You are on page 1of 39

Mintol tambahkan bab 1, edit daftar isi

Maaci cayannkk
KEPERAWATAN JIWA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KIS (KERUSAKAN


INTERAKSI SOSIAL)

OLEH :

Annisa Pratiwi (P07120216031)


Ketut Yuni Handayani (P07120216032)
Ida Ayu Putu Gayatri Prabha (P07120216033)

KELAS 3A
D-IV KEPERAWATAN TINGKAT III SEMESTER V

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR

JURUSAN KEPERAWATAN

TAHUN 2018
KATA PENGANTAR
“Om Swastyastu”

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa/ Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang
telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
dengan judul "Asuhan Keperawatan pada Padien KIS"mata kuliah Keperawatan Jiwa di Politeknik
Kesehatan Denpasar tepat pada waktu yang telah ditentukan.

Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan dan motivasi berbagai pihak. Untuk itu, dalam
kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan yang telah membantu.

Kami menyadari makalah ini masih banyak kekurangan karena keterbatasan kemampuan penulis.
Untuk itu kami mengharapkan saran dan kritik yang bersifat konstruktif sehingga kami dapat
menyempurnakan makalah ini.

“Om Santih, Santih, Santih, Om”

Denpasar, 27 September 2018

Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..............................................................................i
DAFTAR ISI .....................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..............................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ..............................................................................2
1.3 Tujuan ..........................................................................................2
1.4 Manfaat ..........................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Aspek Legal Keperawatan ..................................................................3
2.2 Fungsi Aspek Legal Pelayanan Kesehatan Gawat
Darurat Bagi Perawat ..................................................................5
2.3 Peran Perawat dalam Penanganan Kasus Emergensi ..................5
2.4 Aspek Legal Mengenai Keperawatan
Kegawatdaruratan .............................................................................6
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan .......................................................................................12
3.2 Saran .......................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................13
BAB I

PENDAHULUAN

2.1 Latar Belakang

2.2 rumusan masalah

2.3 Tujuan

2.4 Manfaat
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
Kerusakan interaksi sosial atau isolasi sosial adalah keadaan dimana seorang
individu mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan
orang di sekirarnya. Menurut Depkes RI (2000), kerusakan interaksi sosial adalah suatu
gangguan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel
menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam kubungan
sosial. Balitbang (2007) berpendapat, kerusakan interaksi sosial merupakan upaya
menghindari suatu hubungan komunikasi dengan orang lain karena merasa kehilangan
hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk berbagi rasa, pikiran, dan
kegagalan. Kemudian, menurut Stuart dan Sudeen (1998), kerusakan interaksi sosial
adalah satu gangguan kepribadian yang tidak fleksibel, tingkah maladaptif, dan
mengganggu fungsi individu dalam hubungan sosialnya. Towsend mengemukakan,
kerusakan interaksi sosial adalah suatu keadaan dimana seseorang berpartisipasi dalam
pertukaran sosial dengan kuantitas dan kualitas yang tidak efektif. Klien yang mengalami
kerusakan interaksi sosial mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain, salah
satunya mengarah pada menarik diri.
2.2 Rentang Respon Sosial
Dalam membina hubungan sosial, individu berada dalam rentang respon yang adaptif
sampai dengan maladaptif. Respon adaptif merupakan respon yang diterima oleh norma-
norma sosial dan kebudayaan yang secara umum berlaku. Sedangkan respon maladaptif
merupakan respon yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah yang kurang
dapat diterima oleh norma sosial dan budaya setempat.

Adaptif Maladaptif

 Menyendiri  Merasa sendiri  Impulsif


 Otonomi  Dependensi  Manipulasi
 Bekerjasama  Menarik diri  narcisissm
 Interdependen
Rentang Penjelasan
Respon
Menyendiri Merupakan respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa
(solitide) yang telah dilakukan di lingkungan sosialnya dan suatu cara untuk
mengevaluasi diri untuk menentukan langkah selanjtnya. Solitude
umumnya dilakukan setekah melakukan kegiatan.
Otonomi Kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide-ide,
pikiran, perasaan dalam hubungan sosial.
Bekerja sama Suatu kondisi dalam hubungan interpersonal dimana individu tersebut
(mutualisme) mampu untuk saling memberi dan menerima
Saling Merupakan kondisi saling bergantung antara individu dengan yang
tergantung lainnya dalam membina hubungan interpersonal.
(interdependen)
Merasa sendiri Biasanya disebutjuga dengan kesepian. Dimanifestasikan dengan
(loneliness) merasa tidak tahan dan untuk satu alasan atau yang lain menganggap
bahwa dirinya sendirian dalam menghadapi masalah, cenderung
pemalu, sering merasa tidak percaya diri dan minder, atau merasa
kurang bisa bergaul.
Menarik diri Merupakan suatu keadaan dimana seseorang menemukan kesulitan
dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain.
Tergantung Terjadi apabila seseorang gagal mengembangkan ras percaya diri atau
(dependens) kemampuannya untuk berfungsi secara sukses, gambaran utama dari
gangguan ini adalah kesulitan dengan “perpisahan”, gangguan cemas,
sehingga berkecenderungan berpikiran untuk bunuh diri.
Manipulasi Sebuah proses rekayasa dengan melakukan penambahan,
persembunyian, penghilangan atau pengkaburan terhadap bagian atau
keseluruhan sebuah realitas, kenyataan, fakta-fakta ataupun sejarah
yang dilakukan berdasarkan sistem perancangan sebuah tata sistem
nilai sehingga manipulasi adalah bagian terpenting dari tindakan
penanaman gagasan, sikap, sistem berpikir, perilaku dan kepercayaan
tertentu. Manipulasi merupakan gangguan hubungan sosial yang
terdapat pada individu yang menganggap orang lain sebagai objek.
Individu tersebut tidak dapat membina hubungan sosial secara
mendalam.
Impulsif Merupakan dorongan yang didasarkan keinginan atau untuk pemuasan
atau keinginan secara sadar maupun tidak sadar. Tindakan impulsif
berarti suatu tindakan yang didasarkan dengan adanya dorongan untuk
mengekspresikan keinginan atau bertindak tanpa berpikir terlebih
dahulu. Hal ini biasanya terjadi pada para pecandu.

2.3 Etiologi
2.3.1 Faktor Predisposisi
Beberapa faktor predisposisi (pendukung) terjadi gangguan hubungan sosial yaitu:
1. Faktor perkembangan, kemampuan membina hubungan yang sehat
tergantung dari pengalaman selama proses tumbuh kembang. Setiap tahap
tumbuh kembang memiliki tugas yang harus dialui individu dengan sukses,
karena apabila tugas perkembangan ini tidak dapat dipenuhi akan
menghambat masa perkembangan selanjutnya. Kurangnya stimulasi, kasih
sayang, perhatian, dan kehangatan dari orang tua/ pengasuh akan
memberikan rasa tidak aman yang dapat menghambat terbentuknya rasa
tidak percaya.

Tahap Perkembangan Tugas


Masa bayi Menetapkan rasa percaya
Masa bermain Mengembangkan otonomi dan awal
perilaku mandiri
Masa pra sekolah Belajar menunjukkan inisiatif, rasa
tanggung jawab, dan hati nurani.
Masa sekolah Belajar berkompetisi, bekerja sama, dan
berkompromi.
Masa pra remaja Menjalin hubungan intim dengan teman
sesama jenis kelamin
Masa remaja Menjadi intim dengan teman lawan jenis
atau tergantung.
Masa dewasa muda Menjadi saling bergantung antara orang tua
dan teman, mencari pasangan, menikah dan
mempunyai anak.
Masa tengah baya Belajar menerima hasil kehidupan yang
sudah dilalui
Masa dewasa tua Berduka karena kehilangan dan
mengembangkan perasaan keterikatan
dengan budaya.
Sumber : Stuart dan Sudeen (1995), dikutip dari Ade Hermawan (2011)
2. Faktor komunikasi dalam keluarga
Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor pendukung isolasi
sosial. Dalam teori ini yang termasuk masalah berkomunikasi sehingga
menimbulkan ketidakjelasan (double bind) yaitu suatu keadaan dimana
seseorang anggora keluarga menerima pesan yang saling bertentangan
dalam waktu bersamaan dan ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga
yang menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan di luar keluarga.
3. Faktor biologis, genetik merupakan salah satu faktor pendukung gangguan
jiwa. Kelainan struktur otak seperti atropi, pembesaran ventrikel, penurunan
berat dan volume otak serta perubahan limbik diduga dapat menyebabkan
skizofrenia.
4. Faktor sosial budaya, faktor sosial budaya dapat menjadi faktor pendukung
terjadinya gangguan dalam membina hubungan dengan orang lain. Hal ini
disebabkan oleh norma yang salah dianut oleh keluarga, misalnya anggota
keluarga yang tidak produktif seperti usia lanjut, menderita penyakit kronis,
dan penyandang cacat diasingkan dari orang lain.
2.3.2 Stressor Presipitasi
1. Stressor sosial budaya, stressor sosial budaya menyebabkan terjadinya
gangguan dalam membian hubungan dengan orang lain, misalnya anggota
keluarga yang labil yang dirawat di rumah sakit.
2. Stressor psikologis, tingkat kecemasan yang berat akan menyebabkan
menurunnya kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain.
Intensitas kecemasan yang ekstrim dan memanjang disertai terbatasnya
kemampuan individu untuk mengatasi masalah diyakini akan menimbulkan
berbagai masalah berupa menarik diri.
2.3 Batasan Karakteristik (pakai NANDA/SDKI)
Menurut Towsend, M.C. (1998) yang dikutip dari Abdul Muhith (2015), tanda dan gejala
dari seseorang yang mengalami kerusakan interaksi sosial atau isolasi sosial adalah sebagai
berikut:
1. Kurang spontan
2. Apatis (acuh tak acuh terhadap lingkungan)
3. Ekspresi wajah kurang berseri (berekspresi sedih)
4. Afek tumpul
5. Tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri
6. Komunikasi verbal menurun atau tidak ada
7. Klien tidak bercakap-cakap dengan klien lain atau perawat
8. Mengisolasi diri (menyendiri)
9. Pemasukan makan dan minuman terganggu
10. Retensi urine dan feses
11. Aktivitas menurun
12. Kurang energi
13. Harga diri rendah
14. Posisi janin pada saat tidur
15. Menolak berhubungan dengan orang lain.

Perilaku ini biasanya disebabkan karena harga diri rendah, yang menyebabkan timbulnya
perasaan malu untuk berinteraksi dengan orang lain. Bila tidak dilakukan intervensi lebih
lanjut, maka akan menyebabkan perubahan persepsi sensori, halusinasi dan risiko
mencederai diri, orang lain, bahkan lingkungan.

2.4 Pohon Masalah

HALUSINASI

HDR

Isolasi Sosial

2.5 Pengkajian Klien Isolasi Sosial (PAKAI YUSUF, UNAIR)


Pengkajian klien isolasi sosial dapat dilakukan melalui wawancara, observasi, serta
pemeriksaan fisik kepada klien dan keluarga. Data yang harus dikaji adalah ; identitas
klien, alasan masuk rumah sakit, faktor predisposisi, fisik, psikolososial (berupa
genogram, konsep diri, hubungan sosial, spiritual), status mental, kebutuhan persiapan
pulang, mekanisme koping, masalah psikososial dan lingkungan, tingkat pengetahuan,
dan aspek medis.
1. Identitas
2. Keluhan utama
Keluhan utama yang menyebabkan pasien dibawa ke rumah sakit biasanya akibat
adanya kemunduran kemauan dan kedangkalan emosi.
3. Faktor presidposisi
Faktor predisposisi sangat erat kaitannya dengan faktor etiologi yakni faktor
perkembangan, komunikasi dalam keluarga, biologis dan sosial budaya.
4. Psikososial
a. Genogram
Orang tua penderita skizofrenia salah satu kemungkinan anaknya 7-16%
juga mengidap skizofrenia.
b. Konsep diri
Kemunduran kemauan dan kedangkalan emosi yang mengenai pasien
akan memengaruhi konsep diri pasien.
c. Hubungan sosial
Klien cenderung menarik diri dari lingkungan pergaulan, suka melamun,
dan berdiam diri.
d. Spiritual
Aktivitas spiritual menurun seiring dengan kemunduran kemauan.
5. Status mental
a. Penampilan diri
Pasien tampak lesu, tak bergairah, rambut acak-acakan, penampilan tampak
acak-acakan.
b. Pembicaraan
Nada suara rendah, lambat, kurang bicara, apatis.
c. Aktivitas motorik
Kegiatan yang dilakukan tidak bervariatif, kecenderungan mempertahankan
pada satu posisi yang dibuatnya sendiri (katalepsia).
d. Emosi
Emosi dangkal.
e. Afek
Dangkal, tak ada ekspresi roman muka.
f. Interaksi selama wawancara
Cenderung tidak kooperatif, kontak mata kurang, tidak mau menatap lawan
bicara, diam.
g. Persepsi
Tidak terdapat halusinasi atau waham.
h. Proses berpikir
Gangguan proses berpikir jarang ditemukan.
i. Kesadaran
Kesadaran berubah, kemampuan mengadakan hubungan serta pembatasan
dengan dunia luar dan dirinya sendiri sudah terganggu pada taraf tidak sesuai
dengan kenyataan (secara kualitatif).
j. Memori
Tidak ditemukan gangguan spesifk, orientasi tempat, waktu, dan orang.
k. Kemampuan penilaian
Tidak dapat mengambil keputusan, tidak dapat bertindak dalam suatu
keadaan, selalu memberikan alasan meskipun alasan tidak jelas atau tidak
tepat.
l. Tilik diri
Tidak ada yang khas.
6. Kebutuhan sehari-hari
Pada permulaan, penderita kurang memperhatikan diri dan keluarganya, makin
mundur dalam pekerjaan akibat kemunduran kemauan. Minat untuk memenuhi
kebutuhannya sendiri sangat menurun dalam hal makan, BAB/BAK, mandi,
berpakaian, dan istirahat tidur.

Tanda dan gejala isolasi sosial yang dapat ditemukan dengan wawancara, adalah:
 Klien menceritakan perasaan kesepiam atau ditolak oleh orang lain
 Klien merasa tidak aman berada dengan orang lain
 Klien mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang lain
 Klien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu
 Klien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan
 Klien merasa tidak berguna
 Klien tidak yakin dapat melangsungkan hidup

Pertanyaan–pertanyaan berikut merupakan pertanyaan yang dapat ditanyakan


pada waktu wawancara untuk mendapatkan data subjektif:

 Bagaimana pendapat Klien terhadap orang-orang di sekitarnya?


(keluarga atau tetangga)
 Apakah Klien mempunyai teman dekat? Bila punya, siapa teman dekat
itu?
 Apa yang membuat Klien tidak memiliki orang terdekat dengannya?
 Apa yang Klien inginkan dari orang-orang di sekitarnya?
 Apakah ada perasaan tidak aman yang dialami oleh Klien ?
 Apa yang menghambat hubungan yang harmonis antara Klien dengan
orang sekitarnya?
 Apakah Klien merasakan bahwa waktu begitu lama berlaku?
 Apakah pernah ada perasaan ragu untuk bisa melanjutkan kehidupan?

Tanda dan gejala isolasi sosial yang dapat ditemukan dengan observasi, adalah:
 Klien banyak diam dan tidak mau bicara
 Klien menyendiri dan tidak mau berinteraksi dengan orang yang terdekat
 Klien tampak sedih, ekspresi datar dan dangkal
 Kontak mata kurang

Contoh: Melakukan Pengkajian Klien Isolasi Sosial

Orientasi:
“Om Swastyastu Bapak/Ibu....Saya perawat dari puskesmas. Nama Bapak/Ibu siapa? Senang
dipanggil apa?”
“Bagaimana perasaan Bapak/Ibu hari ini?”
“Baiklah, sekarang kita mau diskusikan mengenai bagaimana hubungan Bapak/Ibu dengan
orang di sekitar sini. Berapa lama kita mau berdiskusi? Mau dimana?”
Kerja:
“dengan siapa bapak/Ibu tinggal serumah? Siapa yang paling dekat?”
“Apa yang membuat Bapak/Ibu tidak dekat dengan orang lain?”
“apa saja kegiatan yang biasa Bapak/Ibu lakukan saat bersama keluarga? Bagaimana dengan
teman-teman yang lain?”
“Apakah ada pengalaman yang tidak menyenangkan ketika bergaul dengan orang lain?”
“Apakah ada yang menghambat Bapak/Ibu dalam berteman atau bercakap-cakap dengan
orang lain?”
Terminasi:
“Baiklah, bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah kita bercakap-cakap?”
“Jadi apa saja tadi yang membuat Bapak/Ibu tidak senang bercakap-cakap dengan orang
lain?” (Perawat merangkum beberapa alasan Klien tidak mau berinteraksi dengan orang lain
melalui percakapan yang telah dilakukan)
”Coba dalam dua hari ini Bapak/Ibu mengingat hal-hal apa yang membuat tidak ingin
bercakap-cakap dengan orang lain.”
“Dua hari lagi saya akan kemari, jam....., kita akan bercakap-cakap tentang keuntungan
bercakap-cakap dengan orang lain dan kerugian tidak bergaul.”
“saya mohon pamit, Ibu/Bapak. Selamat pagi.”

2.6 Diagnosis Keperawatan


Diagnosis keperawatan yang dapat ditegakkan adalah:

Isolasi Sosial

Batasan Karakteristik:
Batasan Mayor
 Subjektif  Objekyif
o Ingin sendirian o Menarik diri
o Merasa tidak aman di o Tidak
tempat umum berminat/menolak
berinteraksi dengan
orang lain atau
lingkungan.
Batasan Minor
 Subjektif  Objektif
o Merasa berbeda o Afek datar
dengan orang lain o Afek sedih
o Riwayat ditolak
o Merasa asyik o Menunjukkan
dengan pikiran permusuhan
sendiri o Tidak mampu
o Merasa tidak memenuhi
mempunyai tujuan harapan orang
yang jelas lain
o Merasa waktu o Kondisi difabel
berjalan lambat o Tindakan tidak
(bosan). berarti
o Tidak ada
kontak mata
o Perkembangan
terlambat
o Tidak
bergairah/lesu
o Sakit
o Tindakan tidak
berani
o Tidak ada
sistem
pendukung
o Ketidaksesuaian
budaya
Faktor yang berhubungan
 Keterlambatan perkembangan  Ketidaksesuaian nilai-nilai dengan
 Gangguan kesehatan norma budaya
 Ketidakmampuan menjalin hubungan  Perilaku sosial tidak sesuai norma
yang memuaskan  Perubahan penampilan fisik
 Ketidaksesuaian minat terhadap tahap  Perubahan status mental
perkembangan  Ketidakadekuatan sumber daya
personal (mis., pencapaian buruk,
kesadaran diri buruk, tidak ada afek
dan pengendalian diri buruk).

2.7 Tindakan Keperawatan

Diagnosis Tujuan Tujuan Khusus Intervensi Rasional


Keperawatan Umum
Isolasi Sosial Klien dapat TUK 1: 1. Mengucapkan salam Hubungan
berinteraksi Membina hubungan setiap kali saling percaya
dengan saling bercaya (BHSP) berinteraksi dengan merupakan
orang lain Klien. landasan utama
Setelah diberikan 2. Perkenalkan diri untuk hubungan
asuhan keperawatan dengan sopan. selanjutnya.
selama .....x pertemuan, 3. Tanyakan nama dan
Klien dapat menerima nama panggilan
kehadiran perawat, dan Klien dengan sopan.
Klien dapat 4. Menanyakan
mengungkapkan perasaan dan
perasaan dan keluhan Klien saat
keberadaannya saat ini ini
secara verbal dengan 5. Jelaskan tujuan
memenuhi kriteria pertemuan.
hasil:
1. Mau menjawab 6. Buat kontrak asuhan
salam yang jelas: apa yang
2. Ada kontak saudara akan
mata lakukan bersama
3. Mau berjabat Klien, berapa lama
tangan. akan dikerjakan, dan
4. Mau berkenalan tempatnya dimana.
5. Mau menjawab 7. Bersikap jujur dan
pertanyaan menepati janji.
6. Mau duduk 8. Ciptakan lingkungan
berdampingan yang tenang dan
dengan perawat. bersahabat.
7. Mau 9. Jelaskan bahwa
mengungkapkan saudara akan
perasaannya. merahasiakan
informasi yang
diperoleh untuk
kepentingan terapi.
10. Setiap saat
tunjukkan sikap
empati terhadap
Klien.
11. Beri perhatian dan
penghargaan: temani
Klien walau tidak
menjawab.
12. Dengarkan dengan
empati beri
kesempatan bicara,
jangan buru-buru,
tunjukan bahwa
perawat mengikuti
pembicaraan Klien.
13. Penuhi kebutuhan
dasar Klien bila
memungkinkan.
TUK 2: Klien dapat 1. Kaji pengetahuan Memberi
menyebutkan penyebab Klien mengenai kesempatan
menarik diri. perilaku menarik utntuk
diri. mengungkapkan
Setelah diberikan 2. Tanyakan pada perasaannya
asuhan keperawatan Klien tentang: orang dapat
selama .....x pertemuan, yang tinggal mengurangi
Klien dapat serumah/teman stres dan
menyebutkan minimal sekamar Klien, penyebab
satu penyebab menarik orang terdekat di perasaan
diri yang berasal dari: rumah/di ruang menarik diri.
a. Diri sendiri perawatan, apa yang
b. Orang lain membuat Klien
c. Lingkungan mendekati dan
menjauhi orang
tersebut, upaya yang
telah dilakukan
untuk mendekatkan
diri dengan orang
lain.
3. Tanyakan apa yang
menyebabkan Klien
tidak ingin
berinteraksi dengan
orang lain.
4. Beri kesempatak
klien untuk
mengungkapkan
perasaan penyebab
menarik diri atau
mau bergaul.
5. Diskusikan dengan
Klien perilaku
menarik diri, tanda-
tanda serta penyebab
yang muncul.
6. Diskusikan
keuntungan bila
Klien memiliki
banyak teman dan
bergaul akrab
dengan mereka.
7. Diskusikan kerugian
bila Klien hanya
mengurung diri dan
tidak bergaul dengan
orang lain.
8. Jelaskan pengaruh
isolasi sosial
terhadap kesehatan
fisik Klien.
9. Berikan
pujian/reinforcement
positif terhadap
kemampuan Klien
dalam
mengungkapkan
perasaannya.
TUK 3: 1. Kaji pengetahuan Untuk
Klien dapat klien tentang mengetahui
menyebutkan manfaat dan keuntungan dari
keuntungan keuntungan bergaul dengan
berhubungan dengan berhubungan dengan orang lain dan
orang lain dan kerugian orang lain. mengetahui
tidak berhubungan a. Beri kesempatan kerugian bila
dengan orang lain. kepada klien tidak
untuk berhubungan
Setelah diberikan mengungkapkan dengan orang
asuhan keperawatan perasaan tentang lain.
selama .....x pertemuan, keuntungan
Klien dapat: berhubungan
1. menyebutkan dengan orang
keuntungan lain.
berhubungan b. Diskusikan
dengan orang lain, bersama klien
misal: tentang manfaat
a. Banyak teman berhubungan
b. Tidak kesepian dengan orang
c. Bisa diskusi lain
d. Saling c. Beri pujian
menolong terhadap
2. Menyebutkan kemampuan
kerugian tidak mengungkapkan
berhubungan perasaan tentang
dengan orang lain, keuntungan
misal: berhubungan
a. Sendiri
b. Tidak punya dengan orang
teman, kesepian lain.
c. Tidak ada teman 2. Kaji pengetahuan
ngobrol klien tentang
kerugian bila tidak
berhubungan dengan
orang lain.
a. Beri kesempatan
kepada klien
untuk
mengungkapkan
perasaan dengan
orang lain.
b. Diskusikan
bersama klien
tentang kerugian
tidak
berhubungan
dengan orang
lain
c. Berikan pujian
terhadap
kemampuan
Klien
mengungkapkan
kerugian tidak
berhubungan
dengan orang
lain.
TUK 4: 1. Kaji kemampuan klien Mengeksplorasi
Klien dapat membina hubungan perasaan Klien
melaksanakan dengan orang lain klien terhadap
hubungan sosial secara 2. Motivasi dan bantu perilaku
bertahap. Klien untuk menarik diri
berhubungan dengan yang biasa
Setelah diberikan orang lain melalui dilakukan serta
asuhan keperawatan tahap: untuk
selama .....x pertemuan, e. Klien-perawat mengetahui
Klien dapat f. Klien-perawat- perilaku
mendemonstrasikan perawat lain menarik diri dan
hubungan sosial secara g. Klien-perawat- dengan bantuan
bertahap, yaitu : perawat lain-klien perawat bisa
a. Klien-perawat lain membedakan
b. Klien-perawat- h. Klien-keluarga/ perilaku
perawat lain kelompok/ konstruktif dan
c. Klien-perawat- masyarakat. destruktif.
perawat lain- 3. Beri reinforcement
klien lain positif atas keberhasilan
d. Klien-keluarga/ yang telah dicapai.
kelompok/ 4. Bantu Klien unuk
masyarakat. mengevaluasi manfaat
berhubungan.
5. Diskusikan jadwal
harian yang dapat
dilakukan bersama
Klien dalam mengisi
waktu luang.
6. Memotivasi klien agar
melakukan kegiatan
sesuai dengan jadwal
yang telah dibuat.
7. Beri reinforcement
positif atas kegiatan
Klien sesuai jadwal
yang dibuat.
TUK 5: 1. Dorong Klien untuk Klien dapat
Klien dapat mengungkapkan mengungkapkan
mengungkapkan perasaanya bila perasaannya
perasaannya setelah berhubungan dengan setelah
berhubungan dengan orang lain/kelompok. berhubungan
orang lain. 2. Diskusikan dengan dengan orang
Setelah diberikan Klien tentang perasaan lain.
asuhan keperawatan manfaat berhubungan
selama .....x pertemuan, dengan orang lain.
Klien dapat 3. Beri reinforcement
mengungkapkan positif atas kemampuan
perasaan setelah Klien mengungkapkan
berhubungan dengan perasaannya
orang lain untuk diri berhubungan dengan
sendiri dan orang lain orang lain.
untuk:
1. Diri sendiri
2. Orang lain
3. Kelompok
TUK 6: 1. Bina hubungan Memberikan
Klien dapat saling percaya penanganan
memberdayakan sistem dengan keluarga: bantuan terapi
pendukung atau salam, perkenalan melalui
keluarga mampu diri, sampaikan pengumpulan
mengembangkan tujuan, buat kontrak, data yang
kemampuan klien untuk eksplorasi perasaan lengkap dan
berhubungan dengan klien. akurat kondisi
orang lain. 2. Diskusikan fisik dan non
pentinganya peranan fisik klien serta
Kriteria hasil: keluarga sebagai keadaan
1. Setelah diberikan pendukung untuk perilaku dan
asuhan keperawatan mengatasi perilaku sikap
selama .....x menarik diri. keluarganya.
pertemuan, keluarga 3. Diskusikan dengan
dapat menjelaskan anggota keluarga
tentang: tentang : perilaku
a. Pengertian menarik diri,
menarik diri dan termasuk penyebab,
tanda gejalanya akibat jika perilaku
b. Penyebab dan menarik diri tidak
akibat menarik ditangani, cara
diri keluarga
c. Cara merawat menghadapi Klien
Klien dengan menarik diri.
menarik diri. 4. Diskusikan potensi
keluarga untuk
2. Setelah ...x membantu
pertemuan keluarga mengatasi Klien
dapat menarik diri.
mendemonstrasikan 5. Latih keluarga
cara merawat Klien merawat Klien
dengan menarik menarik diri.
diri. 6. Tanyakan perasaan
keluarga setelah
mencoba cara yang
dilatih.
7. Anjurkan anggota
keluarga untuk
memberi dukungan
kepada Klien untuk
berkomunikasi
dengan orang lain.
8. Doronga anggota
keluarga secara rutin
dan bergantian
menjenguk klien
minimal satu kali
seminggu.
9. Beri reinforcement
atas hal-hal yang
telah dicapai
keluarga.
TUK 7: 1. Diskusikan dengan Melatih klien
Klien dapat klien tentang mandiri dalam
menggunakan obat kerugian dan menggunakan
dengan benar dan tepat. keuntungan tidak obat dan
minum, serta menyadarkan
Kriteria hasil: karakteristik obat klien bahwa
1. Setelah diberikan yang diminum obat yang
asuhan keperawatan (nama, dosis, digunakannya
selama .....x frakuensi, efek harus diminum
interaksi, klien samping minum sesuai anjuran
mampu obat) dokter.
menyebutkan : 2. Bantu dalam
a. Manfaat minum menggunakan obat
obat dengan prinsip 6
benar.
b. Kerugian tidak 3. Anjurkan klien
minum obat minta sendiri
c. Nama, warna, obatnya kepada
dosis, efek perawat agar klien
samping obat dapat merasakan
2. Setelah ...x manfaatnya.
interaksi, klien 4. Beri reinforcement
mampu positif bila klien
mendemonstrasikan menggunakan obat
penggunaan obat dengan benar.
dan menyebutkan 5. Diskusikan akibat
akibat terhenti berhenti minum obat
minum obat tanpa tanpa konsultasi
konsultasi dokter. dengan dokter.
6. Anjurkan klien
untuk konsultasi
dengan
dokter/perawat
apabila terjadi hal-
hal yang tidak
diinginkan.

2.8 Evaluasi
1. Evaluasi kemampuan klien
 Klien menjelaskan kebiasaan interaksi.
 Klien menjelaskan penyebab tidak bergaul dengan orang lain.
 Klien menyebutkan keuntungan bergaul dengan orang lain.
 Klien menyebutkan kerugian tidak bergaul dengan orang lain.
 Klien memperagakan cara berkenalan dengan orang lain.
 Klien bergaul/berinteraksi dengan perawat, keluarga dan tetangganya.
 Klien menyampaikan perasaan setelah interaksi dengan orang lain.
 Klien menggunakan obat dengan patuh.
2. Evaluasi kemampuan keluarga
 Keluarga menyebutkan masalah isolasi sosial dan akibatnya.
 Keluarga menyebutkan penyebab dan proses terjasinya isolasi sosial.
 Keluarga membantu klien berinteraksi dengan orang lain.
 Keluarga melibatkan klien melakukan kegiatan di rumah tangga.
Lampiran

SP 1 Klien: Membina Hubungan Saling Percaya (merupakan bagian orientasi dari tiap
percakapan), membantu pasien mengenal penyebab isolasi sosial.

Orientasi
“selamat pagi Bapak/Ibu”
“saya AK saya senang dipanggil A, saya perawat di ruang mawar ini. yang akan merawat Ibu.”
“siapa nama ibu?”
“senang dipanggil siapa?”
“bagaimana perasaan S hari ini?”
“apa keluhan S hari ini?”
“bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang keluarga dan teman-teman S hari ini?”
“mau dimana kita bercakap-cakap”
“mau berapa lama kita bercakap-cakap?”
“bagaimana kalau 15 menit?”
“Bagaimana kalau kita mengobrol selama setengah jam?”
Kerja:
“dengan siapa bapak/Ibu tinggal serumah? Siapa yang paling dekat?”
“siapa yang jarang bercakap-cakap dengan S”
“Apa yang membuat Bapak/Ibu tidak dekat dengan orang lain?”
“apa saja kegiatan yang biasa Bapak/Ibu lakukan saat bersama keluarga? Bagaimana dengan
teman-teman yang lain?”
“Apakah ada pengalaman yang tidak menyenangkan ketika bergaul dengan orang lain?”
“Apakah ada yang menghambat Bapak/Ibu dalam berteman atau bercakap-cakap dengan
orang lain?”
Terminasi:
“Baiklah, bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah kita bercakap-cakap?”
“Jadi apa saja tadi yang membuat Bapak/Ibu tidak senang bercakap-cakap dengan orang
lain?” (Perawat merangkum beberapa alasan Klien tidak mau berinteraksi dengan orang lain
melalui percakapan yang telah dilakukan)
”Coba dalam dua hari ini Bapak/Ibu mengingat hal-hal apa yang membuat tidak ingin
bercakap-cakap dengan orang lain.”
“besok saya akan kemari, jam 10 pagi., kita akan bercakap-cakap tentang keuntungan
bercakap-cakap dengan orang lain dan kerugian tidak bergaul.”
“saya mohon pamit, Ibu/Bapak. Selamat pagi.”

SP 2 Klien: Membantu Klien Menyadari Masalah Isolasi Sosial Klien

Orientasi:
“selamat pagi bapak/ibu”
“bagaimana perasaan bapak/ibu hari ini? Masih ada hal-hal yang membuat bapak/ibu tidak ingin
bercakap-cakap dengan orang lain?”
“seperti janji seminggu yang lalu, hari ini kita akan diskusi tentang apa yang menyebabkan
bapak/ibu kurang suka bergaul, keuntungan bergaul, dan kerugian bila tidak bergaul dengan orang
lain. Mau berapa lama kita mengobrol bapak/ibu? Disini saja ya Bapak/ibu?”
Kerja:
“menurut bapak/ibu apa saja keuntungan kalau kita mempunyai teman? Wah, benar, ada teman
bercakap-cakap. Apa lagi? (sampai Klien menyebutkan beberapa). Nah, kalau kerugianya tidak
mempunyai teman apa ya bapak/ibu? Ya, apa lagi? (sampai Klien dapat menyebutkan beberapa).
Jadi banyak juga ruginya tidak punya teman ya. Kalau begitu inginkah bapak/ibu belajar bergaul
dengan orang lain?
Terminasi:
“bagaimana perasaan bapak/ibu setelah kita tahu untungnya bergaul dan ruginya tidak
bergaul?”
“iya, ada 3 keuntungannya (sebutkan!) dan ada 4 kerugian tidak bergaul (sebutkan!)”
“coba nanti diingat-ingat lagi apa untungnya bergaul dan ruginya tidak bergaul.”
“nah, dua hari lagi saya akan datang, dan kita akan bicarakan cara bergaul dengan orang
lain.”
“selamat pagi pak, sampai jumpa”
SP 3 Klien: Melatih Klien Beinteraksi Secara Bertahap (mengajarkan Klien berkenalan)

Orientasi:
“selamat pagi bapak/ibu. Bagaimana perasaan hari ini? Masih ada untungnya bergaul dengan
ornga lain yang belum kita bicarakan? Bagaimana kegiatannya? Masih ada? Bagus sekali.”
“hari ini kita akan belajar tentang bagaimana memulai berhubungan dengan orang lain. Kita
akan belajar berapa lama? Mau dimana bapak/ibu?”
Kerja:
“begini lho pak/ibu, untuk berkenalan dengan orang lain kita sebutkan dlu nama kita dan nama
panggilan yang kita sukai. Contoh: bama saya Pak Made Ranggi, senang dipanggil Made.”
“selanjutnya Bapak/Ibu menanyakan nama orang yang diajak berkenalan. Contohnya: nama
bapak/ibu siapa? Senang dipanggil siapa?”
“ayo pak/bu dicoba! Misalnya saya belum kenal dengan bapak/ibu. Coba berkenalan dengan
saya!”
“ya, bagus sekali. Coba sekali lagi. Bagus sekali”
“setelah bapak/ibu berkenalan dengan orang tersebut, bapak/ibu bisa melanjutkan percakapan
tentang hal-hal yang menyenangkan Bapak/ibu bicarakan. Misalnya tentang cuaca, tentang
hobi, tentang keluarga, pekerjaan dan sebagainya.”
Terminasi
“bagaimana perasaan S setelah latihan berkenalan ini?”
“coba bapak/ibu peragakan lagi berkenalan dengan orang lain.”
“bagus sekali.”
“Selanjutnya S dapat mengingat-ingat apa yang kita pelajari tadi selama saya tidak ada
sehingga S lebih siap untuk berkenalan dengan orang lain. S mau mempraktekkan ke orang
lain? Mau jam berapa mencobanya? Mari kita masukkan pada jadwal kegiatan hariannya.”
“besok saya akan kemari lagi untuk mengajak S berkenalan dengan teman saya, Perawat N.
Bagaimana, S mau kan?”
“baik kalau begitu saya undur diri, selamat pagi S”
SP 4 Klien: Melatih Klien Beinteraksi Secara Bertahap (berkenalan dengan orang
pertama, seorang perawat)

Oreintasi
“selamat pagi S, bagaimana perasaan S hari ini?”
“sudah diingat-ingat lagi pelajaran kita tentang berkenalan? Coba sebutkan lagi sambil
bersalaman dengan suster.”
“bagus sekali, S masih ingat. Nah, seperti janji saya, saya akan mengajak S mencoba
berkenalan dengan teman saya, perawat N. Tidak lama kok, sekitar 10 menit.”
“ayo kita temui perawat N.”
Kerja
(bersama-sama S, saudara mendekati perawat N)
“selamat pagi perawat N, S ingin berkenalan dengan anda.”
“baiklah S, S bisa berkenalan dengan peawat N seperti yang kita praktikkan kemarin.”
(Klien mendemonstrasikan cara berkenalan dengan perawat N: memberi salam, menyebutkan
nama, menanyakan nama perawat, dan seterusnya)
“ada lagi yang S ingin tanyakan kepada perawat N? Coba tanyakan tentang keluarga perawat
N.”
“kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, S bisa sudahi perkenalan ini. Lalu S bisa buat
janji bertemu lagi dengan perawat N, misalnya jam 1 siang nanti.”
“baiklah perawat N, karena S sudah selesai berkenalan, saya dan S akan kembali ke ruangan
S. Selamat pagi.”
(bersama-sama Klien, saudara akan meninggalkan perawat N untuk melakukan terminasi
dengan S di tempat lain)
Terminasi
“bagaimana perasaan S setelah berkenalan dengan perawat N?”
“S tampak bagus sekali saat berkenalan tadi”
“Pertahankan terus apa yang sudah S lakukan tadi. Jangan lupa untuk menanyakan topik lain
supaya perkenalan berjalan lancar. Misalnya menanyakan keluarga, hobi, dan sebagainya.
Bagaimana? Mau coba dengan perawat lain? Mari kita masukkan pada jadwlanya. Mau berapa
kali sehari? Bagaimana kalau 2 kali? Baik, nanti S coba sendiri. Besok kita latihan lagi ya, mau
jam berapa? Jam 10? Baik, sampai besok S.

SP 5 klien: Melatih Klien Beinteraksi Secara Bertahap (berkenalan dengan orang kedua,
seorang Klien)

Oreintasi
“selamat pagi S, bagaimana perasaan S hari ini?”
“Apakah S bercakap-cakap dengan perawat N kemarin siang?.”
(jika jawabannya ya, saudara bisa melanjutkan komunikasi berikutnya ke orang lain)
“bagus sekali. Bagaimana perasaan S setelah bercakap-cakap dengan perawat N kemarin
siang?”
“Bagus sekali, S menjadi senang karena punya teman lagi.”
“kalau begitu, S ingin punya banyak teman lagi?”
“bagaimana kalau sekarang kita berkenalan lagi dengan orang lain, yaitu Klien O?”
“mari kita temui dia di ruang makan”

Kerja
(bersama-sama S, saudara mendekati O)
“selamat pagi, ini ada Klien saya yang ingin berkenalan.”
“baiklah, S sekarang bisa berkenalan dengannya seperti yang telah S lakukan sebelumnya.”
(Klien mendemnstrasikan cara berkenalan: memberi salam, menyebutkan nama, nama
panggilan, asal, dan hobi dan menyanyakan hal yang sama)
“ada lagi yang S ingin tanyakan kepada O?”
“kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, S bisa sudahi perkenalan ini. Lalu S bisa buat
janji bertemu lagi, misalnya bertemu lagi jam 4 sore nanti.”
(S membuat janji untuk bertemu kembali dengan O)
“baiklah O, karena S sudah selesai berkenalan, saya dan S akan kembali ke ruangan S. Selamat
pagi.”
(bersama-sama Klien, saudara meninggalkan perawat O untuk melakukan terminasi dengan S
di tempat lain.)
Terminasi
“bagaimana perasaan S setelah berkenalan dengan O?”
“dibandungkan kemarin pagi, N tampak lebih baik saat berkenalan dengan O.”
“Pertahankan apa yang sudah S lakukan tadi. Jangan lupa untuk bertemu kembali dengan O
jam 4 sore nanti.”
“delanjutnya, bagaimana jika kegiatan berkenalan dan bercakap-cakap dengan orang lain kita
tambahkan lagi di jadwal harian? Jadi satu hari S dapat berbincang-bincang dengan orang
lain sebanyak tiga kali, jam 10 pagi, jam 1 siang, dan jam 8 malam. S bida bertemu dengan N
dan tambah dengan Klien yang baru dikenal. Selanjutnya S bisa berkenalan dengan orang lain
lagi secara bertahap. Bagaimana S, apakah S setuju?”
“baiklah, besok kita bertemu lagi untuk membicarakan pengalaman S. Pada jam yang sama
dan tempat yang sama, ya. Sampai besok.”

SP 1 Keluarga: Memberikan penyuluhan kepada keluarga tentang masalah isolasi sosial,


penyebab isolasi sosial, dan cara merawat pasien dengan isolasi sosial.

Orientasi
“selamat pagi, Bpk/Ibu! Bagaimana perasaan anda hari ini? Bagaimana keadaan anak bapak/ibu
sekarang?”
“hari ini kita berdiskusi tentang masalah tidak mau bergaul dengan orang lain yang dialami oleh anak
bapak/ibu dan cara mengatasinya. Kita diskusi disini saja ya? Barapa lama bapak/ibu punya waktu?
Bagaimana kalau satu jam?”
Kerja
“masalah yang dialami oleh anak bapak/ibu disebut isolasi sosial. Ini adalah salah satu gejala penyakit
yang juga dialami oleh Klien-Klien gangguan jiwa yang lain.”
“tanda-tandanya antara lain tidak mau bergaul dengan orang lain, mengurung diri, kalaupun berbicara
hanya sebentar dengan wajah menunduk dan tidak menatap.”
“biasanya masalah ini muncul karena memiliki pengalaman yang mengecewakan saat berhubungan
dengan orang lain, seperti sering ditolak, tidak dihargai atau berpisah dengan orang-orang terdekat.”
“apabila masalah ini tidak diatasi, maka Klien bisa mengalami halusinasi, yaitu mendengar suara atau
melihat bayangan yang sebenarnya tidak ada.”
“untuk menghadapi keadaan Klien yang demikian keluarga harus sabar. Pertama keluarga harus
membina hubungan saling percaya dengan Klien yang caranya adalah bersikap peduli dengan Klien
dan jangan ingkar janji. Kedua, keluarga perlu memberikan semangat dan dorongan kepada Klien untuk
bisa melakukan kegiatan bersama-sama dengan orang lain. Berilah pujian yang wajar dan jangan
mencela kondisi Klien.”
“seperti ini cara memberikan pujian : bagus.... bagus. Kamu sudah mampu bergaul dengan teman-teman
di sekitar rumah ini!”
“coba bapak/ibu peragakan! Selanjutnya jangan biarkan Klien sendiri. Buat rencana atau jadwal
bercakap-cakap dengan Klien. Misalnya sembahyang bersama, makan bersama, rekreasi
bersama, melakukan kegiatan rumah tangga bersama.”
“nah, sekarang bagaimana kalau kita sekarang latihan untuk melakukan semua cara tersebut?”
“begini contoh komunikasinya, Pak/Ibu : S, Bapak/Ibu lihat sekarang kamu sudah bisa
bercakap-cakap dengan orang lain. Perbincangannya juga lumayan lama. Bapak dan ibu
senang sekali melihat perkembangan kamu, Nak. Coba kamu berbincang-bincang dengan
saudara yang lain. Bagaimana kalau mulai sekarang kamu sembahyang bersama? Kalau di
rumah sakit ini kamu sembahyang dimana? Kalau nanti di rumah kamu bisa sembahyang
bersama keluarga atau bersama teman-teman di pura. Bagaimana S, kamu mau coba?”
“nah, seperti itu contohnya Bapak/Ibu. Coba sekarang bapak/ibu praktikkan.”
“bagus, bapak/ibu. Bapak/Ibu sudah memperagakan dengan baik sekali.”
“bapak/ibu juga harus menjaga supaya Klien terus minum obat sesuai program. Jangan
menghentikan obat tanpa konsultasi dengan petugas kesehatan (perawat atau dokter
puskesmas)”
“apabila Klien tidak membaik dan sama skali tidak bisa mengurus dirinya sendiri, Bapak/Ibu
bisa membawanya ke RSJ untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Sampai disini apakah
ada yang ingin ditanyakan?”

Terminasi
“baiklah karena waktunya sudah habis, bagaimana perasaan bapak/ibu setelah kita bercakap-
cakap?”
“coba bapak/ibu ulangi lagi cara menangani Klien yang tidak mau bergaul.”
“selanjutnya silakan bapak/ibu coba cara yang tadi kita bahas”
“minggu depan kita akan diskusi tentang pengalaman bapak/ibu mempraktikan latihan kita hari
ini dan hal-hal lain yang perlu dilakukan. Saya akan datang kembali jam 10.00 Wita.”

SP 2 Keluarga: Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat pasien dengan masalah


isolasi sosial langsung di hadapan pasien

ORIENTASI
“selamat pagi Pak/Bu”
“bagaimana perasaan Bapak/Ibu hari ini?”
“Bapak masih ingat dengan latihan merawat anak Bapak seperti yang kita pelajari beberapa
hari yang lalu?”
“kalau begitu, mari kita praktikkan langsung ke S! Kita akan mencobanya selama 30 menit.”
“sekarang, mari kita temui S”

KERJA
“ selamat pagi S, bagaimana perasaan S hari ini?”
“Bapak/Ibu S datang besuk. Beri salam! Bagus. Tolong S tunjukkan jadwal kegiatannya.”
(kemudian saudara berbicarakepada keluarga S sebagai berikut)
“nah, Pak/Bu, sekarang bapak/ibu bisa mempraktikkan latihan yang sudah kita lakukan pada
pertemuan sebelumnya.”
(saudara mengobservasi kelarga mempraktikkan cara merawat pasien seperti yang telah
dilatihkan pada pertemuan sebelumnya)
“bagaimana perasaan S setelah berbincang dengan orang tua S?”
Baiklah, sekarang saya dan orang tua S ke ruang perawat dulu.”
(saudara bersama keluarga meninggalkan klien dan menuju ruang perawat untuk melakukan
terminasi)
TERMINASI
“bagaimana perasaan Bapa/Ibu setelah kita praktikkan tadi? Bapak/Ibu bagus sekali.”
“mulai sekarang Bapak/Ibu sudah bisa melakukan cara merawat tadi kepada S”
“Tiga hari lagi kita akan bertemu untuk mendiskusikan pengalaman bapak/ibu melakukan
cara merawat yang sudah kita pelajari. Waktu dan tempatnya sama seperti sekarang, ya
Pak/Bu.”
“selamat pagi”

SP 3 Keluarga : Membuat Perencanaan Pulang Bersama Keluarga

Orientasi
“selamat pagi, Bapak/Ibu”
“karena besok S sudah boleh pulang, maka perlu kita bicarakanperawatan di rumah.”
“bagaimana kalau kita membicarakan jadwal S tersebut disini saja?”
“berapa lama kita bisa bicara? Bagaimana kalau 30 menit?”

Kerja
“bapak/ibu, ini jadwal S selama di rumah sakit. Coba dilihat, mungkinkah jadwalkan di rumah?
Di rumah, bapak/ibu yang menggantikan perawat. Lanjutkan jadwal ini di rumah, baik jadwal
kegiatan maupun jadwal minum obatnya.”
“hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan oleh anak
Bapak/Ibu selama di rumah. Misalnya kalau S terus menerus tidak mau bergaul dengan orang
lain, menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain. Jika hal
ini terjadi, segera hubungi perawat K di puskesmas Indara Puri, Puskesmas terdekat di rumah
Bapak. Ini nomor telepon puskesmas tersebut (0361) xxxxx. Selanjutnya perawat K tersebut
yang akan memantau perkembangan S selama di rumah.”

Terminasi
“bagaimana Pak/Bu? Ada yang belum jelas? Ini jadwal kegiatan harian S untuk dibawa pulang.
Ini surat rujukan untuk perawat K di Puskesmas Indrapuri. Jangan lupa kontrol ke puskesmas
sebelum obat habis atau ada gejala yang tampak. Silakan selesaikan administrasinya.”
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Kerusakan interaksi sosial atau isolasi sosial adalah keadaan dimana seorang individu
mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang di
sekirarnya. Menurut Depkes RI (2000), kerusakan interaksi sosial adalah suatu gangguan
interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel menimbulkan
perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam kubungan sosial. Dalam
membina hubungan sosial, individu berada dalam rentang respon yang adaptif sampai
dengan maladaptif. Respon adaptif merupakan respon yang diterima oleh norma-norma
sosial dan kebudayaan yang secara umum berlaku. Sedangkan respon maladaptif
merupakan respon yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah yang kurang
dapat diterima oleh norma sosial dan budaya setempat. Beberapa faktor predisposisi
(pendukung) terjadi gangguan hubungan sosial yaitu faktor perkembangan, faktor
komunikasi dalam keluarga, faktor biologis, dan faktor sosial budaya. Kemudian stressor
presipitasi terdiri dari stresor sosial budaya dan Stressor psikologis. Menurut Towsend,
M.C. (1998) yang dikutip dari Abdul Muhith (2015), tanda dan gejala dari seseorang yang
mengalami kerusakan interaksi sosial atau isolasi sosial adalah sebagai berikut: kurang
spontan, apatis (acuh tak acuh terhadap lingkungan), ekspresi wajah kurang berseri
(berekspresi sedih), afek tumpul, tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri,
komunikasi verbal menurun atau tidak ada, klien tidak bercakap-cakap dengan klien lain
atau perawat, mengisolasi diri (menyendiri), pemasukan makan dan minuman terganggu,
retensi urine dan feses, aktivitas menurun, kurang energi, harga diri rendah, posisi janin
pada saat tidur, menolak berhubungandengan orang lain.

3.2 Saran
Setelah mempelajari makalah ini diharapkan mahasiswa keperawatan dapat
menerapkannya dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien.
DAFTAR PUSTAKA

Direja, Ade H.S.2011.Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa.Yogyakarta: Nuha Medika.


Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.2006.Modul IC-CMHN Manajemen
Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas Desa Siaga Sehat Jiwa. Jakarta: Universitas
Indonesia.
Kusumawati, Farida dan Yudi Hartono.2012.Buku Ajar Keprawatan Jiwa.Jakarta: Salemba
Medika
Muhith, Abdul.2015.Pendidikan Kesehatan Jiwa (Teori Dan Aplikasi).Yogyakarta: CV ANDI
OFFSET.
Prabowo, Eko.2014.Konsep dan Aplikasi Asuhan Keperawatan Jiwa.Yogyakarta: Nuha Medika