You are on page 1of 8

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai potensi bencana yang sangat
tinggi dan juga sangat bervariasi dari aspek jenis bencana. Kondisi alam tersebut serta adanya
keanekaragaman penduduk dan budaya di Indonesia menyebabkan timbulnya risiko terjadinya
bencana alam dan bencana akibat dari ulah manusia itu sendiri. Pada umumnya risiko bencana
alam meliputi bencana gempabumi, tsunami, gunung meletus, tanah longsor, banjir, kekeringan,
angina topan. Bencana akibat faktor biologi seperti wabah penyakit manusia, penyakit tanaman
atau ternak, hama tanaman, serta kegagalan teknologi seperti kecelakaan industry, kecelakaan
transportasi, radiasi nuklir, pencemarran bahan kimia. Bencana akibat ulah manusia terkait dengan
konflik antar manusia akibat perebutan sumberdaya yang terbatas, alasan ideology, religius serta
politik.

Penyakit menular merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian besar, mengingat
potensi munculnya KLB penyakit menular pada periode paska bencana yang besar sebagai akibat
banyaknya faktor risiko yang memungkinkan terjadinya penularan bahkan KLB penyakit. Upaya
pemberantasan penyakit menular pada umumnya diselenggarakan untuk mencegah KLB penyakit
menular pada periode pascabencana. Selain itu, upaya tersebut juga bertujuan untuk
mengidentifikasi penyakit menular yang perlu diwaspadai pada kejadian bencana dan
pengungsian, melaksanakan langkah-langkah upaya pemberantasan penyakit menular, dan
melaksanakan upaya pencegahan kejadian luar biasa (KLB) penyakit menular. Faktor-faktor yang
meningkatkan penularan penyakit berinteraksi sinergis sehingga meningkatkan angka kejadian
diare, ISPA, malaria dan campak. Peningkatan kesakitan dan kematian ini dapat dihindari jika ada
intervensi efektif. Pengungsian, air, makanan dan sanitasi yang memadai berhubungan dengan
manajeman kasus yang efektif, imunisasi, pendidikan kesehatan, dan surveilans penyakit sangat
penting untuk dilakukan.
Data Direktorat Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan
menyebutkan hingga akhir Januari tahun 2016, kejadian luar biasa (KLB) penyakit DBD
dilaporkan ada di 12 Kabupaten dan 3 Kota dari 11 Provinsi di Indonesia, antara lain: 1) Provinsi
Banten, yaitu Kabupaten Tangerang; 2) Provinsi Sumatera Selatan, yaitu Kota Lubuklinggau; 3)
Provinsi Bengkulu, yakni Kota Bengkulu; 4) Provinsi Bali, yaitu Kota Denpasar dan Kabupaten
Gianyar; 5) Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu Kabupaten Bulukumba, Pangkep, Luwu Utara, dan
Wajo; 6) Provinsi Gorontalo, yaitu Kabupaten Gorontalo; serta 7) Provinsi Papua Barat, yakni
Kabupaten Kaimana; 8) Provinsi Papua, yakni Kabupaten Mappi 9) Provinsi NTT, yakni
Kabupaten Sikka; 10) Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Banyumas; 11) Provinsi Sulawesi
Barat, yakni Kabupaten Majene. Sepanjang bulan Januari dan Februari 2016, kasus DBD yang
terjadi di wilayah tersebut tercatat sebanyak 492 orang dengan jumlah kematian 25 orang pada
bulan Januari 2016 sedangkan pada bulan Februari tercatat sebanyak 116 orang dengan jumlah
kematian 9 orang. Hasil data tersebut menunjukan adanya penurunan KLB di Indonesia sepanjang
bulan Januari-Februari 2016. Kementerian Kesehatan RI mencatat jumlah penderita DBD di
Indonesia pada bulan Januari-Februari 2016 sebanyak 8.487 orang penderita DBD dengan jumlah
kematian 108 orang. Golongan terbanyak yang mengalami DBD di Indonesia pada usia 5-14 tahun
mencapai 43,44% dan usia 15-44 tahun mencapai 33,25% (KEMENKES RI, 2016).
Data Kementerian Kesehatan menujukkan sampai dengan November 2017, ada 95
kabupaten dan kota dari 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Secara keseluruhan terdapat
622 kasus, 32 diantaranya meninggal dunia. Sementara pada kurun waktu Oktober hingga
November 2017, ada 11 Provinsi yang melaporkan terjadinya KLB difteri, antara lain di Sumatra
Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten,
DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur (Ayomi, 2017).
Untuk melakukan upaya pemberantasan penyakit menular, penanggulangan Kejadian Luar
Biasa (KLB) diperlukan suatu sistem surveilans penyakit yang mampu memberikan dukungan
upaya program dalam daerah kerja Kabupaten/Kota, Provinsi, dan Nasional.

1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana pengendalian penyakit menular dan epidemi pada kejadian bencana?
1.2.2 Bagaimana penerapan pengendalian penyakit menular dan epidemi pada kejadian
bencana?

1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui pengendalian penyakit menular dan epidemi pada kejadian bencana.
1.3.2 Mengetahui penerapan pengendalian penyakit menular dan epidemi pada kejadian
bencana.

1.4 Manfaat

1.4.1 Menambah pengetahuan mahasiswa dan pembaca mengenai upaya pengendalian
penyakit menular dan epidemi pada kejadian bencana dan juga penerapannya.
1.4.2 Meningkatkan pemahaman mahasiswa dan pembaca mengenai upaya pengendalian
penyakit menular dan epidemi pada kejadian bencana dan juga penerapannya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bencana

Definisi Bencana Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan
Bencana dalam (BNPB, 2017) menyebutkan definisi bencana adalah peristiwa atau rangkaian
peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang
disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga
mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda,
dan dampak psikologis. Definisi tersebut menyebutkan bahwa bencana disebabkan oleh faktor
alam, non alam, dan manusia. Oleh karena itu, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tersebut
juga mendefinisikan mengenai bencana alam, bencana nonalam, dan bencana sosial.

a) Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa
yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus,
banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
b) Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian
peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi,
dan wabah penyakit.
c) Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa
yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau
antarkomunitas masyarakat, dan teror.

2.2 Epidemik

Wabah atau epidemik adalah istilah umum untuk menyebut kejadian tersebarnya penyakit
pada daerah yang luas dan pada banyak orang, maupun untuk menyebut penyakit yang
menyebar tersebut. Epidemik dipelajari dalam epidemiologi. Dalam epidemiologi, epidemic
berasal dari bahasa Yunani yaitu “epi” berarti pada dan “demos” berarti rakyat. Dengan kata
lain, epidemik adalah wabah yang terjadi secara lebih cepat daripada yang diduga. Jumlah
kasus baru penyakit di dalam suatu populasi dalam periode waktu tertentu disebut
incidencerate laju timbulnya penyakit. Dalam peraturan yang berlaku di "ndonesia ,
pengertian wabah dapat dikatakan sama dengan epidemik, yaitu “kejadian berjangkitnya suatu
penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata
melebihi daripada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat
menimbulkan malapetaka (PERMENKES RI, 2010).
2.3 Penyakit Menular

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang kedokteran mendorong para
tenaga ahli selalu mengadakan riset terhadap berbagai penyakit termasuk salah satunya adalah
penyakit menular demi mengatasi kejadian penderitaan dan kematian akibat penyakit
(Armaidi, 2016)

Tiga Kelompok Utama Penyakit Menular
1. Penyakit yang sangat berbahaya karena angka kematian cukup tinggi.
2. Penyakit menular tertentu yang dapatmenimbulkan kematian dan cacat, walaupun
akibatnya lebih ringan dari yang pertama.
3. Penyakit menular yang jarang menimbulkan kematian dan cacat tetapidapat mewabah
yang menimbulkan kerugian materi.
Tiga Sifat Utama Aspek Penularan Penyakit Dari Orang Ke Orang.
1. Waktu Generasi (Generation Time)
Masa antara masuknya penyakit pada pejamu tertentu sampai masa kemampuan
maksimal pejamu tersebut untuk dapat menularkan penyakit.
2. Kekebalan Kelompok (Herd Immunity)
Adalah tingkat kemampuan atau daya tahan suatu kelompok penduduk tertentu
terhadap serangan atau penyebaran unsur penyebab penyakit menular tertentu berdasarkan
tingkat kekebalan sejumlah tertentu anggota kelompok tersebut.
3. Angka Serangan(Attack Rate)
Adalah sejumlah kasus yang berkembang atau muncul dalam satu satuan waktu
tertentu di kalangan anggota kelompok yang mengalami kontak serta memiliki risiko atau
kerentanan terhadap penyakit tersebut.
Rantai Penularan
Melihat Perjalanan penyakit pada pejamu, bentuk pembawa kuman (carrier) dapat
dibagi dalam beberapa jenis :
a. Healthy carrier (inapparent), “Mereka yang dalam sejarahnya tidak pernah menampakkan
menderita penyakit tersebut secara klinis akan tetapi mengandung unsur penyebab yang
dapat menular kepada orang lain”.
b. Incubatory carrier (masa tunas), “Mereka yang masih dalam masa tunas tetapi telah
mempunyai potensi untuk menularkan penyakit”.
c. Convalescent carrier (baru sembuh klinis), “Mereka yang baru sembuh dari penyakit
menular tertentu tetapi masih merupakan sumber penularan penyakit tersebut untuk masa
tertentu”.
d. Chronis carrier (menahun), “Merupakan sumber penularan yang cukup lama”.
2.4 Pengendalian Penyakit Menular
Berdasarkan Rencana Aksi Program Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan
Tahun 2015-2019 Pengendalian Penyakit Menular Langsung Sasaran kegiatan ini adalah
menurunnya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular langsung dengan indikator:
1. Persentase cakupan penemuan kasus baru kusta tanpa cacat sebesar 95%.
2. Jumlah provinsi mencapai eliminasi kusta. Dengan target di tahun 2020, eliminasi kusta tercapai
di 34 provinsi.
3. Persentase kabupaten/kota dengan angka keberhasilan pengobatan TB paru BTA positif
(Success Rate) minimal 85% sebesar 90%.
4. Persentase angka kasus HIV yang diobati sebesar 55%.
5. Persentase kabupaten/kota yang 50% Puskesmasnya melakukan pemeriksaan dan tata laksana
Pneumonia melalui program MTBS sebesar 60%.
6. Persentase kabupaten/kota yang melaksanakan kegiatan deteksi dini hepatitis B pada kelompok
berisiko sebesar 80%.
7. Persentase kajian pengendalian penyakit menular langsung meningkat 50 % dari jumlah
rekomendasi tahun 2014
8. Persentase teknologi tepat guna pengendalian penyakit menular langsung meningkat 50 % dari
jumlah rekomendasi tahun 2014
9. Persentase Pelabuhan/Bandara/PLBD yang melaksanakan kegiatan deteksi dini penyakit
menular langsung100 %
2.5 Surveilans
Surveilans mengandung empat unsur yaitu : koleksi, analisis, interpretasi dan diseminasi
data. WHO mendefiniskan surveilans sebagai suatu kegiatan sistematis berkesinambungan,
mulai dari kegiatan mengumpulkan, menganalisis dan menginterpretasikan data yang untuk
selanjutnya dijadikan landasan yang esensial dalam membuat rencana, implementasi dan
evaluasi suatu kebijakan kesehatan masyarakat (Nugroho, 2017). Dengan demikian, di dalam
suatu sistem surveilans, hal yang perlu digaris bawahi adalah :

a. Surveilans merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara berkesinambungan, bukan
suatu kegiatan yang hanya dilakukan pada suatu waktu.
b. Kegiatan surveilans bukan hanya berhenti pada proses pengumpulan data, namun yang
jauh lebih penting dari itu perlu adanya suatu analisis, interpretasi data serta pengambilan
kebijakan berdasarkan data tersebut, sampai kepada evaluasinya.
c. Data yang dihasilkan dalam sistem surveilans haru slah memiliki kualitas yang baik karena
data ini merupakan dasar yang esensial dalam menghasilkan kebijakan/ tindakan yang
efektif dan efisien.
DAFTAR PUSTAKA
BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana).2017. https://www.bnpb.go.id/home/definisi
(diakses pada 8 September 2018 pukul 10.53).
Armaidi Darmawan. 2016. Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular. Ilmu
Kesehatan Universitas jambi. https://media.neliti.com/media/publications/70642-ID-
none.pdf (diakses pada 8 September 2018 pukul 01.07)
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1501/Menkes/Per/X/2010.
https://edoc.site/klb-wabah-pandemik-endemik-epidemik-pdf-free.html (diakses pada 8
September 2018 pukul 01.41)
Rencana Aksi Program Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan Tahun 2015-2019.
http://www.depkes.go.id/resources/download/RAP%20Unit%20Utama%202015-
2019/5.%20Ditjen%20P2P.pdf (diakses pada 8 September 2018 pukul 02.21)
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.2016. Wilayah Klb DBD Ada Di 11 Provinsi.
http://www.depkes.go.id/article/print/16030700001/wilayah-klb-dbd-ada-di-11-
provinsi.html (diakses pada 8 September 2018 pukul 02.48)
Ayomi Amindoni.2017. Wabah Difteri di 20 Provinsi. BBC Indonesia.
https://www.bbc.com/indonesia/majalah-42215042 (diakses pada 08 September 2018
pukul 02.50)
Nugroho Susanto.2017. Modul Surveilans. Universitas Respati Yogyakarta.
https://nugrohosusantoborneo.files.wordpress.com/2017/04/modul-surveilans.pdf
(diakses pada 08 September 2018 pukul 03.14)