You are on page 1of 17

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ada berbagai macam gangguan kecemasan, salah satunya adalah
Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Gangguan obsesif-kompulsif berasal
dari dua kata yaitu Obsession yang berarti pikiran, ide atau dorongan yang
kuat dan berulang yang sepertinya berbeda diluar kemampuan seseorang
untuk mengendalikannya. Sedangkan Compulsion adalah tingkah laku yang
repetitif seperti mencuci tangan atau memeriksa kunci berulang – ulang yang
dilakukan seseorang sebagai suatu keharusan. 1 Obsesi bisa menjadi sangat
kuat dan menetap sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari dan
menimbulkan distress dan kecemasan yang signifikan. Sementara kompulsi
sering muncul sebagai tindak lanjut dari pikiran obsesif yang muncul dalam
frekuensi yang sering dan kuat, sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari
dan meyebabkan distress yang signifikan.
Epidemiologi yang dilaporkan oleh American Psychiatric Association,
tahun 2000, bahwa tingkat prevalensi gangguan obsesif-kompulsif adalah
sebesar 2-3%. Pada pria biasanya terjadi OCD antara usia 6-15 tahun dan
wanita biasanya terjadi pada usia 20-29 tahun. Beberapa penelitian juga
melaporkan bahwa gangguan obsesif-kompulsif merupakan diagnosis
psikiatrik tersering keempat setelah fobia, gangguan pengguanaan zat dan
gangguan depresif berat.2 Di Indonesia juga terdapat penderita OCD,
khususnya di daerah Jambi, namun belum banyak laporan tentang penderita
OCD secara lansung.
Sampai saat ini belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya OCD.
Namun, jika dihubungkan dengan struktur otak dan neurotransmiter, ada
berbagai gangguan sistem serotoninnergik dan kerusakan anatomis susunan
saraf pusat.

1

. 2 Berdasarkan alasan tersebut diatas. penulis tertarik untuk membahas tentang gangguan psikiatri Obsessive Compulsive Disorder (OCD).

Definisi Gangguan obsesif-kompulsif digambarkan sebagai pikiran dan tindakan yang berulang yang menghabiskan waktu atau menyebabkan distress dan hendaya yang bermakna. meskipun gangguan yang lebih umum menyajikan pada laki-laki di masa kecil atau remaja dan cenderung untuk menyajikan pada wanita di usia dua puluhan.5% dalam studi epidemiologi Catchment Area. Epidemiologi Kejadian OCD di Amerika Serikat. Perkiraan saat ini prevalensi seumur hidup umumnya di kisaran 1. meskipun mereka yang sudah memiliki OCD tidak akan 4 selalu mengalami perburukan gejala mereka selama kehamilan. ide. Kompulsif adalah pola perilaku tertentu yang berulang dan disadari seperti menghitung. Penemuan perawatan dan pendidikan pasien dan penyedia layanan kesehatan yang efektif telah secara signifikan meningkatkan identifikasi individu dengan OCD. memeriksa dan menghindar. setelah diyakini langka.3 .7-4%. OCD ditemukan memiliki prevalensi seumur hidup dari 2. perasaan. Laki-laki lebih cenderung memiliki gangguan tic komorbiditas. Obsesi adalah aktivitas mental seperti pikiran. Childhood-onset OCD lebih sering terjadi pada laki-laki.1 B.3 Prevalensi keseluruhan OCD adalah sama pada pria dan wanita. Hal ini tidak biasa bagi perempuan untuk mengalami timbulnya OCD selama kehamilan. 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pasien dengan gangguan ini menyadari bahwa pengalaman obsesi dan kompulsi tidak beralasan sehingga bersifat egodistonik. Tindakan kompulsi merupakan usaha untuk meredakan kecemasan yang berhubungan dengan obsesi namun tidak selalu berhasil meredakan ketegangan. Insiden OCD lebih tinggi pada pasien dermatologi dan pasien bedah kosmetik. impuls yang berulang dan intrusif.

individu merasa tertekan dengan kemunculan perilakunya yang tidak dapat dikontrol. 3.Age di OCD. Kepribadian . Etiologi dan Faktor Resiko Obsessive Compulsive Disorder (OCD) Gangguan obsesif-kompulsif tidak ada kaitan dengan bentuk karakteristik kepribadian seseorang. Mereka merasa malu bila perilaku-perilaku tersebut dipertanyakan oleh orang yang melihatnya karena melakukan pekerjaan yang secara berulang-ulang. 4 Perempuan umumnya mengalami perburukan gejala OCD mereka selama waktu pramenstruasi periode mereka. Mereka yang mempunyai anggota keluarga yang mempunyai sejarah penyakit ini kemungkinan beresiko mengalami OCD (Obsesif Compulsive Disorder). kerapian dan perhatian terhadap hal-hal kecil. Gejala OCD biasanya dimulai pada individu berusia 10-24 tahun. Organik – Masalah organik seperti terjadi masalah neurologi dibagian - bagian tertentu otak juga merupakan satu faktor bagi OCD. Ciri-ciri mereka yang memiliki kepribadian ini ialah seperti keterlaluan mementingkan aspek kebersihan.Mereka yang mempunyai kepribadian obsesif lebih cenderung mendapat gangguan OCD. sebaliknya pada gangguan obsesif-kompulsif. seseorang yang terlalu patuh pada peraturan. Genetik .(Keturunan). C. pada individu yang memiliki kepribadian obsesif- kompulsif cenderung untuk bangga dengan ketelitian. cerewet. sulit bekerja sama dan tidak mudah mengalah . Wanita yang sedang hamil atau menyusui harus berkolaborasi dengan dokter mereka dalam membuat keputusan tentang memulai atau melanjutkan preferensi OCD medications. Mereka berusaha mati-matian untuk menghilangkan kebiasaan tersebut. 2. Berikut adalah penyebab gangguan Obsesif kompusilf:4 1. Kelainan saraf seperti yang disebabkan oleh meningitis dan ensefalitis juga adalah salah satu penyebab OCD.

Contohnya hubungan antara suami-istri. Riwayat gangguan kecemasan e.Mereka yang mengalami gangguan ini biasanya menghadapi konflik jiwa yang berasal dari masalah hidup. Depresi f. 5 4. Gangguan obsesif-kompulsif erat kaitan dengan depresi atau riwayat kecemasan sebelumnya. Individu yang memilki intensitas stress yang tinggi d. Beberapa gejala penderita obsesif-kompulsif seringkali juga menunjukkan 6. Faktor Biologis  Neurotransmitter a. Faktor neurobilogi dapat berupa kerusakan pada lobus frontalis. c. Banyak data yang menunjukkan bahwa obat . kesalahan atau kehilangan masa kanak-kanaknya. Individu yang beresiko mengalami gangguan obsesif-kompulsif adalah:4 a. Konflik . Sistem serotoninergik Banyak percobaan yang dilakukan untuk mendukung hipotesis tentang terlibatnya disregulasi serotonin terhadap munculnya gejala obsesi dan kompulsif pada penyakit ini.Pengalaman masa lalu/lampau juga mudah mencorakkan cara seseorang menangani masalah di antaranya dengan menunjukkan gejala OCD. ganglia basalis dan singulum. Pengalaman masa lalu . 5. keyakinan diri. Individu yang mengalami gangguan seksual Beberapa faktor yang diduga berhubungan atau sebagai penyebab Obsesif Compulsif Disorder antara lain: 1. (teori ini masih dianggap lemah namun masih dapat diperhitungkan) b. Individu yang mengalami permasalahan dalam keluarga dari broken home. di tempat kerja.

Psikologis Gangguan obsesif kompulsif menyetarakan pikiran dengan tindakan atau aktifitas tertentu yang dipresentasikan oleh pikiran tersebut. dan sekitar 10- 30% pasien juga mengalami Syndenham’s chorea dan Gangguan Obsesif Kompulsif.6 c.7 2. Namun. Infeksi Streptokokus β- Hemolitikus grup Adapat menyebabkan demam rematik.5. Faktor Psikososial a. proyeksi pada ganglia basalis bertanggung jawab pada gangguan obsesi kompulsi.6 b. ada laporan dari peningkatan dalam OCD gejala dengan clonidine oral.6 Genetik juga diduga berpengaruh untuk terjadinya gangguan obsesif – kompulsif dimana ditemukan perbedaan yang bermakna antara kembar monozigot dan dizigot. Fungsi serotonin di otak ditentukan oleh lokasi system proyeksinya.8 3. Proyeksi pada konteks frontal diperlukan untuk pengaturan mood. Sistem Noradrenergik Bukti saat ini masih kurang tentang adanya disfungsi sistem noradrenergik dalam terjadinya gangguan obsesif kompulsif. tetapi apakah serotonin terlibat sebagai penyebab terjadinya gangguan obsesif kompulsif masih belum jelas. dimana pikiran jahat diasosiasikan dengan niat jahat. 6 serotonergik lebih efektif dibandingkan dengan obat lain yang juga mempengaruhi sistem neurotransmitter. Faktor kepribadian . Ini disebut “thought-action fusion” (fusi pikiran dan tindakan). Fusi antara pikiran dan tindakan ini dapat disebabkan oleh sikap-sikap tanggung jawab yang berlebih- lebihan yang menyebabkan timbulnya rasa bersalah seperti yang berkembang selama masa kanak-kanak. Sistem Neuroimunologi Beberapa pakar berpendapat bahwa ada hubungan positif antara infeksi streptokokus dan gangguan obsesif kompulsif.

Hanya kira-kira 15 sampai 35 persen pasien gangguan obsesif-kompulsif memiliki sifat obsessional premorbid.Isolasi Isolasi adalah mekanisme pertahanan yang melindungi seseorang dari afek dan impuls yang mencetuskan kecemasan. operasi pertahanan sekunder adalah diperlukan untuk melawan impuls dan menenangkan kecemasan yang mengancam keluar ke kesadaran. impuls dan afek yang terkait se. terlepas apakah ini berupa fantasia tau ingatan terhadap suatu peristiwa. 7 Gangguan obsesif-kompulsif adalah berbeda dari gangguan kepribadian obsesif-kompulsif. Jika isolasi berhasil sepenuhnya. Bahwa kondisi pada umumnya seseorang mengalami secara sadar afek dan khayalan dari suatu gagasan yang mengandung emosi (emotion-laden). Sebagian besar pasien gangguan obsesif- kompulsif tidak memiliki gejala kompulsif premorbid. Tindakan kompulsif menyumbangkan manifestasi permukaan operasi defensive yang ditujukan untuk menurunkan kecemasan dan mengendalikan impuls . dan pasien secara sadar hanya menyadari gagasan yang tidak memiliki afek yang berhubungan dengannya.Meruntuhkan (Undoing) Adanya ancaman terus-menerus bahwa impuls mungkin dapat lolos dari mekanisme primer isolasi dan menjadi bebas. Jika terjadi isolas. sifat kepribadian tersebut tidak diperlukan atau tidak cukup untuk perkembangan gangguan obsesif-kompulsif.urihnya terepresi. afek dan impuls yang didapatkan darinya adalah dipisahkan dari komponen ideasional dan dikeluarkan dari kesadaran. . dengan demikian.5 b. Faktor psikodinamika Sigmund Freud menjelaskan tiga mekanisme pertahanan psikologis utama yang menentukan bentuk dan kualitas gejala dan sifat karakter obsesif-kompulsif yaitu:6 .

Patofisiologi OCD Lebih dari 50% pasien dengan gejala gangguan obsesif kompulsif gejala awalnya muncul mendadak. Secara kuat didukung pula oleh efikasi pengobatan dengan serotonin reuptake inhibitor (SRIs) pada OCD. Operasi pertahanan sekunder yang cukup penting adalah mekanisme meruntuhkan (undoing). 8 dasar yang belum diatasi secara memadai oleh isolasi. pola yang terlihat oleh pengamat adalah sangat dilebih-lebihkan dan tidak sesuai. Perjalanan penyakit bervariasi. bukannya gejala. Proses patofisiologi yang mendasari terjadinya OCD belum secara jelas ditemukan. sering berlangsung panjang. Seringkali pasien merahasiakan gejala sehingga terlambat datang berobat. kematian keluarga. masalah seksual. Pembentukkan gejala menyebabkan pembentukkan sifat karakter. . Permulaan gangguan terjadi setelah adanya peristiwa yang stressfull. beberapa pasien mengalami perjalanan penyakit yang berfluktuasi sementara sebagian lain menetap/terus menerus ada. Penelitian dan percobaan terapeutik menduga bahwa abnormalitas pada neurotransmitter serotonin (5-HT) di otak secara berarti terlibat dalam kelainan ini. meruntuhkan adalah suatu tindakan kompulsif yang dilakukan dalam usaha untuk mencegah atau meruntuhkan akibat yang secara irasional akan dialami pasien akibat pikiran atau impuls obsessional yang menakutkan. Seringkali. Seperti yang dinyatakan oleh katanya. Seperti yang diungkapkan istilahnya. pembentukan reaksi melibatkan pola perilaku yang bermanifestasi dan sikap yang secara sadar dialami yang jelas berlawanan dengan impuls dasar.Pembentukan Reaksi (Reaction Formation) Baik isolasi maupun meruntuhkan adalah tindakan pertahanan yang terlibat erat dalam menghasilkan gejala klinis.10 . D. seperti kehamilan.

Gambaran Klinis OCD Pada umumnya obsesi dan kompulsi mempunyai gambaran tertentu seperti: 1. Perasaan cemas/takut akan ide atau impuls yang aneh. kadang-kadang digunakan pada OCD yang resisten pengobatan. Sindroma Tourette dan tic kronik multiple pada umumnya ada bersamaan OCD dengan pola autosomik dominan. dan thalamus. Obsesi dan kompulsi egoalien. Cingulotomy. Abnormalitas inhibisi yang serupa telah diobservasi pada sindroma Tourette. Adanya ide atau impuls yang terus menerus menekan kedalam kesadaran individu. dengan kecenderungan berada perdominan di daerah kanan. system limbic. 10 Penelitian dengan menggunakan pencitraan fungsional pada pasien OCD telah memperlihatkan suatu pola yang abnormal. Terutama MRI dan positron emission tomography (PET) telah menunjukkan peningkatan aliran darah dan aktivitas metabolik pada korteks orbitofrontal. daerah yang mengalami over-aktivitas ini telah mengalami perubahan ke arah normal setelah terapi dengan SSRIs dan atau cognitive behavioral therapy (CBT). nucleus kaudatus. Gejala OCD pada tipe-tipe pasien seperti ini memiliki respon yang baik dengan terapi kombinasi SSRIs dan antipsikotik. Pada beberapa penelitian. Temuan ini mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa gejala pada OCD dikendalikan oleh terganggunya inhibisi intrakortikal dari jalur transmisi orbitofrontal-subkortikal yang berperan dalam mediasi emosi yang kuat. 2. dengan postulat yang mengatakan adanya modulasi abnormal di daerah ganglia basalis. Pada beberapa penelitian kohort. untuk mengganggu jalur transmisi tersebut. 3. 9 Bukti-bukti yang ditemukan juga terdapat dugaan adanya abnormalitas system transmisi dopaminergik pada beberapa kasus OCD. 4.10 E. dan respon autonom terhadap emosi tersebut. Pasien mengenali obsesi dan kompulsi . intervensi bedah saraf.

5. ketepatan sehingga bertindak lamban. Perjalanan Penyakit Lebih dari 50% pasien dengan gangguan obsesif kompulsif gejala awalnya muncul mendadak. sering berlangsung panjang. Sikap ragu-ragu yang patologi Pola kedua yang sering terjadi adalah obsesi tentang ragu-ragu yang diikuti dengan perilaku kompulsi mengecek/memeriksa. kematian keluarga. sementara 40-50% perbaikan yang sedang. masalah seksual. beberapa asien mengalami perjalanan penyakit yang berfluktuasi sementara sebagian lain menetap / terus menerus ada. 10 merupakan sesuatu yang abstrak dan irasional. Pikiran yang intrusif Pola yang jarang adalah pikiran intrusif tidak disertai kompulsi.1 Ada empat pola gejala utama gangguan obsesi kompulsi yaitu: 1. Permulaan gangguan terjadi setelah adanya peristiwa yang stressful. 4. Tema obsesi tentang situasi berbahaya atau kekerasan (seperti lupa mematikan kompor atau tidak mengunci pintu rumah). trichotilomania.1 Kira-kira 20-30% pasien mengalami perbaikan gejala yang bermakna. dan menggigit-gigit jari. seperti kehamilan. Perjalanan penyakit bervariasi. atau mencukur kumis dan janggut. biasanya pikiran berulang tentang sexual atau tidakan agresif. yang diikuti oleh perilaku mencuci dan membersihkan atau mengindari obyek yang dicurigai terkontaminasi. Pola yang lain: obsesi bertemakan keagamaan. 3. misalnya makan bisa memerlukan waktu berjam-jam. Kontaminasi Pola yang paling sering adalah obsesi tentang kontaminasi. Sedangkan sisanya 20-40% gejalanya menetap atau memburuk. F. Seringkali pasien merahasiakan gejala sehingga terlamat datang berobat. Simetri Obsesi yang temanya kebutuhan untuk simetri. . 2. Individu yang menderita obsesi dan kompulsi merasa adanya keinginan kuat untuk melawan.

kompulsi yang bizarre. bayangan. .1 G. harus ada hampir setiap hari sedikitnya 2 minggu berturut-turut. 11 Sepertiga dari gangguan obsesif kompulsif disertai gangguan depresi. Merupakan sumber penderitaan (distress) atau mengganggu aktivitas penderita. Pikiran-pikiran ini menimbulkan penderitaan dan pasien sering gagal mengendalikannya. Indikasi adanya prognosis yang baik adalah adanya penyesuaian sosial dan pekerjaan yang baik. atau keduanya. adanya kepercayaan yang mengarah ke waham dan adanya gangguan kepribadian (terutama kepribadian schizotipal). memerlukan perawatan rumah sakit. Diagnosis OCD Diagnosis Gangguan Obsesif Kompulsif menurut ICD X Tampilan khas berupa pikiran obsesif atau tindakan kompulsif berulang. sehingga merasa ketakutan hal tersebut akan terjadi. dan semua pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif memiliki resiko bunuh diri. gejala yang episodik. Gejala Obsesi harus mencakup sebagai berikut : a. Pikiran obsesif adalah ide. Kriteria diagnosa menurut PPDGJ III yaitu:11 Diagnosa pasti. Jika tindakan kompulsi dilawan maka kecemasan makin memburuk. atau impuls diri sendiri. Tindakan kompulsif adalah perilaku stereotipik yang diulang-ulang.Hal ini dikenali pasien berasal dari pikirannya. gejala obsesi atau kompulsi. Indikasi prognosis buruk adalah: kompulsi yang diikuti. baik berhubungan dengan atau disebabkan oleh pasien. onset masa kanak. adanya peristiwa yang menjadi pencetus. imaji atau impuls yang masuk ke pikiran pasien berulang-ulang dalam bentuk stereotipik. ada komorbiditas dengan gangguan depresi. meskipun bersifat tidak bisa dilawan. Umumnya. Harus disadari sebagai pikiran. Hal tersebut dirasakan tidak menyenangkan ataupun menghasilkan penyelesaian tugas. perilaku ini dikenali pasien sebagai sesuatu yang tidak bertujuan dan berusaha dilawan. Fungsinya untuk mencegah suatu kejadian yang buruk.

tidak dianggap sebagai kesenangan seperti dimaksud di atas). Sedikitnya ada 1 pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan. Dalam berbagai situasi dari kedua hal tersebut. Diagnosis Banding OCD Berikut ini diagnosis banding dari gangguan obsesif-kompulsif:12 . Bila dari keduanya tidak ada yang menonjol. meskipun ada lainnya yang tidak lagi dilawan oleh penderita. Gagasan. 12 b. Penderita gangguan obsesif kompulsif sering kali menunjukkan gejala depresi. Pikiran atau kompulsi tersebut bukan merupakan yang memberi kepuasan atau kesenangan (sekedar perasaan lega dari ketegangan atau anxietas. d. bayangan pikiran atau impuls tersebut harus merupakan pengeluaran pengulangan yang tidak menyenangkan (unpleasantly repetitive). c. dengan depresi. terutama pikiran obsesif. meningkat atau menurunnya gejala depresif umumnya dibarengi secara paralel dengan perubahan gejala obsesif. Gejala obsesif “sekunder” yang terjadi pada gangguan skizofrenia. maka prioritas diberikan pada gejala yang paling bertaham saat gejala yang lain menghilang. H. maka lebih baik menganggap depresi sebagai diagnosis yang primer. Bila terjadi episode akut dari gangguan tersebut. Diagnosis gangguan obsesif kompulsif ditegakkan hanya bila tidak ada gangguan depresif pada saat gejala obsesif kompulsif tersebut timbul. Pada gangguan menahan. sindrom tourette. dan sebaliknya pnderita gangguan depresi berulang (F33. maka diagnosis diutamakan dari gejala-gejala yang timbul lebih dulu. Ada kaitan erat antara gejala obsesif.-) dapat menunjukkan pikiran-pikiran obsesif selama episode depresifnya. gangguan mental organik. harus dianggap sebagai bagian dari kondisi tersebut.

Farmakoterapi Pilih salah satu obat antidepresan di bawah ini dan berikan dengan dosis adekuat yang relatif tinggi.12 Tabel 9 Rekomendasi Farmakoterapi Untuk Gangguan Obsesif Kompulsif Nama Obat Dosis Klomipramin 50-250 mg/hari. jika terdapat depresi ganti dengan litium. memerlukan waktu 1-3 minggu). jika terdapat cemas ganti dengan buspiron. jika terdapat panik ganti dengan MAOI. Sertralin 50-200 mg/hari. . Fluoksetin 20-80 mg/hari. Fluvoksamin 50-300 mg/hari. dalam dosis terbagi (dicapai dengan titrasi dosis. jika terdapat tik dan waham berikan antipsikotik. Hindari kenaikan dosis yang terlalu cepat karena akan meningkatkan angka penghentian pengobatan (drop out) akibat efek samping yang lebih sering timbul pada dosis yang lebih tinggi. Penatalaksanaan OCD 1. Gangguan tik g. Gangguan depresi mayor d. 13 a. Hipokondriasis f. 12 • Jika terapi SSRI gagal maka ganti terapi. • Jika masih tidak ada respon atau terdapat riwayat bunuh diri lakukan ECT. Gangguan cemas menyeluruh e. Gangguan cemas akibat kondisi umum b. Ganguan kepribadian obsesif-kompulsif I. Gangguan cemas akibat (diinduksi) zat c.

atau kombinasikan SSRI.6 . gangguan depresif berat yang juga timbul bersamaan. dan adanya gangguan kepribadian (terutama gangguan kepribadian skizotipal). Prognosis buruk ditunjukkan dengan menyerah pada (bukan menahan) kompulsi. onset pada anak-anak. Prognosis yang baik ditunjukkan dengan adanya penyesuaian sosial dan pekerjaan yang baik. adanya peristiwa yang mencetuskan dan sifat gejala yang episodik. kepercayaan waham. ECT. 2. Prognosis OCD Kira-kira 20 sampai 30 persen pasien dengan OCD memiliki gangguan depresif berat dan bunuh diri merupakan risiko untuk semua pasien dengan OCD. kompulsi yang aneh (bizzare). Isi obsesional tampaknya tidak berhubungan dengan prognosis. 14 • Jika ECT gagal. Terapi Psikososial 1) Terapi Kognitif Perilaku 2) Psikoterapi berorientsi tilikan 3) Psikoedukasi J. berikan terapi kombinasi 2 SSRI. dan terapi perilaku. perlu perawatan di rumah sakit. adanya penilaian berlebihan terhadap gagasan (yaitu penerimaan obsesi dan kompulsi).

10 B. Proses patofisiologi yang mendasari terjadinya OCD belum secara jelas ditemukan. seperti kehamilan. Seringkali pasien merahasiakan gejala sehingga terlambat datang berobat. sering berlangsung panjang. masalah seksual. Kesimpulan Gangguan obsesif-kompulsif digambarkan sebagai pikiran dan tindakan yang berulang yang menghabiskan waktu atau menyebabkan distress dan hendaya yang bermakna. Tindakan kompulsi merupakan usaha untuk meredakan kecemasan yang berhubungan obsesi namun tidak selalu berhasil meredakan ketegangan. Permulaan gangguan terjadi setelah adanya peristiwa yang stressfull. 15 BAB III PENUTUP A. Saran .1 Lebih dari 50% pasien dengan gejala gangguan obsesif kompulsif gejala awalnya muncul mendadak. Pasien dengan gangguan ini menyadari bahwa pengalaman obsesi dan kompulsi tidak beralasan sehingga bersifat egodistonik. kematian keluarga. beberapa pasien mengalami perjalanan penyakit yang berfluktuasi sementara sebagian lain menetap/terus menerus ada. Perjalanan penyakit bervariasi.

Sp. 2007. “Buku Ajar Ilmu Psikiatri”. PSIKOLOGI ABNORMAL Obsesif Kompulsif. Medscape.com/article/1934139-overview#a2) 4. 2000..dkk. Virginia A.S. Kaplan dan Sadock Synopsis Sciences/ Clinical. G. A. William.S. Bagian ilmu kedokteran jiwa FK Unika Atma Jaya: Jakarta. 10. Tenth Edition. Edisi 2. 2000 3. Benjamin J. and Virginia. Elvira.M. Madiun : Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP PGRI. Lippincott Williams & Wilkins Publishers. Badan Penerbit FK UI: Jakarta. Edisi 2. Hal 40-41 9. Sa’adi Y. D. (Sumber: http://emedicine. Ilmu pengetahuan perilaku psikiatri klinis. 2010. B. Sadock VA. Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis. Saddock. Buku Ajar Psikiatri.D. Bienenfeld. MD. 2013 2.G. p 604 7. New York: Lippincott Williams dan Wilkins. 6. MD. Hadisukanto. Kusumawardhani. American psikiatri assosiation. Maslim Rusdi. Seventh Edition. Kaplan & Sadock's Comprehensive Textbook of Psychiatry.medscape. Pustaka Belajar: Yogyakarta 5. edisi Ketujuh. Jilid 2. Oltmanns dan Emery.KJ (K) (2013). p 2569-2580. Gangguan Obsesif Kompulsif. Harold I MD. Diakses pada 25 Maret 2017. EGC: Jakarta. Dr. Obsessive-Compulsive Disorder.2016. Diagnosis Gangguan Jiwa PPDGJ-III dan DSM-5. Jakarta: Penerbit FKUI 11.J. Kaplan. Psikologi Abnormal. 8. 2013 . (2013). 2010. 16 Dengan diselesaikannya laporan ini diharapkan dapat menambah wawasan dan sumber informasi tentang Obsesif kompulsif bagi pembaca. DAFTAR PUSTAKA 1.

17 12.02.02/MENKES/73/2015 TENTANG PEDOMAN NASIONAL PELAYANAN KEDOKTERAN JIWA . KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.