8.

1 Macam-Macam Skala Pengukuran

Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk
menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur
tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif. Sebagai
contoh, misalnya timbangan emas sebagai instrumen untuk mengukur berat emas, dibuat
dengan skala mg dan akan menghasilkan data kuantitatif berat emas dalam satuan mg bila
digunakan untuk mengukur. Berbagai skala sikap yang dapat digunakan untuk penelitian
Administrasi, Pendidikan dan Sosial antara lain adalah :

1. Skala Likert

Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau
sekelompok orang tentang fenomena sosial yang telah ditetapkan secara spesifik oleh
peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian. Dengan skala likert, maka
variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Jawaban setiap item
instrumen yang menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai
sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata antara lain :
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
Untuk keperluan analisis kuantitatif maka jawaban itu dapat diberi skor misalnya:
1) Sangat setuju diberi skor 5
2) Setuju diberi skor 4
3) Ragu-ragu diberi skor 3
4) Tidak setuju diberi skor 2
5) Sangat tidak setuju diberi skor 1
Instrumen penelitian yang menggunakan skala Likert dapat dibuat dalam bentuk
checklist ataupun pilihan ganda.

1
a. Contoh Bentuk Checklist
Berilah jawaban pertanyaan berikut sesuai dengan pendapat anda, dengan cara
memberi tanda (√ ) pada kolom yang tersedia.

Jawaban
No Pertanyaan
SS ST RG TS STS

Prosedur kerja yang baru itu
1 akan segera diterapkan di √
perusahaan anda

2 ..................

SS = Sangat Setuju diberi skor 5
ST = Setuju diberi skor 4
RG = Ragu-ragu diberi skor 3
TS = Tidak Setuju diberi skor 2
STS = Sangat Tidak Setuju diberi skor 1

b. Contoh Bentuk Pilihan Ganda
Berilah salah satu jawaban terhadap pertanyaan berikut sesuai dengan pendapat
anda, dengan cara memberi tanda lingkaran pada nomor jawaban yang tersedia.
Prosedur kerja yang baru itu akan segera diterapkan di lembaga anda ?
a) Sangat tidak setuju
b) Tidak setuju
c) Ragu-ragu
d) SetujuSangat setuju

2. Skala Guttman

Skala pengukuran dengan tipe ini akan didapat jawaban yang tegas, yaitu “ya-tidak”,
“benar-salah”, dan lain-lain. Penelitian menggunakan skala Guttman dilakukan bila ingin
mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan.

2
Contoh:
1) Bagaimana pendapat anda, bila orang itu menjabat pimpinan di perusahaan ini?
a. Setuju
b. Tidak Setuju
2) Pernahkah pimpinan melakukan pemeriksaan di ruang kerja anda?
a. Tidak Pernah
b. Pernah
Skala Guttman selain dapat dibuat dalam bentuk pilihan ganda, juga dapat dibuat
dalam bentuk checklist. Jawaban dapat dibuat skor tertinggi satu dan terendah nol.

3. Semantic Defferensial

Skala ini digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tidak pilihan ganda
maupun checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum yang jawaban “sangat
positifnya” terletak dibagian kanan garis, dan jawaban yang “sangat negatif” terletak
dibagian kiri garis. Data yang diperoleh adalah data interval, dan biasanya skala ini
digunakan untuk mengukur sikap/karakteristik tertentu yang dipunyai oleh seseorang.
Contoh :

Beri nilai gaya kepemimpinan Manajer
Anda

Bersahabat 5 4 3 2 1 Tidak bersahabat
Tepat Janji 5 4 3 2 1 Lupa Janji
Bersaudara 5 4 3 2 1 Memusuhi
Memberi Pujian 5 4 3 2 1 Mencela
Mempercayai 5 4 3 2 1 Mendominasi

4. Rating scale

Dari ke tiga skala pengukuran seperti yang telah dikemukakan, data yang diperoleh
semuanya adalah data kualitatif yang dikemudian dikuantitatifkan. Tetapi dengan rating
scale data mentah yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian
kualitatif.
Yang penting bagi penyusun instrumen dengan rating scale adalah harus dapat
mengartikan setiap angka yang diberikan pada alternatif jawaban pada setiap item
instrumen.

3
Contoh :
Seberapa baik data ruang kerja yang ada di Perusahaan A ? Berilah jawaban dengan angka :
4. bila tata ruang itu sangat baik
3. bila tata ruang itu cukup baik
2. bila tata ruang itu kurang baik
1. bila tata ruang itu sangat tidak baik
Jawablah dengan melingkari nomor jawaban yang tersedia sesuai dengan keadaan yang
sebenanrnya
No Pertanyaan tentang tata ruang kantor Interval jawaban
item
1 Penataan meja kerja sehingga arus 4 3 2 1
kerja menjadi pendek
2 Pencahayaan alam tiap ruangan 4 3 2 1
3 Pencahayaan buatan/listrik tiap 4 3 2 1
ruangan sesuai dengan kebutuhan
4 Warna lantai sehingga tidak 4 3 2 1
menimbulkan pantulan cahaya yang
dapat mengganggu pegawai
5 Sirkulasi udara setiap ruangan 4 3 2 1
6 Keserasian warna alat-alat kantor, 4 3 2 1
perabot, dengan ruangan
7 Penempatan lemari arsip 4 3 2 1
8 Penempatan ruangan pimpinan 4 3 2 1
9 Meningkatkan keakraban sesama 4 3 2 1
pegawai
10 Kebersihan ruangan 4 3 2 1

1. Instrumen untuk menjaring data nominal
Contoh :
a. Berapakah jumlah pegawai di tempat anda bekerja ..........pegawai.
b. Berapakah orang yang dapat berbahasa Belanda .............. orang.
c. Berapakah orang pemimpin yang Anda sukai .................. orang.

2. Instrumen untuk menjaring data ordinal

4
Contoh :
Berilah rangking terhadap sepuluh pegawai di bidang pelayanan rumah sakit
sebagai berikut.

Tabel Rangking Terhadap Sepuluh Pegawai Di Bidang Pelayanan Rumah Sakit

Nama pegawai Ranking nomor

A ..……..

B ….……

C ….……

Misalnya pegawai A adalah yang paling baik kinerjanya, maka pegawai tersebut diberi
rangking 1.

8.2 Desain Penelitian

Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran terhadap fenomena sosial
maupun alam. Meneliti dengan data yang sudah ada lebih tepat kalau dinamakan membuat
laporan daripada melakukan penelitian. Alat ukur dalam penelitian biasanya dinamakan
instrumen penelitian. Jadi, instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur
fenomena alam maupun sosial yang diamati (variabel penelitian). Instrumen-instrumen yang
digunakan untuk mengukur variabel dalam ilmu alam sudah banyak tersedia dan telah teruji
validitas dan reliabilitasnya. Seperti variabel-variabel dalam ilmu alam misalnya panas, maka
instrumennya adalah calorimeter. Jumlah instrumen penelitian tergantung pada jumlah
variabel penelitian yang telah ditetapkan utnuk diteliti. Misalnya akan meneliti tentang
“Pengaruh Kepemimpinan dan Iklim Kerja Lembaga Terhadap Produktivitas Kerja Pegawai”.
Dalam hal ini ada tiga instrumen yang perlu dibuat, yaitu :
1. Instrumen untuk mengukur kepemimpinan.
2. Instrumen untuk mengukur iklim kerja.
3. Instrumen untuk mengukur produktivitas kerja pegawai.

8.3 Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Proses pengukuran merupakan suatu proses deduktif. Peneliti berangkat dari suatu
konstruksi, konsep atau ide, kemudian menyusun perangkat ukur untuk mengamatinya secara

5
empiris. Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat langsung melakukan pengukuran terhadap
konsep yang konkret. Misalnya mengukur menggunakan termometer, meteran, dan
lain-lain. Namun tidak semua konsep yang diteliti mermiliki tingkat abstraksi yang
rendah. Maka dari inilah perlu sekali diadakan pengukuran terhadap instrumen penelitian
sebelum digunakan. Karena dilakukan suatu pengujian atau pengukuran pada suatu
instrumen untuk suatu penelitian, maka sudah hal yang pasti sebelum diuji instrumen tersebut
sudah tersedia adanya.
Di dalam penelitian maka keampuhan instrumen dapat mempunyai kedudukan yang
paling tinggi, karena data merupakan penggambaran variabel yang diteliti, dan berfungsi
sebagai alat pembuktian hipotesis. Oleh karena itu, benar tidaknya data, sangat menentukan
bermutu tidaknya hasil penelitian. Sedangkan benar tidaknya data, tergantung dari baik
tidaknya pengumpulan data. Instrumen yang baik harus memenuhi dua persyaratan penting
yaitu valid dan reliabel.

8.4 Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen

1. Pengujian Validitas Instrumen

a. Pengujian Validitas Konstruksi (Construct Validity)

Untuk menguji validitas konstruksi maka dapat digunakan pendapat dari para ahli
maka dapat digunakan pendapat para ahli (experts judgement). Instrumen yang telah
dikonstruksi untuk mengukur aspek-aspek tertentu dikonsultasikan dengan para ahli yang
minimal berjumlah 3 orang. Mereka dimintai pendapat mengenai instrumen tersebut untuk
tujuan evaluasi.
Setelah pengujian konstruksi dari para ahli selesai, maka diteruskan dengan uji coba
instrumen. Uji coba dilaksanakan pada sampel yang ditentukan. Setelah data ditabulasi,
pengujian validitas konstruksi dilanjutkan dengan analisis faktor dengan mengkorelasikan
antar skor item instrumen.

b. Pengujian Validitas Isi (Content Validity)

Untuk instrumen yang berbentuk tes, pengujian validitas dapat dilakukan dengan
membandingkan antara isi instrumen dengan materi yang telah ada. Secara teknis
pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan menggunakan kisi-kisi instrumen.

6
c. Pengujian Validitas Eksternal

Validitas eksternal instrumen diuji dengan cara membandingkan (untuk mencari
kesamaan) antara kriteria yang ada pada instrumen dengan fakat-fakta empiris yang terjadi
di lapangan. Instrumen penelitian yang mempunyai validitas eksternal yang tinggi akan
menghasilkan hasil penelitian yang mempunyai validitas eksternal yang tinggi pula.

2. Pengujian Reliabilitas Instrumen

Pengujian reliabilitas instrument dapat dilakukan secara eksternal maupun internal,
secara eksternal pengujian dapat dilakukan dengan test-retest (stability), ekuivalen, dan
gabungan keduanya. Secara internal reliabilitas instrument dapat diuji dengan menganalisis
konsinstensi butir–butir yang ada pada instrument dengan teknik tertentu.

a. Tes-retest

Instrument penelitian yang reliabilitasnya diuji dengan test–retest dilakukan dengan
cara mencobakan instrument beberapa kali pada responden. Jadi dalam hal ini
instrumennya sama dan waktunya yang berbeda. Reliabilitas diukur dari koefisien korelasi
antara percobaan pertama dengan percobaan berikutnya. Bila koefisien korelasi positif dan
signifikan, maka instrument tersebut dikatakan reliable. Pengujian cara ini sering juga di
sebut stability

b. Ekuivalen.

Instrument yang ekuivalen adalah pertanyaan yang secara bahasa berbeda, tetapi
maksudnya sama. Pengujina reliabilitas instrument dengancara ini cukup dilakukan sekali,
tetapi instrumennya dua, pada responden yang sama, waktu sama, instrument berbeda.
Reliabilitas instrument dihitung dengan cara mengkorelasikan antara data instrument yang
satu dengan data instrument yang dijadikan ekuivalen. Bila korelasi positif dan signifikan,
maka instrument dapat dinyatakan reliable.

c. Gabungan

Pengujian reliabilitas ini dilakukan dengan cara mencobaan dua instrument yang
ekuivalen itu beberapa kali, ke responden yang sama. Jadi cara ini merupakan gabungan
pertama dan kedua. Reliabilitas instrument dilakukan dengan mengkorelasikan dua
instrument, setelah itu di korelasikan pada pengujian ke dua, dan selanjutnya di
korelasikan secara silang.

7
d. Internal Consistency
Pengujian reliabilitas dengan internal consistency dilakukan dengan cara mencobakan
instrument sekali saja, kemudian yang diperoeleh dianalisis dengan teknik tertentu. Hasil
inalisis dapat digunakan untuk memprediksi reliabilitas instrument. Pengujian reliabillitas
instrument dapat dilakukan dengan teknik belah dua dari Spearman Brown (split half), KR
20, KR 21 dan Anova Hoyt. Berikut diberikan rumus-rumusnya.
1. Rumus Spearman Brown

Dimana:
𝑟𝑖 = reliabilitas internal seluruh instrumen
𝑟𝑏 = korelasi product moment antara belahan pertama
dan kedua
2. Rumus KR. 20 (Kuder Richardson)

Dimana :
k = jumlah item dalam instrumen
pi = proporsi banyaknya subyek yang menjawab pada item 1
qi = 1 – pi
s2i = varians total
3. Rumus KR.21

Dimana:
K = jumlah item dalam instrumen.
M = means skor total.
S2t = varians total.
4. Analisis Varians Hoyt (Anova Hoyt)8

8
Dimana:
MKs = mean kuadrat antara subyek.
MKe = mean kuadrat kesalhan.
Ri = reliabilitas instrumen.

DAFTAR PUSTAKA

Donald R. Cooper & C. W. Emory.1998. Business Research Methods (5th ed). USA: Richard
D. Irwin, Inc.
Fred N. Kerlinger. 2002.Asas-asas Penelitian Behavioral (edisi ketiga). Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press
Kuncoro, Mudrajad. 2003. Metode Riset untuk Bisnis dan Ekonomi. Jakarta: Erlangga
Moh. Nazir. 1999. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia
Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Sugiyono. 2009.Metode Penelitian Bisnis. Bandung: ALFABETA

9