You are on page 1of 14

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENEGAKAN HUKUM

1
Pengantar

Sejak di lahirkan manusia telah mempunyai hasrat untuk hudup secara teratur dan selalu
berkembang dalam pergaulan hidupnya. Namu yang di anggap teratur oleh seseorang belum
tentu di anggap teratur juga oleh orang lain. Maka manusia sebagai mahluk solsial memerlukan
perangkat patokan, agar supaya tidak terjadi pertentangan kepentingan sebagai akibat dari
pendapat yang berbeda-beda menegenai keteraturan tersebut. Patokan-patokan tersebut, tidak
lain merupakan pedoman untuk berperilaku secara pantas, yang sebenarnya merupakan suatu
pandangan menilai yang sekaligus merupakan suatu harapan .

Patokan-patokan untuk berperilaku pantas tersebut, kemudian dikenal dengan sebutan


norma atau kaidah. Norma atau kaidah tersebut mungkin timbul dari pandangan-pandangan
mengenai apa yang dianggap baik atau dianggap buruk, yang lazimnya disebut nilai.
Kadangkala, norma atau kaidah tersebut timbul dari pola perilaku manusia (yang ajeg), sebagai
suatu abtraksi dari perilaku berulang-ulang yang nyata.

Norma atau kaidah tersebut, untuk selanjutnya mengatur diri pribadi manusia, khususnya
mengenai bidang-bidang kepercayaan dan kesusilaan. Norma atau kaidah kepercayaan bertujuan
agar manusia mempunyai kehidupan yang beriman, sedangkan norma atau kaidah kesusilaan
bertujuan agar mampu mempunyai hati nurani yang bersih. Disamping itu, maka norma atau
kaidah mengatur pula kehidupan antar pribadi manusia, khususnya mengenai bidang –bidang
kesopanan dan hukum. Norma atau kaidah kesopanan bertujuan agar manusia mengalami
kesenangan atau kenikmatan di dalam pergaulan hidup bersama dengan orang – orang lain.
Norma atau kaidah kesopanan bertujuan agar tercapai kedamaian di dalam kehidupan bersama,
di mana kedamaian berarti suatu keserasian antara ketertiban dengan ketentraman, atau
keserasian antara keterkaitan dengan kebebasan. Itulah yang menjadi tujuan hukum, sehingga
tugas hukum adalah tidak lain daripada mencapai suatu keserasian antara kepastian hukum
dengan kesebandingan hukum.
2
Penegakan Hukum: Inti dan Artinya

Secara konsepsional, maka inti dan arti penegakan hukum terletak pada kegiatan
menyerasikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan di dalam kaidah-kaidah yang mantap dan
mengejawantah dan sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir, untuk
menciptakan, memelihara dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup (Soerjono Soekanto
1979).

Penegakan hukum sebagai suatu proses, pada hakikatnya merupakan penerapan diskresi
yang menyangkut membuat keputusan yang tidak secara ketat diatur oleh kaidah hukum, akan
tetapi mempunyai unsur penilaian pribadi (Wayne LaFavre 1964). Dengan mengutip pendapat
Roscoe Pound, maka LaFavre menyatakan, bahwa pada hakikatnya diskresi berada diantara
hukum dan moral (etika dalam arti sempit)

Masalah pokok daripada penegakan hukum sebenarnya terletak pada faktor-faktor yang
mungkin mempengaruhinya . Faktor-faktor tersebut mempunyai arti yang netral, sehingga
dampak positif atau negatifnya terrletak pada isi faktor-faktor tersebut. Faktor-faktor tersebut,
adalah sebagai berikut :

a. Faktor hukumnya sendiri, yang di dalam tulisan ini akan dibatasi pada Undang-
Undang saja.
b. Faktor penegak hukum yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan
hukum.
c. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakakan hukum.
d. Faktor masyarakat, yakni lingkungan dimata hukum tersebut berlaku atau
diterapkan.
e. Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta dan rasa yang didasarkan
pada karsa menusia di dalam pergaulan hidup.

Kalima faktor tersebut di atas saling berkaitan dengan eratnya, oleh karena merupakan esensi
dari penegakan hukum, juga merupakan tolok ukur dari pada efektivitas penegakanhukum.
3
Undang – Undang

Menurut soerjono soekanto dan purba cara pada tahun 1979, Undang-undang dalam arti
materil adalah peraturan tertulis yang berlaku umum dan di buat oleh penguasa pusat atau pun
daerah yang sah. Maka dengan demikian Undang-undanag mencakup:
a. Peraturan Pusat yang berlaku untuk semua warg negara atau suatu golongan
tertentusaja maupun yang berlaku umum di sebagian wilayah negara.
b. Peraturan setempat yang hanya berlaku di suatu tempat atau daerah saja.

Asas-asas berlakunya undang-undang:

a. Undang-Undang tidak berlaku surut ; artinya, Undang-Undang hanya boleh


diterapkan terhadap peristiwa yang disebut di dalam Undang-Undang tersebut,
serta terjadi setelah Undang-Undang itu dinyatakan berlaku.
b. Undang-Undang yang dibuat oleh penguasa yang lebih tinggi, mempunyai
kedudukan yang lebih tinggi pula.
c. Undang-Undang yang bersifat khusus menyampingkan Undang-Undang yang
bersifat umum, apabila pembuatannya sama. Artinya, terhadap peristiwa khusus
wajib diperlakukan Undang-Undang yagn menyebutkan peristiwa yang lebih luas
ataupun lebih umum, yang juga dapat mencakup peristiwa khusus tersebut.
d. Undang-Undang yang berlaku belakangan, membatalkan Undang-Undang yang
berlaku terdahulu. Artinya, Undang-Undang lain yang lebih dahulu berlaku
dimana diatur mengenai suatu hal tertentu, tidak berlaku lagi apabila ada Undang-
Undang baru yang berlaku belakangan yang mengatur pula hal tertentu tersebut,
akan tetapi makna atau tujuannya berlainanatau berlawanan dengan Undang-
Undang lama tersebut.
e. Undang-Undang tidak dapat diganggu gugat.
f. Undang-Undang merupakan suatu sarana untuk mencapai kesejahteraan spiritual
dan materiel bagi masyarakat maupun pribadi, melalui pelestarian ataupun
pembaharuan (inovasi) Artinya, supaya pembuat Undang-Undang tidak
sewenang-wenang atau supaya Undang-Undang tersebut tidak menjadi huruf
mati, maka perlu dipenuhi beberapa syarat tertentu , yakni antara lain sebagai
berikut :
a) Keterbukaan di dalam proses pembuatan Undang-Undang.
b) Pemberian hak kepada warga masyarakat untuk mengajukan usul-usul
tertentu , memlalui cara-cara , sebagai berikut :
 Penguasa setempat mengungang mereka yang berminat untuk
menghadiri suatu pembicaraan mengenai peraturan tertentu yang
akan dibuat.
 Suatu departemen tertentu emngundang organisasi –organisasi
tertentu untk memberikan masukan bagi suatu rancangan Undang-
Undang yagn sedang disusun.
 Acara dengar pendapat di Dewan Perwakilan Rakyat.
 Pembentukan kelompok-kelompok penasehat yang terdiri dari
tokoh-tokoh atau ahli – ahli terkemuka.

4
Penegakan Hukum

Ruang lingkup dari istilah penegakan hukum sangatlah luas karena mencakup meraka
yang secara langsung berkecimpung di bidang penegakan hukum. Seorang penegak hukum,
sebagaimana halnya dengan warga-warga masyarakat lainnnya, lazimnya mempunyai beberapa
keduduka dan peranan sekaligus. Dengan demikian tidaklah mustahil, bahwa antara pelbagai
kedudukan dan peranan timbul konklik (“status- conflict” dan conflict of roles”). Kalau di dalam
kenyataannya terjadi suatu kesenjangan antara peanan yang seharusnya dengan peranan yang
sebenarnya dilakukan atau peranan aktual,maka terjadi suatu kesenjangan peranan (“role-
distance”).
Masalah peranan dianggap penting, oleh karena pembahasan mengenai penegak hukum
sebenarnya lebih banyak tertuju pada diskresi. Di dalam penegakkan hukum diskresi sangatlah
penting karena :
a. Tidak ada perundang-undangan yang sedemikian lengkapnya, sehingga dapat
mengatur semua perilaku manusia.
b. Adanya kelambatan-kelambatan untuk menyesuaikan perundang-undangan
dengan perkembangan-perkembangan di dalam masyarakat, sehigga
menimbulkan ketidakpastian.
c. Kurangnya biasa untuk menerapkan perundang-undangan sebagaimana yang
dikehendaki oleh pembentuk undang-undang.
d. Adanya kasus-kasus individual yang memerlukan penanganan secara khusus.

5
Faktor Sarana Atau Fasilitas

Tanpa danya sarana atau fasilitas tertentu, maka tidak mungkn penegakan hukum akan
berlanjut dengan lancar. Sarana atau fasilitas tersebut, antara lain, mencakup tenaga manusia
yang berpendidikan dan trampil, organisasi yang baik, pealatan yang memadai, keuangan yang
cukup, dan seterusnya. Kalau hal-hal itu tidak terpenuhi, maka mustahil penegakan hukum akan
mencapai tujuannya. Agar masalah tersebut dapat difahami dengan mudah, akan disajikan suatu
contoh mengenai proses peradilan.
Di dalam pembicaraan mengenai penegak hukum dimuka, telah disinggung perihal hasil
penelitian yang pernah dilakukan terhadap hambatan pada proses banding dan kasasi perkara-
perkara pidana. Dari hasil-hasil penelitian yang sama, dapat pula diperoleh data mengenai faktor-
faktor penghambat proses penyelesaian dalam proses bandingdan kasasi tersebut, menurut
kalangan penegak hukum tertentu. Secara visual dan kuantitatif gambarannya adalah sebagai
berikut (dikutip dari lampiran 13 laporan penelitian tersebut):

HAKIM JAKSA PEMBELA


1. Terlampau banyak kasus 58% (11) 50% 41,18%
2. Berkas yang tidak lengkap 79% (15) 35% 35,3%
3. Rumitnya perkara 52,63% (10) 30% 30%
4. Kurangnya komunikasi antar 42% (8) 30% 35,3%
Pengadilan
5. Kurangnya sarana/fasilitas 52,63% (6) 40% 65%

6. Adanya tugas sampingan 31,58% (6) 10% 24%

Di dalam suatu lokakarya yang pernah diadakan di Kota Venesia pada tahun 1970, telah
diidentifikasikan beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya hambatan didalam proses
penyesuaian perkara.

Faktor-aktor di atas menkup ruang lingkup yang sangat luas, akan tetapi memang
demikianlah halnya. Kalau hal tersebut diatas dihubungkan dengan tabel yang disajikan dimuka,
maka pembicaraan mungkin dapat dibatasi pada kurangnya tenaga hakim(sehingga kasus
terlampaui banyak). Untuk mengatasi masalah tersebut, lazimnya diusulkan agar diadakan
penambahan hakim ( halmana benar) dan sarana tertentu ( seperti misalnya komputer). Apakah
usul-usul tersebut sudah lengkap? Mengapa hal itu, Posner berpendapat, bahwa (Richard . Posner
1977).

“These suggestions ignore the role of pricing both in the cretion of court delay and in the
formation of effective methods of relieving it”

Ada baiknya untuk mengetengahkan penjelasan Posner mengenai pendapatnya tersebut,


di dalam rangka pembicaraan mengenai sarana atau fasilitas pendukung penegakan hukum.
Akibatnya penyelesaian perkara di Pengadilan.

Adaya hambatan penyelesaian perkara bukanlah semata-mata disebabkan karena


banyaknya perkara yang harus diselesaikan, sedangkan waktu untuk mengadilinya atau
menyelesaikannya adalah terbatas. Permintaan akanudang, misalnya juga besar dan kapasitas
untuk memenuhi permintaan tersebut juga terbatas. Para pencari keadilan harus antri menunggu
penyelesaian perkaranya, akan tetapimereka tidak harus antri untuk membeli udang, oleh karena
waktu untuk menyelesaikan perkara tidak dicatu oleh harga sedangkan udang dicatu harganya.
Kalau permintaan akan udang lebih cepat meningkatnya dari penyediaannya, maka harga akan
naik, sampai permintaan dan penyediaan serasi kembali. Suatu cara sistematik yang dikenakan
pada pencari keadilan untuk melakukan pembayaran sesuai dengan keinginannya agar perkara
diselesaikan dengan cepat, akan mempunyai efek yang sama.
Kalau yang dilakukan hanyalah menambah jumlah hakim untuk menyelesaikan masalah
perkara, maka hal itu hanya mempunyai dampak yang sangat kecil di dalam usaha untuk
mengatasi hambatan-hambatan pada penyelesaian perkara, terutama dalam jangka panjang.
Posnet mengibaratkannya dengan pembangunan jalan bebas hambatan, untuk mengatasi
kemacetan lalu lintas. Kalau jalan bebas hambatan tersebut sudah selesai dibangun dan pemakai
jalan mulai menikmatinya, maka akan timbul keinginan yang kuat untuk selalu mempergunakan
jalan bebas hambatan tersebut, sehingga nantinya akan timbul kemacetan lagi. Oleh karena itu
yang perlu diperhitungkan tidaklah hanya biaya.

Dari penjelasan di atas nyata pula, bahwa sarana ekonomis ataupun biaya daripada
pelaksanaan sanksi-sanksi negative diperhitungkan, dengan berpegang pada cara yang lebih
efektif dan efisien, sehungga biaya dapat ditekan dalam program-program pemberantasan
kejahatan jangka panjang. Kepastian (“certainty”) di dalam penanganan perkara maupun
kecepatannya, mempunyai dampak yang lebih nyata, apabila dibandingkan dengan peningkatan
sanksi negative belaka. Kalau tingkat kepastian dan kecep[atan penanganan perkara ditingkatkan,
maka sanksi-sanksui negative akan mempunyai efek menakuti yang lebih tinggi pula, sehingga
akan dapat mencegah peningkatan kejahatan maupun residifisme.

Kepastian dan kecepatan penanganan perkara senantiasa tergantung pada masukan


sumber daya yang diberikan didalam program-program pencegahan dna pemberantasan
kejahatan. Peningkatan teknbologi deteksi kriminalitas umpamanya, mempunyai peranan yang
sangat penting bagi kepastian dan kecepatanpenanganan perkara-perkara pidana.

Dengan demikian dapatlah disimpulkan, bahwa sarana atau fasulitas mempunyai peranan
yang sangat penting di dalam penegakan hukum tanpa adanya sarana atau fasilitas tersebut, tidak
akan mungkin penegak hukum menyerasikan peranan yang seharusnya dengan peranan yang
aktual. Khususnya ungtuk sarana atau fasilitas tersebut, sebaiknya dianuti jalan pikiran, sebagai
berikut (Kurnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto 1983):

a. Yang tidak ada – diadakan yang baru betul,


b. Yang rusak atau salah – diperbaiki atau dibetulkan,
c. Yang kurang – ditambah,
d. Yang macet – dilancarkan
e. Yang mundur atau merosot – dimajukan atau ditingkatkan

6
Faktor Masyarakat

Penegakan hukum-hukum berasal dari masyarakat, dan bertujuan untuk mencapai


kedamaian di dalam masyarakat. Oleh karena itu, dipandang dari sudut tertentu, maka
masyarakat dapat mempengaruhi penegakan hukum tersebut.
Masyarakat Indonesia pada khususnya, mempunyai pendapat pendapat tertentu mengenai
hukum. Pertamatama adalah pelbagai pengertian atau arti yang diberikan pada hukum, yang
variasinya adalah sebagai berikut:

a. Hukum diartikan sebagai ilmu pengetahuan


b. Hukum diartikan sebagai disiplin, yakni sistem ajaran tentang kenyataan,
c. Hukum diartikan sebagai nirma atau kaidah, yakni patokan perilaku pantas yang
diharapkan.
d. Hukum diartikan sebagai kata hukum (yakni hukum posiif tertulis)
e. Hukum diartikaan sebagai petugas ataupun pejabat
f. Hukum diartikan sebagai keputusan pejabat atau pebguasa
g. Hukum diartikan sebagai proses pemerintahan
h. Hukum diartuikan sebagai perilaku teratur dan unik,
i. Hukum diartikan sebagi jaminan nilai,
j. Hukum diartikan sebagai seni

Dari sekian banyaknya pengertian yang diberikan masyarakat, untuk mengartikan hukum
dan bahkan mengidentifikasikannya dengan pertugas (dalam hal ini penegak hukum sebagai
pribadi). Salah satu akibatnya adalah, bahwa baik buruknya hukum senantiasa dikaitkan dengan
pola perilak penegak hukum tersebut, yang menurut pendapatnya merupakan pencerminan dari
hukum sebagai struktur maupun proses. Untuk jelasnya, akan dikemukakan suatu contoh yang
diambil dari suatu unsure karangan penegak hukum, yakni polisi yang dianggap sebagai hukum
oleh masyarakat luas (di samping unsurunsur lainnya, seperti misalnya, hakim, jaksa, dan
seterusnya).
Warga masyarakat rata-reata mempunya harapan kepada polisi untuk bisa menyelesaikan
masalah-masalah yang ada di masyarakat dan melindungi masyarakat tanpa memperhitungkan
apakah polisi tersebut baru selesai sekolah kepolisian yang masih belum mempunyai pengalaman
sama sekalai atau pun polisi yang sudah berpengalaman. Pengaharapan masyarakat tersebut juga
di tujukan kepada polisi yang berpangkat rendah sampai yang tinggi padahal jika di tinjau dari
tingkat pendidikan dan pangkat jelas terdapat perbedaan anatara polisi tersebut.

Maka layaknya angkatan perang yang harus siap sedia untuk bertempur, maka seorang
polisi juga harus siap menghadapi semua masalah-masalah yang terjadi di masyarakat dan harus
pula bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan stratifikasi-stratifikasi sosaial yang ada di
masyarakat serta lembaga-lembaga social yang ada di masyarakat. Dengan mengetahui dan
memahami hal-hal tersebut, maka terbukalah jalan untuk dapat mengidentifikasikan nilai-nilai
dan norma-norma atau kaidah-kaidah yang berlaku di lingkungan tersebut. Pengetahuan serta
pemahaman terhadap nilai-nilai seta norma-norma atau kaidah-kaidah sangat penting di dalam
pekerjaan menyelesaikan perselisihan-perselisihan yang terjadi (ataupun yang bersifat potensial).
Di samping itu akan dapat diketahui (serta mungkin selanjutnya dissadari), bahwa hukum tertulis
mempunyai pelbagai kelemahan yang harus diatasi dengan keputusan-keputusan yang cepat dan
tepat (dikresi).

7
Faktor Kebudayaan

Kebudayaan (sistem) hukum pada dasarnya mencakup nilai-nilai yang mendasari hukum
yang berlaku, nilai-nilai mana merupakan konsepsi-konsepsi abstrak mengenai apa yang
dianggap baik (sehingga dianuti) dan apa yang dianggap buruk (sehinnga dihindari). Nilai-nilai
tersebut, lazimnya merupakan pasangan nilai-nilai yang mencerminkan dua keadaan ekstrim
yang harus diserasikan.
Pasangan nilai yang berperanan dalam hukum, adalah sebagai berikut (Purnadi
Purbacaraka & Soejono Soekanto 1983)

a. Nilai ketertiban dan niali ketentraman


b. Nilai jasmaniah/kebendaan dan nilai rohaniah/keahlakan
c. Nilai kelanggengan/konservatisme dan nilai kebaruan/inovatisme
Di Indonesia nilai-nilai yang menjadi dasar hokum adat, adalah antara lain, sebagai
berikut (Moh. Koesnoe 1969):
a. Individu adalah bagian dari masyarakat yang mempunayi fungsi masing-masing demi
untuk melangsungkan dan kelangsungan dari pada masyarakat (sebagai lingkungan
kesatuan)
b. Setiap individu didalam lingkungan kesatuan itu, bergerak berusaha sebagai
pengabdian kepada keseluruhan kesatuan,
c. Dalam pandangan adat yang demikian mengenai kepentinagn-kepentingan individu
itu, maka sukarlah dapatnya dikemukakan adanya suatu keperluan yang mendesak
untuk menertipkan segala kepentingan- kepentinagn para individu-individu itu. Bagi
adat, ketertiban itu telah ada dalam semesta, didalam cosmos. Ketertiban itu adalah
berubah hubungan yang harmonis antara segalanya ini. Gerak dan usaha memenuhi
kepentingan individu, adalah gerak dan usha yang ditempatkan didalam garis
ketertiban cosmis tersebut.bagi setiap orang, maka garis ketertiban cosmis itu dijalani
dengan serta merta. Bialamana tidak dijalankan pada itu, garis yang dijelmakan di
dalam adat, maka baik jalanya masyarakatnya, maupun jalan kehidupan orang yang
bersngkutan akan menderita karena berada di luar garis tertib cosmis tersebut, yaitu,
adat.
d. Dalam pandangan adat, tidak ada pandangan bahwa ketentuan adat itu harus disertai
dengan syarat yang menjamin berlakunya dengan jalan mempergunakan paksaan.
Apa yang disbut sebagai salah kaprah, yaitu dengan sebutan hokum adat, tidaklah
merupakan hukuman. Akan tetapi itu adalah suatu upaya adat, untuk mengembalikan
langkah yang berada di luar garis tertib cosmis itu, demi untuk tidak terganggu
ketertiban cosmis. Upaya adat dari lahirnya adalah terlihat sebagai adanya
penggunaan kekuasaan melaksanakan ketentuan yang tercantum didalam pedoman
hidup yang disebut adat. Tetapi dalam intinya itu adalah lain, itu bukan pemaksaan
dengan menggunakan alat paksa.itu bukan bekerjanya suatu sanctie. Itu adalah upaya
membawa kembalinya keseimbangan yang terganggu, dan bukan suatu “hukuman”,
buakn suatu “leed” yang diperhitungkan bekerjanya bagi individu yang
bersangkutan”.
Hal-hal yang telah dijelaskan oleh Moh. Koesnoe secara panjang lebar di atas, merupakan
kebudayaan Indonesia yang mendasari hokum adat yang berlaku. Hukum adat tersebut
merupakan hokum kebiasaan yang berlaku di kalangan rakyat terbanyak. Akan tetapi di samping
itu berlaku pula hokum tertulis (perundang-undangan) yang timbul dari golongan tertentu dalam
masyarakat yang mempunyai kekuasaan dan wewenang yang resmi. Hukum perundang-
undangan tersebut harus dapat mencerminkan nilai-nilai yang menjadi dasar hokum adat agar
supaya hokum perundang-undangan tersebut dapat berlaku secara efektif.
Pasangan nilai-nilai kebendaan dan keahlakan, juga merupakan nilai yang bersifat
universal. Akan tetapi di dalam kenyataan pada masing-masing masyarakat timbul perbedaan-
perbedaab karena pelbagai macam pengaruh. Pengaruh dari kegiatan-kegiatan modernisasi di
bidang material, misalnya, sehingga akan timbul pula suatu keadaan yang tidak serasi.
Penempatan nilai kebendaan pada posisi yang lebih tinggi dan lebih penting, akan
mengakibatkan bahwa pelbagai aspek proses pelembagaan hokum dalam masyarakat, adanya
sanksi-sanksi negative lebih dipentingkan daripada kesadaran untuk mematuhi hokum. Artinya,
berat-ringannya ancaman hukuman terhadap pelanggaran menjadi tolak ukur kewibawaan
hokum ; kepatuhan hokum kemudian juga disandarkan pada “cost and benefit”.
Mengenai hal tersebut di atas, memang belum pernah diadakan penelitian di Indonesia,
yang secara langsung memeriksa efek daripada penempatan nilai kebendaan pada posisi yang
lebih penting daripada nilai keahlakan. Akan tetapi secara tidak langsung pernah dipersoalkan
mengani hubungan antara pasal 283 dan 534 KUHP yang berpokok pangkal pada nilai
keahlakan, dengan pelaksanaan program keluarga berencana. Akan tetapi di Negara lain,
misalnya di Amerika Serikat pernah diadakan berbagai penelitian, untuk mengukur mana yang
lebih efektif, yakni penanaman kesadaram ataukah ancaman hukuman yang tinggi. Contoh dari
penelitian tersebut hukuman yang pernah dilakukan oleh Schwarz dan Orleans terhadap
efektifitas sanksi, khususnya terhadap kepatuhan untuk membayar pajak (Richard D. Schwartz
dan Sonya Orleans 1967). Dari hasil penelitian tersebut diperoleh kesimpulan, bahwa sanksi-
sanksi lebih efektif bagi mereka yang berasal dari kelas social yang relative tinggi (dari sudut
kedudukan ekonomis). Bagi masyarakat luas yang menduduki kelas social yang lebih rendah,
maka penanaman kesadaran jauh lebih efektif daripada ancaman-ancaman hukuman.
Pasangan nilai konservatisme dan nilai inovatisme, senantiasa berperan di dalam
perkembangan hokum, oleh karena itu satu fihak ada yang menyatakan bahwa hokum hanya
mengikuti perubahan yang terjadi dan bertujuan untuk mempertahan “Status-Quo”. Di lain fihak
ada anggapan-anggapan yang kuat pula, bahwa hokum juga dapat berfungsi sebagai sara untuk
mengadakan perubahan dan menciptakan hal-hal yang baru. Keserasian antara dua nilai tersebut
akan menempatkan hokum pada kedudukan dan peranan yang semestinya.

8
Penutup

Dari ulasan ulasan yang telah diketengahkan dimuka, maka kelima faktor yang telah
disebutkan, mempunyai pengaruh terhadap penegakan hukum mungkin pengaruhnya adalah
positif dan mungkin juga negatif. Akan tetapi, diantara semua faktor tersebut, maka faktor
penegak hukum menempati titik central. Hal itu disebabkan oleh karena undangundang disususn
oleh penegak hukum, penerapapnnya dilaksanakan oleh penegak hukum dan penegak hukum
dianggap sebagai golongan panutan hukum oleh masyarakat luas.
Penegak hukum didalam proses penegakan hukum seharusnya dapat menerapkan dua
pola yang merupakan pasangan, yakni pola isolasi dan pola integrasi. Pola-pola tersebut
merupakan titik-titik ekstrem, sehingga penegak hukum bergerak antara kedua titik ekstrem
tersebut. Artinya, kedua pola tersebut memberikan batas-batas sampai sejauh mana kontribusi
penegak hukum bagi kesejahteraan masyarakat.

Faktor-faktor yang memungkinkan mendekatnya penegak hukum pada pola isolasi adalah
antara lain, sebagai berikut:

1. Pengalaman dari warga masyarakat yang pernah berhubungan dengan penegak hukum,
dan merasakan adanya suatu intervensi terhadap kepentingan-kepentingan pribadinya
yang dianggap sebagai gangguan terhadap ketentraman (pribadi).
2. Peristiwa-peristiwa yang terjadi yang melibatkan penegak hukum dalan tindakan
kekerasan dan paksaan yang menimbulkan rasa takut.
3. Pada masyarakat yang mempunyai taraf stigmatisasi yang relative tinggi, memberikan
“cap”yang negatif pada warga masyarakat yang pernah berhubungan dengan penegak
hukum.
4. Adanya haluan tertentu dari atasan penegak hukum, agar membatasi hubungan dengan
warga masyarakat, oleh karena adanya golongan tertentu yang diduga akan dapat
memberikan pengaruh buruk kepada penegak hukum.

Namun dibalik itu semua, didalam konteks sosial tertentu, pola isolasi mempunyai
keuntungan-keuntungan tertentu, yakni antara lain, sebagai berikut :
1. Hubungan yang formal dalam interaksi sosial dapat merupakan faktor yang mantap bagi
penegak hukum untuk menegakkan hukum.
2. Apabila penegak hukum meupakan pelopor perubahan hukum maka kedudukan yang
lebih dekat pada pola isolasi akan memeberikan kemungkinan yang lebih besar untuk
melaksanakan fungsi tersebut.
3. Adanya kemungkinan bahwa tugas-tugas penegak hukum secara paralel berlangsung
bersamaan dengan perasaan anti penegak hukum namun dalam keadaan damai, oleh
karena ( Robert K.merton 1967 ) :
“ ... mechanism of insulating roel-activities from observability by members of the role-set
may contribute to social stability by allowing those in the same role-set who are
differently located in the social structure to play their individual roles without ofert
conflic “
4. Memungkinkan berkembangnya profesinalisasi bagi para penegak hukum.
SOSIOLOGI HUKUM
RESUME FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PENEGAKAN HUKUM

Dosen :

H. Yesmil Anwar, S.H.,M.Si.

Oleh :

REGA SUTISNA
11011014015

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2017