You are on page 1of 8

PANDUAN PRAKTEK KLINIK (PPK

)
MEDIS RSIA NUN SURABAYA
2014 – 2016
No. Dokumen: No.Revisi: Halaman :

INFEKSI VIRUS DENGUE

1. Definisi Infeksi virus dengue merupakan suatu penyakit
demam akut yang disebabkan oleh virus genus
Flavivirus, Famili Flaviviridae, mempunyai 4 jenis
serotype yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4,
melalui perantara nyamuk Aedes aegypti atau Aedes
albopictus.
Salah satu varian klinis infeksi virus dengue, yang
ditandai oleh gejala panas 2 – 7 hari dan pada saat
panas turun disertai / disusul dengan gangguan
hemostatic dan kebocoran plasma (plasma leakage).
2. Anamnesis - Demam merupakan tanda utama, terjadi
mendadak tinggi, selama 2 – 7 hari.
- Disertai lesu, tidak mau makan, dan muntah
- Pada anak besar dapat mengeluh nyeri otot,
nyeri kepala dan nyeri perut.
- Diare kadang – kadang dapat ditemukan
- Perdarahan paling sering dijumpai adalah
perdarahan kulit dan mimisan.
3. Pemeriksaan fisik  Gejala klinis DBD diawali dengan demam
mendadak tinggi, facial flush, muntah, nyeri
kepala, nyeri otot dan sendi, nyeri tenggorok
dengan faring hiperemis, nyeri di bawah
lengkung iga kanan. Gejala penyerta tersebut
lebih mencolok pada DD daripada DBD.
 Sedangkan hepatomegali dan kelainan fungsi
hati lebih sering ditemukan pada DBD.
 Perbedaan antara DD dan DBD adalah pada
DBD terjadi peningkatan permeabilitas
kapiler sehingga menyebabkan perembesan
PANDUAN PRAKTEK KLINIK (PPK)
MEDIS RSIA NUN SURABAYA
2014 – 2016
No. Dokumen: No.Revisi: Halaman :

INFEKSI VIRUS DENGUE

plasma, hipovolemia dan syok.
 Perembesan plasma mengakibatkan
ekstravasasi cairan ke dalam rongga pleura
dan rongga peritoneal selama 24 – 48 jam.
 Fase kritis sekitar hari ke-3 hingga ke-5
perjalanan penyakit. Pada saat ini suhu turun
yang dapat merupakan awal penyembuhan
pada infeksi ringan namun pada DBD berat
merupakan tanda awal syok.
 Perdarahan dapat berupa ptekie, epistaksis,
melena, ataupun hematuria.
4. Kriteria Diagnosis Diagnosis DBD ditegakkan berdasarkan
kriteria klinis dan laboratorium (WHO tahun
1997) :
1. Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang
jelas, berlangsung terus – menerus selama 2 –
7 hari.
2. Terdapat manifestasi perdarahan, termasuk uji
bending positif, petekie, ekimosis, epistaksis,
perdarahan gusi, hematemesis, dan /melena.
3. Pembesaran hati
4. Syok, ditandai nadi cepat dan lemah serta
penurunan tekanan nadi, hipotensi, kaki dan
tangan dingin, kulit lembab dan pasien
tampak gelisah.
5. Kriteria Laboratorium :
- Trombositopenia (100.000/µl atau kurang)
- Hemokonsentrasi, dilihat dari peningkatan
hematokrit 20% menurut standar umur dan
PANDUAN PRAKTEK KLINIK (PPK)
MEDIS RSIA NUN SURABAYA
2014 – 2016
No. Dokumen: No.Revisi: Halaman :

INFEKSI VIRUS DENGUE

jenis kelamin.
- Dua kriteria klinis pertama disertai
trombositopenia dan hemokonsentrasi, serta
dikonfirmasi secara uji serologik
hemaglutinasi.
5. Diagnosa Banding 1. Exanthema subitum
2. German measles
3. Chikunguya
4. Demam berdarah dengue grade I dan II
6. Pemeriksaan Penunjang A. Laboratorium
- Darah perifer, kadang hemoglobin, leukosit &
hitung jenis, hematokrit, trombosit. Pada
apusan darah perifer juga dapat dinilai
limfosit plasma biru, peningkatan 15%
menunjang diagnosis DBD.
- Uji Serologis, uji hemaglutinasi inhibisi
dilakukan saat fase akut dan fase konvalesens
 Infeksi Primer, serum akut < 1:20,
serum konvalesens naik 4x atau lebih
namun tidak melebihi 1:1280
 Infeksi Sekunder, serum akut < 1:20,
konvalesens naik 4x atau lebih
 Persangkaan infeksi sekunder yang
baru terjadi (presumptive secondary
infection) : serum akut 1:1280, serum
konvalesens dapat lebih besar atau
sama.
B. Radiologis
- Pemeriksaan foto dada, dilakukan atas
PANDUAN PRAKTEK KLINIK (PPK)
MEDIS RSIA NUN SURABAYA
2014 – 2016
No. Dokumen: No.Revisi: Halaman :

INFEKSI VIRUS DENGUE

indikasi (1) dalam keadaan klinis ragu – ragu,
namun perlu diingat bahwa terdapat kelainan
radiologis pada perembesan plasma 20 –
40%, (2) pemantauan klinis, sebagai pedoman
pemberian cairan.
- Kelainan radiologi, dilatasi pembuluh darah
paru terutama daerah hilus kanan, hemitoraks
kanan lebih radio opak dibandingkan kiri,
kubah diafragma kanan lebih tinggi dari pada
kanan, dan efusi pleura.
- USG : efusi pleura, ascites, kelainan
(penebalan) dinding vesica felea dan vesica
urinaria
7. Tata Laksana A. DBD tanpa Syok (derajat I dan II)
Medikamentosa :
- Antipiretik dapat diberikan, dianjurkan
pemberian Paracetamol bukan aspirin.
- Diusahakan tidak memberikan obat – obat
yang tidak diperlukan (misalnya antasida,
antiemetik) untuk mengurangi beban
detoksifikasi obat dalam hati.
- Kortikosteroid diberikan pada DBD
ensefalopati, apabila terdapat perdarahan
saluran cerna kortikosteroid tidak diberikan.
- Antibiotik diberikan untuk DBD ensefalopati.
Suportif
- Mengatasi kehilangan cairan plasma sebagai
akibat peningkatan permeabilitas kapiler dan
perdarahan.
PANDUAN PRAKTEK KLINIK (PPK)
MEDIS RSIA NUN SURABAYA
2014 – 2016
No. Dokumen: No.Revisi: Halaman :

INFEKSI VIRUS DENGUE

- Kunci keberhasilan terletak pada kemampuan
untuk mengatasi masa peralihan dari fase
demam ke fase syok.
- Cairan Intravena diperlukan apabila (I) anak
terus- menerus muntah, tidak mau minum,
demam tinggi, dehidrasi yang dapat
mempercepat terjadinya syok, (2) Nilai
hematokit cenderung meningkat pada
pemeriksaan berkala.
B. DBD disertai syok (Sindrom Syok Dengue,
derajat III dan IV)
- Penggantian volume plasma segera, cairan
intravena larutan Ringer Laktat 10 – 20
ml/kgBB secara bolus diberikan dalam wkt
30 menit. Apabila syok belum teratasi tetap
berikan Ringer Laktat 20 ml/kgBB ditambah
koloid 20-30 ml/kgBB/jam, maksimal 1500
ml/hari.
- Pemberian cairan 10ml/kgBB/jam tetap
diberikan 1-4 jam pasca syok. Volume cairan
diturunkan menjadi 7 ml/kgBB/jam,
selanjutnya 5 ml, dan 3 ml apabila tanda vital
dan diuresis baik.
- Jumlah urin 1 ml/kgBB/jam merupakan
indikasi bahwa sirkulasi membaik
- Oksigen 2-4 l/menit pada DBD syok.
- Koreksi asidosis metabolic dan elektrolit pada
DBD syok.
PANDUAN PRAKTEK KLINIK (PPK)
MEDIS RSIA NUN SURABAYA
2014 – 2016
No. Dokumen: No.Revisi: Halaman :

INFEKSI VIRUS DENGUE

- Apabila setelah pemberian cairan kristaloid
dan koloid, syok menetap, hematokrit turun,
maka diduga terjadi perdarahan, berikan
darah segar 10 ml/kgBB.
- Apabila kadar hematokrit tetap > 40 vol%,
maka berikan darah dalam volume kecil.
- Plasma segar beku dan suspensi trombosit
berguna untuk koreksi gangguan koagulopati
atau koagulasi intravaskular desminata (KID)
pada syok berat yang menimbulkan
perdarahan masif.
- Pemberian transfuse suspensi trombosit pada
KID harus selalu disertai plasma segar (berisi
faktor koagulasi yang diperlukan), untuk
mencegah perdarahan lebih hebat.
C. DBD Ensefalopati
- Pada ensefalopati cenderung terjadi edema
otak dan alkalosis, maka bila syok telah
teratasi, cairan diganti dengan cairan yang
tidak mengandung HCO3- dan jumlah cairan
segera dikurangi. Larutan Ringer Laktat
segera ditukar dengan larutan NaCl (0,9%) :
Glukosa 5% = 3:1
8. Monitoring 1. Monitoring tanda klinis, apakah syok telah
teratasi dengan baik, adakah pembesaran hati,
tanda perdarahan saluran cerna, tanda
ensefalopati, harus dimonitor dan dievaluasi
untuk menilai hasil pengobatan.
2. Monitoring kadar hemoglobin, hematocrit,
PANDUAN PRAKTEK KLINIK (PPK)
MEDIS RSIA NUN SURABAYA
2014 – 2016
No. Dokumen: No.Revisi: Halaman :

INFEKSI VIRUS DENGUE

dan trombosit tiap 6 jam, minimal tiap 12
jam.
3. Monitoring balans cairan, catat jumlah cairan
yang masuk, diuresis ditampung dan jumlah
perdarahan.
4. Pada DBD syok, perlu dilakukan cross
match darah untuk persiapan transfuse darah
apabila diperlukan.
9. Prognosis Dubia ad Bonam
10. Tingkat Eviden 4
11. Tingkat Rekomendasi
12. Kepustakaan Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag/SMF Ilmu
Kesehatan Anak. 2010, RSU dr. Soetomo, Surabaya
Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak
Indonesia. 2010.

Ketua Komite Medik Ketua SMF

(dr. Danu Maryoto Teguh, SpOG (K) (Dr.dr. Rudi Irawan, SpA.M.Kes)

Direktur
RSIA NUN Surabaya

(Numbi Mediatmapratia, dr)
PANDUAN PRAKTEK KLINIK (PPK)
MEDIS RSIA NUN SURABAYA
2014 – 2016
No. Dokumen: No.Revisi: Halaman :

INFEKSI VIRUS DENGUE