You are on page 1of 45

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Penuaan adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari, terus-
menerus, dan berkesinambungan. Selanjutnya akan menyebabkan perubahan
anatomis, fisiologis, dan biokimia pada tubuh, sehingga akan mempengaruhi
fungsi dan kemampuan tubuh secara keseluruhan (Maryam, 2008).
Proses penuaan adalah proses yang tersembunyi, dan permulaannya
berbeda-beda antara tiap individu, demikian pula kecepatan penurunannya.
Perubahan ini meliputi perubahan kekuatan jantung, penurunan sekresi
cairan pencernaan ,penurunan aktivitas endokrin. Pada tingkatan psikologis,
proses penuaan ini ditandai dengan melambatnya waktu beraksi,
melambatnya proses belajar, serta penurunan daya ingat dan efisiensi
intelektual. (G.A, 2000).
Pada usia lanjut terjadi perubahan anatomi-fisiologi dan dapat timbul pula
penyakit-penyakit pada sistem pernafasan. Usia harapan hidup lansia di
Indonesia semakin meningkat karena pengaruh status kesehatan, status gizi,
tingkat pendidikan, ilmu pengetahuan dan sosial ekonomi yang semakin
meningkat sehingga populasi lansia pun meningkat. Pada tahun 2010 jumlah
warga lanjut usia (lansia) di Indonesia akan mencapai 19.079.800 jiwa
(BAPPENAS, BPS, UNFPA. 2005) pada tahun 2014 akan berjumlah
22.232.200 jiwa atau 9,6% dari total penduduk dan pada tahun 2025 akan
meningkat sampai 414% dibandingkan tahun 2004 (WHO, 2005).
Fungsi primer dari sistem pernafasan adalah menghantarkan udara
masuk dan keluar dari paru sehingga oksigen dapat dipertukarkan dengan
karbondiaoksida. Sistem pernafasan atas meliputi hidung, rongga hidung,
sinus-sinus, dan faring. Sistem pernafasan bawah meliputi trakhea,
bronkus-bronkus, dan paru.

B. RUMUSAN MASALAH
2

1. Apa pengertian lansia ?


2. Apa saja konsep – konsep lansia ?
3. Apa pengertian respirasi pada lansian ?
4. Apa saja fungsi – fungsi respirasi pada lansia ?
5. Bagaimana Perubahan anatomi dan fisiologi sistem respirasi pada lansia ?
6. Bagaimana asuhan keperawatan pada lansia dengan gangguan sistem
respirasi ?
C. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan umum
Mahasiswa mengetahui bagaimana konsep teori serta asuhan
keperawatan yang tepat untuk lansia dengan gangguan sistem
pernafasan.
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui konsep lansia
b. Untuk mengetahui perubahan anatomi dan fisiologi sistem
respirasi pada lansia
c. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada lansia dengan
gangguan sistem respirasi

BAB II
3

TINJAUAN PUSTAKA

KONSEP TEORI
A. Definisi
Penuaan adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari, terus-
menerus, dan berkesinambungan. Selanjutnya akan menyebabkan
perubahan anatomis, fisiologis, dan biokimia pada tubuh, sehingga akan
mempengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh secara keseluruhan
(Maryam, 2008).
Usia lanjut adalah suatu kejadian yang pasti akan dialami oleh semua
orang yang dikaruniai usia panjang, terjadinya tidak bisa di hindari
siapapun. Usia tua adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang,
yaitu periode dimana seseorang telah “beranjak jauh” dari periode
terdahulu yang lebih menyenangkan atau beranjak dari waktu yang penuh
dengan manfaat (Hurlock, 2000).
Menurut Undang-Undang RI nomor 13 tahun 1998, Depkes (2001)
yang dimaksud dengan usia lanjut adalah seorang laki – laki atau
perempuan yang berusia 60 tahun atau lebih, baik yang secara fisik masih
berkemampuan ( potensial) maupun karena sesuatu hal yang tidak mampu
berperan aktif dalam pembangunan (tidak potensial).
Wheeler, mengungkapkan usia tua tidak hanya dilihat dari
perhitungan kronologis atau berdasarkakan kalender saja, tetapi juga
menurut kondisi kesehatan seseorang ( health age ). Sehingga umur
sesungguh nya dari seseorang merupakan gabungan dari ketiga - tiganya
(Nugroho, 2008).
Jadi dapat disimpulkan bahwa lansia adalah suatu periode penutup
dalam hidup seseorang baik laki-laki maupun perempuan yang berusia 60
tahun atau lebih yang secara fisik masih potensial maupun tidak potensial.

1. Batasan Lansia
Menurut Setyonegoro, dalam Nugroho ( 2008), pengelompokkan usia
lanjut adalah sebagai berikut :
a. Usia dewasa muda ( Elderly adulhood), 18 atau 20 – 25 tahun
4

b. Usia dewasa penuh ( middle years ) atau maturitas, 25 – 60 atau


65 tahun
c. Lanjut usia ( geriatric age ), lebih dari 65 atau70 tahun. Terbagi
untuk umur 70 – 75 tahun ( young old), 75– 80 tahun (old), dan
lebih dari 80 tahun ( very old ).
Sedangkan menurut WHO tahun 2005, Lanjut usia meliputi
usia pertengahan yakni kelompok usia 45-59 tahun, Lanjut usia
(Elderly) yakni 60-74 tahun, usia lanjut tua (Old) yakni 75-90
tahun, dan usia sangat tua (very old) yakni lebih dari 90 tahun.
2. Tipe Lansia
Beberapa tipe lansia tergantung dari karakter, pengalaman hidup,
lingkungan, kondisi fisik, mental, sosial dan ekonomi (Nugroho,
2008). Tipe tersebut antara lain :
a. Tipe arif bijaksana kaya dengan hikmah, pengalaman,
menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, mempunyai
kesibukan, bersikap ramah, rendah hati, sederhana, dermawan,
memenuhi undangan, dan menjadi panutan
b. Tipe mandiri mengganti kegiatan yang hilang dengan yang
baru, selektif dalam mencari pekerjaan, bergaul dengan teman,
dan memenuhi undangan
c. Tipe tidak puas konflik lahir batin menentang proses penuaan
sehingga menjadi pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung,
sulit dilayani, pengkritik dan banyak menuntut
d. Tipe pasrah menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti
kegiatan agama, dan melakukan pekerjaan apa saja
e. Tipe bingung kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan
diri, minder, menyesal, pasif, dan acuh yak acuh

3. Proses penuaan
Penuaan merupakan konsekuensi yang tidak bisa dihindari oleh
setiap manusia. Walaupun proses penuaan merupakan suatu proses
yang normal, akan tetapi keadaan ini lebih menjadi beban. Hal ini
5

secara keseluruhan tidak dapat dipungkiri oleh beberapa orang yang


lebih merasa menderita karena pengaruh penuaan. Proses penuaan
mempunyai konsekuensi terhadap aspek biologis, psikologis dan sosial
(Watson, 2003).
B. Perubahan-perubahan yang terjadi pada usia lanjut
1. Penurunan Kondisi Fisik
Setelah orang memasuki masa lansia umumnya mulai
dihinggapi adanya kondisi fisik yang bersifat patologis berganda
( multiple pathology ), misalnya tenaga berkurang, energi menurun,
kulit makin keriput, gigi makin rontok, tulang makin rapuh dan
sebagainya. Secara umum kondisi fisik seseorang yang sudah
memasuki masa lansia mengalami penurunan secara berlipat ganda.
Hal ini semua dapat menimbulkan gangguan atau kelainan fungsi
fisik, psikologik maupun sosial, yang selanjutnya dapat
menyebabkan suatu keadaan ketergantungan kepada orang lain.
Dalam kehidupan lansia agar dapat tetap menjaga kondisi
fisik yang sehat, maka perlu menyelaraskan kebutuhan-kebutuhan
fisik dengan kondisi psikologik maupun sosial, sehingga mau tidak
mau harus ada usaha untuk mengurangi kegiatan yang bersifat
memforsir fisiknya. Seorang lansia harus mampu mengatur cara
hidupnya dengan baik, misalnya makan, tidur, istirahat dan bekerja
secara seimbang (Nugroho, 2008).
2. Penurunan Fungsi dan Potensi Seksual
Penurunan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering
kali berhubungan dengan berbagai gangguan fisik seperti :
Gangguan jantung, gangguan metabolisme, misal diabetes millitus,
vaginitis, baru selesai operasi : misalnya prostatektomi, kekurangan
gizi, karena pencernaan kurang sempurna atau nafsu makan sangat
kurang, penggunaan obat-obat tertentu, seperti antihipertensi,
golongan steroid, tranquilizer.
Factor psikologis yang menyertai lansia adalah :
a. Rasa tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual
pada lansia.
b. Sikap keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta
diperkuat oleh tradisi dan budaya.
6

c. Kelelahan atau kebosanan karena kurang variasi dalam


kehidupannya.
d. Pasangan hidup telah meninggal.
e. Disfungsi seksual karena perubahan hormonal atau masalah
kesehatan jiwa lainnya misalnya cemas, depresi, pikun dan
sebagainya.
(Nugroho, 2008)
3. Perubahan Aspek Sosial
Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia
mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi
kognitif meliputi proses belajar, persepsi, pemahaman, pengertian,
perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku
lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik
(konatif) meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan
kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi, yang berakibat
bahwa lansia menjadi kurang cekatan.
Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia
juga mengalami perubahan aspek psikososial yang berkaitan
dengan keadaan kepribadian lansia. Beberapa perubahan tersebut
dapat dibedakan berdasarkan 5 tipe kepribadian lansia sebagai
berikut :
a. Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction personalitiy),
biasanya tipe ini tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan
mantap sampai sangat tua.
b. Tipe Kepribadian Mandiri (Independent personality), pada
tipe ini ada kecenderungan mengalami post power sindrome,
apalagi jika pada masa lansia tidak diisi dengan kegiatan
yang dapat memberikan otonomi pada dirinya.
c. Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent personalitiy), pada
tipe ini biasanya sangat dipengaruhi kehidupan keluarga,
apabila kehidupan keluarga selalu harmonis maka pada masa
lansia tidak bergejolak, tetapi jika pasangan hidup meninggal
maka pasangan yang ditinggalkan akan menjadi merana,
apalagi jika tidak segera bangkit dari kedukaannya.
d. Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), pada
tipe ini setelah memasuki lansia tetap merasa tidak puas
7

dengan kehidupannya, banyak keinginan yang kadang-


kadang tidak diperhitungkan secara seksama sehingga
menyebabkan kondisi ekonominya menjadi morat-marit.
e. Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personalitiy), pada
lansia tipe ini umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya
sendiri sulit dibantu orang lain atau cenderung membuat
susah dirinya.
(Nugroho, 2008)

4. Perubahan yang Berkaitan dengan Pekerjaan

Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun.


Meskipun tujuan ideal pensiun adalah agar para lansia dapat
menikmati hari tua atau jaminan hari tua, namun dalam
kenyataannya sering diartikan sebaliknya, karena pensiun sering
diartikan sebagai kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan,
peran, kegiatan, status dan harga diri. Reaksi setelah orang
memasuki masa pensiun lebih tergantung dari model
kepribadiannya seperti yang telah diuraikan pada point tiga di atas.

Dalam kenyataan ada menerima, ada yang takut kehilangan,


ada yang merasa senang memiliki jaminan hari tua dan ada juga
yang seolah-olah acuh terhadap pensiun (pasrah). Masing-masing
sikap tersebut sebenarnya punya dampak bagi masing-masing
individu, baik positif maupun negatif. Dampak positif lebih
menenteramkan diri lansia dan dampak negatif akan mengganggu
kesejahteraan hidup lansia. Agar pensiun lebih berdampak positif
sebaiknya ada masa persiapan pensiun yang benar-benar diisi
dengan kegiatan-kegiatan untuk mempersiapkan diri, bukan hanya
diberi waktu untuk masuk kerja atau tidak dengan memperoleh gaji
penuh.

Persiapan tersebut dilakukan secara berencana, terorganisasi


dan terarah bagi masing-masing orang yang akan pensiun. Jika
perlu dilakukan assessment untuk menentukan arah minatnya agar
8

tetap memiliki kegiatan yang jelas dan positif. Untuk


merencanakan kegiatan setelah pensiun dan memasuki masa lansia
dapat dilakukan pelatihan yang sifatnya memantapkan arah
minatnya masing-masing. Misalnya cara berwiraswasta, cara
membuka usaha sendiri yang sangat banyak jenis dan macamnya.

Model pelatihan hendaknya bersifat praktis dan langsung


terlihat hasilnya sehingga menumbuhkan keyakinan pada lansia
bahwa disamping pekerjaan yang selama ini ditekuninya, masih
ada alternatif lain yang cukup menjanjikan dalam menghadapi
masa tua, sehingga lansia tidak membayangkan bahwa setelah
pensiun mereka menjadi tidak berguna, menganggur, penghasilan
berkurang dan sebagainya (Nugroho, 2008).

5. Perubahan dalam Peran Sosial Dimasyarakat

Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan,


gerak fisik dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau
bahkan kecacatan pada lansia. Misalnya badannya menjadi
bungkuk, pendengaran sangat berkurang, penglihatan kabur dan
sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan. Hal itu
sebaiknya dicegah dengan selalu mengajak mereka melakukan
aktivitas, selama yang bersangkutan masih sanggup, agar tidak
merasa terasing atau diasingkan. Karena jika keterasingan terjadi
akan semakin menolak untuk berkomunikasi dengan orang lain dan
kdang-kadang terus muncul perilaku regresi seperti mudah
menangis, mengurung diri, mengumpulkan barang-barang tak
berguna serta merengek-rengek dan menangis bila ketemu orang
lain sehingga perilakunya seperti anak kecil.

Dalam menghadapi berbagai permasalahan di atas pada


umumnya lansia yang memiliki keluarga bagi orang-orang kita
(budaya ketimuran) masih sangat beruntung karena anggota
keluarga seperti anak, cucu, cicit, sanak saudara bahkan kerabat
umumnya ikut membantu memelihara (care) dengan penuh
9

kesabaran dan pengorbanan. Namun bagi mereka yang tidak punya


keluarga atau sanak saudara karena hidup membujang, atau punya
pasangan hidup namun tidak punya anak dan pasangannya sudah
meninggal, apalagi hidup dalam perantauan sendiri, seringkali
menjadi terlantar (Nugroho, 2008).

C. Anatomi fisiologi sistem pernafasan

1. Pengertian Sistem Pernapasan

Manusia membutuhkan suply oksigen secara terus-menerus untuk


proses respirasi sel, dan membuang kelebihan karbondioksida sebagai
limbah beracun produk dari proses tersebut. Pertukatan gas antara
oksigen dengan karbondioksida dilakukan agar proses respirasi sel
terus berlangsung. Oksigen yang dibutuhkan untuk proses respirasi sel
ini berasal dari atmosfer, yang menyediakan kandungan gas oksigen
sebanyak 21% dari seluruh gas yang ada. Oksigen masuk kedalam
tubuh melalui perantaraan alat pernapasan yang berada di luar. Pada
manusia, alveolus yang terdapat di paru-paru berfungsi sebagai
permukaan untuk tempat pertukaran gas.

Respirasi adalah pertukaran gas, yaitu oksigen (O 2) yang


dibutuhkan tubuh untuk metabolisme sel dan karbondioksida (CO2)
yang dihasilkan dari metabolisme tersebut dikeluarkan dari tubuh
melalui paru.

Sistem pernapasan adalah pertukaran gas, yaitu oksigen (O²) yang


dibutuhkan tubuh untuk metabolisme sel dan karbondioksida (CO²)
yang dihasilkan dari metabolisme tersebut dikeluarkan dari tubuh
melalui paru.

Sistem pernapasan adalah proses keluar dan masuknya udara ke


dalam dan keluar paru.

Sistem pernapasan adalah proses ganda, yaitu terjadinya pertukaran


gas dalam jaringan atau “pernafasan dalam” dan yang terjadi di dalam
paru-paru yaitu “pernapasan luar”.
10

2. Fungsi Sistem Pernafasan

Fungsi sistem pernapasan adalah untuk mengambil oksigen (O2)


dari atmosfer ke dalam sel-sel tubuh dan untuk mentranspor karbon
dioksida (CO2) yang dihasilkan sel-sel tubuh kembali ke atmosfer.
Organ-organ respiratorik juga berfungsi dalam produksi dalam
produksi wicara dan berperan dalam keseimbangan asam
basa,pertahanan tubuh melawan benda asing,dan pengaturan hormonal
tekanan darah.

3. Struktur Sistem Pernapasan

Sistem respirasi terdiri dari:

1. Saluran nafas bagian atas

Pada bagian ini udara yang masuk ke tubuh dihangatkan, disaring


dan dilembabkan

2. Saluran nafas bagian bawah

Bagian ini menghantarkan udara yang masuk dari saluran bagian


atas ke alveoli

3. Paru, terdiri dari :

a. Alveoli, terjadi pertukaran gas antara O2 dan CO2

b. Sirkulasi paru. Pembuluh darah arteri menuju paru, sedangkan


pembuluh darah vena meninggalkan paru.

4. Rongga Pleura

Terbentuk dari dua selaput serosa, yang meluputi dinding dalam


rongga dada yang disebut pleura parietalis, dan yang meliputi paru
atau pleura viseralis
11

5. Rongga dan dinding dada

Merupakan pompa muskuloskeletal yang mengatur pertukaran


gas dalam proses respirasi

Saluran Napas Bagian Atas

a. Rongga hidung

Udara yang dihirup melalui hidung akan


mengalami tiga hal :

 Dihangatkan
 Disaring
 Dan dilembabkan
Yang merupakan fungsi utama dari selaput
lendir respirasi ( terdiri dari : Psedostrafied
ciliated columnar epitelium yang berfungsi
menggerakkan partikel partikel halus kearah faring sedangkan partikel yang besar
akan disaring oleh bulu hidung, sel goblet dan kelenjar serous yang berfungsi
melembabkan udara yang masuk, pembuluh darah yang berfungsi
menghangatkan udara). Ketiga hal tersebut dibantu dengan concha. Kemudian
udara akan diteruskan ke :

b. Nasofaring (terdapat pharyngeal tonsil dan Tuba Eustachius)


c. Orofaring (merupakan pertemuan rongga mulut dengan faring,terdapat
pangkal lidah)
d. Laringofaring (terjadi persilangan antara aliran udara dan aliran makanan)

Saluran Napas Bagian Bawah


12

a. Laring
Terdiri dari tiga struktur yang penting
 Tulang rawan krikoid
 Selaput/pita suara
 Epilotis
 Glotis
b. Trakhea
Merupakan pipa silider dengan panjang ± 11 cm, berbentuk ¾ cincin
tulang rawan seperti huruf C. Bagian belakang dihubungkan oleh
membran fibroelastic menempel pada dinding depan usofagus.
c. Bronkhi
Merupakan percabangan trakhea kanan dan kiri. Tempat percabangan ini
disebut carina. Brochus kanan lebih pendek, lebar dan lebih dekat
dengan trachea.
Bronchus kanan bercabang menjadi : lobus superior, medius, inferior.
Brochus kiri terdiri dari : lobus superior dan inferior

d. Alveoli
13

Terdiri dari : membran alveolar dan ruang interstisial.

Membran alveolar :

 Small alveolar cell dengan ekstensi ektoplasmik ke arah rongga alveoli


 Large alveolar cell mengandung inclusion bodies yang menghasilkan
surfactant.
 Anastomosing capillary, merupakan system vena dan arteri yang saling
berhubungan langsung, ini terdiri dari : sel endotel, aliran darah dalam
rongga endotel
Interstitial space merupakan ruangan yang dibentuk oleh : endotel kapiler,
epitel alveoli, saluran limfe, jaringan kolagen dan sedikit serum.
Surfactant
Mengatur hubungan antara cairan dan gas. Dalam keadaan normal
surfactant ini akan menurunkan tekanan permukaan pada waktu ekspirasi,
sehingga kolaps alveoli dapat dihindari.
Sirkulasi Paru
Mengatur aliran darah vena – vena dari ventrikel kanan ke arteri
pulmonalis dan mengalirkan darah yang bersifat arterial melaului vena
pulmonalis kembali ke ventrikel kiri.

e. Paru
Merupakan jalinan atau susunan bronhus bronkhiolus, bronkhiolus
terminalis, bronkhiolus respiratoty, alveoli, sirkulasi paru, syaraf, sistem
limfatik.
Rongga dan Dinding Dada
Rongga ini terbentuk oleh:
 Otot –otot interkostalis
 Otot – otot pektoralis mayor dan minor
 Otot – otot trapezius
 Otot –otot seratus anterior/posterior
 Kosta- kosta dan kolumna vertebralis
14

Kedua hemi diafragma

Yang secara aktif mengatur mekanik respirasi.

PARU-PARU
Merupakan jalinan atau susunan bronhus bronkhiolus, bronkhiolus terminalis,
bronkhiolus respiratoty, alveoli, sirkulasi paru, syaraf, sistem limfatik.
15

SIRKULASI PARU
a. Pulmonary blood flow total = 5 liter/menit
Ventilasi alveolar = 4 liter/menit
Sehingga ratio ventilasi dengan aliran darah dalam keadaan normal = 4/5
= 0,8
b. Tekanan arteri pulmonal = 25/10 mmHg dengan rata-rata = 15 mmHg.
Tekanan vena pulmonalis = 5 mmHg, mean capilary pressure = 7 mmHg.
Sehingga pada keadaan normal terdapat perbedaan 10 mmHg untuk
mengalirkan darah dari arteri pulmonalis ke vena pulmonalis
c. Adanya mean capilary pressure mengakibatkan garam dan air mengalir
dari rongga kapiler ke rongga interstitial, sedangkan osmotic colloid
pressure akan menarik garam dan air dari rongga interstitial kearah rongga
kapiler. Kondisi ini dalam keadaan normal selalu seimbang.Peningkatan
tekanan kapiler atau penurunan koloid akan menyebabkan peningkatan
akumulasi air dan garam dalam rongga interstitial.
TRANSPOR OKSIGEN
1. Hemoglobin
Oksigen dalam darah diangkut dalam dua bentuk:
 Kelarutan fisik dalam plasma
 Ikatan kimiawi dengan hemoglobin
Ikatan hemoglobin dengan tergantung pada saturasi O2, jumlahnya dipengaruhi
oleh pH darah dan suhu tubuh. Setiap penurunan pH dankenaikkan suhu tubuh
mengakibatkan ikatan hemoglobin dan O2 menurun.
16

2. Oksigen content
Jumlah oksigen yang dibawa oleh darah dikenal sebagai oksigen content (Ca
O2 )
 Plasma
 Hemoglobin
D. Perubahan anatomi fisiologi sistem pernapasan pada lansia

Berikut adalah penjelasan tentang penyakit pernapasan pada lansia


yang dimulai dengan penjelasan tentang perubahan anatomic dan
fisiologik jantung:

1. Perubahan anatomik pada respirasi

Efek penuaan tersebut dapat terlihat dari perubahan-perubahan


yang terjadi baik dari segi anatomi maupun fisiologinya. Perubahan-
perubahan anatomi pada lansia mengenai hampir seluruh susunan
anatomik tubuh, dan perubahan fungsi sel, jaringan atau organ.
Perubahan anatomi yang terjadi turut berperan terhadap perubahan
fisiologis sistem pernafasan dan kemampuan untuk mempertahankan
homeostasis. Penuaan terjadi secara bertahap sehingga saat seseorang
memasuki masa lansia, ia dapat beradaptasi dengan perubahan yang
terjadi. Perubahan anatomik sistem respirastory akibat penuaan adalah
sebagai berikut :

a. Paru-paru kecil dan kendur.

b. Pembesaran alveoli.

c. Penurunan kapasitas vital ; penurunan PaO2 dan residu

d. Kelenjar mucus kurang produktif

e. Pengerasan bronkus dengan peningkatan resistensi

f. Penurunan sensivitas sfingter esophagush.

g. Klasifikasi kartilago kosta, kekakuan tulang iga pada kondisi


pengembangani.
17

h. Hilangnya tonus otot toraks, kelemahan kenaikan dasar paru.


Penurunan sensivitas kemoreseptor.

(Stanley, 2006).

2. Perubahan Fisiologik pada pernapasan

Menurut Stanley, 2006 perubahan anatomi dan fisiologi yang


terjadi pada lansia, yaitu:

Hilangnya silia serta terjadinya penurunan reflex batuk dan


muntah pada lansia menyebabkan terjadinya penurunan perlindungan
pada sistem respiratory. Hal ini terjadi karena saluran pernafasan tidak
akan segera merespon atau bereaksi apabila terdapat benda asing
didalam saluran pernafasan karena reflex batuk dan muntah pada
lansia telah mengalami penurunan.

Penurunan kompliants paru dan dinding dada. Hal


ini menyebabkan jumlah udara (O2) yang dapat masuk ke
dalam saluran pernafasan menurun dan menyebabkan terjadinya
peningkatan kerja pernafasan guna memenuhi kebutuhan tubuh.

Atrofi otot pernafasan dan penurunan kekuatan otot


pernafasan. Kedua hal ini menyebabkan pengembangan paru tidak
terjadi sebagai mestinya sehingga klien mengalami kekurangan suplay
O2 dan hal ini dapat menyebabkan kompensasi penigkatan RR yang
dapat menyebabkan kelelahan otot-otot pernafasan pada lansia.

Perubahan interstisium parenkim dan penurunan daerah


permukaan
alveolar menyebabkan menurunnya tempat difusi oksigen yang menye
babkan klien kekurangan suplay O2.

Penurunan mortilitas esophagus dang aster serta hilangnya


tonus sfringter kardiak.Hal ini menyebabkan lansia mudah mengalami
aspirasi yang apabila terjadi dapat mengganggu fisiologis pernafasan.
18

Paru-paru kecil dan mengendur. Paru-paru yang mengecil


menyebabkan ruangatau permukaan difusi gas berkurang bila
dibandingkan dengan dewasa.

3. Faktor-Faktor Yang Memperburuk Fungsi Paru


Selain penurunan fungsi paru akibat proses penuaan,
terdapat beberapa faktor yang dapat memperburuk fungsi paru, Faktor-
faktor yang memperburuk fungsi paru antara lain :
a. Faktor merokok
Merokok akan memperburuk fungsi paru, yaitu terjadi
penyempitan saluran nafas. Pada tingkat awal, saluran nafas akan
mengalami obstruksi clan terjadi penurunan nilai VEP1 yang
besarnya tergantung pada beratnya penyakit paru.
(Dharmojo dan Martono, 2006)
b. Obesitas
Kelebihan berat badan dapat memperburuk fungsi paru
seseorang. Pada obesitas, biasanya terjadi penimbunan lemak
pada leher, dada dan (finding perut, akan dapat
mengganggu compliance dinding dada, berakibat penurunan volume
paru atau terjadi keterbatasan gerakan pernafasan (restriksi) dan
timbul gangguan fungsi paru tipe restriktif.
(Dharmojo dan Martono, 2006)
c. Imobilitas
Imobilitas akan menimbulkan kekakuan atau keterbatasan
gerak saat otot-otot berkontraksi, sehingga kapasitas vital paksa
atau volume paru akan relatif' berkurang. Imobilitas karena
kelelahan otot-otot pernafasan pada usia lanjut dapat memperburuk
fungsi paru (ventilasi paru). Faktor-faktor lain yang menimbulkan
imobilitas (paru), misalnya efusi pleura, pneumotoraks, tumor paru
dan sebagainya. Perbaikan fungsi paru dapat dilakukan
dengan menjalankan olah raga secara intensif.
(Dharmojo dan Martono, 2006)
d. Operasi
19

Tidak semua operasi (pembedahan) mempengaruhi faal


paru. Dari pengalaman para ahli diketahui bahwa yang pasti
memberikan pengaruh faal paru adalah:
1) Pembedahan toraks (jantung dan paru)
2) Pembedahan abdomen bagian atas.
3) Anestesi atau jenis obat anastesi tertentu
Peruhahan fungsi paru yang timbul, meliputi perubahan
proses ventilasi, distribusi gas, difusi gas serta perfusi darah
kapiler paru. Adanya perubahan patofisiologik paru pasca
bedah mudah menimbulkan komplikasi paru : atelektasis,
infeksi atau sepsis dan selanjutnya mudah terjadi kematian,
karena timbulnya gagal nafas.
(Dharmojo dan Martono, 2006)
4. Penyakit pernapasan pada Usia Lanjut
Pada proses menua terjadi penurunan compliance dinding dada,
tekanan maksimalinspirasi dan ekspirasi menurun dan elastisistas
jaringan paru juga menurun. Pada pengukuranterlihat FEV1, FVC
menurun, PaO2 menurun, V/Q naik. Penurunan ventilasi alveolar,
merupakanrisiko untuk terjadinya gagal napas. Selain itu terjadi
perubahan berupa (Lukman, 2009):
a. Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga
volume udara inspirasiberkurang, sehingga pernafasan cepat dan
dangkal.
b. Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk
sehingga potensialterjadi penumpukan sekret.
c. Penurunan aktivitas paru ( inspirasi & ekspirasi ) sehingga
jumlah udara pernafasan yangmasuk keparu mengalami
penurunan, kalau pada pernafasan yang tenang kira kira 500 ml.
d. Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang (luas
permukaan normal 50m²), menyebabkan terganggunya prose
difusi.
e. Penurunan oksigen (O2) Arteri menjadi 75 mmHg menggangu
proses oksigenasi darihemoglobin, sehingga O2 tidak terangkut
semua kejaringan.
20

f. CO2 pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2 dalam


arteri juga menurun yang lama kelamaan menjadi racun pada
tubuh sendiri.
g. Kemampuan batuk berkurang, sehingga pengeluaran sekret &
corpus alium dari salurannafas berkurang sehingga potensial
terjadinya obstruksi.
Penyebab kegawatan napas pada lansia meliputi
obstruksi jalan napas atas, hipoksi karenapenyakit paru
obstruktif kronik (PPOK), pneumotoraks, pneumonia aspirasi,
rasa nyeri, bronkopneumonia, emboli paru, dan asidosis
metabolik. Akan tetapi penyakit respirasi yang sering terjadi
pada lansia adalah pneumonia, tuberkulosis paru, sesak napas,
nyeri dada.

E. Gangguan-gangguan pada sistem pernaPasan lansia

1. Pneumonia
a. Pengertian
Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim
paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup
bronkiolus respiratorius, alveoli, serta menimbulkan
konsolidasi jaringan paru dan menimbulkan gangguan
pertukaran gas setempat. Pneumonia memiliki tanda klasik
berupa demam, batuk, sesak. Tetapi pada usia lanjut usia,
gejalanya menjadi atipikal, yaitu suhu normal, takada batuk,
status mental terganggu, nafsu makan menurun, aktivitas
berkurang. Pemeriksaan fisik didapatkan ronki, bronkofoni,
suara napas menurun. Leukosit naik, dan pada rontgen thoraks
terlihat infiltrat (Lukman, 2009).
Perubahan sistem respirasi yang berhubungan dengan
usia yang mempengaruhi kapasitasdan fungsi paru meliputi:
1) Peningkatan diameter anteroposterior dada
2) Kalsifikasi kartilago kosta dan penurunan mobilitas kosta
3) Penurunan efisiensi otot pernapasanPeningkatan rigiditas
paru
4) Penurunan luas permukaan alveoli.
b. Etiologi
21

1) Bakteri
Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut.
Organisme gram positif seperti streptococcus pnemonia, S.
Aureus dan S. Pyogenesis. Bakteri gram negatif seperti
Haemophilus influenza, klabsiella pneumonia dan P.
Aeruginosa.
2) Virus
Disebabkan oleh virus influensa yang menyebar melalui
transmisi droplet. Cytomegalovirus dalam hal ini di kenal
sebagai penyebab utama pnemonia virus.
3) Jamur
Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis
menyebar melalui penghirupan udara yang mengandung
spora dan biasanya ditemukan pada kotoran burung, tanah
serta kompos.
4) Protozoa
Menimbulkan terjadinya pneumocystis sarini pneumonia
(CPC). Biasanya menjangkiti pasien yang mengalami
imunosupresi.
c. Manifestasi klinis
1) Kesulitan dan sakit pada saat bernapas
2) Nyeri pleurutik, nafas dangkal dan mendengkur, takipnea
3) Bunyi napas diatas area yang mengalami konsulidasi
4) Mengecil, kemudian menjadi hilang, krekels, ronkhi,
egofoni
5) Gerakan dada tidak simetris
6) Menggigil dan demam 38,8-41,10C, delirium
7) Batuk kental, produktif
8) Sputum kuning kehijauan kemudian berubah menjadi
kemerahan/berkarat.
d. Pemeriksaan penunjang
1) Sinar X: mengidentifikasi distribusi struktural, dapat juga
menyatakan abses luas/infiltrat, emfiema (staphyococcus),
infiltrat menyebar atau terlokalisasi (bakterial), atau
penyebaran/perluasan infiltrat nodul (virus). Pneumonia
mikoplasma sinar X dada mungkin bersih
2) GDA: tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas
paru yang terlibat dan penyakit paru yang ada.
22

3) Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah: diambil


dengan biopsi jarum, aspirasi transtrakheal, bronkoskopi
fiberotik atau biopsi pembukaan paru untuk mengatasi
organisme penyebab.
4) JDL: leukositosis biasanya ada, meski sel darah putih
rendah terjadi pada infeksi virus, kondisi tekanan imun
memungkinkan berkembangnya pnemonia bakterial.
5) Pemeriksaan serologi: titer virus atau legionella, aglutinin
dingin.
e. Penatalaksanaan
1) Kemoterapi
Pemberian kemoterapi harus berdasarkan petunjuk
penemuan kuman penyebab infeksi (hasil kultur sputum
dan tes sensitivitas kuman terhadap antibodi). Bila
penyakitnya ringan antibiotik diberikan secara oral,
sedangkan bila berat deberikan secara parenteral. Apabila
terdapat penurunan fungsi ginjal akibat proses penuaan,
maka harus diingat kemungkinan penggunaan antibiotik
tertentu perlu penyusaian dosis.
a) Pengobatan umum
b) Terapi oksigen
c) Hidrasi, bila ringan hidrasi oral, tetapi jika berat
dehidrasi dilakukan secara parenteral
d) Fisioterapi
e) Penderita perlu tirah baring dan posisi penderita
perlu diubah-ubah untuk menghindari pneumonia
hipografik, kelemahan dan dekubitus.
2. TB paru
a. Pengertian
Paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh
basilmikobakterium tuberkulosa tipe humanus (jarang oleh
tipe M. Bovinus). TB Paru merupakan penyakit infeksi
penting saluran napas bagian bawah. Basil mikobakterium
tuberculosa tersebut masuk kedalam jaringan paru melalui
saluran napas (droplet infeksion) sampai alveoli, terjadilah
infeksi primer (ghon). Selanjutnya menyebar ke kelenjar
getah bening setempat dan terbentuklah primer kompleks
23

(ranke). Tb paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan


oleh mycobacterium tuberculosis dengan gejala yang sangat
bervariasi (harrison, 2002).
b. Etiologi
Penyebabnya adalah kuman mycobacterium teberculosa.
Sejenis kuman yang berbentuk batang dengan ukuran panjang
1-4/mm dan tebal 0,3-0,6/mm. Sebagian besar kuman terdiri
dari asam lemak (lipid). Lipid ini adalah yang membuat
kuman lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik.
Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam
keadaan dingin (dapat bertahan-tahan dalam lemari es).
c. Tanda dan gejala
1) Berkeringat
2) Batuk disetai dahak lebih dari 3 minggu
3) Sesak napas dan nyeri dada
4) Badan lemah, kurang enak badan pada malam hari walau
tanpa kegiatan
5) Berat badan menurun (penyakit infeksi TB paru dan
ekstra paru, misnadiary).
d. Pemeriksaan diagnostik
1) Kultur sputum adalah mikobakterium tuberkolosis positif
pada tahap akhir penyakit
2) Tes tuberkalin adalah mantolix test reaksi positif (area
indurasi 10-15 mm terjadi 48-72 jam)
3) Foto toraks adalah infiltrasi lesi awal pada area paru atas:
pada tahap dini tampak gambaran bercak-bercak seperti
awan dengan batas tidak jelas: pada aktivitas bayangan,
berupa cincin: pada klasifikasi tampak bayangan bercak-
bercak padat dengan densitas tinggi
4) Bronchografi adalah untuk melihat kerusakan bronkus
atau kerusakan paru karen Tb paru
5) Darah adalah peningkatan leukosit dan laju endapan
darah (LED)
6) Spirometriadalah penurunan fungsi paru dengan
kapasitas vital menurun.
e. Penatalaksanaan
Pengobatan tuberkolosis terbagi menjadi 2 fase yaitu: fase
intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan (4-7 bulan). Paduan
24

obat yang digunakan terdiri dari obat utama dan obat


tambahan. Jenis obat utama yang digunakan sesuai dengan
rekomendasi WHO adalah rifampisin, INH, pirasinamid,
streptomisin dan etambutol. Sedangkan jenis obat tambahan
adalah kanamisin, kulnolon, makvolide, dan amoksilin
ditambah dengan asam klavulanat, derivat rifampisin/INH.
3. Asma
a. Pengertian
Asma adalah penyakit pernapasan obstruktif yang ditandai
oleh spasme otot polos bronkiolus.
Asma adalah obstruksi akut pada bronkus yang disebabkan
oleh penyempitan yang intermiten pada saluran napas di
banyak tingkat mengakibatkan terhalangnya aliran udara.
Asma merupakan gangguan inflamasi kronik jalan napas
yang mengakibatkan berbagai sel inflamasi. Dasar penyakit
ini adalah hiperaktivitas bronkus dalam berbagai tingkat,
obstruksi jalan nafas dan gejala pernafasan (mengi atau
sesak).
Asma adalah gangguan pernapasan pada bronkus yang
menyebabkan penyempitan intermiten pada saluran
pernafasan.
b. Etiologi
Secara etiologis asma dibagi dalam 3 tipe :
1) Asma tipe non atopik (intrinsik)
Pada golongan ini, keluhan tidak adanya hubungan
dengan paparan (exposure) terhadap alergen dan sifat-
sifatnya adalah :
a) Serangan timbul setelah dewasa.
b) Pada keluarga tidak ada yang menderita asma.
c) Penyakit infeksi sering menimbulkan serangan.
d) Ada hubungan dengan pekerjaan dan beban fisik.
e) Rangsangan / stimuli psikis mempunyai peran untuk
menimbulkan serangan reaksi asma.
f) Perubahan-perubahan cuaca atau lingkungan yang
non spesifik merupakan keadaan yang peka bagi
penderita.
2) Asma tipe atopik (ekstrinsik)
25

Pada golongan ini, keluhan ada hubungannya


dengan paparan (exposure) terhadap alergen yang
spesifik. Kepekaan ini biasaanya ditimbulkan dengan uji
kulit atau provokasi bronkial. Pada tipe ini mempunyai
sifat-sifat :
a) Timbul sejak kanak-kanak
b) Pada famili ada yang mengidap asma
c) Ada eksim waktu bayi
d) Sering menderita rinitis
e) Di Inggris penyebabnya house dust mite, di USA
tepung sari bunga rumput
3) Asma Campuran (mixed)
Pada golongan ini, keluhan diperberat oleh faktor-
faktor intrinsik maupun ekstrinsik.
c. Tanda dan Gejala
1) Bising mengi (wheezing) yang terdengar dengan/tanpa
stetoskop
2) Batuk produktif, sering pada malam hari
3) Nafas atau dada seperti tertekan, ekspirasi memanjang
d. Pemeriksaan diagnostic
1) Pemeriksaan test kulit → untuk menunjukkan adanya
alergi dan adanya antibodi kadar Ig E yang spesifik dalam
tubuh.
2) Pemeriksaan kadar Ig E total dan Ig E serum → untuk
menyokong adanya penyakit atopi
3) Pemeriksaan analisa gas darah → dilakukan dengan
pasien asma berat
4) Pemeriksaan eosinofil damal darah → jumlah eosinofil
total dalam darah sering meningkat
5) Pemeriksaan sputum → untuk menilai adanya misellium
aspergius fumigatus
6) Radiologi → dilakukan apabila dan kecurigaan terhadap
proses patologik dipar
e. Penatalaksanaan
1) Pegobatan Medika Mentosa
a) Waktu serangan
 Bronkodilator
 Korkhosteroid
 Ekspektoransia
 Antihistamin
 Antibiotika
26

b) Diluar serangan
 disodium chomoglycate (DSCG)
 ketotijen
2) Pengobatan non Medika Mentosa
a) Waktu serangan
 Pemberian O2
 Pastural drainase
 Pemberian cairan
 Menghindari paparan alergen
b) Diluar serangan
 Pendidikan
 Immunoteraphy/desensitasi
 Pelayanan / kontrol emosi

Tujuan pelaksanaan terapi asma

1) Menyembuhkan dan menendalikan gejala asma


2) Mencegah kekambuhan
3) Mengupayakan fungsi paru senormal mungkin serta
mempertahankan
4) Mengupayakan aktivitas harian pada tingkat normal
5) Menghindari efek samping obat asma
6) Mencegah obstruksif jalan nafas yang irreversible

Terapi awal :

1) O2 4-6 liter/menit
2) Agonis B2
3) Amnofium bolus IV 5 – 6 mg
4) Kortikosteroid hidrokortison
100 – 200 mg IV

Terapi asmak kronik

1) Asma ringan : agnosis B2 inhalasi


2) Asma sedang : anti inflamsi / hr dan agonis B2 inhalasi
bila perlu
3) asmaAberat : steroid inhalasi / hr B 2 long acting, steroid
sedang sehari/dosis tunggal harian dan agnosis B2 inhalasi
sesuai kebutuhan

Respon terapi awal baik didapatkan keadaan :


27

1) Respon menetap selama 60 menit setelah pengobatan


2) Pemeriksaan fisik normal
3) Arus puncak ekspirasi > 70 %
4. Bromkiektasis
a. Pengertian
Bronkiektasis merupakan kelainan morfologis yang terdiri
dari pelebaran bronkus yang abnormal dan menetap disebabkan
kerusakan komponen elastis dan muscular dinding bronkus.
Bronkiektasis berarti suatu dilatasi yang tak dapat pulih
lagi dari bronchial yang disebabkan oleh episode pnemonitis
berulang dan memanjang,aspirasi benda asing, atau massa
( mis. Neoplasma) yang menghambat lumen bronchial dengan
obstruksi.
Bronkiektasis adalah dilatasi permanen abnormal dari salah
satu atau lebih cabang-vabang bronkus yang besar.
b. Etiologi
1) Infeksi
2) Kelainan heriditer atau kelainan konginetal
3) Faktor mekanis yang mempermudah timbulnya infeksi
4) Sering penderita mempunyai riwayat pneumoni sebagai
komplikasi campak, batuk rejan, atau penyakit menular
lainnya semasa kanak-kanak.
c. Tanda dan Gejala
1) Batuk yang menahun dengan sputum yang banyak terutama
pada pagi hari,setelah tiduran dan berbaring.
2) Batuk dengan sputum menyertai batuk pilek selama 1-2
minggu atau tidak ada gejala sama sekali ( Bronkiektasis
ringan )
3) Batuk yang terus menerus dengan sputum yang banyak
kurang lebih 200 - 300 cc, disertai demam, tidak ada
nafsu makan, penurunan berat badan, anemia, nyeri pleura,
dan lemah badan kadang-kadang sesak nafas dan sianosis,
sputum sering mengandung bercak darah,dan batuk darah.
4) Ditemukan jari-jari tabuh pada 30-50 % kasus.
d. Pemeriksaan diagnostic
1) Pemerisaan Laboratorium.
a) Pemeriksaan sputum meliputi Volume sputum, warna
sputum, sel-sel dan bakteri dalam sputum.
28

Bila terdapat infeksi volume sputum akan meningkat,


dan menjadi purulen dan mengandung lebih banyak
leukosit dan bakteri. Biakan sputum dapat
menghasilkan flora normal dari nasofaring,
streptokokus pneumoniae, hemofilus influenza,
stapilokokus aereus,klebsiela, aerobakter,proteus,
pseudomonas aeroginosa. Apabila ditemukan sputum
berbau busuk menunjukkan adanya infeksi kuman
anaerob.
b) Pemeriksaan darah tepi.
Biasanya ditemukan dalam batas normal. Kadang
ditemukan adanya leukositosis menunjukkan adanya
supurasi yang aktif dan anemia menunjukkan adanya
infeksi yang menahun.
c) Pemeriksaan urina
Ditemukan dalam batas normal, kadang ditemukan
adanya proteinuria yang bermakna yang disebabkan
oleh amiloidosis, Namun Imunoglobulin serum
biasanya dalam batas normal Kadan bisa meningkat
atau menurun.
d) Pemeriksaan EKG
EKG biasa dalam batas normal kecuali pada kasus
lanjut yang sudah ada komplikasi korpulmonal atau
tanda pendorongan jantung. Spirometri pada kasus
ringan mungkin normal tetapi pada kasus berat ada
kelainan obstruksi dengan penurunan volume ekspirasi
paksa 1 menit atau penurunan kapasitas vital, biasanya
disertai insufisiensi pernafasan yang dapat
mengakibatkan :
 Ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi
 Kenaikan perbedaan tekanan PO2 alveoli-arteri
 Hipoksemia
 Hiperkapnia
e) Pemeriksaan tambahan untuk mengetahui faktor
predisposisi dilakukan pemerisaan :
 Pemeriksaan imunologi
29

 Pemeriksaan spermatozoa
 Biopsi bronkus dan mukosa nasal( bronkopulmonal
berulang).
2) Pemeriksaan Radiologi.
a) Foto dada PA dan Lateral
Biasanya ditemukan corakan paru menjadi lebih kasar
dan batas-batas corakan menjadi kabur,
mengelompok,kadang-kadang ada gambaran sarang
tawon serta gambaran kistik dan batas-batas
permukaan udara cairan. Paling banyak mengenai lobus
paru kiri, karena mempunyai diameter yang lebih kecil
kanan dan letaknya menyilang mediastinum,segmen
lingual lobus atas kiri dan lobus medius paru kanan.
b) Pemeriksaan bronkografi
Bronkografi tidak rutin dikerjakan namun bila ada
indikasi dimana untuk mengevaluasi penderita yang
akan dioperasi yaitu pendereita dengan pneumoni yang
terbatas pada suatu tempat dan berulang yang tidak
menunjukkan perbaikan klinis setelah mendapat
pengobatan konservatif atau penderita dengan
hemoptisis yang masif.
Bronkografi dilakukan sertalah keadaan stabil,setalah
pemberian antibiotik dan postural drainage yang
adekuat sehingga bronkus bersih dari sekret.
e. Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan adalah memperbaiki drainage sekret dan
mengobati infeksi.
Penatalaksanaan meliputi :
1) Pemberian antibiotik dengan spekrum luas
( Ampisillin,Kotrimoksasol, atau amoksisilin ) selama 5- 7
hari pemberian
2) Drainage postural dan latihan fisioterapi untuk
pernafasan serta batuk yang efektif untuk mengeluarkan
sekret secara maksimal

Pada saat dilakukan drainage perlu diberikan bronkodilator


untuk mencegah bronkospasme dan memperbaiki drainage
30

sekret. Serta dilakukan hidrasi yang adekuat untuk mencegah


sekret menjadi kental dan dilengkapi dengan alat pelembab
serta nebulizer untuk melembabkan sekret.

5. Efusi pleura
a. Pengertian
Efusi pleural adalah penumpukan cairan di dalam ruang
pleural, proses penyakit primer jarang terjadi namun biasanya
terjadi sekunder akibat penyakit lain. Efusi dapat berupa cairan
jernih, yang mungkin merupakan transudat, eksudat, atau dapat
berupa darah atau pus.
Efusi pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang
pleura yang terletak diantara permukaan visceral dan parietal,
proses penyakit primer jarang terjadi tetapi biasanya
merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. Secara
normal, ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5
sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan
permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi.
Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi
penimbunan cairan dalam rongga pleura.
b. Etiologi
1) Hambatan resorbsi cairan dari rongga pleura, karena adanya
bendungan seperti pada dekompensasi kordis, penyakit
ginjal, tumor mediatinum, sindroma meig (tumor ovarium)
dan sindroma vena kava superior.
2) Pembentukan cairan yang berlebihan, karena radang
(tuberculosis, pneumonia, virus), bronkiektasis, abses
amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura, karena
tumor dimana masuk cairan berdarah dan karena trauma. Di
Indonesia 80% karena tuberculosis.

Kelebihan cairan rongga pleura dapat terkumpul pada proses


penyakit neoplastik, tromboembolik, kardiovaskuler, dan
infeksi. Ini disebabkan oleh sedikitnya satu dari empat
mekanisme dasar :
31

1) Peningkatan tekanan kapiler subpleural atau limfatik


2) Penurunan tekanan osmotic koloid darah
3) Peningkatan tekanan negative intrapleural
4) Adanya inflamasi atau neoplastik pleura
c. Tanda dan gejala
1) Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit
karena pergesekan, setelah cairan cukup banyak rasa sakit
hilang. Bila cairan banyak, penderita akan sesak napas.
2) Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam,
menggigil, dan nyeri dada pleuritis (pneumonia), panas
tinggi (kokus), subfebril (tuberkulosisi), banyak keringat,
batuk, banyak riak.
3) Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi
jika terjadi penumpukan cairan pleural yang signifikan.
4) Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan
berlainan, karena cairan akan berpindah tempat. Bagian
yang sakit akan kurang bergerak dalam pernapasan,
fremitus melemah (raba dan vocal), pada perkusi didapati
daerah pekak, dalam keadaan duduk permukaan cairan
membentuk garis melengkung (garis Ellis Damoiseu).
5) Didapati segitiga Garland, yaitu daerah yang pada perkusi
redup timpani dibagian atas garis Ellis Domiseu. Segitiga
Grocco-Rochfusz, yaitu daerah pekak karena cairan
mendorong mediastinum kesisi lain, pada auskultasi daerah
ini didapati vesikuler melemah dengan ronki.
6) Pada permulaan dan akhir penyakit terdengar krepitasi
pleura.
d. Pemeriksaan diagnostic
1) Pemeriksaan radiologik (Rontgen dada), pada permulaan
didapati menghilangnya sudut kostofrenik. Bila cairan lebih
300ml, akan tampak cairan dengan permukaan
melengkung. Mungkin terdapat pergeseran di mediatinum.
2) Ultrasonografi
3) Torakosentesis / pungsi pleura untuk mengetahui
kejernihan, warna, biakan tampilan, sitologi, berat jenis.
Pungsi pleura diantara linea aksilaris anterior dan posterior,
pada sela iga ke-8. Didapati cairan yang mungkin serosa
32

(serotorak), berdarah (hemotoraks), pus (piotoraks) atau


kilus (kilotoraks). Bila cairan serosa mungkin berupa
transudat (hasil bendungan) atau eksudat (hasil radang).
4) Cairan pleural dianalisis dengan kultur bakteri, pewarnaan
gram, basil tahan asam (untuk TBC), hitung sel darah
merah dan putih, pemeriksaan kimiawi (glukosa, amylase,
laktat dehidrogenase (LDH), protein), analisis sitologi
untuk sel-sel malignan, dan pH.
5) Biopsi pleura mungkin juga dilakukan
e. Penatalaksanaan
1) Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab
dasar, untuk mencegah penumpukan kembali cairan, dan
untuk menghilangkan ketidaknyamanan serta dispneu.
Pengobatan spesifik ditujukan pada penyebab dasar (co;
gagal jantung kongestif, pneumonia, sirosis).
2) Torasentesis dilakukan untuk membuang cairan, untuk
mendapatkan specimen guna keperluan analisis dan untuk
menghilangkan disneu.
3) Bila penyebab dasar malignansi, efusi dapat terjadi kembali
dalam beberapa hari tatau minggu, torasentesis berulang
mengakibatkan nyeri, penipisan protein dan elektrolit, dan
kadang pneumothoraks. Dalam keadaan ini kadang diatasi
dengan pemasangan selang dada dengan drainase yang
dihubungkan ke system drainase water-seal atau
pengisapan untuk mengevaluasiruang pleura dan
pengembangan paru.
4) Agen yang secara kimiawi mengiritasi, seperti tetrasiklin
dimasukkan kedalam ruang pleura untuk mengobliterasi
ruang pleural dan mencegah akumulasi cairan lebih lanjut.
5) Pengobatan lainnya untuk efusi pleura malignan termasuk
radiasi dinding dada, bedah plerektomi, dan terapi diuretic.

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN
33

A. PENGKAJIAN
1. Riwayat Kesehatan Sekarang

Pengkajian riwayat pasien saat ini meliputi alasan pasien yang

menyebabkan terjadi keluhan / gangguan dalam pernapasan.

2. Riwayat Keperawatan Dahulu

Pengkajian riwayat penyakit di masa lalu yang berhubungan dengan

pernapasan.

3. Riwayat Keperawatan Keluarga

Pengkajian riwayat penyakit keluarga, misalnya tentang ada atau tidaknya

riwayat alergi, asma, stroke, penyakit jantung, diabetes melitus.

4. Perubahan Intoleransi Aktivitas

Pengkajian intoleransi aktivitas dapat berhubungan dengan perubahan

sistem pernapasan dan sistem kardiovaskular.

5. Perubahan psikologis

Pengkajian perubahan psikologis yang disebabkan oleh adanya gangguan

respirasi, antara lain perubahan perilaku, peningkatan emosi, Perubahan

pola hidup, ansietas, ketakutan,peka rangsang

dan sebagainya.

6. Pola Kesehatan

a. Aktivitas / Istirahat

Tanda : Keletihan, kelemahan, malaise, ketidak mampuan

melakukan aktifitas sehari-hari karena sulit bernafas.

b. Sirkulasi
34

Tanda : Pembengkakan pada ekstremitas bawah, peningkatan

tekanan darah,takikardi.

c. Makanan / cairan

Mual / muntah, anoreksia, ketidakmampuan untuk makan karena

distress pernafasan, turgor kulit buruk, berkeringat.

d. Higiene

Penurunan kemampuan / peningkatan kebutuhan bantuan melakukan

aktifitas sehari-hari, kebersihan buruk, bau badan.

e. Pernafasan

Nafas pendek, rasa dada tertekan, dispneu, penggunaan otot bantu

pernafasan.

f. Keamanan

Riwayat reaksi alergi / sensitif terhadap zat atau faktor lingkungan.

g. Seksualitas

Penurunan libido.

h. Interaksi sosial

Hubungan ketergantungan, kurang sistem pendukung, keterbatasan

mobilitas fisik.

(Doengoes, 2000 :152 ).

B. PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. Chest X-Ray : dapat menunjukkan hiperinflation paru, flattened


diafragma, peningkatan ruang udara retrosternal, penurunan tanda
vaskular/bulla (emfisema), peningkatan bentuk bronchovaskular
(bronchitis), normal ditemukan saat periode remisi (asthma)
b. Pemeriksaan Fungsi Paru : dilakukan untuk menentukan penyebab dari
dyspnea, menentukan abnormalitas fungsi tersebut apakah akibat
35

obstruksi atau restriksi, memperkirakan tingkat disfungsi dan untuk


mengevaluasi efek dari terapi, misal : bronchodilator
c. TLC : meningkat pada bronchitis berat dan biasanya pada asthma,
menurun pada emfisema
d. Kapasitas Inspirasi : menurun pada emfisema
e. FEV1/FVC : ratio tekanan volume ekspirasi (FEV) terhadap tekanan
kapasitas vital (FVC) menurun pada bronchitis dan asthma
f. ABGs : menunjukkan proses penyakit kronis, seringkali PaO2 menurun
dan PaCO2 normal atau meningkat (bronchitis kronis dan emfisema)
tetapi seringkali menurun pada asthma, pH normal atau asidosis,
alkalosis respiratori ringan sekunder terhadap hiperventilasi (emfisema
sedang atau asthma)
g. Bronchogram : dapat menunjukkan dilatasi dari bronchi saat inspirasi,
kollaps bronchial pada tekanan ekspirasi (emfisema), pembesaran
kelenjar mukus (bronchitis)
h. Darah Komplit : peningkatan hemoglobin (emfisema berat),
peningkatan eosinofil (asthma)
i. Kimia Darah : alpha 1-antitrypsin dilakukan untuk kemungkinan kurang
pada emfisema primer
j. Sputum Kultur : untuk menentukan adanya infeksi, mengidentifikasi
patogen, pemeriksaan sitologi untuk menentukan penyakit keganasan
atau allergi
k. ECG : deviasi aksis kanan, gelombang P tinggi (asthma berat), atrial
disritmia (bronchitis), gel. P pada Leads II, III, AVF panjang, tinggi
(bronchitis, emfisema), axis QRS vertikal (emfisema)
l. Exercise ECG, Stress Test : menolong mengkaji tingkat disfungsi
pernafasan, mengevaluasi keefektifan obat bronchodilator,
merencanakan/evaluasi program.

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Ketidak Efektifan Jalan Napas yang berhubungan dengan


,Bronchospasme, Peningkatan produksi sekret (sekret yang tertahan,
kental), Menurunnya energi/fatique
2. Gangguan Pertukaran gas yang berhubungan dengan ,Kurangnya suplai
oksigen (obstruksi jalan nafas oleh sekret, bronchospasme, air trapping),
Destruksi alveoli
36

3. Ketidak efektifan pola napas berhubungan dengan sekeret yang


berlebihan dan kental (Infeksi, Inflamasi, alergi, merokok, penyakit
jantung atau paru )

D. INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI ASUHAN KEPERAWATAN

Intervensi dan rasional pada penyakit ini didasarkan pada konsep Nursing
Intervention Classification (NIC) dan Nursing Outcome Classification
(NOC).

Diagnoa Keperawatan Perencanaan


No
(NANDA) Tujuan (NOC) Intervensi (NIC) & Rasional
1 Ketidak Efektifan Jalan Status Respirasi : Kebersihan a. Manajemen jalan nafas
Rasional : untuk
Nafas yang berhubungan jalan nafas # Setelah dilakukan
menghindari terjadi
dengan : asuhan keperawatan selama 3
nya obtruktif jalan
 Bronchospasme x 24 jam diharapkan lendir
 Peningkatan produksi dapat keluar dan sesak nafas nafas yang disebabkan
sekret (sekret yang berkurang dengan kriteria : oleh peningkatan
tertahan, kental) sekret
 Tidak ada demam
 Menurunnya b. Latih batuk efektif
 Tidak ada cemas Rasional : bertujuan
energi/fatique  RR dalam batas normal
 Irama nafas dalam batas untuk mengeluarkan
Data-data
normal sekrek
 Klien mengeluh sulit c. Terapi oksigen
 Pergerakan sputum
untuk bernafas Rasional : untuk
keluar dari jalan nafas
 Perubahan memenuhi kebutuhan
 Bebas dari suara nafas
kedalaman/jumlah oksigen
tambahan
nafas, penggunaan d. Pemberian posisi
Rasional : mengatur
otot bantu pernafasan
 Suara nafas abnormal posisi dapat

seperti : wheezing, meningkatkan sirkulasi


e. Monitoring tanda vital
ronchi, crackles Rasional : untuk
 Batuk (persisten)
mengetahui keadaan
dengan/tanpa
umum pasien
produksi sputum.
menghindari
komplikasi
2 Gangguan Pertukaran gas Status Respirasi : Pertukaran a. Manajemen asam dan
37

yang berhubungan dengan : gas # Setelah dilakukan asuhan basa tubuh


Rasional : mencegah
 Kurangnya suplai keperawatan selama 3 x 24 jam
komplikasi akibat
oksigen (obstruksi diharapkan lendir dapat keluar
penurunan atau
jalan nafas oleh dan sesak nafas berkurang
peningkatan PCO2
sekret, dengan kriteria :
b. Manajemen jalan nafas
bronchospasme, air  Status mental dalam Rasional : untuk
trapping) batas normal memfasilitasi
 Destruksi alveoli  Bernafas dengan mudah kepatenan jalan nafas
 Tidak ada cyanosis c. Terapi oksigen
Data-data :
 PaO2 dan PaCO2 dalam Rasional : memberikan
 Dyspnea
batas normal oksigen dan memantau
 Confusion, lemah
 Saturasi O2 dalam
 Tidak mampu aktivitas
rentang normal d. Monitoring tanda vital
mengeluarkan secret
 Nilai ABGs abnormal Rasional : untuk

(hipoxia dan mengetahui keadaan

hiperkapnia) umum pasien


 Perubahan tanda vital menghindari
 Menurunnya toleransi
komplikasi
terhadap aktifitas.
3 Ketidak Efektifan Pola Status Nutrisi : pola nafas a. Kaji riwayat gejala
Rasional : Untuk bisa
Napas yang berhubungan efektif # Setelah dilakukan
melakukan tindakan
dengan : asuhan keperawatan selama 3
selanjutnya
 Sekeret yang x 24 jam diharapkan lendir b. Kaji faktor penyebab
berlebihan dan dapat keluar dan sesak nafas Rasional : untuk
kental, sekunder berkurang. Hari dengan mencegah dan
akibat (infeksi, kriteria : mengatasi sesak
inflementasi, alergi,  Memiliki frekuensi berulang.
c. Jelaskan penyebab
merokok, penyakit pernapasan dalam batas
ketidak efektifan pola
jantung atau paru) normal di bandingkan
 Imobilita,statis napas pada klien
dengan nilai dasar (8- Rasional : untuk
sekeret dan batuk 24/menit) menambah
tidak efektif  Menyebutkan faktor
pengetahuan klien
Data : penyebab, berikut cara
tentang penyebab
 Tidak mampu mencegah dan
ketidak efektifan pola
38

mengeluarkan secret mengatasinya. nafas


 Perubahan tanda vital e. Manajemen jalan nafas
 Menurunnya toleransi Rasional : untuk
terhadap aktifitas memfasilitasi
kepatenan jalan nafas
f. Terapi oksigen
Rasional : memberikan
oksigen dan memantau
aktivitas
g. Monitoring tanda vital
Rasional : untuk
mengetahui keadaan
umum pasien
menghindari
komplikasi

I. EVALUASI

Evaluasi dilakukan setelah melaksanakan implementasi keperwatan.

Indikator keberhasilan dari implementasi adalah tercapinya NOC

(Nursing outcome) sesuai dengan kriteria hasil pada masing-masing

diagnosa
39

BAB IV

ANALISA JURNAL

A. Analisa Penelitian
1. Populasi

Populasi pada penilitian ini adalah lansia di UPT PSLU Kabupaten Jember
yani sebanyak 14 lansia dan keseluruhan populasi dijadikan sampel pada
penelitian.

2. Intervention
Instrumen pada penelitian ini adalah tehnik observasi untuk mengetahui
nilai Respiratori rate RR dan Aliran Puncak Respirasi APE Lansia sebelum
dan setelah dilakukan Diaphragmatic Breathing Exercise. dengan intervensi
diaphragmatic breathing exercise sekali dalam sehari selama 14 hari.
B. Critikal Apraisal For Quantitative Research
1. Judul dan Abstract
Judul Jurnal sesuai dengan Isi Jurnal yaitu “ Pengaruh Diaphragmatic
Breathing Exercise terhadap Fungsi Pernapasan (RR dan APE) pada
Lansia di UPT PSLU Kabupaten Jember"

a. Tujuan umum disebutkan sepintas pada Abstrak untuk mengetahui


pengaruh diaphragmatic breathing exercise terhadap fungsi pernapasan
(RR dan APE) pada lansia dan Tujuan Khusus tidak dijelaskan dalam
Jurnal.

b. Abstrak memberikan informasi tidak lengkap dimana pada Abstrak


hanya dijabarkan tujuan umum, jenis penelitian, Metode, tempat, jumlah
sampel, hasil dan kesimpulan dan tidak terdapat latar belakang pada
Abstrak.

2. Justifikasi, Metode dan desain


40

a. Di dalam jurnal pada latar belakang tidak dijelaskan secara lengkap


alasan melakukan penelitian.

b. Tinjauan pustaka dalam jurnal cukup.

c. Hipotesis dalam penelitian ini tidak dicantumkan.

d. Penelitian menggunakan dengan pre Eksperimen dengan satu grup


Pretest dan Postest .

3. Sampling

Sampel pada penelitian ini sebanyak 14 lansia dengan metode pengambilan


sampel purvosive sampling dengan jumlah sampe 14 lansiayang di berikan
intervensi diaphragmatic breathing exsercise. Tidak dijelaskan kriteria
inklusi dan ekslusi pada jurnal.

4. Pengumpulan data

Cara pengumpulan data melalui teknik observasi yakni pengukuran nilai RR


dan APE setiap sebelum dan sesudah melakukan diaphragmatic breathing
exercise.

5. Pertimbangan Etik

a. Ethical approval dari komite etik di dalam jurnal tidak dijelaskan.

b. Tidak dijelaskan dalam jurnal tentang informed consent.

6. Analisa data dan hasil

Hasil penelitian disampaikan dengan jelas, adanya tabel pada hasil


penelitian, jurnal hanya menunjukkan interpretasi dari masing-masing tabel.
Analisis data menggunakan uji t dependen dengan α = 5%. Hasil
penghitungan uji statistik didapatkan p value 0,000 (p < 0,05) baik pada
nilai RR maupun APE. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa
41

diaphragmatic breathing exercise memiliki pengaruh yang signifikan


terhadap fungsi pernapasan (RR dan APE) pada lansia

7. Hasil dan Keterbatasan Penelitian

a. Hasil pada penelitian dapat digunakan pada perawat dan petugas UPT
PSLU

b. Dari penelitian ini menunjukan bahwa diaphragmatic breathing exercise


memiliki pengaruh yang signifikan terhadap fungsi pernapasan (RR dan
APE) pada lansia. Saran dari penelitian ini adalah diaphragmatic
breathing exercise dapat dilakukan oleh semua lansia secara teratur
untuk memperlambat proses penurunan serta meningkatkan fungsi
pernapasan lansia.

c. Dalam jurnal tidak dijelaskan tentang saran penelitian selanjutnya.

8. Hubungan hasil penelitian dengan kondisi riil di klinis atau di lapangan

Belum ada sumber yang mengatakan bahwa tehnik diaphragmatic breathing


exercies sudah diterapkan di UPT PSLU Kabupaten Jember.

9. Kelebihan jurna.

a. Peneliti melakukan obsevasi secara langsung dan melakukan pencatatan


secara mandiri.

b. Metode penelitian diuraikan cukup jelas yaitu sampel, tempat penelitian,


Desain dan Metode Pengumpulan Data.

c. Pembahasan dilegkapi dengan referensi yang jelas.

d. Kesimpulan penelitian diuraikan dengan jelas

e. Jurnal dilengkapi denga tabel perbandingan hasil sebelum dan sesudah


di lakukan diaphragmatic breathing exercies.
42

f. Jurnal dilengkapi dengan saran

10. Kekurangan jurnal

a. Pada abstrak penelitian tidak ditampilkan latar belakang penelitian

b. Tidak ada pendahuluan pada jurnal

c. Jurnal tidak menjelaskan manfaat penelitian

d. Pada metode penelitian tidak dijelaskan bagaimana jalannya penelitian

e. Jurnal tidak menjelaskan kriteria inklusi dan ekslusi sampel

f. Penelitian tidak mencantumkan gambar tehnik tehnik diaphragmatic


breathing exercies.

g. Jurnal tidak dielngkapi penjelasan tentang etik penelitian dan informed


consent

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
43

1. Usia lanjut adalah suatu kejadian yang pasti akan dialami oleh semua
orang yang dikaruniai usia panjang, terjadinya tidak bisa di hindari
siapapun. Usia tua adalah periode penutup dalam rentang hidup
seseorang, yaitu periode dimana seseorang telah “beranjak jauh” dari
periode terdahulu yang lebih menyenangkan atau beranjak dari waktu
yang penuh dengan manfaat (Hurlock, 2000).
2. Batasan Lansia menurut Setyonegoro, dimana usia dewasa muda
( Elderly adulhood) 20 – 25 tahun, usia dewasa penuh ( middle years )
atau maturitas 25 – 60 atau 65 tahun, lanjut usia ( geriatric age ), lebih
dari 65 atau70 tahun. Terbagi untuk umur 70 – 75 tahun ( young old),
75– 80 tahun (old), dan lebih dari 80 tahun ( very old ).
2. Menurut WHO tahun 2005, Lanjut usia
meliputi usia pertengahan yakni kelompok usia 45-59 tahun, Lanjut
usia (Elderly) yakni 60-74 tahun, usia lanjut tua (Old) yakni 75-90
tahun, dan usia sangat tua (very old) yakni lebih dari 90 tahun.
3. Tipe lansia tergantung dari karakter,
pengalaman hidup, lingkungan, kondisi fisik, mental, sosial dan
ekonomi
4. Proses penuaan merupakan konsekuensi
yang tidak bisa dihindari oleh setiap manusia. Walaupun proses
penuaan merupakan suatu proses yang normal, akan tetapi keadaan ini
lebih menjadi beban.
5. Perubahan-perubahan yang terjadi pada usia
lanjut seperti penurunan kondisi fisik, penurunan fungsi dan potensi
seksual, perubahan aspek sosial, perubahan yang berkaitan dengan
pekerjaan, dan perubahan dalam peran sosial dimasyarakat
6. Perubahan anatomi fisiologi sistem
pernapasan pada lansia yaitu perubahan anatomik pada respirasi,
perubahan fisiologik pada pernapasan, faktor-faktor yang
memperburuk fungsi paru, dan penyakit pernapasan pada usia
lanjut
7. Gangguan pada sistem pernafasan pada
lansia seperti pneumonia, tb paru, asma, bromkiektaksis, dan epusi
pleura
44

8. Asuhan keperawatan pada lansia dengan


gangguan sistem pernafasan meliputi pengkajian, diagnose, intervensi,
implementasi, dan evaluasi
B. Saran
1. Bagi Institusi
Diaharapkan agar institusi lebih mengembangkan pendidikan
keperawatan gerontik, khusus nya gangguan system pernapasan pada
lansia serta asuhan keperawatan yang tepat
2. Bagi Mahasiswa
Diharapkan agar mahasiswa dapat memahami tentang system
pernafasan pada lansia serta asuhan keperawatan yang tepat pada
lansia.

DAFTAR PUSTAKA

Adi W. Gunawan. 2004. Genius Learning Strategy. Jakarta : Gramedia Pustaka


Utama

Alimul H, A Aziz. 2006. Pengantar KDM Aplikasi Konsep & Proses


Keperawatan. Jakarta:Salemba Medika
45

Gunawan, Adi. 2001. MekanismedanMekanikaPergerakanOtot.INTEGRAL, vol.


6, no. 2. Jakarta

Johnson, M., Maas, M., Moorhead, S. 2008.Nursing Outcomes Classification


Fifth Edition. Mosby, Inc : Missouri.

Mubarak, W.I., Chayatin, N. 2008. Buku Ajar KebutuhanDasarManusia:


TeoridanAplikasidalampraktik. Jakarta : EGC

McCloskey, J.C., Bulechek, G.M. 2008. Nursing Intervention Classification Fifth


Edition. Mosby, Inc : Missouri.

NANDA International. 2013.Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi


2012-2014.Jakarta:EGC

Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Edisi 4. Jakarta : EGC

Tucker, Susan, Mary, Eleaner, Majorie. 1998.Standar perawatan pasien : proses


keperawatan, diagnosis, dan evaluasi. Jakarta : EGC

Towarto, Wartonah. 2007. KebutuhanDasar& Prose Keperawatan Edisi 3.


Jakarta: Salemba Medika.

Maryam SR, Ekasari MF, Rosidawati,Jubaedi A, Batubara I. Mengenal usia lanjut


dan perawatannya. Jakarta: Salemba Medika; 2008.