EDISI XII / 2008

1
E
D
I
S
I

1
2
/
2
0
0
8
www.thelightmagz.com
FREE
2
EDISI XII / 2008
THEEDITORIAL
EDISI XII / 2008 3
THEEDITORIAL
PT Imajinasia Indonesia,
Jl. Pelitur No. 33A,
www.thelightmagz.com
Pemimpin Perusahaan/
Redaksi: Ignatius Untung,
Technical Advisor: Gerard Adi,
Redaksi: redaksi@thelightmagz.
com, Public relation: Prana
Pramudya, Kontributor: Novijan
Sanjaya, Thomas Herbrich, Iklan:
marketing@thelightmagz.com -
0813 1100 5200, Sirkulasi: Maria
Fransisca Pricilia,
sirkulasi@thelightmagz.com,
Graphic Design: ImagineAsia,
Webmaster: Gatot Suryanto
“Hak cipta semua foto dalam
majalah ini milik fotografer yang
bersangkutan, dan dilindungi oleh
Undang-undang. Penggunaan
foto-foto dalam majalah ini sudah
seijin fotografernya. Dilarang
menggunakan foto dalam ma-
jalah ini dalam bentuk / keperluan
apapun tanpa ijin tertulis pemi-
liknya.”
COVER:
FOTOGRAFER: GERARD ADI
FASHION BY: KIATA KWANDA
ART DIRECTOR: ADI PRAWIRA
DIGITAL IMAGING BY:
C! Production
MAKE UP BY: TEDDY LIM
MODEL: LISTY
FOTOGRAFER
JARANG
Banyak orang mengambil keputusan besar dalam hidupnya untuk serius di
fotograf karena fotograf semakin banyak peminatnya. Semakin banyak artinya
semakin populer, semakin populer artinya semakin bisa dijual. Akhirnya banyak
yang memilih untuk mengikuti sesuatu yang banyak peminatnya, kamera yang
paling laku, aliran fotograf yang paling populer, komunitas yang paling ramai,
dan lain sebagainya.
Eksis di lingkungan yang berkiblat kepada kepupoleran dan kebanyak membuat
The Light memilih untuk mengambil jalur yang berlawanan, yaitu jalur jarang. Ini
dilakukan bukan karena The Light takut bersaing dengan media lain yang sudah
menakdirkan diri pada kiblat kepopuleran. Jalur jarang yang ditempuh The Light
justru dimaksudkan untuk bersaing dengan media apapun, dalam arti positif ten-
tunya. Menjadi jarang tidak berarti tidak laku, menjadi jarang tidak berarti tidak
populer, menjadi jarang tidak berarti tidak bisa mengikuti trend. Bagi The Light
menjadi jarang berarti menjadi spesial, menjadi spesifk, menjadi unik dan tidak
pasaran, memiliki karakter dan prinsip, menjadi tak tersaingi, memilih menjadi
pencipta trend daripada mengikuti trend yang sudah penuh sesak.
Untuk itu pada edisi yang semakin menunjukkan “isi”The Light ini, kami hadirkan
fotografer-fotografer jarang. Jarang baik dari spesialisasinya, jarang dari segi pola
pikirnya, jarang dari segi kualitasnya yang prima dan jarang dari keberaniannya
berdiri sendirian terpisah dari banyak orang yang hanya berani di kerumunan.
Semoga kehadirannya menginspirasi semua yang membaca untuk berani menun-
jukkan warnanya sendiri, bukan warna idolanya, warna kerumunannya.
The Light
4
EDISI XII / 2008
THEEDITORIAL
EDISI XII / 2008 5
EDITORIALPHOTOGRAPHY
ARDILES
RANTE,
MENAMPILKAN
LEBIH DARI
SEKEDAR FOTO
Kurang lebih setahun terakhir kami menghadirkan fotografer jurnalis yang
bekerja di institusi media yang cukup dikenal dengan nama-nama yang juga
dikenal. Kali ini kami berkunjung ke Bali untuk menemui Ardiles Rante, seorang
fotografer freelance yang memulai karirnya sebagai fotografer jurnalis dan kini
mulai menspesialisasikan diri pada editorial photography.
Nama Ardiles mungkin tidak setenar nama-nama besar seperti Oscar Motuloh,
Julian Sihombing, Arbain Rambey dan nama-nama besar lain di bidang fotograf
jurnalis namun belakangan ini Ardiles mulai muncul atau setidaknya terdengar
melalui seri foto dokumenter mengenai perburuan ikan paus di Lamalera yang
memenangkan beberapa penghargaan dari institusi yang memberi penghar-
gaan terhadap karya-karya terbaik dunia terutama di bidang jurnalistik di tingkat
internasional.
Di awal perbincangan kami dengannya, Ardiles mengaku mengikuti The Light
sejak edisi awal dan cukup senang dengan kontennya. “Gue suka karena The Light
meramu informasi fotograf dengan cara yang berbeda. Kadang provokatif tapi
6
EDISI XII / 2008
EDITORIALPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 7
EDITORIALPHOTOGRAPHY
8
EDISI XII / 2008
EDITORIALPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 9
EDITORIALPHOTOGRAPHY
karena memang adanya seperti itu ya
harus diungkapkan. Yang bagus harus
diungkapkan sebagai sesuatu yang
bagus, yang pahit harus diungkapkan
pahit, supaya berimbang. Jadi seru
karena nggak lurus-lurus saja.” Ungkap
pemuda yang belum genap berusia 30
tahun ini.
Ardiles memulai menekuni hobby
fotografnya dengan lebih serius
ketika berkuliah di jurusan jurnalistik
Institut ilmu social dan ilmu politik,
Jakarta. Waktu itu Ardiles sangat ter-
tarik dengan reportase visual. Ardiles
juga sempat mengenyam pendidikan
kursus foto jurnalistik yang diadakan
galeri Antara. “gue ini kayak militan,
belajar dari siapa aja mulai dari Julian
Sihombing sampai Oscar Motuloh.”
Ungkapnya.
Sempat bekerja untuk beberapa media
massa seperti Indonesian Observer,
Tempo, dan Suara Pembaruan, namun
pada akhirnya Ardiles memilih un-
tuk menjadi fotografer dokumenter
lepasan.
Ketika ditanya apakah ia juga menulis
sambil memotret Ardiles dengan tegas
menjawab tidak. “Tidak akan bisa ses-
eorang menulis dan memotret secara
bersamaan dengan baik. Karena ada
detail dan momen yang harus dipilih,
“Sayangnya di
negara ini kan
terbalik, ketika
seseorang hari
senin dan se-
lasa memotret,
rabu dan kamis
melukis, jumat
membaca puisi,
sabtu dan
minggu ber-
main sinetron
orang ini malah
dikatakan multi
talented.
Banyak yang
suka ketukar
antara multi
talented dan
edan-edanan.”
10
EDISI XII / 2008
EDITORIALPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 11
EDITORIALPHOTOGRAPHY
ketika kita sedang mengejar detail
melalui tulisan momennya jadi kelewa-
tan.” Ungkapnya. “Sayangnya di negara
ini kan terbalik, ketika seseorang hari
senin dan selasa memotret, rabu dan
kamis melukis, jumat membaca puisi,
sabtu dan minggu bermain sinetron
orang ini malah dikatakan multi
talented. Banyak yang suka ketukar
antara multi talented dan edan-edan-
an.”Tambahnya.
Bagi Ardiles seorang fotografer lepasan
harus aktif menciptakan pekerjaan-
nya sendiri. “Jadi freelancer nggak bisa
cuma nunggu assignment. Assignment
itu cuma bonus, kita yang harus aktif
membuat karya untuk ditawarkan ke
media.”Tambahnya.
Alasan itulah yang juga mendorong Ar-
diles berani merogoh kocek pribadinya
untuk membuat seri foto tentang
perburuan ikan paus di Lamalera. “Awal
datang ke Lamalera gue ngerasa
nothing. Nggak dapat apa-apa. Tapi
setelah kunjungan yang ketiga gue
ngerasain mukjizat. Dan mukjizat itu
yang bikin gue mau ngejalaninnya.”
Ungkapnya.
Kepekaan Ardiles melihat sebuah
fenomena kehidupan membawanya
ikut serta ke perahu-perahu penduduk
kampung Lamalera yang mengarungi
laut untuk berburu paus dan merekam
sepenggal kisah darinya. Bagi banyak
orang Lamalera menarik karena tidak
banyak perkampungan yang secara
bergotong royong memburu seekor
paus, namun bagi Ardiles kisah perbu-
ruan paus di Lamalera bernilai lebih
dari itu. “gue suka menyaksikan sendiri
proses di balik penciptaan sebuah foto
dan gue belajar banyak tentang hidup
dari situ.” Ungkapnya. “Seharusnya
orang Indonesia bisa belajar banyak
dari penduduk Lamalera. Bertahun-
tahun mereka melaut gagal mendapat-
kan paus. Semuanya karena ada konfik
di antara mereka. Di Lamalera konfik
di darat kebawa sampai di laut. Ketika
mereka mulai belajar untuk mengalah-
kan diri sendiri barulah mereka bisa
berdamai dengan orang lain. Ketika
damai mereka peroleh di hati, damai
mereka bawa pula hingga ke laut, dan
akhirnya pada tahun 2007, setelah
kurang lebih lima tahun mereka gagal
mendapatkan paus, mereka kembali
mendapatkan paus. Bahkan hingga 50
ekor dalam satu tahun.”Tambahnya.
Ardiles pun semakin tertarik ke dalam
daya tarik fenomena yang terjadi di
Lamalera. Bagi sebagian orang per-
buruan paus sangat dikutuk karena
paus sangat dilindungi, namun ketika
melihat alasan dan cara penduduk La-
malera berburu, Ardiles pun tergerak.
“Mereka berburu paus untuk hidup
mereka sendiri, untuk mereka ma-
“gue suka me-
nyaksikan sendiri
proses di balik
penciptaan
sebuah foto
dan gue belajar
banyak tentang
hidup dari situ.”
Setiap paus yang
diperoleh dipriori-
taskan untuk janda
dan yatim piatu.
Ahli tikam paus
pun bukan orang
sembarangan, mer-
eka harus suci. Jika
mereka sudah ber-
istri, mereka tidak
boleh berhubun-
gan sex dengan
istrinya selama
6 bulan terakhir
sebelum akhirnya
boleh menikam
paus.
Tidak ada yang da-
pat memberhenti-
kan mereka selain
Tuhan. Mereka
percaya jika Tuhan
berkata selesai,
maka mereka pun
akan selesai.
12
EDISI XII / 2008
EDITORIALPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 13
EDITORIALPHOTOGRAPHY
14
EDISI XII / 2008
EDITORIALPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 15
EDITORIALPHOTOGRAPHY
kan sehari-hari dan selebihnya untuk
dibarter dengan jagung dan bahan
makanan lain. Setiap paus yang diper-
oleh diprioritaskan untuk janda dan
yatim piatu. Ahli tikam paus pun bukan
orang sembarangan, mereka harus
suci. Jika mereka sudah beristri, mereka
tidak boleh berhubungan sex dengan
istrinya selama 6 bulan terakhir sebe-
lum akhirnya boleh menikam paus. Di
situ menariknya.” Ungkapnya. “Mereka
sangat percaya kepada Tuhan, bah-
kan mereka sangat religius. Sebelum
berburu paus mereka berdoa, setelah
berburu mereka juga berdoa, sebelum
makan mereka berdoa, bahkan sebe-
lum minum tuak pun mereka berdoa.
Tidak ada yang dapat memberhentikan
mereka selain Tuhan. Mereka per-
caya jika Tuhan berkata selesai, maka
mereka pun akan selesai. Pernah suatu
saat ketika sudah beberapa lama tidak
turun hujan di daerah mereka, seorang
dari mereka berkata “Bapa kami ingin
hujan.” Dan benar saja dalam beberapa
saat turunlah hujan.” Sambungnya.
Kisah menarik penduduk Lamalera
membawa Ardiles menghabiskan
waktunya lebih dari sebulan untuk
lebih mengenal fenomena hidup set-
empat. “Ada seorang juru tikam paus
yang pernah terseret paus hingga ke
dasar laut dan ketika muncul kembali
ke permukaan setelah 3 jam ia masih
hidup.” Kenangnya. Namun sayangnya
pengabdiannya yang total kepada
dokumentasi kehidupan menarik di
Lamelara ini tidak mendapat dukun-
gan positif dari media massa dalam
negeri. “Gue menawarkan foto gue ke
3 media massa nasional dan semuanya
tidak tertarik. Ada yang menolak ada
yang menggantungnya dan tidak
memberikan jawaban. Padahal semua
media di Eropa yang gue hubungi
sangat tertarik hingga akhirnya dibeli
dan dipublish justru oleh media Eropa.”
Ungkapnya. Ardiles pun menyesalkan
kurangnya apresiasi terhadap karya
dan profesi fotografer jurnasli oleh
media massa Indonesia. “Lo nggak
bakal hidup sejahtera dari foto jurnalis
di Indonesia. Fotografer jurnalis di In-
donesia berhadapan dengan kapitalis
dan ketidakadilan media. Mulai dari ba-
yaran yang kelewat murah, tidak adan-
ya asuransi perlindungan diri hingga
kamera yang terkadang milik pribadi.”
Tegasnya. “Bayangkan di Indonesia
motret jurnalis cuma dihargai Rp.150
ribu per foto, padahal ongkosnya bera-
pa, untuk makan saja impas, belum lagi
resiko yang dihadapi. Lebih parahnya
lagi copyrightnya juga nggak dighar-
gai. Permasalahannya good news
is not come everyday. Kalao news,
momen datang setiap hari mungkin
boleh saja dibayar Rp.150 ribu per
foto.” Sambungnya. Kondisi ini sangat
berbeda dengan di Eropa di mana tiap
foto diharga antara 30 hingga 40 USD.
“Bahkan kalau foto yang dipakai lebih
dari 2, mereka pun menerapkan harga
borongan atau daily rate sebesar 3 juta
hingga 4 juta rupiah per harinya. Kalau
di Indonesia media mau menghargai
“Lo nggak bakal
hidup sejahtera
dari foto
jurnalis di
Indonesia.
Fotografer
jurnalis di
Indonesia
berhadapan
dengan
kapitalis dan
ketidakadilan
media.”
Permasalahan-
nya good news
is not come ev-
eryday. Kalao
news, momen
datang setiap
hari mungkin
boleh saja diba-
yar Rp.150 ribu
per foto.”
16
EDISI XII / 2008
EDITORIALPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 17
EDITORIALPHOTOGRAPHY
18
EDISI XII / 2008
EDITORIALPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 19
EDITORIALPHOTOGRAPHY
20
EDISI XII / 2008
EDITORIALPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 21
EDITORIALPHOTOGRAPHY
lebih banyak lagi mungkin akan lebih
baik. Nggak perlu disamakan dengan
media di Eropa, kalau daily ratenya
1 sampai 1,5 juta rupiah per hari saja
sudah cukup.” Ungkapnya. “Bayangkan
New york Time.com yang notabene
adalah portal berita bisa punya hit
hingga puluhan juta hit per harinya.
Itu karena mereka mau menyebar
fotografer kemana-mana, ke seluruh
pelosok dan dihargai dengan harga ba-
gus. Sehingga beritanya jadi up to date
dan menarik. Ujung-ujungnya hitnya
tinggi dan pemasukan iklan pun jadi
banyak sehingga biaya untuk meng-
hargai fotografer jurnalis terbayar.
Media di sini harusnya juga bisa, coba
saja lihat berapa keuntungan yang bisa
didapatkan oleh media local, besarnya
nggak ketulungan, tapi berapa mer-
eka menghargai foto jurnalis, sangat
rendah. Padahal jika mereka memba-
yar dengan angka yang pantas, maka
fotografer jurnalis juga akan lebih
terpacu untuk bikin foto yang bagus
juga.” Sambungnya.
Kurang idealnya penghargaan terh-
adap fotografer jurnalis selain dipicu
oleh ulah media massa yang kurang
menghargai fotografer jurnalis juga
disebabkan oleh ketidak-kompakan
pekerja pewarta foto itu sendiri. “Saya
sering ketemu rekan sesama foto
jurnalis yang sombong hanya karena
bekerja untuk media besar. Padahal jika
ID cardnya dicabut juga belum tentu
mereka bisa bersaing.” Ungkapnya.
“Saya sering
ketemu rekan
sesama foto
jurnalis yang som-
bong hanya karena
bekerja untuk me-
dia besar. Padahal
jika ID cardnya di-
cabut juga belum
tentu mereka bisa
bersaing.”
“Beberapa waktu
yang lalu selu-
ruh scriptwriter di
Amerika melaku-
kan aksi mogok
bersama menuntut
perbaikan harga
jasa mereka. Nah
kita butuh kekom-
pakan seperti itu
supaya para fo-
tografer jurnalis
punya daya tawar
terhadap media
massa.”
22
EDISI XII / 2008
EDITORIALPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 23
EDITORIALPHOTOGRAPHY
24
EDISI XII / 2008
EDITORIALPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 25
EDITORIALPHOTOGRAPHY
“Beberapa waktu yang lalu seluruh
scriptwriter di Amerika melakukan aksi
mogok bersama menuntut perbaikan
harga jasa mereka. Nah kita butuh
kekompakan seperti itu supaya para
fotografer jurnalis punya daya tawar
terhadap media massa.” Sambungnya.
Ardiles melihat kurangnya fotografer
jurnalis mengapresiasi hasil karyanya
sehingga mau menurut dan menerima
saja bayaran yang begitu murah. Faktor
inilah yang menjadi salah satu alasan
mengapa Ardiles lebih memilih men-
jadi fotografer lepasan. Karena dengan
begitu ia bisa menjual foto-fotonya ke
Negara-negara yang bisa menghargai
fotonya lebih baik seperti ke Eropa.
Sayangnya tidak banyak fotografer
jurnalis yang juga berani menjadi
fotografer lepasan dan merambah
pasar Eropa sepertinya. “Dari segi
kemampuan, fotografer Indonesia ng-
gak kalah bagusnya dengan fotografer
asing, namun tidak banyak yang berani
jualan keluar. Banyak fotografer yang
bagus tapi tidak bisa menjual fotonya.”
Ungkapnya. “Banyak yang beralasan
bahasa Inggris mereka terbatas, saya
juga masih berantakan bahasa Inggris-
nya. Tapi karena kita dan mereka sama
ukurannya, makannya juga mirip-mirip,
jadi ya saya beranikan saja dan berha-
sil. Saya selalu ingat perkataan John
Stenmeyer yang mengatakan bahwa
dunia editorial selalu terbuka untuk
lahirnya bakat-bakat yang baru dan
bagus.”Tambahnya.
Ardiles beranggapan seharusnya
fotografer jurnalis tidak perlu takut
kehabisan lapangan pekerjaan dan
persaingan karena media bertam-
bah banyak dan mereka butuh foto
yang fresh, maka dari itu Ardiles
menyarankan fotografer muda untuk
lebih berani menghasilkan foto yang
fresh. “Jangan cuma bisa copy-paste,
alam Indonesia begitu luas dan indah,
penduduknya pun begitu banyak. Pasti
banyak konfik dan fenomena yang
menarik untuk diangkat. Asal mau cari
tahu.” Ungkapnya. “Fotograf itu seperti
masakan. Kalau kita masak hal yang
sama dengan rasa yang sama dengan
orang lain, maka bagaimana kita mau
dikenal dan dibeli. Masaklah sesuatu
yang unik dan menarik. Memotret
juga sama, jangan cuma bisa ikut-
ikutan dan memotret sesuatu yang
sama berulang-ulang. Sebagai contoh,
saya pernah diajak memotret upacara
kasodohan di Bromo. Saya bilang, buat
apa motret sesuatu yang sudah banyak
Saya selalu ingat
perkataan John
Stenmeyer yang
mengatakan bah-
wa dunia editorial
selalu terbuka un-
tuk lahirnya bakat-
bakat yang baru
dan bagus.”
“Fotograf itu sep-
erti masakan. Kalau
kita masak hal yang
sama dengan rasa
yang sama dengan
orang lain, maka
bagaimana kita
mau dikenal dan
dibeli. Masaklah
sesuatu yang unik
dan menarik. Me-
motret juga sama,
jangan cuma bisa
ikut-ikutan dan
memotret sesuatu
yang sama beru-
lang-ulang.
26
EDISI XII / 2008
EDITORIALPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 27
EDITORIALPHOTOGRAPHY
28
EDISI XII / 2008
EDITORIALPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 29
THEEVENT
dipotret orang. Lebih baik saya ke
Uluwatu memotret editorial penduduk
asli yang dikucilkan dan diasingkan
karena tidak mau menjual tanah
miliknya untuk dijadikan hotel mewah.
Ceritanya jelas akan lebih menarik dan
yang pasti unik.” Sambungnya. Ardiles
sendiri kurang tertarik untuk memotret
sesuatu yang umum karena tidak ada
keunikan yang ia dapatkan. “Gue nggak
bangga bisa motret tsunami di Aceh,
gampang sekali karena ada momen ba-
gus di sana-sini sehingga banyak orang
yang juga dapat foto bagus di sana.”
Ungkapnya. “Gue lebih suka motret
yang unik dan mendalam. Terkadang
motretnya hanya 1 menit tapi ngobrol-
nya bisa sampai setengah hari. Karena
gue percaya dengan pendekatan yang
tepat kita bisa mendapatkan hasil yang
lebih optimal. Dan ketika moodnya su-
dah bisa dikeluarkan memotret 1 menit
pun cukup. Artinya jadilah reporter
yang baik baru bisa jadi fotografer
jurnalis yang baik. Jadi bukan kamera
yang membuat seseorang jadi fo-
tografer, tapi hasil karyanya.”Tutupnya.
jadilah reporter
yang baik baru
bisa jadi fo-
tografer jurnalis
yang baik. Jadi
bukan kamera
yang membuat
seseorang jadi
fotografer, tapi
hasil karyanya.”
30
EDISI XII / 2008
THEADVERTORIAL
EDISI XII / 2008 31
THEADVERTORIAL









 Retroyraphy
©
 





Ì am often asked, If people can buy my photos. Unfortunately they are
very expensIve and tIme consumIng to produce. So Ì looked for a non·
expensIve, but unIque versIon of a real photo.

Here It Is. The photo on the rIght Is NDT an ancIent photography! Ìt Is
a studIo shot. The look and feel Is
perfectly old, thIs Is a handcrafted
classIc photographIc prInt.
Ì call It FETFDCFAPHY
©
. Dld photos
have a very specIal style, and the
motIfs get a new, dIfferent meanIng.
|y brother |arkus worked two years developIng thIs technIque, usIng
classIc baryt·paper and ancIent cuttIng machInes. Every sIngle prInt Is
beautIfully handcrafted and "old style" prepared.

You can order It dIrectly from my studIo. Every FETFDCFAPHY
©
Is
sIgned by myself (dedIcatIon on request), and comes wIth a how·It·
was·done documentatIon. We have 22 motIfs at the moment. Have a
look at www.herbrIch.com

alwcys ¤ood lì¤ht!
Thomas Herbrìch





"Elephants on a brìdye"

RETROGRAPHY
®
11.5x1/cm in passe-partout 18x2+cm (museum quality)

with wooden frame (German quality frame) 160 US$ without frame 130 US$
prices including taxes and shipping to order, mail to me: thomas@herbrich.com

32
EDISI XII / 2008
MASTERTOM
EDISI XII / 2008 33
MASTERTOM
Today I start my monthly column. May I introduce myself: My name is Thomas
Herbrich, and I am a professional photographer. I do the spectacular and complex
photos, for advertising and editorial. My studio is located in Dusseldorf, Germany,
but I work everywhere.
It’s a pleasure for me, to speak to you regularly here in THE LIGHT. In the future
you can read about my own “heroic deeds” as well as notes on how to set light, or
how to do better night shots, and so on.
WHO ARE YOU
- AND DOES IT
SHOW IN YOUR
PHOTOS?
Many of my colleagues think I am crazy,
since I betray my “tricks”, but my motto
is: “Secrets are unprofessional!”
Today I start with something simple:
The photographer behind the pictures.
You.
First I want to divide the photogra-
phers in he technically orientated ones
and those, who are visual.
The technique freaks love shoptalk and
are totally dedicated to their equip-
ment. Okay. The technical process is
their main thing (always men!), and
their photos… let’s not talk about.
The visual orientated people – the real
photographers! – do photos with their
entire personality and love. They are
interested in technique as far as it helps
to get good shots.
Most of you, dear readers of THE LIGHT,
are in the happily situation to have
photography as a hobby, and you are
your own boss with it. In your photos
one can see: your personality. This
might be not clear to you.
Here are some points to fnd out:
- Do you prefer the long lens or the
wide angle? Do you love to be within
the action, or do you better keep
distance?
- Do you photograph people or
fowers? Like to get in contact with
unkown persons?
The technique
freaks love shop-
talk and are to-
tally dedicated to
their equipment.
Okay. The techni-
cal process is their
main thing (always
men!), and their
photos… let’s not
talk about.
The visual orien-
tated people – the
real photogra-
phers! – do photos
with their entire
personality and
love. They are inter-
ested in technique
as far as it helps to
get good shots.
34
EDISI XII / 2008
MASTERTOM
EDISI XII / 2008 35
MASTERTOM
- Do you like graphic looking scenes in
architectural photography? How is
your home looking – always cleared
up?
- Do you take several numerous pic-
tures at a shooting, and choose the
good one later, or do you wait for the
perfect moment?
- Do you know, when you catched the
perfect shot, or let surprise yourself in
the fnal selection at home?
- Are you proud of your photos? Are
you happy with a good shot, and how
long do you have this feeling ?
- Do you archive your pictures system-
atically – or do you have always to
search?
Seems to be very trivial questions,
but when you answer them, you learn
what’s behind them. Photographer
never portrayed in his pictures, but his
character. Check your photos under
these circumstances. Take heart!
I know photographers, amateurs as
well as professionals, who are always
dissatisfed with their photos. Many
of them don’t know their fortes and
weaknesses, and so they photograph
the wrong themes.
The impatience, hectic guy never gets
elegant architectural shots! But maybe
he is best for party-photography.
An architectural photographer couldn’t
do that at all!
I had to learn this myself. As a profes-
sional you can photograph everything,
but of course you are better in some
themes than in others. I personally
would love, if I could shoot like Helmut
Newton – but that’s not me. And Mr.
Newton couldn’t shoot, what I can.
My advice: Try to fnd your personal
theme, and by the time you’ll become
a master in it. Hang your photos on
the wall, and by the time you’ll see the
progress in your style. Be happy with it!
Is it possible, to judge the photog-
rapher even if you never saw his
pictures? A little bit: At our regular
photographers meeting we always
have a little cold bufet. By watching its
arrangement, I’ll recognise which kind
of photographer brought it:
- the architectural photographer? Then
the dishes are positioned in square,
everything is decorated in right angle.
- The advertising photographer? Then
all the food is presented in best china,
napkins are a good ones and nicely
folded, and there are some fowers.
- The fashion photographer? Then
everything is “poured” over the table,
but elegant. Not tidy. He has the most
elegant napkins.
- The photojournalist? The bufet con-
tains only few things, most of it is still
in the package, dishes is of diferent
styles and no napkins at all.
I never told that to my colleagues, oth-
erwise I would have to do every bufet
in the future…
Always good light!
Master Tom
www.herbrich.com
Photographer
never portrayed
in his pictures,
but his
character.
Try to fnd your
personal theme,
and by the time
you’ll become a
master in it.
36
EDISI XII / 2008
FASHIONUNDERWATERPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 37
FASHIONUNDERWATERPHOTOGRAPHY
EKSOTISME
FASHION
BAWAH LAUT
WINDIARTO
CHANDRA
Beberapa saat yang lalu dunia fotograf Indonesia digemparkan oleh munculnya
sebuah buku yang berisi seri foto fashion underwater. Pemotretan fashion un-
derwater ini memang bukan yang pertama, namun dari segi kualitas, cukup bisa
“membentak” pelaku fotograf Indonesia yang beberapa tahun belakangan ini
terkesan hanya banyak “bergumam”. Adalah Windiarto Chandra sang fotografer
yang merasa beruntung dapat merealisasikan project ini. Didukung oleh Nadine
Chandrawinata yang seorang mantan Putri Indonesia sebagai model dan partner
berdiskusi konsep pembuatan seri foto ini.
Windiarto atau biasa dipanggil Wiwin mengenal fotograf ketika duduk di SMA
pada tahun 1989. Empat tahun kemudian ia terjun ke dunia professional sebagai
fotografer fashion. “Banyak orang berpikir to be a fashion photographer is very
cool. Mereka nggak mikir konsep dan lain sebagainya. Akhirnya nggak maju-
maju. Yang top dan muncul di permukaan yang itu-itu lagi.” Ungkapnya di awal
pembicaraan kami. “Bagi sebagian orang menjadi fotografer prosesnya adalah
membeli kamera, memotret lalu cetak kartu nama. Padahal nggak sesederhana
itu.” Sambungnya.
38
EDISI XII / 2008
FASHIONUNDERWATERPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 39
FASHIONUNDERWATERPHOTOGRAPHY
“Bagi sebagian orang menjadi
fotografer prosesnya adalah
membeli kamera, memotret
lalu cetak kartu nama. Padahal
nggak sesederhana itu.”
40
EDISI XII / 2008
FASHIONUNDERWATERPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 41
FASHIONUNDERWATERPHOTOGRAPHY
Wiwin sendiri lebih tertarik menspesial-
isasikan diri di fotograf fashion karena
baginya fotograf fashion memaksanya
terlibat dalam tim sehingga dapat
menghasilkan karya yang baik. “Ketika
kita fashion, it’s about model, make up
artist, stylist dan pastinya fotografer. I
Like the collaboration. Ketika teamwork
jalan, ide berkembang jadi wah dan
dapat banyak ilmu.”Jelasnya. “Fotograf
it’s about feeling. Dan feeling itu perlu
diasah. Saya menganggap teman-te-
man yang terlibat dalam tim saya itulah
batu asahannya. Maka dari itu ketika
project fashion underwater dengan
Nadine ini selesai saya bilang I’m just a
F***ing lucky bastard yang kebetulan
bisa nulus nama saya di depan buku
fashion underwater tersebut. Di balik
buku itu banyak orang yang terlibat
dan sangat berjasa.” Sambungnya.
Wiwin mengaku ada sekurangnya
18 orang yang terlibat dalam proses
pembuatan project fashion underwa-
ter mulai dari road manager, talent
manager, safety diver, safety manager,
Evacuate manager, Videographer, dan
lain sebagainya.
Pada awalnya, Wiwin hanyalah seorang
yang mencintai diving yang sedang
mencari buku tentang underwater
“Fotograf it’s about
feeling. Dan feel-
ing itu perlu diasah.
Saya menganggap
teman-teman yang
terlibat dalam tim
saya itulah batu
asahannya.
42
EDISI XII / 2008
FASHIONUNDERWATERPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 43
FASHIONUNDERWATERPHOTOGRAPHY
“Dari dulu fotografer
egonya gede banget.
Tapi bukan berarti nggak
bisa kerja dengan tim.”
44
EDISI XII / 2008
FASHIONUNDERWATERPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 45
FASHIONUNDERWATERPHOTOGRAPHY
Indonesia. “Saya dapat banyak buku
underwater Indonesia tapi nggak
ada yang ngarang orang local. Saya
langsung berpikir, pada kemana orang
kita.” Kenangnya. “I love sea a lot dan
saya mau berbuat sesuatu dari negeri
ini dan lautnya. Sampai akhirnya saya
berpikir, kenapa nggak mulai dari
sesuatu yang saya bisa, yaitu fashion
photography.” Sambungnya.
Setelah mencoba beberapa kali di ko-
lam renang, dan setelah bertemu den-
gan Nadine yang juga senang diving
dan fotograf serta ingin sekali difoto
di bawah laut Wiwin pun memutuskan
untuk memulai project ini. “masalah-
nya memotret underwater di kolam
renang jauh lebih gampang di banding
di laut. Karena di kolam renang tidak
ada arus, visibilitynya pun lebih baik.
Selain itu untuk bisa membuka mata
tanpa kaca mata renang di laut sangat
susah karena perih sekali.” Ungkapnya.
“Maka dari itu saya bilang Nadine is
Excellent. Saya bukan pencipta teknik
ini, saya hanya mengikuti teknik yang
sudah ada dan semuanya nothing
tanpa ada ikatan emosional antara saya
dan Nadine karena Nadine seolah-olah
menyerahkan nyawanya. Bayangkan
membuka mata saja sudah susahnya
bukan main, apalagi ketika ia harus
menyelam tanpa ada tabung oksigen
yang menempel di badannya. Kalau
saja tim yang bertugas memberinya
tabung oksigen di sela-sela jepreta
terlambat, kan nyawa taruhannya.”
Lanjutnya.
Wiwin bercerita bahwa dalam proj-
ect ini Nadine bukan sekedar model,
Nadine juga terlibat dalam pembuatan
konsep.
Mengenai teknis fotograf yang dilaku-
kan untuk melakukan project ini, Wiwin
mengaku apa yang ia lakukan di bawah
laut sama seperti apa yang ia lakukan
di studio. “Hanya saja bedanya ketika di
bawah laut setelah kedalaman 3 meter
warna merah akan hilang, setelah itu
ada kecenderungan loosing color.
Belum lagi gangguan particle-particle
dalam air laut yang mengganggu dan
harus dicermati dari segi pencahayaan-
nya.” Jelasnya. Setting white balance
juga sesuatu yang mutlak harus dikua-
sai bagi seorang fotografer underwater.
“Banyak yang bilang, sudahlah shoot
saja pakai RAW, nanti kan bisa diadjust
white balancenya. Tapi saya nggak
begitu. Saya pilih sudah benar white
balancenya walaupun saya juga shoot
pakai RAW.” Sambungnya.
Kesulitan lain yang dihadapi dalam
pemotretan fashion underwater adalah
kemampuan model untuk menjaga
kestabilan agar tidak terlalu cepat naik
atau turun.
Berbicara mengenai teamwork Wiwin
sangat menganggap penting team-
work. “Dari dulu fotografer egonya
gede banget. Tapi bukan berarti nggak
bisa kerja dengan tim.”Tegasnya. “Yang
senior suka ngambil tanggung jawab
orang lain dan ngerjain semuanya
sendiri, sementara yang muda team-
worknya jadi nggak maksimal karena
konsepnya nggak mateng.” Sambung-
nya. Begitu juga dengan acara hunting
model bersama, Wiwin tidak melihat
hal positif di samping sekedar sosial-
isasi.
“Banyak orang yang terbiasa ikut hunt-
ing bersama, akhirnya nggak bisa set-
ting lampu sendiri. Ketika saya ngajar
saya selalu menyuruh orang untuk bisa
setting lighting mulai dari mungut
lampu di lantai, pasang ke light stand,
“Yang senior suka
ngambil tang-
gung jawab orang
lain dan nger-
jain semuanya
sendiri, sementara
yang muda team-
worknya jadi nggak
maksimal karena
konsepnya nggak
mateng.”
“Everybody think fotografer is a cool job,
mereka nggak mikir bahwa fotografer
harus punya visi, konsep dan juga ke-
mampuan teknis. Maka dari itu saya be-
rani bilang I’m not a photographer, I was
a photographer before. I’m just a person
who is hanging around on photography.
I’m not makin money from photography,
I’m spent money on photography.”
46
EDISI XII / 2008
FASHIONUNDERWATERPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 47
FASHIONUNDERWATERPHOTOGRAPHY
48
EDISI XII / 2008
FASHIONUNDERWATERPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 49
FASHIONUNDERWATERPHOTOGRAPHY
ngukur lighting, menempatkan lighting sampai membereskannya kembali.”
Ungkapnya. “Everybody think fotografer is a cool job, mereka nggak mikir bahwa
fotografer harus punya visi, konsep dan juga kemampuan teknis. Maka dari itu
saya berani bilang I’m not a photographer, I was a photographer before. I’m just
a person who is hanging around on photography. I’m not makin money from pho-
tography, I’m spent money on photography.” Sambungnya.
Wiwin melihat adanya degradasi kualitas dan kuantitas fotografer muda. Wiwin
melihat untuk menajdi fotografer tidak cukup sekedar memiliki kamera dan kartu
nama tapi juga harus mengerti segala hal tentang fotograf termasuk servicenya,
harus tau bagaimana melayani dan mendekati klien.
Untuk itu Wiwin berpesan kepada fotografer muda untuk mau intropeksi. “Mea-
sure yourself. Bukan cuma kartu nama dan equipment. Tahu diri deh. Boleh coba
tapi ukur kemampuan kita. Jangan hantam kromo.”Tegasnya. Bagi Wiwin di
Indonesia fotografer masih jadi profesi kelas dua. “Contohnya fotografer wedding.
Kalau saya ditanya motret apa yang paling susah, saya akan jawab motret wed-
ding. Hebatnya lagi sudah susah tapi
nggak begitu dihargai. Ini akibat pe-
main baru yang kurang mengedukasi
dan menjaga kualitas termasuk service.
Penampilannya nggak pas. Motret kaw-
inan di mana banyak orang pakai jas,
kok malah pakai kaos.” Sambungnya.
Wiwin salut dan sangat menghor-
mati fotografer wedding senior karena
kejeliannya pada pekerjaannya. “Lihat
fotografer wedding yang sudah senior
kalau motret orang di pelaminan,
orang berapapun banyaknya dijejerin
dia selalu tau siapa yang ngedip. Pada-
hal waktu itu belum ada kamera digital.
Makanya kalau habis ngejepret mereka
tiba-tiba bisa bilang, pak yang dipo-
jok jangan ngedip ya. Padahal segitu
cepatnya jepretannya.”Tutupnya.
“Measure your-
self. Bukan
cuma kartu
nama dan
equipment.
Tahu diri deh.
Boleh coba tapi
ukur kemam-
puan kita. Jan-
gan hantam
kromo.”
“Lihat fotografer
wedding yang
sudah senior
kalau motret
orang di pe-
laminan, orang
berapapun
banyaknya
dijejerin dia
selalu tau siapa
yang ngedip.
Padahal waktu
itu belum ada
kamera digital.
50
EDISI XII / 2008
THEEVENT
EDISI XII / 2008 51
THEEVENT
52
EDISI XII / 2008
LIPUTANUTAMA
EDISI XII / 2008 53
LIPUTANUTAMA
BEING A
PAPARAZZI
Pada tahun 1997, dunia berduka atas tewasnya Putri Diana. Namun saat itu pula
dunia secara keseluruhan mulai mengenal istilah paparazzi walaupun paparazzi
sudah ada sejak puluhan tahun sebelumnya, namun tewasnya Putri Diana ketika
sedang melarikan diri dari kejaran paparazzi ikut mempopulerkan istilah paparaz-
zi.
Ada begitu banyak paham yang mencoba mendifnisikan paparazzi dengan
versinya masing-masing. Tapi secara garis besar paparazzi bisa dibilang sebagai
profesi fotografer yang tanpa kenal lelah berburu kesempatan untuk bisa me-
motret selebriti, public fgure dan keluarganya secara candid.
Istilah paparazzi sendiri muncul pada tahun 1960 pada flm “La Dolce Vita” arahan
sutradara Federico Fellini, walaupun puluhan atau bahkan ratusan tahun sebe-
lumnya diyakini profesi paparazzi sudah ada dalam nama lain. Dalam flm itu
Fellini membuat sebuah tokoh seorang fotografer berita yang bernama paparaz-
zo. Dalam buku Words & Phrase origin, Robert Hendrickson mengatakan bahwa
Fellini mengambil kata paparazzo dari teman kuliahnya yang berbicara dan
bergerak dengan cepat, ia diberi nama panggilan “paparazzo” atau dalam bahasa
Italia juga berarti nyamuk.
Paparazzi pada awalnya adalah fotografer jalanan yang mencoba mengejar berita.
Namun karena kebutuhan akan dunia infotainment yang begitu besar, paparazzi
mencoba memanfaatkannya dengan memotret candid public fgure atau keluar-
ganya. Saat itulah pekerjaan yang dimulai dengan begitu sederhananya berubah
menjadi pekerjaan yang penuh resiko.
RV, seorang pengamat fotograf dari
Amerika Serikat mengatakan bahwa
pada tahap awal paparazzi memulai
pekerjaan mereka dengan menunggu
di jalan-jalan utama serta publik area
dengan berharap ada public fgure
yang lewat untuk diabadikan. Namun
kebanyakan dari mereka memiliki
network yang kuat yang bisa memberi
mereka informasi mengenai rencana
public fgure akan pergi ke suatu tem-
pat. Sumber informasi ini bisa mulai
dari pekerja di restoran, hotel, salon
hingga orang dalam yang merupakan
pegawai sang public fgure itu sendiri.
Paparazzi biasanya berbagi informasi
dengan mereka.
Biaya yang dikeluarkan oleh seorang
paparazzi cukup besar, mulai dari
bayaran atas informasi yang dida-
pat, hingga sampai peralatan yang
perlu mereka sewa. Tidak sedikit dari
paparazzi tersebut yang berani men-
geluarkan uang untuk menyewa boat
hingga helicopter.
Teknik dan siasat yang mereka guna-
kan pun tidak jarang berbahaya dan
melanggar hukum. Misalnya ketika
public fgure yang sedang mereka incar
sedang berada di sebuah gedung, cara
mereka membuat public fgure itu
keluar dari gedung itu adalah dengan
membunyikan alarm kebakaran atau
memberikan ancaman bom melalui
telepon sehingga seluruh isi gedung
dievakuasi.
Menurut RV, bahkan pernah seorang
paparazzi yang sedang mengincar
Catherine Zeta-Jones sengaja mena-
brakkan diri ke mobil Zeta-Jones untuk
membuatnya berhenti dan keluar dari
mobil dan memotretnya.
RV berpendapat bahwa menjadi pa-
parazzi terkadang lebih banyak menge-
luarkan uang daripada menghasilkan
uang. Walaupun ketika menghasilkan
uang, ia bisa menutupi biaya hidup
54
EDISI XII / 2008
LIPUTANUTAMA
EDISI XII / 2008 55
LIPUTANUTAMA
dan ongkos kerjanya selama berbulan-
bulan atau bahkan bertahun-tahun.
RV mengungkapkan bahwa di Negara-
negara barat, paparazzi sudah men-
jadi mata pencaharian tetap untuk
sebagian orang. Bahkan mereka yang
sudah menghasilkan banyak dari sana
sudah mempunyai tim mulai dari agen
untuk menjual fotonya, pengacara
untuk melindunginya dari tuntutan
hukum, supir pribadi hingga fotografer
tambahan untuk membantunya.
Mengenai peralatan, paparazzi memi-
liki alat dan akal yang lengkap. Ketika
memotret public fgure yang sedang
berada di private area, paparazzi
biasanya mencari tempat yang strat-
egis yang bisa melihat ke private area
incarannya itu, dan dengan meng-
gunakan lensa super tele ia membidik
sasarannya itu. Namun pada beberapa
acara resmi, tidak jarang mereka hanya
membawa handphone berkamera kar-
ena seringkali kamera tidak diijinkan
masuk.
Bagaimana dengan di Indonesia?
Apakah menurut anda ada paparazzi di
Indonesia?
Jawabannya adalah ada. Beberapa
waktu yang lalu ketika kami berkun-
jung ke bali untuk bertemu 2 orang
fotografer yang berdomisili di Bali yang
ada di rubrik ini kami sempat bertemu
dengan seorang paparazzi local, sebut
saja DE.
DE menganggap profesi paparazzi
mulai tumbuh ketika konsumen dan
media mulai sadar bahwa gossip men-
jadi lebih berarti ketika ada visualnya.
“Semua media dan infotainment bisa
menyebarkan gossip apapun, tapi
tanpa visual, nilai jualnya tidak tinggi.”
Jelas DE. Namun begitu foto paparazzi
bisa menjadi sangat berarti dan mahal
namun juga bisa menjadi tidak berarti.
Hal ini terkait mengenai siapa yang
difoto, sedang ada skandal atau tidak
public fgure yang difoto. Dan yang
paling penting eksklusif atau tidaknya
hal itu.
Beberapa orang selebriti luar negeri
menghindari paparazzi dengan justru
mengumbar foto mereka dan keluar-
ganya. Salah satu momen yang paling
dicari paparazzi adalah ketika seorang
selebriti melahirkan. Foto anaknya itu-
lah yang menjadi mahal. Tapi beberapa
orang selebriti justru mengumumkan
bahwa mereka akan mempublish foto
tersebut kepada media secara gratis
sesegera mungkin. Dan hal itulah yang
membuat foto paparazzi menjadi tidak
Pernah seorang
paparazzi yang se-
dang mengincar
Catherine Zeta-
Jones sengaja me-
nabrakkan diri ke
mobil Zeta-Jones
untuk membuat-
nya berhenti dan
keluar dari mobil
dan memotretnya.
“Semua media
dan infotain-
ment bisa me-
nyebarkan gos-
sip apapun, tapi
tanpa visual,
nilai jualnya
tidak tinggi.”
56
EDISI XII / 2008
LIPUTANUTAMA
EDISI XII / 2008 57
LIPUTANUTAMA
bernilai, karena tidak ada eksklusiftas.
DE melihat peluang menjadi paparazzi di Indonesia masih terbuka lebar. “Coba
bayangkan, media-media barat berani mengirimkan fotografernya untuk pergi ke
Indonesia untuk mengejar selebriti mereka yang sedang berlibur ke Bali. Padahal
di Indonesia dan di Bali sendiri banyak fotografer yang juga mampu melakukan
pekerjaan itu.” Ungkapnya. Artinya kalau saja fotografer Indonesia melihat pelu-
ang ini, maka media-media luar tidak perlu keluar uang banyak untuk mengirim
fotografernya ke sini. “Namun memang, sayangnya fotografer Indonesia masih
belum tau mau jual kemana fotonya jika mereka menjadi paparazzi.”Tambahnya.
DE menjelaskan betapa anehnya media
Indonesia. “Lihatlah infotainment kita,
berita yang sama pasti anglenya juga
sama. Gaya liputannya juga sama.
Mereka kalau dapat berita, langsung
ngabarin rekan infotainment lain. Akh-
irnya nggak ada eksklusiftas, makanya
harganya murah.”Tegasnya. “Bahkan
foto-foto skandal artis yang beredar
di internet sekalipun seharusnya bisa
menghasilkan uang banyak ketika
dijual ke media.” Sambungnya.
Ditanya mengenai batasan hukum
terhadap perkara ini, DE melihat bahwa
hukum di dunia mengenai hal ini masih
abu-abu, apalagi di Indonesia. Yang
menjadi batasan pasti adalah, semua
foto yang dibuat di ruang publik tidak
melanggar hukum walaupun tidak
seijin obyek yang difoto, kecuali jika
digunakan untuk promosi. “Maka dari
itu kalau ada bintang sinetron yang
tertangkap kamera sedang bermesraan
di pantai dengan orang lain, seharus-
nya nggak usah takut untuk dijual ke
media, karena ia melakukan di tempat
umum. Dan apapun yang terjadi di
tempat umum adalah milik umum.
Artinya selebriti yang dipotret tidak
bisa menuntut.” Ungkapnya.
Namun DE mengakui walaupun secara
matematis memberikan kesempatan
kepada fotografer local lebih murah
bagi media luar ketimbang men-
girimkan fotografernya ke sini untuk
mengikuti selebriti tertentu, namun
hal yang paling sulit didapatkan adalah
mendapat kepercayaan dari media
luar. “Apakah kita bisa? Itu yang ada di
benak mereka. Tapi kalau kita sudah
bisa membuktikan bahwa kita bisa,
maka selanjutnya lebih enak.” Jelasnya.
DE menyadari, media-media ikut men-
dukung paparazzi untuk seolah-olah
menciptakan cerita yang controversial
dari selebriti, misalnya Kate Moss.
Walaupun Kate Moss tampil sangat
cantik di iklan dan TV, namun paparazzi
selalu menampilkan sisi gelap Kate
Moss, mulai dari anorexia, jelek tanpa
make up dan lain sebagainya. Karena di
situlah nilai jualnya.
“Paparazzi In-
donesia paling
apes resikonya
dimarahin, di-
omelin dan
ditonjok oleh
bodyguard sang
public fgure.”
58
EDISI XII / 2008
LIPUTANUTAMA
EDISI XII / 2008 59
LIPUTANUTAMA
Berbicara mengenai resiko, DE ber-
pendapat bahwa resiko kehilangan
uang dan nyawa seperti yangs erring
terjadi di luar negeri belum terjadi di
Indonesia. “Paparazzi Indonesia paling
apes resikonya dimarahin, diomelin
dan ditonjok oleh bodyguard sang
public fgure.” Ungkap DE. Namun be-
gitu jika ada kekerasan fsik, seharusnya
paparazzi bisa menuntut balik. Dan hal
inilah yang dilakukan oleh seorang pa-
parazzi Amerika Serikat untuk mendap-
atkan uang. RV bercerita bahwa pernah
ada kasus di mana paparazzi beru-
saha memancing emosi sang selebriti
dengan mengikutinya terus-menerus.
Ketika kesabarannya sudah habis,
sang selebriti malah menonjok sang
paparazzi sampai babak belur. Hasil-
nya, paparazzi tersbeut menuntut dan
memenangkan uang dengan jumlah
yang sangat besar.
DE mengaku, selama menjadi pa-
parazzi di Indonesia hal yang paling
tidak menyenangkan yang ia terima
dari bodyguard selebriti adalah ketika
dipeluk dari belakang. “waktu itu saya
sedang memotret Kate Moss yang
sedang datang ke Bali. Ketika saya
mengejar-ngejar, sang bodyguardnya
yang besar itu langsung memeluk saya
dari belakang sampai saya tidak bisa
bergerak.” Ungkapnya. “Bodyguard
barat lebih pintar, kalau dia memukul
maka habislah ia di pengadilan. Tapi
kalau sekedar memeluk dia masih
aman.” Sambungnya.
Mengenai bayaran yang diterima
paparazzi, DE mengaku bisa bervariasi
berdasarkan beberapa hal yang di-
jelaskan di atas. Namun foto Brad Pitt
bisa dihargai sampai 250.000 USD, di
mana 50%-70%nya bisa dikantongi
fotografer, sementara sisanya dibagi-
bagi dengan tim yang membantu.
Tidak sedikit pula yang bisa mencapai
500.000 USD.
Bagaimana menurut anda, apakah
resikonya sebanding dengan bayaran-
nya? Tertarik?
60
EDISI XII / 2008
THEEVENT
EDISI XII / 2008 61
THEEVENT
PROFESSIONAL PHOTOGRAPHY EQUIPMENT CENTER & STUDIO RENT - A - SYSTEM
62
EDISI XII / 2008
SURFINGPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 63
SURFINGPHOTOGRAPHY
PIPING,
KESEDERHA-
NAAN
SURFER SEJATI
Mungkin banyak orang yang berimajinasi penampilan dan tampang fotografer-
fotografer yang pernah masuk ke dalam majalah ini karena kami sangat jarang
menampilkan fotonya. Sebagaian besar menebak dan menggambarkan fo-
tografer yang pernah tampil di majalah ini pastilah fotografer yang berpenampi-
lan modis, tidak kelewat mencolok cara berpakaiannya namun enak dilihat dan
seakan-akan mampu memancarkan aura dan wibawa yang luar biasa.
Sebagian dari seluruh nara sumber yang kami hadirkan di sini memang ber-
penampilan seperti itu, namun tidak semua. Beberapa bulan yang lalu ketika
kami berkesempatan melancong ke Bali kami berkesempatan untuk bertemu
dan berbincang-bincang dengan seorang fotografer yang cukup dikenal di sana
karena kecintaannya terhadap obyek fotonya. Lelaki itu bernama Piping, seorang
fotografer surfng yang begitu mencintai surfng.
Yang cukup mengejutkan bagi kami dan mungkin membuat gambaran anda ter-
hadap fotografer professional menjadi salah adalah penampilannya yang sangat
bersahaja. Namun harus kami akui justru hal itulah yang pertama kali membuat
kami berjaga-jaga. Bertemu dengan Piping di kantornya yang saat itu hanya me-
makai celana pendek dan bertelanjang dada, membuat kami justru berpikir, “wah
orang ini pasti sakti banget sampai tidak butuh penampilan necis bak seorang
fotografer terkenal dalam menghadapi orang-orang media seperti kami.”
64
EDISI XII / 2008
SURFINGPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 65
SURFINGPHOTOGRAPHY
66
EDISI XII / 2008
SURFINGPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 67
SURFINGPHOTOGRAPHY
68
EDISI XII / 2008
SURFINGPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 69
SURFINGPHOTOGRAPHY
“Jalan hidup saya sampai akhirnya jadi
fotografer cukup panjang. Mulai dari
berhenti kuliah, jadi supir taksi, jadi
anak pantai, hampir mati di pantai
sampai akhirnya kenal orang jerman
yang minta bantuan dicarikan tanah
dan ditawari pilihan dibayar dengan
uang atau dengan kamera.” Ungkap
lelaki yang memiliki majalah surfng ini.
“Titik balik saya adalah ketika saya
merasa hidup saya kosong, lalu saya
hampir mati ketarik ombak di pantai
Kuta. Beberapa saat kemudian saya
melihat anak kecil dengan santai dan
enaknya main di titik tempat saya ham-
pir mati keseret ombak. Saya langsung
berpikir, ada yang salah dengan saya.
Saya pun meminjam papan surfng
dan bertekad untuk bisa, dan saya pun
bisa.” Sambungnya.
Mulai saat itu perlahan-lahan Piping
makin jatuh cinta dengan dunia surf-
ing. Kecintaan itu pula yang mem-
buatnya mencoba menjadi fotografer
surfng. “awalnya saya hanya senang
bermain surfng dan melihat orang
bermain surfng. Karena waktu itu saya
punya kamera hasil pemberian turis,
akhirnya saya coba jeprat-jepret orang
yang sedang main surfng. Dari situ
saya mulai coba-coba jual, mirip seperti
fotograer wisuda. Jepret dulu setelah
“Jalan hidup saya
sampai akhirnya
jadi fotografer
cukup panjang.
Mulai dari ber-
henti kuliah, jadi
supir taksi, jadi
anak pantai, ham-
pir mati di pantai
sampai akhirnya
kenal orang jer-
man yang minta
bantuan dicari-
kan tanah dan
ditawari pilihan
dibayar dengan
uang atau den-
gan kamera.”
70
EDISI XII / 2008
SURFINGPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 71
SURFINGPHOTOGRAPHY
72
EDISI XII / 2008
SURFINGPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 73
SURFINGPHOTOGRAPHY
itu baru tawarin ke orang yang kita
potret. Per framenya bisa laku 100 ribu
sampai 150 ribu.” Jelasnya.
Piping mempelajari fotograf sejak
menggunakan media flm. Ia belajar
hanya dari mencoba dan bertanya-
tanya. “Saya bukan anak sekolahan.
Saya coba sendiri, kalau kebetulan ada
turis yang juga fotografer ya sekalian
saya Tanya-tanya.” Kenangnya. “awalnya
saya belajar pakai fsh eye, itupun saya
cuma berani pakai setting “auto”. Tapi
pelan-pelan saya coba-coba set manual
sampai akhirnya bisa.” Sambungnya.
Jika banyak orang menjadi fotografer
pada bidang tertentu karena lebih dulu
jatuh cinta pada fotograf sebelum
pada bidang spesialisasinya tersebut,
Piping justru lebih dulu jatuh cinta
pada surfng sebelum jatuh cinta pada
fotograf. “Surfng bisa membuat emosi
jadi terkontrol. Karena flosof surfng
adalah menghargai alam, menghargai
orang lain dan karena itu ego pribadi
bisa lebih diredam. Coba saja main
surfng kalau nggak bisa menghar-
gai orang lain, pasti nggak akan bisa.
Karena di pantai kita ketemu dengan
banyak orang yang juga main surfng.”
Jelasnya. “Bahkan waktu mau nikah
pun saya kasih syarat ke istri saya untuk
nggak boleh ngelarang saya surfng
“Saya selalu ingin
berbagi dengan
teman-teman teru-
tama mereka yang
ada keinginan untu
maju walaupun be-
lum tentu berbakat
di surfng atau fo-
tograf. Mungkin
ada orang yang
pintar di fotograf
tapi ada orang
yang justru pin-
tar di bidang lain.
Maka dari itu, ya-
kinlah bahwa kamu
bisa pintar dalam
suatu bidang.
74
EDISI XII / 2008
SURFINGPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 75
SURFINGPHOTOGRAPHY
76
EDISI XII / 2008
SURFINGPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 77
SURFINGPHOTOGRAPHY
sampai kapanpun. Karena saya jatuh
cinta dengan surfng dan saya bahagia
di situ. Kebahagiaan itu yang mem-
balance otak dan hati sehingga bisa
berbagi ke teman-teman dan alam.”
Ungkapnya.
Saat ini Piping sudah tidak banyak
melakukan pemotretan surfng
karena ia sudah banyak menelorkan
fotografer-fotografer surfng muda.
“Siapapun yang mau belajar motret
surfng saya ajarkan. Mulai dari anak-
anak pantai supaya mereka punya
penghasilan lebih, sampai tukang
kebun saya pun saya ajarkan dan seka-
rang sudah bagus fotonya.” Kenangnya.
“Saya selalu ingin berbagi dengan
teman-teman terutama mereka yang
ada keinginan untu maju walaupun
belum tentu berbakat di surfng atau
fotograf. Mungkin ada orang yang
pintar di fotograf tapi ada orang yang
justru pintar di bidang lain. Maka dari
itu, yakinlah bahwa kamu bisa pintar
dalam suatu bidang. Kadang ada yang
ngeluh nggak bisa sebelum mereka
mencoba. Saya bilang bahwa bayi pada
awalnya juga nggak bisa jalan. Tapi
kalau nggak mau belajar jalan ya nggak
akan bisa jalan juga.” Sambungnya.
Piping termasuk orang yang sangat
dermawan dalam berbagi penge-
tahuan bahkan ketika ilmu yang ia
“Saya bilang
bahwa bayi
pada awalnya
juga nggak bisa
jalan. Tapi ka-
lau nggak mau
belajar jalan ya
nggak akan bisa
jalan juga.”
“Buat saya
sebuah kecela-
kaan harus saya
syukuri. Pend-
eritaan itulah
yang membuat
hidup jadi lebih
nikmat.”
78
EDISI XII / 2008
SURFINGPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 79
SURFINGPHOTOGRAPHY
80
EDISI XII / 2008
SURFINGPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 81
SURFINGPHOTOGRAPHY
82
EDISI XII / 2008
SURFINGPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 83
SURFINGPHOTOGRAPHY
tularkan pada akhirnya juga membuat-
nya untuk mengalah dan memberikan
jalan kepada “murid-murid”nya untuk
merasakan rejeki dari fotograf surfng.
“Saya hanya berpikir, kalaupun saya
mati besok, setidaknya saya pernah
berguna. Untuk itu saya tidak pernah
takut untuk berbagi, bukan hanya
pengetahuan fotograf surfng, tapi
bahkan berbagi penghasilan dari me-
motret fotograf surfng ketika mereka
juga memotret.” Ungkapnya.
Kecintaan Piping kepada fotograf
surfng rupanya belum mendapat restu
sepenuhnya dari orang tuanya. “Sam-
pai sekarang, ibu saya masih setengah
hati melihat saya hidup di dunia surf-
ing. Tapi saya bertekad akan membuk-
tikan bahwa saya bisa hidup di surfng.
Walaupun keberadaan saya di surfng
bisa dikatakan sebagai suatu “kecela-
kaan”.” Ungkapnya. “Buat saya sebuah
kecelakaan harus saya syukuri. Penderi-
taan itulah yang membuat hidup jadi
lebih nikmat.” Sambungnya.
Berbicara mengenai fotograf surfng
Piping mengungkapkan bahwa kalau
mau hebat di fotograf surfng dianjur-
kan untuk bisa surfng. “Banyak yang
motret surfng karena uangnya. Saya
sebelum jadi uang sudah motret surf-
“Saya hanya ber-
pikir, kalaupun
saya mati besok,
setidaknya saya
pernah berguna.
Untuk itu saya tidak
pernah takut un-
tuk berbagi, bukan
hanya pengeta-
huan fotograf surf-
ing, tapi bahkan
berbagi penghasi-
lan dari memotret
fotograf surfng
ketika mereka juga
memotret.”
84
EDISI XII / 2008
SURFINGPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 85
SURFINGPHOTOGRAPHY
86
EDISI XII / 2008
SURFINGPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 87
SURFINGPHOTOGRAPHY
88
EDISI XII / 2008
SURFINGPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 89
SURFINGPHOTOGRAPHY
ing. Yang saya lihat bukan fnansialnya
tapi rohnya yang saya rasakan. Dari situ
bisa maksimal motretnya karena tidak
ada perhitungan fnansial.” Jelasnya.
“Kalau yang dibidik uangnya, ban-
yak yang salah bidik. Tapi kalau yang
dibidik surfngnya, biasanya justru
uangnya yang datang mengejar kita.”
Tambahnya.
Untuk itu Piping menyarankan se-
mua orang yang ingin memperdalam
fotograf surfng untuk cinta dan bisa
surfng. “Anggaplah memotret sebagai
bermain. Bagi saya hidup itu bukan
untuk bekerja, tapi untuk dinikmati.
Maka dari itu jangan anggak kerja se-
bagai kerja, tapi anggak sebagai main,
sebagai bersenang-senang. Kalau kita
sudah senang melakukannya, mau
bagaimanapun pasti bagus hasilnya.”
Jelasnya,
Piping berpendapat memotret surfng
bisa dimulai bahkan dengan kamera
pocket waterproof. “Yang perlu diincar
dalam motret surfng adalah timing
agar dapat actionnya. Saya biasanya
menunggu di titik tertentu di mana
ombak lewat. Nah titiknya di mana
baru bisa anda ketahui ketika anda bisa
surfng. Terkadang ada factor luck kar-
ena kadang ombak dan angin berubah
“Anggaplah memotret sebagai
bermain. Bagi saya hidup itu
bukan untuk bekerja, tapi untuk
dinikmati.
Maka dari itu jangan anggak kerja
sebagai kerja, tapi anggak
sebagai main, sebagai
bersenang-senang.
Kalau kita sudah senang melaku-
kannya, mau bagaimanapun
pasti bagus hasilnya.”
90
EDISI XII / 2008
SURFINGPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 91
SURFINGPHOTOGRAPHY
mendadak.” Jelasnya. “Untuk belajar di rumah, cobalah tonton flm surfng dan
pegang remote lalu belajar menangkap action & timing dengan memencet pause
pada saat yang tepat. Kalau gambar yang di-pause bagus artinya sudah berhasil.”
Lanjutnya.
Berbicara mengenai peluang bisnis fotograf surfng Piping berpendapat bahwa
fotograf surfng cukup mengasilkan dan bisa menghidupi. “Seorang fotografer
surfng yang menjual foto per frame 100 ribu sampai 150 ribu rupiah bisa menda-
pat 16 juta rupiah totalnya dalam sebulan. Dan lebih enaknya lagi ketika peker-
jaan itu sangat menyenangkan.” Jelasnya. Piping juga beranggapan peluang men-
92
EDISI XII / 2008
SURFINGPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 93
LIPUTANUTAMA
jadi fotograf surfng di Indonesia tidak
hanya terbuka di Bali. “Di Hawai orang
hanya bisa surfng selama 4 bulan
dalam setahunnya. Itupun hanya bisa
dilakukan di pantai yang panjangnya
hanya 16 kilometer. Sementara di Indo-
nesia dari Aceh sampai Rote semuanya
spot surfng yang bagus. Dan enaknya
lagi bisa dilakukan sepanjang tahun.
Kualitas ombaknya pun beragam, dari
beginner sampai pro ada di Indonesia.”
Sambungnya.
Untuk itu Piping menganggap sia-
papun di manapun di Indonesia bisa
menjadi fotorgafer surfng. “Tapi jadi
orang jangan kemaruk. Jangan mau
menguasai semuanya. Harus diingat,
kalau sudah saatnya datang, ya akan
datang juga kok rejekinya.”Tegasnya.
Saat ini Piping masih menemukan
banyak spot surfng di Indonesia yang
justru didominasi oleh fotografer-
fotografer asing.
Di akhir pembicaraan kami, Piping pun
berbagi pesan untuk mereka yang in-
gin mendalami fotograf surfng. “Buat
yang mau belajar, harus focus dan
commit. Karena di pantai banyak sekali
godaannya mulai dari lihat cewek
berbikini, drugs, sex bebas. Kita bisa
tergelincir setiap saat karena jebakan-
nya ada di mana-mana. Untuk itu harus
focus pada tujuan dan commit dengan
tujuan itu. Walaupun ini berlaku juga di
luar surfng.”Tutupnya.
“Tapi jadi orang
jangan kemar-
uk. Jangan mau
menguasai se-
muanya. Harus
diingat, kalau
sudah saatnya
datang, ya akan
datang juga kok
rejekinya.”
94
EDISI XII / 2008
PROLIFESTYLE
EDISI XII / 2008 95
PROLIFESTYLE
“FILOSOFI
MAKAN”
SEORANG FOOD
PHOTOGRAPHER
Penampilan perdana rubrik ini kami berkesempatan mengajak makan siang
Iswanto Soerjanto, seorang fotografer professional yang menspesialisasikan
dirinya pada food photography. Sepsialisasinya pada food photography lah yang
membuat kami yakin untuk mengajaknya makan siang bersama untuk sedikit
menggali gaya hidup dan pemikirannya mengenai food photography.
“Mau makan di mana?” tanyanya saat kami hendak berangkat dari studionya di
bilangan kemang. “Terserah pak Is, tempat favoritnya pak Is di mana? Kita datangi
saja.” Jawab kami. Kamipun berangkat menuju sebuah restoran Pawon Solo di
bilangan Kemang. Di perjalanan Iswanto sempat bercerita bahwa ia baru saja
berkeliling ke 3 kota di Jawa Tengah untuk mencicipi 180 menu makanan hanya
dalam waktu 1 minggu. Jumlah yang luar biasa untuk ukuran normal. Namun
Iswanto segera menjelaskan bahwa mereka hanya mencicipi sedikit dari setiap
makanan saja, agar tidak kekenyangan dalam mencicipi menu sebanyak itu.
Kami pun semakin penasaran dan mulai bertanya, “Makanan favorit Pak Is apa
sih?”. Ia pun menjawab bahwa ia termasuk orang yang makan segala macam
makanan. “Makanan favorit saya banyak. Apa saja saya makan. Biasanya kalau
datang ke suatu daerah saya selalu mencari tahu apa makanan favorit daerah
tersebut. Nama restoran atau tempat
makan yang paling banyak disebutkan
orang yang saya tanyai saya datangi
dan saya coba.” Jelasnya. “Tapi sebelum
mencicipi, saya sudah mempersiapkan
mental saya untuk berusaha memaha-
mi selera mereka. Jadi suka atau tidak
suka terhadap makanan tersebut saya
berusaha untuk mengerti bahwa itu
adalah selera setempat.” Sambungnya.
Kami pun tidak cukup puas dengan
jawaban tersebut dan segera melon-
tarkan pertanyaan lanjutan, “kenapa
harus mengerti selera penduduk set-
empat pak?”. Iswanto pun menjawab,
“Pekerjaan saya adalah memotret, dan
sebagian besarnya makanan. Saya
tidak bisa memilih hanya makanan
yang saya suka saja yang saya potret,
sementara yang saya tidak suka atau
tidak doyan saya tolak atau saya
potret dengan hasil yang kurang baik.”
Jelasnya. “Sebagai seorang fotografer
food saya harus bisa memunculkan sisi
lezat dari setiap makanan, termasuk
makanan yang saya tidak suka. Nah
bagaimana saya bisa memunculkan
sisi lezatnya kalau saya sendiri tidak
berusaha mencari letak kelezatannya.”
Sambungnya.
Seperti dugaan kami, rubrik ini tidak
akan menjadi sekedar rubrik lifestyle
“Sebagai se-
orang fo-
tografer food
saya harus bisa
memunculkan
sisi lezat dari se-
tiap makanan,
termasuk maka-
nan yang saya
tidak suka. Nah
bagaimana saya
bisa memuncul-
kan sisi lezatnya
kalau saya send-
iri tidak beru-
saha mencari
letak kelezatan-
nya.”
96
EDISI XII / 2008
PROLIFESTYLE
EDISI XII / 2008 97
PROLIFESTYLE
jalan-jalan belaka. Bahkan ketika men-
coba mengerti lifestyle dalam hubun-
gannya dengan makanan dari Iswanto
yang menspesialisasikan diri pada food
photography kami sudah menemukan
apa yang kami sebut dengan “fotograf
sebagai cara hidup” pada Iswanto.
Pada perjalanan menuju restoran itu
pun Iswanto mengungkapkan bahwa
untuk menjadi fotografer makanan
yang baik, kegemaran menyantap ber-
bagai makanan menjadi suatu keharu-
san. “Bagaimana bisa motret makanan
dengan baik kalau nggak tau rasanya
makanan itu? Tugas tersulit fotografer
makanan bukan sekedar membuat foto
tersebut menjadi indah dilihat secara
artistic, namun harus bisa memuncul-
kan sisi enaknya.” Jelasnya.
Akhirnya kami pun sampai pada
restoran yang dituju. Kami pun masuk
ke restoran yang bernuasa jawa
tersebut. Setelah melihat-lihat daftar
menu kami pun memutuskan untuk
memesan nasi gudeg dan risoles solo.
Sementara Iswanto memesan Nasi
Bogana dan Salat Solo. Setelah meng-
habiskan nasi gudeg dan nasi bogana
masing-masing kami berbagi risoles
solo yang mirip sekali dengan sosis
solo dan salat solo yang sangat mirip
dengan bistik. Setelah kedua menu
pencuci mulut itu habis, Iswanto pun
berinisiatif memesan pencuci mulut
tambahan yaitu serabi solo dan teh
poci dengan gula batunya. Sambil
menikmati serabi & teh poci, kami pun
berbincang. Iswanto pun menceritakan
kegemarannya untuk makan berbagai
macam makanan dari berbagai macam
daerah. Namun beberapa menu sep-
erti daging kambing sudah tidak bisa
dengan leluasa dinikmati Iswanto. “saya
hanya makan kambing 3 kali dalam
satu tahun. Dan karena saya hanya
makan 3 kali dalam setahun saya pilih
yang benar-benar enak. “ Ungkapnya.
Pembicaraan pun terus berlanjut dan
kami mendapati begitu luas wawasan
dan pengetahuan Iswanto mengenai
tempat makan enak. Tidak hanya di
Jakarta, tapi di berbagai kota bahkan
di luar pulau Jawa. Akhirnya setelah
menghabiskan 2 poci teh kami pun
memutuskan untuk pulang.
“Bagaimana
bisa motret ma-
kanan dengan
baik kalau ng-
gak tau rasanya
makanan itu?
Tugas tersulit
fotografer ma-
kanan bukan
sekedar mem-
buat foto terse-
but menjadi
indah dilihat se-
cara artistic, na-
mun harus bisa
memunculkan
sisi enaknya.”
98
EDISI XII / 2008
LIPUTANUTAMA
EDISI XII / 2008 99
LIPUTANUTAMA
100
EDISI XII / 2008
THEEXPLORATION
EDISI XII / 2008 101
THEEXPLORATION
Dalam dunia komersial fotograf, asap merupakan salah satu elemen yang bisa
memberi nilai tambah pada visual. Misalnya saja pada pemotretan makanan-
makanan yang biasa disajikan panas. Kehadiran asap menjadi suatu bimbu yang
seolah-olah memberi konfrmasi lezatnya makanan tersebut melalui aroma dan
kehangatannya.
Contoh lain adalah visual asap atau kabut pada pemotretan landscape dan hu-
man interest. Asap atau kabut bisa menimbulkan kesan tertentu yang membuat
foto bisa jauh lebih menarik, walaupun juga bisa jauh lebih jelek.
Berdasar pemikiran di atas, kami mencoba menghadirkan sebuah sesi permainan
fotograf menggunakan asap. Hanya saja bedanya kali ini asap dihadirkan bukan
sebagai bumbu yang menjadi penyedap sebuah foto makanan atau foto land-
scape. Namun asap yang menjadi subyek atau menu utama yang bisa memberi
“rasa” yang berbeda pada visual. Penambahan elemen lainnya sebagai bumbu
amat sangat diperbolehkan.
Sumber asap yang kita pergunakan kali ini berupa anti nyamuk bakar atau rokok.
Perbedaan sumber asap dapat menghasilkan warna dan karakter yang berbeda.
Anda pun disarankan untuk mencoba berbagai macam sumber asap.
Teknik dasar atau kunci lighting untuk menangkap visual asap dengan baik dalam
fotograf adalah backlight atau side light. Ketika diberi sumber cahaya dari samp-
ing atau belakang, asap bisa timbul seperti asap, namun ketika diberi cahaya dari
depan (dari arah kamera) maka asap akan timbul seperti gumpalan putih saja.
FREEZING
SMOKE
102
EDISI XII / 2008
THEEXPLORATION
EDISI XII / 2008 103
THEEXPLORATION
104
EDISI XII / 2008
THEEXPLORATION
EDISI XII / 2008 105
THEEXPLORATION
Sumber cahaya yang digunakan bisa
berupa cahaya matahari ataupun fash
light (direct hard light). Pastikan tidak
ada cahaya yang “bocor”(masuk men-
genai lensa)karena akan menimbulkan
fare maupun kesalah warna.
Selanjutnya kita perlu menciptakan
perbedaan contrast warna yang men-
colok, ini dimaksudkan karena asap
berwarna terang (putih atau abu2).
Untuk itu disarankan kita memilih
background berwarna gelap (kami
memakai kain beludru hitam karena
kain ini menyerap cahaya hampir 95%)
yang diletakan sebisa mungkin “tak
tersentuh” cahaya.
Pengukuran cahaya yang kita lakukan
hampir +3stop dari yang seharusnya,
tergantung dari tingkat keterangan
yang mau kita capai.
Penggunaan diafragma kecil disara-
nkan untuk mendapatkan ruang tajam
yang lebar.
Dalam memotret asap walaupun motif
yang akan kita hasilkan berupa abstrak
maupun grafs, kesulitan utama adalah
framing dan focusing yang tepat.
Keunikan bentuk asap merupakan ses-
uatu yang spontanitas, selalu berubah
dan sangat mudah berubah walaupun
ada sedikit gerakan yang menimbulkan
106
EDISI XII / 2008
THEEXPLORATION
EDISI XII / 2008 107
THEEXPLORATION
108
EDISI XII / 2008
THEEXPLORATION
EDISI XII / 2008 109
THEEXPLORATION
hembusan udara, maka disarankan
bagi pemula untuk membuat foto asap
ini di area yang hampir tidak terkena
hembusan angin.
Setelah sesi pemotretan selesai, explor-
asi berikutnya ada pada pengolahan
gambar digital, ini semua dikarena-
kan fle (raw) sebagian kamera DSLR
memiliki “ketajaman” yang kurang.
Pemakaian levels, contrast maupun
flter unsharp mask hampir merupakan
keharusan.
Permainan berlanjut dengan mencip-
takan motif simetrikal dengan cara
anda masing-masing, bisa dengan
mengcopy dan split layer, atau banyak
cara lainnya. Intinya adalah melakukan
eksplorasi sehingga bentukan yang
dihasilkan bisa lebih menarik lagi.
Pada akhirnya faktor teknikal di atas
merupakan bagian termudah dalam
proses ini, kepekaan kita dalam mer-
ekam bentuk dan moment yang tepat
dalam berkomposisi adalah tantangan
utama. Selamat mencoba.
110
EDISI XII / 2008
THEEXPLORATION
EDISI XII / 2008 111
THEEXPLORATION
112
EDISI XII / 2008
THEEXPLORATION
EDISI XII / 2008 113
THEEXPLORATION
114
EDISI XII / 2008
COMMERCIALPHOTOGRAPHY
EDISI XII / 2008 115
THEINSPIRATION
FOTOGRAFER
MENTAL
KERAMAIAN &
KEBETULAN
Banyak pihak menganggap dunia fotograf Indonesia sedang berada dalam masa
keemasan, masa kejayaan. Namun kami dan sebagai orang lainnya justru melihat
dunia fotograf Indonesia sedang menghadapi tantangan dan masalah besar.
Beberapa “dosa-dosa” fotografer yang kami ungkapkan di edisi terdahulu menjadi
sebagian kecil buktinya. Banyak yang tidak setuju dengan pernyataan ini dan
kami pun menganggapi komentar dan ketidaksetujuan tersebut sebagai sesuatu
yang harus dihormati juga. Begitu juga mereka yang memilih untuk sepemikiran
dengan kami. Untuk mencari jawabannya kami pun berbicara dengan Siddhartha
Sutrisno atau yang biasa dipanggil Aris, seorang pekerja sinematograf yang juga
dosen seni dan flsafat di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Pembicaraan
kami dengan Aris bukanlah pembicaraan yang ringan, melainkan pembicaraan
yang berat seperti banyak pembicaraan ahli atau pengamat flsafat pada umum-
nya dan bisa jadi sangat membosankan dan sulit dimengerti oleh orang yang
tidak terlalu tertarik menyimak. Namun kami merasa sangat tercerahkan akan
pembicaraan tersebut.
Fotograf lahir dari jaman modern, pada tahun 1500an bersamaan dengan flsafat
modern lahir. Filsafat modern lahir dengan berusaha mendobrak dan memu-
tarbalikkan teori flsafat sebelumnya yang menganut seni dengan adi manusia
116
EDISI XII / 2008
THEINSPIRATION
EDISI XII / 2008 117
THEINSPIRATION
sebagai subjectnya. “Dulu seni selalu
dihubungkan dengan sesuatu yang
adi manusia, yang bersifat ketuhanan,
yang ritual. Namun ketika era modern
muncul manusialah yang menjadi
subjectnya.” Ungkapnya. Teori modern
berusaha mendewasakan manusia.
Untuk itu mulai saat itu mesin-mesin
diciptakan karena rasio menjadi dewa.
Jaman modern ditandai dengan pola
pikir bahwa segala sesuatu yang
memudahkan manusia akan dibuat.
Berbagai macam mesin diciptakan ter-
masuk salah satunya kamera. Kamera
diciptakan untuk menghadirkan ke-
mudahan menghasilkan gambar yang
sebelumnya dilakukan melalui lukisan.
“Untuk itu bisa dikatakan fotograf
adalah anak kandung jaman modern.”
Ungkapnya. “Semangat modern sendiri
selalu melihat ke depan, berusaha
mencari kemudahan, berusaha menak-
lukan. Maka dari itu muncul banyak
perang.” Sambungnya.
Sementara fotograf pada awalnya
tidak dimaksudkan sebagai sebuah
seni karena rasio yang dominan, bukan
perasaan. “Ada yang menyebutnya
sebagai keanehan ilmiah.”Tegasnya.
Estetika modern adalah estetika struc-
tural. “ada struktur penambahan. Ini
karena mengabdi pada sesuatu yang
ekonomi, termasuk pada akhirnya
dijadikan bisnis.” Jelasnya. Pada saat
itu aliran naturalis dan realis seolah-
olah ditinggalkan dan mati karena ada
fotograf.
Setelah itu muncullah aliran expresio-
nis. Setelah aliran expresionis muncul
dan tumbuh muncul era post modern
di mana mereka mempertanyakan
ternyata mesin lebih banyak meng-
hancurkan daripada menghidupkan.
Semangat modern yang selalu harus
menaklukan, maju dan berkembang
ternyata membuat banyak kehancuran.
Beranjak lebih jauh lagi, kami pun
menanyakan hubungannya dengan
kondisi fotograf di Indonesia. Aris
berpendapat bahwa fotograf Indo-
nesia masih didominasi oleh ketidak
sengajaan. “Di Indonesia, fotografnya
banyak nemu yang nggak sengaja,
bukan nemu yang berawal dari seman-
gat penemuan.” Ungkapnya. “Karena
terlalu sering kebetulan, akhirnya jadi
kebiasaan kebetulan. Kebetulan bagus
“Di Indonesia,
fotografnya
banyak nemu
yang nggak
sengaja, bukan
nemu yang be-
rawal dari se-
mangat
penemuan.”
“Karena terlalu
sering kebetu-
lan, akhirnya
jadi kebiasaan
kebetulan. Ke-
betulan bagus
fotonya.”
“Orang yang
selalu mengan-
dalkan kebetu-
lan akan senang
menceburkan
diri ke dalam
banjir. Ikut arus
saja dan ber-
harap bertemu
kebetulan lagi.”
“Dan orang yang
selalu ikut arus bi-
asanya semangat-
nya semangat keru-
munan. Beraninya
beramai-ramai. Ka-
lau manusia selalu
ikut kerumunan,
maka ia tidak akan
punya suara sendiri
yang kuat, tidak
punya warna yang
menonjol karena
sifatnya sifat keru-
munan, misalnya
motret beramai-
ramai.”
118
EDISI XII / 2008
THEINSPIRATION
EDISI XII / 2008 119
THEINSPIRATION
fotonya.” Sambungnya sambil tertawa.
Sesuatu yang selalu kebetulan jadi
kurang baik karena akhirnya selalu
mengandalkan kebetulan. “Orang yang
selalu mengandalkan kebetulan akan
senang menceburkan diri ke dalam
banjir. Ikut arus saja dan berharap ber-
temu kebetulan lagi.”Tegasnya. “Dan
orang yang selalu ikut arus biasanya se-
mangatnya semangat kerumunan. Be-
raninya beramai-ramai. Kalau manusia
selalu ikut kerumunan, maka ia tidak
akan punya suara sendiri yang kuat,
tidak punya warna yang menonjol kar-
ena sifatnya sifat kerumunan, misalnya
motret beramai-ramai.” Lanjutnya.
Aris berpendapat, di Indonesia apapun
cabang seninya banyak yang terjebak
kesitu. “Bahasanya: takut sendiri. Mung-
kin karena selalu diajarkan bahwa ma-
nusia adalah mahluk sosial, jadi harus
selalu bersama-sama.” Ungkapnya.
Berbicara mengenai asal mula dan
penyebab mengapa Indonesia bisa
seperi ini Aris berpendapat bahwa hal
ini adalah warisan penjajah kolonial di
mana bangsa kita tidak boleh pintar,
tidak boleh berpendidikan tinggi.
‘Karena sudah terstruktur sekian lama,
akhirnya masih terbawa.” Jelasnya.
“Contohnya, di daerah tertentu ada
pola hidup bahwa siapapun di daerah
itu yang mau memakan mangga harus
memakan mangga yang hijau, yang
masih muda. Kenapa? Karena yang
kuning/merah, yang sudah matang itu
jatahnya penjajah. Dan aturan hidup ini
masih berlaku sampai sekarang, bah-
kan ketika penjajah sudah tidak ada.”
Sambungnya.
Di Indonesia untuk bisa melakukan
sesuatu yang benar, harus ditakut-
takuti terlebih dahulu. “Bahkan mung-
kin mental-mental barat yang kental
dengan mental penemu kalau lama
tinggal di Indonesia akan jadi begitu
juga.” Ungkapnya sambil tersenyum.
Kembali ke kondisi fotograf Indonesia,
Aris memberi bukti bahwa di Indonesia
fotograf selalu berawal dari alat. “Coba
lihat, fotografer-fotografer baik yang
pemula atau yang sudah senior selalu
menanyakan: lo pakai alat apa?” Jelas-
nya. “Kegelisahannya selalu kegelisa-
han mengikuti sesuatu. Dan mentalnya
mengabdi pada merk. Dan ini lah cirri-
ciri kapitalis. Sesuatu yang dianggap
kenyataan padahal kenyataan rekaan.
Orang merasa bisa fotograf padahal
itu menurut dia saja.” Sambungnya.
“orang post modern lalu berkata:
nggak apa-apa, asik-asik aja kok. Ya
memang nggak apa-apa karena ini sifat
post modern.” Sambungnya lagi.
Dunia fotograf Indonesia seperti
miniatur Indonesia, dimana semuanya
mengikuti dari luar negeri. “Amat dis-
ayangkan karena akar seni Indonesia
sangat kuat.”Tegasnya. “Fotograf di sini
masih jadi pengikut karena kita masih
tergantung alat. Mungkin benar alatlah
yang membuat kita bisa menyampai-
kan pesan, tapi apa betul itu hanya
satu-satunya alat.” Lanjutnya.
Aris berpendapat ketika acuan fo-
tograf adalah alat, maka hasilnya
cenderung seragam. “Bahkan penger-
tian fotograf sebagai teknik melukis
dengan cahaya pelan-pelan berganti
menjadi melukis dengan kamera.”
Lanjutnya lagi.
Untuk lepas dari pembodohan struc-
“Kegelisahannya
selalu kegelisahan
mengikuti sesuatu.
Dan mentalnya
mengabdi pada
merk. Dan ini lah
cirri-ciri kapitalis.
Sesuatu yang di-
anggap kenyataan
padahal kenyataan
rekaan. Orang
merasa bisa fo-
tograf padahal itu
menurut dia saja.”
“Fotograf di sini
masih jadi pengikut
karena kita masih
tergantung alat.
Mungkin benar
alatlah yang mem-
buat kita bisa me-
nyampaikan pesan,
tapi apa betul itu
hanya satu-satunya
alat.”
120
EDISI XII / 2008
THEINSPIRATION
EDISI XII / 2008 121
THEINSPIRATION
tural dan mental yang tidak ideal
diperlukan pendidikan yang baik yang
bisa menyelesaikan ini. “Orang-orang
di fotograf sendiri lah yang harus
bergerak. Karena eksistensinya ek-
sistensi semu.” Ungkapnya. “Butuh
orang-orang yang militan yang mau
membuat dunia fotograf yang lebih
baik. Pursuit of perfection.” Lanjutnya.
“Dan karena kesempurnaan itu tidak
ada makanya dikejar terus tanpa henti.
Dan sebenarnya inilah kredo pekerja
seni. Mengejar kesempurnaan yang
tak pernah ada, sehingga tidak pernah
berhenti mengejar dan membuat yang
lebih baik lagi.” Lanjutnya lagi.
Perlunya manusia Indonesia untuk
terus menerus mengajari diri sendiri
untuk dekonstruksi bukan rekonstruksi.
“Konstruksi selalu ada baik jelek, benar
salah, akhirnya tidak berani membuat
sesuatu yang baru. Terjebak di zona
aman.” Ungkapnya. “Memang sesuatu
yang berbeda belum tentu benar. Tapi
kalau tidak dicoba gimana bisa tahu?”
sambungnya.
Menanggapi manusia Indonesia yang
seringkali tidak berani mencoba Aris
justru berpendapat lain “Manusia cend-
erung dikutuk untuk bebas. Hanya saja
banyak tidak beraninya.” Ungkapnya.
Untuk menyelesaikan masalah fo-
tograf di Indonesia Aris melihat perlu-
nya untuk membuat pelaku fotograf
menjadi “melek huruf”. “Saat ini masih
“buta huruf”, bagaimana bisa terjadi
transfer mental ketika belum “melek
huruf”.”Tegasnya.
Menanggapi pihak-pihak yang ingin
“menyelesaikan” masalah yang terjadi
di fotograf Indonesia Aris berpendapat
untuk tidak berusaha menyelesaikan.
“Jangan berusaha menyelesaikan, tapi
berusahalah untuk memulai. Karena
cara penyelesaian tidak perlu dijawab
dengan jawaban fnal. Yang penting
mulailah dulu untuk menyelesaikan.
Nantinya selesai atau tidak itu urusan
belakangan. Yang penting visinya
benar.”Tutupnya.
“Dan karena
kesempurnaan
itu tidak ada
makanya dike-
jar terus tanpa
henti. Dan sebe-
narnya inilah
kredo pekerja
seni. Menge-
jar kesempur-
naan yang tak
pernah ada,
sehingga tidak
pernah berhenti
mengejar dan
membuat yang
lebih baik lagi.”
“Memang
sesuatu yang
berbeda belum
tentu benar.
Tapi kalau tidak
dicoba gimana
bisa tahu?”
“Manusia
cenderung diku-
tuk untuk bebas.
Hanya saja banyak
tidak beraninya.”
“Jangan berusaha
menyelesaikan,
tapi berusahalah
untuk memulai.
Karena cara penye-
lesaian tidak perlu
dijawab dengan
jawaban fnal. Yang
penting mulailah
dulu untuk menye-
lesaikan. Nantinya
selesai atau tidak
itu urusan belakan-
gan. Yang penting
visinya benar.”
122
EDISI XII / 2008
THEEVENT
EDISI XII / 2008 123
THEEVENT
“1313”
APPRECIATE
TO BE
APPRECIATED
Sebagai media informasi yang mengandalkan kekuatan visual dengan gaya
bertutur atraktif dan komunikatif, komik adalah juga merupakan salah satu
daya tarik bagi peminat bidang keilmuan Desain Komunikasi Visual (DKV) yang
mengeksplorasi karya seni, ilustrasi dan bahkan mempengaruhi kajian multi-
media dalam implementasi pembelajaran pada jurusan komunikasi visual, tidak
terkecuali pada jurusan DKV Universitas Bunda Mulia.
Penyelenggaraan acara “1313” dengan tema “Appreciate to be Appreciated”
yang diselenggarakan oleh Fakultas Desain Komunikasi Universitas Bunda Mulia
ini merupakan wujud penghargaan terhadap eksplorasi seni, dalam menggali
potensi, prestasi, dan kreativitas mahasiswa/i UBM dan juga siswa/i UBM, yang
merupakan bagian dari visi Fakultas DKV UBM. Acara ini akan diselenggarakan
pada tanggal 12 -14 Mei 2008, dimana puncak acaranya adalah dengan melaku-
kan pemecahan rekor MURI terhadap Giant Comic bertemakan Global Warming,
yang akan menutupi bagian muka gedung Universitas Bunda Mulia.
Penganugerahan rekor MURi yang akan dihadiri langsung oleh Bapak Jaya Su-
prana, Ketua Umum MURI ini akan akan diselenggarakan pada:
Tanggal : 13 Mei 2008
Waktu : 09.00
Tempat : Lapangan Parkir Kampus Universitas Bunda Mulia
Jl. Lodan Raya No.2 Ancol Jakarta Utara
Selain memecahkan rekor MURI, acara “1313” ini juga akan diisi dengan berbagai
program acara menarik lainnya, seperti pameran karya desain, seminar, lomba,
band, bazaar, street grafty, dan masih banyak lagi.
124
EDISI XII / 2008
COVERSTORY
EDISI XII / 2008 125
COVERSTORY
REFLECTION
OF KIATA
Cover edisi kali ini adalah hasil karya fotografer Gerard Adi dalam sebuah project
dengan “centre of concept” adalah busana rancangan fashion designer kenamaan
Kiata Kwanda.
Proses penciptaan konsep fotografnya adalah berusaha memunculkan konsep
fashion design yang dirancang oleh Kiata. Adi Prawira, art director yang menan-
gani konseptual project ini berpendapat bahwa seluruh rangkaian design busana
yang dibuat oleh Kiata memiliki tampilan yang sederhana walaupun dibuat
dengan proses yang rumit. “Kiata banyak menyampaikan muatan spiritual dalam
designnya.” Ungkap Adi. “Misalnya bahwa manusia harus selalu bercermin dan
melihat ke dalam diri sendiri untuk menemukan apa itu esensi.” Sambungnya. Adi
sendiri berpendapat bahwa Kiata lebih sebagai fashion artist daripada sekedar
fashion designer. Karya-karya Kiata sudah dipasarkan ke berbagai Negara di selu-
ruh dunia, walaupun nama Kiata sendiri kurang populer di Indonesia. Adi memu-
lai dari hal yang ingin ditampilkan dalam foto-foto yang dihasilkan yaitu: refeksi
diri, netralitas yang bersikap, kelembutan yang tegas. Dan untuk mencapai itu Adi
& Gerard yakin bahwa pemotretan kali ini tidak perlu didramatisir, sederhana tapi
“terasa”.
Adi mencoba menggali konsep pemotretan dari gambaran orang-orang yang
mengenakan pakaian ini. “Orang yang pakai semua design Kiata adalah orang-
orang yang wah, tapi saking wah nya mereka cenderung nggak mau menonjol,
nggak mau menonjol. Begitu juga dengan bajunya, bajunya sederhana, tapi tidak
murahan.”Tegas Adi.
126
EDISI XII / 2008
COVERSTORY
EDISI XII / 2008 127
COVERSTORY
128
EDISI XII / 2008
COVERSTORY
EDISI XII / 2008 129
COVERSTORY
Senada dengan Adi, Gerard berpenda-
pat bahwa rancangan Kiata ini time-
less tidak ada batasan, kapan saja bisa
dipakai, selalu up to date, tidak pernah
ketinggalan jaman. Untuk itu fotonya
juga harus bisa memunculkan sesuatu
yang kurang lebih sejalan. “Untuk
menghadirkan kesan itu, segala ses-
uatunya tidak didramatisir berlebihan.
Mulai dari pose yang nggak aneh-aneh
seperti typical foto fashion, ekspresinya
juga cenderung tidak berekspresi tapi
tetap harus berisi. Make up dan skin
tonenya juga dibuat yang tidak terlalu
pasaran dan aneh-aneh.” Jelas Gerard.
“Ibarat lagu, konsep baju dan foto ini
seperti lagu-lagu yang tidak mengek-
sploitasi tekno, walaupun tetap elec-
tronic. Pelan tapi tetap ada hentakan.”
Sambungnya.
Gerard mengakui bahwa rancangan
Kiata ini adalah bukan seri terbaru dari
Kiata, namun Gerard melihat ada satu
kekuatan yang kuat dari rancangan ini
yaitu timeless. “Biarpun bajunya tidak
baru, tapi tidak ketinggalan jaman.
Kalau group band kayak U2, jadi walau-
pun lama tapi tidak terjebak masa
lalu.” Ungkapnya. “Segala sesuatu yang
dilakukan dalam pemotretan ini dibuat
seperlunya. Memang ada angle yang
agak ekstrim tapi itu dibuat karena
memang diperlukan, bukan diada-ada
atau didramatisir.”Tambahnya.
Penggunaan warna dominan hitam di-
akui Gerard sebagai cara untuk menge-
luarkan kesan misterius dan tanpa ba-
tas. “Seolah-olah fotonya seperti dalam
ruangan tapi tidak ada batas yang jelas.
Jadi kayak orang jenius terintimidasi
ruang yang nggak jelas batasannya.”
Ungkapnya. “Hal yang mau dicapai
adalah ketika foto yang disampaikan
persis seperti bajunya, yaitu simple tapi
berkarakter. Semakin dilihat semakin
enak. Kesannya dewasa.” Sambungnya.
Untuk menyempurnakan pemotretan
ini Gerard mendatangkan make up art-
ist yang pernah bekerjasama dengan-
nya dalam sesi pemotretan seri The
Next Big Thing beberapa tahun lalu,
Teddy Liem yang kini sudah menetap
di Jepang. Selain itu Gerard dan tim
juga sepakat memilih Listy sebagai
model. Pemilihan Listy sebagai model
diakui atas rekomendasi Kiata karena
postur Listy sangat cocok dengan
ukuran baju yang dibuat Kiata tersebut.
Sesi pemotretan sendiri berlangsung di
studio Primacolor dengan mengguna-
kan lighting equipment Broncolor dan
Digital Back Phase One.
Gerard menganggap, walaupun secara
visual pemotretan ini cukup sederhana,
namun tingkat kesulitannya sangat
tinggi. “Motret baju kayak gini nggak
boleh salah, karena kalau salah malah
kelihatan jadul.” Ungkapnya. “Bersyu-
kur, kita semua yang bekerja di tim
ini bisa menjiwai konsep pemikiran
Kiata yang dituangkan dalam baju ini.
Bahkan ketika bajunya pertama datang
ke studio dan dilakukan ftting, semua
yang melihat langsung merinding.
Karena bajunya simple but powerful.”
Lanjutnya.
Untuk mengeksekusi konsep tersebut,
Gerard sengaja menggunakan teknik
dramatic lighting. “Lighting set up-
nya nggak asal terang dan rata, tapi
cenderung dramatic, ada permainan
bahwa manusia
harus selalu ber-
cermin dan me-
lihat ke dalam
diri sendiri un-
tuk menemukan
apa itu esensi.”
“Hal yang mau
dicapai adalah
ketika foto yang
disampaikan per-
sis seperti bajunya,
yaitu simple tapi
berkarakter. Se-
makin dilihat se-
makin enak. Kesan-
nya dewasa.”
130
EDISI XII / 2008
COVERSTORY
EDISI XII / 2008 131
COVERSTORY
gelap terang.” Ungkapnya. “Untuk mengeluarkan detail garis-garis pada bajunya, saya menggunakan spot attachment dari
beberapa arah. Bayangan pun saya minimize.” Sambungnya.
Untuk pemotretan kali ini Gerard sengaja tidak berlebihan memberi highlight seperti pada kebiasaannya sebelumnya.
“Highlight hanya saya gunakan seperlunya, misalnya untuk memberi dimensi, shape, dan memisahkan black on black.”
Jelasnya. “Saya bosan dengan foto-foto dengan highlight banyak dan foto yang lightignya bocor berlebihan. Sudah terlalu
banyak yang bikin gitu, makanya saya mau yang lain.” Sambungnya.
Total lighting equipment yang ia gunakan pada pemotretan kali ini berkisar antara 5 sampai 9 lampu. Namun semuanya
dikontrol dengan baik agar tidak bocor kemana-mana dan asal rata.
132
EDISI XII / 2008
COVERSTORY
EDISI XII / 2008 133
COVERSTORY
134
EDISI XII / 2008
COVERSTORY
EDISI XII / 2008 135
COVERSTORY
136
EDISI XII / 2008
COVERSTORY
EDISI XII / 2008 137
COVERSTORY
138
EDISI XII / 2008
COVERSTORY
EDISI XII / 2008 139
COVERSTORY
140
EDISI XII / 2008
COVERSTORY
EDISI XII / 2008 141
COVERSTORY
142
EDISI XII / 2008
COVERSTORY
EDISI XII / 2008 143
COVERSTORY
144
EDISI XII / 2008
WHERETOFIND
EDISI XII / 2008 145
WHERETOFIND
JAKARTA
Telefkom Fotograf
Universitas Prof. Dr. Moestopo (B),
Jalan Hang Lekir I, JakPus
Indonesia Photographer
Organization (IPO)
Studio 35, Rumah Samsara, Jl.
Bunga Mawar, no. 27, Jakarta
Selatan 12410
Unit Seni Fotograf IPEBI (USF-
IPEBI)
Komplek Perkantoran Bank
Indonesia, Menara Sjafrud-
din Prawiranegara lantai 4, Jl.
MH.Thamrin No.2, Jakarta
UKM mahasiswa IBII, Fotograf
Institut Bisnis Indonesia (FOBI)
Kampus STIE-IBII, Jl Yos Sudarso
Kav 87, Sunter, Jakarta Utara
Perhimpunan Penggemar
Fotograf Garuda Indonesia
(PPFGA)
PPFGA, Jl. Medan Merdeka Selatan
No.13, Gedung Garuda Indonesia
Lt.18
Komunitas Fotograf Psikologi
Atma Jaya, JKT
Jl. Jendral Sudirman 51, Ja-
karta.Sekretariat Bersama Fakultas
Psikologi Atma Jaya Ruang G. 100
Studio 51
Unversitas Atma Jaya, Jl. Jendral
Sudirman 51, Jakarta
Perhimpunan Fotograf Taru-
manegara
Kampus I UNTAR Blok M Lt. 7 Ruang
PFT. Jl. Letjen S. Parman I JakBar
Pt. Komatsu Indonesia
Jl. Raya Cakung Cilincing Km. 4
Jakarta Utara 14140
LFCN (Lembaga Fotograf
Candra Naya)
Komplek Green Ville -AW / 58-59,
Jakarta Barat 11510
HSBC Photo Club
Menara Mulia Lt. 22, Jl. Jendral
Gatoto Subroto Kav. 9-11, JakSel
12930
XL Photograph
Jl. Mega Kuningan Kav. E4-7 No. 1
JakSel
Kelompok Pelajar Peminat
Fotograf SMU 28
Jl. Raya Ragunan (Depan RS Pasar
Minggu) JakSel
FreePhot (Freeport Jakarta
Photography Community)
PT Freeport Indonesia Plaza 89, 1st
Floor
Jl. Rasuna Said Kav X-7 No. 6
PSFN Nothofagus (Perhimpu-
nan Seni Fotograf PT Freeport
Indonesia)
PT Freeport Indonesia Plaza 89, 1st
Floor
Jl Rasuna Said Kav X-7 No. 6
CybiLens
PT Cyberindo Aditama, Mang-
gala Wanabakti IV, 6th foor. Jl.
Gatot Subroto, jakarta 10270
FSRD Trisakti
FSRD Trisakti, Kampus A. Jl. Kyai
Tapa, Grogol. Surat menyurat: jl.
Dr. Susilo 2B/ 30, Grogol, Jakbar
SKRAF (Seputar Kamera
Fikom)
Universitas SAHID Jl. Prof. Dr.
Soepomo, SH No. 84, Jak-Sel
12870
One Shoot Photography
FIKOM UPI YAI jl. Diponegoro no.
74, JakPus
Lasalle College
Sahid Ofce Boutique Unit D-E-F
(komp. Hotel Sahid Jaya). Jl.
Jend Sudirman Kav. 86, Jakarta
1220
Jurusan Ilmu Komunikasi
Universitas Al-Azhar Indo-
nesia
Jl. Sisingamangaraja, Kebayoran
baru, Jak-Sel, 12110
LSPR Photography Club
London School of Public Relation
Campus B (Sudirman Park Ofce
Complex)
Jl. KH Mas Mansyur Kav 35
Jakarta Pusat 10220
FOCUS NUSANTARA
Jl. KH Hasyim Ashari No. 18, Jakarta
SUSAN + PRO
Kemang raya No. 15 Lt.3, Jakarta
12730
e-Studio
Wisma Starpage, Salemba Tengah
No. 5, JKT 10440
VOGUE PHOTO STUDIO
Ruko Sentra Bisnis Blok B16-17,
Tanjung Duren raya 1-38
Shoot & Print
jl. Boulevard Raya Blok FV-1 no. 4,
Kelapa Gading Permai, jkt
Q Foto
Jl. Balai Pustaka Timur No. 17,
Rawamangun, Jkt
Digital Studio College
Jl. Cideng Barat No. 21 A, Jak-Pus
Darwis Triadi School of Photog-
raphy
jl. Patimura No. 2, Kebayoran Baru
eK-gadgets centre
Roxy Square Lt. 1 Blok B2 28-29, Jkt
Style Photo
Jl. Gaya Motor Raya No. 8, Gedung
AMDI-B, Sunter JakUt, 14330
Neep’s Art Institute
Jl. Cideng Barat 12BB, Jakarta
V3 Technology
Mall ambassador Lt.UG/47. Jl. Prof
Dr. Satrio, Kuningan, Jakarta
Cetakfoto.net
Kemang raya 49D, Jakarta 12730
POIsongraphy
ConocoPhillips d/a Ratu Prabu 2
jl.TB.Simatupang kav 18
Jakarta 12560
NV Akademie
Jl. Janur Elok VIII Blok QG4 No.15
Kelapa Gading permai
Jakarta 14240
BEKASI
Lubang Mata
Jl. Pondok Cipta Raya B2/ 28, Bekasi
Barat, 17134
BANDUNG
PAF Bandung
Kompleks Banceuy Permai Kav A-17,
Bandung 40111
Jepret
Sekretariat Jepret Lt. Basement
Labtek IXB Arsitektur ITB, Jl Ganesha
10, Bandung
Spektrum (Perkumpulan Unit
Fotograf Unpad)
jl. Raya Jatinangor Km 21 Sumed-
ang, Jabar
Padupadankan Photography
Jl. Lombok No. 9S Bandung
Studio intermodel
Jl. Cihampelas 57 A, Bandung 40116
Lab Teknologi Proses Material ITB
Jl. Ganesha 10 Labtek VI Lt. dasar,
Bandung
Satyabodhi
Kampus Universitas Pasundan
Jl. Setiabudi No 190, Bandung
Himpunan Mahasiswa Planologi
(HMP) ITB
Gedung Labtek XI A, Jl Ganesha 10
Bandung 40132
TASIKMALAYA
Eco Adventure Community
Jl. Margasari No. 34 Rt. 002/ 008,
Rajapolah, Tasikmalaya 46155
SEMARANG
PRISMA (UNDIP)
PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa)
Joglo Jl. Imam Bardjo SH No. 1
Semarang 50243
MATA Semarang Photography
Club
FISIP UNDIP
Jl. Imam Bardjo SH. No.1, Semarang
DIGIMAGE STUDIO
Jl. Setyabui 86A, Semarang
Jl. Pleburan VIII No.2, Semarang 50243
Ady Photo Studio
d/a Kanwil Bank BRI Semarang, Jln.
Teuku Umar 24 Semarang
Pandawa7 digital photo studio
Jl. Wonodri sendang raya No. 1068C,
Semarang
Kloz-ap Photo Studio
Jl. Kalicari Timur No. 22 Semarang
146
EDISI XII / 2008
WHERETOFIND
EDISI XII / 2008 147
WHERETOFIND
DINUSTECH
Jl. Arjuna no. 36, Semarang
50131
SOLO
HSB (Himpunan Seni Ben-
gawan)
Jl. Tejomoyo No. 33 Rt. 03/ 011,
Solo 57156
Lembaga pendidikan seni
dan design visimedia college
Jl. Bhayangkara 72 Solo
YOGYAKARTA
Atmajaya Photography club
Gedung PUSGIWA kampus
3 UAJY, jl. babarsari no. 007
yogyakarta
“UKM MATA” Akademi Seni
Rupa dan Desain MSD
Jalan Taman Siswa 164 Yogya-
karta 55151
Unif Fotograf UGM (UFO)
Gelanggang mahasiswa UGM,
Bulaksumur, Yogya
Fotograf Jurnalistik Club
Kampus 4 FISIP UAJY Jl Babar-
sari Yogyakarta
FOTKOM 401
gedung Ahmad Yani Lt.1
Kampus FISIPOL UPN “Veteran”
Jl Babasari No.1, Tambakbayan,
Yogyakarta, 55281
Jurusan Fotograf
Fakultas Seni Media Rekam
Institut Seni Indonesia
Jl. Parangtritis Km. 6,5 Yogyakarta
Kotak Pos 1210
UKM Fotograf Lens Club
Universitas Sanata Dharma
Mrican Tromol Pos 29 Yogyakarta
55281
SURABAYA
Himpunan Mahasiswa Pengge-
mar Fotograf (HIMMARFI)
Jl. Rungkut Harapan K / 4, Surabaya
AR TU PIC
UNIVERSITAS CIPUTRA Waterpark
Boulevard, Citra Raya. Surabaya
60219
FISIP UNAIR
JL. Airlangga 4-6, Surabaya
Hot Shot Photo Studio
Ploso Baru 127 A, Surabaya, 60133
Toko Digital
Ambengan Plasa B23. jl Ngemplak
No. 30 Surabaya
Sentra Digital
Pusat IT Plasa Marina Lt. 2 Blok A-5.
Jl. Margorejo Indah 97-99 Surabaya
TRAWAS
VANDA Gardenia Hotel & Villa
Jl. Raya Trawas, Jawa Timur
MALANG
MPC (Malang Photo Club)
Jl. Pahlawan Trip No. 25 Malang
JUFOC (Jurnalistik Fotograf
Club)
student Centre Lt. 2 Universitas
Muhammadiyah Malang. Jl. Raya
Tlogomas No. 246 malang, 65144
UKM KOMPENI (Komunitas
Mahasiswa Pecinta Seni)
kampus STIKI (Sekolah Tinggi
Informatika Indonesia) Malang, Jl.
Raya Tidar 100
JEMBER
UFO (United Fotografer Club)
Perum taman kampus A1/16 Jember
68126, Jawa Timur
Univeritas Jember (UKPKM
Tegalboto)
Unit Kegiatan Pers Kampus Maha-
siswa Universitas Jember
jl. Kalimantan 1 no 35 komlek ged.
PKM Universitas Jember 68121
BALI
Magic Wave
Kubu Arcade at Kuta Bungalows
Bloc A3/A5/A6 Jl. Benesari,
Legian-kuta
MEDAN
Medan Photo Club
Jl. Dolok Sanggul Ujung No. 4 Samping
Kolam Paradiso Medan, Sumatra Utara
20213
UKM FOTOGRAFI USU
Jl. Perpustakaan no.2 Kampus USU
Medan 20155
BATAM
Batam Photo Club
Perumahan Muka kuning indah Blok
C-3, Batam 29435
PEKANBARU
CCC (Caltex Camera Club)
PT. Chevron Pasifc Indonesia, SCM-
Planning, Main Ofce 229, Rumbai,
Pekanbaru 28271
LAMPUNG
Malahayati Photography Club
Jl. Pramuka No. 27, Kemiling, Bandar
Lampung, 35153. Lampung-Indonesia.
Telp. (0721) 271114
BALIKPAPAN
FOBIA
Indah Foto Studio Komplek Ruko
Bandar Klandasan Blok A1, Balikpapan
76112
PONTIANAK
Pontianak Deviantart
CP: Bryan Tamara
0818198901
KALTIM
Badak Photographer Club (BPC)
ICS Department, System Support
Section, PT BADAK NGL, Bontang,
Kaltim, 75324
KPC Click Club/PT Kaltim Prima
Coal
Supply Department (M7 Buliding),
PT Kaltim Prima Coal, Sangatta
SAMARINDA
MANGGIS-55 STUDIO (Samarin-
da Photographers Community)
Jl. Manggis No. 55 Voorfo, Sa-
marinda Kaltim
SOROWAKO
Sorowako Photographers
Society
General Facilities & Serv. Dept -
DP. 27, (Town Maintenance) - Jl.
Sumantri Brojonegoro, SOROWAKO
91984 - LUWU TIMUR, SULAWESI
SELATAN
GORONTALO
Masyarakat Fotograf
Gorontalo
Graha Permai Blok B-18, Jl.
Rambutan, Huangobotu,
Dungingi, Kota Gorontalo
AMBON
Performa (Perkumpulan
Fotografer Maluku)
jl. A.M. Sangadji No. 57 Am-
bon. (Depan Kantor Gapensi
kota Ambon/ Vivi Salon)
ONLINE PICK UP
POINTS:
www.estudio.co.id
http://charly.silaban.
net/
www.studiox-one.com

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful