You are on page 1of 8

Hasilnya dalah sebagai berikut

:

Gaji Pokok 6.000.000,00

(i) Tunjangan Lainnya (jika ada) 2.000.000,00

(ii) JKK 0.24% 14.400,00

JK 0.3% 18.000,00

Penghasilan bruto (kotor) 8.032.400,00

Pengurangan

1.(iii) Biaya Jabatan: 5% x 8.032.400,00 = 401.620,00 401.620,00

2. Iuran JHT (Jaminan Hari Tua), 2% dari gaji pokok 120.000,00

3. (iv) JP (Jaminan Pensiun), 1% dari gaji pokok, jika ada 60.000,00
(581.620,00)

Penghasilan neto (bersih) sebulan 7.450.780,00

(v) Penghasilan neto setahun 12 x 7.450.780,00 89.409.360,00

(vi) Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) 54.000.000,00

(54.000.000,00)

Penghasilan Kena Pajak Setahun 35.409.360,00

(vii) Pembulatan ke bawah 35.409.000,00

PPh Terutang (lihat Tarif PPh Pasal 21)

5% x 50.000.000,00 1.770.450,00
PPh Pasal 21 Bulan Juli = 1.770.450,00 : 12 147.538,00

*Berlaku bagi WP dengan NPWP, tanpa NPWP maka perlu dikalikan 120% : Rp
147.538,00 x 120% = Rp 177.046,00

Diasumsikan gaji pokok sebesar Rp 6.000.000.

(i) Tunjangan lainnya seperti tunjangan transportasi, uang lembur, akomodasi,
komunikasi, dan tunjangan tidak tetap lainnya. Umumnya tunjangan tersebut dapat
diberikan oleh perusahaan atau tidak, tergantung dari kebijakan perusahaan itu sendiri.

(ii) Iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) berkisar antara 0.24% - 1.74% sesuai
kelompok jenis usaha seperti yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun
2007. Di OnlinePajak, tarif iuran JPP yang diterapkan adalah tarif JKK yang paling umum
dipakai perusahaan-perusahaan yaitu 0.24%.

(iii) Biaya Jabatan sebesar 5% dari Penghasilan Bruto, setinggi-tingginya Rp
500.000 sebulan, atau Rp 6.000.000 setahun

(iv) Jaminan atau Iuran Pensiun ditentukan oleh lembaga keuangan yang pendiriannya
disahkan dalam Peraturan Menteri Keuangan dan ditunjuk oleh perusahaan. Jumlah
persentase yang diterapkan di sini adalah 1%.

(v) Penghasilan Neto: Jika pegawai merupakan pegawai lama (lebih dari satu tahun)
atau pegawai baru yang mulai bekerja pada bulan Januari tahun itu, maka penghasilan
neto dikalikan 12 untuk memperoleh nilai penghasilan neto setahun, namun jika
pegawai merupakan pegawai baru yang mulai bekerja pada bulan Mei misalkan, maka
penghasilan neto setahun dikalikan 8 (diperoleh dari penghitungan bulan dalam setahun:
Mei-Desember = 8 bulan). Pada contoh ini diasumsikan pegawai merupakan pegawai
baru yang mulai bekerja pada bulan Januari.
(vi) Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) berfungsi untuk mengurangi penghasilan
bruto, agar diperoleh nilai Penghasilan Kena Pajak yang akan dihitung sebagai objek
pajak penghasilan milik wajib pajak.

Pada contoh ini WP sudah menikah dan memiliki tiga tanggungan anak, namun karena
suami WP menerima atau memperoleh penghasilan, besarnya PTKP WP Sita adalah
PTKP untuk dirinya sendiri (TK/0).

(vii) Penghasilan Kena Pajak harus dibulatkan ke bawah hingga nominal ribuan penuh,
atau 3 angka di belakang (ratusan rupiah) adalah 0. Contoh: 56.901.200,00 menjadi
56.901.000.

SOAL TEMEN TEMEN

Fahri bekerja pada PT Kartika Kawashima yang berstatus belum menikah dan tidak
mempunyai tanggungan dengan memperoleh gaji bersih sebesar Rp 5.500.000 sebulan.
Perusahaan tempatnya bekerja memberikan tunjangan pajak penuh kepada Fahri
sebesar Rp 35.167. Iuran pensiun yang dibayar oleh Fahri adalah sebesar Rp
55.000 sebulan.

Hasil penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 bulan Agustus 2016 bagi Fahri yang
tidak menerima penghasilan lain dari PT. Kartika Kawashima selain gaji adalah:

Gaji Pokok 5.500.000,00

(i) Tunjangan Pajak 35.167,00

Penghasilan bruto (kotor) sebulan 5.464.833,00

Pengurangan
1. Biaya Jabatan: 5% x 5.464.833,00 = 276.758,00 276.758,00

2. Iuran/Jaminan Pensiun, 1% dari gaji pokok 55.000,00

3. (iv) JP (Jaminan Pensiun), 1% dari gaji pokok, jika ada 60.000,00

(331.758,00)

Penghasilan neto (bersih) sebulan 5.203.408,00

Penghasilan neto setahun 12 x 5.203.408,00 62.440.900,00

Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) 54.000.000,00

(54.000.000,00)

Penghasilan Kena Pajak Setahun 8.440.000,00

PPh Terutang(lihat Tarif PPh Pasal 21)
5% x 8.440.000,00 422.000,00

PPh Pasal 21 Bulan September = 422.000,00 : 12 35.167,00

*Berlaku bagi WP dengan NPWP, tanpa NPWP maka perlu dikalikan 120% : Rp
35.167,00 x 120% = Rp 42.200,00

Pada bulan September 201, posisi Abdul diisi oleh Umar. PT Karya Abadi
memberikan gaji setiap bulan sebesar Rp. 7.500.000, mendapat tunjangan
BPJS Ketenagakerjaan JKK, JKM dan JHT sebesar 0,24%, 0,30% dan 3,70%
dari gaji pokok. BPJS Kesehatan sebesar 4% yang ditanggung perusahaan.
Umar membayar JHT sebesar 2% dari gaji pokok dan BPJS Kesehatan sebesar
1%. Umar belum menikah. Berapa PPh 21 Umar tahun 2017 selama di PT
Karya Abadi?
A. Pajak per bulan selama tahun 2017
Pajak Perbulan selama tahun 2017
Gaji Pokok dari bulan Sept – Des 2017: Rp. 7.500.000 x 4 = Rp. 30.000.000
BPJS TK:
JKK : (0,24% x Rp. 7.500.000) x 4 = Rp. 72.000
JKM : (0,30% x Rp. 7.500.000) x 4 = Rp. 90.000
BPJS KES: (4% x Rp. 7.500.000) x 4 = Rp. 1.200.000
Penghasilan Bruto Setahun = Rp. 31.362.000
Pengurang
Biaya Jabatan: 5%x Rp. 31.362.000 = Rp. 1.568.100
BPJS TK:
JHT: (2% x Rp. 7.500.000) x 4 = Rp. 600.000
Penghasilan Neto Setahun = Rp. 29.193.900
(hasil dari pengurangan Penghasilan Bruto Setahun dengan Pengurang)
PTKP TK/0
Wajib Pajak Sendiri: Rp. 54.000.000
Penghasilan Kena Pajak (PKP) = Rp. 0
(tidak dikenakan pajak, karena Penghasilan Neto Setahun lebih kecil dari PTKP)
B. Pajak per bulan selama tahun 2018
Gaji Pokok: Rp. 7.500.000 x 12 = Rp. 90.000.000
BPJS TK:
JKK : (0,24% x Rp. 7.500.000) x 12 = Rp. 216.000
JKM : (0,30% x Rp. 7.500.000) x 12 = Rp. 270.000

BPJS KES: (4% x Rp. 7.500.000) x 12 = Rp. 3.600.000
Penghasilan Bruto Setahun = Rp. 94.086.000

Pengurang
Biaya Jabatan: 5% x Rp. 94.086.000 = Rp. 4.704.300
BPJS TK:
JHT: (2% x Rp. 7.500.000) x 12 = Rp. 1.800.000

Penghasilan Neto Setahun = Rp. 87.581.700
(hasil dari pengurangan Penghasilan Bruto Setahun dengan Pengurang)
PTKP TK/0
Wajib Pajak Sendiri: Rp. 54.000.000
Penghasilan Kena Pajak (PKP) = Rp. 33.581.700
(hasil dari pengurangan Penghasilan Neto Setahun dengan PTKP K/1)
Pembulatan = Rp. 33.581.000
(hasil PKP dilakukan pembulatan ke bawah, misalnya: PKP = Rp. 33.088.753
maka Pembulatan = Rp. 33.088.000. Contoh kasus pada artikel ini hanya
kebetulan memiliki PKP dan Pembulatan yang sama)
Perhitungan PPh 21
5% x Rp. 33.581.000 = Rp. 1.679.050
PPh 21 Setahun = Rp. 1.679.050

PPh 21 Sebulan = Rp. 1.679.050 : 12 = Rp. 139.921