You are on page 1of 10

KARAKTERISASI BEBERAPA MORFOLOGI, ANATOMI DAN

FISIOLOGI MUTAN GANDUM (Triticum aestivum L.) DEWATA DAN
SELAYAR DI DATARAN RENDAH TROPIS

CHARACTERIZATION OF SOME MORPHOLOGY, ANATOMY AND
PHYSIOLOGY OF THE WHEAT MUTANT (Triticum aestivum L.) DEWATA
AND SELAYAR IN TROPICAL LOWLAND.
Laela Sari,* Agus Purwito,** Didy Sopandie,**
Ragapadmi Purnamaningsih,*** dan Enny Sudarmonowati*

*
Pusat Penelitian Bioteknologi – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Cibinong, Indonesia
**
Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor, Bogor, Indonesia
***
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Kementrian
Pertanian, Bogor, Indonesia.
pos-el: laelasari@yahoo.com

ABSTRACT
Wheat mutant characterization is a part of the breeding programs to investigate the diversity that can
influence in production increased. The aim of this research was to obtain data characterization morphology,
anatomy and physiology that could be used as selection criteria and obtain an adaptive wheat mutant in tropical
lowland area. The research was conducted in Seameo-Biotrop Experimental Garden, located on ± 250 m above
the sea level, on April until November 2013. There were 18 Dewata wheat mutants and two Selayar wheat mutants,
which is an M3 derivative resulted from EMS treatment, were used. LC50 Dewata got the 0.3% EMS treatment for
30 minutes, while LC50 Selayar got the 0.1% EMS treatment for 60 minutes. The data analysis used Augmented
Designs Method. The results showed that the mutant Dewata that was significantly affected the morphology was
indicated by four characters i.e. cooking time (two mutants), grain weight pergenotipe (seven mutants), leaf area
(five mutants), and green leaves (one mutant). There are two characters in mutant Selayar that bring significant
influence on morphological factors, those are seed weight per genotype (one mutant) and leaf area (one mutant),
while the cooking time and green leaves have no real effect. Anatomical character appearance on leaf thickness and
the size of stomata showed different levels of tolerance between Dewata plant mutant (DW-0,3.30-2-13-3), Selayar
mutant (SL-0,1.60-2-14-2), and its both controls. As for the physiological character there were significant differ-
ences in the amount of proline and glucose levels. Proline level in Dewata control was 79.29 µg/gBB, while in DW
mutant -0,3.30-2-13-3 was 332.37 µg/gBB. Proline levels in Selayar control was 201.53 µg/gBB, while in mutant
SL mutant-0,1.60-2-14-2 was 335.79µg/gBB. Likewise, glucose level in Dewata control was 14.32mg/gBB, while
in DW mutant-0,3.30-1-15-1 was 29.06 mg/gBB, Selayar controls (5.87 mg /GBB) with SL mutant-0,1.60-2-14-2
(17.68 mg /gBB).
Keywords: Some characterization, Wheat (Triticum aestivum L.), Dewata and Selayar mutant, EMS, Tropical
lowland.

ABSTRAK
Karakterisasi mutan gandum adalah bagian dari program pemuliaan untuk mengetahui keragaan yang
berpengaruh dalam peningkatan produksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data karakterisasi
beberapa morfologi, anatomi dan fisiologi yang dapat dijadikan kriteria seleksi serta mendapatkan mutan gandum
yang adaptif pada daerah rendah tropis. Penelitian ini dilakukan di kebun Percobaan Seameo-Biotrop yang mem-

| 21

Vol. punyai ketinggian ± 250 m. Program gandum di Indonesia sudah dilakukan dengan pengembangan varietas unggul gandum di mengembangkan varietas-varietas introduksi dan Indonesia telah dilakukan sejak tahun 1985.1 Salah satu produksi pertanian yang Varietas gandum yang telah dilepas di Indonesia tergantung pada kondisi iklim adalah tanaman umumnya beradaptasi spesifik untuk dataran gandum (Triticum aestivum L. masih terlalu rendah untuk dapat kerapatan stomata) dan fisiologi (analisis prolin. Sebetulnya usaha produksi di daerah tropik. 1 No. luas daun (lima mutan). gandum saat ini. Mutan gandum yang digunakan ada 18 mutan (Dewata) dan dua mutan (Selayar) yang merupakan turunan M3 hasil dari perlakuan EMS. Kebutuhan terhadap pertumbuhan tanaman sangat ditentukan gandum di Indonesia hampir seluruhnya diperoleh oleh besarnya tingkatan cekaman yang dialami dari impor.60-2-14-2 (17.30-2-13-3 (332. Sejumlah studi menunjukkan pengimpor gandum terbesar ke lima dunia dengan bahwa akibat dari cekaman lingkungan akan total impor 4. Karakter fisiologi menunjukkan perbedaan yang signifikan pada jumlah prolin yaitu Dewata kontrol (79. dan kontrol keduanya. Nilai kadar glukosa juga memiliki perbedaan antara Dewata kontrol (14. anatomi (ketebalan daun. Pengaruh cekaman lingkungan bangan gandum di dalam negeri. kondisi iklim.2 analisis gula total) dapat terjadi perubahan pada Kebutuhan yang sangat besar dan kemampuan pertumbuhan tanaman apabila ada cekaman impor yang semakin terbatas menuntut pengem- lingkungan.1. yaitu persaingan komoditas di Indonesia. Wilayah dataran tinggi mem.3 dan penurunan laju fotosintesis.5. yaitu EMS 0. LC50Selayar. Selayar mutan (SL- 0. Mutan Dewata dan Selayar. Penampilan karakter anatomi ketebalan daun dan ukuran stomata memperlihatkan toleransi yang berbeda antara tanaman Dewata mutan (DW-0. Data di analisis menggunakan metode Ragam Augmented Design.dpl 22 Laela Sari.87 mg/gBB) dengan mutan SL-0. LC50 Dewata. studi adaptasi varietas gandum introduksi oleh tetapi sangat terbatas pada wilayah dataran tinggi beberapa peneliti di Indonesia.7 Akan tetapi (>1000 m.79 µg/gBB).1. Gandum (Triticum aestivum).3.3. yaitu EMS 0. Gagal panen dan hasil beberapa agroekosistem yang cocok dan daya produksi menurun terjadi karena keberhasilan hasil di beberapa lokasi percobaan kemudian produksi pertanian masih sangat tergantung pada dilepas menjadi varietas gandum baru nasional.37 µg/gBB).86 juta ton/tahun dan akan terus terjadi penghambatan pertumbuhan tanaman meningkat dengan laju 2% per tahun. adaptif yang direkomendasikan di dataran rendah punyai kendala. lain yang nilai ekonominya cukup tinggi seperti Beberapa karakteristik morfologi (persen- sayuran dan hortikultura. sehingga Indonesia merupakan negara tanaman tersebut.68 mg/gBB). | Widyariset.39 t/ha.dpl) yang mempunyai suhu optimum sampai saat ini belum ada galur-galur gandum sekitar 15–25oC. Desember 2015: 21–30 . yaitu penutupan stomata dan yang lebih adaptif pada ketinggian >1000 m. Penurunan laju Varietas baru gandum telah berhasil dirilis fotosintesis berkaitan dengan beberapa faktor pada tahun 2003 telah berhasil dirilis di Indonesia seperti anatomi. berdampak introduksi atau dikirim dari negara lain.29 µg/gBB) dengan mutan DW-0.3. tinggi. Hasil menunjukkan bahwa mutan Dewata yang berpengaruh nyata pada faktor morfologi terdapat empat karakter yaitu waktu masak (dua mutan). Selayar kontrol (5.1. dan kehijauan daun (satu mutan).1% selama 60 menit. bobot biji per genotipe (tujuh mutan). yaitu bobot biji per genotipe (satu mutan) dan luas daun (satu mutan) sedangkan waktu masak dan kehijauan daun tidak berpengaruh nyata.60-2-14-2). dan Selayar kontrol (201.53 µg/gBB) dengan mutan SL-0.). EMS.3% selama 30 menit. khususnya di Indonesia. Kata Kunci: Beberapa karakterisasi. Setelah secara langsung terhadap sektor pertanian yang melalui tahapan pengujian daya adaptasi pada menyebabkan gagal panen. Dataran rendah tropis PENDAHULUAN dengan rata-rata hasil sekitar 4. Laju peningkatan hasil tase pertumbuhan).06 mg/gBB).6.32 mg/gBB) dengan mutan DW-0. memenuhi kebutuhan gandum di masa depan.13–5.30-2-13-3). 1. yaitu varietas Selayar dan Dewata.dpl pada bulan April 2013–November 2013.4 Varietas tanaman Perubahan iklim global pada dekade ini di negara gandum yang ada di Indonesia berasal dari berkembang khususnya di Indonesia. Mutan Selayar yang berpengaruh nyata pada faktor morfologi ter- dapat dua karakter.30-1-15-1 (29. dkk.60-2-14-2 (335. Hal ini terkait dengan kemungkinan ada Tanaman gandum merupakan tanaman tidaknya interaksi antara varietas tanaman dengan subtropik yang diupayakan untuk dikembangkan variasi lingkungan.

karena pada Penelitian ini dilakukan untuk menguji genotipe dasarnya gandum merupakan tanaman subtropis mutan putatif di dataran rendah.14 pada umur 30 hst. cekaman suhu menit dan Selayar adalah 0.dehidrasi kutikula. dkk. tanam antar baris 20 x 25cm.12 200 kg/ha Urea.12 Cekaman Pengujian Morfologi Mutan Putatif suhu tinggi menjadi faktor pembatas dalam usaha Dewata dan Selayar M3. Tanah diolah terlebih Batasan kerusakan suhu tinggi untuk tiap tanaman dahulu dengan pemberian kompos dan arang akan relatif. SEAMEO-BIOTROP (±250m. seperti jumlah butir dan berat biji per malai menurun dengan meningkatnya suhu. jumlah adaptasi di dataran rendah dan mengidentifikasikan ruas pertanaman. 150 kg/ha SP36. menimbulkan mutasi ditambahkan carbofuran. Cekaman dihasilkan.11 Jumlah dan stomata dan ketebalan daun. Mekanisme pembukaan ketahanan terhadap suhu tinggi pada tanaman stomata daun pada tanaman dikontrol oleh gandum terutama pada dataran rendah.8 Penelitian ini bertujuan untuk mendapat- Faktor morfologi memengaruhi penurunan yang k a n v a r i e t a s g a n d u m y a n g d a p a t b e r- nyata pada tinggi tanaman. yaitu: 1) Pengujian morfologi musim semi. Penyiangan terhadap dengan laju lima kali lebih tinggi dibandingkan gulma dilakukan dua kali yaitu pada pemupukan radiasi sinar x. 3) Pengujian fisiologi berat gandum juga peka terhadap cekaman suhu yaitu analisis prolin dan gula total. 13. Sebelum ditanam benih diberi Perlakuan EMS dengan konsentrasi 0. | Widyariset. Sebagai contoh.dpl) mulai bulan Salah satu kendala yang dihadapi di April– November 2013.16 beberapa tanaman yang paling baik dari Diharapkan EMS dapat menginduksi sifat masing-masing varietas tiap baris untuk dilakukan Laela Sari. Tanaman yang menghendaki suhu yang rendah untuk proses M2 berproduksi kemudian bijinya (M3) yang pertumbuhan dan perkembangannya. kemudian diseleksi menghasilkan produktivitas yang tinggi. Bahan tanaman yang Indonesia adalah kurangnya varietas yang digunakan dalam penelitian ini adalah mutan adaptif dan faktor lingkungan seperti cekaman putatif gandum Dewata (18 mutan) dan mutan suhu tinggi. luas tanaman.25–0. tinggi. Cekaman suhu tinggi merupakan putatif gandum Selayar (dua mutan) yang kendala umum selama tahapan pengisian biji merupakan turunan M3 hasil dari perlakuan dan anthesis pada banyak tanaman sereal pada EMS. Pengurangan serupa terjadi pada mutan putatif Dewata dan Selayar M3 di dataran pati. ditanam di dataran rendah (<400 suhu tinggi diartikan sebagai kenaikan suhu m. 1. Penelitian dilakukan menurunkan berat kernel gandum hingga 7% pada dalam tiga tahap.15 dan pertumbuhan generatif. terjadinya perubahan potensial air di daun.1% selama 60 menit tinggi memperpanjang waktu pengisian biji. dan Faktor fisilogi memengaruhi penurunan jumlah fisiologi pada varietas Dewata dan Selayar M3.10 METODE PENELITIAN Faktor fisiologi digunakan untuk melengkapi data morfologi dan anatomi sehingga menghasilkan Penelitian dilakukan di kebun percobaan keragaan yang baik. terutama untuk mutasi klorofil. (penelitian sebelumnya). tergantung wilayah atau habitat asal sekam (2:1). LC50 Dewata adalah EMS 0. dan KCl 100 Toleran suhu tinggi telah diteliti melalui kg/ha pada umur 14 hari setelah tanam (hst) dan induksi mutasi secara in vitro menggunakan EMS pemupukan kedua dengan dosis Urea 150 kg/ha antara lain pada tanaman gandum13 dan ubi jalar.5% insektisida sevin dan pada saat tanam lubang pada tanaman barley. 2) Pengujian anatomi seperti kerapatan kualitas biji-bijian sereal lainnya. Tanaman dipupuk dengan dosis tanaman. anatomi. dan jumlah polong per ruas. Desember 2015: 21–30 23 . Benih M3 terpilih (hasil seleksi M2) yang menyebabkan kerusakan irreversibel pada ditanam tiap nomor dalam baris dengan jarak pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Vol. protein dan isi minyak kernel jagung dan rendah.dpl). Gandum yang diperlakukan dengan EMS Tanaman M3 diidentifikasi barisan- lebih cepat berbunga dan masak bijinya serta barisan yang unggul.3% selama 30 daerah subtropis.9 beberapa karakteristik morfologi. 1 No. perluasan gandum di dataran rendah. prolin dan glukosa pada tanaman gandum kontrol varietas Alibey kurang lebih sebanyak 46%.

Kadar prolin mm2). 1. Dimana: hari. bobot = 0. Cara kerja: daun ditimbang Diameter bidang pandang ( 10 x 40) = 5 x 10-1mm ± 2. stomata per sample tanaman. Kromoform yang mengandung toluene dipisahkan dari Kerapatan stomata diamati dari jumlah stomata fase cairnya pada suhu ruangan. digunakan untuk membandingkan antara varietas kemudian dipanaskan pada suhu 1000C selama kontrol dengan populasi M3. dipanaskan perbesaran lemah selama 20 menit dalam water bath. Selanjutnya standar error di. pk = perbesaran lensa obyektif kuat Pengamatan tanaman M3 dilakukan terhadap Luas bidang pandang = ¼ πd2 parameter morfologi seperti. Volume supernatan nilai rata-rata varietas kontrol seluruh percobaan. 1 No. persentase pertum- = ¼ (3. Menghitung kerapatan stomata dengan daun bendera yang membuka sempurna (tanaman rumus *) : Ǿok = Ǿol x pl /pk (1) mutan dan kontrol).00 Smogy Nelson.17 dalam Augmented Bahan yang dipakai adalah daun bendera Design sebelum dilakukan analisis data perlu yang telah berkembang sempurna (mutan dan dilakukan penyesuaian untuk perbedaan setiap kontrol). persentase pertumbuhan Tahap Panen (TP). Daun halus ditimbang 200 mg perbesaran kuat dan dimasukkan dalam erlenmeyer. yaitu Analisis Prolin dihasilkan melebihi tanaman kontrol.19625 mm2 biji per genotipe (BBG). ditera dengan asam sulfosalisilat hingga 10 ml. anatomi dan fisiologi. | Widyariset. Pengamatan di- Analisis gula total menggunakan metode lakukan pada pagi hari sekitar pukul 07. (∑ stomata/mm ) 2 Luas bidang pandang Genotipe mutan putatif dikatakan beradaptasi baik di dataran rendah jika penampilan tanaman selama pertumbuhan cukup baik dan panen yang Pengujian Fisiologi. Menurut Petersen. ditimbang bobot keringnya dan digiling Ǿ ok = diameter bidang pandang dengan obyektif sampai halus.5)2 buhan Tanam Awal (TA). Supernatant 2 ml dalam tabung ditambahkan 2 gunakan untuk mengestimasi nilai LSI. Bahan yang digunakan adalah WIB. Nilai MSE didapat dari penghitungan lima menit. dan Gula Total. Hasil reaksi diekstraksi Pengujian Anatomi. ditambah- Ǿ ol = diameter bidang pandang dengan obyektif kan 20 ml etanol absolute 80%. Kadar prolin ditentukan berdasarkan pada permukaan daun.5 µg/µmole]/[(g sample)/5] = untuk pengamatan kerapatan stomata (stomata/ µmoles proline/g berat segar daun. Selanjutnya diamati di mikroskop toluene) / 115.5 mm.18 Kemudian direkatkan kurva standar dan menghitung konsentrasi menggunakan selotip untuk pelepasan lapisan prolin dengan rumus: [(µg proline/ml × ml epidermis. Kromoform per satuan luas daun dengan cara mengambil yang terbentuk diukur absorbansinya dengan sampel dari bagian tengah daun bendera dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 520 menggunakan selulosa asetat (cat kuku) pada nm.5g. suhu 60–700C. Nilai LSI ml larutan asam ninhidrin dan asam asetat glacial. Luas Daun Bendera Jumlah stomata Kerapatan stomata = ---------------. digerus dan dihomogenisasi dengan 9 rata-rata varietas mutan dalam baris tertentu dan ml asam sulfosalisilat 3%. yang diamati secara acak sebanyak dua dinyatakan sebagai µg/g bobot daun segar. Larutan reaksi ini diinkubasi dalam ice bath selama lima menit. yaitu Kerapatan dengan 4 ml toluene dan distirer selama 15–20 Stomata dan Ketebalan Daun. supernatan dipisahkan dari larutan.5 g. uji karakteristik morfologi. Desember 2015: 21–30 . pl = perbesaran lensa obyektif lemah disentrifuse dan didiamkan hingga terbentuk 24 Laela Sari.14) (0.00–09.19 Design. Untuk mengestimasi standar error digunakan disentrifugasi dengan kecepatan 5000 rpm selama MSE. Penyesuaian ini didasarkan pada nilai 0. detik sehingga terbentuk kromoform. Toluene digunakan sebagai larutan blanko bagian bawah daun untuk mencetak pola stomata (standar). waktu masak (MSK). dioven dengan suhu ± 450C selama dua = 0. analisis ragam. Cara kerjanya adalah daun ditimbang baris. 60 menit.(2) (LDB) dan Kehijauan Daun Bendera (KDB). dkk. Vol. Analisis data menggunakan Augmented Analisis prolin menggunakan metode Bates.

21 60–700C.5 Cal/Cm2. yaitu dan mutan bahkan hasil bisa menunjukkan lebih menggunakan bahan mutagen untuk meng. Kenaikan suhu tersebut dapat ukur 100 ml + kurang lebih 50 ml aquades + 5 ml mengakibatkan cekaman selama pertumbuhan Ba(OH)2 5% + 5 ml ZnSO4 5%. yang dialami tanaman gandum yaitu pada fase Larutan ditera (20–25 ml) dan dikocok hingga rata bibit penanaman awal. dinginkan. pada tanaman gandum menurut Dolferus. Pada mutan Strategi adaptasi yang paling mendesak dilakukan Selayar yang berpengaruh nyata pada faktor untuk menanggulangi pemanasan suhu tinggi morfologi terdapat dua karakter yaitu bobot biji terhadap pertanian di Indonesia menurut World per genotipe (satu mutan) dan luas daun (satu Development Report.24 gandum ditera hingga 20 ml dan dikocok (ekstrak II).26 mengatakan bahwa cekaman suhu tinggi hilang dan warnanya berubah menjadi bening. dikocok. lama prosedur: pipet 5 ml larutan ekstrak dalam penyinaran matahari 63% dan dengan intensitas tabung reaksi + 5 ml H2SO4 1. kertas saring.23 Hal ini (sepuluh menit) dalam water bath. Larutan diukur dengan Hasil analisis augmented design pada spektrofotometer panjang gelombang 500 nm Tabel 1 menunjukkan adanya pengaruh suhu yang lalu dibandingkan dengan deret ukur yang telah siknifikan terhadap empat karakter morfologi dibuat sebelumnya. 10. Vol. dan dipanaskan dalam water bath suhu selama 30 menit dan 0. Larutan 25°C. dapat diketahui bahwa suhu lebih tinggi dari 25°C. Fase yang paling Cu. (Buat deret standar 5. Penghambatan pertumbuhan tanaman Cairan absolute dalam cawang datar diuapkan gandum adalah suhu udara. dan diinkubasi 30 menit.3% etanol. Larutan dinetralkan dengan NaOH 1N. lalu di. 1. kocok hingga CO2 yang ada Skute. luas daun (lima mutan). 20. tumbuhan.endapan (residu). 1 No. 15. bobot biji per genotipe (tujuh mutan). Cairan diambil dan ditempatkan Dewata dan Selayar mempunyai konsentrasi dalam cawang datar. hari hujan sebanyak reduksi. tinggi tanaman kontrol. Dalam hal ini tidak adanya perbedaan antara tanaman kontrol strategi yang digunakan adalah yang ke tiga. Analisis gula total dilakukan dengan 15. dan disaring menggunakan lokasi Seameo-Biotrop memiliki suhu 26.20 antara lain: menanam mutan) sedangkan pada waktu masak dan varietas yang memiliki daya adaptasi tinggi. Sisa penurunan elevasi maka akan terjadi kenaikan cairan disaring dengan kertas saring dalam labu suhu udara. Menurut Van Ginkel & Villareal. sedangkan yang tidak siknifikan (ns) mutagen untuk keragaman genetik. memerlukan suhu bagi pertumbuhannya sekitar Proses reduksi/pewarnaan: Ambil 2 ml contoh eta. seperti waktu masak (dua mutan). Larutan ditera dengan aquades karena iklim lingkungan selama penelitian di (100 ml). disentrifuse dan didiamkan hingga ter. yaitu 0. 15 – 25°C dan tidak dapat tumbuh pada daerah nol II dalam tabung reaksi 25 ml + 2 ml pereaksi yang hangat dan suhu tinggi. artinya setiap dalam water bath hingga tersisa 1–2 ml. Ekstrak ditambah 20 ml EMS Lethal Concentration 50 (LC50).25 adalah lalu didinginkan dan ditambahkan dengan 2 ml fase reproduksi.1% selama 60 menit. Varietas Laela Sari.4N lalu dipanaskan radiasi matahari sebesar 237. Pengaruh mengubah masa tanam menyesuaikan iklim suhu yang siknifikan (s) mengindikasikan adanya dan mempraktekkan pertanian dengan masa perbedaan antara tanaman kontrol. Desember 2015: 21–30 25 .22 Ini terjadi endapan (protein). sehingga terdapat dan perkembangan tanaman gandum. hasilkan bibit unggul dengan EMS.4 °C. Hasil saringan ini merupakan gula rata-rata curah hujan 360 mm. HASIL DAN PEMBAHASAN dan kehijauan daun (satu mutan). | Widyariset. Kenaikan suhu 1°C maka akan membuat bentuk residu cairan dan diambil untuk disatukan gandum itu mengalami penghambatan per- dengan cairan sebelumnya (diulangi tiga kali). Sedangkan menurut Savicka dan pereaksi Nelson. kelembaban udara 85%. mutan Dewata tanam yang lebih singkat serta menggunakan dan Selayar.25 hari. 25 ppm). dkk. lalu dipansakan selama 10 menit dalam water kritis karena cekaman abiotik seperti suhu tinggi bath. kehijauan daun tidak berpengaruh nyata. dimana suhu optimum tanaman gandum adalah sehingga terbentuk warna merah jambu.

23* 4.23 11.24 12 3dw-4-12-1 41.10 3.07 13.38 18. Tabel 1.73 21 sl-3-2-2 50.94* 22. Vol.29* 57. yang signifikan mempunyai karakteristik yang kan mutan yang diinginkanm seperti persentase lebih baik sehingga dapat beradaptasi dengan pertumbuhan waktu panen yang lebih tinggi lingkungan yang tercekam suhu tinggi dan dari kontrol.63 21.13 11 3dw-6-21-1 48.82 27.07* 63.10 2.58* 54.68 3.90 14. 26 Laela Sari. 1.62 18 3dw-6-15-2 22.21* 47.77* 17.66* 10 2dw-7-10-1 74.40 40.45* 39.40 7.82 2 Selayar-K 72.27* 52.39 61.33 26.32 14.90 43.23* 3.55 38.45* 39. berbedanya jumlah tangkai malai memungkinkan untuk dijadikan sebagai genotipe antara tanaman kontrol dan mutan Dewata dan untuk penanaman selanjutnya sampai M6 (tanam- Selayar (Gambar 1).55 22 sl-2-14-2 42.77* 82.43 4.62* 68.68 14 2dw-1-21-2 47.95* 82.46 19.18* 87.38 Ket.31* 54.30 74.50 84.89 48. persentase tumbuh panen (TP).92 47. luas daun bendera (LDB) dan kehijauan daun bendera (KDB) pada mutan Dewata dan Selayar. * = Siknifikan (lebih tinggi dari kontrol (LSI) / berbeda dari kontrol.75 35.12* 49.12* 77. Karakter morfologi yang signifikan digunakan sebagai indikator perbedaan antara menandakan bahwa tanaman tersebut memiliki tanaman mutan dan kontrol.52* 19.68 8. Perbedaan karakter ini dapat an homogen) di lingkungan dataran rendah. Analisis augmented design karakter morfologi persentase tumbuh awal (TA).69* 33.52 9 3dw-4-8-1 76.59* 21.68 4.3* 31. 1 No.15 45.11 30.45* 49.38 59.95 57.22* 34. waktu masak (MSK).85 15 dw-1-22-3 62.35 6 2dw-2-13-3 54.15 7 2dw-7-1-1 85. Karakter-karakter keragaman yang cukup luas dan dapat menghasil.56 44.35 67.90 10.23 19.31 12.45 76.67* 25.48 8 2dw-6-17-1 49.77 19.79 47.07 50.26* 31.40 22.67* 58.93 29.86 42.18 5 2dw-2-17-3 62.41 86. Bentuk morfologi pertumbuhan tanaman gandum kontrol dan mutan pada varietas Selayar (A) dan Dewata (B) umur 2.32 4. Desember 2015: 21–30 .06 21.15* 22.74* 76.15 3 dw-1-15-1 37.56* 24.75 4 dw-2-13-2 69.00* 68.56* 29.95 16 2dw-7-10-1 74.68* 42.83* 23.85 27.33 26.61 19 3dw-1-4-2 65.68 19.21* 47.5 bulan.32 8.06 69.84* 67. Gambar 1.62* 21.91 87.74 32. | Widyariset.12* 25.63* 39. No Genotipe TA TP MSK BBG LDB KDB 1 Dewata-K 40.23 3.68* 37.82 53.54 18. bobot biji per genotipe (BBG).19* 73.32 41.97* 47.96 20 3dw-1-10-1 70.26 44.73 51.13 17 2dw-1-27-2 75.77 13 dw-1-13-2 69.03 36.63 42.10 9.18 21.84 107.29* 55.37 24.56* 27. dkk.78 8.40 37.95* 26.

60-2-14-2) dan batkan masa anthesis polen menjadi memendek kontrol keduanya (Gambar 2 dan 3). 13-3).28 suhu tinggi dapat tanaman gandum.30-2- yang diselingi curah hujan yang tinggi mengaki. adalah ±250 Mdpl. Desember 2015: 21–30 27 .. mengakibatkan terhambatnya perkecambahan dan Pengaruh elevasi berpengarug secara pertumbuhan tabung polen.30-2-13-3 (kanan). Respon tanaman terhadap perbedaan elevasi pada ketebalan daun dan kerapatan stomata dapat ditandai oleh menurunnya atau meningkat.60-2-14-2 (kanan) Laela Sari. dan intensitas penyinaran serta yang tinggi dan akan mengurangi jumlah polen curah hujan tinggi akan menambah tingkat ceka. 1.Kombinasi antara suhu dengan kelembaban.3.3. bunga rendah dan jumlah hasil produksi menurun. pembentukan biji. dan pengisian Hasil penampilan karakteristik anatomi biji. 1 No. Menurut Thuzar. serta dapat mengakibatkan jumlah hasil produksi man terhadap pertumbuhan dan perkembangan menurun. Selayar mutan (SL-0. Vol. | Widyariset. pembungaan. Mutan Gambar 3.1. sehingga mempunyai suhu lama penyinaran. B). sehingga penyerbukan kumulatif terhadap fase pertumbuhan vegetatif. Tingginya suhu antara tanaman Dewata mutan (DW-0. A) Penampilan ketebalan daun menggunakan metode mikro teknik kontrol Dewata (kiri) dan mutan Dewata DW-0.27 Elevasi Taiz & Zeiger. menghasilkan toleransi nilai yang berbeda nya aktivitas fisiologis tanaman. dan Selayar .30 perbedaan ketebalan pada areal penanaman di SEAMEO-BIOTROP daun dan kerapatan stomata pada tanaman Gambar 2.1. B) kontrol Selayar (kiri) dan mutan Selayar SL-0.29 Sopandie. Menurut dan mengurangi jumlah polen viabel. dkk. A) Penampilan stomata gandum kontrol Dewata.

Selayar dan kontrol.53 µg/gBB) dengan irigasi normal dan terendah pada kondisi tercekam mutan SL-0. pada tanaman tebu meningkat signifikan pada Karakter fisiologi menunjukkan per. kekeringan. kondisi tercekam kekeringan.37 µg/gBB).3. Hasil analisis prolin pada gandum mutan Dewata. Vol. 32 pada tanaman mengukur akumulasi senyawa prolin dan barley. | Widyariset. Peningkatan CO2 juga dapat suaian osmotik. Begitu juga pada tanaman klon nilam Karakter fisiologis yang berpengaruh nyata adalah dapat mengakumulasi prolin yang tinggi sebesar hasil analisis prolin dan glukosa (Gambar 4 dan 490 μg/g-1 pada klon nilam harapan Sidikalang.29 µg/gBB) dengan irigasi normal. Penggunaan penciri fisiologi dapat dilakukan Hasil penelitian Bandurska.79 µg/gBB).60-2-14-2 (335. 5). akumulasi prolin menjadi meningkat glukosa dalam daun tanaman gandum. 28 Laela Sari. 1. Kandungan prolin bedaan yang siknifikan pada jumlah prolin terendah adalah ketika tanaman tebu ditanam pada yaitu Dewata kontrol (79.31 yang melaporkan bahwa kandungan prolin siknifikan tetapi penelitian ini sangat terbatas. Hasil analisis glukosa pada gandum mutan Dewata. Gambar 5. sepuluh kali terhadap cekaman kekeringan Gambar 4. kontrol dan mutan karena adanya perbedaan Akumulasi senyawa prolin berkaitan dengan dalam penyerapan unsur hara dan hilangnya air mekanisme tanaman untuk tetap bertahan hidup melalui proses transpirasi serta intensitas cahaya dalam kondisi tercekam suhu tinggi yang di- terhadap sel-sel palisade.30-2-13-3 (332. Selayar dan kontrol. dkk. 1 No. sedangkan aktivitas enzim nitrat mutan DW-0. Penelitian ini sejalan dengan hasil menyebabkan perubahan anatomi secara Patil. Desember 2015: 21–30 . Intensitas yang tinggi sebut penyesuaian osmotik. dan reduktase tertinggi ditemukan pada perlakuan Selayar kontrol (201. Hal ini menunjukkan dengan suhu tinggi menyebabkan sel-sel palisade bahwa dua mutan melakukan respon apabila menjadi lebih panjang dan berlapis atas dua mengalami cekaman suhu tinggi sebagai penye- dan tiga lapisan.1.

Gulli.. anatomy and physiology characterization Gandum dengan judul Perakitan gandum adaptif of mutant wheat (Triticum aestivum L) “Alibey” in tropical lowland area. & Env.3. J. Agron. Norwich. Hal ini Pengembangan Pertanian. M.. anatomi dapat dilakukan pada analisis ketebalan Risalah Seminar Hasil Penelitian Tanaman daun dan kerapatan stomata. Bio. Fujii. Sutjihno. Kaher. Purnamaningsih. menunjukkan bahwa identifikasi karakteristik 5 Gayatri. Penampilan Nilai prolin dan kadar glukosa memiliki galur-galur terigu pada dua waktu tanam.T. 2013. 79(4): 598–607. (Eds). Bogor. Kepala BB-Biogen dan SEAMEO-BIOTROP 10 Sari. Understanding the Regional gBB). Prospek dan arah pengembangan mutan (DW-0. Roma:FAO. Perrotta. | Widyariset.C. Desember 2015: 21–30 29 . 1987... Subandi. Puslitbangtan. Dalam: Curtis. 23: 8–11. Risalah Rapat Teknis tinggi dari tetuanya dan mempunyai bentuk yang Hasil Penelitian Jagung. dan Huck.. T. dan Furuta. Mutan Dewata dan Selayar dapat diseleksi 8 Watanabe. 1989. Soepandi.. H... 9 Hoogenboom.3. M. C. Desertasi.paper/twp90. Y. (3).. atas izin dan fasilitas yang diberikan sehingga R. 1994.30-1-15-1. data morfologi dan anatomi sehingga menghasil. Tyndall Center rakter fisiologi yang digunakan untuk melengkapi Working Paper 90. Levy. Ka. Klueva. Kusuma R. Physiological approaches to KESIMPULAN wheat breeding . Amell. DIPA BB-Biogen untuk 11 Maestri. berdasarkan pada bobot biji per genotipe (BBG) 1991.G. perbedaan yang nyata antara Dewata kontrol Pemberitaan Penelitian Sukarami.G. ac. agribisnis gandum. Nguyen. Prepared for the Stern Review. R..60-2-14-2.1. Purwito.tyndall. anggaran 2012–2013. Konsorsium ogy. Institut Pertanian Bogor. 1985. 1 No. mutan.32 mg/gBB) 1 Warren.1. tropis melalui keragaman somaklonal tahun 6(1): 395–403.. J. 469–474. G. Molecular genetics of heat tolerance and heat Laela Sari. 2002. Plant Physiol.60-2-14-2) dengan kontrol keduanya.P. L. Nilai kadar glukosa juga memiliki perbedaan DAFTAR PUSTAKA pula antara Dewata kontrol (14. 2006.. 1. 6 Dasmal. hlm 189–202. Changes in chlorophyll. 3 Reynolds. 31(4): gandum yang dapat beradaptasi di dataran rendah... M. dan Macpherson.M.. E.30-1-15-1 (29. dkk. M.uk/publications/working. H. Biochem... C. Adaptasi tanaman gandum (Triticum kontrol dengan mutan SL-0..87 mg/gBB) dengan Impact of Climate Change. Paris.. D. 2002. Selayar mutan (SL. J. thylakoid protein dan luas daun (LD) karena di kedua karakter and photosynthetic adaptation to sun and shade tersebut menghasilkan lebih banyak mutan environment in diploid and tetraploid Oryza dibandingkan karakter yang lainnya. Research Report mutan SL-0.68 mg/gBB). Sekolah Pascasarjana. Sorgum dan Gandum berbeda pula.. uji lapangan gandum tahun anggaran 2013–2014. E. dan Selayar 7 Nur. Peterson. M. S. Pangan Balittan Bogor.pdf. P.. A.. Shoot growth rate of soybean as affected UCAPAN TERIMA KASIH by drought stress. Badan Penelitian dan 0.06 mg/ Price. N. Sci. dengan mutan DW-0.. (Ed. (www. N. Rajaram. Hasil penelitian Gandum dan prospek pengembangannya. perbedaan yang nyata antara tanaman Dewata 4 P3TP.) kan keragaan yang baik untuk menghasilkan 2 Danakusuma. 2015. Selayar kontrol (5..... sehingga punctuate Kotschy and diploid Oryza eichingeri dapat digunakan untuk mendapatkan varietas peter. N. dan Marmiroli. B. N. Nichols. A... dan dengan mutan DW-0. Tanaman aestivum L.) Bread wheat Penampilan karakter anatomi pada ketebalan improvement and production. 2008..60-2-14-2 (17. R. Shiroto. dan Sudarmonowati.) toleran suhu tinggi dan peningka- gandum kontrol memiliki nilai prolin dan nilai tan keragaman genetik melalui induksi mutasi kadar glukosa lebih rendah dibandingkan tanaman dengan menggunakan irradiasi sinar gamma.30-2-13-3). dan Yusuf. B. The morphol- penelitian ini dapat dilaksanakan. Di dalam: mutan yang unggul dengan hasil produksi lebih Subandi et al. A.. daun dan kerapatan stomata memperlihatkan 567 hlm.3.1.N. 1: 108–114. Vol... C..

A.(Eds.fr/warming40. 30 Laela Sari. M. M. 1973.gif. 17 Petersen.K. 2007. Publishers. P.. drought and osmotically stressed plant. J. dan Hadley. 353 hlm.G. 2(12): 1102–1107.. K..X. 48: No. tissue cultured Rosa multiflora. Seameo-Biotrop. 1998. 1 No.Science 27 Ivory. Puteh....S. Disertasion. 1994. A.M. Dharwad.. R. (http://www. Fontarnau. Acta 29 Taiz. J. J.. Physiological approaches for anatomy of stomata and epidermal cells in drought tolerance in sugarcane. Mohd 15 Van Harten. Penelitian dan Pengembangan Gandum di Indonesia. Desember 2015: 21–30 .A. M. Y. Abdullah. 5(5):189–199. M. 1989. 2008.SCI.. terhadap Cekaman Abiotik pada Agroekosistem 18 Capellades.). D. V.J. 2014. Biol. D. E.. Site characteristik in De lacy. Gao. 2010. M. dkk. L. 115(1): 141–145. Wheeler. dan Richard. tion experiments. Environment influences 31 Patil.P.). Publisers. dan Tropika. R. Bogor. temperature stress on the quality and yield Cambridge Univ Pr... A. S.. Ekologija 58(1):9–12. Klimatologi dan Geofisika. 88(1): 77–81. Free proline studies. Third Agronomica Hungaria 46(4): 389–391. Does proline accumulated in 19 Bates.. 2012. Of 16 Viswanathan. Plant Sci. dan Sudarmonowati. p. N. University of Agricultural Sciences.P. 2008.. Ellis. Analysis of data from agriculture adapta- 14 Luan. 22 Handoko.. Effect of high temperature stress at Abiotic stress and control of grain number in anthesis on grain yield and biomass of field cereal.Soc. 2000. 1996. 12 Ferris. edition. dan Zeiger..R. Fisiologi Adaptasi Tanaman Dekker Inc. R.. (Ed). M. Data iklim Bogor Tahun 2013.. Pakistan Journal of App. Massachusetts. Cereals. HORT. of soya bean (Glycine max. Mutation Breeding: Lassim. Vol..A. E.. accumulation and membran injury index in 20 World Development Report. 2(1):172–179. R.. In Grubben GJH. 25 Dolferus. 2011. 1996. Plant resourse of South-East Asia (PROSEA). grown crops of wheat. 181:331–341. 2002. Plant Cell Tissue Organ Cult.. dan Jusoff. dan Teare. Waldren. P..) 21 Sari L. Netherland: Backhuys 667–681. R.P... Agricultural Field Experiments. dan Villareal. L. 23 [BMKG] Badan Meteorologi. Res. Plant Mol.). New York. 32 Bandurska. dan Skute.H.. of early flowering mutants intriticale. Some mor- 67–78. R. Wheat (Triticum aestivum L. 118 hlm.. Carulla C. R.B. Bogor (ID): Stasiun Klimatologi Darmaga Bogor. Rapid leaves of water devicit stressed barley plant determination of free proline for water stress confine cell membrane injury? I..) mutants throught in vitro selection tolerant on lowland tropic. plant regeneration of sweet potato (Ipomea Suphanburi and Chiang Mai Thailand: 15-17 batatas L. Leiden..228. The use of induced micro characteristics of wheat seedling Titicum mutation for quantitative characters after EMS aestivum L. L. dan Reddy. Plan Soils 39: 205–207. P. 1. 2013. 17–24 hlm. Debergh P.. dan An. Global Warming.LH.10. J.. 1999. R. 2002. Bogor: IPB Press... Plant Cell Environ.B. Design and Analysis. Int.S.... R... T. Indonesia. 2014.. Purnamaningsih. | Widyariset. Genetics Agriculture Science. Australia Cooperation with Mutation induced by ethylmethanesulphonate the Thai/World Bank National Agricultural (EMS) in vitro screening for salt tolerance and Research Project (ACNARP) Training Course. physiological and biochemical 13 Sakin. breeding. Physiologiae Plantarum 22(4):409–415. Triticum L. 1990. shock proteins in cereals.I. Purwito. January 1989. Agri. Z. 24 Van Ginkel.michellehenry. Plant Physiology.. R. H. N. Partohardjono S.. Xuemei.. 34: 26 Savicka.AMER. Acta Adaptasi Pertanian dalam Pemanasan Global. Juan.R. 28 Thuzar.L. Soepandi.. 2007.137-143.R.Merril. D. The effect Theory and Practical Applications. USA: Marcel 30 Sopandie. organs after high-temperature and Gamma ray treatments in Durum wheat treatment. A. phological. Sinauer Associates Inc.L. New York.