You are on page 1of 7

LAPORAN PENDAHULUAN

1. MASALAH UTAMA
Halusinasi

2. PROSES TERJADINYA MASALAH
A. Pengertian
Halusinasi dapat didefinisikan sebagai suatu persepsi yang salah tanpa dijumpai adanya
rangsangan dari luar (Yosep, 2011). Menurut Direja, (2011) halusinasi merupakan
hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal (pikiran) dan
rangsangan eksternal (dunia luar). Sedangkan halusinasi menurut Keliat dan Akemat,
(2010) adalah suatu gejala gangguan jiwa pada individu yang ditandai dengan perubahan
sensori persepsi; merasakan sensasi palsu berupa penglihatan, pengecapan, perabaan
penghiduan, atau pendengaran.

B. Rentang Respon
Berdasarkan ( Stuart dan Laria,2001 )
Respon Adaptif Respon Maladatif
 Pikiran Logis > Distrosi Pikiran > Gangguan Pikir
 Persepsi Akurat > Illusi > Halusinasi
 Emosi Konsisten dgn Pengalaman > Reaksi Emosi >Sulit Berspon
 Perilaku Sesuai > Perilaku aneh > Perilaku Disoganisasi
 Berhubungan Sosial > Menarik Diri > Isolasi Sosial

C. Etiologi
Faktor Predisposisi
Menurut Stuart (2007), faktor penyebab terjadinya halusinasi adalah:
a. Biologis
Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan respon
neurobiologis yang maladaptif baru mulai dipahami. Ini ditunjukkan oleh
penelitian-penelitian yang berikut:

1

kerusuhan. 2 . atropi korteks bagian depan dan atropi otak kecil (cerebellum). Salah satu sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan kekerasan dalam rentang hidup klien. Temuan kelainan anatomi otak tersebut didukung oleh otopsi (post-mortem). 2) Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter yang berlebihan dan masalah-masalah pada system reseptor dopamin dikaitkan dengan terjadinya skizofrenia. 3) Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal menunjukkan terjadinya atropi yang signifikan pada otak manusia. isolasi. tekanan. Sosial Budaya Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita seperti: kemiskinan. 2006). a. putus asa dan tidak berdaya. Faktor Presipitasi Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah adanya hubungan yang bermusuhan. ditemukan pelebaran lateral ventrikel. perasaan tidak berguna. yang mengatur proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus yang diterima oleh otak untuk diinterpretasikan. bencana alam) dan kehidupan yang terisolasi disertai stress. b. temporal dan limbik berhubungan dengan perilaku psikotik. 1) Penelitian pencitraan otak sudah menunjukkan keterlibatan otak yang lebih luas dalam perkembangan skizofrenia. pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon dan kondisi psikologis klien. Psikologis Keluarga. Pada anatomi otak klien dengan skizofrenia kronis. Lesi pada daerah frontal. konflik sosial budaya (perang. c. Biologis Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak. Penilaian individu terhadap stressor dan masalah koping dapat mengindikasikan kemungkinan kekambuhan (Keliat.

Halusinasi pendengaran (auditorik) 70 % Karakteristik ditandai dengan mendengar suara.Jenis Halusinasi Menurut (Menurut Stuart. 4. Kadang – kadang terhidu bau harum. amis dan bau yang menjijikkan seperti : darah. 3 . Halusinasi Kinesthetic Merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa bergerak. benda mati atau orang. D. Jenis . teruatama suara – suara orang. Biasanya berhubungan dengan stroke. urine atau feses. merasa mengecap rasa seperti rasa darah. Stress lingkungan Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku. b. Sumber koping Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi stressor. Penglihatan bisa menyenangkan atau menakutkan. Halusinasi peraba (tactile) Karakteristik ditandai dengan adanya rasa sakit atau tidak enak tanpa stimulus yang terlihat. Halusinasi penglihatan (Visual) 20 % Karakteristik dengan adanya stimulus penglihatan dalam bentuk pancaran cahaya. amis dan menjijikkan. 5. makanan dicerna atau pembentukan urine. jenis halusinasi antara lain : 1. 3. 7. Halusinasi penghidu (olfactory) Karakteristik ditandai dengan adanya bau busuk. gambar kartun dan / atau panorama yang luas dan kompleks. Contoh: merasakan sensasi listrik datang dari tanah. 6. biasanya klien mendengar suara orang yang sedang membicarakan apa yang sedang dipikirkannya dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu. urin atau feses. tumor. 2007). gambaran geometrik. c. 2. Halusinasi sinestetik Karakteristik ditandai dengan merasakan fungsi tubuh seperti darah mengalir melalui vena atau arteri. kejang dan dementia. Halusinasi pengecap (gustatory) Karakteristik ditandai dengan merasakan sesuatu yang busuk.

Tahap II ( non-psikotik ) Pada tahap ini biasanya klien bersikap menyalahkan dan mengalami tingkat kecemasan yang berat. Tahap I ( non-psikotik ) Pada tahap ini. diam. rasa bersalah. dan ketakutan 2) Mencoba berfokus pada pikiran yang dapat menghilangkan kecemasan 3) Pikiran dan pengalaman sensorik masih ada dalam control kesadaran Perilaku yang muncul : 1) Tersenyum atau tertawa sendiri 2) Menggerakkan bibir tanpa suara 3) Pergerakan mata yang cepat 4) Respon verbal lambat. halusinasi mampu memberikan rasa nyaman pada klien. dan tekanan darah.E. kesepian. tingkat orientasi sedang. Karakteristik : 1) Pengalaman sensori menakutkan atau merasakan dilecehkan oleh pengalaman tersebut 2) Mulai merasa kehilangan control 3) Menarik diri dari orang lain Perilaku yang muncul : 1) Terjadi peningkatan denyut jantung. Secara umum pada tahap ini halusinasi merupakan hal yang menyenangkan bagi klien. dan berkonsentrasi b. Secara umum. 2) Perhatian terhadap lingkungan menurun 3) Konsentrasi terhadap pengalaman sensori menurun 4) Kehilangan kemampuan dalam membedakan antara halusinasi dan realita 4 . Tahap Halusinasi a. pernapasan. Karakteristik : 1) Mengalami kecemasan. halusinasi yang ada dapat menyebabkan antipasti.

Tahap III ( psikotik ) Klien biasanya tidak dapat mengontrol dirinya sendiri. tingkat kecemasan berat. dan halusinasi tidak dapat ditolak lagi. Karekteristik : 1) Klien menyerah dan menerima pengalaman sensorinya 2) Isi halusinasi menjadi atraktif 3) Klien menjadi kesepian bila pengalaman sensori berakhir Perilaku yang muncul : 1) Klien menuruti perintah halusinasi 2) Sulit berhubungan dengan orang lain 3) Perhatian terhadap lingkungan sedikit atau sesaat 4) Tidak mampu mengikuti perintah yang nyata 5) Klien tampak tremor dan berkeringat d. Tahap IV ( psikotik ) Klien sudah sangat dikuasai oleh halusinasi dan biasanya klien terlihat panik Perilaku yang muncul : 1) Resiko tinggi menciderai 2) Agitasi atau kataton 3) Tidak mampu merespon rangsangan yang ada 5 .c.

POHON MASALAH Resiko Menciderai diri Sendiri.d Menarik Diri 6 . DIAGNOSA KEPERAWATAN  Resiko Menciderai Diri Sendiri Oranglain dan Lingkungan b.3. Oranglain. dan Lingkungan Perubahan Persepsi Sensosri : Halusinasi Isolasi Sosial : Menarik Diri 4.d Halusinasi  Perubahan Persepsi Sensori b.d Halusinasi  Isolasi Sosial b.

Buku Ajar Keperawatan Jiwa Yogyakarta : Nuha Medika Akemat dan Keliat. 2010.Ade Herman S. DAFTAR PUSTAKA Direja. Jakarta : EGC 7 . Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa.W & Sundeen.2011.Buku Saku Keperawatan Jiwa.2007.J.G. Jakarta : EGC Stuart. Budi Anna.S.