BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi yang semakin moderen, yang mengakibatkan semakin tingginya tingkat kebutuhan manusia. Maka tuntutan akan teknologi harus dapat memenuhi kebutuhan dari masyarakat tersebut, sehingga dibutuhkan teknologi yang dapat berkembang dan tidak kalah saing dengan produk lainnya. Dan pemanfaatan dari teknologi tersebut dapat digunakan lebih maksimal dalam segala bidang, khususnya dalam bidang pengontrolan otomatis. Bagi sebuah perusahaan besar, yang memiliki cabang hampir di seluruh wilayah Indonesia dan memiliki banyak produk, PT. Pertamina memerlukan perangkat yang mampu menjaga dan merawat (maintenance) mesin agar d apat berjalan dengan semestinya sehingga kelancaran operasional dapat terpenuhi dan menghasilkan suatu produk yang akan dijual. Untuk menunjang kelancaran tersebut salah satu perangkat otomatis yang digunakan di PT. Pertamina adalah Control Valve. Control valve dapat mengatur arus, tekanan, dan temperatur. Pengontrolan beberapa variabel ini diperlukan untuk memastikan mutu dari produk tersebut.

1.2 Tujuan Kerja Praktek 1. Melihat secara langsung aktivitas perusahaan PT. Pertamina. 2. Mengetahui secara lebih mendalam pengetahuan akan sistem otomatis dalam hal maintenance khususnya mengenai Control Valve dan bagianbagian dari Control valve.

1.3 Batasan Masalah Pada laporan kerja praktek ini , pembahasan lebih di titik beratkan kepada pengaturan otomatis Control Valve di gedung PLTU PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai.

1

1.4 Metoda Penelitian 1. Observasi Metoda pengumpulan data dengan mengamati langsung terhadap kegiatan yang berlangsung di PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai

2. Diskusi dengan pembimbing, staf, dan karyawan PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai Metoda pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab secara langsung dengan pimpinan perusahaan atau karyawan yang bersangkutan dalam rangka melengkapi data yang diperlukan.

3. Tinjauan Pustaka Penulis melakukan tinjauan pustaka guna mencari buku-buku penunjang sebagai referensi dalam penyusunan laporan. Selain itu penulis juga melakukan pencarian data di internet untuk mendapatkan bahan-bahan penunjang lainnya.

1.5 Jadwal Kerja Praktek Berhubung dengan kurikulum Jurusan Teknik Mekatronika Politeknik Caltex Riau, maka kerja praktek di PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai selama 1 (satu) bulan yaitu dari tanggal 10 Agustus 2010 sampai dengan 10 September 2010.

1.6 Manfaat Kerja Praktek 1.6.1 Bagi Politeknik Caltex Riau a) Terjalin hubungan kerja sama yang erat antara Pliteknik Caltex Riau dengan instansi tempat kerja praktek yaitu PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai.

2

b) Sebagai bahan evaluasi di bidang akademik untuk meningkatkan dan mengembangkan mutu pendidikan. c) Sebagai barometer untuk mengukur sejauh mana daya serap mahasiswa dalam menerima dan menerapkan teori yang diperoleh selama di kampus. 1.6.2 Bagi Mahasiswa a) Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan diluar lingkungan kampus yang berhubungan dengan program study yang dipilih. b) Untuk menambah pengalaman sebelum terjun kemasyarakat atau dunia kerja. c) Untuk melatih mahasiswa dalam mengumpulkan dan menganalisa data yang diperoleh serta memberikan alternatif pemecahan masalah yang dihadapi d) Menambah pengetahuan mahasiswa dalam bidang pengontrolan otomatis khususnya dalam bidang pengontrolan Control Valve 1.6.3 Bagi Perusahaan a) Terjalin hubungan kerja sama dan sebagai sarana tukar informasi untuk meningkatkan sarana dan prasarana yang telah ada. b) Sebagai perwujudan pengabdian masyarakat khususnya dibidang pendidikan. c) Memungkinkan untuk mendapatkan masukan-masukan sebagai bahan pertimbangan untuk mengembangkan sistem yang telah ada.

1.7 Sistematika Penulisan Untuk mempermudah penyajian pada penyusunan laporan ini, penyusun menggunakan sistematika untuk mengetahui pokok bahasan setiap bab yang disajikan sebagai berikut : BAB I : Pendahuluan Bab ini berisi latar belakang masalah, batasan masalah, maksud dan tujuan kerja praktek, batasan masalah, metoda yang digunakan, tempat dan jadwal kerja
3

praktek, penulisan.

manfaat

kerja

praktek,

dan

sistematika

BAB II

:

Tinjauan Umum Perusahaan Bab ini berisi tentang gambaran umum perusahaan yang meliputi sejarah berdirinya PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai, lokasi kilang PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai, gambaran umum kilang minyak PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai, struktur organisasi PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai dan struktur organisasi Reliability RU II Dumai.

BAB III

:

Control Valve Bab ini berisi tentang landasan teori yang berkaitan dengan control valve.

BAB IV

:

Control Valve Pada Boiler 1 di PLTU PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai Bab ini berisi tentang sistim pengontrolan valve pada Boiler 1 di PLTU PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai.

BAB V

:

Penutup Bab ini berisi kesimpulan dari pembahasan masalah dan saran.

4

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

II.1 Tentang Perusahaan PERTAMINA adalah perusahaan minyak dan gas bumi yang dimiliki Pemerintah Indonesia (National Oil Company), yang berdiri sejak tanggal 10 Desember 1957 dengan nama PT PERMINA. Pada tahun 1961 perusahaan ini berganti nama menjadi PN PERMINA dan setelah merge r dengan PN PERTAMIN di tahun 1968 namanya berubah menjadi PN PERTAMINA. Dengan bergulirnya Undang Undang No. 8 Tahun 1971 sebutan perusahaan menjadi PERTAMINA. Sebutan ini tetap dipakai setelah PERTAMINA berubah status hukumnya menjadi PT PERTAMINA (PERSERO) pada tanggal 17 September 2003 berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2001 pada tanggal 23 November 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. PT PERTAMINA (PERSERO) didirikan berdasarkan akta Notaris Lenny Janis Ishak, SH No. 20 tanggal 17 September 2003, dan disahkan oleh Menteri Hukum & HAM melalui Surat Keputusan No. C-24025 HT.01.01 pada tanggal 09 Oktober 2003. Pendirian Perusahaan ini dilakukan menurut ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang No. 1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, Peraturan Pemerintah No. 12 tahun 1998 tentang Perusahaan Perseroan (Persero), dan Peraturan Pemerintah No. 45 tahun 2001 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 12 tahun 1998 dan peralihannya berdasarkan PP No.31 Tahun 2003, ³Tentang pengalihan bentuk perusahaan pertambangan minyak dan gas bumi Negara (Pertamina) menjadi perusahaan perseroan(Persero)´. Sesuai akta pendiriannya, maksud dari Perusahaan Perseroan adalah untuk menyelenggarakan usaha di bidang minyak dan gas bumi, baik di dalam maupun di luar negeri serta kegiatan usaha lain yang terkait atau menunjang kegiatan usaha di bidang minyak dan gas bumi tersebut.

5

Memberikan konstribusi dalam meningkatkan kegiatan ekonomi untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. 2. Menyelenggarakan kegiatan usaha lain yang terkait atau menunjang kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam nomor 1. PT. dan 3. II. Menyelenggarakan kegiatan usaha di bidang panas bumi yang ada pada saat pendiriannya. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut. baik di dalam maupun di luar negeri yang berorientasi pada mekanisme pasar. Menyelenggarakan usaha di bidang minya dan gas bumi beserta hasil olahan dan turunannya. Melaksanakan pengusahaan dan pemasaran Liquified Natural Gas (LNG) dan produk lain yang dihasilkan dari kilang LNG. Perseroan melaksanakan kegiatan usaha sebagai berikut : 1. petrokimia.2 Sejarah Pertamina Era Persero y Pertamina adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang telah berubah bentuk menjadi PT. 2. termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang telah mencapai tahap akhir negoisasi dan berhasil menjadi milik perseroan. Mengusahakan keuntungan berdasarkan prinsip pengolaan Perseroan secara efektif dan efisien. 3. Persero yang bergerak di bidang energi. 2. Sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang MIGAS (Minyak Bumi dan Gas) baru.Adapun tujuan dari Perusahaan Perseroan adalah untuk : 1. Pertamina tidak lagi menjadi satu-satunya perusahaan yang memonopoli industri MIGAS dimana kegiatan usaha minyak dan gas bumi diserahkan kepada mekanisme pasar. 6 . dan usaha lain yang menunjang bisnis Pertamina. 4.

termusuk Aktiva Tetap yang telah di revaluasi oleh Perusahaan Penilai Independen. Pertamina (Persero) pada saat pendirian adalah Rp. Pertamina (Persero) pada saat pendirian adalah Rpsahamnya dimiliki oleh negara. dikurangi dengan semua kewajiban (hutang) Pertamina´.y Modal setor PT.sehingga program peningkatan kehandalan kilang dan peningkatan kualitas informasi dan komunikasi menjadi penting. 3) Modal Disetor (Penanaman Modal Negara/PMN) PT. 100 Trilyun. 100 Trilyun diperoleh dari : ³Seluruh Kekayaan Negara yang selama ini tertanam pada Pertamina. y Nilai Rp. kilang minyak Putri Tujuh Dumai dan Sungai Pakning telah memberikan sumbangan nyata terhadap perkembangan dan kemajuan daerah khususnya kota Dumai dan sekitarnya dan telah memberikan andil yang besar bagi pemenuhan kebutuhan bahan bakar nasional. Kehadiran situs Pertamina adalah untuk memberikan gambaran kepada pengunjung tentang Pertamina Refinery Unit II dan kegiatannya 7 . yang meliputi Aktiva Pertamina beserta seluruh Anak Perusahaan. Berbagai macam produk Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Non Bahan Bakar Minyak (NBBM) telah dihasilkan dari Kilang Putri Tujuh Dumai ± Sei. Pakning Sejak dioperasikan pada tahun 1971. Komitmen untuk memajukan Kilang Minyak Refinery Unit II Dumai dan Sungai Pakning menjadi Kilang Kebanggaan Nasional. Pertamina (Persero) : 1) PT. Pertamina Refinery Unit II Dumai ± Sei. 2) Modal Disetor (Penanaman Modal Negara/PMN) PT. Pertamina (Persero) merupakan BUMN yang 100% sahamnya dimiliki oleh negara. Pakning dan telah didistribusikan ke berbagai pelosok tanah air dan manca negara.

Pertamina (Persero) RU II Dumai Visi Menjadi Perusahaan Minyak Nasional Kelas Dunia Misi Menjalankan usaha inti minyak. menjunjung tinggi kepercayaan dan integritas. tidak menoleransi suap. II. mendorong pertumbuhan melalui investasi.4 Tata Nilai Pertamina y Clean (Bersih) Dikelola secara profesional. dan bahan bakar nabati secara terintegrasi. berdasarkan prinsip-prinsip komersial yang kuat II.3 Visi dan Misi PT. Harapan melalui situs ini dapat tercipta hubungan komunikasi yang lebih baik dan kerja sama yang lebih luas dengan semua pihak termasuk dengan mitra kerja di dalam dan di luar negeri. gas. membangun budaya sadar biaya dan menghargai kinerja 8 .dalam mengolah minyak mentah yang berwawasan lingkungan guna memenuhi kebutuhan bahan bakar nasional. Berpedoman pada asas-asas tata kelola korporasi yang baik. y Competitive (Kompetitif) Mampu berkompetisi dalam skala regional maupun internasional. menghindari benturan kepentingan.

RU II telah mempertimbangkan tantangan strategik serta peluang inovasi terhadap produk dan model bisnis. RU II menetapkan sasaran utama yaitu : 1. II. berkomitmen dalam membangun kemampuan riset dan pengembangan. dan berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan. menjadi pelopor dalam reformasi BUMN. dan membangun kebanggaan bangsa y Customer Focused (Fokus Pada Pelanggan) Beorientasi pada kepentingan pelanggan. Peningkatan kepuasan pelanggan 3. Optimasi biaya tinggi 3. Peningkatan revenue dan cost reduction 2. 9 . y Capable (Berkemampuan) Dikelola oleh pemimpin dan pekerja yang profesional dan memiliki talenta dan penguasaan teknis tinggi. Peningkatan kepuasan pelanggan Tujuan yang paling penting dari sasaran strategik tersebut adalah : 1. Peningkatan kehandalan kilang 2. Peningkatan kompetensi pekerja 5. Peningkatan nilai tambah produk 4. Peningkatan citra positive perusahaan Dalam menetapkan sasaran strategik.y Confident (Percaya Diri) Berperan dalam pembangunan ekonomi nasional.5 Strategi Perusahaan Sasaran strategik Berdasarkan hasil analisa SWOT dan GE 9 Cells.

10 . Pada Pertamina Refenery Unit II Dumai. Bentuk struktur organisasi Pertamina RU II Dumai dan Sei.6 Strukur Organisasi Pertamina Refinery Unit II Dumai merupakan suatu unit pengolahan dan penyulingan minyak yang berada dibawah Kontrol Direktur Refinery Pertamina Pusat. kerosin. dan LPG. Struktur organisasi yang ada di Pertamina RU II Dumai berbentuk staf lini yang dipimpin oleh seorang Genderal Manager dan bertanggung jawab langsung kepada Direktorat Pengolahan Pertamina Pusat Jakarta. avtur. Pakning dapat dilihat pada gambar di bawah ini. solar.crude oil diolah untuk menjadi bahan bakar minyak dan gas yang memiliki nilai guna seperti bensin.II.

Struktur Organisasi Refinery Unit II Dumai 11 .

efektif.General Manager Refenery Unit II Dumai selaku pimpinan dalam tugasnya di bantu oleh : 1.6.6. General Affair Manager 5.1 Senior Manager Operation & Manufacturing Eselon ini dipimpin oleh seorang Senior Manager Opertion & Manufacturing yang bertugas dan bertanggung jawab atas kegiatan pengolahan minyak mentah menjadi produk-produk kilang dan pemeliharaan peralatan-peralatan produksi dan engineering. II. Khusus untuk Reliability Manager maka membawahi Equipment Reliability Section Head dan Plant Reliability Section Head. Eselon ini membawahi bidang-bidang sesuai dengan fungsi masing-masing. Procurement Manager 3.2 Bidang Production Dumai Bidang ini berfungsi sebagai pelaksana kegiatan operasi pengolahan minyak mentah menjadi produk-produk BBM dan Non BBM. Health Safety Enviromental Manager 6. Operational Performance Manager Masing-masing Manager tersebut membawahi beberapa bagian yang dipimpin oleh seorang Kepala Bagian (Section Head). dan efisien. sesuai dengan rencana kerja secara optimal. 12 . Reliability Manager 4. II. Engineering & Development Manager 2.

pengaturan pengapalan BBM maupun Non BBM ke tanker. serta mengelola buangan minyak (slop) dan sarana limbah. air pendingin. Hydro Skimming Complex (HSC) HSC bertugas sebagai penyelenggara kegiatan operasi pengolahan BBM dan Non BBm untuk mendapatkan hasil yang optimum dan On Spec sesuai dengan rencana kerja pengolahan.Bidang production Dumai dalam melaksanakan tugasnya di pimpin oleh seorang Manager Production Dumai yang bertanggung jawab atas kelancaran pengoperasian kilang Pertamina RU II Dumai. Oil Movement Bidang penerimaan. LPG Recovery. Utilities Utilities bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan operasi. Hydrogen Plant. produk dan barang-barang setengah jadi. penimbunan (tangki). yang meliputi area : Crude Distilation Unit. Anime. dan Nitrogen Plant. penyaluranminyak bumi (crude oil). Utilities dalam penyediaan tenaga uap. 3. air industri. yaitu : 1. ini bertugas menyelenggarakan kegiatan operasi dan pencampuran (blending). udara 13 . Dalam melaksanakan tugasnya.Distilled Hydro Treater Unit 220 4. Hydro Cracking Complex (HCC) HCC bertanggung jawab untuk mengoperasikan kilang-kilang unit proses seperti : Hydro Cracker Unibon. Sour Water Stripper.High Vacum unit 100 . air minum.Calciner Unit 170 . 5. Heavy Oil Complex (HOC) HOC bertanggung jawab mengoperasikan kilang unit proses seperti : .Delayed Coke Unit 140 . Naptha Hydro Cracker. 2. Platforming CCR. bidang kilang dibagi atas 5 bagian masing-masing dikepalai oleh seorang kepala bagian dengan tugas dan tanggung jawab secara khusus. Hydrobon Platforming Unit. Naptha Rerun Unit.

bertekanan. 2.4 Manager Maintenance Execution Bidang ini dibagi menjadi 5 bagian yang masing-masing dikepalai oleh seorang kepala bagian : 1. control spesifikasi produk dan kualitas unit proses II. Pertamina (Persero) RU II Dumai sesuai dengan standar/code dan peraturan pemerintah yang berlaku. dan modifikasi seluruh peralatan stationary mechanical untuk menunjang operasi kilang yang handal. penguji peralatan stationary. perbaikan. dan efisien sesuai dengan standar dan ketentuanketentuan perusahaan yang berlaku.3 Manager Reliability Bidang ini bertanggung jawab terhadap kehandalan kilang. Bagian ini mengendalikan seluruh kegiatan bagian inspeksi Unit Reliabilitas yang meliputi perencanaan. II. memberikan saran / rekomendasi dalam rangka meyakinkan kondisi layak operasi peralatan kilang dan peralatan penunjang lainnya di PT. Maintenance Area 2 Bagian ini bertanggung jawab terhadap pemeliharaan pruduksi dari unit-unit proses. ekonomis. 6. dan pengawasan kegiatan evaluasi pemeriksaan. Laboratory Bertanggung jawab atas kualitas minyak yang dihasilkan dari proses dan memberikan saran-saran agar operasi berjalan optimum. serta melaksanakan pengendalian kualitas dan kuantitas bahan-bahan dan produk utilities. pelaksanaan. Maintenance Area 1 Bagian ini berfungsi dalam perencanaan koordinasi dan pengawasan dari pelaksanaan pemeliharaan. listrik. pengorganisasian. peralatan mekanikan non rotatong (stationary) equipment 14 .6.6.

memberi saran/rekomendasi dalam upaya mengatasi masalah operasi dan pengembangan guna tercapainya target-target pengolahan secara efektif dan efisien. Workshop Workshop merupakan sarana penunjang untuk melaksanakan perencanaan. II.Mengevaluasi.6. melakukan audit dan administrasi kontrak. . Disamping itu juga 15 . Maintenance Area 3 Bertanggung jawab atas pemeliharaan peralatan produksi dari untiunit proses meliputi peralatan sipil pada unit proses power utilities HDC. sebagian oil movement serta penyediaan air bersih dari sungai rokan sampai dengan kilang.dan rotating equipment. serta peralatan sipil pada unit-unit proses HSC dan HCC. II. serta mengkoordinasi pembinaan pegawai di lingkungan eselon operasi.6. menganalisis dan mengkonsolidasi seluruh rencana kerja .6 Manager Keuangan Pengolahan Region -I Bertanggung jawab terhadap pengolaan tata usaha keuangan dalam rangka menunjang kelancaran kegiatan operasional perusahaan.Laporan keuangan perusahaan. 4.6. II. koordinasi dan pengawasan atas kegiatan perbaikan suatu peralatan mechanical yang mengalami kerusakan. antara lain berupa neraca rugi/laba dan laporan keuangan / managemen lainnya.Pelaksanaan kebijakan keuangan perusahaan yang telah ditetapkan direksi sesuai ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan kesejahteraan karyawan.5 Manager Engineering & Development Tugas dan tanggung jawab utama bidang engineering adalah mengkoordinir rencana kerja/anggaran.7 Manager HR Area / Business Partner RU-II Eselon ini bertanggung jawab terhadap penggajian karyawan. 3. hubungan industri. yang meliputi : . utilities excisting.

hubungan kepemerintahan.6.6.12 IT RU Dumai Area Manager Eselon ini bertugas dan bertanggung jawab atas kelancaran komunikasi dan sistem komputer serta pengawasan peralatan-peralatan komunikasi.6. II. transportasi produk kilang dan peralatan telekomunikasi. II. kesehatan. serta layanan jasa manajemen yang meliputi. II. fungsi organisasi dan tata laksana. Selain itu juga bertanggung jawab terhadap kontrak-kontrak. operasi perkapalan tanker-tanker. Kilang ini terdiri dari Crude 16 .10 Manager Procurement Eselon ini bertugas dan bertanggung jawab atas kelancaran operasi pelabuhan khususnya minyak. II.9 Manager Refinery Planning & Optimization Eselon ini bertanggung jawab terhadap perencanaan crude untuk di produksi dan penjadwalan pemakaian crude untuk diproduksi. hukum. II.11 Manager Health Safety Enviromental Eselon ini bertanggung jawab atas ditaatinya Undang-Undang Lingkungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Tugas pokoknya yaitu mencegah dan menanggulangi terjadinya kecelakaan kerja dan pencemaran lingkungan. II. Pertamina (Persero) RU II Dumai yang pertama mulai dibangun pada tahun 1969 dan diresmikan pada tanggal 8 September 1971 dengan nama ³Kilang Puteri Tujuh´. masyarakat dan sekuriti.7 Kilang Minyak Puteri Tujuh Dumai Kilang PT.bertanggung jawab terhadap kesehatan karyawan dan organisasi serta prosedur-prosedurnya.8 Manager General Affairs Eselon ini dipimpin oleh seorang manager umum yang berfungsi dan bertanggung jawab atas pembinaan sumber daya manusia dan fasilitas yang diberikan perusahaan kepada karyawannya.6. personalia.6.

I Soeharto pada tanggal 16 Februari 1984 dengan mengolah LSWR yang dihasilkan oleh kilang lama Dumai dan kilang Sungai Pakning. Pertamina (Persero) RU II Dumai menjadi penuh dan mengakibatkan kilang tidak beroperasi. Pada tahun 1972 dilakukan proses perluasan kilang puteri tujuh untuk mendapatkan produk lainnya berupa bensin premium dan migas komponen dengan mendirikan plant atau unit proses : y Platforming Unit y Naphta Rerun Unit (NRU) y Hydrobon Unit y Mogas Component Blending Plant LSWR yang diekspor ke Jepang dan Amerika Serikat akhirnya mengalami kesulitan pemasaran disebabkan komponen di Jepang tidak mengolah lagi LSWR sehingga tangki-tangki penimbun LSWR yang berada di kilang PT. diantaranya : y Naphta y Avtur (bahan bakar pesawat jet) y Kerosene (minyak tanah) y Solar (ADO/Automotif Diesel Oil) y Bottom Product berupa 55% volume Low Sulphur Wax Residue (LSWR) untuk di eksport ke Jepang dan Amerika Serikat guna pengolahan kembali. 17 .000 barrel per hari. Kilang kedua ini mulai dibangun pada tahun 1981 dan diresmikan oleh Presiden R. Proyek kilang kedua Dumai ini merupakan perluasan kilang lama yang dinaikkan kapasitanya menjadi 120. maka Pertamina memutuskan untuk membangun proyek Hydrocracker yang bertujuan untuk mengolah LSWR. Sejalan dengan pemakaian dan kebutuhan BBM di dalam negeri dan masalah pengoperasian kilang tersebut. Dari proses pengolahan tersebut dihasilkan beberapa jenis produk BBM.Distilation Unit (CDU) yang mengolah minyak mentah jenis Sumatera Light Crude (SLC) dengan kapasitas 10.000 barrel per hari.

dan Lirik Crude. Selat Panjang Crude. Pertamina (Persero) RU II Dumai meliputi unit operasi fraksinasi yaitu memisahkan fraksi-fraksi minyak mentah berdasarkan perbedaan titik didihnya. Proses pengolahan di kilang PT. kerosene. II. Kilang Sungai Pakning hanya memiliki satu unit distilasi inyak mentah (Crude Distilation Unit) yang menghasilkan produk gas. pemurnian (treating). Automotive Diesel Oil (solar) dan long residu yang dihasilkan CDU Sungai Pakning dikirim ke Kilang Puteri Tujuh untuk di olah lebih lanjut. Kilang ini selain memiliki unit distilasi minyak mentah juga dilengkapi dengan unit proses Hydrocracking dan Thermal Cracking.Produk BBM yang telah dihasilkan oleh kilang Pertamina RU II sampai saat ini antara lain : y Premium (bensin) y Jet-petroleum Grade y Aviation turbine y Kerosene y Solar (ADO) Sedangkan produk Non-BBM nya berupa : y LPG (Liquied Petroleum Gas) y Caleined coke (Carbon) Kilang minyak Puteri Tujuh Dumai memiliki fasiliki pengolahan yang lebih banyak dan kompleks dibandingkan Kilang Minyak Sungai Pakning. Kilang ini mengolah 50.8 Kilang Minyak Sungai Pakning Kilang minyak Sungai Pakning dibangun pada November 1968 oleh Refining Associates (Canada) Ltd atu Refican dan mulai berproduksi pada Desember 1969.000 barrel minyak mentah perhari dari beberapa crude yaitu Sumateran Light Crude. 18 . proses konversi (catalytic dan thermal cracking) serta unit pencampuran sesuai spesifikasi produk yang diinginkan. naphta.

Konsep Dasar Dalam sistem kontrol jaringan tertutup (closed loop control system) terdapat 4 (empat) peralatan pokok.BAB III CONTROL VALVE 1. Orifice Plate 19 . dengan lubang kecil di tengahnya maka terjadi perbedaan tekanan dan percepatan antara aliran sebelum masuk orifice dengan aliran setelah melewati orifice. yaitu : a) Sensor Sensor (primary element) digunakan sebagai elemen yang akan mengadakan kontak langsung dengan besaran yang diukur. Dapat dilihat pda gambar di bawah ini : Gambar 1. contohnya : .Dalam pengukuran aliran (flow) : y Orifice Plate Orifice plate digunakan untuk mengukur kecepatan aliran didalam pipa. Orifice merupakan sebuah plat tipis dengan lubang yang berada pada tengahnya. Ketika cairan menuju orifice.

Penggunaan tube di dalam industry : percepatan yang sering di ukur terdapat di dalam saluran pipa. y Pitot Tube Pitot tube adalah sebuah alat mengukur tekanan yang berbentuk seperti tabung (tube). Dalam keadaan pengukuran seperti ini. maka nilai volumetrik dan mass flow rates dapat di peroleh dengan hukum bernoulli. Kecepatan Aliran fluida pada suatu saluran pipa kemudian bisa diperoleh nilai dari: Laju alir Volume = area saluran pipa × percepatan Gambar 2. Pitot Tube 20 . Jika pengukuran menggunakan anemometer akan sulit untuk memperoleh data.Dengan mengukur perbedaan tekanan cairan antara D1 (diameter pipa pertama) dengan Dvc (vena contracta diameter). alat yang paling praktis menggunakannya adalah pitot tube.

Dalam pengukuran temperature : y Thermocouple Thermocuple adalah penghubung dua metal berbeda yang menghasilkan tegangan pada temperatur tertentu.. Dapat dilihat pada gambar di bawah ini : Gambar 3. Perbedaan metal pada penghubung akan menghasilkan tegangan elektrik apabila di panaskan sehingga thermocouple bisa juga sebagai alat untuk mengubah energi panas menjadi tegangan (voltage) dan sebagai sensor suhu. Thermocouple 21 .

Dalam pengukuran tekanan (pressure) : y Bourdon tube Bourdon tube adalah alat untuk mengukur tekanan.. Bourdon Tube 22 . Apabila terdapat tekanan maka pointer atau jarum pada bourdon tube akan bergerak sesuai dengan besarnya tekanan yang di berikan. Dapat dilihat pada gambar di bawah ini : Gambar 4.

Dapat dilihat pada gambar di bawah ini : Gambar 5.Dalam pengukuran tinggi permukaan cairan (level) : y Displacer Displacer adalah alat untuk mengukur tinggi permukaan sebuah cairan. 23 . dapat dilihat bahwa displacer bergerak naik turun sesuai dengan tinggi permukaan air. Displacer Dari gambar diatas. recorder ataupun pada closed loop system adalah controler. b) Transmitter Transmitter merupakan alat yang berfungsi untuk merubah besaran fisis yang diukur menjadi besaran fisis lainnya yang pada umumnya sudah standard besarnya. Biasanya displacer digunakan untuk sensor. Transmitter terbagi menjadi : 1) Pressure Transmittter Transmitter yang berfungsi untuk mengubah tekanan menjadi energi listrik (voltage). Penerima (receiver) dari sinyal keluaran transmitter ini dapat berupa indicator..

Untuk melakukan tugasnya elemen ini mendapatkan perintah langsung maupun secara tidak langsung dari keluaran controller. 3) Temperature Transmitter Transmitter yang berfungsi untuk mengubah energi panas menjadi energi listrik (voltage). C) Controler Controler ini menerima sinyal dari keluaran transmitter untuk kemudian membandingkannya dengan besaran yang diinginkan (set point). D) Final Control Element Final control element ini berfungsi untuk mengontrol aliran energi ke sistem yang akan dikontrol. Karena itu peralatan ini haruslah mempunyai kemampuan untuk menggerakkan beban ke suatu nilai atau posisi yang diinginkan. Inipun biasanya juga sudah staandard besarnya dan akan dikirimkan keperalatan selanjutnya di dalam control loop system. Controler akan memeanfaatkan error tersebut di dalam perhitungan yang ditunjukkan untuk koreksi terhadap error itu sendiri. Perbedaan yang terjadi antara kedua sinyal ini disebut dengan error (deviasi). Keluaran kontroller sebagai keluaran koreksi. 24 . Didalam industri perminyakan final control element yang digunakan adalah Control Valve.2) Flow Transmitter Transmitter yang berfungsi untuk mengubah laju alir menjadi energi listrik (voltage).

25 . control valve diinginkan berubah secara kontinyu berdasarkan sinyal kontrol untuk mempertahankan suatu kondisi yang diinginkan dari variable proses.2. Variasi resistansi ini tidak diinginkan dan digunakanlah control valve. sebagai hasil akhir sistem pengendalian. hanya ada resistansi variable yang dikontrol. Blok Diagram Pada sebagian besar kasus. Secara blok diagram kedudukan control valve di dalam suatu closed loop system adalah seperti pada gambar berikut ini. sedangkan resistansi berubah-ubah karena perubahan aliran pada sistem atau karena lapisan pipa dan permukaan dinding peralatan. Bagian ± Bagian Control Valve Control valve adalah elemen kontrol akhir yang paling umum digunakan untuk mengatur aliran bahan dalam sebuah proses. Control valve bertugas melakukan langkah koreksi terhadap suatu variabel. Pada suatu loop proses. Gambar 6.

Bagian-bagian Diaphragm Actuator 26 . Oleh karena itu penulis hanya akan membahas diaphragm actuator.Elemen dasar sebuah control valve dapat dikelompokkan kedalam dua bagian. Sinyal keluaran tersebut akan menggerakkan bagian actuator untuk kemudian diteruskan menjadi gerakan membuka atau menutup valve. 2. Macam-macam actuator : 1) Diaphragm Actuator 2) Piston Actuator 3) Electro Hydralic Actuator 4) Manual Actuator Diantara keempat macam actuator diatas. yaitu : a) Actuator Actuator adalah merupakan bagian dari control valve yang paling langsung berhubungan dengan sinyal keluaran suatu controller. yang paling banyak dipakai adalah diaphragm actuator.1 Bagian-bagian Diaphragm actuator Suatu diaphragm actuator mempunyai bagian-bagian sebagai berikut : Gambar 7.

Gambar 8. 2.Ukuran actuat r biasanya bervariasi besarnya untuk mendapatkan luasan diaphragma yang efektif agar dapat menggerakkan stem sepanjang stroke (langkah) yang telah ditetapkan. b. maka diaphragma dan stem akan tertekan ke bawah. Direct acting (Air To Close) actuator Yaitu jika tekanan angin yang masuk ke actuator naik (bertambah). Reverse acting (Air To Open) actuator Yaitu jika tekanan angin yang masuk ke actuator naik (bertambah). maka diaphragma dan stem akan bergerak ke atas.2 Jenis-jenis Actuator Ada dua jenis (type) actuator yang umum dipakai yaitu : a. Direct acting dan Reverse acting 27 .

ataupun melalui suatu unit penguat seperti valve positioner. Besarnya tekanan angin tersebut dapat kita lihat pada name plate yang ada pada setiap control valve. Adapun sistem kerja dari actuator ini adalah : Bagian upper diaphragm case dan diaphragma dari control valve berfungsi seperti balon karet yang kuat.3 Maintenance bagian actuator Berikut ini adalah beberapa petunjuk dalam pemeliharaan actuator : 28 . maka stem akan mulai bergerak jika tekanan angin yang bekerja pada diaphragma telah mencapai 3 Psi dan stroke (langkah) penuh akan di hasilkan jika tekanan tersebut menjadi 15 Psi.2-1 kg/cm2) atau 6-30 Psi (0. Actuator ini adalah actuator yang dapat bertindak sebagai direct action atau Reverse action. Gerak inilah yang akan menentukan bukaan valve. pada reverse acting actuator terletak dibagian atas. Kedua jenis actuator. Sedangkan diaphragma serta diaphragm plate peletakannya saling berbalikan antara kedua jenis actuator ini. 2.Ada satu jenis actuator yang disebut dengan Reversible Actuator. direct action dan reverse action diatas berbeda pada bagian spring.4-2 kg/cm2). Namun biasanya actuator ini hanya dipakai untuk control valve dengan ukuran yang kecil. Selisih kedua gaya tersebut menentukan bagian stem yang terdorong ke bawah. Tekanan angin (instrument air) tersebut biasanya mempunyai range 3-15 Psi (0. Tekanan sinyal pneumatik yang terakumulasi pada ruang tersebut menimbulkan gaya yang melawan gaya pegas. Membuka dan menutup control valve dengan menggunakan angin ini disebut juga dengan sistem pneumatik. spring barrel dan spring adjustor. Jika suatu control valve mempunyai range 3-15 Psi. Perlu diperhatikan dalam bekerja dengan control valve agar ketentuan tersebut tidak dilanggar. Angin bertekanan rendah yang dipakai untuk menggerakkan actuator ini berasal langsung dari controler.

maka stem control valve tidak dapat diatur sesuai dengan posisi terkalibrasi. karena akan dapat mempengaruhi gerakan stem yang diakibatkan gesekan antara stem dengan packing yang berlebihan. Gerakan ini akan dapat diamati/dirasakan dengan jalan merasakan gerakan stem (dengan dipegang tangan) pada saat tekanan angin diubah-ubah disekitar tekanan terendah tersebut. 6) Masalah lain yang sering terjadi pada actuator adalah kebocoran pada diaphragma. pada prinsipnya sama persis dengan yang dilakukan dalam mengatur spring ( spring adjustment ) direct acting actuator. Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari tekanan atau dorongan keatas oleh spring jika cap screw dilepaskan.apalagi kalau sudah ada tekanan dari fluida yang akan dikontrol. Atur tekanan spring sehingga stem actuator mulai bergerak jika angin bertekanan terendah dari range yang tertera pada name plate ( misalnya 3 Psi atau 6 Psi). 4) Spring adjustment untuk direct acting ( air to close ). Penambahan dan pelepasan packing dapat dilaksanakan tanpa melepas bagian lain dari actuator. 29 . Untuk reverse acting actuator. Kalau hal ini terjadi.1) Tekanan yang berlebihan dari yang telah ditetapkan pada diaphragm actuator akan dapat merusak diaphragm tersebut. 3) Sebelum melepaskan actuator hendaknya kurangi terlebih dahulu tekanan spring adjustor kearah yang sesuai. Hanya saja dalam mengencangkan (mengikat) packing nut jangan terlalu keras. tutuplah terlebih dahulu angin yang menuju diaphragma. 2) Bila hendak melepaskan actuator. terutama untuk actuator yang setting awal springnya tinggi. 5) Packing box yang ada dibagian actuator ini tidak ada kesulitan dalam pemeliharaannya. supply angin agar dilengkapi dengan indikator dan regulator untuk kemudian dihubungkan pada upper diaphragm case.

b) Bodi Control Valve b. ‡ Stem bergerak linier (naik ± turun) untuk mengubahposisi plug ‡ Posisi plug yang berubah menyebabkan luas area antara seat dan plug berubah Gambar 9.1 Jenis-jenis Body Control Valve Ada beberapa jenis body control valve yang sering digunakan. yang mempunyai bagian yang dihilangkan untuk mengatur luasan area aliran. 30 . ‡ Bola akan berputar untuk mengatur jumlah aliran. Globe Valve ‡ Ball Valve Ciri-cirinya adalah : ‡ Pembatas valve berupa bola solid. diantanya adalah seperti berikut ini : ‡ Globe Valve Ciri-cirinya adalah : ‡ Bentuk eksternal valve seperti globe.

‡ Jumlah aliran yang dapat dialirkan rata-rata lebih besar 50% dibandingkan dengan Globe Valve Gambar 12. Ball Valve ‡ Butterfly Valve Ciri-cirinya adalah : ‡ Cara kerjanya mirip sayap kupu-kupu. Bentuk Fisik Butterfly Valve 31 .Gambar 10. yaitu sebuah damper yang berotasi untuk mengatur hambatan aliran. Bentuk Fisik Ball Valve Gambar 11.

Gambar 13. Gambar 14. Gate Valve 32 . Butterfly Valve ‡ Gate Valve Ciri-cirinya adalah : ‡ Mempunyai sebuah plat yang mengatur luas bukaan aliran ‡ Biasanya digunakan untuk dioperasikan secara manual dan dapat juga secara otomatis untuk emergensi.

Body Trim adalah bagian dalam dari control valve yang dibentuk oleh beberapa komponen yang dapat dilepas-lepas. Bagian ini berhubungan langsung dengan aliran fluida yang dikontrol.b. maka akan dibahas contoh body control valve yang bentuknya sederhana.3 Bagian-bagian Body Control Valve Untuk memberikan gambaran atas bagian-bagian yang terdapat pada sebuah control valve. yaitu: (1). yaitu single/double ported reversible globe style. Ada dua bagian besar yang membentuk body control valve. 33 . Trim (2).2 Keuntungan dan Kerugian dari tiap -tiap jenis valve body b.

seperti : 1) Valve body 2) Bonnet 3) Bottom flange nut 4) Bottom flange 5) Yoke lock nut Keseluruhan komponen body dan trim suatu control valve dapat dilihat pada gambar 15. 34 .Komponen-komponen trim diantaranya adalah : a) Stem b) Packing gland/flange c) Pipe plug d) Packing box ring e) Guide bushing f) Bottom guide bushin g) Valve plug h) Seat ring i) Packing follower j) Packing k) Packing flange nut Sedangkan body control valve terdiri pula atas beberapa komponen. Yang menggambarkan single dan double seat (port) dari jenis port guide dan top and bottom guided valve body.

35 . actuator stem dengan valve plug stem dapat dilakukan dengan beberapa cara. Koneksi kedua bagian ini sering disebut dengan istilah stem connector. Bagian lain yang terdapat pada body control valve adalah bonnet. seperti contohnya pada gambar 16 berikut ini. Bagian ini berfungsi sebagai tempat menyambungkan actuator ke body. Body Control Valve Hubungan antara kedua stem. yaitu split stem clamp biasanya dipakai untuk control valve yang ukurannya besar.Gambar 15. Dari gambar diatas terdapat tiga jenis stem connector yaitu : - Stem locknuts Stem lock Split stem clamp Jenis yang terakhir diatas.

4 Valve Plug Valve plug adalah merupakan bagian yang bergerak dari suatu control valve yang melakukan perubahan hambatan terhadap aliran fluida. Ada tiga macam karakteristik aliran yang dapat dipilih yaitu : 36 . namun kebanyakan didisain untuk direct acting atau reverse acting. Ballows seal bonnet Dipakai apabila diinginkan tidak boleh ada kebocoran sama sekali dari bonnet ini. Misalnya apabila fluida yang dikontrol mengandung racun. Standart service bonnet Dipakai untuk temperatur fluida antara 320F ± 450 0F b). Packing berfungsi sebagai pencegah terjadinya kebocoran fluida yang akan dialirkan melalui valve. b. Pemilihan kedua aksi valve plug ini biasanya dikaitkan pula dengan aksi actuator yang dipakai. Valve plug ini akan menentukan karakteristik aliran fluida yang akan melalui control valve. Walaupun ada diantara plug ini yang reversible (dapat dibalik aksinya). Diantara berbagai macam bonnet dikenal. c). Extension column bonnet Di pakai untuk temperature yang berfariasi cukup besar ( 200F . yaitu : a).dengan menempatkan packing kedalamnya. Valve plug yang di disain baik untuk pemakaian on-off (dua posisi) atau sebagai pengontrol di semua titik (throttling control). ada 4 jenis yang sering dipakai. mudah menguap. atau mahal nilainya.4500F ) dan panjangnya extention ini tergantung dari kondisi temperature. Radiating fin bonnet Dipakai untuk temperatur diatas 450 F d).

Gambar 16. Cara kerja plug ini berlawanan dengan plug jenis equal percentage.Karakteristik aliran yang presentasi sama (equal percentage) Dengan memakai plug jenis ini. Karakteristik aliran pembukaan cepat (quick opening) Pada daerah bukaan valve yang kecil dapat membuat perubahan aliran yang besar. 3).1). Ketiga karakteristik aliran ini dapat dilihat pada kurva berikut ini. 2). ketika posisi plug hampir tertutup maka aliran akan relatif kecil. Jadi ketika valve plug posisinya 50% maka aliran yang terjadi juga akan 50% dari aliran maksimum. Kurva Karakteristik aliran 37 . dan apabila plug hampir membuka penuh maka aliran akan relatif besar jumlahnya.Karakteristik aliran yang liniear Disini jumlah aliran (flow rate) yang dapat dialirkan akan proporsional (sebanding) dengan besarnya langkah (stroke) valve plug.

Flat face Flensan yang dipasang akan mengadakan kontak sepenuhnya dengan gasket. Bolted Gasketed Flanges Valve dengan sambungan flensan (flange) mempunyai kemudahan dalam memasang/membongkarnya dari pipeline dan cocok dipakai untuk berbagai tekanan kerja yang diisyaratkan bagi setiap control valve. Penyambungan seperti ini biasanya dilakukan untuk valve yang berukuran lebih kecil daripada 2 inchi. Sambungan flensan juga dapat dipakai dalam range temperature dari nol absolute sampai 15000 F. karena valve tidak akan dapat dibuka begitu saja tanpa melepas beberapa bagian pipanya. Konstruksi ini sering dipakai untuk tekanan rendah. dan juga cara ini lebih ekonomis dibandingkan juga dipakai flensan (flange end). Kesulitan dengan cara ini adalah jika valve tersebut memerlukan frekuensi membuka/memasangnya pada pipa. 2).c) Control Valve End Connection Yang dimaksud dengan control valve end connection diatas adalah cara penyambungan body control valve ke proses line (pipa). 38 . yaitu : 1). Ada tiga metoda pemasangan control valve pada pipelines (pipa). Sambungan ini juga dapat dipakai untuk semua ukuran control valve. valve-valve dari bahan cast iron dan kuningan. Sambungan flensan yang banyak dipakai adalah : a. Screwed Pipe Threads Screwed end connection ini banyak dipakai untuk control yang kecil-kecil.

hanya saja terdapat lekukan berbentuk huruf U. Raised face ini dipakai untuk berbagai jenis gasket dan material flensan untuk tekanan sampai dengan 6000 Psi dan temperature sampai 15000 F. Sambungan ini digunakan untuk tekanan yang tinggi (sampai 15000 Psi). Raised Face c. 39 . Gasket yang dipakai adalah cincin logam yang penampangnya dapat berbentuk oval. Gambar 18.Gambar 17. Raised face Mempunyai permukaan yang menonjol pada lingkaran tertentu dengan diameter dalam sama dengan bukaan valve dan diameter luar sedikit lebih kecil dari diameter lingkaran untuk baut. Ring type join Hampir sama dengan raised face. Flate Flace b.

seperti pada gambar. Ada dua cara penyambungan las yang dikenal yaitu butt dan socket. Butt welding dipakai untuk control valve berukuran 2. Namun cara penyambungan ini akan kesulitan dalam melepaskan control valve dari pipa. Welding End Connection Penyambungan control valve ke pipelines dengan cara pengelasan ini mempunyai keuntungan dari segi pencegahan terhadap kebocoran pada berbagai tekanan dan temperatur.5 inchi atau lebih. Sedangkan socket welding digunakan untuk valve yang berukuran maksimal 2 inchi. Welding End Connection 40 . Ring Type Join 3). Gambar 20.Gambar 19.

sinyal tersebut akan diubah ke dalam ampere (I). Tetapi jika kekurangan ini dianggap cukup penting. maka sebuah positioner dapat digunakan. Gambar 21. range nilai yang digunakan adalah 4 mA ± 20 mA. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat secara blok diagram kedudukan control valve di dalam suatu closed loop system adalah seperti pada gambar berikut ini. Kemudian akan di terima oleh controler (DCS). Namun valve tidak dapat secara tepat dispesifikasikan dengan sinyal control. Biasanya nilai dari sensor tersebut sangat kecil.3. Peletakan positioner pada control valve dapat dilihat pada gambar (22) berikut ini : 41 . Di dalam transmitter. sehingga nilai tersebut harus dinaikkan. Blog Diagram Dari gambar diatas.Pada PT. Control Valve Asesories (Positioner) Valve merupakan peralatan untuk menggerakkan stem dan plug pada posisi yang diinginkan. sinyal dari sensor akan masuk ke transmitter.Pertamina (Persero) RU II Dumai. Setelah itu controler akan memberi perintah untuk membuka atau menutup control valve melalui positioner tersebut. Positioner merupakan pengendali proporsional yang digunakan untuk menggerakkan actuator atau stem sebuah control valve dengan tenaga angin (Pneumatik) sesuai dengan sinyal control.

4. Packing ini membutuhkan penggantian jika telah mulai adanya kebocoran disekeliling stem. Berikut ini akan diuraikan secara ringkas prosedur pemeliharaan yang perlu dilakukan dalam pemeriksaan atau pemeliharaan control valve. Demikian juga tekanan pada actuatornya.1 Mengganti Packing Packing yang ada dibagian dalam bonnet akan membuat tekanan disekitar stem (untuk body valve jenis globe). Kesalahan dalam langkah awal pemeliharaan akan dapat menimbulkan situasi yang berakibat rusaknya peralatan dan bahkan mencederakan operator. Beberapa jenis packing control valve yang banyak digunakan. diantaranya adalah : 42 . yakinkanlah terlebih dahulu bahwa semua tekanan pada pipping telah tertutup rapat dan dikeluarkan dari body valve. Pemeli control valve Sebelum segala prosedur pemeliharaan dilaksanakan. Peletakan Positioner 4.Gambar 22.

steam. sebaiknya menggunakan extension bonnet. dapat menggunakan pelumas.Terbuat dari bahan plastik yang mempunyai daya melekat .Untuk mengurangi gesekan. 43 . 2). TFE V-ring .Jika temperature sudah mencapai 8000 F.Tahan terhadap beberapa bahan kimia .Dapat dipakai untuk distilat minyak. dan sejumlah kecil neoprene .Dapat digunakan pada temperature antara 400F s/d 4500F. flake graphite. dan udara dengan temperature sampai 4500 F.1). Graphited Asbestos . partikel logam. akan tetapi akan terjadi gesekan yang lebih besar daripada dengan packing TFE.Bentuknya berupa cincin yang menyerupai huruf-V dan tidak membutuhkan pelumas .Terbuat dari fiber-asbes. . 3). lead wool.Dapat dipakai untuk temperature dan tekanan tinggi serta permukaan stem yang tidak begitu baik . Semi Metallic .Cocok untuk temperature mencapai 9000 F . .Dapat diatur-atur untuk mencega kebocoran.Cincin packing mempunyai inti asbestos yang dililit dengan alumunium foil . oil.

Kalau sudah selesai. tutuplah kembali isolating valve. Sedangkan jika temperature dibawah 3000F.2 Pelumasan Packing Control Valve Suatu lubricator/isolating valve dibutuhkkan untuk packing yang semi metallic dan disarankan pula packing jenis graphite asbestos. Pelumas yang digunakan untuk temperature sampai 4500F adalah jenis Dowcorning X-2. lalu dorong dengan memutar baut lubricator. Jenis-jenis packing 4. Buka isolating valve dan teruskan memutar baut lubricator sampai pelumas masuk kedalam packing box. 44 . Pada saat memasukkan pelumas. Lubricator ini dipasangkan pada pipe plug yang terdapat di bagian bonnet. gunakan pelumas Hooker Chemical Corporation Fluorolube. kemudian putar balik baut lubricator sampai terlepas. tutup isolating terlebih dahulu. Masukkan pelumas.Berikut adalah bentuk-bentuk dari packing : Gambar 23.

Berikut adalah gambar peletakan packing pada control valve : Gambar 24. Packing PTFE 45 .

Agar mendapatkan 46 . yang dipakai istilah sliding stem control valve. Ulirkan stem lock nut pada plug stem dan atur agar travel indicator disc pada bagian melengkung tajamnya mengarah kebawah. Double packing (PTFE dan Graphite) 4.Gambar 25. 2) Pastikan agar actuator stem berada pada posisi sama dengan saat plug menutup ke seat (untuk body dengan jenis direct). Sisakan ulir diatas disc tersebut secukupnya untuk tempat melekatnya stem connector.3 Pengaturan valve travel dan menghubungkan stem Untuk control yang banyak dipakai. maka pengaturan langkah ( travel adjustment ) dan menghubungkan kedua stem ( actuator stem dengan plug stem ) adalah sebagai berikut : 1) Pasang body valve dan actuator.

sehingga actuator stem bergerak kira-kira 1/8 inchi.posisi yang diinginkan maka dapat digunakan angin yang bertekanan tinggi pada actuator. 47 . mulai saat valve mulai bergerak sampai diperoleh langkah penuh. Apabila memerlukan pengaturan kembali untuk perubahanyang tidak begitu besar. 3) Gerakkan plug keposisi menutup 4) Ubah tekanan angin yang bekerja pada actuator. ikat baut ( stem locknut satu dengan yang lain ) dan putar stem kearah yang diinginkan. klemkan kedua stem (actuator stem dengan plug stem). Dan ikat pula stem connector. Pengaturan yang dapat dilakukan maksimum 1/8 inchi. Pasangkan stem connector. 6) Jika pengaturan travel telah selesai dilakukan maka kencangkan ikatan pada stem lock nut untuk menjepit indicator disc. kendorkan stem connector. 8) Lakukan final adjustment. 5) Gerak-gerakkan actuator untuk memeriksa kemampuannya bergerak sepanjang travel (stroke) yang ditetapkan pada setiap control valve (mulai full open sampai full close). 7) Untuk melihat hasil pengaturan travel lebih teliti maka pasangkan gauge indikator untuk mengukur tekanan yang bekerja pada actuator. Atur posisi indicator plate pada yoke agar sesuai dengan hasil pengaturan travel tadi.

sehingga generator berputar dan menghasilkan tenaga listrik. Untuk pengoperasian turbine generator ini digunakan tiga macam steam yang berbeda yaitu : - H.P Steam. H. digunakan pada turbine generator sebagai pembantu penggerak turbine dan hal ini dapat mengurangi pemakaian H. L.P Steam ( Low Pressure Steam ) Dengan tekanan kerja sebesar 3.P Steam ini didapat dari 48 .P Steam ini digunakan untuk menggerakkan Turbine Pump seperti Auxilary Oil Pump. Condensate Pump dan Ejector.P Steam sama dengan 12 Ton L. - L.P Steam ini digunakan untuk menggerakkan turbine dimana steam dari H.P Header melalui suatu Drain Boot ( Pembuang Condensate Steam ) masuk ke steam stop valve terus ke steam strainer kemudian diteruskan ke steam control valve. Pertamina (Persero) RU II Dumai Penggerak pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap adalah ³Steam Turbine´ dan turbine yang digunakan di PLTU adalah type ³Condensing Induction´ yang merupakan produksi dari Fuji Electric.P Steam ( Medium Pressure Steam ) Dengan tekanan kerja 11. melalui reducer gear rotor ini dihubungkan dengan generator.P Steam ( High Pressure Steam ) Dengan tekanan kerja untuk turbine 40. Prinsip kerja dari PLTU ini adalah merubah tenaga panas menjadi tenaga mekanis dengan menggunakan High Pressure Steam dimana steam masuk kedalam turbine pada sudu -sudunya dan melalui sudu-sudu ini tenaga mekanis yang terjadi dirubah menjadi tenaga putar yang mengakibatkan poros/rotor turbine berputar.BAB IV Control Valve Pada Boiler 1 di PLTU PT.P Steam dengan perbandingan 5 Ton H. M.0 Kg/Cm2 dan temperature 1950C.2 Kg/Cm2 dan temperature 1600C. - M.8 Kg/Cm2 dan temperature 3710C.

Dimana dari uap yang dihasilkan tersebut yang diserap adalah tekanan dan temperaturnya.P Control Valve untuk diatur besarnya penggunaan L. konduksi. Panas diserap oleh ketel uap dapat berlangsung secara radiasi. Maka untuk dapat menggerakkan generator dibutuhkan steam yang menggerakkan turbine.P Header dan diteruskan ke L. konveks. atau gabungan dari ketiga cara tersebut dengan presentasi tertentu sesuai dengan yang dikehendaki.P Steam. Pertamina (Persero) RU II Dumai.L. IV. Untuk mendapatkan Steam (uap) sebagai fluida penggerak turbine dihasilkan dari boiler (ketel uap).1Ketel Uap ( Boiler ) Ketel uap adalah suatu bejana tertutup yang berisi uap atau air dimana kalor dalam bentuk panas dipindahkan melalui ruang bakar dan bidangbidang pemanas lain. Pada kesempatan kali ini penulis mengambil boiler 1 yang ada di PLTU PT. proses radiasi terjadi pada ruang bakar yaitu dari badan api kepermukaan luar pipa dan kedinding ruang bakar sedang pada waste heat boiler tidak terjadi pembakaran didalam ketel. Energi dalam dari air didalam ketel uap akan meningkat sehingga temperatur dan tekanannya akan meningkat pula yang mana air tersebut dapat menjadi uap pada suatu tingkat keadaan tertentu. Ketel uap direncanakan untuk dapat menyerap panas secara maksimum didalam proses pembakaran.P Stop Valve dari sini terus ke L. Secara singkat ketiga cara perpindahan kalor dapat dijelaskan sebagai berikut : a) Perpindahan kalor secara radiasi Perpindahan kalor secara radiasi adalah proses perpindahan kalor yang dipancarkan dari benda bertemperatur tinggi ke benda yang bertemperatur rendah yang terpisah satu sama lain tanpa media penghantar kalor. Pada ketel uap. 49 .

Pada ketel uap. Pada ketel uap. Sumber kalor untuk ketel uap ( boiler ) dapat berupa bahan bakar dalam bentuk padat. 50 .b) Perpindahan kalor secara konduksi Perpindahan kalor secara konduksi adalah proses perpindahan kalor dari suatu bagian ke bagian lain dalam suatu material ke material lain yang saling bersinggungan ( kontak ). c) Perpindahan kalor secara konveksi Perpindahan kalor secara konveksi adalah proses perpindahan kalor dari benda yang bertemperature tinggi kebenda yang bertemperatur rendah oleh pergerakan dari molekulnya atau dengan perkataan lain konveksi adalah konduksi yang berlangsung bersamaan dengan gerakan fluida. proses konduksi terjadi pada dinding ruang bakar. dinding pipa gas asap atau pipa air dan dinding silinder/drum ketel uap. konveksi merupakan perpindahan kalor diantara permukaan pipa dan fluida yaitu terjadi antara gas asap kedinding pipa dan dari dinding pipa ke air/uap. IV.2Perlengkapan / Alat-alat Boiler Ada 3 syarat agar dapat terjadi pembakaran yaitu : 1) Bahan bakar 2) O2 (oksigen) 3) Api (panas) Boiler memiliki alat perlengkapan sebagai berikut : a) Stoek Stoek adalah alat untuk mengalirkan atau membuang gas buang setelah panasnya dipakai untuk keperluan pemanasan mula atau preheater. Hal ini bermaksud untuk memanfaatkan gas buang. Bahkan dewasa ini sumber kalor dengan menggunakan energi listrik atau energi nuklir mulai dikembangkan. cair. atau gas.

c) Safety value Pada boiler terdapat 2 buah safety value yaitu : 1) Pada super heater 2) Pada boiler drum Safety value ini bekerja apabila tekanan didalam boiler drum diatas 42 Kg/Cm2. b) Explosive door Adalah alat yang diletakkan di ruang bakar dan dihubungkan keluar dimaksudkan untuk membuang apabila terdapat ledakan-ledakan kecil yang timbul di ruang bakar oleh adanya akumulasi gas/penimbunan gas yang terjadi diruang bakar. d) Inspection door Ini adalah alat yang dipasang pada dinding boiler yang berfungsi untuk melihat nyala api apakah sudah sesuai dengan yang ditentukan. g) Ignation air van 51 . maka diharapkan safety value pada boiler drum dapat menurunkan tekanan uap yang berlebih.Tujuan untuk membuat tarikan secara alam sehingga mempercepat aliran gas buang. e) Shoot flower Alat ini berfungsi untuk membersihkan dinding sebelah kiri dari tube yang terdapat kerak-kerak akibat pembakaran yang dapat mengurangi hambatan panas f) Fresh air van Alat untuk mensupply udara keburner sebagai syarat terjadinya pembakaran. Tarikan secara alam tersebut terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara. Alasan dipasang dua buah safety value dikarenakan apabila safety value pada super heater tidak bekerja. Safety value ini akan membuka secara otomatis dan akan menutup kembali secara otomatis apabila tekanan di boiler drum sudah turun.

Apabila sudah beroperasi. h) Burner Burner adalah tempat pencampuran antara bahan bakar.sehingga dapat mengimbangi level/temperatur air dalam boiler drum. IV.3Data Pemakaian Control Valve Pada Boiler 1 di PLTU PT. o) Alarm Adalah alat untuk mengingatkan operator apabila ada kenaikan level air didalam boiler. tetapi hanya di gunakan untuk membantu penyalaan mula pada burner. m) Reduser gas Adalah alat untuk menurunkan tekanan gas pembakaran n) Tree way value Adalah alat yang dipasag di bagian drum yang bertujuan untuk membagi air. angin yang akan digunakan untuk mengatur besarnya api.Alat ini juga berfungsi untuk mensupply udara. maka dibutuhkan pengaturan aliran air yang akan di rebus pada ketel (boiler). i) Fud water pump Adalah pompa untuk mengisi air pada boiler. Pengaturan ini dapat menggunakan control valve karena control valve 52 . maka ignation air van dimatikan secara manual. dan bahan bakar untuk api. Fud water pump digerakkan oleh motor listrik dan turbin uap yang berukuran kecil. udara untuk pembakaran. l) Water colom Adalah alat untuk melihat tinggi air didalam boiler secara visual. Pertamina (Persero) RU II Dumai Untuk menghasilkan uap yang baik dan aman. j) Drum Drum boiler adalah tempat untuk memisahkan uap jenuh dengan air k) Blow down value Terdapat 14 buah yang dipasang pada heater. Tujuannya adalah untuk membuang skil-skil/deposede dalam boiler yang tidak diinginkan.

S Open (air to close) 2.bertugas untuk melakukan langkah koreksi terhadap suatu variabel. Berikut ini adalah tabel data control valve yang di gunakan di boiler 1 (940 B1) : Tag No Body Size Form Material Body Action On Minimum Signal Air Supply Pressure Actuator Type FV-178 3³ Globe C.8 Psi Spring diaph Tag No Body Size Form Material Body PV-35A 4³ Globe C.S Close (air to open) 35 Psi Spring Diaph Tag No Body Size Form Material Body Action On Minimum Signal Air Supply Pressure Actuator Type PXV-1026 6³ Globe C. sebagai hasil akhir sistem pengendalian.S 53 .

S Open (air to close) 1.Action On Minimum Signal Air Supply Pressure Actuator Type Tag No Body Size Form Material Body Action On Minimum Signal Air Supply Pressure Actuator Type Open (air to close) 1.85 Psi Spring diaph 54 .4 Psi Spring diaph Tag No Body Size Form Material Body Action On Minimum Signal Air Supply Pressure Actuator Type TV-33A 7³ Globe C.4 Psi Spring diaph LV-71 2³ Globe C.S Close (air to open) 3.S Close (air to open) 2.4 Psi Spring diaph Tag No Body Size Form Material Body Action On Minimum Signal Air Supply Pressure Actuator Type PV-3741 8³ Globe C.

S Close (air to open) 2.S Close (air to open) 2.4 Psi Spring diaph Tag No Body Size Form Material Body Action On Minimum Signal Air Supply Pressure Actuator Type XV-1048A/B 2³ Globe C.S Open (air to close) 1.4 Psi Spring diaph Tag No Body Size Form Material Body Action On Minimum Signal Air Supply Pressure Actuator Type FV 66 7³ Globe C.Tag No Body Size Form Material Body Action On Minimum Signal Air Supply Pressure Actuator Type XV-1069 6³ Globe C.4 Psi Spring diaph 55 .

Tag No Body Size Form Material Body Action On Minimum Signal Air Supply Pressure Actuator Type PV-219 3³ Globe C. 56 .S Close (air to open) 2. Digunakan jenis body Globe karena kapasitas yang digunakan besar dan pada saat open 100% dapat mengaliri air (fluida) dengan jumlah yang besar.4 Psi Spring diaph Dari data diatas maka dapat disimpulkan bahwa boiler 1 pada PLTU PT.Pertamina (Persero) RU II Dumai banyak memakai control valve dengan jenis body yaitu globe dengan actuator type Spring diaph.

Berikut ini adalah simulasi dari boiler 1 yang dapat dikendalikan oleh operator : Gambar 26.Pertamina (Persero) RU II Dumai dengan menggunakan DCS (Distributed Control System) dan untuk shutdown seluruh sistem pada PLTU secara otomatis menggunakan PLC (Programmable Logic Control). 57 . Simulasi boiler 1 di PLTU pengoperasian otomatis untuk control valve di boiler 1 pada PLTU PT.

2) Jenis body control valve yang digunakan di boiler 1 pada PLTU PT. 4) Syarat pembakaran pada boiler ada 3 : a) Bahan bakar b) O2 (oksigen) c) api (pematik) 5) Sistem pengaturan otomatis di boiler1 pada PLTU PT. 58 .2 Saran 1) Waktu selama 1 bulan masih belum cukup bagi penulis untuk mempelajari control valve di boiler 1 pada PLTU PT. banyaklah bertanya kepada pembimbing kerja praktek. 2) Harus bisa memahami konsep keilmuan dan aplikasi di lapangan. 3) Jenis actuator yang digunakan di boiler 1 pada PLTU PT.Pertamina (Persero) RU II Dumai adalah globe. 6) Sistem shutdown di boiler 1 pada PLTU PT.Pertamina (Persero) RU II Dumai.1 Kesimpulan 1) Control Valve merupakan final element yang sangat penting dalam suatu proses loop tertutup di bidang industri perminyakan. 3) Apabila ada yang belum di mengerti.BAB V PENUTUP V.Pertamina (Persero) RU II Dumai menggunakan DCS (Distributed Control System).Pertamina (Persero) RU II Dumai menggunakan PLC (Triconex) V.Pertamina (Persero) RU II Dumai adalah spring diaphragm.

com drs.Control Valve Handbook Fourth Edition.1990.S.Teknik Mesin Lapangan.1983.Syafaruddin.ns.Pangkalan Brandan Fisher Control International LLC.omega.2005.A http//www.Bandung 59 .DAFTAR PUSTAKA Buyung.Dasar ± Dasar Control Valve.U.Amrial.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful