You are on page 1of 18

MAKALAH

PEMUDA PERDESAAN YANG SEMAKIN ENGGAN BERTANI
(ANALISIS DATA SAKERNAS PROVINSI JAWA TENGAH, 2007 – 2017)

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Ketenagakerjaan
Dosen: Dr. Abdur Rofi, M.Si.

oleh:
Dwi Agus Styawan
NIM: 18/435162/PMU/09673

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPENDUDUKAN
FAKULTAS SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2018
PEMUDA PERDESAAN YANG SEMAKIN ENGGAN BERTANI

(ANALISIS DATA SAKERNAS PROVINSI JAWA TENGAH, 2007 – 2017)

oleh
Dwi Agus Styawan

Abstrak

Sektor pertanian mempunyai fungsi-fungsi strategis dalam berbagai aspek kehidupan.
Namun, proses pembangunan pembangunan pertanian menghadapi berbagai tantangan.
Salah satu tantangan tersebut adalah posisi sektor pertanian dan profesi petani yang
semakin termajinalkan, terutama bagi kalangan pemuda. Penulisan makalah ini bertujuan
untuk mengkaji kondisi umum ketegakerjaan pemuda Jawa Tengah, perkembangan tenaga
kerja muda Jawa Tengah di sektor pertanian, dan merumuskan kebijakan agar pemuda
tertarik bekerja di sektor pertanian. Metode penelitian yang digunakan adalah metode
deskriptif, dengan menggunakan data sekunder dari BPS Provinsi Jawa Tengah, yaitu
Sakernas 2007 – 2017. Hasil kajian menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran struktur
pekerjaan pemuda perdesaan di Jawa Tengah. Pergeseran ini berupa perubahan lapangan
pekerjaan utama pemuda perdesaan, yakni dari sektor yang mengandalkan sumber daya
alam (pertanian) menjadi sektor yang lebih mengandalkan proses produksi (manufaktur) dan
sumber daya manusia (jasa). Hal ini terlihat dari persentase pemuda perdesaan yang
bekerja di sektor pertanian cenderung mengalami penurunan, yakni dari 43,02 persen di
tahun 2007 menjadi 21,73 persen di tahun 2017. Penurunan ini secara tidak langsung
mengindikasikan bahwa pemuda perdesaan cenderung semakin enggan bertani.

Kata Kunci: Pemuda, Pertanian, Ketenagakerjaan, Aging Farmer

I. Pendahuluan

Strategi Induk Pembangunan Pertanian 2015 – 2045 menyatakan bahwa
pembangunan sektor pertanian akan mengacu pada paradigma pertanian untuk pembangunan,
atau agriculture for development. Paradigma ini menempatkan sektor pertanian sebagai
penggerak transformasi pembangunan yang berimbang dan menyeluruh. Paradigma ini juga
memberikan arah bahwa sektor pertanian bukan hanya sebagai penyedia pangan bagi
masyarakat ataupun tumpuan ketahanan pangan. Sektor pertanian mempunyai fungsi-fungsi
strategis yang lebih luas dalam berbagai aspek kehidupan. Fungsi-fungsi tersebut diantaranya
adalah untuk menyelesaikan berbagai persoalan lingkungan dan sosial, serta sebagai penyedia
sarana wisata (agrowisata). Paradigma agriculture for development ini pada akhirnya
merupakan kunci utama keberhasilan dalam mewujudkan Nawa Cita, yakni Indonesia yang
bermartabat, mandiri, maju, adil, dan makmur.

Provinsi Jawa Tengah sebagai salah satu provinsi penyangga ketahanan pangan di
Indonesia telah menjalankan strategi pembangunan pertanian berbasis paradigma agriculture
for development. Selama periode 2015 – 2017, strategi ini relatif telah membuahkan hasil.
Hal ini tercermin dari peningkatan produksi komoditas strategis pertanian di Jawa Tengah,
seperti padi, jagung, dan kedelai. Sepanjang periode tersebut, produksi padi rata-rata tumbuh
0,84 persen per tahun, jagung rata- rata tumbuh 5,27 persen per tahun, dan kedelai rata-rata
tumbuh 3,45 persen per tahun (BPS Provinsi Jawa Tengah, 2018).

Namun pembangunan pertanian selama ini cenderung lebih fokus pada upaya-upaya
teknis peningkatan produksi pertanian. Pembangunan pertanian cenderung kurang
memperhatikan aspek-aspek lain, seperti kontribusi pertanian terhadap pertumbuhan
ekonomi, dan kesejahteraan petani (Presilla, 2014). Padahal kedua aspek ini merupakan isu
penting yang juga harus diperhatikan dalam proses pembangunan pertanian, selain aspek
kuantitas atau produksi komoditas pertanian.

Gambar 1.1.
Kontribusi Sektor Pertanian, Manufaktur, dan Jasa-jasa
terhadap Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Jawa Tengah, 2013 – 2017

Sumber: PDRB Jawa Tengah menurut Lapangan Usaha, 2013 – 2017
Gambar 1.1. memperlihatkan bahwa sektor pertanian memberikan kontribusi yang
relatif besar terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah. Namun sepanjang periode 2013 –
2017, kontribusi ini cenderung terus menurun, dari 15,98 persen menjadi 14,09 persen.
Sebaliknya, kontribusi dua sektor yang lain, yaitu manufaktur dan jasa-jasa, cenderung terus
meningkat. Kontribusi manufaktur meningkat dari 47,32 persen menjadi 48,01 persen.
Adapun kontribusi jasa-jasa meningkat dari 36,84 persen menjadi 37,90 persen.

Penurunan kontribusi pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah juga
diikuti dengan tingkat kesejahteraan petani yang relatif tidak mengalami perkembangan.
Salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani adalah Nilai Tukar Petani
(NTP). NTP merupakan rasio indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang
dibayar petani. Secara konseptual, NTP adalah pengukur kemampuan tukar produk pertanian
yang dihasilkan petani terhadap barang/jasa yang diperlukan untuk konsumsi rumah tangga
dan kebutuhan dalam memproduksi hasil pertanian. Semakin tinggi NTP, secara relatif
bermakna semakin tinggi kemampuan atau daya beli petani di perdesaan.

Gambar 1.2.
Perkembangan Nilai Tukar Petani Provinsi Jawa Tengah, 2013 – 2017

Sumber: Nilai Tukar Petani Jawa Tengah, 2013 – 2017

Gambar 1.2 menunjukkan bahwa perkembangan NTP Jawa Tengah pada periode
2013 – 2017 cenderung menurun. Pada tahun 2013, NTP Jawa Tengah sebesar 105,95
kemudian menurun menjadi 100,40 di tahun 2017. Hal ini mengindikasikan kemampuan atau
daya beli petani di Jawa Tengah relatif mengalami penurunan. Dengan kata lain, pada periode
tersebut tingkat kesejahteraan petani perdesaan di Jawa Tengah cenderung tidak mengalami
perkembangan.

Penurunan tingkat kesejahteraan petani dan kontribusi pertanian terhadap
pertumbuhan ekonomi memberikan gambaran bahwa industri pertanian relatif stagnan. Hal
ini mengakibatkan posisi sektor pertanian dan profesi petani menjadi semakin termajinalkan.
Sektor pertanian menjadi kurang bergengsi dan tidak menarik, terutama bagi pemuda. Hal ini
mengakibatkan timbulnya gejala penuaan petani dan berkurangnya petani muda, khususnya
di wilayah perdesaan (Setiawan, 2006).

Cenderung enggannya pemuda perdesaan bekerja di sektor pertanian secara tidak
langsung akan menghambat proses regenerasi petani. Hal ini tentu akan berdampak pada
keberlanjutan pembangunan pertanian. Lebih jauh lagi, terputusnya regenerasi petani akan
mengganggu stabilitas dan kedaulatan pangan. Bagaimanapun juga, keberlanjutan pertanian
sangat bergantung pada regenerasi sumber daya manusia di sektor pertanian (Muksin, 2014).
Para pemudalah yang akan meneruskan keberlangsungan aktivitas pertanian untuk memenuhi
kebutuhan pangan, sekaligus menjaga kedaulatan pangan.

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulisan makalah ini bertujuan untuk
menyajikan gambaran kondisi umum ketenagakerjaan pemuda Jawa Tengah, perkembangan
tenaga kerja muda Jawa Tengah di sektor pertanian, dan kebijakan-kebijakan yang dapat
diambil oleh pemerintah agar pemuda tergerak memasuki sektor pertanian.

II. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam makalah ini adalah metode deskriptif.
Adapun sumber data yang digunakan adalah data sekunder Badan Pusat Statistik (BPS),
yakni hasil Survey Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) di Jawa Tengah, tahun 2007 – 2017.
Data yang diperoleh kemudian ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif untuk mendapatkan
gambaran kondisi umum ketenagakerjaan pemuda Jawa Tengah dan perkembangan tenaga
kerja muda Jawa Tengah di sektor pertanian.

III. Landasan Teori

Pemuda memiliki definisi yang relatif beragam. Batasan usia pemuda menurut World
Helath Organization (WHO) adalah 10 – 24 tahun. United Nation Educational, Scientific,
and Cultural Organization (UNESCO) mendefinisikan seseorang yang berusia 15 – 24 tahun
sebagai pemuda. Sementara itu, BPS mendefinisikan pemuda sebagai seseorang yang berusia
16 – 30 tahun. Definisi ini didasarkan pada Undang-undang No. 40 Tahun 2009 tentang
kepemudaan.

Penduduk dipandang dari sisi ketenagakerjaan merupakan suplai bagi pasar tenaga
kerja di suatu wilayah. Namun tidak semua penduduk mampu melakukannya karena hanya
penduduk yang berusia kerjalah yang dapat menawarkan tenaganya di pasar kerja. Usia kerja
di Indonesia mengikuti standar internasional yaitu usia 15 tahun atau lebih.

Secara konseptual, BPS membagi penduduk usia kerja menjadi dua kelompok yaitu
angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Angkatan kerja terdiri dari mereka yang aktif
bekerja dan mereka yang sedang mencari pekerjaan (atau sering disebut sebagai
pengangguran terbuka). Sedangkan kelompok bukan angkatan kerja adalah mereka yang
masih bersekolah, mengurus rumah tangga, pensiunan dan lain-lain.

Kajian terkait ketenagakerjaan sektor pertanian dan menurunnya minat pemuda
bekerja di sektor pertanian, telah relatif banyak dilakukan. Beberapa hasil kajian tersebut
diantaranya adalah sebagai berikut.

 Sektor pertanian memiliki peran yang strategis dalam ketenagakerjaan di Indonesia. Salah
satu peran ini adalah daya serap tenaga kerja yang relatif tinggi. Namun sektor pertanian
hingga saat ini masih ditempatkan pada posisi yang marginal. Hal ini mengakibatkan
produktivitas sektor pertanian relatif lebih rendah dibandingkan dengan sektor-sektor
lainnya (Setiawan, 2006).
 Sekitar 60 persen dari jumlah pemuda dunia, atau 750 juta orang, tinggal di wilayah Asia
Pasifik. Sebanyak 70 persen diantaranya, atau sekitar 525 juta orang, tinggal di daerah
perdesaan, dan lebih dari separuhnya terlibat langsung di sektor pertanian. Namun,
banyak pemuda desa lebih suka bermigrasi ke kota atau bekerja di luar negeri. Mereka
memandang pertanian tidak menguntungkan, pekerjaan rendahan dan berisiko tingi, serta
kurang didukung oleh pemerintah dan lembaga lainnya. (Basnet, 2015).
 Suatu perubahan utama dalam pertanian di Jawa berupa kekurangan buruh tani yang lebih
besar, bahkan di daerah berpenduduk sangat padat. Kekurangan ini terjadi karena
seseorang lebih tertarik bekerja di daerah urban. Selain itu pemuda berpendidikan
menengah cenderung tidak tertarik bekerja sebagai petani (Collier, 1996).
 Kondisi produktivitas petani yang menurun, mengindikasikan adanya kebutuhan
regenerasi dari pelaku usaha tani. Apabila kondisi rendahnya SDM tak tergantikan, maka
krisis pangan dan kedaulatan bangsa akan dipertaruhkan (Muksin, 2014).
 Fenomena penuaan petani dan berkurangnya petani muda di Indonesia semakin
meningkat. Berbagai faktor penyebab menurunnya minat tenaga kerja muda di sektor
pertanian, di antaranya citra sektor pertanian yang kurang bergengsi, berisiko tinggi,
kurang memberikan jaminan tingkat stabilitas dan kontinuitas pendapatan, rata-rata
penguasaan lahan sempit, diversifikasi usaha nonpertanian dan industri pertanian di desa
tidak berkembang, belum ada kebijakan insentif khusus untuk petani muda/pemula, dan
berubahnya cara pandang pemuda di era postmodern seperti sekarang (Susilowati, 2016).

IV. Analisis dan Pembahasan

4.1. Kondisi Umum Ketenagakerjaan Pemuda Jawa Tengah

Secara usia, pemuda berada pada kelompok usia produktif. Hal ini membuat pemuda
memiliki peran strategis dalam menggerakkan aktivitas perekonomian. Keterlibatan pemuda
dalam pasar kerja secara tidak langsung akan mendorong perbaikan-perbaikan, baik dalam
aspek ekonomi maupun sosial. Pada tahun 2017, tercatat lebih dari separuh pemuda Jawa
Tengah bekerja, yaitu sekitar 53,30 persen. Pola ini terlihat baik di wilayah perkotaan
maupun perdesaan.

Tabel 4.1.1.
Persentase Pemuda Jawa Tengah menurut Jenis Kegiatan
dalam Seminggu Terakhir, 2017

Jenis Kegiatan

Karakteristik Mengurus
Bekerja Pengangguran Sekolah Lainnya
Rumah Tangga

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Total Pemuda 53,30 7,68 19,33 17,09 2,60

Tipe Daerah
Perkotaan 53,89 3,22 21,98 13,45 2,46
Perdesaan 52,65 7,09 16,45 21,06 2,75

Jenis Kelamin
Laki-laki 62,68 9,67 20,53 3,25 3,87
Perempuan 43,87 5,68 18,13 31,00 1,32

Sumber: BPS Provinsi Jawa Tengah – Sakernas Agustus 2017
Tabel 4.1.1 menunjukkan bahwa persentase pemuda laki-laki yang bekerja jauh lebih
tinggi daripada perempuan (62,68 persen berbanding 43,87 persen). Hal ini tidak lepas dari
budaya umum masyarakat bahwa yang bekerja adalah laki-laki, sementara perempuan
sebaiknya mengurus rumah tangga. Sementara itu, untuk kegiatan mengurus rumah tangga,
terlihat persentase pemuda perempuan jauh lebih tinggi dibandingkan pemuda lakilaki. Hal
ini semakin menguatkan indikasi bahwa pemuda laki-laki cenderung untuk bekerja atau
mencari pekerjaan dalam memenuhi kebutuhan keluarganya, sementara pemuda perempuan
cenderung mengurus rumah tangga.

Berdasarkan jenjang pendidikan, pemuda bekerja didominasi oleh pemuda yang tamat
sekolah menengah (41,03 persen). Sementara itu, persentase pemuda bekerja yang tamat
perguruan tinggi hanya sebesar 11,21 persen.

Tabel 4.1.2.
Persentase Pemuda Jawa Tengah menurut Tingkat Pendidikan, 2017

Tingkat Pendidikan

Karakteristik Sekolah
Tidak Tamat Sekolah Perguruan
Sekolah Dasar Menengah
SD Menengah Tinggi
Pertama
(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Total Pemuda 2,58 16,34 28,84 41,03 11,21

Tipe Daerah
Perkotaan 1,97 10,95 23,26 48,79 15,02
Perdesaan 3,24 22,34 35,05 32,41 6,96

Jenis Kelamin
Laki-laki 3,46 19,09 30,56 39,45 7,43
Perempuan 1,30 12,40 26,38 43,30 16,62

Sumber: BPS Provinsi Jawa Tengah – Sakernas Agustus 2017

Jika dilihat menurut tipe daerah, berdasarkan tabel 4.1.2, terdapat perbedaan pola
tingkat pendidikan antara pemuda yang bekerja di perkotaan dengan perdesaan. Di perkotaan,
hampir separuh pemuda bekerja telah menamatkan sekolah menengah, 15,02 persen tamat
perguruan tinggi, dan 23,26 persen tamat sekolah menengah pertama. Sementara itu, pemuda
bekerja di perdesaan didominasi secara merata oleh lulusan sekolah menengah pertama
(35,05 persen), sekolah menengah (32,41 persen), dan sekolah dasar (22,34 persen). Hal yang
menarik adalah masih terdapat pemuda tidak tamat SD yang bekerja, yaitu sekitar 1,97 persen
untuk perkotaan dan 3,24 persen untuk perdesaan.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pemuda merupakan perbandingan antara
jumlah pemuda yang terlibat dalam kegiatan ekonomi (bekerja atau menganggur) terhadap
jumlah seluruh pemuda (penduduk usia 16-30 tahun). TPAK pemuda dapat digunakan untuk
melihat potensi ekonomi dan ketenagakerjaan pemuda. Tingginya nilai TPAK pemuda
menunjukkan besarnya pasokan tenaga kerja pemuda (youth labour supply) yang tersedia
untuk kegiatan perekonomian.

Lebih dari separuh pemuda terlibat dalam kegiatan ekonomi. Hal ini terlihat dari nilai
TPAK yang mencapai 60,98 persen. TPAK pemuda laki-laki lebih tinggi dibandingkan
TPAK perempuan (72,34 persen berbanding 49,56 persen). Hal ini menunjukkan bahwa dari
10 pemuda laki-laki, terdapat 7 pemuda laki-laki bekerja, mempersiapkan pekerjaan atau
mencari pekerjaan, dan 3 pemuda lainnya sedang sekolah, mengurus rumah tangga, atau
kegiatan lainnya. Sementara itu, dari 10 pemuda perempuan, terdapat 4 pemuda perempuan
bekerja, mempersiapkan pekerjaan atau mencari pekerjaan, dan 6 pemuda lainnya sedang
sekolah, mengurus rumah tangga, atau kegiatan lainnya. Tingginya TPAK pemuda laki-laki
tersebut terjadi baik di perkotaan maupun perdesaan. Salah satu faktor yang menyebabkannya
adalah karena perempuan lebih banyak yang hanya mengurus rumah tangga sehingga
memiliki keterbatasan dalam kegiatan ekonomi.

Gambar 4.1.1
TPAK Pemuda Jawa Tengah 2007 – 2017

Sumber: BPS Provinsi Jawa Tengah – Sakernas Agustus 2007 – 2017
Gambar 4.1.1 memperlihatkan bahwa TPAK pemuda Jawa Tengah pada periode 2007
– 2017 cenderung fluktuatif. TPAK tertinggi terjadi pada 2010, yakni sebesar 67,25 persen.
Sedangkan TPAK terendah, sebesar 60,97 persen, terjadi pada 2014. Hal yang menarik
adalah pada periode 2012 – 2017, TPAK pemuda Jawa Tengah menunjukkan tren penurunan.
Tren ini dimulai dari TPAK sebesar 65,26 persen di tahun 2012 kemudian menurun hingga
menjadi 60,98 persen di tahun 2017.

Aktivitas dan potensi ekonomi tidak hanya ditinjau dari pemuda yang bekerja dan
produktif, tetapi juga pemuda yang sedang menganggur atau mencari pekerjaan. Energi dan
potensi mereka harus segera disalurkan, supaya tidak menjadi masalah di tengah masyarakat.
Jangan sampai pemuda yang seharusnya menjadi tulang punggung dalam pembangunan
perekonomian nasional, pada kenyataannya justru menjadi beban bagi keluarga dan
masyarakat.

Pemuda pengangguran merupakan pemuda yang tidak bekerja dan sedang mencari
pekerjaan, mempersiapkan usaha, merasa putus asa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan,
atau sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. Besarnya angkatan kerja pemuda
yang menjadi pengangguran dapat diukur dengan indikator yang disebut Tingkat
Pengangguran Terbuka (TPT) pemuda. TPT merupakan indikator yang digunakan untuk
mengukur tingkat pengangguran di suatu wilayah. Indikator ini diharapkan bisa menjadi
acuan penyusunan kebijakan pembangunan ketenagakerjaan sekaligus menjadi evaluasi
proses pembangunan yang telah berjalan.

TPT pemuda Jawa Tengah tahun 2017 sebesar 12,59 persen. Hal ini menunjukkan
bahwa dari setiap 100 angkatan kerja pemuda, terdapat sekitar 12 pemuda yang tidak bekerja
dan sedang mempersiapkan usaha atau mencari pekerjaan. Menurut tipe daerah, nilai TPT
pemuda di perkotaan lebih tinggi daripada di perdesaan (13,23 persen berbanding 11,87
persen). Jika dilihat menurut jenis kelamin, TPT pemuda laki-laki lebih tinggi daripada
pemuda perempuan (13,36 persen berbanding 11,47 persen).
Gambar 4.1.2.
TPT Pemuda Jawa Tengah, 2007 – 2017

Sumber: BPS Provinsi Jawa Tengah – Sakernas Agustus, 2007 – 2017

Gambar 4.1.2 memperlihatkan bahwa TPT pemuda Jawa Tengah pada periode 2007 –
2017 cenderung fluktuatif. TPT tertinggi terjadi pada 2010, yakni sebesar 21,36 persen.
Sedangkan TPT terendah, sebesar 12,59 persen, terjadi pada 2017. Hal yang menarik adalah
pada periode 2010 – 2017, TPT pemuda Jawa Tengah menunjukkan tren penurunan. Tren ini
dimulai dari TPT sebesar 21,36 persen di tahun 2012 kemudian menurun hingga menjadi
12,59 persen di tahun 2017.

4.2. Perkembangan Tenaga Kerja Muda di Sektor Pertanian, 2007 – 2017

Komposisi pemuda yang bekerja menurut lapangan usaha merupakan salah satu
indikator untuk melihat potensi beberapa sektor perekonomian dalam menyerap tenaga kerja
pemuda. Selain itu, indikator ini juga digunakan untuk melihat gambaran secara makro
struktur perekonomian suatu wilayah serta perkembangannya.

Lapangan usaha atau bidang pekerjaan adalah sektor kegiatan dari tempat
bekerja/berusaha pemuda yang bekerja. Lapangan usaha dapat dikelompokkan menjadi tiga
sektor, yaitu pertanian, manufaktur dan jasa-jasa. Sektor pertanian, perkebunan dan perikanan
dapat dikategorikan sebagai lapangan usaha pertanian, sedangkan lapangan usaha manufaktur
terdiri atas sektor pertambangan, industri, listrik, dan konstruksi. Adapun lapangan usaha
jasa-jasa terdiri atas sektor perdagangan, transportasi, lembaga keuangan, dan jasa
kemasyarakatan. Pembagian klasifikasi lapangan usaha menjadi tiga sektor berguna untuk
melihat struktur ekonomi yang berasal dari sumber daya alami (pertanian), proses produksi
(manufaktur), dan sumber daya manusia (jasa-jasa).

Tabel 4.2.1
Persentase Pemuda Jawa Tengah Bekerja
menurut Lapangan Usaha Utama (Tiga Sektor), 2017

Lapangan Usaha Utama
Karakteristik
Pertanian Manufaktur Jasa-jasa
(1) (2) (3) (4)

Pemuda Bekerja 11,88 39,42 48,70

Tipe Daerah
Perkotaan 3,02 40,38 56,60
Perdesaan 21,73 38,36 39,91

Jenis Kelamin
Laki-laki 15,42 41,09 43,50
Perempuan 6,80 37,03 56,17

Sumber: BPS Provinsi Jawa Tengah – Sakernas Agustus, 2007

Tabel 4.2.1 memperlihatkan struktur lapangan usaha utama pemuda yang bekerja
dalam tiga sektor. Pada tahun 2017, sebagian besar pemuda Jawa Tengah bekerja di sektor
jasa, yakni sebesar 48,70 persen. Sedangkan sektor manufaktur dan pertanian mampu
menyerap tenaga kerja muda masing-masing sebesar 39,42 persen dan 11,88 persen.

Tabel tersebut juga menunjukkan perbedaan lapangan usaha yang nyata antara pekerja
pemuda yang tinggal di daerah perkotaan dan perdesaan. Pada daerah perkotaan, pekerja
pemuda sektor pertanian relatif sedikit dan justru didominasi oleh sektor jasa (56,60 persen).
Adapun di wilayah perdesaan, pemuda yang bekerja di sektor pertanian relatif banyak, yakni
21,73 persen. Sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja muda di perdesaan adalah
sektor jasa, yakni sebesar 39,91 persen. Berdasarkan jenis kelamin, baik pemuda laki-laki
maupun pemuda perempuan paling banyak bekerja di sektor jasa (43,50 persen dan 56,17
persen).

Berbagai potret di atas, memberikan gambaran bahwa sektor pertanian tidak lagi
mendominasi dalam penyerapan tenaga kerja muda di perdesaan. Justru pada wilayah
perdesaan, sebagian besar pemuda bekerja di sektor jasa. Fenomena ini semakin terlihat
melalui hasil Sakernas Jawa Tengah 2007 – 2017, sebagaimana pada gambar 4.2.1 berikut.

Gambar 4.2.1
Persentase Pemuda Jawa Tengah Bekerja
menurut Lapangan Usaha Utama (Tiga Sektor), 2007 – 2017

Sumber: BPS Provinsi Jawa Tengah – Sakernas, 2007 – 2017

Gambar 4.2.1 menunjukkan bahwa sepanjang periode 2007 – 2017, daya serap sektor
pertanian terhadap tenaga kerja muda Jawa Tengah cenderung lebih rendah dibandingkan
dengan sektor manufaktur dan jasa. Hanya pada 2014, daya serap sektor pertanian lebih
tinggi daripada manufaktur, tetapi masih lebih rendah dibandingkan dengan sektor jasa.
Secara umum, pada periode ini persentase pemuda Jawa Tengah yang bekerja di sektor
pertanian cenderung menurun. Pada tahun 2007, terdapat sekitar 28,71 persen pemuda
bekerja di sektor pertanian, kemudian terus menurun hinga di tahun 2013 menjadi 18,41
persen. Pada tahun 2014, persentase ini sempat meningkat menjadi 31,26 persen, tapi kembali
menurun menjadi 11,88 persen pada tahun 2017.
Gambar 4.2.2
Persentase Pemuda Jawa Tengah di Perdesaan
Bekerja menurut Lapangan Usaha Utama (Tiga Sektor), 2007 – 2017

Sumber: BPS Provinsi Jawa Tengah – Sakernas, 2007 – 2017

Pola penurunan persentase pemuda yang bekerja di sektor pertanian, pada periode
yang sama, juga terjadi di wilayah perdesaan. Pada tahun 2007, masih terdapat 43,02 persen
pemuda perdesaan yang menggantungkan hidupnya di sektor pertanian. Walaupun pada
tahun 2014, sempat meningkat menjadi 46,41 persen, tetapi persentase ini cenderung
menurun hingga pada tahun 2017 menjadi 21,73 persen. Hal ini berarti kurang dari
seperempat pemuda perdesaan di Jawa Tengah yang bekerja sektor pertanian. Sebaliknya,
lebih dari 75 persen pemuda desa memilih sektor nonpertanian, yaitu manufaktur dan jasa,
sebagai lapangan pekerjaan utama mereka. Pada periode yang sama, kedua sektor ini
cenderung meningkat. Sektor manufaktur tumbuh dari 27,79 persen menjadi 38,36 persen.
Sementara itu, sektor jasa juga tumbuh relatif lebih pesat dari 29,19 persen menjadi 39,91
persen.
Gambar 4.2.2 juga menyajikan satu potret yang menarik. Sepanjang 2007 hingga
2011, sektor pertanian memiliki daya serap tenaga kerja muda perdesaan yang selalu lebih
tinggi daripada sektor manufaktur dan jasa. Namun sejak tahun 2012 hingga tahun 2017
(perkecualian tahun 2014), daya serap sektor pertanian terhada tenaga kerja muda perdesaan
relatif lebih rendah dibandingkan dengan sektor manufaktur dan jasa. Pemuda desa
cenderung lebih tertarik menjadikan kedua sektor ini sebagai lapangan pekerjaan utama
mereka.
Potret di atas setidaknya memberikan gambaran bahwa telah terjadi pergeseran
struktur pekerjaan pemuda perdesaan. Pergeseran ini berupa perubahan lapangan pekerjaan
utama pemuda perdesaan, yakni dari sektor yang mengandalkan sumber daya alam
(pertanian) menjadi sektor yang lebih mengandalkan proses produksi (manufaktur) dan
sumber daya manusia (jasa). Pergeseran ini juga mengindikasikan bahwa pemuda perdesaan
cenderung semakin enggan bertani. Keengganan yang semakin berlarut ini tentu akan
berimbas pada terganggunya proses regenerasi petani, khususnya di wilayah perdesaan Jawa
Tengah. Petani-petani perdesaan yang tersisa adalah petani yang berusia lanjut, yang
kemudian sering disebut dengan fenomena aging farmer, atau penuaan petani (Susilowati,
2016).
Fenomena semakin enggannya pemuda perdesaan di Jawa Tengah untuk bekerja di
sektor pertanian mempunyai konsekuensi bagi keberlanjutan sektor pertanian ke depan. Pada
masa depan beban sektor pertanian akan semakin berat seiring dengan bertambahnya jumlah
penduduk dan meningkatnya permintaan pangan. Oleh karena itu, pemuda perdesaan sebagai
generasi penerus petani harus ditumbuhkan minatnya untuk kembali ke sektor pertanian.
Mereka harus ikut memastikan keberlanjutan sektor pertanian sebagai kunci penyediaan
pangan nasional, sekaligus untuk menjaga ketahanan dan kedaulatan pangan.

V. Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan

Pembangunan pertanian selama ini cenderung lebih fokus pada upaya-upaya teknis
peningkatan produksi pertanian. Pembangunan pertanian cenderung kurang memperhatikan
aspek-aspek lain seperti kontribusi pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi, dan
kesejahteraan petani. Sepanjang periode 2013 – 2017, kontribusi pertanian terhadap
pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah cenderung terus menurun, dari 15,98 persen menjadi
14,09 persen. Demikian halnya dengan tingkat kesejahteraan petani di Jawa Tengah yang
juga cenderung tidak mengalami perkembangan. Hal ini terlihat dari menurunnya NTP Jawa
Tengah, dari 105,95 di tahun 2013 menjadi 100,40 di tahun 2017.

Penurunan-penurunan ini secara tidak langsung menimbulkan konsekuensi pada
semakin enggannya pemuda Jawa Tengah, khususnya di wilayah perdesaan, untuk berkerja di
sektor pertanian. Pada tahun 2007, masih terdapat 43,02 persen pemuda perdesaan yang
menggantungkan hidupnya di sektor pertanian. Walaupun pada tahun 2014, sempat
meningkat menjadi 46,41 persen, tetapi persentase ini cenderung menurun hingga pada tahun
2017 menjadi 21,73 persen.
Hasil kajian juga memberikan gambaran bahwa telah terjadi pergeseran lapangan
pekerjaan utama pemuda perdesaan, yakni dari sektor yang mengandalkan sumber daya alam
(pertanian) menjadi sektor yang lebih mengandalkan proses produksi (manufaktur) dan
sumber daya manusia (jasa). Pergeseran ini juga mengindikasikan bahwa pemuda perdesaan
cenderung semakin enggan bertani. Keengganan yang semakin berlarut ini tentu akan
berimbas pada terganggunya proses regenerasi petani, keberlanjutan sektor pertanian,
kedaulatan dan ketahanan pangan. Oleh karena itu, pemerintah harus segera merumuskan
kebijakan-kebijakan untuk menumbuhkan minat pemuda, khususnya di perdesaan, terhadap
sektor pertanian. Beberapa rumusan kebijakan yang dapat diambil adalah sebagai berikut.

1. Mengubah persepsi pemuda, khususnya di perdesaan, bahwa sektor pertanian merupakan
sektor yang menarik dan menjanjikan dari sisi pendapatan. Hal ini dapat dilakukan
melalui peningkatan akses dan investasi di sektor pertanian.
2. Mengembangkan agroindustri, agrowisata, dan pertanian modern di perdesaan. Hal ini
dilakukan melalui penggunaan teknologi industri yang mampu menciptakan nilai tambah
bagi produk-produk pertanian. Hal ini sekaligus bertujuan untuk mengubah paradigma
pemuda, bahwa pertanian tidak hanya kegiatan on farm (budidaya), tetapi pertanian juga
dapat dilakukan secara off farm (pascapanen). Kegiatan off farm ini dapat dikemas dalam
bentuk agrowisata, sehingga mampu meningkatkan nilai jual sektor pertanian.
3. Memberikan insentif kepada petani muda atau petani pemula. Insentif ini dapat berupa
bantuan modal, kemudahan perizinan, dan jaminan harga pasar. Ketiga hal ini penting,
agar pemuda perdesaan berkeinginan untuk bekerja di sektor pertanian.
4. Mengadakan program pelatihan dan peningkatan kapasitas petani. Hal ini bertujuan agar
kemampuan dan keterampilan petani muda selalu terupdate dan mampu menyesuaikan
dengan perkembangan teknologi. Kemampuan dan keterampilan inilah yang nantinya
akan menjadi modal bagi petani muda dalam meningkatkan produktivitasnya.
Peningkatan produktivitas ini diharapkan akan mendorong pemuda-pemuda lain untuk
ikut masuk ke dalam sektor pertanian.
Daftar Pustaka

Basnet, Jagat. 2015. Attracting Youth to Agriculture Indonesia. Agriterra 7 (1),
http://asianfarmers.org/wp-content/uploads/2007/07/AFA-Issue-Paper-Attracting-Youth-to-
Agriculture-Indonesia.pdf. Diakses pada 5 September 2018.

BPS, 2008. Statistik Pemuda Indonesia 2007. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

BPS, 2009. Statistik Pemuda Indonesia 2008. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

BPS, 2010. Statistik Pemuda Indonesia 2009. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

BPS, 2011. Statistik Pemuda Indonesia 2010. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

BPS, 2012. Statistik Pemuda Indonesia 2011. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

BPS, 2013. Statistik Pemuda Indonesia 2012. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

BPS, 2014. Statistik Pemuda Indonesia 2013. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

BPS, 2015. Statistik Pemuda Indonesia 2014. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

BPS, 2016. Statistik Pemuda Indonesia 2015. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

BPS, 2017. Statistik Pemuda Indonesia 2016. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

BPS, 2018. Statistik Pemuda Indonesia 2017. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

BPS Provinsi Jawa Tengah, 2018. Provinsi Jawa Tengah dalam Angka 2018. Semarang:
Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah.

BPS Provinsi Jawa Tengah, 2018. Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Jawa Tengah
menurut Lapangan Usaha 2013 – 2018. Semarang: Badan Pusat Statistik Provinsi
Jawa Tengah.

Collier, William L, 1996. Pendekatan Baru dalam Pembangunan Perdesaan di Jawa (Kajian
Perdesaan Selama 25 Tahun). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Kementerian Pertanian. 2015. Rencana Strategis Kementerian Pertanian 2015 – 2019.
Jakarta : Kementerian Pertanian. http://www1.pertanian.go.id/file/RENSTRA_2015-
2019.pdf. Diakses pada 5 September 2018.

Muksin, & Bustang A.M. 2014. Urgensi Regenerasi SDM Pertanian dalam Upaya Mencapai
Kedaulatan Pangan. Jurnal Badan Perencanaan Pembangunan Nasional XX (1) : 25 –
31. http://perpustakaan.bappenas.go.id/lontar/file?file=digital/139106-[_Konten_]-
Urgensi%20Regenerasi%20SDM%20Pertanian.pdf. Diakses pada 5 September 2018.

Presilla, Mayasuri & Rucianawati. 2014. Pembangunan Sektor Pertanian di Asia Tenggara.
Policy Brief Pusat Penelitian Sumber Daya Regional LIPI 03/2014.
http://psdr.lipi.go.id/images/download/Policy%20brief%2003%20pertanian.pdf.
Diakses pada 5 September 2018.

Setiawan, Iwan, 2006. Peran Sektor Pertanian dalam Penyerapan Tenaga Kerja di
Indonesia. Jurnal Geografi GEA Universitas Pendidikan Indonesia 6 (1).
http://ejournal.upi.edu/index.php/gea/article/view/1733/1183. Diakses pada 5
September 2018.

Susilowati, Sri Hery. 2016. Fenomena Penuaan Petani dan Berkurangnya Tenaga Kerja
Muda serta Implikasinya bagi Kebijakan Pembangunan Pertanian. Forum Penelitian
Agro Ekonomi 34 (1) : 35 – 55.