 Durasi terjadinya penyakit
Apabila penyakit hanya terjadi dalam periode waktu singkat, prevalensi akan lebih
rendah dibandingkan penyakit terjadi dalam waktu yang lama
 Jumlah kasus baru
Apabila angka kejadian meningkat (terjadi penambahan jumlah orang yang sakit),
prevalensi menjadi lebih tinggi.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prevalensi
Banyaknya faktor yang mempengaruhi prevalensi, mengakibatkan
ketidakmampuan prevalensi untuk menunjukkan evidence of causality yang kuat.
Namun, prevalensi tetap dapat digunakan untuk menentukan kebutuhan akan tindakan
preventif, perawatan, dan perencanaan pelayanan kesehatan.

Prevalensi Karies Di Indonesia
Hasil analisis sederhana deskriptif penderita karies gigi dan faktor-faktornya di
Indonesia diambil dari sumber Riskesdas tahun 2007-2013 dan Pusdatin serta Badan
PPSDM. Update data terakhir tahun 2013. Menurut Riskesdas 2013 terjadi peningkatan
prevalensi terjadinya karies aktif pada penduduk Indonesia dibandingkan tahun 2007
lalu, yaitu dari 43,4 % (2007) menjadi 53,2 % (2013).

Suatu peningkatan yang cukup tinggi jika dilihat dari kacamata besaran
kesehatan masyarakat. Terlebih jika kita konversikan ke dalam jumlah absolut
penduduk Indonesia. Data estimasi olahan Pusdatin tentang penduduk usia 15 tahun ke
atas sebesar 176.689.336 jiwa. Dari sejumlah itu jika hasil Riskesdas 2013
menunjukkan prevalensi 53,2 % mengalami karies aktif karies yg belum ditangani atau
belum dilakukan penambalan / Decay (D) > 0 tertangani), maka di Indonesia terdapat
93.998.727 jiwa yang menderita karies aktif. (sumber: http://www.kompasiana.com)

3. Studi Deskriptif dan Studi Analitik

A. Studi Deskriptif

Epidemiologi deskriptif memberikan deskripsi umum tentang distribusi dari suatu
penyakit dan/atau faktor yang berhubungan dengan penyakit tersebut pada suatu populasi
berdasarkan individu, tempat, dan waktu. Deskripsi tersebut bisa didapatkan dari data
baru maupun data yang sudah ada. Pada beberapa negara, studi ini dilakukan oleh pusat
statistik kesehatan nasional.
Deskripsi status kesehatan suatu komunitas merupakan langkah awal dari
investigasi epidemiologi untuk mengetahui suatu penyakit dan/atau pemaparan, serta
berguna untuk membentuk hipotesis tentang pemaparan dan hasil. Studi deskriptif yang
murni tidak menganalisis hubungan antara pemaparan dan efek. Perbedaan distribusi
penyakit/pemaparan dapat memberikan wawasan tentang kejadian, etiologi, dan
mekanisme suatu penyakit. Contohnya adalah pada kelompok penderita kanker, peneliti
harus mencari pemaparan yang mungkin berhubungan dengan penyakit kanker.

Kaitan Epidemiologi Oral dengan waktu, tempat, dan individu

Faktor individu yang biasanya termasuk ke dalam epidemiologi adalah umur, jenis
kelamin, ras/suku, kebiasaan/gaya hidup, nilai kebudayaan, edukasi, besar keluarga,
pekerjaan, pendapatan, kepemilikan asuransi, tahapan dalam hidup (bayi, anak-anak,
remaja, dewasa, orang tua, dan lain-lain).
Faktor tempat yang termasuk ke dalam epidemiologi adalah kelompok, zona
geografis persebaran penyakit/pemaparan, iklim, infrastruktur perkotaan/pedesaan, lokasi
pabrik, lingkungan kerja, serta kondisi sanitasi. Deskripsi faktor tempat yang akurat
penting dalam epidemiologi, terutama daerah yang terjadi perang atau bencana alam atau
daerah yang memiliki karakteristik khusus.
Faktor waktu merupakan faktor yang paling sulit dalam epidemiologi. Contohnya
adalah pada penelitian yang panjang dan memakan waktu hingga beberapa tahun/abad,
bisa terjadi bias dalam interpretasinya karena adanya pengetahuan baru seiring
berjalannya waktu, seperti perubahan definisi atau etiologi suatu penyakit, perubahan
kategori penyakit, terdapat penyakit baru, terdapat teknik diagnosis yang lebih baru dan
akurat, perubahan demografi, perubahan kondisi hidup, perubahan gaya hidup, dan lain-
lain.

B. Studi Analitik
Perbedaan
 Studi epidemiologi deskriptif: terbatas kepada deskripsi atau gambaran terjadinya
suatu penyakit di suatu populasi, biasanya langkah pertama dalam studi epidemiologi
 Studi epidemiologi analitik: menganalisis lebih lanjut data yang didapat dari studi
deskriptif, menganalisis hubungan antara status kesehatan dan variable lainnya

Epidemiologi analitik memungkinkan penilaian sistematik dari hubungan dan hipotesis.
Tujuan utama dari suatu penelitian epidemiologi analitik adalah menganalisis data dan
menguji suatu hipotesis. Terkadang dapat muncul hipotesis baru sebagai hasil dan studi
epidemiologi analitik.
Epidemiologi analitik menilai hubungan antara paparan, akibat atau hasil yang muncul,
dan berbagai faktor yang dapat mempengaruhi hubungan tersebut. Hubungan ini
diekspresikan dalam bentuk model matematik. Model yang paling umum memiliki
bentuk sebagai suatu persamaan (equation) dengan outcome factor di sebelah kiti dan
explanatory factor di sebelah kanan. Outcome factor merupakan variable dependen dan
explanatory factor merupakan variable independen. Kedua variable ini dapat bersifat
kontinus atau kategorikal dan single atau multiple.

Analisis univariate : mendeskripsikan detail statistik dari satu variable yang diteliti
Analisis multivariate : mendeskripsikan hubungan antara 2 (bivariate) atau lebih variable

Terminologi multivariate dan multivariable sering menimbulkan ambigu, sehingga
ditetapkan bahwa terminologi analisis atau model multivariable digunakan untuk analisis
yang memiliki satu variable dependent. Contohnya: modeling skor DMFT sebagai hasil
dari berbagai variable independent. Sedangkan, terminologi analisis atau model
multivariate digunakan untuk analisis yang memiliki lebih dari satu variable dependent.
Contohnya: modeling terjadinya 4 jenis penyakit; seperti oral candidiasis saja, oral hairy
leukoplakia saja, OC dan OHL, penyakit lainnya pada pasien yang terinfeksi dengan virus
HIV-1 sebagai hasil dari berbagai variable independent. Analisis multivariate belum
terlalu berkembang dalam bidang oral epidemiology.
4. Tren Penyakit dan Kelainan Gigi dan Mulut di negara maju dan negara
berkembang

Analisis Tren merupakan metode analisis yang ditujukan untuk mengestimasi atau
meramal keadaan pada masa yang akan datang dan melihat kecenderungan
perkembangan yang ada sebelumnya sehingga dapat digunakan sebagai data untuk
memprediksi dalam kurun waktu tertentu.
Sumber. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Departemen Kesehatan,
Republik Indonesia. Riset Kesehatan Dasar/ Riskesdas 2013

Berdasarkan tabel di atas, diketahui proporsi tertinggi masalah kesehatan gigi dan mulut
adalah pada usia produktif 35-44 tahun yaitu sebesar 30,5% dengan proporsi EMD 10,3%
dan 45-54 tahun sebesar 31,9% dengan proporsi EMD 10,6%. Proporsi EMD laki-laki
(9,1%) lebih tinggi dibandingkan perempuan (7,1%). Berdasarkan tempat tinggal,
proporsi EMD di daerah perkotaan (8,6%) lebih tinggi dibandingkan pedesaan (7,5%).
Selain itu, terdapat kecenderungan peningkatan proporsi EMD pada kelompok
pendidikan yang lebih tinggi (11,3%).

Sumber. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Departemen Kesehatan,
Republik Indonesia. Riset Kesehatan Dasar/ Riskesdas 2013
Tiga provinsi di Indonesia dengan masalah gigi dan mulut yang cukup tinggi (>35%)
adalah Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Tengah dengan masing-
masing EMD adalah 10,3%; 8%; dan 6,4%. Dapat dilihat bahwa yang mendapat effective
medical demand hanya 8,1% dibandingkan orang yang menerima perawatan oleh tenaga
medis hanya 31,1%.

Berdasarkan Grafik diatas diketahui bahwa jumlah masalah gigi dan mulut pada tahun
2013 lebih tinggi dibandingkan dengan pada tahun 2007. Selain itu juga jumlah
penduduk yang menerima perawatan dan EMD pada tahun 2013 meningkat dibandingkan
pada tahun 2007.
Tren Kesehatan Gigi dan Mulut di Negara Maju dan Berkembang
Gambar di bawah menunjukkan nilai DMFT dari kelompok usia 12 tahun berdasarkan
WHO pada tahun 2000.
Dapat terlihat bahwa tingkat karies di amerika tinggi sedangkan di afrika relative rendah.
Adanya perubahan kebiasaan hidup dapat diperkirakan bahwa insidensi karies dental di
afrika dapat meningkat, terutama diakibatkan oleh peningkatan konsumsi gula dan
paparan inadekuat dari fluoride.

Peta global DMFT yang pertama dibuat pada tahun 1969 menunjukkan prevalensi yang
tinggi terhadap karies di Negara maju dan nilai yang rendah di Negara berkembang.
Pada Negara maju, studi menunjukkan faktor utama penyebab penyakit periodontal pada
orang dewasa adalah merokok, dimana bertanggung jawab pada lebih dari setengah kasus
periodontitis dalam grup usia ini. Risiko berkurang ketika perokok berhenti, dan
prevalensi dari penyakit periodontal berkurang di Negara yang mengalami penurunan
pemakaian tobako.
Rerata insidensi dari oral cancer bervariasi pada pria dari 1-10 kasus per 100.000
penduduk di berbagai negara. Di asia, oral cancer menjadi salah satu dari 3 tipe cancer
tersering yang ditemukan.

Di Asia, rata-rata insidensi dari oral cancer per 100.000 populasi berkisar dari 0.7 di
China hingga 4.6 di Thailand serta 12.6 di India. Di Indonesia insidensi oral cancer pada
pria yaitu 1.5 dan wanita 1.0. Tingginya insidensi ini berkaitan langsung dengan risiko
kebiasaan seperti merokok, pengunaan smokeless tobacco, dan konsumsi alcohol. Di
Thailand, prevalensi merokok mencapai 60%, smokeless tobaco sebesar 15% sedangkan
konsumsi alcohol mencapai 35%.
Pada beberapa Negara berkembang, akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan mulut
dan gigi terbatas sehingga menyebabkan gigi tidak diobati atau diekstraksi akibat rasa
sakit/tidak nyaman. Diseluruh dunia, kehilangan gigi masih terlihat sebagai proses
normal akibat menua bagi sebagian orang. Berbeda halnya dengan Negara maju yang
memiliki berkurannya kehilangan gigi.

Noma umumnya diawali dengan ulserasi gingiva lokal dan menyebar secara cepat
melalui jaringan orofasial. Noma dapat terjadi akibat tidak adanya perawatan gigi yang
dilakukan. Selain itu, tingkat asupan gizi yang rendah, sanitasi yang buruk, tingkat
prevalensi penyakit infeksi yang tinggi, menjadi faktor pendukung meningkatkan risiko
terjadinya Noma. Sesuai data dari WHO, Afrika dan Asia menjadi benua yang paling
berisiko terjadi Noma karena perilaku penduduk yang belum sadar akan pentingnya
kesehatan gigi dan mulut, serta masih minimnya fasilitas kesehatan gigi dan mulut untuk
penduduk Asia dan Afrika bila dibandingkan dengan negara maju seperti di Amerika dan
Eropa.
5. Metode Surveilens dalam Epidemiologi Oral

Studi epidemiologi umumnya mengikuti tahapan yang disebut dengan
epidemiologic sequence. Tahapan ini meliputi :
1) Pengamatan dengan menghitung kasus dan kejadian
2) Menghubungkan kasus dan kejadian kepada populasi yang berrisiko
3) Membuat perbandingan
4) Mengembangkan hipotesa
5) Menguji hipotesa dan membuat kesimpulan ilmiah
6) Melakukan studi eksperimental
7) Intervensi dan evaluasi.

Epidemiologi menilai hubungan antara serangkaian kejadian yang didefinisikan
sebagai outcome dan determinan dari outcome tersebut. Outcome dari suatu studi dapat
menjadi determinan dalam studi yang lainnya. Sedangkan penyakit dapat menjadi
outcome pada suatu studi tetapi menjadi paparan pada studi lainnya. Beberapa hubungan
dapat terjadi antara berbagai faktor, tetapi tidak semua merupakan hubungan kausal.
Dalam epidemiologi, determinan penyakit seringkali disebut sebagai paparan yang dapat
menjadi faktor kausatif atau faktor protektif.

Epidemiologi analitik dapat menilai hubungan antara paparan dengan outcome
dan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi. Terdapat tiga macam studi pada metode
epidemiologi analitik ini, di antara lain :
a. Ecological
Studi ekologikal atau korelasional ini berguna untuk membuat hipotesis. Pada
penelitian ecological, unit analisis yang digunakan adalah populasi, bukan individu.
Data yang digunakan biasanya bukan data yang diambil khusus untuk penelitian
ecological yang sedang dijalankan, tetapi data yang sudah tersedia untuk kepentingan
atau tujuan lain (contoh: data yang diambil pemerintah tentang kualitas air tercemar;
penelitian yang dilakukan mengenai pengaruh konsumsi air tercemar polutan
terhadap terjadinya kanker).
 studi ecological dapat juga dilakukan dengan

membandingkan populasi pada tempat yang berbeda pada waktu yang sama atau
membandingkan populasi yang sama pada waktu yang berbeda. Kekurangan yang
dimiliki penelitian ecological yaitu dapat terjadinya ecological fallacy/bias karena
hubungan antar variabel yang telah diobservasi pada tingkat populasi belum tentu
mengambarkan hubungan yang sama pada tingkat individu. Kelebihan dari penelitian
ini adalah relatif mudah dilakukan dan membutuhkan biaya yang relatif murah
karena data yang dibutuhkan sudah tersedia.

b. Cross sectional
Penelitian cross sectional disebut juga penelitian prevalensi karena biasa digunakan
untuk mengukur prevalensi suatu penyakit. Penelitian hanya dilakukan pada satu
waktu, tanpa ada follow-up dan tanpa melihat time sequence dari suatu kejadian yang
diteliti sehingga hubungan sebab akibat antar variabel tidak dapat digambarkan.
Faktor penyebab tidak dapat diketahui dengan pasti apakah terjadi sebelum atau
sesudah terjadinya suatu efek. Jika faktor penyebab sudah diketahui terjadi sebelum
timbulnya suatu efek, data dari penelitian cross sectional dapat diperlakukan seperti
data yang dihasilkan dari penelitian cohort.

Penelitian cross sectional ini relatif mudah dan tidak mahal. Penelitian ini berguna
untuk menginvestigasi paparan yang merupakan akrakteristik pasti dari individu,
seperti etnis dan golongan darah. Data dari penelitian ini berguna untuk menilai
kebutuhan layanan kesehatan masyarakat. Data dari penelitian cross section secara
berulang dapat dijadikan indikasi tren.

c. Case control
Digunakan untuk meneliti penyebab dari suatu penyakit, terutama penyakit yang
jarang terjadi. Pada penelitian ini, subjek penelitian akan dibagi menjadi dua
kelompok yaitu kelompok kasus (case) dan kelompok kontrol (control). Kelompok
kasus terdiri dari subjek yang terjangkit penyakit dan kelompok kontrol terdiri dari
subjek yang bebas dari penyakit dan memiliki risiko terpajan faktor penyebab yang
sama dengan kelompok kasus. Perbandingan dilakukan antara kelompok kasus dan
kelompok kontrol mengenai faktor penyebab yang memungkinkan. Penelitian ini
melakukan analisis dengan arah waktu yang mundur ke belakang dari kejadian suatu
penyakit hingga penyebab dari penyakit tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini

terkadang disebut penelitian retrospektif.

Hubungan antara faktor penyebab dengan efek dapat diukur dengan menggunakan
odds ratio. Contohnya pada penelitian ‘Pengaruh Rokok terhadap Penyakit Kanker
pada Pria Usia >50 Tahun’, odds rationya bisa jadi 2 kali lebih berisiko pada
kelompok kasus (orang yang merokok) dibandingkan dengan kelompok kontrol
(orang yang tidak merokok).

Rumus dari odds ratio :
d. Cohort
Penelitian cohort disebut juga penelitian follow-up atau insiden. Sekelompok orang
yang terbebas dari penyakit dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan tingkat
pajanan terhadap faktor penyebab. Kemudian kedua kelompok tersebut dipantau
untuk dilihat perkembangan dari masing-masing kelompok.

Walaupun secara konsep terlihat sederhana, penelitian cohort membutuhkan usaha
yang besar dan terkadang waktu yang lama sejak dipaparkan terhadap penyebab

hingga timbul suatu efek.
 Tipe lain dari penelitian cohort yaitu penelitian historical

cohort. Data mengenai faktor penyebab dan efek sudah tersedia sebelum
dilakukannnya penelitian, contohnya dengan mengambil data dari rekam medik .
Secara teoritis, alur penelitian ini sama seperti penelitian cohort. Penelitian dimulai
dengan membagi subyek menjadi dua kelompok berdasarkan tingkat pajanan terhadap
faktor penyebab yang diketahui dari rekam medik. Namun karena seluruh kejadian
(terpapar faktor penyebab-terjadinya efek) sudah terjadi, maka peneliti hanya perlu
menganalisa tingkat risiko terjadinya suatu penyakit jika terpapar suatu faktor
penyebab. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan penelitian ini hanya sebatas
waktu yang diperlukan untuk mengumpulkan data dan menganalisanya.
6. Konsep penyakit dan kelainan mulut dengan index

Segitiga Epidemiologi
Tenaga kesehatan gigi yang terlibat dalam penilaian dan evaluasi harus memiliki
pengetahuan dan pengalaman yang baik terhadap konsep dasar epidemiologi, yang
merupakan inti dari ilmu kesehatan masyarakat.
Epidemiologi ialah studi tentang distribusi dan faktor-faktor yang mempengaruhi
kesehatan pada populasi tertentu dan aplikasi studi tersebut dalam mengontrol masalah
kesehatan.
Para epidemiologist meninjau interaksi dan hubungan antara faktor-faktor yang
mempengaruhi status dan masalah kesehatan. Mereka melakukan perbandingan melalui
pemeriksaan peristiwa yang terjadi, lokasi, waktu, dan variasi untuk menilai distribusi
dan determian dari healt events tersebut. Faktor-faktor utama dalam epidemiologi
adalah sebagai berikut :

Dgn adanya pengolahan mengenai epidemiologi oral yang baik maka dapat
memilih metode survelens dan indeks jenis yang sesuai untuk mengukur besarnya
masalah kesehatan gigi dan mulut

Epidemiologi didasarkan pada pandangan multifaktorial dengan pertimbangan
yang ditentukan oleh interaksi hubungan antara faktor host, agent, dan lingkungan.

Faktor Host (inang)
• Host dapat berupa manusia, hewan, atau tanaman.
• Merupakan faktor intrinsik yang mempengaruhi pemaparan individu, kerentanan
atau respon terhadap agen negatif.
• Faktor-faktor host yang dapat mempengaruhi host adalah umur, jenis kelamin,
status sosioekonomi, ras, etnis, gen, kebiasaan (merokok, mengkonsumsi obat-
obatan, kegiatan seksual, dan kebiasaan makan), status nutrisi, riwayat penyakit,
dan medikasi.

Faktor Agent
• Faktor agent merupakan faktor biologis atau mekanis yang menyebabkan
timbulnya penyakit, cidera, atau disability, seperti parasit, virus, bakteri patogen,
iritasi fisik dan mekanis, bahan-bahan kimia, obat-obatan, trauma, automobiles, dan
radiasi.

Faktor Lingkungan
• Adalah faktor ekstrinsik yang mempengaruhi agen dan oportunitas untuk
pemaparan.
• Secara umum, faktor lingkungan termasuk faktor fisik seperti geologi, iklim, dan
fisik sekitarnya (seperti rumah sakit); faktor biologi seperti serangga yang
menyebarkan agen; dan faktor sosial-ekonomi seperti keramaian, sanitasi, dan
ketersediaan pelayanan kesehatan.

Epidemiologic triangle menggambarkan penyakit sebagai hasil dari interaksi antara
faktor host, agent, dan lingkungan. Sebagai contoh, perkembangan dental caries
disebabkan oleh banyak faktor.

1. DMF
DMFT dan DMFS menjelaskan jumlah prevalensi karies pada seorang individu.
DMFT dan DMFS didapatkan dari menghitung ketiga komponen berikut:
a. Decay (D)
b. Missing (M)
c. Filled (F)
Sedangkan T adalah Teeth, dan S adalah Surfaces

DMF-T adalah indeks yang digunakan untuk menentukan jumlah pengalaman
karies gigi, banyaknya gigi yang dicabut, dan jumlah gigi yang telah dirawat.
Pencatatan DMF-T dilakukan dengan kriteria sebagai berikut.
a. Decay atau rusak
Mencakup jumlah gigi karies yang masih dapat direstorasi, termasuk di dalamnya
adalah karies sekunder dan tumpatan sementara. Terdapat jaringan enamel gigi
mengalami demineralisasi, berwarna keputihan atau kecoklatan dengan ujung
eksplorer menyangkut pada kavitas, karies dengan kavitas besar yang melibatkan
dentin, karies mencapai pulpa, karies terhenti, karies pada gigi yang terdapat
restorasi, dan mahkota tiruan yang rusak akibat karies. Tidak termasuk gigi yang
rusak karena trauma.

b. Missing atau hilang
Jumlah gigi yang telah atau harus dicabut karena karies. Tidak termasuk gigi yang
dicabbut karena impaksi atau perawatan orthodontic.

c. Filled atau ditumpat
Jumlah gigi yang telah ditumpat, termasuk di dalamnya gigi yang telah di PSA.

Cara menghitung DMFT/dmft adalah dengan menjumlahkan gigi yang termasuk
ke dalam kategori DMF/dmf. Cara menghitung DMFS/dmfs sama dengan DMFT,
namun perbedaannya pada DMFS/dmfs yang dijumlahkan adalah permukaan
giginya. Pada gigi posterior terdapat 5 permukaan (bukal, lingual/palatal, mesial,
distal dan oklusal) dan pada gigi anterior terdapat 4 permukaan (labial, lingual,
mesial, distal).
Skor kalkulasi DMFT adalah 0-28 atau 32 gigi tergantung dengan keberadaan gigi
8 dan skor kalkulasi DMFS adalah 0-128 atau 148 permukaan.

Skor DMF-T = Decay + Missing + Filling

Kriteria skor akhir DMF-T menurut WHO:
 Sangat rendah: 0-1,1
 Rendah: 1,2-2,6
 Sedang: 2,7-4,4
 Tinggi: 4,5-6,5
 Sangat tinggi: > 6,5.

Kekurangan DMFT
 Tidak dapat menggambarkan banyaknya karies yang sebenarnya. Karena jika
pada gigi tersebut terdapat 2 karies atau lebih, karies dihitung adalah tetap 1.

 Indeks DMF-T tidak dapat membedakkan kedalaman dari karies, misalnya karies
superficialis, media, profunda.

 Tidak valid untuk gigi yang hilang karena penyebab lain selain karies

 Tidak valid untuk pencabutan perawatan ortodonti

 Tidak dapat digunakan untuk karies akar.

2. SiC (Significant Caries Index)
Index ini digunakan untuk lebih terfokus pada kelompok dalam suatu populasi
yang memiliki prevalensi karies yang paling tinggi. Kriteria skor SiC sama
dengan DMFT. Cara menghitung SiC adalah sebagai berikut:

 Individu dalam populasi disortir berdasarkan skor DMFT nya

 1/3 dari populasi yang memiliki nilai DMFT tertinggi dipilih
 Rata-rata nilai DMFT untuk subkelompok ini dihitung dan diinterpretasikan
sebagai nilai SiC

3. PUFA
Indeks PUFA diciptakan pada tahun 2007 karena adanya kebutuhan akan indeks
baru yang dapat mengukur keparahan karies gigi. Indeks PUFA digunakan untuk
menilai keparahan karies gigi yang tidak ditangani dengan baik. Indek ini terdiri
dari beberapa komponen, yaitu:
a. P  pulpal involvement atau keterlibatan pulpa
b. U  Ulserasi; akibat gigi yang tepinya tajam atau fragmen akar yang
menyebabkan ulserasi traumatis pada mukosa disekitarnya
c. F  Fistula; terdapat salurang tempat keluarnya nanah/pus dan berhubungan
pada gigi dengan pulpa terbuka
d. A  Abses; terdapat pembengkakan pada gigi dengan pulpa terbuka yang
mengandung nanah/pus.
4. CPI (Community Periodontal Index)

Pada indeks ini dilakukan penilaian pada 2 indikator, yaitu perdarahan gingiva dan
poket periodontal. Instrumen yang digunakan untuk pemeriksaan indeks ini adalah
probe metal CPI yang memiliki bola berukuran 0,5 mm pada ujungnya serta black
band berjarak 3,5 mm dan 5,5 mm dan garis yang berjarak 8,5 mm dan 11,5 mm
dari ujung bola.
Pemeriksaan dilakukan dengan cara memasukkan probe CPI secara hati-hati ke
poket antara gingiva dengan gigi, kemudian aati ada atau tidaknya respons
perdarahan. Tekanan yang diberikan harus kurang dari 20 gr. Ujung bola harus
mengikuti konfigurasi anatomis dari permukaan akar. Jika subyek merasakan sakit
saat di-probing, maka ini merupakan indikasi bahwa tekanan yang diberikan terlalu
besar. Probing dimulai dari distobuccal ke mesiobuccal kemudian pindah dari
distolingual ke mesiolingual. Pengukuran poket periodontal tidak dilakukan pada
individu di bawah 15 tahun.
Sextant
Dalam mengukur index ini, rongga mulut dibagi menjadi sextants, yaitu: anterior
RA (13-23), posterior kanan RA (14-18), posterior kiri RA (24-28), anterior RB
(33-43), posterior kanan RB (44-48), dan posterior kiri RB (34-38). Sextant hanya
dapat diperiksa apabila terdapat 2 atau 3 gigi dan tidak indikasi untuk ekstraksi.
Index Teeth
Untuk subjek usia 20 tahun ke atas, gigi yang digunakan sebagai index teeth pada
sextant yaitu gigi I1 dan 2 molar yang dipasangkan (apabila satu gigi hilang,
tidak perlu diganti).
Jika gigi index tidak ada, maka semua gigi pada sextant tersebut harus diperiksa
dan gigi dengan skor tertinggi dicatat sebagai skor sextant.

Untuk subjek usia di bawah 20 tahun, gigi yang diperiksa hanya 6 gigi yaitu 16,
11, 26, 36, 31, dan 46. Modifikasi ini dibuat untuk mencegah screener menilai
sulcus dalam yang berkaitan dengan erupsi gigi sebagai poket periodontal. Dengan
alasan yang sama, khusus untuk pasien usia 15 tahun ke bawah , scoring poket
periodontal tidak perlu dilakukan .

Skor perdarahan gingiva:
0: tidak ada perdarahan
1: ada perdarahan
9: gigi dieksklusi
X: gigi tidak ada
Skor poket periodontal:
0: tidak ada poket
1: ada poket
9: gigi dieksklusi
X: gigi tidak ada

Skor Penilaian CPI (Malmo University)

0 : Jaringan periodontal sehat
1 : Terdapat perdarahan, baik langsung atau saat dilihat dengan kaca mulut
setelah probing
2 : Terdapat kalkulus saat probing, band hitam masih terlihat
3 : Terdapat poket sedalam 4-5 mm (band hitam pada probe tepat berada di
margin gingiva)
4 : terdapat poket sedalam 6 mm atau lebih (band hitam pada probe tidak
terlihat)
X : excluded sextant (karena terdapat < 2 gigi)
9 : Tidak dicatat

5. OHI

Oral Hygiene Index di dapat dari hasil penjumlahan indeks debris dan indeks
kalkulus setiap index dibagi menjadi 12 bagian yang mewakili jumlah debri dan
kalkulus pada bagian bukal dan lingual dari 3 bagian setiap lengkung rahang.
1. Segmen distal hingga cuspid regio kanan
2. Segmen distal hingga cuspid region kiri
3. Segmen mesial hingga bagian kanan dan kiri bicuspids
Kriteria Penklasfikasian Debris
0 : Tidak terdapat debris atau stain
1 : Terdapat soft debris menutupi gigi tapi tidak lebih dari 1/3 bagian permukaan
gigi atau terdapat ektrinsik stains tapi tanpa keterlibatan debris
2 : Terdapat soft debris menutupi gigi lebih dari 1/3 bagian permukaan gigi namun
tidak lebih dari 2/3 bagian permukaan gigi yang terlihat
3 : Terdapat soft debris menutupi gigi lebih dari 2/3 bagian permukaan gigi yang
terlihat

Debris Indeks = (Skor bukal + skor Lingual)/ Jumlah permukaan bukal dan
lingual yang diperiksa (12+9)/6 = 3.5
Kriteria Penklasifikasian Kalkulus

0 : Tidak terdapat kalkulus
1 : Kalkulus supragingival menutupi gigi tidak lebih dari 1/3 bagian permukaan
gigi yang terlihat
2 : Kalkulus suprangingival menutupi gigi lebih dari 1/3 bagian permukaan gigi
tapi tidak lebih dari 2/3 bagian permukaan gigi yang terlihat atau terdapat atau
terdapat sedikit kalkulus subgingival di bagian servikal gigi
3 : Kalkulus supragingival menutupi gigi lebih dari 2/3 bagian permukaan gigi yang
terlihat atau terdapat banyak kalkulus subgingival di bagian servikal gigi

Indeks Kalkulus = (Skor bukal + skor lingual ) / Jumlah permukaan bukal
dan lingual
6. OHI-S

Simplified Oral Hygiene Index / OHI-S memiliki perbedeaan dengan The Oral
Hygiene Index (OHI) yaitu perbedaan dalam pembagian segmennya. Pada OHI-S
pembagiannya segmennya dibagi menjadi 6 bagian. Namun kriteria penilainnya
sama dengan OHI yaitu terdapat dua kompnen yang terdiri dari debris index dan
kalkulus index, nilai index tersebut didapat dari penilaian jumlah kalkulus dan
debris dari permukaan gigi yang dipilih.
6 permukaan yang di periksa untuk OHI-S terdiri dari 4 gigi posterior dan 2 gigi
anterior.
- Untuk gigi posterior di pilih gigi yang sudah erupsi sempurna umumnya gigi
16 dan 26. Gigi molar tersebut diperiksa bagian bukal dan lingualnya
- Untuk gigi anterior dipilih gigi incisive satu umunya gigi 11 dan 31 atau 21
dan 41.
7. Silness-Loe

Index ini digunakan untuk menilai ketebalan debris dan deposit plak di sepanjang
gingival margin. Cara menghitung:
 Plak dihitung per permukaan gigi (4 permukaan meliputi buccal, lingual,
mesial, dan distal), dengan ketentuan sebagai berikut:
- 0 : Tidak ada plak

- 1 : Terdapat lapisan tipis plak pada margin gingival yang hanya bisa
di-scrape dengan probe

- 2 : Lapisan plak sedang di sepanjang margin gingival ; interdental
space bebas dari plak , plak terlihat oleh mata telanjang

- 3 : Lapisan plak tebal di sepanjang margin gingival; interdental
space terisi plak.

 Skor dari keempat area permukaan dijumlah dan dibagi 4 sehingga diperoleh
Plaque Index (PI) untuk setiap gigi.
 Pada index ini, hanya dipilih 6 gigi yaitu gigi 16, 12, 24, 36, 32, dan 44.
 Kemudian skor tiap gigi dijumlah dan dibagi 6.

7. Evaluasi dari berbagai strategi Program kesehatan gigi dan mulut

a. Definisi evaluasi
Merupakan proses membandingkan hasil yang telah dicapai dengan program yang sudah
direncanakan.

b. Manfaat evaluasi
- Mengidentifikasi strategi yang lebih baik untuk meningkatkan partisipasi dan
kepatuhan dalam pelaksanaan program.
- Untuk penilaian seberapa efektif berjalannya suatu program.
- Menjadi pengatur atau pedoman pelaksanaan program agar tidak terjadi
penyelewengan.
- Menilai hasil dan menentukan apakah suatu program perlu diubah atau tidak dan
menetukan program selanjutnya.
- Perbaikkan kebijakan yang dapat memperjelas sumber daya dan dana yang akan
dibutuhkan.
- Memberi pertanggungjawaban kepada penyandang dana dan pihak yang
berkepentingan.
- Sebagai pembelajaran dan acuan untuk program lanjutan atau waktu berikutnya.

c. Jenis-jenis evaluasi
- Evaluasi formatif : dilaksanakan pada tahap awal program, dilakukan saat
merencanakan suatu program. Disebut need assesment study. Dilakukan saat
merencanakan suatu program. Bertujuan untuk meyakinkan bahwa rencana yang
disusun benar dan sesuai dengan masalah yang ditemukan atau kebutuhan
masyarakat.
- Evaluasi promotif : dilaksanakan pada tahap pelaksanaan saat program sedang
dijalankan. Bertujuan untuk mengukur apakah pelaksanaan program sesuai dengan
rencana dan menilai apakah ada penyimpangan. Ada dua bentuk evaluasi yaitu
pemantauan/monitoring dan penilaian berkala atau evaluasi periodik.
Monitoring Periodik
Frekuensi 2minggu-2bulan sekali 6-12 bulan sekali selama
selama pelaksanaan pelaksanaan
Pelaksana Internal Internal dan bisa juga dari
pihak eksternal
Tujuan Terbatas, perbaikkan Bersifat luas, revisi
beberapa penyimpangan program kerja.
- Evaluasi sumatif : dilaksanakan pada akhir program setelah program selesai
dilaksanakan. Bertujuan untuk mengukur keluaran/output (hasil langsung dan
bersifat jangka pendek) dan dampak atau outcome (bersifat jangka panjang).

d. Gambaran umum
Proses evaluasi melibatkan masyarakat yang diberikan program dan harus memerlukan
perencanaan yang matang mengenai tujuan yang diukur. Selama program berjalan,
maka evaluasi dapat dilakukan, caranya dengan membandingkan tujuan program
dengan hasil sesungguhnya yang telah dicapai.
Semua tujuan objektif dari metode-metode pencegahan yang dipergunakan dalam
program pencegahan harus dievaluasi. Evaluasi berperan dalam mengevaluasi apakah
macam metode yang dipakai sudah mencapai tujuan yang secara sukses melibatkan
dan memotivasi masyarakat yang diberi program pencegahan. Proses evaluasi dan re-
evaluasi perlu memakai kriteria dan indeks yang sama yang digunakan saat melakukan
survei awal perencanaan program.
Yang harus diperhatikan dalam membandingkan tujuan program dengan pencapaian
sesungguhnya, antara lain:
- Memeriksa kelompok umur yang sama pada awal survei dengan waktu saat
evaluasi.
- Jika memungkinkan gunakan kelompok kontrol, dan bandingkan dengan
kelompok yang diberikan program.
- Memakai tim yang sama.
- Memakai indeks yang sama.
- Mengulang aktivitas evaluasi tidak lebih dalam interval 5 tahun.

e. Edukasi kesehatan mulut
Edukasi kesehatan mulut saat ini lebih sulit dikontrol dan dievaluasi karena semakin
kompleks dan komprehensifnya aktivitas yang mempengaruhi. Oleh karena itu harus
dibuat komponen edukasi yang spesifik dan memadai untuk primary health care
sehingga sumber dan aktivitas-aktivitas edukasi dan dampaknya dapat dimonitor
serta dievaluasi. Dalam evaluasi, indikator kualitatif dan kuantitatif sama pentingnya,
kriteria evaluasi antara lain:
- Materi (validitas dan kelayakan)  apakah materi edukasi konsisten dengan bukti
ilmiah yang ada dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat?
- Proses (dapat diterima oleh penyelenggara dan kelompok sasaran)  apakah
masyarakat menggunakan tindakan pencegahan yang tersedia bagi mereka?
- Hasil (perubahan perilaku dan perubahan lainnya)  yang diharapkan dalam
edukasi kesehatan gigi dan mulut adalah perbaikkan tingkat kesehatan gigi dan
mulut dan kesehatan gigi dan mulut menjadi stabil. Tingkat kesehatan mulut dapat
ditentukan oleh indeks dental misal karies, periodontal dan lainnya.
Beberapa contoh dari evaluasi spesifik untuk edukasi kesehatan gigi dan mulut:
1. Konseling diet
- Membandingkan pola konsumsi makanan (misal gula) dimasyarakat sebelum
dan sesudah dilaksanakan program.
- Menetapkan adanya perubahan positif dalam komposisi dan kualitas
makanan.
- Mengukur penurunan penyakit mulut.
- Membandingkan biaya/pemakaian yang terkait dengan peningkatan
penyediaan bahan makanan dengan keuntungan ekonomi dan penurunan
tingkatan penyakit.
2. Instruksi kebersihan mulut
Indikator sederhana untuk mengukur kebersihan mulut bisa indeks plak, debris
dan kalkulus yang diterapkan sebelum dan sesudah dijalankannya program.
Indikator tambahan lain, bisa seperti:
- Data statistik  menunjukkan berapa banyaknya edukasi (ceramah, booklets,
brosur, dll) yang tersedia di masyarakat.
- Data yang menunjukkan berapa banyak orang, kelompok orang yang terlibat
dalam program kebersihan mulut pada tingkatan yang berbeda.
- Jumlah sikat gigi, pasta gigi, obat kumur yang dipergunakan dalam suatu
komunitas.
- Kecenderungan dalam kesehatan mulut atau penyakit mulut dalam
hubungannya untuk peningkatan kebersihan mulut.
3. Karies gigi
Tidak hanya indeks plak kalkulus dan debris, evaluasi spesifik untuk mengetahui
keberhasilan program pencegahan bisa digunakan indeks DMF-T (Decay Missing
Filling-Tooth) kelompok umur atau populasi yang bebas karies. Selanjutnya
evaluasi efektifitas intervensi pencegahan dapat dibuat dengan:
- Mengukur kadar flour dalam suplai air minum.
- Memonitor konsentrasi flour dalam air seni bagi orang yang memakai flour
secara sistemik.
- Menilai retensi sealants.
Tipe evaluasi di atas dapat dilakukan setiap saat, namun dianjurkan untuk
mengevaluasi dampak program terhadap suatu penyakit sebaiknya dilakukan
setiap 5 tahun sekali dimulai sejak program dilaksanakan.
4. Penyakit periodontal
Evaluasi program pencegahan periodontal dapat dihitung dengan menggunakan
indeks CPI (Community Periodontal Index). Evaluasi pendahuluan untuk anak
sekolah atau suatu kelompok berdasarkan pada program kebersihan mulut dan
dapat dilakukan 4-6minggu setelah praktik kebersihan mulut. Hasil yang tepat
didapatkan hanya setelah evaluasi jangka lama dan berkelanjutan. Efektifitas
edukasi kesehatan mulut dan instruksi kebersihan mulut dapat dievaluasi dengan
menggunakan evaluasi jangka pendek dan jangka menengah.
5. Penyakit mulut lain
Mengevaluasi hasil pendahuluan maupun akhir, harus dilakukan survei
epidemiologi 2-3 kali dengan tujuan mendapatkan prevalensi suatu kebiasaan
buruk dan tingkatan hubungan penyakit mulut atau trauma.
Misalnya kebiasaan merokok, maka data yang diperlukan untuk proses evaluasi:
- Presentase perokok dalam populasi.
- Presentase pasien dengan penyakit mukosa oral atau penyakit yang berhubungan
dengan kebiasaan buruk.
- Presentase orang dengan gigi atau jaringan gigi yang mendapatkan akibat
kebiasaan buruk.
Evaluasi dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan presentase orang yang
mempunyai kebiasaan buruk pada awal program dilaksanakan. Namun hasil
evaluasi yang baikadalah setelah program berjalan 5-10 tahun dengan melakukan
penilaian terhadap kelompok yang representatif.
Evaluasi lainnya dapat berupa evaluasi pH saliva melalui pengukuran pH saliva,
laju aliran salivadan penggunaan obat yang dapat mempengaruhi sekresi saliva.
Evaluasi frekuensi ngemil diantara jam makan dan konsumsi makanan manis.
Evaluasi dengan kultur bakteri streptococcus mutan dan Lactobacillus juga bisa
dilakukan.
6. Jadwal evaluasi
Jadwal evaluasi juga merupakan komponen penting karena menentukan
keberhasilan program tersebut dijalankan oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi
secara periodik. Dianjurkan, indeks plak untuk evaluasi jangka pendek
(maksimum 2 tahun), DMF-T/DMF-S dan indeks CPI untuk evaluasi jangka
panjang (minimum 2 tahun).
Evaluasi pendahuluan harus termasuk penilaian mengenai penerimaan publik
terhadap program pencegahan dan juga tingkat partisipasi masyarakat yang
terlibat program.
Evaluasi tengah program biasanya didapatkan hambatan yang tak terduga seperti
masalah keuangan, SDM. Dengan adanya hambatan atau hal tak terduga lainnya
pada tahapan ini maka diharapkan program dapat dimodifikasi atau dapat
menetapkan tujuan baru program.
Evaluasi akhir program pencegahan, mungkin dapat dilakukan setelah jangka
waktu 5-10 tahun atau lebih. Program harus selalu dimonitor, agar dapat segera
dilakukan koreksi jika terjadi hambatan atau penyimpangan. Agar perubahan yang
dibutuhkan pada program dapat berjalan, beberapa komponen program
memerlukan evaluasi setiap tahunnya. Evaluasi akhir harus termasuk cost
effectiveness analysis. Cost /effectiveness ratio didefinisikan sebagai biaya
pelaksanaan program dibagi dengan penghematan yang didapatkan untuk biaya
perawatan.
7. Revisi program
Pada program yang sukses, seperti yang ditentukan oleh indikator penyakit yang
spesifik, bukti partisipasi masyarakat, biaya, ketersediaan dana, sumber daya dan
sumber dana yang diidentifikasi dalam proses evaluasi, masih mungkin diperlukan
revisi atau dilakukan modifikasi projek.

8. Etiologi dan penanggulangan penyakit-kelainan gigi dan mulut berdasarkan faktor

Precede-proceed model
Dibuat untuk merencanakan rencana preventif pada komunitas. Terdiri dari 4 fase
precede dan 4 fase procede.
Kepanjangan dari precede adalah Predisposing, Reinforcing, and Enabling Constructs in
Educational/Environmental Diagnosis and Evaluation.
Kepanjangan dari Proc
Fase precede
Fase 1 : mengidentifikasi hasil yang diinginkan
Fase 2 : identifikasi dan menentukan prioritas diantara sekian banyak masalah kesehatan
dan komunitas serta determinan perilaku dan lingkungannya yang menghalangi
mendapatkan hasil yang diinginkan.
Fase 3 : identifikasi predisposing, enabling dan reinforcing factor yang dapat
mempengaruhi perilaku, kebiasaan dan factor lingkungan.
Predisposing factor adalah segala sesuatu yang menyediakan alasan atau motivasi untuk
sebuah perilaku. Terdiri dari pengetahuan, attitude, kepercayaan , value dan kepercayaan
diri.
Enabling factor adalah segala sesuatu yang membuat perilaku predisposing factor
mungkin terjadi. Terdiri dari availibity of resource, akses ke fasilitas kesehatan,
komitmen pemerintah.
Fase 4 : identifikasi factor administrative dan aturan yang dapat mempengaruhi.
Fase Procede
Fase 5 : implementasi.
Fase 6 : evaluasi proses.
Fase 7 : evaluasi dampak.
Fase 8 : evaluasi hasil.

Penanggulangan Penyakit
Empat Level Pencegahan

1. Primodial prevention
Pada tahap primordial intervensi ditargetkan untuk merubah kondisi ekonomi, kondisi
sosial dan kondisi lingkungan yang menjadi penyebab. Pencegahan ini bertujuan untuk
membangun dan memelihara kondisi yang meminimalkan bahaya bagi kesehatan.

2. Primary prevention
Pada tahap ini dilakukan pencegahan untuk suatu penyakit spesifik. Pencegahan ini
bertujuan untuk mengurangi insiden suatu penyakit. Tindakan yang dapat dilakukan
antara lain imunisasi dan meningkatkan status gizi.
3. Secondary prevention
Pada tahap ini durasi penyakit diusahakan diperpendek. Tindakan yang dapat dilakukan
adalah deteksi dini dan intervensi cepat.
4. Tertiary prevention
Pada tahap ini diusahakan untuk mengurangi dapak dari komplikasi penyakit. Tindakan
yang dapat dilakukan adalah mengurangi penyakit jangka panjang dan cacat serta
meminimalkan penderitaaan dan memaksimalkan potensi hidup.
BAB III
PENUTUP

Dengan adanya pengetahuan mengenai epidemiologi oral yang baik maka dapat memilih metode
surveilance dan indeks yang sesuai untuk mengukur besarnya masalah kesgimul di suatu negara
dan secara global sehingga dapat menunjang keberhasilan program kesehatan gigi dan mulut.
DAFTAR REFERENSI
1. Beaglehole R, Bonita R, Kjellström T. Basic epidemiology. Geneva: World Health
Organization; 1993.

2. Chattopadhyay A. Oral health epidemiology. Sudbury, Mass.: Jones and Bartlett
Publishers; 2011.

3. Priyono, Bambang. Buku Ajar Epidemiologi untuk Kesehatan Gigi. Yogyakarta: FKG
Universitas Gadjah Mada

4. World Health Organization. Global oral health data bank.

5. Department of Health Republic Indonesia. Basic Health Survey. Jakarta : Department of
Health Republic Indonesia, 2008

6. Kementrian Kesehatan RI. Departemen Kesehatan, Republik Indonesia. Profil Kesehatan
Indonesia Tahun 2013

7. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Departemen Kesehatan, Republik
Indonesia. Riset Kesehatan Dasar /Riskesdas 2007
8. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Departemen Kesehatan, Republik
Indonesia. Riset Kesehatan Dasar/ Riskesdas 2013
9. R Bonita, R beaglehole, T Kjellstrom. 2006. Basic Epidemiology 2nd Edition. China:
WHO
10. Amit Chattopahyay. 2011. Oral Health Epidemiology: Principles and Practice. USA:
Jones and Bartlett Publishers.
11. Perencanaan Program Pencegahan. Bab VIII. Tersedia di :
https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja
&uact=8&ved=0CBwQFjAAahUKEwjKj7iDv9jHAhUmLKYKHeCsA94&url=http
%3A%2F%2Felisa.ugm.ac.id%2Fuser%2Farchive%2Fdownload%2F28083%2F90f1
4bdf18e13ecc297eaf5088cb5b12&usg=AFQjCNGZOZQ0eGY6bUTYbuH7rZ2Yi1
MYUA&sig2=ogLpuI39pBo5tLxhiGoDVA&bvm=bv.101800829,d.dGY
Prihastari, Lisa. “Epidemiologi Umum dan Oral”. 2014. Tersedia di :
12. https://www.academia.edu/10262605/Program_Preventif_kesehatan_gigi_dan_mulut