You are on page 1of 10

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pencemaran udara adalah proses masuknya atau dimasukkannya zat pencemar ke udara
oleh aktivitas manusia atau alam yang menyebabkan berubahnya tatanan udara sehingga kualitas
udara turun sampai ke tingkat tertentu dan tidak dapat berfungsi lagi sesuai peruntukannya
(Kep.02/Men-KLH/1988).Keberadaan zat pencemar dalam udara dapat membahayakan makhluk
hidup termasuk manusia. Oleh karena itu, upaya pemantauan kualitas udara terutama di
lingkungan tempat tinggal sangat perlu dilakukan.
Pemantauan kualitas udara dapat dilakukan dengan menggunakan alat pemantau kualitas
udara atau dengan melakukan biomonitoring terhadap keberadaan suatu bioindikator yang ada di
lingkungan. Bioindikator adalah organisme yang keberadaannya dapat digunakan untuk
mendeteksi, mengidentifikasi dan mengkualifikasikan pencemaran lingkungan (Conti dan
Cecchetti 2000). Bioindikator sangat berkaitan erat dengan kondisi lingkungan disekitarnya.
Respon bioindikator terhadap keberadaan polutan seringkali lebih mencerminkan dampak
kumulatifnya terhadap fungsi dan keanekaragaman dari lingkungan sekitar dibandingkan alat
monitor (Jovan 2008).
Lumut kerak atau Lichen adalah salah satu organisme yang digunakan sebagai bioindikator
pencemaran udara. Hal ini disebabkan Lichen sangat sensitif terhadap pencemaran udara,
memiliki sebaran geografis yang luas (kecuali di daerah perairan), keberadaannya melimpah, sesil,
perennial, memiliki bentuk morfologi yang relatif tetap dalam jangka waktu yang lama dan tidak
memiliki lapisan kutikula sehingga Lichen dapat menyerap gas dan partikel polutan secara
langsung melalui permukaan talusnya. Penggunaan Lichen sebagai bioindikator dinilai lebih
efisien dibandingkan menggunakan alat atau mesin indikator ambien yang dalam
pengoperasiannya memerlukan biaya yang besar dan penanganan khusus (Loopi et.al 2002).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh polusi udara dari lalu lintas kendaraan
terhadap tingkat pencemaran pada Thallus Lichen dengan menghitung luasan debu pada
permukaan Lichen di sekitar Lingkungan Jurusan Biologi FPIMA Universitas Jember. Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai tingkat pencemaran udara
disekitar Lingkungan Jurusan Biologi FPIMA Universitas Jember.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah pada praktikum kali ini adalah:
1. Mengapa Lichen dapat dikatakan sebagai biokator pencemaran udara?
2. Bagaimanakah cara menentukan tingkat pencemaran lingkungan
menggunakan Lichen
3. Berapakah tingkat pencemaran di Lingkungan sekitar Biologi FMIPA jika dilihat dari
kerapatan dan pengamatan secara makroskopis terhadap morfologi Lichen?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Mengetahui Lichen sebagai bioindikator pencemaran udara.
2. Mengetahui cara menentukan tingkat pencemaran lingkungan menggunakan Lichen.
3. Mengetahui tingkat pencemaran di Lingkungan sekitar Biologi FMIPA jika dilihat
dari kerapatan dan pengamatan secara makroskopis terhadap morfologi Lichen.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Lichen
Lumut kerak atau Lichen adalah salah satu organisme yang digunakan sebagai bioindikator
pencemaran udara. Hal ini disebabkan Lichen sangat sensitif terhadap pencemaran udara,
memiliki sebaran geografis yang luas (kecuali di daerah perairan), keberadaannya melimpah, sesil,
perennial, memiliki bentuk morfologi yang relatif tetap dalam jangka waktu yang lama dan tidak
memiliki lapisan kutikula sehingga Lichen dapat menyerap gas dan partikel polutan secara
langsung melalui permukaan talusnya. Penggunaan Lichen sebagai bioindikator dinilai lebih
efisien dibandingkan menggunakan alat atau mesin indikator ambien yang dalam
pengoperasiannya memerlukan biaya yang besar dan penanganan khusus (Loopi et.al, 2002).
Struktur morfologi Lichen yang tidak memiliki lapisan kutikula, stomata dan organ
absorptif, memaksa Lichen untuk bertahan hidup di bawah cekaman polutan yang terdapat di
udara. Jenis Lichen yang toleran dapat bertahan hidup di daerah dengan kondisi lingkungan yang
udaranya tercemar. Sementara itu, jenis Lichen yang sensitif biasanya tidak dapat ditemukan pada
daerah dengan kualitas udara yang buruk. Perbedaan sensitifitas Lichen terhadap polusi udara
berkaitan erat dengan kemampuannya mengakumulasi polutan (Conti dan Ceccheti 2000).

2.2 Bioindikator
Bioindikator merupakan organisme, seperti mikroba, tumbuhan dan hewan, yang biasanya
dipakai untuk memonitor kualitas daripada lingkungan. Organisme dan suatu kumpulan organisme
tersebut berfungsi memonitor perubahan yang bisa mengindikasi suatu masalah yang ada di
ekosistem. Prinsipnya, setiap organisme di suatu ekosistem mempunyai kemampuan dalam
merepresentasikan kualitas dan perubahan yang ada di lingkungan (Issani, 2014).
Perubahan tersebut bisa secara kimia, fisiologis atau perubahan perilaku. Bioindikator
digunakan untuk mendeteksi perubahan dalam lingkungan alamiahnya, memantau untuk melihat
kehadiran polutan dan efeknya pada ekosistem tempat organisme hidup, memantau progres pada
pembersihan lingkungan (environmental cleanup) dan tes substansinya, seperti pada air minum
dalam melihat pada kehadiran parameter atau kontaminan yang dimilikinya (Issani, 2014).
Biomonitoring menggunakan organisme sebagian besar dipakai sebagai penentuan kuantitas dari
keberadaan kontaminan, dapat diklasifikasi sebagai biomonitor yang bersifat sensitif atau yang bersifat
akumulatif. Biomonitor bersifat sensitif cenderung merupakan tipe optikal dan digunakan sebagai integrator
dari dampak yang disebabkan oleh keberadaan kontaminan, dan sebagai respon preventif dalam kata lain
sebagai suatu sistem alarm bagi perunahan lingkungan. Efek optikal yang terjadi seperti perubahan
morfologi dalam artian perubahan secara perilaku berhubungan dengan lingkungan dan atas adanya
perubahan aspek secara komposisi kimia dan fisik berdasarkan aktivitas dari perbedaan sistem enzim,
fotosintesis dan aktivitas respirasi. Biomonitor bersifat akumulatif mempunyai kemampuan untuk
memindahkan kontaminan ke dalam tubuh mereka (di dalam/lapisan tissue) dan dipakai sebagi intregasi
pengukuran konsentrasi kontaminan yang ada di lingkungan. Bioakumulasi adalah hasil dari proses
keseimbangan dari gabungan biota intake/discharge dan yang masuk ke dalam lingkungan (Issani, 2014).
Bioindikator berguna dalam tiga situasi: 1) disaat indikasi faktor lingkungan tidak bisa di
ukur, seperti dalam keadaan faktor lingkungan alamiah yang dulu beralih bentuk karena adanya
perubahan iklim, 2) dimana indikasi faktor lingkungan sulit untuk diukur, misalnya karena
keberadaan pestisida dan residunya menghasilkan suatu kandungan effluent toksik yang komples
dan 3) dimana faktor lingkungan mudah untuk diukur tetapi sulit untuk ditafsirkan contohnya
apakah perubahan lingkungan yang terjadi berdasarkan pengamatan yang dilakukan mempunyai
faktor ecological yang signifikan (Issani, 2014).

2.3 Lichen sebagai Bioindikator Polusi Udara


Lichen merupakan hasil asosiasi simbiotik dari fungi dan alga. Jenis alga yang bersimbiosis
yaitu Cyanobacteriae atau Chlorophyceae, sedangkan fungi yang bersimbiosis biasanya
merupakan Ascomycetes, dan terkadang juga berasal dariBasidiomycetes atau Phycomycetes. Alga
merupakan bagian yang mengandung nutrien, nutrien inilah yang memuat krolofil, sementara
fungi berfungsi memberikan alga supply air dan mineral (Conti, 2001).
Organisme ini tergolong menahun dan umumnya memiliki morfologi yang seragam dari
waktu ke waktu. Mereka tumbuh secara perlahan, memiliki ketergantungan dalam skala besar pada
lingkungan untuk pasokan nutrisi mereka. Berbeda dari tumbuhan vaskular, mereka tidak
menggugurkan bagian dari tubuhnya selama pertumbuhan (Hale, 1969, 1983).
Umumnya, Lichen hidup sebagai epifit pada pohon-pohonan tapi dapat juga hidup di atas
tanah bahkan dapat hidup di daerah yang ekstrim, sehingga Lichens sering disebut dengan
organisme perintis Lichen sebagai tumbuhan perintis yang hidup tumbuh dialam pada kondisi
yang tidak menguntungkan. Lichen tersebut memulai pembentukan tanah dengan melapukkan
pohon dan batu-batuan serta dalam proses terjadinya tanah. Lichensangat tahan terhadap
kekeringan. Jenis-jenis Lichens yang hidup pada bebatuan pada musim kering berkerut sampai
terlepas alasnya tetapi organisme tersebut tidak mati dan hanya berada dalam hidup
laten/dormancy. Jika segera mendapat air maka tubuh tumbuhan yang telah kering tersebut mulai
menunjukkan aktivitasnya kembali (Hasnunidah,2009). Jenis tumbuhan perintis berpengaruh
terhadap sebagian besar sifat-sifat fisik, kimia dan biologi tanah (Prawito, 2009).
Lichens sangat sensitif terhadap pencemaran udara dan cepat menghilang pada daerah yang
mempunyai kadar polusi udara yang berat. Salah satu yang menyebabkan ini terjadi Lichen dapat
menyerap dan mengendapkan mineral dari air hujan dan udara dan tidak dapat mengeluarkannya
sehingga konsentrasi senyawa yang mematikan seperti SO2 sangat mudah masuk. Lichen melalui
perannya sebagai tumbuhan perintis menjadikan dirinya mempunyai kemampuan regenerasi yang
tinggi. Dalam artian Lichen bisa tumbuh kembali apabila kondisi udara di ekosistem tempatnya
tumbuh sudah mulai pulih.
Lichen dapat digunakan sebagai bioindikator atau biomonitor dengan dua cara berbeda
(Richardson, 1991; Gries, 1996):
a. Dengan menggunakan pemetaan (mapping) melalui kehadiran semua spesies pada area-area
yang spesifik.
b. Melalui individual sampling dari spesies Lichen dan mengukur polutan yang terakumulasi di
dalam thallus (bagian dari tubuh Lichens), atau mentranspalasi Lichen yang berasl dari area yang tidak
tercemar ke tempat yang tercemar, kemudian mengukur perubahan morfologi yang terjadi pada thallus
Lichen dan mengevaluasi parameter fisiologi serta bisa pula dengan mengevaluasi bioakumulasi polutan
yang terjadi.
Beberapa aspek biologi Lichen yang penting sebagai bioindikator untuk evaluasi kualitas
udara. Pertama, tingkat sensitivitas yang tinggi untuk polusi udara menyebabkan banyak spesies
menghilang dari lingkungan yang berubah-ubah. Data yang signifikan dapat diperoleh dengan
menganalisis dan membandingkan komposisi flora di situs yang akan dievaluasi dan situs yang
tidak berubah. Informasi kualitatif dapat diperoleh dengan cara mendaftar spesies atau dengan peta
distribusi spesies, sedangkan informasi kuantitatif dapat diperoleh dengan menghitung indeks
yang berbeda untuk memperkirakan kualitas udara, seperti Indeks Kelimpahan Lichen (IL),
Luftgüete Index (Lugi), atau Indeks Kualitas Udara, Häufigkeit-toxitolerance Index (HTI), atau
Indeks Toxitolerance, Indeks Global Kualitas Udara (IGQA) dan Indeks Atmospheric Purity
(IAP). IAP mengidentifikasi bagaimana distribusi Lichen, frekuensi dan perubahan tutupan atas
ruang dan waktu sesuai dengan gradien polusi (Gries 1996).
Kedua, lumut menyerap unsur, ion dan partikel pasif melalui seluruh permukaan mereka,
bahkan jika jumlah melebihi kebutuhan metabolisme mereka. Sebagian zat ini disimpan untuk
jangka waktu yang lama, akumulasi zat yang tersimpan tersebut dapat digunakan untuk
memperkirakan bioakumulasi kontaminan atmosfer. Perbandingan komposisi unsur dari thallus
yang terisolasi dan lingkungan yang berubah dapat mengungkapkan berbagai tingkat akumulasi
unsur-unsur tertentu, memberikan petunjuk untuk sumber-sumber pencemaran. Untuk
menggunakan hasil komponen elemen analisis dalam studi pencemaran, sangat penting jika
tersedia data dari lingkungan yang tidak tercemar sebagai referensi (Wiersma dan lain-lain 1992;
Bubach dan lain-lain 1998).
BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan


Pengambilan sampel Lichen dilakukan di lingkungan sekitar Jurusan Biologi, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Jember. Waktu pelaksanaan dilaksanakan
hari Rabu, 28 Oktober 2015 pukul 07.50 sampai 10.40 WIB.

3.2 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
- Kertas Millimeter Block
- Pensil
- Metline
- Kamera
- Cutter
- Kantong Plastik
- Marker
- Buku Petunjuk Praktikum
3.1.2 Bahan
- Sampel Lichen pada pohon

3.3
Liken

Prosedur Penelitian

Dipilih 5 sampel pohon yang ditumbuhi

Dipilih sampel liken yang terkena sinar matahari


Diukur pohon dari ketinggian 1 meter diatas permukaan tanah dengan metlein

Dibuat 2 plot pada masing-masing pohon dengan kertas milimeter blok ukuran 15 x 20
cm

Diambil sebagian sampel pada tiap-tiap plot menggunakan cutter

Dimasukkan kedalam kantung plastik

Diidentifikasi dan dihitung persentase debu pada liken

Hasil

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
1. Tingkat keanekaragaman
Pohon 1 Pohon 2 Pohon 3 Pohon 4
P P P P P P P P
1 2 3 4 5 6 7 8
Liken
75 80 30 10 10 5 20
1
Liken
25
2
Liken
50 60
3

D DM DR F Fm FR INP

0,6625 0,176667 66,25 9 0,9 75,0000 141,2

0,0625 0,016667 6,25 1 0,1 8,3333 14,5

0,275 0,073333 27,5 2 0,2 16,6667 44,1


0
0,266667 100 1,2 100,0000 200,0

sampel 1 sampel 2 sampel 3

Debu 1,742 mm 0,941 mm 2,3934 mm

luas sampling 2106,561 mm 2106,561 mm 2106,561 mm

% 0,082 0,04468 0,1136


2. Tingkat pencemaran udara dengan Lichen sebagai Bioindikator

4.2 Pembahasan
Hasil pengamatan Lichen dari lima pohon ditemukan sebanyak 3 jenis sampel Lichen.
Lichen yang berhasil di identifikasi merupakan Lichen dengan tipe talus foliase yaitu struktur talus
menyerupai daun, banyak dijumpai berwarna hijau hingga hijau keabu-abuan. Lichen yang
ditemukan kebanyakan berasal dari famili Parmeliaceae dan Physciaceae. Famili Parmeliaceae
adalah kelompok lichen foliose terbesar yang memiliki bentuk talus spesifik dan mudah dikenali.
Talusnya memiliki korteks atas dan bawah, seringkali terdapat rizin untuk membantu perlekatan
pada substrat. Jenis lichen yang ditemukan dari famili Parmeliaceae adalah P. austrosinense, P.
Tinctorum dan Parmeliopsis sp. Pada Lichen 1 merupakan jenis Lichen foliase Famili Parmeliace
Jenis Parmeliopsis sp
Physciaceae adalah famili yang memiliki karakteristik talus foliose
berbentuk orbiculardan tersebar tidak beraturan. Lobus atas dan bawah corticate dan lapisan
bawah berwarna gelap atau pun hitam. Pada Lichen 2 jenis lichen yang ditemukan termasuk ke
dalam famili Physciaceae genus Dirinaria yaitu Dirinaria applanata . Pada Lichen 3 jenis lichen
yang ditemukan termasuk
Hasil pengamatan Lichen di 5 Pohon menunjukkan bahwa terdapat tingkat
toleransi Lichen terhadap tingkat pencemaran udara. Hal ini ditandai dengan perbedaan jenis dan
jumlah lichen yang ditemui tiap masing-masing pohon. Lichen jenis 1 merupakan jenis lichen yang
toleran karena dapat ditemukan diseluruh pohon yang diamati, baik di daerah yang mungkin
memiliki udara yang baik dan tercemar. Pada Lichen jenis 2 hanya ditemukan pada pohon 2 plot
2 sehingga lichen ini dapat dikatakan bioindikator sensitif karena hanya dapat ditemukan pada
pohon tertentu dengan tingkat pencemaran tertentu. Pada lichen jenis 3 juga hanya ditemukan pada
pohon 3. Lichen jenis ini juga merupakan sebagai indikator yang sensitif karena tidak bisa
ditemukan pada semua pohon.
Pada Lichen jenis 1 memiliki nilai dominansi yang tinggi karena terdapat diseluruh
pohon yang diamati. Nilai dominansi relatif pada lichen jenis 1 sebesar 66,25 sedangkan pada
lichen jenis jenis 2 memiliki nilai dominansi yang paling rendah karena hanya terdapat pada satu
plot pada satu pohon, nilai dominansi relatifnya sebesar 6,25 dan pada lichen jenis 3 memiliki nilai
dominansi sebesar 27,5. Nilai Frekuensi menunjukkan jumlah plot yang ditempati suatu jenis
dibagi jumlah seluruh plot pengamatan. Lichen jenis 1 ditemukan di 9 plot pengamatan, lichen
jenis 2 ditemukan pada 1 plot pengamatan dan lichen jenis 3 ditemukan pada 2 plot pengamatan.
Nilai frekuensi relatif lichen jenis 1 sebesar 75,00 ,pada lichen jenis 2, 8,33 dan pada lichen jenis
3 yaitu 16,67.
Lichen dapat dijadikan sebagai tumbuhan indikator untuk pencemaran udara dari
kendaraan bermotor , adanya pencemaran udara akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan
lichen dan penurunan jumlah jenis dengan beberapa marga. Liken yang ditemukan dilingkungan
biologi kebanyakan memiliki tipe talus foliase. Tingkat pencemaran udara dapat dilihat dari
banyaknya debu yang terakumulasi dalam sampel lichen. Logam yang diserap oleh lichen dalam
bentuk debu terakumulasi pada jaringan talusnya. Struktur talus lichen merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi efisiensi penyerapan logam. Lichen foliase memiliki strukutur talus yang luas
dan dapat dengan mudah dilepaskan dari substartnya . permukaan talus yang luas menyebabkan
lichen foliase memiliki kontak yang lebih besar dengan polutan sehingga akumulasi polutan lebih
efisien dibandingkan tipe talusnya.
Untuk menentukan tingkat pencemaran udara oleh lichen maka diambil beberapa
sampel liken , diambil 3 lichen yang telah terakumulasi dengan debu. Luas sampling pada lichen
pada masing –masing sampel sama yaitu 2106,561 mm. Pada sampling 1 luas debu sebesar 1,742
mm sehingga persentase debu sebesar 0,082%. Pada sampel 2 luas debu 0,941 mm. Dan persentase
sebesar 0,0446% . pada sampel 3 luas debu sebesar 5,0764 dengan pesentase debu sebesar
0,1136%. Sehingga luas debu seluruhnya dari 3 sampel tersebut sebesar 0,24028%. Hasil
persentase tergolong rendah karena nilainya kurang dari 1% , hal ini menunjukkan bahwa tingkat
pencemaran udara pada lingkungan sekitar bilogi fmipa ini masih tergolonh rendah . hal ini
dikarenakan lokasi pohon yang di amati bukan pohon yang berada di pinggir jalan sehingga tingkat
polusi oleh kendaraan rendah. Udara yang berada di lingkungan sekitar biologi masih tergolong
bersih dan layak untuk di konsumsi karena kadar pencemarannya rendah.

BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

Bubach D, Arribére MA, Calvelo S, Ribeiro Guevara S, Román Ross G. 1998.


Characterization of minor and trace element contents of Protousnea magellanica from pristine
areas of northern Patagonia. Lichens 2: 1–7.
Conti ME, Cecchetti G. 2000. Biological monitoring: lichens as bioindicators of air
pollution assessment – a review. Environmentall Pollution 114 : 47-492
Conti, M.E dan Cecchetti, G (2001). Biological monitoring: lichens as bioindicators of air pollutan
assessment-a review. Environmental Pollution, 114 Hal 471-492.
Gries,C. 1996. Lichenes as insicators of air pollution. In: Nash III, T.H. (Ed.), Lichene
Biology. Cambridge University Pess, Cambridge, pp. 240-254.
Hale, M.E. 1969. How to Know the Lichens. Wm. C. Brown Company Publisher,
Dubuque, Iowa.
Hale, M.E. 1983. The Biology of Lichens. London: E. Arnold.
Hasnunidah, Neni. 2009.Botani Tumbuhan Rendah. Bandarlampung:Unila
Issani, W.M., Amanah, N., dan Saputra, M.A.I. 2014. Paper Biomonitoring: Lichens Sebagai
Bioindikator Pencemaran Udara. Surabaya: ITS
Jovan, Sarah. 2008. Lichen Bioindication of biodiversity, air quality, and climate : baseline
results from monitoring in Washington, Oregon, and California. Gen. Tech. Rep. PNW-GTR-737.
Portland, OR: U.S Department of Agriculture, Forest Service, Pacific Northwest Research Station.
115 p.
Loopi S, Ivanov D, Boccardi R. 2002. Biodiversity of Epiphytic Lichens and Air Pollution
in the Town of Siena (Central Italy. Environmental Pollution 116 : 123-128
Prawito, P. 2009. Pemanfaatan Tumbuhan Perintis Dalam Proses Rehabilitasi Lahan
Paskatambang Di Bengkulu. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. 9 No. 1 p: 7-12. Fakultas
Pertanian Universitas Bengkulu
Richardson, D.H.S. 1991. Lichens as Biological Indicators. Recent developments. In:
Jeffrey,D. W., madden, B. (Eds), Bioidicators and Environmental Management. Academic Press,
London, pp. 263-272.
Wiersma GB, Bruns DA, Finley K, McAnulty L, Whitworth C, Boelcke C. 1992.
Elemental composition of lichens from a remote Nothofagus forest site in Southern
Chile. Chemosphere 24(2): 155–167