You are on page 1of 17

BAB IV PENGENDALIAN KOROSI DENGAN

METODE ANODA KORBAN (SACRIFICIAL
ANODE) KELOMPOK 8

BAB IV
PENGENDALIAN KOROSI DENGAN METODE ANODA
KORBAN (SACRIFICIAL ANODE)
4.1 Tujuan
1) Mengetahui dan memahami mekanisme pengendalian korosi dengan
metode anoda korban.
2) Mengetahui dan memahami rancangan proteksi katodik dengan
metode anoda korban.
3) Mengetahui dan memahami cara menghitung laju korosi.
4.2 Teori Dasar
Proteksi katodik adalah metode pengendalian korosi yang dapat
diterapkan untuk struktur logam/ pipa yang berada di dalam tanah dan berada
di lingkungan air laut. Metoda ini dilakukan dengan jalan mengalirkan arus
listrik searah melalui elektrolit ke logam sehingga potensial antarmuka
logam-larutan elektrolit turun menuju/mencapai daerah immunnya atau
sampai nilai tertentu sehingga laju korosi logam masih
diperbolehkan/minimum. Sumber arus listrik searah dapat diperoleh dengan
dua cara yaitu arus istrik searah diperoleh dari sumber luar disebut metoda
arus yang dipaksakan (impressed curent),dan cara kedua arus listrik searah
diperoleh dari reaksi galvanik disebut metoda anoda tumbal ( sacrificial
anode).A1 dan Zn dapat digunakan sebagai anoda tumbal ,karena potensial
korosinya lebih elektronegatif dibanding dengan baja secara spontan
memberikan arus listrik searah pada struktur logam yang dilindungi sehingga
potensial antar muka logam turun

Kriteria proteksi katodik :
Dalam proteksi katodik salah satu cara untuk mengetahui keberhasilan suatu
struktur logarn terproteksi dengan baik adalah dengan mengamati potensial
antarmuka logam yang dilindungi. Beberapa kriteria yang menggunakan
parameter potensial antarmuka, khususnya untuk besi atau baja dalam
lingkungan air laut, umumnya mengacu ke standard National Assosiation of

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KOROSI TA 2017/2018 80
BAB IV PENGENDALIAN KOROSI DENGAN
METODE ANODA KORBAN (SACRIFICIAL
ANODE) KELOMPOK 8

Corrosion Engineer NACE (R.P 076-1983) tentang "Corrosion Control of
Steel,Fixed Offshore Platform Associated with Petroleum Production " yang
dapat disarikan sebagai berikut : Proteksi katodik dicapai bila,
1. Potensial antarmuka logam < - 800 mVolt diukur antara permukaan
struktur yang diproteksi dengan elektroda referensi Ag/AgCl jenuh
yang dikontakkan dengan elektrolit.
2. Potensial diturunkan 300 mV ke arah negatif dari potensial korosi
struktur yang dihasilkan dari aplikasi arus proteksi.
3. Bila korosi terkendali oleh suhu lingkungan, maka potensial proteksi
dapat didekati dengan menggunakan persamaan Nernst, sedangkan
pada lingkungan khusus dan suhu normal berlaku kriteria (1) dan (2).

Penggunaan pertama CP adalah pada tahun 1852, ketika Sir Humphry Davy,
salah seorang perwira AL Inggris, melekatkan sebongkah besi pada bagian
luar badan kapal berlapis tembaga yang terendam air. Besi cenderung lebih
mudah mengalami korosi yang menimbulkan karat dibandingkan dengan
tembaga sehingga ketika dilekatkan pada badan kapal, laju korosi pada
tembaga akan menjadi turun. Proteksi katodik dapat dilakukan dengan dua
cara yaitu dengan menggunakan anoda korban (sacrificial anode) dan inpress
current (ICCP).

1. Proteksi Katodik Metode Anoda Korban (Sacrificial Anode)
Proteksi katodik dengan anoda korban (SACP) terjadi saat sebuah logam
dihubungkan dengan logam yang lebih reaktif (anoda). Hubungan ini
mengarah pada sebuah rangkaian galvanik. Untuk memindahkan korosi
secara efektif dari struktur logam, material anoda harus mempunyai beda
potensial cukup besar untuk menghasilkan arus listrik.
Gambar 2.3 Proteksi Katodik dengan Anoda Korban

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KOROSI TA 2017/2018 81
BAB IV PENGENDALIAN KOROSI DENGAN
METODE ANODA KORBAN (SACRIFICIAL
ANODE) KELOMPOK 8

Gambar 2.3 memperlihatkan kinerja proteksi dengan anoda korban,terdapat
tiga macam material yang dibiasanya digunakan dalam proteksi katodik untuk
material baja, yaitu magnesium, seng dan aluminium. Pemilihan anoda untuk
proteksi tergantung pada restifitas dan elektrolit yang akan digunakan.

2. Impressed Current Cathodic Protection (ICCP)
Untuk struktur (bangunan) yang lebih besar, anoda galvanik tidak dapat
secara ekonomis mengalirkan arus yang cukup untuk melakukan
perlindungan yang menyeluruh. Sistem Impressed Current Cathodic
Protection (ICCP) menggunakan anoda yang dihubungkan dengan sumber
arus searah (DC) yang dinamakan cathodic protection rectifier. Anoda
untuk sistem ICCP dapat berbentuk batangan turbular atau pita panjang
dari berbagai material khusus. Material ini dapat berupa high silikon cast
iron (campuran besi dan silikon), grafit, campuran logam oksida, platina
dan niobium serta material lainnya.

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KOROSI TA 2017/2018 82
BAB IV PENGENDALIAN KOROSI DENGAN
METODE ANODA KORBAN (SACRIFICIAL
ANODE) KELOMPOK 8

Kriteria Proteksi Bagi Baja dan Besi Tuang
Untuk memastikan apakah proteksi katodik yang diaplikasikan sesuai dengan
prinsip kerjanya, diperlukan suatu metode dan kriteria penilaian.
Pengendalian korosi eksternal dapat dicapai pada berbagai tingkatan
polarisasi katodik bergantung kondisi lingkungan yang dihadapi.
Pengendalian korosi dengan jalan memperlakukan struktur yang diproteksi
sebagai katoda dalam suatu sel elektrokimia (NACE RP 0169-92). Dilakukan
dengan cara mengalirkan arus proteksi dan elektron ke logam yang akan
diproteksi, sehingga potensial logam turun ke kondisi immune. Ketiga kriteria
utama proteksi katodik pada pipa baja atau besi tuang yang terpendam dalam
tanah atau terbenam dalam air menurut NACE Standard adalah :
1. -850 mV (CSE) terhadap proteksi katodik yang diaplikasikan, potensial ini
dapat di ukur dengan anoda pembanding Cu-CuSO4.
2. Potensial polarisasi -850 mV terhadap CSE (Cupper Saturated Electrode),
3. Polarisasi maksimal -1700 mV.
Berdasarkan NACE (National Association of Corrosion Engineers),
dimana angka proteksi terbesar adalah 1700–mV,CSE jika melebihi dari
ketentuan tersebut dikhawatirkan kondisi coating akan rusak karena over
proteksi dan angka proteksi terendah adalah 850–mV,CSE jika proteksi
diukur mendapat angka tersebut maka pipa baja tidak mendapat proteksi yang
maksimal dan korosi akan mudah menyerang pipa baja. Apabila percobaan
perancangan proteksi katodik dengan anoda korban memenuhi kriteria
standar NACE maka dianggap berhasil.

. Proteksi katodik
Pada proteksi katodik, benda yang terkorosi berfungsi sebagai
katoda dari suatu sel elektrokimia. Kalau tegangan elektrodanya digeser
kearah negative sampai dibawah harga tegangan kesetimbangan korosinya,
maka benda tersebut tidak akan terkorosi. Proteksi katodik dapat dibagi
menjadi :

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KOROSI TA 2017/2018 83
BAB IV PENGENDALIAN KOROSI DENGAN
METODE ANODA KORBAN (SACRIFICIAL
ANODE) KELOMPOK 8

a. Galvanic protection : dalam hal ini benda yang terkorosi dipasang sebagai
katoda pada suatu sel galvanic. Anodanya yang terdiri dari logam Mg, Zn
atau Al berfungsi sebagai anoda korban yang dapat dilakukan :
a. Sebagai pelapis pada logam dasarnya (mis, baja galvanis)
b. Sebagai pelat anoda terdispersi dengan atau tanpa pengutaran arus
b. Elektrolytic cathodic protection : cara ini menggunakan objek yang
mengalami korosi sebagai katoda sel elektrokimia yang arusnya disuplai dari
sumber arus searah luar (impressed) current. Anoda tambahannya biasanya
terdiri dari logam yang tidak larut (Pt, Pb, C dan Ni), tetapi dapat pula berupa
logam yang dapat larut (Fe,Al).
Untuk proteksi baja bahan anoda yang dipakai adalah Mg, Al dan Zn
atau paduan dari logam-logam tersebut atau dengan Ca. Untuk proteksi
tembaga dapat dipakai karbon sebagai anoda karbonnya.
Memilih insoluble anode untuk electrolytic cathodic protection adalah hal
yang tidak mudah, karena tidak ada bahan yang sama sekali tidak larut bila
dipasang sebagai anoda dalam sel elektrolisa. Dalam lingkunagn yang
mengandung larutan klorida material standar yang dipakai sebagai anoda
adalah grafit, sedang dalam larutan sulfat paduan timbale dengan antimony
dan atau perak.

Proteksi Anodik
Pada proteksi anodik objek yang akan dilindungi dipasang sebagai anoda dari
suatu sel galvanic atau biasanya sel elektrolitik. Kemudian tegangan
elektrodanya digeser kearah positif sehingga untuk logam-logam tertentu
akan terjadi pasifasi kimiawi. Untuk kebanyakan logam hal ini justru akan
menyebabkan terjadinya korosi. Oleh karena itu cara ini pada prinsipnya
hanya cocok untuk logam yang menunjukkan pasifasi kimiawi. Selain itu
komposisi dari larutan korosifnya harus mendukung terjadinya pasifasi. Jadi
proteksi anodic tidak dapat dipakai dalam lingkungan yang mengandung
konsentrasi anion dalam jumlah besar, seperti dalam larutan khlorida.

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KOROSI TA 2017/2018 84
BAB IV PENGENDALIAN KOROSI DENGAN
METODE ANODA KORBAN (SACRIFICIAL
ANODE) KELOMPOK 8

Ion-ion sulfat dalam konsentrasi tinggi dapat menggantikan ion-ion khlorida
pada permukaan logam. Jadi baja 18/8 dapat dilindungi secara anodic dalam
larutan yang mengandung 30 % H2SO4 dan 1 % NaCl.
Proteksi anodic dapat pula dibagi menjadi dua sub kategori yaitu :
1. Galvanic anodic protection : dalam hal ini logam-logam mulia (Pt, Pd, Ag,
Cu) dipakai sebagai unsure-unsur pemandu atau sebagai surlace coating pada
logam-logam pasifasi (stainless steel, Ti, Ta, Zr)
2. Electrolitic anodic protection : disini digunakan arus searah dari luar yang
disuplai melalui katoda tambahan dan tegangan potensial objek yang akan
dilindungi (anoda) diatur dengan bantuan potentiostat.
Kerugian Proteksi Katodik Anoda Korban.
1. Arus yang tersedia terbatas, bergantung pada luas permukaan anoda.
2. Biaya operasi relative mahal
3. Penghubung anoda yang digunakan harus cukup besar, untuk mengurangi
kehilangan energy akibat tahanan.
Material logam yang biasa dijumpai sehari-hari berasal dari proses
pembentukan dari bijihnya. Bijih logam digabungkan satu sama lain sehingga
membentuk material logam yang memiliki energi yang tinggi. Bijih-bijih
tersebut biasanya berupa oksida logam seperti hematit (Fe2O3) untuk besi atau
bauksit (Al2O3.H2O) untuk aluminium. Menurut salah satu prinsip
termodinamika, sebuah material selalu mengarah pada keadaan energi yang
paling rendah. Begitu juga pada material logam, kebanyakan logam tidak
stabil secara termodinamik dan cenderung akan mencari keadaan energi yang
lebih rendah, yang berupa oksida atau beberapa senyawa lainnya. Proses yang
melibatkan perubahan logam ke arah oksida dengan energi rendah disebut
korosi.
Beberapa pendapat menjelaskan mengenai definisi korosi, namun pada
umumnya korosi dapat diartikan sebagai proses degradasi logam yang
diakibatkan oleh reaksi dengan lingkungannya.

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KOROSI TA 2017/2018 85
BAB IV PENGENDALIAN KOROSI DENGAN
METODE ANODA KORBAN (SACRIFICIAL
ANODE) KELOMPOK 8

Dalam bahasa sehari-hari, korosi disebut perkaratan. Contoh korosi yang
paling lazim adalah perkaratan besi. Korosi dibagi menjadi tiga jenis, yaitu
sebagai berikut.
1. Korosi basah, yaitu proses korosi yang terjadi pada lingkungan berair.
2. Korosi dalam larutan garam.
3. Korosi kering, biasanya terjadi pada suhu tinggi.

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KOROSI TA 2017/2018 86
BAB IV PENGENDALIAN KOROSI DENGAN
METODE ANODA KORBAN (SACRIFICIAL
ANODE) KELOMPOK 8

4.3 Metodologi Praktikum
4.3.1Skema Proses

Persiapan alat dan bahan

Perhitungan korban Zn

Pembersihan spesimen

Pengukuran dimensi

Pemberian kutek

Spesimen dilarutkan

Pengamatan Spesimen

Penimbangan

Perhitungan

Analisa dan pembahasan

Kesimpulan

Gambar 4.3 Skema proses

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KOROSI TA 2017/2018 87
BAB IV PENGENDALIAN KOROSI DENGAN
METODE ANODA KORBAN (SACRIFICIAL
ANODE) KELOMPOK 8

5.3.1 Penjelasan Skema Proses
1. Siapkan specimen baja ST37.
2. Menghitung anoda korban yang diperlukan (logam Zn)
3. Bersihkan specimen baja ST37 dengan cara di gerinda.
4. Mengukur dimensi dan berat awal specimen, kemudian
timbang juga anoda korban nya.
5. Hubungkan specimen dan anoda korban dengan kawat
tembaga yang diberi kutek pada sambungan nya.
6. Masukan specimen kedalam bak berisi larutan NaCl.
7. Amati perubahan serta ukur potensial dan pH larutan setiap 1 x
48 jam selama 8 hari.
8. Menimbang berat akhir dan mengukur dimensi akhir specimen
anoda.
9. Hitung laju korosi.
10. Berikan analisa dan pembahasan.
11. Tarik kesimpulan.

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KOROSI TA 2017/2018 88
BAB IV PENGENDALIAN KOROSI DENGAN
METODE ANODA KORBAN (SACRIFICIAL
ANODE) KELOMPOK 8

5.3.2 Gambar Proses

Gambar 5.4 Proses pengendalian korosi anoda korban

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KOROSI TA 2017/2018 89
BAB IV PENGENDALIAN KOROSI DENGAN
METODE ANODA KORBAN (SACRIFICIAL
ANODE) KELOMPOK 8

4.4 Alat dan Bahan
5.4.1 Alat
1. Timbangan : 1 unit
2. Penggaris : 1 buah
3. Jangka sorong : 1 buah
4. Aquarium 5 liter : 1 buah
5. Gerinda mesin : 1 unit
5.3.2 Bahan
1. Larutan NaCl : 0.1 M
2. Aquadm : secukupnya
3. Spesimen logam : 1 buah
4. Alkohol : secukupnya
5. Logam Zn : 1 buah
6. Kawat tembaga 150cm : 1 buah
7. Kutek : 1 buah

4.5 Pengumpulan Data
4.5.1 Pengamatan

Tabel 4.3 data awal pengujian
Spesimen Baja ST-37
Panjang (mm) 295 mm
Lebar (mm) 40,18 mm
Tebal (mm) 5,02 mm
Berat (gr) 560 gram
Jenis Larutan NaCl

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KOROSI TA 2017/2018 90
BAB IV PENGENDALIAN KOROSI DENGAN
METODE ANODA KORBAN (SACRIFICIAL
ANODE) KELOMPOK 8

Tabel 4.4 data pengamatan dimensi dan berat

Awal Akhir
Tanggal
18/12/2017 23/12/2017
P tercelup (mm) 119,5 mm 116,5 mm
Panjang
P tidak tercelup (mm) 181,5 mm 174 mm
l tercelup (mm) 40,18 mm
Lebar
l tidak tercelup (mm) 40,18 mm 40,46 mm
t tercelup (mm) 5,02 mm
Tebal
t tidak tercelup (mm) 5,02 mm 5,00 mm
A tercelup (mm2 ) 16800 mm2
Luas
A tidak tercelup (mm2 ) 11200 mm2 15954,68mm2
Berat Plat (gr) 560 gram 550 gram
Berat Anoda (gr) 0,006 gram

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KOROSI TA 2017/2018 91
BAB IV PENGENDALIAN KOROSI DENGAN
METODE ANODA KORBAN (SACRIFICIAL
ANODE) KELOMPOK 8

Tabel 4.5 Data Pengamatan Visual

Gambar Intensitas Korosi
Dalam Potensial Pengamatan
No. Tanggal pH
Larutan (V) Visual
Depan Belakang

Bau : -
1. 17 -0,4 6 Endapan : -
Gelembung : -
Warna : Bening

Bau : -
Endapan : ada
2. 19 -0,58 6,70 Gelembung :
ada
Warna :
menguning

Bau : -
Endapan : ada
Gelembung :
3. 21 -0,65 6,74 ada
Warna :
kekuningan

Bau : -
Endapan : ada
Gelembung :
4. 23 -0,36 6,75 ada
Warna :
kekuningan

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KOROSI TA 2017/2018 92
BAB IV PENGENDALIAN KOROSI DENGAN
METODE ANODA KORBAN (SACRIFICIAL
ANODE) KELOMPOK 8

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KOROSI TA 2017/2018 93
BAB IV PENGENDALIAN KOROSI DENGAN
METODE ANODA KORBAN (SACRIFICIAL
ANODE) KELOMPOK 8

4.5 Pengolahan Data
4.5.1 Perhitungan
1. Perhitungan awal

Ptidak tercelup = 181,5 mm
Ltidak tercelup = 40,18 mm
ttidak tercelup = 5,02 mm
A0 tidak tercelup = 2 (pxl) + 2(lxt) + 2(pxt)
= 2 (181,5x40,18) + 2(40,18x5,02) +
2(181,5x5,02)
= 16800 mm2

P tercelup = 119,5 mm
L tercelup = 40,18 mm
t tercelup = 5,02 mm
A0 tercelup = 2 (pxl) + 2(lxt) + 2(pxt)
= 2 (119,5x40,18) + 2(40,18x5,02) + 2(119,5x5,02)
= 11200 mm2

2. Perhitungan akhir

Ptidak tercelup = 174 mm
Ltidak tercelup = 40,46 mm
ttidak tercelup = 5,00 mm
A1 tidak tercelup = 2 (pxl) + 2(lxt) + 2(pxt)
= 2 (174x40,46) + 2(40,46x5,00) +
2(174x5,00)
= 15954,68 mm2

P tercelup =
L tercelup =
t tercelup =
A1 tercelup = 2 (pxl) + 2(lxt) + 2(pxt)
=
=
3. perhitungan W
I = Atercelup x 24
= 268800 mm2

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KOROSI TA 2017/2018 94
BAB IV PENGENDALIAN KOROSI DENGAN
METODE ANODA KORBAN (SACRIFICIAL
ANODE) KELOMPOK 8

8
i = x 268800
365
= 5,89 x 10-3 A
𝐼+𝑖
i =
2
268800+ 5,89 𝑥0,01
=
2
= 0,1374 A
𝑡𝑥𝑖𝑥8760
W =
𝐶𝑥𝜇
= 0,0398 kg

4.6 Analisa dan Pembahasan
Specimen plat baja ST37 akan diuji didalam larutan NaCl dengan
memakai anoda korban seng Zn yang bertujuan untuk memproteksi baja
ST-37 dari korosi. Logam Zn memiliki kereaktifan yang lebih tinggi
dibandingkan Fe dapat diliat dari deret volta, sehingga cocok dipakai
sebagai anoda korban untuk memproteksi Fe.
Percobaan ini dapat dikatakan gagal karena produk yang seharusnya
terproteksi ternyata terkorosi. Ini dapat dilihat dari perubahan warna pada
larutan dari bening menjadi kekuningan dan juga terdapat endapan karat
yang terdapat disekitar plat baja ST-37.
Kegagalan ini dapat disebabkan oleh terbukanya lapisan cat kutex yang
dapat mengakibatkan reaksi korosi galvanic. Walaupun anoda korban
habis namun itu bukan murni untuk memproteksi katodik (plat baja).
Melainkan ada pula seng yang terkorosi akibat korosi galvanic sehingga
anoda korban lebih cepat habis dan tidak memproteksi plat baja hingga
percobaan selesai dilaksanakan
Pemilihan anoda korban didasarkan pada konduktivitas lingkungan,
kebutuhan potensial untuk mendistribusikan arus, kemungkinan adanya
efek samping, dan masalah ekonomi. Logam yang sangat umum
digunakan sebagai anoda korban adalah: Zn, Al, dan Mg.

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KOROSI TA 2017/2018 95
BAB IV PENGENDALIAN KOROSI DENGAN
METODE ANODA KORBAN (SACRIFICIAL
ANODE) KELOMPOK 8

4.7 Kesimpulan
1. Berat anoda korban yang dipakai adalah 0.06 gram.
2. Logam seng dipakai sebagai anoda korban yang melindungi baja dari
korosi karena bersifat korosif.
3. Pada pengujian ini terjadi kegagalan karena logam katoda yang di
proteksi masih terkorosi.

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KOROSI TA 2017/2018 96