You are on page 1of 2

3Si Miskin

Pada zaman dahulu, ada peristiwa ketika Allah SWT menunjukkan kekayaan-Nya kepada hamba-Nya.
Ada seorang laki-laki miskin berjalan untuk mencari rizki dengan berjalan ke Negara Antah Berantah.
Nama raja Negara itu adalah Maharaja Indera Dewa. Namanya yang besar itu di kerajannya, beberapa
raja-raja di tanah Dewa itu taat kepada baginda dan mengantar upeti kepadanya pada setiap tahun.

Pada suatu hari , baginda sedang dihadapi keramaian oleh raja-raja,menteri,halubalang ,rakyat.
Begitu juga si laki-laki Miskin mengahadap baginda. Setelah diihat oleh orang banyak, si lai-laki Miskin
itu dengan rupa kainnya seperti dimamah anjing sehingga oaring banyak menertawakannya dan
melemparinya dengan batu dan kayu.Tubuh si Miskin terkena lemparan tersebut hingga bengkak-
bengkak dan berlumuran darah sedangkan orang banyak itu gempar. Baginda berkata, “ Apakah yang
gempar di luar sana?”. Sembah raja-raja itu, “Ya tuanku Syah Alam, orang-orang melempari si Miskin
itu”. Baginda berperintah ,”Usir si Miskin itu jauh-jauh!”. Kemudian orang-orang itu mengusir si Miskin
hingga ke tepi hutan dan orang banyak itu kembali ke perkumpulan. Hari mulai malam, baginda pun
masuk ke istana dan raja-raja,menteri, halubalang rakyat pulang ke masing-masing rumhnya.

Adapun si Miskin ketika malam hari tidur di dalam hutan itu dan ketika siang hari dia berjlan ke
desa untuk mencari makan. Apabila dia sampai dekat kampung orang dan terlihat oleh orang, maka dia
dipukuli dengan kayu. Lalu si Miskin pergi dan lari ke pasar, ketika ia terlihat oleh orang pasar, makan dia
akan dilemari dengan batu dan di pukuli dengan kayu. Kemudian si Miskin lari ketakutan dan menagis
berseru-seru sepanjang jalan dengan keadaan lapar dan lumuran darah, seperti rasanya akan mati. Lalu
dia bertemu orang yang sedang membuang sampah. Si Miskin itu berhenti dan mencari makanan yang
tertimbun di sampah. Ia mendapat ketupat dan buku tebu. Setelah memakan ketupat lalu dia memakan
buku tebu itu. Tubuhnya sedikit segar karan sudah lama tidak makan nasi.

Rasanya seperti mati, dia takut hendak meminta ke rumah orang. Jangankan di beri sesuatu
barang oleh orang, pergi ke rumah orang saja pun tidak boleh. Demikianlah keseharian kehidupan si
Miskin.

Hari mulai petang, si Miskin pun berjalan dan kembali ke hutan tempat dia tidur. Dia
membersihkan darah yang ada di tubuhnya yang tidak keluar karena sudah mengering. Setelah itu, si
Miskin tidur. Keesokan paginya, si miskin berkata kepada istrinya, “Ya istriku , rasaku seperti akan mati
dan tubuhku sangatlah sakit. Tidaklah berdaya tubuhku ini”. Dan dia menangis tersedu-sedu. Karena
belas kasih kepada suaminya, istrinya pun juga menangis melihat tingkah laku suaminya sambil
mengambil daun kayu lalu memamahnya. Kemudian si istri membersihkan tubuh suaminya dan sambil
berkata,”Diamlah, tuan jangan menangis.”

Si Miskin itu aslinya raja keinderaan, Karena dia terkena sumpah Batara Indera, maka jadilah
demikian itu. Kemudian tubuhnya sedikit segar dan dia pun masuk ke hutan untuk mencari ambat yang
muda yang boleh dimakan. Lalu dibawakannya kepada istrinya.

Beberapa lama kemudia, si istri hamil tiga bulan. Lalu dia menangis karna ingin makan nuah
mempelam yang ada di taman istana. Hal itu, menjadikan hati suaminya terketuk karena ketika dia di
keinderaan tidak mempunyai anak. Sekarang pun telah diberi mudhorot. Setelah baru diberi anak, dia
berkata kepada istrinya,” Hai Adinda, apakah kamu mau membunuh kakanda? Tidaklah kamu kejadian
kemaren itu?Jangankan hendak meminta barang sesuatu, ke kampung orang pun tidak boleh.”

Setelah istri mendengar perkataan suaminya, dia semakin menangis. Suaminya berkata,”
Diamlah istriku, jangan menangis! Kakanda akan mencarikan buah mempelam itu, jika kakanda
menemukan akan diberikan pada mu, istriku.”

Istrinya pun diam dan suaminya pergi ke pasar untuk mencari buah itu. Setelah sampai di
penjual buah mempelam, si suami pun berhenti dan dia takut akan dipukul orang. Orang yang berjaulan
itu berkata,”Hai Miskin, apa yang kamu inginkan?”

Jawab si Miskin,”Jika ada berbelas kasihan, maka hamba ini minta hanya sebiji buah mempelan
yang sudah busuk itu untuk istri hamba yang sedang hamil.”

Penjual buah itu kasihan dan orang disekitarnya pun juga mendengarkan perkataan si Miskin itu.
Perasaan mereka tersentuh,lalu ada yang memberi buah mempelam, ada yang memberi nasi, ada yang
memberi kain baju, dan ada juga yang memberikan buah-buahan. Si Miskin pun heran karena kepada
dirinya karena berbagai jenis barang pemberian. Padahal kemarin jangankan diberi sesuatu barang,
berhenti di tempatnya pun tidak boleh dan setelah itu dia merasakan pukulan kayu dan lemparan batu.
Kemudian dia kembali ke hutan untuk di berkan kepada istrinya.

Suami berkata,”Inilah istriku, buah mempelam, segala macam buah, makan-makanan dank ain
pakaian. Itu pun tidak terinjak-injak. Suaminya hanya menceritakan kejadian ketika di pasar. Lalu si istri
pun menangis dan tidak mau makan karena buka buah mempelam yang di taman raja itu. Si suami pun
berkata,”Biarlah aku mati saja.”

Karena suami terlalu sebal melihat kelakuan istrinya itu seperti orang yang akan mati dan tidak
berdaya lagi. Lalu suaminya pun pergi menghadap Maharaja Indera Dewa. Ketika baginda sedang
dihadapan raja-raja, si Miskin itu datang dan masuk ke istana. Baginda berkata,”Hai miskin. Apa
keinginanmu?” Si miskin menjawab,”Ada, tuanku.” Lalu dia sujud ke tanah,”Ampun Tuanku, beribu-ribu
ampun tuanku. Jika ada, karena baginda hamba yang hina ini akan patuh dan meminta daun mempelam
baginda yang sudah gugur ke tanah.”

Baginda berkata,”Buat apa daun mempelam itu?”Sembah si miskin,”untuk dimakan, Tuanku.”
Perintah baginda,”Ambilkanlah setangkai daun mempelam dan berikan kepada si Miskin ini!”