You are on page 1of 18

Asma (dalam bahasa Yunani ἅσθμα, ásthma, "terengah") merupakan peradangan kronis yang

umum terjadi pada saluran napasyang ditandai dengan gejala yang bervariasi dan berulang,
penyumbatan saluran napas yang bersifat reversibel, dan spasme bronkus.[2] Gejala umum
meliputi mengi, batuk, dada terasa berat, dan sesak napas.[3]

Asma pada awalnya diperkirakan disebabkan oleh kombinasi faktor genetika dan lingkungan.
[4]
Diagnosis biasanya didasarkan atas pola gejala, respons terhadap terapi pada kurun waktu
tertentu, dan spirometri.[5] Asma diklasifikasikan secara klinis berdasarkan seberapa sering gejala
muncul, volume ekspirasi paksa dalam satu detik (FEV1), dan puncak laju aliran ekspirasi.[6] Asma
dapat pula diklasifikasikan sebagai atopik (ekstrinsik) atau non-atopik (intrinsik)[7] dimana atopi
dikaitkan dengan predisposisi perkembangan reaksi hipersensitivitas tipe 1.[8]

Terapi untuk gejala akut biasanya dengan menghirup beta-2 agonist reaksi cepat
(misalnya salbutamol) dan kortikosteroid oral.[9]Pada kasus yang sangat parah mungkin diperlukan
pemberian kortikosteroid intravena, magnesium sulfat dan perawatan di rumah sakit.[10] Gejala ini
dapat dicegah dengan menghindari pencetusnya, seperti misalnya alergen[11] dan iritan, dan dengan
penggunaan kortikosteroid hirup.[12] Beta agonist reaksi lambat (LABA) atau leukotrien
antagonis dapat ditambahkan, selain pemberian kortikosteroid hirup bila gejala asma tidak dapat
dikontrol.[13] Prevalensi asma mengalami peningkatan secara signifikan sejak tahun 1970an. Pada
tahun 2011, 235–300 juta orang terserang asma secara global, [14][15] termasuk adanya 250.000
kematian.[15]

Daftar isi
[sembunyikan]

 1Tanda-tanda dan gejala
o 1.1Kondisi yang berkaitan

 2Penyebab

o 2.1Lingkungan

o 2.2Genetika

o 2.3Kondisi medis

o 2.4Serangan asma

 3Patofiologi

 4Diagnosis

o 4.1Spirometri
o 4.2Lainnya

o 4.3Klasifikasi

o 4.4Diagnosis banding

 5Pencegahan

 6Tata Laksana

o 6.1Modifikasi Gaya Hidup

o 6.2Obat

o 6.3Lain-lain

o 6.4Pengobatan alternatif

 7Prognosis

 8Epidemiologi

 9Sejarah

 10Catatan

 11Pranala luar

Tanda-tanda dan gejala[sunting | sunting sumber]
Wheezing

MENU
0:00
Suara mengi atau bengek yang
didengar dengan stetoskop.

Kesulitan mendengarkan berkas ini? Lihat bantuan.

Asma ditandai dengan adanya episode berulang dari mengi, sesak napas, dada terasa berat,
dan batuk.[16]Dahak bisa saja terbentuk di paru-paru karena batuk tetapi sulit untuk dikeluarkan.
[17]
Selama masa penyembuhan setelah serangan mungkin terbentuk apa yang disebut mirip
nanah yang disebabkan oleh tingginya kandungan sel darah putih yang disebut eosinofil.[18]Gejala
biasanya memburuk pada waktu malam atau pagi hari atau sebagai respons terhadap kegiatan olah
raga atau udara dingin.[19] Pada sejumlah penderita asma ada yang jarang menunjukkan gejala,
sebagai respons terhadap pemicu, sedangkan sejumlah penderita asma yang lain mungkin
menunjukkan gejala yang nyata dan persisten.[20]

Kondisi yang berkaitan[sunting | sunting sumber]
Sejumlah kondisi kesehatan lain yang sering muncul pada mereka yang menderita asma
adalah:penyakit refluks gastroesofagus (GERD), rinosinusitis, dan apnea tidur obstruktif.
[21]
Gangguan psikologis juga sangat umum [22] dengan munculnya gangguan kecemasan antara 16–
52% dan gangguan suasana hati pada 14–41%.[23] Namun tidak diketahui dengan pasti apakah
asma menyebabkan gangguan psikologis atau masalah psikologis menyebabkan asma. [24]

Penyebab[sunting | sunting sumber]
Asma disebabkan oleh interaksi lingkungan dan genetika yang merupakan kombinasi yang rumit
dan belum sepenuhnya dimengerti.[4][25] Semua faktor ini memengaruhi baik tingkat keparahan dan
juga respons terhadap terapi. [26] Adanya peningkatan laju penderita asma belakangan ini disebabkan
oleh perubahan faktor epigenetik (terwariskan selain adanya hubungan dengan urutan DNA) dan
lingkungan hidup yang berubah.[27]

Lingkungan[sunting | sunting sumber]
Berbagai faktor lingkungan yang dihubungkan dengan timbulnya asma dan eksaserbasi asma yaitu:
alergen, polusi udara, dan senyawa kimiawi lingkungan lainnya. [28] Merokok selama masa
kehamilan dan setelah melahirkan dihubungkan dengan risiko yang lebih besar untuk gejala mirip
asma.[29] kualitas udara buruk, dari polusi kendaraan atau kadarozon yang tinggi,[30] selalu
dihubungkan dengan timbulnya asma dan peningkatan keparahannnya. [31] Pajanan terhadap uap
senyawa organik dalam ruangan dapat memicu asma; pajanan formaldehida, misalnya,
menunjukkan hubungan yang positif.[32] Selain itu, ftalat pada PVC juga dihubungkan dengan asma
pada anak-anak dan dewasa[33][34]sebagai sumber pajanan terhadap konsentrasi endotoksin tinggi.[35]

Asma dihubungkan dengan pajanan terhadap alergen dalam ruangan. [36] Alergen dalam ruangan
yang umum diantaranya adalah: tungau debu, kecoa, ketombe hewan, dan jamur.[37][38] Berbagai
upaya untuk mengurangi tungau debu ternyata tidak efektif. [39] Infeksi virus tertentu pada saluran
nafas dapat meningkatkan risiko timbulnya asma apabila terjadi saat masih anak-anak seperti
misalnya:[40] respiratory syncytial virus dan rinovirus.[41] Akan tetapi beberapa jenis infeksi lain dapat
menurunkan risiko.[41]

Hipotesis kebersihan[sunting | sunting sumber]

Hipotesis kebersihan adalah suatu teori yang mencoba untuk menjelaskan kenaikan laju penderita
asma di seluruh dunia sebagai hasil langsung dan tidak terduga dari berkurangnya pajanan
terhadap bakteri dan virus non-infeksi selama masa kanak-kanak.[42][43] Hal ini telah diungkapkan
bahwa berkurangnya pajanan terhadap bakteri dan virus, sebagian, disebabkan oleh meningkatnya
tingkat kebersihan dan jumlah keluarga pada masyarakat modern. [44] Bukti yang mendukung
hipotesis kebersihan ini diantaranya adalah rendahnya penderita asma di tanah pertanian dan
rumah tangga yang memiliki hewan peliharaan.[44]

Penggunaan antibiotik pada usia dini juga dihubungkan dengan timbulnya asma. [45] Juga, proses
melahirkan melalui bedah sesar juga diasosiasikan dengan meningkatnya risiko asma (diperkirakan
antara 20–80%)—peningkatan risiko ini dihubungkan dengan berkurangnya koloni bakteri sehat
yang seharusnya didapatkan bayi yang lahir melalui saluran kelahiran. [46][47] Dapat dilihat adanya
keterkaitan antara asma dan tingkat kemakmuran.[48]

Genetika[sunting | sunting sumber]

CD14-interaksi endotoksin berdasarkan pada CD14 SNP C-159T [49]

Tingkat endotoksin Genotip CC Genotip TT

Pajanan tinggi Risiko rendah Risiko tinggi

Pajanan rendah Risiko tinggi Risiko rendah

Sejarah keluarga merupakan faktor risiko asma yang melibatkan berbagai gen. [50] Bila salah satu
dari kembar identik mengidap asma, probabilitas dari pasangan kembarnya menderita penyakit ini
sekitar 25%.[50] Pada akhir tahun 2005, 25 gen telah diasosiasikan dengan asma pada enam atau
lebih populasi terpisah diantaranya:GSTM1, IL10,CTLA-4,SPINK5,LTC4S, IL4R and ADAM33.
[51]
Kebanyakan dari gen ini berhubungan dengan sistem imun atau modulasi proses peradangan.
Walaupun sudah sering dilakukan penelitian yang mendukung daftar gen ini, hasil yang diperoleh
belum konsisten dengan semua populasi yang diuji. [51] Pada tahun 2006 terdapat lebih dari
100 gen yang dihubungkan dengan asma hanya pada satu penelitian asosiasi genetika saja;
[51]
masih banyak yang ditemukan pada penelitian lain . [52]

Sejumlah varian genetika hanya akan menyebabkan asma bila berkombinasi dengan pajanan
lingkungan tertentu.[4] sebagai contoh adalah polimorfisme nukleotida tunggalspesifik dalam
wilayah CD14 dan pajanan terhadap endotoksin (suatu produk bakteri). Pajanan endotoksin dapat
berasal dari berbagai sumber lingkungan termasuk di dalamnya asap tembakau, anjing dan tanah
pertanian. Risiko terhadap asma, selanjutnya, ditentukan baik berdasarkan genetika orang tersebut
dan juga tingkat pajanan endotoksin.[49]
Kondisi medis[sunting | sunting sumber]
Suatu keadaan tiga serangkai yang terdiri dari eksim atopik, rinitis alergi dan asma disebut sebagai
atopi.[53] Faktor risiko paling kuat yang menyebabkan timbulnya asma adalah riwayat penyakit atopik;
[40]
munculnya asma pada laju yang lebih besar pada mereka yang menderita eksim atau demam
hay.[54] Asma juga dihubungkan dengan Churg–Strauss syndrome, suatu penyakit autoimun
dan vaskulitis. Seseorang dengan tipe urtikaria tertentu juga dapat mengalami gejala asma.[53]

Terdapat korelasi antara obesitas dan risiko asma karena keduanya menunjukkan kenaikan
beberapa tahun belakangan ini.[55][56] Beberapa faktor yang mungkin memainkan peranan penting
diantaranya adalah menurunnya fungsi pernapasan karena adanya timbunan lemak dan pada
kenyataannya jaringan lemak dapat menimbulkan peradangan. [57]

Berbagai obat yang mengandung penyekat beta seperti misalnya propranolol dapat memicu asma
pada seseorang yang rentan. [58] Penyekat beta kardioselektif, bagaimanapun, tampaknya aman
diberikan pada penderita dengan penyakit asma yang ringan atau sedang. [59] Pengobatan lain yang
dapat menyebabkan masalah adalah ASA, OAINS, daninhibitor enzim pengubah angiotensin.[60]  

Serangan asma[sunting | sunting sumber]
Beberapa individu akan menderita asma tanpa gejala/stabil selama berminggu-minggu atau
berbulan-bulan dan kemudian secara mendadak dalam perjalanannya berkembang menjadi episode
asma akut. Individu yang berbeda akan bereaksi berbeda pula terhadap berbagai faktor. [61] Pada
sebagian besar individu dapat terjadi peningkatan intensitas gejala suatu penyakit yang berat akibat
dari sejumlahpemicu. .[61]

Ada banyak faktor di rumah yang dapat menjad penyebab munculnya serangan asma asma yang
meliputi debu, binatang ketombe(terutama rambut kucing dan anjing), kecoaalergen dan jamur.
[61]
parfum merupakan penyebab serangan asma yang paling umum pada wanita dan anak-
anak. infeksi viral dan bakteri s pada saluran pernapasan atas, keduanya dapat memperburuk
penyakit ini.[61] Faktor psikologi seperti stress dapat memperburuk gejalanya— Diperkirakan stres
dapat mengubah sistem imunitas dan selanjutnya meningkatkan reaksi peradangan saluran napas
sebagai respons terhadap alergen dan iritan. [31][62]

Patofiologi[sunting | sunting sumber]
Penyumbatan pada lumenbronkiiolus dengan eksudat seperti lendir, sel goblet metaplasia, dan penebalan
epitelil membran basalpada seseorang yang menderita asma.

Asma merupakan kondisi yang diakibatkaninflamasi]] kronis pada saluran napas yang kemudian
dapat meningkatkan kontraksi otot polos.di sekeliling saluran napas. Hal ini, bersama dengan faktor
lain menyebabkan penyempitan saluran napas sehingga menimbulkan gejala klasik berupa mengi.
Penyempitan saluran napas biasanya dapat pulih dengan atau tanpa pemberian terapi.Adakalanya
saluran napas itu sendiri yang berubah. [16] Biasanya terjadinya perubahan di saluran napas,
termasuk meningkatnya eosinofil dan penebalanlamina retikularis. Dalam jangka waktu lama, otot
polos saluran napas bisa bertambah ukurannya bersamaan dengan bertambahnya jumlah kelenjar
lendir.Jenis sel lain yang terlibat yaitu: Limfosit T, makrofag, dan neutrofil. Kemungkinan ada juga
keterkaitan komponen lain sistem imun yaitu: antara lain sitokin, kemokin, histamin, and leukotrien.
[41]

Diagnosis[sunting | sunting sumber]

Walaupun asma merupakan kondisi yang sudah dikenal secara umum, namun tidak terdapat
kesepakatan universal mengenai definisi asma.[41] Definisi yang ditetapkan oleh Global Initiative for
Asthma adalah "kelainan peradangan kronis pada saluran napas dimana banyak sel dan elemen sel
berperan. Kelainan peradangan kronis tersebut berhubungan dengan respons berlebih dari saluran
napas yang menyebabkan mengi berulang, sesak napas, rasa berat di dada dan batuk terutama di
malam hari atau dini hari. Semua kejadian ini biasanya berhubungan dengan penyumbatan saluran
napas yang luas namun bervariasi di paru-paru yang dapat pulih secara spontan atau setelah
pemberian terapi ".[16]

Pada saat ini tidak ada uji yang tepat untuk melakukan diagnosis melainkan dengan melihat pola
gejala penyakit dan reaksinya terhadap terapi..[5][41] Dugaan diagnosis asma adalah bila ditemukan
riwayat: mengi berulang, batuk atau sesak napas dan semua gejala ini terjadi atau memburuk
karena aktivitas olahraga, infeksi virus, alergen atau polusi udara. [63]Spirometri digunakan untuk
konfirmasi diagnosis asma.[63] Untuk anak-anak dibawah usia enam tahun diagnosis asma menjadi
lebih sulit karena anak-anak pada usia tersebut terlalu muda untuk menggunakan alat spirometri. [64]
Spirometri[sunting | sunting sumber]
Spirometri direkomendasikan untuk membantu diagnosis penyakit dan manajemen terapi. [65][66] Alat
itu satu-satunya alat uji untuk mendeteksi asma. Jika FEV1 diukur oleh teknik ini menunjukkan
pengingkatan lebih dari 12% pasca pemberian bronkodilator seperti salbutamol, maka hal ini akan
mendukung diagnosis. Hasil pemeriksaan ini dapat saja normal untuk individu yang memiliki riwayat
asma ringan, walau saat ini tidak dalam serangan. Single-breath diffusing capacity dapat membantu
membedakan asma dari PPOK.[41] Sebaiknya pemeriksaan spirometri dilakukan setiap satu atau dua
tahun untuk memastikan seberapa baik kondisi asma seseorang terkontrol dengan terapi. [67]

Lainnya[sunting | sunting sumber]
metakolin provokasi berupa proses inhalasi zat dengan konsentrasi yang tinggi yang dapat
menyebabkan penyempitan saluran napas pada individu yang rentanterhadap asma saluran. Jika
negatif maka berarti orang tersebut tidak berpenyakit asma; namun jika positif, bukan berarti orang
tersebut memiliki asma, karena tes ini tidak spesifik untuk asma.. [41]

Bukti pendukung lainnya yaitu: terdapat perbedaan sebesar ≥20% pada puncak laju aliran
ekspirasi setidaknya tiga hari dalam seminggu untuk paling tidak dua minggu, kondisi peningkatan
≥20% pada puncak aliran udara setelah dilakukan terapi menggunakan salbutamol, kortikosteroids
atau prednison yang dihirup, atau penurunan ≥20% pada puncak aliran udara pasca pajanan
terhadap pemicu.[68] Variabilitas uji puncak laju aliran udara lebih besar daripada spirometri,
sehingga tes tersebut tidak direkomendasikan untuk pemeriksaan rutin penegakkan diagnosis.
Pemeriksaan tersebut bermanfaat untuk pemantauan harian mandiri pasien dengan asma derajat
sedang hingga berat, untuk memeriksa efektivitas pengobatan baru. Pemeriksaan ini dapat juga
berfungsi sebagai pedoman terapi pada pasien dengan serangan asma akut.. [69]

Klasifikasi[sunting | sunting sumber]

Klasifikasi klinis (untuk berumur ≥ 12 tahun)[6]

Gejala pada
Seringnya %FEV1 sesuai penggunaan
Keparahan waktu malam FEV1Variabilitas
terjadi gejala diperkirakan SABA
hari

intermiten ≤2/minggu ≤2/bulan ≥80% <20% ≤2 hari/minggu
Persisten
>2/minggu 3–4/bulan ≥80% 20–30% >2 hari/minggu
ringan

Persisten
Harian >1/minggu 60–80% >30% harian
sedang

ersisten Secara Seringnya
<60% >30% ≥dua kali/hari
berat kontinu (7×/minggu)

Asma secara klinis diklasifikasikan berdasarkan seberapa sering gejala muncul, volume ekspirasi
paksa dalam satu detik (FEV1), dan puncak laju aliran ekspirasi.[6] Asma bisa juga diklasifikasikan
sebagai atopik (ekstrinsik) atau non- atopik (intrinsik), berdasarkan pada gejala yang
munculditimbulkan oleh alergen (atopik) atau bukan (non-atopik). [7] Klasifikasi asma sampai saat ini
dibuat berdasarkan tingkat keparahan penyakit, pada saat ini tidak ada metode lain untuk
mengklasifikasikan subgrup asma di luar metode ini. [70] Menemukan cara lain untuk mengidentifikasi
subgrup asma yang berespons baik terhadap jenis terapi yang berbeda saat ini menjadi tujuan
utama penelitian mengenai asma..[70]

Meskipun asma adalah kondisi obstruktif kronik, penyakit tersebut tidak dianggap bagian
dari penyakit paru obstruktif kronik sebab istilah ini digunakan khusus untuk gabungan penyakit
yang tidak dapat disembuhkan kembali seperti sedia kala seperti bronkiektasis,bronkhitis kronik,
dan emfisema.[71] Tidak seperti penyakit diatas, obstruksi saluran napas pada asma biasanya dapat
pulih kembali seperti sedia kala, akan tetapi bila dibiarkan tanpa terapi, proses peradangan kronis
pada asma dapat menyebabkan kondisi obstruksi pada paru-paru menjadi tidak dapat disembuhkan
karena perubahan bentuk pada saluran napas.[72] Berbeda dengan emfisema, asma akan
mempengaruhi saluran pernapasan, dan bukannya alveoli.[73]

Serangan asma akut[sunting | sunting sumber]

tingkat keparahan serangan asma akut[74]

Hampir menyebabkan PaCO2 tinggi dan/atau membutuhkan bantuan alat ventilasi
kematian mekanik
Tanda-tanda klinis Pengukuran

Perubahan tingkat kesadaran Puncak aliran < 33%

Kelelahan Saturasi Oksigen < 92%

Mengancam nyawa Aritmia PaO2 < 8 kPa
(orang tertentu pada)

Rendah tekanan darah "Normal" PaCO2

Sianosis

Tidak ada aliran udara yang
terdengar

Upaya nafas buruk

Sangat akut
(orang tertentu pada)

Puncak aliran 33–50%

Frekuensi pernapasan ≥ 25 bernapas setiap menit

Frekuensi denyut jantung ≥ 110 denyut setiap menit
Tidak dapat menyelesaikan kalimat dalam satu kali tarikan
napas

Gejala memburuk

Sedang Puncak aliran 50–80% terbaik atau diperkirakan

Tidak ada fitur asma sangat berat

Eksaserbasi asma akut biasanya dikenal sebagai suatu serangan asma. Gejala klasiknya
adalah sesak nafas, mengi, and rasa berat di dada.[41] Walaupun gejala tersebut adalah gejala
primer asma,[75] namun beberapa orang dengan asma datang dengan gejalabatuk, dan pada kasus
yang sangat parah, aliran udara benar-benar terganggu sehingga tidak terdengar lagi suara mengi.
[74]

Tanda yang dapat ditemukan pada saat serangan asma yaitu penggunaan otot tambahan untuk
bernapas yaitu (sternokleidomastoid dan otot scalene di leher), terdapat jugadenyut nadi
paradoks (denyut nadi yang melemah pada saat menarik napas dan denyut nadi menjadi kuat saat
menghembuskan napas), serta penggembungan dada yang berlebihan . [76] warna biru di kulit dan
kuku bisa terjadi akibat kekurangan oksigen.[77]

Pada asma serangan ringan Puncak laju aliran ekspirasi (PEFR) yaitu ≥200 L/men atau ≥50% dari
perkiraan terbaik.[78] Asma serangan sedang yaitu antara 80 sampai 200 L/men atau 25% sampai
50% sesuai dengan perkiraan sedangkan bertambah parah berat yaitu ≤ 80 L/men atau ≤25% dari
perkiraan.[78]

Asma serangan berat, sebelumnya dikenal sebagai status asmatikus, adalah bertambah parahnya
asma atau serangan asma akut yang tidak memberikan respons terhadap terapi standar dengan
bronkodilator dan kortikosteroid. [79] Setengah dari kasus ini terjadi karena infeksi dan yang lainnya
terjadi karena alergen, polusi udara atau pemakaian obat yang tidak cukup atau tidak sesuai. [79]

Brittle asthma adalah jenis asma yang menyebabkan serangan berat dan berulang.. [74] Tipe 1 asma
brittle adalah penyakit dengan puncak aliran yang sangat bervasiasi meskipun dengan pengobatan
yang memadai. Tipe 2 brittle asma adalah asma yang sebelumnya sudah terkontrol dengan baik,
tiba-tiba mengalami serangan berat. [74]

Asma yang Dipicu oleh Olahraga[sunting | sunting sumber]
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Exercise-induced bronchoconstriction
Olahraga dapat memicu terjadinya penyempitan saluran pernapasan bronkokonstriksi pada
penderita asma maupun bukan. [80] Penderita asma lebih sering mengalami hal ini dan hanya sekitar
<20% orang tanpa asma yang mengalaminya. [80] Penyempitan saluran napas pada atlet lebih jamak
ditemukan pada kelompok atlet elit dengan angka beragam mulai 3% pada pebalap bobsled sampai
50% pada pebalap sepeda dan 60% pada atlet ski lintas alam.[80] Meskipun asma bisa muncul dalam
kondisi cuaca apapun, namun penyakit ini lebih sering terjadi pada kondisi cuaca kering dan dingin.
[81]
beta2 agonis hirup sepertinya tidak meningkatkan performa atletik para atlet yang tidak mengidap
penyakit asma[82] namun pemberian dosis secara oral bisa meningkatkan ketahanan dan kekuatan.
[83][84]

Asma yang Dipicu oleh Tempat Kerja[sunting | sunting sumber]
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Occupational asthma

Asma sebagai akibat dari (atau yang diperburuk oleh) pajanan tempat kerja biasanya dilaporkan
sebagai penyakit akibat kerja.[85] Namun banyak kasus yang tidak dilaporkan atau disebut sebagai
penyakit akibat kerja.[86][87] Diperkirakan, ada 5–25% kasus asma pada orang dewasa yang terkait
dengan pekerjaan. Sekitar ratusan ragam jenis agensia dikaitkan dengan kasus-kasus ini. Di
antaranya yang paling umum adalah: isosianat, debu biji-bijian dan kayu, resin colophony, cairan
solder soldering flux, lateks latex, hewan, dan aldehida. Pekerja yang memiliki risiko paling tinggi
antara lain: pekerja yang menggunakan cat semprot, pembuat roti dan pemroses makanan lainnya,
perawat, pekerja bahan kimia, pekerja bersama hewan-hewan, tukang las, pemangkas rambut, dan
pekerja pemrosesan kayu.[85]

Diagnosis banding[sunting | sunting sumber]
Ada banyak kondisi lain yang bisa menimbulkan gejala-gejala yang mirip gejala pada asma.
Penyakit saluran napas bagian atas selain asma pada anak-anak, misalnya rinitis
alergi dan sinusitis juga harus dikategorikan sebagai penyebab obstruksi saluran napas, seperti
juga: aspirasi benda asing, penyempitan abnormal pada saluran napas utama (stenosis trakea)
atau laringotrakeomalasia, cincin vaskular, kelenjar limfe yang membesar atau benjolan di leher.
Kemudian pada orang dewasa, antara lain COPD, gagal jantung kongestif, benjolan di saluran
napas, serta batuk akibat inhibitor ACE, juga karus dikategorikan sebagai penyebab gejala mirip
asma. Sementara yang bisa terjadi pada kedua populasi tersebut yaitu disfungsi pita suara.[88]

Penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK bisa muncul bersama-sama dengan asma dan bisa juga
muncul sebagai komplikasi asma kronis. Setelah usia 65, sebagain besar orang yang mengidap
penyakit obstruksi saluran napas juga menderita asma dan PPOK. Dalam hal ini, PPOKbisa
dibedakan dari meningkatnya jumlah neutrofil di saluran napas, bertambah tebalnya dinding saluran
napas secara abnormal, dan peningkatan jumlah otot polos di bronkus. Meski demikian, tingkat
penyelidikan sampai tahap ini tidak dilakukan karena PPOK dan asma memiliki prinsip-prinsip tata
laksana yang sama, yaitu: kortikosteroid, beta agonis kerja-lambat, dan penghentian merokok.
[89]
Selain gejala-gejala PPOKyang mirip dengan gejala pada asma, penyakit ini juga dihubungkan
dengan terlalu seringnya terpapar asap rokok, usia tua, gejala yang lebih sulit dipulihkan setelah
pemberian obat bronkodilator, serta berkurangnya kemungkinan riwayat atopi keluarga. [90][91]

Pencegahan[sunting | sunting sumber]
Efektivitas langkah-langkah pencegahan timbulnya asma ternyata tidak memiliki bukti kuat. [92] Ada
beberapa yang cukup kuat antara lain: pembatasan pajanan terhadap rokok baik pada saat dalam
kandungan dan setelah lahir, menyusui, dan peningkatan pajanan terhadap tempat penitipan anak
atau keluarga besar. Namun, kedua langkah ini tidak didukung oleh bukti yang cukup untuk dijadikan
rekomendasi indikasi penyakit ini.[92] Pajanan terhadap binatang peliharaan pada usia dini juga
mungkin bermanfaat.[93] Namun, pengamatan pajanan terhadap hewan peliharaan ini dalam
keadaan yang berbeda tidak memberikan hasil meyakinkan [94] dan rekomendasi yang diberikan
hanya memindahkan hewan peliharaan dari rumah pasien yang memiliki gejala alergi terhadap
piaraan tersebut.[95] Pembatasan asupan selama masa kehamilan atau pada saat menyusui juga
tidak pernah terbukti efektif sehingga tidak direkomendasikan. [95] Pengurangan atau penghilangan
senyawa tertentu yang diketahui berasal dari tempat kerja pada orang-orang yang sensitif bisa jadi
memberikan hasil efektif.[85]

Tata Laksana[sunting | sunting sumber]
Meskipun tidak ada obat untuk asma, gejala-gejala yang muncul biasanya bisa disembuhkan.
[96]
Untuk itu, harus ada suatu rancangan penanganan khusus yang bisa disesuaikan untuk
pemantauan dan pengelolaan gejala. Rancangan ini harus memasukkan langkah pengurangan
pajanan terhadap alergen, pengujian untuk mengetahui tingkat keparahan gejala, dan penggunaan
obat-obatan. Rancangan pengobatan harus ditulis dan saran penyesuaian pengobatan harus
diberikan berdasarkan terjadinya perubahan-perubahan pada gejala. [97]

Cara pengobatan asma yang paling efektif yaitu menemukan pemicunya, misal merokok, hewan
peliharaan, atau aspirin, dan menghilangkan pajanan terhadap pemicu-pemicu tersebut. Jika
menjauhi pemicu masih belum cukup, baru disarankan untuk menggunakan obat. Obat farmasi
dipilih berdasarkan, antara lain, keparahan penyakit dan frekuensi gejala. Pengobatan khusus untuk
asma secara luas dikategorikan dalam obat reaksi-cepat dan reaksi-lambat. [98][99]

Bronkodilator direkomendasikan untuk pelega jangka pendek. Pada pasien yang mendapatkan
serangan sesekali, tidak diperlukan obat lain. Jika penyakitnya ringan namun persisten (terjadi
serangan lebih dari dua kali dalam seminggu), maka disarankan menggunakan kortikosteroid hirup
dosis rendah atau antagonis leukotriene oral atau stabiliser sel mast. Bagi pasien yang
mendapatkan serangan setiap hari, disarankan menggunakan kortikosteroid hirup dengan dosis
yang lebih tinggi. Pada serangan asma sedang atau berat, kortikosteroid oral turut ditambahkan ke
dalam rancangan pengobatan ini.[9]
Modifikasi Gaya Hidup[sunting | sunting sumber]
Menjauhi pemicu merupakan komponen kunci dalam meningkatkan kendali dan mencegah
serangan. Pemicu yang paling umum antara lain alergen, rokok (tembakau dan lainnya), polusi
udara,penghambat beta non selektif, dan makanan yang mengandung sulfit.[100][101] Merokok
dan menjadi perokok pasif dapat mengurangi efektivitas obat seperti kortikosteroid. [102] Pengendalian
tungau debu, termasuk penyaringan udara, bahan kimia pembasmi tungau, pengisapan debu,
pemakaian sprei, dan metode lainnya tidak berpengaruh pada pengurangan gejala asma. [39]

Obat[sunting | sunting sumber]
Obat yang digunakan untuk menangani asma dibagi menjadi dua kelas umum yaitu: obat pelega
napas cepat yang digunakan untuk menangani gejala akut; dan obat pengendali jangka panjang
yang digunakan untuk mencegah perburukan lebih lanjut. [98]

Reaksi-cepat

alat hirup Salbutamol metered dose yang biasa digunakan untuk mengobati asma.

 Reaksi-singkat agonis beta2-adrenoseptor (SABA), seperti salbutamol (albuterol USAN) atau
Nama yang Diadopsi Amerika Serikat, merupakan pengobatan garis pertama untuk gejala
asma.[9]
 Obat Antikolinergik, misalnya ipratropium bromida, memberikan manfaat lain saat digunakan
dalam kombinasi dengan SABA untuk pasien yang mengalami gejala sedang atau berat.
[9]
Bronkodilator antikolinergik juga dapat digunakan jika pasien tidak dapat menoleransi SABA.
[71]
 agonis adrenergik versi lama yang kurang selektif seperti epinefrin hirup, memiliki tingkat
kemanjuran yang setara dengan jenis SABA.[103] Meski demikian, obat-obatan tersebut tidak
direkomendasikan karena kekahawatiran akan terjadinya stimulasi berlebihan terhadap jantung.
[104]

Pengendali jangka panjang

alat hirup Fluticasone propionatemetered dose yang biasa digunakan untuk pengendali jangka panjang.

 Kortikosteroid secara umum dinilai sebagai obat paling efektif yang tersedia untuk
pengendali jangka panjang.[98] Biasanya, bentuk hirup lebih banyak dipakai kecuali untuk kasus
penyakit berat yang persisten yang mungkin membutuhkan kortikosteroid oral. [98]Biasanya,
formula hirup direkomendasikan untuk digunakan satu atau dua kali sehari, tergantung tingkat
keparahan gejala.[105]
 Long-acting beta-adrenoceptor agonist (LABA) atau Agonis beta-adrenoseptor reaksi-lambat
seperti salmeterol dan formoterol dapat memperkuat pengendalian asma, meskipun hanya pada
orang dewasa, bila dikombinasikan dengan kortikosteroid hirup. [106]Manfaatnya pada anak-anak
belum jelas.[106][107] Jika digunakan tanpa steroid, obat-obatan ini meningkatkan risiko
terjadinya efek samping[108], bahkan saat digunakan bersama kortikosteroid, risiko ini tetap
sedikit mengalami peningkatan. [109][110]

 Antagonis Leukotrien (seperti montelukast dan zafirlukast) bisa jadi digunakan bersama
kortikosteroid hirup sebagai tambahan, dan secara khusus digunakan dalam satu rangkaian
dengan LABA.[98] Tidak ada cukup bukti yang menguatkan manfaat penggunaan obat-obatan ini
untuk serangan asma akut.[111][112] Pada anak-anak di bawah lima tahun, obat-obatan ini menjadi
terapi tambahan kortikosteroid hirup yang lebih sering dipilih. [113]
 Stabiliser sel mast (seperti sodium kromolin) adalah pilihan lain yang tidak begitu disukai
dibandingkan kortikosteroid.[98]

Metode konsumsi obat

Obat biasanya tersedia dalam bentuk metered-dose inhaler (MDI) yang dikombinasikan
dengan spacer asma atau dalam bentuk dry powder inhaler atau DPI. Spacer adalah silinder plastik
yang mencampurkan obat dengan udara sehingga obat mudah diterima dalam dosis penuh.
Alat nebulizer juga bisa digunakan. Nebulizer dan spacer sama-sama efektif untuk pasien dengan
gejala ringan sampai sedang, namun tidak ada cukup bukti untuk menentukan apakah memang ada
perbedaan jika diterapkan pada gejala berat.[114]

Dampak merugikan

Penggunaan kortikosteroid hirup dengan dosis konvensional dalam jangka panjang membawa risiko
dampak merugikan yang ringan. [115]Risiko tersebut antara lain timbulnya katarak dan menurunnya
tinggi perawakan tubuh.[115][116]  

Lain-lain[sunting | sunting sumber]
Bila asma tidak bereaksi dengan obat biasa, pilihan lain tersedia baik untuk tata laksana darurat
maupun untuk mencegah kambuh. Untuk tata laksana darurat pilihan lain termasuk:

 Oksigen untuk meringankan hipoksia bila saturasi jatuh di bawah 92%.[117]
 Magnesium sulfat pengobatan intravena telah menunjukkan efek bronkodilasi bila digunakan
sebagai tambahan pengobatan dalam serangan asma akut berat. [10][118]

 Helioks, campuran helium dan oksigen, bisa juga dipertimbangkan dalam kasus berat yang
tidak menunjukkan respons.[10]

 Salbutamol intravena tidak didukung oleh bukti tersedia dan oleh karena itu hanya
digunakan dalam kasus ekstrim. [117]

 Metilksantin (seperti teofilin) dulu sering digunakan, tapi tidak memberikan efek tambahan
yang berarti untuk beta-agonis yang dihirup. [117] Penggunaannya dalam serangan asma akut
masih kontroversial.[119]

 Anestetik disosiatif ketamin secara teori berguna bila intubasi dan ventilasi
mekanis diperlukan pada orang yang hampir mengalami gagalnafas; namun, tidak ada bukti
klinis untuk mendukungnya.[120]

Bagi orang yang menderita asma persisten berat yang tidak dapat dikontrol dengan kortikosteroid
dan LABA, bronkial termoplasti bisa menjadi pilihan.[121] Pengobatan ini melibatkan aplikasi energi
panas terkontrol ke dinding saluran nafas dalam serangkaian sesi bronkoskopi.[121] Walaupun
mungkin meningkatkan frekuensi serangan dalam beberapa bulan pertama, frekuensi selanjutnya
tampaknya diturunkan. Efek lewat dari setahun belum diketahui. [122]

Pengobatan alternatif[sunting | sunting sumber]
Banyak orang yang menderita asma, seperti mereka yang mengalami gangguan kronis lain,
menggunakan pengobatan alternatif; survei menunjukkan sekitar 50% menggunakan terapi non-
konvensional.[123][124] Hanya ada sedikit data untuk mendukung efektivitas terapi-terapi ini. Bukti tidak
mencukupi untuk mendukung penggunaan Vitamin C.[125]Akupuntur tidak dianjurkan untuk
pengobatan karena bukti tidak mencukupi untuk mendukung penggunaannya. [126][127] Ioniser
udara tidak menunjukkan bukti memperbaiki gejala asma atau menguntungkan fungsi paru-paru; ini
berlaku baik untuk generator ion negatif maupun positif. [128]

"Terapi manual", termasuk osteopatik, kiropraktik, fisioterapi dan terapi pernafasan, tidak mempunyai
cukup bukti yang mendukung penggunaannya dalam pengobatan asma. [129] Teknik pernafasan
buteyko untuk mengontrol hiperventilasi bisa menyebabkan penurunan penggunaan obat namun
tidak berpengaruh pada fungsi paru-paru.[99] Sehingga sebuah panel ahli merasa bahwa bukti tidak
[126]
mencukupi untuk mendukung penggunaannya.

Prognosis[sunting | sunting sumber]

Disability-adjusted life year untuk asma per 100.000 penduduk dalam tahun 2004.[130]

no data 350–400
<100 400–450
100–150 450–500
150–200 500–550
200–250 550–600
250–300 >600
300–350

Prognosis untuk asma biasanya bagus, terutama untuk anak-anak dengan penyakit ringan.
[131]
Mortalitas sudah menurun selama dua dekade terakhir ini karena pengenalan penyakit yang
lebih baik dan perbaikan dalam pengobatan.[132] Secara global asma menyebabkan disabilitas/
ketidakmampuan derajat menengah dan berat pada 19,4 jutaan orang hingga tahun 2004 (16 jutaan
orang yang berada di negara berpenghasilan rendah dan menengah). [133] Dari asma yang
didiagnosa selama masa kanak-kanak, separuh dari kasus tidak lagi terdiagnosa setelah satu
dekade.[50] Perubahan saluran nafas terdeteksi, tapi tidak diketahui apakah menunjukkan perubahan
yang berbahaya atau bermanfaat. [134] Pengobatan dini dengan kortikosteroid tampaknya mencegah
atau memperbaiki penurunan fungsi paru-paru. [135]

Epidemiologi[sunting | sunting sumber]
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Epidemiology of asthma

Tingkat asma di berbagai negara di dunia tahun 2004.
no data 6-7%
<1% 7-8%
1-2% 8-10%
2-3% 10-12.5%
3-4% 12.5–15%
4-5% >15%
5-6%

Hingga tahun 2011, 235–300 juta orang di seluruh dunia menderita asma, [14][15] dan sekitar 250.000
orang meninggal per tahun karena penyakit ini.[16] Tingkatnya berbeda-beda antar Negara dengan
prevalensi antara 1 dan 18%. [16] Lebih sering ditemukan di negara majudibandingkan negara
berkembang.[16] Jadi tingkatnya terlihat lebih rendah di Asia, Eropa Timur dan Afrika. [41] Di negara
maju penyakit ini lebih banyak diderita oleh mereka yang kurang beruntung secara ekonomi
sementara di negara berkembang lebih biasa ditemukan di kalangan atas. [16] Alasan untuk
perbedaan ini tidak diketahui. [16] Lebih dari 80% mortalitas terjadi di negara-negara berpenghasilan
rendah dan menengah.[136]

Walaupun asma dua kali lebih sering ditemukan di kalangan anak laki-laki dibandingkan anak
perempuan ,[16] asma berat terjadi pada keduanya setara.[137] Sebaliknya wanita dewasa memiliki
tingkat asma yang lebih tinggi dibandingkan pria[16] dan lebih sering ditemukan di kalangan orang
muda dibandingkan orang tua.[41]

Tingkat asma global telah meningkat secara tajam antara tahun 1960an dan 2008 [138][139] sehingga
penyakit ini diakui sebagai masalah kesehatan umum utama sejak tahun 1970an. [41] Tingkat asma
sudah stabil di negara maju sejak pertengahan 1990an dengan peningkatan terbaru terutama di
negara berkembang.[140] Asma diderita sekitar 7% penduduk Amerika Serikat [108]
dan 5% penduduk
[141] [142]
Inggris. Di Kanada, Australia dan Selandia Baru tingkatnya sekitar 14–15%.

Sejarah[sunting | sunting sumber]
Asma dikenali di Mesir Kuno dan diobati dengan meminum ramuan dupa yang dikenal sebagai kifi.
[143]
Penyakit ini secara resmi disebut sebagai masalah pernafasan olehHippokrates sekitar tahun
450 Sebelum Masehi, dengan nama Yunani yang berarti "terengah-engah" membentuk dasar dari
nama modernnya.[41] Pada tahun 200 SM penyakit ini dipercaya setidaknya sebagian berkaitan
dengan emosi.[23]

Pada tahun 1873, salah satu makalah pertama pengobatan modern dalam subyek ini mencoba
menjelaskan patofisiologi dari penyakit itu, sementara satu pada tahun 1872 menyimpulkan bahwa
asma bisa disembuhkan dengan menggosok dada dengan obat gosok kloroform.[144][145] Perawatan
medis pada tahun 1880, termasuk penggunaanintravena dari obat yang disebut pilokarpin.[146] Pada
tahun 1886, F.H. Bosworth berteori bahwa ada hubungan antara asma dan rinitis alergi.
[147]
Epinefrin pertama kali digunakan dalam pengobatan asma pada tahun 1905. [148] Kortisteroid oral
mulai digunakan untuk kondisi ini pada tahun 1950an sementara kortisteroid hirup dan agonis beta
aksi pendek pilihan mulai banyak digunakan pada tahun 1960an. [149][150]

Selama tahun 1930-50an, asma dikenal sebagai salah satu dari “tujuh besar” penyakit psikosomatik.
Penyebabnya dianggap sebagai psikologis, dengan pengobatan sering berdasarkan psikoanalisa
dan penyembuhan dengan bicara lain.[151] Karena para psikoanalis ini menginterpretasikan mengi
asma sebagai tangisan yang tertahan dari anak yang mencari ibunya, mereka menganggap
pengobatan depresi khususnya penting untuk individu yang menderita asma. [151]