You are on page 1of 37

MAKALAH SEMINAR PENELITIAN

DESALINASI AIR LAUT DENGAN MENGGUNAKAN
ZEOLIT ALAM SEBAGAI ION EXCHANGER

Disusun oleh

Yuda Silvian (121140176)

Muh. Andi Guntoro (121140216)

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA S1

JURUSAN TEKNIK KIMIA

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

YOGYAKARTA

2018
LEMBAR PENGESAHAN

DESALINASI AIR LAUT DENGAN MENGGUNAKAN
ZEOLIT ALAM SEBAGAI ION EXCHANGER

Disusun oleh

Yuda Silvian (121140176)

Muh. Andi Guntoro (121140216)

Yogyakarta, Mei 2018

Menyetujui,

Dosen Pembimbing

Dr. Adi Ilcham, S.T., M.T.

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Y.M.E, karena atas rahmat
dan hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah seminar kerja
praktik laboratorium yang berjudul “Desalinasi Air Laut Menggunakan Zeolit
Alam sebagai Ion Exchanger” ini tepat pada waktunya.

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas akademis pada
Program Studi Teknik Kimia S-1, Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Industri
UPN “Veteran” Yogyakarta. Dengan tersusunnya makalah ini, penyusun
mengucapkan terima kasih kepada:

1. Orang tua dan keluarga tercinta yang telah memberikan bantuan spiritual
dan material.
2. Dr. Adi Ilcham, S.T., M.T., selaku dosen pembimbing.
3. Semua pihak yang telah membantu kami dalam pelaksanaan dan
penyusunan makalah ini.
Penyusun menyadari masih banyak kekurangan yang terdapat dalam
makalah ini. Oleh karena itu, saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan
dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Yogyakarta, Mei 2018

Penyusun

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................................................... i

LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................................. ii

KATA PENGANTAR ....................................................................................................... iii

DAFTAR ISI ...................................................................................................................... iv

DAFTAR GAMBAR ......................................................................................................... vi

DAFTAR TABEL ............................................................................................................. vii

INTISARI .......................................................................................................................... viii

BAB I – PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang ................................................................................................. 1

1.2. Rumusan Masalah ............................................................................................ 2

1.3. Tujuan Penelitian ............................................................................................. 2

1.4. Batasan Masalah............................................................................................... 3

BAB II – TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum .................................................................................................... 4

2.1.1 Air .................................................................................................................. 4

2.1.2. Air Laut ......................................................................................................... 5

2.1.3.Salinitas .......................................................................................................... 7

2.1.4. Zeolit ............................................................................................................. 12

iv
2.2 Landasan Teori ..................................................................................................... 15

BAB III – METODE PENELITIAN

3.1. Bahan Yang Digunakan ................................................................................... 19

3.2. Alat Yang Digunakan....................................................................................... 19

3.3. Rangkaian Alat ................................................................................................. 19

3.4. Cara Kerja ........................................................................................................ 20

BAB IV – HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Pengaruh waktu kontak dan tinggi tumpukan zeolit ........................................ 22

4.2. Pengaruh Ukuran Mesh .................................................................................... 25

BAB V – PENUTUP

5.1. Kesimpulan ...................................................................................................... 28

5.2. Saran ................................................................................................................. 28

DAFTAR PUSTAKA

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Batuan Zeolit Alam .....................................................................................12

Gambar 2.2 Struktur . Batuan Zeolit Alam .....................................................................12

Gambar 3.1 Rangkaian Alat Percobaan ..........................................................................19

Gambar 3.2 Diagram Alir Proses ....................................................................................21

Gambar 4.1 Hubungan waktu kontak dengan nilai salinitas pada ukuran 40 mesh ........23

Gambar 4.2 Hubungan waktu kontak dengan nilai salinitas pada ukuran 60 mesh ........23

Gambar 4.3 Hubungan waktu kontak dengan nilai salinitas pada ukuran 80 mesh ........24

Gambar 4.4 Hubungan ukuran mesh dengan nilai salinitas pada waktu 4 jam..............25

Gambar 4.5 Hubungan ukuran mesh dengan nilai salinitas pada waktu 6 jam..............26

Gambar 4.6 Hubungan ukuran mesh dengan nilai salinitas pada waktu 8 jam..............26

vi
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Komposisi air laut ................................................................................. 5

Tabel 2.2 Percobaan yang telah dilakukan ............................................................ 16

Tabel 4.3 Hasil uji analisis air laut ........................................................................ 22

vii
INTISARI

Air merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi kehidupan di bumi.
Kebutuhan yang tinggi akan ketersediaan air ini juga membuat manusia sering
dihadapkan pada situasi yang sulit dimana sumber air tawar sangat terbatas dan di lain
pihak terjadi peningkatan kebutuhan. Dua pertiga wilayah Indonesia adalah laut. Akan
tetapi, sedikit orang yang mau menggunakan air langsung dari laut, karena tidak bisa
menghilangkan rasa asin, selain itu jika air laut digunakan untuk mandi maka akan
merusak kulit. Namun berkat teknologi, air laut pun bakal sebening dan setawar air
tanah yang siap untuk digunakan. Agar teknologi ini dapat diterapkan pada industri
kecil atau industri rumah tangga, maka sistem yang dipilih adalah sistem penukar ion
yaitu sistem yang cukup sederhana, dan disamping itu bahan penukar ion yang
digunakan adalah bahan yang relatif murah yaitu zeolit.
Batuan zeolit dihancurkan dan diayak sampai menjadi serbuk yang kemudian akan
diaktivasi dengan NaOH. Zeolit dicampurkan NaOH 1 M lalu diaduk selama 30 menit
dan didiamkan selama 24 jam lalu setelah itu dinetralkan dengan air hingga pH
mendekati 7. Setelah itu serbuk zeolit dikeringkan selama 4 jam pada suhu 400 oC dalam
furnace. Proses terakhir adalah Pengujian Zeolit. Masukkan Serbuk Zeolit kedalam pipa
bahan isian dengan ketinggian tumpukan 40, 70, dan 100 cm dan memasukkan air laut
sedikit demi sedikit kedalam pipa bahan isian tersebut secara continous. Menunggu
Proses penukaran ion selama kurun waktu 4, 6, dan 8 jam
Pada penelitian ini didapatkan kondisi operasi dengan hasil terbaik terjadi pada
waktu 8 jam dengan penurunan salinitas tertinggi sebesar 28,1 ‰ pada tinggi 100 cm
dan ukuran zeolite 100 mesh.

Kata kunci: desalinasi, air laut, zeolit, zeolit alam, salinitas.

viii
Makalah Seminar Kerja Praktik Laboratorium
Desalinasi Air laut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Ion Exchanger

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Air merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi kehidupan di
bumi. Dalam kehidupan sehari – hari manusia banyak memanfaatkan air untuk
minum, memasak, mandi, mencuci, dan lain – lain. Air yang digunakan untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari juga harus merupakan air yang layak
dengan kualitas yang baik. Kebutuhan yang tinggi akan ketersediaan air membuat
manusia tak dapat melepaskan peran air dalam kehidupannya.
Kebutuhan yang tinggi akan ketersediaan air bersih juga membuat manusia
sering dihadapkan pada situasi yang sulit dimana sumber air tawar sangat terbatas
dan di lain pihak terjadi peningkatan kebutuhan air bersih. Bagi masyarakat yang
tinggal didaerah pantai, pulau kecil seperti kepulauan seribu air tawar merupakan
sumber air yang sangat penting. Sering terdengar ketika musim kemarau mulai
datang maka masyarakat yang tinggal di daerah pantai atau pulau-pulau kecil
mulai kekurangan air. Air hujan yang merupakan sumber air yang telah disiapkan
di bak penampung air hujan (PAH) sering tidak dapat mencukupi kebutuhan pada
musim kemarau.
Dua pertiga wilayah Indonesia adalah laut. Akan tetapi, sedikit orang yang
mau menggunakan air langsung dari laut, karena tidak bisa menghilangkan rasa
asin, selain itu jika air laut digunakan untuk mandi maka akan merusak kulit.
Namun berkat teknologi, air laut pun bakal sebening dan setawar air tanah yang
siap untuk digunakan (Herlambang, 2000).

Pengolahan air laut dikenal dengan cara destilasi, elektrodialisasis dan
osmosis balik. Namun, masing - masing pengolahan tersebut mempunyai
keunggulan dan kelemahan. Berdasarkan kenyataan ini maka perlu kiranya
dilakukan suatu pengkajian teknologi untuk mengurangi atau bahkan

Yuda Silvian (121140176)
Muh. Andi Guntoro (121140216) 1
Makalah Seminar Kerja Praktik Laboratorium
Desalinasi Air laut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Ion Exchanger

menghilangkan kesadahan dalam air. Agar teknologi ini dapat diterapkan pada
industri kecil atau industri rumah tangga, maka sistem yang dipilih adalah sistem
penukar ion yaitu sistem yang cukup sederhana, dan disamping itu bahan penukar
ion yang digunakan adalah bahan yang relatif murah yaitu zeolit, sehingga secara
keseluruhan ditinjau dari segi teknis dan ekonomi dapat terjangkau oleh pelaku
industri kecil dan industri rumah tangga. Pada proses destilasi menggunakan
teknik penukar ion yang memanfaatkan proses kimiawi untuk memisahkan garam
dalam air. Pada proses ini ion garam (NaCl) ditukar dengan ion seperti Ca2+ dan
SO4-2. Materi penukar ion berasal dari bahan alam atau sintetis, misalnya bahan
alam dengan menggunakan zeolit sedangkan yang sintetis menggunakan resin
penukar ion (resin kation dan resin anion) (Herlambang, A., 2000). Berdasarkan
uraian di atas, maka penulis berinisiatif untuk membuat proposal penelitian
tentang Pemanfaatan Batu Zeolit Sebagai Alternatif Mengubah Air Laut Menjadi
Air Tawar dengan Metode Ion Exchange.

1.2 Rumusan Masalah
Menurut uraian latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan
beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh waktu desalinasi terhadap kualitas air laut yang
didesalinasi?
2. Bagaimana pengaruh ukuran zeolit terhadap pengurangan salinitas air laut
yang didesalinasi?
3. Bagaimana pengaruh tinggi tumpukan zeolit terhadap pengurangan
kesadahan air laut yang didesalinasi?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui kondisi air laut yang telah di desalinasi dengan
pengaruh variabel waktu kontak zeolit, ukuran zeolit, dan tinggi
tumpukan zeolit.

Yuda Silvian (121140176)
Muh. Andi Guntoro (121140216) 2
Makalah Seminar Kerja Praktik Laboratorium
Desalinasi Air laut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Ion Exchanger

1.4 Batasan Masalah
 Batuan zeolit yang digunakan di ambil dari daerah Wonogiri, yang
dibeli dari CV. Progo Mulyo, Sleman, D.I Yogyakarta.
 Air laut yang digunakan di ambil dari daerah Pantai Siung, Gunung
Kidul D.I Y.
 NaOH padat yang digunakan dibeli dari CV. Progo Mulyo, Sleman
D.I Yogyakarta yang telah dibuat menjadi NaOH 1N.
 Diameter bahan isian tetap, yakni 0,75”.
 Volume air yang digunakan tetap, yakni 10 liter.
 Laju alir air laut yang digunakan sebesar 0,08 liter/detik.
 Bukaan kran alat tetap sebesar 15o.
 Analisis yang digunakan digunakan untuk mengukur kadar salinitas.

Yuda Silvian (121140176)
Muh. Andi Guntoro (121140216) 3
Makalah Seminar Kerja Praktik Laboratorium
Desalinasi Air Laut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Ion Exchanger

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum
2.1.1 Air
Air adalah zat atau materi atau unsur yang penting bagi semua bentuk
kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi. Air dapat juga berupa air tawar
(fresh water) dan dapat pula berupa air asin (air laut) yang merupakan bagian
terbesar di bumi ini. Di dalam lingkungan alam proses, perubahan wujud, gerakan
aliran air (di permukaaan tanah, di dalam tanah, dan di udara) dan jenis air
mengukuti suatu siklus keseimbangan dan dikenal dengan istilah siklus hidrologi
(Kodoatie dan Sjarief, 2010).
Air tawar adalah air dengan kadar garam dibawah 0,5 ppt (Nanawi, 2001).
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001
Tentang Pengendalian Kualitas Air dan Pengendalian Kualitas Pencemaran, Bab I
Ketentuan Umum pasal 1, menyatakan bahwa : “Air tawar adalah semua air yang
terdapat di atas dan di bawah permukaan tanah, kecuali air laut dan air fosil.”,
sedangkan menurut Undang-Udang RI No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya
Air (Bab I, Pasal 1), butir 2 disebutkan bahwa “Air adalah semua air yang
terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah, termasuk dalam
pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan, dan air laut yang berada di
darat.”. Butir 3 menyebutkan “Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan
atau batuan di bawah permukaan tanah.”. Karakteristik kandungan dan sifat fisis
air tawar sangat bergantung pada tempat sumber mata air itu berasal dan juga
teknik pengolahan air tersebut.
Mengingat betapa pentingnya air bersih untuk kebutuhan manusia, maka
kualitas air tersebut harus memenuhi persyaratan, (Herlambang, 2000) yaitu :

Yuda Silvian (121140176)
Muh. Andi Guntoro (121140216) 4
Makalah Seminar Kerja Praktik Laboratorium
Desalinasi Air Laut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Ion Exchanger

(1) Syarat fisik, antara lain:
a. Air harus bersih dan tidak keruh
b. Tidak berwarna
c. Tidak berasa
d. Tidak berbau
e. Suhu antara 10o-25oC
(2) Syarat kimiawi, antara lain:
a. Tidak mengandung bahan kimiawi yang mengandung racun.
b. Tidak mengandung zat-zat kimiawi yang berlebihan.
c. Cukup yodium.
(3) Syarat bakteriologi, antara lain:
Tidak mengandung kuman-kuman penyakit seperti disentri, tipus,
kolera, dan bakteri patogen penyebab penyakit.

2.1.2 Air Laut
Air laut memiliki kadar garam rata – rata 3,5%, tetapi tidak semua air laut
memiliki kadar garam yang sama setiap tempatnya. Namun jika dijelaskan
secara rinci, air laut memiliki komposisi yang cukup banyak, kompisisi dalam
air laut yang memiliki persentase besar adalah oksigen, hidrogen, klorin, dan
sodium. Sedangkan sisanya hanya sedikit terkandung. Dengan rincian sebagai
berikut :
Tabel 2.1 komposisi pada air laut

Elemen Simbol Ppm Persentase
Oksigen O2 883,000 86,0341%
Hidrogen H 110,000 10,7177%
Klorin Cl 19,400 1,8902%
Sodium Na 10,800 1,0523%
Magnesium Mg 1,290 0,1257%

Yuda Silvian (121140176)
Muh. Andi Guntoro (121140216) 5
Makalah Seminar Kerja Praktik Laboratorium
Desalinasi Air Laut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Ion Exchanger

Elemen Simbol Ppm Persentase
Belerang S 0,904 0,0881%
Kalsium Ca 0,411 0,0400%
Kalium K 0,392 0,0382%
Brom Br 0,067 0,0066%
Karbon C 0,028 0,0027%
Nitrogen N 0,016 0,0015%
Flor F 0,013 0,0013%
Strontium Sr 0,0081 0,0008%
Boraks B 0,0045 0,0004%
Silicon Si 0,0029 0,0003%

Perbedaan air laut dengan air tawar antara lain yaitu :
(1) Air laut mempunyai rasa asin, sedangkan air tawar tidak. Hal ini karena air
laut mengandung kadar garam sebanyak 3,5 %, sedangkan air tawar tidak
mengandung garam.
(2) Kuantitas air laut di bumi jauh lebih besar dari pada jumlah air tawar. 97%
air di bumi adalah air laut, dan hanya 3% berupa air tawar.
(3) Air laut lebih padat dari pada air tawar, karena kadar garam yang
terkandung dalam air laut menambah massa namun tidak mempengaruhi
volume dari air laut tersebut.
(4) Air laut mengandung ion terlarut lebih besar dari pada air tawar. Ion-ion
yang keberadaannya melimpah di dalam air laut adalah natrium, klorida,
magnesium, sulfat, dan kalsium.
(5) Kandungan unsur kimia dalam air laut: Clorida (Cl), Natrium (Na),
Magnesium (Mg), Sulfur (S), calium (Ca), Kalsium (K), Brom (Br), Carbon
(C), Cr, B. Sedangkan kandungan unsur kimia dalam air tawar: zat kapur,
besi, timah, magnesium, tembaga, sodium, chloride, dan chlorine.

Yuda Silvian (121140176)
Muh. Andi Guntoro (121140216) 6
Makalah Seminar Kerja Praktik Laboratorium
Desalinasi Air Laut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Ion Exchanger

2.1.3 Salinitas
Salinity atau salinitas adalah jumlah garam yang terkandung dalam satu
kilogram air. Kandungan garam dalam air ini dinyatakan dalam ppt atau part per
thousand karena satu kilogram sama dengan 1000 gram. Air laut memiliki kadar
garam sekitar 33.000 mg/lt, sedangkan kadar garam pada air payau berkisar 1000
– 3000 mg/lt. Air minum tidak boleh mengandung garam lebih dari 400 mg/lt.
Agar air laut atau air payau bisa dikonsumsi sebagai air minum maka perlu proses
pengolahan terlebih dahulu. Pengolahan air laut menjadi air minum pada dasarnya
adalah menurunkan kadar garam sampai dengan konsentrasi kurang dari 400
mg/lt.
Proses mengolah air asin / payau menjadi air tawar atau sering dikenal dengan
istilah desalinasi dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) macam yaitu :
(1) Proses destilasi (suling)
Destilasi merupakan istilah lain dari penyulingan, yakni proses
pemanasan suatu bahan pada berbagai temperatur, tanpa kontak dengan
udara luar untuk memperolah hasil tertentu. Penyulingan adalah
perubahan bahan dari bentuk cair ke bentuk gas melalui proses
pemanasan cairan tersebut, dan kemudian mendinginkan gas hasil
pemanasan, untuk selanjutnya mengumpulkan tetesan cairan yang
mengembun (Cammack, 2006).
Salvato (1972) mengemukakan bahwa destilasi sangat berguna untuk
konversi air laut menjadi air tawar. Konversi air laut menjadi air tawar
dapat dilakukan dengan teknik destilasi panas buatan, destilasi tenaga
surya, elektrodialisis, osmosis, gas hydration, freezing, dan lain-lain.
Homig (1978) menyatakan bahwa untuk pembuatan instalasi destilator
yang terpenting adalah harus tidak korosif, murah, praktis dan awet.
(2) Proses penukar ion (ion exchange)
Metode pertukaran ion (ion exchange) dilakukan dengan mereaksikan
air laut bersama bahan-bahan kimia tertentu (resin). Resin yang dapat

Yuda Silvian (121140176)
Muh. Andi Guntoro (121140216) 7
Makalah Seminar Kerja Praktik Laboratorium
Desalinasi Air Laut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Ion Exchanger

digunakan untuk proses pertukaran ion dan yang paling banyak digunakan
adalah resin sintesis hasil polimerisasi antara styrene dan divinil benzena
dengan gugus sulfonat.
Media penukar ion sering disebut dengan resin. Terdapat 4 jenis resin
yang sering dipergunakan dalam pengolahan air yaitu :
a. Resin kation asam kuat terbuat dari plastik atau senyawa polimer yang
direaksikan dengan beberapa jenis asam seperti asam sulfat, asam
posphat, dan sebagainya. Resin kation asam kuat ini mempunyai ion
hydrogen (R-, H+), dengan adanya ion H+ yang bermuatan positif maka
resin ini sering dipergunakan untuk mengambil ion-ion yang
bermuatan positif. (Montgomery, 1985).
b. Resin kation asam lemah terbuat dari plastik atau polimer yang
direaksikan dengan grup asam karbonik dengan demikian Grup
(COOH-) sebagai penyusun resin. Resin kation asam lemah diperlukan
kehadiran alkalinities untuk melepas ion hidrogen dari resin.
(Montgomery, 1985).
c. Resin anion basa kuat terbuat dari plastik atau polimer yang
direaksikan dengan gugus senyawa amine atau amonium. Resin anion
basa kuat merupakan resin yang sering dipergunakan dalam
mengambil ion-ion yang bermuatan negatif. Pada operasionalnya resin
anion basa kuat ini dapat dioperasionalkan pada kondisi hidroksida
(R+.Cl-). Apabila resin anion basa kuat dioperasionalkan pada kondisi
hidroksida (R+.OH-), Maka resin anion basa kuat ini dapat mengambil
hampir seluruh jenis ion negative (Montgomery, 1985).
d. Resin anion basa lemah dipergunakan untuk mengambil asam-asam
seperti asam klorida (HCl) atau asam sulfat (H2SO4) sehingga resin
dikenal sebagai pengadsorbsi asam (acid-adsorbers) (Montgomery,
1985).

Yuda Silvian (121140176)
Muh. Andi Guntoro (121140216) 8
Makalah Seminar Kerja Praktik Laboratorium
Desalinasi Air Laut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Ion Exchanger

Pertukaran ion adalah proses, dimana ion-ion dari suatu larutan
elektrolit diikat pada permukaan bahan padat sebagai pengganti ion-ion
dari bahan padat diberikan ke dalam larutan. Reaksi-reaksi ion
berlangsung pada pertukaran ion secara sederhana dapat dirumuskan pada
pertukaran anion (Bernascomi,1995)
Resin anion basa kuat merupakan resin yang sering dipergunakan
dalam mengambil ion-ion yang bermuatan negatif. Resin anion basa kuat
ini dapat dioperasionalkan pada kondisi hidroksida. Apabila resin anion
basa kuat dioperasionalkan pada kondisi hidroksida (R+.OH-), maka resin
anion basa kuat ini dapat mengambil hampir seluruh jenis ion negatif dan
pada proses regenerasinya menggunakan larutan natrium hidroksida
(NaOH), sedangkan apabila resin anion basa kuat dioperasionalkan pada
kondisi klorida (R+.Cl-), maka ion-ion negatif yang dapat diambil seperti
sulfat dan nitrat, dan pada proses regenerasinya menggunakan larutan
garam (NaCl) (Montgomery, 1985).
Berikut ini adalah contoh reaksi kesetimbangan pada proses
pertukaran ion antara resin hidroksida dengan ion negatif sulfat dan resin
klorida dengan ion sulfat (Bernascomi,1995) :

R+ - OH- + SO42- ↔ R+ - SO42- + OH-
R+ - Cl- + SO42- ↔ R+ - SO42- + Cl-
(3) Proses filtrasi
Filtrasi merupakan proses pemisahan antara padatan / koloid
dengan suatu cairan. Untuk penyaringan air olahan yang mengandung
padatan dengan ukuran seragam dapat digunakan saringan medium
tunggal, sedangkan untuk penyaringan air yang mengandung padatan
dengan ukuran yang berbeda dapat digunakan tipe saringan multi
medium.

Yuda Silvian (121140176)
Muh. Andi Guntoro (121140216) 9
Makalah Seminar Kerja Praktik Laboratorium
Desalinasi Air Laut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Ion Exchanger

Digunakannya media filter atau saringan karena merupakan
alat filtrasi atau penyaring memisahkan campuran solida liquida
dengan media porous atau material porous lainnya guna memisahkan
sebanyak mungkin padatan tersuspensi yang paling halus. Dan
penyaringan ini merupakan proses pemisahan antara padatan atau
koloid dengan cairan, dimana prosesnya bisa dijadikan sebagai proses
awal (primary treatment). Dikarenakan juga karena air olahan yang
akan disaring berupa cairan yang mengandung butiran halus atau
bahan-bahan yang larut dan menghasilkan endapan, maka bahan-
bahan tersebut dapat dipisahkan dari cairan melalui filtrasi. Apabila
air olahan mempunyai padatan yang ukuran seragam maka saringan
yang digunakan adalah single medium. Jika ukuran beragam maka
digunakan saringan dual medium atau three medium.
Pada pengolahan air baku dimana proses koagulasi tidak
perlu dilakukan, maka air baku langsung dapat disaring dengan
saringan jenis apa saja termasuk pasir kasar. Karena saringan kasar
mampu menahan material tersuspensi dengan penetrasi partikel yang
cukup dalam, maka saringan kasar mampu menyimpan lumpur dengan
kapasitas tinggi. Karakteristik filtrasi dinyatakan dalam kecepatan hasil
filtrat. Masing-masing dipilih berdasarkan pertimbangan teknik dan
ekonomi dengan sasaran utamanya, yakni menghasilkan filtrat yang
murah dan berkualitas.
Filter penyaring terdiri dari pipa berbentuk lonjong dengan tinggi 60
cm dan diameter 7,5 cm, serta dilengkapi dengan sebuah valve di bawah.
Untuk media penyaring digunakan pasir silika, kerikil, arang dan ijuk.
Dimana masing-masing bahan tersebut memiliki fungsi masing-
masing, yaitu :
a. Kerikil berfungsi sebagai penyaring kotoran-kotoran besar pada air
dan membantu proses aerasi

Yuda Silvian (121140176)
Muh. Andi Guntoro (121140216) 10
Makalah Seminar Kerja Praktik Laboratorium
Desalinasi Air Laut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Ion Exchanger

b. Ijuk berfungsi sebagai penyaring kotoran halus pada air
c. Arang berfungsi untuk menghilangkan bau dan rasa yang ada pada
air
d. Pasir berfungsi untuk mengendapkan kotoran halus yang belum
tersaring
e. Pasir Silika adalah jenis pasir yang mengandung mineral (SiO2)
Beberapa bahan buatan yang dapat digunakan untuk
menyaring air adalah sebagai berikut:

a. Klorin tablet digunakan untuk membunuh kuman, virus, dan
bakteri yang hidup di dalam air.
b. Pasir aktif biasanya berwarna hitam dan digunakan untuk
menyaring air sumur bor dan sejenisnya.
c. Resin Softener berguna untuk menurunkan kandungan kapur
dalam air.
d. Resin Kation biasa digunakan untuk industri air minum, baik
usaha air minum isi ulang maupun Pabrik Air Minum
Dalam Kemasan (PAMDK).
e. Pasir zeolit berfungsi untuk penyaringan air dan mampu
menambah oksigen dalam air.
f. Pasir mangan berwarna merah dan digunakan untuk
menurunkan kadar zat besi atau logam berat dalam air.
g. Pasir silika digunakan untuk menyaring lumpur, tanah, dan
partikel besar atau kecil dalam air dan biasa digunakan untuk
penyaringan tahap awal.
h. Karbon aktif atau arang aktif adalah jenis karbon yang
memiliki luas permukaan yang besar sehingga dapat menyerap
kotoran dalam air.

Yuda Silvian (121140176)
Muh. Andi Guntoro (121140216) 11
Makalah Seminar Kerja Praktik Laboratorium
Desalinasi Air Laut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Ion Exchanger

2.1.4 Zeolit
Zeolit merupakan material yang memiliki banyak kegunaan. Zeolit telah
banyak diaplikasikan sebagai adsorben, penukar ion, dan sebagai katalis.
Zeolit adalah mineral kristal alumina silika tetrahidrat berpori yang
mempunyai struktur kerangka tiga dimensi, terbentuk oleh tetrahedral

[SiO4]4- dan [AlO4]5- yang saling terhubungkan oleh atom-atom oksigen
sedemikian rupa, sehingga membentuk kerangka tiga dimensi terbuka
yang mengandung kanal - kanal dan rongga-rongga, yang didalamnya terisi
oleh ion-ion logam, biasanya adalah logam-logam alkali atau alkali tanah dan
molekul air yang dapat bergerak bebas (Chetam, 1992).

Gambar 2.1 Batuan Zeolit Alam

Gambar 2.2 Struktur Batuan Zeolit Alam
Zeolit alam terbentuk karena adanya proses kimia dan fisika yang
kompleks dari batu- batuan yang mengalami berbagai macam perubahan
di alam. Para ahli geokimia dan mineralogi memperkirakan bahwa zeolit

Yuda Silvian (121140176)
Muh. Andi Guntoro (121140216) 12
Makalah Seminar Kerja Praktik Laboratorium
Desalinasi Air Laut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Ion Exchanger

merupakan produk gunung berapi yang membeku menjadi batuan vulkanik,
batuan sedimen dan batuan metamorfosa yang selanjutnya mengalami
proses pelapukan karena pengaruh panas dan dingin sehingga akhirnya
terbentuk mineral-mineral zeolit. Anggapan lain menyatakan proses
terjadinya zeolit berawal dari debu-debu gunung berapi yang beterbangan
kemudian mengendap di dasar danau dan dasar lautan. Debu-debu vulkanik
tersebut selanjutnya mengalami berbagai macam perubahan oleh air danau
atau air laut sehingga terbentuk sedimen-sedimen yang mengandung
zeolit di dasar danau atau laut tersebut (Setyawan, 2002).
Jenis zeolit alam dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu:
a. Zeolit yang terdapat di antara celah-celah batuan atau di antara
lapisan batuan zeolit jenis ini biasanya terdiri dari beberapa jenis
mineral zeolit bersama-sama dengan mineral lain seperti kalsit,
kwarsa, renit, klorit, fluorit dan mineral sulfide.
b. Zeolit yang berupa batuan; hanya sedikit jenis zeolit yang berbentuk
batuan, diantaranya adalah: klinoptilolit, analsim, laumontit, mordenit,
filipsit, erionit, kabasit dan heulandit.
2.1.4.1 Kegunaan Zeolit Alam
Secara umum, zeolit mempunyai tiga fungsi utama, yaitu sebagai
adsorben, katalis dan ion exchange. Namun untuk zeolit alam, fungsinya
sebagai katalis sangat terbatas karena kemurnian dan luas permukaannya
yang rendah. Oleh karena itu zeolit alam lebih banyak digunakan pada
proses adsorpsi dan ion exchange. Pada proses adsorpsi, penggunaan
zeolit difokuskan pada penghilangan molekul-molekul polar atau sedikit
polar dengan menggunakan zeolit berkadar Al tinggi. Potensi zeolit alam
pada proses ini cukup besar, mengingat zeolit alam umumnya mempunyai
kadar Al yang tinggi (perbandingan Si/Al nya rendah). Contoh zeolit
alam yang banyak digunakan sebagai adsorbent adalah clinoptilolite
(HEU). Sementara ion exchange umumnya digunakan pada proses

Yuda Silvian (121140176)
Muh. Andi Guntoro (121140216) 13
Makalah Seminar Kerja Praktik Laboratorium
Desalinasi Air Laut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Ion Exchanger

pelunakan air di industri detergen. Zeolit alam juga dapat digunakan
sebagai bahan tambahan untuk pupuk, semen, sebagai suplemen pada
hewan ternak serta sebagai bahan pengisi pada industri kertas (Butland,
2008). Bahkan pada saat ini zeolit sudah mulai dikembangkan dibidang
kesehatan.
2.1.4.2 Aktivasi Zeolit Alam
Proses aktivasi zeolit alam sudah dilakukan oleh beberapa peneliti
terdahulu dengan tujuan yang berbeda-beda. Secara umum, ada tiga proses
aktivasi yang bisa dilakukan terhadap zeolit alam, yaitu aktivasi secara fisis
dengan pemanasan, aktivasi secara kimia dengan asam dan aktivasi secara
kimia dengan basa. Proses aktivasi dengan panas dapat dilakukan pada

suhu antara 200-400oC selama beberapa jam. Aktivasi fisis zeolit

alam Malang dilakukan dengan memanaskan zeolit pada suhu 250oC
selama 3 jam dengan tujuan untuk proses adsorpsi methilen blue (Rosita
dkk., 2004). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivasi zeolit dengan
panas memberikan daya adsorpsi yang lebih kecil dibandingkan
aktivasi dengan basa. Sementara aktivasi kimia dengan basa terhadap zeolit
alam dilakukan dengan menggunakan larutan natrium klorida 1 N (Oliveira
an Rubio, 2007). Zeolit teraktivasi kemudian digunakan sebagai adsorben
ion sulfat dan isopropilxantat. Aktivasi dengan basa dapat pula dilakukan
dengan larutan NaOH, dimana penurunan rasio Si/Al akan terjadi pada
aktivasi dengan pH tinggi (Jozefaciuk dan Bowanko, 2002). Sementara
sintesis zeolit A dari mineral tanah liat kaolinitik dilakukan dengan

aktivasi panas pada suhu 400-550oC (Igbokwe dkk., 2008). Aktivasi
zeolit alam Turki dengan menggunakan larutan HCl pada berbagai
konsentrasi dan suhu memberikan hasil bahwa aktivasi dengan HCl
menyebabkan terjadinya proses dealuminasi zeolit (Ozkan dan Ulku, 2005).

Yuda Silvian (121140176)
Muh. Andi Guntoro (121140216) 14
Makalah Seminar Kerja Praktik Laboratorium
Desalinasi Air Laut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Ion Exchanger

Dari proses aktivasi zeolit baik secara asam maupun basa, diperoleh hasil
bahwa zeolit yang diaktivasi dengan basa akan menjadi lebih polar bila
dibandingkan dengan zeolit yang diaktivasi dengan asam (Jozefaciuk
dan Bowanko, 2002). Perlakuan dengan asam terhadap zeolit terbukti
akan menyebabkan zeolit menjadi lebih hidrofob sehingga daya
adsorpsinya terhadap air akan berkurang (Sumin dkk., 2009). Semakin
tinggi konsentrasi asam yang digunakan maka daya adsorpsi zeolit terhadap
uap air menjadi semakin kecil ( Ozkan dan Ulku, 2005).
2.1.4.3 Kapasitas Pertukaran Ion
Kapasitas tukar kation adalah jumlah pasangan ion yang tersedia tiap
satuan berat atau volume zeolit dan menunjukkan jumlah kation yang
tersedia untuk dipertukarkan. Kapasitas ini merupakan fungsi dari derajat
substitusi Al terhadap Si dalam struktur kerangka zeolit. Semakin besar
derajat substitusi, maka kekurangan muatan positif zeolit semakin besar,
sehingga jumlah kation alkali atau alkali tanah yang diperlukan untuk
netralisasi juga semakin banyak. Secara umum, kapasitas tukar kation pada
zeolit tergantung pada tipe dan volume tempat adsorpsi, serta jenis, jari-jari
ion dan muatan kation.

2.2 Landasan Teori
Halimantun Hamdan (1992) mengemukakan bahwa zeolit merupakan
suatu mineral berupa kristal silika alumina yang terdiri dari tiga komponen
yaitu kation yang dapat dipertukarkan, kerangka alumina silikat dan air.
Zeolit banyak ditemukan dalam batuan Kerangka dasar struktur zeolit terdiri

dari unit-unit tetrahedral AlO42- dan SiO4- yang saling berhubungan melalui

atom O dan di dalam struktur, Si4+ dapat diganti dengan Al3+. Ikatan Al-O-Si
membentuk struktur kristal sedangkan logam alkali atau alkali tanah
merupakan sumber kation yang dapat dipertukarkan (Sutarti,1994).

Yuda Silvian (121140176)
Muh. Andi Guntoro (121140216) 15
Makalah Seminar Kerja Praktik Laboratorium
Desalinasi Air Laut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Ion Exchanger

Struktur yang khas dari zeolit, yakni hampir sebagian besar merupakan
kanal dan pori, menyebabkan zeolit memilki luas permukaan yang besar.
Semakin banyak jumlah pori yang dimiliki, semakin besar luas permukaan total
yang dimiliki zeolit. Aktivasi zeolit alam dapat dilakukan baik secara fisika
maupun secara kimia. Aktivasi secara fisika dilakukan melalui pengecilan
ukuran butir, pengayakan, dan pemanasan pada suhu tinggi, tujuannya untuk
menghilangkan pengotor - pengotor organik, memperbesar pori, dan
memperluas permukaan. Sedangkan aktivasi secara kimia dilakukan melalui
pengasaman. Tujuannya untuk menghilangkan pengotor anorganik.

Pengasaman ini akan menyebabkan terjadinya pertukaran kation dengan H+
(Ertan, 2005).
Air sadah yang dialirkan melalui kolom zeolit akan mengalami
pertukaran ion- ion, ion Ca dan ion Mg dalam air sadah ditukar dengan ion
Na dalam zeolit. Hal tersebut berlangsung terus sampai suatu saat ion Na dalam
zeolit sudah habis ditukar dengan ion Ca dan Mg dari dalam air, pada keadaan ini
zeolit tersebut dinamakan telah jenuh yang berarti zeolit tidak mampu lagi
melakukan pertukaran ion. Agar dapat kembali aktif, zeolit yang telah jenuh harus
di regenerasi dengan cara mengalirkan larutan garam dapur (NaCl 10-25%) ke
dalam unggun zeolit yang telah jenuh tersebut. Pada proses regenerasi ini akan
terjadi pertukaran ion Na dari dalam larutan air garam, masuk ke dalam zeolit
untuk menggantikan ion Ca dan Mg dari dalam zeolit.
Tabel 2.2 Tabel percobaan yang telah dilakukan

Peneliti Aktivasi tinggi waktu normalitas kesimpulan
2 jam 0.1 N
Semakin tinggi kadar
2 jam 0.25 N
HCl, semakin tinggi
Novi Nur A. HCl 2 jam 0.5 N
daya absorbsi zeolit
2 jam 0.75 N
dengan Ca dan Mg
2 jam 1.0 N

Yuda Silvian (121140176)
Muh. Andi Guntoro (121140216) 16
Makalah Seminar Kerja Praktik Laboratorium
Desalinasi Air Laut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Ion Exchanger

Peneliti Aktivasi tinggi waktu normalitas kesimpulan
20 cm 24 jam semakin tinggi unggun
40 cm 48 jam zeolit, semakin besar
Ruliasih M.
60 cm 72 jam prosentase penurunan
80 cm 96 jam kesadahan
2 jam 0.5 N Pada NaOH 1 N
3 jam 1.0 N dengan pemanasan
Tesis Laeli NaOH 4 jam 1.5 N 700oC selama 3 jam
adsorbsi terjadi paling
5 jam 2.0 N optimal

Dari proses aktivasi zeolit baik secara asam maupun basa, diperoleh hasil
bahwa zeolit yang diaktivasi dengan basa akan menjadi lebih polar dibandingkan
dengan zeolit yang diaktivasi dengan asam. Perlakuan dengan asam terbukti
menyebabkan zeolit menjadi lebih hidrofob sehingga proses pertukaran ion dalam
larutan garam menjadi semakin kecil.

Yuda Silvian (121140176)
Muh. Andi Guntoro (121140216) 17
Makalah Seminar Kerja Praktik Laboratorium
Desalinasi Air Laut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Ion Exchanger

BAB III

METODE PENELITIAN
3.1 Bahan yang digunakan

a. Batuan Zeolit
b. Air Laut
c. Larutan NaOH 1M

3.2 Alat yang digunakan
a. Crusher c. Furnace
b. Screener d. Penyangga

3.3 Rangkaian Alat

Gambar 3.1 Rangkaian alat percobaan

Yuda Silvian (121140176)
Muh. Andi Guntoro (121140216) 19
Makalah Seminar Kerja Praktik Laboratorium
Desalinasi Air Laut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Ion Exchanger

3.4 Cara Kerja
(1) Persiapan Bahan
Bahan yang dipakai berupa Batu Alam Zeolit dari daerah Wonogiri
yang dihancrkan (-20+40, -40+60, dan -60+80 mesh) serta menggunakan
sapel air laut yang diperoleh dari Pantai Siung, Wonosari, Gunung Kidul yang
kemudian disaring sehingga pengotor yang terbawa hilang.
(2) Pengaktifan Batu Zeolit
Pengaktifan batu zeolit dilakukan dengan penambahan NaOH 1 M ke
dalam serbuk zeolit. Sebelumnya, memasukkan serbuk zeolit kedalam bak
yang berisi air kemudian memasukkan NaOH 1 M kedalam bak tersebut
sambil diaduk – aduk selama 30 menit setelah itu diamkan selama 24 jam agar
terjadi pertukaran kation antara zeolit dengan NaOH dan dinetralkan dengan
air hingga didapat pH mendekati 7. Setelah itu, pengeringan dilakukan pada
suhu 400oC selama 4 jam dalam furnice.
(3) Pengujian Zeolit
Proses terakhir adalah Pengujian Zeolit. Masukkan Serbuk Zeolit
kedalam pipa bahan isian pada berbagai ketinggian tumpukan (40, 70, dan
100 cm) dan memasukkan air laut sedikit – demi sedikit kedalam pipa bahan
isian tersebut secara continous. Menunggu Proses penukaran ion selama kurun
waktu tertentu (4, 6, dan 8 jam) dan yang nantinya diharapkan dapat berubah
menjadi air tawar.

Yuda Silvian (121140176)
Muh. Andi Guntoro (121140216) 20
Makalah Seminar Kerja Praktik Laboratorium
Desalinasi Air Laut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Ion Exchanger

Diagram alir prosedur:
a. Aktivasi Zeolit

Penghancuran (-20+40, -40+60,
Batuan Zeolit dan -60+80 mesh) Serbuk Zeolit

Pengadukan 30 menit
NaOH 1M

Air Netralisasi 24 jam

Pengeringan pada suhu 400oC selama 4
Serbuk Zeolit
jam dalam furnice
teraktivasi

b. Proses Desalinasi

Memasukkan serbuk zeolit pada pipa bahan isian
(40, 70, dan 100 cm)

Menyalakan pompa dan
mengalirkan air (4, 6, dan 8 jam)

Pengambilan sampel air

Gambar 3.2 Diagram alir proses

Yuda Silvian (121140176)
Muh. Andi Guntoro (121140216) 21
Makalah Seminar Kerja Praktik Laboratorium
Desalinasi Air Laut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Ion Exchanger

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian desalinasi ini dilakukan dengan menvariasikan waktu kontak,
ukuran mesh, dan tinggi tumpukan. Pada penelitian ini tahapan aktivasi dilakukan
dengan memperkecil ukuran zeolit menjadi 40, 60, dan 80 mesh untuk memperluas
luasan kontak antara zeolit dengan air laut dan tinggi tumpukkan zeolit diatur menjadi
40, 70 dan 100 cm. Waktu kontak antara zeolit dengan air laut selama 4, 6, dan 8 jam.

Tabel 4.1 Hasil uji analisis air laut untuk salinitas

Salinitas
Ukuran 4 jam 6 jam 8 jam
mesh 40 70 100 40 70 100 40 70 100
cm cm cm cm cm cm cm cm cm
-20+40 32,6 32,4 32,1 31,8 31,6 31,3 31,3 30,9 30,7
-40+60 31,7 31,3 30,9 31,1 30,7 30,2 29,7 29,4 29,1
-60+80 30,8 30,5 29,8 30,1 29,4 28,7 29,2 28,8 28,1

4.1 Pengaruh waktu kontak dan tinggi tumpukan zeolit

Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan tinggi tumpukan zeolit yang
bervariasi yaitu 40 cm, 70 cm, dan 100 cm serta pada tiap tinggi tumpukkan
divariasikan waktu kontaknya. Air laut dialirkan menggunakan pompa melewati
unggun tumpukan yang ditampung dalam bak, dimana air laut tersebut kembali di
recycle menuju unggun zeolit untuk kembali dikontakkan dengan zeolit. Variasi
waktu kontak yang digunakan pada penelitian ini selama 4 jam, 6 jam, dan 8 jam.
Dari hasil analisis di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian
Penyakit (BBTKLPP) di dapat hasil dalam bentuk grafik sebagai berikut:

Yuda Silvian (121140176)
Muh. Andi Guntoro (121140216) 22
Makalah Seminar Kerja Praktik Laboratorium
Desalinasi Air Laut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Ion Exchanger

Gambar 4.1 Hubungan waktu kontak dengan nilai salinitas pada ukuran 40 mesh

Gambar 4.2 Hubungan waktu kontak dengan nilai salinitas pada ukuran 60 mesh

Yuda Silvian (121140176)
Muh. Andi Guntoro (121140216) 23
Makalah Seminar Kerja Praktik Laboratorium
Desalinasi Air Laut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Ion Exchanger

Gambar 4.3 Hubungan waktu kontak dengan nilai salinitas pada ukuran 80 mesh
Dari gambar 4.1, 4.2, dan 4.3 didapat hasil bahwa waktu kontak antara air laut
dengan zeolit serta tinggi tumpukan zeolit mempengaruhi nilai salinitas. Berdasarkan
gambar 5, 6, dan 7 tinggi tumpukan 100 cm memberikan hasil penurunan kadar
salinitas yang maksimal. Hal ini dikarenakan air laut dialirkan terus secara countinous
dan tersikulasi, proses pertukaran ion terus terakumulasi selama proses desalinasi.
Saat air laut dilewatkan pada unggun zeolit, ion-ion salinitas teradsorbsi oleh zeolit.
Dari data gambar 5, 6, dan 7 dapat kita simpulkan penurunan kadar salinitas terbaik
dalam penelitian ini terjadi saat waktu kontak 8 jam. Hal ini disebabkan waktu kontak
antara zeolit dengan air laut terjadi lebih baik pada saat waktu 8 jam. Selama waktu
kontak 8 jam tersebut, proses desalinasi dari air laut ke zeolit berlangsung lebih
intens.

Dari gambar 4.1, 4.2, dan 4.3 juga dapat dilihat bahwa tinggi tumpukan zeolit
yang berbeda memberi hasil yang berbeda pada penurunan salinitas air laut. Pada
penelitian ini alat yang digunakan diatur memiliki diameter yang tetap yakni 0.75
inchi sedangkan tingginya berubah – ubah sehingga volume air laut yang dapat saling
bertukar ion pada waktu kontak akan berbeda. Tinggi tumpukan zeolit 100 cm

Yuda Silvian (121140176)
Muh. Andi Guntoro (121140216) 24
Makalah Seminar Kerja Praktik Laboratorium
Desalinasi Air Laut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Ion Exchanger

memberikan hasil penurunan salinitas terbesar dibandingkan saat menggunakan
tinggi tumpukan 40 cm, dan 70 cm. Kenaikan tinggi tumpukan zeolit juga
mempengaruhi massa zeolit serta rute yang dilalui oleh air laut. Hal ini menyebabkan
volume saat kontak bertambah sehingga proses adsorbs nya berlangsung lebih baik,
selain itu semakin tinggi tumpukan zeolit jumlah mikropori yang ada juga bertambah
sehingga kapasitas ion yang dapat dipertukarkan lebih banyak dan menyebabkan
persentase penurunan kadar salinitas lebih signifikan. Pada saat tinggi tumpukan 100
cm , massa zeolit yang digunakan lebih banyak dibandingkan pada tinggi tumpukan
40 cm maupun 70 cm. Pada tinggi tumpukan 100 cm tersebut, dapat dilihat
penurunan nilai salinitas lebih tinggi. Jumlah mikropori pada tumpukkan 100 cm
tentu lebih banyak dibandingkan dengan tumpukan 40 cm dan 70 cm, sehingga
pertukaran ion yang dapat dilakukan menjadi lebih banyak.

4.2 Pengaruh ukuran mesh

Gambar 4.4 Hubungan ukuran mesh dengan nilai salinitas pada waktu 4 jam

Yuda Silvian (121140176)
Muh. Andi Guntoro (121140216) 25
Makalah Seminar Kerja Praktik Laboratorium
Desalinasi Air Laut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Ion Exchanger

Gambar 4.5 Hubungan ukuran mesh dengan nilai salinitas pada waktu 6 jam

Gambar 4.6 Hubungan ukuran mesh dengan nilai salinitas pada waktu 8 jam
Dari gambar 4.4, 4.5, dan 4.6 didapat hasil bahwa ukuran mesh mempengaruhi nilai
salinitas. Perubahan ukuran mesh pada zeolit mempengaruhi nilai salinitas nya.
Semakin besar ukuran mesh nya maka penurunan salinitas semakin besar. Hal ini
disebabkan semakin bertambahnya mikropori yang ada dalam zeolit.

Yuda Silvian (121140176)
Muh. Andi Guntoro (121140216) 26
Makalah Seminar Kerja Praktik Laboratorium
Desalinasi Air Laut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Ion Exchanger

Pada batuan zeolit alam, terdapat dua jenis pori yakni makropori dan
mikropori. Pada makropori biasanya sebagai jalan masuk menuju mikropori,
sedangkan fungsi mikropori yakni tempat proses adsorbsi berlangsung. Luas
mikropori dapat bertambah dengan adanya aktivasi. Aktivasi dapat menghilangkan
pengotor yang terdapat di makropori sehingga mikropori makin luas. Saat batuan
zeolit tersebut dihancurkan dan diayak, jumlah makropori juga bertambah
mengakibatkan luas kontak yang semakin besar. Bertambahnya jumlah makropori
secara tak langsung juga berarti menambah jumlah mikroporinya apalagi jika disertai
proses akivasi. Dari gambar 4.4, 4.5, dan 4.6 dapat diketahui penurunan kadar
salinitas terbaik terjadi pada ukuran zeolit 100 mesh. Pada kondisi ini, pelarutan Si4+
serta masuknya ion Na+ masih bisa terjadi, sebab penurunan salinitas masih
memberikan perubahan yang cukup signifikan. Sementara pada ukuran mesh yang
lebih besar dari 100 mesh penurunan salinitas air laut dapat saja menurun disebabkan
ukuran mesh yang terlalu kecil dapat merusak struktur dari zeolit itu sendiri. Tetapi,
hingga ukuran 100 mesh penurunan nilai salinitas masih mengalami perubahan yang
signifikan sehingga dapat disimpulkan struktur batuan zeolit alam dapat tahan hingga
ukuran 100 mesh tanpa merusak struktur dari zeolit itu sendiri.

Dari hasil yang ditampilkan dari grafik pembahasan 4.1 hingga 4.6 dapat
dilihat bahwa nilai salinitas belum mengalami kesetimbangan. Hal ini dikarenakan
zeolit masih dapat melakukan pertukaran ion sehingga nilai salinitas masih
mengalami penurunan. Menentukan waktu hingga mencapai titik kesetimbangan
diperlukan untuk mengetahui kemampuan pertukaran ion batuan zeolit serta
membantu untuk mengetahui waktu regenerasi batuan zeolit untuk dapat digunakan
lagi. Penyebab zeolit tidak mencapai titik kesetimbangan pada penelitian kali ini
dapat diakibatkan dari kurangnya waktu kontak antara zeolit dengan air laut sehingga
batuan zeolit belum mencapai kejenuhan.

Yuda Silvian (121140176)
Muh. Andi Guntoro (121140216) 27
Makalah Seminar Kerja Praktik Laboratorium
Desalinasi Air Laut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Ion Exchanger

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpilkan bahwa:
1. Semakin lama waktu kontak antara zeolit dengan air laut maka penurunan
salinitas akan semakin tinggi.
2. Semakin besar ukuran mesh yang digunakan maka penurunan salinitas akan
semakin tinggi.
3. Semakin tinggi tumpukan zeolit yang digunakan maka penurunan salinitas
akan semakin tinggi.
4. Desalinasi menggunakan zeolit menghasilkan penurunan salinitas tertinggi
pada ukuran zeolit 80 mesh, tinggi tumpukan 100 cm, dan waktu kontak 8 jam
dengan nilai salinitas 28,1 ‰.

5.2 Saran
1. Dilakukan inovasi untuk proses aktivasi zeolit dengan metode yang berbeda.
2. Dilakukan analisis waktu jenuh zeolit untuk mencari waktu regenerasi yang
optimal untuk zeolitnya.
3. Dilakukan penelitian hingga hasil mencapai titik keseimbangan sehingga
dapat mengetahui kapasaitas pertukaran ion pada zeolite alam.

Yuda Silvian (121140176)
Muh. Andi Guntoro (121140216) 28
DAFTAR PUSTAKA
Bernascomi, G. H. Gerster, H. Hauser, H. Stauble, E. Scheiter. 1995. Teknologi
Kimia 2. PT. Pradnya Paramita. Jakarta.

Butland, T.D., 2008, Adsorption Removal of Tertiary Butyl Alcohol
from Waste water by Zeolite, Thesis of Worcester Polytechnic Institute.

Cammack, R. 2006. Oxford Dictionary of Biochemistry and Molecular
Biology.Oxfor University Press. New York. 720 h.

Cheetam, D., A., 1992, Solid State Compound, Oxford university press, 234-237.

Enger, E. D dan Bradley, S. 2009. Environmental Science: A Study of
Interrelationships. McGraw-Hill. New York. 512 h.
Hamdan, H., 1992, Introduction to Zeolites: Synthesis, Characterization, and
Modification, Universiti Teknologi Malaysia, Penang.
Herlambang, Arie. 2000. Air Laut Siap Minum. Suara Bahari No. 1 Tahun I – Mei
2000. Rubrik IPTEK. Jakarta.

Homig, H. E. 1978. Seawater and Seawater Distillation, Vulkan-Verlag.
University of California. 202 h.

Irianto, K. 2004. Gizi dan Pola Hidup Sehat. Yrama Widya. Bandung. 352 h.
Kodoatie, R. J. dan Roestam, S. 2010. Tata ruang air. Andi. Yogyakarta. 539 h.
Montgomery, J. M. 1985. Water Treatment Principles and Design. A. Wiley
Interscinece Publication. John Wiley and Sons. New York.

Nanawi, G. 2001. Kualias Air dan Kegunaannya di Bidang Pertanian, Direktorat
Pendidikan Menengah Kejuruan. Jakarta. 36 h.

Salvato, J. A. 1972. Environmental engineering and Ssnitation, Wiley-
Interscience. University of California. 919 h.

Igbokwe, P.K., Okolomike, R.O., Nwokolo, S.O., 2008, Zeolite for Drying
of Ethanol-Water and Methanol-Water Systems from Nigerian Clay
Resource, Journal of The University of Chemical Technology and
Metallurgy, 43, I, 109-112.
Jozefaciuk, G., Bowanko, G., 2002, Effect of Acid and Alkali Treatments on
Surface Areas and Adsorption Energies of Selected Minerals, Journal
Clays and Clay Minerals, 50 No. 6, 771-783.

Oliveira, C.R., Rubio, J., 2007, Adsorption of Ions onto Treated Natural
Zeolite, Materials Research, 10 No. 4, 407-412.

Ozkan, F.C., Ulku, S., 2005, The Effect of HCl Treatment on Water
Vapor Adsorption Characteristics of Clinoptilolite Rich Natural Zeolite,
Journal Microporous and Mesoporous Materials 77, 47-53.

Setyawan P.H.D., 2002, Pengaruh Perlakuan Asam, Hidrotermal dan
Impregnasi Logam Kromium Pada Zeolit Alam dalam Preparasi
Katalis, Jurnal Ilmu Dasar, Vol. 3 No.2, Juli 2002.

Sumin, L., Youguang, M.A., Chunying, Z., Shuhua, S., Qing, H.E., 2009, The
Effect of Hydrophobic Modification of Zeolites on CO2 Absorption
Enhancement, Chinese Journal of Chemical Engineering, 17(1), 36-41.

Sutarti, M., dan M. Rachmawati, 1994, Zeolit Tinjauan Literatur, Jakarta: Pusat
Dokumentasi dan Informasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia.