You are on page 1of 8

contoh teks tanggapan kritis tentang Full Day School

November 28, 2016ssc17

Full Day School

Evaluasi

Muhadjir Effendy selaku Mendikbud baru menggagas sistem belajar full day school untuk tingkat
SD dan SMP. Ide ini diterapkan dengan tujuan agar siswa mendapat pendidikan karakter dan
pengetahuan umum di sekolah. Sesuai dengan pesan dari Presiden Jokowi bahwa kondisi ideal
pendidikan di Indonesia adalah ketika dua aspek pendidikan bagi siswa terpenuhi. Untuk jenjang
SD, 80 persen pendidikan karakter dan 20 persen untuk pengetahuan umum. Sedangkan SMP,
bobot pendidikan karakter adalah 60 persen dan 40 persen untuk pengetahuan umum.

Deskripsi teks

Full day school, adalah program sekolah di mana proses pembelajaran dilaksanakan sehari penuh
di sekolah. Dengan kebijakan seperti ini maka waktu dan kesibukan anak-anak lebih banyak
dihabiskan di lingkungan sekolah dari pada di rumah. Anak-anak dapat berada di rumah lagi
setelah menjelang sore.Namun, konsep full day school ini juga mengundang pro dan kontra dari
berbagai pihak.
Menurut mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, maksud dari full day
school adalah pemberian jam tambahan. Namun, pada jam tambahan ini siswa tidak akan
dihadapkan dengan mata pelajaran yang membosankan. Kegiatan yang dilakukan seusai jam
belajar-mengajar di kelas selesai adalah ekstrakurikuler (ekskul). Dari kegiatan ekskul ini,
diharapkan dapat melatih 18 karakter, beberapa di antaranya jujur, toleransi, displin, hingga cinta
tanah air.

Pertimbangan lainnya adalah faktor hubungan antara orangtua dan anak. Biasanya siswa sudah
bisa pulang pukul 1. Tidak dipungkiri, di daerah perkotaan, umumnya para orangtua bekerja
hingga pukul 5 sore. “Antara jam 1 sampai jam 5 kita nggak tahu siapa yang bertanggung jawab
pada anak, karena sekolah juga sudah melepas, sementara keluarga belum ada,” pungkas beliau
menambahkan. Kalau siswa tetap berada di sekolah, mereka bisa sambil menyelesaikan tugas
sekolah sampai orangtuanya menjemput sepulang kerja. Setelahnya, siswa bisa pulang bersama
orangtua, dan selanjutnya aman di bawah pengawasan orangtua.

Penegasan ulang

Dengan demikian orang tua tidak khawatir atas keamanan anak-anaknya karena mereka tetap
berada di bawah bimbingan guru selama orangtuanya berada di tempat kerja.”Peran orangtua juga
tetap penting. Di hari Sabtu dapat menjadi waktu keluarga. Dengan begitu, komunikasi antara
orangtua dan anak tetap terjaga dan ikatan emosional juga tetap terjaga.

Dampak Negatif Full Day School ( FDS )

1. Anak jenuh berada di sekolah dalam kurun waktu yang lama
Sistem full day school ini tentunya menuntut kelengkapan fasilitas sekolah serta SDM guru yang mumpuni untuk
mencapai apa yang diharapkan dari adanya sistem ini. Persiapan yang kurang matang justru dapat
mengakibatkan kejenuhan siswa karena lamanya waktu yang mereka habiskan di tempat yang sama yakni di
sekolah.

2. Interaksi sosial dengan kerabat atau teman sebaya di luar sekolah menjadi minim
Banyaknya waktu yang mereka habiskan di sekolah membuat interaksi sosial dengan keluarga, kerabat atau
teman-teman diluar sekolah menjadi kurang. Hal ini berefek pada psikologi siswa dalam berinteraksi di luar
sekolah. Kondisi mereka yang sudah lelah sepulangnya dari sekolah membuat mereka malas untuk bergaul
dengan teman-teman sebayanya di sekitar rumah mereka.

Itulah beberapa dampak full day school dari sisi positif dan negatif. Full Day school ini memiliki banyak dampak
positif apabila persiapannya dilakukan secara matang. Jika persiapannya kurang matang, ia justru menjadikan
siswa jenuh dan pembelajaran di sekolah menjadi tidak optimal. Oleh karena itu marilah kita berdoa semoga
sistem apapun yang nantinya ditetapkan membawa nilai positif bagi anak didik di negara kita Indonesia.

© Dampak Positif dan Negatif Full Day School ( FDS ) bagi Siswa - Website Pendidikan
BOLEH COPAS ASALKAN SOPAN_Selamat Anda telah berhasil melakukan copy paste tulisan dari Website
Pendidikan dengan link sumber: http://www.websitependidikan.com/2016/11/dampak-positif-dan-negatif-full-day-
school-bagi-siswa.html

Menurut mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, maksud dari full
day school adalah pemberian jam tambahan. Namun, pada jam tambahan ini siswa
tidak akan dihadapkan dengan mata pelajaran yang membosankan. Kegiatan yang
dilakukan seusai jam belajar-mengajar di kelas selesai adalah ekstrakurikuler (ekskul).
Dari kegiatan ekskul ini, diharapkan dapat melatih 18 karakter, beberapa di antaranya
jujur, toleransi, displin, hingga cinta tanah air.
Contoh ekstrakurikuler di sekolah (sumber: darulistiqomah.com)

"Usai belajar setengah hari, hendaknya para peserta didik (siswa) tidak langsung pulang
ke rumah, tetapi dapat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang menyenangkan dan
membentuk karakter, kepribadian, serta mengembangkan potensi mereka," kata
Muhadjir. Dengan demikian, kemungkinan siswa ikut arus pergaulan negatif akan
sangat kecil karena berada di bawah pengawasan sekolah. Misalnya, penyalahgunaan
narkoba, tawuran, pergaulan bebas, dan sebagainya.

#2. Pertimbangan lainnya adalah faktor hubungan antara orangtua dan anak. Biasanya
siswa sudah bisa pulang pukul 1. Tidak dipungkiri, di daerah perkotaan, umumnya para
orangtua bekerja hingga pukul 5 sore. "Antara jam 1 sampai jam 5 kita nggak tahu
siapa yang bertanggung jawab pada anak, karena sekolah juga sudah melepas,
sementara keluarga belum ada," pungkas beliau menambahkan.
Hubungan orangtua dan anak. (sumber: tribunnews.com)

Kalau siswa tetap berada di sekolah, mereka bisa sambil menyelesaikan tugas sekolah
sampai orangtuanya menjemput sepulang kerja. Setelahnya, siswa bisa pulang
bersama orangtua, dan selanjutnya aman di bawah pengawasan orangtua.

#3. Program ini dianggap dapat membantu guru untuk mendapatkan durasi jam
mengajar sebanyak 24 jam/minggu. Ini merupakan salah satu syarat untuk lolos
proses sertifikasi guru. "Guru yang mencari tambahan jam belajar di sekolah nanti akan
mendapatkan tambahan jam itu dari program ini," tambahnya.

Kalau pada akhirnya diterapkan, dalam sepekan sekolah akan libur dua hari, yakni
Sabtu dan Minggu. Sehingga, ini akan memberikan kesempatan bagi siswa bisa
berkumpul lebih lama dengan keluarga. "Peran orangtua juga tetap penting. Di hari
Sabtu dapat menjadi waktu keluarga. Dengan begitu, komunikasi antara orangtua dan
anak tetap terjaga dan ikatan emosional juga tetap terjaga," ujar Muhadjir.
Menghabiskan waktu bersama keluarga (sumber: ngopy.com)

Agar program ini dapat berjalan lancar harus didukung dengan suasa lingkungan
sekolah yang menyenangkan. Jadi, penerapannya adalah belajar formal sampai
setengah hari, selebihnya diisi kegiatan ekstrakurikuler.

Namun, rencana ini juga menuai berbagai respon, baik pro maupun kontra. Sebagian
pihak yang kurang setuju berargumen bahwa tingkat konsentrasi setiap anak berbeda-
beda. Bisa dikatakan, jenjang SD masih tergolong anak-anak yang mudah bosan. Selain
itu, jika dilihat dari segi fisik juga kurang baik untuk kesehatan. Siswa masih butuh
istirahat yang cukup di rumah agar konsentrasi juga lebih maksimal.
Anak-anak sekolah di Indonesia (sumber: indonesiatimur.co)

Lalu, dari segi sosial dan geografis, daerah pelosok nampaknya belum cocok
menjalankan konsep sekolah ini.Kebanyakan orangtua siswa bermata pencaharian
sebagai petani, nelayan, buruh, dan sebagainya. Nah, orangtua pun membutuhkan
anaknya untuk membantu mereka menyelesaikan pekerjaan sepulang sekolah.
Misalnya bercocok tanam, menjahit, dan sebagainya. Membantu ini juga merupakan
bagian dari pembentukan karakter dan meningkatkan kemampuan anak di rumah.
Berbeda dengan orangtua di perkotaan yang sebagian besar adalah pekerja kantoran.
Kemungkinan jarang bertemu dan berinteraksi dengan anak secara langsung akibat
kesibukan sangat besar.

Salah satu contohnya adalah Purwakarta. Bupati setempat memiliki peraturan
pendidikan berkarakter yang telah diintegrasikan dengan peraturan Desa Berbudaya.
Oleh karena itu, pelajaran siswa di sekolah harus diaplikasikan oleh siswa di lingkungan
tempat tinggal masing-masing. Jika ada orangtua yang tidak mendorong anak mereka
untuk mengikuti peraturan ini, maka diberikan sanksi, lho! Pemerintah daerah akan
mencabut subsidi kesehatan dan pendidikan mereka. Wah, ketat juga ya peraturannya!

Kak Seto sebagai Ketua Dewan Pembina Komnas Anak turut mengemukakan
pendapatnya. "Saya mendukung rencana tersebut selama tidak memasung hak anak,
seperti hak bermain, hak beristirahat, dan hak berekreasi. Sebab, pada prinsipnya,
sekolah harus ramah anak demi yang terbaik buat mereka," ujar pria yang khas dengan
tatanan rambut dan kacamatanya itu. Menurut Kak Seto, sistem seperti ini tidak bisa
dipaksakan untuk semua sekolah di seluruh Indonesia. Di beberapa sekolah yang telah
menerapkan hal tersebut, banyak anak didik yang stres karena cara pengemasannya
tidak ramah.
Selain itu, banyak juga yang meresahkan kesejahteraan guru swasta di Indonesia. Gaji
masih jauh di bawah upah minimum. Bahkan karena hal tersebut, banyak yang bekerja
sambilan demi memenuhi kebutuhan hidup. Selain itu, juga mengejar jam pelajaran ke
sekolah-sekolah lain. Kalau full day school, otomatis guru juga ada di sekolah secara
penuh. Berarti, harus ada perhatian khusus juga nih terkait penggajian untuk guru
swasta.

Perhatian guru pada siswa. (sumber: prioritaspendidikan.com)

Well, konsep ini juga bergantung pada sarana dan prasarana pendukung ya. Seperti
fasilitas sekolah dan regulasi lain yang bisa jadi pengokoh. Coba bayangkan kamu
harus berlama-lama di sekolah yang fasilitasnya kurang memadai. Bukan karakter yang
akan berkembang, namun jenuh bahkan stres yang didapat. Kebijakan ini harus
bertahap, serta melibatkan seluruh pihak.

Sebelumnya, sudah ada beberapa negara yang menerapkan full day school. Justru
konsep ini diusung oleh negara-negara maju lho, smart buddies! Ada Singapura, Korea
Selatan, Cina, Jepang, Taiwan, Inggris, Amerika Serikat, Prancis, Spanyol, dan Jerman.

Melihat respon masyarakat, Muhadjir menanggapi dengan positif. Justru hal ini
membuktikan bahwa masyarakat bersikap kritis. Hingga kini, ide full day school ini masih
dalam proses pengkajian. Juga, disosialisasikan di berbagai sekolah, mulai pusat
hingga ke daerah-daerah sambil melihat respon masyarakat. Sekali lagi, ini baru
gagasan yang dilemparkan ke masyarakat. Masukan dari masyarakat juga akan
menyempurnakan program pendidikan yang akan beliau canangkan. Jika nanti
ditemukan lebih banyak kelemahan, maka program ini tidak akan dijalankan. Mungkin
jika dikemas dengan tepat dan ramah anak, konsep ini dapat berjalan dengan baik.
Sarana menunjang, tenaga pendidik yang berkualitas dan sejahtera, serta tidak
menyamaratakan seluruh jenjang dan geografis. Kemudian, kemajuan teknologi
pendidikan pun dapat memaksimalkan fungsi untuk memajukan sekolah ke depannya.
Kombinasi antara fasilitas dan sistem pendidikan dapat menjalankan peran dan
fungsinya secara efektif. Dengan demikian, label full daytidak sebatas pada namanya
saja. Namun dibuktikan dengan proses pendidikan yang dikelola sesuai tujuan dan
amanah undang-undang.