You are on page 1of 8

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengusaha sering bingung terhadap penggunaan faktor produksi (input)

untuk menghasilkan output yang maksimal. Darisitulah muncul fungsi produksi

dimana fungsi tersebut ialah hubungan fisik antara masukan prosuksi (Input) dan

Produksi (output). Analisis fungsi produksi sering dilakukan oleh para peneliti,

karena mereka menginginkan informasi sumber daya yang terbatas seperti tanah,

tenaga kerja dan modal dapat dikelola dengan baik agar produksi maksimum

dapat diperoleh. Seiring berjalannya waktu fungsi produksi bukan hanya fungsi

produksi saja melainkan adanya fungsi produksi cobb-douglas. Fungsi produksi

cobb-douglas adalah suatu fungsi produksi yang ingin memperlihatkan pengaruh

input yang digunakan dengan output yang diinginkan.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana analisis fungsi produksi cobb-douglas ?

2. Bagaimana cara mengetahui pengaruh input yang digunakan terhadap

output yang dihasilkan ?

C. Tujuan

1. Mahasiswa dapat mengetahui analisis fungsi produksi cobb-douglas.

2. Mahasiswa dapat mengetahui pengaruh input yang digunakan terhadap

output yang dihasilkan.

1
D. Manfaat.

1. Mengetahui banyaknya sumberdaya yang digunakan untuk mencapai

produksi yang optimum.

2
II. PEMBAHASAN

A. Pengertian Fungsi Produksi Cobb-Douglas

Fungsi produksi Cobb-Douglas adalah suatu fungsi atau persamaan yang

melibatkan dua atau lebih variabel, dimana variabel yang satu disebut variable

dependent (Y) yang dijelaskan, dan yang lain disebut variable independent (X)

yang menjelaskan Soekartawi dalam Yuliastuti Ramadhani (2011). Bentuk umum

dari fungsi produksi Cobb-Douglas menurut Yuliastuti Ramadhani (2011) adalah

sebagai berikut :

Q = δ.I.α

Keterangan :

Q : output

I : jenis input yang dipergunakan dalam proses produksi dan dipertimbangkan

untuk dikaji.

δ : indeks efisiensi penggunaan input dalam menghasilkan output.

α : elastisitas produksi dari input yang digunakan.

Beberapa alasan praktis yang membuat produksi Cobb-Douglas sering

dipergunakan orang adalah :

1) Bentuk fungsi produksi Cobb-Douglas bersifat sederhana dan mudah dalam

penerapannya.

2) Fungsi produksi Cobb-Douglas mampu menggambarkan keadaan skala hasil

(return to scale), apakah sedang meningkat, tetap atau menurun.

3
3) Koefisien – koefisien fungsi produksi Cobb-Douglas secara langsung

menggambarkan elastisitas produksi dari setiap input yang dipergunakan dan

dipertimbangkan untuk dikaji dalam fungsi produksi Cobb-Douglas itu.

4) Koefisien intersep dari fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan indeks

efisiensi produksi yang secara langsung menggambarkan efisiensi penggunaan

input dalam menghasilkan output dari sistem produksi yang sedang dikaji itu.

B. Analisis Fungsi Cobb-Douglas

Sedangkan pada permasalahan kali ini, menurut Ni Luh Putu (2010)

fungsi produksi Cobb-Douglas akan dinotasikan sebagai berikut :

Q = δ. Lα. Kβ

Keterangan

Q = kuantitas output yang diproduksi

L = kuantitas input tenaga kerja yang digunakan

K = kuantitas input modal yang digunakan

δ = indeks efisiensi penggunaan input

α = elastisitas output dari tenaga kerja

β = elastisitas output dari modal.

3 macam returns to scale yaitu antara lain :

1. Constant returns to scale yaitu bila peningkatan input akan meningkatkan

output tepat sama dengan propors itu. Misalnya input naik 10% dan output naik

juga 10%, maka fungsi produksi memiliki constant returns to scale.

4
2. Increasing returns to scale yaitu bila peningkatan input akan

meningkatkan output lebih besar dari proporsi itu. Misalnya input naik 10%

dan output naik 14%, maka fungsi produksi memiliki increasing returns to scale.

3. Decreasing returns to scale yaitu bila peningkatan input akan

meningkatkan output lebih kecil dari proporsi itu. Misalnya input naik 10%

dan output naik 8%, maka fungsi produksi memiliki decreasing returns to scale.

Dalam fungsi Cobb-Douglas yang akan dipakai, kondisi returns to

scale dapat diketahui dengan menambahkan α dan β. Apabila hasilnya > 1

maka sistem produksi dalam keadaan skala output meningkat, bila hasilnya =

1 maka sistem produksi dalam keadaan skala output konstan, dan bila hasilnya

< 1 maka sistem produksi dalam keadaan skala output menurun.

C. Pengaruh Input terhadap Output yang Dihasilkan.

Menurut Ni Luh Putu (2010) Analisis tambahan yang bisa didapatkan dari

fungsi produksi adalah efisiensi, yaitu apakah suatu perusahaan sudah

menggunakan kombinasi input yang optimal atau tidak. Penggunaan input

optimal merupakan pertimbangan penting bagi manajer dan perusahaan. Untuk

analisa ini data yang diperlukan adalah Harga tenaga kerja (w), harga modal

(r), elastisitas output tenaga kerja dan modal, serta kuantitas tenaga kerja dan

modal selama tahun 2007-2009. Untuk analisisnya bisa dipakai fungsi Cobb-

Douglas dengan kriteria sebagai berikut :

 MPL = α (Q/L) dan MPK = β (Q/K), maka MPRS = MPL/MPK (α/β)

(K/L) = (w/r) atau α (K/L) – β (w/r) = 0

5
Dampak pengurangan / penambahan penggunaan tenaga kerja terhadap

produktivitas tenaga kerja yaitu salah satu komponen penting untuk pengambilan

keputusan oleh seorang manajer adalah mengetahui produktivitas dari input

yang digunakan dalam proses produksi. Untuk mengetahui apakah penambahan /

pengurangan input tenaga kerja berdampak pada produktivitas rata-rata tenaga

kerja (APL), dan produktivitas marjinal tenaga kerja (MPL) maka perlu

dilakukan perhitungan produktivitas rata- rata tenaga kerja dan produktivitas

marginal tenaga kerja.

Kondisi returns to scale dari suatu fungsi produksi dapat diuji melalui

menggandakan setiap input dengan suatu konstanta tertentu dan kemudian

menyelidiki perubahan-perubahan output yang terjadi. Apabila perubahan

output itu lebih besar dari pada c (konstanta pengganda input) maka fungsi

produksi tersebut berada dalam kondisi skala output meningkat, apabila

perubahan output itu sama dengan c, maka fungsi produksi tersebut berada

dalam skala output yang konstan, apabila perubahan output itu lebih kecil

dari c, maka fungsi produksi tersebut berada dalam skala output yang

menurun.

Bilamana terdapat kondisi skala output ketiga produk meningkat, maka

urutan prioritas produksinya adalah bebas, yang berarti perusahaan dapat

memproduksi produk manapun karena kondisi ketiga produk berada dalam

skala output yang meningkat. Namun bila ternyata ada perbedaan kondisi

skala output dari masing-masing produk, maka yang diprioritaskan adalah produk

dengan kondisi increasing returns to scale, kemudian diikuti produk dalam

6
kondisi constant returns to scale, dan terakhir adalah produk dalam kondisi

decreasing returns to scale. Dengan urutan tersebut, manajemen bisnis akan

mendapatkan informasi terkait dengan produk mana yang paling efisien

didalam penggunaan input-input yang ada.

7
III. PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Fungsi produksi Cobb-Douglas dinotasikan sebagai berikut :

Q = δ. Lα. Kβ.

2. Input optimal dapat menghasilkan output yang maksimal jika memenuhi

kriteria :

MPL = α (Q/L) dan MPK = β (Q/K), maka MPRS = MPL/MPK (α/β)

(K/L) = (w/r) atau α (K/L) – β (w/r) = 0.

B. Saran

1. Pengusaha seharusnya memakai analisis Cobb-Douglas ini agar

produksinya maksimal dengan mengoptimalkan sumberdaya yang ada.

2. Mahasiswa harus mampu melakukan pengabdian dalam masyarakat

dengan berbagi ilmunya kepada para wirausaha mengenai fungsi produksi

agar wirausaha tetap lancar dan dapat mengoptimalkan sumberdaya yang

ada.

8