You are on page 1of 14

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU DAN SOSIAL

MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Tafsir
Dosen pengampu M. Miftakhul Huda, M.Pdi.

Disusun Oleh:

MEGA LESTARI (931332414)
LIA INAYATUL M. (931332514)

PRODI EKONOMI SYARI’AH
JURUSAN SYARI’AH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
KEDIRI
2015

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Tafsir yang berjudul “Tafsir Ayat-Ayat Al-
Qur’an tentang Manusia sebagai Makhluk Individu dan Makhluk Sosial” dengan tepat waktu.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini tidak akan berhasil dengan
baik tanpa adanya bimbingan dan sumbangan pemikiran dari berbagai pihak. Pada kesempatan
ini penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Dosen matakuliah Tafsir, yang telah memberi ilmu serta pengarahan dalam pembuatan
makalah ini.
2. Bapak dan Ibu yang telah memberikan doa sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
3. Rekan-rekan yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya sebagai balasan
atas amal baik dari semua pihak yang telah disebutkan di atas.
Sadar akan kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki, kami memohon maaf jika ada
penulisan yang kurang berkenan di hati bapak dosen dan juga pembaca. Saran dan kritik sangat
kami harapkan untuk kesempurnaan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat bagi kita semua.

Kediri, 21 Mei
2015

P Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bebicara tentang manusia selalu menarik. Karena selalu menarik, maka masalahnya
tidak pernah selesai dalam artian tuntas. Manusia merupakan makhluk yang paling
menakjubkan, makhluk yang unik multi dimensi, serba meliputi, sangat terbuka dan
mempunyai potensi yang agung.
Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk berpribadi, bersama-sama dengan orang
lain, hidup di tengah-tengah alam dan sebagai makhluk yang diciptakan dan diasuh oleh Allah.
Manusia sebagai makhluk pribadi mempunyai fungsi terhadap diri pribadinya, sebagai anggota
masyarakat mempunyai fungsi terhadap masyarakat. Sebagai makhluk yang hidup di tengah-
tengah alam berfungsi tehadap alam dan manusia sebagai makhluk yang diciptakan dan diasuh,
berfungsi terhadap yang menciptakan dan yang mengasuhnya. Selain itu manusia sebagai
makhluk pribadi terdiri dari kesatuan tiga unsur yakni perasaan, akal dan jasmani.
Dalam makalah ini penulis akan menguraikan tafsir ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan
dengan manusia. Dimulai dari tafsir tentang manusia sebagai makhluk individu dan makhluk
sosial, tafsir tentang produksi dan reproduksi manusia, tafsir tentang penciptaan awal manusia,
dan tafsir tentang hikmah diciptakannya manusia.

B. Rumusan masalah
1. Bagaimana tafsir ayat-ayat Al-Qur’an tentang manusia sebagai makhluk individu dan makhluk
sosial?
2. Bagaimana tafsir tentang produksi dan reproduksi manusia dalam Al-Qur’an?
3. Bagaimana tafsir tentang penciptaan awal manusia dalam Al-Qur’an?
4. Bagaimanakah tafsir tentang hikmah diciptakannya manusia?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Tafsir Ayat-Ayat Al-Qur’an tentang Manusia sebagai Makhluk Individu dan
Makhluk Sosial
Manusia dalam kehidupannya tidaklah bergantung pada diri sendiri. Setiap tindakan yang
akan dilakukan seorang manusia pasti berhubungan dan membutuhkan orang lain. Manusia
selain disebut sebagai makhluk individu, juga disebut sebagai makhluk sosial. Manusia dengan
kodratnya sebagai makhluk sosial, tidak dapat hidup seorang diri. Manusia memiliki kebutuhan
untuk berinteraksi dengan manusia lainnya. Adapun tafsir Al-Qur’an mengenai manusia
sebagai makhluk individu dan makhluk sosial tertera dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat
71:
1. Ayat Al-Qur’an
‫وف َويَ ْن َه ْونَ َع ِن‬ ِ ‫ض يَأ ْ ُم ُرونَ بِ ْال َم ْع ُر‬ ُ ‫َو ْال ُمؤْ ِمنُونَ َو ْال ُمؤْ ِمنَاتُ بَ ْع‬
ٍ ‫ض ُه ْم أ َ ْو ِليَاء بَ ْع‬
َ ‫سولَهُ أ ُ ْو َلـئِ َك‬
‫س َي ْر َح ُم ُه ُم‬ َّ َ‫صلَة َ َويُؤْ تُون‬
‫الز َكاة َ َويُ ِطيعُونَ ه‬
ُ ‫ّللاَ َو َر‬ َّ ‫ْال ُمن َك ِر َويُ ِقي ُمونَ ال‬
ٌ ‫ّللاَ َع ِز‬
-٧١-‫يز َح ِكي ٌم‬ ‫ّللاُ ِإ َّن ه‬
‫ه‬
Artinya:
Dan orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan, sebagian mereka
menjadi para penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh yang ma’ruf, mencegah
yang munkar, dan melaksanakan shalat secara berkesinambungan, menunaikan zakat, dan
mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan dirahmati Allah. Sesungguhnya,
Allah Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana {71}.[1]

2. Penjelasan Kata

a. ( َ‫) َو ْال ُمؤْ ِمنُون‬ Wal Mukminuuna: Yang benar dalam keimanan mereka kepada Allah dan

Rasul-Nya dan beriman pada adanya ancaman serta janji Allah.

b. ٍ ‫)أ َ ْو ِليَاء بَ ْع‬Auliyaa’u Ba’dh: Saling memberikan pertolongan, melindungi, mencintai dan
(‫ض‬
memberikan dukungan.

c. (َ ‫صلَة‬
َّ ‫ ) َويُ ِقي ُمونَ ال‬Wa Yuqiimuuna ash-Shalaata: Menunaikan shalat dengan khusyu serta
memenuhi syarat, rukun, sunah dan adab-adabnya.

d. َّ َ‫)ويُؤْ تُون‬
(َ ‫الز َكاة‬ َ Wa Yu’tuuna az-Zakaata: Mengeluarkan zakat harta benda mereka yang tidak
bergerak, seperti emas, dirham dan mata uang yang lain atau dari harta yang bergerak berupa
binatang ternak, seperti onta, sapi dan kambing.[2]
3. Tafsir Ayat
Kaum Mukminin dan Mukminat, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain.
Mereka menyuruh (orang-orang) pada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan
shalat, menunaikan zakat, serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan dirahmati
oleh Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
a. Wal mu’minūna (kaum Mukminin), yakni kaum lelaki yang membenarkan.
b. Wal mu’minātu (dan Mukminat), yakni kaum perempuan yang membenarkan.
c. Ba‘dluhum auliyā-u ba‘dl (sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain), yakni
berada dalam satu agama, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.
d. Ya’murūna bil ma‘rūfi (mereka menyuruh [orang-orang] pada yang makruf), yakni kepada
tauhid dan meneladani Nabi Muhammad saw.
e. Wa yanhauna ‘anil mungkari (mencegah dari yang mungkar), yakni dari kekafiran,
kemusyrikan, dan tak meneladani Nabi Muhammad saw.
f. Wa yuqīmūnash shalāta (mendirikan shalat), yakni menyempurnakan shalat lima waktu.
g. Wa yu’tūnaz zakāta (menunaikan zakat), yakni mengeluarkan zakat harta mereka.
h. Wa yuthī’ūnallāha wa rasūlah (serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya), baik secara sembunyi-
sembunyi maupun terang-terangan.
i. Ulā-ika sa yarhamuhumullāh (mereka itu akan dirahmati oleh Allah), yakni Allah tidak akan
mengazab mereka.
j. Innallāha ‘azīzun (sesungguhnya Allah Maha Perkasa) dalam kerajaan dan Kekuasaan-Nya.
k. Hakīm (lagi Maha Bijaksana) dalam perintah dan ketetapan-Nya.[3]
Ayat ini menerangkan bahwa orang mukmin, pria maupun wanita saling menjadi pembela
di antara mereka. Selaku mukmin ia membela mukmin lainnya karena hubungan agama.
Wanita pun selaku mukminah turut membela saudara-saudaranya dari kalangan laki-laki
mukmin karena hubungan seagama sesuai dengan fitrah kewanitaannya.
Akhir ayat ini menegaskan bahwa Allah pasti akan melimpahkan rahmat dan karunia-Nya
kepada orang-orang yang dikehendaki sesuai dengan amalan-amalan yang telah dikerjakannya.
Istri-istri rasulullah dan istri-istri para sahabat turut ke medan perang bersama-sama tentara
Islam untuk menyediakan air minum dan menyiapkan makanan karena orang-orang mukmin
itu sesama mereka terikat oleh tali keimanan yang membangkitkan rasa persaudaraan,
kesatuan, saling mengasihi dan saling tolong-menolong. Kesemuanya itu didorong oleh
semangat setia kawan yang menjadikan mereka sebagai satu tubuh atau satu bangunan yang
saling menguatkan dalam menegakkan keadilan dan meninggikan kalimah Allah. Sifat
mukmin yang seperti itu banyak dinyatakan oleh hadis-hadis Nabi Muhammad antara lain,
seperti sabdanya:

‫مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد اذا اشتكي منه عضو‬
‫تداعي له سائر الجسد بالحمى والسهر (رواه البخاري ومسلم عن النعمان بن‬
)‫بشير‬
Artinya:
Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, saling menyantuni dan
saling membantu seperti satu jasad, apabila salah satu anggota menderita, seluruh anggota
jasad itu merasakan demam dan tidak tidur. (riwayat Al Buchori dan Muslim dari Nu’man bin
Basyir).
Sifat-sifat yang dimiliki orang mukmin antara lain:
a. Orang mukmin selalu mengajak berbuat baik dan melarang perbuatan mungkar.
b. Orang mukmin mengerjakan sholat dengan khusyu’ dengan hati yang ikhlas.
c. Orang mukmin selain mengeluarkan zakat, tangan mereka selalu terbuka untuk menciptakan
kesejahteraan umat dan memberikan sumbangan sosial.
d. Orang mukmin selalu taat kepada Allah dengan cara meninggalkan perbuatan perbuatan
maksiat dan mengerjakan segala perintah menurut kesanggupan mereka.[4]

B. Tafsir tentang Produksi dan Reproduksi Manusia dalam Al-Qur’an
Produksi berasal dari kata dasar produk yang punya arti buatan atau hasil, sedangkan
produksi sendiri punya arti pembuatan atau menghasilkan. Kalau ditambahi didepannya “re”
maka berarti pembuatan kembali sesuatu yang sudah ada atau dalam kata yang sederhana
disebut perkembangbiakan.
Dengan demikian produksi adalah pembuatan pertama kali sedangkan reproduksi
merupakan pembuatan yang kedua atau di atasnya (3,4,5,…). Tapi reproduksi dalam
pembahasan ini yang dimaksudkan bukanlah penciptaan manusia yang kedua yaitu Hawa juga
bukan penciptaan manusia pertama yaitu Adam as dan juga bukan penciptaan manusia yang
tidak ilmiah atau tidak sesuai dengan sunatullah, seperti Nabi Isa as. Yang dimaksud dengan
istilah reproduksi manusia di sini adalah proses penciptaan kembali manusia yang berlangsung
di dalam kandungan ibu dan dengan proses yang ilmiah.
Dengan kata lain reproduksi manusia adalah proses perkembangbiakan manusia dalam
upaya untuk mempertahankan populasinya. Berikut ayat yang menjelaskan mengenai produksi
dan reproduksi manusia yang tercantum dalam surat Al-Mukminun ayat 12-14:
1. Ayat Al-Qur’an

- ‫ين‬ ْ ُ‫ث ُ َّم َجعَ ْلنَاهُ ن‬-١٢- ‫ين‬
ٍ ‫طفَةً فِي قَ َر ٍار َّم ِك‬ ٍ ‫س َللَ ٍة ِ همن ِط‬ ُ ‫سانَ ِمن‬ ِ ْ ‫َولَقَ ْد َخلَ ْقنَا‬
َ ‫اْلن‬
َ ‫ظاما ً فَ َك‬
‫س ْونَا‬ َ ‫ض َغةَ ِع‬ْ ‫ضغَةً فَ َخلَ ْقنَا ْال ُم‬ْ ‫طفَةَ َعلَقَةً فَ َخ َل ْقنَا ْال َعلَقَةَ ُم‬
ْ ُّ‫ث ُ َّم َخلَ ْقنَا الن‬-١٣
-١٤- َ‫س ُن ْالخَا ِل ِقين‬
َ ‫ّللاُ أ َ ْح‬ َ َ‫ام لَ ْحما ً ث ُ َّم أَنشَأْنَاهُ خ َْلقا ً آخ ََر فَتَب‬
َّ ‫ار َك‬ َ ‫ظ‬َ ‫ْال ِع‬
Artinya:
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari
tanah{12}. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang
kokoh (rahim) {13}.Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah
itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang,
lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk
yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta yang paling baik{14}.[5]
2. Penjelasan Kata

a. (‫س َللَ ٍة‬
ُ ‫) ِمن‬ Min Sulaalatin: Sulaalah adalah apa yang tercabut dari sesuatu. Maksud

ungkapan itu disini adalah apa yang diambil dari tanah untuk menciptakan Adam.

b. (‫ين‬ ْ ُ ‫)ن‬
ٍ ‫طفَةً فِي قَ َر ٍار َّم ِك‬ Nuthfatan Fii Qaraarin Makiin: Nuthfah adalah tetesan air mani

yang sudah terpilih dari sperma. Qaraarin Makiin adalah tempat yang kokoh, maksudnya
rahim yang terjaga.

c. (ً‫علَقَة‬
َ ) ‘Alaqatan: Darah membeku yang menempel pada jari tangan, apabila seseorang

mencoba mengangkatnya dengan jari itu, maka bentuknya seperti kuning telur.

d. (ً‫ضغَة‬
ْ ‫ ) ُم‬Mudhghatan: Potongan daging, seukuran daging yang biasa kita kunyah.
e. (‫)خ َْلقا ً آخ ََر‬ Khalqan Aakhar: Ciptaan yang lain, yang bukan seperti potongan daging tadi

karena telah ditiupkannya ruh, maka itu menjadi manusia.

f. ( َ‫س ُن ْالخَا ِل ِقين‬
َ ‫ )أ َ ْح‬Ahsanu Al-Khaalqiin: Sebaik-baik yang menciptakan. Maka Allah Ta’ala
adalah yang menciptakan sedangkan manusia adalah yang diciptakan, dan Allah adalah sebaik-
baik Pencipta.[6]
3. Tafsir Ayat
Allah SWT menciptakan keturunan Adam dari sari pati air, yaitu air mani. Keturunan
manusia diciptakan dari air mani yang berada di tulang rusuk lelaki kemudian dipancarkan dan
disimpan dalam tempat yang kukuh yaitu di rahim wanita, tempat yang kukuh, kuat dan terjaga
mulai dari permulaan hamil hingga akhir persalinan.
Selanjutnya Allah SWT mengubah nutfah yang merupakan campuran antara air mani lelaki
dan perempuan menjadi alaqah, yaitu gumpalan darah, kemudian Allah SWT merubahnya
menjadi gumpalan daging seukuran daging yang dikunyah tanpa bentuk dan rancangan.
Perubahan bentuk disebut penciptaan karena Allah SWT menghilangkan sebagian ciri dan
menciptakan ciri lain. Dari gumpalan daging selanjutnya Allah SWT merubahnya menjadi
tulang berbentuk yang memiliki potongan dan bagian-bagian, mulai dari kepala, kedua tangan
dan kaki, termasuk tulang, syaraf dan urat. Selanjutnya Allah SWT menutupi tulang yang
tercipta dengan daging yang menutupi dan memperkuat. Allah SWT menjadikan daging
laksana baju bagi tulang. Selanjutnya Allah SWT menciptakan wujud lain yang berbeda dengan
wujud sebelumnya dengan meniupkan ruh ke janin, janin kemudian bergerak dan menjadi
bentuk berbeda yang memiliki pendengaran, pengelihatan, pemahaman, perasaan dan gerakan.
Maha suci Allah SWT pencipta terbaik. Artinya, Maha Luhur dalam kuasa dan hikmah-
Nya, Maha Tinggi dan Maha Suci Allah, penentu dan pembentuk terbaik.
Kata tabaaraka berasal dari baaraka, seolah-olah berada pada tingkatan ta’aala (Maha
Luhur) dan taqaddasa (Maha Suci), dan berasal dari makna berkah. Diriwayatkan, saat Umar
bin Khaththab mendengar permulaan ayat hingga firman, “Kemudian, Kami menjadikannya
makhluk yang (berbentuk) lain,” Umar berkata seperti yang diriwayatkan oleh Thayalisi dan
lainnya dari Anas, “Maha Suci Allah, pencipta yang paling baik.” Lalu Rasulullah saw
bersabda, “Seperti itulah yang diturunkan.” Artinya, pencipta terbaik, tidak ada pencipta selain
Allah SWT. Ciptaan dan buatan Allah SWT adalah ciptaan terbaik, ciptaan Allah SWT adalah
baik dan terbaik. Ini tidak bermaksud membandingkan Allah SWT dengan yang lain, tapi hanya
sebagai petunjuk atas kesempurnaan ciptaan-Nya.[7]

C. Tafsir tentang Penciptaan Awal Manusia dalam Al-Qur’an
1. Ayat Al-Qur’an surat As-Sajadah: 7-9

‫ ث ُ َّم َج َع َل نَ ْسلَهُ ِمن‬-٧- ‫ين‬ ٍ ‫ان ِمن ِط‬ِ ‫س‬ ِ ْ َ‫َيءٍ َخلَقَهُ َو َبدَأ َ خ َْلق‬
َ ‫اْلن‬ َ ‫الَّذِي أ َ ْح‬
ْ ‫سنَ ُك َّل ش‬
َّ ‫وح ِه َو َج َع َل لَ ُك ُم ال‬
‫س ْم َع‬ َ ‫ ث ُ َّم‬-٨- ‫ين‬
ِ ‫س َّواهُ َونَفَ َخ فِي ِه ِمن ُّر‬ ٍ ‫س َللَ ٍة ِ همن َّماء َّم ِه‬
ُ
-٩- َ‫ار َو ْاْل َ ْفئِدَة َ قَ ِليلً َّما ت َ ْش ُك ُرون‬
َ ‫ص‬َ ‫َو ْاْل َ ْب‬
Artinya:
Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai
penciptaan manusia dari tanah {7}. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air
yang hina (air mani){8}. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya
roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi)
kamu sedikit sekali bersyukur {9}.[8]
2. Penjelasan Kata

a. (‫ين‬
ٍ ‫ان ِمن ِط‬
ِ ‫س‬ ِ ْ َ‫) َوبَدَأ َ خ َْلق‬
َ ‫اْلن‬ Wa Bada’a Khalqal Insaana min Thiin: Yakni memulai

penciptaan Adam as dari tanah liat.
b. ٍ ‫س َللَ ٍة ِ همن َّماء َّم ِه‬
(‫ين‬ ُ ‫) ِمن‬ Min Sulaalatin mim Maa’in Mahiin: Yakni menciptakan

keturunan Adam dari segumpal darah yang berasal dari air mani.

c. (‫وح ِه‬ َ ‫)ث ُ َّم‬
ِ ‫س َّواهُ َونَفَ َخ فِي ِه ِمن ُّر‬ Tsumma Sawwaahu wa Nufikha fiihi mir Ruuhih: Yaitu

mengadakan janin di dalam perut ibunya, dan ditiupkan ke dalamnya ruh, maka ia menjadi
hidup. Sebagaimana juga dahulu Dia menciptakan Adam dan ditiupkan ke dalam tubuh Adam
ruh-Nya sehingga dia menjadi hidup.

d. (َ ‫ ) َو ْاْل َ ْفئِدَة‬Wal ‘af’idah: Hati.
e. ْ َ ‫)قَ ِليلً َّما ت‬
( َ‫ش ُك ُرون‬ Qaliilan maa Tasykuruun: Mereka tidak bersyukur kepada Allah atas

nikmat diciptakannya mereka kecuali hanya sedikit saja.[9]
3. Tafsir Ayat
Allah SWT yang mengatur segala urusan dan Maha Pencipta itu serta yang Maha Perkasa
lagi Maha Penyayang, Dialah yang membuat sebaik-baiknya segala sesuatu yang Dia ciptakan
sehingga semua berpotensi berfungsi sebaik mungkin sesuai dengan tujuan penciptaannya dan
Dia telah memulai penciptaan manusia yakni Adam asdari tanah. Kemudian Dia menjadikan
keturunannya dari sedikit sari pati air mani yang diremehkan bila dilihat kadarnya atau
menjijikkan bila dipandang, atau lemah, tidak berdaya karena sedikitnya.
Kemudian yang lebih hebat dari itu Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam tubuh-
nya ruh (ciptaan)-Nya dan setelah kelahirannya di muka bumi Dia menjadikan bagi kamu
wahai manusia pendengaran agar kamu dapat mendengar kebenaran dan penglihatan agar
kamu dapat melihat tanda-tanda kebesaran Allah dan hati agar kamu dapat berfikir, dan
beriman, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur dan banyak di antara kamu yang kufur. Yakni
kamu tidak memfungsikan anugerah-anugerah itu sebagaimana yang Allah kehendaki, tetapi
memfungsikannya untuk hal-hal yang bertentangan dengan kehendak-Nya.

a. Kata (‫)أحسن‬ahsana berarti membuat sesuatu menjadi baik. Kebaikannya diukur pada potensi

dan kesiapannya secara sempurna mengemban fungsi yang dituntut darinya. Allah SWT telah
menciptakan semua ciptaannya dalam keadaan yang baik, yakni diciptakan-Nya secara
sempurnya agar masing-masing dapat berfungsi sebagaimana yang dikehendaki-Nya.

b. Kata (‫)سللة‬ sulalah terambil dari kata (‫)سل‬sala yang antara lain berarti mengambil,

mencabut. Kata ini mengandung makna sedikit, sehingga kata sulalah berarti mengambil
sedikit atau sari pati air mani yang memancar itu.
c. Kata (‫)مهين‬mahin jika disandangkan kepada orang, berarti lemah. Kata itu juga dapat berarti

sedikit. Dengan demikian, min ma’in mahin berarti ‘air yang sedikit dan lemah’. Selain itu,
kata mahana juga terbentuk dari huruf-huruf yang sama dari kata “mahin” juga berarti
“memerah susu” sehingga dapat dipahami pendapat sementara ulama yang memahaminya
dalam air air yang memancar atau air yang sedikit, karena susu yang keluar dari perahan
biasanya memancar dan sedikit.

d. Kata (‫)سواه‬sawwahu/menyempurnakannya mengisaratkan proses lebih lanjut dari kejadian
manusia setelah terbentuk organ-organnya. Ini serupa dengan ahsan taqwin. Dalam QS Al-
Infithar: 7 disebut tiga proses pokok penciptaan. Tahap pertama mengisyaratkan pembentukan
organ-organ tubuh secara umum, tahap kedua adalah tahap penghalusan dan penyempurnaan
organ-organ itu, dan tahap ketiga adalah tahapan peniupan ruh Ilahi, yang menjadikan manusia
memiliki potensi untuk tampil seimbang, memiliki kecenderungan kepada keadilan.

e. Kata (‫)من روحه‬min ruhihi secara harfiah berarti dari ruh-Nya yakni ruh Allah. Ini bukan
berarti ada “bagian” Ilahi yang dianugerahkan kepada manusia. Karena Allah tidak terbagi,
tidak juga terdiri dari unsur-unsur. Dia adalah shamad tidak terbagi dan tidak terbilang. Yang
dimaksud adalah ruh ciptaan-Nya. Penisbahan ruh itu kepada Allah adalah penisbahan
pemuliaan dan penghormatan. Ayat ini bagaikan berkata: Dia meniupkan ke dalamnya ruh
yang mulia dan terhormat dari (ciptaan)-Nya.
Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah memulai penciptaan manusia dari tanah. Menurut
Sayyid Quthub, ini dapat juga dipahami dalam arti tanah adalah permulaan atau tahapannya
yang pertama. Ayat ini tidak menjelaskan berapa tahap yang dilalui manusia sesudah tahap
tanah itu, tidak juga dijelaskan berapa jauh dan berapa lamanya.
Karena terbuat dari tanah, manusia dipengaruhi oleh kekuatan alam, sama halnya dengan
makhluk-makhluk hidup di bumi lainnya. Ia butuh makan, minum, hubungan seks, dan lain-
lain. Dengan ruh, ia meningkat dari dimensi kebutuhan tanah itu, walau ia tidak dapat bahkan
tidak boleh melepaskannya, karena tanah adalah bagian dari substansi kejadiannya. Ruh pun
memiliki kebutuhan-kebutuhan agar dapat menghiasi manusia.
Dengan ruh, manusia diantar menuju tujuan non materi yang tidak dapat diukur di
laboratorium, tidak juga dikenal oleh alam materi. Dimensi spiritual inilah yang mengantar
manusia untuk cenderung kepada keindahan, pengorbanan, kesetiaan, pemujaan, dll.
Demikian manusia yang diciptakan Allah disempurnakan ciptaan-Nya dan dihembuskan
kepadanya ruh ciptaan-Nya.[10]
D. Tafsir tentang Hikmah Diciptakannya Manusia
1. Ayat Al-Qur’an surat Al-Baqarah: 30

ِ ‫َو ِإ ْذ قَا َل َرب َُّك ِل ْل َملَئِ َك ِة ِإ ِنهي َجا ِع ٌل فِي اْل َ ْر‬
ُ‫ض َخ ِليفَةً قَالُواْ أَت َ ْج َع ُل فِي َها َمن يُ ْف ِسد‬
َ‫ِس لَ َك قَا َل ِإ ِنهي أ َ ْعلَ ُم َما الَ ت َ ْعلَ ُمون‬
ُ ‫ِك َونُقَده‬ َ ُ‫فِي َها َويَ ْس ِفكُ ال ِده َماء َون َْح ُن ن‬
َ ‫س ِبه ُح ِب َح ْمد‬
-٣٠-
Artinya:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan akan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui” {30}.[11]
2. Penjelasan Kata

a. (ُ‫) ْال َملَئِ َكة‬Al-Malaaikatu: Kata ‘Malaikah’ adalah bentuk jama’ dari kata “Malaa-ik”, dan
diperingan bacaannya menjadi “Malak”. Mereka adalah makhluk alam ghaib, sebagaimana
diinformasikan oleh Nabi saw bahwa mereka diciptakan oleh Allah Ta’ala dari cahaya.

b. (ً‫خ ِليفَة‬
َ )Khaliifah: Orang yang datang menggantikan orang lain. Tetapi yang dimaksud disini
adalah Nabi Adam as.

c. ِ ‫)يُ ْف‬Yufsidu
(‫سد ُ فِي َها‬ Fiihaa: Berbuat kerusakan di bumi, yaitu dengan berbuat kufur dan

maksiat.

d. ( ُ‫س ِفك‬
ْ َ‫)ي‬Yasfiku: Yakni menumpahkan darah dengan membunuh dan melukai (orang lain).
e. (‫ِك‬ َ ُ‫)ن‬Nusabbihu Bihamdika: Kami mengucapkan (‫س ْب َحانَ هللاِ َوبِ َح ْم ِد ِه‬
َ ‫س ِبه ُح بِ َح ْمد‬ ُ )“Maha
Suci Allah Ta’ala dan dengan memuji kepada-Nya.” Arti Tasbih adalah menyucikan Allah
Ta’ala dari segala sesuatu yang tidak layak bagi-Nya.

f. َ َ‫ِس ل‬
(‫ك‬ ُ ‫) َونُقَده‬Wa Nuqaddisu Laka: Dan kami menyucikan Engkau dari apa-apa yang tidak
layak bagi-Mu. Arti Taqdiis adalah menyucikan dan menjauhkan-Nya dari sesuatu yang tidak

patut bagi-Nya. Huruf laam pada َ َ‫ ”ل‬adalah tambahan yang berfungsi untuk menguatkan
“‫ك‬
makna, karena fi’il (kata kerja) َ ‫ ”قَد‬bisa berpengaruh pada obyeknya (muta’addi) secara
“‫َّس‬

َ َّ‫( ”قَد‬menyucikan-Nya).[12]
langsung (tanpa perantara huruf). Jadi bisa dikatakan, “ُ ‫سه‬

3. Tafsir Ayat
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat”, ingatlah wahai Muhammad
ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, dan kisahkanlah kepada kaummu tentang hal
itu, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.” Mengadakan dan
menciptakan di bumi khalifah untuk melaksanakan segenap hukum-Ku, yaitu Adam atau suatu
kaum sebagian menjadi khalifah atas sebagian lainnya, dalam kurun demi kurun, masa demi
masa, dan generasi demi generasi.
“Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang
akan membuat kerusakan padanya,” mereka berkata dengan heran: “Bagaimana Engkau
menjadikan mereka khalifah, padahal di antara mereka ada yang membuat kerusakan di bumi
dengan maksiat, “dan menumpahkan darah”, mengalirkan darah dengan kekejian dan
perseteruan. “Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau”, kami senantiasa
menyucikan Engkau seraya memuji-Mu. “Dan mensucikan Engkau”, kami mengagungkan
perintah-Mu dan mensucikan nama-Mu dari tuduhan orang-orang kafir yang dialamatkan
kepada-Mu.
“Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Maksudnya, Aku tahu kemaslahatan-kemaslahatan yang menurut kalian itu tersembunyi,
bagiku hikmah penciptaan makhluk tidak diketahui oleh Malaikat.
4. Pelajaran
a. Sebagian ulama berkata bahwa pada pemberitahuan Allah kepada malaikat tentang penciptaan
Adam dan pengangkatannya sebagai khalifah di bumi, terdapat pendidikan untuk segenap
hamba-Nya bagaimana bermusyawarah dalam berbagai masalah sebelum melaksanakannya.
b. Hikmah dijadikannya Adam sebagai khalifah di bumi adalah menjadi rahmat bagi seluruh
hamba-Nya, bukan untuk merendahkan Allah, sebab manusia tidak akan mampu
menyampaikan perintah dan larangan dari Allah tanpa ada perantara, tidak juga dengan
perantara malaikat. Oleh karena itu, di antara rahmat, anugerah, dan kebaikan Allah adalah
diutusnya para rasul dari golongan manusia.
c. Al-Hafizh Ibnu Katsir menyatakan bahwa perkataan malaikat, “Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya,” bukanlah
untuk membantah Allah, atau juga karena iri kepada Adam, namun lebih kepada pertanyaan
pemberitahuan dan eksplorasi hikmah tentang hal itu. Mereka seakan-akan berkata, “Apa
hikmah diciptakannya manusia, padahal sebagian mereka membuat kerusakan di muka bumi?
Ibnu Jazzi berkata, “Malaikat tahu bahwa anak cucu Adam membuat kerusakan di bumi, lalu
diberitakan kepada Allah mengenai keadaan mereka. Dikatakan, dulu di bumi ada jin yang
membuat kerusakan, kemudian Allah mengutus malaikat, lalu malaikat membunuh mereka,
kemudian malaikat menimbang manusia dengan golongan jin itu.[13]

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Manusia dalam kehidupannya tidaklah bergantung pada diri sendiri. Setiap tindakan yang akan
dilakukan seorang manusia pasti berhubungan dan membutuhkan orang lain. Manusia selain
disebut sebagai makhluk individu, juga disebut sebagai makhluk sosial. Adapun tafsir tentang
manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial terdapat dalam Al-Qur’an surat At-
Taubah ayat 71.
2. Reproduksi manusia adalah proses perkembangbiakan manusia dalam upaya untuk
mempertahankan populasinya.Adapun tafsir tentang produksi dan reproduksi manusia terdapat
dalam Al-Qur’an surat Al-Mukminun ayat 12-14.
3. Allah SWT menciptakan Nabi Adam as dari tanah. Adam merupakan permulaan adanya
manusia di muka bumi. Ia diciptakan tanpa adanya ayah dan juga ibu. Tafsir tentang penciptaan
awal manusia terdapat dalam Al-Qur’an surat As-Sajadah ayat 7-9.
4. Setiap sesuatu yang berasal dari Allah SWT selalu memiliki hikmah yang tersembunyi. Sama
halnya dengan penciptaan manusia yang juga memiliki hikmah tersendiri. Manusia diciptakan
Allah SWT untuk menjadi khalifah di muka bumi. Adapun tafsir tentang hikmah diciptakannya
manusia terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 30.

A. Saran
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu memperbaiki hubungan
dengan sesama saudara seiman adalah sangat penting. Persaudaraan sesama muslim dan
tolong-menolong adalah hal yang dapat memperkuat ikatan tali iman. Menunaikan zakat,
mendirikan sholat. Juga tidak hanya kita sesama muslim, bahkan kepada orang lain yang tidak
seiman dengan kita, juga harus saling membantu dalam urusan perdagangan ataupun hal lain
yang tidak bertentangan dengan hukum Allah SWT.
DAFTAR PUSTAKA

Abbas, Ibnu. Al-Kalam Digital Versi 0.1. Bandung: Diponegoro, 2009.
Al-Jazairi, Syaikh Abu Bakar Jabir. Tafsir Al-Qur’an Al-Aisar (Jilid 1). Terj. Fityan Amaliy dan Edi
Suwanto. Jakarta: Darus Sunnah Press, 2012.
Al-Jazairi, Syaikh Abu Bakar Jabir. Tafsir Al-Qur’an Al-Aisar (Jilid 3). Terj. Fityan Amaliy dan Edi
Suwanto. Jakarta: Darus Sunnah Press, 2012.
Al-Jazairi, Syaikh Abu Bakar Jabir. Tafsir Al-Qur’an Al-Aisar (Jilid 5). Terj. Fityan Amaliy dan Edi
Suwanto. Jakarta: Darus Sunnah Press, 2012.
Ash-Shabuni, Syaikh Muhammad Ali. Shafwatut Tafasir. Terj. Yasin. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar,
2011.
Az-Zuhaili, Wahbah. Tafsir Al-Wasith. Jakarta: Gema Insani, 2013.
Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2 (Jakarta: Gema Insani, 1999.
Naim, Mochtar. Kompendium Himpunan Ayat-Ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan Biologi dan
Kedokteran. Jakarta: Gema Insani Press, 1996.
Shihab, M. Quraish. Al-Qur’an dan Maknanya. Tangerang: Lentera Hati, 2013.
Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati, 2002.

[1] M. Quraish Shihab, Al-Qur’an dan Maknanya (Tangerang: Lentera Hati, 2013), 198.
[2] Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Tafsir Al-Qur’an Al-Aisar (Jilid 3), terj. Fityan Amaliy dan Edi Suwanto
(Jakarta: Darus Sunnah Press, 2012), 418.
[3] Ibnu Abbas, Al-Kalam Digital Versi 0.1 (Bandung: Diponegoro, 2009), 198.
[4]Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2 (Jakarta: Gema Insani, 1999), 631-
632.
[5] Mochtar Naim, Kompendium Himpunan Ayat-Ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan Biologi
dan Kedokteran (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), 105.
[6]Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Tafsir Al-Qur’an Al-Aisar (Jilid 5), terj. Fityan Amaliy dan Edi Suwanto
(Jakarta: Darus Sunnah Press, 2012), 34.
[7] Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Wasith (Jakarta: Gema Insani, 2013), 663-664.
[8] Mochtar Naim, Kompendium Himpunan Ayat-Ayat Al-Qur’an., 134.
[9]Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Tafsir Al-Qur’an Al-Aisar (Jilid 5), terj. Fityan Amaliy dan Edi Suwanto
(Jakarta: Darus Sunnah Press, 2012), 748.
[10]Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 183-186.
[11] Mochtar Naim, Kompendium Himpunan Ayat-Ayat Al-Qur’an., 6-7.
[12]Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Tafsir Al-Qur’an Al-Aisar (Jilid 1), terj. Fityan Amaliy dan Edi Suwanto
(Jakarta: Darus Sunnah Press, 2012), 81-82.
[13]Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabuni, Shafwatut Tafasir, terj. Yasin(Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2011), 64-67.