You are on page 1of 21

MENELAAH STANDAR KOMPETENSI PROFESIONAL GURU DALAM

PENGEMBANGAN KURIKULUM
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Telaah Kurikulum dan Buku Teks

Dosen Pengampu Mata Kuliah :
Arif Purnomo, S.Pd., S.s., M.Pd.
Rudi Salam, S.Pd., M.Pd.
Noviani Achmad Putri, S.Pd., M.Pd.

Kelompok 1
Siti Mas’adah (3601416008)
Ariyani Mia Arissusanti (3601416024)
Mohammad Rokhim (3601416027)
Indra Wahyuni (3601416030)
Naila Ferdianita (3601416040)
Eldyanzah Rinanda Dewi (3601416044)

PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2018
A. STANDAR KOMPETENSI GURU
Menurut Jhonson dalam Sanjaya (2006: 145) kompetensi merupakan perilaku
rasional guna mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang
diharapkan.dengan demikian suatu kompetensi ditunjukkan oleh penampilan atau
unjuk kerja yang dapat dipertanggungjawabkan (rasional) dalam upaya mencapai
suatu tujuan. Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, kompetensi
adalah seperangkat pengetahuan keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki,
dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas
keprofesionalan.
Guru dikatakan kompetensi dibidangnya apabila memiliki kemampuan secara
pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Boyatzis (2008: 6) menyatakan bahwa “a
competency defined as capability or ability” yang berarti kemampuan atau
kecakapan. Diperjelas oleh Mission (2001: 18) bahwa “competency is a combination
of knowledge, skill, and attitude” pernyataan tersebut mengandung makna bahwa
kompetensi merupakan kombinasi antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
Sedangkan Lynn dan Nixon (1985: 33) menjelaskan bahwa kompetensi terdiri dari
pengalaman dan pemahaman tentang faktadan konsep, peningkatan keahlian,
pengajaran perilaku dan sikap. Broke dan Store dalam Mulyasa (2009)
mengemukakan bahwa kompetensi guru merupakan gambaran kualitatif tentang
hakikat perilaku guru yang penuh arti. Kompetensi guru adalah salah satu faktor yang
mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran dan pendidikan di sekolah.
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor
16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru
dikembangkan secara utuh dalam empat kompetensi meliputi kompetensi pedagogik,
kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional.
Menurut Standar Kompetensi Guru dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI
Nomor 16 Tahun 20017:
1. Kompetensi Pedagogik

2
Kompetensi pedagogik meliputi pemahaman guru terhadap peserta didik,
perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan
pengembangan peserta didik untuk mengakulturasikan berbagai potensi yang
dimilikinya. Sub kompetensi pedagogik yaitu:
a. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial,
kultural, emosional dan intelektual.
b. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.
c. Mengembangkan kurikulum terkait dengan mata pelajaran yang diampu.
d. Menyelenggarakan kegiatan pembelajaran yang mendidik.
e. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan
pembelajaran.
f. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.
g. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik.
h. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.
i. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan
pembelajaran.
j. Malakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.

2. Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian adalah kemampuan personal yang harus dimiliki
seorang guru dengan mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa,
arif, dan berwibawa untuk dijadikan teladan bagi peserta didik dan berakhlak
mulia. Sub kompetensi kepribadian yaitu:
a. Bertindak sesuai dengan norma agama, hokum, sosial, dan kebudayaan
nasional Indonesia.
b. Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan
bagi peserta didik dan masyarakat.

3
c. Manampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan
berwibawa.
d. Menunujukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga
menjadi guru, dan rasa percaya diri.
e. Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.

3. Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan
bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesame pendidik, tenaga
kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat yang terlibat
dalam pembelajaran. Sub kompetensi social yaitu:
a. Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak administratif karena
pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang
keluarga dan status sosial ekonomi.
b. Berkomunikasi secara afektif, empatik dan santun dengan sesama
pendidik, tenaga kependidikan, orang tua dan masyarakat.
c. Beradaptasi ditempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia
yang memiliki keragaman sosial budaya.
d. Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara
lisan dalam bentuk tulisan atau bentuk lain.

4. Kompetensi Profesional
Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi
pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing
peserta didik memenuhi standar kompetensi. Kompetensi profesional terkait
dengan penguasaan terhadap struktur keilmuan dari mata pelajaran yang
diasuh secara luas dan mendalam sehingga dapat membantu guru
membimbing siswa untuk menguasai pengetahuan atau keterampilan secara

4
optimal. Kompetensi ini berhubungan erat dengan peran dan fungsinya dalam
proses pembelajaran. Sub kompetensi professional yaitu:
a. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang
mendukung mata pelajaran yang diampu.
b. Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran yang
diampu.
c. Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif.
d. Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan
tindakan reflektif.
e. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi
dan mengembangkan diri.

B. STANDAR KOMPETENSI PROFESIONAL GURU
Menurut Harsono dan Sofyan Arif (2010: 3), kompetensi professional merupakan
kemampuan atas penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam dalam hal
ini dituntut untuk menguasai ilmu dibidang studi serta langkah kritis pendalaman isi
bidang studi berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Sesorang
dikatakan memeiliki kompetensi professional apabila memenuhi 2 syarat minimal:
1. Memahami materi, konsep keilmuan yang mendalam, dan mampu
menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Memahami metode pengembangan ilmu, telaah kritis, kreatif, dan inovatif
terhadap bidang studi.
Menurut E. Mulyasa (2007: 136-138), beberapa kompetensi professional guru
dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Mengambangkan materi berdasarkan kurikulum, yang meliputi:
a. Mengembangkan silabus
b. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
c. Melaksanakan pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik.
d. Menilai hasil belajar

5
e. Menilai dan memperbaiki kurikulum sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan kemajuan zaman
2. Menguasi materi standar, yang meliputi:
a. Menguasai bahan pembelajaran (bidang studi)
b. Menguasai bahan mendalam (pengayaan)
3. Menguasai pembelajaran berdasarkan SK dan KD, yang meliputi:
a. Merumuskan tujuan
b. Menjabarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar
c. Memilih dan menggunakan metode pembelajaran
d. Memilih dan menyusun prosedur pembelajaran
e. Melaksanakan pembelajaran
4. Menggunakan media dan sumber pembelajaran dalam pengembangan materi,
yang meliputi:
a. Memilih dan menggunakan media pembelajaran
b. Membuat alat-alat pembelajaran
c. Mengguanakan dan mengelola laboratorium dalam rangka pembelajaran
d. Mengembangkan laboratorium
e. Menggunakan perpustakaan dalam pembelajaran
f. Menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar
5. Memahami penelitian pembelajaran dalam pengembangan keprofesionalan,
yang meliputi:
a. menggunakan rancangan penelitian
b. melaksanakan penelitian
c. menggunakan hasil penelitian untuk meningkatkan kulaitas pembelajaran
Sebagaimana tercantum dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada
pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan

6
menengah. Dalam Sanjaya (2006: 143) menjelaskan mengenai pengertian profesi dan
syarat atau ciri pokok dari pekerjaan profesional, yaitu:
1. Pekerjaan professional ditunjang oleh suatu ilmu tertentu secara mendalam
yang hanya mungkin didapatkan dari lembaga-lembaga pendidikan yang
sesuai, sehingga kinerjanya didasarkan kepada keilmuan yang dimilikinya
dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
2. Suatu profesi menekankan kepada suatu keahlian dalam bidang tertentu yang
spesifik sesuai dengan jenis profesinya, sehingga antara profesi yang satu
dengan yang lainnya dapat dipisahkan secara tegas.
3. Tingkat kemampuan dan keahlian suatu profesi didasarkan kepada latar
belakang pendidikan yang dialaminya diakui oleh masyarakat, sehingga
semakin tinggi latar belakang pendidikan akademik sesuai dengan profesinya,
semakin tinggi pua tingkat keahliannya dengan demikian semakin tinggi pula
tingkat penghargaan yang diterimanya.
4. Suatu profesi selain dibutuhkan oleh masyarakat juga memiliki dampak
terhadap social kemasyarakatan, sehingga masyarakat memiliki kepekaan
yang sangat tinggi terhadap setiap efek yang ditimbulkan dari pekerjaan
profesinya itu.
Kompetensi guru berkaitan dengan profesionalisme, yaitu guru yang kompeten
(berkemampuan) terhadap bidangnya karena itu kompetensi professional guru dapat
diartikan sebagai kemampuan dan kewenangan guru dalam menjalankan profesi
keguruannya dengan kemampuan tinggi.

C. PENGEMBANGAN KURIKULUM
1. Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum
Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua
pengalam belajar yang disediakan bagi siswa di sekolah. Dalam kurikukulum
terintegrasi filsafat, nilai-nilai, pengetahuan, dan perbuatan pendidikan.
Kurikulum disusun oleh para ahli pendidikan/ ahli kurikulum, ahli bidang ilmu,

7
pendidik, pejabat pendidikan, pengusaha serta unsur-unsur masyarakat lainnya.
Rancangan ini disusun dengan maksud member pedoman kepada para pelaksana
pendidikan, dalam proses pembimbingan perkembangan siswa, mencapai tujuan
yang dicita-citakan oleh siswa sendiri, keluarga, maupun masyarakat.
Kelas merupakan tempat untuk melaksanakan dna menguji kurikulum.
Semua konsep, prinsip, nilai, pengetahuan, metode, alat, dan kemampuan guru
diuji dalam bentuk perbuatan, yang akan mewujudkan bentuk kurikulum yang
nyata dan hidup.
a. Prinsip-prinsip umum
Ada beberapa prinsip umum dalam pengembangan kurikulum.
Pertama, prinsip relevansi. Ada dua macam relevansi yang harus dimiliki
kurikulum, yaitu relevan ke luar dan relevansi di dalam kurikulum itu sendiri.
Relevansi ke luar maksudnya tujuan, isi, dan proses belajar yang tercakup
dalam kurikulum hendaknya relevan dengan tuntutan, kebutuhan, dan
perkembangan masyarakat. Kurikulum menyiapkan siswa untuk bisa hidup
dan bekerja dalam masyarakat. Apa yang tertuang dalam kurikulum
hendaknya mempersiapkan siswa untuk tugas tersebut. kurikulum juga harus
memiliki relevansi di dalam yaitu ada kesesuaian atau konsistensi antara
komponen-komponen kurikulum, yaitu antara tujuan, isi, proses
penyampaian, dan penilaian. Relevansi internal ini menunjukkan suatu
keterpaduan kurikulum.
Prinsip kedua adalah fleksibilitas, kurikulum hendaknya memilih sifat
lentur atau fleksibel. Suatu kurikulum yang baik adalah kurikulum yang berisi
hal-hal yang solid, tetapi dalam pelaksanaanya memungkinkan terjadinya
penyesuaian-penyesuaian berdasarkan kondisi daerah, waktu maupun
kemampuan, dan latar belakang anak.
Prinsip ketiga adalah kontinuitas yaitu kesinambungan. Perkembangan
dan proses belajar anak berlangsung secara berkesinambungan, tidak terputus-
putus atau berhenti-henti. Pengembangan kurikulum perlu dilakukan

8
serempak bersama-sama, perlu selalu ada komunikasi dan kerja sama antara
para pengembang kurikululm sekolah dasar dengan SMTP, SMTA, dan
Perguruan Tinggi.
Prinsip keempat adalah praktis, mudah dilaksanakan, menggunakan
alat-alat sederhana dan biayanya juga murah. Prinsip ini juga disebut prinsip
efisiensi, betapapun bagus dan idealnya suatu kurikulum kalu menuntut
keahlian-keahlian dan peralatan yang sangat khusus dan mahal pula biayanya,
maka kurikulum tersebut tidak praktis dan sukar dilaksanakan. Kurikulum dan
pendidikan selalu dilaksanakan dlaam keterbatasan-keterbatasan, baik
keterbatasan waktu, biaya, alat, maupun personalia. Kurikulum bukan hanya
harus ideal tetapi juga praktis.
Prinsip kelima adalah efektivitas. Walaupun kurikulum tersebut harus
murah, sederhana, tetapi keberhasilannya tetap harus diperhatikan.
Pengembanagn suatu kurikulum tidak dapat dilepaskan dan merupakan
penjabaran dari perencanaan pendidikan. Perencanaan di bidang pendidikan
juga merupakan bagian yang dijabarkan dari kebijaksanaan pemerintah di
bidang pendidikan.
Kurikulum pada dasarnya berintikan empat aspek utama yaitu: tujuan-
tujuan pendidikan, isi pendidikan, pengalaman belajar, dan penilaian.

b. Prinsip-prinsip khusus
Ada beberapa prinsip yang lebih khusus dalam pengembangan
kurikulum. Prinsip-prinsip ini berkenaan dengan penyusunan tujuan, isi,
pengalaman belajar, dan penilaian.
Prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan mencakup tujuan yang bersifat umum atau berjangka
panjang, jangka menengah, dan jangka pendek (tujuan khusus). Perumusan
tujuan pendidikan bersumber pada:

9
1) Ketentuan dan kebijaksanaan pemerintah, yang dapat ditemukan dalam
dokumen-dokumen lembaga Negara mengenai tujuan, dan strategi
pembangunan termasuk di dalamnya pendidikan;
2) Survey mengenai persepsi orangtua/ masyarakat tentang kebutuhan
mereka yang dikirimkan melalui angket atau wawancara dengan mereka;
3) Survey tentang pandangan para ahli dalam bidang-bidang tertentu,
dihimpun melalui angket, wawancara, observasi, dan dari berbagai media
massa;
4) Survey tentang manpower;
5) Pengalaman negara-negara lain dalam masalah yang sama;
6) Penelitian.

Prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan
Memilih isi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan
yang salah ditentukan para perencana kurikulum perlu mempertimbangkan
beberapa hal.
1) Perlu penjabaran tujuan pendidikan/ pengajaran ke dalam bentuk
perbuatan hasil belajar yang khusus dan sederhana;
2) Isi bahan pelajaran harus meliputi segi pengetahuan, sikap, dan
keterampilan;
3) Unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan yang logis dan sistematis.
Ketiga ranah belajar, yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan diberikan
secara simultan dalam urutan situasi belajar.

Prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar
Pemilihan proses belajar mengajar yang digunakan hendaknya
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1) Apakah metode/teknik belajar-mengajar yang digunakan cocok untuk
mengajarkan bahan pelajaran?

10
2) Apakah metode/ teknik tersebut memberikan kegiatan yang bervariasi
sehingga dapat melayani perbedaan individual siswa?
3) Apakah metode/teknik tersebut memberikan urutan kegiatan yang
bertingkat-tingkat?
4) Apakah metode/ teknik tersebut dapat menciptakan kegiatan untuk
mencapai tujuan kognitif, afektif dan psikomotor?
5) Apakah metode / teknik tersebut lebih mengaktifkan siswa, atau
mengaktifkan guru atau kedua-duanya?
6) Apakah metode/ teknik tersebut mendorong berkembangnya kemampuan
baru?
7) Apakah metode/ teknik tersebut menimbulkan jalinan kegiatan belajar di
sekolah dan di rumah, juga mendorong pengguna sumber yang ada di
rumah dan di masyarakat?
8) Untuk belajar keterampilan sangat dibutuhkan kegiatan belajar yang
menekankan “learning by doing” disamping “learning by seeing and
knowing”.

Prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pengajaran
Proses belajar-mengajar yang baik perlu didukung oleh penggunaan
media dan alat-lalat bantu pengajaran yang tepat.
1) Alat/ media pengajaran apa yang diperlukan. Apakah semuanya sudah
tersedia? Bila alat tersebut tidak ada apa ada penggantinya?
2) Kalau ada alat yang harus dibuat, hendaknya memperhatikan: bagaimana
pembuatannya, siapa yang membuat, pembiayaannya, waktu pembuatan?
3) Bagaimana pengorganisasian alat dalam bahan pelajaran, apakah dalam
bentuk modul, paket belajar, dan lain-lain?
4) Bagaimana pengintegrasiannya dalam keseluruhan kegiatan belajar?
5) Hasil yang terbaik akan diperoleh dengan menggunakan multimedia.

11
Prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian
Penilaian merupakan bagian integral dari pengajaran:
1) Dalam penyusunan alat penilaian (test) hendaknya diikuti langkah-langkah
sebagai berikut:
Rumuskan tujuan-tujuan pendidikan yang umum, dalam ranah-ranah
kognitif, afektif, dan psikomotor. Uraikan kedalam bentuk tingkah-tingkah
laku murid yang dapat diamati. Hubungkan dengan bahan pelajaran.
Tuliskan butir-butir test.
2) Dalam merencanakan suatu penilaian hendaknya diperhatikan beberapa
hal;
(a) Bagaimana kelas, usia, dan tingkat kemampuan kelompok yang akan
di test?
(b) Berapa lama waktu dibutuhkan untuk pelaksanaan test?
(c) Apakah test tersebut berbentuk uraian atau objektif?
(d) Berapa banyak butir test perlu disusun?
(e) Apakah test tersebut diadministrasikan oleh guru atau oleh murid?
3) Dalam pengolahan suatu hasil penilaian hendkanya diperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
(a) Norma apa yang digunakan di dalam pengolahan haisl test?
(b) Apakah diguankan formula quessing?
(c) Bagaimana pengubahan skor ke dalam skor masak?
(d) Skor standar apa yang digunakan?
(e) Untuk apakah hasil-hasil test digunakan?

2. Peranan Guru dalam Pengembangan Kurikulum
Dilihat dari segi pengelolaannya, pengembangan kurikulum dapat
dibedakan antara yang bersifat sentralisasi, desentralisasi, dan sentral
desentral. Dalam pengembangan kurikulum yang bersifat sentralisasi,

12
kurikulum disusun oleh sesuatu tim khusus di tingkat pusat. Kurikulum
bersifat uniform untuk seluruh Negara, daerah, atau jenjang/ jenis sekolah.
Di Indonesia dewasa ini terutama pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah digunakan model ini. Kurikulum untuk SD, SLTP, SMA, dan SMK
pada prinsipnya seragam. Tujuan utama pengembangan kurikulum yang
uniform ini adlah untuk menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa, serta
memberikan standar penguasaan yang sama bagi seluruh wilayah. Hal itu
dilatarbelakangi oleh beberapa kondisi. Pertama, wilayah negara Indonesia
luas sekali, terbentuk atas pualu-pulau yang satu sama lain letaknya berjauhan
dan terpisahkan oleh laut. Kedua, kondisi dan karakteristik tiap daerah
berbeda-beda, ada daerah tertutup ada yang sudah maju seklai dan ada yang
sangat terbelakang, ada daerah tertutup ada yang terbuka, ada daerah kaya dan
daerah miskin dan sebagainya. Ketiga, perkembangan dna kemampuan
sekolah juga berbeda-berbeda. Ada sekolah yang sudah mapan mampu berdiri
sendiri dan melakukan pengembangan sendiri, karena memiliki personalia,
fasilitas yang memadai, dan manjemen yang mapan. Keempat, adanya
golongan atau kelompok tertentu dlaam masyarakat, yang ingin lebih
mengutamakan golongan atau kelompoknya dan menggunakan sekolah
sebagai alat untuk mencapai tujuan tersebut.
Model pengembangan kurikulum yang bersifat sentralisasi mempunyai
beberapa kelebihan di samping juga kelemahan. Kelebihannya selain
mendukung terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa, dan tercapainya
standar minimal penguasaan/ perkembangan anak, juga model ini mudah
dikeloal, dimonitor dna dievaluasi, serta lebih hemat di lihat dari segi biaya,
waktu, dan fasilitas. Hal-hal diatas tampaknya sesuai dengan kondisi dan
tahap perkembangan negara kita dewasa ini.
Model pengembangan ini memiliki beberapa kelemahan. Pertama,
menyeragamkan kondisi yang berbeda-beda keadaan dan tahap perkembangan
intelek, alam dan sosial budayanya, sukar sekali. Penyeragaman dpaat

13
menghambat kreativitas, dapat memperlambat kemajuan sekolah yang sudah
mapan dan menyeret perkembangan sekolah yang masih terbelakang. Kedua,
ketidakadilan dalam menilai hasil. Dlaam kurikulum yang seragam, penilaian
sering dilakukan secara seragam pula. Yang dimaksudkan dengan seragam
dalam penilaian yaitu kesamaan di dalam segi yang dinilai, prosedur dan alat
penilaian serta standar penilaian. Ketiga, penggunaan standar yang sama
untuk semua sekolah di seluruh wilayah akan memberikan gambaran hasil
yang beragam dan menunjukkan adanya perbedaan yang snagat ekstrem.
Peranan guru baik dalam model sentralisasi maupun desentralisasi dapat
dilihat dalam tiga tahap, yaitu tahap perancangan, pelaksanaan dan evaluasi.
Pengembangan kurikulum pada tahap perancangan berkenaan dengan seluruh
kegiatan menghasilkan dokumen kurikulum, atau kurikulum tertulis.
Pelaksanaan kurikulum atau disebut juga implementasi kurikulum, meliputi
kegiatan menerapkan semua rancangan yang tercantum dalam kurikulum
tertulis. Evaluasi kurikulum merupakan kegiatan menilai pelaksanaan dan
hasil-hasil penggunaan suatu kurikulum. Kurikulum makro yaitu kurikulum
yang menyeluruh meliputi semua komponen, atau meliputi seluruh wilayah,
atau seluruh siswa pada jenjang pendidikan tertentu. Kurikulum mikro
merupakan jabaran atau rincian dari kurikulum makro, atau rancangan bagi
pelaksanaan pengajaran di kelas.
a. Peranan guru dalam pengembangan kurikulum yang bersifat sentralisasi
Dalam kurikulum yang bersifat sentralisasi, guru tidak mempunyai
peranan dalam perancangan, dan evaluasi kurikulum yang bersifat makro,
mereka lebih berperan dalam kurikulum mikro. Kurikulum makro disusun
oleh tim atau komisi khusus, yang terdiri atas para ahli. Penyusunan
kurikulum mikro dijabarkan dari kurikulum makro. Guru menyusun
kurikulum dalam bidangnya untuk jangka waktu satu tahun, satu semester,
satu catur wulan, beberapa minggu ataupun beberapa hari saja. Kurikulum
untuk satu tahun, satu semester atau satu catur wulan disebut juga program

14
tahunan, semesteran, catur wulanan, sedangkan kurikulum untuk beberapa
minggu atau hari, disebut satuan pelajaran. Program tahunan, semesteran,
catur wulanan, ataupun satuan pelajaran memiliki komponen-komponen
yang sama yaitu tujuan, bahan pelajaran, metode dan media pembelajaran,
dan evaluasi, hanya keleluasaan dan kedalamannya berbeda-beda.
Implementasi kurikulum hampir seluruhnya bergantung pada
kreativitas, kecakapan, kesungguhan, dan ketekunan guru.

b. Peranan guru dalam pengembangan kurikulum yang bersifat desntralisasi
Kurikulum desentralisasi disusun oleh sekolah ataupun kelompok
sekolah tertentu dalam suatu wilayah atau daerah. Kurikulum ini
diperuntukkan bagi suatu sekolah atau lingkungan wilayah tertentu.
Pengembangan kurikulum ini didasarkan atas karakteristik, kebutuhan,
perkembangan daerah serta kemampuan sekolah atau sekolah-sekolah
tersebut.
Bentuk kurikulum seperti ini mempunyai beberapa kelebihan
disamping juga kekurangan. Kelebihan-kelebihannya, diantaranya (1)
kurikulum sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat
setempat, (2)kurikulum sesuai dengan tingkat dan kemampuan sekolah,
baik kemampuan professional, financial maupun manajerial, (3) disusun
oleh guru-guru sendiri dengan demikian sangat memudahkan dalam
pelaksanaannya, (4) ada motivasi kepada sekolah (kepala sekolah, guru)
untuk mengembangkan diri, mencari dan menciptakan kurikulum yang
sebaik-baiknya, dengan demikian akan terjadi semacam kompetisi dalam
pengembangan kurikulum.
Beberapa kelemahan bentuk kurikulum ini, adalah : (1) tidak
adanya keseragaman, untuk situasi yang membutuhkan keseragaman demi
persatuan dan kesatuan nasional, bentuk ini kurang tepat, (2) tidak adanya
standar penilaian yang sama, sehingga sukar untuk dipeerbandingkan

15
keadaan dan kemajuan suatu sekolah/ wilayah dengan sekolah/ wilayah
lainnya, (3) adanya kesulitan bila terjadi perpindahan siswa ke sekolah/
wilayah lain, (4) sukar untuk mengadakan pengelolaan dan penilaian
secara nasional, (5) belum semua sekolah/ daerah mempunyai kesiapan
untuk menyusun dan mengembangkan kurikulum sendiri.
Untuk mengatasi kelemahan keduabentuk kurikulum tersebut,
bentuk campuran antara keduanya dapat digunakan, yaitu bentuk sentral-
desentral.

D. PEMBAHASAN
Dengan terpenuhinya standar kompetensi guru tersebut pada setiap pendidik,
maka diharapkan pendidik di Indonesia akan memiliki kualitas yang nantinya dapat
mendidik siswa dan meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Implementasi
kompetensi-kompetensi guru harus diterapkan dalam setiap pembelajaran, agar
nantinya tercipta nilai-nilai karakter pada siswa, sesuai dengan tujuan pendidikan
Indonesia No. 20 Tahun 2003 yaitu tujuan pendidikan nasioanl adalah
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
tertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
Standar Kompetensi Guru
a. Kompetensi Guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) pada
SMP/MTs.
b. Menguasai materi, struktur, konsep,dan pola pikir mata pelajaran IPS baik
dalam lingkup lokal, nasional, maupun global.
c. Membedakan struktur keilmuan IPS dengan Ilmu-ilmu Sosial.
d. Menguasai konsep dan pola pikir keilmuan dalam bidang IPS.
e. Menunjukkan manfaat mata pelajaran IPS.

16
Kompetensi guru juga dapat dilihat melalui penyusunan kurikulum dalam satuan
pendidikan. Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai
tujuan, isi, dan bahan belajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Dalam penyususnan kurikulum, harus memperhatikan tingkahatan pembelajaran.
Acuan operasional penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan, pada khususnya
KTSP dengan memperhatikan nilai-nilai karakter sesuai dengan ideologi Negara,
yaitu: peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia, peningkatan potensi
kecerdasan dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta
didik, keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan serta tuntutan
pembangunan daerah nasional.
KTSP yang dikembangkan sedemikian rupa yang bertujuan untuk memperbaiki
mutu pendidikan di Indonesia, masih memiliki beberapa permasalahan yang harus
dibenahi, diantaranya secara umum, kurikulum pendidikan dasar dan menengah
menghadapi dua permasalahan pokok, yaitu berkaitan dengan materi/perangkat
pengaturan yang ditetapkan oleh pusat dan pelaksanaan kurikulum yang ditetapkan.
Secara garis besar, permasalahan kurikulum dapat diuraikan sebagai berikut,
permasalahan yang berkaitan dengan kurikulum tertulis, yang meliputi kesulitan
dalam penyususnan kurikulum yang sesuai dengan tuntutan pembangunan nasional
dan pengembangan kurikulum tidak melibatkkan kerja yang kompak dan transparan,
baik dari komponen guru maupun masyarakat.
Selain itu, permasalahan yang berkaitan dengan pelaksanaan kurikulum dalam
KTSP juga menambah deret panjang permasalahan dalam hal mencerdaskan
kehidupan bangsa, yaitu besarnya sasaran pembinaan pendidikan dasar dan menengah
tidak mudah mencukupi keperluan sasaran untuk melaksanakan kurikulum serta
jumlah mutu tenaga supervise serta fasilitas pendukungnya, mengakibatkan
pelaksanaan supervise tidak dapat dilakukan dengan baik, system penataran guru
dalam rangka meningkatkan kemampuan untuk melaksanakan kurikulum pendidikan
nasional belum mantap. Tak jarang guru yang dikirimkan untuk mengikuti penataran

17
adalah orang yang hasilnya tidak disampaikan secara maksimal kepada guru lainnya.
Selain itu, ada juga kelebihan yang ditawarkan oleh KTSP diantaranya adalah
mendorong terwujudnya luas kepada sekolah dan satuan pendidikan.
Penyeragamam kurikulum berimpilikasi pada beberapa kenyataan bahwa sekolah
didaerah pertanian sama sama dengan sekolah yang didaerah pesisir pantai, sekolah
didaerah industry sama dengan wilayah pariwisata. Oleh karenanya kurikulum
tersebut menjadi kurang operasional, sehingga tidak memberikan kompetensi yang
cukup bagi peserta didik untuk mengembangkan diri dan keunggulan khas yang ada
didaerahnya. Sebagai implikasi dari penyeragaman ini akibatnya para lulusan tidak
memiliki daya kompetitif di dunia kerja dan perimplikasi pula terhadap meningkatnya
angka pengangguran. Untuk itulah kehadiran KTSP diharapkan dapat memberikan
jawaban yang konkrit terhadap mutu dunia pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu,
jika diperlukan sekolah dapat berkonsultasi engan dinas pendidikan daeran
kabupaten atau kota, dinas pendidikan provinsi, lembaga penjamin mutu pendidikan
provinsi dan departemen pendidikan nasional. Sedangkan secara horizontal, sekolah
dapat bermitra dengan stakeholder pendidikan dalam merumuskan KTSP. Misalnya
dunia industry, kerajinan, pariwisata, petani, nelayan, organisasi profesi, dan
sebagainya agar kurikulum yang dibuat oleh sekolah benar-benar mampu menjawab
kebutuhan didaerah dimana sekolah.
Dari penjelasan tersebut, dapat diketaui prinsip pengembangan KTSP adalah:
berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan
lingkungannya. Beragam dan terpadu. Tanggap terhadap perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni. Relevan dengan kebutuhan kehidupan. Menyeluruh
dan berkesinambungan. Belajar sepanjang hayat, dan seimbang antara kepentingan
nasional dan kepentingan daerah.
Berdasarkan prinsip-prinsip ini, KTSP sangat relevan dengan konsep
desentralisasi pendidikan sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah dan konsep
manajemen berbasis sekolah yang mencakup otonomi sekolah didalamnya.
Pemerintah daerah dapat lebih leluasa berimprovisasi dalam meningkatkan kualitas

18
pendidikan. Disamping itu, sekolah bersama komite sekolah diberi otonomi
menyusun kurikulum sendiri sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
KTSP sangat memungkinkan bagi setiap sekolah untuk menitikberatkan dan
mengembangkan mata pelajaran tertentu yang akseptabel bagi kebutuhan siswa,
sesuai dengan kebijakan dapertemen pendidikan nasional yang tertuang dalam
peraturan Mendiknas NO. 22 tahun 2006 tentang standart kompetensi lulusan,
sekolah diwajibkan menyusun kurikulumnya sendiri. KTSP memungkinkan sekolah
menitikberatkan pada mata pelajaran tertentu yang dianggap paling dibutuhkan
siswanya. KTSP relative lebih mudah, karena guru diberi kebebasanuntuk
mengemangkan kompetensi siswanya sesuai dengan lingkungan dan kultur
lingkungannya. KTSP juga tidak mengatur secara rinci kegiatan belajar mengajar,
tetapi guru diberi keluasan untuk mengembangkan dirinya sendiri sesuai dengan
keadaan murid didaerahnya.

E. KESIMPULAN

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada
pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah. Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru dikembangkan
secara utuh dalam empat kompetensi meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional.
Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalam
belajar yang disediakan bagi siswa di sekolah. Dalam kurikukulum terintegrasi
filsafat, nilai-nilai, pengetahuan, dan perbuatan pendidikan. Dengan terpenuhinya
standar kompetensi guru tersebut pada setiap pendidik, maka diharapkan pendidik di
Indonesia akan memiliki kualitas yang nantinya dapat mendidik siswa dan
meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

19
F. SARAN
Berdasarkan pembahasan dan materi diatas mengenai standar kompetensi
profesional guru dalam pengembangan kurikulum saran yang dapat diberikan yaitu:

1. Sebagai seorang pendidik harus memilki standar kompetensi guru yang
sesuai. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan terhadap
pengetahuan, keterampila, dan juga sikap professional dalam menjalankan
fungsi dan tugas sebagai guru.
2. Sebagai seorang pendidik di era sekarang menuntut guru untuk senantiasa
melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian penguasaan
kompetensinya. Guru harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan
proses pembelajaran siswa dengan menggunakan kompetensi professional
guru yang dimiliki.

20
DAFTAR PUSTAKA

Sanjaya, Wina. 2006. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis
Kompetensi. Jakarta: Prenada Media Group.

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2007. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Permendikbud Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan
Kompetensi Guru

Panduan Penyusunan KTSP, BSNP 2006

Nurtanto, Muhammad. Mengembangkan Kompetensi Profesionalisme Guru dalam
Menyiapkan Pembelajaran yang Bermutu. Prosiding Seminar Nasional
Inovasi Pendidikan: Inovasi Pembelajaran Berbasis Karakter dalam
Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Dalrohman, Arif. 2016. Pengembangan Kompetensi Profesional Guru SMA/MA di
Kecamatan PLeret Kabupaten Bantul. Skripsi. Universitas Negeri
Yogyakarta.
http://eprints.uny.ac.id/40751/1/Muh%20Arif%20Dalrohman_12101244007.
pdf (Diakses pada tanggal 3 September 2018 pukul 11.30 WIB.

21