You are on page 1of 9

LAPORAN PENDAHULUAN

PERILAKU KEKERASAN

Koordinator Mata Kuliah: Ermawari Dalami, S.Kp, M.Kes
Dosen Pembimbing: Lailatul Fadilah, S.Kep, Ners, M.Kep

Disusun Oleh : Tingkat II DlV
1. Arti Aryaningtyas 8. Ikroyanah
2. Aulia Zulfa Mufida 9. Riri Andriani
3. Eka Trisnawati 10. Rista Safitri
4. Holau Hatina 11. Roihatul Jannah
5. Iin Suharni 12. Siti Hanifah
6. Ika Trianingsih 13. Siti Nur Khofifah
7. Ike Gusiswanti

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANTEN
JURUSAN KEPERAWATAN TANGERANG
PROGRAM STUDI DIV KEPRAWATAN
TAHUN 2016/2017

PROSES TERJADINYA MASALAH A. MASALAH UTAMA Perilaku Kekerasan (PK) 2. LAPORAN PENDAHULUAN Nama Mahasiswa : Ruangan Praktik : 1. Rentang respon kemarahan individu dimulai dari respon normal (asertif) sampai pada respon sangat tidak normal (maladaftif). 2000). orang lain dan lingkungan. Rentang Respon Marah Menurut Yosep. tersinggung. 2010). Orang yang mengalami kemarahan sebenarnya ingin menyampaikan pesan bahwa ia „Tidak setuju. . Pengertian Marah merupakan perasaan jengkel yang timbul sebagai reaksi terhadap kecemasan yang meningkat dan dirasakan sebagai ancaman. Kemarahan tersebut merupakan suatu bentuk komunikasi dan proses penyampain pesan dari individu. diarahkan pada diri sendiri. Sering juga disebut gaduh gelisah atau amuk dimana seseorang marah berespon terhadap suatu stressor dengan gerakan motorik yang tidak terkontrol (Yosep. Berdasarkan definisi diatas maka perilaku kekerasan dapat dilakukan secara verbal. baik kepada diri sendiri maupun orang lain. B. Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik. (2010) perilaku kekerasan merupakan status rentang emosi dan ungkapan kemarahan yang dimanifestasikan dalam bentuk fisik. Perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis (Berkowitz. merasa tidaj dituruti atau diremehkan“. merasa tidak dianggap.

dan teori sosiokultural yang dijelaskan oleh Towsend (1996 dalam Purba dkk. lobus frontal dan hypothalamus. hilang kontro. Teori Biologik Teori biologik terdiri dari beberapa pandangan yang berpengaruh terhadap perilaku : a) Neurobiologik Ada 3 area pada otak yang berpengaruh terhadap proses impuls agresif: sistem limbik. Etiologi  Faktor Predisposisi Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya perilaku kekerasan menurut teori biologik. D. Mata melotot/ pandangan tajam c. Tangan mengepal d. Jalan mondar-mandir. memberikan dapat dan menyerah. Respon Adaftif Respon Maladptif Asertif Frustasi Pasif Agresif Kekerasan Klien mampu Klien gagal Klien merasa Klien Perasaan marah mengungkapka mencapai tidak dapat mengekspresika dan n marah tanpa tujuan mengungkapka n secara fisik. menemukan orang lain merusak alternatifnya. teori psikologi. kelegaan. mendorong disertai amuk. Rahang mengatup e. Neurotransmitter juga mempunyai peranan dalam . tapi masih yang kuat dan orang lain dan marah dan tidak tidak berdaya terkontrol. Muka merah dan tegang b. 2008) adalah : 1. Tanda dan Gejala Menurut Yosep (2010) perawat dapat mengidentifikasi dan mengobservasi tanda dan gejala perilaku kekerasan : a. bermusuhan menyalahkan kepuasan/ saat n perasaannya. ancaman. dengan lingkungan. C.

dan serotonin) sangat berperan dalam memfasilitasi atau menghambat impuls agresif. c) Genetik Penelitian membuktikan adanya hubungan langsung antara perilaku agresif dengan genetik karyotype XYY. d) Gangguan Otak Sindroma otak organik terbukti sebagai faktor predisposisi perilaku agresif dan tindak kekerasan. terbukti berpengaruh terhadap perilaku agresif dan tindak kekerasan. khususnya lobus temporal. kerusakan pada penilaian. dopamine. yang menimbulkan perubahan serebral. b) Teori Pembelajaran Anak belajar melalui perilaku meniru dari contoh peran mereka. biasanya orang tua mereka sendiri. Apabila ada gangguan pada sistem ini maka akan meningkatkan atau menurunkan potensial perilaku kekerasan. Teori ini sangat konsisten dengan fight atau flight yang dikenalkan oleh Selye dalam teorinya tentang respons terhadap stress. Agresi dan tindak kekerasan memberikan kekuatan dan prestise yang dapat meningkatkan citra diri dan memberikan arti dalam kehidupannya. khususnya yang menyerang sistem limbik dan lobus temporal. Pusat otak atas secara konstan berinteraksi dengan pusat agresif. Tumor otak. Sistem limbik merupakan sistem informasi. perilaku. Teori Psikologik a) Teori Psikoanalitik Teori ini menjelaskan tidak terpenuhinya kebutuhan untuk mendapatkan kepuasan dan rasa aman dapat mengakibatkan tidak berkembangnya ego dan membuat konsep diri rendah. ekspresi. memfasilitasi atau menghambat proses impuls agresif. dan penyakit seperti ensefalitis. Sistem limbik terlambat dalam menstimulasi timbulnya perilaku agresif. 2. Anak . b) Biokimia Berbagai neurotransmitter (epinephrine. atau jika perilaku tersebut diikuti dengan pujian yang positif. Contoh peran tersebut ditiru karena dipersepsikan sebagai prestise atau berpengaruh. dan epilepsy. trauma otak. Adanya gangguan pada lobus frontal maka individu tidak mampu membuat keputusan. perilaku tidak sesuai. Perilaku agresif dan perilaku kekerasan merupakan pengungkapan secara terbuka terhadap rasa ketidakberdayaan dan rendahnya harga diri. Beragam komponen dari sistem neurologis mempunyai implikasi memfasilitasi dan menghambat impuls agresif. dan agresif. asetikolin. norepinefrine. dan memori.

 Kematian anggota keluarga yang terpenting. geng sekolah. mereka mulai meniru pola perilaku guru. memiliki persepsi ideal tentang orang tua mereka selama tahap perkembangan awal. kehilangan pekerjaan. Masyarakat juga berpengaruh pada perilaku tindak kekerasan. E.  Faktor Presipitasi Faktor-faktor yang dapat mencetuskan perilaku kekerasan sering kaliberkaitan dengan (Yosep. Teori Sosiokultural Pakar sosiolog lebih menekankan pengaruh faktor budaya dan struktur sosial terhadap perilaku agresif. apabila individu menyadari bahwa kebutuhan dan keinginan mereka tidak dapat terpenuhi secara konstruktif.  Ekspresi dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kondisi sosial ekonomi. Penduduk yang ramai /padat dan lingkungan yang ribut dapat berisiko untuk perilaku kekerasan. ingin menunjukkan eksistensi diri atau simbol solidaritas seperti dalam sebuah konser. Namun. dan orang lain. 2010) :  Ekspresi diri. dengan perkembangan yang dialaminya. Adanya keterbatasan sosial dapat menimbulkan kekerasan dalam hidup individu.  Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu dalam keluarga serta tidak membiasakan dialog untuk memecahkan masalah cenderung melalukan kekerasan dalam menyelesaikan konflik. teman. mekanisme koping yang dipakai pada klien marah untuk melindungi diri antara lain : 1) Sublimasi : Menerima suatu sasaran pengganti yang mulia artinya di mata masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami hambatan penyalurannya secara normal. Individu yang dianiaya ketika masih kanak-kanak atau mempunyai orang tua yang mendisiplinkan anak mereka dengan hukuman fisik akan cenderung untuk berperilaku kekerasan setelah dewasa. Ada kelompok sosial yang secara umum menerima perilaku kekerasan sebagai cara untuk menyelesaikan masalahnya. . penonton sepak bola. perubahan tahap perkembangan keluarga.  Adanya riwayat perilaku anti sosial meliputi penyalahgunaan obat dan alkoholisme dan tidak mampu mengontrol emosinya pada saat menghadapi rasa frustasi. perkelahian masal dan sebagainya. Mekanisme Koping Menurut Stuart dan Laraia (2001). 3.

5) Displacement : Melepaskan perasaan yang tertekan biasanya bermusuhan. Misalnya seorang yang tertarik pada teman suaminya. Misalnya seseorang anak yang sangat benci pada orang tuanya yang tidak disukainya. 3) Self Promotional Function Marah dapat digunakan memproyeksikan konsep diri yang positif atau meningkatkan harga diri. Individu dapat memeperlihatkan pada orang lain keinginan dan harapannya secara terbuka tanpa melalui kata-kata. Akan tetapi menurut ajaran atau didikan yang diterimanya sejak kecil bahwa membenci orang tua merupakan hal yang tidak baik dan dikutuk oleh Tuhan. Misalnya seseorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia mempunyai perasaan seksual terhadap rekan sekerjanya. sehingga perasaan benci itu ditekannya dan akhirnya ia dapat melupakannya. 2) Expressive Function Dengan mengekspresikan kemarahan. mencumbunya. akan memperlakukan orang tersebut dengan kasar. . meninju tembok dan sebagainya. Ekspresi yang terbuka menandakan hubungan yang sehat. Fungsi Positif Marah 1) Energizing Function Rasa marah akan menambah energi/ tenaga seseorang karena emosi akan meningkatkan adrenalin dalam tubuh yang mengakibatkan peningkatan metabolisme tubuh sehingga terbentuk energi tambahan. dengan melebih-lebihkan sikap dan perilaku yang berlawanan dan menggunakannya sebagai rintangan. tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan akibat rasa marah. 2) Proyeksi : Menyalahkan orang lain mengenai kesukarannya atau keinginannya yang tidak baik. Misalnya seseorang yang sedang marah melampiaskan kemarahannya pada obyek lain seperti meremas adonan kue. pada obyek yang tidak begitu berbahaya seperti yang pada mulanya yang membangkitkan emosi itu. Dia mulai bermain perang-perangan dengan temannya. 3) Represi : Mencegah pikiran yang menyakitkan atau membahayakan masuk ke alam sadar. berbalik menuduh bahwa temannya tersebut mencoba merayu. Misalnya Timmy berusia 4 tahun marah karena ia baru saja mendapat hukuman dari ibunya karena menggambar di dinding kamarnya. 4) Reaksi formasi : Mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan. F.

persaingan tidak sehat. 4) Defensive Function Kemarahan dapat meningkatkan pertahanan ego dalam menanggapi kecemasan yang meningkat dalam konflik eksternal. marah. 5) Potienting Function Kemampuan koping terhadap rasa marah akan meningkatkan kemampuan mengontrol situasi. 3. 6) Discriminating Function Dengan mengekspresikan marah individu dapat membedakan keadaan alam persaannya. Lingkungan. MASALAH KEPERAWATAN & DATA YANG PERLU DIKAJI Masalah Keperawatan Data Yang Perlu Dikaji Subjektif : Klien mengatakan :  “saya mudah marah bila keinginan saya tidak dipenuhi oleh orang tua saya” Perilaku Kekerasan  “saya langsung teriak-teriak dan membanting barang disekitar saya”  “saya menjadi jengkel dan barang-barang saya rusak. Orang Lain.dan Verbal) Effect Perilaku Kekerasan Core Problem Harga Diri Rendah Kronis Causa 4. amuk. biasanya saya langsung pergi” Objektif :  Pembicaraan cepat  Mata melotot  Nada suara tinggi  Klien terlihat gelisah . jengkel. POHON MASALAH Resiko Perilaku Kekerasan (Pada Diri Sendiri. sedih.

Melatih klien mengontrol perilaku kekerasan dengan cara spiritual.dan verbal). Mengidentifikasi tanda dan gejala perilaku kekerasan. Menganjurkan klien memasukan latihan kedua ke dalam kegiatan harian. Melatih klien mengontrol perilaku kekerasan dengan minum obat. Membantu klien mempraktikan latihan cara mengontrol perilaku kekerasan secara fisik 1: latihan nafas dalam. 7. Menyebutkan cara mengontrol perilaku kekerasan. 3. 4. lingkungan. Mengidentifikasi perilaku kekerasan yang dilakukan. Menganjurkan klien memasukan latihan keempat ke dalam kegiatan harian. Mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan. 3. 3. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien 2. Mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan. SP 5: 1. 3. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien 2. 6. DAFTAR PUSTAKA . Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien. Melatih klien mengontrol perilaku kekerasan dengan cara sosial/verbal. SP 2: 1. 2. 6. b) Harga diri rendah kronik. 5. SP 4: 1. 2. 3. c) Resiko perilaku kekerasan (diri sendiri. Menganjurkan klien memasukan latihan kelima ke dalam kegiatan harian. Menganjurkan klien memasukan latihan ketiga ke dalam kegiatan harian. SP 3: 1. Menganjurkan klien memasukan latihan pertama ke dalam kegiatan harian.5. RENCANA KEPERAWATAN SP 1: 1. Melatih klien mengontrol perilaku kekerasan dengan cara fisik 2 : pukul kasur dan bantal. orang lain. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan yang diangkat berdasarkan pohon masalah adalah: a) Resiko perilaku kekerasan. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien 2.

Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Jiwa.Damaiyanti. 2009. Bandung: Refika Aditama Dalami. Jakarta: Trans Info Medika . Mukhripah dan Iskandar. 2012. Ermawati dkk. Asuhan Keperawatan Jiwa.