You are on page 1of 73

SOP PEMERIKSAAN

1. Ketika memanggil pasien
- Radiografer memanggil nama pasien dengan jelas
- Bila ada lebih dari satu nama pasien yang sama, lihat jenis pemeriksaan
yang akan dilakukan, umur, dokter pengirim, dan asal rujukan.
2. Ketika menjelaskan tentang pemeriksaan ke pasien
- Jelaskan tentang tujuan pemeriksaan kepada pasien dengan sopan dan
jelas
- Bila pasien masih bertanya mengenai pemeriksaan, dijawab dengan
sejelas-jelasnya agar pasien lebih mudah mengerti.
3. Ketika mulai melakukan pemeriksaan pada pasien.
- Tempatkan kaset pada standar kaset atau meja pemeriksaan sesuai jenis
pemeriksaan
- Beri marker pada kaset.
- Instruksikan kepada pasien agar mengganti baju pasien yang sudah
disediakan, melepas perhiasan yang masih melekat di anggota tubuh
seperti kalung, anting, tindikan di telinga, tindikan di lidah dengan
kalimat sesuai jenis pemeriksaan.
- Posisikan pasien untuk pemeriksaan sesuai jenis pemeriksaan.
- Untuk kenyamanan pasien posisikan pasien sesuai kemampuannya.
- Sebelum memegang atau menyentuh bagian anggota tubuh, ucapkan
kata maaf terlebih dahulu agar pasien merasa dihargai.
- Dalam memposisikan pasien, saat memegang anggota tubuh, usahakan
untuk melakukan pegangan yang lembut.
- Instruksikan kepada pasien untuk tidak bergerak ketika eksposi dengan
kalimat yang jelas dan sopan.
3. Ketika menggunakan dan memposisikan tabung pesawat sinar – X
- Posisikanlah tabung pesawat sinar – X dengan hati-hati dan tidak kasar
dalam menggunakannya.
- Atur kolimasi dengan perlahan dan batasi luas lapangan penyinaran yang
sesuai dengan jenis pemeriksaan..
- Tekan tombol-tombol pengaturan gerak tabung dengan hati-hati dan
tidak kasar.
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
SCHEDEL

Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada daerah schedel (Cranium)

II Tujuan
Untuk mendapatkan gambaran pada tulang kepala, bila ada kelainan atau
trauma dapat terdeteksi dan dapat ditegakkan diagnosa.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Persiapan Pasien :
- Tanggalkan benda-benda radiopaque di daerah yang akan difoto.
Posisi AP
- Pasien tidur supine (terlentang) dan rileks di atas meja pemeriksaan
- Kedua lengan di samping tubuh
- Kepala diatur sehingga Orbito Meatal Base Line (OMBL) tegak lurus
terhadap kaset.
- Mid Sagital Plane diatur tegak lurus terhadap kaset.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : tegak lurus kaset
- CP : pada glabella atau pada inter orbito line
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tercakup gambaran tulang-tulang tengkorak dari posisi muka
(os. Frontalis, os. Maxillaris dan os. Mandibularis serta kedua orbita).
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
SCHEDEL

Posisi Lateral :
- Pasien tidur telungkup/terlentang di atas meja pemeriksaan
- Kedua lengan di samping tubuh
- Kepala diatur true lateral sehingga Orbito Meatal Base Line (OMBL) dan
mid sagital plane sejajar terhadap kaset.
- Pasang marker untuk penanda R/L
- CR : tegak lurus kaset/film.
- CP : pada pertengahan OMBL ditarik garis ke atas setinggi jarak
pertengahan OMBL tersebut.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran lateral tulang-tulang tengkorak (os.
Frontalis, os. Temporalis, os. Parietalis, os. Occipitalis, os. Orbita, os.
Maxillaris, os. Mandibularis, sella tursica, sinus-sinus maxillaris, sinus
frontalis, sinus ethmoidalis, sinus sphenoidalis, mastoid air cells dan
sebagian tulang-tulang cervical).

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
BASIS CRANII

Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada daerah basis cranii.

II Tujuan
Untuk mendapatkan gambaran pada tulang kepala, bila ada kelainan atau
trauma dapat terdeteksi dan dapat ditegakkan diagnosa.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Persiapan Pasien :
- Tanggalkan benda-benda radiopaque di daerah yang akan difoto.
Posisi Submento vertex :
- Pasien tidur supine (terlentang) dan rileks di atas meja pemeriksaan
- Kedua lengan di samping tubuh
- Punggung diganjal sehingga leher dapat diekstensikan maksimal / kepala
ekstensi maksimal.
- Kaset diletakkan di bawah vertex kepala.
- Kepala diatur ekstensi semaksimal mungkin sehingga OMBL sejajar
terhadap bidang kaset.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Vertikal tegak lurus kaset
- CP : ± 1 cm dibawah symphysis menti.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran dari basis kepala berbentuk bulat dan gigi
geligi tepat pada batas depan.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
OS NASAL

Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada os nasal.

II Tujuan
Untuk mendapatkan gambaran pada os nasal, bila ada trauma jejas tumpul.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Posisi Lateral :
- Pasien berdiri/duduk tegak (erect) menghadap kaset stand atau tidur
(supine) di atas meja pemeriksaan.
- Kemudian kepala pasien diatur true lateral kiri/kanan.
- Kepala diatur true lateral (garis inter pupilary line tegak lurus
kaset/film).
- OMBL sejajar terhadap bidang kaset.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Horizontal tegak lurus kaset
- CP : pada daerah lateral os nasal.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran os nasal pada posisi lateral

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
SINUS PARANASAL

Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada sinus paranasal.

II Tujuan
Untuk melihat sinus frontalis, maxilaris, sinus ethmoidalis dan sinus
sphenoidalis.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Persiapan Pasien :
- Tanggalkan benda-benda radiopague didaerah yang akan difoto.
Posisi Water’s :
- Pasien berdiri tegak (erect).
- Posisi kepala PA, mid sagital plane kepala tegak lurus pada pertengahan
kaset
- Kemudian kepala diatur sehingga OMBL membentuk sudut 37° terhadap
bidang kaset dengan dagu menempel pada kaset
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Horizontal tegak lurus kaset
- CP : pada daerah Occipital menembus os nasal.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran sinus-sinus maxillaris dengan os petrosum
di bagian bawahnya, sinus ethmoidalis, sinus frontalis dan septum nasi.
Posisi Lateral.
- Pasien erect (Berdiri tegak)
- Kemudian kepala pasien diatur true lateral kiri/kanan, inter pupilary line
tegak lurus terhadap bidang kaset.
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
SINUS PARANASAL

- Pasang marker untuk penanda R/L
- CR : Horizontal tegak lurus kaset/film.
- CP : Outer canthus.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran sinus maxillaris, sinus ethmoidalis kiri dan
kanan bertumpuk, sinus – sinus frontalis yang bertumpuk serta sinus
sphenoidalis tampak dibawah sella tursica.
Posisi PA Caldwell :
- Pasien erect (berdiri tegak).
- Posisi Kepala PA, MSP kepala tegak lurus pada pertengahan kaset.
- Kemudian diatur sehingga OMBL tegak lurus terhadap bidang kaset,
sehingga dahi dan hidung menempel pada kaset stand.
- Pasang marker R/L
- CR : horizontal tegak lurus kaset/film.
- CP : Pada Occipital menembus os. nasal
- Kriteria : Tampak sinus maxillaries, sinus ethmoidalis, septum nasi dan
sinus frontalis.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
MASTOID

Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada mastoid air cells..

II Tujuan
Untuk melihat mastoid air cells.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Persiapan Pasien
- Tanggalkan benda-benda radiopaque didaerah yang akan difoto.
Posisi Schuller’s :
- Pasien berdiri/duduk tegak (erect) menghadap kaset stand atau tidur
(supine) di atas meja pemeriksaan.
- Kepala diatur true lateral (garis inter pupilary line tegak lurus kaset).
- Daun telinga sisi yang akan difoto dilipat ke depan.
- Pemeriksaan ini dilakukan perbandingan pada sisi kiri dan kanan.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : 20 - 25° cranio caudal
- CP : pada ± 2,5 cm di atas MAE yang jauh dari film.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran mastoid air cells dibagian posterior,
gambaran air cells seperti sarang tawon, mencakup TMJ.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
TEMPORO
MANDIBULAR
JOINT (TMJ) Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada TMJ

II Tujuan
Untuk mengetahui pergerakan TMJ.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Persiapan Pasien
- Tanggalkan benda-benda radiopaque didaerah yang akan difoto.
Posisi Lateral Open dan Close Mouth :
- Pasien berdiri/duduk tegak (erect) menghadap kaset stand atau tidur
(supine) di atas meja pemeriksaan.
- Kepala diatur true lateral (garis inter pupilary line tegak lurus kaset).
- Pemeriksaan ini dilakukan perbandingan pada sisi kiri dan kanan dengan
masing-masing sisi dilakukan pemotretan dengan posisi mulut terbula
dan tertutup.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : 20 - 25° Craniocaudal
- CP : pada daerah TMJ (1 cm di atas MAE).
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tercakup mandibula, ramus dan fossa glenoidea.
Perbedaan posisi open mouth dan close mouth :
- Open mouth : Gambaran caput mandibula berada diluar fossa glenoidea
pada bagian posterior dari apex Tuberculum Auricularis.
- Close Mouth : Gambaran Caput mandibula terdapat didalam fossa
glenoidea.
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
TEMPORO
MANDIBULAR
JOINT (TMJ)

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
MANDIBULA

Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada mandibula.

II Tujuan
Untuk mengetahui kelainan atau trauma mandibula.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Persiapan Pasien
- Tanggalkan benda-benda radiopaque didaerah yang akan difoto.
Posisi AP :
- Pasien tidur supine (terlentang) dan rileks diatas meja pemeriksaan.
- Kedua lengan disamping tubuh.
- Kepala diatur sehingga OMBL dan MSP tegak lurus terhadap kaset.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Vertikal tegak lurus kaset
- CP : pada daerah nasion (diantara hidung dan mulut).
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran kedua caput mandibula dalam posisi AP.
Posisi Eisler :
- Pasien Berdiri/duduk tegak membelakangi kaset stand.
- Kepala diputar kearah lateral dan diposisikan true lateral.
- Kemudian kepala diatur sehingga ramus mandibula sejajar kaset.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : 25° Caudocranial.
- CP : pada angulus mandibula
- FFD : 90 cm.
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
MANDIBULA

- Pemotretan dilakukan perbandingan, posisi kiri dan kanan.
- Kriteria : Tampak gambaran lateral dari os. mandibula kiri atau kanan
yang tidak saling superposisi satu sama lain. Tampal foramen menta.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
VERTEBRAE
CERVICALIS
Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada vertebrae cervicalis.

II Tujuan
Untuk mengetahui kelainan atau trauma pada vertebrae cervicalis.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Persiapan Pasien
- Tanggalkan benda-benda radiopaque didaerah yang akan difoto.
Posisi AP :
- Pasien tidur supine (terlentang) atau berdiri/duduk tegak membelakangi
bucky stand. Atur posisi pasien tepat pada pertengahan meja
pemeriksaan atau bucky stand. Dagu sedikit ekstensi, garis sumbu
cervical parallel dengan garis sumbu film.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : 15°Caudocranial
- CP : pada vertebrae cervical IV.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak prosesus spinosus berjarak sama terhadap kedua
pedicle. Tampak vertebrae thoracal 1.
Posisi Oblique kanan/kiri :
- Tubuh pasien diputar sehingga membentuk sudut 45° terhadap bucky
stand. Cervical diatur pada mid line bucky. Kepal sedikit ekstensi dan
juga harus membentuk sudut 45° terhadap bucky stand, sama dengan
tubuh.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : 15° Craniocaudal.
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
VERTEBRAE
CERVICALIS

- CP : Pada vertebrae cervical IV.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak jelas foramen inter vertebra.
Posisi Lateral :
- Pasien diatur pada posisi lateral menyamping bucky stand. Dagu sedikit
ekstensi. Garis sumbu cervical parallel dengan sumbu film.
- Psang marker R/L
- CR : horizontal tegak lurus kaset.
- CP : Pada vertebrae cervical IV.
- FFD : 90 cm.
- Kriteria : Os. atlas dan prosesus odontoideus tampak jelas. Corpus
vertebrae cervical VII tampak jelas. Tampak vertebrae cervical tanpa
terjadi rotasi.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
VERTEBRAE
THORACALIS
Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada vertebrae thoracalis.

II Tujuan
Untuk mengetahui kelainan atau trauma pada vertebrae thoracalis.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Persiapan Pasien
- Tanggalkan benda-benda radiopaque didaerah yang akan difoto.
Posisi AP :
- Pasien tidur supine di atas meja pemeriksaan.
- Hip joint dan genu flexi sehingga tubuh bagian belakang dapat
menempel dengan baik pada meja pemeriksaan.
- Garis tengah tubuh parallel dengan garis tengah meja pemeriksaan.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Vertikal tegak lurus kaset
- CP : pada vertebrae thoracalal IV.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak prosesus spinosus berjarak sama terhadap kedua
pedikle. Tampak celah intervertebral tanpa overlap.
Posisi Lateral :
- Pasien diatur pada posisi lateral
- Hip joint dan genu flexi, garis sumbu vertebraethoracal parallel dengan
garis sumbu film.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : 10° Caudocranial.
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
THORACALIS

- CP : pada vertebrae thoracal IV
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Corpus vertebrae dari vertebrae thoracal IV ke bawah tampak
jelas tanpa terjadi rotasi dan celah intervertebrae tampak jelas.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
VERTEBRAE
THORACOLUMBAL
Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada vertebrae thoracolumbal.

II Tujuan
Untuk mengetahui kelainan atau trauma pada vertebrae thoracolumbal.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Persiapan Pasien
- Tanggalkan benda-benda radiopaque didaerah yang akan difoto.
Posisi AP :
- Pasien tidur supine di atas meja pemeriksaan.
- Atur pasien pada pertengahan meja.
- Garis tengah tubuh parallel dengan garis tengah meja pemeriksaan.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Vertikal tegak lurus kaset
- CP : pada vertebrae thoracalal XII (2 inchi di bawah prosesus xypoideus)
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak celah intervertebrathoracal XII dengan
vertebralumbal I.
Posisi Lateral :
- Pasien diatur pada posisi lateral
- Kedua tangan diatas kepala dan hip joint serta genu flexi.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Vertical tegak lurus film.
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
THORACOLUMBAL

- CP : pada vertebrae thoracal XII.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak celah intervertebrae antara thoracal XII dan lumbal I
dalam posisi lateral.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
VERTEBRAE
LUMBALIS
Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada vertebrae Lumbalis.

II Tujuan
Untuk mengetahui kelainan atau trauma pada vertebrae lumbalis.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Persiapan Pasien
- Tanggalkan benda-benda radiopaque didaerah yang akan difoto.
Posisi AP :
- Pasien tidur supine di atas meja pemeriksaan dengan lutut fleksi.
- Letak pasien diatur pada pertengahan meja dengan mengatur garis
tengah tubuh (mid sagital line) sejajar dengan garis pertengahan meja.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Vertikal tegak lurus kaset
- CP : pada vertebrae lumbal III, setinggi lower costal margin.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran vertebrae lumbal I – IV pada posisi AP.
Posisi Lateral :
- Pasien diatur pada posisi lateral
- Hip joint serta lutut flexi, lutut diganjal sandbag setinggi hip joint.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Vertical tegak lurus film.
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
LUMBALIS

- CP : pada vertebrae lumbal III, setinggi lower costal margin
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran vertebrae lumbal I – IV pada posisi lateral.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
VERTEBRAE
LUMBOSACRAL
Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada vertebrae Lumbosacral.

II Tujuan
Untuk mengetahui kelainan atau trauma pada vertebrae lumbosacral.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Persiapan Pasien
- Tanggalkan benda-benda radiopaque didaerah yang akan difoto.
Posisi AP :
- Pasien tidur supine di atas meja pemeriksaan
- Letak pasien diatur tepat pada pertengahan meja pemeriksaan
- Letak kaset agak digeser ke atas dari daerah Vertebrae lumbal.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : 5°- 15° caudocranial.
- CP : diantara kedua SIAS.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran vertebrae lumbosacral pada posisi AP,
dengan celah intervertebrae lumbosacral tamapak jelas.
Posisi Lateral :
- Pasien diatur pada posisi lateral
- Garis tengah daerah V. LS parallel dengan garis tengah meja. Lutut
sedikit fleksi untuk immobilisasi.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Vertical tegak lurus film.
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
LUMBOSACRAL

- CP : Setinggi prosesus spinousus Vertebrae lumbal IV.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak celah vertebrae lumbosacral, corpus VL IV dan bagian
atas sacrum tampak jelas tanpa terjadi rotasi.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
THORAX
Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada thorax.

II Tujuan
Untuk melihat kelainan atau trauma pada thorax

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Persiapan Pasien
- Tanggalkan benda-benda radiopaque didaerah yang akan difoto.
- Pasien ganti baju dengan pakaian yang telah disediakan.
Posisi PA :
- Pasien berdiri tegak menghadap kaset stand, punggung tangan
diletakkan pada panggul, siku fleksi ditarik kedepan.
- Beri aba-aba pada pasien agar melakukan inspirasi dan tahan napas.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Horizontal tegak lurus film.
- CP : Vertebrathoracal IV - V
- FFD : 120 - 150 cm untuk paru – paru. (200 cm untuk jantung)
- Kriteria : Tercakup kedua lapangan paru termasuk apex pulmo, kedua
sinus costaprenicus. Kedua scapula tidak menutupi lapangan paru.
Diafragma setinggi ± iga ke-10(belakang). Kedua sterniclavicular joint
berjarak sama terhadap pertengahan vertebrathoracalis. Tampak
vertebrathoracalis sampai thoracal IV.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
ABDOMEN/BNO
Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada abdomen.

II Tujuan
Untuk melihat kelainan atau trauma pada abdomen. Indikasinya :
Haematuri, Neprolithiasis, Urolithiasis dan lain-lain.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Persiapan Pasien
- Tanggalkan benda-benda radiopaque didaerah yang akan difoto.
- Pasien ganti baju dengan pakaian yang telah disediakan.
Posisi AP :
- Pasien tidur supine di atas meja pemeriksaan.
- Kedua tangan di samping tubuh.
- Tubuh sedapat mungkin diatur true AP, midline tubuh sejajar dengan
midline meja pemeriksaan.
- Kaset diletakkan dibawah meja pemeriksaan (bucky).
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Vertikal tegak lurus film.
- CP : pada umbilicus atau ± 2 jari diatas crista illiaca.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Batas atas tercakup thoracalis XII dan batas bawah tercakup
symphysis pubis.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
ABDOMEN 3 POSISI
Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada abdomen.

II Tujuan
- Pada posisi AP supine untuk melihat abdomen secara umum.
- Pada posisi erect/setengah duduk untuk melihat gambaran air fluid level
dikarenakan obstruksi, illeus paralitik dan perforasi.
- Pada posisi LLD untuk melihat apakah ada tanda-tanda akut yang
disebabkan oleh kelainan daripada usus.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Persiapan Pasien
- Tanggalkan benda-benda radiopaque didaerah yang akan difoto.
- Pasien ganti baju dengan pakaian yang telah disediakan.
Posisi AP :
- Pasien tidur supine di atas meja pemeriksaan
- Kedua tangan di samping tubuh.
- Tubuh sedapat mungkin diatur true AP, midline tubuh sejajar dengan
midline meja pemeriksaan.
- Kaset diletakkan dibawah meja pemeriksaan (bucky).
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Vertikal tegak lurus film.
- CP : pada umbilicus atau ± 2 jari diatas crista illiaca.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Batas atas tercakup thoracalis XII dan batas bawah tercakup
symphysis pubis.
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
ABDOMEN 3 POSISI

Posisi Erect :
- Pasien berdiri tegak (bila memungkinkan), bila tidak dapat berdiri,
pasien dapat duduk tegak atau setengah duduk.
- Kedua lengan di samping tubuh
- Tubuh sedapat mungkin diatur true AP.
- Kaset diletakkan dibelakang (punggung) pasien, sekaligus sebagai
sandaran pasien, bila pasien dalam posisi duduk.
- Pasang marker untuk penanda R/L
- CR : Vertikal tegak lurus kaset/film.
- CP : pada umbilicus.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Yang terpenting adalah batas atas tercakup kedua diafragma.

Posisi Left Lateral Decubitus (LLD) :
- Pasien tidur miring dengan sisi kiri tubuh berada didekat meja
pemeriksaan.
- Kedua lengan ditarik keatas kepala.
- Kaset diletakkan dibelakang (punggung) pasien.
- Pasang marker untuk penanda R/L
- CR : Horizontal tegak lurus kaset/film.
- CP : pada umbilicus.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Kedua diafragma terlihat dalam gambaran radiograf.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
PELVIS
Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada pelvis.

II Tujuan
Untuk mengetahui kelaianan atau trauma pada pelvis.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Persiapan Pasien
- Tanggalkan benda-benda radiopaque didaerah yang akan difoto.
Posisi AP :
- Pasien tidur supine di atas meja pemeriksaan, dibawah lutut diganjal
dengan sand bag kecil.
- Kedua tangan di samping tubuh.
- Garis tubuh tepat pada pertengahan meja pemeriksaan.
- Kaset diletakkan dibawah meja pemeriksaan (bucky).
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Vertikal tegak lurus film.
- CP : pada pertengahan SIAS dan symphysis pubis.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran pelvis dalam posisi AP.
Posisi Lateral :
- Pasien diatur pada posisi true lateral di atas meja pemeriksaan, dengan
panggul ekstensi. Dibawah lekukan pinggang diganjal dengan spon kecil
untuk immobilisasi.
- Kedua tangan diletakkan diatas kepala.
- Pasang marker R/L.
- CR : Vertikal tegak lurus kaset/film.
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
PELVIS

- CP : pada pertengahan MSP tubuh antara SIAS dan symphysis pubis.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran pelvis pada posisi lateral.
Posisi Oblique :
- Dari posisi lateral, pasien diputar kearah sisi yang akan difoto, sehingga
fossa illiaca parallel dengan film. Dan sisi pelvis yang tidak di foto
diganjal dengan spon atau penganjal yang non opaque.
- Lutut dan hip joint sisi yang difoto fleksi.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Vertikal tegak lurus film.
- CP : pada fossa illiaca.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran pelvis dalam posisi oblique.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
HIP JOINT

Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada hip joint.

II Tujuan
Untuk mengetahui kelainan atau trauma pada hip joint.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Persiapan Pasien
- Tanggalkan benda-benda radiopaque didaerah yang akan difoto.
Posisi AP :
- Pasien tidur supine di atas meja pemeriksaan
- Kedua lengan di samping tubuh.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Vertikal tegak lurus tubuh.
- CP : pada hip joint.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran hip joint dari bagian superior dan aspek
medialnya. Tampak jelas trochanter mayor.
Posisi Lateral :
- Pasien diatur pada posisi lateral,sisi lateral femur dan hip joint diatur
pada meja pemeriksaan. Hip joint diletakkan pada pertengahan meja,
lutut sedikit fleksi, kaki yang lain lurus
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Vertical tegak lurus film.
- CP : pada hip joint
- FFD : 90 cm
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
HIP JOINT

- Kriteria : Tampak jelas caput dan colum femoris trochanter minor.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
OS. CLAVICULA
Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada os. clavicula.

II Tujuan
Untuk melihat kelainan atau trauma pada os. clavicula.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Persiapan Pasien
- Tanggalkan benda-benda radiopaque didaerah yang akan difoto.
Posisi Axial :
- Pasien tidur supine atau berdiri membelakangi bucky stand.
- Bila pasien supine kedua bahu diganjal spon, diatur sama tinggi dan
kepala diberi bantal yang agak tinggi.
- Bila berdiri, cukup berdiri tegak dan kedua tangan disamping tubuh.
- Kaset diletakkan pada tepi posterosuperior bahu yang akan difoto,
bidang kaset membentuk 70° terhadap meja pemeriksaan.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : 60° inferosuperior.
- CP : ujung proximal clavicula.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran os. Clavicula bebas overlap dengan tulang
iga.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
SHOULDER JOINT
Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada Shoulder Joint.

II Tujuan
Untuk melihat kelainan atau trauma pada shoulder Joint.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Persiapan Pasien
- Tanggalkan benda-benda radiopaque didaerah yang akan difoto.
Posisi AP :
- Pasien tidur supine atau berdiri membelakangi bucky stand.
- Shoulder joint diatur true AP dengan lengan atas, lengan lurus disamping
tubuh.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : tegak lurus film.
- CP : coracoid prosess.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran shoulder joint, terjadi overlap antara
cavitas glenoidalis dan caput humeri.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
OS. SCAPULA
Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada os. scapula.

II Tujuan
Untuk melihat kelainan atau trauma pada os. scapula.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Persiapan Pasien
- Tanggalkan benda-benda radiopaque didaerah yang akan difoto.
Posisi AP :
- Pasien tidur supine, kemudian diatur oblique anteroposterior 30° dengan
tepi dorsal bahu yang difoto dekat dengan kaset.
- Lengan atas dan lengan bawah ari tepi yang difoto lurus disamping tubuh
dan diatur supine terhadap meja pemeriksaan.
- Bahu yang difoto diganjal dengan sand bag, tubuh tetap dalam posisi
oblique AP 30° sehingga memungkinkan scapula yang dofoto horizontal.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : tegak lurus film.
- CP : caput humeri.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran os. scapula dengan margo medialis, inferior
angle dan margo lateralis bagian bawah overlap dengan rongga thorax.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
OS. HUMERUS

Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada os. humerus.

II Tujuan
Untuk mengetahui kelainan atau trauma pada os. humerus.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Persiapan Pasien
- Tanggalkan benda-benda radiopaque didaerah yang akan difoto.
Posisi AP :
- Pasien tidur supine di atas meja pemeriksaan
- Lengan atas dan lengan bawah lurus, supine dan sedikit abduksi. Lengan
atas memanjang pada pertengahan kaset dengan elbow joint dan
shoulder joint termasuk dalam kaset dan diatur true AP.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Vertikal tegak lurus film.
- CP : pada pertengahan os. humerus.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran AP os. humerus, batas proximal shoulder
joint dan batas distal elbow joint, caput humerus menghadap medial.
Posisi Lateral :
- Pasien tidur supine di atas meja pemeriksaan.
- Dari posisi AP, lengan endorotasi sehingga telapak tangan menghadap ke
medial, elbow joint flexio, telapak tangan diletakkan pada tepi
pinggang yang berhadapan. Lengan atas memanjang pada pertengahan
kaset.
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
OS. HUMERUS

- Dengan elbow dan shoulder joint termasuk dalam kaset tersebut.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : vertical tegak lurus film.
- CP : pertengahan os. humerus
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran lateral os. humerus, batas proximal
shoulder joint dan batas distal elbow joint.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
ANTEBRACHII

Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada antebrachii.

II Tujuan
Untuk mengetahui kelainan atau trauma pada antebrachii.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Posisi AP :
- Pasien duduk menyamping pada tepi meja pemeriksaan.
- Lengan diletakkan supine dan memanjang diatas kaset, sehingga wrist
joint dan elbow joint termasuk diatas kaset.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Vertikal tegak lurus film.
- CP : pada pertengahan antebrachii.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran AP antebrachii, os. ulna dan os. radius
terpisah satu sama lain. Batas proximal elbow joint batas distal wrist
joint.
Posisi Lateral :
- Pasien duduk menyamping pada tepi meja pemeriksaan.
- Elbow joint flexio 90°, lengan bawah diletakkan lateral diatas kaset
dengan tepi ulnaris menempel kaset. Elbow joint dan wrist joint diatur
true lateral, diusahakan kedua sendi tersebut termasuk diatas kaset.
Kaset memanjang terhadap lengan bawah.
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
ANTEBRACHII

- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : vertikal tegak lurus film.
- CP : pertengahan antebrachii
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran lateral antebrachii, os. ulna dan os. radius
overlap satu sama lain terutama pada bagian distal dan proximal. Batas
proximal elbow joint, batas distal wrist joint dalam gambaran lateral.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
ELBOW JOINT

Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada elbow joint.

II Tujuan
Untuk mengetahui kelainan atau trauma pada elbow joint.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Posisi AP :
- Pasien duduk menyamping pada tepi meja pemeriksaan.
- Elbow joint ekstensi penuh, diletakkan supine dan true AP ditengah-
tengan kaset.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Vertikal tegak lurus film.
- CP : pada rongga sendi, titik tengah antara epicondylleus medialis (pada
permukaan ventral).
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran AP elbow joint. Tampak jelas rongga sendi
antara caput radius dan capitulum humerus.
Posisi Lateral :
- Pasien duduk menyamping pada tepi meja pemeriksaan.
- Elbow joint flexio 90°, lengan bawah diletakkan lateral dengan tepi
ulnaris menempel pada meja pemeriksaan, sendi bahu direndahkan,
elbow joint diatur true lateral ditengah – tengah kaset.
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
ELBOW JOINT

- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : vertikal tegak lurus film.
- CP : epicondylus lateralis
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran elbow joint menyudut 90°, coronoid prosess
overlap dengan caput radius dan capitulum humerus. Tuberositas radius
menghadap os ulna.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
WRIST JOINT

Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada wrist joint.

II Tujuan
Untuk mengetahui kelainan atau trauma pada wrist joint.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Posisi PA :
- Pasien duduk menyamping pada tepi meja pemeriksaan.
- Antebrachii dan manus prone diatas meja pemeriksaan, wrist joint diatur
true PA ditengah-tengah kaset (processua styloideus radius dan
processus styloideus ulna berjarak sama dengan kaset). Wrist joint
menempel kaset, kaset horizontal diatas meja pemeriksaan.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Vertikal tegak lurus film.
- CP : pada titik tengah antara processus styloideus radius dan processus
styloideus ulna tepi dorsal.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran PA dengan ujung distal os ulna oblique.
Posisi AP :
- Pasien duduk menyamping pada tepi meja pemeriksaan.
- Antebrachii dan manus supine diatas meja pemeriksaan, wrist joint
diatur true AP ditengah-tengah kaset. Pada tepidorsal digiti diletakkan
sandbag. Sehingga tepi dorsal wrist joint menempel pada kaset. Kaset
horizontal diatas meja pemeriksaan.
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
WRIST JOINT

- Pasang marker R/L
- CR : Vertikal tegak lurus kaset.
- CP : pada titik tengah antara processus styloideus radius dan processus
styloideus ulna.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran AP wrist joint carpal interspaces tampak
lebih renggang karena dengan arah sinar bagian ventral celah-celah
tersebut lebih parallel terhadap sinar yang divergen.
Posisi Lateral :
- Pasien duduk menyamping pada tepi meja pemeriksaan.
- Elbow joint flexio 90°, antebrachii manus diletakkan lateral diatas meja
pemeriksaan. Wrist joint diatur true lateral ditengah-tengah kaset
(Processus styloideus radius dan processus syloideus ulna satu garis
tegak lurus kaset).
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Vertikal tegak lurus kaset.
- CP : pada processus styloideus radius.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran lateral wrist joint . ujung distal os. radius
dan os. ulna overlap, juga ossa carpalia overlap satu sama lain

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
MANUS

Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada ossa manus.

II Tujuan
Untuk mengetahui kelainan atau trauma pada ossa manus.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Posisi PA :
- Pasien duduk menyamping pada tepi meja pemeriksaan.
- Antebrachii dan manus rileks diatas meja pemeriksaan.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Vertikal tegak lurus film.
- CP : pada metacarpophalangeal joint digiti III.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak tulang-tulang manus yaitu : ossa carpalia, ossa
metacarpalia dan phalanges.
Posisi Oblique :
- Pasien duduk menyamping pada tepi meja pemeriksaan.
- Antebrachii dan manus rilaks diatas meja pemeriksaan.
- Dari posisi lateral (tepi ulnaris menempel kaset) diputar endorotasi
sehingga telapak tangan membentuk 45 ° terhadap kaset. Jari-jari
diatur renggang dan ujung-ujungnya menempel kaset.
- Pasang marker R/L
- CR : Vertikal tegak lurus film
- CP : metacarpophalangeal joint digiti III
- FFD : 90 cm
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
MANUS

- Kriteria : Tampak gambaran oblique dari ossa manus kecuali phalang
digiti I mendekati posisi lateral.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
FEMUR

Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada os. femur

II Tujuan
Untuk mengetahui kelainan atau trauma pada os. femur

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Posisi AP :
- Pasien dengan posisi supine dengan tungkai lurus.
- Articulatio genu diatur true AP dengan mengatur condylus lateral dan
medialnya berjarak sama terhadap kaset. Kaset diletakkan horizontal
dan memanjang dibawah tungkai yang akan difoto.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Vertikal tegak lurus film.
- CP : pada pertengahan os. femur atau pertengahan kaset.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran AP os. femur, batas proximal hip joint dan
batas distal artic. Genu.

Posisi Lateral :
- Pasien tidur miring dengan tepi yang akan difoto dekat dengan meja
pemeriksaan.
- Tungkai yang difoto lututnya flexi sedikit, femur diatur true lateral
dengan tepi lateralnya menempel pada kaset.
- Tungkai yang tidak difoto diarahkan kedepan, genu flexi dan tungkai
bawahnya kearah caudal. Kaset diletakkan horizontal dengan posisi
memanjang dibawah femur.
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
FEMUR

- Pasang marker R/L
- CR : Vertikal tegak lururs kaset.
- CP : pada pertengahan os. femur.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran lateral os. femur, batas proximal hip joint
dan batas distal artic. Genu.
Posisi Lateral dengan sinar horizontal :
(Dilakukan pada pasien yang payah dan tidak dapat miring)
- Pasien pada posisi supine.
- Tungkai yang difoto lurus dan tungkai yang lain diangkat sehingga
femurnya vertical dan crurisnya horizontal lalu diganjal dengan alat
pengganjal.
- Kaset diletakkan vertical pada tepi lateral femur yang difoto dan diatur
memanjang pada femur.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Horizontal tegak lurus kaset.
- CP : pada pertengahan os. femur.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran lateral os. femur, batas proximal hip joint
dan batas distal artic. Genu.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
ARTICULATIO
GENU
Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada articulation genu.

II Tujuan
Untuk mengetahui kelainan atau trauma pada articulation genu.
III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Posisi AP :
- Pasien dengan posisi supine di atas meja pemeriksaan.dengan kedua
tungkai lurus.
- Genu yang difoto diatur true AP dengan mengatur condylus lateral dan
medialnya berjarak sama terhadap kaset.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Vertikal tegak lurus film.
- CP : diantara kedua condylus dibawah apex petela.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran AP articulation genu.

Posisi Lateral :
- Pasien tidur miring dengan tepi yang akan difoto dekat dengan meja
pemeriksaan. Tungkai yang lain genu flexio, diletakkan didepan tungkai
yang difoto lalu diganjal.
- Genu yang difoto flexi, untuk memudahkan pengaturan true lateral,
dengan tepi lateralisnya menempel pada pertengahan kaset, kaset
horizontal di atas meja pemeriksaan.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Vertikal tegak lurus film.
- CP : pada condylus medialis.
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
FEMUR

- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran articulation genu dalam posisi lateral.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
OS. CRURIS
Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada os. cruris.

II Tujuan
Untuk melihat kelainan atau trauma pada os. cruris.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Posisi AP :
- Pasien supine di atas meja pemeriksaan, kedua tungkai yang difoto
diatur true AP
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : vertical tegak lurus film.
- CP : pada pertengahan os. cruris.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran AP os. cruris.
Posisi Lateral :
- Badan pasien diposisikan miring, lalu tungkai yang difoto ditekuk
kemudian diarahkan kedepan tubuh pasien.
- Tungkai yang akan difoto diatur true lateral dengan sisi lateral tungkai
menempel pada kaset
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : vertical tegak lurus film.
- CP : pada pertengahan os. cruris.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran os. cruris dalam posisi lateral

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
ANKLE JOINT

Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada ankle joint.

II Tujuan
Untuk mengetahui kelainan atau trauma pada ankle joint.
III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Posisi AP :
- Pasien dapat diatur pada posisi supine atau duduk di atas meja
pemeriksaan.
- Telapak kaki vertical dengan tumit menempel pada kaset.
- Ankle joint diatur true AP dengan maleolus medialis dan lateralis
berjarak sama terhadap kaset.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Vertikal tegak lurus film.
- CP : pada pertengahan kedua maleoli pada tepi ankle joint.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran ujung distal os tibia dan fibula, os talus,
celah sendi antara os tibia, os talus dan os fibula.

Posisi Lateral :
- Pasien diatur semi prone dengan tepi yang akan dofoto dekat dengan
meja pemeriksaan diatur lurus.
- Tungkai yang lain genu flexio, tungkai bawahnya diarahkan ke belakang
penderita.
- Ankle joint diatur true lateral dengan maleolus lateralisnya menempel
pada pertengahan kaset.
- Pasang marker untuk penanda R/L
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
ANKLE JOINT

- CR : Vertikal tegak lurus kaset.
- CP : pada maleollus medialis.
- FFD : 90 cm
- Kriteria : Tampak gambaran lateral ankle joint . ujung distal os. tibia
dan os. fibula overlap, tampak os calcaneus dalam posisi lateral.

Posisi Oblique AP :
- Pasien diatur supine atau duduk dengan ankle joint yang difoto
diletakkan di atas kaset.
- Dari posisi AP kemudian tungkai endorotasi ± 45 ° sehingga telapak kaki
condong kea rah medial.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Vertikal tegak lurus kaset.
- CP : pada malleolus medialis.
- FFD : 90 cm

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
PEDIS

Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada pedis.

II Tujuan
Untuk mengetahui kelainan atau trauma pada pedis.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Posisi AP :
- Pasien dapat diatur pada posisi supine atau duduk di atas meja
pemeriksaan,
- Kaki diatur agar dapat menapak pada kaset, tungkai yang difoto diatur
agar tidak condong ke medial atau lateral sedangkan yang tidak difoto
pada posisi lurus.
- Pasang marker R/L
- CR : Vertikal tegak lurus film
- CP : pada basis metatarsal III
- FFD : 90 cm
Posisi Oblique AP :
- Pasie diatur supine atau duduk, genu dari tungkai yang difoto flexi
telapak kaki diletakkan pada pertengahan kaset.
- Posisi kaki diatur dengan memposisikan tungkai condong ke medial,
sehingga tepi lateral telapak kaki terangkat dan membentuk sudut 30 °
terhadap kaset.
- Pasang marker untuk penanda R/L.
- CR : Vertikal tegak lurus kaset
- CP : pada basis metatarsal III
- FFD : 90 cm
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
PEDIS

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
BLAAS NEAR
OVERSIGHT INTRA
VENA PYELOGRAFI Dr. H Agus Fauzan S, MARS
(BNO IVP) NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Adalah pemeriksaan imajing Radiodiagnostik menggunakan media kontras
pada sistema traktus urinarius terutama morphologi anatomi dan fungsional
pyelum, ureter dan vesika urinaria.

II Tujuan
Untuk melihat kontur ginjal, melihat batu radiopque, melihat peritoneal pat
dan organ-organ jaringan lunak lainnya.
Indikasi :
- Nephrolithiasis
- Pyelonephritis
- Hydronephrosis
- Tumor
- Anatomi congenital
- Staging pada kasus proses keganasan
Kontra indikasi :
- Absolut : alergi media kontras
- Relatif : gangguan fungsi ginjal derajat berat (urinari) dengan keadaan
umum pasien yang buruk.
- Alergi terhadap kontras media yang dipakai
- Os mempunyai kelainan atau penyakit jantung
- Os dengan riwayat atau dalam serangan asthmatis
- Multi myeloma
- Neonatus Diabetes Militus tidak terkontrol / parah
- Os. sedang dalam keadaan kolic
- Hasil ureum dan kreatinin yang tinggi (tidak normal)

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
BLAAS NEAR
OVERSIGHT INTRA
VENA PYELOGRAFI
(BNO IVP)

IV. Prosedur :
Persiapan Alat :
- Kontras 1 flacon (20 cc 300 mg atau 50 cc 300 mg)
- Satu buah spuit 50 cc
- Satu buah spuit 20 cc
- Satu buah spuit 3 cc
- Satu buah abocath No. 20 dan infuse set
- Satu botol RL atau Na Cl
- Obat-obatan anapilatik shock
Persiapan Pasien :
- Hasil ureum kreatinin normal.
- Sehari sebelum pemeriksaan, pasien makan makanan yang lunak / tak
berserat, missal bubur kecap.
- 12 jam sebelum pemeriksaan pasien minum obat pencahar.
- Selanjutnya pasien puasa sampai selesai pemeriksaan.
- Skin test 10-15 menit sebelum pemeriksaan.
- Tanggalkan benda-benda radiopaque di daerah yang akan difoto.
- Pasien ganti baju dengan pakaian yang telah disediakan.

1. Buat foto BNO (Abdomen) posisi AP
2. Jika persiapan baik, suntikan kontras yang mengandung Meglumine
loxitalamate dan sodium loxitalamite melalui intra cutan sebanyak satu
cc terlebih dahulu, untuk mengetahui reaksi alergi.
3. Jika tidak ada reaksi penyuntikan dapat dilanjutkan dengan intravenous
terlebih dahulu memasang stwing pada daerah ureter (sekitar SIAS
kanan dan kiri.
4. Buat foto 5 menit pasca penyuntikan :
(bila os dengan hipertensi atau pasien anak, pemotretan diambil 1
menit pasca penyuntika/dipercepat).
Posisi pasien AP supine :
- Midline tubuh sejajar dengan midline meja / tubuh diatur true AP.
- Kedua lengan disamping tubuh.
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
BLAAS NEAR
OVERSIGHT INTRA
VENA PYELOGRAFI
(BNO IVP)

- Kaset 24 X 30 cm dipasang pada bucky meja pemeriksaan.
- CR : Vertikal tegak lurus kaset/film pada pertengahan meja
pemeriksaan.
- CP : Pada pertengahan antara umbilicus dan prosesus xypoideus.
- FFD : 90 cm
- Pasang marker R/L dan tanda waktu 5 menit
- Kriteria : Tampak kedua ginjal kanan dan kiri sudah terisi kontras.
- Buka stwing
5. Buat foto 15 menit pasca penyuntikan :
Posisi pasien prone
- Posisi pasien prone/true PA dengn midline tubuh sejajar midline
meja.
- Kaset 30 X 40 cm dipasang pada bucky meja pemeriksaan.
- CR : Vertikal tegak lurus kaset/film pada pertengahan meja
pemeriksaan.
- CP : Setinggi crista iliaca/pada lumbal 3-4.
- FFD : 90 cm
- Pasang marker R/L dan tanda waktu 15 menit.
- Kriteria : Tampak kontras sudah mengisi ginjal, ureter sampai
blaas/buli-buli.
6. Buat foto 30 menit atau foto full blaas
Diambil bila pasien sudah terasa ingin mixie (kencing)
- Penatalaksanaan foto ini sama dengan penatalaksanaan foto
BNO/Abdomen.
- Kriteria : Tampak blaas sudah terisi penuh oleh kontras.

7. Untuk kasus dimana terjadi delayed fungsi ginjal, foto selanjutnya
ditunggu hingga ginjal terisi kontras secara maksimal.
8. Os. disuruh mixie, setelah os. mixie buat foto post evakuasi
- Posisi pasien : Erect (AP).
- Pasien berdiri membelakangi bucky stand.
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
BLAAS NEAR
OVERSIGHT INTRA
VENA PYELOGRAFI
(BNO IVP)

- Midline tubuh sejajar midline kaset.
- CR : Horizontal tegak lurus pada kaset/film pada pertengahan bucky
stand.
- CP : pada umbilicus atau ± 2 jari di atas crista iliaca.
- FFD : 90 cm
- Pasang marker R/L dan tanda PE/PM
- Kriteria : tampak blaas sudah kosong

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
HISTERO
SALPHINGOGRAPHY
(HSG) Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan imajing Radiodiagnostik yang digunakan untuk
mengetahui pada kecurigaan kelainan/penyakit pada daerah organ
genetalia.

II Tujuan
Untuk memeriksa/mengevaluasi morphologi anatomi uterus, tuba fallopi
berikut organ sekitarnya.
Indikasi :
- Intertilitas primer maupun sekunder.
- Abortus habitualis.
- Dugaan tumor uterus
- Dugaan tranlokasi IUD
Kontra indikasi :
- Kehamilan muda
- Sebelum dan segera sesudah haid.
- Os telah coitus dari sesudah haid.
- Pendarahan pervaginam yang banyak.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur :
Persiapan Alat :
- Speculum, salphingogram, bethadin, kapas basah/kasa steril, sonde
uterus, lampu sorot, kontras iopamiro 300 mg 1 flacon (20 cc) dan spuit
20 cc
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
HISTERO
SALPHINGOGRAPHY
(HSG)

Persiapan Pasien :
- Dilakukan pada hari ke-9 sampai 10 dari hari pertama menstruasi
(sebelum masa subur)
- Pasien dilarang coitus (senggama) dari selesai menstruasi sampai
dilakukan pemeriksaan.
- Pasien dianjurkan membawa pembalut.
- Sebelum dilakukan pemeriksaan pasien dianjurkan BAK.
- Tanggalkan benda-benda radiopaque di daerah yang akan difoto.
- Pasien ganti baju dengan pakaian yang telah disediakan.

1. Dilakukan plain foto (lihat pemeriksaan daerah blaas)
2. Posisi AP
- Pasien diposiskan litotomi diujung meja pemeriksaan.
- Selanjutnya masukkan alat Salphingogram (oleh Radiolog)
- Setelah salphingogram terpasang posisikan pasien ditenggah-tengah
meja pemeriksaan.
- Masukkan kontras telebrix sebanyak 2-4 cc.
- Buat foto AP daerah blaas.
- Gunakan kaset 18 X 24 cm
3. Posisi Oblique
- Posiskan pasien oblique 45° ke kiri dank e kanan pada daerah blaas.
- Kontras dimasukkan lagi sampai sebanyak 4 sampai 6 cc, sambil
dilakukan pemotretan (dengan fluoroscopy atau dengan radiografi)
- Setelah selesai pemotretan, buka alat salphingogram pasien disuruh
BAK.
- Terakhir buat foto post evakuasi (tergantung permintaan Radiolog)

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
Wijaya Kusumah
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
OESOPAGHOGRAHY
Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Suatu kegiatan pemeriksaan radiografi yang digunakan untuk mengetahui
pada kecurigaan kelainan/penyakit pada daerah traktus digestivus.

II Tujuan
Menilai passage media kontras, dan memvisualisasi gambaran mukosa,
bentuk, ukuran dan posisi oesophagus.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur :
Persiapan Bahan : Barium dilarutkan dengan perbandingan 1: 2 (kental)
Persiapan Pasien :
- Puasa ± 6 jam sebelum pemeriksaan, tanggalkan benda-benda
radiopaque di daerah yang akan difoto,
- Pasien ganti baju dengan pakaian yang telah disediakan.
Posisi Pasien :
- Pasien diposisikan berdiri, lalu disuapi barium sebanyak 2 sendok makan,
instruksikan untuk tidak ditelan terlebih dahulu.
- Beri aba-aba barium untuk ditelan bersamaan dengan pengambilan foto.
- Posisi yang diambil : AP Oblique kanan dan lateral oblique kiri.
- Menggunakan kaset 24 X 30 cm
- Gunakan marker R/L pada tiap posisi pemotretan.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
OESOPHAGUS
MAAG DUODENUM
(OMD) Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Adalah pemeriksaan radiografi yang menggunakan media kontras untuk
mengevaluasi dan mendeteksi kelainan pada Oesophagus (O), Maag (M), dan
Doudenum (D).

II Tujuan
- Menunjang proses menegakkan diagnosa
- Menegakkan diagnosa
Indikasi :
- Gangguan proses menelan.
- Muntah-muntah atau rasa mual yang belum diketahui sebabnya.
- Kecurigaan verses oesophagus
- Kecurigaan massa ekstraluminer dan atau intraluminer.
- Melaak sebab pendarahan tersembunyi (occult bleding) gastrointestinal.
Kontra Indikasi :
- Perdarahan gastrointestinal yang masih berlangsung aktif (masief).
- Obstruksi colon totalis

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur :
Persiapan Bahan :
- Barium sulfat dilarutkan dengan perbandingan 1 : 1 sebagai bahan
kontras positif.
- E-Z Gas (Natrium Bicarbonat & Citrit Acid) sebagai bahan kontras
negatif.
Persiapan Pasien :
- Tanggalkan benda-benda radiopaque di daerah yang akan difoto,
- Pasien ganti baju dengan pakaian yang telah disediakan
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
OESOPHAGUS
MAAG DUODENUM
(OMD)

Posisi Pasien :
- Pasien supine, meja pemeriksaan didirikan (tilting) lalu diminumkan
barium sambil dilakukan pemotretan foto.
- Untuk daerah oesophagus diambil posisi AP dan lateral.
- Pasien dikasih minum barium lagi sampai diperkirakan terisi daerah Maag
dan Duodenum (sesuai instruksi Radiolog).
- Penggunaan kontras negatif dilakukan sesuai dari instruksi Radiolog.
- Untuk daerah Maag dan Duodenum, foto diambil dengan posisi AP, dan
bila diperlukan ditambah posisi Oblique.(atau sesuai dengan instruksi
Radiolog)

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
Wijaya Kusumah
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
COLON IN LOOP
Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Adalah pemeriksaan radiografi yang menggunakan media kontras untuk
mengevaluasi dan mendeteksi kelainan pada sistema colon.

II Tujuan
- Menunjang proses menegakkan diagnosa
- Menegakkan diagnosa
Indikasi :
- Gangguan proses defikasi.
- Melena
- Massa Intra Abdominal
- Dugaan Invaginasi.
- Megacolon
- Nyeri abdomen dengan sebab yang tidak jelas.
Kontra Indikasi :
- Perdarahan intestinal aktif (masief).
- Perforasi
- Diarhea profuse
- Febris tinggi.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur :
Persiapan Bahan :
- Barium sulfat dilarutkan dengan perbandingan 1 : 5 sebanyak 1500 ml
sebagai bahan kontras positif.
- Udara sebagai bahan kontras negatif.
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
COLON IN LOOP

Persiapan Pasien :
- Tanggalkan benda-benda radiopaque di daerah yang akan difoto,
- Pasien ganti baju dengan pakaian yang telah disediakan
Posisi Pasien :
- Pasien diposisikan miring diatas meja pemeriksaan, untuk dimasukkan
kanule lubang anus.
- Pasien diposisikan supine di atas meja pemeriksaan.
- Masukkan barium (sesuai instruksi Radiolog).
- Pengambilan foto dan pemasukan kontras negatif dilakukan sesuai
dengan instruksi Radiolog.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
Wijaya Kusumah
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
URETROCYSTOGRAFY
Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Adalah pemeriksaan radiografi yang menggunakan media kontras untuk
Urethra dan Vesica Urinaria. Keduanya dapat dilakukan secara bersamaan
(dalam satu serial tehnis) atau merupakan pemeriksaan yang berdiri sendiri.
Untuk Systografi dapat dilakukan unipolar atau bipolar (dengan persyaratan
tertentu yang harus dipenuhi).

II Tujuan
Untuk mengevaluasi/memeriksa morphologi anatomi urethra, dan atau
vesica urinaria.
Indikasi :
Kelainan miksi dengan sebab yang diduga kelainan pada urethra atau
vesica.
- Striktura urethra
- Fistel para urethra
- Retensio urine.
- Vesicolithiasis
- Kecurigaan kelainan dinding vesica (divertical)
- Kelainan congenital vesica urinaria.
Kontra Indikasi :
- Infeksi akut pada tractus urinarius.
- Kehamilan

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur :
Persiapan Bahan :
- Bahan kontras : 1 flacon (20 cc)
- Aquabidest steril : ± 100 cc
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
URETROCYSTOGRAFY

- Spuit : 20 cc atau 50 cc(tip kateter) atau dapat menggunakan
spuit kaca 200 cc (disterilkan dahulu)
Persiapan Pasien :
- Tanggalkan benda-benda radiopaque di daerah yang akan difoto
- Pasien ganti baju dengan pakaian yang telah disediakan

1. Buat plain foto posisi AP
2. Masukkan bahan kontras yang sudah diencerkan dengan aquabidest
steril ke dalam vesica urinaria (melalui kateter atau dapat langsung)
3. Buat foto AP daerah blaas
4. Buat foto oblique kanan dan kiri :
- Pasie tidur supine
- Atur vesica oblique kanan atau kiri (posisi pasien atau obyek miring
± 45°)
- Kateter dipasang pada gland penis
- Buat foto pada saat pasien mixie dengan posisi berdiri (jika mampu)
- CR : tegak lurus film
- CP : pada pertengahan kaset
- FFD : 90 cm
- Gunakan kaset ukuran 18 X 24 cm atau 24 X 30 cm
- Pasang marker R/L
- Kriteria : Tampak urethra, vesica urinaria terisi kontras pada
proyeksi AP dan oblique. Tampak bladder neck terbuka (pada
proyeksi pasien mixie).

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
PEMERIKSAAN Wijaya Kusumah
RADIOGRAFI
FOLLOW TROUGH

Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Merupakan pemeriksaan lanjutan OMD.

II Tujuan
- Menunjang proses menegakkan diagnosa
- Menegakkan diagnosa

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur
Persiapan Bahan :
- Barium sulfat dilarutkan dengan perbandingan 1 : 1 sebagai bahan
kontras positif.
- E-Z Gas (Natrium Bicarbonat & Citrit Acid) sebagai bahan kontras
negatif.
Persiapan Pasien :
- Pasien dipuasakan ± 6 jam sebelum pemeriksaan
- Tanggalkan benda-benda radiopaque di daerah yang akan difoto
- Pasien ganti baju dengan pakaian yang telah disediakan
Posisi Pasien :
- Pasien supine di atas meja pemeriksaan
- Pengambilan foto dilakukan sesuai dengan instruksi Radiolog
- Menggunakan kaset ukuran 30 X 40 cm dan diambil pemotretan pada
region abdomen.
- Pasang mrker R/L

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
Wijaya Kusumah
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
FISTULOGRAFY
Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Adalah pemeriksaan radiografi yang menggunakan media kontras pada fistel

II Tujuan
Untuk melihat fistel yang menembus jaringan sekitarnya, apakah fistel
tersebut ada hubungan dengan jaringan sekitarnya dan sejauh
mana/sedalam apa fistel tersebut.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur :
Persiapan Bahan :
- Bahan kontras iopamiro 300 mg
- Aquabidest steril : ± 20 cc
- Jarum tumpul (kateter kecil)
- Spuit 20 cc
- Kain kasa steril
- Kapas alcohol
- Bethadine
Persiapan Pasien :
- Tanggalkan benda-benda radiopaque di daerah yang akan difoto
- Pasien ganti baju dengan pakaian yang telah disediakan
Posisi Pasien :
- Pasien tidur di atas meja pemeriksaan
- Masukkan bahan kontras kedalam spuit sebanyak 20 cc dengan
perbandingan 1 : 1 (banyaknya kontras tergantung besar dan kedalaman
fistel.
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PEMERIKSAAN
RADIOGRAFI
FISTULOGRAFY

- Dengan jarum tumpul (dengan kateter kecil -- jika lubang fistel agak
besar) lalu masukkan kontras.
- Siapkan kaset dan marker

1. Posisi AP :
- Pasien true AP pada meja pemeriksaan (daerah fistel true AP)
- FFD : 90 cm
- CR : tegak lurus kaset
- CP : Pada daerah fistel
2. Posisi Lateral :
- Posisikan daerah fistel lateral
- FFD : 90 cm
- CR : tegak lurus kaset
- CP : Pada daerah fistel
- Kriteria : Tampak kontras mengisi fistel sejauh (sedalam) fistel
pada posisi AP dan lateral.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
Wijaya Kusumah
PROSEDUR
PENANGGULANGAN
TERHADAP SHOCK
Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Adalah suatu tindakan yang harus segera dilakukan terhadap pasien yang
mengalami shock.

II Tujuan
Untuk membantu jika terjadi keadaan gawat darurat akibat reaksi terhadap
bahan kontras yang diberikan kepada pasien.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur :
Persiapan Bahan :
- Obat – obat untuk Basic Life Support (adrenaline, anti histamine,
cortisone, dofamine)
- Tabung oxygen dan isinya
- Infusion set dan standar
- Wing needles dan spuit

1. Ukur tensi dan denyut nadi
2. Sebelum pemeriksaan dimulai, lakukan skin test terlebih dahulu.
3. Jika pada saat penyuntikan berlangsung pasien terasa mual, hentikan
pemberian obat kontras media, pasien diinstruksikan untuk tarik nafas
dalam dan keluarkan perlahan.
4. Jika pasien muntah, miringkan kepala pasien, agar muntahan tidak
terjadi aspirasi
5. Jika muntah berulang-ulang, suntikan primperan 1 Amp. Per intra vena
6. Jika alergi tampak di kulit, suntikan kalmethasone dan anti histamine
(kalau perlu)
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PROSEDUR
PENANGGULANGAN
TERHADAP SHOCK

7. Jika sisertai tanda-tanda shock anapilatic, berikan adrenalin 1/1000
per intra muscular, sebanyak 0,3 cc – 0,5 cc.
- Ditunggu 5 menit jika tensi belum baik lagi 0,3 cc. Jika masi
berlanjut, diberikan lagi :
- 0,5 cc adrenalin 1 : 1000 dilarutkan dalam 10 ml NaCl 0,9 %
perlahan selama 10 menit secara intra vena.
- Beriakn kostikosteroid iv, misa lhydrokortison 200 mg
- Steroid tidak bermanfaat pada keadaan akut, tetapi dapat
menolong mencegah anafilaksis yang refrakter atau kambuh.
- Bila terjadi spasme bronkus yang berat, berikan aerosol
bronkodilator dan atau aminofilin 6 mg/kg BB iv selama 10 menit.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
Wijaya Kusumah
PROSEDUR
PEMERIKSAAN PADA
KEADAAN GAWAT
DARURAT Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Adalah pemeriksaan imejing Radiodiagnostik dengan atau tanpa
menggunakan media kontras (sesuai dengan permintaan dokter pengirim),
dan dilakukan dengan teknik pemeriksaan dan proyeksi pemotretan standar.

II Tujuan
Untuk membantu menegakkan diagnosa dengan dilakukan pemeriksaan pada
keadaan gawat darurat dimana kemungkinan pasien pada keadaan non
kooperatif.
Indikasi :
- Trauma
- Akut Abdomen
- Infeksi
- Aspirasi benda asing
- Kelainan bawaan
Kontra Indikasi :
- Absolut : tidak ada
- Relatif : Keadaan pasien yang buruk

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur :
Pada keadaan gawat darurat seperti ini, kita jangan memaksakan posisi
pasien seperti dalam literature yang ada, tetapi kita dapat melakukan
perubahan dengan melakukan maneuver pada alat X-raynya, sehingga obyek
yang akan difoto dapat tergambar.
Contoh :
- Pada pemeriksaan kepala, sinar (CR) tidak harus vertical terhadap kaset,
tetapialat X-ray tang diatur sehingga pada posisi lateral sinar dapat
horizontal.
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
PROSEDUR
PEMERIKSAAN PADA
KEADAAN GAWAT
DARURAT

- Pada foto thorax, jika pasien tidak dapat berdiri, maka dapat dilakukan
dengan posisi pasien duduk, ½ duduk atau bila tidak memungkinkan
dengan posisi tadi tersebut diatas, adalah dengan tidur proyeksi AP.
- Demikian juga untuk pemeriksaan Vertebrae, ekstremitas dll, kita harus
melihat kondisi dan keadaan pasien.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik
PROSEDUR TETAP INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman

Tanggal Terbit : Ditetapkan Direktur Rumah Sakit
Wijaya Kusumah
PROSEDUR
PEMERIKSAAN
CITO
Dr. H Agus Fauzan S, MARS
NIK. 95.08.007

I. Pengertian
Adalah pemeriksaan imejing Radiodiagnostik yang dilaksanakan diluar jam
kedinasan petugas Instalasi Radiologi, atau petugas Radiologi sedang libur.

II Tujuan
Untuk membantu menegakkan diagnosa pada kasus yang sifatnya emerjensi
dan membutuhkan penanganan segera.

III. Kebijakan
Ada prosedur tertulis yang didasarkan pada pengetahuan dalam bidang
radiografi

IV. Prosedur :
- Ucapkan Salam
- Pastikan identitas pasien
- Petugas memperkenalkan diri kepada pasien & keluarganya, serta
menjelaskan tentang pemeriksaan yang akan dilaksanakan.
- Petugas menanyakan keluhan pasien.
- Lakukan pemeriksaan / foto sesuai dengan permintaan dokter pengirim
- Selama pemeriksaan, buat posisi pasien tetap nyaman.
- Setelah selesai pemeriksaan ucapkan terima kasih dan semoga cepat
sembuh.
- Ucapkan salam.

V. Unit Terkait
Inst. Rawat Inap, Inst. Rawat Jalan dan Inst. Darurat Medik