You are on page 1of 22

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan
judul “Asuhan Keperawatan Luka Tekan”. Makalah ini disusun dalam rangka
memenuhi salah satu tugas seminar mata kuliah Luka Mahir.
Dan terima kasih kepada Dosen Pembimbing yang telah memberikan
bimbingan dalam menyusun makalah ini serta membantu dan memberikan
masukan untuk hasil yang lebih baik dalam pengerjaan makalah ini. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat dalam pengetahuan kita semua.

Kami sadar masih banyak kekurangan dalam penyelesaian makalah ini
maka dari itu, kami mohon maaf atas kekurangannya dan dimohon kritik serta
saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga apa
yang diharapkan dari makalah ini dapat dicapai dengan sempurna. Amin.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................ 1
BAB I ................................................................................................................. 3
PENDAHULUAN .............................................................................................. 3
A. Latar Belakang ........................................................................................ 3
B. Tujuan .................................................................................................. 4
C. Metode Penulisan .................................................................................... 4
BAB II ................................................................................................................ 5
PEMBAHASAN ................................................................................................ 5
A. Pengetian ................................................................................................. 5
B. Insiden dan prevelansi ............................................................................. 6
C. Etioligi ..................................................................................................... 7
D. Klasifikasi ................................................................................................ 8
E. Fakor resiko ............................................................................................. 9
F. Fakto prediposisi ................................................................................... 12
G. Komplikasi luka tekan ........................................................................... 12
H. Pathway ................................................................................................. 13
I. Patofisiologi........................................................................................... 13
J. Menejeman luka tekan........................................................................... 14
K. ASUHAN KEPERAWATAN ................................................................ 15
BAB III ............................................................................................................. 21
PENUTUP ........................................................................................................ 21
A. Kesimpulan ......................................................................................... 21
B. Saran ...................................................................................................... 21
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 22
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut penelitian di Amerika, pristiwa dekubitus 5-11% perawatan
akut. Itu yang menyebabkan kematian secara langsung dan 1/3 pasien
meninggal dunia (proses penyakit primer menyebabkan tingginya angka
morbiditas dan mortalitas luka tekan atau dekubitus). Dari luka tekan bisa
menyebabkan nyeri, sepsis, infeksi kronis, sellulitis, osteomyelitis, dan
mengakibatkan semakin lamanya perawatan akibatnya meningkatnya biaya,
dan bisa menyebabkan stress bagi keluarga karena meningkatnya prevlensi
mortalitas.
Sedangkan menurut penelitian indonesia 70% pasien tirah baring di
rumah sakit, 12 orang mengalami dekubitus. Angka ini relatif tinggi jika tidak
di cegah. Sehingga kesehatan dan keluarganya perlu melakukan pencegahan.
Insiden ulkus dekubitus memiliki variasi klinis sangat luas, 0,4%-38%
terjadi di rumah sakit, 2,2-23,9% terjasi ditekanan perawatan jangka panjang
(long term care), 0-17% di tatanan home care (perawatan rumah) dan kurang
dari 2% yang ideal. (Cuddigan J et, al. 2001)
Kerusakan jaringan kulit akibat adanya suatu penekanan pada jaringan
yang lunak antara daerah tulang yang menonjol yang berlangsung dalam
periode yang lama dan terus-menerus menyebabkan oklusi aliran darah dan
mengakibatkan kematian jaringan (The National Pressure Ulcer Advisory
Planel 1989 dan Sorensen-medical Surgical Nursing, 1997)
Berdasarkan banyaknya insiden luka tekan : dekubitus maka
kelompok tertarik untuk mengangkat masalah tentang luka tekan : gangren
sebagai judul makalah kelompok.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Agar mahasiswa dapat memberikan menejeman keperawatan : gangren dan
melakukan pencegahan terjadinya luka tekan.
2. Tujuan Khusus
Mahasiswa-mahasiswa dapat :
a. Menjelaskan pengertian luka tekan : gangren
b. Menjelaskan etiologi luka tekan : gangren
c. menjelaskan tentang komplikasi luka tekan
d. Memahami patofisiologi dan pathway luka tekan : gangren
e. Menjelaskan menejemen luka tekan : gangren
f. Memahami asuhan keperawatan luka tekan : gangren

C. Metode Penulisan
Dalam penyusunan makalah ini kelompok menggunakan metode study
keputusan yaitu dengan mempelajari buku-buku atau sumber yang berkaitan
dengan judul makalah kelompok.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengetian
Luka tekan adalah tempat dimana lokasi kerusakan kulit dan di bawah
jaringan yang disebabkan oleh tekanan, gesekan dan atau keduanya. Nama
lainnya adalah tekanan karena tempat, kerusakan luka tekan, kecelakaan
tekanan dan luka dekubitus. (Dr. R Suhartono SpB (K) V 20 Februari 2010).
Luka tekan adalah kerusakan kulit akibat adanya suatu tekanan pada
jaringan yang lunak antara daerah tulang yang menonjol dan berlangsung
dalam periode yang lama dan terus-menerus, ini bisa terjadi oklusi aliran darah
iskhemia, hingga sampai kematian jaringan (Teh National Pressure Ulser
Advisory Planel 1989 dan Sorensen-medical Surgical Nursing, 1997)
Luka tekan dekubitus merupakan suatu nyeri, sepsis, infeksi kronis,
selulitis, osteomyelitis dengan terjadinya luka tekan dekubitus akan
mengakibatkan perawatan semakin lama dan bisa terjadinya peningkatan biaya
dan bisa membuat stres bagi keluarga, dan meningkatnya prevalensi mortalitas.
Dekubitus merupakan kerusakan ataupun kematian kulit sampai
jaringan di bawah kulit bahkan menembus otot sampai mengenai
sekitar.adanya penekanan di suatu area secra terus menerus sehingga
mengakibatkan ganguuan sirkulasi darah setempat
Dekubitus atau luka tekan adalah kerusakan jaringan yang terlokasir
yang di sebabkan karena adanya kompresi jaringan yang lunak di atas tulang
yan menonjol (bony prominence) dan adanya tekanan dari luar dalam jangka
waktu yang lama
B. Insiden dan prevelansi
Beberapa penelti menyebutkan mengenai insiden dan perevalensi
dekubitus/luka tekan sebagai berikut :
a. NPUAP( (2012 )menyatakan dalam ‘pressure ulcer anwreness day (
hari kesadaran tentang ulkus tekan )ebagai berikut :
b. Lebih dari 2,5 juta penduduk Amerika serikat mengalami ulkus tekan
/luka tekan setiap tahunya.
c. Lebih banyak pasien yang menderita ulkus tekan dari pada luka kanker.
d. Sekitar 60.000 orang meninggal dunia setiap tahunya aibat ulkus tekan.
e. Ulkus tekan menelan biaya $9,1 trilyun ampai $11,6 trilyun setiap
tahunnya di amerika serikat dengan biaya untuk asuhan keperawatan
setiap ulkus tekan sekitar $20,900 sampai $151,700
f. Lebih dari 17 kasus hukum berkaitandengan ulkus tekan setiap tahunya
dari tuntutan kedua setelah penyebab kematian yang salah, dan lebi
besar dari tuntutan akibat jatuh dan stres emosional
g. Luka tekan dapat menyebabkan penderita stres emosional baik pada
pasien maupun anggota keluarga
h. Ulkus tekan seringkali dpat di cegah melalui tim multidisiplinr
berdasarkan evidence based care (asuhan berbaris bukti
i. Yusuf,(2010 ) menyebutkan bahwa hasil penelitian yang menunjukan
insidens dekubitus di ndonesia sebesar 33,3%(suriadi,2006)di mana
angka ini sangat tinggi apabila dibandingkan dengan insidens dekubius
di ASEAN yang hanya berkisar 2,1-31,3% (sugama et al,
1992;seongsok et al, 2004; kwong t al,2005).
j. Namun yusuf ,S (2010) lebh lanjut menyatakan bahwa angka insidens
dan prevalensi dekubitus masih simpang siur. Hal ini disebabkan
adanya perbedaan metodolgi, sampel, clinical setting, dan variabel,
ainya dengan gambaran insidens dan prevalensi di beberapa negara
sebagai berikut :
no Negara Prevalensia Sumber
1 Amerika serikat 14, 8% Kalthenthaler, et al 2001
2 belanda 23,1 % Bours,et al 2002
3 Icelandia 8,9 % Thorodden, 1999
4 australia 6% Pearson,et al 2000
5 swedia 3,75 % Lingren, at al 2000

C. Etioligi
a. Tekanan antar muka
a) Tekanan antar muka yang tinggi akan mengakibatkan jaringan menjadi
iskemia dan dapat berlanjut terjadinya injuri dan nekrosis. Tekanan
antar muka adalah kekuatan perunit area antara tubuh dengan
permukaan matras. Apabila tekanan antar muka lebih besar dari pada
tekanan kapiler rata-rata, maka pembuluh darah kapiler akan mudah
kolaps. Darah terebut menjadi lebih mudh terjadi iskemia dan nekrotik.
Tekanan kapiler rata-rata adalah sekitar 32 mmHg.
b) Menurut peneliian sugama (2000) dan suriadi(2003) tekanan antar
muka yang tinggi merupakan faktor yang signifikan untuk
perkembangan luka tekan.
b. Merokok
a) Nikotin yang terdapat pada rokok dapat menurunkan aliran darah dan
memiliki efek toksik terhadap lapisan endotilium pembuluh darah.
Terdapat hubungan yang signifikan antara merokok dengan
perkembangan terhadap luka tekan
c. Temperatur
a) Menurut hasil penelitian Sugama (1992), suriadi (2004) peningkatan
temperatur merupakan faktor yang signifikan dengan resiko terjadinya
lka tekan.
b) Faktor instrinsik : penuaan (regenerasi sel lemah), sejumlah penyakit
yang menimbulkan seperti DM, status gizi, underwight, atau
kebalikanya, overwight, anemia, penyakit-penyakit yang merusak
pembuluh darah, keadaan hidrasi/cairan tubuh.
c) Faktor kstrinsik : kebersihan tempat tidur, alat-alat tenun yang kusut
dan kotor, atau perlatan medik yang menyebabkan penderita terfiksasi
pada suatu sikap tertentu, duduk yang buruk, posisi yang tidak
tepat,perubahan posisi yang kurang
d) Luka tekan hanya berkembang pada pasien yang dalam keadaan
berbaring, padahal sebenarnya luka tekan tidak berkembang pada
pasien yang berbaring, juga dapat terjadi pada pasien yang
menggunakan kursi roda dan prostesi.

D. Klasifikasi
Luka tekan di bagi beberapa staging (peningkatan) :
a. Stage I
Kulit utuh berwarna kemerahan yang tidak memucat saat di tekan,
biasanya di atas tonjolan tulang. Penderita dengan kulit hitam sering
tidak terlihat kulit yang memucat, mungkin hanya terjadi perubaha warna
kulit merupakan lesi cikal-bakal ulkus. Eritma tidak pucat pada kulit
utuh, lesi ulkus kulit yang diperbesar. Kulit tidak berwarna, hangat, atau
keras juga dapat menjadi indicator.
b. Stage II
Kehilangan sebagian tebal kulit epidermis atau bagian paling atas kulit
rusak, terlihat sebagai abrasi atau luka terbuka yang tergantung dengan
dasar pink atau kemerahan, tanpa jaringan nekrosis. Luka juga bisa
terlihat sebagai blister (lepuhan) atau kawan dangkal.hilangnya sebagian
ketebalam kulit meliputi epidermis atau dermis. Ulkus superfisialis dan
secara klinis dapat terlihat seperti abrasi, lecet atau lubang yang dangkal.
c. Stage III
Kehilangan seluruh tebal kulit, kerusakan meluas sampai ke dermis
subkutan dan jaringan lemak. Mungkin terdapat `slough` (jaringan
nekrotik berwarna kuning atau abu-abu). Hilangnya seluruh ketebalan
kulit meliputi jaringan subkutan yang rusak atau nekrotik yang mungkin
akan melebar ke bawah, tetapi tidak melampaui pascia yang berada
dibawahnya. Ulkus secara klinis terlihat seperti lubang yang dalam
dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya.
d. Stage IV
Kehilangan sseluruh tebal kulit, kerusakan meluas sampai ke tulang
sering terjadi slough dan escar (yang berwarna kecoklatan pada daerah
luka). Hilangnya seluruh ketebalan kulit disertai destruksi ekstensif;
nekrosis jaringan; atau kerusakan otot, tulang, atau strukutr penyangga.

E. Fakor resiko

Beberpa faktor resiko terjadi luka dekubitus, disebutkan d bahwaini ;

a. Perubahan tingkat kesadaran
b. Penyakit gangguan perdarafan, stroke
c. Truma tulang belakang
d. Bedrest terlalu lama
e. Imobilisasi
f. Gangguan sirkulasi
g. Usia
h. Anemia
i. Status nutrisi, terutama sekali pada pasien hipoalbumin
j. Inkontinensia
k. Matras atau temapat tidur
l. Perokok
m. Pergesekan dan pergeseran di atas tempat tidur
Yusuf (2010) menjelaskan faktor risiko yang berkontribusi terhadap
terjadinya luka tekan /dekubitus :

a) Tercatat lebih dari 100 faktor resiko yang berkontribusi terhadap
terjadinya luka tekan / dekubitus
b) Beberpa faktor resiko tersebut disebutkan pada tabel di bawah ini
abdalah ;antara lain
F. Fakto prediposisi

Secara umum, faktor prediposisi terjadinya luka tekan (dekubitus )
dapat dibagi menjadi 2 yaitu yang disebabkan karna faktor intrinsik yang
terlihat pada bagan dan tabel berikut :

G. Komplikasi luka tekan

Komplikasi pada luka tekan dapat terjadi jika perawatan awal tidak baik, serta
dapat mengarah lebih lanjut pada kerusakan jringan yang lebih dalam hingga
ke tulang dan meluas. Komplikasi yang dapat di temukan pada luka tekan
adalah :
a. Transformasi maligna
b. Oesteomielitis
c. Pyarthrosis
d. Sepsis
e. Fistula uretra
f. Anemia

H. Pathway

Luka dekubitus merupakan dampak dari tekanan yang terlalu lama pada
permukaan tulang yang menonjol

Terjadi tekanan arteri kapiler pada kulit sehingga pembuluh darah pada kulit
menjadi kolops

Menghalangi oksigenesi dan nutrisi ke jaringan dan area yang tertekan,
menybabkan terhambatynya aliran darah

Jaringan setempat

Nekrois

I. Patofisiologi
Luka tekan tau presure ulcer I bedsors dan juga ikenal sebagai luka
dekubitus merupakan masalah serius yang terjadi pada pasien dengan
keterbatasan gerak, seperti pasien struk, injuri tulang belakang, dan penyakit
degrenatif.
Gambaran umum mekanisme luka tekan adalah kerusakan jaringan
yang terlokasir, disebabkan karna adanya tekanan yang meningkat antara
anggota badan dengan tempat tidur, yang merusak jaingan lunak terutama pada
bagian tulang yang menonjol (body prominence), dan adanya faktor gesekan
dan pergeseran dari luar dalam jangka waktu yang lama. Pasien yang
mengalami luka tekan yang tidak di tangani dengan baik dapat mengakibatkan
masa perawatan pasien menjadi panjang dan peningkatan biyaya rawat di
rumah sakit.

J. Menejeman luka tekan
Insiden ulkus dekubitus, variasi klinis sangat luas. -0,4-388% : di rumah
sakit, 2,2-23,9% : di tatanan perawatan jangka panjang (Long Borm Care), 0-
17% : di tatanan home care, <2% : yang ideal ulkus dekubitus, biaya perawatan
diperkirakan 61,230….. untuk ulkus dekubitus stage 4 (finansial), nyeri, tidak
nyaman, penurunan mobilitas ketergantungan isolasi social
a. Intensitas dan durasi tekanan
Tekanan rendah dalam waktu lama sama kuatnya dan tekanan tinggi dalam
waktu singkat untuk menyebabkan kerusakan jaringan, tekanan tertinggi
70MmHg di bokong saat berbaring, dan pada posisi duduk tekanan setinggi
300MmHg di atas ischial tuberositas, tingkat tekanan tersebut melebihi tekanan
penutupan kapiler normal 25-32MmHg dan dapat menyebabkan iskemia
jaringan.
b. Empat tingkatan kerusakan
a) Hyperemia : dapat diamati dalam 30 menit atau kurang, kulit
kemerahan atau keunguan, hilang dalam satu jam setelah tekanan
berkurang.
b) Iskemia : terjadi setelah 2-6 jam tekanan terus-menerus merah
gelap, perlu 36 jam atau lebih untuk hilang stelah tekanan
berkurang.
c) Nekrosis : terjadi setelah 6 jam tertekan terus-menerus, keabu-
abuan, kebiruan dan menebal atau indurasi.
d) Ulcerasi : dapat terjadi 2 minggu setelah nekrosis dengan potensi
innfeksi.
K. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Saat mengkaji ulkus dekubitus, gunakan pendekatan sistematis dan obyektif.
(pengkajian nyeri, pengkajian umum, pengkajian kulit dan monitor luka)
1) Kaji nyeri
a. Ulkus dekubitus biasanya menyebabkan beberapa tingkatan nyeri, pada
beberapa kasus nyeri hebat.
b. Kaji skor nyeri dengan visual analog scale, (0-10)
2) Pengkajian umum
a. Riwaayat ulkus (etiologi, durasi dan terapi sebelumnya)
b. Lokasi anatomis (area di atas sacrum, coccyx,ischium, tuberosities,
trocanteas, siku dan tumit)
c. Stage (derajat)
d. Ukuran (panjang, lebar, dalam, gunakan centimetus)
e. Ada atau tidak sinus tracb, goa atau tunneling
f. Drainase exudat
g. Ada atau tidak jaringan nekrotik (slough atau eschar)
h. Ada atau tidak jaringan granulasi
i. Ada tidak epitalisasi
3) Pengkajian kulit
Tepi ulkus dekubitus dapat mengindikasikan potensi penyembuhannya
Kaji kulit sekitar ulkus :
a. Erythema
b. Panas local
c. Indurasi
d. Bengkak
e. Tanda-tanda infeksi
4) Pengkajian kulit
Kaji kulit terhadap tanda-tanda iskemia (indikasi area keluasan ulkus
dekubitus)
a. Reactive hyperemia (iskemia pertama yang terlihat)→kemerahan terjadi
saat tekanan dibebaskan, menyebabkan darah mengalir kembali ke
jaringan.
b. Blanchable erythema → kemerahan yang memucat saat di tekan dengan
ujung jari dan kemudian kembali memerah saat tekanan dilepaskan.
c. Nonblanchble erythema (merupakan tanda awal kerusakan jaringan) →
kemerahan yang intens yang tidak berubah saat di tekan dengna ujung jari.

5) monitor luka
a. Ulkus dekubitus perlu di kaji ulang setiap minggu.
b. Ulkus dekubitus yang bersih, merah granulasi dapat menunjukkan
kemajuan penyembuhan dalam 2 minggu. Jika tidak ada kemajuan, re-
evaluasi rencana perawatan (care plan).
c. The pressure ulcer scale for healing (PUSH) dapat membantu memonitor,
mengkaji ulang dan mendokumentasikan ulkus dekubitus.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri (akut) b/d kerusakan integritas kulit/jaringan
b. Mobilitas fisik, kerusakan b/d penurunan kekuatan dan tahanan
c. Ketakutan/ansietas b/d prosedur isolasi
d. Kurang pengetahuan b.d tidak mengenal sumber informasi

3. Intervensi
a. Dx I : Nyeri (akut) b/d kerusakan integritas kulit/jaringan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan masalah nyeri (akut) dapat
teratasi
KH : Nyeri berkurang/terkontrol
Mandiri :
a. Ubah posisi dengan sering dan rentang gerak pasif dan aktif sesuai
indikasi.
b) Gerakan dan latihan menurunkan kekuatan sendi dan kelelahan otot tetapi
tipe latihan tergantung pada lokasi dan luas cedera.
Berupa Kaji keluhannyeri, perhatikan lokasi/karakter dan intensitas (skala 0-
10).
c) Pernyataan memungkinkan pengungkapan emosi dan dapat meningkatkan
mekanisme koping.
Berupa Dorong penggunaan tekhnik menejemen stress, contoh relaksasi
progresif, napas dalam, bimbingan imajinasi dan visualisasi.
d) Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan relaksasi, dan
meningkatkan rasa control yang dapat menurunkan parmakologis.
Berupa Tingkatkan periode tidur tanpa gangguan.
e) Kekurangan tidur dapat meningkatkan persepsi nyeri/kemampuan koping
menurun.
f) Kolaborasi :
Berupa memberikan obat tepat waktu mencegah pluktuasi pada intensitas
nyeri. Sering pada dosis total rendah kemudian diberikan dengan periode
konvensional.
b. Dx II : Mobilitas fisik, kerusakan b/d penurunan kekuatan dan
tahanan
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan masalah mobilitas
fisik, kerusakan teratasi.
KH : menunjukan teknik/prilaku yang memampukan melakukan
aktivitas mandiri.
a. Lakukan latihan rentang gerak secara konsisten, diawali dengan pasif
kemudian aktif
b. Mencegah secara progresif mengencangkan jaringa perut dan
kontraktur. Meningkatkan pemeliharaan fungsi otot/sendi dan
menurunkan kehilangan kalsium dan tulang.
Berupa Beri obat sebelum aktivitas/latihan
c. Menurunkan kekuatan otot/jaringan dan tegangan memapukan
pasien untuk lebih aktif dan membantu partisipasi.
Berupa Dorong dukungan dan bantuan keluarga/orang terdekat pada
latihan rentang gerak
d. Memepukan keluarga/orang terdekat untuk atif dalam perawatan
pasien dan memberikan terapi lebih konstan/konsisten.
Berupa Dorong partisipasi dalam semua aktivitas sesuai kemampuan
individual
e. Meningkatkan kemandirian, meningkatkan harga diri, dan membantu
proses perbaikan
f. Kolaborasi :
Berupa Berikan tempat tidur busa, udara, atau tempat itdur terapi
kinetic sesuai indikasi
g. Mencegah tekanan lama pada jaringan, menurunkan potensial
iskemia jaringan/nekrosis dan pembentukan dekubitus.
c. Dx : Ketakutan/ansietas b/d prosedur isolasi
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan masalah
ketakutan/ansietas teratasi
KH : menyatakan kesadaraan perasaan dan menerimanya dengan
sehat
Mandiri :
a. Berikan penjelasan dengan sering dan informasi tentang
prosedur keperawatan
b. Pengetahuan apa yang diharapkan menurunkan ketakutan dan
ansietas, memperjelas kesalahan konsep, dan meningkatkan
kerja sama
Berupa libatkan pasien/orang terdekat dalam proses
pengambilan keputusan kapam pun mungkin
c. Meningkatkan rasa control dan kerja sama, menurruunkan
perasaan tak berdaya/putus asa.
Berupa berikan orientasi konstan dan konsisten
d. membantu pasien tetap berhubungan dengan lingkungan dan
realitas
Berupa jelaskan pada pasien apa yang terjadi. Berikan
kesempatan untuk bertanya dan jawaban terbuka atau jujur.
e. Pernyataan konpensasi menunjukan realitas situasi yang dapat
membantu pasien/orang terdekat menerima realitas danmulai
menerima apa yang terjadi.
d. Dx: Kurang pengetahuan b.d tidak mengenal sumber informasi
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan masalah kurang
pengetahuan teratasi
KH : mengungkapkan pemahaman tentang penyakit
Mandiri :
a. Ciptakan lingkungan saling percaya dan mendengarkan penuh
perhatian, dan selalu adad untuk pasien.
b. Menggapai dan memperhatikan perlu diciptakan sebelum pasien
bersedia mengambil bagian dalam proses belajar.
Berupa bekerja dengan pasien dalam menata rujuan belajar yang
diharapkan.
c. Partisipasi dalam perencanaan, meningkatkan antusias dan kerja
sama pasien dengan prinsip-prinsip yang dipelajari.
Berupa pilih berbagai strategi belajar seperti teknik demontrasi
yang memerlukan keterampilan dan biarkan pasien
mendemontrasikan ulang gabungan keterampilan baru ini ke dalam
rutinitas rumah sakit sehari-hari.
d. Pengguanan cara yang berbeda tentang mangakses informasi,
meningkatkan individu yang belajar.
Berupa diskusikan tentang rencana diet penggunaan makanan
tinggi serat dan cara untuk melakukan makan di luar rumah
e. Kesadaran tentang tingginya control diet akan membantu pasien
dalam merencanakan makan/mentaati program.
Berupa tinjau ulang program pengobatan meliputi awitan puncak
lamanya dosis insulin yang diresepkan bila disesuaikan dengan
pasien atau keluarga.
f. pemahaman tentang semua aspek yang digunakan obat peningkatan
pengguanaan tepat.
4. Evaluasi
a. Nyeri dapat teratasi
b. Menunjukan teknik/prilaku yang memampukan melakukan aktivitas
c. Menyatakan kesadaran perasaan dan menerimanya dengan cara
sehat
d. Mengumgkapkan pemahaman tentang penyakit
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Luka tekan dalah tempat diman lokasi kerusakan kulit dan di bawah
jaringan yang disebebkan oleh tekanan, gesekan dan atau keduanya, nama
lainnya adalah tekanan karena tempat, kerusakan luka tekanan dan luka
dekubitus. Menurut penelitian di Amerika, peristiwa dekubitus 5-11%
perawatan akut, itu yang menyebabkan tingginya angka morbiditas dan
mortalitas luka tekan (dekubitus), dan luka tekan dekubitus dapat menyebakan
nyeri, sepsis, infeksi kronis, sellulitis, osteomyelits, dan mengakibatkan stres
bagi keluarga akibatnya meningkatkan prevalensi mortilitas.
Beberapa staging (peningkatan) di bagi 4 stage yaitu :
Stage I (kulit yang berwarna kemerahan yang tidak memucat saat
ditekan). Stage II (kehilangan sebagian tebal kulit, epidermis atau bagian atas
dari kulit yang rusak). Stage III (kehilangan seluruh tebal kulit). Stage IV
(kehilangan seluruh tebal kulit hingga terjadi nekrotik)
Luka tekan memiliki beberapa manajemen diantaranya intensitas dan
durasi tekanan, tingkatan kerusakan dan lokasi luka tekan. Luka tekan memiliki
beberapa tingkatan kerusakan diantaranya hyperemia, iskemia, nekrosis,
ulserasi.

B. Saran
Semoga dengan disampaikanya makalah ini pembaca atau khalayak
ramai un menjadi lebiih tahu bagaimana cara merawat serta mengetahui
pebagian dari luka dekubitus/luka tekan, serta para pembaca di harapkan
mampu untuk lebih bisa memenejemen beberapa luka serta lebih mengerti
pembagian serta stage-stage dari luka dekybitus/luka tekan .
DAFTAR PUSTAKA

Suzanne, Smeltzer. 2000. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC

Maryunani Anik. 2015.Perawatan Luka (Moderen Woundcare)Terlengkap

Dan Terkini. Perpustakaan Nasional. In Media