You are on page 1of 94

SKRIPSI

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN KESADARAN
IBU MENGENAI PENTINGNYA IMUNISASI DASAR
LENGKAP PADA ANAK DI PUSKESMAS KASSI-KASSI

OLEH:
Cynthia Kristi Harlimton
C111 14 100

Pembimbing
dr. Eka Yusuf Inrakartika, M.Kes., Sp.A

DIBAWAKAN SEBAGAI SALAH SATU PERSYARATAN
PENYELESAIAN PENDIDIKAN SARJANA (S1) KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN KESADARAN IBU
MENGENAI PENTINGNYA IMUNISASI DASAR LENGKAP PADA
ANAK DI PUSKESMAS KASSI-KASSI

Diajukan Kepada Universitas Hasanuddin
Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat
Mencapai Gelar Sarjana Kedokteran

Cynthia Kristi Harlimton
C111 14 100

Pembimbing:

dr. Eka Yusuf Inrakartika, M.Kes., Sp.A

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2017

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat
dan rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi ini dilakukan
dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada program
studi pendidikan dokter Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Saya
menyadari bahwa tanpa bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai
pada penyusunan skripsi ini, sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikan skripsi ini.
Oleh karena itu, dalam kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada:
1. dr. Eka Yusuf Inrakartika, M.Kes., Sp.A, selaku dosen pembimbing yang
telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan saya dalam
penyusunan skripsi ini;
2. dr. Muh. Iqbal Basri, M.Kes., Sp.S dan dr. Asty Amalia selaku dosen
penguji atas waktu dan masukan dalam penyusunan skripsi ini;
3. Pihak Puskesmas Kassi-Kassi yang telah banyak membantu dalam usaha
memperoleh data yang saya perlukan;
4. Orang tua dan keluarga yang telah memberikan bantuan dukungan moral dan
material; dan
5. Sahabat dan teman yang telah banyak membantu saya dalam menyelesaikan
skripsi ini.
Akhir kata saya berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas segala
kebaikan pihak yang telah membantu. Semoga skripsi ini membawa manfaat bagi
pengembangan ilmu.
Makassar, Desember 2017

Penulis

iii
iv
v
vi
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS KARYA

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya:
Nama : Cynthia Kristi Harlimton
NIM : C111 14 100
Tempat & tanggal lahir : Ujung Pandang, 29 Oktober 1996
Alamat Tempat Tinggal : Jl. Mawar G/17
Alamat email : cynthiaharlimton@yahoo.co.id
HP : 087740824955
Dengan ini menyatakan bahwa Skripsi dengan judul: “Gambaran Tingkat
Pengetahuan dan Kesadaran Ibu mengenai Pentingnya Imunisasi Dasar Lengkap pada
Anak di Puskesmas Kassi-Kassi” adalah hasil pekerjaan saya dan seluruh ide,
pendapat, atau materi dari sumber lain telah dikutip dengan cara penulisan referensi
yang sesuai. Pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.
Makassar, 8 Desember 2017
Yang Menyatakan,

Cynthia Kristi Harlimton

vii
SKRIPSI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
Desember 2017
Cynthia Kristi Harlimton
dr. Eka Yusuf Inrakartika, M.Kes., Sp.A
Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Kesadaran Ibu mengenai Pentingnya
Imunisasi Dasar Lengkap pada Anak di Puskesmas Kassi-Kassi

ABSTRAK

Pendahuluan: Capaian indikator imunisasi dasar lengkap di Indonesia (86,54%)
masih belum mencapai target Renstra (91%), namun di Makassar khususnya
Puskesmas Kassi-Kassi telah mencapai dengan baik target capaian imunisasi.
Terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu terhadap imunisasi dasar pada
anak, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan
kesadaran ibu mengenai imunisasi dasar lengkap pada anak.
Metode:Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan desain
penelitian cross-sectional dengan menggunakan data primer berupa jawaban
kuesioner dari ibu-ibu yang mempunyai anak 0-12 bulan di Puskesmas Kassi-Kassi,
Makassar yang dilaksanakan pada Oktober-November 2017. Kuesioner telah diuji
validitasnya.
Hasil: Sampel yang diteliti sebesar 50 orang. Terdapat 30 responden dengan tingkat
pengetahuan yang baik mengenai imunisasi dasar (60%), 13 responden dengan
tingkat pengetahuan cukup (26%) dan 7 orang lainnya memiliki tingkat pengetahuan
kurang (14%). Umumnya responden tidak menjawab dengan benar mengenai isi
imunisasi dan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Terdapat juga 49 responden
(98%) dengan kesadaran baik (≥80%) mengenai imunisasi dasar, sedangkan
responden dengan kesadaran <80% hanya 1 orang (2%). Umumnya responden tidak
setuju dengan imunisasi apabila anak telah mengalami demam pada imunisasi
sebelumnya dan jika terdapat efek samping imunisasi pada orang di sekitarnya.
Sampel umumnya berusia 21-30 tahun (74%) dan berpendidikan terakhir pada tahap
SMA/SMK (44%).
Kesimpulan: Penelitian ini menampilkan karakteristik ibu-ibu dengan status
imunisasi lengkap di Puskesmas Kassi-Kassi, dan mendapatkan gambaran tingkat
pengetahuan dan kesadaran yang umumnya baik. Dibutuhkan penelitian selanjutnya
dengan sampel yang juga mencakup ibu dengan status imunisasi dasar yang tidak
lengkap, dan juga penelitian mengenai hubungan pengetahuan dan kesadaran dengan
status imunisasi dasar.

Kata kunci: tingkat pengetahuan, tingkat kesadaran, imunisasi dasar lengkap

viii
THESIS
FACULTY OF MEDICINE
HASANUDDIN UNIVERSITY
December 2017
Cynthia Kristi Harlimton
dr. Eka Yusuf Inrakartika, M.Kes., Sp.A
Description of Mothers’ Knowledge and Awareness Level of Complete Basic
Immunization Importance in Puskesmas Kassi-Kassi

ABSTRACT

Introduction: Complete basic immunization performance indicator in Indonesia
(86,54%) has not reach its target by Renstra (91%), whereas in Makassar especially
Puskesmas Kassi-Kassi has reach its performance indicator thoroughly. Since it has
been proven that there is correlation between knowledge and awareness to complete
immunization in children, this study aims to discover mothers’ knowledge and
awareness level of complete basic immunization.
Method: This is a descriptive observational study using cross-sectional method,
using primary data obtained from questionnaire which is answered by mothers with
0-12 month children in Puskesmas Kassi-Kassi, Makassar, which is held in October-
November 2017. Questionnaire has been validated.
Result: Out of 50 samples, 60% have high level of knowledge, 26% have moderate
level of knowledge, and the remaining 14% have low level of knowledge. Most
respondents do not answer correctly in questions about contents of vaccine and
Adverse Events Following Immunization (AEFI). In this study also known that 98%
have high (≥80%) level of awareness while the other 2% have <80% awareness. Most
respondents will not bring their child back to be immunized if their children have
suffered fever from previous immunization or if there is people around whose child
suffered from adverse effect of immunization. Samples mostly is 21-30 years old
(74%) and last educated in High School (44%).
Conclusion: This study shows characteristics of respondents in Puskesmas Kassi-
Kassi, and most respondents have high level of knowledge and awareness. Further
study is needed with samples obtained also from mothers with incomplete basic
immunization, and to search for correlation between knowledge and awareness to
basic immunization.

Keywords: knowledge level, awareness level, complete basic immunization

ix
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ......................................................................................... i
HALAMAN JUDUL ............................................................................................ ii
KATA PENGANTAR ......................................................................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. iv
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS KARYA ...................................... vii
ABSTRAK ........................................................................................................... viii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ x
DAFTAR TABEL ................................................................................................ xiii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xv
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Permasalahan ................................................................... 2
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................... 5
1.3 Tujuan Penelitian ...................................................................................... 5
1.4 Manfaat Penelitian .................................................................................... 6
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Program Imunisasi .................................................................................... 7
2.1.1 Pengertian Imunisasi…………………………………………….... 7
2.1.2 Tujuan Imunisasi ……………………………………………….... 9
2.1.3 Manfaat Imunisasi ……………………………………………….. 10
2.1.4 Jenis Imunisasi …………………………………………………... 10
2.1.5 Prosedur Imunisasi ……………………………………………..... 11
2.1.6 Tempat Suntikan yang Dianjurkan ……………………………..... 11
2.1.7 Pemberian dua atau lebih Vaksin pada Hari yang Sama ……….... 12
2.1.8 Kontraindikasi Pemberian Imunisasi ……………………………. 12
2.1.9 Imunisasi Wajib, Program Pengembangan Imunisasi (PPI) …….. 14
2.2 Pengetahuan .............................................................................................. 23

x
2.2.1. Pengertian ……………………………………………………….23
2.2.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan ……………... 24
2.2.3. Proses Mengadopsi Pengertian ………………………………….25
2.2.4. Tingkatan Pengetahuan ………………………………............... 25
2.3 Sikap.......................................................................................................... 27
2.3.1. Definisi Sikap ……………………………………………………27
2.3.2. Faktor yang Mempengaruhi Terbentuknya Sikap ……………….27
2.3.3. Tingkatan Sikap ………………………………………………….27
2.3.4. Struktur dan Pembentukan Sikap ………………………………..28
2.3.5. Komponen Sikap ………………………………………………...29
2.3.6. Pembagian Sikap ………………………………………………...30
2.4 Kerangka Teori.......................................................................................... 31
BAB 3. KERANGKA KONSEPTUAL PENELITIAN
3.1 Kerangka Konsep ...................................................................................... 32
BAB 4. METODE PENELITIAN
4.1 Desain Penelitian ....................................................................................... 33
4.2 Tempat danWaktu ..................................................................................... 33
4.3 Populasi dan Sampel ................................................................................. 33
4.4 Perkiraan Besar Sampel ............................................................................ 33
4.5 Cara Pengambilan Sampel ........................................................................ 35
4.6 Kriteria Inklusi dan Eksklusi..................................................................... 35
4.7 Etika Penelitian ......................................................................................... 35
4.8 Manajemen dan Analisis Data ................................................................. 36
4.9 Definisi Operasional.................................................................................. 38
BAB 5. HASIL PENELITIAN
5.1 Deskripsi Karakteristik Sampel................................................................. 39
5.1.1 Karakteristik Sampel menurut Umur Ibu......................................... 39
5.1.2 Karakteristik Sampel menurut Pendidikan Terakhir ....................... 40
5.2 Hasil Uji Kuesioner ................................................................................... 41
5.2.1 Hasil Uji Validitas Kuesioner ......................................................... 41

xi
5.2.2 Hasil Uji Reliabilitas Kuesioner ...................................................... 41
5.3 Hasil Analisa Data .................................................................................... 41
5.2.1. Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu................................................ 42
5.2.2. Gambaran Tingkat Kesadaran Ibu ................................................... 46
BAB 6. PEMBAHASAN
6. 1.Tingkat Pengetahuan Ibu mengenai Imunisasi .......................................... 50
6. 2.Tingkat Kesadaran Ibu mengenai Imunisasi ............................................. 52
6. 3.Keterbatasan Penelitian ............................................................................. 54
BAB 7. KESIMPULAN DAN SARAN
7.1.Kesimpulan ............................................................................................... 55
7.2.Saran ......................................................................................................... 55
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 57
LAMPIRAN ......................................................................................................... 60

xii
DAFTAR TABEL

TABEL 5.1 DISTRIBUSI SAMPEL MENURUT UMUR ................................. 39
TABEL 5.2 DISTRIBUSI SAMPEL MENURUT PENDIDIKAN TERAKHIR 40
TABEL 5.3 DISTRIBUSI TINGKAT PENGETAHUAN IBU MENURUT SKOR
............................................................................................................................... 41
TABEL 5.4 DISTRIBUSI TINGKAT PENGETAHUAN IBU MENURUT
KATEGORI ......................................................................................................... 43
TABEL 5.5 DISTRIBUSI JAWABAN KUESIONER TINGKAT
PENGETAHUAN ................................................................................................ 44
TABEL 5.6 GAMBARAN TINGKAT KESADARAN IBU MENURUT NILAI
............................................................................................................................... 45
TABEL 5.7 GAMBARAN TINGKAT KESADARAN IBU MENURUT
KATEGORI ......................................................................................................... 47
TABEL 5.8 DISTRIBUSI JAWABAN KUESIONER TINGKAT KESADARAN
............................................................................................................................... 48

xiii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Skema Kerangka Teori ...................................................................... 31
Gambar 3.1 Skema Kerangka Konsep .................................................................. 32
Gambar 5.1 Distribusi Sampel menurut Umur Ibu ............................................... 39
Gambar 5.2 Distribusi Sampel menurut Pendidikan Terakhir .............................. 40
Gambar 5.3 Distribusi Tingkat Pengetahuan Ibu menurut Skor ........................... 42
Gambar 5.4 Distribusi Tingkat Pengetahuan Ibu menurut Kategori..................... 43
Gambar 5.5 Distribusi Jawaban Kuesioner Tingkat Pengetahuan ........................ 45
Gambar 5.6 Gambaran Tingkat Kesadaran Ibu menurut Nilai ............................. 46
Gambar 5.7 Gambaran Tingkat Kesadaran Ibu menurut Kategori ....................... 47
Gambar 5.8 Distribusi Jawaban Kuesioner Tingkat Kesadaran............................ 48

xiv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Rekomendasi Persetujuan Etik
Lampiran 2. Surat Izin Penelitian
Lampiran 3. Penjelasan kepada Calon Responden mengenai Penelitian yang Akan
Dilakukan
Lampiran 4. Lembar Persetujuan Setelah Penjelasan (Informed Consent)
Lampiran 5. Lembar Kuesioner Penelitian
Lampiran 6. Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Penelitian
Lampiran 7. Data Responden
Lampiran 8. Jawaban Kuesioner Responden
Lampiran 9. Biodata Peneliti

xv
BAB 1

PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang

Anak-anak merupakan masa depan bangsa. Karena itu, penting bagi kita untuk

memperhatikan kehidupan anak-anak pada saat ini dalam segala aspek, baik dari

perkembangan fisik, mental, dan jiwa – salah satunya adalah kesehatan mereka.

Kesehatan pada masa anak-anak perlu diberi perhatian lebih, karena kesehatan anak

pada masa sekarang akan menentukan perkembangan otak dan tingkah laku mereka

di masa depan. Salah satu cara memberdayakan kesehatan anak secara efektif adalah

dengan imunisasi. (Nelson, 2000)

Imunisasi adalah sebuah proses dimana seseorang dibuat resisten terhadap

sebuah penyakit infeksi, yang biasanya melalui pemberian vaksin. Imunisasi terbukti

dapat mengontrol dan menyingkirkan penyakit infeksi yang mengancam nyawa,

dilihat dari estimasi pencegahan penyakit oleh imunisasi yaitu sekitar 2-3 juta

kematian setiap tahunnya. Selain itu, imunisasi tidak memakan biaya yang besar,

dengan strategi-strategi yang terbukti mampu menjangkau bahkan populasi yang

paling sulit dijangkau. (WHO, 2017).

Masa balita merupakan periode emas pertumbuhan fisik, intelektual, mental,

dan emosional anak, dimana pemenuhan kebutuhan akan asah, asih dan asuh melalui

pemenuhan aspek fisik hingga aspek biologis anak (gizi, kebersihan, imunisasi,

vitamin A, dan pelayanan kesehatan yang bermutu), kasih sayang dan stimulasi yang

2
3

memadai pada balita akan meningkatkan kualitas kelangsungan hidup anak dan

mengoptimalkannya sebagai generasi penerus bangsa. Sedemikian pentingnya masa

balita pada anak, kurangnya pemenuhan kebutuhan anak dimana segala bentuk

penyakit, kekurangan gizi, kasih sayang ataupun stimulasi dapat membawa dampak

negatif yang akan terus menetap hingga dewasa bahkan usia lanjut (WHO, 2017).

Imunisasi pada bayi berumur kurang dari satu tahun merupakan hal yang sangat

penting dalam mencegah Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I).

Diperkirakan PD3I merupakan penyebab kematian dari sekitar 48 bayi dan 56 balita

per1000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun (WHO, 2017). Setiap tahun

lebih dari 1,4 juta anak meninggal karena berbagai penyakit yang sebenarnya dapat

dicegah dengan imunisasi. (Kemenkes, 2015). Apabila dilihat dari penyebab

kematian, sebenarnya sebagian besar anak tidak perlu meninggal. Daya lindung

vaksin difteri (80%), pertussis (90%), tetanus (90%), polio (92%), dan campak (95%)

– semuanya angka tersebut menunjukkan banyaknya bayi dan anak yang dapat

dicegah mengalami penyakit jika diberikan vaksin dengan baik. Angka di atas

menunjukkan vaksin sangat efektif dalam mencegah penyakit (Barry, 1988).

Pencegahan terhadap penyakit infeksi maupun upaya yang menentukan situasi

yang kondusif mutlak dilakukan pada anak dalam tumbuh kembangnya sedini

mungkin untuk mempertahankan kualitas hidup yang prima hingga dewasa.

Demikian pula perhitungan ekonomi bahwa pencegahan adalah salah satu cara

perlindungan yang paling efektif dan jauh lebih murah daripada mengobati apabila

sudah terserang penyakit dan memerlukan perawatan rumah sakit (IDAI, 2011).
4

Program imunisasi pada bayi bertujuan supaya setiap bayi memperoleh

imunisasi dasar secara lengkap, sehingga dapat terhindar dari penyakit. Namun,

meskipun imunisasi sangat penting, pelaksanaannya belum maksimal. Capaian

indikator imunisasi dasar lengkap di Indonesia pada tahun 2015 adalah sebesar

86,54%. Angka ini belum mencapai target Renstra tahun 2015 sebesar 91%.

(Kemenkes, 2015).

Di Sulawesi Selatan sendiri, pelaksanaan imunisasi juga tidak maksimal.

Capaian indikator di Sulawesi Selatan pada tahun 2015 sebesar 85,86%. Angka ini

juga tidak mencapai target Renstra pada tahun 2015. (Kemenkes, 2015)

Namun di Makassar, hal ini tidak lagi berlaku. Berdasarkan laporan dari Bidang

Bina P2PL, imunisasi dasar lengkap pada tahun 2014 telah mencapai angka 100,38%.

Selain itu, indikator lain untuk menilai keberhasilan imunisasi melalui UCI

(Universal Child Imunization) dimana dari 143 kelurahan yang ada di Kota Makassar,

100% telah mencapai kelurahan UCI. (Pemda Makassar, 2015)

Puskesmas Kassi-Kassi Makassar merupakan salah satu komponen pencapaian

ini. Pada tahun 2011, cakupan UCI di Puskesmas Kassi-Kassi adalah HB0 104,2%,

BCG 126,4%, DPT-HB1 134,24%, DPT-HB2 109,94%, DPT-HB3 105,50%, Polio1

135,56%, Polio2 112,10%, Polio3 103,30%, Polio4 109,99%, dan Campak 111,0%.

Data ini menunjukkan Puskesmas Kassi-Kassi berhasil mencapai target UCI. (Profil

Puskesmas Kassi-Kassi, 2011).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dewi dkk (2013) di

Kelurahan Parupuk Tabing Kota Padang menyatakan bahwa terdapat hubungan

antara pengetahuan ibu mengenai imunisasi dasar terhadap kelengkapan imunisasi
5

dasar pada anak. Hal ini dapat dilihat bahwa presentase pemberian imunisasi dasar

lengkap lebih banyak pada ibu yang memiliki pengetahuan cukup, yaitu sebesar

87,5%.

Karena adanya kontras ini maka peneliti menganggap perlu untuk melakukan

penelitian mengenai pengetahuan dan kesadaran ibu mengenai pentingnya imunisasi

dasar lengkap pada anak di tingkat Puskesmas.

Sepanjang pengetahuan penulis, penelitian ini belum pernah dilakukan di

Makassar.

1. 2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian

berupa bagaimana pengetahuan dan kesadaran ibu mengenai pentingnya imunisasi

dasar lengkap pada anak di tingkat Puskesmas.

1. 3 Tujuan Penelitian

1. 3. 1 Tujuan Umum

Mengetahui tingkat pengetahuan dan kesadaran ibu mengenai pentingnya

imunisasi dasar lengkap pada anak di tingkat Puskesmas.

1. 3. 2 Tujuan Khusus

Yang menjadi tujuan khusus dalam penelitian ini adalah:

1. Mengetahui gambaran pengetahuan ibu mengenai pentingnya imunisasi dasar

lengkap pada anak di tingkat Puskesmas.
6

2. Mengetahui gambaran kesadaran ibu mengenai pentingnya imunisasi dasar

lengkap pada anak di tingkat Puskesmas.

1. 4Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat

1. Bagi peneliti untuk menambah wawasan dan pengetahuan terutama dalam bidang

peningkatan program khususnya dalam usaha meningkatkan pengetahuan dan

kesadaran ibu mengenai pentingnya imunisasi dasar lengkap.

2. Bagi instansi sebagai sumber data dan pertimbangan untuk menjadi salah satu

contoh program mengenai pengetahuan dan kesadaran ibu mengenai imunisasi

dasar lengkap bagi anak.

3. Bagi tempat penelitian sebagai sumber data pengetahuan dan kesadaran ibu

mengenai imunisasi dasar bagi anak.

4. Bagi fasilitas kesehatan lainnya untuk meningkatkan cakupan imunisasi

puskesmas lainnya dengan menjadikan penelitian ini sebagai salah satu

pertimbangan.

5. Bagi peneliti lain untuk dijadikan referensi bagi penelitian yang sama atau

terkait.
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Program Imunisasi

2.1.1. Pengertian Imunisasi

Imunisasi berasal dari kata imun, kebal, atau resisten. Sistem imun adalah suatu sistem

pertahanan yang terdiri atas sel-sel serta zat-zat yang dihasilkannya, dimana mereka bekerja

sama secara kolektif dan terkoordinasi untuk melawan benda asing, misalnya kuman atau

produk racunnya yang masuk ke dalam tubuh. Anak diimunisasi berarti diberikan

kekebalan terhadap suatu penyakit spesifik sesuai dengan jenis imunisasinya (Notoatmodjo,

2007). Imunisasi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang

secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga jika anak terpapar pada antigen yang serupa di

kemudian hari, sistem imun dapat mengatasinya dan tidak berkembang menjadi penyakit

(IDAI, 2001).

Vaksinasi adalah pemberian vaksin (antigen) yang dapat merangsang pembentukan

imunitas dalam sistem imun tubuh. Vaksinasi merupakan tindakan yang dengan sengaja

memaparkan antigen dari mikroorganisme patogen, yang telah dimodifikasi sedemikian

rupa sehingga anak tidak jatuh sakit tetapi tetap mampu mengaktifkan limfosit untuk

menghasilkan antibodi dan sel memori. (IDAI, 2001)

Imunisasi merupakan suatu program dimana antigen lemah sengaja dimasukkan ke

dalam tubuh untuk merangsang antibodi, sehingga tubuh menjadi resisten terhadap

7
8

penyakit tertentu. Sistem imunitas tubuh mempunyai suatu sistem memori dimana ketika

vaksin masuk ke dalam tubuh, maka tubuh akan membentuk antibodi untuk melawan

vaksin tersebut dan sistem memori akan menyimpannya sebagai sebuah pengalaman.

Apabila tubuh terpapar kembali dengan antigen yang sama dengan vaksin, maka antibodi

akan terbentuk lebih cepat dan banyak meskipun antigen bersifat lebih kuat daripada vaksin

yang diberikan. Faktor inilah yang menyebabkan imunisasi efektif dalam mencegah

penyakit infeksi (Proverawati, 2010).

Menurut Sujono Riyadi (2009), prinsip dasar pemberian imunisasi adalah:

a. Bila ada antigen (kuman, bakteri, virus, parasit, racun) memasuki tubuh, maka tubuh

akan berusaha mempertahankan diri, dimana tubuh akan memproduksi zat anti berupa

antibodi atau antitoxin.

b. Reaksi tubuh pertama kali terhadap antigen berlangsung secara lambat dan lemah,

sehingga tidak cukup banyak antibodi yang terbentuk. Pada reaksi kedua, ketiga, dan

seterusnya tubuh sudah mulai lebih mengenali jenis antigen tersebut.

c. Setelah beberapa waktu, jumlah zat anti dalam tubuh akan berkurang. Untuk

mempertahankan agar tubuh tetap kebal, perlu diberikan suntikan imunisasi ulang.

d. Kadar antibodi yang tinggi dalam tubuh menjamin anak akan sulit terserang penyakit.

Terdapat banyak faktor penyebab keberhasilan imunisasi, misalnya dari faktor anak

seperti umur bayi pada saat diberikan imunisasi yang menentukan apakah masih ada

antibodi maternal dari ibu pada waktu imunisasi diberikan. Kualitas dan kuantitas vaksin

yang diberikan juga mempengaruhi keberhasilan imunisasi tersebut (Hidayat, 2005).
9

Pemberian imunisasi pada anak sebaiknya mengikuti jadwal yang ada. Dengan

memberikan imunisasi sesuai jadwal yang telah ditetapkan, hasil pembentukan antibodi

juga akan optimal sehingga dapat melindungi anak dari paparan penyakit. Ada tujuh

penyakit infeksi pada anak yang dapat menyebabkan kematian atau cacat, walaupun

sebagian anak dapat bertahan dan menjadi kebal. Ketujuh penyakit tersebut adalah

poliomyelitis (kelumpuhan), campak, difteri, pertussis, tetanus, tuberculosis, dan hepatitis

B. Sedangkan jadwal imunisasi yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI

mengharuskan orang tua untuk memberikan lima imunisasi dasar lengkap yaitu Hepatitis B,

Polio, DTP, BCG, dan Campak. (Depkes RI, 2006)

2.1.2. Tujuan Imunisasi

Program imunisasi bertujuan untuk memberikan kekebalan pada bayi sehingga dapat

mencegah penyakit dan kematian bayi atau anak yang disebabkan oleh penyakit menular

(Proverawati, 2010). Imunisasi juga bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu

pada populasi (Marimbi, 2010). Tujuan pemberian imunisasi adalah untuk mencegah

terjadinya penyakit dan kematian bayi dan anak-anak yang disebabkan oleh wabah yang

sering muncul. Pemerintah Indonesia sangat mendorong pelaksanaan program imunisasi

sebagai sebuah cara untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian pada bayi, balita, dan

anak-anak (Depkes RI, 2001).
10

2.1.3. Manfaat Imunisasi

Menurut Marimbi (2010) manfaat imunisasi adalah:

1. Bagi anak, yaitu untuk mencegah penderitaan dan kemungkinan cacat atau kematian

yang disebabkan oleh penyakit.

2. Bagi keluarga, yaitu menghilangkan keresahan mengenai pengobatan apabila anak

sakit dan memberdayakan pembentukan keluarga karena orang tua yakin anaknya akan

menjalani masa kanak-kanak yang sehat dan nyaman.

3. Bagi negara, yaitu memperbaiki tingkat kesehatan, serta menciptakan bangsa yang kuat

dan berakal sehat untuk melanjutkan pembangunan negara.

2.1.4. Jenis Imunisasi

Terdapat dua macam imunisasi, yaitu: (Proverawati, 2010)

1. Imunisasi aktif

Imunisasi aktif adalah pemberian suatu bibit penyakit yang telah dilemahkan (vaksin) agar

nantinya sistem imun tubuh berespon spesifik terhadap antigen yang diberikan dan

mendapatkan suatu memori terhadap antigen ini, sehingga ketika kembali terpapar, tubuh

dapat mengenali dan meresponnya dengan efektif. Dalam imunisasi aktif, terdapat beberapa

unsur-unsur vaksin, yaitu:

a. Vaksin, dapat berupa organisme yang secara keseluruhan dimatikan

b. Pengawet, stabilisator, atau antibiotik

c. Cairan pelarut dapat berupa air steril atau cairan kultur jaringan

d. Adjuvant, berupa garam aluminium.
11

2. Imunisasi pasif

Imunisasi pasif merupakan suatu proses peningkatan kekebalan tubuh dengan cara

pemberian zat immunoglobulin yaitu zat yang dihasilkan melalui suatu proses infeksi yang

dapat berasal dari plasma manusia.

2.1.5. Prosedur Imunisasi

Prosedur imunisasi dimulai dari menyiapkan dan membawa vaksin, mempersiapkan

anak dan orang tua, teknik penyuntikan yang aman, pencatatan, pembuangan limbah,

sampai pada teknik penyimpanan dan penggunaan sisa vaksin dengan benar. Penjelasan

kepada orang tua sebelum dan sesudah imunisasi penting untuk diperhatikan. Pengetahuan

mengenai kualitas vaksin yang masih boleh diberikan pada bayi/anak juga perlu dipelajari.

Selain itu, ukuran jarum, lokasi suntikan, cara mengurangi ketakutan dan rasa nyeri pada

anak juga perlu diketahui. Proses imunisasi dari awal hingga akhir perlu dicatat secara

lengkap, termasuk keluhan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). (IDAI, 2011)

2.1.6. Tempat Suntikan yang Dianjurkan

Bagian tubuh yang dianjurkan untuk vaksinasi pada bayi dan anak-anak yang berumur

di bawah 12 bulan adalah paha anterolateral. Regio deltoid juga merupakan lokasi

alternatif untuk vaksinasi anak-anak yang lebih besar (yang sudah dapat berjalan) dan

orang dewasa (IDAI, 2011).

Sejak akhir 1980, WHO memberikan rekomendasi untuk melakukan vaksinasi pada

daerah anterolateral paha, bukan pada pantat (daerah gluteus) karena adanya risiko

kerusakan saraf ischiadika (n. ischiadicus). Risiko kerusakan saraf ischiadika akibat
12

suntikan di daerah gluteus lebih besar pada bayi karena adanya variasi posisi saraf tersebut,

massa otot yang lebih tebal, sehingga pada vaksinasi dengan suntikan intramuskular di

daerah gluteal dengan tidak sengaja menghasilkan suntikan subkutan dengan reaksi lokal

yang lebih berat. Vaksinasi hepatitis B dan rabies bila disuntikkan di daerah gluteal kurang

imunogenik (untuk semua umur). Sedangkan vaksin BCG harus disuntik pada kulit di atas

insersi otot deltoid (lengan atas), sebab suntikan-suntikan di atas puncak pundak memberi

risiko terjadinya keloid (IDAI, 2011).

2.1.7. Pemberian dua atau lebih vaksin pada hari yang sama

Pemberian vaksin yang berbeda boleh diberikan pada hari yang sama. Vaksin

inactivated dan vaksin virus hidup, khususnya vaksin yang dianjurkan dalam jadwal

imunisasi, pada umumnya diberikan pada lokasi yang berbeda pada saat hari kunjungan

yang sama. Misalnya, pada saat yang sama dapat diberikan vaksin DTP, Hib, Hepatitis B,

dan Polio.

Pada saat yang sama dapat diberikan lebih dari satu macam vaksin virus hidup, tetapi

apabila sudah diberikan satu jenis vaksin, vaksin virus hidup jenis lain tidak boleh

diberikan kurang dari dua minggu, sebab respon terhadap vaksin kedua mungkin telah

berkurang. Vaksin-vaksin yang berbeda tidak boleh dicampur dalam satu semprit. Vaksin

yang berbeda yang diberikan dalam satu hari yang sama harus diberikan pada lokasi yang

berbeda dengan semprit yang berbeda pula (IDAI, 2011).

2.1.8. Kontraindikasi Pemberian Imunisasi

Terdapat tiga kontraindikasi pemberian imunisasi, yaitu: (Proverawati, 2010)
13

1. Anafilaksis atau reaksi hipersensitivitas yang hebat merupakan kontraindikasi mutlak

terhadap pemberian vaksin. Riwayat kejang demam dan panas lebih dari 38°C

merupakan kontraindikasi pemberian DTP atau HB1 dan campak.

2. Vaksin BCG tidak boleh diberikan pada bayi yang menunjukkan tanda dan gejala

AIDS, tetapi vaksin lain sebaiknya diberikan.

3. Jika orang tua sangat keberatan terhadap pemberian imunisasi pada bayi yang sakit,

lebih baik jangan diberikan vaksin, tetapi mintalah ibu kembali lagi setelah bayi sehat.

Penanganan pada bayi yang mengalami kondisi sakit tetapi tetap sebaiknya diberi

imunisasi:

1. Pada bayi yang mengalami alergi atau asma, imunisasi masih bisa diberikan, kecuali

jika anak alergi terhadap salah satu komponen dalam vaksin yang diberikan

2. Sakit ringan seperti infeksi saluran nafas atau diare dengan suhu di bawah 38,5°C

3. Riwayat keluarga tentang peristiwa yang membahayakan setelah imunisasi

4. Dugaan infeksi HIV atau positif terinfeksi HIV dengan tidak menunjukkan tanda dan

gejala AIDS, jika menunjukkan tanda-tanda dan gejala AIDS tidak diberikan

imunisasi BCG, sedangkan imunisasi lain tetap diberikan.

5. Anak masih mengkonsumsi ASI

6. Bayi yang menderita penyakit kronis seperti penyakit jantung kronis, paru-paru, ginjal

atau hati.

7. Pada penderita Down Syndrome atau pada anak dengan kondisi saraf stabil.

8. Bayi prematur atau Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

9. Sebelum dan sesudah operasi
14

10. Gizi rendah

11. Riwayat sakit kuning (icterus) saat kelahiran

2.1.9. Imunisasi Wajib, Program Pengembangan Imunisasi (PPI)

Imunisasi dasar yang wajib didapatkan sebelum usia 12 bulan adalah:

1. BCG

Imunisasi BCG (Bacille Calmete-Guerin) adalah vaksin hidup yang diberikan pada bayi

untuk mencegah penyakit tuberkulosis (TBC), yang disebabkan oleh sekelompok bakteri

Mycobacterium tuberculosis complex. Vaksin ini dibuat dari Mycobacterium bovis yang

dibiakkan selama 1-3 tahun sehingga didapatkan hasil yang tidak virulen tetapi masih

dapat mengaktifkan sistem imun. Vaksinasi BCG menimbulkan sensitivitas terhadap

tuberculin. (IDAI, 2011)

Imunisasi BCG diberikan sekali sebelum anak berumur 2 bulan dengan suntikan

intrakutan pada lengan atas. Untuk bayi berumur kurang dari 1 tahun vaksin diberikan

dengan dosis 0,05 mL, sedangkan untuk anak berumur lebih dari 1 tahun diberikan

sebanyak 0,1 mL. Setelah 1 hingga 2 minggu diberikan imunisasi, akan timbul indurasi dan

kemerahan di lokasi suntikan yang kemudian berubah menjadi pustul, dan pecah menjadi

luka. Namun luka ini tidak perlu pengobatan khusus karena akan sembuh sendiri

(Proverawati, 2010).

Vaksin BCG tidak dapat mencegah terjadinya infeksi tuberkulosis, namun dapat

mencegah komplikasinya. Apabila BCG diberikan pada umur lebih dari tiga bulan,

sebaiknya dilakukan uji tuberculin terlebih dahulu (Proverawati, 2010).
15

Imunisasi BCG tidak boleh diberikan pada anak yang sedang menderita penyakit kulit

berat atau menahun seperti eksim, furunkolosis, dan sebagainya. Imunisasi BCG tidak

diberikan pada anak yang menderita tuberkulosis atau menunjukkan uji mantoux

(tuberculin) positif (Maryunani, 2012).

Vaksin BCG tidak boleh terkena sinar matahari, harus disimpan pada suhu 2-8°C tetapi

tidak boleh beku. Vaksin yang telah diencerkan harus dihabiskan dalam waktu 8 jam.

a. Kejadian ikutan pasca imunisasi vaksinasi BCG

Penyuntikan BCG intradermal akan menimbulkan ulkus lokal superfisial tiga minggu

setelah penyuntikan. Ulkus tertutup krusta, akan sembuh dalam 2-3 bulan, dan

meninggalkan parut bulat dengan diameter 4-8 mm. Apabila dosis yang diberikan

terlalu tinggi, maka ukuran ulkus menjadi lebih besar, namun apabila penyuntikan

terlalu dalam maka parut yang terjadi akan tertarik ke dalam.

 Limfadenitis

Limfadenitis supuratif di aksila atau di leher kadang dijumpai setelah penyuntikan

BCG. Limfadenitis akan sembuh sendiri sehingga tidak membutuhkan pengobatan

lebih lanjut. Apabila limfadenitis melekat pada kulit atau timbul fistula, maka dapat

didrainase dan diberikan obat antituberkulosis lokal.

 BCG-itis diseminasi

Kejadian ini jarang terjadi dan berhubungan dengan imunodefisiensi berat.

Komplikasi lainnya adalah eritema nodosum, iritis, lupus vulgaris, dan

osteomyelitis. Komplikasi ini harus diobati dengan kombinasi anti tuberkulosis.

b. Kontraindikasi BCG (IDAI, 2011; Proverawati, 2010)
16

 Reaksi uji tuberculin >5 mm

 Menderita infeksi HIV atau dengan risiko tinggi terinfeksi HIV, imunodefisiensi

akibat penggunaan kortikosteroid, obat imunosupresif, mendapat pengobatan

radiasi, penyakit keganasan yang mengenai sumsum tulang atau sistem limfe.

 Menderita gizi buruk

 Menderita demam tinggi

 Menderita infeksi kulit yang luas

c. Rekomendasi (IDAI, 2011; Proverawati, 2010)

 Vaksin BCG diberikan pada bayi berumur kurang dari dua bulan

 Pada bayi yang memiliki kontak erat dengan penderita tuberculosis (BTA +3)

sebaiknya diberikan isoniazid profilaksis terlebih dahulu, sedangkan dengan

pasien kontak tuberculosis tenang, bayi dapat diberikan vaksin.

2. DTP

Imunisasi DTP bertujuan untuk mencegah tiga penyakit yaitu difteri, pertusis, dan

tetanus. Difteri adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium

diphteriae. Pertusis adalah penyakit batuk rejan (batuk seratus hari) adalah penyakit infeksi

saluran nafas yang disebabkan oleh Bordetella pertusis (Marimbi, 2010). Sedangkan

tetanus adalah gangguan neuromuscular akut yang berupa trismus (Maryunani, 2012).

Terdapat dua jenis vaksin DTP, yaitu DTwP (whole-cell pertussis) dan DTaP (acellular

pertussis). Berdasarkan pandangan James D. Cherry, MD dalam The New England Journal

of Medicine, imunisasi DTaP harus dimulai dari usia muda dengan interval yang rendah

pada setiap dosis. Dalam jurnal ini disebutkan bahwa pada dasarnya ibu hamil
17

mendapatkan imunisasi DTP untuk menurunkan risiko terjadinya penularan pertussis pada

saat melahirkan dan dapat memberikan perlindungan sekitar selama 1-2 bulan.

Imunisasi DTP primer diberikan tiga kali sejak anak berumur dua bulan (DTP tidak boleh

diberikan sebelum umur 6 minggu) dengan interval 4-8 minggu. Interval terbaik diberikan

8 minggu, sehingga DTP-1 diberikan pada umur 2 bulan, DTP-2 diberikan pada umur 4

bulan, dan DTP-3 diberikan pada umur 6 bulan. Ulangan booster DTP selanjutnya

diberikan satu tahun setelah DTP-3 yaitu pada umur 18-24 bulan dan DTP-5 pada saat

masuk sekolah berumur 5 tahun.

Pada booster umur lima tahun, vaksin dengan komponen pertussis harus tetap diberikan

(sebaiknya diberikan DTaP untuk mengurangi demam pasca imunisasi) mengingat

kejadian

pertussis pada dewasa muda meningkat akibat ambang proteksi telah sangat rendah

sehingga dapat menjadi sumber penularan bagi bayi dan anak.

Dosis DTwP atau DTaP atau DT adalah 0,5 ml secara intramuskular, baik untuk

imunisasi dasar maupun ulangan.

a. Kejadian ikutan pasca imunisasi DTP (IDAI, 2011)

 Reaksi lokal kemerahan, bengkak, dan nyeri pada lokasi injeksi yang terjadi pada

separuh penerima DTP.

 Proporsi demam ringan dengan reaksi lokal sama dan diantaranya dapat

mengalami hiperpireksia.

 Anak gelisah dan menangis terus menerus selama beberapa jam pasca suntikan

(inconsolable crying).
18

 Kejang demam sesudah vaksinasi yang berhubungan dengan demam yang terjadi

 Kejadian ikutan paling serius yaitu terjadinya ensefalopati akut atau reaksi

anafilaksis dan terbukti disebabkan oleh pemberian vaksin pertussis.

b. Kontraindikasi (IDAI, 2011)

Saat ini didapatkan dua hal yang diyakini merupakan kontraindikasi mutlak terhadap

pemberian vaksin pertussis baik whole cell maupun aselular, yaitu:

 Anafilaksis pada pemberian vaksin sebelumnya.

 Ensefalopati sesudah pemberian vaksin pertussis sebelumnya

 Keadaan lain dapat dinyatakan sebagai perhatian khusus (precaution). Misalnya,

pemberian vaksin berikutnya bila pada pemberian pertama dijumpai riwayat

hiperpireksia, keadaan hipotonik-hiporesponsif dalam 48 jam, anak menangis

terus menerus selama 3 jam dan riwayat kejang dalam 3 hari sesudah imunisasi

DTP.

Riwayat kejang dalam keluarga dan kejang yang tidak berhubungan dengan pemberian

vaksin sebelumnya, kejadian ikutan pasca imunisasi atau alergi terhadap vaksin

bukanlah suatu kontraindikasi terhadap pemberian vaksin DTaP.

3. Hepatitis B

WHO merekomendasikan vaksin Hepatitis B diberikan segera setelah lahir dalam waktu

24 jam pertama meskipun tanpa mengetahui status HbsAg dari ibu, mengingat vaksinasi

hepatitis B merupakan upaya pencegahan yang sangat efektif dalam memutus rantai

penularan melalui transmisi maternal dari ibu kepada bayinya. Liza Fitria, dkk. dalam

salah satu jurnal Pediatrica Indonesiana yang diterbitkan pada November 2010 yaitu
19

Influence of Hepatitis B Immunization to Prevent Vertical Transmission of Hep-B virus in

Newborn Infants from Hep-B Positive Mothers menjelaskan bahwa efektifitas vaksin

hepatitis B dalam mencegah penularan pada bayi adalah 80-95%.

Vaksin diberikan secara intramuskular, dimana pada bayi diberikan di anterolateral paha,

sedangkan pada anak besar dan dewasa diberikan di region deltoid.

a. Imunisasi aktif

 Imunisasi HepB-1 diberikan sedini mungkin (dalam waktu 12 jam) setelah lahir

 Imunisasi HepB-2 diberikan setelah satu bulan (empat minggu) dari imunisasi

HepB-1. Untuk hasil yang maksimal, interval imunisasi HepB-2 dengan HepB-3

minimal 2 bulan, terbaik 5 bulan. Maka imunisasi HepB-3 diberikan pada umur 3-6

bulan.

 Bila sesudah dosis pertama imunisasi terputus, segera berikan dosis kedua.

Sedangkan imunisasi ketiga diberikan dengan jarak terpendek 2 bulan bukan dari

imunisasi kedua.

 Bila dosis ketiga terlambat, diberikan sesegera mungkin.

 Bila bayi lahir dengan ibu Hbs-Ag tidak diketahui, HepB-1 harus diberikan dalam

waktu 12 jam setelah lahir dan dilanjutkan pada umur 1 bulan dan 3-6 bulan.

Apabila semula status Hbs-Ag ibu tidak diketahui dan ternyata dalam perjalanan

selajutnya diketahui ibu dengan Hbs-Ag positif, maka akan ditambahkan hepatitis

B immunoglobulin (HBIg) 0,5 ml sebelum bayi berumur 7 hari.

 Bayi lahir dari ibu dengan Hbs-Ag positif, diberikan vaksin HepB-1 dan HBIg 0,5

ml secara bersamaan dalam waktu 12 jam setelah lahir.
20

 Anak dari ibu pengidap hepatitis B yang telah memperoleh imunisasi dasar tiga kali

pada semasa bayi, maka pada usia 5 tahun tidak perlu diberikan booster, hanya

dilakukan permeriksaan kadar anti HBs.

 Apabila sampai dengan usia lima tahun anak belum pernah memperoleh imunisasi

hepatitis B, maka secepatnya diberikan imunisasi HepB dengan jadwal tiga kali

pemberian (catch-up vaccination), yang merupakan upaya imunisasi pada anak atau

remaja yang belum pernah diimunisasi atau terlambat lebih dari satu bulan dari

jadwal yang seharusnya. Khusus pada imunisasi Hepatitis B, imunisasi ini

diberikan dengan interval minimal 4 minggu antara dosis pertama dan dosis kedua,

sedangkan interval antara dosis kedua dan ketiga minimal 8 minggu atau 16 minggu

setelah dosis pertama.

 Ulangan imunisasi (HepB-4) dapat dipertimbangkan pada umur 10-12 tahun,

apabila kadar pencegahan belum tercapai (anti-Hbs < 10µg/ml).

b. Imunisasi pasif

Hepatitis B Immunoglobulin (HBIg) dalam waktu singkat akan memberikan proteksi

dalam jangka waktu pendek (3-6 bulan). HBIg hanya diberikan setelah terjadi paparan.

Sebaiknya HBIg diberikan bersama vaksin VHB sehingga proteksinya berlangsung

lama.

4. Polio

Polio dapat menyebabkan gejala ringan atau penyakit yang sangat parah. Penyakit ini

dapat menyerang sistem pencernaan dan sistem saraf. Polio dapat menyebabkan demam,
21

muntah-muntah, dan dapat menyerang saraf sehingga mengakibatkan kelumpuhan

permanen (Proverawati, 2010).

Vaksin polio merupakan imunisasi yang bertujuan untuk mencegah penyakit

poliomyelitis. Pemberian vaksin polio dapat dikombinasikan dengan vaksin DPT. Terdapat

dua macam vaksin polio, yaitu: (Proverawati, 2010)

a. Inactivated Polio Vaccine (IPV= Vaksin, Salk) mengandung virus polio yang telah

dimatikan dan diberikan melalui suntikan.

b. Oral Polio Vaccine (OPV= Vaksin Sabin) mengandung vaksin hidup yang telah

dilemahkan dan diberikan dalam bentuk pil atau cairan.

Imunisasi dasar polio diberikan empat kali, yaitu polio I, II, III, IV dengan interval tidak

kurang dari 4 minggu. Imunisasi polio ulangan diberikan satu tahun setelah imunisasi polio

IV, kemudian pada saat meninggalkan SD (12 tahun). Di Indonesia umumnya diberikan

vaksin sabin. Vaksin ini diberikan sebanyak 2 tetes (0,1 mL) langsung ke mulut anak atau

dengan menggunakan sendok yang berisi air gula. Setiap membuka vial baru harus

menggunakan penetes (dropper) yang baru (Proverawati, 2010).

Pemberian imunisasi polio tidak boleh dilakukan pada orang yang menderita defisiensi

imunitas. Tidak ada efek berbahaya yang timbul akibat pemberian polio pada anak yang

sedang sakit. Namun jika ada keraguan, misalnya sedang menderita diare, maka dosis

ulangan dapat diberikan setelah sembuh (Proverawati, 2010).
22

a. Usia Pemberian (IDAI, 2011)

Saat lahir (0 bulan), dan berikutnya di usia 2, 3, 6 bulan. Dilanjutkan pada usia 18

bulan dan 5 tahun. Kecuali saat lahir, pemberian vaksin polio selalu diberikan

bersamaan dengan vaksin DTP.

b. Cara Pemberian

Dapat melalui suntikan (Inactivated Poliomyelitis Vaccine/IPV), atau dengan

pemberian oral (Oral Poliomyelitis Vaccine/OPV).

c. Efek Samping

Efek samping dari vaksin polio hampir tidak ada. Hanya sebagian kecil saja yang

mengalami pusing, diare ringan, dan sakit otot. Kasusnya pun sangat jarang. Mungkin

juga terjadi kelumpuhan dan kejang-kejang.

d. Kontraindikasi

Vaksin polio tidak dapat diberikan pada anak yang menderita penyakit akut atau

demam tinggi (di atas 38 derajat celcius), muntah atau diare, penyakit kanker atau

keganasan, HIV/AIDS, sedang menjalani pengobatan steroid dan pengobatan radiasi

umum, serta anak dengan mekanisme kekebalan terganggu.

5. Campak

Imunisasi campak adalah imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya

penyakit campak pada anak, terutama karena penyakit ini sangat menular (Maryunani,

2012).

Sebenarnya bayi telah mendapat kekebalan terhadap campak dari ibunya. Namun

seiring bertambahnya usia, antibodi dari ibunya semakin menurun sehingga butuh antibodi
23

tambahan melalui pemberian vaksin campak. Apalagi penyakit campak mudah menular,

dan orang-orang dengan daya tahan tubuh yang lemah mudah terserang penyakit ini.

Untungnya campak hanya diderita sekali seumur hidup, sehingga orang tidak akan terkena

kembali. Imunisasi campak efektif untuk memberi kekebalan terhadap penyakit ini sampai

seumur hidup.

Pemberian vaksin campak hanya diberikan satu kali, dapat dilakukan pada umur 9-11

bulan, dengan dosis 0,5 cc. Sebelum disuntikkan, vaksin campak terlebih dahulu dilarutkan

dengan pelarut steril yang telah tersedia yang berisi 5 ml cairan pelarut. Kemudian

suntikan diberikan pada lengan kiri atas secara subkutan (Proverawati, 2010).

Hingga 15% pasien dapat mengalami demam ringan dan kemerahan selama 3 hari yang

dapat terjadi 8-12 hari setelah vaksinasi. Pemberian imunisasi campak tidak boleh

dilakukan pada orang yang mengalami imunodefisiensi atau individu yang diduga

menderita gangguan respon imun karena leukemia dan limfoma (Proverawati, 2010).

2.2. Pengetahuan

2.2.1. Pengertian

Pengetahuan menurut Notoatmojo (2010) adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah

seseorang melakukan pengindraan terhadap suatu objek. Sebagian besar pengetahuan

manusia diperoleh melalui proses melihat dan mendengar oleh mata dan telinga, yang juga

dapat diperoleh melalui pendidikan, baik formal maupun non formal. Perilaku yang

didasari oleh pengetahuan akan lebih sempurna daripada perilaku yang tidak didasari oleh

pengetahuan.
24

2.2.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Notoatmojo (2003), faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah:

1. Faktor internal

Faktor internal yang mempengaruhi terbentuknya pengetahuan adalah pendidikan,

pekerjaan, dan umur. Pendidikan secara umum adalah upaya yang direncanakan untuk

mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat melalui kegiatan

untuk memberikan dan meningkatkan pengetahuan sehingga mereka melakukan apa yang

diharapkan oleh pendidik. Dari batasan ini maka tersirat unsur-unsur pendidikan yaitu:

input adalah sasaran pendidikan (individu, kelompok, dan masyarakat) dan pendidik

(pelaku pendidikan), proses (upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain),

dan output (meningkatkan pengetahuan sehingga melakukan apa yang diharapkan).

Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola

hidup terutama dalam memotivasi sikap berperan serta dalam pembangunan.

Pekerjaan adalah keburukan yang harus dilakukan terutama untik memanjang

kehidupannya dan keluarga. Pekerjaan bukan sebuah sumber kesenangan, tetapi lebih

banyak merupaka suatu cara untuk mencari nafkah.

Umur adalah hitungan tahun manusia mulai saat dilahirkan hingga saat berulang

tahun. Sedangkan menurut Huclock (1998) semakin cukup umur, tingkat kematangan dan

kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja.

2. Faktor eksternal
25

Faktor ekternal mempengaruhi terbentuknya pengetahuan adalah faktor lingkungan.

Lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada di sekitar manusia dan pengaruhnya yang

dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau kelompok. Sistem sosial

budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi sikap dalam menerima informasi.

2.2.3. Proses mengadopsi pengertian

Sebelum seseorang mengadopsi pengetahuan sehingga menjadi perilaku, terdapat

suatu proses berurutan, dimana menurut Dewi dan Wawan (2011) adalah sebagai berikut:

1. Awareness (kesadaran) yaitu orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih

dahulu terhadap stimulasi (objek).

2. Interest (merasa tertarik) dimana individu mulai menaruh perhatian terhadap stimulasi

tersebut

3. Evaluation (menimbang) dimana individu akan mulai mepertimbangkan baik

buruknya tindakan terhadap stimulus tersebut bagi dirinya

4. Trial, yaitu saat individu mulai mencoba perilaku baru

5. Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan

sikap terhadap stimulus.

Pada penelitian selanjutnya Rogers (1974) dalam Notoatmojo (2010) menyimpulkan

bahwa pengadopsian perilaku yang melalui proses di atas dan didasari oleh pengetahuan,

kesadaran yang positif, maka perilaku tersebut akan berlangsung lama (long lasting).

Namun sebaliknya jika perilaku tersebut tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran,

maka perilaku tersebut bersifat sementara dan tidak berlangsung lama.
26

2.2.4. Tingkatan Pengetahuan

Tingkat pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif meliputi enam tingkatan:

(Notoatmojo, 2010)

1. Tahu (know)

Tahu adalah mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Pengetahuan

tingkat ini adalah mengingat kembali suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang

dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

2. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang

objek yang diketahui dan dapat diinterpretasikan secara benar.

3. Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menjabarkan materi yang telah dipelajari

pada situasi atau kondisi sebenarnya. Aplikasi ini dapat berupa aplikasi atau

penggunaan

hukum-hukum, rumus metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang

lain.

4. Analisis (analysis)

Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam

komponen-komponen yang masih ada dalam satu struktur organisasi dan masih ada

kaitannya satu sama lain.

5. Sintesa (synthesis)
27

Sintesis merujuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan

bagian-bagian di dalam satu bentuk keseluruhan yang baru. Misalnya dalam menyusun

atau merencanakan.

6. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi adalah kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu

materi atau objek. Penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan secara

individu maupun menggunakan kriteria yang telah tersedia.

2.3. Sikap

2.3.1. Definisi Sikap

Menurut Notoatmojo (2010), sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang

masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Menurut Heri Purwanto (1998), sikap

adalah pandangan-pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk bertindak

sesuai sikap objek tadi.

2.3.2. Faktor yang Mempengaruhi Terbentuknya Sikap

Pembentukan sikap seseorang sangat dipengaruhi oleh: kepribadian, intelegensi, dan

minat. Sikap dapat dipelajari, dibentuk, dan akan mencerminkan kepribadian seseorang.

Sikap mempunyai tiga komponen, yaitu: 1) kepercayaan, ide, dan konsep terhadap sebuah

objek; 2) kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek; 3) kecenderungan untuk

bertindak. Ketiga komponen ini membentuk sebuah sikap yang utuh. Dalam penentuan
28

sikap yang utuh ini, pengetahuan, berpikir, keyakinan, dan emosi memgang peranan

penting (Notoatmojo, 2003).

2.3.3. Tingkatan Sikap

Menurut Notoatmojo (2003), tingkatan sikap dibagi menjadi empat bagian umum,

diantaranya adalah:

1. Menerima (receiving), yaitu seseorang (subjek) mau menerima stimulus yang

diberikan (objek).

2. Menanggapi (responding), yaitu memberikan jawaban atau tanggapan terhadap

pertanyaan atau objek yang dihadapi.

3. Menghargai (valuing), yaitu subjek atau seseorang memberikan nilai yang positif

terhadap objek atau stimulus, dalam arti membahasnya dengan orang lain dan bahkan

mengajak atau mempengaruhi orang lain merespon.

4. Bertanggung jawab (responsible), yaitu sikap bertanggung jawab atas segala sesuatu

yang telah dipilihnya dengan segala resiko.

2.3.4. Struktur dan Pembentukan Sikap

Struktur sikap terdiri atas komponen yang saling menunjang yaitu komponen

kognitif, afektif, dan konatif. Komponen kognitif merupakan representasi apa yang berlaku

atau apa

yang benar bagi objek sikap. Sekali kepercayaan telah terbentuk, maka akan menjadi dasar

pengetahuan seseorang mengenai apa yang dapat diharapkan dari objek tertentu.

Komponen afektif merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional subjektif
29

terhadap suatu objek sikap. Komponen konatif merupakan aspek kecenderungan

berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya.

Pengertian kecenderungan berperilaku menunjukkan bahwa komponen afektif meliputi

juga bentuk-bentuk perilaku yang berupa pertanyaan atau perkataan yang diucapkan

seseorang. (Azwar, 2005)

Pembentukan sikap menurut Azwar (2005) dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

1. Pengalaman pribadi yang meninggalkan kesan yang kuat. Sikap akan lebih mudah

terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan

faktor emosional.

2. Pengaruh orang lain yang dianggap penting juga salah satu komponen sosial yang ikut

mempengaruhi sikap.

3. Pengaruh kebudayaan dimana kita dibesarkan juga memberi pengaruh besar dalam

pembentukan sikap.

4. Media massa juga mempengaruhi pembentukan sikap meskipun dampaknya tidak

sebesar interaksi individual secara langsung.

5. Lembaga agama dan pendidikan mempengaruhi pembentukan sikap karena keduanya

meletakkan dasar pengertian dan konsep diri seseorang.

6. Pengaruh faktor emosional merupakan pernyataan yang didasari emosi yang berfungsi

sebagai penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego.

2.3.5. Komponen Sikap
30

Biasanya para peneliti berpendapat sikap terdiri atas tiga komponen, yaitu kesadaran,

perasaan dan perilaku. Karena untuk memahami sikap sangat rumit, maka ketiga

komponen ini sangat membantu dalam memahami hubungan potensial antara sikap dan

perilaku. Dalam banyak hal, kesadaran dan perasaan tidak dapat dipisahkan. Hal ini

dikarenakan kesadaran dan perasaan biasanya muncul secara bersama-sama. Kemudian,

perasaan bisa menimbulkan hasil akhir perilaku seseorang. Meskipun kita sering berpikir

bahwa kesadaran menimbulkan peraaan yang akan menentukan perilaku, pada

kenyataannya komponen-komponen ini sulit untuk dipisahkan, karena saling berkaitan satu

dengan yang lainnya. (Robbins & Judge, 2007).

2.3.6. Pembagian Sikap

Secara garis besar sikap dapat dibedakan menjadi dua yaitu sikap positif dan sikap

negatif. Sikap positif merupakan sikap yang menunjukkan atau mempertahankan,

menerima, mengakui, menyetujui, serta melaksanakan norma-norma yang berlaku. Sikap

negatif merupakan sikap yang menunjukkan atau memperlihatkan penolakan atau tidak

menyetujui norma yang berlaku. Salah satu cara untuk mengukur sikap seseorang yaitu

dengan skala kuesioner. Skala penilaian sikap mengandung serangkaian pernyataan tentang

permasalahan tertentu. (Heri Purwanto, 1998)
31

2.4. Kerangka Teori

Skema Kerangka Teori

IMUNISASI DASAR LENGKAP Anak

Definisi dan Tujuan Imunisasi

Cara Kerja Imunisasi
Penyakit
Cara Pemberian Imunisasi
 Disuntikkan
 Diteteskan di mulut

5 Jenis Imunisasi Dasar Lengkap
 Hepatitis B
 BCG
 DPT
 Polio
 Campak

Kontraindikasi Imunisasi

Kegiatan Ikutan Pasca Imunisasi
BAB 3

KERANGKA KONSEPTUAL HIPOTESIS PENELITIAN

3.1.Kerangka Konsep

Skema Kerangka Konsep

Ketakutan
akan efek
Biaya samping

Capaian
Kesadaran
imunisasi
dan Gambaran
belum
pengetahuan penelitian
mencapai
target ibu

Waktu dan Minimnya
tempat sumber
informasi

Variabel bebas Hubungan variabel bebas
Variabel tergantung Hubungan variabel tergantung
Garis koordinasi

32
BAB 4

METODOLOGI PENELITIAN

4.1.Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan studi observasional deskriptif untuk mengetahui gambaran

tingkat pengetahuan dan sikap ibu terhadap pentingnya imunisasi dasar lengkap pada

anak di Puskesmas Kassi-Kassi.

4.2.Tempat dan Waktu

Penelitian ini akan dilaksanakan di Puskesmas Kassi-Kassi pada Oktober-November

2017.

4.3.Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini adalah ibu-ibu yang datang membawa anaknya ke posyandu-

posyandu yang ada di Puskesmas Kassi-Kassi untuk diberikan imunisasi dasar.

Sampel penelitian adalah semua populasi terjangkau yang memenuhi kriteria

inklusi penelitian. Sampel penelitian ini adalah ibu-ibu yang datang membawa

anaknya ke posyandu-posyandu yang ada di Puskesmas Kassi-Kassi untuk diberikan

imunisasi dasar.

4.4.Perkiraan Besar Sampel

Besar sampel penelitian ini diambil dengan metode random sampling dengan

menggunakan rumus Slovin:

𝑁. 𝑍 2 . 𝑝. 𝑞
𝑛=
(𝑑(𝑁 − 1) + 𝑍)𝑝. 𝑞

33
34

Keterangan:

n = perkiraan besar sampel

Z = tingkat kepercayaan (standar nilai normal untuk α = 0.05 (1,96))

α = tingkat signifikansi

N = perkiraan jumlah populasi wanita yang telah berkeluarga dan memiliki anak

berumur 0-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi = 55 orang

d = nilai presisi = 5%

P = proporsi populasi = 0,5

Dengan demikian, jumlah sampel yang digunakan adalah:

55. 1,962 .0,5.0,5
𝑛=
(0,05(55 − 1) + 1,96)0,5.0,5

52,822
𝑛=
1,165

n = 45,34, dibulatkan menjadi 46 sampel.

Sampel penelitian ini adalah wanita yang sudah berkeluarga dan memiliki anak

berumur 0-12 bulan di Puskesmas Kassi-Kassi untuk diberikan imunisasi dasar

periode Oktober-November 2017.
35

4.5. Cara Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel yang diterapkan adalah metode simple random sampling

yaitu semua populasi wanita yang sudah berkeluarga dan memiliki anak berumur 0-

12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi periode Oktober – November 2017.

4.6. Kriteria Inklusi dan Eksklusi

4.6.1. Kriteria Inklusi

1. Terdaftar sebagai warga di Puskesmas Kassi-Kassi yang datang berkunjung ke

posyandu dengan membawa anaknya untuk mendapatkan imunisasi dasar.

2. Memiliki buku pencatatan tanggal pemberian imunisasi yang dapat dievaluasi

sesuai dengan variabel yang akan diteliti.

3. Memiliki anak berumur 0-12 bulan.

4.6.2. Kriteria Eksklusi

Terdapat variabel yang tidak lengkap dalam buku pencatatan tanggal pemberian

imunisasi anak.

4.7.Etika Penelitian

1. Menyertakan surat pengantar yang ditujukan kepada pihak pemerintah sebagai

permohonan izin untuk melakukan penelitian.

2. Persetujuan bersedia sebagai sampel penelitian untuk orang tua pasien.

3. Segala tindakan dilakukan setelah persetujuan dari Komisi Etik Fakultas

Kedokteran Universitas Hasanuddin.
36

4.8. Manajemen dan Analisis Data

4.8.1 Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan setelah meminta perizinan dari pihak pemerintah

dan Puskesmas pengambilan sampel. Data tersebut diperoleh melalui beberapa

pertanyaan yang ada dalam kuesioner yang kemudian diajukan kepada ibu-ibu yang

berkunjung ke posyandu-posyandu di Puskesmas Kassi-Kassi. Setelah itu dilakukan

pengamatan dan pencatatan langsung ke dalam kuesioner yang telah disediakan.

1. Imunisasi dasar lengkap pada anak

Imunisasi dasar diukur dengan cara mencatat imunisasi dasar yang sudah

diberikan dari buku imunisasi masing-masing anak dengan standar pengukuran

berdasarkan tabel imunisasi PPI tahun 2012 dan diisi pada kuesioner, kemudian

disesuaikan dengan jadwal imunisasi PPI. Imunisasi dasar ini diukur dengan

menggunakan kuesioner.

Hasil ukur yang akan tertera adalah:

a. Imunisasi dasar pada anak lengkap

b. Imunisasi dasar pada anak tidak lengkap

2. Pengetahuan ibu mengenai imunisasi

Pengetahuan ibu akan diukur dengan menggunakan kuesioner yaitu dengan

mencatat jawaban dari pertanyaan kuesioner yang diberikan kepada ibu, kemudian

dihitung jumlah jawaban yang benar.
37

Hasil pengukuran yang diperoleh adalah:

a. Pengetahuan ibu tentang imunisasi adalah baik, apabila ibu mampu

menjawab lebih atau sama dengan 8 pertanyaan (≥80%).

b. Pengetahuan ibu tentang imunisasi cukup, apabila ibu mampu menjawab 6-7

(60%-70%) pertanyaan dengan benar.

c. Pengetahuan ibu tentang imunisasi kurang, apabila ibu mampu menjawab

kurang atau sama dengan 5 pertanyaan (≤50%)

3. Kesadaran ibu mengenai imunisasi

Kesadaran ibu akan diukur dengan menggunakan kuesioner yaitu dengan

mencatat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diberikan dalam kuesioner

dan dihitung jawaban yang setuju.

Hasil yang akan dicantumkan adalah:

a. Ibu dikategorikan setuju terhadap imunisasi, apabila ibu setuju dengan

pernyataan pada kuesioner sebanyak 8 pernyataan (80%) atau lebih.

b. Ibu dikategorikan tidak setuju terhadap imunisasi, apabila ibu setuju dengan

pernyataan pada kuesioner sebanyak kurang dari 8 pernyataan (80%).

4.8.2 Teknik Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan setelah pencatatan data yang dibutuhkan ke dalam

daftar tilik dengan menggunakan Microsoft Excel dan SPSS ver. 24 untuk

memperoleh hasil statistik yang diharapkan.
38

4.8.3 Penyajian Data

Data yang telah diolah akan disajikan dalam bentuk tabel dan diagram untuk

menggambarkan tingkat pengetahuan dan kesadaran ibu terhadap pentingnya

imunisasi dasar lengkap pada anak di Puskesmas Kassi-Kassi.

4.9. Definisi Operasional

1. Imunisasi Dasar Lengkap pada Anak adalah imunisasi wajib berdasarkan

program pemerintah yang terdiri atas BCG, Hepatitis B, DTP, Polio, dan

Campak.

2. Pengetahuan Ibu mengenai Imunisasi mencakup definisi imunisasi, tujuan

imunisasi, manfaat imunisasi, cara pemberian imunisasi, kontraindikasi, cara

kerja, jadwal pemberian, jenis imunisasi dasar program PPI, serta efek samping

imunisasi.

3. Kesadaran Ibu mengenai Imunisasi yang dimaksud adalah persetujuan ibu yaitu

untuk pelaksanaan imunisasi; pentingnya imunisasi; keuntungan imunisasi lebih

banyak dibandingkan dengan kerugiannya; dan cara ibu menangani isu mengenai

imunisasi, jangkauan tempat imunisasi, serta biaya untuk imunisasi.
BAB 5

HASIL PENELITIAN

5. 1. Deskripsi Karakteristik Sampel

5. 1. 1. Karakteristik Sampel menurut Umur Ibu

Sampel merupakan ibu-ibu yang mempunyai anak 0-12 bulan dan dibawa ke

Puskesmas Kassi-Kassi untuk diimunisasi. Sampel penelitian berjumlah 50 orang.

Berdasarkan hasil pengumpulan data karakteristik sampel menurut umur dapat dilihat

pada tabel di bawah ini:

Tabel 5.1. Distribusi Sampel menurut Umur Ibu

Umur (tahun) Jumlah Persentase (%)

≤20 3 6

21-30 37 74

31-40 10 20

Total 50 100

Graf
ik 5.1.
Distribusi Sampel menurut Umur Ibu Distribusi
74%
Sampel
80%
menurut
70%
60% Umur Ibu
Persentase

50%
40%
30% 20%
20%
6%
10%
0%
<=20 21-30 31-40
39 Umur
Kategori
40

Berdasarkan tabel dan grafik 5.1., dapat dilihat bahwa ibu-ibu di Puskesmas Kassi-

Kassi umumnya berada pada kelompok umur 21-30 tahun, yaitu sebanyak 37 orang

(74%), kemudian diikuti oleh kelompok umur 31-40 tahun sebanyak 10 orang (20%),

dan paling sedikit pada kelompok umur kurang dari 20 tahun, yaitu hanya sebanyak 3

orang (6%).

5. 1. 2. Karakteristik Sampel menurut Pendidikan Terakhir Ibu

Sedangkan karakteristik sampel menurut pendidikan terakhir dapat dilihat

pada tabel berikut:

Tabel 5.2. Distribusi Sampel menurut Pendidikan Terakhir Ibu

Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase (%)

SD 4 orang 8

SMP 10 orang 20

SMA/SMK 22 orang 44

D3/S1 14 orang 28

Total 50 orang 100

Grafik 5.2. Distribusi Sampel menurut Pendidikan Terakhir Ibu
41

Distribusi Sampel menurut Pendidikan
Terakhir Ibu
50% 44%
40%
Persentase
28%
30%
20%
20%
8%
10%
0%
SD SMP SMA/SMK D3/S1
Pendidikan Terakhir

Berdasarkan tabel dan grafik 5.2., dapat dilihat bahwa ibu-ibu di Puskesmas

Kassi-Kassi umumnya terakhir mengenyam pendidikan pada tingkat SMA/SMK

sebanyak 22 orang (44%), kemudian di urutan kedua pada tingkat D3/S1 sebanyak 14

orang (28%), yang diikuti pada tingkat SMP sebanyak 10 orang (20%) di urutan

ketiga, dan yang paling sedikit pada tingkat SD sebanyak 4 orang (8%).

5. 2. Hasil Uji Kuesioner

5.2.1. Hasil Uji Validitas Kuesioner

Setelah dilakukan uji validitas pada kuesioner, didapatkan hasil bahwa setiap

nomor dalam kuesioner valid. Hal ini dapat dilihat dari perolehan nilai r hitung setiap

nomor ≥ r tabel, dimana r tabel yang didapatkan adalah 0,3610, sesuai tingkat

signifikansi 0,05.

5.2.2. Hasil Uji Reliabilitas Kuesioner

Setelah dilakukan uji reliabilitas pada kuesioner, didapatkan hasil bahwa

kuesioner bersifat reliabel. Hal ini dapat dilihat dari perolehan nilai Cronbach alpha

sebesar 0,732 yang lebih besar dari 0,6.
42

5. 3. Hasil Analisa Data

Setelah kuesioner dikumpulkan dan diolah, diperoleh data yang disajikan dalam

bentuk distribusi tabel dan grafik yang menggambarkan tingkat pengetahuan dan

kesadaran ibu mengenai imunisasi dasar lengkap pada anak di Puskesmas Kassi-

Kassi.

5.3. 1. Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu

1. Distribusi Tingkat Pengetahuan Ibu menurut Skor

Tabel 5.3. Distribusi Tingkat Pengetahuan Ibu menurut Skor

Skor Jumlah Persentase (%)

4 2 orang 4

5 5 orang 10

6 4 orang 8

7 9 orang 18

8 9 orang 18

9 13 orang 26

10 8 orang 16

Total 50 orang 100
43

Grafik 5.3. Distribusi Tingkat Pengetahuan Ibu menurut Skor

Tingkat Pengetahuan Ibu menurut Skor
30%
26%
25%

20% 18% 18%
PERSENTASE

16%
15%
10%
10% 8%

4%
5%

0%
4 5 6 7 8 9 10
SKOR

Berdasarkan tabel dan grafik 5.3., dapat dilihat bahwa tingkat pengetahuan ibu

di Puskesmas Kassi-Kassi terbanyak pada skor 9, yaitu sebanyak 13 orang (26%),

kemudian di urutan kedua yaitu pada skor 7 dan 8 sebanyak 9 orang (18%), diikuti

skor 10 sebanyak 8 orang (16%). Pada urutan berikutnya yaitu pada skor 5 sebanyak

5 orang (10%), diikuti skor 6 sebanyak 4 orang (8%), dan di urutan terakhir yaitu

skor 4 sebanyak 2 orang (4%).

2. Distribusi Tingkat Pengetahuan Ibu menurut Kategori

Tabel 5.4. Distribusi Tingkat Pengetahuan Ibu menurut Kategori

Kategori Jumlah Persentase (%)

Baik 30 orang 60

Cukup 13 orang 26
44

Kurang 7 orang 14

Total 50 orang 100

Tingkat Pengetahuan Ibu menurut Kategori

70%
60%
60%
50%
PERSENTASE

40%
30%
20% 26%
10% 14%
0%
Baik Cukup Kurang
KATEGORI

Grafik 5.4. Distribusi Tingkat Pengetahuan Ibu menurut Kategori

Berdasarkan tabel dan grafik 5.4., tingkat pengetahuan ibu umumnya berada

pada kategori baik, yaitu sebanyak 30 orang (60%). Selanjutnya diikuti oleh

kategori cukup sebanyak 13 orang (26%), kemudian terakhir oleh kategori
45

kurang sebanyak 7 orang (14%). Adapun dikatakan baik apabila tingkat

pengetahuan ibu lebih atau sama dengan 80%, dikatakan cukup apabila 60-

70%, dan dikatakan kurang apabila kurang atau sama dengan 50%.

3. Frekuensi Jawaban Kuesioner Tingkat Pengetahuan

Tabel 5.5. Distribusi Jawaban Kuesioner Tingkat Pengetahuan

Nomor Jawaban Benar Jawaban Salah

Jumlah Persentase (%) Jumlah Persentase (%)

1 38 76 12 24

2 48 96 2 4

3 36 72 14 28

4 50 100 0 0

5 44 88 6 12

6 45 90 5 10

7 43 86 7 14

8 19 38 31 62

9 39 78 11 22

10 27 54 23 46
46

Grafik 5.5. Distribusi Jawaban Kuesioner Tingkat Pengetahuan

Frekuensi Jawaban Responden
120%

100%
96% 100%
PERSENTASE

80% 88% 90% 86%
76% 78%
60% 72%
62%
40% 54%
46%
38%
20% 28%
24% 4% 0% 12% 10% 14% 22%
0%
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
NOMOR SOAL KUESIONER

Benar Salah

Berdasarkan tabel dan grafik 5.5., dapat dilihat frekuensi jawaban kuesioner

pada masing-masing poin kuesioner. Pada nomor 1, diperoleh sebanyak 38 (76%)

jawaban benar, dan sebanyak 12 (24%) jawaban salah. Pada nomor 2, diperoleh

sebanyak 48 (96%) jawaban benar, dan sebanyak 2 (4%) jawaban salah. Pada nomor

3 diperoleh sebanyak 36 (72%) jawaban benar dan 14 (28%) jawaban salah. Pada

nomor 4, tidak diperoleh jawaban salah sehingga diperoleh 50 (100%) jawaban benar.

Pada nomor 5, diperoleh sebanyak 44 (88%) jawaban benar dan 6 (12%) jawaban

salah. Pada nomor 6, diperoleh sebanyak 45 (90%) jawaban benar dan 5 (10%)

jawaban salah. Pada nomor 7, diperoleh sebanyak 43 (86%) jawaban benar dan 7

(14%) jawaban salah. Pada nomor 8, diperoleh sebanyak 19 (38%) jawaban benar dan

31 (62%) jawaban salah. Pada nomor 9, diperoleh sebanyak 39 (78%) jawaban benar
47

dan 11 (22%) jawaban salah. Pada nomor 10, diperoleh sebanyak 27 (54%) jawaban

benar dan 23(46%) jawaban salah.

5.3. 2. Gambaran Tingkat Kesadaran Ibu

1. Gambaran Tingkat Kesadaran Ibu menurut Nilai

Tabel 5.6. Gambaran Tingkat Kesadaran Ibu menurut Nilai
Nilai Jumlah Persentase (%)

6 1 orang 2

7 0 orang 0

8 9 orang 18

9 11 orang 22

10 29 orang 58

Total 50 orang 100

Grafik 5.6. Gambaran Tingkat Kesadaran Ibu menurut Nilai

Tingkat Kesadaran Ibu menurut Nilai
70%
60%
50% 58%
PERSENTASE

40%
30%
20%
22%
10% 18%
2% 0%
0%
6 7 8 9 10
NILAI
48

Berdasarkan tabel dan grafk 5.6., dapat dilihat bahwa tingkat kesadaran ibu

mengenai imunisasi dasar di Puskesmas Kassi-Kassi umumnya berada pada nilai 10,

yaitu sebanyak 29 orang (58%), kemudian diikuti pada nilai 9 sebanyak 11 orang

(22%), di urutan ketiga yaitu pada nilai 8 sebanyak 9 orang (18%), dan terakhir pada

nilai 6 yaitu sebanyak 1 orang (2%). Tidak terdapat responden yang memperoleh nilai

7.

2. Gambaran Tingkat Kesadaran Ibu menurut Kategori

Tabel 5.7. Gambaran Tingkat Kesadaran Ibu menurut Kategori

Kategori Jumlah Persentase (%)

≥80% 49 98%

<80% 1 2%

Total 50 100%

Grafik 5.7. Gambaran Tingkat Kesadaran Ibu menurut Kategori
49

Tingkat Kesadaran Ibu menurut Kategori
120%

100%
98%
80%
PERSENTASE

60%

40%

20%
2%
0%
≥80% <80%
KATEGORI

Berdasarkan tabel dan grafik 5.7., tingkat kesadaran ibu di Puskesmas Kassi-

Kassi umumnya berada di kategori ≥80% yaitu sebanyak 49 orang (98%). Pada

kategori <80% terdapat sebanyak 1 orang (2%).

3. Frekuensi Jawaban Kuesioner Tingkat Kesadaran

Tabel 5.8. Distribusi Jawaban Kuesioner Tingkat Kesadaran

Nomor Setuju Tidak Setuju

Jumlah Persentase (%) Jumlah Persentase (%)

1 50 100 0 0

2 50 100 0 0

3 48 96 2 4

4 47 94 3 6

5 37 74 13 26
50

6 38 76 12 24

7 48 96 2 4

8 50 100 0 0

9 49 98 1 2

10 50 100 0 0

Grafik 5.8. Distribusi Jawaban Kuesioner Tingkat Kesadaran

Frekuensi Jawaban Responden
120%
100% 100% 96% 96% 100% 98% 100%
100% 94%

74% 76%
PERSENTASE

80%

60%

40% 26% 24%
20% 6%
0% 0% 4% 4% 0% 2% 0%
0%
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
NOMOR SOAL KUESIONER

setuju tidak setuju

Berdasarkan tabel dan grafik 5.8., dapat dilihat frekuensi jawaban masing-

masing poin kuesioner. Pada nomor 1, tidak terdapat jawaban tidak setuju sehingga

terdapat 50 (100%) jawaban setuju. Pada nomor 2 juga tidak terdapat jawaban tidak

setuju sehingga terdapat 50 (100%) jawaban setuju. Pada nomor 3 terdapat 48 (96%)

jawaban setuju dan 2 (4%) jawaban tidak setuju. Pada nomor 4 terdapat 47 (94%)

jawaban setuju dan 3 (6%) jawaban tidak setuju. Pada nomor 5 terdapat 37 (74%)
51

jawaban setuju dan 13 (26%) jawaban tidak setuju. Pada nomor 6 terdapat 38 (76%)

jawaban setuju dan 12 (24%) jawaban tidak setuju. Pada nomor 7 terdapat 48 (96%)

jawaban setuju dan 2 (4%) jawaban tidak setuju. Pada nomor 8 tidak terdapat

jawaban tidak setuju sehingga terdapat 50 (100%) jawaban setuju. Pada nomor 9

terdapat 49 (98%) jawaban setuju dan 1 (2%) jawaban tidak setuju. Pada nomor 10

tidak terdapat jawaban tidak setuju sehingga jawaban setuju berjumlah 50 (100%).
50

BAB 6

PEMBAHASAN

Telah dilakukan penelitian mengenai gambaran tingkat pengetahuan dan

kesadaran ibu mengenai imunisasi dasar lengkap di Puskesmas Kassi-Kassi. Total

sampel yang mengikuti penelitian ini adalah 50 orang, yang semuanya berjenis

kelamin perempuan. Dari 50 sampel, yang berusia 21-30 tahun memiliki jumlah

terbanyak daripada kelompok umur lainnya, yaitu sebanyak 37 orang (74%). Jika

ditinjau menurut pendidikan terakhir, sampel dengan pendidikan terakhir SMA/SMK

memiliki jumlah terbanyak dibanding kelompok lainnya yaitu 22 orang (44%).

6. 1. Tingkat Pengetahuan Ibu mengenai Imunisasi

Dari data hasil penelitian di atas, tingkat pengetahuan ibu mengenai imunsasi

menunjukkan bahwa ibu yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik adalah sebesar

60% (30 orang), dibandingkan dengan ibu yang memiliki tingkat pengetahuan cukup

adalah sebesar 26% (13 orang), sedangkan ibu dengan tingkat pengetahuan kurang

adalah sebesar 14% (7 orang). Namun dilihat dari tingkat pengetahuan ibu menurut

skor, tingkat pengetahuan ibu dengan skor 7 memiliki jumlah yang sama dengan ibu

yang memeperoleh skor 8, yaitu 9 orang (18%), sehingga dapat kita lihat bahwa dari

26% ibu dengan tingkat pengetahuan cukup, setengahnya telah mendekati skor

tingkat pengetahuan baik.

50
51

Pada umumnya, ibu-ibu belum mengetahui mengenai isi dari imunisasi yang

diberikan. Seperti yang dapat dilihat pada tabel dan grafik 5.5., pada poin kuesioner

nomor 8 dengan pertanyaan mengenai isi dari imunisasi yang diberikan, terdapat

lebih banyak ibu yang tidak menjawab dengan benar, yaitu sebanyak 31 orang (62%).

Selain itu, cukup banyak ibu yang juga tidak menjawab dengan benar pada

pertanyaan nomor 10 mengenai kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) sebanyak 23

orang (46%). Hal ini menunjukkan ibu-ibu masih belum mengetahui dengan tepat

mengenai asal usul imunisasi, dan juga mungkin belum akrab dengan istilah kejadian

ikutan pasca imunisasi (KIPI).

Karakteristik dari tingkat pendidikan ibu di Puskesmas Kassi-Kassi terdiri dari

tingkat pendidikan Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah

Atas, hingga Perguruan Tinggi. Banyaknya proporsi ibu yang memiliki tingkat

pengetahuan baik mungkin dapat disebabkan tingkat pendidikan ibu yang rata-rata di

tingkat pendidikan Menengah Atas (SMA/SMK), sehingga ibu-ibu mungkin telah

mendapatkan materi mengenai imunisasi dan memiliki wawasan yang lebih luas

mengenai imunisasi pada anak. Selain itu, ibu-ibu di Puskesmas Kassi-Kassi rata-rata

berusia 21-30 tahun, dimana usia ini dikenal dengan usia produktif dan kemungkinan

berperan dalam tingkat pengetahuan pada anak. Namun hal ini belum dapat

dipastikan karena jumlah sampel yang tidak sebanding antar kelompok umur maupun

kelompok pendidikan terakhir.

Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan atau kognitif merupakan komponen

yang sangat penting dalam menentukan tindakan seseorang, dimana perilaku
52

seseorang yang dilandasi oleh pengetahuan lebih teguh dan tahan lama daripada

perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Pengetahuan ibu yang baik mengenai

imunisasi menmotivasi ibu-ibu untuk memberikan imunisasi lengkap pada anaknya,

karena ibu tersebut mengerti manfaat imunisasi pada bayinya.

Hasil penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sari pada

tahun 2015 di Puskesmas Bendo Kabupaten Magetan. Pada penelitian ini diperoleh

hasil sebesar 52,3% ibu mempunyai tingkat pengetahuan yang baik, dimana 49,2%

diantaranya memiliki status imunisasi lengkap. Sedangkan terdapat sebesar 30,8%

bayi dengan status imunisasi tidak lengkap dengan pengetahuan ibu yang kurang

baik. Seperti yang telah diketahui bahwa capaian imunisasi Puskesmas Kassi-Kassi

telah mencapai target dan termasuk tinggi, sehingga tidak mengejutkan jika tingkat

pengetahuan ibu-ibu di wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi sebagian besar baik.

6. 2. Tingkat Kesadaran Ibu mengenai Imunisasi

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dan diinterpretasikan

dalam tabel dan grafik menunjukkan bahwa ibu yang setuju ≥80% dari pernyataan

kuesioner terhadap imunisasi adalah sebesar 98% (49 orang), sedangkan ibu yang

memiliki kesadaran <80% terhadap imunisasi hanya sebesar 2% (1 orang). Dalam

kategori ≥80%, sebagian besar (58%) setuju sepenuhnya dengan pernyataan pada

kuesioner, yang dilihat dari perolehan skor 10. Kemudian secara bertahap menurun

pada skor 9 dan 8, masing-masing sebesar 22% dan 18% dari seluruh sampel.
53

Sedangkan ibu yang termasuk dalam kategori tidak setuju hanya 1 orang (2%) dan

memperoleh skor 6.

Sikap individu dapat dibentuk maupun dipelajari yang diperoleh dari

informasi dan pengalaman dengan kaitannya dengan situasi, kondisi, dan objek

tersebut. Pernyataan ini sesuai dengan yang dijelaskan Notoatmodjo (2005) bahwa

terbentuknya suatu perilaku baru terutama pada orang dewasa, dimulai pada domain

kognitif atau pengetahuan, yang berarti seseorang tahu terlebih dahulu stimulus yang

dapat berupa materi atau suatu objek. Kemudian hal ini menimbulkan suatu respon

yang baru terhadap objek tersebut yang akhirnya akan dihasilkan respon yang lebih

jauh, yaitu tindakan.

Pada umumnya setiap pernyataan pada kuesioner disetujui oleh sebagian

besar responden, yang menghasilkan hasil 98% kategori kesadaran ≥80% terhadap

imunisasi. Namun terdapat juga beberapa pernyataan yang cenderung tidak disetujui

oleh para ibu di Puskesmas Kassi-Kassi. Responden cenderung keberatan dengan

pernyataan nomor 5 dan 6, yaitu mengenai efek samping imunisasi, masing-masing

dengan respon tidak setuju sebesar 26% dan 24%. Para ibu cenderung tidak setuju

membawa anaknya kembali untuk diimunisasi jika telah mengalami demam pada

imunisasi sebelumnya, dan juga jika mendengar kasus efek samping yang terjadi dari

orang di sekitarnya. Hal ini mungkin terjadi karena para ibu tidak sepenuhnya

memahami efek samping imunisasi, sehingga terkadang menganggap KIPI sebagai

hal yang membahayakan dan menjadi tidak percaya dengan imunisasi. Hal ini
54

mungkin terjadi mengingat cukup banyak jawaban yang tidak tepat pada pertanyaan

mengenai KIPI.

Hasil penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Dwi

Agung Riyanto pada tahun 2013 di Kampung Cantilan Kelurahan Kagungan

Kecamatan Kasemen Kota Serang. Pada penelitian ini diperoleh hasil sebesar 69,7%

ibu menunjukkan sikap positif, dimana 59,2% diantaranya memiliki status imunisasi

lengkap. Sedangkan terdapat sebesar 23,7% bayi dengan status imunisasi tidak

lengkap dengan kesadaran ibu yang masih rendah. Pada penelitian tersebut

didapatkan nilai p=0.000, dengan nilai OR = 20,25 yang menunjukkan ibu yang

menunjukkan sikap positif memiliki peluang sebesar 20 kali untuk melaksanakan

imunisasi dasar. Mengingat tingginya capaian imunisasi di Puskesmas Kassi-Kassi,

maka wajar kesadaran ibu untuk membawa anaknya diimunisasi juga tinggi.

Pada umumnya ibu-ibu yang memiliki sikap setuju terhadap imunisasi

memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi mengenai imunisasi dasar lengkap. Namun

tidak menutup kemungkinan, sikap setuju yang diberikan ibu-ibu juga disebabkan

oleh faktor-faktor lainnya selain karena pengetahuan ibu, misalnya karena melihat

tetangga lain membawa anaknya ke posyandu.

6.3. Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini pula memiliki beberapa kelemahan, yaitu cakupan sampel yang

tidak merata, yaitu hanya mencakup ibu-ibu dengan status imunisasi dasar lengkap.

Selain itu, penelitian ini tidak mencari hubungan antar variabel.
BAB 7

KESIMPULAN DAN SARAN

7. 1. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan mengenai tingkat pengetahuan

dan kesadaran ibu mengenai imunisasi dasar lengkap pada anak di Puskesmas Kassi-

Kassi, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

a. Tingkat pengetahuan ibu yang memiliki anak dengan imunisasi dasar lengkap

mengenai imunisasi dasar adalah pengetahuan baik.

b. Tingkat kesadaran ibu yang memiliki anak dengan imunisasi dasar lengkap

mengenai imunisasi dasar adalah kesadaran baik (≥80%).

7. 2. Saran

Setelah penelitian ini, peneliti mengharapkan beberapa hal antara lain

sebagai berikut:

a. Bagi tenaga kesehatan sebaiknya dalam penyuluhan ditekankan mengenai isi

dari imunisasi dan efek samping imunisasi, serta Kejadian Ikutan Pasca

Imunisasi (KIPI), sehingga masyarakat memiliki pengetahuan dan kesadaran

mengenai imunisasi dengan lebih menyeluruh dan tepat.

55
56

b. Bagi masyarakat untuk lebih aktif mengikuti penyuluhan kesehatan untuk

menambah pengetahuan mengenai kesehatan dan imunisasi.

c. Bagi peneliti selanjutnya dapat mengambil sampel tidak hanya ibu dengan

status imunisasi lengkap, tetapi juga ibu dengan status imunisasi dasar yang

tidak lengkap. Selain itu peneliti selanjutnya juga dapat meneliti lebih jauh

mengenai hal ini, misalnya dengan mencari hubungan pengetahuan atau

kesadaran dengan imunisasi dasar.
DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Saifuddin. 2005. Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka

Pelajar.

Cherry, James D., MD. 2012. The New England Journal of Medicine: Perspective-

Epidemic Pertussis in 2012 – The Resurgence of a Vaccine-Preventable Disease.

http://www.nejm.org/doi/pdf/10.1056/NEJMp1209051. Diakses tanggal 14 Juni 2017.

Departemen Kesehatan RI. 2001. Pemantauan Pertumbuhan Balita. Jakarta: Departemen

Kesehatan.

Departemen Kesehatan RI. 2006. Petunjuk Teknis Kampanye Imunisasi DPT-HB. Jakarta:

Departemen Kesehatan.

Dewi, A.P., Eryati D., Edison. 2013. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu dengan

Pemberian Imunisasi Dasar Lengkap pada Bayi di Kelurahan Parupuk Tabing

Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Buaya Kota Padang tahun 2013. Jurnal Kesehatan

Andalas.

Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Makassar. 2016. Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun

2015. Makassar: Dinas Kesehatan.

Elizabeth Hurlock, 1998. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.

Fitria, Liza., Hartono Gunardi, Arwin AP Akib. 2010. Pediatrica Indonesiana Vol 50 no. 6:

Influence of Hepatitis B Immunization to Prevent Vertical Transmission of Hep-B

Virus in Infants Born from Hep-B Positive Mother.

57
58

Heri Purwanto. 1998. Pengantar Perilaku Manusia untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.

Hidayat A. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Jakarta: Salemba Medika.

Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2001. Buku Imunisasi Indonesia. Jakarta: IDAI.

Marimbi. 2010. Tumbuh Kembang, Status Gizi, dan Imunisasi Dasar pada Balita.

Yogyakarta: Nuha Medika.

Maryunani. 2012. Ilmu Kesehatan Anak dalam Kebidanan. Jakarta: Trans Info Media.

Wahab S. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson, Volume 1. Jakarta: Penerbit Buku

Kedokteran EGC.

Notoatmojo, Prof. Dr. Soekidjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka

Cipta.

Notoatmojo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Notoatmojo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rhineka Cipta.

Puskesmas Kassi-Kassi. 2011. Profil Puskesmas Kassi-Kassi. Makassar.

Proverawati. 2010. Imunisasi dan Vaksinasi. Yogyakarta: Nuha Medika.

Riyadi, Sujono dan Sukarmin. 2009. Asuhan Keperawatan pada Anak, edisi I. Yogyakarta:

Graha Ilmu.

Riyanto, DA. 2013. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu tentang Imunisasi Dasar dengan

Perilaku Pelaksanaan Imunisasi Dasar pada Balita di Kampung Cantilan Kelurahan
59

Kagungan Kecamatan Kasemen Kota Serang tahun 2013. Bandung: Jurnal Kesehatan

Sekolah Tinggi Kesehatan Borromeus.

Robbins, Stephen P., Judge, Timothy A. 2007. Organizational Behavior. 12th edition.

Pearson Education, Inc., New Jersey.

Sari, DNI., Basuki, SW., Triastuti NJ. 2015. Hubungan Pengetahuan Ibu tentang Imunisasi

Dasar dengan Kelengkapan Imunisasi Dasar Bayi di Wilayah Kerja Puskesmas

Bendo Kabupaten Magetan. Surakarta: Naskah Publikasi Program Studi Kedokteran

Umum FK Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Sutarjo, U. S., dkk. 2016. Profil Kesehatan Indonesia tahun 2015. Jakarta: Kementerian

Kesehatan RI.

Wawan dan Dewi. 2011. Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Manusia. Yogyakarta: Nuha

Medika.

Widyastuti Nur. 1998. Hubungan antara Pengetahuan dan Praktek Ibu dalam Imunisasi

Dasar Lengkap bagi Bayi di Desa Purwokerto Kecamatan Patelon Kabupaten Kendal,

Jawa Tengah. Semarang: Karya Ilmiah Program Studi Kedokteran Umum FK Undip.

World Health Organization. Health Topics: Immunization.

http://www.who.int/topics/immunization/about/en/. Diakses tanggal 4 Juni 2017.

Ziemmerman Barry, Lavi Sasson. 1988. Adverse Reaction to Vaccines. In: Elliot

Middleston Jr., editor. Allergy, principles, and practice. 3rd edition. Vol 1. CV.

Mosby Company.
LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Rekomendasi Persetujuan Etik

60
61

Lampiran 2. Surat Izin Penelitian
62

Lampiran 3. Penjelasan kepada Calon Responden mengenai Penelitian yang Akan

Dilakukan

Selamat pagi Ibu-Ibu.

Salam sejahtera, saya Cynthia Kristi Harlimton, mahasiswi Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin. Sehubungan dengan salah satu persyaratan penyelesaian
pendidikan Sarjana (S1) Kedokteran Program Studi Pendidikan Dokter Umum, Fakultas
Kedokteran, Universitas Hasanuddin, maka saya melaksanakan penelitian yang berjudul
“Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Kesadaran Ibu mengenai Pentingnya Imunisasi Dasar
Lengkap pada Anak”. Adapun salah satu cara untuk mendapatkan data adalah dengan
melalui kuesioner. Karena itu saya sangat berharap kesediaan para ibu sekalian untuk
membantu saya dengan mengisi kuesioner ini sebagai data yang akan digunakan dalam
penelitian ini. Saya membutuhkan waktu dan kesediaan ibu kurang lebih 10 menit untuk mengisi
kuisioner. Jawaban ibu akan dirahasiakan dan tidak akan dipublikasikan. Kuesioner ini semata-
mata digunakan hanya untuk keperluan akademik dan bersifat rahasia, dimana nama ibu
akan kami inisialkan dalam laporan penelitian kami. Untuk itu juga kami berharap para ibu
menjawab setiap pertanyaan dengan jujur.

Atas kesediaannya dan partisipasinya, saya ucapkan banyak terima kasih.

Penanggung Jawab, Peneliti Utama
Nama : Cynthia Kristi Harlimton
Alamat : Jl. Mawar G/17, Makassar
No. Telpon : 0895384276222
63

Lampiran 4. Lembar Persetujuan Setelah Penjelasan (Informed Consent)

FORMULIR PERSETUJUAN MENGIKUTI PENELITIAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini;
Nama / initial :
Alamat :
Nomor telepon :
Setelah mendengar dan mengerti penjelasan yang diberikan oleh peneliti mengenai
tujuan,manfaat,prosedur kerja dan luaran dari proses penelitian ini, maka dengan ini saya
menyatakan bersedia untuk menjadi partisipasi pada penelitian ini tanpa paksaan dari pihak
manapun.
Demikian surat pernyataan ini saya buat, untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.
Makassar,

Yang memberi pernyataan,

( _____________________ )

Saksi 1 : Saksi 2:

( __________________ ) ( __________________ )

Penanggung Jawab Peneliti
Nama : Cynthia Kristi Harlimton
Alamat : Jl. Mawar G 17
No Telepon : 087740824955

Lampiran 5. Lembar Kuesioner Penelitian
64

KUESIONER PENELITIAN IMUNISASI
KARAKTERISTIK RESPONDEN
A) Identitas Ibu
1. Tanggal pengisian :
2. Nama Responden :
3. Umur :
4. Pendidikan Terakhir:
5. Alamat :

B) Identitas Bayi
1. Nama:
2. Tempat / tanggal lahir :
3. Umur :
4. Anak ke- :
5. Jenis kelamin :

Pengetahuan (pilih salah satu)
1. Menurut Anda, apa yang dimaksud dengan imunisasi?
a. Usaha untuk mencegah penyakit infeksi
b. Usaha untuk mengobati penyakit infeksi
c. Usaha untuk meningkatkan gizi anak
d. Tidak tahu

2. Apakah tujuan imunisasi?
a. Supaya anak tidak rewel
b. Supaya anak cerdas
c. Supaya anak tidak terkena penyakit infeksi
d. Tidak tahu

3. Penyakit apa yang bisa dicegah dengan imunisasi?
a. Tetanus
b. Kaki gajah
c. Diabetes
d. Tidaktahu

4. Di bawah ini yang mana termasuk cara pemberian imunisasi?
a. Disuntikkan di paha
65

b. Diteteskan di telinga
c. Dioleskan di kulit tangan
d. Tidak tahu

5. Bagaimana cara kerja imunisasi?
a. Menyembuhkan penyakit
b. Meningkatkan daya tahan tubuh
c. Meningkatkan nafsu makan
d. Tidak tahu

6. Kapan seharusnya imunisasi PERTAMA KALI diberikan pada anak?
a. Sejak lahir
b. Saat umur 1 bulan
c. Saat umur 1 tahun
d. Tidak tahu

7. Imunisasi Campak sebaiknya diberikan pada anak berusia:
a. Segera setelah lahir
b. 1 bulan
c. 9 bulan
d. Tidak tahu

8. Apa isi dari imunisasi yang diberikan?
a. Zat gizi
b. Kuman/virus yang dilemahkan
c. Antibiotik
d. Tidaktahu

9. Berikut ini termasuk jenis imunisasi dasar pada anak, KECUALI:
a. Campak
b. DPT
c. Influenza
d. Tidaktahu

10. Yang tidak termasuk Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) adalah:
a. Sakit pada tempat suntikan
b. Luka
c. Mata juling
d. Tidak tahu

Kesadaran (Tuliskan tanda (√) pada jawaban Anda)
66

Pertanyaan Ya Tidak

1. Apakah Anda setuju anak Anda diimunisasi?

2. Apakah Anda setuju imunisasi penting untuk anak?

3. Apakah Anda yakin imunisasi dapat mencegah penyakit infeksi seperti
polio, tetanus, dsb?
4. Apakah Anda setuju manfaat imunisasi lebih banyak daripada efek
samping yang ditimbulkan?
5. Apakah Anda tetap memberikan persetujuan imunisasi pada anak Anda
jika anak Anda mengalami demam setelah imunisasi sebelumnya?
6. Apakah Anda tetap akan memberikan persetujuan imunisasi pada anak
Anda jika Anda mendengar laporan efek samping yang terjadi pada anak
lain?
7. Apakah Anda tetap member imunisasi pada anak meskipun biayanya
memberatkan Anda?
8. Apakah Anda tetap akan memberikan persetujuan imunisasi pada anak
Anda apabila layanan imunisasi jauh dari rumah Anda?
9. Apakah Anda tetap akan memberikan persetujuan imunisasi anak sesuai
jadwal meskipun terdapat pekerjaan pada hari itu dan Anda sangat
sibuk?
10. Apakah Anda akan menyarankan ibu-ibu lain untuk menyetujui anak
mereka diberikan imunisasi?
67

Lampiran 6. Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Penelitian

Untuk Validitas perhatikan nilai cronbach’s alpha, jika nilai > 0.6 maka keseluruhan
pertanyaan dinyatakan reliabel
Untuk Reliabilitas perhatikan nilai Corrected Item-Total Correlation, jika nilai > 0.3 (nilai
bias positif atau negatif) maka pertanyaan tersebut dinyatakan valid

RELIABILITY
/VARIABLES=A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 A9 A10 A
/SCALE('ALL VARIABLES') ALL
/MODEL=ALPHA
/STATISTICS=DESCRIPTIVE SCALE
/SUMMARY=TOTAL.

Reliability

Scale: ALL VARIABLES
Case Processing Summary
N %
Cases Valid 30 100.0
Excludeda 0 .0
Total 30 100.0
a. Listwise deletion based on all variables in the
procedure.

Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
.732 11

Item Statistics
Mean Std. Deviation N
A1 .3000 .46609 30
A2 .3667 .49013 30
A3 .2000 .40684 30
A4 .3333 .47946 30
A5 .3333 .47946 30
A6 .3333 .47946 30
A7 .3333 .47946 30
68

A8 .3333 .47946 30
A9 .2333 .43018 30
A10 .3667 .49013 30
A 3.1333 2.55604 30

Item-Total Statistics
Scale Mean if Item Scale Variance if Corrected Item- Cronbach's Alpha
Deleted Item Deleted Total Correlation if Item Deleted
A1 5.9667 24.033 .412 .718
A2 5.9000 23.541 .494 .710
A3 6.0667 23.789 .549 .711
A4 5.9333 23.789 .452 .714
A5 5.9333 23.375 .545 .707
A6 5.9333 23.099 .609 .702
A7 5.9333 23.926 .421 .716
A8 5.9333 23.789 .452 .714
A9 6.0333 24.516 .336 .724
A10 5.9000 23.541 .494 .710
A 3.1333 6.533 1.000 .737

Scale Statistics
Mean Variance Std. Deviation N of Items
6.2667 26.133 5.11208 11

Correlations
A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 A9 A10 A
A1 Pearson Correlation 1 ,106 ,036 ,309 ,154 ,154 ,154 ,154 ,327 ,257 ,486**
Sig. (2-tailed) ,578 ,849 ,097 ,416 ,416 ,416 ,416 ,078 ,171 ,006
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
A2 Pearson Correlation ,106 1 ,484** ,342 ,196 ,342 ,196 ,196 -,093 ,282 ,565**
Sig. (2-tailed) ,578 ,007 ,064 ,300 ,064 ,300 ,300 ,626 ,131 ,001
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
A3 Pearson Correlation ,036 ,484** 1 ,177 ,354 ,354 ,177 ,354 -,079 ,484** ,604**
Sig. (2-tailed) ,849 ,007 ,350 ,055 ,055 ,350 ,055 ,679 ,007 ,000
69

N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
A4 Pearson Correlation ,309 ,342 ,177 1 ,250 ,400* -,050 ,100 -,056 ,342 ,525**
Sig. (2-tailed) ,097 ,064 ,350 ,183 ,029 ,793 ,599 ,770 ,064 ,003
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
A5 Pearson Correlation ,154 ,196 ,354 ,250 1 ,250 ,700** ,250 ,111 ,049 ,610**
Sig. (2-tailed) ,416 ,300 ,055 ,183 ,183 ,000 ,183 ,558 ,797 ,000
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
A6 Pearson Correlation ,154 ,342 ,354 ,400* ,250 1 ,100 ,250 ,279 ,489** ,666**
Sig. (2-tailed) ,416 ,064 ,055 ,029 ,183 ,599 ,183 ,136 ,006 ,000
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
A7 Pearson Correlation ,154 ,196 ,177 -,050 ,700** ,100 1 ,250 ,279 -,098 ,497**
Sig. (2-tailed) ,416 ,300 ,350 ,793 ,000 ,599 ,183 ,136 ,607 ,005
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
A8 Pearson Correlation ,154 ,196 ,354 ,100 ,250 ,250 ,250 1 ,279 ,049 ,525**
Sig. (2-tailed) ,416 ,300 ,055 ,599 ,183 ,183 ,183 ,136 ,797 ,003
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
A9 Pearson Correlation ,327 -,093 -,079 -,056 ,111 ,279 ,279 ,279 1 ,234 ,410*
Sig. (2-tailed) ,078 ,626 ,679 ,770 ,558 ,136 ,136 ,136 ,212 ,025
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
A10 Pearson Correlation ,257 ,282 ,484** ,342 ,049 ,489** -,098 ,049 ,234 1 ,565**
Sig. (2-tailed) ,171 ,131 ,007 ,064 ,797 ,006 ,607 ,797 ,212 ,001
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
A Pearson Correlation ,486** ,565** ,604** ,525* ,610** ,666** ,497** ,525** ,410* ,565** 1
*

Sig. (2-tailed) ,006 ,001 ,000 ,003 ,000 ,000 ,005 ,003 ,025 ,001
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
70

RELIABILITY
/VARIABLES=B1 B2 B3 B4 B5 B6 B7 B8 B9 B10 B
/SCALE('ALL VARIABLES') ALL
/MODEL=ALPHA
/STATISTICS=DESCRIPTIVE SCALE
/SUMMARY=TOTAL.

Reliability

Scale: ALL VARIABLES
Case Processing Summary
N %
Cases Valid 30 100.0
Excludeda 0 .0
Total 30 100.0
a. Listwise deletion based on all variables in the
procedure.

Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
.732 11

Item Statistics
Mean Std. Deviation N
B1 .7333 .44978 30
B2 .5667 .50401 30
B3 .6333 .49013 30
B4 .6000 .49827 30
B5 .5333 .50742 30
B6 .4667 .50742 30
B7 .4667 .50742 30
B8 .4667 .50742 30
B9 .4667 .50742 30
B10 .4667 .50742 30
B 5.4000 2.71141 30
71

Item-Total Statistics
Scale Mean if Item Scale Variance if Corrected Item- Cronbach's Alpha
Deleted Item Deleted Total Correlation if Item Deleted
B1 10.0667 27.651 .329 .724
B2 10.2333 27.013 .409 .717
B3 10.1667 27.247 .375 .720
B4 10.2000 27.062 .404 .717
B5 10.2667 26.133 .581 .704
B6 10.3333 25.195 .776 .688
B7 10.3333 26.575 .492 .710
B8 10.3333 25.885 .632 .700
B9 10.3333 27.126 .383 .719
B10 10.3333 27.264 .356 .721
B 5.4000 7.352 1.000 .735

Scale Statistics
Mean Variance Std. Deviation N of Items
10.8000 29.407 5.42281 11

Correlations
B1 B2 B3 B4 B5 B6 B7 B8 B9 B10 B
B1 Pearson Correlation 1 ,385* ,010 -,031 ,040 ,262 ,111 ,262 -,040 ,262 ,402*
Sig. (2-tailed) ,035 ,956 ,872 ,833 ,162 ,560 ,162 ,833 ,162 ,028
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
B2 Pearson Correlation ,385* 1 ,033 ,247 ,261 ,279 ,279 ,144 ,009 ,009 ,484**
Sig. (2-tailed) ,035 ,864 ,188 ,164 ,136 ,136 ,448 ,962 ,962 ,007
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
B3 Pearson Correlation ,010 ,033 1 -,198 ,397* ,434* ,157 ,296 ,296 ,018 ,451*
Sig. (2-tailed) ,956 ,864 ,295 ,030 ,016 ,407 ,113 ,113 ,923 ,012
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
B4 Pearson Correlation -,031 ,247 -,198 1 ,191 ,355 ,491** ,218 ,082 ,218 ,480**
Sig. (2-tailed) ,872 ,188 ,295 ,312 ,055 ,006 ,247 ,667 ,247 ,007
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
B5 Pearson Correlation ,040 ,261 ,397* ,191 1 ,473** ,339 ,339 ,473** -,063 ,642**
Sig. (2-tailed) ,833 ,164 ,030 ,312 ,008 ,067 ,067 ,008 ,743 ,000
72

N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
B6 Pearson Correlation ,262 ,279 ,434* ,355 ,473** 1 ,330 ,464** ,330 ,464** ,812**
Sig. (2-tailed) ,162 ,136 ,016 ,055 ,008 ,075 ,010 ,075 ,010 ,000
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
B7 Pearson Correlation ,111 ,279 ,157 ,491** ,339 ,330 1 ,330 -,071 ,063 ,561**
Sig. (2-tailed) ,560 ,136 ,407 ,006 ,067 ,075 ,075 ,708 ,743 ,001
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
B8 Pearson Correlation ,262 ,144 ,296 ,218 ,339 ,464** ,330 1 ,330 ,330 ,687**
Sig. (2-tailed) ,162 ,448 ,113 ,247 ,067 ,010 ,075 ,075 ,075 ,000
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
B9 Pearson Correlation -,040 ,009 ,296 ,082 ,473** ,330 -,071 ,330 1 ,063 ,461*
Sig. (2-tailed) ,833 ,962 ,113 ,667 ,008 ,075 ,708 ,075 ,743 ,010
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
B10 Pearson Correlation ,262 ,009 ,018 ,218 -,063 ,464** ,063 ,330 ,063 1 ,436*
Sig. (2-tailed) ,162 ,962 ,923 ,247 ,743 ,010 ,743 ,075 ,743 ,016
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
B Pearson Correlation ,402* ,484** ,451* ,480** ,642** ,812** ,561** ,687** ,461* ,436* 1
Sig. (2-tailed) ,028 ,007 ,012 ,007 ,000 ,000 ,001 ,000 ,010 ,016
N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
73

Lampiran 7. Data Responden

Pendidikan Tanggal umur
No. Nama No. telp Umur Terakhir Lahir anak anak
1 Ny. I 0852xxxxxxxxxxx 25 SMA 19/8/2017 2 bln
2 Ny. RR 08229386xxxx 22 SMP 25/1/2017 9 bln
3 Ny. H 08219718xxxx 31 SMA 27/1/2017 9 bln
4 Ny. AD 0811411xxxx 26 S1 25/7/2017 3 bln
5 Ny. A 08218797xxxx 28 S1 12/6/2017 4 bln
6 Ny. A 08135548xxxx 21 SMA 26/8/2017 2 bln
7 Ny. V 08532900xxxx 26 SMA 23/6/2017 4 bln
8 Ny. NAR 08524283xxxx 21 SMA 3/5/2017 5 bln
9 Ny. A 08134431xxxx 31 D3 4/7/2017 4 bln
10 Ny. N 08539162xxxx 28 S1 26/1/2017 9 bln
11 Ny.R 08124368xxxx 21 SD 23/6/2016 1 thn
12 Ny. ICP 08534364xxxx 23 SMK 21/6/2017 4 bln
13 Ny. M 086134399xxxx 26 SMP 4/12/2016 12 bln
14 Ny. N none 34 D3 21/7/2017 3 bln
15 Ny. DEL 08218787xxxx 27 S1 27/8/2017 2 bln
16 Ny. M 08565603xxxx 35 SMP 28/7/2017 3 bln
17 Ny. FW 08514642xxxx 29 S1 21/8/2017 2 bln
18 Ny. L 089536279xxxx 26 SMA 22/10/2016 1 thn
19 Ny. R 0411439xxx 33 SMA 25/12/2016 12 bln
20 Ny. W none 20 SMK 24/6/2017 4 bln
21 Ny. F 08525545xxxx 24 S1 23/1/2017 9 bln
22 Ny. W 08539785xxxx 38 SMP 20/08/2017 2 bln
23 Ny. FS 0823440xxxx 28 SMP 25/10/2016 12 bln
24 Ny. D 08218779xxxx 26 SMA 11/6/2017 4 bln
25 Ny. S 08124530xxxx 36 S1 20/9/2017 1 bln
26 Ny. ES 08524178xxxx 37 S1 20/7/2017 3 bln
27 Ny. F 08229301xxxx 30 SMA 24/10/2016 12 bln
28 Ny. N 08229375xxxx 31 S1 4/8/2017 3 bln
29 Ny.W 08525694xxxx 25 SMA 1/6/2017 4 bln
30 Ny. NFR 08534167xxxx 20 SMP 22/6/2017 4 bln
31 Ny. H 08218872xxx 18 SMP 20/5/2017 5 bln
32 Ny. F none 29 SMA 23/9/2017 1 bln
33 Ny. K 08213688xxxx 25 SMA 11/7/2017 3 bln
34 Ny. N 08135599xxxx 30 SMA 23/6/2017 4 bln
35 Ny. API 08211617xxxx 22 SMA 1/9/2017 1 bln
74

36 Ny. N 08219179xxxx 27 SMP 30/5/2017 4 bln
37 Ny. R 08229331xxxx 24 SMK 27/6/2017 4 bln
38 Ny. M 08218948xxxx 29 SMA 26/7/2017 3 bln
39 Ny. A 08539705xxxx 30 SD 3/1/2017 9 bln
40 Ny. S none 18 SMA 1/8/2017 3 bln
41 Ny. H none 25 SD 21/6/2017 4 bln
42 Ny. S none 28 S1 29/9/2017 2 bln
43 Ny. N 08234875xxxx 29 SMP 28/10/2017 2 bln
44 Ny. N none 26 SMK 11/7/2017 3 bln
45 Ny. I 08529911xxxx 27 SMK 1/8/2017 3 bln
46 Ny. Y 08214697xxxx 27 S1 2/6/2017 5 bln
47 Ny. Y none 25 SMP 29/8/2017 2 bln
48 Ny. N 0811463xxxx 37 S1 25/10/2017 9 hari
49 Ny. S 08539544xxxx 26 SD 3/7/2017 4 bln
50 Ny. K 08124142xxxx 28 SMK 30/7/2017 3 bln
75

Lampiran 8. Jawaban Kuesioner Responden

Pengetahuan Sikap
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 a c a a b a d b c c y y y y y y y y y y
2 a c a a b a c b c c y y y y n n y y y y
3 b c a a b a c c c c y y y y y y y y y y
4 a c a a b b c b c c y y n y y y y y y y
5 a c d a b a c d c d y y y y n y y y y y
6 a c a a b a d a d d y y y y y y y y y y
7 c c d a b a c c c d y y y y y y y y y y
8 a c a a b a c c c d y y y y y y y y y y
9 a c a a b a c c c c y y y y y y y y y y
10 a c a a b a c c b c y y y y y y y y y y
11 c c a a b a c c b c y y y y y n y y y y
12 a c a a b b c a c c y y y y n n y y y y
13 a c a a b a c c c b y y y y n n y y y y
14 a c a a b a c c c c y y y y y y y y y y
15 a c a a b a b c c d y y y y y y y y y y
16 c c d a b a d d d d y y y y y y y y y y
17 a c a a b a c b c c y y y y y y y y y y
18 a c a a b a c c d d y y y y y y y y y y
19 b c d a b a d c c d y y y y y y y y y y
20 a c a a b a c b c c y y y y y y y y y y
21 a c b a b a c c c c y y y y n y y y y y
22 a c d a b b c d c d y y y y y y y y y y
23 b c a a b a c b c c y y y y n n y y y y
24 a c a a b a c a b a y y y n y y y y y y
25 a c d a b a c b a c y y y y y y y y y y
26 a c a a a a c b c c y y y y y y y y y y
27 a c a a b a c c c c y y y y y y y y y y
28 a c a a b a c b c c y y y y y y y y y y
29 a c a a a a c b c a y y y y n n y y y y
30 a c a a b a c b c a y y y y y y y y y y
31 a c a a b a c c c c y y y y y y y y n y
32 c c a a b a c c c a y y y y n y n y y y
33 a c a a b a c b c a y y y y n n y y y y
34 a c a a b a c b c a y y y y n y y y y y
35 a c a a b a c b c c y y y y y y y y y y
76

36 a c a a b a c b c c y y y y y n y y y y
37 a c a a b a c b c c y y y y n y y y y y
38 c c c a b a c a c c y y y y y y y y y y
39 a c a a a b c c a d y y y y y y y y y y
40 c c a a b a c a c c y y y y y y y y y y
41 a c d a b a c b c c y y y y y y y y y y
42 a c d a b a b c d d y y y y y n y y y y
43 d d d a d a c d c d y y n n y n n y y y
44 a c d a a a c c c d y y y n n y y y y y
45 a c d a b a c c c d y y y y y y y y y y
46 c c a a b b c c c c y y y y n n y y y y
47 a b c a b a c a a a y y y y y n y y y y
48 a c a a b a a b c c y y y y y y y y y y
49 c c a a a a c a a a y y y y y y y y y y
50 a c a a b a c b c c y y y y y y y y y y
77

Lampiran 9. Biodata Peneliti

BIODATA DIRI PENULIS

Data Pribadi:

Nama Lengkap : Cynthia Kristi Harlimton

Nama Panggilan : Cynthia

Tempat/Tanggal Lahir : Ujung Pandang, 29 Oktober 1996

Pekerjaan : Mahasiswa

Agama : Kristen

Jenis Kelamin : Perempuan

Gol. Darah : AB

Nama Orang Tua

 Ayah : Wilson Harlimton

 Ibu : Fanny Wijaya

Pekerjaan Orang Tua

 Ayah : Wiraswasta

 Ibu : IRT
78

Anak ke :3

Alamat saat ini : Jl. Mawar G/17

No. Telp : 0895384276222

Email : cynthiaharlimton@yahoo.co.id

Riwayat Pendidikan Formal

Periode Sekolah/Institusi/Universitas Jurusan

2002-2008 SD Kristen IPEKA -

2008-2011 SMP Zion GKKA-UP -

2011-2014 SMA Katolik Rajawali IPA

2014-sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Pendidikan Dokter
Hasanuddin

Riwayat Organisasi

Periode Organisasi Jabatan

2015-sekarang Plica Vocalis Fakultas Kedokteran Anggota
Universitas Hasanuddin

2015-sekarang Medical Youth Research Club Fakultas Anggota
Kedokteran Univesitas Hasanuddin

2016-sekarang PB Medik Fakultas Kedokteran Anggota
Universitas Hasanuddin