You are on page 1of 28

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

KASUS “NEFROLITIASIS”

Disusun Oleh :

1. Enjelia Purwaty (1703047)
2. Lina Dwi Astuti (1703020)
3. Makdalena B. Kalami (1703022)
4. Novarini Daniel (1703028)
5. Alexander Sutio (1703051)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BETHESDA YAKKUM

PRODI S1 KEPERAWATAN PROGRAM B

TAHUN AJARAN 2017/2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit yang diakibatkan oleh terbentuknya batu di dalam ginjal ini merupakan
salah satu penyakit yang banyak diderita di Indonesia.Batu ginjal lebih sering terjadi bila
dibandingkan batu kandung kemih. Di Indonesia, data yang dikumpulkan dari rumah
sakit diseluruh Indonesia pada tahun 2002 adalah sebanyak 37.636 kasus baru dengan
jumlahkunjungan sebesar 58.959 orang. Sedangkan jumlah pasien yang dirawat adalah
sebesar 19.018 orang, dengan jumlah kematian adalah sebesar 378 orang. Batu ginjal
yang paling sering terbentuk adalah batu kalsium oksalat (80%).Jenis batu lainnya yang
tersering berturut-turut adalah batu asam urat, batu kalsium fosfat, batu struvit, dan batu
sistin.
Di Indonesia sendiri dicurigai adanya fenomena gunung es dimana jumlah kasus
yangtidak terdeteksi jauh lebih banyak daripada yang terdeteksi akibat kurangnya
pengetahuanmasyarakat dan jangkauan pelayanan kesehatan yang masih rendah. Gejala
penyakit batuginjal sangat bervariasi, mulai dari tidak ada gejala sama sekali sampai
dengan nyeripinggang yang hebat disertai kencing berdarah. Pada banyak kasus bahkan
berupa gejala “silent stone” yaitu adanya batu ginjal tidak dirasakan sama sekali oleh
penderitanya dan terdeteksi secara tidak sengaja pada saat cek kesehatan rutin.Menyikapi
isu diatas, maka peran perawat sebagai salah satu pemberi asuhan keperawatan bukan
hanya memberikan pelayanan keperawatan yang bersifat komperhensif tetapi juga
sebagai educator dan konselor sangat diperlukan dalam memberikan
pengetahuan kepada masyarakat terkait penyakit Nefrolitiasis danperawatannya selama
sakit ataupun setelah menjalani pengobatan dirumah.
B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum
Mahasiswa memahami tentang Nefrolitiasis dan Asuhan Keperawatannya dan
menyusun asuhan keperawatan dengan klien Nefrolitiasis
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa memahami tentang Definisi Nefrolitiasis
b. Mahasiswa memahami Anatomi dan Fisiologi Ginjal
c. Mahasiswa memahami etiologi Nefrolitiasis
d. Mahasiswa memahami manfestasi klinis Nefrolitiasis
e. Mahasiswa memahami patofisiologi Nefrolitiasis.
f. Mahasiswa memahami komplikasi yang terjadi pada Nefrolitiasis
g. Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan medis Nefrolitiasis
h. Mahasiswa mampu memahami konsep askep Nefrolitiasis
i. Mahasiswa memahami asuhan keperawatan dengan klien gangguan Nefrolitiasis

C. Metode Penulisan
Adapun metode penulisan dalam makalah ini dengan metode deskriptif dan
melaluipengumpulan- pengumpulan literatur dari berbagai sumber. Dalam penyampain
ini kamimenggunakan metode presentasi supaya audien dapat dengan mudah mencerna
materiini

D. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan dalam makalah ini yaitu:
1. Bab I: Pendahuluan yang terdiri dari: latar belakang,
tujuan penulisan,metodepenulisan, dan sistematika penulisan
2. Bab II: Tinjauanteoritis yang terdiri dari:Anatomi dan fisiologi ginjal, konsep
dasarpenyakit, dan rencana asuhan keperawatan pada pasien dengan Nefrolitiasis.
3. Bab III: Penutup yang terdiri dari Kesimpulan dan saran
BAB II

KONSEP TEORI

A Definisi (Nursalam, 2011:65)

Nefrolitiasis merujuk pada batu ginjal. Batu atau kalkuli dibentuk di dalam
saluran saluran kemih mulai dari ginjal ke kandung kemih oleh kristalisasi dari substansi
ekskresi di dalam urine.

Menurut Arif Muttaqin (2011:108) Batu ginjal atau nefrolitiasis merupakan
suatu keadaan terdapatnya batu kalkuli di ginjal

Menurut Mary Baradero (2009:59) mendefinisikan nefrolitiasis adalah batu
ginjal yang ditemukan didalam ginjal, yang merupakan pengkristalan mineral yang
mengelilingi zat organik, misalnya nanah, darah, atau sel yang sudah mati. Biasanya batu
kalkuli terdiri atas garam kalsium (oksalat dan fosfat) atau magnesium fosfat dan asam
urat.

Berdasarkan definisi di atas, maka bisa diambil kesimpulan bahwa batu ginjal
atau bisa disebut nefrolitiasis adalah suatu penyakit yang terjadi pada saluran perkemihan
karena terjadi pembentukan batu di dalam ginjal, yang terbanyak pada
bagian pelvis ginjal yang menyebabkan gangguan pada saluran dan proses perkemihan.

B Anatomi Fisiologi Ginjal (Mary Baradero, 2008:2)
1. Anatomi Ginjal
Ginjal terletak dibelakang peritoneum parietal (retro-peri-toneal), pada dinding
abdomen posterior. Ginjal juga terdapat pada kedua sisi aorta abdominal dan vena kava
inferior. Hepar menekan ginjal ke bawah sehingga ginjal kanan lebih rendah daripada
ginjal kiri. Ukuran setiap ginjal orang dewasa adalah panjang 10 cm, 5,5 cm pada sisi
lebar, dan 3 cm pada sisi sempit dengan berat setiap ginjal berkisar 150 gram.
(Arif Muttaqin, 2011:3) Ginjal terbungkus oleh selaput tipis yang disebut kapsula
renalis yang terdiri dari jaringan fibrus berwarna ungu tua
Menurut Tarwoto (2009:314) menjelaskan ginjal disokong oleh jaringan adipose
dan jaringan penyokong yang disebut fasia gerota serta di bungkus oleh kapsul ginjal,
yang berguna untuk mempertahankan ginjal, pembuluh darah, dan kelenjar adrenal
terhadap adanya trauma.Satuan unit fungsional ginjal adalah nefron. Setiap ginjal
memiliki satu juta nefron. Terdapat dua macam nefron, yaitu kortikal dan juksta medular.
Delapan puluh lima persen dari semua nefron terdiri atas nefron kortikal, sedangkan 15%
terdiri atas nefron jukstamedular. Kedua macam nefron ini diberi nama sesuai dengan
letak glomerulinya dalam renal parenkim. Nefron kortikal berperan dalam konsentarsi
dan difusi urine. Struktur urine yang berkaitan dengan proses pembentukan urine
adalah korpus, tubulus renal, tubulus koligentes. Korpus ginjal terdiri dari glomerulus
dan kapsula bowman yang membentuk ultrafiltrat dari darah. Tubulus renal terdiri atas
tubulus kontortus proksimal, ansa henle, dan tubulus kontortus distal. Ketiga tubulus
renal ini berfungsi dalam reabsorpsi dan sekresi dengan mengubah volume dan
komposisi ultrafiltrat sehingga terbentuk produk akhir, yaitu urine.

Gambar diambil dari :https://www.google.co.id/search=anatomiginjal
2. Bagian – Bagian dalam Ginjal (Tarwoto, 2009:314)
Ginjal terdiri dari 3 area yaitu:
a. Korteks
Korteks merupakan bagian paling luar ginjal, dibawah fibrosa sampai dengan
lapisan medulla, tersusun atas nefron-nefron yang jumlahnya lebih dari 1 juta.
Semua glomerulus berada di korteks dan 90% aliran darah menuju korteks.
b. Medula
Medulla terdiri dari saluran-saluran atau duktus collecting yang disebut
pyramid ginjal yang tersusun antara 8-18 buah.
c. Pelvis
Pelvis merupakan area yang terdiri dari kaliks minor yang kemudian
bergabung menjadi kalik mayor. Empat sampai lima kaliks minor bergabung
menjadi kaliks mayor dan dua sampai tiga kaliks mayor bergabung
menjadi pelvis ginjal yang berhubungan dengan ureter bagian proksimal.

Fisiologi Ginjal :
Menurut Syaifuddin (2006:237) ginjal memiliki beberapa fungsi, yaitu:
1. Mengatur volume air (cairan) dalam tubuh. Kelebihan air dalam tubuh akan di
ekskresikan oleh ginjal sebagai urine (kemih) yang encer dalam jumlah besar,
kekurangan air (kelebihan keringat) menyebabkan urine yang diekskresi berkurang
dan konsentrasinya lebih pekat sehingga susunan dan volume cairan tubuh dapat
dipertahankan relative normal.
2. Mengatur keseimbangan osmotik dan mempertahankan keseimbangan ion yang
optimal dalam plasma (keseimbangan elektrolit). Bila terjadi pemasukan/pengeluaran
yang abnormal ion-ion akibat pemasukan garam yang berlebihan/penyakit
perdarahan (diare, muntah) ginjal akan meningkatkan/mengurangi ekskresi ion-ion
yang penting (misalnya Na, K, Cl, dan fosfat).
3. Mengatur keseimbangan asam basa cairan tubuh. Pengendalian asam basa oleh ginjal
dilakukan dengan sekresi urin yang urin atau basa, melalui pengeluaran ion hydrogen
atau bikarbonat dalam urin.
4. Ekskresi sisa metabolisme (ureum, asam urat, kreatinin) zat-zat toksik, obat-obatan,
hasil metabolisme hemoglobin dan bahan kimia asing (pestisida).
5. Fungsi hormonal dan metabolisme. Ginjal menyekresikan hormon renin yang
berperan penting mengatur tekanan darah (sistem renin angiotensin aldosteron),
membentuk eritropoiesis mempunyai peranan penting untuk memproses
pembentukan sel darah merah (eritropoiesis).
Disamping itu ginjal juga membentuk hormon dihidroksi kolekalsiferol(vitamin D aktif)
yang diperlukan untuk mengabsorbsi ion kalsium di usus.

C Etiologi (Kartika S. W, 2013:183)i, yaitu :
1. Faktor dari dalam (intrinsik) seperti keturunan, usia (lebih banyak pada usia 30-50
tahun, dan jenis kelamin laki-laki lebih banyak dari pada perempuan.
2. Faktor dari luar (ekstrinsik), seperti geografi, cuaca dan suhu, asupan air (bila jumlah
air dan kadar mineral kalsium pada air yang diminum kurang), diet banyak purin,
oksalat (teh, kopi, minuman soda, dan sayuran berwarna hijau terutama bayam),
kalsium (daging, susu, kaldu, ikan asin, dan jeroan), dan pekerjaan (kurang
bergerak).
Beberapa penyebab lain Menurut (Arif Muttaqin, 2011:108) adalah :
1. Infeksi saluran kemih
Infeksi saluran kencing dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan akan
menjadi inti pembentukan batu saluran kencing.
2. Stasis obstruksi urine
Adanya obstruksi dan stasis urine akan mempermudah pembentukan batu saluran
kencing.
3. Suhu
Tempat yang bersuhu panas menyebabkan banyak mengeluarkan keringat sedangkan
asupan air kurang dan tingginya kadar mineral dalam air minum meningkatkan
insiden batu saluran kemih.
4. Idiopatik

D Klasifikasi
Batu saluran kemih pada umumnya mengandung unsur kalsium: kalsium oksalat
atau kalsium fosfat, asam urat, magnesium-amonium-fosfat (MAP), xanthyn, da sistin,
silikat dan senyawa lainnya. Data mengenai kandungan / komposisi zat yang terdapat
pada batu sangat penting untuk usaha pencegahan terhadap kemungkinan timbulnya batu
residif.
1. Batu Kalsium
Batu jenis ini paling banyak di jumpai, yaitu kurang lebih 70 - 80% dari seluruh batu
saluran kemih. Kandungan batu jenis ini terdiri atas kalsium oksalat, kalsium fosfat,
atau campuran dari kedua unsur itu. Faktor terjadinya batu kalsium adalah
hiperkalsiuri, hiperoksaluri, hiperurikosuria, dan hipositraturia
2. Batu Struvit
Batu struvit disebut juga sebagai batu infeksi, karena terbentuknya batu ini
disebabkan oleh adanya infeksi saluran kemih. Kuman penyebab infeksi ini adalah
kuman golongan pemecah urea atau urea splitter yang dapat menghasilkan enzim
urease dan merubah urine menjadi bersuasana basa melalui hidrolisis urea menjadi
amoniak. Kuman-kuman yang termasuk pemecah urea di antaranya adalah
:Proteusspp, Klebsiella, Serratia, Enterobakter, Pseudomonas, dan Stafilokokus.
Meskipun E.coli banyak menimbulkan infeksi saluran kemih tetapi kuman ini bukan
termasuk pemecah urea.
3. Batu Asam Urat
Batu asam urat merupakan 5-10% dari seluruh batu saluran kemih. Di antaranya 75-
80% batu asam urat terdiri atas asam murni dan sisanya merupakan campuran
kalsium oksalat. Penyakit batu asam urat banyak diderita oleh pasien-pasien gout,
penyakit mieloproliferatif, pasien yang mendapatkan terapi antikanker, dan yang
banyak mempergunakan obat urikosurik diantaranya adalah sulfinpirazone, thiazide,
dan salisilat. Kegemukan, peminum alkohol, dan diet tinggi protein mempunyai
peluang yang lebih besar untuk mendapatkan penyakit ini.

E Epidemiologi (Remero V. Akpinar dalam Medscape Global 2014 )
Distribusi usia terkena batu ginjal paling sering terjadi usia 20 – 49 tahun dengan
puncaknya di usia 35 – 45 tahun, meskipun dapat terjadi pada rentang usia yang lain.
Jarang ditemukan serangan batu ginjal pertama pada usia 50 tahun ke atas.
Batu ginjal lebih sering terjadi pada pria di bandingkan wanita (3 : 1), kecuali batu ginjal
infeksi (struvit) lebih banyak terjadi di wanita.
Global : angka kejadian (prevalensi) di dunia tahun 1990an adlah 5,4 %, sedangkan di
Thailand Timur laut berkisar 16,9%.
Indonesia : tidak ada angka kejadia yang terekam untuk nefrolitiasis

F Patofisiologi
Nefrolitiasis merupakan kristalisasi dari mineral dan matriks seperti pus darah,
jaringan yang tidak vital dan tumor. Komposisi dari batu ginjal bervariasi, kira-kira tiga
perempat dari batu adalah kalsium, fosfat, asam urin dan cistien. Peningkatan konsentrasi
larutan akibat dari intake yang rendah dan juga peningkatan bahan-bahan organik akibat
infeksi saluran kemih atau urin stastis sehingga membuat tempat untuk pembentukan
batu. Ditambah dengan adanya infeksi meningkatkan kebasaan urin oleh produksi
ammonium yang berakibat presipitasi kalsium dan magnesium pospat. (Jong, 1996 : 323)
Kondisi lain yang mempengaruhi laju pembentukan batu mencakup pH urine dan
status cairan pasien. Ketika batu menghambat aliran urin, terjadi obstruksi, menyebabkan
peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi piala ginjal serta ureter proksimal. Infeksi
(peilonefritis & cystitis yang disertai menggigil, demam dan disuria) dapat terjadi dari
iritasi batu yang terus menerus. Beberapa batu, jika ada, menyebabkan sedikit gejala
namun secara fungsional perlahan-lahan merusak unit fungsional ginjal dan nyeri luar
biasa dan tak nyaman
Batu yang terjebak di ureter, menyebabkan gelombang nyeri yang luar biasa.
Pasien sering merasa ingin berkemih, namun hanya sedikit yang keluar dan biasanya
mengandung darah akibat aksi abrasif batu. Umumnya batu dengan diameter <0,5-1 cm
keluar spontan. Bila nyeri mendadak menjadi akut, disertai nyeri tekan di seluruh area
kostovertebral dan muncul mual dan muntah, maka pasien sedang mengalami kolik renal.
Diare dan ketidaknyamanan abdominal dapat terjadi.
Proses pembentukan batu ginjal dipengaruhi oleh beberapa faktor yang kemudian
dijadikan dalam beberapa teori :
1. Teori Supersaturasi
Tingkat kejenuhan kompone-komponen pembentuk batu ginjal mendukung
terjadinya kristalisasi. Kristal yang banyak menetap menyebabkan terjadinya agresi
kristal kemudian timbul menjadi batu.
2. Teori Matriks
Matriks merupakan mukoprotein yang terdiri dari 65% protein, 10% heksose, 3-5
heksosamin dan 10% air. Adapun matriks menyebabkan penempelan kristal-kristal
sehingga menjadi batu.
3. Teori kurang inhibitor
Pada kondisi normal kalsium dan fosfat hadir dalam jumlah yang melampui daya
kelarutan, sehingga diperlukan zat penghambat pengendapat. Phospat
mukopolisakarida dan dipospat merupakan penghambatan pembentukan kristal. Bila
terjadi kekurangan zat ini maka akan mudah terjadi pengendapan.
4. Teori Epistaxi
Merupakan pembentukan baru oleh beberapa zat secra- bersama-sama, salah satu
batu merupakan inti dari batu yang merupakan pembentuk pada lapisan luarnya.
Contohnya ekskresi asam urayt yanga berlebihan dalam urin akan mendukung
pembentukan batu kalsium dengan bahan urat sebagai inti pengendapan kalsium.
5. Teori Kombinasi
Batu terbentuk karena kombinasi dari berbagai macam teori di atas.
G Manifestasi Klinis
Batu yang terjebak diureter menyebabkan gelombang nyeri yang luar biasa, akut,
kolik, yang menyebar kepaha dan genitalia. Pasien merasa selalu ingin berkemih, namun
hanya sedikit urin yang keluar dan biasanya mengandung darah akibat aksi abrasive batu.
Batu yang terjebak dikandung kemih biasanya menyebabkan gejala iritasi dan
berhubungan dengan infeksi traktus urinarius dan hematuria.
Keluhan yang sering ditemukan adalah sebagai berikut :
1. Hematuria
2. Piuria
3. Polakisuria/fregnancy
4. Urgency
5. Nyeri pinggang menjalar ke daerah pingggul, bersifat terus menerus
6. pada daerah pinggang.
7. Kolik ginjal yang terjadi tiba-tiba dan menghilang secara perlahanlahan.
8. Rasa nyeri pada daerah pinggang, menjalar ke perut tengah bawah, selanjutnya ke
arah penis atau vulva.
9. Anorexia, muntah dan perut kembung
10. Hasil pemeriksaan laboratorium, dinyatakan urine tidak ditemukan adanya batu
leukosit meningkat.

H Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Urin
a. pH lebih dari 7,6
b. Sediment sel darah merah lebih dari 90%
c. Biakan urin
d. Ekskresi kalsium fosfor, asam urat
2. Pemeriksaan darah
a. Hb turun
b. Leukositosis
c. Urium krestinin
d. Kalsium, fosfor, asam urat
3. Pemeriksaan Radiologist
Foto Polos perut / BNO (Bladder Neck Obstruction) dan Pemeriksaan rontgen
saluran kemih / IVP (Intranenous Pyelogram) untuk melihat lokasi batu dan besar
batu.
4. CT helikal tanpa kontras
CT helical tanpa kontras adalah teknik pencitraan yang dianjurkan pada pasien yang
diduga menderita nefrolitiasis. Teknik tersebut memiliki beberapa keuntungan
dibandingkan teknik pencitraan lainnya, antara lain: tidak memerlukan material
radiokontras; dapat memperlihatkan bagian distal ureter; dapat mendeteksi batu
radiolusen (seperti batu asam urat), batu radio-opaque, dan batu kecil sebesar 1-2
mm; dan dapat mendeteksi hidronefrosis dan kelainan ginjal dan intraabdomen selain
batu yang dapat menyebabkan timbulnya gejala pada pasien. Pada penelitian yang
dilakukan terhadap 100 pasien yang datang ke UGD dengan nyeri pinggang, CT
helikal memiliki sensitivitas 98%, spesifisitas 100%, dan nilai prediktif negatif 97%
untuk diagnosis batu ureter.
5. USG abdomen
Ultrasonografi memiliki kelebihan karena tidak menggunakan radiasi, tetapi teknik
ini kurang sensitif dalam mendeteksi batu dan hanya bisa memperlihatkan ginjal dan
ureter proksimal. Penelitian retrospektif

I Penatalaksanaan (Sjamsuhidrajat, 2004)

Menjelaskan penatalaksanaan pada nefrolitiasis terdiri dari :

1. Obat diuretik thiazid(misalnya trichlormetazid) akan mengurangi pembentukan batu
yang baru.
2. Dianjurkan untuk minum banyak air putih (8-10 gelas/hari).
3. Diet rendah kalsium dan mengkonsumsi natrium selulosa fosfat.
4. Untuk meningkatkan kadar sitrat (zat penghambat pembentukan batu kalsium) di
dalam air kemih, diberikan kalium sitrat.
5. Kadar oksalat yang tinggi dalam air kemih, yang menyokong terbentuknya batu
kalsium, merupakan akibat dari mengkonsumsi makanan yang kaya oksalat
(misalnya bayam, coklat, kacang-kacangan, merica dan teh). Oleh karena itu
sebaiknya asupan makanan tersebut dikurangi.
6. Kadang batu kalsium terbentuk akibat penyakit lain, seperti hiperparatiroidisme,
sarkoidosis, keracunan vitamin D, asidosis tubulus renalis atau kanker. Pada kasus ini
sebaiknya dilakukan pengobatan terhadap penyakit-penyakit tersebut.
7. Dianjurkan untuk mengurangi asupan daging, ikan dan unggas, karena makanan
tersebut menyebabkan meningkatnya kadar asam urat di dalam air kemih.
8. Untuk mengurangi pembentukan asam urat bisa diberikan allopurinol.
9. Batu asam urat terbentuk jika keasaman air kemih bertambah, karena itu untuk
menciptakan suasana air kemih yang alkalis (basa), bisa diberikan kalium sitrat.
10. Dianjurkan untuk banyak minum air putih.
Sedangkan menurut Purnomo BB (2003), penatalaksanaan nefrolitiasis adalah :

1. Terapi Medis dan Simtomatik
Terapi medis berusaha untuk mengeluarkan batu atau melarutkan batu. Tetapi
simtomatik berusaha untuk menghilangkan nyeri. Selain itu dapat diberikan minum
yang berlebihan/ banyak dan pemberian diuretik.
2. Litotripsi
Pada batu ginjal, litotripsi dilakukan dengan bantuan nefroskopi perkutan untuk
membawa tranduser melalui sonde ke batu yang ada di ginjal. Cara ini disebut
nefrolitotripsi. Salah satu alternatif tindakan yang paling sering dilakukan adalah
ESWL. ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy) adalah tindakan memecah
batu yang ditembakkan dari luar tubuh dengan menggunakan gelombang kejut yang
dapat memecahkan batu menjadi pecahan yang halus, sehingga pecahan tersebut
dapat keluar bersama dengan air seni. Keutungan dari tindakan ESWL ini yaitu
tindakan ini dilakukan tanpa membuat luka, tanpa pembiusan dan dapat tanpa rawat
inap.
3. Tindakan Bedah
Tindakan bedah dilakukan jika tidak tersedia alat litotripsor tindakan bedah lain
adalah operasi kecil pengambilan batu ginjal / PCNL (Percutaneous
Nephrolithotomy). PCNL merupakan tindakan menghancurkan batu ginjal dengan
memasukkan alat endoskopi yang dimasukkan kedalam ginjal sehingga batu dapat
dihancurkan dengan alat tersebut. Tindakan ini memerlukan pembiusan dan rawat
inap.

J Komplikasi (Guyton, 1993)
1. Gagal Ginjal
Terjadinya karena kerusakan neuron yang lebih lanjut dan pembuluh darah yang
disebut kompresi batu pada membrane ginjal oleh karena suplai oksigen terhambat.
Hal in menyebabkan iskemis ginjal dan jika dibiarkan menyebabkan gagal ginjal
2. Infeksi
Dalam aliran urin yang statis merupakan tempat yang baik untuk perkembangbiakan
microorganisme. Sehingga akan menyebabkan infeksi pada peritoneal.
3. Hidronefrosis
Oleh karena aliran urin terhambat menyebabkan urin tertahan dan menumpuk
diginjal dan lam-kelamaan ginjal akan membesar karena penumpukan urin
4. Avaskuler Ischemia
Terjadi karena aliran darah ke dalam jaringan berkurang sehingga terjadi kematian
jaringan.
K Prognosis (Rendy, M. C 2014)
Prognosis batu saluran kencing tergantung dari besar batu, letak batu, adanya infeksi dan
obstruksi. Makin besar kerusakan jaringan dan adanya infeksi karena faktor obstruksi
akan daat menyebabkan penurunan fungsi ginjal sehingga prognosis semakin jelek.

L Legal Etik
1. Respect (hak untuk di hormati)
2. Autonomy (hak untuk memilih)
3. Beneficienci (tindakan untuk berbuat baik)
4. Non-maleficience (tidak merugikan/menciderai orang lain)
5. Confidentiality (kerahasiaan)
6. Justice (keadilan)
7. Fidelity (ketaatan)
8. Veracity (kewajiban untuk mengatakan kebenaran)
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A Pengkajian
Meliputi keluhan utama, keluhan tambahan, riwayat penyakit masa lalu, riwayat penyakit
keluarga.
1. Aktivitas/istirahat
Gejala:
a. Riwayat pekerjaan monoton, aktivitas fisik rendah, lebih banyak duduk
b. Riwayat bekerja pada lingkungan bersuhu tinggi
c. Keterbatasan mobilitas fisik akibat penyakit sistemik lainnya (cedera
serebrovaskuler, tirah baring lama)
2. Sirkulasi
Tanda:
a. Peningkatan TD, HR (nyeri, ansietas, gagal ginjal)
b. Kulit hangat dan kemerahan atau pucat
3. Eliminasi
Gejala:
a. Riwayat ISK kronis, obstruksi sebelumnya
b. Penrunan volume urine
c. Rasa terbakar, dorongan berkemih
d. Diare
Tanda:

a. Oliguria, hematuria, piouria
b. Perubahan pola berkemih
4. Makanan dan Cairan
Gejala:
a. Mual/muntah, nyeri tekan abdomen
b. Riwayat diet tinggi purin, kalsium oksalat dan atau fosfat
c. Hidrasi yang tidak adekuat, tidak minum air dengan cukup
Tanda:
a. Distensi abdomen, penurunan/tidak ada bising usus
b. Muntah
5. Nyeri dan Kenyamanan
Gejala:
Nyeri hebat pada fase akut (nyeri kolik), lokasi nyeri tergantung lokasi batu (batu
ginjal menimbulkan nyeri dangkal konstan)

Tanda:

a. Perilaku berhati-hati, perilaku distraksi
b. Nyeri tekan pada area ginjal yang sakit
6. Keamanan
Gejala:
a. Penggunaan alkohol
b. Demam/menggigil
7. Penyuluhan/ Pembelajaran
Gejala:
a. Riwayat batu saluran kemih dalam keluarga, penyakit ginjal, hipertensi, gout, ISK
kronis
b. Riwayat penyakit usus halus, bedah abdomen sebelumnya, hiperparatiroidisme
c. Penggunaan antibiotika, antihipertensi, natrium bikarbonat, alopurinul, fosfat,
tiazid, pemasukan berlebihan kalsium atau vitamin.

Pemeriksaan Fisik
1. Penderita dengan keluhan nyeri kolik hebat, dapat disertai takikardi, berkeringat, dan
nausea.
2. Masa pada abdomen dapat dipalpasi pada penderita dengan obstruksi berat atau
dengan hidronefrosis.
3. Bisa didapatkan nyeri ketok pada daerah kostovertebra, tanda gagal ginjal dan retensi
urin.
4. Demam, hipertensi, dan vasodilatasi kutaneus dapat ditemukan pada pasien dengan
urosepsis.
5. Inspeksi tanda obstruksi : berkemih dengan jumlah urin sedikit, oliguria, anuria.

B Diagnosis Keperawatan
1. Nyeri akut b.d agen cedera biologis : infeksi
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan
mengabsorbsi makanan
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan imobilitas fisik
4. Ansietas berhubungan dengan perubahan besar : status kesehatan

C Nursing Care Plane (NCP)

Diagnosis
No NOC NIC
keperawatan
1. Nyeri akut b.d Setelah dilakukan tindakan  Lakukan pengkajian nyeri
agens cedera keperawatan selama…..di komprehensif yang meliputi
biologis : infeksi harapkan nyeri terkontrol lokasi, karakteristik,
dengan kriteria hasil onset/durasi, frekuensi,
 Dapat mengetahui tanda intensitas atau beratnya nyeri
dan gejala nyeri dan factor pencetus
 Dapat mengetahui  Gali pengetahuan dan
strategi untuk kepercayaan pasien
mengontrol nyeri mengenai nyeri
 Tanda-tanda vital dalam  Ajarkan prinsip-prinsip
batas normal manajemen nyeri
TD : 140/100 – 90/60  Ajarkan metode farmakologi
mmHg, Nadi : 60- untuk menurunkan nyeri
100x/menit, RR : 12-  Dukung istirahat/tidur yang
20x/menit, Suhu : 36,5 – adekuat untuk membantu
370C penurunan nyeri
 Dapat melaporkan nyeri  Berikan informasi yang
yang dirasakan akurat untuk meningkatkan
pengetahuan dan respon
keuarga terhadap
pengalaman nyeri
 Berikan individu penurun
nyeri yang optimal dengan
peresapan analgesic
 Kolaborasi dengan pasien,
orang terdekat dan tim
kesehatan lainnya untuk
memilih dan
mengimplementasikan
tindakan penurunan nyeri
nonfarmakologi sesuai
kebutuhan
2. Nutrisi kurang Setelah dilakukan tindakan  Identifikasi perubahan berat
dari kebutuhan keperawatan selama x 24 badan terakhir
tubuh jam diharapkan nutrisi  Identifikasi perubahan nafsu
berhubungan terpenuhi dengan kriteria makan dan aktivitas akhir-
dengan hasil akhir ini
ketidakmampuan  Berat badan stabil atau  Timbang berat badan pasien
mengabsorbsi meningkat  Tentukan pola makan pasien
makanan  Nutrisi terpenuhi dengan  Tentukan factor-faktor yang
baik mempengaruhi asupan
 Nafsu makan meningkat nutrisi
 Tidak terjadi mual,  Tinjau ualng sumber lain
muntah terkait data status nutrisi
 Mulai tindakan atau berikan
rujukan, sesuai kebutuhan
3. Intoleransi Setelah dilakukan tindakan  Kaji status fisiologis pasien
aktivitas keperawatan yang menyebabkan
berhubungan selama…….diharapkan kelelahan sesuai dengan
dengan imobilitas tidak terjadi intoleransi konteks usia dan
fisik aktivitas dengan kriteria perkembangan
hasil :  Monitor intake/asupan
 Daya tahan tubuh kuat nutrisi untuk mengetahui
 Tidak terjadi kelelahan sumber energy yang adekuat
 Tidak merasa lelah  Ajarkan pasien mengenai
setelah beraktivitas pengelolaan kegiatan dan
 Tanda-tanda vital dalam teknik manajemen waktu
batas normal untuk mencegah kelelahan
TD : 140/100 – 90/60  Bantu pasien untuk
mmHg, Nadi : 60- menjadwalkan periode
100x/menit, RR : 12- istirahat
20x/menit, Suhu : 36,5 –  Berikan kegiatan pengalihan
370C yang memenangkan untuk
meningkatkan relaksasi
 Lakukan ROM aktif/pasif
untuk menghilangkan
ketegangan otot
4. Ansietas Setelah dilakukan tindakan  Identifikasi pada saat terjadi
berhubungan keperawatan selama…..jam perubahan tingkat
dengan perubahan di harapkan tidak terjadi kecemasan
besar : status ansietas dengan kriteria  Kaji untuk tanda verbal dan
kesehatan hasil : non verbal kecemasan
 Koping baik  Ciptakan atmosfer rasa aman
 Tidak kebingungan, untuk meningkatkan
tegang, dan gelisah kepercayaan
 Tidak merasa khawatir  Lakukan usapan pada
dengan akibat dari punggung/leher dengan cara
kondisi yang dihadapi yang tepat
 Konsentrasi baik  Jelaskan semua prosedur
 Tidak insomnia termasuk sensasi yang akan
 Tanda-tanda vital dalam dirasakan yang mungki9n
batas normal akan dialami klien selama
TD : 140/100 – 90/60 prosedur
mmHg, Nadi : 60-  Atur penggunaan obat-
100x/menit, RR : 12- obatan untuk mengurangi
20x/menit, Suhu : 36,5 – kecemasan secara tepat
370C

D Implementasi (Setiadi, 2012)
Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang
telah disusun pada tahap perencanaan.
Menurut (Potter & Perry, 2009) Implementasi merupakan tahap proses
keperawatan di mana perawat memberikan intervensi keperawatan langsung dan tidak
langsung terhadap klien.

E Evaluasi (Setiadi, 2012)
Tahap penilaian atau evaluasi adalah perbandingan yang sistematis dan terencaan
tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara
bersinambungan dengan melibatkan klien, keluarga, dan tenaga kesehatan lainnya.
Menurut (Potter & Perry, 2009) Evaluasi merupakan langkah proses keperawatan
yang memungkinkan perawat untuk menentukan apakah intervensi keperawatan telah
berhasil meningkatkan kondisi klien.
Dari intervensi yang dilakukan beberapa hasil yang kita harapkan adalah sebagai berikut :
1. Nyeri hilang/terkontrol
2. Tidak mengalami kekurangan nutrisi
3. Pasien tidak cemas
4. Tidak terjadi infeksi
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Nefrolitiasis adalah adanya batu atau kalkulus dalam pelvis renal batu-batu
tersebut dibentuk oleh kristalisasi larutan urin (kalsium oksolat asam urat, kalium fosfat,
struvit dan sistin). Terbentuknya batu saluran kemih diduga ada hubungannya dengan
gangguan aliran urin, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan keadaan-
keadaan lain yang idiopatik. Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang
mempermudah terjadinya batu saluran kemih pada seseorang yaitu faktor intrinsik dan
faktor ekstrinsik

B. Saran

Untuk mencegah terbentuknya kembali batu saluran kemih perlu disiplin yang
tinggi dalam melaksanakan perawatan dan pengobatan. Maka perlu adanya pencegahan
atau program sepanjang hidup, seperti :
1. Masalah yang mendasari untuk mempermudah terbentuknya batu saluran kemih
harus dikoreksi.
2. Infeksi harus dihindari atau pengobatan secara intensif untuk semua jenis type batu
DAFTAR PUSTAKA

Ali, Zaidin. 2009. Dasar-dasar Dokumentasi Keperawatan. Jakarta : EGC.
Asmadi. 2008. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : EGC.
Baradero, Mary et al. 2008. Klien Gangguan Ginjal. Jakarta : EGC.
Grace, Pierce. 2006. At a Glance Ilmu Bedah. Jakarta : Erlangga.
http://anfis-mariapoppy.blogspot.com (diakses 21 Mei 2018)
Mutaqqin, Arif dan Kumala Sari. 2011. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan.
Jakarta : Salemba Medika.
Nursalam. 2011. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Perkemihan.
Jakarta : Salemba Medika.
Purnomo, Basuki. 2011. Dasar-dasar Urologi. Jakarta : Sagung Seto
Syaifuddin, 2006. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta : EGC.
Tarwoto. 2009. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta : EGC.
Tucker, Susan Martin. 2007. Standar Perawatan Pasien Perencanaan kolaboratif & Intervensi
Keperawatan. Jakarta : EGC.
Wijayaningsih, Kartika Sari. 2013. Standar Asuhan Keperawatan. Jakarta : Trans Info Medika.

Pokok Bahasan : Nefrolitiasis
Sub pokok Bahasaan : Mengetahui pengertian, penyebab, tanda dan Gejala, pengobatan,
pencegahan, dan diit pada pasien nefrolitiasis.
Sasaran : Keluarga Tn. P
Hari / tanggal : Sabtu, 11 juni 2016
Waktu : 1 x 25 menit
Tempat : Ruang Barokah PKUM Gombong

A. Tujuan Instruksional Umum

Setelah mengikuti penyuluhan kesehatan,keluarga Tn P mampu memahami
tentang masalah pada pasien Nefrolitiasis.

B. Tujuan Instruksional Khusus

Setelah mengikuti penyuluhan kesehatan selama 1 x 25 menit diharapkan
keluarga Tn P dapat:

a. Memahami pengertian
b. Memahami penyebab
c. Memahami tanda dan gejala
d. Memahami pengobatan
e. Memahami pencegahan
f. Memahami diit yang diperbolehkan dan tidak diperbolehka

C. Materi Pengajaran
1. Pengertian Nefrolitiasis
2. Penyebab Nefrolitiasis
3. tanda dan gejala
4. pengobatan
5. pencegahan
6. diit yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan

D. Metode

a. Ceramah dan tanya jawab

Pembelajaran dilakukan dengan media diskusi secara terbuka, yaitu dengan
memberikan pendidikan kesehatan kepada Keluarga Tn. P Keluarga Tn. P dapat
mengajukan pertanyaan setelah penyampaian materi selesai.

E. Materi

Terlampir

F. Media
Lembar Balik

Leaflet

G. Kegiatan Pembelajaran
NO KEGIATAN RESPON PASIEN WAKTU
1 Pembukaan : 5 Menit
 Mengucapkan salam  Menjawab salam
 Memperkenalkan diri  Mendengarkan
 Mengingatkan kontrak  Pasien ingat dengan
 Menjelaskan maksud dan tujuan kontrak
 Menanyakan kesediaan  Pasien mengerti maksud
 Apersepsi dan tujuan
 Pasien bersedia

2 Penjelasan Materi : 15 Menit
 Memulai penkes  Memperhatikan
 Menjelaskan pengertian  Mendengarkan
nefrolitiasis (batu ginjal)  Memberi kesempatan
 Menjelaskan tentang syarat- bertanya
syarat diet sisa rendah  Menjawab pertanyaan
 Menjelaskan tentang penyebab
nefrolitiasis
 Menjelaskan tentang tanda dan
gejala
 Menjelaskan tentang pengobatan
 Menjelaskan tentang pencegahan
 Menjelaskan tentang diit yang
diperbolehkan dan yang tidak
diperbolehkan

3 Penutup : 5 Menit
 Melakukan evaluasi  Memberi salam penutup
 Memberikan kesimpulan  Mendengarkan
 Menutup penkes  Menjawab salam

H. Evaluasi

1. Evaluasi structural
 Satuan Acara Pengajaran sudah siap sesuai dengan masalah keperawatan1
 Media sudah disiapkan yaitu lembar balik dan Leaflet
2. Evaluasi Proses
 Keluarga yang hadir
 Media dapat digunakan dengan baik
 Pendidikan kesehatan dapat dilaksanakan sesuai waktu.
 Respon keluarga terhadap materi
 Keluarga dapat mengikuti sampai selesai
3. Evaluasi Hasil
 keluarga Tn P dapat menjelaskan pengertian Masalah Nefrolitiasis ( batu ginjal )
 keluarga Tn P dapat menjelaskan penyebab nefrolitiasis ( batu ginjal )
 keluarga Tn P dapat menyebutkan tanda dan gejala Masalah nefrolitiasis ( batu
ginjal ).
 keluarga Tn P dapat menjelaskan tentang pengobatan nefrolitiasis ( batu ginjal )
 keluarga Tn P dapat menjelaskan tentang pencegahan nefrolitiasis ( batu ginjal )
 keluarga Tn P dapat menjelaskan diit yang diperbolehkan dan yang tidak
diperbolehkan

MATERI PEMBELAJARAN

A. Latar Belakang

Kurang kontrolnya keluarga dan perilaku keluarga terhadap nefrolitiasis,
sehingga keluarga tidak tahu apakah ia menderita penyakit perkemihan atau tidak,
khususnya para keluarga. Selain itu pula, banyak keluarga keluarga dengan sosial
ekonomi menengah ke bawah atau kurang pengetahuan tentang penyakit nefrolitiasis.
Oleh karena itu, penting sekali membekali pengetahuan bagi keluarga untuk
memahami tentang ruang lingkup bahkan informasi lainnya mengenai nefrolitiatis.
Maka dari itu, akan diadakannya penyuluhan kesehatan bagi keluarga terutama
keluarga Tn P untuk mengembangkan pola pikir mengenai kesehatan khususnya
mengenai penyakit nefrolitiasis agar nefrolitiasis bisa dicegah ataupun diatasi dengan
baik dan benar sesuai dengan prosedur dalam pelayanan kesehatan.
B. Pengertian
Nefrolitiasis adalah adanya batu atau kalkulus dalam pelvis renal batu-batu
tersebut dibentuk oleh kristalisasi larutan urin (kalsium oksolat asam urat, kalium
fosfat, struvit dan sistin). Ukuran batu tersebut bervareasi dari yang granular (pasir dan
krikil) sampai sebesar buah jeruk. Batu sebesar krikil biasanya dikeluarkan secara
spontan, pria lebih sering terkena penyakit ini dari pada wanita dan kekambuhan
merupakan hal yang mungkin terjadi. (Mansjoer Arief, “Kapita Selekta Kedokteran”
Edisi Kedua, Medikal Aesculapius, FKUI, Jakarta, 2000)

C. Penyebab Nefrolitiasis
 Hiperkalsemia dan hiperkalsiuria yang disebabkan oleh hiperparatiroidisme,
asidosis tubulus renal, mieloma multiple.
 Dehidrasi kronik.
 Imobilitas yang lama.
 Metabolisme purin ab normal (hiperuri semia dan pirai).
 Obstruksi kronik oleh benda asing di dalam traktus urinarius dan kelebihan
absorbsi oksalat pada penyakit inflamasi usus atau ileastomi.

(Mansjoer Arief, “Kapita Selekta Kedokteran” Edisi Kedua, Medikal Aesculapius,
FKUI, Jakarta, 2000)

D. Tanda-Tanda Gejala Umum
 Nyeri pinggang (kemeng) pada sudut kostavertebral
 Nyeri kolik dari pinggang menjalar ke depan dan ke arah kemaluan, disertai nausea
dan
 muntah.
 Hematuria : baik makroskopik maupun mikroskopik.
 Disuria : oleh karena infeksi.
 Demam disertai menggigil.
 Retensi urine pada batu ureter atau leher buli-buli.
 Dapat tanpa keluhan (“silent stone”).
E. Pengobatan
 Minum banyak cairan/air putih akan meningkatkan pembentukan air kemih dan
membantu membuang beberapa batu
 Makan makanan yang rendah protein karena protein akan memacu eksresi kalsium
urine.

F. Pencegahan
 Cukup dengan sering minum air putih 6-8 gelas per hari
 Kurangi makan yang banyak mengandung kalsium, kurangi konsumsi protein
hewani
dan batasi garam

G. Bahan Makanan
Yang boleh diberikan
 Beras, roti
 Mie,makaroni, bihun
 Telur, daging
 Ikan tanpa tulang
 Gula, buah-buahan
Yang tidak boleh diberikan
 Kentang
 Susu, keju, kepiting, ikan asin, sardine
 Bayam, daun mlinjo, daun pepaya,
 Buah-buahan yang dikeringkan