You are on page 1of 59

S S

   


‘ S  
Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi yang semakin
moderen, yang mengakibatkan semakin tingginya tingkat kebutuhan manusia.
Maka tuntutan akan teknologi harus dapat memenuhi kebutuhan dari
masyarakat tersebut, sehingga dibutuhkan teknologi yang dapat berkembang
dan tidak kalah saing dengan produk lainnya. Dan pemanfaatan dari teknologi
tersebut dapat digunakan lebih maksimal dalam segala bidang, khususnya
dalam bidang pengontrolan otomatis.
Bagi sebuah perusahaan besar, yang memiliki cabang hampir di seluruh
wilayah Indonesia dan memiliki banyak produk, PT. Pertamina memerlukan
perangkat yang mampu menjaga dan merawat (maintenance) mesin agar dapat
berjalan dengan semestinya sehingga kelancaran operasional dapat terpenuhi
dan menghasilkan suatu produk yang akan dijual.
Untuk menunjang kelancaran tersebut salah satu perangkat otomatis yang
digunakan di PT. Pertamina adalah Control Valve. Control valve dapat
mengatur arus, tekanan, dan temperatur. Pengontrolan beberapa variabel ini
diperlukan untuk memastikan mutu dari produk tersebut.

‘½     


c.‘ Melihat secara langsung aktivitas perusahaan PT. Pertamina.
2.‘ Mengetahui secara lebih mendalam pengetahuan akan sistem otomatis
dalam hal maintenance khususnya mengenai Control Valve dan bagian-
bagian dari Control valve.

‘S     
Pada laporan kerja praktek ini , pembahasan lebih di titik beratkan kepada
pengaturan otomatis Control Valve di gedung PLTU PT. Pertamina (Persero)
RU II Dumai.

c
‘

‘    
c.‘ Observasi
Metoda pengumpulan data dengan mengamati langsung terhadap kegiatan
yang berlangsung di PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai

2.‘ Diskusi dengan pembimbing, staf, dan karyawan PT. Pertamina (Persero)
RU II Dumai
Metoda pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab secara
langsung dengan pimpinan perusahaan atau karyawan yang bersangkutan
dalam rangka melengkapi data yang diperlukan.

3.‘ Tinjauan Pustaka


Penulis melakukan tinjauan pustaka guna mencari buku-buku penunjang
sebagai referensi dalam penyusunan laporan. Selain itu penulis juga
melakukan pencarian data di internet untuk mendapatkan bahan-bahan
penunjang lainnya.

‘     

Berhubung dengan kurikulum Jurusan Teknik Mekatronika Politeknik Caltex


Riau, maka kerja praktek di PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai selama c
(satu) bulan yaitu dari tanggal c Agustus 2 c sampai dengan c September
2 c .

!‘ "    


c.6.c‘ Bagi Politeknik Caltex Riau
a)‘ Terjalin hubungan kerja sama yang erat antara Pliteknik Caltex Riau
dengan instansi tempat kerja praktek yaitu PT. Pertamina (Persero) RU
II Dumai.

^
‘
b)‘ Sebagai bahan evaluasi di bidang akademik untuk meningkatkan dan
mengembangkan mutu pendidikan.
c)‘ Sebagai barometer untuk mengukur sejauh mana daya serap
mahasiswa dalam menerima dan menerapkan teori yang diperoleh
selama di kampus.
c.6.2‘ Bagi Mahasiswa
a)‘ Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan diluar lingkungan kampus
yang berhubungan dengan program study yang dipilih.
b)‘ Untuk menambah pengalaman sebelum terjun kemasyarakat atau dunia
kerja.
c)‘ Untuk melatih mahasiswa dalam mengumpulkan dan menganalisa data
yang diperoleh serta memberikan alternatif pemecahan masalah yang
dihadapi
d)‘ Menambah pengetahuan mahasiswa dalam bidang pengontrolan
otomatis khususnya dalam bidang pengontrolan Control Valve
c.6.3‘ Bagi Perusahaan
a)‘ Terjalin hubungan kerja sama dan sebagai sarana tukar informasi
untuk meningkatkan sarana dan prasarana yang telah ada.
b)‘ Sebagai perwujudan pengabdian masyarakat khususnya dibidang
pendidikan.
c)‘ Memungkinkan untuk mendapatkan masukan-masukan sebagai bahan
pertimbangan untuk mengembangkan sistem yang telah ada.

#‘$ %    


Untuk mempermudah penyajian pada penyusunan laporan ini,
penyusun menggunakan sistematika untuk mengetahui pokok bahasan setiap
bab yang disajikan sebagai berikut :

BAB I :    

Bab ini berisi latar belakang masalah, batasan masalah,


maksud dan tujuan kerja praktek, batasan masalah,
metoda yang digunakan, tempat dan jadwal kerja

º
‘
praktek, manfaat kerja praktek, dan sistematika
penulisan.

BAB II : ½ % %   

Bab ini berisi tentang gambaran umum perusahaan yang


meliputi sejarah berdirinya PT. Pertamina (Persero) RU
II Dumai, lokasi kilang PT. Pertamina (Persero) RU II
Dumai, gambaran umum kilang minyak PT. Pertamina
(Persero) RU II Dumai, struktur organisasi PT.
Pertamina (Persero) RU II Dumai dan struktur organisasi
Reliability RU II Dumai.

BAB III : & ' (

Bab ini berisi tentang landasan teori yang berkaitan


dengan control valve.

BAB IV : & ' (  S


 ½½  % 
)*+ % 

Bab ini berisi tentang sistim pengontrolan valve pada


Boiler c di PLTU PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai.

BAB V :  

Bab ini berisi kesimpulan dari pembahasan masalah dan


saran.

è
‘
S S
, S + +$  


 ½    
PERTAMINA adalah perusahaan minyak dan gas bumi yang
dimiliki Pemerintah Indonesia (National Oil Company), yang berdiri sejak
tanggal c Desember c dengan nama PT PERMINA. Pada tahun c6c
perusahaan ini berganti nama menjadi PN PERMINA dan setelah merger
dengan PN PERTAMIN di tahun c68 namanya berubah menjadi PN
PERTAMINA. Dengan bergulirnya Undang Undang No. 8 Tahun cc
sebutan perusahaan menjadi PERTAMINA. Sebutan ini tetap dipakai
setelah PERTAMINA berubah status hukumnya menjadi PT PERTAMINA
(PERSERO) pada tanggal c September 2 3 berdasarkan Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2 c pada tanggal 23 November 2 c
tentang Minyak dan Gas Bumi.
PT PERTAMINA (PERSERO) didirikan berdasarkan akta Notaris Lenny
Janis Ishak, SH No. 2 tanggal c September 2 3, dan disahkan oleh
Menteri Hukum & HAM melalui Surat Keputusan No. C-24 2 HT. c. c
pada tanggal  Oktober 2 3. Pendirian Perusahaan ini dilakukan menurut
ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang No. c tahun
c tentang Perseroan Terbatas, Peraturan Pemerintah No. c2 tahun c8
tentang Perusahaan Perseroan (Persero), dan Peraturan Pemerintah No. 4
tahun 2 c tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. c2 tahun c8
dan peralihannya berdasarkan PP No.3c Tahun 2 3,
*  
    
       
    

 Sesuai akta pendiriannya, maksud dari Perusahaan Perseroan
adalah untuk menyelenggarakan usaha di bidang minyak dan gas bumi, baik
di dalam maupun di luar negeri serta kegiatan usaha lain yang terkait atau
menunjang kegiatan usaha di bidang minyak dan gas bumi tersebut.


‘
Adapun tujuan dari Perusahaan Perseroan adalah untuk :
c.‘ Mengusahakan keuntungan berdasarkan prinsip pengolaan Perseroan
secara efektif dan efisien.
2.‘ Memberikan konstribusi dalam meningkatkan kegiatan ekonomi untuk
kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, Perseroan melaksanakan


kegiatan usaha sebagai berikut :
c.‘ Menyelenggarakan usaha di bidang minya dan gas bumi beserta hasil
olahan dan turunannya.
2.‘ Menyelenggarakan kegiatan usaha di bidang panas bumi yang ada pada
saat pendiriannya, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi
(PLTP) yang telah mencapai tahap akhir negoisasi dan berhasil menjadi
milik perseroan.
3.‘ Melaksanakan pengusahaan dan pemasaran Liquified Natural Gas (LNG)
dan produk lain yang dihasilkan dari kilang LNG.
4.‘ Menyelenggarakan kegiatan usaha lain yang terkait atau menunjang
kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam nomor c, 2, dan 3.

Sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang MIGAS (Minyak


Bumi dan Gas) baru, PT. Pertamina tidak lagi menjadi satu-satunya
perusahaan yang memonopoli industri MIGAS dimana kegiatan usaha
minyak dan gas bumi diserahkan kepada mekanisme pasar.

  $   % 



 
î Pertamina adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang telah
berubah bentuk menjadi PT. Persero yang bergerak di bidang energi,
petrokimia, dan usaha lain yang menunjang bisnis Pertamina, baik di
dalam maupun di luar negeri yang berorientasi pada mekanisme pasar.

r
‘
î Modal setor PT. Pertamina (Persero) :
c)‘ PT. Pertamina (Persero) merupakan BUMN yang c  sahamnya
dimiliki oleh negara.
2)‘ Modal Disetor (Penanaman Modal Negara/PMN) PT. Pertamina
(Persero) pada saat pendirian adalah Rpsahamnya dimiliki oleh
negara.
3)‘ Modal Disetor (Penanaman Modal Negara/PMN) PT. Pertamina
(Persero) pada saat pendirian adalah Rp. c Trilyun.

î‘ Nilai Rp. c Trilyun diperoleh dari :


³Seluruh Kekayaan Negara yang selama ini tertanam pada Pertamina,
yang meliputi Aktiva Pertamina beserta seluruh Anak Perusahaan,
termusuk Aktiva Tetap yang telah di revaluasi oleh Perusahaan Penilai
Independen, dikurangi dengan semua kewajiban (hutang) Pertamina´.

 % +"-  % .$  
 Sejak dioperasikan pada tahun cc, kilang minyak Putri Tujuh
Dumai dan Sungai Pakning telah memberikan sumbangan nyata terhadap
perkembangan dan kemajuan daerah khususnya kota Dumai dan sekitarnya
dan telah memberikan andil yang besar bagi pemenuhan kebutuhan bahan
bakar nasional.
Berbagai macam produk Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Non
Bahan Bakar Minyak (NBBM) telah dihasilkan dari Kilang Putri Tujuh
Dumai ± Sei. Pakning dan telah didistribusikan ke berbagai pelosok tanah
air dan manca negara.
Komitmen untuk memajukan Kilang Minyak Refinery Unit II
Dumai dan Sungai Pakning menjadi Kilang Kebanggaan Nasional,sehingga
program peningkatan kehandalan kilang dan peningkatan kualitas informasi
dan komunikasi menjadi penting.
Kehadiran situs Pertamina adalah untuk memberikan gambaran
kepada pengunjung tentang Pertamina Refinery Unit II dan kegiatannya

‰
‘
dalam mengolah minyak mentah yang berwawasan lingkungan guna
memenuhi kebutuhan bahan bakar nasional.
Harapan melalui situs ini dapat tercipta hubungan komunikasi yang
lebih baik dan kerja sama yang lebih luas dengan semua pihak termasuk
dengan mitra kerja di dalam dan di luar negeri.

  ' ½  % )*+ % 



'
Menjadi Perusahaan Minyak Nasional Kelas Dunia


Menjalankan usaha inti minyak, gas, dan bahan bakar nabati secara
terintegrasi, berdasarkan prinsip-prinsip komersial yang kuat


  ½   % 

î & ë 


Dikelola secara profesional, menghindari benturan kepentingan, tidak
menoleransi suap, menjunjung tinggi kepercayaan dan integritas.
Berpedoman pada asas-asas tata kelola korporasi yang baik.

î &%  (ë
   
Mampu berkompetisi dalam skala regional maupun internasional,
mendorong pertumbuhan melalui investasi, membangun budaya sadar
biaya dan menghargai kinerja

å
‘
î &" ë
Berperan dalam pembangunan ekonomi nasional, menjadi pelopor dalam
reformasi BUMN, dan membangun kebanggaan bangsa

î &  %/0 ë 
Beorientasi pada kepentingan pelanggan, dan berkomitmen untuk
memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan.

î &  1ë 




Dikelola oleh pemimpin dan pekerja yang profesional dan memiliki
talenta dan penguasaan teknis tinggi, berkomitmen dalam membangun
kemampuan riset dan pengembangan.

  $     
$     
 Berdasarkan hasil analisa SWOT dan GE  Cells, RU II
menetapkan sasaran utama yaitu :
c.‘ Peningkatan kehandalan kilang
2.‘ Optimasi biaya tinggi
3.‘ Peningkatan nilai tambah produk
4.‘ Peningkatan kompetensi pekerja
.‘ Peningkatan kepuasan pelanggan
Tujuan yang paling penting dari sasaran strategik tersebut adalah :
c.‘ Peningkatan revenue dan cost reduction
2.‘ Peningkatan kepuasan pelanggan
3.‘ Peningkatan citra positive perusahaan
Dalam menetapkan sasaran strategik, RU II telah mempertimbangkan
tantangan strategik serta peluang inovasi terhadap produk dan model bisnis.




Î
‘

 ! $   2  
Pertamina Refinery Unit II Dumai merupakan suatu unit
pengolahan dan penyulingan minyak yang berada dibawah Kontrol Direktur
Refinery Pertamina Pusat. Pada Pertamina Refenery Unit II Dumai,crude oil
diolah untuk menjadi bahan bakar minyak dan gas yang memiliki nilai guna
seperti bensin, solar, avtur, kerosin, dan LPG.
Struktur organisasi yang ada di Pertamina RU II Dumai berbentuk
staf lini yang dipimpin oleh seorang Genderal Manager dan bertanggung
jawab langsung kepada Direktorat Pengolahan Pertamina Pusat Jakarta.
Bentuk struktur organisasi Pertamina RU II Dumai dan Sei. Pakning dapat
dilihat pada gambar di bawah ini.



















c
‘

$   2  +"-  % 

cc
‘
General Manager Refenery Unit II Dumai selaku pimpinan dalam tugasnya
di bantu oleh :

c. Engineering & Development Manager

2. Procurement Manager

3. Reliability Manager

4. General Affair Manager

. Health Safety Enviromental Manager

6. Operational Performance Manager

Masing-masing Manager tersebut membawahi beberapa bagian yang


dipimpin oleh seorang Kepala Bagian (Section Head).
Khusus untuk Reliability Manager maka membawahi Equipment Reliability
Section Head dan Plant Reliability Section Head.

 !
 $  2 3  " 0 
 Eselon ini dipimpin oleh seorang Senior Manager Opertion &
Manufacturing yang bertugas dan bertanggung jawab atas kegiatan
pengolahan minyak mentah menjadi produk-produk kilang dan
pemeliharaan peralatan-peralatan produksi dan engineering. Eselon ini
membawahi bidang-bidang sesuai dengan fungsi masing-masing.

 !  S  0  %  


 Bidang ini berfungsi sebagai pelaksana kegiatan operasi
pengolahan minyak mentah menjadi produk-produk BBM dan Non BBM,
sesuai dengan rencana kerja secara optimal, efektif, dan efisien.

c^
‘
Bidang production Dumai dalam melaksanakan tugasnya di pimpin
oleh seorang Manager Production Dumai yang bertanggung jawab atas
kelancaran pengoperasian kilang Pertamina RU II Dumai.
Dalam melaksanakan tugasnya, bidang kilang dibagi atas  bagian
masing-masing dikepalai oleh seorang kepala bagian dengan tugas dan
tanggung jawab secara khusus, yaitu :

‘ -$%%&%4)$&*
HSC bertugas sebagai penyelenggara kegiatan operasi pengolahan
BBM dan Non BBm untuk mendapatkan hasil yang optimum dan On Spec
sesuai dengan rencana kerja pengolahan, yang meliputi area : Crude
Distilation Unit, Naptha Rerun Unit, Hydrobon Platforming Unit, Naptha
Hydro Cracker, Platforming CCR.
 ‘ -& 0&%4)&&*
HCC bertanggung jawab untuk mengoperasikan kilang-kilang unit
proses seperti : Hydro Cracker Unibon, Hydrogen Plant, Anime, LPG
Recovery, Sour Water Stripper, dan Nitrogen Plant.
 ‘  (-2&%4)2&*
HOC bertanggung jawab mengoperasikan kilang unit proses
seperti :
-‘ High Vacum unit c
-‘ Delayed Coke Unit c4
-‘ Calciner Unit c
-‘ Distilled Hydro Treater Unit 22
 ‘ 2(% 
Bidang ini bertugas menyelenggarakan kegiatan operasi
penerimaan, pencampuran (blending), penimbunan (tangki), dan
penyaluranminyak bumi (crude oil), produk dan barang-barang setengah
jadi, pengaturan pengapalan BBM maupun Non BBM ke tanker, serta
mengelola buangan minyak (slop) dan sarana limbah.
 ‘   
Utilities bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan operasi. Utilities
dalam penyediaan tenaga uap, air industri, air pendingin, air minum, udara


‘
bertekanan, listrik, serta melaksanakan pengendalian kualitas dan kuantitas
bahan-bahan dan produk utilities.

! ‘ 1 -
Bertanggung jawab atas kualitas minyak yang dihasilkan dari
proses dan memberikan saran-saran agar operasi berjalan optimum, control
spesifikasi produk dan kualitas unit proses

 !    + 1 -
 Bidang ini bertanggung jawab terhadap kehandalan kilang. Bagian
ini mengendalikan seluruh kegiatan bagian inspeksi Unit Reliabilitas yang
meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan
kegiatan evaluasi pemeriksaan, penguji peralatan stationary, memberikan
saran / rekomendasi dalam rangka meyakinkan kondisi layak operasi
peralatan kilang dan peralatan penunjang lainnya di PT. Pertamina
(Persero) RU II Dumai sesuai dengan standar/code dan peraturan
pemerintah yang berlaku.

 !       040 


Bidang ini dibagi menjadi  bagian yang masing-masing dikepalai
oleh seorang kepala bagian :

‘    0  

Bagian ini berfungsi dalam perencanaan koordinasi dan
pengawasan dari pelaksanaan pemeliharaan, perbaikan, dan modifikasi
seluruh peralatan stationary mechanical untuk menunjang operasi kilang
yang handal, ekonomis, dan efisien sesuai dengan standar dan ketentuan-
ketentuan perusahaan yang berlaku.
 ‘    0  
Bagian ini bertanggung jawab terhadap pemeliharaan pruduksi dari
unit-unit proses, peralatan mekanikan non rotatong (stationary) equipment


‘
dan rotating equipment, serta peralatan sipil pada unit-unit proses HSC
dan HCC.
 ‘    0  
Bertanggung jawab atas pemeliharaan peralatan produksi dari unti-
unit proses meliputi peralatan sipil pada unit proses power utilities HDC,
utilities excisting, sebagian oil movement serta penyediaan air bersih dari
sungai rokan sampai dengan kilang.
 ‘ ù
Workshop merupakan sarana penunjang untuk melaksanakan
perencanaan, koordinasi dan pengawasan atas kegiatan perbaikan suatu
peralatan mechanical yang mengalami kerusakan.

 !    3(% 
 Tugas dan tanggung jawab utama bidang engineering adalah
mengkoordinir rencana kerja/anggaran, melakukan audit dan administrasi
kontrak, memberi saran/rekomendasi dalam upaya mengatasi masalah
operasi dan pengembangan guna tercapainya target-target pengolahan
secara efektif dan efisien, serta mengkoordinasi pembinaan pegawai di
lingkungan eselon operasi.
 ! !       + 5
 Bertanggung jawab terhadap pengolaan tata usaha keuangan dalam
rangka menunjang kelancaran kegiatan operasional perusahaan, yang
meliputi :
-‘ Pelaksanaan kebijakan keuangan perusahaan yang telah ditetapkan
direksi sesuai ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
-‘ Mengevaluasi, menganalisis dan mengkonsolidasi seluruh rencana kerja
-‘ Laporan keuangan perusahaan, antara lain berupa neraca rugi/laba dan
laporan keuangan / managemen lainnya.
 ! #   +  6S   +5
 Eselon ini bertanggung jawab terhadap penggajian karyawan,
hubungan industri, dan kesejahteraan karyawan. Disamping itu juga

c
‘
bertanggung jawab terhadap kesehatan karyawan dan organisasi serta
prosedur-prosedurnya.

 ! 7   ,  "" 


Eselon ini dipimpin oleh seorang manager umum yang berfungsi
dan bertanggung jawab atas pembinaan sumber daya manusia dan fasilitas
yang diberikan perusahaan kepada karyawannya, serta layanan jasa
manajemen yang meliputi, fungsi organisasi dan tata laksana, personalia,
kesehatan, hukum, hubungan kepemerintahan, masyarakat dan sekuriti.

 ! 8   +"- 32 %9 
 Eselon ini bertanggung jawab terhadap perencanaan crude untuk di
produksi dan penjadwalan pemakaian crude untuk diproduksi.
 !
:  0 % 
 Eselon ini bertugas dan bertanggung jawab atas kelancaran operasi
pelabuhan khususnya minyak, operasi perkapalan tanker-tanker,
transportasi produk kilang dan peralatan telekomunikasi. Selain itu juga
bertanggung jawab terhadap kontrak-kontrak.
 !

    $ " -(% 


Eselon ini bertanggung jawab atas ditaatinya Undang-Undang
Lingkungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Tugas pokoknya yaitu
mencegah dan menanggulangi terjadinya kecelakaan kerja dan
pencemaran lingkungan.
 !
½+ %     
Eselon ini bertugas dan bertanggung jawab atas kelancaran
komunikasi dan sistem komputer serta pengawasan peralatan-peralatan
komunikasi.

 #  -  ½   %  


Kilang PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai yang pertama mulai
dibangun pada tahun c6 dan diresmikan pada tanggal 8 September cc
dengan nama ³Kilang Puteri Tujuh´. Kilang ini terdiri dari Crude

cr
‘
Distilation Unit (CDU) yang mengolah minyak mentah jenis Sumatera
Light Crude (SLC) dengan kapasitas c . barrel per hari. Dari proses
pengolahan tersebut dihasilkan beberapa jenis produk BBM, diantaranya :
î‘ Naphta
î‘ Avtur (bahan bakar pesawat jet)
î‘ Kerosene (minyak tanah)
î‘ Solar (ADO/Automotif Diesel Oil)
î‘ Bottom Product berupa  volume Low Sulphur Wax Residue
(LSWR) untuk di eksport ke Jepang dan Amerika Serikat guna
pengolahan kembali.
Pada tahun c2 dilakukan proses perluasan kilang puteri tujuh
untuk mendapatkan produk lainnya berupa bensin premium dan migas
komponen dengan mendirikan plant atau unit proses :
î‘ Platforming Unit
î‘ Naphta Rerun Unit (NRU)
î‘ Hydrobon Unit
î‘ Mogas Component Blending Plant
LSWR yang diekspor ke Jepang dan Amerika Serikat akhirnya
mengalami kesulitan pemasaran disebabkan komponen di Jepang tidak
mengolah lagi LSWR sehingga tangki-tangki penimbun LSWR yang
berada di kilang PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai menjadi penuh dan
mengakibatkan kilang tidak beroperasi. Sejalan dengan pemakaian dan
kebutuhan BBM di dalam negeri dan masalah pengoperasian kilang
tersebut, maka Pertamina memutuskan untuk membangun proyek
Hydrocracker yang bertujuan untuk mengolah LSWR.
Proyek kilang kedua Dumai ini merupakan perluasan kilang lama
yang dinaikkan kapasitanya menjadi c2 . barrel per hari. Kilang kedua
ini mulai dibangun pada tahun c8c dan diresmikan oleh Presiden R.I
Soeharto pada tanggal c6 Februari c84 dengan mengolah LSWR yang
dihasilkan oleh kilang lama Dumai dan kilang Sungai Pakning.


‘
Produk BBM yang telah dihasilkan oleh kilang Pertamina RU II
sampai saat ini antara lain :
î‘ Premium (bensin)
î‘ Jet-petroleum Grade
î‘ Aviation turbine
î‘ Kerosene
î‘ Solar (ADO)
Sedangkan produk Non-BBM nya berupa :
î‘ LPG (Liquied Petroleum Gas)
î‘ Caleined coke (Carbon)
Kilang minyak Puteri Tujuh Dumai memiliki fasiliki pengolahan
yang lebih banyak dan kompleks dibandingkan Kilang Minyak Sungai
Pakning. Kilang ini selain memiliki unit distilasi minyak mentah juga
dilengkapi dengan unit proses Hydrocracking dan Thermal Cracking.
Proses pengolahan di kilang PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai
meliputi unit operasi fraksinasi yaitu memisahkan fraksi-fraksi minyak
mentah berdasarkan perbedaan titik didihnya, pemurnian (treating), proses
konversi (catalytic dan thermal cracking) serta unit pencampuran sesuai
spesifikasi produk yang diinginkan.

 7  - $    


 Kilang minyak Sungai Pakning dibangun pada November c68
oleh Refining Associates (Canada) Ltd atu Refican dan mulai berproduksi
pada Desember c6. Kilang ini mengolah  . barrel minyak mentah
perhari dari beberapa crude yaitu 6   
   6 
 dan   .
Kilang Sungai Pakning hanya memiliki satu unit distilasi inyak
mentah (Crude Distilation Unit) yang menghasilkan produk gas, naphta,
kerosene, Automotive Diesel Oil (solar) dan long residu yang dihasilkan
CDU Sungai Pakning dikirim ke Kilang Puteri Tujuh untuk di olah lebih
lanjut.


‘
S S

&2½+2 ' '

‘   
Dalam sistem kontrol jaringan tertutup (closed loop control system)
terdapat 4 (empat) peralatan pokok, yaitu :

*$

Sensor (primary element) digunakan sebagai elemen yang akan


mengadakan kontak langsung dengan besaran yang diukur, contohnya :

£‘   %     )" *;


î‘ Orifice Plate
Orifice plate digunakan untuk mengukur kecepatan aliran didalam
pipa. Orifice merupakan sebuah plat tipis dengan lubang yang berada
pada tengahnya. Ketika cairan menuju orifice, dengan lubang kecil di
tengahnya maka terjadi perbedaan tekanan dan percepatan antara aliran
sebelum masuk orifice dengan aliran setelah melewati orifice. Dapat
dilihat pda gambar di bawah ini :

Gambar c. Orifice Plate


‘
Dengan mengukur perbedaan tekanan cairan antara Dc (diameter
pipa pertama) dengan Dvc (vena contracta diameter), maka nilai
volumetrik dan mass flow rates dapat di peroleh dengan hukum
bernoulli.

î‘ Pitot Tube

Pitot tube adalah sebuah alat mengukur tekanan yang berbentuk


seperti tabung (tube). Penggunaan tube di dalam industry : percepatan
yang sering di ukur terdapat di dalam saluran pipa. Jika pengukuran
menggunakan anemometer akan sulit untuk memperoleh data. Dalam
keadaan pengukuran seperti ini, alat yang paling praktis
menggunakannya adalah pitot tube.

Kecepatan Aliran fluida pada suatu saluran pipa kemudian bisa


diperoleh nilai dari:
Laju alir Volume = area saluran pipa × percepatan

Gambar 2. Pitot Tube

^
‘
£‘   %    % ;
î‘ Thermocouple
Thermocuple adalah penghubung dua metal berbeda yang
menghasilkan tegangan pada temperatur tertentu. Perbedaan metal pada
penghubung akan menghasilkan tegangan elektrik apabila di panaskan
sehingga thermocouple bisa juga sebagai alat untuk mengubah energi
panas menjadi tegangan (voltage) dan sebagai sensor suhu.
Dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Gambar 3. Thermocouple

^c
‘
£‘   %      ) *;
î‘ Bourdon tube
Bourdon tube adalah alat untuk mengukur tekanan. Apabila
terdapat tekanan maka pointer atau jarum pada bourdon tube akan
bergerak sesuai dengan besarnya tekanan yang di berikan.

Dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Gambar 4. Bourdon Tube

^^
‘
£‘   %    %  0  )(*;
î‘ Displacer
Displacer adalah alat untuk mengukur tinggi permukaan sebuah
cairan. Dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Gambar . Displacer

Dari gambar diatas, dapat dilihat bahwa displacer bergerak naik


turun sesuai dengan tinggi permukaan air. Biasanya displacer
digunakan untuk sensor.

1*½ % 

Transmitter merupakan alat yang berfungsi untuk merubah besaran


fisis yang diukur menjadi besaran fisis lainnya yang pada umumnya sudah
standard besarnya. Penerima (receiver) dari sinyal keluaran transmitter ini
dapat berupa indicator, recorder ataupun pada closed loop system adalah
controler.

Transmitter terbagi menjadi :

c)‘ Pressure Transmittter


Transmitter yang berfungsi untuk mengubah tekanan menjadi energi
listrik (voltage).


‘
2)‘ Flow Transmitter
Transmitter yang berfungsi untuk mengubah laju alir menjadi energi
listrik (voltage).
3)‘ Temperature Transmitter
Transmitter yang berfungsi untuk mengubah energi panas menjadi
energi listrik (voltage).

&*& 

Controler ini menerima sinyal dari keluaran transmitter untuk


kemudian membandingkannya dengan besaran yang diinginkan (set point).
Perbedaan yang terjadi antara kedua sinyal ini disebut dengan error
(deviasi). Controler akan memeanfaatkan error tersebut di dalam
perhitungan yang ditunjukkan untuk koreksi terhadap error itu sendiri.

Keluaran kontroller sebagai keluaran koreksi. Inipun biasanya juga


sudah staandard besarnya dan akan dikirimkan keperalatan selanjutnya di
dalam control loop system.

*/ & % 

Final control element ini berfungsi untuk mengontrol aliran energi


ke sistem yang akan dikontrol. Karena itu peralatan ini haruslah
mempunyai kemampuan untuk menggerakkan beban ke suatu nilai atau
posisi yang diinginkan.

Untuk melakukan tugasnya elemen ini mendapatkan perintah


langsung maupun secara tidak langsung dari keluaran controller.

Didalam industri perminyakan final control element yang


digunakan adalah Control Valve.


‘
 ‘ S  .S  & ' (

Control valve adalah elemen kontrol akhir yang paling umum


digunakan untuk mengatur aliran bahan dalam sebuah proses. Control valve
bertugas melakukan langkah koreksi terhadap suatu variabel, sebagai hasil
akhir sistem pengendalian.
Pada suatu loop proses, hanya ada resistansi variable yang dikontrol,
sedangkan resistansi berubah-ubah karena perubahan aliran pada sistem atau
karena lapisan pipa dan permukaan dinding peralatan. Variasi resistansi ini
tidak diinginkan dan digunakanlah control valve.
Secara blok diagram kedudukan control valve di dalam suatu closed
loop system adalah seperti pada gambar berikut ini.

Gambar 6. Blok Diagram

Pada sebagian besar kasus, control valve diinginkan berubah secara


kontinyu berdasarkan sinyal kontrol untuk mempertahankan suatu kondisi
yang diinginkan dari variable proses.

^
‘
Elemen dasar sebuah control valve dapat dikelompokkan kedalam dua
bagian, yaitu :
*‘ 0 
Actuator adalah merupakan bagian dari control valve yang paling
langsung berhubungan dengan sinyal keluaran suatu controller. Sinyal
keluaran tersebut akan menggerakkan bagian actuator untuk kemudian
diteruskan menjadi gerakan membuka atau menutup valve.
Macam-macam actuator :
c)‘Diaphragm Actuator
2)‘Piston Actuator
3)‘Electro Hydralic Actuator
4)‘Manual Actuator

Diantara keempat macam actuator diatas, yang paling banyak dipakai


adalah diaphragm actuator. Oleh karena itu penulis hanya akan membahas
diaphragm actuator.

2.c‘ Bagian-bagian Diaphragm actuator


Suatu diaphragm actuator mempunyai bagian-bagian sebagai berikut :

Gambar . Bagian-bagian Diaphragm Actuator

^r
‘
Ukuran actuat r biasanya bervariasi besarnya untuk mendapatkan luasan
diaphragma yang efektif agar dapat menggerakkan stem sepanjang stroke
(langkah) yang telah ditetapkan.

2.2‘ Jenis-jenis Actuator


Ada dua jenis (type) actuator yang umum dipakai yaitu :
a.‘ Direct acting (Air To Close) actuator
Yaitu jika tekanan angin yang masuk ke actuator naik (bertambah),
maka diaphragma dan stem akan tertekan ke bawah.
b.‘ Reverse acting (Air To Open) actuator
Yaitu jika tekanan angin yang masuk ke actuator naik (bertambah),
maka diaphragma dan stem akan bergerak ke atas.

Gambar 8. Direct acting dan Reverse acting


‘
Ada satu jenis actuator yang disebut dengan Reversible Actuator.
Actuator ini adalah actuator yang dapat bertindak sebagai direct action
atau Reverse action. Namun biasanya actuator ini hanya dipakai untuk
control valve dengan ukuran yang kecil.

Membuka dan menutup control valve dengan menggunakan angin


ini disebut juga dengan sistem pneumatik. Adapun sistem kerja dari
actuator ini adalah :
Bagian   
  dan  
 dari control valve
berfungsi seperti balon karet yang kuat. Tekanan sinyal pneumatik yang
terakumulasi pada ruang tersebut menimbulkan gaya yang melawan gaya
pegas. Selisih kedua gaya tersebut menentukan bagian stem yang
terdorong ke bawah. Gerak inilah yang akan menentukan bukaan valve.
Angin bertekanan rendah yang dipakai untuk menggerakkan
actuator ini berasal langsung dari controler, ataupun melalui suatu unit
penguat seperti valve positioner. Tekanan angin (instrument air) tersebut
biasanya mempunyai range 3-c Psi ( .2-c kg/cm2) atau 6-3 Psi ( .4-2
kg/cm2).
Besarnya tekanan angin tersebut dapat kita lihat pada name plate
yang ada pada setiap control valve. Perlu diperhatikan dalam bekerja
dengan control valve agar ketentuan tersebut tidak dilanggar.
Jika suatu control valve mempunyai range 3-c Psi, maka stem
akan mulai bergerak jika tekanan angin yang bekerja pada diaphragma
telah mencapai 3 Psi dan stroke (langkah) penuh akan di hasilkan jika
tekanan tersebut menjadi c Psi.
Kedua jenis actuator, direct action dan reverse action diatas
berbeda pada bagian spring, spring barrel dan spring adjustor, pada
reverse acting actuator terletak dibagian atas. Sedangkan diaphragma
serta diaphragm plate peletakannya saling berbalikan antara kedua jenis
actuator ini.
2.3‘ Maintenance bagian actuator
Berikut ini adalah beberapa petunjuk dalam pemeliharaan actuator :


‘
c)‘ Tekanan yang berlebihan dari yang telah ditetapkan pada diaphragm
actuator akan dapat merusak diaphragm tersebut.
2)‘ Bila hendak melepaskan actuator, tutuplah terlebih dahulu angin yang
menuju diaphragma.
3)‘ Sebelum melepaskan actuator hendaknya kurangi terlebih dahulu
tekanan spring adjustor kearah yang sesuai. Hal ini perlu dilakukan
untuk menghindari tekanan atau dorongan keatas oleh spring jika cap
screw dilepaskan, terutama untuk actuator yang setting awal
springnya tinggi.
4)‘ Spring adjustment untuk direct acting ( air to close ), supply angin
agar dilengkapi dengan indikator dan regulator untuk kemudian
dihubungkan pada upper diaphragm case. Atur tekanan spring
sehingga stem actuator mulai bergerak jika angin bertekanan
terendah dari range yang tertera pada name plate ( misalnya 3 Psi
atau 6 Psi). Gerakan ini akan dapat diamati/dirasakan dengan jalan
merasakan gerakan stem (dengan dipegang tangan) pada saat tekanan
angin diubah-ubah disekitar tekanan terendah tersebut. Untuk reverse
acting actuator, pada prinsipnya sama persis dengan yang dilakukan
dalam mengatur spring ( spring adjustment ) direct acting actuator.
)‘ Packing box yang ada dibagian actuator ini tidak ada kesulitan dalam
pemeliharaannya. Penambahan dan pelepasan packing dapat
dilaksanakan tanpa melepas bagian lain dari actuator. Hanya saja
dalam mengencangkan (mengikat) packing nut jangan terlalu keras,
karena akan dapat mempengaruhi gerakan stem yang diakibatkan
gesekan antara stem dengan packing yang berlebihan.
6)‘ Masalah lain yang sering terjadi pada actuator adalah kebocoran pada
diaphragma. Kalau hal ini terjadi, maka stem control valve tidak
dapat diatur sesuai dengan posisi terkalibrasi,apalagi kalau sudah ada
tekanan dari fluida yang akan dikontrol.


‘
1*‘ S& ' (

1
5S-& ' (

Ada beberapa jenis body control valve yang sering digunakan,


diantanya adalah seperti berikut ini :

w ,1' (


Ciri-cirinya adalah :
‡ Bentuk eksternal valve seperti globe.
‡ Stem bergerak linier (naik ± turun) untuk mengubahposisi plug
‡‘Posisi plug yang berubah menyebabkan luas area antara seat dan
plug berubah


 
Gambar . Globe Valve

‡‘ S ' (
Ciri-cirinya adalah :
‡ Pembatas valve berupa bola solid, yang mempunyai bagian yang
dihilangkan untuk mengatur luasan area aliran.
‡ Bola akan berputar untuk mengatur jumlah aliran.

º
‘
Gambar c . Bentuk Fisik Ball Valve

Gambar cc. Ball Valve

‡‘ S "-' (
Ciri-cirinya adalah :
‡ Cara kerjanya mirip sayap kupu-kupu, yaitu sebuah damper yang
berotasi untuk mengatur hambatan aliran.
‡ Jumlah aliran yang dapat dialirkan rata-rata lebih besar  
dibandingkan dengan Globe Valve

Gambar c2. Bentuk Fisik Butterfly Valve

ºc
‘
Gambar c3. Butterfly Valve

‡‘ , ' (
Ciri-cirinya adalah :
‡ Mempunyai sebuah plat yang mengatur luas bukaan aliran
‡ Biasanya digunakan untuk dioperasikan secara manual dan dapat
juga secara otomatis untuk emergensi.

Gambar c4. Gate Valve

º^
‘
1            5  ( (1-




1 S  51  S-& ' (
Untuk memberikan gambaran atas bagian-bagian yang terdapat
pada sebuah control valve, maka akan dibahas contoh body control valve
yang bentuknya sederhana, yaitu single/double ported reversible globe
style.
Ada dua bagian besar yang membentuk body control valve, yaitu:
(c). Trim
(2). Body

Trim adalah bagian dalam dari control valve yang dibentuk oleh
beberapa komponen yang dapat dilepas-lepas. Bagian ini berhubungan
langsung dengan aliran fluida yang dikontrol.

ºº
‘
Komponen-komponen trim diantaranya adalah :
a)‘ Stem g)‘ Valve plug
b)‘ Packing gland/flange h)‘ Seat ring
c)‘ Pipe plug i)‘ Packing follower
d)‘ Packing box ring j)‘ Packing
e)‘ Guide bushing k)‘ Packing flange nut
f)‘ Bottom guide bushin

Sedangkan body control valve terdiri pula atas beberapa


komponen, seperti :
c)‘ Valve body
2)‘ Bonnet
3)‘ Bottom flange nut
4)‘ Bottom flange
)‘ Yoke lock nut
Keseluruhan komponen body dan trim suatu control valve dapat
dilihat pada gambar c. Yang menggambarkan single dan double seat
(port) dari jenis port guide dan top and bottom guided valve body.

ºè
‘
Gambar c. Body Control Valve

Hubungan antara kedua stem, actuator stem dengan valve plug


stem dapat dilakukan dengan beberapa cara, seperti contohnya pada
gambar c6 berikut ini.

Koneksi kedua bagian ini sering disebut dengan istilah stem


connector.
Dari gambar diatas terdapat tiga jenis stem connector yaitu :
£‘ Stem locknuts
£‘ Stem lock
£‘ Split stem clamp
Jenis yang terakhir diatas, yaitu split stem clamp biasanya dipakai
untuk control valve yang ukurannya besar.
Bagian lain yang terdapat pada body control valve adalah bonnet.
Bagian ini berfungsi sebagai tempat menyambungkan actuator ke body,

º
‘
dengan menempatkan packing kedalamnya. Packing berfungsi sebagai
pencegah terjadinya kebocoran fluida yang akan dialirkan melalui valve.
Diantara berbagai macam bonnet dikenal, ada 4 jenis yang sering
dipakai, yaitu :
a). Standart service bonnet
Dipakai untuk temperatur fluida antara 32 F ± 4 F
b). Extension column bonnet
Di pakai untuk temperature yang berfariasi cukup besar (
2 F - 4 F ) dan panjangnya extention ini tergantung dari
kondisi temperature.
c). Radiating fin bonnet
Dipakai untuk temperatur diatas 4 F
d). Ballows seal bonnet
Dipakai apabila diinginkan tidak boleh ada kebocoran sama
sekali dari bonnet ini. Misalnya apabila fluida yang
dikontrol mengandung racun, mudah menguap, atau mahal
nilainya.

1  ' ( 
 Valve plug adalah merupakan bagian yang bergerak dari suatu
control valve yang melakukan perubahan hambatan terhadap aliran
fluida. Valve plug yang di disain baik untuk pemakaian on-off (dua
posisi) atau sebagai pengontrol di semua titik (throttling control).
Walaupun ada diantara plug ini yang reversible (dapat dibalik
aksinya), namun kebanyakan didisain untuk direct acting atau reverse
acting. Pemilihan kedua aksi valve plug ini biasanya dikaitkan pula
dengan aksi actuator yang dipakai.
Valve plug ini akan menentukan karakteristik aliran fluida yang
akan melalui control valve. Ada tiga macam karakteristik aliran yang
dapat dipilih yaitu :

ºr
‘
c).Karakteristik aliran yang liniear
Disini jumlah aliran (flow rate) yang dapat dialirkan akan
proporsional (sebanding) dengan besarnya langkah (stroke) valve
plug. Jadi ketika valve plug posisinya   maka aliran yang terjadi
juga akan   dari aliran maksimum.

2).Karakteristik aliran yang presentasi sama (equal percentage)


Dengan memakai plug jenis ini, ketika posisi plug hampir tertutup
maka aliran akan relatif kecil, dan apabila plug hampir membuka
penuh maka aliran akan relatif besar jumlahnya.

3). Karakteristik aliran pembukaan cepat (quick opening)


Pada daerah bukaan valve yang kecil dapat membuat perubahan aliran
yang besar. Cara kerja plug ini berlawanan dengan plug jenis equal
percentage.
Ketiga karakteristik aliran ini dapat dilihat pada kurva berikut ini.

Gambar c6. Kurva Karakteristik aliran

º‰
‘
0* & ' (&0 
Yang dimaksud dengan control valve end connection diatas adalah
cara penyambungan body control valve ke proses line (pipa).
Ada tiga metoda pemasangan control valve pada pipelines (pipa),
yaitu :

* $0 ½ 
Screwed end connection ini banyak dipakai untuk control yang
kecil-kecil, dan juga cara ini lebih ekonomis dibandingkan juga dipakai
flensan (flange end). Penyambungan seperti ini biasanya dilakukan untuk
valve yang berukuran lebih kecil daripada 2 inchi.
Kesulitan dengan cara ini adalah jika valve tersebut memerlukan
frekuensi membuka/memasangnya pada pipa, karena valve tidak akan
dapat dibuka begitu saja tanpa melepas beberapa bagian pipanya.

* S ,  / 


Valve dengan sambungan flensan (flange) mempunyai kemudahan
dalam memasang/membongkarnya dari pipeline dan cocok dipakai untuk
berbagai tekanan kerja yang diisyaratkan bagi setiap control valve.
Sambungan flensan juga dapat dipakai dalam range temperature dari nol
absolute sampai c F.
Sambungan ini juga dapat dipakai untuk semua ukuran control
valve. Sambungan flensan yang banyak dipakai adalah :

‘   


Flensan yang dipasang akan mengadakan kontak sepenuhnya
dengan gasket. Konstruksi ini sering dipakai untuk tekanan rendah,
valve-valve dari bahan cast iron dan kuningan.

ºå
‘
Gambar c. Flate Flace

©‘ Ñ 


Mempunyai permukaan yang menonjol pada lingkaran tertentu
dengan diameter dalam sama dengan bukaan valve dan diameter luar
sedikit lebih kecil dari diameter lingkaran untuk baut.
Raised face ini dipakai untuk berbagai jenis gasket dan material
flensan untuk tekanan sampai dengan 6 Psi dan temperature sampai
c F.

Gambar c8. Raised Face

‘ Ñ   


Hampir sama dengan raised face, hanya saja terdapat lekukan
berbentuk huruf U. Gasket yang dipakai adalah cincin logam yang
penampangnya dapat berbentuk oval. Sambungan ini digunakan untuk
tekanan yang tinggi (sampai c Psi).

ºÎ
‘
Gambar c. Ring Type Join

* ù&0 
Penyambungan control valve ke pipelines dengan cara pengelasan
ini mempunyai keuntungan dari segi pencegahan terhadap kebocoran
pada berbagai tekanan dan temperatur. Namun cara penyambungan ini
akan kesulitan dalam melepaskan control valve dari pipa.
Ada dua cara penyambungan las yang dikenal yaitu butt dan
socket, seperti pada gambar. Butt welding dipakai untuk control valve
berukuran 2, inchi atau lebih. Sedangkan socket welding digunakan
untuk valve yang berukuran maksimal 2 inchi.

Gambar 2 . Welding End Connection

è
‘
  & ' ( ) *
 
Valve merupakan peralatan untuk menggerakkan stem dan plug pada
posisi yang diinginkan. Namun valve tidak dapat secara tepat
dispesifikasikan dengan sinyal control. Tetapi jika kekurangan ini
dianggap cukup penting, maka sebuah   dapat digunakan.
Positioner merupakan pengendali proporsional yang digunakan
untuk menggerakkan actuator atau stem sebuah control valve dengan
tenaga angin (Pneumatik) sesuai dengan sinyal control. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat secara blok diagram kedudukan control valve di
dalam suatu closed loop system adalah seperti pada gambar berikut ini.

Gambar 2c. Blog Diagram

Dari gambar diatas, sinyal dari sensor akan masuk ke transmitter.


Di dalam transmitter, sinyal tersebut akan diubah ke dalam ampere (I).
Biasanya nilai dari sensor tersebut sangat kecil, sehingga nilai tersebut
harus dinaikkan.Pada PT.Pertamina (Persero) RU II Dumai, range nilai
yang digunakan adalah 4 mA ± 2 mA. Kemudian akan di terima oleh
controler (DCS). Setelah itu controler akan memberi perintah untuk
membuka atau menutup control valve melalui positioner tersebut.

Peletakan positioner pada control valve dapat dilihat pada gambar


(22) berikut ini :

èc
‘
Gambar 22. Peletakan Positioner

è    




 Sebelum segala prosedur pemeliharaan dilaksanakan, yakinkanlah
terlebih dahulu bahwa semua tekanan pada pipping telah tertutup rapat
dan dikeluarkan dari body valve. Demikian juga tekanan pada
actuatornya. Kesalahan dalam langkah awal pemeliharaan akan dapat
menimbulkan situasi yang berakibat rusaknya peralatan dan bahkan
mencederakan operator.
Berikut ini akan diuraikan secara ringkas prosedur pemeliharaan
yang perlu dilakukan dalam pemeriksaan atau pemeliharaan control
valve.

è    
 Packing yang ada dibagian dalam bonnet akan membuat tekanan
disekitar stem (untuk body valve jenis globe). Packing ini membutuhkan
penggantian jika telah mulai adanya kebocoran disekeliling stem.
Beberapa jenis packing control valve yang banyak digunakan,
diantaranya adalah :

è^
‘
c). TFE V-ring
- Terbuat dari bahan plastik yang mempunyai daya melekat
- Bentuknya berupa cincin yang menyerupai huruf-V dan tidak
membutuhkan pelumas
- Tahan terhadap beberapa bahan kimia
- Dapat digunakan pada temperature antara 4 F s/d 4 F.

2). Graphited Asbestos


- Terbuat dari fiber-asbes, lead wool, flake graphite, partikel
logam, dan sejumlah kecil neoprene
- Dapat dipakai untuk distilat minyak, steam, oil, dan udara
dengan temperature sampai 4 F.
- Dapat diatur-atur untuk mencega kebocoran, akan tetapi akan
terjadi gesekan yang lebih besar daripada dengan packing TFE.
- Untuk mengurangi gesekan, dapat menggunakan pelumas.

3). Semi Metallic


- Cincin packing mempunyai inti asbestos yang dililit dengan
alumunium foil
- Dapat dipakai untuk temperature dan tekanan tinggi serta
permukaan stem yang tidak begitu baik
- Cocok untuk temperature mencapai  F
- Jika temperature sudah mencapai 8 F, sebaiknya
menggunakan extension bonnet.

èº
‘
Berikut adalah bentuk-bentuk dari packing :



Gambar 23. Jenis-jenis packing

  %   0& ' ( 


 Suatu lubricator/isolating valve dibutuhkkan untuk packing yang
semi metallic dan disarankan pula packing jenis graphite asbestos.
Lubricator ini dipasangkan pada pipe plug yang terdapat di bagian
bonnet. Pelumas yang digunakan untuk temperature sampai 4 F adalah
jenis Dowcorning X-2. Sedangkan jika temperature dibawah 3 F,
gunakan pelumas Hooker Chemical Corporation Fluorolube.
Pada saat memasukkan pelumas, tutup isolating terlebih dahulu,
kemudian putar balik baut lubricator sampai terlepas. Masukkan
pelumas, lalu dorong dengan memutar baut lubricator. Buka isolating
valve dan teruskan memutar baut lubricator sampai pelumas masuk
kedalam packing box. Kalau sudah selesai, tutuplah kembali isolating
valve.

èè
‘
Berikut adalah gambar peletakan packing pada control valve :

Gambar 24. Packing PTFE

è
‘
Gambar 2. Double packing (PTFE dan Graphite)

   ( (  ( % 1   %


Untuk control yang banyak dipakai, yang dipakai istilah sliding stem
control valve, maka pengaturan langkah ( travel adjustment ) dan
menghubungkan kedua stem ( actuator stem dengan plug stem ) adalah
sebagai berikut :
c)‘ Pasang body valve dan actuator. Ulirkan stem lock nut pada plug
stem dan atur agar travel indicator disc pada bagian melengkung
tajamnya mengarah kebawah. Sisakan ulir diatas disc tersebut
secukupnya untuk tempat melekatnya stem connector.
2)‘ Pastikan agar actuator stem berada pada posisi sama dengan saat plug
menutup ke seat (untuk body dengan jenis direct). Agar mendapatkan

èr
‘
posisi yang diinginkan maka dapat digunakan angin yang bertekanan
tinggi pada actuator.
3)‘ Gerakkan plug keposisi menutup
4)‘ Ubah tekanan angin yang bekerja pada actuator, sehingga actuator
stem bergerak kira-kira c/8 inchi. Pasangkan stem connector, klem-
kan kedua stem (actuator stem dengan plug stem).
)‘ Gerak-gerakkan actuator untuk memeriksa kemampuannya bergerak
sepanjang travel (stroke) yang ditetapkan pada setiap control valve
(mulai full open sampai full close). Apabila memerlukan pengaturan
kembali untuk perubahanyang tidak begitu besar, kendorkan stem
connector, ikat baut ( stem locknut satu dengan yang lain ) dan putar
stem kearah yang diinginkan. Pengaturan yang dapat dilakukan
maksimum c/8 inchi.
6)‘ Jika pengaturan travel telah selesai dilakukan maka kencangkan
ikatan pada stem lock nut untuk menjepit indicator disc. Dan ikat
pula stem connector. Atur posisi indicator plate pada yoke agar sesuai
dengan hasil pengaturan travel tadi.
)‘ Untuk melihat hasil pengaturan travel lebih teliti maka pasangkan
gauge indikator untuk mengukur tekanan yang bekerja pada actuator.
8)‘ Lakukan final adjustment, mulai saat valve mulai bergerak sampai
diperoleh langkah penuh.

è‰
‘
S S'
& ' (  S
 ½½  % )*
+ % 

 Penggerak pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap adalah ³Steam Turbine´


dan turbine yang digunakan di PLTU adalah type ³Condensing Induction´ yang
merupakan produksi dari Fuji Electric. Prinsip kerja dari PLTU ini adalah
merubah tenaga panas menjadi tenaga mekanis dengan menggunakan High
Pressure Steam dimana steam masuk kedalam turbine pada sudu-sudunya dan
melalui sudu-sudu ini tenaga mekanis yang terjadi dirubah menjadi tenaga putar
yang mengakibatkan poros/rotor turbine berputar, melalui reducer gear rotor ini
dihubungkan dengan generator, sehingga generator berputar dan menghasilkan
tenaga listrik.

Untuk pengoperasian turbine generator ini digunakan tiga macam steam


yang berbeda yaitu :

£‘ H.P Steam ( High Pressure Steam )


Dengan tekanan kerja untuk turbine 4 ,8 Kg/Cm2 dan temperature 3c C.
H.P Steam ini digunakan untuk menggerakkan turbine dimana steam dari
H.P Header melalui suatu Drain Boot ( Pembuang Condensate Steam )
masuk ke steam stop valve terus ke steam strainer kemudian diteruskan ke
steam control valve.
£‘ M.P Steam ( Medium Pressure Steam )
Dengan tekanan kerja cc, Kg/Cm2 dan temperature c C. M.P Steam ini
digunakan untuk menggerakkan Turbine Pump seperti Auxilary Oil Pump,
Condensate Pump dan Ejector.
£‘ L.P Steam ( Low Pressure Steam )
Dengan tekanan kerja sebesar 3,2 Kg/Cm2 dan temperature c6 C,
digunakan pada turbine generator sebagai pembantu penggerak turbine dan
hal ini dapat mengurangi pemakaian H.P Steam dengan perbandingan 
Ton H.P Steam sama dengan c2 Ton L.P Steam. L.P Steam ini didapat dari

èå
‘
L.P Header dan diteruskan ke L.P Stop Valve dari sini terus ke L.P Control
Valve untuk diatur besarnya penggunaan L.P Steam.

Maka untuk dapat menggerakkan generator dibutuhkan steam yang


menggerakkan turbine. Untuk mendapatkan Steam (uap) sebagai fluida penggerak
turbine dihasilkan dari boiler (ketel uap). Dimana dari uap yang dihasilkan
tersebut yang diserap adalah tekanan dan temperaturnya. Pada kesempatan kali ini
penulis mengambil boiler c yang ada di PLTU PT. Pertamina (Persero) RU II
Dumai.

'
  )S*

Ketel uap adalah suatu bejana tertutup yang berisi uap atau air dimana
kalor dalam bentuk panas dipindahkan melalui ruang bakar dan bidang-
bidang pemanas lain.
Energi dalam dari air didalam ketel uap akan meningkat sehingga
temperatur dan tekanannya akan meningkat pula yang mana air tersebut dapat
menjadi uap pada suatu tingkat keadaan tertentu.
Ketel uap direncanakan untuk dapat menyerap panas secara maksimum
didalam proses pembakaran. Panas diserap oleh ketel uap dapat berlangsung
secara radiasi, konduksi, konveks, atau gabungan dari ketiga cara tersebut
dengan presentasi tertentu sesuai dengan yang dikehendaki.
Secara singkat ketiga cara perpindahan kalor dapat dijelaskan sebagai
berikut :
a)‘ Perpindahan kalor secara radiasi
Perpindahan kalor secara radiasi adalah proses perpindahan kalor
yang dipancarkan dari benda bertemperatur tinggi ke benda yang
bertemperatur rendah yang terpisah satu sama lain tanpa media penghantar
kalor.
Pada ketel uap, proses radiasi terjadi pada ruang bakar yaitu dari
badan api kepermukaan luar pipa dan kedinding ruang bakar sedang pada
waste heat boiler tidak terjadi pembakaran didalam ketel.

èÎ
‘
b)‘Perpindahan kalor secara konduksi
Perpindahan kalor secara konduksi adalah proses perpindahan kalor
dari suatu bagian ke bagian lain dalam suatu material ke material lain yang
saling bersinggungan ( kontak ). Pada ketel uap, proses konduksi terjadi
pada dinding ruang bakar, dinding pipa gas asap atau pipa air dan dinding
silinder/drum ketel uap.

c)‘ Perpindahan kalor secara konveksi


Perpindahan kalor secara konveksi adalah proses perpindahan kalor
dari benda yang bertemperature tinggi kebenda yang bertemperatur rendah
oleh pergerakan dari molekulnya atau dengan perkataan lain konveksi
adalah konduksi yang berlangsung bersamaan dengan gerakan fluida.
Pada ketel uap, konveksi merupakan perpindahan kalor diantara
permukaan pipa dan fluida yaitu terjadi antara gas asap kedinding pipa dan
dari dinding pipa ke air/uap.

Sumber kalor untuk ketel uap ( boiler ) dapat berupa bahan bakar dalam
bentuk padat, cair, atau gas. Bahkan dewasa ini sumber kalor dengan
menggunakan energi listrik atau energi nuklir mulai dikembangkan.

'   6  5  S

Ada 3 syarat agar dapat terjadi pembakaran yaitu :


c)‘ Bahan bakar
2)‘ O2 (oksigen)
3)‘ Api (panas)
Boiler memiliki alat perlengkapan sebagai berikut :
*‘ $ 
Stoek adalah alat untuk mengalirkan atau membuang gas buang setelah
panasnya dipakai untuk keperluan pemanasan mula atau preheater. Hal ini
bermaksud untuk memanfaatkan gas buang.


‘
Tujuan untuk membuat tarikan secara alam sehingga mempercepat aliran
gas buang. Tarikan secara alam tersebut terjadi karena adanya perbedaan
tekanan udara.
1*‘ 4(
Adalah alat yang diletakkan di ruang bakar dan dihubungkan keluar
dimaksudkan untuk membuang apabila terdapat ledakan-ledakan kecil
yang timbul di ruang bakar oleh adanya akumulasi gas/penimbunan gas
yang terjadi diruang bakar.
0*‘ $ " -(  
Pada boiler terdapat 2 buah safety value yaitu :
c)‘Pada super heater
2)‘Pada boiler drum

Safety value ini bekerja apabila tekanan didalam boiler drum diatas 42
Kg/Cm2. Safety value ini akan membuka secara otomatis dan akan
menutup kembali secara otomatis apabila tekanan di boiler drum sudah
turun.

Alasan dipasang dua buah safety value dikarenakan apabila safety value
pada super heater tidak bekerja, maka diharapkan safety value pada boiler
drum dapat menurunkan tekanan uap yang berlebih.

*‘ 0 


Ini adalah alat yang dipasang pada dinding boiler yang berfungsi untuk
melihat nyala api apakah sudah sesuai dengan yang ditentukan.
*‘ $ " 
Alat ini berfungsi untuk membersihkan dinding sebelah kiri dari tube
yang terdapat kerak-kerak akibat pembakaran yang dapat mengurangi
hambatan panas
"*‘ / ( 
Alat untuk mensupply udara keburner sebagai syarat terjadinya
pembakaran.
*‘   ( 

c
‘
Alat ini juga berfungsi untuk mensupply udara, tetapi hanya di gunakan
untuk membantu penyalaan mula pada burner. Apabila sudah beroperasi,
maka ignation air van dimatikan secara manual.
*‘ S 
Burner adalah tempat pencampuran antara bahan bakar, udara untuk
pembakaran.
*‘ /   %
Adalah pompa untuk mengisi air pada boiler. Fud water pump digerakkan
oleh motor listrik dan turbin uap yang berukuran kecil.
*‘  %
Drum boiler adalah tempat untuk memisahkan uap jenuh dengan air
*‘ S  (  
Terdapat c4 buah yang dipasang pada heater. Tujuannya adalah untuk
membuang skil-skil/deposede dalam boiler yang tidak diinginkan.
*‘ ù 0%
Adalah alat untuk melihat tinggi air didalam boiler secara visual.
%*‘ +  
Adalah alat untuk menurunkan tekanan gas pembakaran
*‘ ½ -(  
Adalah alat yang dipasag di bagian drum yang bertujuan untuk membagi
air,sehingga dapat mengimbangi level/temperatur air dalam boiler drum.
*‘  %
Adalah alat untuk mengingatkan operator apabila ada kenaikan level air
didalam boiler.

'   %    &  ' (    S


   ½ ½   % 
)*+ % 

Untuk menghasilkan uap yang baik dan aman, maka dibutuhkan


pengaturan aliran air yang akan di rebus pada ketel (boiler), angin yang akan
digunakan untuk mengatur besarnya api, dan bahan bakar untuk api.
Pengaturan ini dapat menggunakan control valve karena control valve

^
‘
bertugas untuk melakukan langkah koreksi terhadap suatu variabel, sebagai
hasil akhir sistem pengendalian.

Berikut ini adalah tabel data control valve yang di gunakan di boiler c
(4 Bc) :

Tag No FV-c8
Body Size 3³
Form Globe
Material Body C.S
Action On Minimum Signal Close (air to open)
Air Supply Pressure 3 Psi
Actuator Type Spring Diaph

Tag No PXV-c 26
Body Size 6³
Form Globe
Material Body C.S
Action On Minimum Signal Open (air to close)
Air Supply Pressure 2,8 Psi
Actuator Type Spring diaph

Tag No PV-3A
Body Size 4³
Form Globe
Material Body C.S


‘
Action On Minimum Signal Open (air to close)
Air Supply Pressure c,4 Psi
Actuator Type Spring diaph
Tag No LV-c
Body Size 2³
Form Globe
Material Body C.S
Action On Minimum Signal Open (air to close)
Air Supply Pressure c,4 Psi
Actuator Type Spring diaph

Tag No TV-33A
Body Size ³
Form Globe
Material Body C.S
Action On Minimum Signal Close (air to open)
Air Supply Pressure 2,4 Psi
Actuator Type Spring diaph

Tag No PV-34c
Body Size 8³
Form Globe
Material Body C.S
Action On Minimum Signal Close (air to open)
Air Supply Pressure 3,8 Psi
Actuator Type Spring diaph


‘
Tag No XV-c 6
Body Size 6³
Form Globe
Material Body C.S
Action On Minimum Signal Close (air to open)
Air Supply Pressure 2,4 Psi
Actuator Type Spring diaph

Tag No XV-c 48A/B


Body Size 2³
Form Globe
Material Body C.S
Action On Minimum Signal Close (air to open)
Air Supply Pressure 2,4 Psi
Actuator Type Spring diaph

Tag No FV 66
Body Size ³
Form Globe
Material Body C.S
Action On Minimum Signal Open (air to close)
Air Supply Pressure c,4 Psi
Actuator Type Spring diaph


‘
Tag No PV-2c
Body Size 3³
Form Globe
Material Body C.S
Action On Minimum Signal Close (air to open)
Air Supply Pressure 2,4 Psi
Actuator Type Spring diaph

Dari data diatas maka dapat disimpulkan bahwa boiler c pada PLTU
PT.Pertamina (Persero) RU II Dumai banyak memakai control valve dengan
jenis body yaitu globe dengan actuator type Spring diaph. Digunakan jenis
body Globe karena kapasitas yang digunakan besar dan pada saat open c 
dapat mengaliri air (fluida) dengan jumlah yang besar.

r
‘
Berikut ini adalah simulasi dari boiler c yang dapat dikendalikan oleh
operator :

Gambar 26. Simulasi boiler c di PLTU

pengoperasian otomatis untuk control valve di boiler c pada PLTU


PT.Pertamina (Persero) RU II Dumai dengan menggunakan DCS (Distributed
Control System) dan untuk shutdown seluruh sistem pada PLTU secara
otomatis menggunakan PLC (Programmable Logic Control).


‘
S S'
½
'
 %  
c) Control Valve merupakan final element yang sangat penting dalam
suatu proses loop tertutup di bidang industri perminyakan.
2) Jenis body control valve yang digunakan di boiler c pada PLTU
PT.Pertamina (Persero) RU II Dumai adalah globe.
3) Jenis actuator yang digunakan di boiler c pada PLTU PT.Pertamina
(Persero) RU II Dumai adalah spring diaphragm.
4) Syarat pembakaran pada boiler ada 3 :
a) Bahan bakar
b) O2 (oksigen)
c) api (pematik)
) Sistem pengaturan otomatis di boilerc pada PLTU PT.Pertamina
(Persero) RU II Dumai menggunakan DCS (Distributed Control
System).
6) Sistem shutdown di boiler c pada PLTU PT.Pertamina (Persero) RU II
Dumai menggunakan PLC (Triconex)

'  $  
c) Waktu selama c bulan masih belum cukup bagi penulis untuk
mempelajari control valve di boiler c pada PLTU PT.Pertamina
(Persero) RU II Dumai.
2) Harus bisa memahami konsep keilmuan dan aplikasi di lapangan.
3) Apabila ada yang belum di mengerti, banyaklah bertanya kepada
pembimbing kerja praktek.


‘
 /½ +$½  

Buyung,Amrial.c83.Teknik Mesin Lapangan.Pangkalan Brandan

Fisher Control International LLC.2 .Control Valve Handbook Fourth


Edition.U.S.A

 

drs.Syafaruddin,ns.c .Dasar ± Dasar Control Valve.Bandung


‘