You are on page 1of 46

Universitas Kristen Krida Wacana

Fakultas Kedokteran

Laporan Kasus Penyakit Kusta
Sesuai Pendekatan Kedokteran Keluarga
di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Batujaya

Kabupaten Karawang Periode Maret 2018

Dosen Pembimbing :
Dr. dr. A. Aris Susanto, MS, Sp.OK.

Disusun Oleh :
Muhammad Asyraf bin Mohammad Nazari
112015436

Kepaniteraan Ilmu Kedokteran Komunitas
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Karawang, Maret 2018

Daftar Isi

Daftar Isi ...................................................................................................................................1
Bab I. Pendahuluan ...................................................................................................................2
1.1 Latar Belakang ....................................................................................................................2
1.2 Rumusan Masalah ...............................................................................................................3
1.3. Tujuan .................................................................................................................................3
1.4. Sasaran ................................................................................................................................3
Bab II. Materi dan Metode ........................................................................................................4
2.1. Materi ..................................................................................................................................4
2.2. Metode ................................................................................................................................4
Bab III. Kerangka Teori ............................................................................................................5
3.1 Kusta ...................................................................................................................................6
3.2 Klasifikasi dan Manifestasi Klinis........................................................................................9
3.3 Diagnosis ............................................................................................................................14
3.4 Regimen Pengobatan Penyakit Kusta.................................................................................20
3.5 Masa Reaksi .......................................................................................................................24
3.6 Pencegahan Cacat...............................................................................................................28
Bab IV. Hasil dan Data Kunjungan Rumah ............................................................................31
Bab V. Analisa Kasus ..............................................................................................................36
Bab VI. Penutup ......................................................................................................................38
Daftar Pustaka .........................................................................................................................40
Lampiran

1
Bab I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang
Penyakit kusta adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh bakteri
Mycobacterium leprae yang menyerang saraf tepi, kulit dan jaringan tubuh lainnya. Penyakit
kusta menyebar di seluruh dunia mulai dari Afrika, Amerika, Asia Tenggara, Mediterania
Timur dan Pasifik Barat. Menurut WHO tahun 2010, kusta merupakan masalah dunia
sebanyak 211.903 kasus. Pada tahun 2000, dunia (termasuk Indonesia) telah berhasil
mencapai status eliminasi. Eliminasi didefinisikan sebagai pencapaian jumlah penderita
terdaftar kurang dari 1 kasus per 10.000 penduduk. Jumlah kasus baru kusta di dunia pada
tahun 2011 adalah sekitar 219.075. Dari jumlah tersebut paling banyak terdapat di regional
Asia Tenggara (160.132) diikuti regional Amerika (36.832), diikuti regional Amerika
(36.832), regional Afrika (12.673), dan sisanya berada di regional lain di dunia.1-4
Jumlah kasus baru yang ditemukan di regional Asia pada tahun 2011, India
melaporkan jumlah terbanyak dengan 127.295 kasus, disusul Indonesia (20.023 kasus),
Bangladesh (3.970 kasus), dan Nepal (3.184 kasus). Selama tahun 2011, ada 18 negara yang
melaporkan 1.000 atau lebih kasus baru. Delapan belas negara ini mempunyai kontribusi
94% dari seluruh kasus baru di dunia. Secara global terjadi penurunan penemuan kasus baru,
akan tetapi beberapa negara seperti India, Indonesia, Myanmar, Srilanka menunjukkan
peningkatan deteksi kasus baru. Pada tahun 2010, Indonesia hanya melaporkan adanya
17.012 kasus baru, yang meningkat tahun 2011 dengan ditemukannya 20.032 kasus baru,
namun pada tahun 2012 jumlahnya kembali menurun (18.994 kasus baru). 2,3,4
Pada tahun 2012, New Case Detection Rate (NCDR) per 100.000 penduduk
mengalami penurunan dibandingkan tahun 2011, yaitu dari 8,3 per 100.000 penduduk
menjadi 7,76 per 100.000 penduduk. Sedangkan angka cacat tingkat II menunjukkan
peningkatan yaitu dari 0,84 pada tahun 2011 menjadi 0,87 per 100.000 penduduk pada tahun
2012. Penurunan angka penemuan kasus baru dan peningkatan angka cacat tingkat II ini
dapat diartikan semakin terlambat kasus baru ditemukan maka kecacatan yang terjadi pada
kasus baru akan semakin tinggi. Pada tahun 2012, terdapat sebanyak 13 provinsi (39,4%),
yang termasuk dalam beban kusta tinggi, termasuk provinsi Jawa Barat. Sebanyak 20

2
provinsi lainnya (60,6%) termasuk dalam beban kusta rendah. Hampir seluruh provinsi di
bagian timur Indonesia merupakan daerah dengan beban kusta tinggi.2,3 Di Indonesia,
Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki angka kejadian
kusta yang masih tinggi. Pada tahun 2012 didapatkan sebanyak 2.316 kasus baru di Provinsi
Jawa Barat dengan angka NCDR per 100.000 penduduk 5,19.2
Pada tahun 2017, tercatat 1,186 kasus baru di Kabupaten Karawang. Jumlah kasus
baru dengan cacat tingkat 1 sebanyak 43 kasus, sedangkan kasus baru dengan cacat tingkat 2
sebanyak 27 kasus. Sementara itu, prevalensi penyakit kusta di Kecamatan Batujaya pada
tahun 2017 mencapai 5.12:10.000 penduduk (target <1:10.000). Cakupan keberhasilan
Program Pengendalian Penyakit Kusta di Puskesmas Batujaya periode Januari 2017 sampai
dengan Desember 2017 masih belum diketahui. Oleh karena itu, evaluasi program ini perlu
dilakukan untuk menilai tingkat keberhasilan pelaksanaan program.4
Karena hal tersebut maka puskesmas dibutuhkan sebagai ujung tombak
pembangunan kesehatan di Indonesia dan hadir di tengah-tengah masyarakat sebagai Unit
Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (UPTD). Puskesmas berfungsi sebagai
pusat pembangun kesehatan yang mengutamakan promotif dan preventif dengan tanpa
mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif.5

1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Penyakit kusta menyebar di seluruh dunia mulai dari Afrika, Amerika, Asia Tenggara,
Mediterania Timur dan Pasifik Barat karena belum terputusnya rantai penularan kusta.
1.2.2 Jumlah kasus baru yang ditemukan di regional Asia pada tahun 2011 sebanyak 160.132
kasus. Selama tahun 2011, ada 18 negara yang melaporkan 1.000 atau lebih kasus baru.
1.2.3 Menurut laporan World Health Organization (WHO) tahun 2011 Indonesia menempati
urutan ketiga terbesar jumlah penemuan penderita kusta baru lebih dari seribu kasus
dalam setahun sebesar 20.032 kasus.
1.2.4 Provinsi Jawa barat merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki angka
kejadian kusta yang cukup tinggi yaitu 2.316 kasus.
1.2.5 Menurut data tahun 2017 Kabupaten Karawang merupakan salah satu kabupaten di Jawa
Barat yang memiliki jumlah kasus kusta yang cukup tinggi yaitu sebanyak 1,186 kasus.

3
1.3 Tujuan
Dengan melakukan kegiatan kunjungan langsung kepada pasien puskesmas, diharapkan
dapat menambah wawasan mengenai penelusuran riwayat kesehatan pasien dengan penyakit
kusta secara menyeluruh dan komprehensif, dengan melihat berbagai aspek disekitarnya secara
langsung di lapangan. Selain itu, diharapkan menambah pengetahuan yang lebih baik mengenai
penyakit kusta dan masalah-masalah lainnya yang ditemukan, seperti ada/tidaknya masa reaksi
kusta, riwayat keluarga dan lingkungan dengan kusta, dan keparahan kecacatan pasien ditinjau
dari sisi kedokteran keluarga yang tidak hanya berfokus pada upaya kuratif dan rehabilitatif,
tetapi juga promotif dan preventif, sehingga jumlah pasien dengan penyakit kusta di Indonesia,
khususnya dalam hal ini Puskesmas Batujaya, Karawang tidak meningkat.
1.4 Sasaran
Sasaran yang dituju adalah pasien dengan penyakit kusta, dan juga sekelompok
masyarakat atau komunitas yang harus diberikan edukasi guna meningkatkan pengetahuan
mereka akan pentingnya pengenalan dini terhadap penyakit kusta, mengubah stigma masyarakat
mengenai kusta dan kepentingan berobat, sehingga diharapkan, kedepannya setiap orang
(masyarakat) dapat turut memantau keluarga dan lingkungan sekitar sehingga apabila ditemukan
tanda maupun gejala yang termasuk dalam kelompok penyakit kusta dapat segera diobati.

4
Bab II
Materi dan Metode

2.1 Materi
a. Pengenalan penyakit kusta.
b. Klasifikasi dan manifestasi klinis
c. Diagnosis
d. Regimen pengobatan penyakit kusta.
e. Reaksi Kusta.
f. Pencegahan cacat dan prognosis.
g. Upaya perilaku hidup bersih dan sehat.
h. Upaya menciptakan rumah yang sehat.

2.2 Metode
Metode yang digunakan adalah survei kontak pasien kusta dengan cara pendekatan
keluarga. Penderita ditemukan saat kegiatan survei kontak pasien kusta di lingkungan desa
Segaran.
Hal yang dilakukan adalah:
a) Mendapatkan data lengkap mengenai pasien dari aspek biologis, psikologis, dan
sosialnya.
b) Mendapatkan data yang lengkap terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan
penyakit kustanya.
c) Mendapatkan data lengkap mengenai keadaan rumah dan keluarga pasien.
d) Mendapatkan data lengkap tentang keadaan lingkungan tempat tinggal pasien.
e) Menganalisa dan memberikan penjelasan pada pasien mengenai penanganan hal-hal
yang terjadi selama menderita penyakit kusta.

5
Bab III
Kerangka Teori

3.1 KUSTA
3.1.1 Definisi
Istilah kusta berasal dari bahasa India, yakni kustha berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara
umum. Penyakit kusta disebut juga Morbus Hansen, sesuai dengan nama yang menemukan
kuman yaitu Dr. Gerhard Armauwer Hansen pada tahun 1874 sehingga penyakit ini disebut
Morbus Hansen. Kusta yang juga disebut lepra merupakan penyakit infeksi granulomatous
kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae, terutama mengenai sistem saraf perifer,
kulit, namun dapat juga terjadi mukosa traktus respiratorius bagian atas, kemudian dapat ke
organ lain kecuali susunan saraf pusat 1

3.1.2 Epidemiologi
Di Indonesia penderita anak-anak di bawah umur 14 tahun didapatkan ±13 %, tetapi anak
di bawah umur 1 tahun jarang sekali. Frekuensi tertinggi terdapat pada kelompok umur antara
25-35 tahun. Kusta terdapat dimana-mana, tertama di Asia, Afrika, Amerika latin, daerah tropis
dan subtropis, serta masyarakat yang sosial ekonominya rendah.1
Penyakit kusta tersebar di seluruh dunia dengan endemisitas yang berbeda-beda.
Penyebaran penyakit kusta dari suatu tempat di seluruh dunia, tampaknya disebabkan oleh
perpindahan penduduk yang terinfeksi penyakit tersebut. Penyakit ini disebarkan melalui droplet
infeksi dan mempunyai masa tunas yang panjang (antara 2 bulan sampai 40 tahun)2

3.1.3 Etiologi
Kuman penyebab lepra adalah Mycobacterium leprae. Kuman ini bersifat obligat intrasel,
aerob, tidak dapat dibiakkan secara in vitro, berbentuk basil Gram positif dengan ukuran 3 – 8
μm x 0,5 μm, bersifat tahan asam dan alkohol. Waktu pembelahan Mycobacterium leprae sangat
lama, yaitu 2-3 minggu, kuman ini dapat bereproduksi optimal pada suhu 27°C – 30°C secara in
vivo, tumbuh dengan baik pada jaringan yang lebih dingin (kulit, sistem saraf perifer, hidung,
cuping telinga, anterior chamber of eye, saluran napas atas, kaki dan testis), dan tidak mengenai
area yang hangat (aksila, inguinal, kepala, garis tengah punggung.1,2

6
Gambar 1: Mycobacterium leprae.

3.1.4 Patogenesis
M. leprae berpredileksi di daerah-daerah tubuh yang relatif lebih dingin.
Ketidakseimbangan antara derajat infeksi dan derajat penyakit disebabkan oleh respon imun
yang berbeda yang menyebabkan timbulnya reaksi granuloma setempat atau menyeluruh yang
dapat sembuh sendiri atau progresif. Oleh karena itu penyakit kusta dapat disebut sebagai
penyakit imunologik. Gejala klinisnya lebih sebanding dengan tingkat reaksi selularnya daripada
intensitas infeksinya. Meskipun cara masuk M. leprae ke dalam tubuh masih belum diketahui
dengan pasti, beberapa penelitian telah memperlihatkan bahwa yang tersering ialah melalui kulit
yang lecet pada bagian tubuh yang bersuhu dingin dan melalui mukosa nasal. Pengaruh, M.
leprae terhadap kulit bergantung pada faktor imunitas seseorang, kemampuan hidup M. leprae
pada suhu tubuh yang rendah, waktu regenerasi yang lama, serta sifat kuman yang avirulens dan
nontoksis.
Masuknya M. leprae ke dalam tubuh akan ditangkap oleh APC (Antigen Presenting Cell)
dan melalui dua sinyal yaitu sinyal pertama dan sinyal kedua. Sinyal pertama adalah tergantung
pada TCR- terkait antigen (TCR = T cell receptor) yang dipresentasikan oleh molekul MHC
pada permukaan APC sedangkan sinyal kedua adalah produksi sitokin dan ekspresinya pada
permukaan dari molekul kostimulator APC yang berinteraksi dengan ligan sel T melalui CD28.
Adanya kedua sinyal ini akan mengaktivasi To sehingga To akan berdifferensiasi menjadi Th1
dan Th2. Adanya TNF α dan IL 12 akan membantu differensiasi To menjadi Th1.
Th 1 akan menghasilkan IL 2 dan IFN γ yang akan meningkatkan fagositosis makrofag
(fenolat glikolipid I yang merupakan lemak dari M. leprae akan berikatan dengan C3 melalui
reseptor CR1,CR3,CR4 pada permukaannya lalu akan difagositosis) dan proliferasi sel B. Selain

7
itu, IL 2 juga akan mengaktifkan CTL lalu CD8+. Di dalam fagosit, fenolat glikolipid I akan
melindungi bakteri dari penghancuran oksidatif oleh anion superoksida dan radikal hidroksil
yang dapat menghancurkan secara kimiawi. Karena gagal membunuh antigen maka sitokin dan
growth factors akan terus dihasilkan dan akan merusak jaringan akibatnya makrofag akan terus
diaktifkan dan lama kelamaan sitoplasma dan organella dari makrofag akan membesar, sekarang
makrofag seudah disebut dengan sel epiteloid dan penyatuan sel epitelioid ini akan membentuk
granuloma.

Th2 akan menghasilkan IL 4, IL 10, IL 5, IL 13. IL 5 akan mengaktifasi dari eosinofil. IL
4 dan IL 10 akan mengaktifasi dari makrofag. IL 4 akan mengaktifasi sel B untuk menghasilkan
IgG4 dan IgE. IL 4 , IL10, dan IL 13 akan mengaktifasi sel mast.

Sinyal I tanpa adanya sinyal II akan menginduksi adanya sel T anergi dan tidak
teraktivasinya APC secara lengkap akan menyebabkan respon ke arah Th2. Pada Tuberkoloid
Leprosy, kita akan melihat bahwa Th 1 akan lebih tinggi dibandingkan dengan Th2 sedangkan
pada Lepromatous leprosy, Th2 akan lebih tinggi dibandingkan dengan Th1.3

8
3.2 KLASIFIKASI DAN MANIFESTASI KLINIS
Menurut WHO, kusta dibagi menjadi 2 bentuk yaitu pausi basiler (indeterminate dan
tuberculoid) dan multi basiler (borderline dan lepromatous).

Tabel 1: Bagan Diagnosis Klinis menurut WHO.1

PB (Pausibasilar) MB (Multibasilar)

Lesi kulit (makula yang 1-5 lesi >5 lesi
datar, papul yang
Hipopigmentasi/eritema Distribusi lebih
meninggi, infiltrate,
simetris
plak eritem, nocus) Distribusi tidak simetris

Kerusakan saraf Hilangnya sensasi yang Hilangnya sensasi
(menyebabkan jelas kurang jelas
hilangnya
sensasi/kelemahan otot
yang dipersarafi oleh Hanya satu cabang saraf Banyak cabang saraf

saraf yang terkena

BTA Negatif Positif

Tipe Indeterminate (I), Lepromatosa (LL),
Tuberkuloid (T), Borderline lepromatous
Borderline tuberkuloid (BL), Mid borderline
(BT) (BB)

Berdasarkan klasifikasi Ridley and Jopling, penyakit kusta dibagi menjadi:3

a. Indeterminate leprosy (I): makula hipopigmentasi, terkadang makula eritema. Kehilangan
rasa sensoris belum ada. Sekitar 75% penderita mengalami kesembuhan spontan,
sedangkan pada yang lainnya akan tetap pada bentuk ini sampai ketika imunitas
menurun, maka akan berubah menjadi bentuk yang lain.
b. Tuberculoid leprosy (TT): lesi kulit minimal. Biasanya hanya berupa satu plak eritem
dengan bagian tepi yang meninggi. Predileksi pada wajah, ekstremitas, intertriginosa, dan
9
kepala. Lesi kering, skuama, hipohidrotik, dan tanpa rambut. Pada bentuk ini, lesi pada
kulit sudah mengalami anestesi.
c. Bordeline tuberculoid leprosy (BT): lesi sama dengan tipe tuberculoid, namun lesi lebih
kecil dan banyak. Berupa makula anestesi atau plak yang disertai lesi satelit di
pinggirnya. Gambaran hipopigmentasi, kekeringan kulit dan skuama tidak jelas. Saraf
tidak terlalu membesar dan tidak terlalu menyebabkan alopesia dibandingkan tipe
tuberculoid. Bentuk ini biasanya bertahan/tetap, namun dapat kembali pada tipe
tuberkuloid atau progresif menuju bentuk lepromatosa.
d. Borderline borderline leprosy (BB): tipe yang paling tidak stabil, disebut juga dimorfik
dan jarang dijumpai. Lesi kulit banyak, merah, berupa plak ireguler. Lesi sangat
bervariasi baik ukuran, bentuk, maupun distribusinya. Bisa didapatkan lesi punched out
yaitu hipopigmentasi yang oval pada bagian tengah. Distribusi menyerupai bentuk
lepromatosa, namun asimetris. Dapat terjadi adenopati regional.
e. Borderline lepromatous leprosy(BL): lesi banyak dan terdiri atas makula, papula, plak
dan nodul. Terdapat lesi punched-out annular. Anestesi tidak terjadi.
f. Lepromatous leprosy(LL): lesi awal berupa makula yang pucat. Makula kecil, difus dan
simetris. Anetesi tidak terjadi pada bentuk ini, saraf tidak menebal, dan hidrotik. Hilangnya
rangsang saraf lambat dan progresif.

10
Tabel 2: Gambaran Klinis, Bakteriologis, dan Imunologik Kusta PB1

Karakteristik Tuberkuloid Borderline Indeterminate
Tuberkuloid (BT)
(TT) (I)

Lesi

Bentuk Makula atau Makula dibatasi Hanya infiltrat
makula dibatasi infiltrat; infiltrat
infiltrat saja

Jumlah Satu atau Satu dengan lesi Satu atau
beberapa satelit beberapa

Distribusi Terlokasi dan Asimetris Bervariasi
asimetris

Permukaan Kering,skuama Kering, skuama Halus agak
berkilat

Anestesia Jelas Jelas Tidak ada sampai
tidak jelas

Batas Jelas Jelas Dapat jelas atau
tidak jelas

BTA

Pada lesi kulit Negatif Negatif, atau 1+ Biasanya negatif

Tes Lepromin Positif kuat (3+) Positif lemah Dapat positif
lemah atau
negatif

*Tes Lepromin (Mitsuda) untuk membantu penentuan tipe, hasilnya baru dapat diketahui setelah
3minggu

11
Tabel 3: Gambaran Klinis, Bakteriologis, dan Imunologik Kusta MB1
Karakteristik Lepromatosa Borderline Mid-borderline
(LL) Lepromatosa (BB)
(BL)

Lesi

Bentuk Makula, infiltrat Makula, plak, Plak, lesi bentuk
difus, papul, papul kubah, lesi punched
nodus out

Jumlah Banyak distribusi Banyak tapi kulit Beberapa, kulit
luas, praktis tidak sehat masih ada sehat (+)
ada kulit sehat

Distribusi Simetris Cenderung Asimetris
simetris

Permukaan Halus berkilat Halus berkilat Sedikit berkilap,
beberapa lesi kering

Anestesia Tidak jelas Tidak jelas Lebih jelas

Batas Tidak jelas Agak jelas Agak jelas

BTA

Pada lesi Banyak Banyak Agak banyak
kulit

Sekret Banyak Biasanya tidak Tidak ada
hidung ada

Tes Negatif Negatif Biasanya negatif
Lepromin

12
TT BT I

LL BL BB

Gambar 2: Tipe Kusta.

13
Gambar 3: Foto Manifestasi Tuberculoid Lepra di Punggung.

Gambar 4: Foto Manifestasi Tuberculoid Lepra di Wajah.

3.3 DIAGNOSIS
3.3.1 Diagnosis Kerja
Diagnosis penyakit kusta didasarkan gambaran klinis, bakterioskopis, dan
histopatologis, dan serologis. Diantara ketiganya, diagnosis secara klinislah yang terpenting dan
paling sederhana. Hasil bakterioskopis memerlukan waktu paling sedikit 15-30 menit, sedangkan
histopatologik 10-14 hari. Kalau memungkinkan dapat dilakukan tes lepromin (Mitsuda) untuk
membantu penentuan tipe, yang hasilnya baru dapat diketahui setelah 3 minggu. Kelainan kulit
pada penyakit kusta tanpa komplikasi dapat hanya berbentuk makula saja, infiltrat, saja atau
keduanya. Secara inspeksi mirip penyakit lain, ada tidaknya anestesia sangat banyak membantu
penentuan diagnosis, meskipun tidak terlalu jelas. Hal ini dengan mudah dilakukan dengan
menggunakan jarum terhadap rasa nyeri, kapas terhadap rasa raba, dan dapat juga dengan rasa

14
suhu, yaitu panas dan dingin dengan tabung reaksi. Perhatikan pula ada tidaknya dehidrasi di
daerah lesi yang dapat dipertegas dengan menggunakan pensil tinta (tanda Gunawan). Cara
menggoresnya mulai dari tengah lesi ke arah kulit normal. Dapat pula diperhatikan adanya
alopesia di daerah lesi. Dan ditemukan satu atau lebih tanda kardinal pasien dari daerah
endemik,lesi kulit dengan karakter lepra dengan atau tidak rasa baal,disertai dengan saraf
perifer,dan menemukan M.Leprae. 1,4
Mengenai saraf perifer yang perlu diperhatikan ialah pembesaran, konsistensi, dan nyeri
atau tidak. Hanya beberapa saraf superfisial yang dapat dan perlu diperiksa, yaitu N. fasialis, N.
aurikuralis magnus, N. radialis, N. ulnaris, N. medianus, N. poplitea lateralis, dan N. tibialis
posterior. Untuk tipe lepramatosa kelainan saraf biasanya bilateral dan menyeluruh, sedang
untuk tipe tuberkuloid kelainan sarafnya lebih terlokalisasi mengikuti tempat lesinya.1,4

Deformitas pada kusta, sesuai dengan patofisiologinya, dapat dibagi dalam deformitas
primer dan sekunder. Deformitas primer sebagai akibat langsung oleh granuloma yang terbentuk
sebgai reaksi terhadap M. leprae, yang mendesak dan merusak jaringan di sekitarnya, yaitu kulit,
mukosa traktus respiratorius atas, tulang-tulang jari, dan wajah. Deformitas sekunder terjadi
sebagai akibat kerusakan saraf, umumnya deformitas diakibatkan keduanya, tetapi terutama
karena kerusakan saraf. Gejala-gejala kerusakan saraf:1,4

1. N. ulnaris: anestesia pada ujung jari anterior kelingking dan jari manis, clawing
kelingking dan jari manis, atrofi hipotenar dan otot interoseus serta kedua otot
lumbrikalis medial.
2. N. medianus: anestesia pada ujung jari bagian anterior ibu jari, telunjuk, dan jari tengah,
tidak mampu aduksi ibu jari, clawing ibu jari, telunjuk, dan jari tengah, ibu jari
kontraktur, atrofi otot tenar dan kedua otot lumbrikalis lateral.
3. N. radialis: anestesia dorsum manus, serta ujumg proksimal jari telunjuk, tangan gantung
(wrist drop), tak mampu ekstensi jari-jari atau pergelangan tangan.
4. N. poplitea lateralis: anestesia tungkai bawah, bagian lateral dan dorsum pedis, kaki
gantung (foot drop), kelemahan otot peroneus.
5. N. tibialis posterior: anestesia telapak kaki, claw toes, paralisis otot intristik kaki dan
kolaps arkus pedis.

15
6. N. fasialis: lagoftalmus (cabang temporal dan zigomatik), kehilangan ekspresi wajah dan
kegagalan mengaktupkan bibir (cabang bukal, mandibular dan servikal).
7. N. trigeminus: anestesia kulit wajah, kornea dan konjungtiva mata.

Pemeriksaan Fungsi Saraf
a. Tes sensorik
Gunakan kapas, jarum, serta tabung reaksi berisi air hangat dan dingin.
- Rasa raba
- Rasa tajam
- Suhu
b. Tes Otonom
Berdasarkan adanya gangguan berkeringat di makula anestesi pada penyakit kusta,
pemeriksaan lesi kulit dapat dilengkapi dengan tes anhidrosis, yaitu:5
1. Tes keringat dengan tinta ( tes Gunawan)
2. Tes Pilokarpin
3. Tes Motoris (voluntary muscle test) pada n. ulnaris, n.medianus, n.radialis, dan n.
peroneus

Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaaan bakterioskopik
Digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis dan pengamatan obat. Sediaan dibuat
dari kerokan jaringan kulit atau usapan mukosa hidung yang diwarnai dengan pewarnaan Ziehl
Neelson. Bakterioskopik negatif pada seorang penderita, bukan berarti orang tersebut tidak
mengandung basil M. leprae. Pertama – tama harus ditentukan lesi di kulit yang diharapkan
paling padat oleh basil setelah terlebih dahulu menentukan jumlah tepat yang diambil. Untuk
riset dapat diperiksa 10 tempat dan untuk rutin sebaiknya minimal 4 – 6 tempat yaitu kedua
cuping telinga bagian bawah dan 2 -4 lesi lain yang paling aktif berarti yang paling eritematosa
dan paling infiltratif. Pemilihan cuping telinga tanpa menghiraukan ada atau tidaknya lesi di
tempat tersebut karena pada cuping telinga biasanya didapati banyak M. leprae.

16
Kepadatan BTA tanpa membedakan solid dan nonsolid pada sebuah sediaan dinyatakan
dengan indeks bakteri (I.B) dengan nilai 0 sampai 6+ menurut Ridley. 0 bila tidak ada BTA
dalam 100 lapangan pandang (LP).

1 + Bila 1 – 10 BTA dalam 100 LP

2+ Bila 1 – 10 BTA dalam 10 LP

3+ Bila 1 – 10 BTA rata – rata dalam 1 LP

4+ Bila 11 – 100 BTA rata – rata dalam 1 LP

5+ Bila 101 – 1000BTA rata – rata dalam 1 LP

6+ Bila> 1000 BTA rata – rata dalam 1 LP

Indeks morfologi adalah persentase bentuk solid dibandingkan dengan jumlah solid dan
non solid.

IM= Jumlah solidx 100 %/ Jumlah solid + Non solid

Syarat perhitungan IM adalah jumlah minimal kuman tiap lesi 100 BTA, I.B 1+ tidak perlu
dibuat IM karena untuk mendapatkan 100 BTA harus mencari dalam 1.000 sampai 10.000
lapangan, mulai I.B 3+ maksimum harus dicari 100 lapangan.1

2. Pemeriksaan histopatologi
Makrofag dalam jaringan yang berasal dari monosit di dalam darah ada yang mempunyai
nama khusus, dan yang dari kulit disebut histiosit. Apabila SIS nya tinggi, makrofag akan
mampu memfagosit M. leprae. Datangnya histiosit ke tempat kuman disebabkan karena proses
imunologik dengan adanya faktor kemotaktik. Kalau datangnya berlebihan dan tidak ada lagi
yang harus difagosit, makrofag akan berubah bentuk menjadi sel epiteloid yang tidak dapat
bergerak dan kemudian akan dapat berubah menjadi sel datia Langhans.

Adanya massa epiteloid yang berlebihan dikelilingi oleh limfosit yang disebut tuberkel
akan menjadi penyebab utama kerusakan jaringan dan cacat. Pada penderita dengan SIS rendah
atau lumpuh, histiosit tidak dapat menghancurkan M. leprae yang sudah ada didalamnya, bahkan

17
dijadikan tempat berkembang biak dan disebut sebagai sel Virchow atau sel lepra atau sel busa
dan sebagai alat pengangkut penyebarluasan.

Gambaran histopatologi tipe tuberkoloid adalah tuberkel dan kerusakan saraf yang lebih
nyata, tidak ada basil atau hanya sedikit dan non solid. Tipe lepromatosa terdapat kelim sunyi
subepidermal (subepidermal clear zone) yaitu suatu daerah langsung di bawah epidermis yang
jaringannya tidak patologik. Bisa dijumpai sel virchow dengan banyak basil. Pada tipe borderline
terdapat campuran unsur – unsur tersebut.1

3. Pemeriksaan serologik
Didasarkan terbentuk antibodi pada tubuh seseorang yang terinfeksi oleh M. leprae.
Antibodi yang terbentuk dapat bersifat spesifik terhadap M. leprae, yaitu antibodi anti phenolic
glycolipid-1 (PGL-1) dan antibodi antiprotein 16kD serta 35kD. Sedangkan antibodi yang tidak
spesifik antara lain antibodi anti-lipoarabinomanan (LAM), yang juga dihasilkan oleh kuman M.
tuberculosis.1

Kegunaan pemeriksaan serologik ialah dapat membantu diagnosis kusta yang meragukan,
karena tanda klinis dan bakteriologik tidak jelas.Pemeriksaan serologik adalah MLPA
(Mycobacterium Leprae Particle Aglutination), uji ELISA (Enzyme Linked Immuno-Sorbent
Assay) dan ML dipstick (Mycobacterium Leprae dipstick).1

18
3.3.2 Diagnosis Banding

Tabel 4: Diagnosis Banding Morbus Hansen.

DD Etiologi Efluoresensi,Gejala Klinis

Vitiligo Idiopatik Hipomelanosis,adanya makula putih yang dapat meluas
dapat mengenai seluruh bagian tubuh yang mengandung
melanosit, misalnya rambut dan mata. Makula berwarna
putih dengan diameter beberapa milimeter sampai
beberapa sentimeter, bulat atau lonjong dengan batas
tegas, tanpa perubahan epidermis yang lain.

Pitiariasis Vesikolor Malassezia Bercak berskuama halus yang berwarna putih sampai
furfur Robin coklat hitam, terutama meliputi badan dan kadang-
kadang dapat menyerang ketiak, lipat paha, lengan,
tungkai atas, leher, muka dan kulit kepala yang
berambut

Dermatitis Seboroik Idiopatik,Status Eritema dan skuama berminyak dan agak kekuningan
seboroik batasnya agak kurang tegas

Psoriasis Autoimun,Genet Bercak eritema yang meninggi (plak)dengan skuama di
ik atasnya. Fenomena tetesan Lilin,Auspitz dan Kobner

Neurofibromatosis Mutasi gen NF1 Neurofibroma,Cafe-au-lait spot

Granuloma Idiopatik Ruam berbentuk benjol kemerahan
Anulare

Xantomatosis Genetik Deposit lemak kekuning kuningan pada kulit atau
tempat lain (dalam sel retikulo-endotelial) karena
hiperlipidemia

Skleroderma Idiopatik Bercak skleropatik atau plak soliter (tersering) atau
bercak-bercak multiple (terjarang)

Leukemia Kutis Leukimia Infiltrasi sel-sel leukemia yang bersifata gresif kedalam
lapisan epidermis,dermis maupun subkutis.

Tuberkulosis Kutis M. Tuberculosis Skrofuloderma,chancre

Verukosa HPV Kutil berbentuk bulat,berwarna abu-abu,permukaan
kasar

19
3.4. REGIMEN PENGOBATAN PENYAKIT KUSTA

Tujuan utama yaitu memutuskan mata rantai penularan untuk menurunkan insiden
penyakit, mengobati dan menyembuhkan penderita, mencegah timbulnya penyakit, untuk
mencapai tujuan tersebut, strategi pokok yg dilakukan didasarkan atas deteksi dini dan
pengobatan penderita.2
Pengobatan kusta disarankan memakai program Multi Drugs Therapy (MDT) dengan
kombinasi rifampisin, klofazimin, dan DDS, direkomendasikan oleh WHO sejak 1981. Tujuan
dari program MDT adalah: mengatasi resistensi dapson yang semakin meningkat, menurunkan
angka putus obat (drop-out rate) dan ketidaktaatan penderita.
Obat antikusta yang paling banyak dipakai pada saat ini adalah DDS, klofazimin dan
rifampicin. Pada tahun 1998 WHO menambahkan 3 obat antibiotik lain untuk pengobatan
alternatif yaitu ofloksasin, minosiklin, dan klaritomisin.1,4

DDS (Dapsone)
Merupakan singkatan dari Diamino Diphenyl Sulfon. Dapson bersifat bakteriostatik
dengan menghambat enzim dihidrofolat sintetase. Dapson bekerja sebagai anti metabolit PABA.
Indeks morfologi kuman penderita LL yang diobati dengan Dapson biasanya menjadi nol setelah
5 sampai 6 bulan.
Dosis: dosis tunggal yaitu 50-100 mg/hari untuk dewasa atau 2 mg/kg berat badan untuk anak-
anak. Efek samping: erupsi obat, anemia hemolitik, leukopenia, insomnia, neuropatia,
nekrolisis epidermal toksik, hepatitis dan methemoglobinemia. Efek samping tersebut
jarang dijumpai pada dosis lazim.

Rifampisin
Rifampisin merupakan bakterisidal kuat pada dosis lazim dan merupakan obat paling
ampuh untuk kusta saat ini. Rifampisin bekerja menghambat enzim polimerase RNA yang
berikatan secara irreversibel. Namun obat ini harganya mahal dan telah dilaporkan adanya
resistensi.
Dosis: dosis tunggal 600 mg/hari (atau 5-15 mg/kgBB) mampu membunuh kuman kira-kira
99.9% dalam waktu beberapa hari.
Efek samping: hepatotoksik, nefrotoksik, gejala gastrointestinal dan erupsi kulit.

20
Clofazimin

Obat ini bersifat bakteriostatik setara dengan dapson. Diduga bekerja melalui gangguan
metabolisme radikal oksigen. Obat ini juga mempunyai efek anti inflamasi sehingga berguna
untuk pengobatan reaksi kusta.
Dosis: 50 mg/hari atau 100 mg tiga kali seminggu dan untuk anak-anak 1 mg/kgBB/hari. Selain
itu dosis bulanan 300 mg juga diberikan setiap bulan untuk mengurangi reaksi tipe I dan II.5
Efek samping: hanya terjadi pada dosis tinggi berupa gangguan gastrointestinal (nyeri
abdomen, diare, anoreksia dan vomitus).1,4

Obat alternatif
Ofloksasin
Merupakan turunan fluorokuinolon yang paling aktif terhadap M. leprae in vitro. Dosis
optimal harian adalah 400 mg. Dosis tunggal yang diberikan dalam 22 dosis akan membunuh
kuman M. leprae hidup sebesar 99,99%. Efek sampingnya adalah mual, diare, dan gangguan
saluran cerna lainnya, berbagai gangguan susunan saraf pusat termasuk insomnia, nyeri kepala,
dizziness, nervousness dan halusinasi.
Minoksiklin
Termasuk dalam kelompok tetrasiklin. Efek bakterisidalnya lebih tinggi daripada
klaritromisin, tetapi lebih rendah daripada rifampisin. Dosis standar harian adalah 100 mg. Efek
sampingnya adalah pewarnaan gigi bayi dan anak-anak, kadang-kadang menyebabkan
hiperpigmentasi kulit dan membran mukosa, berbagai simtom saluran cerna dan susunan saraf
pusat, termasuk dizziness dan unsteadiness.1,4
Klaritromisin
Merupakan kelompok antibiotik makrolid dan mempunyai aktivitas bakterisidal terhadap
M. leprae pada tikus dan manusia. Pada penderita kusta lepromatosa, dosis harian 500 mg dapat
membunuh 99% kuman hidup dalam 28 hari dan lebih dari 99% dalam 56 hari. Efek sampingnya
adalah nausea, vomitus dan diare.2
Penatalaksanaan kusta menggunakan Multi Drug Therapy (MDT) menurut WHO tahun
1998 adalah sebagai berikut:5

21
Skema Regimen MDT WHO

Tabel 5: Obat dan Dosis Regimen MDT-PB.

OBAT DEWASA

BB<35 kg BB>35 kg

Rifampisin 450 mg/bln (diawasi) 600 mg/bln (diawasi)

Dapson swakelola 50mg/hari(1-2mg/kgBB/hari) 100 mg/hari

Tabel 6: Obat dan Dosis Regimen MDT-MB.

OBAT DEWASA

BB<35 kg BB>35 kg

Rifampisin 450 mg/bln (diawasi) 600 mg/bln (diawasi)

Klofazimin 300 mg/bln diawasi dan
diteruskan 50 mg/hari
swakelola
Dapson swakelola 100 mg/hari
50mg/hari(1-2mg/kgBB/hari)

22
Tabel 7: Obat dan Dosis Regimen MDT WHO untuk Anak.

PB MB

OBAT < 10 tahun 10 th – 14 th < 10 th 10 th -14 th

BB < 50kg BB < 50 kg

Rifampisin 300 mg/bln 450 mg/bln 300 mg/bln 450 mg/bln

Klofazimin - - 100 mg/bln 150 mg/bln
dilanjutkan 50 mg, dilanjutkan 50
2x/mgg mg/hr
25 mg/hr 50 mg/hr
25 mg/hr 50 mg/hr

Gambar 5: Obat Blister Kusta dari WHO.

Obat Morbus Hansen dari WHO

 Lamanya pengobatan morbus hansen tipe PB adalah 6 dosis diselesaikan dalam 6-
9 bulan.
 Pengobatan morbus hansen tipe MB adalah sudah sebesar 24 dosis diselesaikan
dalam waktu maksimal 36 bulan.

23
 Minimum 6 bulan untuk PB dan minimum 24 bulan untuk MB maka dinyatakan
RFT (Release From Treatment).
 WHO Expert Committee:1,5
o MB menjadi 12 dosis dalam 12-18 bulan, sedangkan pengobatan untuk kasus PB dengan
lesi kulit 2-5 buah tetap 6 dosis dalam 6-9 bulan.
o Bagi kasus PB dengan lesi tunggal pengobatan adalah Rifampisin 600 mg ditambah
dengan Ofloksasin 400 mg dan Minosiklin 100 mg (ROM) dosis tunggal.
 Penderita MB yang resisten dengan rifampisin biasanya akan resisten pula dengan DDS
sehingga hanya bisa mendapat klofazimin. Untuk itu pengobatannya dengan klofazimin 50
mg, ofloksasin 400 mg dan minosiklin 100 mg setiap hari selama 6 bulan, diteruskan
klofazimin 50 mg ditambah ofkloksasin 400 mg atau minosiklin 100 mg setiap hari selama
18 bulan.
 Bagi penderita MB yang menolak klofazimin, diberikan rifampisin 600 mg ditambah
dengan ofloksasin 400 mg dan minosiklin 100 mg dosis tunggal setiap bulan selama 24
bulan.
Penghentian pemberian obat lazim disebut Release From Treatment (RFT). Setelah RFT
dilanjutkan dengan tindak lanjut tanpa pengobatan secara klinis dan bakterioskopis minimal
setiap tahun selama 5 tahun. Bila bakterioskopis tetap negatif dan klinis tidak ada keaktifan baru,
maka dinyatakan bebas dari pengamatan atau disebut Release From Control (RFC).

3.5 REAKSI KUSTA
Reaksi kusta adalah interupsi dengan episode akut pada perjalanan penyakit yang
sebenarnya sangat kronik.1 Penyakit kusta yang merupakan suatu reaksi kekebalan (cellular
response) atau reaksi antigen antibody (humoral response). Reaksi ini dapat terjadi sebelum
pengobatan, tetapi terutama terjadi selama atau setelah pengobatan. Dari segi imunologis
terdapat perbedaan prinsip antara reaksi tipe 1 dan tipe 2, yaitu pada reaksi tipe 1 yang
memegang peranan adalah imunitas seluler (SIS), sedangkan pada reaksi tipe 2 yang memegang
peranan adalah imunitas humoral. 1

24
Tabel 2.7 Perbedaan Reaksi Kusta Tipe 1 dan Tipe 2.3
No. Gejala/tanda Tipe I (reversal) Tipe II (ENL)
1 Kondisi umum Baik atau demam ringan Buruk, disertai malaise dan
febris
2 Peradangan di Bercak kulit lama menjadi Timbul nodul kemerahan,
kulit lebih meradang (merah), lunak, dan nyeri tekan.
dapat timbul bercak baru Biasanya pada lengan dan
tungkai. Nodul dapat pecah
(ulserasi)
3 Waktu terjadi Awal pengobatan MDT Setelah pengobatan yang
lama, umumnya lebih dari 6
bulan
4 Tipe kusta PB atau MB MB
5 Saraf Sering terjadi Dapat terjadi
Umumnya berupa nyeri tekan
saraf dan atau gangguan
fungsi saraf
6 Keterkaitan organ Hampr tidak ada Terjadi pada mata, KGB,
lain sendi, ginjal, testis, dll
7 Faktor pencetus  Melahirkan  Emosi
 Obat-obat yang  Kelelahan dan stress
meningkatkan fisik lainnya
kekebalan tubuh  kehamilan

25
Tabel 2.8 Perbedaan Reaksi Kusta Ringan dan Berat tipe 1 dan tipe 2.3
No Gejala/tanda Tipe I Tipe II
Ringan Berat Ringan Berat
1. Kulit Bercak : Bercak : Nodul : merah, Nodul : merah, panas,
merah, tebal, merah, panas, nyeri nyeri yang bertambah
panas, nyeri tebal, parah sampai pecah
panas,
nyeri yang
bertambah
parah
sampai
pecah

2 Saraf tepi Nyeri pada Nyeri pada Nyeri pada Nyeri pada perabaan
perabaan (-) perabaan perabaan (-) (+)
(+)
3 Keadaan umum Demam (-) Demam Demam (+) Demam (+)
(+)
4 Keterlibatan - - - +
organ lain Terjadi peradangan
pada mata
(iridocyclitis), testis
(epididimoorchitis),
ginjal (nefritis),
kelenjar limpa
(limfadenitis) dan
gangguan pada tulang,
hidung, dan
tenggorokan.
*Bila ada reaksi pada lesi kulit yang dekat dengan saraf, dikategorikan sebagai reaksi
berat

26
Fenomena Lucio
Fenomena lucio merupakan reaksi kusta yang sangat berat yang terjadi pada kusta tipe
lepromatosa non nodular difus. Gambaran klinis berupa plak atau infiltrat difus, bewarna merah
muda, bentuk tidak teratur dan terasa nyeri. Lesi terutama di ekstremitas, kemudian meluas ke
seluruh tubuh. Lesi yang berat tampak lebih eritematous disertai purpura dan bula kemudian
dengan cepat terjadi nekrosis serta ulserasi yang nyeri. Lesi lambat menyembuh dan akhirnya
terbentuk jaringan parut.
Gambaran histopatologi menunjukkan nekrosis epidermal iskemik dengan nekrosis
pembuluh darah superfisial, edema, dan proliferasi endhotelial pembuluh darah lebih dalam.
Didapatkan banyak basil M.Leprae di endotel kapiler. Walaupun tidak ditemukan infiltrat PMN
seperti pada ENL namun dengan imunofluoresensi tampak deposit imunoglobulin dan
komplemen di dalam dinding pembuluh darah.1

Pengobatan ENL
Obat yang paling sering dipakai adalah tablet kortikosteroid, antara lain prednisone.
Dosisnya bergantung pada berat ringannya reaksi, biasanya 15-30 mg/hari dan dosisnya
diturunkan bertahap.
Klofazimin juga dapat dipakai sebagai anti ENL, tetapi dengan dosis yang lebih tinggi.
Dosisnya antara 200-300mg/hari. Khasiatnya lebih lambat daripada kortikosteroid dan dapat
dipakai untuk melepaskan ketergantungan kortikosteroid.1

Pengobatan Reaksi Reversal
Bila reaksi ini tidak disertai neuritis akut, maka tidak perlu diberi obat tambahan. Bila ada
neuritis akut, obat pilihan pertama adalah kortikosteroid yang dosisnya disesuaikan dengan berat
ringannya neuritis. Biasanya diberikan prednisone 40-60 mg/hari yang dosisnya diturunkan
secara bertahap. Anggota gerak yang terkena neuritis akut harus diistirahatkan. Analgesik dan
sedatif kalau diperlukan dapat diberikan.
Pada pasien ini diberikan terapi morbus hansen sesuai dengan regimen MDT-MB dari
WHO dan diberikan kortikosteroid oral untuk mengatasi reaksi ENL yang terdapat pada pasien
ini. Pada pasien ini juga diberikan antihistamin. Antihistamin yang dipilih disini adalah

27
antihistamin golongan sedatif misalnya Klorfeniramin maleat 2 x 4 mg. Obat ini dipilih karena
murah serta mudah didapat, namun dapat menyebabkan kantuk karena memiliki efek sedatif.1

3.6 PENCEGAHAN CACAT
Penderita kusta yang terlambat didiagnosis dan tidak mendapat MDT mempunyai resiko
tinggi untuk terjadinya kerusakan saraf. Selain itu, penderita dengan reaksi kusta, terutama reaksi
reversal, lesi kulit multipel dan dengan saraf yang membesar atau nyeri juga memiliki resiko
tersebut.
Kerusakan saraf terutama berbentuk nyeri saraf, hilangnya sensibilitas dan berkurangnya
kekuatan otot. Penderitalah yang mula-mula menyadari adanya perubahan sensibilitas atau
kekuatan otot. Keluhan berbentuk nyeri saraf atau luka yang tidak sakit, lepuh kulit atau hanya
berbentuk daerah yang kehilangan sensibilitasnya saja. Juga ditemukan keluhan sukarnya
melakukan aktivitas sehari-hari, misalnya memasang kancing baju, memegang pulpen atau
mengambil benda kecil, atau kesukaran berjalan. Keluhan tersebut harus diperiksa dengan teliti
dengan anamnesis yang baik tentang bentuk dan lamanya keluhan, sebab pengobatan dini dapat
mengobati, sekurangnya mencegah kerusakan berlanjut.
Cara terbaik untuk melakukan pencegahan cacat atau prevention of disabilities (POD)
adalah dengan melaksanakan diagnosis dini kusta, pemberian pengobatan MDT yang cepat dan
tepat. Selanjutnya dengan mengenali gejala dan tanda reaksi kusta yang disertai gangguan syaraf
serta memulai pengobatan dengan kortikosteroid sesegera mungkin. Bila terdapat gangguan
sensibilitas, penderita diberi petunjuk sederhana misalnya memakai sepatu untuk melindungi
kaki yang telah terkena, memakai sarung tangan bila bekerja dengan benda yang tajam atau
panas, dan memakai kacamata untuk melindungi matanya. Selain itu diajarkan pula cara
perawatan kulit sehari-hari. Hal ini dimulai dengan memeriksa ada tidaknya memar, luka atau
ulkus. Setelah itu tangan dan kaki direndam, disikat dan diminyaki agar tidak kering dan pecah.
WHO Expert Committee on Leprosy membuat klasifikasi cacat pada tangan, kaki dan
mata bagi penderita kusta. Berikut adalah klasifikasi cacat pada penderita kusta:

28
Cacat pada tangan dan kaki
Tingkat 0 : tidak ada gangguan sensibilitas, tidak ada kerusakan atau deformitas yang terlihat.
Tingkat 1 : ada gangguan sensibilitas, tanpa kerusakan atau deformitas yang terlihat.
Tingkat 2 : terdapat kerusakan atau deformitas.

Cacat pada mata
Tingkat 0 : tidak ada kelainan atau kerusakan pada mata (termasuk visus).
Tingkat 1 : ada kelainan atau kerusakan pada mata, tetapi tidak terlihat, visus sedikit
berkurang.
Tingkat 2 : ada kelainan mata yang terlihat (misalnya lagoftalmos, iritis, kekeruhan kornea) dan
atau visus sangat terganggu.1

Rehabilitasi
Usaha rehabilitasi medis yang dapat dilakukan untuk cacat tubuh ialah antara lain dengan
jalan operasi dan fisioterapi. Meskipun hasilnya tidak sempurna kembali ke asal, tetapi fungsinya
secara kosmetik dapat diperbaiki.
Cara lain ialah secara kekaryaan, yaitu memberi lapangan pekerjaan yang sesuai cacat
tubuhnya, sehingga dapat berprestasi dan dapat meningkatkan rasa percaya diri, selain itu dapat
dilakukan terapi psikologik (kejiwaan).1

Prognosis
Quo ad vitam adalah ad bonam karena MH tidak mengancam nyawa walaupun bersifat kronik
dan membutuhkan pengobatan jangka panjang.
Quo ad fungsionam adalah dubia ad bonam karena MH juga tidak mengakibatkan gangguan
fungsi organ-organ tubuh pada pasien ini, walaupun dapat menyebabkan deformitas pada
beberapa kasus yang terlambat mendapatkan pengobatan.
Quo ad sanationam pada pasien ini adalah dubia ad bonam karena pasien memiliki pendidikan
yang cukup dan mampu memahami pentingnya pengobatan jangka panjang terhadap
penyakitnya.

29
Bab IV
Hasil dan Laporan Kunjungan Rumah

Puskesmas : UPTD Puskesmas Batujaya

Tanggal Kunjungan : 1 Maret 2018

I. Identitas Pasien
Nama : Ny. Nentih
Usia : 33 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : SMP
Alamat : Rawa Indah Rt 004/001, Desa Segaran, Batujaya
Agama : Islam
Suku Bangsa : Sunda

II. Riwayat Biologis Keluarga

Keadaan kesehatan sekarang : Baik
Kebersihan perorangan : Baik
Penyakit yang sering diderita : Tidak ada
Penyakit keturunan : Tidak ada
Penyakit kronis : Tidak ada
Kecacatan anggota keluarga : Tidak ada
Pola makan : Baik (3 kali sehari)
Pola istirahat : Baik (± 8 jam sehari)
Jumlah anggota keluarga : 4 orang (pasien, suami, anak perempuan pasien dan ibu
mertua)

30
III. Psikologis Keluarga

Kebiasaan buruk : Tidak ada
Pengambilan keputusan : Suami
Ketergantungan obat : Tidak ada
Tempat mencari pelayanan kesehatan : Bidan dekat rumah, posyandu, Puskesmas
Batujaya
Pola rekreasi : Kurang

IV. Keadaan Rumah/Lingkungan

Jenis bangunan : Permanen
Lantai rumah : Tanah
Luas rumah :6m x7m
Penerangan : Sedang
Kebersihan : Sedang
Ventilasi : Sedang
Dapur : Ada
Jamban keluarga : Ada
Sumber air : Air bawah tanah
Sumber air minum : Air galon
Sumber pencemaran air : Tidak ada
Pemanfaatan pekarangan : Tidak ada
Sistem pembuangan air limbah : Ada
Tempat pembuangan sampah : Ada
Sanitasi lingkungan : Sedang

V. Spiritual Keluarga
Ketaatan beribadah : Cukup
Keyakinan tentang kesehatan : Cukup

31
VI. Keadaan Sosial Keluarga

Tingkat pendidikan : Sedang
Hubungan antar anggota keluarga : Baik
Hubungan dengan orang lain : Baik
Kegiatan organisasi sosial : Baik
Keadaan ekonomi : Sedang

VII. Kultural Keluarga
Adat yang berpengaruh : Sunda
Lain-lain : Tidak ada

VIII. Keluhan Utama
Bercak baal di kaki kanan dan tangan kiri.

IX. Keluhan Tambahan
Kadang-kadang gatal, nyeri di tempat bercak dan demam.

X. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluh ada bercak baal di kaki kanan dan tangan kiri sejak SD. Bercak pada
awalnya putih dan kemudian berubah kemerahan, gatal dan nyeri sejak dua minggu yang
lalu. Pasien juga mengaku kadang demam. Pasien mengaku ibu dan kakek pernah
menderita seperti ini tetapi tidak pernah berobat.
Nafsu makan pasien sedang serta BAK dan BAB normal.

XI. Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak ada riwayat darah tinggi, kencing manis, asma, penyakit jantung, dan alergi
makanan serta obat.

XII. Riwayat Haid
Menarche usia 11 tahun, siklus 28 hari, teratur, selama 5-7 hari, ganti pembalut 2-3x/hari,
nyeri haid tidak ada.

32
XIII. Riwayat Pernikahan
1 kali (tahun 2013), suami berusia 35 tahun.

XIV. Riwayat KB
Tidak pernah memakai KB.

XV. Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Frekuensi Nadi : 90 kali/menit
Frekuensi Napas : 20 kali/menit
Suhu : 36.6oC

Mata : Konjungtiva anemis -/- Sklera ikterik -/-
Jantung : BJ I-II murni reguler, murmur (-), gallop (-)
Paru-paru : Vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-
Abdomen : soepel, bising usus (+) normoperistaltik
Ekstremitas :
Akral hangat, edema -/-
Bercak kemerahan di tungkai bawah kanan 4 x 7 cm, baal (+), gatal (-)
Bercak kemerahan di tangan kiri 3 x 6 cm, baal (+), gatal (-)

XVI. Diagnosis Penyakit
suspek Morbus Hansen tipe MB.

XVII. Diagnosis Keluarga
Keluarga pasien dalam kondisi sehat namun berisiko tertular penyakit yang diderita oleh
pasien karena pasien masih belum mulai pengobatan kusta dan kondisi tempat tinggal yang
sempit memungkinkan penularan terjadi.

33
XVIII. Anjuran Penatalaksanaan Penyakit
a. Promotif: Penyuluhan tentang pentingnya pengenalan dini terhadap penyakit kusta
dan penatalaksanaannya, yaitu teratur mengikuti regimen pengobatan kusta sehingga
selesai. Menjelaskan kepada pasien kepentingan untuk mencegah kecacatan dan
kemungkinan reaksi kusta.
b. Preventif:
Pencegahan penyakit kusta adalah sebagai berikut:
i. Imunisasi BCG (bayi usia 1 bulan)
ii. Mengamalkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
c. Kuratif : Teratur mengikuti regimen pengobatan MDT kusta selama 1 tahun
d. Rehabilitatif : Tidak perlu

XIX. Prognosis
a. Penyakit

Prognosis dubia ad bonam bila pasien patuh minum obat dan melakukan pemeriksaan
secara rutin di fasilitas kesehatan yang ada.

b. Keluarga

Hubungan dengan keluarga baik jika pasien tetap menjaga waktu kebersamaan tiap
harinya dengan keluarga. Dan menyempatkan waktu untuk berekreasi bersama keluarga.

c. Masyarakat

Prognosis di masyarakat dubia. Anggota keluarga, kerabat maupun masyarakat harus
berhati-hati terkait dan mampu mengenal gejala dini kusta supaya dapat terus terobati dan
dicegah penularannya.

34
XX. Resume

Pasien perempuan 33 tahun, datang ke Puskesmas Batujaya dengan bercak baal di kaki
kanan dan tangan kiri. Bercak pada awalnya putih dan kemudian berubah kemerahan, gatal dan
nyeri sejak dua minggu yang lalu. Pasien juga mengaku kadang demam. Pasien mengaku ibu dan
kakek pernah menderita seperti ini tetapi tidak pernah berobat. Dari pemeriksaan fizik
didapatkan TD 110/70 mmHg, frekuensi nadi 90 kali/menit, RR 20 kali/menit, suhu 36.6oC.
Pemeriksaan sensoris didapatkan baal (+) di tempat bercak. Pemeriksaan penunjang Ziehl
Nielseen diperlukan untuk melihat kuman BTA pada pasien untuk menentukan klasifikasi
penyakit kusta dan regimen pengobatan MDT yang sesuai dengan pasien.

35
Bab V

Analisa Kasus

5.1 Analisa Kasus

Kasus Masalah Rencana Tindak Lanjut

Ibu Nentih, umur 33 tahun Bercak baal di kaki kanan dan Mengenalpasti klasifikasi
tangan kiri kusta dan memilih regimen
pengobatan MDT yang sesuai

5.2 Riwayat Keluarga

Keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit degeneratif. Keadaan keluarga sedang.
Semua anggota keluarga dalam keadaan baik-baik saja.
Ibu dan kakek pasien pernah menderita penyakit kusta dan tidak pernah berobat.

5.3 Analisa Kunjungan Rumah

5.3.1 Kondisi Pasien
Pasien dalam keadaan baik, tetapi merasa tidak nyaman dengan bercak baal yang dideritainya.
5.3.2 Pendidikan
Pendidikan pasien terakhir adalah SMP (sedang).
5.3.3 Keadaan Rumah
- Lokasi: rumah pasien di sebelah jalan
- Kondisi: jenis bangunan rumah pasien adalah permanen. Rumah tersebut lantainya terbuat dari
keramik, beratap genteng.
- Luas Rumah: 6 m x 7 m = 42 m²
5.3.4 Ventilasi
Sirkulasi udara sudah cukup.
5.3.5 Pencahayaan
Ada sudah cukup, siang cahaya dari luar bisa masuk, malam menggunakan lampu neon.
5.3.6 Kebersihan

36
Kebersihan dalam rumah sedang.
5.3.7 Sumber air bersih
Sumber air berasal dari air bawah tanah.

5.4 Analisa Fungsi Keluarga

5.4.1 Keadaan Biologis
Keadaan biologis pasien baik.
5.4.2 Keadaan Psikologis
Hubungan pasien dengan semua anggota keluarga terjalin dengan baik. Pasien dan suaminya
sangat mendamba-dambakan kehadiran anak mereka.
5.4.3 Keadaan Ekonomi
Keadaan ekonomi pasien cukup untuk memenuhi kebutuhannya.
5.4.4 Keadaan Religius
Pasien dan suaminya menjalankan ibadah mereka dengan baik. Keluarga pasien tetap mengikuti
kegiatan keagamaan, seperti acara pengajian yang dilangsungkan oleh lingkungannya.

37
Bab VI

Penutup

4.1 Kesimpulan

Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit menular yang menimbulkan masalah yang
sangat kompleks. Masalah yang dimaksudkan bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai
masalah sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan sosial. Penyakit kusta sampai saat ini
masih ditakuti masyarakat, keluarga termasuk sebagian petugas kesehatan. Hal ini disebabkan
masih kurangnya pengetahuan/pengertian, kepercayaan yang keliru terhadap kusta dan cacat
yang ditimbulkannya. Dengan kemajuaan teknologi dibidang promotif, pencegahan, pengobatan
serta pemulihan kesehatan dibidang penyakit kusta , maka penyakit kusta sudah dapat diatasi dan
seharusnya tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. Akan tetapi mengingatkan
kompleks masalah penyakit kusta, maka program pengendalian penyakit kusta harus
dilaksanakan dengan baik secara terpadu dan menyeluruh, melalui strategi yang sesuai dengan
endemisitas penyakit kusta. Selain itu, harus diperhatikan juga rehabilitas medis dan rehabilitas
sosial ekonomi untuk meningkatkan kualitas hidup orang yang mengalami kusta.
Dengan demikian peran dan fungsi keluarga serta masyarakat sekitar sangat penting
disaat salah satu anggota menderita penyakit kusta. Mereka dapat memberikan motivasi kepada
pasien, mengingatkan pasien minum obat dan memantau kesehatannya.

4.2 Saran

4.2.1 Puskesmas

Diharapkan dapat lebih sering melakukan pendekatan kepada masyarakat melalui penyuluhan-
penyuluhan dalam usaha promotif dan preventif, tanpa mengesampingkan upaya kuratif dan
rehabilitatif. Dalam hal ini berhubungan dengan upaya pencegahan penyakit menular kusta dan
kesehatan masyarakat terutama akan pentingnya mengenalpasti gejala dini penyakit kusta dan
untuk segera mengikuti pengobatan dengan teratur. Dengan demikian dapat mengurangi
penularan penyakit kusta kepada keluarga dan lingkungan masyarakat.

38
4.2.2 Pasien

- Mengetahui pentingnya minum obat MDT kusta dengan teratur, kemungkinan terjadinya reaksi
kusta, dan kepentingan mencegah kecacatan akibat kusta
- Memelihara lingkungan sekitar supaya penyakit tidak mudah tertular pada keluarga dan
lingkungan
- Tetap rajin mengontrol kesehatan dan mengambil obat MDT di Puskesmas

39
Daftar Pustaka

1. Kementrian Kesehatan RI. Pedoman nasional program pengendalian penyakit kusta.
Ditjen PP tahun 2012. Jakarta. 2012.

2. Penyakit kusta. 2013. Diunduh dari www.repository.usu.ac.id. 28 Februari 2018.

3. WHO. Leprosy: global situation. October 2014. Diunduh dari www.who.int. 28 Februari
2018.

4. Depkes RI. Database kesehatan per provinsi. 2009. Diunduh dari
www.bankdata.depkes.go.id. 28 Februari 2018.

5. Penyakit kusta di Indonesia. 2006. Diunduh dari www.med.unhas.ac.id. 1 Maret 2018.

6. Depkes RI. Modul pelatihan program pengendalian penyakit kusta. Jakarta: Ditjen PP &
PL Sub Direktorat Kusta dan Frambusia; 2007.

7. Buku Register/Monitoring Penderita Kusta Tipe PB/MB Tahun 2016-2018.

40
Lampiran

41
42
43
44
45