EDISI XIII / 2008

1
E
D
I
S
I

1
3
/
2
0
0
8
www.thelightmagz.com
FREE
2
EDISI XIII / 2008
THEEDITORIAL
EDISI XIII / 2008 3
THEEDITORIAL
PT Imajinasia Indonesia,
Jl. Pelitur No. 33A,
www.thelightmagz.com
Pemimpin Perusahaan/
Redaksi: Ignatius Untung,
Technical Advisor: Gerard Adi,
Redaksi: redaksi@thelightmagz.
com, Public relation: Prana
Pramudya, Kontributor: Novijan
Sanjaya, Thomas Herbrich,
Siddharta Sutrisno, Iklan:
marketing@thelightmagz.com -
0813 1100 5200, Sirkulasi: Maria
Fransisca Pricilia,
sirkulasi@thelightmagz.com,
Graphic Design: ImagineAsia,
Webmaster: Gatot Suryanto
“Hak cipta semua foto dalam
majalah ini milik fotografer yang
bersangkutan, dan dilindungi oleh
Undang-undang. Penggunaan
foto-foto dalam majalah ini sudah
seijin fotografernya. Dilarang
menggunakan foto dalam ma-
jalah ini dalam bentuk / keperluan
apapun tanpa ijin tertulis pemi-
liknya.”
COVER:
FOTOGRAFER: GERARD ADI
MAKE UP BY:
PAC-MARTHA TILAAR
ART DIRECTOR:
PENNY SEKARTAJI
DIGITAL IMAGING BY:
C! Production
MODEL:
DEWI SANDRA & TODY
ANTI
KADALUWARSA
Ketika kita memulai suatu usaha untuk mencapai ambisi dan keinginan kita untuk
menjadi yang terbaik atau setidaknya salah satu dari yang terbaik seringkali kita
mempertaruhkan segala-galanya. Namun sayangnya motivasi ini seringkali me-
luntur ketika kita sudah masuk dalam hitungan terbaik. Mulai dari comfort zone,
cepat puas motivasi yang meluntur dan ratusan alasan lain melatarbelakangi
mereka yang sudah masuk dalam hitungan terbaik untuk berusaha lebih keras
lagi agar tetap bertahan menjadi yang terbaik.
Jika mau jujur kepada diri sendiri, kita memiliki banyak sekali contoh nama-nama
besar di fotograf yang mulai kadaluwarsa. Tanpa bermaksud merendahkan mere-
ka yang kebetulan kami kategorikan dalam kategori kadaluwarsa kami, anda kami
ajak untuk mau dengan rendah hati melihat contoh dari mereka yang “salah jalan”
sehingga dikartu merah oleh sikap mereka sendiri dari dunia fotograf. Tujuannya
agar kita yang masih muda-muda dan masih memiliki ambisi untuk masuk dalam
hitungan terbaik tidak masuk dalam jebakan kadaluwarsa.
Untuk alasan itu pulalah kami hadirkan portet-potret manusia anti kadalu-
warsa, mulai dari Don Hasman yang masih “perkasa” dengan umur yang sudah
mendekati kepala 7, kami hadirkan juga fotografer-fotografer yang sudah ke-
nyang pengalaman dan ambisi untuk menjadi yang terbaik seperti Peter Tjahjadi
dan Edy Purnomo. Dan untuk memacu kita yang baru memulai, kami hadirkan
pula Iqbal Abidin yang baru saja meniti jalan menuju yang terbaik.
Semoga sajian kali ini bisa dilihat sebagai satu proses evaluasi yang memperkaya
dibanding usaha menjatuhkan pihak-pihak tertentu.
The Light
4
EDISI XIII / 2008
COVERSTORY
EDISI XIII / 2008 5
COVERSTORY
6
EDISI XIII / 2008
FASHIONPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 7
FASHIONPHOTOGRAPHY
Dari sekian banyak subject di fotograf, fotograf fashion masih menjadi salah
satu subject yang paling banyak peminatnya. Namun di tengah begitu banyak
fotografer fashion, tidak banyak yang memiliki latar belakang pendidikan formal
fotograf.
Untuk itu pada kesempatan kali ini kami menghadirkan Peter Tjahjadi, seorang
fotografer professional yang banyak melakukan pemotretan fashion dan sempat
mengenyam pendidikan fotograf di Academy of Art University di negeri paman
Sam.
“Saya belajar photography & graphic design, keduanya cukup membantu karena
PETER
TJAHJADI,
KEJUJURAN
MENILAI
BAKAT
PRIBADI
8
EDISI XIII / 2008
FASHIONPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 9
FASHIONPHOTOGRAPHY
fotograf berhubungan dengan kom-
posisi dan layouting. Dan itu semua
dipelajari juga di kelas graphic design.”
Ungkapnya membuka pembicaraan
dengan kami.
Namun jauh sebelum belajar di negeri
Paman Sam, Peter sudah lebih dahulu
hidup di lingkungan fotograf karena
ayahnya adalah seorang commercial
photographer di Makasar.
Belajar di AAU, dianggap Peter sebagai
salah satu cara yang baik untuk mem-
peroleh banyak kesempatan berlatih
sambil dimentori dosen yang berpen-
galaman dan berkualitas. “Di sana dos-
en memberikan guidance untuk kita
untuk mencari tahu di mana kekuatan
kita lalu membantu kita untuk lebih
kuat di bidang itu.” Ungkapnya.
Peter menyukai fashion karena lebih
banyak berinteraksi dengan tim. “Saya
suka mengatur-atur sesuatu, dan
di fashion saya bisa melakukan itu.”
Ujarnya. Peter menganggap dalam
proses pemotretan fashion seharus-
nya fotografer yang banyak berperan,
bukan stylist, walaupun tetap harus
bekerjasama dengan tim termasuk styl-
ist. “Intinya, fotografernya harus tetap
jadi leader.” Sambungnya.
Peter melihat sebagai seorang leader,
fotografer khususnya di bidang fashion
harus bisa berkomunikasi dengan baik
dengan model. “Harus bisa capture
aura dan personality dari si model.
Harus bisa create trust dari si model,
sehingga kolaborasinya jadi baik dan
hasilnya jadi bisa lebih optimal.” Ung-
kapnya,.
Diminta komentarnya mengenai kon-
disi perfotografan Indonesia, khusus-
nya fashion Peter menjawab dengan
diplomatis, “Foto fashion Indonesia
ada progressnya, tapi akan lebih baik
lagi jika lebih banyak menciptakan.”
Ungkapnya. “Setidaknya kalau harus
jadi follower, jadilah follower yang bisa
memberikan aksen.” Sambungnya.
Peter juga mengungkapkan bahwa
kebiasaan untuk menciptakan style
pribadi harus diperjuangkan sedini
mungkin. “Harus dimulai dari muda
untuk create your own style sebelum
kadaluwarsa.”Tegasnya.
Peter mengajak fotografer-fotografer
muda untuk lebih mau merecycle ide
dan style fotograf. “Sekarang seuanya
sudah berada di second generation,
ide baru muncul dari proses recycle
dan modifcation ide terdahulu. Untuk
itu jangan pernah berhenti untuk
merecycle tapi harus juga memberikan
“Setidaknya ka-
lau harus jadi
follower, jadilah
follower yang
bisa memberi-
kan aksen.”
“Harus dimulai
dari muda un-
tuk create your
own style sebe-
lum kadaluwar-
sa.”
“Fotografer
fashion seka-
rang banyak
yang tidak me-
mentingkan
message. Pada-
hal esensi fo-
tograf fashion
bukan sekedar
bagus-bagusan
saja, tapi ada
pesan yang
harus disam-
paikan, ada seri
fashion yang
dijual di sana.
Dan itu harus
tetap dijaga dan
dipenuhi.”
10
EDISI XIII / 2008
FASHIONPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 11
FASHIONPHOTOGRAPHY
12
EDISI XIII / 2008
FASHIONPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 13
FASHIONPHOTOGRAPHY
aksen dan memodifkasi agar menjadi
sesuatu yang baru dan segar. Ungkap
fotografer yang kini banyak memotret
untuk majalah Prestige ini.
Untuk membantu agar foto jadi memi-
liki nilai tambah Peter melihat pent-
ingnya konsep dan juga tugas untuk
menyampaikan pesan. “Fotografer
fashion sekarang banyak yang tidak
mementingkan message. Padahal
esensi fotograf fashion bukan sekedar
bagus-bagusan saja, tapi ada pesan
yang harus disampaikan, ada seri fash-
ion yang dijual di sana. Dan itu harus
tetap dijaga dan dipenuhi.” Ungkapnya.
Selain itu Peter juga menyayangkan
banyaknya fotografer yang tidak
mengerti lighting. “Fotografer harus
knows about lighting. Konsep dan
teknis lightingnya harus berasal dari
fotografer, walaupun eksekusinya bisa
saja diserahkan ke orang lain.”Tegas-
nya.
Untuk peralatan yang digunakan
dalam fotograf, Peter menyarankan
fotorgafer-fotografer muda untuk
memilih peralatan yang tahan lama.
“Yang penting awet dan stabil kuali-
tasnya. Dan yang pasti harus kepakai.
Research dulu, jangan langsung beli.
“Yang penting
digital imaging
harus propor-
sional, dan jan-
gan menghan-
curkan esensi
fotograf.”
“Ketika saya
duduk di café
saya bisa ban-
yak melihat
momen dan itu
memberikan
inspirasi buat
saya.”
14
EDISI XIII / 2008
FASHIONPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 15
FASHIONPHOTOGRAPHY
16
EDISI XIII / 2008
FASHIONPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 17
FASHIONPHOTOGRAPHY
Jadi semua yang dibeli sudah yang
paling optimal serta tidak sia-sia dan
berlebihan.” Ujarnya.
Seperti banyak dijumpai pada foto
fashion, Peter juga memanfaatkan olah
digital pada sebagian fotonya. “Yang
penting digital imaging harus propor-
sional, dan jangan menghancurkan
esensi fotograf.” Jelasnya.
Mengenai referensi dan inspirasi foto
fashionnya, Peter banyak melihat
visual. “Selain melihat foto orang lain,
inspirasi juga datang dari real world.”
Ungkapnya. “Ketika saya duduk di café
saya bisa banyak melihat momen dan
itu memberikan inspirasi buat saya.”
Sambungnya. Sementara Peter juga
mendapat inspirasi dari flm, buku dan
musik. “Kalau flm lebih ke cinemato-
grafnya, kalau novel lebih untuk
trigger visual.” Ungkapnya. “Sementara
music, saya belajar membayangkan
visual dari music yang saya dengar.”
Sambungnya.
Walaupun perkembangan teknologi
digital seakan tidak pernah berhenti
dan selalu menciptakan standar baru,
namun Peter menganggap proses
pembelajaran fotograf sebaiknya tetap
berawal dari kamera flm. “Ada senti-
“Ada senti-
mental value
ketika saya
motret pakai
flm. Rasanya
beda. Maka dari
itu saya masih
tetap suka me-
motret pakai
flm.”
“Buat saya kon-
sep itu bakat.
Belajar hanya
untuk menga-
sah, tapi kalau
bakatnya nggak
ada, apa yang
mau diasah?”
18
EDISI XIII / 2008
FASHIONPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 19
FASHIONPHOTOGRAPHY
20
EDISI XIII / 2008
FASHIONPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 21
FASHIONPHOTOGRAPHY
mental value ketika saya motret pakai
flm. Rasanya beda. Maka dari itu saya
masih tetap suka memotret pakai flm.”
Ujarnya. Peter menganggap dengan
belajar memotret dengan flm, seorang
fotorgafer bisa lebih menguasai dasar-
dasar cara kerja kamera.
Peter mengatakan bahwa hal-hal yang
harus diperhatikan untuk menjadi
fotografer fashion, pertama-tama
mindsetnya harus selalu mencipta.
Kalau bisa selalu menciptakan trend
baru. “It has to be something new and
fresh untuk bisa mengekspose collec-
tion yang difoto.” Ujarnya. Selain itu
pentingnya konsep untuk memperkaya
foto yang dibuat.
Namun Peter melihat konsep dan
kemampuan fotograf masih besar
pengaruh bakatnya. “Buat saya kon-
sep itu bakat. Belajar hanya untuk
mengasah, tapi kalau bakatnya nggak
ada, apa yang mau diasah?”Tegasnya.
“Photography is an art form untuk
menuangkan idealisme. Tapi kalau
bakatnya nggak ada ya jangan dipaksa-
kan.”Tambahnya. Peter melihat bahwa
jika seorang fotografer memiliki bakat,
bahkan tanpa pendidikan formal pun
bisa jadi fotografer yang baik walaupun
equipmentnya terbatas. “Untuk tahu
kita berbakat atau tidak, ya kita sendiri-
lah yang menilai. Kalau salah menilai ya
artinya 100% nggak talented.”Tegas-
nya.
Ditanya nama-nama besar di fotograf
yang memberi inspirasi baginya, Peter
menyebut nama Peter Lindbergh. “Saya
suka dia karena simple but beautiful.”
Tegasnya. Peter melihat setidaknya
ada dua gaya berfotograf di dunia ini.
“Untuk tahu kita
berbakat atau
tidak, ya kita
sendirilah yang
menilai. Kalau
salah menilai
ya artinya 100%
nggak
talented.”
22
EDISI XIII / 2008
FASHIONPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 23
FASHIONPHOTOGRAPHY
24
EDISI XIII / 2008
FASHIONPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 25
FASHIONPHOTOGRAPHY
Yang pertama adalah gaya amerika
yang lebih mengedepankan intelegent
concept di mana sebuah foto lebih ada
maknanya. “Biarpun fat bright tapi ada
message yang bisa diambil dari tiap
foto-foto American style.” Jelasnya. Se-
mentara aliran kedua adalah European
style. “European style lebih banyak
bereksperimen. Lebh berani. Berani
untu aner.” Jelasnya.
Peter sendiri melihat Indonesia lebih
dekat ke US style walaupun belum ada
yang benar-benar outstanding. “Fo-
tograf Indonesia seperti belum tahu
apa maunya.” Jelasnya.
Rencana Peter di masa yang akan
datang adalah ingin masuk ke bidang
commercial photography. “Jadi saya
hanya mau motret dengan klien dan
advertising agency yang cocok dengan
“Fotograf
Indonesia
seperti be-
lum tahu
apa mau-
nya.”
26
EDISI XIII / 2008
FASHIONPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 27
FASHIONPHOTOGRAPHY
saya dan sesuai dengan style saya. Ka-
lau nggak cocok lebih baik nggak usah
dipaksain karena akan jadi berantem
juga.” Jelasnya. Selain itu Peter juga be-
rencana membuat pameran. Dan dari
segi bisnis, Peter menargetkan harus
memiliki associate di masa yang akan
datang. “Saya mau bikin second line.
Karena kalau bisa tiga sampai lima ta-
hun lagi saya mau bisa milih apa yang
mau saya kerjain.” Jelasnya. “Jadi yang
saya nggak mau kerjain akan saya kasih
ke second line saya.” Sambungnya.
Di akhir pembicaraan kami, Peter
berpesan kepada para fotografer muda
yang ingin lebih serius di fotograf
untuk mengasah bakat jika memang
ada bakat. “Kalau tidak ada talent, lebih
baik cari area di mana kita kuat dari-
pada kita memaksakan diri.”Tegasnya.
“Kalau tidak ada
talent, lebih
baik cari area di
mana kita kuat
daripada kita
memaksakan
diri.”
28
EDISI XIII / 2008
THEADVERTORIAL
EDISI XIII / 2008 29
THEADVERTORIAL









 Retroyraphy
©
 





Ì am often asked, If people can buy my photos. Unfortunately they are
very expensIve and tIme consumIng to produce. So Ì looked for a non·
expensIve, but unIque versIon of a real photo.

Here It Is. The photo on the rIght Is NDT an ancIent photography! Ìt Is
a studIo shot. The look and feel Is
perfectly old, thIs Is a handcrafted
classIc photographIc prInt.
Ì call It FETFDCFAPHY
©
. Dld photos
have a very specIal style, and the
motIfs get a new, dIfferent meanIng.
|y brother |arkus worked two years developIng thIs technIque, usIng
classIc baryt·paper and ancIent cuttIng machInes. Every sIngle prInt Is
beautIfully handcrafted and "old style" prepared.

You can order It dIrectly from my studIo. Every FETFDCFAPHY
©
Is
sIgned by myself (dedIcatIon on request), and comes wIth a how·It·
was·done documentatIon. We have 22 motIfs at the moment. Have a
look at www.herbrIch.com

alwcys ¤ood lì¤ht!
Thomas Herbrìch





"Elephants on a brìdye"

RETROGRAPHY
®
11.5x1/cm in passe-partout 18x2+cm (museum quality)

with wooden frame (German quality frame) 160 US$ without frame 130 US$
prices including taxes and shipping to order, mail to me: thomas@herbrich.com

30
EDISI XIII / 2008
MASTERTOM
EDISI XIII / 2008 31
MASTERTOM
You can work as a photographer for
many, many years, but there will be
one picture, which is your lifetime
highlight (the photo which they show
in the encyclopaedia, when you are
famous. Hopefully).
My most popular photo is “Elephants
on a Bridge”. You give your best into
every single photo, but only few reach
that highest peak in quality and emo-
tion, which makes a good photo an
“all-time-standard” picture. This needs
many years. And what is more: LUCK.
ELEPHANT
ON A BRIDGE
32
EDISI XIII / 2008
MASTERTOM
EDISI XIII / 2008 33
MASTERTOM
My photos are always composites. I
love to make big pictures, a Hollywood
kind of view. This photo was ordered
by a group of concrete producers.
Concrete is a thing of no interest, and
they wanted to show it in emotional,
spectacular scenes. The advertising
agency had a nice headline: “Let’s hope
it’s concrete!”
They wanted to have a tiny, little bridge
of concrete, and big elephants on it. I
had to made an estimate with shoot-
ing it on a real location in a jungle.
What does it cost to build such a bridge
and have real elephants going over
it? It would be an enormous amount
of time to fnd out. And it would be
extremely expensive. So I said to the
agency: “That costs 885.212Dollars and
14Cents.”
Too expensive, of course. That’s why we
came up with building it as a mock-up
in a studio in London. It was my frst
time shooting there, and I remember
very well the moment, when I saw
my name written on the big studio
door: “Today’s photographer: Thomas
Herbrick” My name is Thomas Herbrich,
but okay.
The model maker built that set 5m
wide and 3m high. Styrofoam was used
for the rocks, coated with plaster and
powdered coloured dust. The bridge
is of wood. For the elephants we used
four dummies, each 30cm big. We
made casts of them, and by adding
diferent trunks and ears, we got twelve
nice looking elephants.
While preparing the set, the client
asked for a technical sketch of the
bridge, just to fnd out, if that con-
34
EDISI XIII / 2008
MASTERTOM
EDISI XIII / 2008 35
MASTERTOM
struction really would withstand the
weight of the elephants. After two days
of checking (which made me really
nervous) the found out: YES, it would
work!
I wanted to have some green in it, and
normally we use fresh spices. In that
part of London they only had parsley.
It was a lot of work to de-parsley the
photo later…
To make it look very real, I personally
took all the dust out of every vacuum-
cleaner in the studio, and poured it all
over the set.
I shot the scene in half a day on
8x10inch transparency. Preparing the
set took four days.
Back in my studio in Düsseldorf/Ger-
many, I made the postproduction. This
is an example for an easy montage,
since there are only few elements to
combine: the studio set, the back-
ground (Hawaiian jungle, which I
bought from a stock agency), and a bit
fog in the foreground. The less postpro-
duction is needed, the better!
When it was fnished, I wasn’t happy.
That is dramatic moment in such a
big production: “Thomas, it looks nice,
but…”This is the pure horror for me!
I needed some hours to fnd out, was it
was. TOO PRECISE!
That was it! But how to make a super-
sharp, super-precise photo into a “low-
level” one? I just copied it on 35mm
flm with my Nikon camera. For the
post production it was useful to have
it on 8x10 transparency, but the fnal
copying process brought that photo to
life…
That is something you should think
about: The technical quality of a photo
has to match with the content. For
most of the pictures full sharpness and
brilliance is useful. But not for all!
Take a portrait of yourself – you may
agree with me: less sharpness can be
better…
Always good light!
Master Tom
(Thomas Herbrich www.herbrich.com)
36
EDISI XIII / 2008
MASTERTOM
EDISI XIII / 2008 37
MASTERTOM
38
EDISI XIII / 2008
THEADVERTORIAL
EDISI XIII / 2008 39
THEADVERTORIAL
www.1001inspiration.com
1001 Indie Smile Character
Contest Exhibition
Mau tahu seperti apa senyum
Indonesia dalam bentuk paper
toy bernama PEYO?Ayo lihat
sendiri, dijamin kamu akan
terbawa senyum juga :)
G
R
A
T
I
S
u
n
tu
k
u
m
u
m
Digital Studio Fair
Lihat karya terbaik jebolan Digital
Studio yang terampil mengulik
paduan konsep kreatif dengan visual
yang menarik dari bidang desain
grafis, animasi, dan film.
Chris Lie is famous for his works on GI Joe
comics. At Present, Chris handles many
multinational companies clients such as AXN,
Cartoon Network Asia, Burger King, MTV Asia,
THQ and many others.
Chris Lie
World Class Comic Artist
Anuchai has been ranked as one of the best
commercial photographer in the world by Archive
magazine. His photography has won Clio and
his achievements are announced in 200 best Ad
photographers Worldwide Book, 2004-2007.
(www.luerzersarchive.com).
Anuchai
Secharunputong
The Best Commercial
Photographer
Andi S. Boediman
Creative Industry Evangelist
Adez is a long time character animator turn into
a production coordinator that bring together
a team of animators to create a full scene for
film production. His credits include a few TV
Commercials and Sing to the Dawn-the first 3d
animated film in Indonesia.
Steven Read responsible as the CG supervisor of
Sing to the Dawn. This US$5 million 3d animated
film is a joint collaboration between Indonesia
– Singapore. Steven also highly involved as
technical advisor in the acclaimed animation
movie such as Happy Feet and Brother’s Grimm.
Steven Read*
Former CG Supervisor
of Happy Feet
Seminar Topic:
“The Making of Sing to the Dawn” : Understand the
complex process to create a 3D animated lm
Seminar Topic:
“Revolutions in Comics” : Learn how comic visual
vocabulary has inuence the language of lm.
Workshop Topic:
“Storytelling and Comic Making Workshop” : Learn
to engage readers through the power of storytelling
in visual language
Workshop Topic:
Experience the working process of creating a real
world scene for a 3d animation lm production
Seminar Topic:
“The True Color of Creativity” : The secret of color and
composition that tells a story about my perception and
the beauty of color with all the extra meanings behind it
Seminar Topic:
“The Power of Color in Visual Design”. Find the tips
and techniques to control color & how color can
affect our emotion
Deswara Aulia
Production Coordinator at
Infinite Frameworks.
“Fire-Up Your Colourful Inspiration“
is a part of 1001 Inspiration Design Festival
www.1001inspiration.com
* To Be Affirmed Immediately
Information
& Ticket
Reservation
Elly: elly@digitalstudio.co.id
Denny: denugraha@digitalstudio.co.id
021-270 1518 (DS Blok M)
021- 633 0950 (DS Cideng)
021-458 41018 (DS Kelapa Gading)
Featured
workshop
speaker
Featured
workshop
speaker
Andi sees himself as a creative evangelist.
His works has been published and showcased
internationally and has won prestigious
awards such as Western Art Director Club and
International Designers Networks. The Founder of
the sucessful Digital Studio Creative Education.
Tickets
(before June 27
th
)
Early bird & Students Rate
(After June 27
th
)
Regular Rate
seminar
(23 july 2008, Blitz Megaplex Grand Indonesia)
350.000 IDR
500.000 IDR
workshop
(22 July 2008, Digital Studio College)
750.000 IDR
900.000 IDR
Supported by Strategic media partner Media partners
Organized by Gold Sponsor Silver Sponsor Platinum Sponsor Bronze Sponsor
40
EDISI XIII / 2008
TRAVELPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 41
TRAVELPHOTOGRAPHY
Ada peribahasa mengatakan, semakin
banyak isinya semakin merunduklah
sebuah padi. Peribahasa ini kami temui
pada sosok seorang fotorgafer senior
Don Hasman. Don Hasman yang sudah
mempelajari fotograf sejak tahun
1950an mungkin bisa menjadi satu
contoh kedewasaan berpikir seorang
fotorgafer. Di satu sisi Don Hasman
tetap rendah hati, tidak meninggikan
hati dengan membangga-banggakan
pengalaman puluhan tahun berkarya
di fotograf namun di sisi lain tetap
memberikan sumbangsih dengan
tetap berusaha kritis terhadap ketidak-
ideal-an yang terjadi di kalangan
fotografer muda. Dan sifat kritis ini pun
dilakukan semata-mata dengan tujuan
untuk memotivasi fotografer untuk
DON HASMAN,
MENUAI MAKNA
HIDUP DALAM
PERJALANAN
FOTOGRAFI
senantiasa mengejar kesempurnaan,
bukan karena ingin menjelekkan,
menghakimi atau mencibir orang lain
karena pada akhirnya, segala pesan,
saran, kritikan dan pemikirannya ber-
dasarkan pada argumentasi yang bisa
diterima oleh akal sehat.
Don Hasman tertarik untuk mem-
pelajari fotograf ketika ia melihat
kakaknya sering memotret keluarga.
“Apa yang ia buat untuk menghentikan
waktu sejenak membuat saya tertarik.”
Ungkapnya untuk membuka perbin-
cangan kami. “Bermodalkan ketertari-
kan itu saya memberanikan mencoba
memotret dengan kamera kakak saya
tersebut menggunakan flm 6 X 9
ketika ia sedang pergi. Namun pada
akhirnya usaha belajar secara diam-
diam saya itu pun diketahuinya. Saya
pun diajarinya.” Kenangnya. “Tepatnta
tahun 1951 saya mulai belajar fotograf
secara serius.
Setelah menguasai fotograf, Don
yang sempat bekerja di Aneta, sebuah
kantor berita yang berlokasi tepat di
gedung Antara saat ini pun mendapat
kesempatan untuk memperkaya ref-
erensinya ketika ia boleh melihat foto-
foto dari seluruh duia yang dikirimkan
ke Aneta. Segala sesuatu yang ada
“Apa yang ia
buat untuk
menghentikan
waktu sejenak
membuat saya
tertarik.”
“Bagi saya ber-
korban untuk
memberi se-
suatu untuk
orang lain ada-
lah baik.”
“Fotografer kita
pada umum-
nya lekas puas.
Mereka bekerja
dengan prinsip-
prinsip ekono-
mi; kalau ada
yang gampang
buat apa yang
susah. Walau-
pun itu manu-
siawi.”
42
EDISI XIII / 2008
TRAVELPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 43
TRAVELPHOTOGRAPHY
44
EDISI XIII / 2008
TRAVELPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 45
TRAVELPHOTOGRAPHY
fotonya menjadi bahan referensi Don,
termasuk agenda. Don pun melanjut-
kan karir fotografnya dengan menjadi
stringer di AP.
Pada tahun 1979 Don bekerja di
tabloid Mutiara. Ia bertahan di sana
hingga tahun 1995. Ketika hendak pen-
siun pada tahun itu, Don ditahan dan
ditawari perpanjangn masa kerja. Don
pun menerimanya. Hingga pada 31
Desember 1997 Don mengakhiri masa
kerjanya dan memutuskan pensiun.
Hari itu juga Don mewujudkan keingi-
nannya untuk berangkat ke Baduy.
“Sejak 31 Desember 1997 hingga 31
Desember 1998 tercatat saya 38 kali
bolak-balik ke Baduy.” Jelasnya. “Ini saya
ungkapkan bukan untuk tepuk dada,
tapi untuk menyatakan keseriusan saya
untuk mengabdi kepada ilmu pengeta-
huan.” Sambungnya.
“Bagi saya berkorban untuk memberi
sesuatu untuk orang lain adalah baik.”
Sambungnya lagi.
Berkomentar mengenai fotografer-fo-
tografer masa kini, Don pun berpenda-
pat “Fotografer kita pada umumnya
lekas puas. Mereka bekerja dengan
prinsip-prinsip ekonomi; kalau ada
yang gampang buat apa yang susah.
Walaupun itu manusiawi.” Jelasnya.
“Tapi saya suka mengerjakan apa
yang orang lain tidak kerjakan. Atau
setidaknya kalau orang lain sudah
mengerjakan, saya selalu mendorong
saya untuk mengerjakan dengan lebih
baik lagi.” Sambungnya.
Sebagai contoh, Don Hasman pernah
keluar masuk Papua untuk mencari
tahu bagaimana Michael Clark Rock-
efeller pernah hilang di Asmat. “Waktu
itu bayak isu yang berkembang,
termasuk ada yang bilang Michael
Clark ditangkap suku Asmat dan boleh
diapakan saja oleh mereka.”Tegasnya.
Don senang sekali berkeliling dunia,
mengunjungi tempat-tempat unik
baik yang sudah pernah ia kunjungi
maupun yang belum. “ketika berkelil-
ing saya motret apa saja yang saya
temui. Semua yang saya temui saya
sapu, nggak ada yang saya kasih lewat.”
Jelasnya sambil tertawa.
Kesenangannya melakukan perjalanan
ke seluruh pelosok dunia membawa
Don menjadi salah satu orang yang
dihormati oleh sebuah kelompok
istimewa di Dunia. Kelompok itu
bernama The Explorer Club. Pada suatu
saat, tanpa berniat bergabung dengan
kelompok itu sebelumnya Don diun-
dang untuk menghadiri peringatan
100 tahun berdirinya kelompok itu.
Dan ketika datang Don berjumpa
dengan banyak orang-orang yang se-
masa hidupnya sudah berkeliling dan
menjelajah dunia.
Don sendiri pernah 3 kali ke Himalaya
sejak tahun 1976. Ia juga pernah ke
gunung Kilimanjaro pada tahun 1985.
“Kalau mau jujur, saya ingin jadi orang
yang pertama berada di tempat itu,
setidaknya untuk orang Indonesia.”
Jelasnya.
Dalam melakukan perjalanan Don
lebih senang melakakannya sendirian.
“Jalan sendiri paling enak, saya tidak
terganggu dan tidak mengganggu
orang lain yang bersama saya.”Tegas-
“Tapi saya suka
mengerjakan
apa yang orang
lain tidak ker-
jakan. Atau
setidaknya ka-
lau orang lain
sudah menger-
jakan, saya se-
lalu mendor-
ong saya untuk
mengerjakan
dengan lebih
baik lagi.”
“Di mana-mana
kita ketemu
orang baik, asal-
kan kita mau
baik.”
46
EDISI XIII / 2008
TRAVELPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 47
TRAVELPHOTOGRAPHY
48
EDISI XIII / 2008
TRAVELPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 49
TRAVELPHOTOGRAPHY
50
EDISI XIII / 2008
TRAVELPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 51
TRAVELPHOTOGRAPHY
nya. Beruntung kebiasaan dan ket-
ertarikannya untuk terus menjelajah
didukung oleh keluarganya sejak awal.
Untuk menjalani hal tersebut Don me-
lihat pentingnya keseimbangan antara
ambisi dan fsik. “Ambisinya besar tapi
fsiknya nggak mendukung ya nggak
bisa juga, sebaliknya walaupun fsiknya
kuat tapi kalau ambisinya segitu-gitu
saja juga nggak akan kemana-mana
dia.” Jelasnya.
Perjalanan Don sering berawal dari
pembicaraan mengenai suatu tempat
yang ia belum pernah kunjungi. Set-
elah mulai tertarik, Don mulai melaku-
kan library research. Pada saat itu ia
mulai mengumpulkan hal-hal menarik
yang pada akhirnya berpengaruh pada
keputusan apakah ia akan mengunjun-
gi tempat itu atau tidak. Jika ia semakin
tertarik ia pun mencari orang yang
pernah datang ke tempat itu. Setelah
itu baru ia menyusun rencana detail
menyangkut pembiayaan dan jadwal.
Don tidak pernah takut bertemu
dengan orang jahat di tempat-tempat
yang ia kunjungi. “Di mana-mana kita
ketemu orang baik, asalkan kita mau
baik.” Ujarnya.
Perjalanan Don ke seluruh penjuru
dunia ditunjang kemampuannya di
“penting untuk
kita untuk bil-
ang apa adan-
ya. Kalau pakai
digital imaging
ya bilang pakai
digital imaging.
Dan jujur da-
lam segala hal.
Toh kalau kita
bohong bukan
bohong sama
orang lain, tapi
sama diri sendi-
ri.”
52
EDISI XIII / 2008
TRAVELPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 53
TRAVELPHOTOGRAPHY
54
EDISI XIII / 2008
TRAVELPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 55
TRAVELPHOTOGRAPHY
56
EDISI XIII / 2008
TRAVELPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 57
TRAVELPHOTOGRAPHY
berbagai medan. Mulai dari gunung
berapi, daerah bersalju, dataran tinggi,
hingga dasar laut. Don sendiri men-
gantongi 3 sertifkat menyelam di
mana 2 sertifkat bertaraf internasional
dan 1 sertifkat menyelam dari pasukan
katak.
Ditanya mengenai akhir dari per-
jalanannya ke berbagai daerah, Don
mengaku ia akan berhenti ketika ia su-
dah tidak bisa memotret dan tidak bisa
berjalan. Don pun membuka kesempa-
tan untuk menemani kenalannya atau
siapapun untuk berjalan ke daerah
tertentu dengan syarat tertentu. “Saya
mau menemani ke mana saja asal saya
tidak dibayar. Kalau dibayar paling
saya antar ke travel agent.” Ungkapnya
sambil tertawa.
Berbicara mengenai fotograf, Don
berpendapat bahwa dalam berfo-
tograf salah satu hal yang penting
adalah selalu jujur. “penting untuk kita
untuk bilang apa adanya. Kalau pakai
digital imaging ya bilang pakai digital
imaging. Dan jujur dalam segala hal.
Toh kalau kita bohong bukan bohong
sama orang lain, tapi sama diri sendiri.”
Ungkapnya.
Don berpendapat bahwa setiap foto
“Gambar yang
baik menurut
saya adalah
gambar yang
bisa menggu-
gah perasaan
orang. Bisa
membuat orang
senyum, me-
nangis, tertawa,
terdiam,
dan lain
sebagainya.”
58
EDISI XIII / 2008
TRAVELPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 59
TRAVELPHOTOGRAPHY
60
EDISI XIII / 2008
TRAVELPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 61
TRAVELPHOTOGRAPHY
62
EDISI XIII / 2008
TRAVELPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 63
TRAVELPHOTOGRAPHY
memiliki keistimewaan masing-masing.
“Tapi lebih bagus kalau bermanfaat
atau disukai orang lain.” Jelasnya.
“Gambar yang baik menurut saya
adalah gambar yang bisa menggugah
perasaan orang. Bisa membuat orang
senyum, menangis, tertawa, terdiam,
dan lain sebagainya.” Sambungnya.
Untuk bisa menghasilkan hal itu Don
menantang fotografer untuk selalu
berusaha jadi yang terbaik. “Jadilh yang
pertama dan yang terbaik, masalah
berhasil atau tidak nggak usah dipikirin
yang penting dijalani dulu.” Ujarnya.
Don melihat pada dasarnya semua
orang mampu, hanya permasalahan-
nya kesempatannya mau diambil
atau tidak. “Kesempatannya ada kalau
nggak diambil ya nggak bisa, seba-
liknya kalau mau tapi kesempatanya
tidak diusahakan ya nggak bisa juga.”
Tutupnya.
“Jadilh yang
pertama dan
yang terbaik,
masalah ber-
hasil atau tidak
nggak usah
dipikirin yang
penting dijalani
dulu.”
64
EDISI XIII / 2008
LIPUTANUTAMA
EDISI XIII / 2008 65
LIPUTANUTAMA
Banyak fotografer senior berkata bahwa fotograf adalah proses. Proses dari ingin
tahu yang mendorong orang menjadi mencoba. Dari mencoba menjadi jatuh
cinta. Karena jatuh cinta pada fotograf, pehobi fotograf pun semakin sering
memotret. Dari foto yang masih jauh dari bagus perlahan-lahan menjadi sangat
dekat dengan bagus. Mudah-mudahan berproses dalam fotograf yang sering
terucap dari mulut mereka yang sudah kenyang akan fotograf tidak termasuk
proses dari bagus menjadi ketinggalan jaman dan kadaluwarsa.
Ya, tidak sedikit nama-nama dalam fotograf yang bermunculan, ada yang gugur
dan tenggelam sebelum sempat menjulang. Ada yang sempat menjulang namun
perlahan-lahan tenggelam oleh nama-nama muda yang lebih menjulang. Ada
yang sempat menjulang dan terus dikenal sebagai fotografer yang disegani.
Pada kesempatan kali ini kami memberanikan diri untuk membahas fotografer-
fotografer yang pernah sukses dalam kancah perfotografan Indonesia namun
hilang diterjang persaingan yang begitu kejam. Kami menyadari bahwa seperti
artikel-artikel provocative dan sensitive terdahulu, artikel ini mungkin juga akan
memunculkan kontroversi dan perdebatan. Kami sendiri memilih untuk mem-
biarkannya sebagai proses pendewasaan melalui diskusi-diskusi yang muncul
setelah artikel ini terbit. Memandang begitu sensitifnya artikel ini, kami memilih
untuk menyembunyikan semua nama baik yang dibicarakan sebagai pengalaman
yang mengajari maupun mereka yang ikut berkomentar. Pada akhirnya, pemba-
hasan kali ini dimunculkan bukan untuk merendahkan atau mengolok-olok atau
BERGURU PADA
FOTOGRAFER
KADALUWARSA
mencibir fotografer-fotografer yang
kebetulan disebut kadaluwarsa, namun
lebih untuk mengambil pengalaman-
pengalaman mereka sebagai pelajaran
yang sangat berharga bagi kita semua
yang muda dan minim pengalaman.
Seperti orang tua sering berkata kepada
anaknya “kamu bapak kasih tahu kega-
galan dan kesalahan kami di masa lalu
bukan untuk diejek atau direndahkan
tapi supaya kami jauh lebih baik dari
kami nantinya.” Begitu juga dengan ar-
tikel ini ditujukan untuk kebaikan masa
depan fotograf Indonesia.
Di negara-negara barat di mana sejarah
dan tradisi fotografnya sudah cukup
panjang, banyak kita temui nama-
nama fotografer yang masih memotret
bahkan ketika sudah berumur 60 tahun
lebih. Lalu ada komentar spontan
yang muncul “wah, umur segitu masih
motret, mungkin nggak begitu laku
kali dia, jadi pas umur segitu masih har-
us motret.”Ya pernyataan-pernyataan
spontan seperti itu sah saja untuk di-
lontarkan, namun kenyataannya tidak
sedikit fotografer senior yang berumur
di atas 60 tahun dan masih memotret
karena kecintaannya terhadap fotograf
disamping sentuhan fotografnya yang
masih laku di jual. Banyak nama-nama
besar di dunia perfotografan barat
66
EDISI XIII / 2008
LIPUTANUTAMA
EDISI XIII / 2008 67
LIPUTANUTAMA
yang makin tua makin jadi. Seorang
fotografer yang pernah kami wawan-
carai pernah berkata bahwa untuk
tetap exist sebagai fotografer di negara
barat cenderung lebih mudah karena
negara-negara barat adalah kiblatnya
fotograf dunia. Mereka adalah trend
setter, Jadi pilihan untuk bisa tetap
exist cenderung lebih banyak, mereka
bisa exist sebagai trend setter, atau
jika tidak mereka bisa exist sebagai fol-
lower yang sukses.
Berbeda dengan kondisi fotografer
di negara-negara ketiga termasuk
Indonesia. “Indonesia bukanlah negara
yang menjadi kiblat fotograf dunia.
Artinya kesempatan fotografer Indo-
nesia untuk bisa menjadi trend setter
jauh lebih sempit dibanding di barat.
Ini membuat fotografer Indonesia bisa
dikatakan hanya punya satu pilihan
untuk exist yaitu jadi follower yang
sukses.” Ungkap JT salah seorang dosen
seni rupa.
Senada dengan JT, AP seorang fo-
tografer komersil juga berpendapat
bahwa menjadi fotografer di Indonesia
cenderung lebih berat tatangannya.
“Karena Indonesia bukan trend setter
fotograf, maka mental orang-orangnya
juga mental follower. Selalu berkiblat
kepada kepopuleran. Lihat saja, di neg-
ara-negara barat semua aliran musik
bisa sama-sama hidup, mulai dari pop,
rock, blues, jazz, reggae, sampai punk &
R&B, tapi coba lihat di sini, hanya yang
populer saja yang hidup, yang lainnya
sekarat. Ketika lagi musim jazz, semua
orang ikut ngejazz, ketika lagi musim
dangdut, semua orang ikut dangdut.
Hal yang sama kita jumpai juga di fo-
tograf. Ketika foto-foto saturasi rendah
populer semua fotografer ikut bikin
foto dengan saturasi rendah. Ketika
teknik highlight populer semua foto
ikut bikin highlight, ketika foto fash-
ion dengan pose yang ajaib dan tidak
biasa populer semuanya ikut bikin gitu,
sementara yang nggak bikin gitu tidak
dilihat atau dianggap tidak bagus dan
tidak exist.”Ungkap AP. “Yang menjadi
permasalahan adalah semakin tua se-
orang fotografer, feksibilitasnya untuk
up to date terhadap trend semakin
kurang. Artinya makin tua makin nggak
bisa megikuti trend. Nah ketika nggak
bisa ngikutin trend itulah jadinya perla-
han-lahan nggak laku.”Tambahnya.
AP melihat banyak kemunafkan yang
dilakukan oleh fotografer-fotografer
kadaluwarsa. “Mereka melalui
pernyataan dan tindakan, seolah-olah
melabeli diri dengan kata “pekerja
seni”. Tapi sayangnya tidak paham den-
“Karena Indone-
sia bukan trend
setter fotograf,
maka mental
orang-orangnya
juga mental fol-
lower. Selalu
berkiblat
kepada
kepopuleran...”
“Yang menjadi
permasalahan
adalah semakin
tua seorang fo-
tografer, fek-
sibilitasnya un-
tuk up to date
terhadap trend
semakin kurang.
68
EDISI XIII / 2008
LIPUTANUTAMA
EDISI XIII / 2008 69
LIPUTANUTAMA
gan kredo pekerja seni. Kredo seorang
pekerja seni adalah mengejar kesem-
purnaan. Nah karena kesempurnaan
itu tidak terdefnisikan maka penge-
jerannya seharusnya tidak berhenti
membuat yang lebih bagus lagi. Bukan
justru berhenti mengejar dan memberi
predikat “cum laude” pada foto-fotonya
sendiri lalu duduk puas dan berhenti
mengejar yang lebih baik lagi.” Ung-
kapnya. “Kalau begitu sikapnya, apa
layak mengaku dan bertindak seperti
pekerja seni?” sambungnya.
Mendengar pernyataan tersebut, me-
mancing kami untuk mengkonfrmasi
dari sudut pandang lain. SM, seorang
creative group head perusahaan
periklanan multinasional mengatakan
bahwa penyebab seorang fotografer
yang sudah exist di-black list atau tidak
digunakan lagi ada 2. “Yang pertama
adalah ketika sang fotografer sudah
tidak up to date lagi. Saya pribadi pu-
nya satu pengalaman dengan seorang
fotografer yang sangat senior. Pada
tahun 90an, ia adalah salah satu bench-
mark fotograf di Indonesia. Kalau mau
motret sama dia, antrenya bisa 2-3 min-
ggu baru dapet schedulenya. Klien pun
sangat puas. Tapi sayangnya gayanya
nggak berubah dan nggak berkem-
bang. Dari dulu sampai sekarang
gayanya begitu-begitu aja. Style yang
dulu pernah jaya masih juga dipakai
sampai saat ini. Masalahnya marketnya
sekarang sudah berbeda, selera orang
berubah, berkembang. Jadi sudah
nggak kepakai lagi deh stylenya dia.
Akhirnya dia nggak pernah kita pakai
lagi dan nggak kita anggap exist lagi.
Bahkan kalaupun ia tiba-tiba datang
dengan style baru yang lebih up to
date pun belum bikin kita lebih milih
dia dibanding fotografer-fotografer lain
yang muda dan stylenya lebih fresh.”
Ungkapnya.
“Nah alasan kedua seorang fotografer
di black list adalah ketika sang fo-
tografer tidak lagi sadar akan kedudu-
kannya. Fotografer senior banyak yang
lupa bahwa sehebat-hebatnya dan
sesenior-seniornya mereka, mereka
tetap saja berstatus konsultan atau
bahkan lebih parah lagi ada yang
menganggap supplier. Artinya, kepu-
tusan tetap ada di tangan kita yang
merupakan klien mereka. Fotografer
seharusnya sadar bahwa dalam kasus
pemotretan iklan, mereka hanyalah
satu bagian dari proses eksekusi dari
sebuah konsep dan strategi market-
ing yang sudah disiapkan oleh banyak
pihak. Jadi nggak bisa tiba-tiba sang
fotografer ngacak-ngacak dengan
nggak mau ngerjain yang kita minta
dan hanya mau ngerjain yang menurut
mereka baik. Apalagi mereka ada di
posisi yang dibayar.” Jelasnya.
SM memiliki pengalaman buruk den-
gan salah seorang nama yang sangat
dikenal dan senior di dunia fotograf
Indonesia terkait tidak maunya sang
fotografer bekerjasama dengan adver-
tising company yang menunjuknya.
“ada seorang fotografer yang sangat
terkenal di Indonesia, dulunya dia one
of the best. Namanya bukan cuma
dikenal kalangan yang menggunakan
jasanya saja, tapi juga orang awam.
Permasalahannya, mungkin karena
ia merasa sudah menjadi selebriti,
“Mereka melalui
pernyataan dan tin-
dakan, seolah-olah
melabeli diri den-
gan kata “pekerja
seni”. Tapi sayang-
nya tidak paham
dengan kredo
pekerja seni.”
Fotografer senior
banyak yang lupa
bahwa sehebat-
hebatnya dan
sesenior-seniornya
mereka, mereka
tetap saja bersta-
tus konsultan atau
bahkan lebih parah
lagi ada yang men-
ganggap supplier.
Artinya, keputusan
tetap ada di tangan
kita yang merupa-
kan klien mereka.
70
EDISI XIII / 2008
LIPUTANUTAMA
EDISI XIII / 2008 71
LIPUTANUTAMA
dia nggak enak lagi diajak kerjasama.
Terakhir saya motret sama dia, saya
nggak boleh lihat proses pemotretan.
Saya disuruh tunggu di luar, begitu
dia selesai motret baru dia tunjukin
hasilnya ke kita. Ketika hasilnya nggak
sesuai dengan brief dan apa mau-
nya kita, dia malah ngotot kalau itu
yang bagus dan nggak mau merevisi
kerjaannya. Ujung-ujungnya dia bilang,
“kalian kan nunjuk saya karena ke-
mampuan saya. Jadi percaya aja deh
sama omongan saya. Kalau saya bilang
ini yang bagus, artinya ya memang ini
yang bagus.” Kalau kita ngomong foto
seni sih sah-sah saja mau kayak gitu,
tapi permasalahannya kita ngomong
foto untuk keperluan iklan. Kebayang
nggak, proses pembuatan iklan kan
selalu berawal dari riset konsumen
yang melibatkan puluhan, ratusan
atau bahkan ribuan konsumen. Setelah
meriset konsumen, biasanya kita juga
meriset pesaing, setelah itu baru meru-
muskan strategi yang unik dan tepat
untuk iklan tersebut. Nah kebayang ng-
gak setelah melalui proses yang begitu
panjang tiba-tiba fotografer yang kita
tunjuk ternyata malah sok jadi seni-
man dan bikin sesuatu yang berbeda
dengan strategi yang kita tetapkan di
awal. Lebih menyebalkannya lagi si
fotografer dengan santainya bilang,
“soal fotograf percaya deh sama saya.”
Hal-hal seperti ini yang membuat kita
jadi nggak hormat dan nggak mau ker-
jasama dengan fotografer-fotografer
kayak gini.”Tegasnya.
IP, seorang produser yang sudah lebih
dari 40 tahun malang melintang di
dunia periklanan dan fotograf se-
bagai producer pun membenarkan
pernyataan SM. “Ada salah seorang
partner saya, dia fotografer, dulu dalam
sebulan sedikitnya dia bisa memotret
sebanyak 25 hari. Rata-rata per hari di
bayar Rp. 10 Juta. Artinya per bulan ia
bisa mengantongi Rp.250 juta, na-
mun kenyamanan dan kesibukannya
mencari uang ternyata menjebaknya
pada kenikmatan dan ia pun hampir
tidak punya waktu untuk mengevalu-
asi apakah hasil pekerjaannya masih
cukup baik, masih cukup bisa diterima
oleh pasar. Ia tidak pernah tahu, ia
tidak pernah melihat-lihat perkemban-
gan fotograf. Yang ia perhatikan hanya
menerima layout dari klien, menga-
jukan penawaran, dan memotret.”
Jelasnya. “Kini bisa dapat Rp.10 juta per
bulan dari motret saja sudah sangat
bagus. Itupun cuma bisa ia dapat dari
klien yang masih percaya terhadap
“kharisma”nya.” Sambungnya.
Sementara pada bidang jurnalistik,
kadaluwarsanya seorang fotografer
terjadi salah satunya karena kesem-
patan untuk tetap memotret semakin
langka. RI, seorang wartawan senior
mengungkapkan bahwa di bidang
jurnalistik, ketika seorang fotografer
sudah cukup senior, kecenderungan-
nya ia akan ditempatkan di posisi
managemen. Kerjaannya lebih banyak
di belakang meja. Nah hal tersebut lah
yang membuat insting fotografnya
perlahan-lahan menjadi tumpul. Pada-
hal jika diberi kesempatan yang sama,
seorang fotografer jurnalis yang sudah
senior pun bisa terus exist. RI melihat
profesi fotografer jurnalis sebagai
salah satu profesi yang tidak termakan
72
EDISI XIII / 2008
LIPUTANUTAMA
EDISI XIII / 2008 73
SURFINGPHOTOGRAPHY
usia. Hal ini karena fotografer jurnalis
cenderung mengutamakan kepekaan.
Sementara segi artistiknya relatif tidak
banyak perubahan kecuali masalah
komposisi.
Seperti kata pepatah, lebih mudah
mendapatkan daripada memper-
tahankan. Mungkin ini juga berlaku
juga pada eksistensi seorang fotor-
gafer. Mengenai penyebab seorang
fotografer terjebak pada perangkap
kadaluwarsa kami memilih untuk
mengelompokkannya menjadi 2
penyebab. Yang pertama adalah
penyebab yang berasal dari dalam diri
sang fotografer, mulai dari sikap som-
bong, sikap tidak mau bekerjasama
dengan baik, tidak kooperatif, sikap
cepat puas dengan hasil karyanya,
tidak mau mengupgrade kemampuan,
mengupgrade layanan (jika berprofesi
sebagai fotografer komersil & wed-
ding). Sementara factor kedua adalah
factor dari luar, yaitu kesempatan
untuk terus mengasah kemampuan
fotografnya “dipotong” oleh organisasi
tempatnya bekerja. Namun dari kedua
factor tersebut, faktor dari dalam diri
sendiri lah yang terlihat lebih dominan.
Bagaimana dengan anda? Ada pada
kuadran mana anda? Kuadran menuju
kadaluwarsa kah? Atau kuadran menu-
ju perjuangan untuk terus exist.
74
EDISI XIII / 2008
EDITORIALPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 75
EDITORIALPHOTOGRAPHY
Jalan hidup manusia memang tidak ada yang tahu. Sepertia jalan hidup Edy
Purnomo, seorang fotografer jurnalis & editorial yang cukup mendapat apre-
siasi positif dari rekan-rekannya sesama fotografer jurnalis & editorial. Sebelum
akhirnya bekerja dan mencari nafkah dari fotograf, Edy bekerja sebagai tenaga
marketing sebuah produk interior fabric. Karena kantor tempat ia bekerja dekat
dengan Galeri Antara, Eddy pun memutuskan untuk belajar di sana dan akhirnya
membuatnya menceburkan diri menjadi fotografer jurnalistik & editorial.
Kegemaran Edy ber-traveling diakuinya sebagai salah satu alasannya terjun ke
fotograf jurnalis & editorial. “Saya senang banget travel. Saya senang berhubun-
gan dengan manusia. Dan kebetulan hal itu salah satu tuntutan seorang fotor-
gafer jurnalis, yaitu kemampuannya berhubungan dengan manusia.” Ungkapnya.
“Setiap datang ke tempat baru selalu ada yang baru. Itu yang menarik buat saya.”
Sambungnya.
Edy mengaku sangat menyenangi berinteraksi dengan orang lain. Ia juga gemar
membaca. Setiap kali mendapat kesempatan meliput ke suatu tempat Edy selalu
memulai dengan mengobrol dengan penduduk setempat. “Begitu sampai lokasi,
saya selalu ngobrol sama orang sekitar, observasi dulu. Mencoba membangkitkan
memori tentang tempat itu. Cari tahu pernah terjadi apa di situ dan apakah ada
hubungannya dengan momen yang mau kita liput.” Jelasnya.
Teknik itu diakui Edy dapat meningkatkan kemampuan story telling pada sebuah
foto. “Di Indonesia kemampuan fotografnya selalu tambah meningkat. Sayang-
nya masih hanya pada tahap teknis, sementara kemampuan story tellingnya
EDY PURNOMO,
SETIA DI JALUR
FREELANCE
masih lemah.” Jelasnya.
Bukti yang paling mudah adalah
tingkat kesamaan angle cerita yang
dihadirkan fotografer lokal. “Coba lihat
media-media kita. Ketika membahas
suatu berita anglenya sebagian besar
sama. Sedikit sekali atau bisa dibilang
hampir tidak ada yang berbeda.” Jelas-
nya. “Ini bisa berasal dari fotografernya
yang memang tidak mau mencari
angle yang berbeda. Atau bisa juga
dari medianya yang maunya cari yang
aman-aman saja.” Sambungnya.
Di Indonesia, Edy masih melihat ban-
yaknya redaktur yang mencari angle
berita yang aman. “Redaktur di sini,
nggak mau mencari apa yang nggak
didapat majalah lain. Jadi nggak heran
kalau angle beritanya itu-itu lagi”
Tegasnya.
Jika ditelusuri lebih dalam lagi, Edy
melihat cara pemilihan seseorang
untuk menduduki jabatan atau posisi
tertentu di media juga ikut andil dalam
kondisi yang kurang menggembira-
kan ini. “Misalnya saja, di Indonesia,
editor foto sebagian besar harus
dari fotografer. Jadi fotografer yang
sudah senior, diangkat menjadi editor.
Dengan pertimbangan dia memiliki
pengalaman pada apa yang dilakukan
“Setiap datang
ke tempat baru
selalu ada yang
baru. Itu yang
menarik buat
saya.”
“Di Indonesia
kemampuan
fotografnya
selalu tam-
bah mening-
kat. Sayangnya
masih hanya
pada tahap
teknis, sementa-
ra kemampuan
story tellingnya
masih lemah.”
76
EDISI XIII / 2008
EDITORIALPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 77
EDITORIALPHOTOGRAPHY
78
EDISI XIII / 2008
EDITORIALPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 79
EDITORIALPHOTOGRAPHY
80
EDISI XIII / 2008
EDITORIALPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 81
EDITORIALPHOTOGRAPHY
82
EDISI XIII / 2008
EDITORIALPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 83
EDITORIALPHOTOGRAPHY
fotografer-fotografernya.” Jelasnya.
“Padahal nggak harus seperti itu. Di
belanda ada seorang editor yang latar
belakangnya justru dari marketing. Ia
tidak bisa memotret, tapi yang penting
ia tahu visual, tahu design dan tahu
selera market sekarang.” Sambungnya.
Edy menemui hal yang berbeda di luar
negeri di mana justru seorang editor
bisa jadi fotografer. “Di luar negeri fo-
tografer dan editor foto bukan struktur
karir. Artinya tidak ada yang lebih ting-
gi tidak ada yang lebih rendah. Bukan
karena editor foto tugasnya memilih
foto yang akan ditampilkan lalu diang-
gap sebagai orang yang berposisi lebih
tinggi daripada fotografer, namun
hanya karena memang itu tugasnya.”
Jelasnya.
“Kalau editor merupakan posisi yang
lebih tinggi dari fotografer dalam struk-
tur karir maka resikonya ketika seorang
fotografer dijadikan editor maka yang
dibawanya adalah gaya lamanya. Kare-
na kecenderungannya fotografer yang
diangkat menjadi editor adalah yang
sudah senior. Padahal nggak semua
yang senior masih up to date dengan
gaya saat itu, Jadinya ya gaya berfo-
tograf beberapa tahun ke belakang
ketika ia berjaya lah yang dibawa saat
ini. Ya saya juga nggak mau nyalahin
kalau jadinya gitu.” Sambungnya.
Edy juga berpendapat bahwa menjadi-
kan foto sebagai hal yang sama pent-
ingnya degan teks seharusya menjadi
perjuangan para fotografer. “Orang
fotograf masih menjadi orang nomor
2, wartawan tulisan yang masih jadi
nomer 1. Buktinya, ketika wartawan
tulisan memperkenalkan fotografer
yang menjadi partnernya ke nara sum-
ber seringnya mereka ngomong, ini
fotografer saya.” Jelasnya.
Saat ini, Edy memutuskan untuk
menjadi fotografer lepasan setelah
beberapa tahun bekerja tetap untuk
Antara, AFP & Getty Images. “Sekarang
saya freelance saja. Banyaknya untuk
Getty Images & Jiwa Foto. Terkadang
saya memotret juga untuk NGO, dan
korporat.”Jelasnya. Iklim fotografer
lepasan menjadi menarik buat Edy
setelah tahun 1998 hal ini karena se-
bagai freelance Edy bisa menentukan
jenis pekerjaan yang mau dijalani. Dan
sementara ini masih bisa jalan karena
Indonesia masih disorot, artinya masih
banyak butuh peliput berita di Indo-
nesia. Walaupun begitu Edy mengakui
untuk bisa menjalani profesi fotografer
lepasan, Edy banyak menerima peker-
jaan dari luar negeri. Untuk itu hubun-
“Orang fotograf
masih menjadi
orang nomor
2, wartawan
tulisan yang
masih jadi
nomer 1.”
“Perlu diin-
gat, tuntutan
kemampuan
seorang fo-
tografer free-
lance lebih ting-
gi dibanding
fotografer tetap.
Ini mencakup
aspek manaje-
men, account-
ing, bahasa, dan
yang sudah pas-
ti kemampuan
fotografnya.”
84
EDISI XIII / 2008
EDITORIALPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 85
EDITORIALPHOTOGRAPHY
86
EDISI XIII / 2008
EDITORIALPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 87
EDITORIALPHOTOGRAPHY
88
EDISI XIII / 2008
EDITORIALPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 89
EDITORIALPHOTOGRAPHY
90
EDISI XIII / 2008
EDITORIALPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 91
EDITORIALPHOTOGRAPHY
gan network dengan media asing juga
harus dibangun dengan baik.
Namun dari sekian banyak kenikmatan
yang dirasakan Edy pada jalur free-
lance, Edy juga merasakan beberapa
masalah yang mau tak mau harus
dihadapi sebagai fotografer freelance.
“Masalah yang pertama adalah menge-
nai hak cipta. Banyak di Indonesia yang
belum tahu masalah ini. Selanjutnya
adalah akses yang terbatas terutama
ke instansi pemerintah. Misalnya
ketika mau meliput di Istana, Seorang
fotografer yang bekerja pada suatu
media akan dengan mudah masuk
dengan tanda pengenalnya. Namun
seorang freelance akan sulit diterima
karena kartu pengenalnya tidak me-
wakili sebuah media.” Jelasnya. “Semen-
tara di luar negeri, fotografer lepasan
sama mudahnya keluar masuk instansi
pemerintah karena mereka menge-
nal photo agency tempat fotografer
freelance bernaung. Sementara di
sini, mereka nggak kenal dan nggak
begitu percaya denagn photo agency.”
Sambugnya.
Masalah lain yang sering dihadapi Edy
sebagai freelance adalah standarisasi
harga. “Kalau kita bekerja untuk sebuah
media, semua hitungannya sudah jelas
dan sudah baku. Bagus jeleknya sudah
ketahuan di awal. Namun kalau free-
lance seringkali tawar menawar dilaku-
kan. Walaupun kalau untuk media luar
negeri angkanya seringnya lebih ba-
gus. Karena di luar negeri ukuran foto
juga berpengaruh.” Jelasnya. Masalah
terakhir yang juga sering menjadi batu
sandungan sebagai freelance adalah
masalah dukugan fnansial. “Freelance
seringkali harus memiliki fnance back
up yang cukup baik. Ini karena sering-
kali ketika kita memotret kita harus
jalan dulu dan menanggung segala
biaya perjalanan sendiri terlebih da-
hulu. Setelah pekerjaan selesai, bisa 1-2
bulan baru dibayar. Tapi kalau di luar
negeri cukup fair. Misalnya saja di Getty
Images, segala expenses ditanggung
unlimited tapi tidak termasuk alcohol.”
Jelasnya. “Namun walaupun tidak ada
batas, kita tetap tahu diri lah, jangan
pilih hotel yang super mahal. Pilih yang
wajar-wajar saja.” Sambungnya.
Untuk mengatasi berbagai macam
permasalahan tadi, Edy menyarankan
seorang fotorgafer freelance harus
membina reputasi dan network. “Perlu
“Diskusilah
dengan siapa
pun. Karena dari
situ wawasan
kita akan
banyak
terbuka.”
92
EDISI XIII / 2008
EDITORIALPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 93
EDITORIALPHOTOGRAPHY
94
EDISI XIII / 2008
EDITORIALPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 95
EDITORIALPHOTOGRAPHY
96
EDISI XIII / 2008
EDITORIALPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 97
EDITORIALPHOTOGRAPHY
98
EDISI XIII / 2008
EDITORIALPHOTOGRAPHY
EDISI XIII / 2008 99
SURFINGPHOTOGRAPHY
diingat, tuntutan kemampuan se-
orang fotografer freelance lebih tinggi
dibanding fotografer tetap. Ini men-
cakup aspek manajemen, accounting,
bahasa, dan yang sudah pasti kemam-
puan fotografnya.”Tegasnya.
Bagi fotografer-fotografer muda, Edy
berpesan untuk rajin ikut workshop,
walaupun harus tetap selektif. “Diskusi-
lah dengan siapapun. Karena dari situ
wawasan kita akan banyak terbuka.”
Ujarnya. “Jangan memahami fotograf
hanya sekedar alat/teknis nya saja. Tapi
perkaya dengan non teknisnya. Cari
referensi di luar fotograf, mulai dari
flm hingga buku. Dengan begitu kita
bisa memperkaya pikiran kita.” Sam-
bungnya.
Edy melihat banyak fotografer yang
kurang mau terbuk terhadap hal yang
baru. “Misalnya kasodohan. Dari dulu
liputannya selalu gitu-gitu saja kalau
nggak landscape, ya human inter-
est. Padahal Kasodohan bisa dikemas
menjadi satu cerita yang berbeda dari
angle lain, misalnya dari benda-benda
di sekeliling situ.”Tutupnya.
“Jangan mema-
hami fotograf
hanya sekedar
alat/teknis nya
saja. Tapi perka-
ya dengan non
teknisnya. Cari
referensi di luar
fotograf, mulai
dari flm hingga
buku. Dengan
begitu kita bisa
memperkaya
pikiran kita.”
100
EDISI XIII / 2008
THELEPASAN
EDISI XIII / 2008 101
THELEPASAN
Rene Descartes, yang dianggap sebagai bapak flsafat atau ilmu pengetahuan
modern, berpendirian bahwa semua ilmu pengetahuan seharusnya hanya ber-
muara dari satu metode saja, yaitu metode yang ia ciptakan sendiri, je pense donc
je suis atau cogito ergo sum (aku ragu-ragu/berpikir maka aku ada). Tidak ada
ilmu pengetahuan yang berdiri di atas metodologi yang valid kalau tidak mulai
dari “le doute methodique” (metode kesangsian) ini. Berpikir/meragu-ragukan
berarti mengadakan suatu jarak dengan objek yang bersangkutan, apapun objek
itu. Kepastian yang nanti ditemukan merupakan kegiatan akal budi semata-mata.
Jadi, akal budi merupakan “satu-satunya sumber” atas segala hal yang ada di
dunia untuk diilmiahkan.
Dua abad kemudian, Georg Wilhelm Friedrich Hegel, dengan jumawa mem-
proklamirkan bahwa flsafatnyalah yang paling benar di dalam sejarah flsafat
sistematik, sejak flsafat Yunani Kuno sampai ke ujung zaman yang entah kapan
itu akan berakhir. Tepatnya, semua flsafat yang pernah ada, yang saat ini ada,
GOOD PICTURE
ATAWA
GAMBAR INDAH
Oleh: Siddhartha Sutrisno
(Bagian 1)
“Manusia berpikir, Tuhan pun tertawa”
(Milan Kundera)
Prolog: Dogmatisme dan Anti Dogmatisme
dan yang akan ada, dapat dimasukkan
dalam sistem flsafatnya.
Cartesian doubt/Rasionalisme Des-
cartes dapat disebut sebagai sumber
dari kemunculan totalitarianisme ber-
pikir. Ia memang dapat secara meya-
kinkan menunjuk rasio manusia seba-
gai substansi mental yang mengatasi
segala-galanya. Berarti selesailah sudah
pencarian manusia bagi pembangunan
pengetahuan secara esensial, Final!
Benarkah?
Alkisah, sebelum ajalnya, Karl Marx
sempat memprotes para pengikutnya,
bahwa dirinya yang bernama Marx
tidaklah identik dengan Marxisme. Arti-
nya, kelahiran pemikiran/aliran yang
dogmatis sebenarnya tidak langsung
bersangkut-paut dengan sang pemikir
yang dianggap memelopori aliran
tersebut, namun disebabkan pemikiran
itu telah dimodifkasi oleh penganut-
penganutnya untuk di propagandakan
sebagai satu-satunya kebenaran.
Good Picture atawa Gambar Indah,
dalam hal ini mau tak mau harus
menunjuk. Menunjuk kepada apa yang
disebut dengan fotograf, fotograf yang
baik (jika itu ada, bukankah dalam
flsafat, yang ada dan mungkin ada,
Tulisan ini lebih
memilih perbin-
cangan, sem-
bari mengingat
kembali, sambil
menjelajah ke
berbagai masa,
juga menemui
arogansi, sam-
bil bersyair,
menyanyi, me-
lukis, dan ber-
hitung. Demi
suatu proses,
pencarian ten-
tang good pic-
ture, pun jika itu
ada. Tulisan ini
memilih untuk
anti dogmatis!
102
EDISI XIII / 2008
THELEPASAN
EDISI XIII / 2008 103
THELEPASAN
semuanya adalah ada). Pertanyaannya,
seperti apa fotograf yang baik? Jika,
tulisan ini mengejar apa defnisi good
picture, niscaya hanya akan menjadi
indoktrinasi dan pasti mengecewakan
karena sifatnya yang verbal-menggu-
rui. Tulisan ini lebih memilih perbincan-
gan, sembari mengingat kembali, sam-
bil menjelajah ke berbagai masa, juga
menemui arogansi, sambil bersyair,
menyanyi, melukis, dan berhitung.
Demi suatu proses, pencarian tentang
good picture, pun jika itu ada. Tulisan
ini memilih untuk anti dogmatis!
Mencari dan Terus Mencari
Mencari good picture sebenarnya ada-
lah pencarian yang tiada berakhir, sep-
erti jika kita bertanya tentang kosmos,
penuh dengan teka-teki, simpul-simpul
yang membuka sampai akhir. Penjela-
jahan yang tak pasti akan isi maupun
batas-batasnya. Ibarat seorang fo-
tografer yang bermaksud memotret
wajah kosmos. Dengan segala daya
pemikiran, imajinasi, intuisi, dan alat
potret yang ada di tangan. Ia seolah
tahu wajah itu indah, karena ia mem-
punyai “data” mengenai hidung, alis,
dan mata si wajah. Akan tetapi, sebera-
pakah pesek hidungnya? Seberapakah
tipis alisnya? Seberapakah pedih sinar
matanya? Semua tetap rekaan yang
tidak pernah dapat ia ujikan. Keinda-
han sebagai kosmos yang tampil ke
hadapannya selalu saja berupa sebuah
ketakselesaian; seraut wajah tak
dikenal di antara begitu banyak wajah
keindahan yang kita bangun untuknya.
Teringat akan sebuah dialog:
“There are more things in heaven and
on earth, Horatio,
Than are dreamt of in your philosophy”
(“Hamlet”, William Shakespeare)
Lewat itu, kosmos, kebaikan, keindahan
adalah sebuah keasingan yang terasa
“begitu perih” karena begitu susah un-
tuk dipahami. Keasingan yang hampir-
hampir mistis sifatnya, seperti warna-
warni cakrawala yang menakjubkan
sekaligus berat membingungkan.
Kebaikan Klasik
Xenophon, dalam tulisannya, “Sympo-
sion”, menyejajarkan arti kata ujud
(morphe) dan penampakan (eidos)
dengan arti kata “indah”. Baginya,
keindahan tidak hanya ditujukan untuk
memberi predikat pada gejala di alam
saja, tetapi juga untuk hasil karya dan
tingkah laku manusia. Pengertiannya
tentang “yang indah” meliputi juga
aspek guna. Bila suatu karya dapat
memenuhi fungsinya sesuai dengan
hakikat tujuan keberadaan benda itu,
maka benda itu indah. Bagi Xenophon,
keberaturan (order) identik dengan
keindahan, karena baginya order
bukan sesuatu yang bersifat formal,
melainkan penampakan dari hierarki
hubungan antar strukturnya. Dalam
bahasa yang lebih sederhana, kein-
dahan memiliki arti lebih dari sekedar
estetika karena sudah merambah pada
pandangan hidup. Seperti yang ia kata-
kan: “Keindahan bukanlah hasil ciptaan
subjektif dari individu tertentu, tetapi
merupakan realitas ontologis”.
Pythagoras, mengungkapkan bahwa
seluruh universum dapat disimpul-
kan dengan angka-angka. Baginya,
matematika adalah hukum dasar dunia
dan karenanya juga menjadi hukum
Tidak ada ilmu
pengetahuan
yang berdiri di
atas metodologi
yang valid ka-
lau tidak mulai
dari “le doute
methodique”
(metode kes-
angsian)
Lewat itu, kosmos,
kebaikan, keinda-
han adalah sebuah
keasingan yang
terasa “begitu
perih” karena begi-
tu susah untuk di-
pahami. Keasingan
yang hampir-ham-
pir mistis sifatnya,
seperti warna-war-
ni cakrawala yang
menakjubkan seka-
ligus berat
membingungkan.
104
EDISI XIII / 2008
THELEPASAN
EDISI XIII / 2008 105
THELEPASAN
keindahan. Ketika hukum Kepler lahir,
ia mengingatkan orang pada kerind-
uan Pythagoras akan harmoni bilangan
serta keunggulan geometri. Melalui
hukum itu pula, kita diajak mendengar
bumi melantunkan mi-fa-mi dalam
kunci nada G. Dengan sedih, Kepler
menafsirkannya sebagai bumi yang
merintih dengan suara alto sepanjang
tahun…MIsery…FAmine…MIsery.
Dalam liriknya, Sappho, mengatakan
bahwa yang indah (das Schone) hany-
alah untuk mata, tetapi yang baik (das
Gute) akan dengan sendirinya indah.
Dalam liriknya, arti kata indah dipakai
untuk menggambarkan kesempurnaan
fsikal (badaniah) dengan pengertian
adanya jiwa yang indah, atau sifat luhur
sebagai pengejawantahan sifat baik
yang hanya dipunyai oleh manusia.
Plato dapat dikatakan yang pertama
membahas term “indah” dan “baik”
dengan rinci. Dalam pengertiannya,
indah berarti penampakan suatu vi-
sual, tersirat di dalamnya harmoni dan
spiritual. Meskipun yang spiritual tidak
tertangkap oleh indra manusia, karena
spiritualitas selalu dalam kerangka
hukum harmoni, dengan sendirinya
yang spiritual pun terkait dalam arti
kata indah.
Ernesto Grassi dalam interpretasinya
terhadap Homer menyatakan bahwa
arti kata indah memiliki makna yang
lebih jauh dari estetika karena men-
gandung unsur “pemutlakan pandan-
gan dan nilai” (Verabsolutierung der
Vorstellungen und der Werte).
Uraian sederhana di atas hanya meru-
pakan kerangka umum untuk mencari
keindahan gambar/foto dari “sudut
pandang seni” dalam kebudayaan
klasik. Hakikat kehadiran seni pada
kebudayaan klasik (pada kenyataan-
nya pengaruhnya masih begitu kuat
kita rasakan atas pengaruhnya dalam
fotograf sampai saat ini) bertumpu
pada tiga sebab utama, yaitu: mimesis,
mythos, dan praxis.
Mimesis merupakan dasar untuk
memahami. Pengertiannya harus
lebih kontekstual, tidak terbatas pada
semantik. Mimesis maksudnya tidak
hanya meniru gejala visual saja, tetapi
juga menampakkan sifat-sifat spiritual
dari objek yang ditiru, terutama sifat-
sifat indahnya, seperti yang digam-
barkan dalam teori dunia idea dengan
hierarki teleologi yang dilahirkan Plato.
Dalam liriknya,
Sappho, men-
gatakan bahwa
yang indah
(das Schone)
hanyalah un-
tuk mata, tetapi
yang baik (das
Gute) akan den-
gan sendirinya
indah.
Mencari good
picture sebe-
narnya adalah
pencarian yang
tiada berakhir,
seperti jika kita
bertanya ten-
tang kosmos,
penuh dengan
teka-teki, sim-
pul-simpul yang
membuka sam-
pai akhir. Pen-
jelajahan yang
tak pasti akan isi
maupun batas-
batasnya.
106
EDISI XIII / 2008
THELEPASAN
EDISI XIII / 2008 107
THELEPASAN
Praxis seni adalah suatu cara yang
khusus untuk mengetengahkan
“dengan sesuatu” (materi), “sesuatu” (isi
mimesis), dan “melalui sesuatu” (bentuk
atau media mimesis) menjadi “sesuatu”
yang baru. Kesatuan antara materi,
isi, dan bentuk bila diolah dengan
“bahasa seni” hasilnya adalah objek
trasendensi. Melalui objek itu manusia
dapat menemukan kebenaran. Isi atau
hakikat kebenaran itu sifatnya “baik”
dan bentuk itu “indah”
Sehingga, kebaikan atau keindahan
suatu karya dengan ukuran kebu-
dayaan klasik adalah: dengan meniru,
tiruan kenyataan fsik dan spirit-manu-
sia dan alam-dan tiruan dari sifat-sifat
baik, unggul, dan indah dari aspek
spiritual objek seni/gambar/foto. Jelas
terlihat permasalahan estetika klasik
tentang keindahan bukanlah produk
manusia, yang indah adalah penampa-
kan dari order yang lebih tinggi. Seni
adalah kemampuan manusia mencapai
transendensi. Hal yang masih begitu
sesuai dengan pengertian kita tentang
keindahan dapat dilacak dari tulisan
Aristoteles dalam Metaphysics, 1078a
ketika ia bicara tentang “symmetria”
atau proporsi.
The chief forms of beauty are order and
symmetry and defnetness, which the
mathematical sciences demonstrate in
special degree.
Alles ist Zahl, Semuanya adalah Angka
Rumus-rumus komposisi yang acap
kali kita bicarakan, misalnya: rumus
sepertiga, golden number, perspektif,
proporsi, dan sebagainya barangkali
tidak cukup memadai untuk menjawab
rasa penasaran jika hanya dikatakan
dengan pendekatan “feeling”. Baiklah
(kali ini sedikit teknis), darimana itu
berasal?
Principles of Vitruvius, yaitu Order atau
keteraturan dalam memilih elemen,
konsisten dalam skala, logika hubun-
gan antar elemen. Eurithmy yaitu
keserasian antar elemen dan proporsi
yang baik sesuai antar dimensi lebar,
tinggi, dan kedalaman. Symmetry
adalah keseimbangan antarbagian.
Propriety adalah keterpaduan antar
gaya atau prinsip bentuk tertentu
yang menjadikan sosok yang sesuai
dan konsisten. Economy menunjukkan
manajemen pelaksanaan yang baik
dan biaya yang masuk akal. (Semuanya
masih kita pergunakan sampai saat ini
bukan?)
Matematika Euklids, logika Aristoteles,
ajaran Phytagoras, dan konsepsi Vitru-
vius menjadi dasar para seniman untuk
mengembangkan karyanya.
Tradisi berpikir Pythagorean mengang-
gap angka 1, 2, 3, dan 4 sangat pent-
ing dan sempurna. Angka-angka ini
dapat divisualisasikan menjadi segitiga
yang sempurna, tetraktys (ingat teori
komposisi segitiga?), yaitu susunan
angka yang runtun dan berjarak sama.
Euklids menyatakan bahwa 1 + 2 + 3 +
4 = 10 adalah “terangkumnya yang ja-
mak menjadi kesatuan” dimana angka
“sepuluh” adalah angka yang sangat
108
EDISI XIII / 2008
THELEPASAN
EDISI XIII / 2008 109
THELEPASAN
penting dan berarti dalam konstelasi
angka. Pythagorean melihat harmoni
adalah suatu yang sangat berharga,
indah, dan bermanfaat bagi kemanu-
siaan, tetapi harmoni juga mempunyai
dasar-dasar objektiftas. Harmoni
adalah hal mendasar dalam matema-
tika. Mazhab ini percaya bahwa prinsip
“keberadaan”, karena semua yang
berbentuk dan “menjadi ada” terdiri
atas satuan angka. Dengan angka,
yang hadir di alam ini bisa terukur dan
berbentuk. Kosmos terdiri atas elemen
terukur yang dimanifestasikan dengan
angka. Hubungan antar elemen ini
dalam kosmos tunduk pula pada suatu
keteraturan (order) dan keseimbangan
yang sempurna (Harmonie) sehingga
Pythagorean berpendapat bahwa
“angka” adalah manifestasi hukum-hu-
kum alam. Karena alam itu sempurna
dalam segala hal, maka angka juga
merupakan manifestasi dari hukum-
hukum keindahan, keindahan alamiah
atau keindahan hasil karya manusia.
Plato beranggapan bahwa manusia
dibekali kemampuan dan kepekaan
rasa dan kerinduan pada order, ukuran,
proporsi, dan harmoni.
Leonardo da Pisa menemukan seri
angka yang terdiri atas deretan angka,
dimana angka selanjutnya merupakan
penjumlahan angka-angka sebel-
umnya, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, dst. Seri
ini disebut angka Fibonacci. Dengan
seri ini dapat disusun proporsi yang
seimbang.
Golden Number atau Angka Emas
(dalam teori komposisi ada yang
menyebutnya golden section, misalnya
sering kita pakai saat memotret tebing
dan pantai). Angka ini diperoleh dari
perbandingan panjang pada sebuah
garis yang dibagi menjadi dua bagian.
Bila bagian garis yang panjang dibagi
dengan bagian yang pendek perband-
ingannya sama dengan bila garis yang
panjang ditambah yang pendek dibagi
dengan bagian yang panjang, yaitu
sama dengan 1.618.
Angka Emas atau phi, diambil dari
bagian depan nama Phidias, pematung
pada bangunan Parthenon di Yunani.
Pada masa Renaisans angka ini diang-
gap angka keramat, hingga disebut
“Divine Proportion”.
Singkat kata, bertolak dari rasio per-
bandingan Golden Number, ditemukan
Golden Rectangle. Proporsi segi empat
emas diterima banyak orang sebagai
yang paling harmonis. Selain kualitas
estetisnya, yang menarik dari proporsi
ini adalah segi matematisnya yang
“Keindahan
bukanlah hasil
ciptaan subjek-
tif dari individu
tertentu, tetapi
merupakan real-
itas ontologis”.
indah berarti
penampakan
suatu visual,
tersirat di da-
lamnya harmoni
dan spiritual.
Meskipun yang
spiritual tidak
tertangkap oleh
indra manusia,
karena spiritu-
alitas selalu da-
lam kerangka
hukum har-
moni, dengan
sendirinya yang
spiritual pun
terkait dalam
arti kata indah.
110
EDISI XIII / 2008
THELEPASAN
EDISI XIII / 2008 111
THELEPASAN
unik, karena dengan rasionya ia dapat
dibagi sampai tak terbatas. Karena
sifatnya yang sangat khas, mazhab
Pythagoras dengan sadar menggu-
nakan pentagram yang bertolak dari
perbandingan Golden Number dan
Golden Rectangle sebagai simbol
mereka.
Proporsi 1 : 0,618 merupakan angka
perbandingan yang dapat ditemu-
kan dimana-mana, dari Parthenon di
Athena sampai Borobudur di Mage-
lang. Menunjukkan sifat universal dari
proporsi ini. (Mungkin juga fotograf
anda. Apakah fotograf anda termasuk
good picture dalam hal ini?)
Perspektif yang merupakan temuan
Renaisans pada dasarnya terjadi bila
di atas bidang gambar terdapat dua
garis vertikal sejajar yang bertemu
pada suatu titik yang disebut Vanishing
Point. VP selalu berada pada garis ho-
rizon, atau ketinggian mata pengamat.
Alberti, penemu perspektif ini, mem-
beri contoh bila sebuah bidang dibagi
menjadi kotak-kotak yang sama, den-
gan garis vertikal dan garis lateral yang
sama ukurannya, maka dalam peng-
gambaran perspektifnya garis-garis
vertikal akan bertemu di titik VP pada
garis horizon (ketinggian titik pan-
dang), dan garis lateral akan berjarak
semakin pendek ke arah titik VP. Untuk
menentukan jarak garis lateral, yang
menunjukkan kedalaman ruang, telah
dikembangkan berbagai metode.
Sampai disini, saya jadi teringat
Socrates ketika selalu mengatakan,
“Saya tak tahu apa-apa!” kepada lawan
dialognya. Prinsip dialog ini yang ke-
mudian membidani dialektika. Ah, apa
pula maksudnya? Untuk mengakhiri
bagian pertama ini sambil pamit undur
saya meminjam Nietzsche, “Membuat
orang gelisah adalah tugas saya!”
(Bersambung).
The chief forms
of beauty are
order and sym-
metry and de-
fnetness, which
the mathemati-
cal sciences
demonstrate in
special degree.
112
EDISI XIII / 2008
THEADVERTORIAL
EDISI XIII / 2008 113
THEADVERTORIAL
114
EDISI XIII / 2008
THEFRESHMEN
EDISI XIII / 2008 115
THEFRESHMEN
Pada penampilan perdana rubrik ini kami menghadirkan seorang fotografer semi
professional yang jika dilihat dari hasil karyanya cukup layak untuk menjadi pem-
buka rubrik ini. Ia adalah Iqbal Abidin. Kami menemukan Iqbal dari mailing list
kami ketika kami membuka kesempatan bagi semua fotografer semi professional
dan amatir untuk bisa mengisi rubrik ini.
Iqbal mempelajari fotograf untuk pertama kalinya dari ayahnya yang juga sering
memotret wedding. Namun Iqbal tidak pernah berencana untuk menjadi fo-
tografer. Latar belakang pendidikannya pun adalah komunikasi. Setelah sempat
tidak menyelesaikan sekolahnya di New Zealand, Iqbal kembali ke Indonesia dan
mengambil jurusan komunikasi di London School of Public Relation. Di sana ia
bertemu dengan Tigor Siahaan yang merupakan dosen mata kuliah fotograf.
Perjumpaannya denan Tigor rupanya memicunya terjun lebih serius lagi ke dunia
fotograf. Perlahan-lahan Iqbal mulai berani memanfaatkan fotograf untuk meng-
hasilkan uang. Sama seperti kebanyakan fotografer, Iqbal mulai make money dari
fotograf wedding. Merasa cukup kenyang di fotograf wedding, Iqbal memu-
tuskan untuk mulai terjun ke komersil atau pemotretan iklan. Kini Iqbal sudah me-
motret untuk beberapa produk komersil seperti ANZ, BII, OBH, Carrefour, Century,
Menara Peninsula, dan masih banyak lagi.
Setelah mulai lebih serius di bidang komersil, Iqbal mulai tidak tertarik dengan
fotograf wedding. “Saya kalau motret wedding jadi suka ngedumel di depan
IQBAL ABIDIN,
OUR FIRST
FRESHMAN
116
EDISI XIII / 2008
THEFRESHMEN
EDISI XIII / 2008 117
THEFRESHMEN
pelaminan.” Ungkap pria yang juga
mengajar fotograf di TK di bilangan
Jakarta Selatan ini. “Sekarang saya
nggak mau lagi terima kerjaan wed-
ding. Karena jadi berasa nggak bagus.
Setelah motret wedding, foto komersil
saya ikutan sekualitas wedding. Karena
mindsetnya masih mindset wedding.
Makanya lebih baik sekalian saja saya
nggek terima order wedding.” Sam-
bungnya.
Dalam memulai di jalur komersil
Iqbal mengakui kalau ia masih banya
tertolong jalur koneksi. Tapi setidaknya
ia berhasil membuktikan bahwa karya
yang ia hasilkan cukup baik sehingga
ia tetap digunakan bahkan ketika
koneksinya sudah tidak bekerja di pe-
rusahaan tersebut. “Start dari koneksi
nggak apa-apa, tapi yang penting
nggak hanya bergantung pada koneksi
saja. Makanya saya tetap dipakai oleh
perusahaan itu ketika koneksi saya di
perusahaan itu sudah tidak bekerja di
sana.” Jelasnya fotografer yang men-
gaku banyak terinspirasi dari foto-foto
Sam Nugroho dan Anton Ismael ini.
Menanggapi fotografer-fotografer
junior masa kini, Iqbal melihat banyak
orang yang ketika sudah memiliki
kamera ia merasa sudah bisa motret.
“Banyak yang setelah punya kamera
mulai berani cari order pemotretan,
terutama wedding. Padahal itu ba-
haya banget. Motret wedding itu juga
nggak gampang.” Jelasnya. Selain itu
Iqbal melihat begitu banyak pehobi
fotograf yang melakukan olah digital
berlebihan dan tidak sesuai porsi dan
kegunaannya.
Di bidang komersil, Iqbal mengeluh-
kan seringnya terjadi perang harga,
baik antar sesama fotografer maupun
antara fotografer dengan klien. “Har-
usnya ketika klien mencari fotografer,
orientasinya lebih ke kualitas bukan ke
harga.”Tegasnya.
Kini Iqbal menargetkan untuk mem-
perbanyak portfolio yang akan menjadi
bekalnya untuk bisa tetap eksis dan
berkembang di dunia komersil.
118
EDISI XIII / 2008
THEFRESHMEN
EDISI XIII / 2008 119
THEFRESHMEN
120
EDISI XIII / 2008
THEFRESHMEN
EDISI XIII / 2008 121
THEFRESHMEN
122
EDISI XIII / 2008
THEFRESHMEN
EDISI XIII / 2008 123
THEFRESHMEN
124
EDISI XIII / 2008
THEFRESHMEN
EDISI XIII / 2008 125
THEFRESHMEN
126
EDISI XIII / 2008
THEFRESHMEN
EDISI XIII / 2008 127
THEFRESHMEN
128
EDISI XIII / 2008
THEFRESHMEN
EDISI XIII / 2008 129
THEFRESHMEN
130
EDISI XIII / 2008
THEINSPIRATION
EDISI XIII / 2008 131
COVERSTORY
Foto yang digunakan pada cover edisi ini mencoba menunjukkan situasi real dan
tuntutan pekerjaan seorang fotografer professional. Tiga seri foto yang dimodeli
Dewi Sandra ini memang dibuat untuk keperluan iklan produk make up PAC dari
Martha Tilaar. Verly, brand manager PAC mengatakan bahwa tema besar ma-
teri pemotretan ini adalah beauty festive entertainment. Dari segi produk Verly
menjelaskan bahwa rangkaian produk yang ingin dijual memiliki keunggulan
yaitu pada beragamnya pilihan warna. PAC juga ingin menghilangkan kesan dan
persepsi kurang tepat di kalangan fotografer bahwa make up yang bagus untuk
pemotretan akan terlihat tebal dan menyeramkan jika dilihat aslinya. Untuk itu
Verly memilih Gerard Adi yang memiliki banyak pengalaman menangani pe-
motretan produk-produk kecantikan.
Untuk membuat foto agar tidak terlalu berkesan jualan, dibuatlah konsep circus
pada foto-foto tersebut. AR, make up artis yang membantu pemotretan ini men-
gatakan bahwa ia berusaha mencari inspirasi make up dari apa yang ia temui se-
hari-hari. “waktu cari inspirasi make up nya saya nggak berani lihat majalah karena
takut terpengaruh. Jadi saya berusaha cari dari apa yang saya temui sehari-hari.”
Ungkapnya. “Misalnya saja yang seri sirkus, waktu itu inspirasinya datang ketika
saya melihat perempuan dengan rambut hitam dan pakai kacamata orange. Jadi
tiba-tiba tertrigger aja.”Sambungnya.
Untuk seri trapeze AR mendapat inspirasi ketika berangkat ke Bali dan melihat
bule eropa dengan mata ijo kebiru-biruan tapi rambutnya blonde atau putih.
“Tiba-tiba kebayang innocent baby blue.” Ungkapnya.
Sementara satu seri lainnya, AR mencoba berimporvisasi dengan tetap memper-
tahankan benang merah dari dua seri terdahulu namun bermain main dengan
warna pink, ungu, kuning, hitam, dan fuschia.
BEAUTY FESTIVE
ENTERTAINMENT
132
EDISI XIII / 2008
COVERSTORY
EDISI XIII / 2008 133
COVERSTORY
Untuk itu pula treatment lighting yang
digunakan pun dibuat untuk me-
nampilkan make up yang ingin dijual.
“treatment lightingnya treatment
lighting commercial, jadi orientasinya
lebih ke quality. Warna make up yang
ingin di jual harus bisa didapatkan dan
terlihat seperti apa adanya.” Ungkap
Gerard Adi, fotografer yang melakukan
pemotretan ini. “Objectivenya adalah
what you see is what you get. Kar-
ena fotonya dibuat untuk keperluan
“jualan” jadi harus kelihatan seperti
aslinya.” Sambungnya.
Gerard sendiri mengaku banyak meng-
gunakan P-soft dan standart refector.
“Saya sengaja nggak pakai softbox
supaya krispy nya dapat. Satu-satunya
softbox yang saya pakai hanya strip
light untuk memberi highlight.” Jelas
Gerard.
Untuk pembuatan semua seri foto ini
Gerard melakukan composing 2 foto
yaitu model dan background. Gerard
menganggap composing dua foto ini
harus dilakukan untuk mendapatkan
tretment lighting yang sempurna baik
pada model maupun pada back-
ground. Walaupun begitu, treatment
lighting yang dibuat baik untuk obyek
maupun untuk model harus diperha-
tikan dengan baik agar tidak saling
tabrak dan terlihat tidak masuk akal.
Arah lighting harus sesuai antara
model dan background.
134
EDISI XIII / 2008
COVERSTORY
EDISI XIII / 2008 135
COVERSTORY
136
EDISI XIII / 2008
COVERSTORY
EDISI XIII / 2008 137
COVERSTORY
138
EDISI XIII / 2008
COVERSTORY
EDISI XIII / 2008 139
WHERETOFIND
JAKARTA
Telefkom Fotograf
Universitas Prof. Dr. Moestopo (B),
Jalan Hang Lekir I, JakPus
Indonesia Photographer
Organization (IPO)
Studio 35, Rumah Samsara, Jl.
Bunga Mawar, no. 27, Jakarta
Selatan 12410
Unit Seni Fotograf IPEBI (USF-
IPEBI)
Komplek Perkantoran Bank
Indonesia, Menara Sjafrud-
din Prawiranegara lantai 4, Jl.
MH.Thamrin No.2, Jakarta
UKM mahasiswa IBII, Fotograf
Institut Bisnis Indonesia (FOBI)
Kampus STIE-IBII, Jl Yos Sudarso
Kav 87, Sunter, Jakarta Utara
Perhimpunan Penggemar
Fotograf Garuda Indonesia
(PPFGA)
PPFGA, Jl. Medan Merdeka Selatan
No.13, Gedung Garuda Indonesia
Lt.18
Komunitas Fotograf Psikologi
Atma Jaya, JKT
Jl. Jendral Sudirman 51, Ja-
karta.Sekretariat Bersama Fakultas
Psikologi Atma Jaya Ruang G. 100
Studio 51
Unversitas Atma Jaya, Jl. Jendral
Sudirman 51, Jakarta
Perhimpunan Fotograf Taru-
manegara
Kampus I UNTAR Blok M Lt. 7 Ruang
PFT. Jl. Letjen S. Parman I JakBar
Pt. Komatsu Indonesia
Jl. Raya Cakung Cilincing Km. 4
Jakarta Utara 14140
LFCN (Lembaga Fotograf
Candra Naya)
Komplek Green Ville -AW / 58-59,
Jakarta Barat 11510
HSBC Photo Club
Menara Mulia Lt. 22, Jl. Jendral
Gatoto Subroto Kav. 9-11, JakSel
12930
XL Photograph
Jl. Mega Kuningan Kav. E4-7 No. 1
JakSel
Kelompok Pelajar Peminat
Fotograf SMU 28
Jl. Raya Ragunan (Depan RS Pasar
Minggu) JakSel
FreePhot (Freeport Jakarta
Photography Community)
PT Freeport Indonesia Plaza 89, 1st
Floor
Jl. Rasuna Said Kav X-7 No. 6
PSFN Nothofagus (Perhimpu-
nan Seni Fotograf PT Freeport
Indonesia)
PT Freeport Indonesia Plaza 89, 1st
Floor
Jl Rasuna Said Kav X-7 No. 6
CybiLens
PT Cyberindo Aditama, Mang-
gala Wanabakti IV, 6th foor. Jl.
Gatot Subroto, jakarta 10270
FSRD Trisakti
FSRD Trisakti, Kampus A. Jl. Kyai
Tapa, Grogol. Surat menyurat: jl.
Dr. Susilo 2B/ 30, Grogol, Jakbar
SKRAF (Seputar Kamera
Fikom)
Universitas SAHID Jl. Prof. Dr.
Soepomo, SH No. 84, Jak-Sel
12870
One Shoot Photography
FIKOM UPI YAI jl. Diponegoro no.
74, JakPus
Lasalle College
Sahid Ofce Boutique Unit D-E-F
(komp. Hotel Sahid Jaya). Jl.
Jend Sudirman Kav. 86, Jakarta
1220
Jurusan Ilmu Komunikasi
Universitas Al-Azhar Indo-
nesia
Jl. Sisingamangaraja, Kebayoran
baru, Jak-Sel, 12110
LSPR Photography Club
London School of Public Relation
Campus B (Sudirman Park Ofce
Complex)
Jl. KH Mas Mansyur Kav 35
Jakarta Pusat 10220
FOCUS NUSANTARA
140
EDISI XIII / 2008
WHERETOFIND
EDISI XIII / 2008 141
WHERETOFIND
Jl. KH Hasyim Ashari No. 18, Jakarta
SUSAN + PRO
Kemang raya No. 15 Lt.3, Jakarta
12730
e-Studio
Wisma Starpage, Salemba Tengah
No. 5, JKT 10440
VOGUE PHOTO STUDIO
Ruko Sentra Bisnis Blok B16-17,
Tanjung Duren raya 1-38
Shoot & Print
jl. Boulevard Raya Blok FV-1 no. 4,
Kelapa Gading Permai, jkt
Q Foto
Jl. Balai Pustaka Timur No. 17,
Rawamangun, Jkt
Digital Studio College
Jl. Cideng Barat No. 21 A, Jak-Pus
Darwis Triadi School of Photog-
raphy
jl. Patimura No. 2, Kebayoran Baru
eK-gadgets centre
Roxy Square Lt. 1 Blok B2 28-29, Jkt
Style Photo
Jl. Gaya Motor Raya No. 8, Gedung
AMDI-B, Sunter JakUt, 14330
Neep’s Art Institute
Jl. Cideng Barat 12BB, Jakarta
V3 Technology
Mall ambassador Lt.UG/47. Jl. Prof
Dr. Satrio, Kuningan, Jakarta
Cetakfoto.net
Kemang raya 49D, Jakarta 12730
POIsongraphy
ConocoPhillips d/a Ratu Prabu 2
jl.TB.Simatupang kav 18
Jakarta 12560
NV Akademie
Jl. Janur Elok VIII Blok QG4 No.15
Kelapa Gading permai
Jakarta 14240
BEKASI
Lubang Mata
Jl. Pondok Cipta Raya B2/ 28, Bekasi
Barat, 17134
BANDUNG
PAF Bandung
Kompleks Banceuy Permai Kav A-17,
Bandung 40111
Jepret
Sekretariat Jepret Lt. Basement
Labtek IXB Arsitektur ITB, Jl Ganesha
10, Bandung
Spektrum (Perkumpulan Unit
Fotograf Unpad)
jl. Raya Jatinangor Km 21 Sumed-
ang, Jabar
Padupadankan Photography
Jl. Lombok No. 9S Bandung
Studio intermodel
Jl. Cihampelas 57 A, Bandung 40116
Lab Teknologi Proses Material ITB
Jl. Ganesha 10 Labtek VI Lt. dasar,
Bandung
Satyabodhi
Kampus Universitas Pasundan
Jl. Setiabudi No 190, Bandung
Himpunan Mahasiswa Planologi
(HMP) ITB
Gedung Labtek XI A, Jl Ganesha 10
Bandung 40132
TASIKMALAYA
Eco Adventure Community
Jl. Margasari No. 34 Rt. 002/ 008,
Rajapolah, Tasikmalaya 46155
SEMARANG
PRISMA (UNDIP)
PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa)
Joglo Jl. Imam Bardjo SH No. 1
Semarang 50243
MATA Semarang Photography
Club
FISIP UNDIP
Jl. Imam Bardjo SH. No.1, Semarang
DIGIMAGE STUDIO
Jl. Setyabui 86A, Semarang
Jl. Pleburan VIII No.2, Semarang 50243
Ady Photo Studio
d/a Kanwil Bank BRI Semarang, Jln.
Teuku Umar 24 Semarang
Pandawa7 digital photo studio
Jl. Wonodri sendang raya No. 1068C,
Semarang
Kloz-ap Photo Studio
Jl. Kalicari Timur No. 22 Semarang
DINUSTECH
Jl. Arjuna no. 36, Semarang
50131
SOLO
HSB (Himpunan Seni Ben-
gawan)
Jl. Tejomoyo No. 33 Rt. 03/ 011,
Solo 57156
Lembaga pendidikan seni
dan design visimedia college
Jl. Bhayangkara 72 Solo
YOGYAKARTA
Atmajaya Photography club
Gedung PUSGIWA kampus
3 UAJY, jl. babarsari no. 007
yogyakarta
“UKM MATA” Akademi Seni
Rupa dan Desain MSD
Jalan Taman Siswa 164 Yogya-
karta 55151
Unif Fotograf UGM (UFO)
Gelanggang mahasiswa UGM,
Bulaksumur, Yogya
Fotograf Jurnalistik Club
Kampus 4 FISIP UAJY Jl Babar-
sari Yogyakarta
FOTKOM 401
gedung Ahmad Yani Lt.1
Kampus FISIPOL UPN “Veteran”
Jl Babasari No.1, Tambakbayan,
Yogyakarta, 55281
Jurusan Fotograf
Fakultas Seni Media Rekam
Institut Seni Indonesia
Jl. Parangtritis Km. 6,5 Yogyakarta
Kotak Pos 1210
UKM Fotograf Lens Club
Universitas Sanata Dharma
Mrican Tromol Pos 29 Yogyakarta
55281
SURABAYA
Himpunan Mahasiswa Pengge-
mar Fotograf (HIMMARFI)
Jl. Rungkut Harapan K / 4, Surabaya
AR TU PIC
UNIVERSITAS CIPUTRA Waterpark
Boulevard, Citra Raya. Surabaya
60219
FISIP UNAIR
JL. Airlangga 4-6, Surabaya
Hot Shot Photo Studio
Ploso Baru 127 A, Surabaya, 60133
Toko Digital
Ambengan Plasa B23. jl Ngemplak
No. 30 Surabaya
Sentra Digital
Pusat IT Plasa Marina Lt. 2 Blok A-5.
Jl. Margorejo Indah 97-99 Surabaya
TRAWAS
VANDA Gardenia Hotel & Villa
Jl. Raya Trawas, Jawa Timur
MALANG
MPC (Malang Photo Club)
Jl. Pahlawan Trip No. 25 Malang
JUFOC (Jurnalistik Fotograf
Club)
student Centre Lt. 2 Universitas
Muhammadiyah Malang. Jl. Raya
Tlogomas No. 246 malang, 65144
UKM KOMPENI (Komunitas
Mahasiswa Pecinta Seni)
kampus STIKI (Sekolah Tinggi
Informatika Indonesia) Malang, Jl.
Raya Tidar 100
JEMBER
UFO (United Fotografer Club)
Perum taman kampus A1/16 Jember
68126, Jawa Timur
Univeritas Jember (UKPKM
Tegalboto)
Unit Kegiatan Pers Kampus Maha-
siswa Universitas Jember
jl. Kalimantan 1 no 35 komlek ged.
PKM Universitas Jember 68121
BALI
Magic Wave
Kubu Arcade at Kuta Bungalows
Bloc A3/A5/A6 Jl. Benesari,
Legian-kuta
142
EDISI XIII / 2008
WHERETOFIND
MEDAN
Medan Photo Club
Jl. Dolok Sanggul Ujung No. 4 Samping
Kolam Paradiso Medan, Sumatra Utara
20213
UKM FOTOGRAFI USU
Jl. Perpustakaan no.2 Kampus USU
Medan 20155
BATAM
Batam Photo Club
Perumahan Muka kuning indah Blok
C-3, Batam 29435
PEKANBARU
CCC (Caltex Camera Club)
PT. Chevron Pasifc Indonesia, SCM-
Planning, Main Ofce 229, Rumbai,
Pekanbaru 28271
LAMPUNG
Malahayati Photography Club
Jl. Pramuka No. 27, Kemiling, Bandar
Lampung, 35153. Lampung-Indonesia.
Telp. (0721) 271114
BALIKPAPAN
FOBIA
Indah Foto Studio Komplek Ruko
Bandar Klandasan Blok A1, Balikpapan
76112
PONTIANAK
Pontianak Deviantart
CP: Bryan Tamara
0818198901
KALTIM
Badak Photographer Club (BPC)
ICS Department, System Support
Section, PT BADAK NGL, Bontang,
Kaltim, 75324
KPC Click Club/PT Kaltim Prima
Coal
Supply Department (M7 Buliding),
PT Kaltim Prima Coal, Sangatta
SAMARINDA
MANGGIS-55 STUDIO (Samarin-
da Photographers Community)
Jl. Manggis No. 55 Voorfo, Sa-
marinda Kaltim
SOROWAKO
Sorowako Photographers
Society
General Facilities & Serv. Dept -
DP. 27, (Town Maintenance) - Jl.
Sumantri Brojonegoro, SOROWAKO
91984 - LUWU TIMUR, SULAWESI
SELATAN
GORONTALO
Masyarakat Fotograf
Gorontalo
Graha Permai Blok B-18, Jl.
Rambutan, Huangobotu,
Dungingi, Kota Gorontalo
AMBON
Performa (Perkumpulan
Fotografer Maluku)
jl. A.M. Sangadji No. 57 Am-
bon. (Depan Kantor Gapensi
kota Ambon/ Vivi Salon)
ONLINE PICK UP
POINTS:
www.estudio.co.id
http://charly.silaban.
net/
www.studiox-one.com

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful