You are on page 1of 9

Adelia Debrina

1616006
Task English

Artikel 1
Cara Pengolahan Sampah dan Manfaatnya ?

Penimbunan darat

Pembuangan sampah pada penimbunan darat termasuk menguburnya untuk membuang
sampah, metode ini adalah metode paling populer di dunia. Penimbunan ini biasanya
dilakukan di tanah yg ditinggalkan , lubang bekas pertambangan , atau lubang lubang
dalam. Sebuah situs penimbunan darat yg di desain dan di kelola dengan baik akan
menjadi tempat penimbunan sampah yang hiegenis dan murah. Sedankan penimbunan
darat yg tidak dirancang dan tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan berbagai
masalah lingkungan , diantaranya angin berbau sampah , menarik berkumpulnya Hama ,
dan adanya genangan air sampah. Efek samping lain dari sampah adalah gas methan dan
karbon dioksida yang juga sangat berbahaya. (di bandung kandungan gas methan ini
meledak dan melongsorkan gunung sampah)

Kendaraan pemadat sampah penimbunan darat.

Karakter desain dari penimbunan darat yang modern diantaranya adalah metode
pengumpulan air sampah menggunakan bahan tanah liat atau pelapis plastik.Sampah
biasanya dipadatkan untuk menambah kepadatan dan kestabilannya , dan ditutup untuk
tidak menarik hama (biasanya tikus). Banyak penimbunan samapah mempunyai sistem
pengekstrasi gas yang terpasang untuk mengambil gas yang terjadi. Gas yang terkumpul
akan dialirkan keluar dari tempat penimbunan dan dibakar di menara pemabakar atau
dibakar di mesin berbahan bakar gas untuk membangkitkan listrik. Pembuangan sampah
pada penimbunan darat termasuk menguburnya untuk membuang sampah, metode ini
adalah metode paling populer di dunia. Penimbunan ini biasanya dilakukan di tanah yg
ditinggalkan , lubang bekas pertambangan , atau lubang lubang dalam. Sebuah situs
penimbunan darat yg di desain dan di kelola dengan baik akan menjadi tempat
penimbunan sampah yang hiegenis dan murah. Sedankan penimbunan darat yg tidak
dirancang dan tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan berbagai masalah
lingkungan , diantaranya angin berbau sampah , menarik berkumpulnya Hama , dan
adanya genangan air sampah. Efek samping lain dari sampah adalah gas methan dan
karbon dioksida yang juga sangat berbahaya. (di bandung kandungan gas methan ini
meledak dan melongsorkan gunung sampah) Kendaraan pemadat sampah penimbunan
darat. Karakter desain dari penimbunan darat yang modern diantaranya adalah metode
pengumpulan air sampah menggunakan bahan tanah liat atau pelapis plastik.Sampah
biasanya dipadatkan untuk menambah kepadatan dan kestabilannya , dan ditutup untuk
tidak menarik hama (biasanya tikus). Banyak penimbunan samapah mempunyai sistem
pengekstrasi gas yang terpasang untuk mengambil gas yang terjadi. Gas yang terkumpul
akan dialirkan keluar dari tempat penimbunan dan dibakar di menara pemabakar atau
dibakar di mesin berbahan bakar gas untuk membangkitkan listrik.

Metode Daur-ulang
Adelia Debrina
1616006
Task English

Proses pengambilan barang yang masih memiliki nilai dari sampah untuk digunakan
kembali disebut sebagai daur ulang.Ada beberapa cara daur ulang , pertama adalah
mengambil bahan sampahnya untuk diproses lagi atau mengambil kalori dari bahan yang
bisa dibakar utnuk membangkitkan listik. Metode metode baru dari daur ulang terus
ditemukan dan akan dijelaskan dibawah.

Pengolahan kemabali secara fisik

Baja di Buang, dan kelengkapan Dilaporkan dipilih pada kemudahan Central European
Waste Management (Eropah). Metode ini adalah aktivitas paling populer dari daur ulang
, yaitu mengumpulkan dan menggunakan kembali sampah yang dibuang , contohnya
botol bekas pakai yang dikumpulkan kembali untuk digunakan kembali. Pengumpulan bisa
dilakukan dari sampah yang sudah dipisahkan dari awal (kotak sampah/kendaraan
sampah khusus), atau dari sampah yang sudah tercampur.
Sampah yang biasa dikumpulkan adalah kaleng minum aluminum , kaleng baja
makanan/minuman, Botol HDPE dan PET , botol kaca , kertas karton,koran, majalah, dan
kardus. Jenis plastik lain seperti (PVC, LDPE, PP, dan PS) juga bisa di daur ulang.Daur ulang
dari produk yang komplek seperti komputer atau mobil lebih susah, karena harus bagian
bagiannya harus diurai dan dikelompokan menurut jenis bahannya.

Pengolahan biologis

Pengkomposan.

Material sampah organik , seperti zat tanaman , sisa makanan atau kertas , bisa diolah
dengan menggunakan proses biologis untuk kompos, atau dikenal dengan istilah
pengkomposan.Hasilnya adalah kompos yang bisa digunakan sebagi pupuk dan gas
methana yang bisa digunakan untuk membangkitkan listrik.
Contoh dari pengelolaan sampah menggunakan teknik pengkomposan adalah Green Bin
Program (program tong hijau) di Toronto, Kanada, dimana sampah organik rumah tangga
, seperti sampah dapur dan potongan tanaman dikumpulkan di kantong khusus untuk di
komposkan.

Pemulihan energi

Sampah menjadi energi (Waste-to-energy)

Komponen pencernaan Anaerobik di pabrik Lübeckmechanical biological
treatment di Jerman, 2007

Kandungan energi yang terkandung dalam sampah bisa diambil langsung dengan cara
menjadikannya bahan bakar, atau secara tidak langsung dengan cara mengolahnya
menajdi bahan bakar tipe lain. Daur-ulang melalui cara "perlakuan panas" bervariasi mulai
dari menggunakannya sebakai bahan bakar memasak atau memanaskan sampai
menggunakannya untuk memanaskan boiler untuk menghasilkan uap dan listrik dari
turbin-generator. Pirolisa dan gasifikasi adalah dua bentuk perlakukan panas yang
berhubungan , dimana sampah dipanaskan pada suhu tinggi dengan keadaan miskin
oksigen. Proses ini biasanya dilakukan di wadah tertutup pada Tekanan tinggi. Pirolisa dari
Adelia Debrina
1616006
Task English

sampah padat mengubah sampah menjadi produk berzat padat , gas, dan cair. Produk cair
dan gas bisa dibakar untuk menghasilkan energi atau dimurnikan menjadi produk lain.
Padatan sisa selanjutnya bisa dimurnikan menjadi produk seperti karbon aktif. Gasifikasi
dan Gasifikasi busur plasma yang canggih digunakan untuk mengkonversi material
organik langsung menjadi Gas sintetis (campuran antara karbon monoksida dan
hidrogen). Gas ini kemudian dibakar untuk menghasilkan listrik dan uap.

mmanfaat sampah

Penghematan sumber daya alam

Penghematan energi

Penghematan lahan TPA

Lingkungan asri (bersih, sehat, nyaman)

Mengurangi pencemaran

Artikel 2
PENANGANAN LIMBAH PADAT
1. Penimbunan Terbuka
Terdapat dua cara penimbunan sampah yang umum dikenal, yaitu metode
penimbunan terbuka (open dumping) dan metode sanitary landfill. Pada metode
penimbunan terbuka, . Di lahan penimbunan terbuka, berbagai hama dan kuman
penyebab penyakit dapat berkembang biak. Gas metan yang dihasilkan oleh
pembusukan sampah organik dapat menyebar ke udara sekitar dan menimbulkan
bau busuk serta mudah terbakar. Cairan yang tercampur dengansampah dapat
merembes ke tanah dan mencemari tanah serta air.
2. Sanitary Landfill
Pada metode sanitary landfill, sampah ditimbun dalam lubang yang dialasi
iapisan lempung dan lembaran plastik untuk mencegah perembesan limbah ke
tanah. Pada landfillyang lebih modern lagi, biasanya dibuat sistem Iapisan ganda
(plastik – lempung – plastik – lempung) dan pipa-pipa saluran untuk
mengumpulkan cairan serta gas metan yang terbentuk dari proses pembusukan
sampah. Gas tersebut kemudian dapat digunakan untuk menghasilkan listrik.
4. Pembuatan kompos padat dan cair
metode ini adalah dengan mengolah sampah organic seperti sayuran,
daun-daun kering, kotoran hewan melalui proses penguraian oleh
mikroorganisme tertentu. Pembuatan kompos adalah salah satu cara terbaik
dalam penanganan sampah organic. Berdasarkan bentuknya kompos ada
yang berbentuk padat dan cair. Pembuatannya dapat dilakukan dengan
Adelia Debrina
1616006
Task English

menggunakan kultur mikroorganisme, yakni menggunakan kompos yang
sudah jadi dan bisa didapatkan di pasaran seperti EMA efectif microorganism
4.EMA merupakan kultur campuran mikroorganisme yang dapat meningkatkan
degaradasi limbah atau sampah organic.
5. Daur Ulang
Daur ulang adalah proses untuk menjadikan suatu bahan bekas menjadi
bahan baru dengan tujuan mencegah adanya sampah yang sebenarnya dapat
menjadi sesuatu yang berguna, mengurangi penggunaan bahan baku yang baru,
mengurangi penggunaan energi, mengurangi polusi, kerusakan lahan, dan
emisi gas rumah kaca jika dibandingkan dengan proses pembuatan barang baru.
Daur ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampahpadat yang terdiri atas
kegiatan pemilahan, pengumpulan, pemrosesan, pendistribusian dan pembuatan
produk / material bekas pakai, dan komponen utama dalam manajemen sampah
modern dan bagian ketiga adalam proses hierarki sampah 3R (Reuse, Reduce,
and Recycle).
Material-material yang dapat didaur ulang dan prosesnya diantaranya adalah:
Bahan bangunan
Material bangunan bekas yang telah dikumpulkan dihancurkan
dengan mesinpenghancur, kadang-kadang bersamaan dengan aspal, batu
bata, tanah, dan batu. Hasil yang lebih kasar bisa dipakai menjadi pelapis jalan
semacam aspal dan hasil yang lebih halus bisa dipakai untuk membuat bahan
bangunan baru semacam bata.
Baterai
Banyaknya variasi dan ukuran baterai membuat proses daur ulang bahan ini
relatif sulit. Mereka harus disortir terlebih dahulu, dan tiap jenis memiliki
perhatian khusus dalam pemrosesannya. Misalnya, baterai jenis lama masih
mengandung merkuri dan kadmium, harus ditangani secara lebih serius demi
mencegah kerusakan lingkungan dan kesehatanmanusia. Baterai
mobil umumnya jauh lebih mudah dan lebih murah untuk didaur ulang.
Barang Elektronik
Barang elektronik yang populer seperti komputer dan handphone umumnya
tidak didaur ulang karena belum jelas perhitungan manfaat ekonominya.
Material yang dapat didaur ulang dari barang elektronik misalnya adalah logam
yang terdapat pada barang elektronik tersebut (emas, besi, baja, silikon, dll)
ataupun bagian-bagian yang masih dapat dipakai
(microchip, processor, kabel, resistor, plastik, dll). Namun tujuan utama dari
proses daur ulang, yaitu kelestarian lingkungan, sudah jelas dapat menjadi
tujuan diterapkannya proses daur ulang pada bahan ini meski
manfaat ekonominya masih belum jelas.
Logam
Adelia Debrina
1616006
Task English

Besi dan baja adalah jenis logam yang paling banyak didaur ulang di dunia.
Termasuk salah satu yang termudah karena mereka dapat dipisahkan dari
sampah lainnya denganmagnet. Daur ulang meliputi proses logam pada
umumnya; peleburan dan pencetakan kembali. Hasil yang didapat tidak
mengurangi kualitas logam tersebut.
Contoh lainnya adalah alumunium, yang merupakan bahan daur ulang paling
efisien di dunia. Namun pada umumnya, semua jenis logam dapat didaur ulang
tanpa mengurangi kualitas logam tersebut, menjadikan logam sebagai bahan
yang dapat didaur ulang dengan tidak terbatas.
Bahan Lainnya
Kaca dapat juga didaur ulang. Kaca yang didapat dari botol dan lain
sebagainya dibersihkan dair bahan kontaminan, lalu dilelehkan bersama-sama
dengan material kaca baru. Dapat juga dipakai sebagai bahan bangunan dan
jalan. Sudah ada Glassphalt, yaitu bahan pelapis jalan dengan menggunakan
30% material kaca daur ulang.
Kertas juga dapat didaur ulang dengan mencampurkan kertas bekas yang
telah dijadikanpulp dengan material kertas baru. Namun kertas akan selalu
mengalami penurunan kualitas jika terus didaur ulang. Hal ini menjadikan
kertas harus didaur ulang dengan mencampurkannya dengan material baru,
atau mendaur ulangnya menjadi bahan yang berkualitas lebih rendah.
Plastik dapat didaur ulang sama halnya seperti mendaur ulang logam. Hanya
saja, terdapat berbagai jenis plastik di dunia ini. Saat ini di berbagai produk
plastik terdapat kode mengenai jenis plastik yang membentuk material tersebut
sehingga mempermudah untuk mendaur ulang. Suatu kode di kemasan yang
berbentuk segitiga 3R dengan kode angka di tengah-tengahnya adalah
contohnya. Suatu angka tertentu menunjukkan jenis plastik tertentu, dan
kadang-kadang diikuti dengan singkatan, misalnya LDPE untuk Low Density
Poly Etilene, PS untuk Polistirena, dan lain-lain, sehingga mempermudah
proses daur ulang.

Artikel 3
a. Open Dumping / pembuangan terbuka
merupakan cara pembuangan sederhana dimana sampah hanya
dihamparkan pada suatu lokasi; dibiarkan terbuka tanpa pengamanan
dan ditinggalkan setelah lokasi tersebut penuh.
Cara ini tidak direkomendasikan lagi mengingat banyaknya potensi
pencemaran lingkungan yang dapat ditimbulkannya seperti:
− Perkembangan vektor penyakit seperti lalat, tikus, dll
− Polusi udara oleh bau dan gas yang dihasilkan
− Polusi air akibat banyaknya lindi (cairan sampah) yang timbul
− Estetika lingkungan yang buruk karena pemandangan yang kotor
Adelia Debrina
1616006
Task English

b. Control Landfill. Metoda ini merupakan peningkatan dari open
dumping dimana secara periodik sampah yang telah tertimbun ditutup
dengan lapisan tanah untuk mengurangi potensi gangguan lingkungan
yang ditimbulkan. Dalam operasionalnya juga dilakukan perataan dan
pemadatan sampah untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan dan
kestabilan permukaan TPA. Di Indonesia, metode control landfill
dianjurkan untuk diterapkan di kota sedang dan kecil. Untuk dapat
melaksanakan metoda ini diperlukan penyediaan beberapa fasilitas
diantaranya:
– Saluran drainase untuk mengendalikan aliran air hujan
– Saluran pengumpul lindi dan kolam penampung
– Pos pengendalian operasional
– Fasilitas pengendalian gas metan
– Alat berat
c. Sanitary Landfill. Metode ini merupakan metode standar yang dipakai secara
internsional dimana penutupan sampah dilakukan setiap hari sehingga potensi
gangguan yang timbul dapat diminimalkan. Namun demikian diperlukan
penyediaan prasarana dan sarana yang cukup mahal bagi penerapan metode ini
sehingga sampai saat ini baru dianjurkan untuk kota besar dan metropolitan.

Artikel 4
Sanitary landfills are sites where waste is isolated from the environment until it is
safe. It is considered when it has completely degraded biologically, chemically
and physically. In high-income countries, the level of isolation achieved may be
high. However, such an expensive high level of isolation may not be technically
necessary to protect public health. Four basic conditions should be met before a
site can be regarded as a sanitary landfill (see following.) The ways of doing this
should be adapted to local conditions. The immediate goal is to meet, to the best
extent possible, the four stated basic sanitary landfill conditions, with a longer
term goal to meet them eventually in full.
Small incremental improvements in landfill design and operation over several
years are more likely to succeed than attempts to make a single, large leap in
engineering expectations.
Large landfills will require more investment to improve standards than smaller
sites. However, the unit cost of these improvements (measured per tonne of
Adelia Debrina
1616006
Task English

waste landfilled or per head of population served) will decrease with increasing
site size. There are financial and other benefits to sites with long operating
lifetimes (ten years or more). Large regional sites serving two or more cities
could be economically beneficial, providing waste transport costs are not too
high.
Basic requirements
As a minimum, four basic conditions should be met by any site design and
operation before it can be regarded as a sanitary landfill:
• Full or partial hydrogeological isolation: if a site cannot be located on land
which naturally contains leachate security, additional lining materials should be
brought to the site to reduce leakage from the base of the site (leachate) and
help reduce contamination of groundwater and surrounding soil. If a liner - soil
or synthetic - is provided without a system of leachate collection, all leachate will
eventually reach the surrounding environment. Leachate collection and
treatment must be stressed as a basic requirement.
• Formal engineering preparations: designs should be developed from local
geological and hydrogeological investigations. A waste disposal plan and a final
restoration plan should also be developed.
• Permanent control: trained staff should be based at the landfill to supervise
site preparation and construction, the depositing of waste and the regular
operation and maintenance.
• Planned waste emplacement and covering: waste should be spread in layers
and compacted. A small working area which is covered daily helps make the
waste less accessible to pests and vermin.

Artikel 5
Jakarta's rubbish nightmare
With 13.2 million people, Jakarta is now the world’s tenth largest city. Where
does all the rubbish go? Add the issue of decentralisation and regional autonomy
and Jakarta’s garbage is a stinking time-bomb waiting to explode.

Jakarta produces as much as 6,250 tons of rubbish a day. It does not have enough
trucks to collect all the rubbish, let alone enough space to put it. For 17 years the
Jakarta administration has used a 108 hectare tract of land in the neighbouring
municipality of Bekasi as a dump. Jakarta had what it thought was a water-tight
deal. So when the Bekasi administration decided to raise the ‘rent’ on the land, all
hell let loose. Before 1998 it would have been unthinkable that Bekasi could
challenge the powerful Capital City Special District (Daerah Khusus Ibukota,
DKI). But under regional autonomy, it has a whole lot more clout.
Adelia Debrina
1616006
Task English

The dispute
On 31 December 2003 the Bekasi administration signed a new agreement with
Jakarta. This agreement gave Bekasi management responsibility for the dump. But
confusion reigned over the interpretation of the contract. The Bekasi
administration claimed that it owned the land, and had the right to manage it. But
Jakarta wanted to keep control of its biggest dump.

Under the Regional Autonomy Act (23/1999), the mayor of Bekasi has to meet his
municipal budget deficit. For him the dump is a potential pot of gold. He imposed
a levy of Rp 85,000 (A$14) per ton of rubbish dumped. In addition, he calculated
that Bekasi could make money out of recycling, making organic fertiliser, and
converting the gas produced by rubbish into electricity.

The levy made no sense to the Jakarta administration who claimed the site
belonged to them. ‘How can they manage the rubbish dump and charge us a levy
when we own the land, the equipment and the technology, and the employees
running the dump are our employees?’ asked an angry Selamat Limbong, head of
the Jakarta Sanitation Division (Dinas Kebersihan Kota). But according to Bekasi,
Jakarta never processed their hak pakai (right of use) over the land, so it still
legally belongs to the community.

Local action
Legal or not, the dump was a fiefdom under the New Order regime, and no local
people were allowed in. But since reformasi began the local community has
complained long and loudly. They want access to this lucrative ‘unnatural’
resource, or at least compensation for living with the stench. At the Bekasi dump
site, the rubbish is left to decay uncovered. After 16 years, and 36 million tons of
rubbish, there is a stinking six metre high mountain of unburied organic and
inorganic waste — not to mention the effluent (lindi), which seeps into the soil,
into the ground water, and into the wells.

At the beginning of January this year, local residents blockaded the road to the
dump, forcing dozens of rubbish trucks to park along the roadside. They were
protesting about the lack of proper landfill, the smell, and the liquid runoff, none
of which is permitted under Bekasi’s agreement with Jakarta. The dump is not
supposed to be used for wet waste (sampah basah). The governor of Jakarta,
Sutiyoso, was furious at the protest. He ordered that the dump be padlocked, and
that the trucks dump their load in various swampy sites around the city. During
the crisis temporary dumps were set up in three emergency sites in North and East
Jakarta. This just created more problems.
Adelia Debrina
1616006
Task English

At Cilincing, in North Jakarta, residents were watching TV late one night when
they heard the sound of heavy vehicles revving their engines. Outside their
houses, curious residents were startled to find 26 trucks emptying their rubbish on
a 2.1 hectare empty block across the road. The stench was appalling. When asked,
the head of the Jakarta Sanitation Division said that the emergency situation
would ‘only last for six months’. Six months? Residents complained that they
could imagine what would happen to their well water supply if the rubbish was
dumped near their homes for six months.

The Bekasi rubbish dump dispute was an opportunity for a pre-election campaign
warm up. Taufiq Kiemas, President Megawati Sukarnoputri’s husband, visited
communities living around the closed dump, ‘granting scholarships to poor
children’ and distributing 21,000 notebooks with covers bearing the face of
Bekasi’s deputy mayor, who is head of the Bekasi branch of Megawati’s PDI-P.

The Bekasi dump is now back in business. It provides a livelihood for 6000
sorters (pemulung), who make up to A$14 per day sorting rubbish. Investors are
beginning to realise what the sorters have known for a long time — that recycling
makes money.