You are on page 1of 20

MAKALAH BELA NEGARA

Nama : Erick Satriyo G.


NIM : 32601400870
Jurusan : Teknik Elektro
Materi Kuliah : Bela Negara
Pengampu :

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI


UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
2015
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Konsep
Dasar Bela Negara.

Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak, untuk itu kami
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan
makalah ini.

Kami sadar bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan baik
dalam pembahasan maupun penulisannya. Oleh karenanya kami dengan sangat terbuka menerima
kritik dan saran guna memperbaiki kesalahan dalam penyusunan makalah ini. Kami berharap
makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Surabaya, 26 September 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ i


DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ................................................................................... iii
B. Rumusan Masalah ............................................................................................. iv
C. Tujuan ............................................................................................................... iv

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Bela Negara .................................................................................... 1
B. Dasar Hukum Bela Negara ............................................................................... 3
C. Bela Negara Sebagai Hak dan Kewajiban Warga Negara ................................ 4
D. Wujud Bela Negara .......................................................................................... 8
E. Nilai-Nilai Bela Negara ................................................................................... 11

BAB II PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................................................ 13
B. Saran .................................................................................................................. 13

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 14

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Era reformasi membawa banyak perubahan di hampir segala bidang di republik indonesia.
Ada perubahan yang positif dan bermanfaat bagi masyarakat, tapi tampaknya ada juga yang negatif
dan pada gilirannya akan merugikan bagi keutuhan wilayah dan kedaulatan Negara Kesatuan
Republic Indonesia. Suasana keterbukaan pasca pemerintahan orde baru menyebabkan arus
informasi dari segala penjuru dunia seolah tidak terbendung. Berbagai ideologi, mulai dari ekstrim
kiri sampai ke ekstrim kanan, menarik perhatian bangsa kita, khususnya generasi muda, untuk
dipelajari, dipahami dan diterapkan dalam upaya mencari jati diri bangsa setelah selama lebih dari
30 tahun merasa terbelenggu oleh sistem pemerintahan yang otoriter.
Salah satu dampak buruk dari reformasi adalah memudarnya semangat nasionalisme dan
kecintaan pada negara. perbedaan pendapat antar golongan atau ketidaksetujuan dengan kebijakan
pemerintah adalah suatu hal yang wajar dalam suatu sistem politik yang demokratis. Namun
berbagai tindakan anarkis, konflik sara dan separatisme yang sering terjadi dengan mengatas
namakan demokrasi menimbulkan kesan bahwa tidak ada lagi semangat kebersamaan sebagai
suatu bangsa. Kepentingan kelompok, bahkan kepentingan pribadi, telah menjadi tujuan utama.
Semangat untuk membela negara seolah telah memudar.
Bela negara biasanya selalu dikaitkan dengan militer atau militerisme, seolah-olah
kewajiban dan tanggung jawab untuk membela negara hanya terletak pada tentara nasional
indonesia. Padahal berdasarkan pasal 30 UUD 1945, bela negara merupakan hak dan kewajiban
setiap warga Negara republik indonesia. Bela negara adalah upaya setiap warga negara untuk
mempertahankan Republic Indonesia terhadap ancaman baik dari luar maupun dalam negeri.

iii
B. Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan yang akan
diambil.

1. Apa yang dimaksud dengan bela negara?


2. Apa dasar hukum bela negara?
3. Bagaimana hak dan kewajiban warga negara terhadap bela negara?
4. Apa wujud bela negara?
5. Nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam bela negara?

C. Tujuan

Untuk mendapatkan hasil yang optimal dari suatu penelitian, terlebih dahulu perlu dirumuskan
tujuan yang terarah. Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan.


2. Menggali pengetahuan lebuh dalam tentang sejarah Indonesia khususnya mengenai
Bela Negara.
3. Memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara terhadap Bela Negara.

iv
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Bela Negara di Indonesia

Bela negara adalah tekad, sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaan kepada
negara kesatuan republik indonesia yang berdasarkan pancasila dan UUD 1945 dalam menjamin
kelangsungan hidup bangsa dan negara. Pembelaan negara bukan semata-mata tugas tni, tetapi
segenap warga negara sesuai kemampuan dan profesinya dalam kehidupan bermasyarakat
berbangsa dan bernegara.
Era reformasi membawa banyak perubahan di hampir segala bidang di republik indonesia.
Ada perubahan yang positif dan bermanfaat bagi masyarakat, tapi tampaknya ada juga yang negatif
dan pada gilirannya akan merugikan bagi keutuhan wilayah dan kedaulatan Negara Kesatuan
Republic Indonesia. Suasana keterbukaan pasca pemerintahan orde baru menyebabkan arus
informasi dari segala penjuru dunia seolah tidak terbendung. Berbagai ideologi, mulai dari ekstrim
kiri sampai ke ekstrim kanan, menarik perhatian bangsa kita, khususnya generasi muda, untuk
dipelajari, dipahami dan diterapkan dalam upaya mencari jati diri bangsa setelah selama lebih dari
30 tahun merasa terbelenggu oleh sistem pemerintahan yang otoriter.
Salah satu dampak buruk dari reformasi adalah memudarnya semangat nasionalisme dan
kecintaan pada negara. perbedaan pendapat antar golongan atau ketidaksetujuan dengan kebijakan
pemerintah adalah suatu hal yang wajar dalam suatu sistem politik yang demokratis. Namun
berbagai tindakan anarkis, konflik sara dan separatisme yang sering terjadi dengan mengatas
namakan demokrasi menimbulkan kesan bahwa tidak ada lagi semangat kebersamaan sebagai
suatu bangsa. Kepentingan kelompok, bahkan kepentingan pribadi, telah menjadi tujuan utama.
Semangat untuk membela negara seolah telah memudar.
Bela negara biasanya selalu dikaitkan dengan militer atau militerisme, seolah-olah kewajiban
dan tanggung jawab untuk membela negara hanya terletak pada tentara nasional indonesia. Padahal
berdasarkan pasal 30 UUD 1945, bela negara merupakan hak dan kewajiban setiap warga Negara
republik indonesia. Bela negara adalah upaya setiap warga negara untuk mempertahankan
Republic Indonesia terhadap ancaman baik dari luar maupun dalam negeri.
UUD No 3 tahun 2002 tentang pertahanan negara ri mengatur tata cara penyelenggaraan
pertahanan negara yang dilakukan oleh tentara nasional indonesia (TNI) maupun oleh seluruh

1
komponen bangsa. Upaya melibatkan seluruh komponen bangsa dalam penyelenggaraan
pertahanan negara itu antara lain dilakukan melalui pendidikan pendahuluan bela negara.
Konsep Dasar Bela Negara dapat diartikan secara fisik dan non-fisik, secara fisik dengan
mengangkat senjata menghadapi serangan atau agresi musuh, secara non-fisik dapat didefinisikan
sebagai segala upaya untuk mempertahankan Negara dengan cara meningkatkan rasa
nasionalisme, yakni kesadaran berbangsa dan bernegara, menanamkan kecintaan terhadap tanah
air, serta berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara.
Landasan pembentukan Bela Negara adalah wajib militer. Bela Negara adalah pelayanan oleh
seorang individu atau kelompok dalam tentara atau milisi lainnya, baik sebagai pekerjaan yang
dipilih atau sebagai akibat dari rancangan tanpa sadar (wajib militer). Beberapa negara (misalnya
Israel, Iran) meminta jumlah tertentu dinas militer dari masing-masing dan setiap salah satu warga
negara (kecuali untuk kasus khusus seperti fisik atau gangguan mental atau keyakinan keagamaan).
Sebuah bangsa dengan relawan sepenuhnya militer, biasanya tidak memerlukan layanan dari wajib
militer warganya, kecuali dihadapkan dengan krisis perekrutan selama masa perang.
Di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Jerman, Spanyol dan Inggris, Bela
Negara dilaksanakan pelatihan militer, biasanya satu akhir pekan dalam sebulan. Mereka dapat
melakukannya sebagai individu atau sebagai anggota resimen, misalnya Tentara Teritorial Britania
Raya. Dalam beberapa kasus milisi bisa merupakan bagian dari pasukan cadangan militer, seperti
Amerika Serikat National Guard.Di negara lain, seperti Republik China (Taiwan), Republik Korea,
dan Israel, wajib untuk beberapa tahun setelah seseorang menyelesaikan dinas nasional. Sebuah
pasukan cadangan militer berbeda dari pembentukan cadangan, kadang-kadang disebut sebagai
cadangan militer, yang merupakan kelompok atau unit personil militer tidak berkomitmen untuk
pertempuran oleh komandan mereka sehingga mereka tersedia untuk menangani situasi tak
terduga, memperkuat pertahanan Negara.

2
B. Dasar Hukum Bela Negara

2.1. Beberapa dasar hukum dan peraturan tentang Wajib Bela Negara :
1. Tap MPR No.VI Tahun 1973 tentang konsep Wawasan Nusantara dan Keamanan
Nasional.
2. Undang-Undang No. 29 tahun 1954 tentang Pokok-Pokok Perlawanan Rakyat.
3. Undang-Undang No. 20 tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok Hankam Negara RI.
Diubah oleh Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1988.
4. Tap MPR No.VI Tahun 2000 tentang Pemisahan TNI dengan POLRI.
5. Tap MPR No.VII Tahun 2000 tentang Peranan TNI dan POLRI.
6. Amandemen UUD '45 Pasal 30 ayat 1-5 dan pasal 27 ayat 3.
7. Undang-Undang No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.

2.2. Unsur Dasar Bela Negara


1. Cinta Tanah Air.
2. Kesadaran Berbangsa & bernegara.
3. Yakin akan Pancasila sebagai ideologi Negara.
4. Rela berkorban untuk bangsa & Negara.
5. Memiliki kemampuan awal Bela Negara.

2.3. Hari Bela Negara

Tanggal 19 Desember ditetapkan sebagai Hari Bela Negara ditetapkan oleh


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia
Nomor 28 tahun 2006.

C. Bela Negara Sebagai Hak dan Kewajiban Warga Negara


3
Pasal 30 UUD 1945 menyebutkan bahwa "tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta
dalam usaha pembelaan negara". Konsep bela negara dapat diuraikan yaitu secara fisik maupun
non-fisik. Secara fisik yaitu dengan cara "memanggul senjata" menghadapi serangan atau agresi
musuh. Bela negara secara fisik dilakukan untuk menghadapi ancaman dari luar. Sedangkan bela
negara secara non-fisik dapat didefinisikan sebagai "segala upaya untuk mempertahankan negara
kesatuan republik indonesia dengan cara meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara,
menanamkan kecintaan terhadap tanah air serta berperan aktif dalam memajukan bangsa dan
negara".

3.1.1. Bentuk-bentuk Bela Negara


Bentuk-bentuk usaha pembelaan negara sangat penting untuk menjamin kedaulatan
negara, Keutuhan wilayah NKRI dan berbagai ancaman terhadap bangsa. Oleh karena itu
setiap warga negara perlu memahami berbagai bentuk usaha pembelaan negara dalam
rangka melaksanakan peran serta dalam usaha pembelaan negara.
Bentuk penyelenggaraan usahan pembelaan negara . Menurut pasal 9 ayat (2)
UURI nomor 3 tahun 2002 tentang pertahanan negara keikutsertaan warga negara dalam
usaha pembelaannegara diselenggarakan melalui:
a. P e n d i d i k a n K e w a r g a n e g a r a a n
b. Pelatihan dasar kemiliteran secara wajib
c. Pengabdian sebagai prajurit tentara nasional indonesia secara suka rela atau secara
wajib
d. Pengabdian sesuai dengan profesi
Dalam pasal 37 ayat (1) UU RI nomor 3 tahun 2003 dijelaskan, bahwa pendidikan
kewarganegaan dimaksudkan untuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa
kebangsaan dan cinta tanah air. Dari uraian diatas, jelaskan bahwa pembentukan rasa
kebangsaan dan cinta tanah air peserta didik dapat dibina melalui pendidikan
kewarganegaraan. Dengan demikian pembinaan kesadara bela negara melalui
pendidikan kewarganegaraan dimaksudkan untuk membina dan meningkatkan usaha
pertahanan negara. Pendidikan kewarganegaraan mendapat tugas untuk menanamkan
komitmen kebangsaan, termasuk mengembangkan nilai dan perilaku demokratis dan

4
bertanggung jawab sebagai warga negara Indonesia. Selain TNI, salah satu komponen
warga negara yang mendapat pelatihan dasar militer adalah unsur mahasiswa yang
tersusun dalam organisasi resimen mahasiswa (Menwa) bela negara.

3.2.1 Upaya Bela Negara

Pasal 30 UUD 1945 menyebutkan bahwa "tiap-tiap warga negara berhak dan wajib
ikut serta dalam usaha pembelaan negara". Konsep Bela Negara dapat diuraikan yaitu
secara fisik maupun non-fisik.

3.2.2. Bela Negara Secara Fisik

Bela negara secara fisik adalah pembelaan yang dilakukan oleh tiap-tiap
warga negara terhadap setiap hambatan, gangguan, tantangan, dan ancaman bagi
kelangsungan hidup bangsa dan negara yang dilakukan berdasarkan kekuatan
militer dan kekuatan rakyat yang bersenjata yang diatur dengan undang-undang.
Misalnya dengan cara "memanggul bedil" menghadapi serangan atau agresi musuh.
Bela Negara secara fisik dilakukan untuk menghadapi ancaman dari luar

Keterlibatan warga negara sipil dalam upaya pertahanan negara merupakan


hak dan kewajiban konstitusional setiap warga negara Republik Indonesia. Tapi,
seperti diatur dalam UU no 3 tahun 2002 dan sesuai dengan doktrin Sistem
Pertahanan Semesta, maka pelaksanaannya dilakukan oleh Rakyat Terlatih (Ratih)
yang terdiri dari berbagai unsur misalnya Resimen Mahasiswa, Perlawanan Rakyat,
Pertahanan Sipil, Mitra Babinsa, OKP yang telah mengikuti Pendidikan Dasar
Militer dan lainnya. Rakyat Terlatih mempunyai empat fungsi yaitu Ketertiban
Umum, Perlindungan Masyarakat, Keamanan Rakyat dan Perlawanan Rakyat. Tiga
fungsi yang disebut pertama umumnya dilakukan pada masa damai atau pada saat
terjadinya bencana alam atau darurat sipil, di mana unsur-unsur Rakyat Terlatih
membantu pemerintah daerah dalam menangani Keamanan dan Ketertiban
Masyarakat, sementara fungsi Perlawanan Rakyat dilakukan dalam keadaan darurat
perang di mana Rakyat Terlatih merupakan unsur bantuan tempur bagi pasukan
reguler TNI dan terlibat langsung di medan perang.

5
Apabila keadaan ekonomi nasional telah pulih dan keuangan negara
memungkinkan, maka dapat pula dipertimbangkan kemungkinan untuk
mengadakan Wajib Militer bagi warga negara yang memenuhi syarat seperti yang
dilakukan di banyak negara maju di Barat. Mereka yang telah mengikuti pendidikan
dasar militer akan dijadikan Cadangan Tentara Nasional Indonesia selama waktu
tertentu, dengan masa dinas misalnya sebulan dalam setahun untuk mengikuti
latihan atau kursus-kursus penyegaran. Dalam keadaan perang, mereka dapat
dimobilisasi dalam waktu singkat untuk tugas-tugas tempur maupun tugas-tugas
teritorial. Rekrutmen dilakukan secara selektif, teratur dan berkesinambungan.
Penempatan tugas dapat disesuaikan dengan latar belakang pendidikan atau profesi
mereka dalam kehidupan sipil misalnya dokter ditempatkan di Rumah Sakit
Tentara, pengacara di Dinas Hukum, akuntan di Bagian Keuangan, penerbang di
Skwadron Angkutan, dan sebagainya. Gagasan ini bukanlah dimaksudkan sebagai
upaya militerisasi masyarakat sipil, tapi memperkenalkan "dwi-fungsi sipil".
Maksudnya sebagai upaya sosialisasi "konsep bela negara" di mana tugas
pertahanan keamanan negara bukanlah semata-mata tanggung jawab TNI, tapi
adalah hak dan kewajiban seluruh warga negara Republik Indonesia.

3.2.3. Bela Negara Secara Non-Fisik

Bela Negara secara non-fisik dapat didefinisikan sebagai segala upaya untuk
mempertahankan negara kesatuan Republik Indonesia dengan cara meningkatkan
kesadaran berbangsa dan bernegara, menanamkan kecintaan terhadap tanah air serta
berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara. Pembelaan yang dilakukan
oleh tiap-tiap warga negara atas dasar kesadaran hak, kewajiban dan kehormatan
berdasarkan profesi dan kemampuan masing-masing untuk meningkatkan
ketahanan nasional agar mampu mengantisipasi segala bentuk hambatan,
gangguan, tantangan dan ancaman baik terhadap idiologi, politik, ekonomi, sosial
budaya maupun pertahanan keamanan.

Bela negara tidak selalu harus berarti "memanggul bedil menghadapi musuh".
Keterlibatan warga negara sipil dalam bela negara secara non-fisik dapat dilakukan

6
dengan berbagai bentuk, sepanjang masa dan dalam segala situasi, misalnya dengan
cara:

a. Meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara, termasuk menghayati arti


demokrasi dengan menghargai perbedaan pendapat dan tidak memaksakan
kehendak
b. Menanamkan kecintaan terhadap tanah air, melalui pengabdian yang tulus kepada
masyarakat
c. Berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara dengan berkarya nyata (bukan
retorika)
d. Meningkatkan kesadaran dan kepatuhan terhadap hukum/undang-undang dan
menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia
e. Pembekalan mental spiritual di kalangan masyarakat agar dapat menangkal
pengaruh- pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan norma-norma
kehidupan bangsa Indonesia dengan lebih bertaqwa kepada Allah swt melalui
ibadah sesuai agama/kepercayaan masing- masing

Apabila seluruh komponen bangsa berpartisipasi aktif dalam melakukan bela


negara secara non-fisik ini, maka berbagai potensi konflik yang pada gilirannya
merupakan ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan bagi keamanan negara
dan bangsa kiranya akan dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan sama sekali.
Kegiatan bela negara secara non-fisik sebagai upaya peningkatan Ketahanan
Nasional juga sangat penting untuk menangkal pengaruh budaya asing di era
globalisasi abad ke 21 di mana arus informasi (atau disinformasi) dan propaganda
dari luar akan sulit dibendung akibat semakin canggihnya teknologi komunikasi.

3.3.1. Motivasi Dalam Pembelaan Negara


Usaha pembelaan negara bertumpu pada kesadaran setiap warga negara akan hak dan
kewajibannya. Kesadarannya demikian perlu ditumbuhkan melalui proses motivasi untuk
mencintai tanah air dan untuk ikut serta dalam pembelaan negara. Proses motivasi untuk
membela negara dan bangsa akan berhasil jika setiap warga memahami keunggulan dan

7
kelebihan negara dan bangsanya. Disamping itu setiap warga negara hendaknya juga
memahami kemungkinan segala macam ancaman terhadap eksistensi bangsa dan negara
Indonesia. Dalam hal ini ada beberapa dasar pemikiran yang dapat dijadikan sebagai bahan
motivasi setiap warga negara untuk ikut serta membela negara Indonesia.
1. Pengalaman sejarah perjuangan RI
2. Kedudukan wilayah geografis Nusantara yang strategis
3. Keadaan penduduk (demografis) yang besar
4. Kekayaan sumber daya alam
5. Perkembangan dan kemajuan IPTEK di bidang persenjataan
6. Kemungkinan timbulnya bencana perang

D. Wujud Bela Negara Oleh Mahasiswa

Mahasiswa adalah sosok intelektual yang menduduki posisi dan peran khusus dalam
kehidupan sosial kemasyarakatan. Posisi dan peran khusus itu selain dimungkinkan oleh
kepemilikan pengetahuan yang luas juga oleh kepemilikinan nilai-nilai dasar yang menjadi
landasan jati diri intelektualnya. Pengetahuan dan nilai-nilai dasar itu hendaknya menyata dalam
setiap teladan hidup dan perjuangan mahasiswa. Seorang mahasiswa mestinya memiliki
pengetahuan yang luas untuk bisa mengkritisi pelbagai ketimpangan yang terjadi dalam
masyarakat. karena itu, minat baca yang tinggi dan kebiasaan untuk melakukan refleksi kritis
terhadap pelbagai fenomena yang muncul amatlah dianjurkan dan mesti menjadi menu harian para
mahasiswa. Adalah sebuah ironi besar bahkan sebuah penyangkalan terhadap jati dirinya sendiri
apabila mahasiswa asing dari buku-buku yang memuat segudang ilmu pengetahuan dan asing dari
realitas masyarakat sekelilingnya. mahasiswa mestinya memiliki semangat untuk mencari dan
memiliki ilmu pengetahuan. namun, akumulasi pengetahuan yang diperoleh dalam bangku kuliah
itu pada mestinya selalu diaplikasikan dalam setiap konteks persoalan masyarakat. Kiprah seorang
mahasiswa tidak hanya terbatas dalam tembok-tembok kampus atau dalam bangku kuliah tetapi
senantiasa digemakan keluar terutama dalam menjawabi setiap persoalan yang terjadi dalam
masyarakat. mahasiswa mestinya mampu menangkap pelbagai fenomena timpang yang terjadi di
sekitarnya, untuk kemudian dikritisi dan dicari alternatif solusi atasnya.

8
Pemanfaatan inteligensi yang tinggi seperti yang telah mendasari perjuangan mahasiswa era
pra-kemerdekaan, mestinya juga mendasari perjuangan mahasiswa saat ini. Karena itu, kebiasaan-
kebiasaan yang tidak menunjukkan pemanfaatan inteligensi atau berada di luar ciri jati diri
intelektualitasnya mestinya ditinggalkan. fenomena absurditas intelektual, keterlibatan dalam
praktik kekerasan dan pelanggaran ham, pesta pora dan hedonisme, gaya hidup konsumtif, seks
bebas, lemahnya minat membaca dan berdiskusi, kurangnya minat belajar, serta rendahnya minat
berorganisasi yang sekarang ini menjadi ciri kehidupan para mahasiswa umumnya, mestinya
ditinggalkan jauh-jauh.selain pemanfaatan pengetahuan yang dimilikinya, mahasiswa juga
mestinya selalu berjuang menegakkan nilai-nilai universal kemanusiaan. Mahasiswa pada
hakikatnya memiliki kemampuan yang khas dan unik yang sulit ditemukan pada anggota
masyarakat kebanyakan.
Kekhasan itu justru terletak pada nilai-nilai dasar yang menjadi landasan jati diri
intelektualitasnya, dan nilai-nilai itu amat inheren dalam identitasnya sebagai seorang mahasiswa.
dunia mahasiswa adalah dunia akademik yang di dalamnya terkandung nilai-nilai dasar seperti
kebijaksanaan, keadilan, kebenaran, dan objektivitas. Yang diharapkan dari mahasiswa adalah
upaya perealisasian nilai-nilai dasar tersebut dalam setiap kiprahnya dalam lembaga pendidikan
dan terutama di tengah masyarakat. Perealisasian nilai-nilai dasar itu selain melalui sikap dan
teladan hidup hariannya, juga mesti direalisasikan dalam setiap upaya memperjuangkan nilai-nilai
kemanusiaan tersebut.
Perjuangan mahasiswa, dalam aksi demonstrasi misalnya, hendaknya bukan dilandasi oleh
sikap primordial-kedaerahan, atau demi keuntungan eksklusif orang atau kelompok tertentu,
melainkan demi menegakkan nilai-nilai universal kemanusiaan. Hanya dengan ini mahasiswa
mampu menghidupkan kembali rasa persatuan dan kesatuan dalam masyarakat. Nilai-nilai
universal kemanusiaan adalah nilai-nilai yang senantiasa didambakan oleh setiap orang. nilai-nilai
itu dapat mempersatukan dan membangun solidaritas semua orang. Karena itu, memperjuangkan
nilai-nilai seperti itu akan mendorong rasa solidaritas dan persatuan dalam masyarakat. Mahasiswa
dipanggil untuk mewujudkan itu di tengah masyarakat.
Contohnya adalah pemanfaatan inteligensi sebagai modal dasar. kemerdekaan yang telah
diraih bangsa indonesia pertama-tama sebenarnya merupakan hasil pemanfaatan inteligensi, dan
bukan kemenangan senjata. Perjuangan merebut kemerdekaan melalui perang fisik/senjata telah
terbukti tidak membawa pembebasan bagi rakyat indonesia. karena itu, mereka berusaha
memikirkan alternatif lain agar bisa keluar dari situasi penindasan pada masa itu. Munculnya

9
pelbagai organisasi pemuda termasuk kongres sumpah pemuda merupakan hasil nyata
pemanfaatan inteligensi ini yang kemudian membawakan hasil yang memuaskan. mahasiswa
adalah kaum intelektual muda. Sebagai kaum intelektual, mahasiswa selain bergulat dengan
pelbagai ilmu pengetahuan, juga bergulat dalam memperjuangkan nilai-nilai universal
kemanusiaan seperti kebijaksanaan, kebenaran, keadilan, dan objektivitas. dalam setiap
perjuangannya, mahasiswa mesti selalu berpegang teguh pada nilai-nilai di atas. Melalui
kemampuan intelek yang dimilikinya mahasiswa mengakomodasi harapan dan idealism
masyarakat yang kemudian terbentuk dalam ide-ide atau gagasannya. Ide dan gagasan itu
merupakan kontribusi paling bermakna dalam cita-cita pembaruan dalam konteks kebangsaan.
Perang adalah keadaan konflik antara dua pihak yang besar, seperti negara, organisasi, dan
kelompok sosial, yang dikarakterisasikan dengan adanya pemakaian senjata mematikan.
Gambaran umum tentang perang adalah kampanye militer antara dua atau lebih pihak yang
pertentangan mengenai kedaulatan, daerah kekuasaan, sumber daya alam, agama, dan isu-isu
lainnya. Lalu bagaimana wujud bela negara yang dapat dilakukan mahasiswa ketika terjadi
perang? Dalam menghadapi ancaman militer , sistem pertahanan negara menempatkan tni sebagai
komponen utama, dengan didukung oleh komponen cadangan dan komponen pendukung.
Komponen cadangan adalah sumber daya nasional yang telah disiapkan untuk dikerahkan melalui
mobilisasi guna memperbesar dan memperkuat kekuatan komponen utama. di sini resimen
mahasiswa adalah sumber yang paling siap untuk dimobilisasi memperkuat komponen utama.
Komponen pendukung adalah sumber daya nasional yang dapat digunakan untuk
meningkatkan kekuatn dan kemampuan komponen utama dan komponen cadangan. Di komponen
pendukung ini semua keluarga besar perguruan tinggi bahkan semua warga negara dapat
mengambil peran. Ditinjau dari hukum humaniter, komponen utama adalah kombatan, komponen
cadangan adalah kombatan setelah melalui mobilisasi , sedangkan komponen pendukung adalah
non kombatan.
Sistem pertahanan di manapun senantiasa padat teknologi. setiap negara senantiasa berusaha
mengungguli kemampuan pertahanan negara lain yang dianggap memiliki potensi ancaman. Salah
satu aspek yang ingin diungguli adalah teknologi persenjataannya. Cara yang paling mudah untuk
melakukannya adalah dengan membeli persenjataan dari dari negara kawan. hal itu tentu akan
menguras devisa yang jumlahnya terbatas.
Saat ini pemerintah kita dalam memenuhi kebutuhan pertahanannya sebagian besar masih
membeli ini pemerintah kita dalam memenuhi kebutuhan pertahanannya sebagian besar masih

10
membeli, padahal devisa kita sangat terbatas. Bahkan hanya untuk memeliharapun, sebagian masih
menggantungkan pada luar negeri.

E. Nilai-Nilai Bela Negara

Nilai-nilai bela negara yang dikembangkan adalah Cinta Tanah air, yaitu mengenal,
memahami dan mencintai wilayah nasional, menjaga tanah dan pekarangan serta seluruh ruang
wilayah Indonesia, melestarikan dan mencintai lingkungan hidup, memberikan kontribusi pada
kemajuan bangsa dan negara, menjaga nama baik bangsa dan negara serta bangga sebagai bangsa
indonesia dengan cara waspada dan siap membela tanah air terhadap ancaman tantangan,
hambatan dan gangguan yang membahayakan kelangsungan hidup bangsa serta negara dari
manapun dan siapapun.
Nilai yang kedua adalah Sadar akan berbangsa dan bernegara, yaitu dengan membina
kerukunan menjaga persatuan dan kesatuan dari lingkungan terkecil atau keluarga, lingkungan
masyarakat, lingkungan pendidikan dan lingkungan kerja, mencintai budaya bangsa dan produksi
dalam negeri, mengakui, menghargai dan menghormati bendera merah putih, lambang negara dan
lagu kebangsaan indonesia raya, menjalankan hak dan kewajiban sesuai peraturan dan perundang-
undangan yang berlaku dan mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi,
keluarga dan golongan.
Nilai ketiga adalah yakin kepada Pancasila sebagai ideologi negara, yaitu memahami hakekat
atau nilai dalam Pancasila, melaksanakan nilaiPancasila dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan
Pancasila sebagai pemersatu bangsa dan negara serta yakin pada kebenaran Pancasila sebagai
ideologi negara.
Nilai keempat rela adalah berkorban untuk bangsa dan negara, yaitu bersedia mengorbankan
waktu, tenaga dan pikiran untuk kemajuan bangsa dan negara, siap mengorbankan jiwa dan raga
demi membela bangsa dan negara dari berbagai ancaman, berpastisipasi aktif dalam pembangunan
masyarakat, bangsa dan negara, gemar membantu sesama warga negarayg mengalami kesulitan
dan yakin dan percaya bahwa pengorbanan untuk bangsa dan negara tidak sia-sia.
Untuk nilai yang terakhir memiliki kemampuan awal bela negara secara psikis dan fisik.
Secara psikis, yaitu memiliki kecerdasan emosional, spiritual serta intelegensia, senantiasa

11
memelihara jiwa dan raganya serta memiliki sifat-sifat disiplin, ulet, kerja keras dan tahan uji.
Sedangkan secara fisik yaitu memiliki kondisi kesehatan, ketrampilan jasmani untuk mendukung
kemampuan awal bina secara psikis dengan cara gemar berolahraga dan senantiasa menjaga
kesehatan.
Beberapa contoh bela negara dalam kehidupan nyata, yakni siskamling, menjaga kebersihan,
mencegah bahaya narkoba, mencegah perkelahian antar perorangan sampai dengan antar
kelompok, meningkatkan hasil pertanian sehingga dapat mencukupi ketersediaan pangan daerah
dan nasional, cinta produksi dalam negeri agar dapat meningkatkan hasil eksport, melestarikan
budaya Indonesia dan tampil sebagai anak bangsa yang berprestasi baik nasional maupun
internasional.

BAB III
PENUTUP

12
A. Kesimpulan

Kesadaran akan bela negara bagi setiap warga negara Indonesia yang antara lain diwujudkan
melalui PPBN yang merupakan bagian dari sistem pendidikan kewarganegaraan negara adalah
merupakan tanggung jawab bersama atau secara institusional (interdep) perlu disosialisasikan
secara meluas dan konseptual dalam arti perlu didukung lagi dengan seperangkat peraturan
perundang-undangan lain seperti yang diamanatkan dalam pasal 9 UURRI No. 3 seperti ketentuan
tentang pendidikan kewarganegaraan, pelatihan dasar militer wajib, maupun pengabdian sesuai
dengan profesi. Tidak kalah penting dan akan menjadi hal fundamental adalah aspek kesejahteraan
bagi masyarakat diberbagai lapisan bawah, sehingga ada keseimbangan antara upaya menumbuh
kembangkan kesadaran bela negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
yang seiring dengan aspek ketahanan nasional. Dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman
terhadap keutuhan wilayah NKRI tidak sedikit dana yang harus dikeluarkan.
Upaya penggalangan/pembinaan masyarakat seperti di wilayah perbatasan negara maupun di
wilayah-wilayah yang rawan konflik sosial yang pada hakekatnya mempunyai potensi ancaman
keutuhan wilayah kedaulatan negara perlu mendapat perhatian / prioritas penanganan utama
bagaimanapun sulit dan berat beban negara/pemerintah yang harus dipikul. Resiko akan
kehilangan pulau-pulau lain di sepanjang perbatasan negara atau wilayah yang bermasalah,
mudah-mudahan bisa diantisipasi lebih baik dan lebih profesional lagi.

B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

13
1. Pasal 30 Undang-Undang Dasar 1945
2. Abidin, Zainal., dkk. 2014. Buku Ajar Pendidikan Bela Negara. Jawa Timur: UPN
"Veteran" Jawa Timur.
3. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor IV/MPR/1999
tentang Garis-garis Besar Haluan Negara Tahun 1999-2004.
4. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor VI/MPR/2000
tentang Pemisahan Tentara Nasiona Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia.
5. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor VII/MPR/2000
tentang Peran Tentara Nasiona Indonesia dan Peran Kepolisian Negara Republik
Indonesia.
6. Menhan. 2015. Hak dan Kewajiban Rakyat Dalam Bela Negara. Tersedia:
http://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/15/10/19/nwghaw282-menhan-
hak-dan-kewajiban-rakyat-untuk-bela-negara. Diakses pada 20 Oktober 2015.
7. Rukmini, Manis. 2011. Bela Negara. Makalah. Program Diploma Manajemen Informatika
STMIK Amikom Yogyakarta. Tersedia:
http://research.amikom.ac.id/index.php/DMI/article/viewFile/6398/3829. Diakses pada 15
Oktober 2015.
8. Sunarso, dkk. 2013. Pendidikan Kewarganegaraan: PKn untuk Perguruan Tinggi. Cetakan
Kedua. Yogyakarta: UNY Press.
9. Sutarman. 2011. Persepsi dan Pengertian Pembelaan Negara Berdasarkan UUD 1945
(Amandemen). Jurnal Magistra No. 75 Th. XXIII Maret 2011.
10. Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
11. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara
Republik Indonesia.
12. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1982 tentang Pokok-pokok
Pertahanan Keamanan Negara.
13. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.
14. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

14