You are on page 1of 4

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Bekerja merupakan salah satu bentuk aktivitas fisik, yang didefinisikan WHO (2011) sebagai pergerakan tubuh yang menimbulkan konsumsi energi pada jumlah tertentu. Besar konsumsi energi menentukan kategori suatu aktivitas fisik ke dalam tingkatan ringan, sedang, atau berat (Ainsworth dkk, 2011). Pada saat ini, manusia lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan. Keadaan lingkungan yang optimal akan membuat manusia merasa nyaman untuk melakukan berbagai jenis aktivitas. Dengan demikian lingkungan yang nyaman berkontribusi terhadap peningkatan kinerja dan produktivitas (Van Hoof dkk, 2010). Lingkungan yang nyaman memungkinkan tercapainya kenyamanan termal, yaitu kondisi pikiran yang menunjukkan kepuasan terhadap lingkungan termal yang dialami (ASHRAE, 2004). Keadaan tersebut dapat diketahui dengan melihat sistem termoregulasi pada tubuh manusia ketika terjadi pertukaran panas antara tubuh dengan lingkungan fisik di sekitarnya (Parsons, 2002). Artinya kenyamanan termal berkaitan dengan fungsi sistem organ tubuh manusia, atau yang dikenal dengan fisiologi. Ketidakseimbangan pada faktor lingkungan seperti temperatur dan kelembapan dapat menciptakan lingkungan yang tidak nyaman (ASHRAE, 2004). Kondisi itu dapat mengakibatkan perubahan suhu tubuh yang menimbulkan reaksi fisiologis. Kenaikan suhu tubuh menimbulkan pengeluaran keringat, sedangkan penurunan suhu tubuh menimbulkan gemetar. Pada kondisi yang ekstrem, kenaikan suhu tubuh dapat mengakibatkan heat exhaustion dan heat stroke, sedangkan penurunan suhu tubuh dapat mengakibatkan kekakuan otot (Parsons,

2002).

Sementara itu, terdapat jenis pekerjaan yang menuntut orang untuk bekerja di lingkungan termal tertentu, misalnya koki di dapur komersial. Penelitian yang dilakukan Matsuzuki dkk (2011) menunjukkan temperatur ambien udara di dapur

2

komersial cukup tinggi. Hal itu disebabkan alat-alat dapur menghasilkan energi panas untuk mematangkan masakan. Suhu udara di sekitar alat pun dapat mencapai lebih dari 40°C. Berbeda halnya dengan pekerja yang terbiasa bekerja di gudang pendingin seperti pada penelitian Golbabaei dkk (2009). Temperatur ambien pada tempat tersebut dapat mencapai -17,8°C untuk menjaga keawetan barang yang disimpan. Meskipun berbeda, kedua lingkungan tersebut dapat mengakibatkan ketidaknyamanan termal. Pada lingkungan termal yang beragam, pekerja tetap melaksanakan tugasnya sesuai dengan deskripsi dan durasi kerja. Aktivitas kerja yang dilakukan meliputi aktivitas ringan, misalnya mencatat; aktivitas sedang, misalnya membersihkan tempat kerja; maupun aktivitas berat, misalnya mengangkat stok barang secara manual. Laju metabolisme tubuh tentunya berbeda pada tiap tingkatan aktivitas, sehingga dapat mempengaruhi kenyamanan termal. Namun secara subjektif orang akan menilai kenyamanan lebih berdasarkan kondisi lingkungan di sekitarnya dibandingkan dengan jenis pekerjaan yang dilakukan. Dari berbagai pernyataan tersebut, pengaruh kondisi lingkungan termal menjadi hal yang menarik untuk dipelajari. Pada penelitian ini, akan dibahas pengaruh termal terhadap kondisi fisiologis manusia pada saat melakukan aktivitas dengan beberapa tingkatan. Dengan demikian, dapat dilakukan perbandingan efek fisiologis pada temperatur maupun tingkatan aktivitas yang berbeda. Pada saat melakukan aktivitas, tentunya akan dirasakan kenyamanan dan sensasi termal yang berbeda. Oleh karena itu, akan dilihat pula hubungan antara efek fisiologis dengan kenyamanan termal tersebut.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, perumusan masalah

pada penelitian ini adalah sebagai berikut.

Bagaimana pengaruh faktor termal dan tingkat aktivitas terhadap kondisi fisiologis dan kenyamanan termal?

1.

3

2. Bagaimana hubungan antara efek fisiologis dan kenyamanan termal pada saat melakukan aktivitas pada lingkungan termal tertentu?

1.3 Asumsi dan Batasan Masalah Asumsi dan batasan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut.

1. Ukuran pakaian dikendalikan dengan kaus berukuran M dan L, dan celana panjang berukuran L. Keketatan/kelonggaran pakaian diasumsikan tidak mempengaruhi kenyamanan termal yang dirasakan responden.

2. Keterampilan responden dalam menggunakan alat penelitian (treadmill) dianggap sama.

3. Aktivitas fisik sehari-hari yang dilakukan oleh responden tidak dikendalikan. Sebelum melakukan task, responden diminta berbaring relaks selama beberapa menit untuk mengendalikan denyut jantung.

1.4 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Mengetahui pengaruh faktor termal, baik panas maupun dingin, dan

pengaruh tingkat aktivitas terhadap perubahan denyut jantung.

2. Mengetahui pengaruh faktor termal dan tingkat aktivitas terhadap perubahan forehead temperature.

3. Mengetahui pengaruh faktor termal dan tingkat aktivitas terhadap kenyamanan termal terhitung, yaitu Predicted Mean Vote (PMV) dan Predicted Percentage Dissatisfied (PPD).

4. Mengetahui pengaruh faktor termal dan tingkat aktivitas terhadap kenyamanan termal subjektif atau Thermal Sensation Vote (TSV)

5. Mengetahui hubungan antara perubahan denyut jantung dengan kenyamanan termal.

4

6. Mengetahui hubungan antara perubahan forehead temperature dengan kenyamanan termal

1.5 Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Memberikan pengetahuan mengenai pengaruh termal terhadap fisiologi manusia dan kenyamanan termal.

2. Memberikan pengetahuan mengenai hubungan antara efek fisiologis yang diterima oleh tubuh dengan kenyamanan termal yang dirasakan.

3. Memberikan saran mengenai pengaturan temperatur lingkungan kerja yang sesuai dengan jenis pekerjaan tertentu.