You are on page 1of 1

Izin menjawab mengenai pertanyaan di atas kedudukan Fatwa MUI barulah hukum aspiratif yang

dapat menjelma menjadi hukum positif jika diundangkan dalam aturan perundangan ataupun
diputuskan dalam putusan peradilan yang berkekuatan hukum tetap, dan akhirnya menjadi
yurisprudensi yang artinya keputusan-keputusan dari hakim terdahulu untuk menghadapi suatu
perkara yang tidak diatur di dalam UU dan dijadikan sebagai pedoman bagi para hakim yang lain
untuk menyelesaian suatu perkara yang sama.

karena Fatwa MUI bukan hukum positif, dan tidak mempunyai kekuatan hukum memaksa, maka
penegakannya tidak boleh menggunakan aparatur negara seperti kepolisian, serta tidak
diperkenankan dengan cara-cara yang memaksa.

Dalam sistem hukum tata negara Indonesia, posisi Fatwa MUI adalah sebagai hukum aspiratif yang
mempunyai kekuatan moral bagi kelompok yang mempunyai aspirasi untuk melaksanakannya,
tetapi tidak dapat dijadikan alat paksa bagi kelompok lain yang berbeda pendapat atasnya, karena
Fatwa MUI bukan hukum positif negara.

1. Limbah Padat, pengelolaannya yaitu:
- Penimbunan terbuka
- Sanitary Landfill
- Insinerasi
- Pembuatan kompos padat dan cair
- Daur ulang

2. Limbah Cair, pengelolaannya yaitu:
- Pengolahan Primer (Primary Treatment)
- Pengolahan Sekunder (Secondary Treatment)
- Pengolahan Tersier (Tertiary Treatment)
- Desinfeksi (Desinfection)
- Pengolahan Lumpur (Slude Treatment)

3. Limbah Gas, pengelolaannya yaitu:
- Mengontrol Emisi Gas Buang
- Menghilangkan Materi Partikulat Dari Udara Pembuangan
- Metode pengolahan secara kimia, fisik dan biologi
- Metode Pembuangan Limbah B3