You are on page 1of 7

Melacak Akar Kesejarahan Sanad Qira’at Di Nusantara

Oleh:
Ikhwan Fauzi (13010073)
Puput Noer Fitri Hasanah (13010095)
Rahmat Fadli (13010096)
Rina Faiqoh (13010097)
Zainab (13010113)
Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Sunan Pandanaran

A. Pendahuluan
Al-Qur’an merupakan kitab suci yang sarat akan keberagaman bahasa yang
terdapat di dalamnya. Seperti halnya telah disinggung dalam hadist Nabi sendiri.
Keberagaman yang terkandung dalam model bacaan al-Qur’an sebagai salah satu cara
pilihan yang dapat mempermudah umat Islam di seluruh penjuru dunia.
Hal ini amatlah diperhatikan oleh Nabi Muhammad ketika menerima wahyu dari
Jibril, beliau meminta adanya pilihan gaya baca. Tentu saja karena beliau telah
mempertimbangkan al-Qur’an tidak hanya akan turun pada satu lingkup wilayah yang
hanya memiliki satu logat bahasa, namun al-Qur’an adalah pengiring agama Islam yang
rahmatal lil ‘alamin.
Sebagaimana yang telah dibahas pada tema-tema sebelumnya bahwa gaya baca
al-Qur’an atau Qira’at terbagai menjadi beberapa macam yang telah di bukukan dan
dianggap sah dan shohih sanadnya. Diterima tidaknya Qira’at dapat diketahui dari
berbagai unsur yang mengitarinya. Seperti yang telah diketahui bahwasanya ketika
hendak membahas mengenai Qiro’at yang ada di Nusantara, baik penulis maupun
pembaca tidak dapat mengesampingkan sejarah masuknya Islam dan pembelajarannya
di Nusantara serta Qiro’at yang sangat populer yang ada di Nusantara.
Dalam makalah ini penulis akan sedikit menyinggung pembahasan mengenai
salah satu cara qiraat yang terdapat di Nusantara. Mengenai topic tersebut tentu saja
banyak hal yang tidak dapat di kesampingkan dalam mengurai beberapa point penting
yang mengitarinya, seperti halnya sejarah masuknya Qiro’at di Nusantara itu sendiri,
tokoh-tokoh pendukung yang berperan dalam membawa sanad Qiro’at serta
pengajarannya di Nusantara.

1
B. Sejarah masuknya Islam di Nusantara
Sebelum mengenal lebih jauh perkembangan Qira’at yang ada di Nusantara,
mula-mula harus diketahui masuknya Islam dan penyebaran Islam di Nusantara seperti
yang tertuang dalam buku Sejarah Al-Qur’an karya Abu bakar Aceh yang mana telah ia
tuturkan bahwa Islam masuk melalui para pedagang Arab, Persia dan India yang
kemudian menikah dengan orang Nusantara berjangka waktu selama abad ke-7 M
sampai dengan abad ke 15.1 Setelah Islam masuk ke dalam Nusantara melewati
perdagangan dan mereka mulai mengajarkan sedikit demi sedikit mengenai pelajaran
terkait dengan al-Qur’an. Wawan Djunaedi juga menuturkan bahwa pada masa itu baik
pedagang Arab dan India, musafir dari Persia sangat mempengaruhi penyebaran Islam
beserta pengajaran al-Qur’an (keragaman qira’at) yang mereka ajarkan kepada
masyarakat Nusantara.2
Dalam hal ini Abu Bakar Atjeh membagi metode pengajaran al-Qur’an di
Nusantara atas dua macam: pertama, diberikan di rumah atau langgar. Proses
pengajaran dilakukan dengan Guru membaca dan murid menuruti bacaan gurunya itu
sambil melihat dan menunjuk kepada huruf-huruf hijaiyah yang dibacanya itu. Sesudah
beberapa kali dan beberapa lama murid-murid membaca pelajarannya, masing-masing
membaca pelajarannya sendiri- sendiri, sehingga suaranya kadang-kadang
menggemparkan langgar itu, maka kemudian datanglah seorang kepada gurunya atau
pembantu gurunya, untuk didengarkan bacaannya. demikianlah berturut-turut sampai
murid-murid pandai membaca al-Qur’an.3 Kedua, di berikan dipesantren atau madrasah.
Dapat juga disebutkan disini, beberapa guru al-Qur’an yang besar jasanya dibeberapa
wilayah yang ada di Nusantara, seperti: Hasannudin, Pangeran Jambu Karang, Sunan
Geseng, Sunan Tembayat, Sunan Ngunjung, Sunan Panggung, Syekh Abdul Muhji dll.
Beberapa ulama ini merupakan pembuka sistem pengajaran al-Qur’an pada masa awal
sebelum qira’at dipelajari secara mendalam.4 Demikian dua metode ini menjadi salah

1 Aboe Bakar Atjeh, Sedjarah Al-Qur’an, Sinar-Bupemi: Surabaya-Malang, 1956, hal 195.

2 Wawan Djuanaedi, Sejarah Qira’at Al-Qur’an di Nusantara, Jakarta: Pustaka STAINU, 2008, hal. 92-
93.

3Aboe Bakar Atjeh, Sedjarah Al-Qur’an, hal 199. Lihat juga Karel A. Steenbrink, Pesantren Madrasah Sekolah:
Pendidikan Islam dalam Kurun Moderen, terj. Karel A. Steenbrink, Jakarta: LP3ES, 1994, hal. 11.

4Ibid.

2
satu bukti bahwa Islam masuk ke Nusantara berhubungan erat dengan penyebaran al-
Qur’an (keragaman qira’at) di Nusantara.

C. Penyebaran Qira’at Ashim Riwayat Hafsh di Nusantara
Pada abad ke-7M sampai ke-15M masa ini disebut dengan masa antiquity yang
mana dituturkan oleh Wawan Junaedi dalam bukunya Sejarah Qira’at Al-Qur’an di
Nusantara masa ini disebut sebagai masa akselerasi Islam di daratan Jawa. Demikian
pula telah adanya upaya pengidentifikasian ulama pembawa mazhab qira’at Ashim
riwayat Hafs dimulai di Nusantara. Karena apabila diidentifikasi pada abad ke-7 tidak
akan bisa dilakukan. Karena bersamaan dengan penyebaran kopi mushaf usmani yang
dibawa oleh para qari’ utusan khalifah usman untuk menyebarkan qira’at. Dengan kata
lain imam Ashim sebagain sosok seorang imam qira’at belum dikenal oleh kalangan
umat muslim yang mana pada saat itu imam qira’at dikawasan Kufah masih diduduki
oleh gurunya yaitu Abu Abdirrahman Al-Sulami 5 (W.73/692). Beliaulah yang
mendapatkan kiriman kopi mushaf Usmani sampai dengan masa kekhalifahan Abdul
Malik (W. 86/705).6
Proses penyebaran Islam yang dilakukan oleh para ulama Nusantara dalam
waktu yang cukup panjang nampaknya dapat dilihat dari warisan mushaf-mushaf kuno
yang banyak terdapat dan dijumpai hampir diseluruh wilayah kepulauan Nusantara.
Melalui naskah al-Qur’an kuno tulisan ulama yang ada dapat menjadikan satu bukti
dalam jalur penyebaran qira’at Ashim riwayat Hafs di Nusantara. Dari beberapa naskah
yang diketahui didapati gaya qira’at dari bacaan Ashim riwayat Hafs. Namun,
disamping itu juga ditemukan beberapa gaya bacaan qira’at dari imam qira’at yang lain.
Seperti qira’at Nafi’ riwayat Qalun yang ditemukan pada museum Lagaligo Makassar.7

5 Beliau adalah sosok pertama yang mengajarkan al-Qur’an di Kufah setelah Utsman memberikan kopi
Mushaf ustmani. Sebenarnya penduduk Kufah terbiasa dengan menggunakan mshafnya ‘Abdullah bin
Mas’ud semenjak Umar bin mengutus beliau untuk mengajarkan al-Qur’an di kota tersebut. Beliau telah
belajar qira’at al-Qur’an secara ‘ardhan kepada Ustman, Ibnu Mas’ud, Ali, Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin
Tsabit. Beliau juga salah seorang generasi tabi’in yang tuna netra. Demikian dituturkan oleh ‘Ashim
bahwa qira’atnya dengan gurunya Abu ‘Abdurrahman al-Sulami tidak ada perbedaan. Lihat Wawan
Djuanaedi, Sejarah Qira’at Al-Qur’an di Nusantara, hal. 92-93.

6Ibid., hal. 143-144.

7 Mustofa, “Pembakuan Qira’at Ashim”, Jurnal Shuhuf, Vol.4, No. 2, 2011, hal. 240.

3
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa qira’at terbesar di Nusantara
mengacu pada mushaf kuno dengan gaya qira’at Ashim riwayat Hafs. Selain dari
mushaf kuno, jejak qira’at Ashim riwayat Hafs dapat diketahui melalui jaringan-
jaringan sanad awal yang ada di Nusantara. Melalui jalur ini akan diketahui secara jelas
qira’at yang digunakan masyarakat Islam Nusantara pada masa awal-awal pengajaran
al-Qur’an.
Kelebihan yang diciptakan dari qira’at Ashim adalah karena dianggap
merupakan salah satu bacaan yang paling mudah. Dalam hal ini dapat dilihat dari bab
mad dan qasr khususnya untuk bacaan mad wajib muttasil dan mad jaiz munfasil,8
bacaan hamzah dan bacaan imalah. Kelebihan lainnya yang dimiliki adalah kekuatan
sanad yang mana sumber yang diambil dari ketiga gurunya yaitu Abu Abdurrahman As-
sulami, Zirr Ibnu Hubais, maupun dari Sa’ad bin Iyas asy-Syaibani. 9 Demikian sangat
perlu mengenal lebih dekat mengenai kehidupan diri seorang Ashim.

Biografi Ashim
Nama lengkapnya adalah Ashim bin Abu Najud Al-Kufi. Nama bapaknya adalah
Abdullah dan gelarnya Abu An-Najud. Ibunya bernama Bahdalah, Oleh karena itu dia
disebut dengan Ashim bin Bahdalah. Dia juga bergelar Abu Bakar dari Bani Asaddan
berasal dari Kufah. Seorang tabi’in yang mulia. Membaca pada Abu Abdirrahman As-
Sulami, Abu Maryam Zir bin Hubaisy10 dan Abu Amru Sa’ad bin Ilyas, mereka bertiga
membaca pada Ibnu Mas’ud. Zir dan As-Sulami juga membaca pada Ubay bin Ka’ab
dan Zaid bin Tsabit. Ibnu Mas’ud, Usman dan Ali, Ubay dan Zaid membaca pada
Rasulullah SAW. Ashim adalah imam yang memegang halaqah di Kufah setelah Abu
Abdirrahman As-Sulami. orang-orang datang kepadanya dari berbagai penjuru untuk
belajar al-Qur’an. dalam dirinya terkumpul kefasihan, kecakapan, kepercayaan dan

8 Khusus mad wajib muttasil seluruh imam qira’at sepekat memanjangkan huruf dengan membaca enam
harakat, sedangkan imam Ashim hanya memanjangkan dengan empat harakat. Lihat ibid., hal. 232.

9 Ibid.

10 Nama lengkapnya adalah Zirr bin Hubaisy bin Malik bin Tsa’labah bin Khuzaimah. Dan beliau juga
memiliki nama kunyah Abu Maryam. Zirr bin Hubaisy mengajarkan riwayat qira’at kepada ‘Ashim yang
berasal dari Abdullah bin Mas’ud. Beliau tergolong orang yang memiliki usia sangat panjang, yakni
mencapai 122 tahun. Menurut imam ‘Ashim beliau merupakan orang yang sangat fasih dalam berbahasa
Arab sampai-sampai Abdullah bin Mas’ud bertanya tentang bahasa Arab kepada beliau. Lihat Wawan
Djuanaedi, Sejarah Qira’at Al-Qur’an di Nusantara, hal. 94-95.

4
kecerdasan. Dia adalah orang yang paling bagus suaranya dalam membaca al-Qur’an.
Meriwayatkan Qira’at darinya Has bin Sulaiman dan Abu Bakar Syu’bah bin Ayyasy,
mereka berdua adalah orang yang termasyhur diantara perawinya. Meninggal di Kufah
pada akhir tahun 127 H.11

D. Sanad Ulama’ Qiro’at di Nusantara
Terkait mengenai beberapa tokoh ulama Nusantara yang berhasil membawa jalur
sanad qiraat pada masa awal merujuk pada Kyai Haji Munawwir Krapyak Yogyakarta,
Kyai Haji Munawwar Sidayu Gresik, Kyai Haji Sa’id bin Isma’il Madura, Kyai Haji
Muhammad Mahfud Termas, dan Kyai Haji Muhammad Dahlan Kholil Jombang. 12
Namun, dalam catatan sejarah yang berhasil pertama-tama membawa qiraat Ashim
riwayat Hafs adalah dua ulama yang sempat mengenyam pendidikan di Haramain.
Yakni, Kyai Haji Munawwir dan Kyai Haji Munawwar yang diperoleh langsung dari
Syekh Abdul Karim bin Haji Umar Ad-dimyati. 13 Silsilah qiraat Ashim dapat dilihat di
lampiran. Dalam hal ini perlu mengetahui bagaimana kehidupan dari seorang diri KH.
Munawwir dan KH. Munawwar.

Biografi Kyai Haji Munawwir Krapyak
KH. M. Munawwir adalah putra KH. Abdullah Rosyad bin KH. Hasan Bashari. Dahulu,
ada seorang ulama pejuang, KH. Hasan Bashari namanya, atau yang lebih dikenal dengan nama
Kyai Hasan Besari ajudan Pangeran Diponegoro. Beliau sangat ingin menghafalkan Kitab Suci
al-Qur’an namun terasa berat setelah mencobanya berkali-kali. Akhirnya beliau melakukan
riyadhah dan bermujahadah, hingga suatu saat Allah Swt. mengilhamkan bahwa apa yang
dicita-citakan itu baru akan dikaruniakan kepada keturunannya. Begitu pula anak beliau, KH.
Abdullah Rosyad, selama 9 tahun riyadhah menghafalkan al-Qur’an, ketika berada di Tanah
Suci Makkah, beliau mendapat ilham bahwa yang akan dianugerahi hafal al-Qur’an adalah
anak-cucunya. KH. Abdullah Rosyad dikaruniai 11 orang anak dari 4 orang istri, salah satunya
adalah KH. M. Munawwir yang merupakan buah pernikahan beliau dengan Nyai Khadijah
(Bantul).
Pada tahun 1888 M beliau melanjutkan pengajian al-Qur’an serta pengembaraan
menimba ilmu ke Haramain (dua Tanah Suci), baik di Makkah al-Mukarramah maupun di
11 Abduh Zulfidarakaha, Al-Qur’an dan Qiraat, Jakarta: Puataka Al-Kautsar, 1996, hal 155-156.

12 Ibid., hal 241.

13 Sejarah Qira’at Al-Qur’an di Nusantara, hal. 187.

5
Madinah al-Munawwarah. Adapun Guru-guru beliau di sana antara lain; Syaikh Abdullah
Sanqara, Syaikh Syarbini, Syaikh Mukri, Syaikh Ibrahim Huzaimi, Syaikh Manshur, Syaikh
Abdus Syakur, Syaikh Mushthafa, Syaikh Yusuf Hajar (Guru beliau dalam qira’ah sab’ah). KH.
M. Munawwir ahli dalam qira’ah sab’ah (7 bacaan al-Qur’an). Dan salah satunya adalah qira’ah
Imam ‘Ashim riwayat Imam Hafsh. Adapun Sanad Qira’at Imam ‘Ashim riwayat Hafsh KH.
M. Munawwir sampai kepada Nabi Muhammad Saw tersebutkan dalam lampiran.14

Biografi Kyai Haji Munawwar Gresik
Beliau adalah Munawwar bin H. Nur. Yang diketahui dari penuturan cucunya
bahwa Kiai Munawwar merupakan ulama’ keturunan Prabu Brawijaya V. ia adalah adik
seperguruan dari Kiai Munawwir Krapyak. Ia lahir pada tahun 1884bdan wafat pada
1944 M, atau bertepatan pada 3 Ramadhan 1365 H di usianya yang ke 60 tahun.
Awalnya dari beberapa informasi mengenai sejarah Kiai Munawwar ada
beberapa perbedaan yang mencolok terutama mengenai jenjang pendidikan dan sanad
Qira’atnya yang di dapat berbeda dengan Kiai Munawwir, yakni pihak keluarga
menuturkan bahwa sanad yang di dapat oleh Kiai Munawwar dari Qira’at Ashim
riwayat Hafs adalah Thariq Ubaid As-sabbah di kota Madinah. Padahal sanad
Qira’at yang ia miliki sama persis dengan sanad Qira’at milik K.H Munawwir
yang di dapat dari Syekh Abd Karim bin H. Umar al-Badri al-Dimyathi.
Dengan tegas, data yang di dapat dari pihak keuarga Kiai Munawwar memiliki
banyak perbedaan. Karena ada data yang menguatkan bahwa dahulu mereka sempet
hidup dalam satau tempat yang sama saat belajar di Haramain ditemani satu teman
lainnya dari Indonesia (K.H Baidhawi).15

E. Kesimpulan
Berbicara mengenai kapan madzhab qira’at Ashim riwayat Hafs menjadi
madzhab qira’at penduduk Nusantara, dari hasil analisis data historis diketahui bahwa
mulai bentang waktu kedatangan Islam di Nusantara antara abad ke-7 sampai abad ke-
15, terdapat tiga eksponen pembawa Islam baik muslim Arab, Persia, India yang sama-
sama memiliki kemungkinan memberi pengaruh madzhab qira’at tesebut kepada
penduduk Nusantara. Hanya saja dengan memeprtimbangkan latar belakang historis dan

14Sejarah Qira’at Al-Qur’an di Nusantara, hal. 188-192.

15Ibid., hal. 192-197.

6
letak gegorafis kawasan Persia, maka orang-orang Persia memiliki ruang lebih besar
sebagai ulama-ulama yang membawa qira’at Ashim riwayat Hafs di Nusantara.
Namun sejarah perkembangan qira’at Ashim riwayat Hafs secara difinitif di
Nusantara baru dimulai pada abad ke-20. Hal ini ditandai dengan keberadaan sanad
qira’at milik ulama Nusantara, dalam hal ini sanad milik KH. Munawwir dan KH.
Munawwar. Keduanya baru berhasil memboyong sanad qira’at tersebut dari Makkah al-
Mukarramah pada tahun 1909 M dan tahun 1920 M. Dengan demikian beliau-beliau ini
merupakan pelopor ulama Nusantara yang menyebarkan madzhab qira’at Ashim riwayat
Hafs.

7